<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>imam-wahabi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/imam-wahabi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "imam-wahabi"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 06:30:56 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Imam Agung Wahabi: IBNU TAYMIAH MEMALSU MADZHAB SALAF]]></title>
<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=79</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 18:02:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
<guid>http://bicarasalafy.id.wordpress.com/2008/05/15/imam-agung-wahabi-ibnu-taymiah-memalsu-madzhab-salaf/</guid>
<description><![CDATA[IBNU TAYMIAH MEMALSU MADZHAB SALAF
SUMBER: http://ibnutaymiah.wordpress.com/
Berbohong atas nama Sal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff6600;"><strong>IBNU TAYMIAH MEMALSU MADZHAB SALAF</strong></span></p>
<p>SUMBER: <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/05/04/ibnu-taymiah-memalsu-mazhab-salaf/" target="_blank">http://ibnutaymiah.wordpress.com/</a></p>
<p>Berbohong atas nama Salaf dan pembesar umat sepertinya telah menjadi tabi’at kedua “Syeikhul Islam” Ibnu Taymiah. Dalam artikel sebelumnya bagaimana pembaca saksikan secara langsung kepalsuan dan kebohongan klaim Ibnu Taymiah bahwa dalam masalah A telah terjadi kesepatan ulama Islam, dalam masalah B telah terjadi kesepatan para Ahli Hadis, Dalam masalah itu para sahabat Nabi saw. telah bersepakat dan begitu seterusnya. Seakan ia lupa bahwa kepalsuannya akan terbongkar pada suatu hari kelak, atau paling tidak kelak di hari kiamat Allah SWT akan memintanya untuk mempertanggung jawabkan semua dusta dan kebohongan!</p>
<p>Kini, dan untuk beberapaa artikel berikutnya, saya akan mengajak Anda menyaksikan langsung kepalsuan klaim-klaim Ibnu Taymiah dalam masalah ayat-ayat atau khabar-khabar shifatiyah.</p>
<p>Namun sebelumnya, saya ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan ayat-ayat atau khabar-khabar shifatiyah, yang menjadi permalasahan pelik di masa awal Islam dan hingga hari ini pun?</p>
<p>Sebagian Ahli Kalam, khususnya kaum Mujassimah membagi macam tauhid menjadi tiga; tauhid dalam Rububiyah (penciptaan dan pengaturan), tauhid dalam Ulûhiyah (penyembahan), dan yang ketiga tauhid dalam asmâ’ dan shifât. Terlepas dari apakah pembagian di atas dapat ditemukan bukti kebenarannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah atau ia sekedar akal-akalannya sebagian Ahli Kalam belaka!</p>
<p><!--more--></p>
<p>Yang mereka maksud dengan tauhid dalam asmâ’ dan shifât seperti terlihat nyata dari kupasan dan ulasan para peyakinnya adalah menetapkan sifat untuk Allah seperti yang Allah sifati Dzatnya dalam Al-Qur’an ataupun dalam Hadis.</p>
<p>Sampai batas ini sepertinya tidak ada masalah yang perlu diributkan. Akan tetapi ketika mendalaminya, maka kita akan menyaksikan terjadinya perang pendapat dan saling lempar tuduhan dan gelar memojokkan.</p>
<p>Terkait dengan ayat-ayat dan khabar-khabar shifâtiyah para ulama, Ahli Kalam Islam terbagi menjadi tiga kubu yang saling bertentangan.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Kubu Pertama,</em></span> Kubu <span style="color:#993300;">Mufawwidhah</span>, yaitu kubu yang menerima ayat-ayat/khabar-khabar yang menyebutkan sifat tertentu, seperti <strong>يد - وجه - ينزل - هرول</strong> dan semisalnya tanpa memberikan komentar apapun dan tanpa memaknainya dengan makna apapun. Mereka menyerahkan penafsiran dan pemaknaannya kepada Allah SWT.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Kubu Kedua</em></span>, Kubu <span style="color:#993300;">Mu’awwilah</span> yaitu kubu yang menakwilkan setiap kata seperti pada contoh di atas dengan makna yang sesuai dengannya demi menyucikan Allah SWT dari penyerupakannya dengan makhluk-Nya. Kubu ini sering menjadi sasaran ejekan oleh kubu ketiga di bawah ini dengan ejekan Mu’aththilah/yaitu yang menafikan sifat atas Allah. <span style="color:#0000ff;">[1]</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Kubu Ketiga</em></span>, Kubu <span style="color:#993300;">Mujassimah/Musyabbihah</span> yaitu kubu yang memaknai taks-teks shifatiyah dengan makna apa adanya tanda melibatkan konsep-konsep keindahan bahasa Arab seperti majâz, kinâyah dll. Kata: <strong>يد </strong>diartikan tangan, kata <strong>وجه</strong> diartikan wajah, kata <strong>ينزل</strong> diartikan turun, kata <strong>هرول</strong> diartikan lari-lari kecil, kata: <strong>ضحك</strong> diartikan tertawa dan demikian seterusnya. Kendati untuk meloloskan diri dari jeratan tuduhan tasybih/tajsim yang sangat terkecam itu sebagian mereka menutup setiap penyebutan pemaknaan sifat tersebut dengan kata-kata: "tidak seperti tangan makhluk-Nya, tidak seperti wajah makhluk-Nya"  Dan seterusnya. Walaupun penyebutan kata-kata terakhirnya ini sulit mengelakkan tuduhan tasybih/tajsim dari mereka.</p>
<p>Kali ini saya tidak dalam kapasitas sebagai pembanding mana di antara ketiga kubu ini yang paling mewakili kebenaran dan akidah Islam yang lurus dalam mansalah Shifât Allah SWT. Akan tetapi, saya akan mengajak Anda meneliti bagaimana sebenarnya Mazhab Salaf umat ini dalam masalah menyikapi ayat-ayat Shifâtiyah? Dan apa klaim Ibnu Taymiah tentang mazhab Salaf?</p>
<p>Untuk itu, saya akan menyajikan laporan dan keterangan asy-Syahrastâni (w. 548 H) dalam kitab al-Milal wa an-Nihal-nya, mengingat apa yang ia sebutkan cukup detail dan dapat mewakili dalam menggambarkan ragam aliran dan kubu dalam menyikapi masalah ini, kemudian saya susul dengan menyebut ketarangan Ibnu Taymiah yang memuat klaim yang akan menjadi sorotan kita kali ini.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">Asy-Syahrastâni </span>berkata, “Ketahuilah bahwa kelompok yang banyak dari Salaf mereka menetapkan untuk Allah sifat-sifat azaliyah seperti: ilmu, qudrat (kemampuan), hayât (hidup), iradat (kehendak), sam’u (pendengaran), bashar (penglihatan), kalam (berfirman), jalâl (keperkasaan), ikrâm (kemuliaan), jûd (derma), in’âm (memberi nikmat), izzah (kejayaan/keperkasaan) dan ‘adzamah (keagungan). Mereka tidak membedakan antara sifat Dzat dan sifat fi’il (pekerjaan), mereka menyebutkannya dalam satu rangkaian. Demikian pula mereka menetapkan sifat-sifat khabariyah, seperti yadain, dan wajhun. Mereka tidak menakwilkannya, mereka berkata, ‘Ini adalah sifat-sifat telah datang dalam teks Syari’at, maka kami menamainya dengan sifat-sifat khabariyah.’</p>
<p>Dan dikarenakan kelompok Mu’tazilah menafikan sifat-sifat, sedangkan Salaf menetapkannya, maka Salaf dinamai Shifâtiyyah, sementara Mu’tazilah dinama Mu’aththilah.</p>
<p>Sebagian Salaf berlebihan dalam sikap mereka dalam menetapkan sifat sampai-sampai mereka terjatuh dalam tasybîh (menyerupakan Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya). Sementara sebagian lainnya membatasi diri pada sifat-sifat yang ditunjukkan oleh pekerjaan dan apa yang datang dalam khabar. Kelompok terakhir ini berpecah menjadi dua kubu, sebagian mereka menakwilkannya sekira masih ditoleransi oleh lafadznya, dan di antara mereka ada yang berhenti tidak menakwilkannya. Mereka berkata, ‘Berdasarkan hukum akal kita mengetahui bahwa Allah tidak menyerupai sesuatu apapun dan tidak diserupai oleh apapun dari makhluk-makhluk-Nya. Kami pastikan hal itu, hanya saja kami tidak mengatahui makna lafadz yang datang dalam nash, seperti firman-Nya:<strong></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>الرحمن على العرش استوى</strong></p>
<p>Dan seperti firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>{خلقتُ بِيَدَيَّ}</strong></p>
<p>Dan firman-Nya</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وجاء رَبُّك</strong></p>
<p>dan lain sebagainya. Kami tidak dibebani untuk mengetahui tafsir dan takwil ayat-ayat seperti itu. Taklif / beban syar’i yang datang adalah untuk mempercayai bahwa Dia tiada sekutu bagi-Nya, Dia tidak seperti sesuatu apapun. Dan itu telah kami tetapkan.</p>
<p>Kemudian sekelompok dari kalangan mutakhkhirîn (yang datang belakangan) menambah dari apa yang diucapkan Salaf, mereka berkata, Kita harus memberlakukan pemaknaannya secara dzahir (apa adanya), dan menafsirkannya sesuai denga khabar yang datang, tanpa menakwilkannya dan berhenti (seperti dua kubu sebelumnya_pen), <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">maka mereka terjebak dalam Tasybîh murni. Dan pendapat ini menyalahi yang diyakini kaum Salaf !</span></span></p>
<p>Tasybih murni itu ada dalam keyakinan kaum Yahudi, pada satu kelompok dari mereka yang disebut Qurrâîn, sebab dalam Tuarat terdapat kalimat-kalimat yang menunjukkan kepadanya.” <span style="color:#0000ff;">[2]</span></p>
<p>Dalam kesempatan lain ia menguraikan sebagai berikut, “Ketahuilah bahwa mazhab Salaf dari kalangan para ulama hadis ketika menyaksikan kaum Mu’tazilah tenggelam dalam ilmu Kalam dan menyalahi Ahlusunnah yang mereka dapati sejak zaman para imam yang terbimbing (Râsyidîn), dan mereka dibela oleh para penguasa bani Umayyah atas pandangan mereka tentang taqdir, dan juga oleh sekelompok dari para khalifah bani Abbas dalam pandangan tentang sifat dan khalqul Qur’an… maka mereka (Salaf) kebingungan dalam menetapkan mazhab Ahlusunnah wal Jama’ah tentang ayat-ayat dan khabar-khabar  (hadis Nabi saw.) yang mutasyâbihât.</p>
<p>Adapun Ahmad ibn Hambal, Daud ibn Ali al-Ishfahâni dan sekelompok dari para imam Salaf, mereka berjalan di atas manjah Salaf terdahulu dari kelompok Ahli Hadis, seperti Malik, Muqâtil ibn Sulaimân, mereka menempuh jalan keselamatan, mereka berkata, ‘Kami beriman dengan apa yang datang dalam al-Qur’an dan Sunnah dan <span style="color:#0000ff;"><strong>kami tidak melibatkan diri dalam memaknai dengan makna apapun, </strong></span>setelah kami mengetahui dengan pasti bahwa Allah –Azza wa Jalla- tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Dan setiap apapun yang terbayang dalam waham kita maka Sang Maha Pencipta yang menciptakan dan menaqdirkannya. Mereka (Salaf) sangat berhati-hati dari tasybih (penyerupaan Allah SWT dengan makhluk-Nya) sampai-sampai mereka berkata, ‘Barang siapa menggerakkan tangannya ketika membaca ayat:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>خلقتُ بِيَدَى</strong></p>
<p>Atau mengisyaratkan dengan dua jari-jarinya ketika menyampaikan riwayat:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>قلبُ المؤمنِ بين إصبعين من أصابع الرحمن</strong></p>
<p>maka wajib tangannya untuk dipotong dan kedua jarinya dilepas.</p>
<p>Mereka berkata, ‘Kami menghindar dari menafsirkan dan menakwilkannya (ayat-ayat/khabar-khabar shifatiyah) karena dua alasan:</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Pertama</em></span>, adanya larangan dalam Al Qur’an dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>فَأَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ ما تَشابَهَ مِنْهُ ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ وَ ابْتِغاءَ تَأْويلِهِ وَ ما يَعْلَمُ تَأْويلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا وَ ما يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُوا الْأَلْبابِ</strong></p>
<p><em>“…. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:” Kami beriman kepada ayat- ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran(daripadanya) melainkan orang- orang yang berakal.</em> ( QS. Âlu ‘Imrân/7)</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Kedua,</em></span> bahwa takwil adalah perkara yang masih disangka-sangka yang bisa jadi benar secara kebetulan. Sedangkan berbicara tentang sifat Allah dengan sangkaan adalah tidak boleh…</p>
<p>Adapun kaum Hasyawiyah, maka al-Asy’ari melaporkan dari Muhammad ibn Isa bahwa ia menceritakan dari Mudhar, Kahmas dan Ahmad al-Hujaimi bahwa mereka membolehkan Allah itu bersentuhan dan berjabat tangan dengan makhluk-Nya, dan kamum Muslimin yang ikhlash akan berpelukan dengan Allah di dunia dan di akhirat, tentunya jika mereka bersungguh-sungguh dalam mndekatkan diri sehingga mencapai derajat iskhlash dan manunggal penuh.</p>
<p>Al-Ka’bi menceritakan dari sebagian mereka bahwa ia membolehkan Allah untuk dapat dilihat (dengan mata telanjang) di dunia dan mereka dapat mengunjungin-Nya dan Allah dapat mengunjungi mereka.</p>
<p>Dan ia menceritakan dari Daud al-Jawâribi bahwa ia berkata, ‘Jangan tanyakan kepadaku apakah Allah punya alat fital dan jenggot atau tidak, tetapi tanyakan kepadaku tentang selainnya.’ Ia berkata bahwa Tuhan mereka adalah berfisik, jism terdiri dari daging dan darah, punya organ tubuh seperti tangan, kaki, kepala, lidah, dua mata, dua telinga, dll</p>
<p>Dinukil darinya bahwa ia berkata, ‘Allah itu berbutuh kosong tengah (seperti pipa_pen) dari bagian atas hingga dada, selebihnya padat, dan Dia berjambul hitam dan berambut keriting.</p>
<p>Adapun ayat yang datang dengan teks, istiwa’, wajah, tangan, janbun (punggung), datang, di atas … dan lain sebagainya, maka mereka berlakukan apa adanya secara lahiriyah. Yaitu sesuai yang difahami dalam makna bahasa ketika menggunakan kata-kata tersebut untuk sesuatu yang bersifat bendawi. Begitu juga yang dimuat dalam khabar-khabar tentang posturisasi Allah dll, mereka berlakukan apa adanya sesuai dengan sifat-sifat fisik.</p>
<p>Mereka menambahkan lagi berita-berita palsu yang mereka buat-buat lalu mereka sandarkan kepada Nabi saw., yang kebanyakan khabar-khabar itu diambil dari kaum Yahudi, sebab tasybih di kalangan mereka sudah menjadi watak, sampai-sampai mereka berkata, ‘Tuhan sakit mata, lalu para malaikat menjenguk-Nya.’ ‘Allah menagisi atas kejadian banjir di zaman Nuh sampai-sampai mata-Nya sakit.’ ‘Arsy-Nya Allah berbunyi seperti bunyi kendaraan baru.’ Dan postur Allah melebihi besarnya Arsy-Nya selebar empat jari-jari.' <span style="color:#0000ff;">[3]</span></p>
<p>Demikianlah, asy-Syahrastâni melaporkan kepada kita dalam uraian panjangnya tentang ragam mazhab dan aliran tentang ayat-ayat dan hadis-hadis shifatiyah.</p>
<p>Dari uraian panjangnya dapat disimpulkan bahwa:</p>
<p>1] Mazhab Salaf yang diwakili oleh para imam besar dan Ahli Hadis seperti Ahmad ibn Hambal, Daud ibn Ali al-Ishfahâni, Malik, Muqâtil ibn Sulaimân dan lainnya dalam ayat-ayat dan hadis-hadis shifatiyah adalah tafwîdh. Mereka berkata, ‘Kami beriman dengan apa yang datang dalam al-Qur’an dan Sunnah dan kami tidak melibatkan diri dalam memaknai dengan makna apapun.’</p>
<p>2] Sebagian dari mereka menakwilkan ayat-ayat dan hadis-hadis shifatiyah dangan takwilan yang masih ditoleransi oleh lafadznya.</p>
<p>3] Sebagian Salaf berlebihan dalam sikap mereka dalam menetapkan sifat sampai-sampai mereka terjatuh dalam tasybîh (menyerupakan Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya).</p>
<p>4] Sekelompok mutakhkhirîn tidak konsisten di atas jalan Salaf dengan menambah dari apa yang diucapkan Salaf, mereka berkata, ‘Kita harus memberlakukan pemaknaannya secara dzahir (apa adanya), dan menafsirkannya sesuai denga khabar yang datang, tanpa menakwilkannya dan berhenti, maka mereka terjebak dalam Tasybîh murni. Dan pendapat ini menyalahi yang diyakini kaum Salaf !</p>
<p>5] Akidah Tasybih yang dipelopri oleh sebagia orang seperti Daud al-Jawâribi, Mudhar, Kahmas dan Ahmad al-Hujaimi dkk adalah akidah sesat yang diadopsi dari ajaran Yahudi.</p>
<p>6] Kaum Hasyawiyah menetapkan atas Allah sifat berpindah-pindah, naik turun, bersemayam dan bertempat.</p>
<p>Dari uraian di atas Anda dapat menyaksikan langsung bagaimana mazbah Salaf seperti Imam Malik, Imam Ahmad dkk. Mereka tidak mau melibatkan diri dalam memaknai setiap kata/sifat yang dimuat dalam Al Qur’an maupun hadis! Bukan memaknai dengan makna apa adanya secara lahiriyah kebahasaannya.</p>
<p>Dan akidah tasybih, seperti yang diyakini kaum Yahudi, khususnya dari sekte Qarrâîn ternyata adalah akidah yang diyakini dan diperjuangkan Ibnu Taymiah!!</p>
<p>Akidah kaum Hasyawiyah yang disebutkan di atas juga akidah yang diyakini Ibnu Taymiah dan diperjuangkannya sampai-sampai ia mengafirkan siapa yang tidak meyakininya.</p>
<p>Setelah Anda membaca laporan dan uraian asy-Syahrastâni tentang mazhab Salaf, sekarang mari kita baca laporan Ibnu Taymiah ketika menggambarkan mazhab Salaf. Dan perlu selalu Anda ingat bahwa Anda berhak curiga terhadap penukilan Ibnu Taymiah atas nama Salaf atau siapapun, sebab sudah terlalu sering “Syeikhul Islam” yang satu ini menipu kita dengan kepalsuaan-kepalsuan klaimnya, sehingga sebagian orang berkata humor, ‘Andai Allah mewajibkan atas hamba-hamba-Nya untuk berbohong lalu mereka mena’ati-Nya dalam perintah itu niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan kepalsuan dan kebohongan lebih dari yang sudah dipraktikkan Ibnu Taymiah.’</p>
<p>Ketika menafsirkan ayat:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى</strong>‏</p>
<p><em>“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy.”</em> (QS. Thaha:5)</p>
<p>Ibnu Taymiah berkata:<br />
<span style="color:#ff0000;"><em>“Barang siapa menakwilkannya; makna ayat dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Arsy di sini adalah kerajaan dan yang dimaksud dengan istawâ adalah menguasai, maka mereka tidak menghargai Allah denga sebenar penghargaan, dan tidak mengenal Allah dengan sebenar arti makrifat!!”</em></span> <span style="color:#0000ff;">[4] </span></p>
<p>Dari pernyataan di atas terlihat jelas bahwa Ibnu Taymiah telah menetapkan batasan bagi Allah. Allah SWT ber-istiwâ’ di atas Arsy-Nya dengan makna dzahirnya yaitu bersemayam. Arsy itu akan meliputi-Nya… jika Anda menggambarkan Allah SWT dengan gambaran di atas maka menurut Ibnu Taymiah Anda benar-benar telah menghargai dan mengenal Allah dengan sebenarnya !!</p>
<p>Di sini Anda dapat memerhatikan dengan jelas bahwa Ibnu Taymiah tidak berpegang dengan mazhab Salaf yang tidak mau melibatkan diri dalam mekanai ayat-ayat sifat dan hanya cukup memberlakuakn ayat-ayat semacam itu tanpa memaknainya…. Dan juga Ibnu Taymiah tidak bermazhab dengan mazhab kubu Mu’awwilah yang menakwilkan ayat-ayat tersebut dengan makna selain makna dzahirnya demi menyucikan Allah dari tasybih !! Sebab dalam anggapannya, barang siapa menakwil maka ia telah berpendapat seperti pendapatnya kaum Mu’aththilah yang menafikan sifat-sifat seperti sifat ilmu, hayat, qudrat dll. bagi Allah SWT.</p>
<p>Tetapi tentunya anggapannya itu salah besar, sebab kaum Mu’aththilah itu menafikan sifat azaliyah Allah, sementara yang ia tetapkan bagi Allah adalah sifat sifat/bendawi, seperti naik-turun, duduk…. Dan antara keduanya terdapat perbedaan yang mencolok!</p>
<p>Apapun alasan yang mendorongnya, tetap yang ia katakan adalah salah!</p>
<p>Sampai di sini, tidaklah terlalu berbahaya, karena sebelum Ibnu Taymiah menyuarakan mazhab dan pandangannya tentang ayat-ayat dan hadis-hadis sifat, kaum Mujassimah pun telah lebih dahulu dan tidak kalah vokalnya dengan Ibnu Taymiah. Akan tetapi bahaya sebenar arti bahaya ialah ketika Ibnu Taymiah menisbatkan kesesatan pendapatnya kepada kaum Salaf! Dan mengklaim –seperti kebiasaaan lamanya- bahwa demikianlah mazhab Salaf tanpa terkecuali!! Aku –kata Ibnu Taymiah- telah melahap seluruh tafsir Salaf dan tak kutemukan mereka menakwilkan dengan selain makna lahiriyah kebahasaan yang ada!!</p>
<p>Perhatikan keterangan Ibnu Taymiah di bawah ini dan bandingkan dengan laporan asy-Syahrastâni sebelumnya!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Adapun pendapat yang saya ucapkan dan saya tulis sekarang, –kendati dahulu saya tidak menulisnya dalam jawaban-jawaban saya, tetapi saya sampaikan dalam banyak majlis-majlis ilmu-, <span style="text-decoration:underline;">bahwa seluruh ayat shifatiyah dalam Al Qur’an maka tidak ada peselisihan di kalangan sahabat tentang takwilnya. Aku telah meneliti tafsir-tafsir yang dinukil dari para sahabat, dan yang diriwayatkan para ulama hadis, dan aku telah membaca kitab-kitab besar maupun kecil dalam jumlah lebih dari seratus tafsir, tetapi sampai detik ini aku tidak mendapatkan seorang pun dari sahabat Nabi yang menakwilkan satu pun dari ayat-ayat sifat atau hadis-hadis sifat dengan selain makna dzahirnya yang difahami dan makruf.”</span></em></span> [5]</p>
<p>Dan untuk mengetahui apakah kali ini Ibnu Taymiah telah meninggalkan kebiasaan berbohongnya serta tabi’at buruknya dalam kegemaran menipu dan memalsu, saya ajak Anda untuk merujuk satu di antara kitab tafsir andalan Ibnu Taymiah sendiri yang ia sifati dengan ‘sebaik-baik tafsir yang tidak memuat bid’ah dan tidak pula meriwayatkan dari orang-orang tertuduh’… tafsir itu adalah tafsir Ibnu Jarir ath Thabari –tokoh tafsir Salaf terkemuka-</p>
<p>Ketika Ibnu Taymiah ditanya tentang tafsir yang paling dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia menjawab, <span style="color:#ff0000;"><em>“Adapun tafsir-tafsir yang beredar di tangan orang-orang, maka yang paling shahih adalah tafsir Muhammad ibn Jarir ath-Thabari. Ia menyebutkan ucapan-ucapan Salaf dengan sanad yang kokoh, di dalamnya tidak terdapat bid’ah dan ia tidak menukil dari orang-orang yang tertuduh, seperti Muqatil dan al-Kalbi"</em></span>. <span style="color:#0000ff;">[6] </span></p>
<p>Dan tepatnya pada ayat yang dinilainya sebagai paling agungnya ayat sifat <span style="color:#0000ff;">[7]</span> yaitu Ayat al-Kursiy ayat 255 surah al-Baqarah yang berbunyi:</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَ لاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَ مَا خَلْفَهُمْ وَ لاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضَ وَ لاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ</strong>.</p>
<p><em>“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup nan Berdiri Sendiri. Ia tidak mengantuk dan tidak tidur. Hanya bagi-Nya seluruh yang ada yang di langit dan di bumi. Tidak ada orang yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Ia mengetahui segala yang berada di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak menguasai sedikit pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, dan Ia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Ia Maha Tinggi nan Maha Agung. “</em></p>
<p>Jika Anda merujuk tafsir ath-Thabari, maka pertama laporan yang akan disajikan olehnya adalah dua hadis yang beliau riwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra.</p>
<p><strong>Ibnu Jarir berkata:</strong></p>
<p>“Ahli takwil berselisih tentang makna al-Kursiy. Sebagian dari mereka berkata ia adalah ilmu Allah -Ta’alâ-.</p>
<p>Dzikru, sebutan tentang orang yang berpendapat demikian:</p>
<p>Abu Kuraib dan Salami ibn Jinadah dari Ibnu Idris dari Mathraf dari Ja’far ibn Abi al Mughirah dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>كرسيه - علمه</strong></p>
<p>“Kursi-Nya adalah ilmu-Nya.”</p>
<p>Ya’qub ibn Ibrahim dari Hasyîm dari Mathraf dari Ja’far ibn Abi al Mughirah dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas:</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>كرسيه - علمه</strong></p>
<p>“Kursi-Nya adalah ilmu-Nya.”</p>
<p>Tidakkah engkau memerhatikan firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>وَ لاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا</strong></p>
<p>“dan Ia tidak merasa berat memelihara keduanya.”<strong> [8]</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Ketika kita menyaksikan Ibnu Jarir mengawali uraiannya dengan mengatakan <em>“Ahli takwil berselisih tentang makna al-Kursiy”</em> justru kita baca Ibnu Taymiah mamastikan dengan tegas bahwa Salaf tidak berselisih barang sedkitipun tentang masalah ini!!</span></p>
<p>Ketika kita mendapat Ibnu Taymiah memastikan dengan yakin bahwa, <em><span style="color:#0000ff;">“aku telah membaca kitab-kitab besar maupun kecil dalam jumlah lebih dari seratus tafsir, <strong>tetapi sampai detik ini aku tidak mendapatkan seorang pun dari sahabat Nabi </strong>yang menakwilkan satu pun dari ayat-ayat sifat atau hadis-hadis sifat dengan selain makna dzahirnya yang difahami dan makruf”</span></em>, <span style="color:#ff0000;">justru kita menyaksikan Ibnu Jarir –Syeikhu as-Salaf ash-Shaleh- mengawali uraiannya dengan menyebut takwil sahabat Ibnu Abbas ra. yang membubarkan klaim palsu Ibnu Taymiah dan menjadikannya bak daun-daun kering di musim gugur yang ditiup anging kencang!!!</span></p>
<p>Ibnu Taymiah memproklamirkan mazhab Hasyawiyah yang memalukan yang sempat dihimpung ath-Thabari namun ia tolak, Ibnu Taymiah mempopulerkan mazhab Hasyawiyah yang mengatakan bahwa Kursiy Allah adalah tempat Allah meletakkan kedua kaki-Nya atau ia adalah singgasana yang Allah duduk di atasnya, dan ia kerena beratnya beban yang mendudukinya maka ia bersuara seperti suara yang terdengar dari kendaraan/kereta, andong yang baru!!</p>
<p>Setelah menukil beberapa tafsir selain tafsir Ibnu Abbas ra., ath-Thabari menutupnya dengan mengatakan, “Adapun yang menunjukkan kebenaran takwil Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu Allah adalah firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>وَ لاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا</strong></p>
<p>“dan Ia tidak merasa berat memelihara keduanya.” (hingga akhir uraiannya, Anda dapat merujuknya langsung dengan lengkap)</p>
<p>Setelah itu, ath-Thabari berpindah menafsirkan bagian akhir ayat yang juga merupakan ayat-ayat sifat:</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ</strong></p>
<p>“Dan Ia Maha Tinggi nan Maha Agung.“</p>
<p>Kaum Mujassimah mengartikan ayat di atas dengan ketinggian Allah secara fisik, yang mereka ungkapkan dengan istilah al ‘Uluw al Hissi/ al ‘Uluw ad Dzâti/ al ‘Uluw Haqiqatan, yaitu sisi atas, bukan ketinggian kedudukan seperti yang diyakini Ahlusunnah. Pendapat kaum Mujassimah inilah yang diyakini dan dibela serta diperjuangkan Ibnu Taymiah.</p>
<p>Ath-Thabari berkata:</p>
<p>“Para peneliti berselisih pendapat tentang firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْم</strong></p>
<p>“Dan Ia Maha Tinggi nan Maha Agung.“</p>
<p>Sebagian mereka berkata, ‘Yang dimaksud dengannya adalah Allah Maha Tinggi dari ada yang menandingi dan menyerupai.’ Mereka menentang jika maksudnya adalah ketinggian tempat/fisik <em>al ‘uluw al makâni.</em> Mereka berkata, ‘Tidak boleh sebuah tempat kosong dari-Nya, dan tidaklah bermakna kita mensifati-Nya dengan ketinggian tempat, sebab mensifatinya demikian berati Dia berada di tempat tertentu dan tidak di tempat lain.”<span style="color:#0000ff;"> [9]</span></p>
<p>Inilah total ucapan Salaf tentang ayat sifat teragung, sengaja saya bawakan agar dapat Anda saksikan langsung. dan setelahnya Anda dapat menilianya sendiri apa nilai omongan dan klaim Ibnu Taymiah ketika ia berkata: <span style="color:#ff0000;"><em>“aku telah membaca kitab-kitab besar maupun kecil dalam julmah lebih dari seratus tafsir, tetapi sampai detik ini aku tidak mendapatkan seorang pun dari sahabat Nabi yang menakwilkan satu pun dari ayat-ayat sifat atau hadis-hadsi sifat dengan selain makna dzahirnya yang difahami dan makruf”,!!!</em></span></p>
<p>Salahkah jika setelah itu ada yang terpaksa mengatakan ,<em><span style="color:#0000ff;"> “Sepertinya Anda -wahai “Syeikhul Islam”- belum juga berniat mau berhenti berdusta atas nama Salaf?!” “Mengapa begitu sulit atasmu meninggalkan kebiasaan buruk berbohong atas nama pembesar umat?!” Kami sudah lama menanti dan menanti barang sekali saja engkau berkata jujur dan tidak menipu kami!”</span></em></p>
<p>Dan ini, sekali lagi adalah bukti terkini yang saya hadirkan untuk para pecinta blog kami…. nantikan seri-seri kebohongan dan kepalsuan Ibnu Taymiah lainnya!</p>
<p>-----------------------------------------------</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[1] </span>Ibnu Taymiah dan juga para pengikutnya yang sekarang diwakili oleh kelompok Sekte Wahhabi, menyebut diri mereka Ahlusunnah dan pewaris sejati kubu Salaf, sementara itu mazhab Asy’ariyah mereka ejek dengan menyebutnya sebagai Mu’aththilah yang tentunya mereka kelompokkan sebagai Ahli Bid’ah!<br />
<span style="color:#0000ff;">[2]</span> Al Milal wa an Nihal,1/84-85, Bab ketiga.<br />
<span style="color:#0000ff;">[3] </span>Ibid.95-97.<br />
<span style="color:#0000ff;">[4]</span> Tafsir al Kabir;Ibnu Taymiah,1/270.<br />
<span style="color:#0000ff;">[5]</span> Tafsir surah an Nur:178-179.<br />
<span style="color:#0000ff;">[6]</span> Mukadddimah fî Ushûl at Tafsir:51 dan at Tafsir al Kabir,2/255.<br />
<span style="color:#0000ff;">[7]</span> Al fatâwâ,6/322.<br />
<span style="color:#0000ff;">[8] </span>Tafsir Jâmi’ al Bayân; Ibnu Jarir ath Thabari,3/7.<br />
<span style="color:#0000ff;">[9] </span>Ibid.9.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Edisi Terbaru Kebodohan Imam Besar Wahhabi: Ibnu Abdil Wahhab Dalam Ilmu Hadis]]></title>
<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 13:47:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
<guid>http://bicarasalafy.id.wordpress.com/2008/04/21/edisi-terbaru-kebodohan-imam-besar-wahhabi-ibnu-abdil-wahhab-dalam-ilmu-hadis/</guid>
<description><![CDATA[Edisi Terbaru Kebodohan Imam Besar Wahhabi: Ibnu Abdil wahhab Dalam Ilmu Hadis
Ditulis: Blogger Abus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Edisi Terbaru Kebodohan Imam Besar Wahhabi: Ibnu Abdil wahhab Dalam Ilmu Hadis</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"><span style="color:#ff6600;">Ditulis:</span> <a href="http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/19/edisi-trebaru-kebodohan-imam-besar-wahhabi-ibnu-abdil-wahhab-dalam-ilmu-hadis/#more-188" target="_blank">Blogger Abusalafy</a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> Ketika seorang itu jahil dalam ilmu  agama, akan lebih terhormat jika ia diam tidak ikut campur berbicara  masalah-masalah agama, sebab dapat tersesat dan menyesatkan orang  banyak.</span></p>
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Tetapi sepertinya hal itu tidak  diindahkan oleh Pendiri Sekte Wahhabiyah… kendati dangkal hampir dalam seluruh  bidang dan keahlian, <em>-kecuali kealhilan mengafirkan orang lain-</em> ia tetap banyak  berbicara… maka ia menjadi <em>dhalla wa adhalla</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Jika biasanya Imam Besar Wahhabi ini  mengafirkan kaum Muslimin…. Kini rupanya ia harus mencari sasaran baru…. para Nabi dan Rasul pilihan Allah kini menjadi sasaran pengafirannya dan tuduhan  telah musyrik!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Nabi Adam as. kini dituduhnya telah  musyrik!! Secara pribadi saya dapat memaklumi mengapa Nabi Adam as. Terjebak  dalam nista kemusyrikan tidak lama setelah diturunkan ke bumi bersma istrinya,  dan tentunya Iblis juga diusir ke bumi…. pasalnya ketika Adam turun ke bumi  tidak ada GURU BESAR PENGAWAL TAUHID MURNI….. KEMUSYRIKAN Nabi Adam as.  dikarenakan ia tidak dikawal “Syeikhul Islam” Ibnu Abdil Wahhab, andai sa’at itu  beliau didampingi dan dibimbing langsung Sang Pendekar Tauhid dari Padang Pasir  Gersang Najd, pastilah ia mampu menghindarkan diri dari kemusyrikan! Minimal itu  mungking yang sempat terbesit dalam benak para Wahhabiyyun!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Mau tau, Fatwa pengafiran Nabi Adam  as.? Ikuti data di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Dalam kitab <em>Tauhid</em>-nya, Ibnu  Abdil Wahhab menulis sebuah bab dengan judul: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:5.5pt;text-indent:16.5pt;line-height:150%;margin-right:-5.05pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">في</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">باب</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> : {</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">فَلَمَّا</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">آتاهُما</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">صالِحاً</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">جَعَلا</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">لَهُ</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">شُرَكاءَ</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">فيما</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">آتاهُما</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">}</span></strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:5.5pt;text-indent:16.5pt;line-height:150%;margin-right:-5.05pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Bab “Tatkala Allah memberi kepada  keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah  terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.” </span></em><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Pada bab itu ia menukil pernyataan  Ibnu Hazm yang menekankan bahwa menamakan anak dengan nama yang mengandung  penghambaan kepada selain Allah itu adalah syirik, seperti nama Abdu ‘Amr (hamba  ‘Amr), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah) dan semisalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.15pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Kemudian ia menyebutkan sebuah kisah  yan mencoreng kesucian dan kema’shuman Nabi Adam as. dan Hawwa istrinya. Ia menuduh  keduanya telah menyekutukan Allah SWT. Iblis merayu Adam as. dan Hawwa agar menamai  anak mereka dengan nama Abdul Hârits, tetapi keduanya menolak rayuan itu. Iblis  pun terus menerus merayunya sehingga setelah berkali-kali kematian anak mereka  segera setelah lahir, mereka setuju dengan permintaan Iblis untuk menamai anak  mereka dengan nama Abdul Hârits demi kecintaan mereka kepada putra mereka yan  baru saja lahir. <span style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;">Apa yang dilakukan  Adam dan Hawwa adalah yang dimaksud dengan firman Allah  SWT.:</span></span><em><span style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;font-size:13pt;line-height:150%;"> “… maka  keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya  kepada keduanya itu.” (QS. Al A’raf [7]: 190).</span></em><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.15pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">(Hadis riwayat Ibnu Abi Hâtim) (baca  Kitab <em>at Tauhid</em> –dengan syarah <em>Fathu al Majîd</em> oleh Syeikh  Abdur Rahman Âlu Syeikh-: 444. Dar al Kotob) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Hadis/riwayat di atas adalah<span> </span>hadis palsu yang kebatilannya telah nyata bagi pelajar pemula dalam ilmu  hadis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Pada kesempatan ini saya akan  membuktikan kepalsuannya dari pernyataan Ibnu Hazm <em>–yang tak henti-hentinya  dikultuskan dan dibanggakan kaum Wahhabi, bahkan oleh Ibnu Abdil Wahhab sendiri  termasuk dalam bab ini-</em>. <strong>Ibnu Hazm</strong> berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;font-size:13pt;line-height:150%;">Kemusyrikan  yang mereka nisbatkan kepada Adam bahwa beliau menamai anaknya dengan nama Abdul  Hârits adalah kisah khurafat, <em>maudhûah</em>/palsu dan  <em>makdzûbah</em>/kebohongan, produk orang yang tidak beragama dan tidak punya  rasa malu. Sanadnya sama sekali tidak shahih. Ayat itu turun untuk kaum  Musryikin.</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> (Baca  <em>Fathu al Majîd Syarah kitab at Tauhid</em>:442).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Kisah itu kendati diatas namakan Ibnu  Abbas ra. akan tetapi dapat dipastikan bahwa ia adalah hasil bualan kaum Ahli  Kitab (Yahudi &#38; Nashrani).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Coba Anda renungkan baik-baik,  bagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhab dalam kitab <em>at-Tauhid</em> yang kecil itu  yang ia karang untuk menetapkan hak Allah atas hamba-hamba-Nya, ternyata ia  hanya mampu menegakkan konsep Tauhidnya di atas pondasi hadis palsu. Inilah  kadar ilmu Imam Wahhabi yang dibanggakan para pemujanya sebagai sang Imam yang  akan mengawal perjalanan ajaran Tauhid Murni dari kemusyrikan! Dan yang akan  membentengi Tauhid dari mekusyrikan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-5.5pt;text-indent:19.65pt;line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">Subhanallah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">, kalau ternyata kemampuan ilmu dan  penguasan disiplin ilmu Hadis Imam mereka sedangkal itu, apa bayangan kita kadar  ilmu murid-murid dan para pengikutnya. Atau boleh jadi sekarang pengikutnya  lebih pandai dari imamnya! Sebab mereka hidup di era dan zaman yang berbeda  dengan zaman Syeikh Ibnu Abdul Wahhab<em> </em>… di mana keterbukaan informasi  sudah sedemikian rupa…. mereka pasti memiliki kesempatan menghimpun banyak  informasi dan ilmu pengetahuan lebih dari para pendahulunya, apalagi setelah  kekayaan umat Islam mereka kuasai …<span> </span>hanya saja yang tetap  mencerminkan keterbelakangan dan ketertingalan adalah cara berpikir mereka ….  masih tetap seperti zaman padang pasir gersang Najd tiga abad silam ketika awal  Syeikh Ibnu Abdil Wahhab pertama kali memecah keheningan dunia Islam, khususnya  negeri Hijâz dengan pekikan seruannya yang memporak-porandakan kesatuan umat Islam  dan membuat kaum Muslimin tersibukkan oleh hujatan-hujatan murahan Syeikh dari  mempertahankan tanah air kaum Muslimin dari gerombolan srigala buas dari tanah  Eropa yang datang mencabik-cabik kekuatan umat Islam dan menancapkan kuku-kuku  penjajahan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengkafiran Wahhaby (2); Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran Beberapa Tokoh]]></title>
<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=76</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 12:58:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
<guid>http://bicarasalafy.id.wordpress.com/2008/04/21/pengkafiran-wahhaby-2-muhammad-bin-abdul-wahhab-dan-pengkafiran-beberapa-tokoh/</guid>
<description><![CDATA[Pengkafiran Wahhaby (2); Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran Beberapa Tokoh
Sumber: http://sal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="color:#ff6600;">Pengkafiran Wahhaby (2); Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran Beberapa Tokoh</span></h3>
<p><strong><span style="color:#0000ff;">Sumber: </span><a href="http://salafyindonesia.wordpress.com/2008/04/05/pengkafiran-wahhaby-2-muhammad-bin-abdul-wahhab-dan-pengkafiran-beberapa-tokoh/" target="_blank">http://salafyindonesia.wordpress.com</a></strong></p>
<p><a href="http://bicarasalafy.wordpress.com/files/2008/04/bin-baz.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-75" src="http://bicarasalafy.wordpress.com/files/2008/04/bin-baz.jpg?w=107" alt="" width="107" height="128" /></a></p>
<div class="snap_preview">
<p>Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab –konon Muhammad bin Abdul  Wahhab yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin  Hambal sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun turut  disesatkan. Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika  rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas  bagaimana mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang  di luar manhaj-nya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila.  Kita akan melihat beberapa contoh dari penyesatan pribadi-pribadi  tersebut.</p>
<p>————————————————————————————</p>
<p><!--more--></p>
<ol><strong>Bukti Lain Pengkafiran Wahhaby;<br />
Muhammad bin Abdul Wahhab dan  Pengkafiran beberapa Tokoh<br />
</strong></ol>
<p>Setelah secara global kita mengetahui beberapa teks ibnu Abdul Wahhab yang  membuktikan pengkafirannya terhadap para ulama dan menvonisnya sebagai pelaku  syirik. Di sini, pada kesempatan kali ini, kita akan melihat teks-teks lain  berkaitan dengan pengkafirannya terhadap para ulama dengan tidak segan-segan  lagi menggunakan kata-kata ‘<strong>KAFIR</strong>’ dalam penvonisan.</p>
<p><strong>2- Muhammad bin Abdul Wahhab Mengkafirkan Beberapa Tokoh  Ulama</strong></p>
<p>Di sini, kita akan mengemukakan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul  Wahhab terhadap beberapa tokoh ulama Ahlusunah yang tidak sejalan dengan  pemikiran sektenya:<br />
a- Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Syeikh  Sulaiman bin Sahim yang seorang tokoh mazhab Hambali di zamannya. Ia menuliskan:  “<strong>Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan  jelas melakukan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan!…engkau bersama  ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama  ini!…engkau adalah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja  melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran  kalian!</strong>” (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 10 halaman  31)<br />
b- Dalam surat yang dilayangan kepada Ahmad bin Abdul Karim yang getol  mengkritisinya, ia menuliskan: “<strong>Engkau telah menyesatkan Ibnu Ghonam dan  beberapa orang lainnya. Engkau telah lepas dari millah (ajaran) Ibrahim. Mereka  menjadi saksi atas dirimu bahwa engkau tergolong pengikut kaum musyrik</strong>”  (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 10 halaman 64)<br />
c- Dalam  sebuah surat yang dilayangkannya untuk Ibnu Isa yang telah melakukan argumentasi  teradap pemikirannya, Muhamad bin Abdul Wahhab lantas memvonis sesat para pakar  fikih (fuqoha’) secara keseluruhan. Ia menyatakan: “<strong>(Firman Allah);  “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan  selain Allah”. Rasul dan para imam setelahnya telah mengartikannya sebagai  ‘Fikih’ dan itu yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai perbuatan syirik.  Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain Allah. Aku  tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam masalah  ini.</strong>” (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 2 halaman  59)<br />
d- Berkaitan dengan Fakrur Razi –pengarang kitab <strong>Tafsir  al-Kabir</strong>- yang bermazhab Syafi’i Asy’ary, ia mengatakan:  “<strong>Sesungguhnya Razi tersebut telah mengarang sebuah kitab yang  membenarkan para penyembah bintang</strong>” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid  10 halaman 355). Betapa kebodohan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap karya  Fakhrur Razi. Padahal dalam karya tersebut, Fakhrur Razi menjelaskan tentang  beberapa hal yang menjelaskan tentang fungsi gugusan bintang dalam kaitannya  dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk beraitan dengan bidang pertanian.  Namun Muhamad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan ilmu dan kebodohannya  terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan julukan yang tidak layak,  tanpa didasari ilmu yang cukup.</p>
<p>Silahkan para pembaca yang budiman menilai sendiri ungkapan-ungkapan  pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab di atas. Lantas apakah layak ia disebut  ulama pewaris akhlak dan ilmu Nabi, apalagi pembaharu (<em>mujaddid</em>)  sebagaimana yang diakui oleh kaum Wahhaby? Dari berbagai pernyataan di atas maka  jangan kita heran jika lantas Muhammad bin Abdul Wahhab pun mengkafirkan –yang  lantas diikuti oleh para pengikutnya (Wahhaby)- para pakar teologi  (<em>mutakallimin</em>) Ahlusunnah secara keseluruhan (Lihat: <strong>Ad-Durar  as-Saniyah</strong> jilid 1 halaman 53), bahkan ia mengaku-ngaku bahwa kesesatan  para pakar teologi tadi merupakan konsensus (<em>ijma’</em>) para ulama dengan  mencatut nama para ulama seperti adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi.  Padahal jika seseorang meneliti apa yang ditulis oleh seorang seperti  adz-Dzahabi –yang konon kata Ibnu Abdul Wahhab juga mengkafirkan para teolog-  dalam kitab “<strong>Siar A’lam an-Nubala</strong>’” dimana beliau banyak  menjelaskan dan memperkenalkan beberapa tokoh teolog, tanpa terdapat ungkapan  pengkafiran dan penyesatan. Walaupun kalaulah terdapat beberapa teolog yang  menyimpang namun tentu bukan hal yang bijak jika hal itu digeneralisir. Dan yang  perlu digarisbawahi adalah, jelas sekali, jika kita teliti dari konteks yang  terdapat dalam ungkapan Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ia maksud bukanlah para  teolog non musim atau yang menyimpang saja, tetapi semua para teolog muslim  seperti Abul Hasan al-Asy’ari –pendiri mazhab ‘Asy’ariyah- dan selainnya  sekalipun.</p>
<p>Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab –konon Muhammad bin Abdul  Wahhab yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (<em>manhaj</em>) Imam  Ahmad bin Hambal sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun  turut disesatkan. Kita akan melihat contoh dari penyesatan pribadi-pribadi  tersebut:<br />
“<strong>Adapun Ibnu Abdul Lathif, Ibnu ‘Afaliq dan Ibnu Mutlaq  adalah orang-orang yang pencela ajaran Tauhid…namun Ibnu Fairuz dari semuanya  lebih dekat dengan Islam</strong>” (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 10 halaman 78). Apa makna lebih dekat? Berarti mereka bukan Islam (baca:  kafir) dan di luar Islam namun mendekati ajaran Islam. Padahal Muhammad bin  Abdul Wahhab juga mengakui bahwa Ibnu Fairuz adalah pengikut dari mazhab  Hambali, penjunjung ajaran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Bahkan di  tempat lain, Muhammad Abul Wahhab berkaitan dengan Ibnu Fairuz mengatakan:  “<strong>Dia telah kafir dengan kekafiran yang besar dan telah keluar dari  millah (agama Islam)</strong>” (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 10 halaman 63)</p>
<p>Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika rasa  persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana  mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar  manhajnya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila.</p>
<p>Kita akan kembali melihat apa yang diungkapkannya kepada pengikut ajaran  lain. Jika para ulama pakar fikih (<em>faqoha’</em>) dan ahli teologi  (<em>mutakklim</em>) telah disesatkan atas dasar kebodohannya dan kebohongannya  dengan mencatut tanpa bukti nama para ulama lainnya –seperti pada kasus di atas-  maka jangan heran pula jika pakar ilmu mistik modern (baca: <em>tasawwuf  falsafi</em>) seperti Ibnu Arabi pun dikafirkan sekafir-kafirnya. Bahkan  dinyatakan bahwa kekafiran Ibnu Arabi yang bermazhab Maliki itu dinyatakan lebih  kafir dari Fir’aun. Bahkan bukan hanya sebatas pengkafiran dirinya terhadap  pribadi Ibnu Arabi saja, tetapi Ibnu Abdul Wahhab telah memerintahkan (baca:  mewajibkan) orang lain untuk mengkafirkannya juga. Dia menyatakan:  “<strong>Barangsiapa yang tidak mengkafirkannya (Ibnu Arabi) maka iapun  tergolong orang yang kafir pula</strong>”. Dan bukan hanya orang yang tidak mau  mengkafirkan yang divonis Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang kafir, bahkan  yang ragu dalam kekafiran Ibnu Arabi pun divonisnya sebagai orang kafir. Ia  mengatakan: “<strong>Barangsiapa yang meragukan kekafirannya (Ibnu Arabi) maka  ia tergolong kafir juga</strong>”. (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 10 halaman 25)</p>
<p>Kini, kita akan melihat satu contoh saja, berkaitan dengan pengkafiran Syiah,  mazhab Islam di luar Ahlusunnah. Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi pernah  menyatakan: “<strong>Barangsiapa yang meragukan kekafiran mereka maka iapun  tergolong orang kafir</strong>” (Lihat: <strong>Ad-Durar as-Saniyah</strong> jilid 10 halaman 369). Muhammad bin Abdul Wahhab ‘mengaku’ bahwa ungkapan ini  berasal dari al-Muqoddasi yang diterima oleh pemikirannya. Padahal Ibnu Taimiyah  yang juga tidak suka terhadap Syiah –dilihat dari berbegai buku karyanya- tidak  pernah sampai mengeluarkan Syiah dari Islam (pengkafiran), paling maksimal ia  telah menvonis Syiah sebagai ahli Bid’ah saja. Atas dasar pengkafiran itulah  maka jangan heran jika para pengikut Wahhaby hingga hari ini sangat menentang  segala usaha untuk persatuan antara mazhab-mazhab Islam, terkhusus persatuan  Sunni-Syiah. Bahkan mencela ulama-ulama Ahlusunnah –apalagi ulama Syiah- yang  melakukan usaha tersebut.</p>
<p>Jadi jelaslah dari sini, jangankan Syiah –yang di luar Ahlusunnah- ataupun  Tasawwuf, para ulama pakar teologi dan fikih dari Ahlusunnah pun ia kafirkan.  Dan jangankan para ulama Ahlusunnah dari empat mazhab –Hanafi, Maliki, Syafi’i  dan Hambali- yang ada, terhadap sesama penghidup ajaran Ibnu Taimiyah pun  divonisnya sebagai kafir. Lantas, para pembaca yang budiman, silahkan anda  nilai, mungkinkan ajaran sekte pengkafiran semacam ini akan bisa tersebar dengan  ‘baik’ sehingga dapat menelorkan ketentraman, apalagi di bumi Indonesia yang  menjunjung tinggi tenggang rasa dan jiwa gotong royong? Hanya di tanah Arab  badui saja, ajaran ini bisa hidup, karena kekakuan ajaranya. Mungkinkan sekte  pengkafiran ini mampu mewakili sebagai ajaran suci Rasul yang dinyatakan sebagai  “<em>Rahmatan lil Alaminin</em>”?</p>
<p><strong>Bersambung…</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah Dan Khawarij]]></title>
<link>http://bicarasalafy.wordpress.com/?p=61</link>
<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 02:22:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>bicarasalafy</dc:creator>
<guid>http://bicarasalafy.id.wordpress.com/2008/02/09/ibnu-taymiah-dan-khawarij/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Taymiah Dan Khawarij
Sumber: salafyindonesia.wordpress
Bagaimana mungkin manusia pembela kelomp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#ff0000"><strong>Ibnu Taymiah Dan Khawarij</strong></font></p>
<p><strong><font color="#800000">Sumber:</font></strong> <a target="_blank" href="http://salafyindonesia.wordpress.com/2007/02/23/ibnu-taimiyah-dan-khawarij/">salafyindonesia.wordpress</a></p>
<p>Bagaimana mungkin manusia pembela kelompok sesat versi Rasulullah –yaitu Khawarij- dianggap sebagai Imam para pengikut ajaran Salaf Saleh? Bahkan yang lebih aneh lagi, Ibnu Taimiyah yang memuji Khawarij semacam itu –padahal Rasul Islam mencela mereka- masih saja digelari dengan sebutan ‘Syeikh Islam’? Apakah tidak lebih baik diganti dengan ‘Syeikh Khawarij’, karena pembelaannya terhadap Khawarij dan pertentangannya dengan celaan Rasul atas Khawarij?</p>
<p>__________________________</p>
<p><!--more--></p>
<p>Khawarij adalah kelompok sesat yang muncul di awal-awal kemunculan Islam. Dalam beberapa hadis yang dapat disinyalir dalam kitab-kitab standart Ahlusunah wal Jamaah disebutkan bahwa Rasulullah saw -sebelum kemunculan kelompok sesat ini- pun telah mendapat kabar dari Allah swt akan kemunculannya, pasca wafat beliau. Atas dasar itu, celaan dan laknat Rasul terhadap kelompok tersebut banyak kita jumpai dalam berbagai hadis. Itu semua sebagai bukti bahwa Rasulullah sangat membenci kelompok sesat tersebut. Dan dikarenakan apa yang diungkapkan Rasul bukan dari hawa nafsunya melainkan dari wahyu yang diturunkan maka celaan dan laknatan Rasul atas kelompok itupun harus juga kita lakukan, sebagai perwujudan dari ayat: “Dan tiada yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan”. (QS an-Najm: 3-4) Dan ayat: “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah”. (QS al-Hasyr: 7)</p>
<p>Namun sayang, ada beberapa orang yang mengaku sebagai umat Muhammad dan yang mengaku sebagai penghidup ajaran Salaf Saleh namun tidak mengikuti prilaku dan perintah Muhammad Rasulullah saw dan Salaf Saleh untuk berlepastangan dari kelompok sesat Khawarij. Anehnya, mereka bukan hanya tidak mengikuti Rasul dan Salaf Saleh dalam berlepastangan, bahkan mereka memuji-muji kelompok sesat (Khawarij) tadi. Jelas ini akan meniscayakan murka Rasul dan Salaf Saleh atasnya. Bagaimana mereka mengatasnamakan dirinya sebagai penghidup Sunnah Rasul dan ajaran Salaf Saleh sedang prilaku mereka bertentangan dengan Rasul dan Salaf Saleh?</p>
<p>Ibnu Taimiyah dalam rangka membela kelompok sesat Khawarij mengatakan: “Dahulu, kelompok Khawarij adalah sebaik-baik anggota masyarakat dari sisi pelaksanaan shalat, melakukan puasa dan membaca al-Quran. Mereka baik secara zahir maupun batin telah melaksanakan agama Islam”. (lihat kitab <i>Minhaj as-Sunnah </i>jilid 4 halaman 37) Bahkan Ibnu Taimiyah telah memuji manusia tercela yang bernama Abdurrahman bin Muljam anggota kelompok Khawarij. Ibnu Muljam adalah pengikut Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat Ahlusunah), seorang sahabat Rasul yang termasuk Salaf Saleh. Oleh karenanya Ibnu Muljam dicela dan dilaknat oleh Rasul. Kemurkaan Rasul selalu tercurah atasnya. Sedang kita semua mengetahui bahwa kemurkaan Rasul meniscayakan kemurkaan Allah. Sebagaimana keridhoan dan ketaatan terhadap Rasul berarti ketaatan kepada Allah, hal ini seperti yang disebutkan dalam ayat; “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. (QS an-Nisa’: 80)</p>
<p>Ibnu Tamiyah dalam memuji dan mencari pembenaran atas perbuatan manusia terkutuk Ibnu Muljam sang Khawarij dan pembunuh Ali yang tergolong Salaf Saleh dengan ungkapan: “Seseorang yang membunuh Ali iapun menegakkan shalat, melakukan puasa, membaca al-Quran. Ia membunuh Ali dengan anggapan bahwa hal itu akan mendapat ridho Allah dan Rasul-Nya”.(lihat kitab <i>Minhaj as-Sunnah </i>jilid 7 halaman 57 / 58) Bahkan dalam jilid ke 8 halaman 238 Ibnu Taimiyah memujinya dengan menyebutnya sebagai paling baiknya penghamba (<i>A’baudun-Naas</i>) Allah. Tentu hal ini bertentangan dengan sabda Rasul yang menyatakan bahwa pembunuh Ali adalah paling celakanya manusia (<i>‘Asyqon-Naas</i>) di muka bumi. (lihat kitab <i>Musnad Ahmad bin Hanbal </i>jilid 1 halaman 130, kitab <i>Thabaqoot Ibnu Sa’ad </i>jilid 3 halaman 21, kitab <i>Khashaois an-Nasa’i</i> halaman 39) Padahal akan kita dapati dalam beberapa hadis bahwa Ali diperintah oleh Rasul untuk membunuh dan membasmi tiga golongan yang telah menyimpang dari ajaran Rasul; <i>Nakitsiin</i>, <i>Qosithiin</i> dan <i>Mariqiin</i>. Ali mengatakan: “Rasul telah memerintahkan kami untuk membasmi kelompok; <i>Nakitsiin</i>, <i>Qosithiin</i> dan <i>Mariqiin</i> (Khawarij)”. (lihat kitab <i>Majma’ az-Zawa’id </i>jilid 7 halaman 238 dan kitab <i>Musnad Abi Ya’la </i>jilid 3 halaman 194 hadis ke-1623)</p>
<p>Dinukil oleh sahabat Ammar bin Yasir yang mengatakan bahwa Rasul pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib dengan ungkapan: “Wahai Ali, engkau akan memerangi sekelompok penzalim sedang engkau dalam posisi benar. Jika ada seseorang yang tidak membantumu niscaya ia bukan dari golonganku”. (lihat kitab <i>Kanzul Ummal </i>karya Muttaqi al-Hindi yang bermazhab Hanafi jilid 11 halaman 613 hadis ke-32970)</p>
<p>Lantas bagaimana mungkin manusia pembela kelompok sesat versi Rasulullah –yaitu Khawarij- dianggap sebagai Imam para pengikut ajaran Salaf Saleh? Bahkan yang lebih aneh lagi, Ibnu Taimiyah yang memuji Khawarij semacam itu –padahal Rasul Islam mencela mereka- masih saja digelari dengan sebutan ‘Syeikh Islam’? Apakah tidak lebih baik diganti dengan ‘Syeikh Khawarij’, karena pembelaannya terhadap Khawarij dan pertentangannya dengan celaan Rasul atas Khawarij?</p>
<p><i>Wallahu A’lam</p>
<p></i></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
