<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>info-cirebon &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/info-cirebon/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "info-cirebon"</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 08:52:57 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sejarah Cirebon]]></title>
<link>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 07:52:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>gragecirebon</dc:creator>
<guid>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=15</guid>
<description><![CDATA[
KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.<!--more--></p>
<p>Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah <em>Carita Purwaka Caruban Nagari</em>, <em>Babad Cirebon</em>, <em>Sajarah Kasultanan Cirebon</em>, <em>Babad Walangsungsang</em>, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah <em>Carita Purwaka Caruban Nagari</em>, ditulis pada tahun 1720 oleh <strong>Pangeran Aria Cirebon</strong>, Putera <strong>Sultan Kasepuhan </strong>yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723. </p>
<p>Dalam naskah itu pula disebutkan bahwa asal mula kata “Cirebon” adalah “sarumban”, lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.</p>
<p>Menurut <strong>P.S. Sulendraningrat</strong>, penanggung jawab sejarah Cirebon, munculnya istilah tersebut dikaitkan dengan pembuatan terasi yang dilakukan oleh <strong>Pangeran Cakrabumi</strong> alias <strong>Cakrabuana</strong>. Kata “Cirebon” berdasarkan kiratabasa dalam Bahasa Sunda berasal dari “Ci” artinya “air” dan “rebon” yaitu “udang kecil” sebagai bahan pembuat terasi. Perkiraan ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa dari dahulu hingga sekarang, Cirebon merupakan penghasil udang dan terasi yang berkualitas baik.</p>
<p>Berbagai sumber menyebutkan tentang asal-usul <strong>Sunan Gunung Jati</strong>, pendiri Kesultanan Cirebon. Dalam sumber lokal yang tergolong historiografi, disebutkan kisah tentang <strong>Ki Gedeng Sedhang Kasih</strong>, sebagai kepala Nagari Surantaka, bawahan Kerajaan Galuh. <strong>Ki Gedeng Sedhang Kasih</strong>, adik Raja Galuh, <strong>Prabu Anggalarang</strong>, memiliki puteri bernama <strong>Nyai Ambet Kasih</strong>. Puterinya ini dinikahkan dengan <strong>Raden Pamanah Rasa</strong>, putra <strong>Prabu Anggalarang</strong>.</p>
<p>Karena <strong>Raden Pamanah</strong> <strong>Rasa</strong> memenangkan sayembara lalu menikahi puteri <strong>Ki Gedeng Tapa</strong> yang bernama <strong>Nyai Subanglarang</strong>, dari Nagari Singapura, tetangga Nagari Surantaka. Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga orang anak, yaitu <strong>Raden Walangsungsang</strong>, <strong>Nyai Lara Santang</strong> dan <strong>Raja</strong> <strong>Sangara</strong>. Setelah ibunya meninggal, <strong>Raden Walangsungsang</strong> serta <strong>Nyai Lara Santang</strong> meninggalkan Keraton, dan tinggal di rumah Pendeta Budha, <strong>Ki Gedeng Danuwarsih</strong>.</p>
<p>Puteri <strong>Ki Gedeng Danuwarsih</strong> yang bernama <strong>Nyai Indang Geulis</strong> dinikahi <strong>Raden Walangsungsang</strong>, serta berguru Agama Islam kepada <strong>Syekh Datuk Kahfi</strong>. <strong>Raden Walangsungsang</strong> diberi nama baru, yaitu <strong>Ki Samadullah</strong>, dan kelak sepulang dari tanah suci diganti nama menjadi <strong>Haji Abdullah Iman</strong>. Atas anjuran gurunya, <strong>Raden Walangsungsang</strong> membuka daerah baru yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Daerah Tegal Alang-alang berkembang dan banyak didatangi orang Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, sehingga disebutlah daerah ini “Caruban”, artinya campuran. Bukan hanya etnis yang bercampur, tapi agama juga bercampur.</p>
<p>Atas saran gurunya, <strong>Raden Walangsungsang</strong> pergi ke Tanah Suci bersama adiknya, <strong>Nyai Lara Santang</strong>. Di Tanah Suci inilah, adiknya dinikahi <strong>Maulana Sultan Muhammad</strong> bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. <strong>Nyai Lara Santang</strong> berganti nama menjadi <strong>Syarifah Mudaim</strong>.</p>
<p>Dari perkawinan ini, lahirlah <strong>Syarif Hidayatullah</strong> yang kelak menjadi <strong>Sunan Gunung Jati</strong>. Dilihat dari Genealogi, <strong>Syarif Hidayatullah</strong> yang nantinya menjadi salahseorang Wali Sanga, menduduki generasi ke-22 dari Nabi Muhammad.</p>
<p>Sesudah adiknya kawin, <strong>Ki Samadullah</strong> atau <strong>Abdullah Iman</strong> pulang ke Jawa. Setibanya di tanah air, mendirikan Masjid Jalagrahan, dan membuat rumah besar yang nantinya menjadi Keraton Pakungwati. Setelah <strong>Ki Danusela</strong> meninggal <strong>Ki Samadullah</strong> diangkat menjadu Kuwu Caruban dan digelari Pangeran Cakrabuana. Pakuwuan ini ditingkatkan menjadi Nagari Caruban larang. <strong>Pangeran Cakrabuana </strong>mendapat gelar dari ayahandanya, <strong>Prabu Siliwangi</strong>, sebagai Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.</p>
<p>Setelah berguru di berbagai negara, kemudian berguru tiba di Jawa. Dengan persetujuan <strong>Sunan Ampel </strong>dan para wali lainnya disarankan untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda. <strong>Syarif Hidayatullah </strong>pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, <strong>Pangeran Cakrabuana</strong>. <strong>Syarif Hidayatullah</strong> tiba di pelabuhan Muara Jati kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar Agama Islam, menggatikan <strong>Syekh Datuk Kahfi</strong>.</p>
<p><strong>Syekh Jati</strong> juga mengajar di dukuh Babadan. Di sana ia menemukan jodohnya dengan <strong>Nyai Babadan</strong> Puteri <strong>Ki Gedeng Babadan</strong>. Karena isterinya meninggal, <strong>Syekh Jati</strong> kemudian menikah lagi dengan <strong>Dewi Pakungwati,</strong> puteri <strong>Pangeran Cakrabuana</strong>, disamping menikahi <strong>Nyai Lara Bagdad</strong>, puteri sahabat <strong>Syekh Datuk Kahfi</strong>.</p>
<p><strong>Syekh Jati</strong> kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan <strong>Nyai Kawunganten</strong>, lahirlah <strong>Pangeran Saba Kingkin</strong>, kelak dikenal sebagai <strong>Maulana Hasanuddin</strong> pendiri Kerajaan Banten. Sementara itu <strong>Pangeran Cakrabuana</strong> meminta <strong>Syekh Jati</strong> menggantikan kedudukannya dan <strong>Syarif Hidayatullah</strong> pun kembali ke Caruban. Di Cirebon ia dinobatkan sebagai kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejak tahun 1479 itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai Pusat Kesultanan dan namanya diganti menjadi Cerbon.</p>
<p>Pada awal abad ke-16 Cirebon dikenal sebagai kota perdagangan terutama untuk komoditas beras dan hasil bumi yang diekspor ke Malaka. Seorang sejarawan Portugis, <strong>Joao de Barros</strong> dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalah <strong>Medez Pinto</strong> yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda dibawah pimpinan <strong>Cornellis de Houtman</strong> mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai.</p>
<p>Sejak awal berdirinya, batas-batas wilayah Kesultanan Cirebon termasuk bermasalah. Hal ini disebabkan, pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Sundakalapa berhasil ditaklukan. Ketika Banten muncul sebagai Kesultanan yang berdaulat ditangan putra <strong>Susuhunan Jati</strong>, yaitu <strong>Maulana Hasanuddin</strong>, masalahnya timbul, apakah Sunda Kalapa termasuk kekuasaan Cirebon atau Banten?</p>
<p>Bagi Kesultanan Banten, batas wilayah ini dibuat mudah saja, dan tidak pernah menimbulkan konflik. Hanya saja pada tahun 1679 dan 1681, Cirebon pernah mengklaim daerah Sumedang, Indramayu, Galuh, dan Sukapura yang saat itu dipengaruhi Banten, sebagai wilayah pengaruhnya.</p>
<p>Pada masa <strong>Panembahan Ratu</strong>, perhatian lebih diarahkan kepada penguatan kehidupan keagamaan. Kedudukannya sebagai ulama, merupakan salah satu alasan Sultan Mataram agak segan untuk memasukkan Cirebon sebagai daerah taklukan. Wilayah Kesultanan Cirebon saat itu meliputi Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten dan Kotamadya Cirebon sekarang. Ketika <strong>Panembahan Ratu</strong> wafat, tahun 1649 ia digantikan oleh cucunya <strong>Panembahan Girilaya</strong> atau <strong>Panembahan Ratu II</strong>. Dari perkawinannya dengan puteri <strong>Sunan Tegalwangi</strong>, <strong>Panembahan Girilaya</strong> memiliki 3 anak, yaitu <strong>Pangeran Martawijaya</strong>, <strong>Pangeran Kertawijaya</strong>, dan <strong>Pangeran Wangsakerta</strong>. Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kesultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai <strong>Pangeran Martawijaya</strong>, atau dikenal dengan <strong>Sultan Sepuh I</strong>. Kedua Kesultanan Kanoman, yang dikepalai oleh <strong>Pangeran Kertawijaya</strong> dikenal dengan <strong>Sultan Anom I </strong>dan ketiga Panembahan yang dikepalai <strong>Pangeran Wangsakerta</strong> atau <strong>Panembahan Cirebon I</strong>.</p>
<p>Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan. Pada tahun 1800 Residen Waterloo mencoba membuat pipa saluran air yang mengalir dari Linggajati, tetapi akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 3 perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon. Pada tahun 1877, di sana sudah berdiri pabrik es, dan pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada awal abad ke-20, Cirebon merupakan salahsatu dari lima kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya adalah beras, ikan, tembakau dan gula.***</p>
<p>(Sumber : <span style="color:#800000;">Nina H. Lubis (ed.), <em>Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat</em>, 2000.</span>)</p>
<p>(Test kupipaste isi artikel panjang dari sundaislam.wordpress.com)</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesultanan Cirebon]]></title>
<link>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 07:48:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>gragecirebon</dc:creator>
<guid>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=14</guid>
<description><![CDATA[
KESULTANAN Cirebon merupakan kesultanan di pantai utara Jawa Barat dan kerajaan Islam pertama di Ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>KESULTANAN Cirebon merupakan kesultanan di pantai utara Jawa Barat dan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Cirebon pada saat sekarang merupakan nama satu wilayah administrasi, ibu kota, dan kota. Nama Cirebon juga melekat pada nama bekas sebuah keresidenan yang meliputi kabupaten-kabupaten Indramayu, Kuningan, Majalengka, dan Cirebon.<!--more--></p>
<p>Sumber-sumber naskah tentang Cirebon yang disusun oleh para keturunan kesultanan dan para pujangga kraton umumnya berasal dari akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-18. Dari sumber naskah setempat, yang dianggap tertua adalah naskah yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta. Selain sumber setempat, terdapat pula sumber-sumber asing. Yang dianggap tertua berasal dari catatan Tome Pires -mengunjungi Cirebon pada tahun 1513-yang berjudul Suma Oriental.</p>
<p>Mengenai nama Cirebon terdapat dua pendapat. Babad setempat, seperti Nagarakertabumi (ditulis oleh Pangeran Wangsakerta), Purwaka Caruban Nagari (ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720), dan Babad Cirebon (ditulis oleh Ki Martasiah pada akhir abad ke-1 <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> menyebutkan bahwa kota Cirebon berasal dari kata <em>ci</em> dan <em>rebon</em> (udang kecil). Nama tersebut berkaitan dengan kegiatan para nelayan di Muara Jati, Dukuh Pasambangan, yaitu membuat terasi dari udang kecil (rebon). Adapun versi lain yang diambil dari Nagarakertabhumi menyatakan bahwa kata <em>cirebon</em> adalah perkembangan kata <em>caruban</em> yang berasal dari istilah <em>sarumban</em> yang berarti pusat percampuran penduduk.</p>
<p>Di Pasambangan terdapat sebuah pesantren yang bernama Gunung Jati yang dipimpin oleh Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati). Di pesantren inilah Pangeran Walangsungsang (putra raja Pajajaran, Prabu Siliwangi) dan adiknya, Nyai Rara Santang, pertama kali mendapat pendidikan agama Islam.</p>
<p>Pada awal abad ke-16, Cirebon masih di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Walangsungsang ditempatkan oleh raja Pajajaran sebagai juru labuhan di Cirebon. Ia bergelar Cakrabumi. Setelah cukup kuat, Walangsungsang memproklamasikan kemerdekaan Cirebon dan bergelar Cakrabuana. Ketika pemerintahannya telah kuat, Walangsungsang dan Nyai Rara Santang melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah ia memindahkan pusat kerajaannya ke Lemahwungkuk. Di sanalah kemudian didirikan keraton baru yang dinamakannya Pakungwati.</p>
<p>Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon adalah Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya menjadi sebuah kesultanan adalah Syarif Hidayatullah yang oleh Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.</p>
<p>Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam. Ia mengembangkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.</p>
<p>Setelah Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka Caruban Nagari tahun 1568), dia digantikan oleh cucunya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Kendati demikian, hubungan kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram. Pada tahun 1590, raja Mataram , Panembahan Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon. Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci karena Cirebon lebih dahulu menerima Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa.</p>
<p>Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada masa Pnembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom). Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta, mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga).</p>
<p>Perpecahan tersebut menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh. Dalam Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan bahwa Cirebon berada di bawah pengawasan langsung VOC.</p>
<p>Walaupun demikian kemunduran politik itu ternyata sama sekali tidak mengurangi wibawa Cirebon sebagai pusat keagamaan di Jawa Barat. Peranan historis keagamaan yang dijalankan Sunan Gunung Jati tak pernah hilang dalam kenangan masyarakat. Pendidikan keagamaan di Cirebon terus berkembang. Pada abad ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang kegiatan-kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian. Hal ini antara lain terbukti dari kegiatan karang-mengarang <em>suluk</em>, nyanyian keagamaan Islam yang bercorak mistik. Di samping itu, pesantren-pesantren yang pada masa awal Islam berkembang di daerah pesisir pulau Jawa hanya bertahan di Cirebon; selebihnya mengalami kemunduran atau pindah ke pedalaman.</p>
<p>Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun tidak memiliki pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan Cirebon. Misalnya, melaksanakan <em>Panjang Jimat</em> (peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.***</p>
<p>(Sumber : <span style="color:#800000;">Dewan Redaksi, <em>Ensiklopedi Islam,</em> Jilid I, Cet-11, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2003. hal. 272-274.</span>)</p>
<p>(artikel ini di kupipaste dari sundaislam.wordpress.com untuk menguji post artikel panjang)</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Blog Sunda-Islam]]></title>
<link>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 07:41:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>gragecirebon</dc:creator>
<guid>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=13</guid>
<description><![CDATA[Sebenarnya siang ini saya lagi santai, tak banyak kerjaan jadi berselancar di The Net mencari link u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya siang ini saya lagi santai, tak banyak kerjaan jadi berselancar di The Net mencari link untuk blog gragecirebon.wordpress.com yang baru hari ini juga digarap.</p>
<p>Tahu-tahu saya nyasar di situs sundaislam.wordpress.com yang berisi tulisan ilmiah dan serius tentang sejarah Jawa Barat, Sunda , Agama Islam dan perkembangannya. Termasuk arsip perdebatan tentang Sunda.</p>
<p>Wah, kebetulan pikir saya. Saya pun nongkrong bberapa menit disitu sambil menyapa yang punya, terus membaca beberapa artikelnya yang serius-serius.</p>
<p>Bagi yang berminat silahkan kunjungi <a href="http://sundaislam.wordpress.com">http://sundaislam.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Info Cirebon]]></title>
<link>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 04:11:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>gragecirebon</dc:creator>
<guid>http://gragecirebon.wordpress.com/?p=6</guid>
<description><![CDATA[Info Cirebon disediakann untuk informasi resmi tentang keadaan wilayah Cirebon. Jadi, bahasa yang di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Info Cirebon disediakann untuk informasi resmi tentang keadaan wilayah Cirebon. Jadi, bahasa yang digunakan pun bahasa resmi. Beberapa diantaranya dalam Bahasa Inggris. Tapi mungkin sudah out-of date. Jadi, info yang berhubungan dengan angka masih perlu perbaikan.</p>
<p>Beberapa informasi baku yang akan ditampilkan di bagian ini adalah informasi Seni dan Budaya, Geografi, Pemerintahan, wisata dan potensi-potensi dasar kota Cirebon. Pokoke bagian ini memang benar-benar info resmi yang bisa dijadikan rujukan untuk semua orang tentang Kota Cirebon.</p>
<p>Sebagian besar informasi disini berasal dari situs Cirebon yang dulu sempat saya buat. Namun, saya berniat mau meng-updatenya. Bagi yang punya info silahkan tulis di komentar bagian ini untuk kemudian akan saya alihkan.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
