<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>info-sunnah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/info-sunnah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "info-sunnah"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 18:07:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tebarkan Salam]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/11/tebarkan-salam/</link>
<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 02:39:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/11/tebarkan-salam/</guid>
<description><![CDATA[ 
Syariat Islam yang sempurna mengajarkan kaum muslimin untuk selalu meningkatkan kecintaan terhadap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/azizi-tembok.jpg" title="azizi-tembok.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/azizi-tembok.thumbnail.jpg" alt="azizi-tembok.jpg" align="right" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Syariat Islam yang sempurna mengajarkan kaum muslimin untuk selalu meningkatkan kecintaan terhadap saudara semuslim, merekatkan persaudaraan dan kasih sayang. Dan untuk mewujudkan hubungan persaudaraan dan kasih sayang ini, maka syariat Islam salah satunya memerintahkan untuk menyebarkan salam. Syiar Islam yang satu ini adalah termasuk syiar Islam yang sangat besar dan penting. Namun begitu, sekarang ini salam sering sekali ditinggalkan dan diganti dengan salam salam yang lain, entah itu dengan <em>good morning</em>, selamat pagi, selamat siang, salam sejahtera atau sejenisnya. Tentunya seorang muslim tidak akan rela apabila syariat yang penuh berkah lagi manfaat ini kemudian diganti dengan ucapan-ucapan lain. Alloh berfirman, </span><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">"<em>Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?</em>” (Al Baqoroh : 61). Dan sungguh apa yang ditetapkan Alloh untuk manusia, itulah yang terbaik.</span></span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="gen"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Perintah dari Alloh</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Alloh berfirman, “<em>Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.</em>” (An Nur : 61)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Syaikh Nashir As Sa’di berkata, “Firman-Nya : <em>Salam dari sisi Alloh</em>, maksudnya Alloh telah mensyari’atkan salam bagi kalian dan menjadikannya sebagai penghormatan dan keberkahan yang terus berkembang dan bertambah. Adapun firman-Nya : <em>yang diberi berkat lagi baik,</em> maka hal tersebut karena salam termasuk kalimat yang baik dan dicintai Alloh. Dengan salam maka jiwa akan menjadi baik serta dapat mendatangkan rasa cinta.” (Lihat Taisir Karimir Rohman)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="gen"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Perintah dari Nabi </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Baro’ bin Azib berkata, “<em>Rosululloh melarang dan memerintahkan kami dalam tujuh perkara : kami diperintah untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan menolong orang yang dizholimi, memperbagus pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin...</em>” (HR. Bukhori dan Muslim) Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Perintah menjawab salam maksudnya yaitu menyebarkan salam di antara manusia agar mereka menghidupkan syariatnya.” (Lihat Fathul Bari 11/23).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dari Abu Huroiroh, Rosululloh <em>sholallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.</em>” (HR. Muslim). Dari Abdulloh bin Salam, Rosululloh bersabda, “<em>Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.</em>” (Shohih. HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad) </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="gen"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Etika Salam</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi seraya mengucapkan <em>Assalamu ‘alaikum</em>. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk. Nabi berkata, <em>“Dia mendapat sepuluh pahala.</em>” Kemudian datang orang yang lain mengucapkan <em>Assalamu ‘alaikum warohmatulloh.</em> Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “<em>Dua puluh pahala baginya.</em>” Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan <em>Assalamu ’alaikum warohmatullohi wa barokatuh</em>. Nabipun menjawabnya dan berkata, “<em>Dia mendapat tiga puluh pahala</em>.” (Shohih. HR. Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-align:justify;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dari hadits tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">-<span>     </span>Memulai salam hukumnya sunnah bagi setiap individu, berdasar pendapat terkuat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">-<span>     </span>Menjawab salam hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">-<span>     </span>Salam yang paling utama yaitu dengan mengucapkan <em>Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh</em>, kemudian <em>Assalamu’alaikum warohmatulloh</em> dan yang terakhir <em>Assalamu’alaikum</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">-<span>     </span>Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik, atau minimal serupa dengan yang mengucapkan. Alloh berfirman “<em>Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu</em>.” (An Nisa : 86)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam hadits lain Rosululloh bersabda, “<em>Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang dduk yang sedikit kepada yang banyak</em>.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam lafazh Bukhori, “<em>Hendaklah yang muda kepada yag lebih tua.</em>” Demikianlah pengajaran Rosul tentang salam. Namun orang yang meninggalkan tatacara salam seperti pada hadits ini tidaklah mendapat dosa, hanya saja dia telah meninggalkan sesuatu yang utama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-align:justify;text-indent:-28.05pt;"><span class="gen"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Salam kepada orang yaang dikenal dan tidak dikenal. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Termasuk mulianya syariat ini ialah diperintahkannya kaum muslimin untuk member salam baik pada orang yang dikenal maupun orang yang belum dikenal. Rosululloh bersabda, “<em>Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat apabila salam hanya ditujukan kepada orang yang telah dikenal.</em>” (Shohih. Riwayat Ahmad dan Thobroni).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[Disadur dari majalah Al Furqon edisi 9 th III oleh Abu Yusuf Johan Lil Muttaqin]</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-align:justify;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-align:justify;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rapat dan Luruskan Shof-Shof Kalian!!!]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/11/rapat-dan-luruskan-shof-shof-kalian/</link>
<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 02:33:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/11/rapat-dan-luruskan-shof-shof-kalian/</guid>
<description><![CDATA[Judul ini merupakan sebuah penggalan perintah sang Umar Al-Faruq rodhiyallohu’anhu kepada makmum s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/makam-basilam.jpg" title="makam-basilam.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/makam-basilam.thumbnail.jpg" alt="makam-basilam.jpg" align="left" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Judul ini merupakan sebuah penggalan perintah sang Umar Al-Faruq <em>rodhiyallohu’anhu</em> kepada makmum sesaat sebelum mengimami sholat berjamaah. Hal itu merupakan wujud perhatian besar beliau terhadap tuntunan Rosulululloh <em>shollallohu ’alaihi wassalam</em> yang mulia ini. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas <em>rodhiyallohu’anhu </em>bahwasanya Rosululloh bersabda yang artinya, <em>”Rapikan (rapat dan lurus) shof kalian, sesungguhnya shof termasuk bagian menegakkan sholat.” </em>(HR. Bukhori 732). Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar <em>rodhiyallohu’anhuma,</em> Rosululloh <em>shollallohu ’alaihi wassalam</em> bersabda, <em>”Rapikanlah shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong(masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan</em>. <em>Barangsiapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus shof Alloh akan memutusnya</em>.” (HR. Abu Dawud no. 666). Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menekankan pentingnya <strong>merapatkan &#38; meluruskan shof</strong>.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Wajibnya meluruskan dan merapatkan shof</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ternyata Rosululloh tidak hanya memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shof, namun beliau juga mengancam keras orang-orang yang tidak merapikan shof mereka seperti dalam suatu redaksi hadits, ”<em>Sungguh kalian mau merapikan shof kalian atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara kalian</em>.”(HR Bukhori-Muslim). Sebuah kaidah dalam Islam menyatakan bahwa asal perintah adalah wajib. Begitu pula mustahil suatu perkara yang mendapatkan ancaman maka hukumnya hanya sampai sunnah saja. Maka pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajibnya merapikan shof dan apabila suatu jama’ah sholat tidak merapikan shof mereka maka mereka berdosa. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rohimahullohu</em> yang dapat kita lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa karangan beliau. Namun bagi yang tidak merapikan sholat maka sholatnya tetap sah berdasarkan perbuatan Anas <em>rodhiyallohu’anhu</em> yang mengingkari mereka yang tidak merapikan sholat tetapi tidak memerintahkan agar mereka mengulanginya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagaimana cara meluruskan shof?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Adapun sifat dan tata cara merapikan shof telah tercantum dalam banyak hadits diantaranya sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir <em>rodhiyallohu’anhu,</em> beliau berkata,”<em>Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah shof-shof kalian (3x). Demi Alloh, kalian merapikan shof kalian, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.’ Nu’man berkata, ’Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” </em>(HR. Abu Dawud no. 662). <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hadits-hadits ini menunjukan secara jelas pentingnya merapikan shof dan hal itu termasuk kesempurnaan sholat hendaknya saling lurus dan tidak maju mundur antara satu dengan yang lain, dan saling rapat satu dengan yang lain, dan saling rapat antara bahu dengan bahu, kaki dengan kaki, dan lutut dengan lutut. Namun pada zaman sekarang, sunnah ini dilupakan, seandainya engkau mempraktekkannya, niscaya masyarakat lari seperti keledai. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Adapun kita sesudah mengetahui tentang perintah ini sudah sepantasnya berusaha sekuat kemampuan melaksanakannya. Tidakkah kita ingin merasakan kelezatan menegakkan amalan ini di dalam hati kita. Serta menjadi pemegang tombak syariat di muka bumi ini. Semoga Alloh subhana wata’ala memberikan hidayah kepada kita semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Keimpulannya</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">, merapikan shof meliputi hal-hal berikut:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Meluruskan barisan sholat dan merapikannya</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Memenuhi shof yang masih renggang </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Menyempurnakan shof yang pertama terlebih      dahulu dan begitu seterusnya</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saling berdekatan </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sholat di antara dua<span>  </span>tiang ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:37.4pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maka konsekuensi dari perintah merapikan dan merapikan shof sholat adalah tidak membuat shof diantara tiang- kecuali dharuri (terpaksa)-sehingga shof sholat terputus. Sebagaimana para sahabat menghindari hal tersebut di zaman Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wassalam. </em>Konsekuensi yang lain adalah seyogyanya mengisi kekosongan dalam shof sekalipun di tengah sholat mengamalkan hadits yang diriwayatkan Thabrani dengan<span>  </span>redaksi terjemahannya <em>”Tidak ada langkah yang lebih banyak pahalanya daripada pahala seseorang menuju kelonggaran dalam shof untuk menutupinya.</em>” (disarikan dari Majalah Al-Furqon edisi 10 tahun IV oleh Ahmad Al-Bikasy)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
