<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>islami &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/islami/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "islami"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 13:03:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PELATIHAN TEKNISI HANDPHONE MAJELIS RASULULLAH SAW]]></title>
<link>http://teknikjumper.wordpress.com/?p=204</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 07:56:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Teknik Jumper</dc:creator>
<guid>http://teknikjumper.id.wordpress.com/2008/10/10/pelatihan-teknisi-handphone-majelis-rasulullah-saw/</guid>
<description><![CDATA[
Segala Puji Wahai Yang Maha Memiliki Jiwa dan Raga Kami, Segala Puji Wahai Zat Yang Maha Berkasih S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal"><span class="sbmessagebody">Segala Puji Wahai Yang Maha Memiliki Jiwa dan Raga Kami, Segala Puji Wahai Zat Yang Maha Berkasih Sayang.</span><br />
<span class="sbmessagebody">Shalawat dan Salam Wahai Seluas-luasnya Samudera Ilmu (Sayyidina Muhammad saw)</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Salam Sejahtera wahai yang telah membimbing kami dalam mengenali akan Samudera Ilmu yang tidak akan pernah ada batasnya, Salam Sejahtera wahai Guru Mulia kami Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa </span></p>
<p><strong>PENTING: Untuk Semua Yang Mendaftar Langsung di Sekretariat Majelis Rasulullah saw, Maka kami akan menginfaqkannya langsung ke Majelis Rasulullah saw Sebesar 50% dari Masing-Masing Paket Pelatihan Kami</strong><strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong>Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)</strong></p>
<p><strong>PENTING: Semua Pertanyaan Tentang Pelatihan Teknisi Handphone Ini Langsung Pada Kami dan Bukan ke Sekretariat Majelis</strong></p>
<p><span class="sbmessagebody"><a href="http://majelisrasulullah.org/www.rajaponsel.com" target="_blank"><strong>RAJA PONSEL TRAINING CENTER</strong></a></span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang Teknologi Komunikasi yang pesat dan tingkat kebutuhan yang semakin membengkak, membuat Handphone yang salah satu peningkatan dibidang Teknologi Komunikasi menjadi kebutuhan sehari- hari.</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Dengan meningkatnya pemakaian dan kebutuhan Ponsel di seluruh kalangan masyarakat sehingga muncul bermacam-macam masalah pada saat pemakaian sehari-hari</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Bersamaan dengan itu akan muncul permasalah baru yaitu tingginya kebutuhan di bidang Ilmu perbaikan Ponsel itu sendiri. Ponsel adalah sebuah perangkat Elektronika yang bekerja dengan didukung oleh sebuah System yang dapat menjalankan Ponsel tersebut. </span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Dengan adanya Rangkaian Elektronika dan System yang mengatur bekerjanya Ponsel, maka ilmu tentang perbaikan di bagi menjadi Ilmu Hardware yaitu perangkat keras dan Ilmu Software sebagai Perangkat lunaknya. Namun bagi seorang teknisi handphone haruslah memiliki kemampuan dalam mereparasi sebuah perangkat handphone secara hardware maupun software, sebab kedua elemen ini tidak dapat dipisahkan.</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Karena tingginya tingkat kebutuhan dibidang Ilmu Perbaikan Reparasi Ponsel, maka Lembaga Pendidikan yang bergerak dibidang Kursus Teknisi Ponsel haruslah mampu memberikan solusi terbaik dan System pengajaran yang mendalam tentang Pendidikan Perbaikan Reparasi Ponsel terhadap para Siswanya atau anak didiknya. </span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Maka dari ini semua dibutuhkannya Tim pengajar yang mampu memberikan materi sesuai dengan Perkembangan Teknologi di Bidang Reparasi Ponsel, Baik dari segi perbaikan software maupun perbaikan hardware, dan bukan hanya dari sisi teori dan praktenya saja yang harus diberikan kepada anak didik atau calon-calon Teknisi Handphone. Selain ini semua, para teknisi handphone harus dan wajib menguasai System Analisa dan Perbaikan Seluruh Kerusakan Handphone.</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Sebab pada prinsipnya sehebat apapun seorang teknisi dan selama apapun ia belajar dilembaga kursus teknisi ponsel..... namun jika ia tidak mengetahui System Analisa Perbaikan Ponsel, maka ia akan Mendapatkan Gelar Teknisi Ponsel COBA-COBA.</span><br />
<span class="sbmessagebody">Maka dari semua permasalahan yang ada, kami <a href="http://majelisrasulullah.org/www.rajaponsel.com" target="_blank">Raja Ponsel Training Center</a> membuka Private Teknisi Handphone untuk semua kalangan dan tanpa memandang usia, jenis kelamin serta latar belakang pendidikan.</span><br />
<strong><br />
</strong><strong>PENTING: Untuk Semua Yang Mendaftar di Sekretariat Majelis Rasulullah saw, Maka kami akan menginfaqkannya langsung ke Majelis Rasulullah saw Sebesar 50% dari Masing-Masing Paket Pelatihan Kami</strong></p>
<p><strong>Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)</strong></p>
<p><strong>PENTING: Semua Pertanyaan Tentang Pelatihan Teknisi Handphone Ini Langsung Pada Kami dan Bukan ke Sekretariat Majelis </strong></p>
<p><span class="sbmessagebody"><a href="http://majelisrasulullah.org/www.rajaponsel.com" target="_blank"><strong>RAJA PONSEL TRAINING CENTER</strong></a></span><br />
<strong>Membuka Pelatihan Teknisi Handphone System Private</strong><strong><br />
</strong><strong>Dengan Jaminan Konsultasi dan Bimbingan Selamanya</strong></p>
<p><strong>DIBIMBING LANGSUNG OLEH :</strong><br />
<strong>• Pengasuh Website dan Forum Wahana Ponsel</strong><br />
<strong>• Penulis Buku Reparasi Handphone</strong><br />
<strong>• Penulis Rubrik Bengkel Ponsel di Tabloid “PONSEL”</strong></p>
<p><strong>TARGET PEMBELAJARAN :</strong><br />
<span class="sbmessagebody">1. Dapat menjelaskan pengertian dari Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">2. Dapat memahami struktur komponen elektronika dasar ponsel</span><br />
<span class="sbmessagebody">3. Dapat menjelaskan Hubungan Antara Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">4. Dapat menjelaskan Bagian – bagian Pada Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">5. Dapat menjelaskan Cara kerja dari Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">6. Dapat Memahami teknik bongkar pasang casing handphone</span><br />
<span class="sbmessagebody">7. Dapat menganalisa dan mendeteksi kerusakan pada Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">8. Dapat menjelaskan langkah perbaikan pada Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">9. Dapat menjelaskan Fungsi dari masing-masing komponen</span><br />
<span class="sbmessagebody">10. Dapat memahami gejala kerusakan dari masing-masing komponen</span><br />
<span class="sbmessagebody">11. Dapat Mendeteksi dan Memperbaiki Segala Kerusakan pada ponsel</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Semua Materi diatas ini menjadi standar dan acuan kami dalam memberikannya pada setiap anak didik atau para calon teknisi handphone, dan sebagian kecil materi-materi yang kami berikan telah kami tulis dalam bentuk artikel-artikel yang ada pada <a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com" target="_blank"><strong>Website Wahana Ponsel</strong></a>, sebab memang <a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com" target="_blank"><strong>Website Wahana Ponsel</strong></a> ini kami sediakan untuk menjadi acuan atau standar minimal pembelajaran, dengan kata lain materi yang diberikan kepada siswa yang sedang belajar harus menguasai lebih dari semua dan apa-apa yang ada pada <a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com" target="_blank"><strong>Website Wahana Ponsel</strong></a></span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Selain ini semua, kami juga menyediakan tempat bagi semua pihak pada umumnya dan bagi para teknisi handphone yang telah belajar disebuah lembaga atau tempat pelatihan teknisi handphone pada khususnya, <a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com/forum" target="_blank"><strong>Forum Diskusi Interaktif.</strong></a></span></p>
<p><span class="sbmessagebody"><a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com/forum" target="_blank"><strong>Forum Diskusi Interaktif.</strong></a> ini sengaja kami buat untuk dapat sama-sama di manfaatkan untuk saling tukar pendapat dan saling berbagi informasi pada semua permasalahan yang sering terjadi dalam dunia telepon seluler atau handphone, dan Motto dari <a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com/forum" target="_blank"><strong>Forum Wahana Ponsel.</strong></a>ini adalah : "Mari Berbagi Ilmu dan Pengalaman" </span><br />
<span class="sbmessagebody">Kami mengadakan pelatihan teknisi handphone dengan membagi beberapa kelas atau tingkatan, Pembagian Kelas atau Tingkatan Pembelajaran dibagi Menjadi Beberapa Tingkatan, Tingkatan Tersebut diantaranya :</span></p>
<p><strong>PEMBAGIAN KELAS :</strong><br />
<span class="sbmessagebody">1. Kelas Intensif Satu : Kelas Khusus dengan Metode untuk Seorang Instruktur (Rp.2Jt Metode Kelas Private) </span><br />
<span class="sbmessagebody">2. Kelas Intensif Dua : Kelas Khusus dengan Metode untuk Seorang Teknisi Profesional (Rp.1.5Jt Metode Kelas Private)</span><br />
<span class="sbmessagebody">3. Kelas Intensif Tiga : Kelas Khusus dengan Metode untuk Seorang Teknisi Muda (Rp.1Jt Metode Kelas Private Minimal Siswa 3 Orang) </span><br />
<span class="sbmessagebody">4. Kelas Intensif Empat : Kelas Khusus dengan Metode Workshop atau Seminar (Rp.500rb Metode Workshop Minimal Siswa 20 Orang) </span><br />
<span class="sbmessagebody">Semua Kelas dapat anda pilih tanpa memandang latar belakang pendidikan, karena kami memberikan jaminan sampai bisa serta jaminan untuk konsultasi dan bimbingan selamanya</span></p>
<p><strong>PENTING: Untuk Semua Yang Mendaftar di Sekretariat Majelis Rasulullah saw, Maka kami akan menginfaqkannya langsung ke Majelis Rasulullah saw Sebesar 50% dari Masing-Masing Paket Pelatihan Kami</strong><strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong>Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)</strong></p>
<p><strong>PENTING: Semua Pertanyaan Tentang Pelatihan Teknisi Handphone Ini Langsung Pada Kami dan Bukan ke Sekretariat Majelis </strong></p>
<p><span class="sbmessagebody">Alamat :</span><br />
<span class="sbmessagebody"><a href="http://majelisrasulullah.org/www.rajaponsel.com" target="_blank"><strong>RAJA PONSEL TRAINING CENTER</strong></a></span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Jl. Bangka 2 Rt.06 Rw.02 No.18 Kel. Pela Mampang</span><br />
<span class="sbmessagebody">Kec. Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12720 Indonesia</span><br />
<span class="sbmessagebody">Telp: 021-700 36 800.:.0817 839 837.:.0811 9910 929</span><br />
<strong><a href="http://majelisrasulullah.org/www.majelisrasulullah.org" target="_blank">www.majelisrasulullah.org</a> .:. <a href="http://majelisrasulullah.org/www.wahanaponsel.com" target="_blank">www.wahanaponsel.com </a>.:. <a href="http://majelisrasulullah.org/www.rajaponsel.com" target="_blank">www.rajaponsel.com</a></strong></p>
<p><strong>Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PELATIHAN TEKNISI HANDPHONE MAJELIS RASULULLAH SAW]]></title>
<link>http://reparasiponsel.wordpress.com/?p=122</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 07:46:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Teknik Jumper</dc:creator>
<guid>http://reparasiponsel.id.wordpress.com/2008/10/10/pelatihan-teknisi-handphone-majelis-rasulullah-saw/</guid>
<description><![CDATA[
Segala Puji Wahai Yang Maha Memiliki Jiwa dan Raga Kami, Segala Puji Wahai Zat Yang Maha Berkasih S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal"><span class="sbmessagebody">Segala Puji Wahai Yang Maha Memiliki Jiwa dan Raga Kami, Segala Puji Wahai Zat Yang Maha Berkasih Sayang.</span><br />
<span class="sbmessagebody">Shalawat dan Salam Wahai Seluas-luasnya Samudera Ilmu (Sayyidina Muhammad saw)</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Salam Sejahtera wahai yang telah membimbing kami dalam mengenali akan Samudera Ilmu yang tidak akan pernah ada batasnya, Salam Sejahtera wahai Guru Mulia kami Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa </span></p>
<p><strong>PENTING: Untuk Semua Yang Mendaftar Langsung di Sekretariat Majelis Rasulullah saw, Maka kami akan menginfaqkannya langsung ke Majelis Rasulullah saw Sebesar 50% dari Masing-Masing Paket Pelatihan Kami</strong><strong></strong></p>
<p><strong><strong>Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)</strong></strong></p>
<p><strong><strong>PENTING: Semua Pertanyaan Tentang Pelatihan Teknisi Handphone Ini Langsung Pada Kami dan Bukan ke Sekretariat Majelis</strong></strong></p>
<p><a href="http://rajaponsel.com"><span class="sbmessagebody"><strong>RAJA PONSEL TRAINING CENTER</strong></span></a></p>
<p><span class="sbmessagebody">Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang Teknologi Komunikasi yang pesat dan tingkat kebutuhan yang semakin membengkak, membuat Handphone yang salah satu peningkatan dibidang Teknologi Komunikasi menjadi kebutuhan sehari- hari.</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Dengan meningkatnya pemakaian dan kebutuhan Ponsel di seluruh kalangan masyarakat sehingga muncul bermacam-macam masalah pada saat pemakaian sehari-hari</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Bersamaan dengan itu akan muncul permasalah baru yaitu tingginya kebutuhan di bidang Ilmu perbaikan Ponsel itu sendiri. Ponsel adalah sebuah perangkat Elektronika yang bekerja dengan didukung oleh sebuah System yang dapat menjalankan Ponsel tersebut. </span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Dengan adanya Rangkaian Elektronika dan System yang mengatur bekerjanya Ponsel, maka ilmu tentang perbaikan di bagi menjadi Ilmu Hardware yaitu perangkat keras dan Ilmu Software sebagai Perangkat lunaknya. Namun bagi seorang teknisi handphone haruslah memiliki kemampuan dalam mereparasi sebuah perangkat handphone secara hardware maupun software, sebab kedua elemen ini tidak dapat dipisahkan.</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Karena tingginya tingkat kebutuhan dibidang Ilmu Perbaikan Reparasi Ponsel, maka Lembaga Pendidikan yang bergerak dibidang Kursus Teknisi Ponsel haruslah mampu memberikan solusi terbaik dan System pengajaran yang mendalam tentang Pendidikan Perbaikan Reparasi Ponsel terhadap para Siswanya atau anak didiknya. </span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Maka dari ini semua dibutuhkannya Tim pengajar yang mampu memberikan materi sesuai dengan Perkembangan Teknologi di Bidang Reparasi Ponsel, Baik dari segi perbaikan software maupun perbaikan hardware, dan bukan hanya dari sisi teori dan praktenya saja yang harus diberikan kepada anak didik atau calon-calon Teknisi Handphone. Selain ini semua, para teknisi handphone harus dan wajib menguasai System Analisa dan Perbaikan Seluruh Kerusakan Handphone.</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Sebab pada prinsipnya sehebat apapun seorang teknisi dan selama apapun ia belajar dilembaga kursus teknisi ponsel..... namun jika ia tidak mengetahui System Analisa Perbaikan Ponsel, maka ia akan Mendapatkan Gelar Teknisi Ponsel COBA-COBA.</span><br />
<span class="sbmessagebody">Maka dari semua permasalahan yang ada, kami Raja Ponsel Training Center membuka Private Teknisi Handphone untuk semua kalangan dan tanpa memandang usia, jenis kelamin serta latar belakang pendidikan.</span><br />
<strong><br />
<strong>PENTING: Untuk Semua Yang Mendaftar di Sekretariat Majelis Rasulullah saw, Maka kami akan menginfaqkannya langsung ke Majelis Rasulullah saw Sebesar 50% dari Masing-Masing Paket Pelatihan Kami</strong></strong></p>
<p><strong><strong>Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)</strong></strong></p>
<p><strong><strong>PENTING: Semua Pertanyaan Tentang Pelatihan Teknisi Handphone Ini Langsung Pada Kami dan Bukan ke Sekretariat Majelis </strong></strong></p>
<p><a href="http://rajaponsel.com"><span class="sbmessagebody"><strong>RAJA PONSEL TRAINING CENTER</strong></span></a><br />
<strong>Membuka Pelatihan Teknisi Handphone System Private</strong><strong><br />
<strong>Dengan Jaminan Konsultasi dan Bimbingan Selamanya</strong></strong></p>
<p><strong><strong>DIBIMBING LANGSUNG OLEH :</strong><br />
<strong>• Pengasuh Website dan Forum Wahana Ponsel</strong><br />
<strong>• Penulis Buku Reparasi Handphone</strong><br />
<strong>• Penulis Rubrik Bengkel Ponsel di Tabloid “PONSEL”</strong></strong></p>
<p><strong>TARGET PEMBELAJARAN :</strong><br />
<span class="sbmessagebody">1. Dapat menjelaskan pengertian dari Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">2. Dapat memahami struktur komponen elektronika dasar ponsel</span><br />
<span class="sbmessagebody">3. Dapat menjelaskan Hubungan Antara Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">4. Dapat menjelaskan Bagian – bagian Pada Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">5. Dapat menjelaskan Cara kerja dari Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">6. Dapat Memahami teknik bongkar pasang casing handphone</span><br />
<span class="sbmessagebody">7. Dapat menganalisa dan mendeteksi kerusakan pada Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">8. Dapat menjelaskan langkah perbaikan pada Hardware dan Software</span><br />
<span class="sbmessagebody">9. Dapat menjelaskan Fungsi dari masing-masing komponen</span><br />
<span class="sbmessagebody">10. Dapat memahami gejala kerusakan dari masing-masing komponen</span><br />
<span class="sbmessagebody">11. Dapat Mendeteksi dan Memperbaiki Segala Kerusakan pada ponsel</span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Semua Materi diatas ini menjadi standar dan acuan kami dalam memberikannya pada setiap anak didik atau para calon teknisi handphone, dan sebagian kecil materi-materi yang kami berikan telah kami tulis dalam bentuk artikel-artikel yang ada pada <a href="http://wahanaponsel.com"><strong>Website Wahana Ponsel</strong></a>, sebab memang <a href="http://wahanaponsel.com"><strong>Website Wahana Ponsel</strong></a> ini kami sediakan untuk menjadi acuan atau standar minimal pembelajaran, dengan kata lain materi yang diberikan kepada siswa yang sedang belajar harus menguasai lebih dari semua dan apa-apa yang ada pada <a href="http://wahanaponsel.com"><strong>Website Wahana Ponsel</strong></a></span></p>
<p><span class="sbmessagebody">Selain ini semua, kami juga menyediakan tempat bagi semua pihak pada umumnya dan bagi para teknisi handphone yang telah belajar disebuah lembaga atau tempat pelatihan teknisi handphone pada khususnya, <strong>Forum Diskusi Interaktif.</strong></span></p>
<p><span class="sbmessagebody"><a href="http://wahanaponsel.com/forum"><strong>Forum Diskusi Interaktif.</strong></a> ini sengaja kami buat untuk dapat sama-sama di manfaatkan untuk saling tukar pendapat dan saling berbagi informasi pada semua permasalahan yang sering terjadi dalam dunia telepon seluler atau handphone, dan Motto dari <a href="http://wahanaponsel.com/forum"><strong>Forum Wahana Ponsel.</strong></a>ini adalah : "Mari Berbagi Ilmu dan Pengalaman" </span><br />
<span class="sbmessagebody">Kami mengadakan pelatihan teknisi handphone dengan membagi beberapa kelas atau tingkatan, Pembagian Kelas atau Tingkatan Pembelajaran dibagi Menjadi Beberapa Tingkatan, Tingkatan Tersebut diantaranya :</span></p>
<p><strong>PEMBAGIAN KELAS :</strong><br />
<span class="sbmessagebody">1. Kelas Intensif Satu : Kelas Khusus dengan Metode untuk Seorang Instruktur (Rp.2Jt Metode Kelas Private) </span><br />
<span class="sbmessagebody">2. Kelas Intensif Dua : Kelas Khusus dengan Metode untuk Seorang Teknisi Profesional (Rp.1.5Jt Metode Kelas Private)</span><br />
<span class="sbmessagebody">3. Kelas Intensif Tiga : Kelas Khusus dengan Metode untuk Seorang Teknisi Muda (Rp.1Jt Metode Kelas Private Minimal Siswa 3 Orang) </span><br />
<span class="sbmessagebody">4. Kelas Intensif Empat : Kelas Khusus dengan Metode Workshop atau Seminar (Rp.500rb Metode Workshop Minimal Siswa 20 Orang) </span><br />
<span class="sbmessagebody">Semua Kelas dapat anda pilih tanpa memandang latar belakang pendidikan, karena kami memberikan jaminan sampai bisa serta jaminan untuk konsultasi dan bimbingan selamanya</span></p>
<p><strong>PENTING: Untuk Semua Yang Mendaftar di Sekretariat Majelis Rasulullah saw, Maka kami akan menginfaqkannya langsung ke Majelis Rasulullah saw Sebesar 50% dari Masing-Masing Paket Pelatihan Kami</strong></p>
<p><strong><strong>Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)</strong></strong></p>
<p><strong><strong>PENTING: Semua Pertanyaan Tentang Pelatihan Teknisi Handphone Ini Langsung Pada Kami dan Bukan ke Sekretariat Majelis </strong></strong></p>
<p><span class="sbmessagebody">Alamat :</span><br />
<a href="http://rajaponsel.com"><span class="sbmessagebody"><strong>RAJA PONSEL TRAINING CENTER</strong></span></a></p>
<p><span class="sbmessagebody">Jl. Bangka 2 Rt.06 Rw.02 No.18 Kel. Pela Mampang</span><br />
<span class="sbmessagebody">Kec. Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12720 Indonesia</span><br />
<span class="sbmessagebody">Telp: 021-700 36 800.:.0817 839 837.:.0811 9910 929</span><br />
<strong><a href="http://majelisrasulullah.org">www.majelisrasulullah.org</a> .:. <a href="http://wahanaponsel.com">www.wahanaponsel.com</a> .:. <a href="http://wahanaponsel.com">www.rajaponsel.com</a></strong></p>
<p><strong>Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pulang dari bekerja]]></title>
<link>http://acieziea.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 08:54:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>acieziea</dc:creator>
<guid>http://acieziea.id.wordpress.com/2008/10/09/pulang-dari-bekerja/</guid>
<description><![CDATA[Pulang dari  bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala  rumah ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pulang dari  bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala  rumah tangga. </span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memaknai Tradisi Halal bi Halal]]></title>
<link>http://taufik79.wordpress.com/?p=797</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 01:47:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>taufik79</dc:creator>
<guid>http://taufik79.id.wordpress.com/2008/10/09/memaknai-tradisi-halal-bi-halal/</guid>
<description><![CDATA[
Setiap momentum hari raya Idul Fitri tiba, tidak hanya pakaian baru saja yang menjadi ciri untuk me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://taufik79.wordpress.com/files/2008/10/shake_hand.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-806" title="shake_hand" src="http://taufik79.wordpress.com/files/2008/10/shake_hand.jpg" alt="" width="262" height="193" /></a></p></blockquote>
<p>Setiap momentum hari raya Idul Fitri tiba, tidak hanya pakaian baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Yaitu tradisi halal bi halal.</p>
<p>Halal bi halal, adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa negara tetangga dalam rumpun melayu, seperti Malaysia. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Menurut Dr. Quraish Shihab, <em>halal-bihalal</em> merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab 'halal' yang diapit dengan satu kata penghubung 'ba' (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, namun masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.</p>
<p>Kata 'halal' memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti 'diperkenankan'. Dalam pengertian pertama ini, kata 'halal' adalah lawan dari kata 'haram'. Kedua, berarti 'baik'. Dalam pengertian kedua, kata 'halal' terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna 'diperkenankan', adalah yang baik dan yang menyenangkan.<br />
<!--more-->Sebagai sebuah tradisi khas masyarakat Melayu, halal-bihalal memiliki landasan teologis, yakni dalam Al Qur'an surah Ali 'Imron: 134-135 diperintahkan, bagi seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan kesalahan, paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menahan amarah dan memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap orang lain.</p>
<p>Dari ayat ini, selain berisi ajakan untuk saling maaf-memaafkan, halal-bihalal juga dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Atau bisa dikatakan, bahwa setiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Lebih luas lagi, berhalal-bihalal, semestinya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain.</p>
<p>Halal-bihalal yang merupakan tradisi khas rumpun bangsa tersebut merefleksikan bahwa Islam di negara-negara tersebut sejak awal adalah agama toleran, yang mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan semua agama. Perbedaan agama bukanlah tanda untuk saling memusuhi dan mencurigai, tetapi hanyalah sebagai sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan. Ini sesuai dengan Firman Allah, "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) berbuat kebaikan". (Q.S. 2:148).</p>
<p style="margin-bottom:0;">Titik tekan ayat di atas adalah pada berbuat kebaikan dan perilaku berorientasi nilai. Berangkat dari makna halal-bihalal seperti tersebut di atas, pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik, memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang hendaknya tetap menjadi warna masyarakat Muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya.</p>
<p><strong>Saling memaafkan</strong></p>
<p>“Prosesi” silaturrahmi dan “ritual” saling memaafkan dalam halal bi halal, sepintas bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang sangat artifisial (simbolis) yang sekadar menjadi tradisi tahunan. Padahal, dalam ajaran agama, setiap kita melakukan kesalahan baik kepada Allah (habl min Allah) maupun kepada sesama manusia (habl min al-nass), hendaknya lah langsung meminta maaf.</p>
<p>Kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, permintaan maaf itu dimanifestasikan dengan membaca istighfar disertai komitmen yang teguh untuk tidak mengulanginya lagi. Sementara kepada sesama, harus diwujudkan dengan meminta maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan.</p>
<p>Tidak akan ada yang menyangkal, tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antarsesama adalah hal yang sangat indah. Sebuah proses pembelajaran untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Memaafkan kesalahan orang tidak lah gampang. Itu sebabnya, para sufi menyuruh kepada kita, agar melatih memaafkan kesalahan orang lain secara terus-menerus.</p>
<p>Sifat pemaaf harus tumbuh karena ”kedewasaan rohaniah”. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab (marah) diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Dimana rohani mereka (para Nabi dan orang-orang saleh) itu telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun.</p>
<p>Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran, idul fitri dalam halal bi halal, meski sampai sekarang kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik belaka, namun tidak ada salahnya untuk tetap dilanggengkan.</p>
<p>Harapannya, ke depan, makna artifisial dalam tradisi saling memaafkan dalam idul fitri ini akan sirna, sehingga ia tidak lagi sekadar menjadi tren saja. Lebih dari itu, menjadi tradisi (budaya) dan sarana untuk belajar mengakui kesalahan yang dilakukan dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. Tentu tidak sebatas saat lebaran atau idul fitri saja. Tetapi juga dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Refleksi Diri di Bulan Syawal]]></title>
<link>http://taufik79.wordpress.com/?p=793</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 01:44:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>taufik79</dc:creator>
<guid>http://taufik79.id.wordpress.com/2008/10/09/refleksi-diri-di-bulan-syawal/</guid>
<description><![CDATA[
Dengan datangnya bulan Syawal, otomatis bulan Ramadhan telah pergi. Pergi meninggalkan kita, untuk ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://taufik79.wordpress.com/files/2008/10/berdoa.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-809" title="berdoa" src="http://taufik79.wordpress.com/files/2008/10/berdoa.jpg" alt="" width="319" height="232" /></a></p></blockquote>
<p>Dengan datangnya bulan Syawal, otomatis bulan Ramadhan telah pergi. Pergi meninggalkan kita, untuk kemudian datang lagi di tahun yang akan datang. Kita tidak tahu apakah kelak akan bertemu lagi dengan Ramadhan, atau ternyata ini adalah Ramadhan yang terakhir. Banyak suadara kita yang sebenarnya ingin menikmati Ramadhan tahun ini, tetapi ternyata ajal segera menjemputnya beberapa detik sebelum memasukinya. Karenanya kita sangat bersyukur bahwa Allah swt. telah memberikan kesempatan kepada kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun ini.</p>
<p>Benar bulan Syawal telah tiba. Dan kita tidak serta merta gembira, karena di saat yang sama kita harus berpisah dengan Ramadhan. Perpisahan yang sangat mengharukan. Bayangkan selama Ramadhan kita telah mendapatkan suasana yang dalam, di mana kita dihantarkan kepada nuansa ketaatan yang tak terhingga. Nafsu yang selama ini diagungkan manusia, ternyata dengan Ramadhan, nafsu ini tidak berdaya. Setan yang selama ini sangat kuat menguasai manusia, ternyata dengan Ramadhan tersingkirkan.</p>
<p>Kita bisa setiap saat membaca Al Qur’an selama Ramadhan, di mana di luar Ramadhan itu sangat sulit kita lakukan. Di malam hari kita selalu bangun sebelum fajar dan shalat subuh berjamaah di masjid, padahal itu sangat sedikit yang melakukannya di luar Ramadhan. Pun tangan kita terasa ringan berinfak selama Ramadhan, sementara di luar Ramadhan itu sangat berat dilakukan. Lebih jauh, kita bisa beri’tikaf -atau minimal selalu di masjid sepanjang malam- terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan, dan kita tahu bahwa itu sangat jarang dapat kita lakukan di luar Ramadhan.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Tapi apapun, bulan Syawal telah datang. Kita harus menerima kenyataan. Hari Raya adalah hari kegembiraan bagi setiap yang beriman. Gembira karena telah berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena telah menang terhadap setan dan hawa nafsu. Karena itu kegembiraan ini jangan disambut dengan gelora nafsu belaka. Ingat bahwa setan seringkali masuk melalui nafsu makan. Karena itu, bila nafsu makan dibuka, setan selalu menang menguasai manusia.</p>
<p>Oleh sebab itu, begitu Ramadhan pergi, pemandangan durjana seringkali begitu mudah bermunculan. Allah swt. dalam surah An Nashr mengingatkan, bahwa kemenangan tidak pantas disambut dengan tawa dan nafsu. Kemenangan harus disambut dengan <em>tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar</em>. Benar kita harus menyebut kemenagan fitri ini dengan <em>tasbih tahmid, tahlil dan istighfar</em>. Dengarkan Allah berfirman: <em>fasabbih bihamdika rabbika wastaggfir, innahuua kaana tawwabaa</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Syawal bukan hari pembebasan sebebas-bebasnya. Melainkan hari pertama kita mulai terjun ke medan pertarungan melawan hawa nafsu dan setan, seteleh sebulan penuh kita berbekal iman dan kekuatan ruhani. Karena itu kita harus menang. Kita harus kendalikan nafsu itu ke arah yang positif, bukan malah dikendalikan nafsu ke arah yang buruk. Kita harus bergegas dalam kebaikan-kebaikan seperti kita dalam suasana Ramadhan.</p>
<p>Bila kita kalah berarti perbekalan kita selama Ramadhan tidak maksimal. Tidak sungguh- sungguh. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita seiman, yang langsung KO justru pada tanggal 1 Syawal. Artinya, begitu mereka masuk bulan Syawal seketika itu mereka terperosok dalam gelimang dosa.</p>
<p>Nabi saw. tidak ingin kita kalah lagi. Itulah rahasia mengapa kita disunnahkan menambah puasa lagi minimal 6 hari di antara bulan Syawal. Nabi bersabda: bahwa siapa yang menambah puasa 6 hari di bulan Syawal, ia akan mendapatkan pahala puasa setahun, seperti pahala puasa yang didapat umat-umat terdahulu.</p>
<p><a name="high_1"></a>Mengapa puasa Syawal? Ini suatu isyarat bahwa kita harus terus mempertahankan diri seperti dalam suasana Ramadhan. Suasana di mana kita tetap dekat kepada Allah swt. Sebab seorang yang menahan nafsunya, tidak akan didekati setan. Bila setan menjauh maka malaikat mendekatinya. Bila malaikat mendekatinya otomatis ia akan semakin dekat kepada Allah. Ingat bahwa seorang yang dekat kepada Allah, ia akan mendapat keutamaan yang luar biasa: tidak saja doa-nya mustajab, melainkan lebih dari itu ia akan dijauhkan dari rasa sedih dan galau.</p>
<p>Allah befirman: “<em>alaa inna awliyaa Allahi laa khawfun ‘alaihim walaa hum yahazanuun</em> <em>(ketahuilah bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah mereka tidak akan mendapatkan rasa takut atau kekhawatiran dan tidak akan pernah dirundung kesedihan).”</em></p>
<p>Terakhir, pada bulan Syawal kali ini marilah kita sama-sama membuka hati, buang jauh segala penyakit dengki dan hasud di hati, bersihkan jiwa kita dari berbagai beban penyakit, sayangi diri kita dengan meningkatkan iman bukan dengan memanjakan diri dalam dosa-dosa.</p>
<p>Mari kira saling mengucapkan: Selamat hari raya, <em>taqabbalahhu minnaa waminkum shaalihal a’maali, wa kullu ‘aamin wa antum bikhairin </em>(semoga Allah menerima amal-amal baik kita, dan semoga dalam semua hari-hari sepanjang tahun kita selalu dalam kebaikan).</p>
<p><em>Amin. Wallahu a’lam bishshowab.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Produktivitas Seorang Muslim]]></title>
<link>http://taufik79.wordpress.com/?p=788</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 02:37:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>taufik79</dc:creator>
<guid>http://taufik79.id.wordpress.com/2008/10/08/produktivitas-seorang-muslim/</guid>
<description><![CDATA[



Produktif merupakan salah satu sifat inti yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Pengakuan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="center">
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><a href="http://taufik79.files.wordpress.com/2008/10/contest-winner.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-791" title="contest-winner" src="http://taufik79.wordpress.com/files/2008/10/contest-winner.jpg" alt="" width="218" height="207" /></a></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">Produktif merupakan salah satu sifat inti yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Pengakuan eksistensi individu (juga sebuah kelompok) di lingkungan masyarakat akan ditentukan oleh ada tidaknya produktivitas individu tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang tidak produktif biasanya akan digelari <em>wujuduhu ka 'adamihi</em>, keberadaannya tidak berpengaruh dan tidak menimbulkan perubahan yang signifikan dan ketiadaannya pun tidak menimbulkan rasa kehilangan serta penurunan etos produktivitas yang lainnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Maka, sangatlah wajar bila dalam rangka memenuhi keinginan manusia untuk menjadi sosok yang produktif, dan eksistensinya secara sosial diakui, banyak konsep-konsep yang ditawarkan kepada mereka supaya bisa membangun dirinya menjadi manusia yang produktif. Semua konsep mempunyai misi tertentu, baik dalam pembentukan paradigma seseorang ataupun pembentukan visi dan misi hidupnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Oleh karena itu, banyak terdapat perbedaan asasi antara konsep yang ditawarkan oleh Islam (strategi Islam menciptakan manusia produktif) dengan konsep-konsep dari luar Islam. Misalnya, konsep-konsep dari luar Islam biasanya berorientasikan materi dan dunia serta menjauhkannya dari nilai-nilai <em>ilahiyyah</em>. Sedangkan konsep Islam adalah penggabungan keduanya. Konsep-konsep <em>Islam</em> mampu menembus dimensi <em>basyariyah</em> sekaligus dimensi <em>ilahiyyah</em>. Oleh karena itu, Islam bukanlah agama yang hanya mengurusi masalah-masalah vertikal saja, akan tetapi juga membahas masalah yang sifatnya horizontal. Islam adalah agama <em>syamil</em>, yang mengurusi semua aspek kehidupan manusia.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><!--more-->Islam merupakan agama <em>'amali</em>, agama yang mengutamakan nilai-nilai produktivitas secara sempurna dan <em>syumuli</em>, baik produktif dalam arti menghasilkan sebuah karya ataupun produktif dalam arti menghasilkan sebuah peningkatan serta perbaikan diri dan masyarakat. Oleh karena itu, produktivitas di sini didefinisikan sebagai semua hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan (<em>khairiyyah</em>). Dan kita dituntut untuk melakukan hal ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Allah swt berfirman, <em>"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.</em>" (QS 22:77)</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sebelum masuk lebih lanjut kepada konsep Islam membina manusia menuju “sosok produktif”, ada satu persepsi yang harus kita samakan mengenai “manusia produktif” ini. Karena kebanyakan kita menggambarkan sosok ini dari satu dimensi saja. Manusia produktif ialah mereka yang memiliki banyak karya, aktif dan energik dalam bekerja. Ini tidaklah salah, akan tetapi bila kita melihat lagi dari kacamata Islam, kita akan mendapatkan bahwa semua nilai-nilai <em>khairiyyah</em> (kebaikan) dianggap suatu produktivitas manusia, duniawi dan <em>ukhrawi</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Oleh karena itu, ada tiga jenis produktivitas manusia, produktivitas terhadap Allah (produktif dalam ibadah <em>mahdhah</em>, seperti shalat, <em>shaum</em>, dzikir, dan lain-lain), produktivitas terhadap diri sendiri (produktif dalam memenej diri, membangun dan membina kedewasaan, dan lain-lain) dan produktivitas terhadap sesama manusia (produktif dalam berbuat <em>ishlah</em> (perbaikan) masyarakat, baik berupa penularan gagasan dan pikiran (karya-karya ilmiah, ceramah dan dakwah) atau berupa tenaga dan jasa).</p>
<p style="margin-bottom:0;">Islam –dengan ke-<em>syumul</em>-annya– menawarkan konsep “manusia produktif” kepada setiap orang sekaligus mengantarkan mereka menembus nilai-nilai <em>ilahiyyah</em> yang sering tertutup oleh tabir kegelapan <em>jahiliyyah</em>. Sekurang-kurangnya ada empat prinsip yang dapat penulis utarakan sebagai konsep Islam dalam membina manusia menjadi muslim produktif, duniawi dan <em>ukhrawi</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Yang pertama, mengubah paradigma hidup dan ibadah. Dalam Islam, hidup bukanlah menuju kematian, akan tetapi menuju kehidupan yang abadi. Hidup merupakan ladang yang akan dituai hasilnya di kehidupan abadi nanti. Sehingga hidup ini merupakan durasi penyeleksian manusia dari amalan-amalannya, dari produktivitasnya di pentas dunia.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Mana di antara mereka yang tingkat produktivitasnya tinggi dan mana yang tidak. Allah swt berfirman:<em>"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."</em><br />
(QS 67:2). Juga dalam ayat yang lain,<em>"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."</em> (QS 51:56)</p>
<p style="margin-bottom:0;">Apabila paradigma (cara pandang) terhadap hidup dan ibadah mulai diarahkan sesuai dengan tuntunan Islam, maka peningkatan produktivitas setiap muslim akan mengalami lonjakan kenaikan yang tinggi. Adapun keterbelakangan umat Islam sekarang ini ialah disebabkan oleh salahnya cara pandang mereka terhadap hidup dan ibadah ini, mereka memisahkan wilayah kehidupan dengan agama, dunia dengan akhirat. Padahal sebenarnya Islam merupakan penghubung antara dunia dan akhirat.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Yang kedua, memelihara kunci produktivitas, yaitu hati. Rasulullah saw bersabda: <em>"Ingatlah dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka akan baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, itu tidak lain adalah hati".</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">Hati merupakan "ruh" bagi semua potensi yang kita miliki. Pikiran dan tenaga tidak akan tercurahkan serta tersalurkan dalam suatu bentuk <em>'amaliyah khairiyyah</em> (bernilai produktif) jika kondisi hati ini mati atau rusak. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas. Kalaupun ada, maka itu secara <em>zhahir</em> saja dan tidak menyentuh nilai-nilai <em>ilahiyyah</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Hati yang terpelihara dan terlindungi akan memancarkan energi yang mendorong manusia untuk beramal lebih banyak dan lebih berkualitas lagi. Produktivitasnya akan terjaga bahkan akan terus bertambah sedikit demi sedikit. Dan tidak hanya itu, <em>'amaliyah</em>-nya (produktivitas) pun akan mempunyai nilai yang abadi. Nilai ini adalah nilai keikhlasan yang jauh dari kepentingan-kepentingan pribadi dan duniawi. Rasulullah saw bersabda: <em>"Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya"</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Yang ketiga, bergerak dari sekarang. Seorang sahabat pernah berkata: <em>"Jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu nanti sore, dan jika engkau di sore hari maka janganlah menunggu waktu besok"</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Prinsip "bergerak dari sekarang" ini menunjukan suatu etos kerja yang tinggi dan <em>hamasah</em> (semangat) beramal yang menggebu-gebu. Seorang muslim sangatlah tidak pantas jika menunda-nunda suatu amal, karena waktu dalam pandangan Islam sangatlah mahal (oleh karena itu, dalam Alquran Allah swt banyak bersumpah dengan waktu), Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengatakan bahwa "waktu adalah kehidupan"</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dari prinsip ini, akan terlahir sosok-sosok manusia <em>'amali</em>. Manusia yang senantiasa menghiasi waktunya dengan produktivitas yang tinggi akan menjauhi hal-hal yang akan mengantarkannya kepada suatu yang tidak produktif. Dan inilah sosok muslim yang ideal sebagaimana yang telah digambarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya, ia berkata: <em>"Di antara tanda bagusnya Islam seseorang, ia senantiasa meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi dirinya".</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">Yang keempat, kontinuitas dalam beramal. Dalam Islam, masa produktif ialah sepanjang hayat, selama ia masih menghirup kehidupan, maka ia dituntut untuk terus beramal dan menjaga produktivitasnya, walaupun amalan itu dilakukan sedikit demi sedikit.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Aisyah pernah menceritakan bahwa suatu waktu Rasulullah saw pernah ditanya mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah, Maka Rasul pun spontan menjawab: <em>"Yang dilakukan secara terus menerus, walaupun sedikit"</em> (al-Hadits)</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dengan prinsip kontinuitas ini, maka Islam dapat menjaga kestabilan produktivitas seorang muslim. Islam tidak membiarkan seorang muslim beramal "besar" kemudian setelah itu padam dan surut kembali. Dorongan kontinu (<em>dawam</em>) dalam beramal dengan bentuk <em>ahabul a'mali ilallah</em> (yang paling disukai oleh Allah) merupakan dorongan terbesar bagi setiap muslim untuk senantiasa terus produktif dan menjaga produktivitasnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Inilah di antara prinsip-prinsip keislaman yang akan mengantarkan manusia menjadi <em>insan 'amali</em>, insan produktif sepanjang hayat. Sekarang tinggal tugas kita, apakah prinsip-prinsip tersebut hanya akan dijadikan sebuah konsep belaka, ataukah akan dijadikan sebagai "ruh" kehidupan kita, sehingga diri kita menjadi "Islam yang berjalan" dan petunjuk-petunjuk <em>ilahiyyah</em> betul-betul teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><em>Wallahu a'lam</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ti kur epërsinë kundërshton!]]></title>
<link>http://atafili.wordpress.com/?p=1434</link>
<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 20:42:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bija e Islamit</dc:creator>
<guid>http://atafili.id.wordpress.com/2008/10/07/ti-kur-epersine-kundershton/</guid>
<description><![CDATA[“E mos u dobësoni dhe mos u dëshpëroni derisa ju jeni më të lartit, po qe se jeni besimtarë ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="center"><img class="alignleft size-medium wp-image-1435" title="000000001" src="http://atafili.wordpress.com/files/2008/10/000000001.jpg?w=236" alt="" width="165" height="210" /><strong><em><span lang="SQ">“E mos u dobësoni dhe mos u dëshpëroni derisa ju jeni më të lartit, po qe se jeni besimtarë të sinqertë.”</span></em></strong><span lang="SQ"> – Kur’an, 3:139</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:24pt;" align="center"><span lang="SQ">Shkruan: Avni Tafili</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:24pt;" align="center"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:24pt;" align="center"><em><span lang="SQ">Le ta dijë pra secili musliman, se epërsinë, të cilën Allahu i Madhëruar ia premtoi, nuk mund ta arrijë, e as ta shijojë, veçse duke qenë i zgjuar, i urtë, gjakftohtë, mendjendritur, largpamës, durimtar, e punëtor.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Epërsi, epitet, jo, por premtim për njerëzit që i binden të vërtetës, janë të sigurt në fitore, të përkushtuar në rrugëtimin e tyre, asgjë fare nuk ua thyen rrugën, janë të përqendruar në atë që thonë, mendojnë dhe veprojnë. Janë plotësisht të bindur se të jesh në epërsi, do të thotë, të jesh me të vërtetën. Epërsia nuk është për njerëzit që frikë i kanë edhe hijes së tyre! Jo, kurrsesi! Epërsia është për njerëzit e fuqishëm. Jo të fuqishëm fizikisht, por të fuqishëm shpirtërisht! Po këta, nuk kundërshtojnë ep</span><span lang="SQ">ë</span><span lang="SQ">rsin</span><span lang="SQ">ë</span><span lang="SQ"> e premtuar!<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Epërsia i takon njerëzve të pastër, të ngritur moralisht, të ndritur mendërisht. Nuk mund të jesh në epërsi, përderisa dyshon në forcat tua. Jo, po s’mund të jesh më i mirë se të tjerët ndërsa ti dobëson vetveten duke luftuar me njerëz që nuk i thërrasin arsyes e kanë zemra të verbëta! Ti me mendje synon epërsinë, por ti në realitet synon krenarinë vetjake. Po, ti e tërë ajo që bën, është t’ua dëshmosh të tjerëve, sesa në epërsi ndaj tyre je!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Jo, ti je i pafuqishëm. Ti nuk mund të ndryshosh asgjë. Ti rri i vetmuar ndaj të tjerëve, që ti ndaj tyre ndihesh i epërm. Ndërsa, “të tjerët” bëjnë punën e tyre. Jo, nuk ke për të shijuar epërsinë, përderisa ti epërsinë tënde nuk e dëshmon me vepër që fryte jep! Çdo kush mund të thirret në epërsi, por jo çdo kush mund ta dëshmojë atë! Të epërm nuk janë njerëzit që rrinë në xhungël, e as ata që rrinë në periferi, por ata që depërtojnë në shoqëri, depërtojnë aty ku jeta lëvizë, aty ku gjuha dhe dora vepron!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Ti je njeri që paragjykon! Kundërshton të komunikosh. Kundërshton të rrish me njerëz që në duart e tyre është pushteti, qoftë edhe i përkohshëm. Si mund ta dëshmosh epërsinë, kur ti vetë epërsinë e nëpërkëmbë duke qëndruar mbrapa syve të njerëzve. Njerëzit flasin, ndërsa ti gjithnjë u kundërvihesh mbrapa krahëve. Jo, kjo nuk është cilësi e njerëzve që kanë epërsi ndaj të tjerëve.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">E epërsia për të cilën po flitet, nuk mund ta kenë njerëzit që burimin e kësaj epërsie nuk e shfrytëzojnë! Jo, e shfrytëzojnë, por vetëm për të ushqyer egon, për të ushqyer emrin e tyre!<span> </span>Ti ke fuqi të pashfrytëzuar, ke shpalljen dhe udhëzimin hyjnor, burim të pashtershëm kurrë! E që ti me to mund të prekesh çdo gjë që qëllon syri i mendjes sate! Por jo! Ti ulë vetveten duke menduar se po ulë të tjerët; shter fuqinë, duke menduar se po shter fuqinë e të tjerëve!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">E të tjerët, derisa kryejnë operacionet e tyre, ti rri duke vështruar! “Je i epërm”, por n</span><span lang="SQ">ë </span><span lang="SQ">ëndrrat tua</span><span lang="SQ">!</span><span lang="SQ"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Le ta dijë pra secili musliman, se epërsinë, të cilën Allahu i Madhëruar ia premtoi, nuk mund ta arrijë, e as ta shijojë, veçse duke qenë i zgjuar, i urtë, gjakftohtë, mendjendritur, largpamës, durimtar, e punëtor. Allahu është me durimtarët! E ti pra durim s’ke, apo fare pak! E ç’di ti, ç’do të thotë durimtar të jesh! Durim: është pritje e frytit; fryt që ti e ke mbjell! Jo, ti s’ke pse duron, sepse s’ke ç’pret, një fjalë, një ofendim, ti shpërthen, ti largohesh, ti vetmohesh, ti izolohesh! Po, edhe vetes i thua: jam në epërsi ndaj të tjerëve!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Musliman, fjalë që ka peshë! Jo fjalë që thjesht e thotë gjuha, kur njeriu me nguti e pakujdesi flet! Është përgjegjësi. Është vendosmëri. Është këmbëngulësi! Ti kur vetes musliman i thua, dije se, je pjesë e Ummetit! Nuk je më vetëm. Prej teje varet edhe zgjimi, varet përmirësimi, varet çdo gjë! E muslimanët janë në epërsi, përderisa ata durojnë, edhe kur fyhen! E kur fyhen, presin fryte, pasi fyesit, mashtruesit, të padrejtit, fundi i pret çdo çast. Por atë çast, ti, mund ta ngadalësosh ose ta përshpejtosh! E ti epërsinë e premtuar mund ta prekësh, kur çdo herë e më tepër i afrohesh atij çasti!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Mos më fol për vlerat që ke! Mjaft më duke pëshpëritur atë që ndjen, a mendon! Depërto e vepro! Nderi i muslimanit çdo ditë nëpërkëmbet, sepse ti ende mendon se diçka nga qielli do të zbres, e do të të ngrejë lartë! Vetëm nëse je duke pritur pra çastin e vdekjes! Por edhe atë e shijojnë, shijim ngadhënjyesi, vetëm të epërmit duke u përpjekur që nderi dhe dinjiteti i muslimanit të mos cenohet. Jo ti, ti s’je i epërm! Të epërmit nuk dorëzohen, nuk dobësohen, nuk lodhen, nuk ftohen. Të epërmit e kanë zemrën gjithnjë plot vrull, e mendjen plot zgjim, e shpirtin plot shpresë në Allahun e Madhëruar!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">E pra, ti lartësoje Zotin tënd, Allahun e Gjithëpushtetshëm, prej agimit deri në mbrëmje, e përkujto se, t’u është premtuar se do të jesh prej të lartëve, përderisa ti Atij i përulesh, Atë e lartëson, dhe askujt nuk i trembesh, e askujt nuk i përulesh, as vetvetes sate! Duke qëndruar kokulur, por mendjezgjuar, duke qëndruar syulur, por dritëgjatë, po kështu do të jesh prej të lartëve në virtyt e në vepër, e do të çash gjithçka në paqe e në heshtje, me urtësi!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">Përgjigjja është dituria dhe shkalla e urtësisë! Nuk ka lartësi e as epërsi, po s’patë zgjuarsi e strategji! </span><span lang="SQ"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><strong><em><span lang="SQ">“All-llahu i lartëson ata që besuan prej jush, i lartëson në shkallë të lartë ata të cilëve u është dhënë dituri. All-llahu është i njohur mirë me atë që punoni.”</span></em></strong><span lang="SQ"> – Kur’an, 58:11</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span lang="SQ">O Allah! Na udhëzo të ndjejmë dhe të arrimë të shijojmë dhuntitë Tua ndaj nesh!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:24pt;" align="center"><span lang="SQ">Ve-l-hamdu lilahi ve salAllahu alejhi ve selem</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Misteri Rumah Tua]]></title>
<link>http://sisikecilduniamaya.wordpress.com/?p=118</link>
<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 12:08:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>almaadam85</dc:creator>
<guid>http://sisikecilduniamaya.id.wordpress.com/2008/10/07/misteri-rumah-tua/</guid>
<description><![CDATA[Novel Misteri Rumah Tua
Silahkan Download

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Novel Misteri Rumah Tua</strong></p>
<p><strong>Silahkan <a href="http://w15.easy-share.com/1701861623.html">Download</a></strong></p>
<p><img class="alignleft" title="Misteri Rumah Tua" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:zCUJxjLg0R4nHM:http://www.trikjitu.com/image/Misteri.jpg" alt="" width="70" height="98" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dalam Mihtab Cinta]]></title>
<link>http://sisikecilduniamaya.wordpress.com/?p=107</link>
<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:28:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>almaadam85</dc:creator>
<guid>http://sisikecilduniamaya.id.wordpress.com/2008/10/07/dalam-mihtab-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Dalam Mihtab Cinta
Penerbit:
1. Penerbit Republika
Jl. Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dalam Mihtab Cinta</strong></p>
<p>Penerbit:<br />
1. Penerbit Republika<br />
Jl. Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan<br />
Telp. (021) 7892845. Fax. (021) 7892842<br />
Anggota IKAPI DKI Jakarta</p>
<p>2. Pesantren Basmala Indonesia<br />
Jl. Raya Patemon No. 18.A Gunungpati,<br />
Semarang, Jawa Tengah. Telp.: (024) 703.41.703<br />
Email: basmala_indo@yahoo.com<br />
<strong>Silahkan <a href="http://w14.easy-share.com/1701861578.html" target="_blank">Download</a></strong></p>
<p><img class="alignleft" title="Dalam Mihrab Cinta" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:H4J16ipIPph_uM:http://www.rumahbukuislam.com/gambar.php%3Fkodebuku%3DREP011" alt="" width="67" height="101" /></p>
<p><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENGETAHUAN DASAR SHOLAT]]></title>
<link>http://navy102.wordpress.com/?p=180</link>
<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 07:32:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>navy102</dc:creator>
<guid>http://navy102.id.wordpress.com/2008/10/07/pengetahuan-dasar-sholat/</guid>
<description><![CDATA[Pengantar tentang Sholat
Sholat menurut bahasa berarti doa. Adapun menurut peristilahan, sholat iala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Pengantar tentang Sholat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat menurut bahasa berarti doa. Adapun menurut peristilahan, sholat ialah ibadah tauqifi yang sudah sangat dikenal, dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Perintah menegakkan sholat tersebar sangat banyak dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Diantaranya, Allah berfirman : “Sesungguhnya sholat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman”. Sholat merupakan rukun Islam yang kedua, setelah syahadat. Ia adalah tiang agama. Nabi saw bersabda “Sholat adalah tiang agama. Barangsiapa menegakkannya maka ia telah menegakkan agama, dan barangsiapa meninggalkannya maka ia telah merobohkan agama”. Ia juga merupakan benteng terakhir seorang muslim, karena Islam itu memiliki simpul-simpul yang akan terurai satu demi satu dimana yang akan terakhir kali terurai adalah sholat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat telah disyariatkan sejak awal-awal munculnya Islam di Makkah. Sejak awal kenabian, yakni semenjak turunnya QS Al-Muzzammil, Nabi telah diwajibkan untuk melakukan sholat malam. Sebelum turunnya perintah sholat lima waktu, umat Islam di Makkah saat itu hanya melakukan sholat dua kali dalam sehari, yakni pada pagi dan petang saja. Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, umat Islam diwajibkan untuk melakukan sholat lima kali dalam sehari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><!--more--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Diantara hikmah menegakkan sholat ialah :</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat akan dapat mencegah dari      perbuatan keji dan munkar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat, bersama-sama dengan      sabar, merupakan sarana meminta pertolongan kepada Allah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat merupakan sarana      mengingat Allah di tengah-tengah kesibukan manusia dalam menjalani      kehidupan dunia. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><br />
Ancaman bagi yang meninggalkan sholat. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sedemikian pentingnya sholat, Allah bahkan tetap memerintahkan orang yang sakit untuk melakukannya sesuai dengan kemampuannya. Bahkan orang yang dicekam ketakutan pun tetap diharuskan melakukan sholat, meskipun harus melakukannya diatas kendaraan, sambil berjalan, atau dengan tata cara khusus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Barangsiapa meninggalkan sholat dengan keyakinan bahwa ia tidak wajib maka ia telah kafir. Adapun orang yang meninggalkan sholat hanya karena malas tetapi masih meyakini wajibnya, maka ia harus diingatkan untuk kembali melakukan sholat. Jika tidak bisa diingatkan, maka hendaknya ia dihukum dengan hukuman yang sanggup membuatnya jera dan menyadarkannya untuk kembali melakukan sholat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Bahkan Allah juga mencela orang yang melakukan sholat tetapi lalai dalam sholatnya. Maksud lalai disini antara lain suka mengundur-undur waktu sholat sampai waktunya hampir habis (sehingga ia melakukan sholat dengan tergesa-gesa) atau bahkan habis. Lalai disini juga bisa bermakna tidak pernah khusyu’ sewaktu sholat. Raganya sholat tetapi pikirannya kemana-mana, memikirkan kesibukan dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><br />
<strong>Syarat dan Rukun Sholat</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Syarat wajibnya sholat bagi seseorang :</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Muslim.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Berakal.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Baligh.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Syarat sahnya sholat :</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Mengetahui bahwa waktu sholat      telah masuk.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Suci dari hadats, baik hadats      kecil maupun hadats besar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Badan, pakaian, dan tempat      sholat suci dari najis.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Menghadap ke kiblat bagi yang      mampu.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Rukun-rukun (fardhu-fardhu) sholat :</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Niat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Takbiratul ihram.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Berdiri (pada sholat fardhu).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Membaca Al-Fatihah pada setiap      rakaat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Ruku’ dengan thuma’ninah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">I’tidal dengan thuma’ninah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sujud dengan thuma’ninah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Duduk diantara dua sujud.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Duduk tasyahhud akhir dan      membaca tasyahhud didalamnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Salam.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sunnah-sunnah sholat :</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Mengangkat tangan pada empat      tempat : saat takbiratul ihram, saat menuju ruku’, saat bangkit dari ruku’,      dan saat beranjak ke rakaat ketiga.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Meletakkan tangan kanan diatas      tangan kiri.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Mengucapkan doa istiftah pada      rakaat pertama secara sirri.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Mengucapkan amin setelah      Al-Fatihah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Membaca ayat Al-Qur’an setelah      Al-Fatihah, pada rakaat pertama dan kedua.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Takbir intiqal.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Membaca dzikir dan doa      sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ketika ruku’, i’tidal, sujud, dan      duduk diantara dua sujud.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Duduk istirahat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Tasyahhud awal.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Membaca sholawat Nabi setelah      tasyahhud akhir.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Membaca doa sebelum salam.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Membaca dzikir dan doa sesudah      salam.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu-waktu sholat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu sholat shubuh :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbitnya matahari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu sholat zhuhur :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sejak tergelincirnya matahari sampai bayangan benda sama panjang dengan bendanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu sholat ashar :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sejak bayangan benda sama panjang dengan bendanya sampai matahari menjadi kuning. Adapun sejak matahari menjadi kuning sampai terbenamnya matahari adalah waktu yang makruh – meskipun boleh – bagi yang tidak memiliki udzur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu sholat maghrib :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sejak matahari telah benar-benar tenggelam sampai hilangnya mega merah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu sholat isya’ :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sejak hilangnya mega merah sampai tengah malam. Sholat isya’ sebaiknya tidak dilakukan sejak tengah malam sampai terbitnya fajar shadiq bagi yang tidak memiliki udzur, meskipun boleh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu yang paling utama :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu sholat yang paling utama adalah diawal waktu, terutama sholat maghrib karena ada yang berpendapat bahwa sholat maghrib tidak memiliki waktu muwassa’ (berdasarkan hadits Jibril mengimami Nabi saw). Dikecualikan dari awal waktu sebagai waktu yang paling utama adalah sholat isya’, yang mana waktunya yang paling utama adalah tengah malam. Khusus untuk sholat zhuhur, lebih disukai diundur sampai panas matahari sedikit reda pada hari dimana panas sangat menyengat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Waktu yang dilarang untuk sholat :</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Tiga waktu : saat terbitnya      matahari sampai naiknya matahari setinggi tombak (=tiga meter), saat      istiwa’ (matahari tepat diatas kepala) [kecuali untuk sholat sunnah      jum’at], dan saat matahari sedang tenggelam.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sesudah sholat shubuh.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sesudah sholat ashar.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;"><br />
<strong>Tempat-tempat sholat</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat bisa dilakukan dimana saja asalkan tempat tersebut suci. Tempat-tempat tertentu yang kita dilarang untuk sholat disitu adalah pekuburan dan WC. Sebaik-baik tempat untuk sholat fardhu bagi laki-laki adalah masjid. Apabila terdapat banyak masjid, maka yang lebih utama adalah di masjid yang jumlah jamaahnya jauh lebih banyak. Adapun sholat sunnah, secara umum lebih utama jika dilakukan di rumah (kecuali beberapa sholat seperti sholat tahiyyatul masjid yang tentu saja tidak boleh dilakukan kecuali di masjid). Sementara itu, sebaik-baik tempat sholat bagi perempuan adalah rumahnya. Tetapi, kita tidak boleh melarang para wanita untuk pergi ke masjid, selama tidak berbahaya bagi keselamatan dan keamanannya dan tidak pula mendatangkan fitnah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Disamping itu, terdapat pula tempat-tempat khusus yang mana sholat didalamnya memiliki keutamaan yang sangat besar. Tempat tersebut adalah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat Berjama’ah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Menurut jumhur ulama’, hukum sholat berjama’ah adalah sunnah muakkadah bagi setiap laki-laki muslim yang mukallaf. Sebagian ulama mengatakannya wajib bagi yang mendengar adzan dan tidak memiliki udzur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Sholat berjama’ah lebih utama dua puluh lima atau dua puluh tujuh derajat dibanding sholat sendirian. Sholat berjama’ah merupakan salah satu sarana untuk memperkuat ukhuwah dan kekompakan diantara sesama muslim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Dalam sholat berjama’ah harus ada seorang imam dan sekurang-kurangnya satu orang makmum. Seorang wanita tidak boleh mengimami makmum laki-laki mukallaf. Tetapi, seorang laki-laki boleh mengimami makmum wanita. Yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling baik bacaan Al-Qur’an-nya. Jika sama, maka yang lebih memahami sunnah Nabi saw. Jika sama, maka yang lebih dulu hijrah. Jika sama, maka yang lebih tua usianya. Seorang imam harus memperhatikan kondisi makmumnya. Yang dijadikan ukuran adalah makmum yang paling lemah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Seorang makmum tidak boleh mendahului gerakan imam. Apabila imam melakukan kesalahan, maka makmum hendaknya mengingatkan. Cara mengingatkan adalah dengan mengucapkan tasbih (Subhanallah) bagi makmum laki-laki dan dengan bertepuk bagi makmum wanita. Apabila imam salah dalam bacaan Al-Qur’an maka hendaknya makmum mengingatkan dengan membacakan bacaan yang seharusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;">Shaf yang paling utama bagi makmum laki-laki adalah shaf yang terdepan. Lebih disukai apabila yang berdiri persis dibelakang imam pada shaf pertama adalah yang paling alim, demikian seterusnya untuk beberapa orang disampingnya. Tujuannya adalah agar mudah mengingatkan imam jika salah dan agar bisa menggantikan imam jika imam batal sholatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&#34;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mohon Maaf Lahir dan Batin]]></title>
<link>http://riahantoro.wordpress.com/?p=76</link>
<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 02:11:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>riahantoro</dc:creator>
<guid>http://riahantoro.id.wordpress.com/2008/10/07/mohon-maaf-lahir-dan-batin/</guid>
<description><![CDATA[Mumpung masih suasana lebaran, dan aku baru sempat untuk nulis di blog ini,
Kami sekeluarga mengucap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung masih suasana lebaran, dan aku baru sempat untuk nulis di blog ini,</p>
<p style="text-align:left;">Kami sekeluarga mengucapkan</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Taqoballahu mina Waminkum, Shiamana Washiamakum<br />
</strong><strong>Mohon Maaf Lahir Dan Batin</strong></p>
[caption id="attachment_80" align="aligncenter" width="350" caption="1 Syawal 1429 H"]<a href="http://riahantoro.wordpress.com/files/2008/10/lebaran.gif"><img class="size-full wp-image-80" title="lebaran" src="http://riahantoro.wordpress.com/files/2008/10/lebaran.gif" alt="1 Syawal 1429 H" width="350" height="250" /></a>[/caption]
<p style="text-align:center;"><strong> Mohon Maaf Atas Semua Khilaf<br />
dan Segala Kesalahan</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>toro &#38; erna</em><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjaga Kerukunan Keluarga]]></title>
<link>http://ahmadsahidin.wordpress.com/?p=186</link>
<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:38:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmad sahidin</dc:creator>
<guid>http://ahmadsahidin.id.wordpress.com/2008/10/06/menjaga-kerukunan-keluarga/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Hj.NINIH MUTHMAINNAH
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Hj.NINIH MUTHMAINNAH</strong></p>
<p><em>“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan- itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim”</em> (QS. At-Taubah: 109)</p>
<p>Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang diwarnai dengan kerukunan. Yakni rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta kasih dan ketakwaan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan- itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah: 109).</p>
<p>Setiap manusia, sepanjang zaman pasti mendambakan kehidupan sakinah, mawaddah, warahmah. Akan tetapi tidak sedikit manusia yang gagal mewujudkannya dikarenakan mengambil langkah yang salah dalam mengarungi biduk kehidupan keluarga.  </p>
<p>Pasang surut kehidupan adalah sunatullah. Rumah tangga sebagai miniatur kehidupan, tentu tidak akan lepas dari sunatullah. Sewaktu-waktu pasti akan mengalami pasang surut. Lantas, bagaimanakah kita mengendalikan biduk rumah tangga yang terkadang harus siap diterjang badai kehidupan yang senantiasa berubah?<!--more--></p>
<p>Maka, rumah tangga sejatilah yang kemudian dicita-citakan. Rumah tangga sejati adalah rumah tangga yang memahami alur kehidupan sebagai sunatullah. Selalu siap mengatasi bermacam gelombang keidupan. Duka, lara, nestapa, pedih, pilu, dan semua kata yang bersinonim dengan penderitaan dan kegagalan adalah sisi lain kehidupan.</p>
<p>Ibarat dua sisi mata uang, jika tidak bahagia maka derita. Juga sebaliknya. Itulah hidup. Semua derita itu adalah badai kehidupan yang akan mernghempaskan kita dari cita-cita yang diharapkan. Jika badai derita itu dianggap sebagai batu loncatan menuju kesuksesan, kita akan menikmati setiap derita itu sebagai salah satu dari episode kehidupan yang suatu saat bisa berubah. </p>
<p>Saat badai rumah tangga menerpa, seorang mukmin tentu akan sadar bahwa semua yang terjadi adalah ujian bagi keimanan. Ujian sebagai bukti kasih sayang Allah kepada kita sebagai sarana peningkatan derajat keimanan sekaligus menyempurnakan nikmat-Nya.<br />
Menggagas rumah tangga yang paling ideal bukan hal yang mudah. Perlu persiapan, kesabaran, dan keilmuan yang cukup untuk bisa membangunnya. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan bekal dalam menggagas rumah tangga ideal, sehingga kerukunan keluarga senantiasa terjaga. </p>
<p>Hal yang pertama adalah kita harus menjadi orang yang rendah diri. Tidak merasa ”paling” di antara anggota keluarga yang lain. Yang kedua, jadilah orang yang sabar. Karena dengan kesabaran, akan timbul kebahagiaan. Ketiga, mulai menyayangi saudara dari diri kita sendiri. Menyayangi anggota keluarga tanpa mengharapkan orang lain yang lebih dulu menyayangi kita. Keempat, jadilah orang yang terbuka, jujur, dan mau mendengar. Terbuka mengungkapkan perasaan kepada anggota keluarga dengan jujur dan siap menjadi pendengar saat anggota keluarga ingin mengungkapkan perasaannya. Kelima, bentuk komunikasi yang baik antar anggota keluarga, sehingga perbedaan karakter masing-masing tidak menjadi hambatan dalam membangun kerukunan keluarga. Dan yang keenam adalah menyambung tali silaturrahim. Sebab dengan silaturrahim berarti kita telah menyambungkan tali kasih sayang. </p>
<p>Hj.NINIH MUTHMAINNAH,<br />
Istri pertama Aa Gym dan Pembina Muslimah Center Yayasan Daarut Tauhiid (DT) Bandung</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Met Idul Fitri]]></title>
<link>http://vaepink.wordpress.com/?p=262</link>
<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 13:13:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>vaepink</dc:creator>
<guid>http://vaepink.id.wordpress.com/2008/10/03/met-idul-fitri/</guid>
<description><![CDATA[
 Kesempurnaan hanya milik Allah. Kesalahan dan kekhilafan adalah milik
kita semua. 
Selamat Idul F]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://vaepink.files.wordpress.com/2008/10/ketupat_lebaran2.jpg"><img class="size-full wp-image-265 aligncenter" title="ketupat_lebaran2" src="http://vaepink.wordpress.com/files/2008/10/ketupat_lebaran2.jpg" alt="" width="401" height="451" /></a></p>
<p style="text-align:center;"> <span style="color:#0000ff;">Kesempurnaan hanya milik Allah. Kesalahan dan kekhilafan adalah milik<br />
kita semua. </span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muhafazakar ! ve Demokrat..]]></title>
<link>http://nurisale.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2008 20:08:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurisale</dc:creator>
<guid>http://nurisale.id.wordpress.com/2008/10/01/muhafazakar-ve-demokrat/</guid>
<description><![CDATA[Muhafazakar ! ve Demokrat..  (Alıntı)
 
Tayip Erdoğan, partisini “Muhafazakar Demokrat” diy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Muhafazakar ! ve Demokrat..  (Alıntı)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tayip Erdoğan, partisini <strong>“Muhafazakar Demokrat”</strong> diye tanımlamış. Daha önceleri gazetelerde bazı köşe yazarlarının da bu hataya düştüğünü görmüştüm. Sorun, <strong>falan parti veya filanca partiler değil</strong> bu yazımda. <strong>Dikkat ediniz..</strong> <strong><em>Tanım..</em></strong> <strong><em>ve tanımdaki çelişki..</em></strong> Yani, <strong><em>hiçbir partiyi desteklemeyen</em></strong> bu vatandaş bu defa(ya özgü) partileri (veya kişileri) değil, fikirleri irdeleyecek. Eşlik eder misiniz?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>“Muhafazakar Demokrat”</em></strong> ta(nı)mlamasında izafe edilen ve izafe olunan iki kavram üzerinde kısaca duralım.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>‘Demokrat’</em></strong> sıfatı ecnebî lisanındaki ‘Democracy’ (Demokrasi) kelimesinden türemiştir. Ama ne hikmettir bilinmez kimse henüz tam tanımlayamamış bu ‘demokrasi’yi. [1] Yani, ne idiği belirsiz bir söylem. “Şekere benzer tadı yok.. Gökte uçar, kanadı yok..” misali her yana çekilebilen bilmece gibi bir kavram; DEMOKRASİ.. ve bir o kadar kıvırtkan, DEMOKRAT..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>‘Muhafazakâr’</em></strong> ise Arap lisanındaki (değişim, zarar ve sair afetlerden) koruma-saklama anlamlarına sahip ‘HaFeZe’ kelimesinden türemiştir. Bu bağlamda dini ve kültürel değerlerini (akıl kabında) saklayana <strong><em>‘Hafız’</em></strong> ve (gayretleriyle-çalışmalarıyla) içtimai hayatta koruyana<strong><em> ‘Muhafız’</em></strong> denir. [Muhafazakar yani; muhafaza ehli.. Koruyucu..]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tanımları ister farklı şekilde yapılsın, ister hiç yapılmasın bu iki kelime <strong><em>nasıl beraber kullanılıyor </em></strong>–hem de tamlama olarak- şaşırmamak elde değil.. <strong><em>Biri </em></strong>(tanımı yapılmadığından veya her yana çekilmesi istendiğinden) <strong><em>değişken, diğeri ise değişime karşı olan..</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Muhafazakar, yüce değerlerine kökten bağlı kişiye denir.. Değişime karşı olandır Muhafız.. Her an zinde ve teyakkuzdur.. İslam da bunu gerektirmekte.. İranlı bir yetkilinin dediği gibi <strong><em>“Değişime Hayır.. Gelişime (ve İlerlemeye) Evet..” der Muhafazakar..</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Demokrasi ve Laiklik ise birer yeniliktir, yani değişim.. Dinimizde, dilimizde ve tarihimizde yeri yoktur.. [2] Yabancıların icadı, yine yabancı fikirlerdir..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bu durumda <strong>Muhafazakar Demokrat olamaz.. Demokrat Muhafazakar da..</strong> Çünkü Muhafaza edilen ve edilmesi gereken 1400 sene evvel insanlığa gelmiş olan değerlerdir. Demokrasiyi ve laikliği muhafazadan bahsedilmesi ne de saçma geliyor..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">(Değişim olan ve bu yüzden dinde reddedilmesi gereken) Demokrasi ve Laikliği, (muhafaza edilmesi gereken) İslam ve Cumhuriyet (İslam Cumhuriyeti) ile karıştırmak... İşte, en büyük hatamız budur..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">İşin aslını gerçek bir Muhafazakârdan dinleyelim;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>“…benden sordular ki: "Cumhuriyet hakkında fikrin nedir?"</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>Ben de dedim: "Eskişehir mahkeme reisinden başka daha sizler dünyaya gelmeden ben dindar bir cumhuriyetçi olduğumu</em></strong> (İslam Cumhuriyeti fikrini savunduğumu) <strong><em>elinizdeki tarihçe-i hayatım ispat eder. Hülâsası</em></strong> (özetle) <strong><em>şudur ki: O zaman şimdiki gibi, hâli bir türbe kubbesinde inzivada idim. Bana çorba geliyordu. Ben de tanelerini karıncalara verirdim, ekmeğimi onun suyuyla yerdim. İşitenler benden soruyordular. Ben de derdim: Bu karınca ve arı milletleri cumhuriyetçidirler. O cumhuriyetperverliklerine</em></strong> (Cumhuriyeti sevmelerine) <strong><em>hürmeten, tanelerini karıncalara verirdim."</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>Sonra dediler: "Sen Selef-i Salihîne</em></strong> (geçmiş salihlere) <strong><em>muhalefet ediyor</em></strong> (onlara aykırı davranıyor)<strong><em>sun."</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>Cevaben diyordum: "Hulefâ-i Râşidîn </em></strong>(dört halife),<strong><em> her biri hem halife, hem reis-i cumhur</em></strong> (cumhurbaşkanı) <strong><em>idi. Sıddîk-ı Ekber</em></strong> (İmam-ı Ali r.a), <strong><em>Sahabe-i Kirama elbette reis-i cumhur hükmünde idi. Fakat mânâsız isim ve resim değil, belki hakikat-i adaleti</em></strong> (gerçek adaleti) <strong><em>ve hürriyet-i şer'iyeyi</em></strong> (şer’i özgürlüğü) <strong><em>taşıyan mânâ-yı dindar cumhuriyetin reisleri</em></strong> (İslam Cumhuriyetinin başkanları) <strong><em>idiler."</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>İşte, ey müddeiumumî</em></strong> (savcı) <strong><em>ve mahkeme âzâları.</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em>Elli seneden beri bende bulunan bir fikrin aksiyle beni itham ediyorsunuz</em></strong> (suçluyorsunuz). <strong><em>Eğer</em></strong> (İslam Cumhuriyeti’ni değil de) <strong><em>lâik cumhuriyet soruyorsanız, ben biliyorum ki, lâik mânâsı, bîtaraf </em></strong>(tarafsız) <strong><em>kalmak, yani hürriyet-i vicdan düsturuyla, dinsizlere ve sefahetçilere ilişmediği gibi, dindarlara</em></strong> (muhafazakarlara) <strong><em>ve takvâcılara da ilişmez</em></strong> (karışmaz) <strong><em>bir hükûmet telâkki ederim</em></strong> (anlarım). <strong><em>On senedir ki hayat-ı siyasiye</em></strong> (siyasetten) <strong><em>ve içtimaiyeden çekilmişim.</em></strong> (Bu yüzden) <strong><em>Hükümet-i cumhuriye</em></strong> (Cumhuriyet hükümetinin gerçekte) <strong><em>ne hal kesb ettiğini</em></strong> (aldığını) <strong><em>bilmiyorum. El'iyâzü billâh</em></strong> (Allah korusun), <strong><em>eğer dinsizlik hesabına imanına ve âhiretine çalışanları</em></strong>(n aleyhine ve onları) <strong><em>mes'ul edecek</em></strong> (sorumlu tutacak) <strong><em>kanunları yapan ve kabul eden bir dehşetli şekle girmişse, bunu size bilâperva ilân ve ihtar ederim ki, bin canım olsa, imana ve âhiretime feda etmeye hazırım. Ne yaparsanız yapınız, benim son sözüm "Allah bize yeter. O ne güzel vekildir."</em></strong> (Âl-i İmrân; 173)<strong><em> olacak...”</em></strong> [3]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Üstad Hazretleri, sonraları başka bir yerde ilan ediyor ki;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><strong>“... muarızlarımız olan zındıklar ve münafıklar, istibdad-ı mutlaka</strong></em> (baskıcı-zorba yönetime)<strong><em> "cumhuriyet"</em></strong> (gibi yüce bir)<strong><em> nâmı</em></strong> (ismi)<strong><em> vermekle, irtidad-ı mutlakı </em></strong>(dinden uzaklaşmayı-dönmeyi)<strong><em> rejim altına </em></strong>(devlet desteğine)<strong><em> almakla, sefahet-i mutlaka</em></strong> (beyinsizliğe yine)<strong><em> "medeniyet"</em></strong> (çağdaşlık)<strong><em> ismi</em></strong> (adını)<strong><em> vermekle, cebr-i keyfî-i küfrîye</em></strong> [4] <strong><em>"kanun" ismini takmakla hem sizi iğfal, hem hükümeti işgal, hem bizi perişan ederek, hâkimiyet-i İslâmiyeye ve millete ve vatana ecnebi hesabına</em></strong> (yabancıların faydasına) <strong><em>darbeler vuruyorlar...”</em></strong> [5], [6]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">------------------------</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dipnotlar;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">[1]- Genelde <em><strong>“halkın kendi kendini yönetmesi”</strong> </em>şeklinde yorumlanıyor demokrasi.. Ama, halkın kendi kendini yönetmesi <strong><em>‘Cumhuriyet’tir, ‘Demokrasi’</em></strong> değil. İslam bu yüzden, Cumhuriyet yönetimine izin verir, Yüce Meleklerin veya daha başka yüce varlıkların değil, insanlığın yine kendilerini İslam hükümleriyle idare etmesini ve yönetmesini emreder Kur’an. Bu yüzden yönetim olarak <strong><em>İslam Cumhuriyeti</em></strong> amaçlanmıştır. (Yeryüzünde, şu an, maalesef bu yönetim sistemini sadece İran kabul ediyor. İnşaAllah çoğalır bu ülkeler.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">[2]- Demokrasi, bazen de <strong><em>“Çoğunluğun isteğinin hüküm-fermâ (geçerli) olması”</em></strong> şeklinde yorumlanır. Gerçi, şahid olunan tüm Demokratik hükümetlerde bunun aksi gerçekleşmiştir; temsilci-vekil adını alan (ama temsille ilgisi olmayan) az bir grubun keyfî uygulamaları kanun kabul edilmiştir. Bu tanımdaki demokrasi gerçekten yaşanmış olsa bile İslamca yanlıştır. Zira; Allah (c.c) buyuruyor; <strong><em>“Eğer yeryüzündekilerin çoğunluğuna uyarsan seni Allah yolundan saptırırlar. Çünkü onlar sadece zanna uyarlar ve saçmalarlar.”</em></strong> (En’am Suresi, 116)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">[3]- Said Nursî , Risale-i Nur; On İkinci Şua, </span><a name="s.992"><span style="color:#668822;font-family:Times New Roman;">sf. 992</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">[4]- cebr-i keyfî-i küfrîye: hem cebren (güç kullanarak-zorbalıkla), hem keyfi olarak (nedensiz ve gerekçesiz – kafa nereye eserse), hem de küfür yönünde kanunlar çıkarma..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">[5]- Said Nursî, Risale-i Nur; Onikinci Şua, sf. 995</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:35.45pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">[6]- Başka yerde de; <em><strong>“Sâbık</strong></em> (önceki)<em><strong> mahkemelerde dâvâ ettiğim ve hüccetlerini</strong></em> (delillerini)<strong><em> gösterdiğimiz gibi, bizim gizli düşmanlarımız ve hükûmeti iğfal ve bir kısım erkânını evhamlandıran ve adliyeleri aleyhimize sevk eden resmî ve gayr-ı resmî muarızlarımız, ya gayet fena bir surette aldanmış veya aldatılmış veya anarşilik hesabına gayet gaddar bir ihtilâlcidir veya İslâmiyete ve hakikat-i Kur'ân'a karşı mürtedâne mücadele eden bir dessas zındıktır</em></strong> (fitneci kafirdir)<strong><em> ki, bize hücum etmek için istibdad-ı mutlaka</em></strong> (zorba yönetime)<strong><em> cumhuriyet namını vermekle, irtidad-ı mutlakı</em></strong> (dinden dönmeyi)<strong><em> rejim altına almakla, sefahet-i mutlaka</em></strong> (beyinsizliğe)<strong><em> medeniyet</em></strong> (çağdaşlık)<strong><em> namını takmakla, cebr-i keyfî-i küfrîye kanun namını vermekle hem bizi perişan, hem hükûmeti iğfal, hem adliyeyi bizimle mânâsız meşgul eylediler.”</em></strong> (Ondördüncü Şuâ; sf, 1037)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fenomena Lebaran di Kampung]]></title>
<link>http://arbalest00.wordpress.com/?p=87</link>
<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 07:10:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>arbalest00</dc:creator>
<guid>http://arbalest00.id.wordpress.com/2008/09/28/fenomena-lebaran-di-kampung/</guid>
<description><![CDATA[Idul Fitri tinggal masih beberapa hari lagi sejak artikel ini di tulis. Dalam perjalanan pulang ke k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://arbalest00.files.wordpress.com/2008/10/ketupat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-88" title="ketupat" src="http://arbalest00.wordpress.com/files/2008/10/ketupat.jpg?w=207" alt="" width="104" height="150" /></a>Idul Fitri tinggal masih beberapa hari lagi sejak artikel ini di tulis. Dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, tepatnya saat memasuki gang-gang sempit sudah tercium bau makanan yang mengganggu perut saya saat sedang menunda waktunya untuk di isi makanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah saya perhatikan sekeliling, ternyata para ibu-ibu sedang membuat kue lebaran. Tercium bau harumnya seperti kue-kue di toko kue. Di lain tempat, terdapat beberapa ibu yang mencoba mengepaskan baju (baru) kepada anaknya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Idul Fitri atau yang biasa di bilang Lebaran oleh orang-orang Indonesia memang berbeda dengan kebudayaan di wilayah lain. Kata Ustadz ngajiku yang pernah kuliah di Mesir, beliau bilang ketika Idul Fitri di Mesir tidak ada yang namanya rame-rame seperti indonesia, seperti mudik, bikin kue lebaran, belanja baju lebaran dan segala keruwetan lain menjelang Idul Fitri. Di Mesir, justru ramai ketika mereka menanti bulan Ramadhan, karena bagi mereka (dan seharusnya pula di indonesia dan khususnya bagi saya sendiri) Ramadhanlah yang seharusnya di sambut dengan meriah, bukan malah Idul Fitri.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi mau bagaimana lagi, silakan saja yang akan mudik ke kampung halaman, selama orang tua (ayah dan ibu) masih berkumpul, terus di samperin untuk sungkeman (meskipun hanya budaya, dan tidak disyariahkan) untuk tetap bersilaturrahiim dan berbakti kepada orang tua.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun tangan ini tak sempat berjabat tangan dengan kalian semua, tapi saya bersyukur masih diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk menulis beberapa kata untuk menyapa kalian dalam dunia maya ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah ^_^</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
