<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ikan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ikan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ikan"</description>
	<pubDate>Wed, 14 May 2008 02:49:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=238</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:46:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.wordpress.com/?p=238</guid>
<description><![CDATA[
Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-237" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0365_entin1.jpg?w=253" alt="" width="253" height="169" /></p>
<p>Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.</p>
<p>Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? <em>Wow...</em>, jangan kaget di sana ada sate raksasa...... Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.</p>
<p>Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup <em>buesar....</em>).</p>
<p>Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap <em>leuncak</em>, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.</p>
<p>Dari tampilannya saja (<em>sumprit</em>..., saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari <em>beboko</em> (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.</p>
<p>Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya <em>dulitkan</em> (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja... "Hmm...., enak..., enak sekali....". Pilihan hasil <em>assessment</em> saya memang hanya dua, enak dan <em>hoenak sekale</em>.....</p>
<p>Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya <em>dudut</em> (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.</p>
<p><em>Oedan tenan</em>......., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang <em>ruarrr</em> biasa.....  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi <em>seafood</em> bakarnya. Juga potongan hati sapinya <em>mak kress</em>.... di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan <em>well done</em> (sebaiknya jangan setengah matang).</p>
<p>Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian...... nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-239" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0360_entin5.jpg?w=300" alt="" width="253" height="174" /></p>
<p>Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate <em>seafood</em> yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang <em>mirasa</em>, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah <em>brand image</em> Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.</p>
<p>Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya....... Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate <em>seafood</em> Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.</p>
<p>Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-240" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0361_entin4.jpg?w=300" alt="" width="256" height="174" /></p>
<p>Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.</p>
<p>Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate <em>seafood</em> Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul "Seafood of Love", yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.</p>
<p>Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :</p>
<p><em>My seafood of love, my dining pleasure</em><br />
<em>Finger lickin' food, so fresh and tasty</em><br />
<em>Breezing through my mind</em><br />
<em>You leave me breathless and wanting for more....</em></p>
<p>Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap <em>hatur nuhun</em> kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan <em>wal-hamdulillah ......</em> Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.</p>
<p>Yogyakarta, 12 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=304</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:41:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=304</guid>
<description><![CDATA[
Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-305" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/05/img_0365_entin1.jpg?w=253" alt="" width="253" height="169" /></p>
<p>Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.</p>
<p>Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? <em>Wow...</em>, jangan kaget di sana ada sate raksasa...... Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.</p>
<p>Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup <em>buesar....</em>).</p>
<p>Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap <em>leuncak</em>, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.</p>
<p>Dari tampilannya saja (<em>sumprit</em>..., saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari <em>beboko</em> (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.</p>
<p>Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya <em>dulitkan</em> (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja... "Hmm...., enak..., enak sekali....". Pilihan hasil <em>assessment</em> saya memang hanya dua, enak dan <em>hoenak sekale</em>.....</p>
<p>Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya <em>dudut</em> (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.</p>
<p><em>Oedan tenan</em>......., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang <em>ruarrr</em> biasa.....  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi <em>seafood</em> bakarnya. Juga potongan hati sapinya <em>mak kress</em>.... di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan <em>well done</em> (sebaiknya jangan setengah matang).</p>
<p>Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian...... nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-303" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/05/img_0360_entin5.jpg?w=300" alt="" width="252" height="164" /></p>
<p>Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate <em>seafood</em> yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang <em>mirasa</em>, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah <em>brand image</em> Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.</p>
<p>Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya....... Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate <em>seafood</em> Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.</p>
<p>Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.</p>
<p><a href="http://yiskandar.files.wordpress.com/2008/05/img_0361_entin4.jpg"></a></p>
<p><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-302" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/05/img_0361_entin4.jpg?w=300" alt="" width="260" height="175" /></p>
<p>Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.</p>
<p>Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate <em>seafood</em> Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul "Seafood of Love", yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.</p>
<p>Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :</p>
<p><em>My seafood of love, my dining pleasure</em><br />
<em>Finger lickin' food, so fresh and tasty</em><br />
<em>Breezing through my mind</em><br />
<em>You leave me breathless and wanting for more....</em></p>
<p>Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap <em>hatur nuhun</em> kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan <em>wal-hamdulillah ......</em> Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.</p>
<p>Yogyakarta, 12 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kamuflase di Dasar Laut]]></title>
<link>http://wacanbocah.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 07:20:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>wacanbocah</dc:creator>
<guid>http://wacanbocah.wordpress.com/?p=23</guid>
<description><![CDATA[Meski sepintas gelap dan sunyi, dasar laut riuh oleh aktivitas makhluk di dalamnya. Di tengah kegela]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Meski sepintas gelap dan sunyi, dasar laut riuh oleh aktivitas makhluk di dalamnya. Di tengah kegelapan itulah, aksi tipu-tipu, kelicikan, dan kecurangan terjadi sepanjang waktu.<br />
Seekor ikan kecil tampak berlenggak-lenggok sendirian. Tubuhnya mengeluarkan cahaya redup. Seekor udang melihatnya. Dia ingin memangsa ikan kecil itu. Ia pun mendekat, mengulurkan capitnya untuk menjangkau mangsa. Tiba-tiba hap, bukan udang yang memangsa ikan. Namun sebaliknya, udang yang justru disantap.<br />
Ikan kecil yang berlenggak-lenggok rupanya hanya aksi tipu-tipu. Itu hanya merupakan bendera (semacam sirip) dari ikan besar. Hewan lain terpedaya, mengira memperoleh mangsa, tak tahunya dia yang dimangsa. Ah kasihan, ya...<br />
Begitulah, dunia memang tak selamanya indah dengan persahabatan sesama makhluk. Di dasar laut, kamuflase berkembang sebagai bagian dari strategi untuk bertahan hidup. Itu merupakan bagian dari keagungan Tuhan, bukan?</p>
<p><!--more--><br />
Lingkungan di laut dalam sangat ekstrim. Suasana gelap, suhu dingin (-1 hingga 4 derajat celcius), serta tekanan sangat besar. Kedalaman 4.000 meter merupakan zone aphotic (tak ada cahaya karena sinar matahari tak mampu menembusnya). Tekanan air 400 kali dibanding permukaan. Manusia tak mungkin menyelam sedalam itu. Tubuhnya tak kuat menahan tekanan sehingga akan hancur seperti perkedel.<br />
<strong>Diam dan pasif</strong><br />
Makhluk hidup laut dalam menggunakan strategi khusus untuk bertahan hidup. Untuk menyiasati kegelapan, tubuhnya memproduksi cahaya (menggunakan teknik bioluminescent seperti kunang-kunang). Kebanyakan mempunyai bola mata berukuran besar, bahkan melotot. agar tetap bisa melihat dalam intensitas cahaya rendah. Tubuhnya cenderung tipis, elastis, dan mengandung air (seperti ubur-ubur), berguna menahan tekanan besar.<br />
Bagaimana cara berburu mangsa? Mereka bersifat pasif. Tak mau membuang energi untuk mencari mangsa. Mengapa? Jumlah makanan sangat sedikit. Selain itu tekanan air juga besar, sedikit gerak saja menghabiskan banyak tenaga.<br />
Jadi lebih baik diam menunggu mangsa datang. Untuk itulah, kamuflase merupakan senjata ampuh untuk mencari atau menghindari mangsa. Yakni mengubah bentuk dan warna tubuh agar tak dikenali hewan lain. Hewan-hewan di dasar laut saling beradu kelicikan untuk bertahan hidup. Siapa yang lengah, akan terpedaya. Siapa yang hati-hati dan waspada akan berjaya<br />
Anglerfish (ikan angler) merupakan penghuni dasar laut yang legendaris. Kepalanya memiliki antena berbentuk ikan kecil. Antena itu berfungsi sebagai pengecoh mangsa.<br />
Ada beberapa teknik kamuflase di dasar laut. Di antaranya hunting and hiding. Dilakukan oleh ikan stargazer. Mereka mengubur diri di dalam pasir sehingga tak terlihat. Begitu ikan kecil lewat, hap langsung ditangkap.<br />
Berikutnya teknik colour change, berubah warna seperti bunglon. Ikan seperti flounder dan scorpion fish mengubah warna tubuhnya dengan lingkungan untuk menyamarkan diri.<br />
Teknik berikutnya adalah body shape camouflage.  Dengan tubuh lunak seperti gel, mereka bisa berubah wujud sesuka hati. Bisa berbentuk ”jinak” untuk menarik mangsa, atau sebaliknya dibuat seram untuk menakut-nakuti pemangsa. Ini di antaranya dilakukan oleh ghost pipefish (ikan hantu), razorfish, dan cockatoo wapfish. Panji</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sup Kepala Ikan (Rendah Kolesterol)]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/sup-kepala-ikan-rendah-kolesterol/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:50:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/sup-kepala-ikan-rendah-kolesterol/</guid>
<description><![CDATA[Bahan:2 buah kepala ikan kakap3 batang serai, memarkan, potong 5 cm5 lembar daun salam4-5 lembar dau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bahan:<br></strong>2 buah kepala ikan kakap<br>3 batang serai, memarkan, potong 5 cm<br>5 lembar daun salam<br>4-5 lembar daun jeruk purut<br>4 buah tomat hijau, masing-masing iris menjadi 4 bagian<br>5 buah belimbing wuluh, masing-masing iris 2 cm<br></p>
<p><!--more-->
<p>1 buah jeruk nipis/lemon<br>Garam<br>Gula pasir<br>1 liter air<br>8 buah bawang merah, dibakar, kupas<br>4 siung bawang putih, iris halus<br>4 cm kunyit, dibakar, kupas<br>1 genggam daun kemangi<br>2-3 buah cabai merah, dibakar, iris serong</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan dilumuri air jeruk nipis/lemon dan garam. Diamkan 1/4 jam.
<li>Masak air. Setelah mendidih, masukkan semua bahan, kecuali ikan dan daun kemangi. Masak sampai mendidih lagi.
<li>Masukkan ikan. Masak sampai matang.
<li>Terakhir, masukkan daun kemangi. Matikan api. Kepala ikanpun siap disantap.</li>
</ol>
<p>Untuk 2 porsi</p>
<p><em>Sumber: Intisari Menu Sehat 09/Th.1/2005</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Tenggiri Bakar Kuah]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/ikan-tenggiri-bakar-kuah/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:25:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/ikan-tenggiri-bakar-kuah/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:1 ekor ikan tenggiri, potong bulat, bakar matang
Bumbu halus:3 siung bawang putih4 butir bawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-tenggiri-bakar-kuah-kuning.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="129" alt="ikan tenggiri bakar kuah kuning" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-tenggiri-bakar-kuah-kuning-thumb.jpg" width="192" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>1 ekor ikan tenggiri, potong bulat, bakar matang</p>
<p><strong>Bumbu halus:<br></strong>3 siung bawang putih<br>4 butir bawang merah<br>3 cm kunyit<br></p>
<p><!--more-->
<p>5 buah kemiri<br>Garam, air asam secukupnya</p>
<p>1 gelas air<br>4 lembar daun jeruk purut<br>1 batang serai, memarkan<br>2 sendok makan creamer</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Siapkan ikar bakar matang.
<li>Campur ikan dengan bumbu halus, garam, air asam. Sisihkan.
<li>Didihkan 1 gelas air. Masukkan daun jeruk, serai.
<li>Masukkan ikan bumbu. Didihkan sampai bumbu meresap ke ikan.
<li>Campur dengan creamer. Aduk rata. Angkat.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 10 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Lele Bakar Keluak]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/ikan-lele-bakar-keluak/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:25:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/ikan-lele-bakar-keluak/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:500 gram lele, bersihkan, buang insang dan isi perutGaram secukupnya, air jeruk (1 atau 2 bua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-lele-bakar-keluak.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="117" alt="ikan lele bakar keluak" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-lele-bakar-keluak-thumb.jpg" width="174" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>500 gram lele, bersihkan, buang insang dan isi perut<br>Garam secukupnya, air jeruk (1 atau 2 buah)<br>2 sendok makan minyak<br>5 butir bawang merah, iris halus<br>1 buah keluak<br></p>
<p><!--more-->
<p>Cabai rawit sesuai selera<br>1/2 gelas air<br>Garam, air jeruk secukupnya<br>3 batang daun bawang<br>1 buah tomat, potong dadu</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan lele dilumuri garam dan air jeruk. Diamkan 10 menit. Panggang.
<li>Panaskan minyak. Tumis bawang, keluak, rawit.
<li>Beri air, didihkan. Masukkan garam, air jeruk.
<li>Masukkan ikan bakar. Didihkan biar meresap.
<li>Masukkan daun bawang, tomat. Angkat.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 10 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesmol Ikan]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/pesmol-ikan/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:24:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/pesmol-ikan/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:1/2 kg ikan kembung, bersihkanGaram, air jeruk nipis1 sendok teh kunyit halus2 sendok makan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/pesmol-ikan.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="122" alt="pesmol ikan" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/pesmol-ikan-thumb.jpg" width="181" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>1/2 kg ikan kembung, bersihkan<br>Garam, air jeruk nipis<br>1 sendok teh kunyit halus<br>2 sendok makan minyak</p>
<p><strong>Bumbu halus:<br></strong>8 butir bawang merah<br></p>
<p><!--more-->
<p>5 butir kemiri<br>2 cm jahe</p>
<p>3 cm lengkuas parut<br>Garam, gula, cuka secukupnya<br>2 batang serai, memarkan<br>3 lembar daun salam<br>1/2 gelas air<br>10 buah bawang merah utuh<br>Cabai rawit sesuai selera<br>4 buah cabai merah, belah 2</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan dilumuri garam, air jeruk, kunyit. Diamkan 10 menit.
<li>Ikan dipanggang sampai matang. Sisihkan.
<li>Panaskan minyak. Tumis bumbu halus. Masukkan serai, salam, air, garam, gula, cuka, bawang utuh, cabai, ikan panggang.
<li>Masak sampai agak kental. Angkat.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 10 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Bumbu Kuning]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/ikan-bumbu-kuning/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:24:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/12/ikan-bumbu-kuning/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:250 gram fillet ikan tenggiri, potong daduGaram, air asam secukupnya
Bumbu halus:3 siung bawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-bumbu-kuning.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="111" alt="ikan bumbu kuning" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-bumbu-kuning-thumb.jpg" width="164" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>250 gram fillet ikan tenggiri, potong dadu<br>Garam, air asam secukupnya</p>
<p><strong>Bumbu halus:<br></strong>3 siung bawang putih<br>4 butir bawang merah, 2 buah cabai merah<br>3 cm kunyit<br>4 buah kemiri<br>1 gelas air<br>4 cm lengkuas, memarkan<br>4 lembar daun jeruk purut<br>3 lembar daun salam<br>1 batang serai</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Campur ikan dengan garam dan air asam. Diamkan 10 menit.
<li>Campur ikan dengan bumbu halus. Sisihkan. Didihkan 1 gelas air. Masukkan lengkuas, daun jeruk, salam, serai.
<li>Masukkan ikan. Masak sampai ikan matang.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 10 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Pangek (Rendah Kolesterol)]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/11/ikan-pangek-rendah-kolesterol/</link>
<pubDate>Sun, 11 May 2008 15:59:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/11/ikan-pangek-rendah-kolesterol/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:1 ekor ikan bandeng/tongkol,potong menjadi 4-5 bagian1 genggam daun kemangi, ambil daunnya4 l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-panek.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="142" alt="ikan panek" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-panek-thumb.jpg" width="161" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>1 ekor ikan bandeng/tongkol,potong menjadi 4-5 bagian<br>1 genggam daun kemangi, ambil daunnya<br>4 lembar daun salam<br>3 lembar daun jeruk purut<br>2 lembar daun kunyit<br>1 mata asam jawa + 2 sdm air<br></p>
<p><!--more-->
<p>1 liter air<br>Gula pasir<br>Garam</p>
<p><strong>Bumbu yang dihaluskan:<br></strong>10 buah cabai merah<br>2 tangkai serai<br>1 1/2 cm lengkuas<br>5 butir bawang merah</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum.
<li>Masukkan air. Setelah mendidih, masukkan daun salam, daun jeruk purut dan daun kunyit.
<li>Setelah mendidih kembali, masukkan ikan.
<li>Masak hingga hampir matang, lalu masukkan daun kemangi dan air larutan asam. Masak kembali sampai ikan matang.</li>
</ol>
<p>Untuk 4 porsi</p>
<p><em>Sumber: Intisari Menu Sehat 09/Th.1/2005</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Parape]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/11/ikan-parape/</link>
<pubDate>Sun, 11 May 2008 15:53:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/11/ikan-parape/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:1 ekor ikan bandeng, bersihkan, buang sisiknya, potong-potongGaram, air jeruk nipis secukupny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-parape1.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="123" alt="ikan parape" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-parape-thumb.jpg" width="182" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>1 ekor ikan bandeng, bersihkan, buang sisiknya, potong-potong<br>Garam, air jeruk nipis secukupnya<br>2 sendok makan minyak<br>2 sendok makan bawang merah halus<br>Gula, garam, air jeruk nipis </p>
<p><!--more-->
<p>secukupnya<br>3 sendok makan kecap manis<br>1/2 gelas air</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan dilumuri garam, air jeruk. Diamkan 10 menit. Panggang.
<li>Panaskan minyak. Tumis bawang sampai layu. Masukkan gula, garam, air jeruk nipis, kecap manis, air. Masak sampai mendidih.
<li>Masukkan ikan. Aduk-aduk. Angkat.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 10 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tingkatan mercury pada ikan mentah seperti sushi dan sashimi]]></title>
<link>http://parisya.wordpress.com/?p=59</link>
<pubDate>Sun, 11 May 2008 02:14:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>parisya</dc:creator>
<guid>http://parisya.wordpress.com/?p=59</guid>
<description><![CDATA[Kebanyakan wanita-wanita yang tengah hamil atau mengharapkan untuk hamil sudah mendengar peringatan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kebanyakan wanita-wanita yang tengah hamil atau mengharapkan untuk hamil sudah mendengar peringatan tentang resiko makan sushi terkait dengan adanya resiko dari bakteri tertentu dan tingkatan mercury nya. Tetapi wanita-wanita ini  juga harus ingat bahwa tidak semua sushi adalah yang mentah, dan ikan-ikan yang mengandung bahan gizi penting dan vitamin-vitamin diperlukan untuk pengembangan dan pertumbuhan bayi mereka. Mengkonsumsi ikan yang dimasak dapat membantu mengurangi resiko adanya bakteri tertentu. Makan ikan yang mengandung mercury rendah merupakan jalan untuk mengkonsumsi ikan secara aman. Ada 4 jenis ikan yang perlu diperhatikan oleh wanita-wanita hamil.  Berikut potongan artikelnya :</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p>The NRDC has compiled a list of fish used in sushi and their levels              of mercury. Many of the main sushi type fish contain high levels of              mercury and should be completely avoided. If you have further questions              regarding sushi, you should talk with your health care provider to              get their recommendation.</p>
<h2>Highest mercury</h2>
<p><span class="style1"><em><strong>AVOID</strong></em></span></p>
<p>Kajiki (swordfish)</p>
<p>Saba (mackerel)</p>
<p>Shark</p>
<p>Tilefish</p>
<h2>High Mercury</h2>
<p><em>Eat no more than three 6-oz servings a month </em></p>
<p>Ahi (yellowfin tuna)<br />
Buri (adult yellowtail)<br />
Hamachi (young yellowtail)<br />
Inada (very young yellowtail)<br />
Kanpachi (very young yellowtail)<br />
Katsuo (bonito)<br />
Maguro (bigeye, bluefin or yellowfin tuna)<br />
Makjiki (blue marlin)<br />
Masu (trout)<br />
Meji (young bigeye, bluefin* or yellowfin tuna)<br />
Shiro (albacore tuna)<br />
Toro (bigeye, bluefin or yellowfin tuna)</p>
<h2>LOWER MERCURY</h2>
<p><em>Eat no more than six 6-oz servings per month </em></p>
<p>Kani (crab)<br />
Seigo (young sea bass)*<br />
Suzuki (sea bass)*</p>
<h2>LOWEST MERCURY</h2>
<p><em>Enjoy two 6-oz servings a week </em></p>
<p>Aji (horse mackerel)<br />
Akagai (ark shell)<br />
Anago (conger eel)<br />
Aoyagi (round clam)<br />
Awabi (abalone)<br />
Ayu (sweetfish)<br />
Ebi (shrimp)<br />
Hamaguri (clam)<br />
Hamo (pike conger; sea eel)<br />
Hatahata (sandfish)<br />
Himo (ark shell)<br />
Hokkigai (surf clam)<br />
Hotategai (scallop)<br />
Ika (squid)<br />
Ikura (salmon roe)<br />
Kaibashira (shellfish)<br />
Kaiware (daikon-radish sprouts)<br />
Karei (flatfish)<br />
Kohada (gizzard shad)<br />
Masago (smelt egg)<br />
Mirugai (surf clam)<br />
Nori-tama (egg)<br />
Sake (salmon)<br />
Sawara (spanish mackerel)<br />
Sayori (halfbeak)<br />
Shako (mantis shrimp)<br />
Tai (sea bream)<br />
Tairagai (razor-shell clam)<br />
Tako (octopus)<br />
Tamago (egg) Tobikko (flying fish egg)<br />
Torigai (cockle)<br />
Tsubugai (shellfish)<br />
Unagi (freshwater eel)<br />
Uni (sea urchin roe)</p>
<p><span style="font-size:xx-small;"><em>Chart obtained from the Natural Resource Defense              Council (NRDC); data obtained by the FDA and the EPA</em></span>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lou Han, Pembawa Hoki dari Negeri Timur]]></title>
<link>http://planethobbies.wordpress.com/?p=25</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 16:19:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>planethobbies</dc:creator>
<guid>http://planethobbies.wordpress.com/?p=25</guid>
<description><![CDATA[





 
  


 JAKARTA - Ikan bertato aksara Mandarin itu hilir-mudik di akuarium.              Tubuh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"></span><span style="font-family:Arial;font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"> <img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/06/4/ikan2.jpg" border="0" alt="" hspace="0" vspace="10" width="200" height="139" align="left" /></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><strong><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"> </span> </strong></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"> JAKARTA - Ikan bertato aksara Mandarin itu hilir-mudik di akuarium.              Tubuhnya yang dibaluti perpaduan corak hitam dan perak bisa membuat              mata terpikat. Hewan ini pun tak menolak saat dielus–elus tangan              sang pemilik. Ikan lou han sebutannya. Lou han yang diberi nama dewa              hoki itu diyakini bisa membawa berkah tersendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"> ”Kalau dilihat baik-baik, tulisan Mandarin itu artinya berkembang,”              kata Inna, sang pemilik ikan istimewa itu. ”Ikan ini memang nggak              punya corak warna yang mencolok, tapi dia punya marking yang jelas              sekali. Jadi bisa langsung terbaca,” tambah Inna menunjukkan rajah              di tubuh ikan lou han kesayangan itu.<br />
Sebetulnya, sudah banyak pehobi ikan hias yang merayu Inna untuk              melepas ikan itu. Namun ibu dua anak ini tak bergeming, not for sale              untuk si dewa hoki. ”Wah, ditukar dengan BMW keluaran terbaru pun              saya nggak mau (lepas),” kelakarnya dengan mimik kocak. Rasanya,              ungkapan itu tak berlebihan. Sebab Inna dan keluarga begitu percaya              bahwa ikan itu bisa membawa berkah. Membuat usaha mereka yang tengah              dilakoni makin maju. ”Jadi, kalau sampai dilepas bisa-bisa bangkrut              kita.”<img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/06/4/ikan3.jpg" border="0" alt="" hspace="10" vspace="10" width="374" height="252" align="right" /></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:xx-small;"> Yosafat Erie S.<br />
Perhatikan bibit lou han yang baik. Agar tak tertipu sebaiknya Anda              memilih bibit lou han yang sudah berukuran di atas tujuh cm. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"><br />
Cerita Inna tadi cuma satu contoh dari sekian banyak pehobi di dalam              negeri yang tengah mabuk cinta dengan lou han. Beberapa bulan              terakhir, lou han terbukti berhasil merebut hati para pehobi ikan              hias. ”Bahkan, orang yang hobi burung atau anjing ikut-ikutan piara              ikan ini,” tambah Inna. Alhasil berbondong-bondonglah mereka beralih              status, kolektor lou han yang masih punya hubungan famili dengan              ikan mujair ini.</p>
<p>Bisnis Menjanjikan<br />
Menurut Iskandar, importir lou han di bilangan Ciledug, Tangerang,              fenomena lou han ini lahir dari dunia timur. Tepatnya, Malaysia. Di              tempat asalnya itu, lou han dikenal dengan nama rajah cichlasoma.              ”Ia juga sering disebut ikan sun go kong atau flower lou han,” ucap              pemilik farm Metro Lou Han itu.<br />
Kelahiran lou han itu bukan cuma membuat ‘heboh’ dunia ikan hias,              tapi sekaligus jawaban atas ketiadaan spesies ikan hias yang bisa              dibanggakan Malaysia. Wajar saja, kata Iskandar, sebab selama ini              negeri jiran itu memang kosong spesies ikan hias yang dapat              dibanggakan.<br />
Setelah lou han lahir, Asia (khususnya Malaysia) punya ikan hias              ornamental yang berkualitas dan bercitra tinggi. ”Di Malaysia              sendiri, ikan ini tumbuh pesat sebagai komoditas bisnis yang sangat              menjanjikan. Lou han banyak dijual mulai ukuran lima sampai 30 cm,”              papar lelaki dua anak ini dengan ramah.<br />
Sejalan dengan popularitas lou han yang terus meningkat, harga ikan              ini pun makin tinggi. Bayangkan, lou han yang bernama Coronation              Link dibanderoli angka 1,2 miliar rupiah. Ikan keluaran Meng              Akuarium, Malaysia itu unggul pada proporsional badan dan warna yang              cerah. Plus bintik mutiara yang bertabur di tubuhnya itu nyaris              sempurna.<br />
Sementara itu, cerita Iskandar, farm Malaysia lainnya, Mermaid              Explorer memiliki maskot lou han yang tak kalah istimewa. Lou han              yang bernama Beautiful Lady With Bikini itu dihargai kurang lebih              sama dengan keluaran Meng Akuarium.<br />
”Ikan itu berwarna kuning dengan bintik hitam yang melebar dan              memanjang dari insang ke pangkal ekor. Nah, yang membuat jadi makin              istimewa pada corak hitam di dekat kepala seperti ada gambar wanita              pakai bikini,” ujar Iskandar yang sudah melihat langsung siklid              istimewa milik Mermaid itu. Rata-rata, harga lou han berumur dua              bulan produksi Mermaid sekitar tiga juta rupiah.<br />
Itu sebabnya, setelah menekuni lou han sebagai hobi, Iskandar berani              melepas jabatan direktur keuangan sebuah perusahaan distribusi              makanan. Pria kelahiran Jambi itu amat yakin prospek bisnis lou han              sangat bagus di Indonesia. Tentunya keyakinan itu didasari              fakta-fakta dari negeri tetangga tadi.<br />
Hebatnya lagi, setiap hari rumah yang disulap jadi ruang pamer itu              tak pernah sepi pembeli. ”Sejak pertama impor, penjualan ikan ini              terus meningkat. Yang beli datang dari mana-mana. Bukan cuma dari              Jawa saja, dari Jambi pun ada,” ucap lelaki yang mengenal lou han              dari temannya, seorang eksportir di Singapura.</p>
<p>Magnet Kuat<br />
Lou han memang bak magnet kuat. Ikan ini bisa bikin orang kepincut              hingga banyak pehobi berusaha memiliki.<br />
”Saya senang ikan ini gara-gara penasaran dengan corak di badannya              itu. Kata teman-teman saya, coraknya itu bisa dibaca. Yang jelas              nggak semua ikan hias punya keunikan seperti itu,” ungkap St.              Adinata, pehobi lou han dari Solo. Belum lagi perpaduan warna yang              ada di tubuh lou han, lelaki paruh baya ini makin tergila-gila.              ”Warnanya seperti buatan manusia.”<br />
Selain punya warna yang cerah, umumnya berwarna kuning atau merah,              tubuh lou han seperti memiliki tebaran mutiara berupa totol metalik.              ”Nah, kalo ditaruh di akuarium dengan pencahayaan tepat, lou han              akan memancarkan cahaya dari bintik-bintik mutiara itu. Wah cantik              sekali lah,” kata Adinata.<br />
Awalnya, Adinata mengaku hanya mengoleksi burung saja. Namun setelah              melihat keindahan lou han saat berjalan-jalan di Singapura, bapak              tiga anak itu memutuskan untuk ”berburu” ikan hoki ini. ”Saya              koleksi lou han memang baru tiga bulan.”<br />
Meski tergolong ”pemain” baru, Adinata telah mengoleksi 18 lou han.              Di antaranya, flower leopard. Ikan ini punya bintik-bintik mutiara              yang sangat jelas. Alhasil ia kian betah berlama-lama menatap lou              han kesayangannya itu.<br />
Lou han yang baik, juga memiliki proporsional tubuh yang seimbang.              Ada lou han yang bertubuh segi empat, atau bertubuh bulat seperti              cakram. Dua-duanya jadi kegemaran para pehobi. ”Bentuk segi empat              yang baik punya perbandingan ukuran lebar dan panjang 1 banding 1,5.              Jika lebih pendek atau panjang, ikan itu termasuk jenis yang kurang              bagus,” ujar Adinata. Tapi jenis lou han yang punya bentuk seperti              cakram itu paling disukai, jarang dan unik.<br />
Penentu lain, ukuran nongnong kepala atau tonjolan di kepala. Lou              han yang punya nongnong besar pada bagian kepalanya, juga jadi              incaran pehobi lokal. Menurut Nurdin, salah satu ”pemain” lou han di              kawasan Jalan Sumenep, Jakarta Pusat, permintaan nongnong yang besar              itu sebenarnya datang dari pehobi di Indonesia. ”Wah, sejauh yang              saya tahu, di Malaysia atau Singapura lou han dengan jidat nongnong              nggak terlalu ngetop.”</p>
<p>Cermat Saat Memilih<br />
Bagi pemula hobi ini, Iskandar selalu wanti-wanti dalam memilih.              ”Mending pilih lou han yang berukuran kecil dulu. Apalagi buat              pemula yang kantungnya pas-pasan.” Tapi dari situlah kendala              menghadang. Sebab tak mudah untuk memilih lou han berkualitas baik              saat masih kecil. Apalagi jika pedangangnya nakal dan memberi kita              lou han palsu, seperti Cichlasoma synspilum, Cichlasoma              trimaculatum, Cichlasoma muculicauda atau Cichlasoma festae.<br />
Ikan-ikan itu sebetulnya masih ada hubungan darah dengan lou han.              Mereka masih dalam satu genus, Cichlasoma. Tak aneh jika badan ikan              itu bermotif walau hanya bercak hitam. Kepala juga sama dengan lou              han. Konon jenis-jenis itu sebagai silangan untuk menghasilkan lou              han.<br />
Lou han-lou han palsu itu bisa menjebak karena tak sesuai harapan              pehobi. Setelah berukuran 7 cm, motif di tubuh akan melebar, tipis              dan semakin kabur. ”Jadi, kalau mau beli lebih baik pilih yang sudah              berukuran di atas tujuh cm. Saat itu, kecantikan lou han sudah mulai              terlihat. Atau beli saja pada penyedia yang sudah terpercaya,” tutur              Iskandar.<br />
Dari segi perawatan, tak ada yang sulit untuk memelihara ikan yang              mudah beradaptasi ini. Ikan ini tak memerlukan akuarium yang              berukuran besar. Biasanya, ukuran akuarium disesuaikan dengan              panjang tubuh si lou han. Contohnya, untuk lou han berukuran 40 – 50              cm bisa digunakan akuarium dengan ukuran 200 x 170 x 80 cm.<br />
Agar terlihat makin cantik, di dalam akuarium bisa dibuatkan              diorama. Mulai dari batu-batuan, pasir, kerikil, pajangan hingga              gambar belakang dinding akuarium. Lengkap dengan filter, aerator,              alat penyifon air dan lampu flourescence atau ultra violet.<br />
Anda juga harus memperhatikan penggantian air. Meski tak menuntut              penggantian setiap hari, namun air yang kotor bisa membuat tubuh              ikan terkena jamur. ”Kalau airnya jarang diganti, sirip, insang dan              mata lou han akan timbul bintik-bintik putih,” ujar Inna. Itu              sebabnya ia menganjurkan untuk membubuhi sedikit garam dalam air              akuarium.<br />
Soal makanan, perhatikan umur si ikan. Saat berusia anakan, lou han              cukup diberi cacing darah (blood worm), cacing sutra (tubifex worm),              cuk (jentik nyamuk) dan kutu air. Setelah dewasa, lou han bisa              diberi makanan yang agak besar, seperti cacing tanah, ikan cere dan              udang hidup.<br />
Pemberian udang bisa diselang-seling dengan tanah dan pelet (pakan              buatan). Udang dan pelet itu bisa menambah cerah warna lou han. </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips Merawat Arwana dalam Akuarium ]]></title>
<link>http://planethobbies.wordpress.com/?p=24</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 16:16:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>planethobbies</dc:creator>
<guid>http://planethobbies.wordpress.com/?p=24</guid>
<description><![CDATA[
 
  

 Kelalaian adalah sumber malapetaka bagi penggemar. Sekali saja lalai              tidak meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p class="MsoNormal" align="justify"><strong><span style="font-family:Arial;font-size:medium;"> </span></strong><strong><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"><br />
</span> <span style="font-family:Arial;font-size:medium;"> </span></strong><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/05/4/arwana2.jpg" border="0" alt="" hspace="10" vspace="10" width="200" height="142" align="right" /></span></p>
</blockquote>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"> Kelalaian adalah sumber malapetaka bagi penggemar. Sekali saja lalai              tidak mengontrol aerator akuarium, bisa-bisa arwana mati. Apalagi              ceroboh, tentu lebih fatal akibatnya. Maka bagi penggemar yang              sungguh-sungguh mencintai arwana, pastilah memperhatikan seluk-beluk              di sekitar perawatan. Harapannya, agar arwana dalam akuarium bisa              tampil anggun dan asri. Lantas apa yang harus dilakukan?</p>
<p>1. Perhatikan peralatan aquarium<br />
Berhasil tidaknya akuarium menjadi tempat yang nyaman bagi ikan              arwana, sungguh dipengaruhi oleh kelengkapan sarana pendukungnya.</p>
<p>Aerator<br />
Fungsi aerator atau pompa udara adalah menyuplai udara ke dalam air              akuarium, dan sekaligus menguapkan atau mendorong hasil sisa-sisa              pembakaran ke luar dari akuarium. Aerator dikatakan baik, jika arus              listrik yang menggerakkannya kecil, tetapi udara yang ditiupkannya              relatif banyak.</p>
<p>Heater &#38; Thermometer<br />
Alat pemanas (heater) ini diperlukan terutama pada waktu suhu air              akuarium turun drastis. Sedangkan alat pengontrol suhu air atau              termometer juga dipasang dalam akuarium. Di daerah dingin, heater              dan termometer ini sangat dibutuhkan.</p>
<p>Filter<br />
Fungsi filter atau penyaring untuk menyaring air dalam akuarium.              Kerja filter mencakup ini untuk menyedot air akuarium, menyaring,              dan mengembalikannya lagi ke dalam akuarium dalam kondisi bersih.</p>
<p>Lampu TL<br />
Keberadaan lampu TL, selain menyinarkan cahaya, juga sanggup              mempercantik penampilan akuarium. Tapi, jangan sampai sinar lampu TL              justru menimbulkan panas yang melebihi kebutuhan. Idealnya untuk              akuarium seluas 80x40 cm memerlukan lampu TL berdaya 20 watt.</p>
<p>2. Rajin melakukan perawatan akuarium<br />
Mau tak mau jika Anda terlanjur mencintai ikan arwana dalam              akuarium, cukuplah rajin melakukan perawatan. Sebab déngan demikian              itu, penampilan arwana dalam akuarium tampak sehat, segar, dan              menyenangkan.</p>
<p>Pemberian makanan<br />
Menu utama arwana dalam akuarium adalah kelabang. Tapi jangan terus-              menerus diberi kelabang, sebaiknya divariasi déngan makanan lain.              Contohnya: udang, kecoa, katak, lipan, kadal, maupun jangkrik.</p>
<p>Pengontrolan &#38; pergantian air<br />
Setiap hari diwajibkan mengontrol suhu dan pH air. Adapun suhu air              ideal bagi ikan arwana sekitar 25-27 derajat Celcius. Andaikata suhu              air dingin, segera nyalakan heater hingga suhu air sesuai kebutuhan.              Sedangkan pH yang dikehendaki sekitar 6-8,5. Andaikata pH terlalu              rendah, maka tambahkan kapur ke dalam akuarium. Selain itu, sanitasi              air perlu diperhatikan pula, silakan mengobati air akuarium déngan              Malachite green, déngan frekuensi 3 minggu sekali.<br />
Dan jangan lupa, air akuarium juga diganti. Namun pergantian air              dipilahkan menjadi dua, yakni: (a) pergantian air secara reguler              setiap 2 hari sekali dengan volume 10% dari seluruh volume air              akuarium, dan (b) total pergantian air dilakukan setiap 3 bulan              sekali. Jika Anda menggunakan air PAM, sebaiknya dibiarkan 24 jam              terlebih dahulu agar kandungan khlor mengendap, dan setelah itu bisa              dimasukkan ke dalam akuarium.</p>
<p>3. Penataan interior akuarium<br />
Kehidupan di dalam akuarium adalah replika lingkungan hidup di alam              bebas. Oleh karena itu, perlu penataan interior dalam akuarium. Ini              berarti menuntut apresiasi estetika, sehingga perpaduan antara              keindahan akuarium dengan anggunnya ikan arwana sanggup menampilkan              nuansa kesejukan yang harmonis.</p>
<p>Tanaman air<br />
Mengingat asal-muasal ikan arwana yang suka bersembunyi di bawah              tanaman air, maka kita pun siap menyediakan tanaman dimaksud. Ada              beberapa jenis tanaman air yang dapat dipilih antara lain:              Vallisneria spiralis, Hidrilla verticillata, Riccia fluiutana,              Higrophila polisperma, Pistia stratiotes, Najas indica, dan              sebagainya.</p>
<p>Pasir batuan<br />
Pasir digunakan sebagai landasan peletakan batuan. Sebaiknya              digunakan pasir sungai, yang masih bercampur dengan humus. Di              samping itu, diberi juga batuan dan termasuk karang-karangan. Ukuran              batu idéal berdia meter 3 mm. Batuan tersebut memiliki berbagai              corak dan warna yang beragam namun tetap indah. </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips untuk Mengenali Ikan Jenis Marlin]]></title>
<link>http://planethobbies.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 16:13:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>planethobbies</dc:creator>
<guid>http://planethobbies.wordpress.com/?p=23</guid>
<description><![CDATA[  




Pemancing itu                  mendambakan sekali bisa dapat marlin. Menurut para pemancing  ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="justify"><strong><span style="font-family:Arial;font-size:medium;"> </span> </strong></p>
<table id="AutoNumber2" style="border-collapse:collapse;height:199px;border-width:0;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="border-style:none;border-width:medium;" rowspan="2" width="39%" height="197">
<p align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;">Pemancing itu                  mendambakan sekali bisa dapat marlin. Menurut para pemancing                  kawakan, marlin itu hebat fight-nya. Jenis ikan ini juga cantik                  sekali. ”Kalau terpancing, dia melompat ke atas permukaan 10                  sampai 20 meter. Pemancing bisa melihat ”musuh” di depannya itu.                  Ini sebuah pesona yang hanya bisa dinikmati sedikit orang,” ujar                  Dadi Kartahadimadja, yang pernah mendapat marlin seberat 300 kg                  namun lepas, ketika mengikuti turnamen di Manado.<br />
Tapi jika marlin terpancing, dia naik kepermukaan. Ada waktu                  untuk tarik ulur. Di sinilah pemancing fight bagaimana                  memenangkan pertarungan. Kapten kapal musti cekatan juga,                  membantu agar tali tidak putus. Caranya bisa memundurkan kapal                  agar posisi tali kendur dan ada kesempatan menggulung.<br />
Ada beberapa jenis ikan marlin. Black marlin atau marlin hitam                  dalam bahasa ilmiah disebut Makaira indica. Kemudian ada blue                  marlin atau marlin biru (Makaira nigircan). Sailfish atau ikan                  layar disebut Istiophorus platypterus. White marlin atau marlin                  putih (Tetrapturus albidus). Dan swordfish atau ikan todak                  dengan nama latin Xiphias galduys Linnaeus. Masih ada lagi                  stripped marlin (Tetrapturus audax) dan spearfish (Tetrapturus                  pfiuegeri / Tetrapturus angustirostris / Tetrapturus belone).</span></p>
</td>
<td style="border-style:none;border-width:medium;" width="6%" height="150"></td>
<td style="border-style:none;border-width:medium;" width="55%" height="150">
<p align="center"><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/04/4/marlin1.jpg" border="0" alt="" width="275" height="150" /></p>
<p align="center"><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/04/4/sailfish.jpg" border="0" alt="" width="300" height="160" /><br />
<strong><span style="font-size:22pt;font-family:Arial;">Sail Fish</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style:none;border-width:medium;" width="6%" height="45"></td>
<td style="border-style:none;border-width:medium;" width="55%" height="45">
<p align="center"><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/04/4/marlin2.jpg" border="0" alt="" width="250" height="187" /><br />
<strong><span style="font-size:22pt;font-family:Arial;">Black Marlin</span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"></p>
<p>Marlin Hitam<br />
Ikan ini yang terdapat di Samudra Hindia dan menjadi buruan dalam              kegiatan hobi olahraga memancing di Pelabuhan Ratu. Selain di situ              juga terdapat di Samudra Pasifik. Berada pada air dengan suhu 21-30              derajat Celcius dan jarang dijumpai di perairan dingin.<br />
Ikan ini dapat dengan cepat diidentifikasi karena ini satu-satunya              marlin yang memiliki sirip punggung yang kaku. Sirip ini tidak bisa              dilipat ke badannya. Garis punggungnya jarang sekali tampak jelas              pada ikan dewasa. Punggungnya berwarna biru tua yang langsung              berubah warna menjadi putih pada garis punggung. Jika sedang              melompat atau sedang makan maka akan terlihat garis biru yang samar              di sisinya. Makanannya terdiri dari sotong, makarel, bonito, ikan              terbang.<br />
Marlin hitam memiliki tenaga, ukuran dan ketangguhan yang menjadi              tantangan pemancing. Ikan ini dikenal dengan kecepatan renangnya dan              diikuti gerak menyelam yang dalam. Ikan terbesar yang pernah              ditangkap beratnya mencapai 700 kilogram, sekitar lima kali berat              marlin umumnya, di Cabo Blanco, Peru pada 4 Agustus 1953.</p>
<p>Marlin Biru<br />
Ikan marlin biru terbesar yang pernah ditangkap beratnya 637              kilogram di Vitoria, Brazil 29 Februari 1992. Ikan ini hidup pada              perairan hangat. Ikan ini tidak seperti marlin hitam dijumpai juga              di Samudra Atlantik berada pada kawasan tropik dari samudra itu.              Ikan ini tidak terdapat di kawasan perairan Pelabuhan Ratu.<br />
Ciri ikan ini adalah sirip pektoralnya tidak pernah kaku, bahkan              ketika telah mati masih bisa dilipat ke dalam tubuhnya. Sirip              dorsalnya tinggi dan tajam, tingginya lebih dari lebarnya tubuh              ikan. Sirip ekornya besar dan berujung tajam.<br />
Ikan jenis ini termasuk petarung agresif yang kerap kali melompat ke              udara, seakan-akan tidak kenal lelah. Mereka berenang dengan cepat              dan kuat.</p>
<p>Marlin Putih<br />
Biasanya berat maksimum ikan dewasa jantan hanya 90 kilogram.              Sedangkan yang betina sebagaimana ikan-ikan jenis ini bisa tumbuh              menjadi raksasa. Ikan terbesar yang pernah ditangkap beratnya hanya              sekitar 82,3 kilogram yang juga didapat di Vitoria, Brasil pada 8              Desember 1979.<br />
Ikan ini tersebar di Samudra Atlantik, Teluk Meksiko dan Laut              Karibia serta juga di Laut Tengah di Eropa. Ikan ini bisa bermigrasi              ke perairan tropis. Dan kerap berada dekat dengan pantai.<br />
Ciri yang paling menonjol adalah sirip dorsal, pektoral dan ekornya              berbentuk bulat bukan tajam. Sirip pektoralnya dapat dibengkokkan              hingga rapat dengan tubuhnya. Garis sisinya sangat jelas. Warna ikan              ini lebih mendekati warna hijau dibandingkan marlin lainnya.</p>
<p>Ikan Todak<br />
Berat maksimum ikan ini mencapai 682 kilogram, dan yang terberat              ditangkap di Iquique, Cili seberat 537 kilogram. Cucutnya paling              panjang, lurus dan lebar. Hidup pada suhu 13 hingga 22 derajat              Celcius. Ikan ini ditemukan di hampir semua perairan di permukaan              bumi.<br />
Ciri paling mudah adalah sungut tajam yang menyerupai pedang. Pedang              ini digunakan untuk bertahan atau membunuh, menyerang mangsanya.              Makannya seperti marlin lainnya berupa sotong, lumba-lumba, dan              makarel.<br />
Punggungnya bisa berwarna coklat tua, perunggu, ungu metalik, biru              keabu-abuan atau hitam sama sekali. Sisinya bisa gelap, dan bagian              bawahnya putih.<br />
Ikan ini mudah takut oleh kedatangan kapal dan tingkahnya tidak              menentu walau jarang sekali mereka menyerang kapal. Sungutnya kerap              digunakan untuk memotong tali pancing.<br />
Kini populasi marlin jauh berkurang. Jumlah ini tergantung pada si              pemancing. Jika dia baru pertama kali dapat marlin, dia ingin              berfoto dengan hasil tangkapannya. Untuk ini tentunya tidak akan              dilepas karena harus dibawa ke pelabuhan. Sebetulnya yang paling              membuat populasinya turun drastis, menurut Dadi, adalah commercial              fishing, atau tertangkap jala. ”Ikan marlin memang enak. Dia              merupakan perpaduan antara daging tuna dan tenggiri. Steaknya kan              terkenal sekali.”</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasi Kebuli Ikan]]></title>
<link>http://kokieka.wordpress.com/?p=49</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 06:08:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>kokieka</dc:creator>
<guid>http://kokieka.wordpress.com/?p=49</guid>
<description><![CDATA[
Dengan aroma rempah yang kaya ala Timur Tengah, nasi kebuli sudah bukan hal asing lagi. Biasanya na]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kokieka.wordpress.com/files/2008/03/kebuli-ikan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-36" src="http://kokieka.wordpress.com/files/2008/03/kebuli-ikan.jpg" alt="" width="412" height="336" /></a></p>
<p>Dengan aroma rempah yang kaya ala Timur Tengah, nasi kebuli sudah bukan hal asing lagi. Biasanya nasi kebuli di temani daging kambing.. memperkuat cita rasanya yang ala Timur Tengah. Kali ini nasi kebuli ala Kokieka tampil dengan padanan ikan. Kaldu ikan memperkaya cita rasa nasi kebuli ini ditemani cita rasa acara segar menggugah selera....Penasaran ??</p>
<p><a href="http://kokieka.wordpress.com/files/2008/03/kebuli-ikan.jpg"></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Goreng Bumbu kuning]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/02/ikan-goreng-bumbu-kuning/</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 23:55:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/02/ikan-goreng-bumbu-kuning/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:
1ekor ikan, bersihkan, gurat-gurat
1 sendok teh bawang putih halus
1 sendok teh jahe halus
1]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-goreng-bumbu-kuning.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-goreng-bumbu-kuning-thumb.jpg" border="0" alt="ikan goreng bumbu kuning" width="152" height="103" align="left" /></a> Bahan:<br />
</strong>1ekor ikan, bersihkan, gurat-gurat<br />
1 sendok teh bawang putih halus<br />
1 sendok teh jahe halus<br />
1 sendok teh kunyit halus<br />
Garam, air jeruk nipis secukupnya<br />
Tepung kanji secukupnya</p>
<p><!--more--></p>
<p>Minyak untuk menggoreng secukupnya</p>
<p><strong>Pelengkap:<br />
</strong>Kecap manis, air jeruk limo, cabai rawit irisan sesuai selera</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan dicampur dengan jahe, bawang, kunyit, garam, air jeruk nipis. Diamkan 10 menit sampai bumbu meresap.</li>
<li>Taburi tepung kanji di seluruh ikan.</li>
<li>Goreng sampai kering dan garing.</li>
<li>Sajikan dengan pelengkap.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 12 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Panggang Saus Kecap]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/01/ikan-panggang-saus-kecap/</link>
<pubDate>Thu, 01 May 2008 01:18:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/01/ikan-panggang-saus-kecap/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:1 ekor ikan 1/2 kg, bersihkan, gurat-guratAir jeruk nipis, garam secukupnya1 sendok teh jahe ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-panggang-saus-kecap.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="106" alt="ikan panggang saus kecap" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/ikan-panggang-saus-kecap-thumb.jpg" width="157" align="left" border="0"></a> Bahan:<br></strong>1 ekor ikan 1/2 kg, bersihkan, gurat-gurat<br>Air jeruk nipis, garam secukupnya<br>1 sendok teh jahe parut<br>1/2 sendok teh kunyit parut<br>1 sendok teh bawang putih halus<br></p>
<p><!--more-->
<p>2 sendok makan minyak</p>
<p><strong>Sambal kecap:<br></strong>Kecap manis secukupnya<br>Air jeruk limo secukupnya<br>Cabai rawit sesuai selera, potong-potong<br>(semua bahan dicampur)</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan diberi air jeruk, garam, jahe, kunyit, bawang putih. Diamkan 10 menit.
<li>Poles ikan dengan minyak. Panggang di panci anti lengket sampai matang kedua sisinya.
<li>Poles dengan kecap manis. Angkat.
<li>Sajikan ikan panggang dengan sambal kecap.</li>
</ol>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 13 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ko Sakana Fried (Ikan Goreng Tepung)]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/04/29/ko-sakana-fried-ikan-goreng-tepung/</link>
<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 00:08:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/04/29/ko-sakana-fried-ikan-goreng-tepung/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:       400 gram fillet ikan kakap, iris besar 1 jari     Garam, merica secukupnya     1 sendo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/04/ikan-goreng-tepung.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" height="106" alt="ikan goreng tepung" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/04/ikan-goreng-tepung-thumb.jpg" width="157" align="left" border="0" /></a> Bahan:       <br /></strong>400 gram fillet ikan kakap, iris besar 1 jari     <br />Garam, merica secukupnya     <br />1 sendok makan air jeruk nipis     <br />1 sendok makan ang ciu     <br />Tepung roti secukupnya     </p>
<p> <!--more-->
<p>Minyak goreng secukupnya</p>
<p><strong>Adonan celup:      <br /></strong>5 sendok makan tepung terigu     <br />1 butir telur     <br />Garam, merica secukupnya     <br />Air secukupnya</p>
<p><strong>Pelengkap:      <br /></strong>Daun kol, wortel, iris halus     <br />Tomat, mentimun, iris bulat     <br />Saus tomat, saus sambal botol, mayonnaise</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Ikan dicampur garam, merica, air jeruk nipis. </li>
<li>Celup ikan ke adonan celup. Gulingkan di tepung roti. Goreng. </li>
<li>Sajikan nasi dengan udang gulung tepung dan pelengkap. Daun kol, wortel, tomat, mentimun diberi mayonnaise. Saus tomat, sambal botol untuk udang. </li>
</ol>
<p>Untuk 4 porsi</p>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 08 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gulai Kepala Ikan Kakap]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/04/27/gulai-kepala-ikan-kakap/</link>
<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 00:48:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.wordpress.com/2008/04/27/gulai-kepala-ikan-kakap/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:
1 kg kepala ikan kakap, potong, cuci
Garam, air jeruk nipis
1 liter santan dari 1/2 butir ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/04/gulai-kakap-ikan.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/04/gulai-kakap-ikan-thumb.jpg" border="0" alt="gulai kakap ikan" width="149" height="108" align="left" /></a> Bahan:<br />
</strong>1 kg kepala ikan kakap, potong, cuci<br />
Garam, air jeruk nipis<br />
1 liter santan dari 1/2 butir kelapa<br />
5 cm lengkuas<br />
3 lembar daun salam<br />
1 lembar daun kunyit</p>
<p><!--more--></p>
<p>3 lembar daun jeruk purut<br />
2 batang serai, memarkan<br />
2 buah cabai merah, belah 2<br />
2 buah cabai hijau, belah 2<br />
2 buah tomat, iris-iris</p>
<p><strong>Bumbu halus:<br />
</strong>5 siung bawang putih<br />
6 butir bawang merah<br />
4 cm kunyit<br />
4 cm jahe<br />
Garam secukupnya</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Kepala ikan diberi garam dan air jeruk. Diamkan 10 menit.</li>
<li>Bawang, kunyit, jahe dihaluskan. Campur dengan ikan. Beri 1 liter santan.</li>
<li>Masukkan lengkuas, salam, daun kunyit, daun jeruk, serai, cabai, tomat. Masak sampai meresap. Angkat.</li>
</ol>
<p>Catatan: Kalau kurang asam bisa ditambahkan air asam.<br />
Untuk 6 orang.</p>
<p><em>Sumber: Aura Lezat Sehat 13 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bandeng Presto Goreng]]></title>
<link>http://cuek.wordpress.com/?p=1571</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 07:48:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>cuek</dc:creator>
<guid>http://cuek.wordpress.com/?p=1571</guid>
<description><![CDATA[Bahan :
1 ekor ikan bandeng
1btr telur kocok
daun pisang sckpnya
air sckpnya
400ml minyak goreng
Bum]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan :<br />
1 ekor ikan bandeng<br />
1btr telur kocok<br />
daun pisang sckpnya<br />
air sckpnya<br />
400ml minyak goreng</p>
<p>Bumbu halus:<br />
2cm kunyit<br />
2sdt ketumbar<br />
3btr kemiri sangrai<br />
5siung bawang putih<br />
sckpnya garam</p>
<p>Sambal:<br />
4sdm minysk sayur<br />
150gr cabe merah besar<br />
10bh cabe rawit, rebus<br />
8btr bawang merah, rebus<br />
4siung bawang putih, rebus<br />
1sdt gula pasir<br />
1sdt garam<br />
1sdt terasi goreng<br />
<!--more--><br />
Cara membuat:<br />
1. Bersihkan bandeng dr kotoran badannya, biarkan sisiknya.<br />
2. Letakkan daun pisang d dasar panci presto.<br />
3. Lumuri seluruh bagian bandeng dgn bumbu halus.<br />
4. Masukkan bandeng ke dlm panci presto<br />
5. Tuang air hingga ikan bandeng terendam sempurna<br />
6. Tutup panci, masak hingga panci mendesis.<br />
7. Masak terus hingga 20-30 menit berikutnya.<br />
angkat dan dinginkan.<br />
8. Setelah dingin, buka tutup panci perlahan, angkat dan tiriskan.<br />
9. Lumuri bandeng dgn telur. Goreng dlm minyak panas sampai matang. angkat.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bandeng Presto Balado]]></title>
<link>http://cuek.wordpress.com/?p=1570</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 07:46:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>cuek</dc:creator>
<guid>http://cuek.wordpress.com/?p=1570</guid>
<description><![CDATA[Bahan :
500gr ikan bandeng(1ekor)
4cm lengkuas , memarkan
4lbr daun salam
1btg serai , memarkan
3lbr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan :<br />
500gr ikan bandeng(1ekor)<br />
4cm lengkuas , memarkan<br />
4lbr daun salam<br />
1btg serai , memarkan<br />
3lbr daun jeruk<br />
500ml mnyk goreng<br />
sckpnya air<br />
sckpnya daun pisang</p>
<p>Bumbu halus:<br />
2cm kunyit<br />
4bh cabe merah<br />
2siung bwg putih<br />
4btr bwg merah<br />
2cm jahe<br />
sckpnya garam<br />
<!--more--><br />
CARA MEMBUAT:<br />
1. bersihkan bandeng dr sisik &#38; kotoran , cuci bersih.<br />
2. goreng bandeng dlm mnyk panas sampai matang &#38; berwarna kecoklatan<br />
angkat<br />
3. panaskan 2sdm minyak goreng , tumis bumbu halus , lengkuas , daun salam , serai dan daun jeruk sampai harum<br />
4. letakkan daun pisang d dasar panci presto , masukkan bumbu &#38; bandeng.<br />
tuang air hingga bandeng terendam dgn sempurna<br />
5. masak dgn api sedang slm 30 menit, angkat.<br />
sajikan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bandeng Krispi]]></title>
<link>http://cuek.wordpress.com/?p=1568</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 07:43:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>cuek</dc:creator>
<guid>http://cuek.wordpress.com/?p=1568</guid>
<description><![CDATA[Bahan :
500gr bandeng tanpa duri
50gr tpg tapioka
2btr telur ayam
1/2sdt baking powder
3sdm tpg bumb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan :<br />
500gr bandeng tanpa duri<br />
50gr tpg tapioka<br />
2btr telur ayam<br />
1/2sdt baking powder<br />
3sdm tpg bumbu pedas<br />
400ml mnyg grng u/ menggoreng<br />
sambal bangkok u/ co2lan<br />
<!--more--><br />
Cara membuat :<br />
1. potong ikan bandeng selebar 5cm, sisihkan.<br />
2. campur tapioka, telur, &#38; baking powder , aduk perlahan sampai rata.<br />
3. celupkan bandeng dlm campuran tpg tapioka, angkat lalu gulingkan dlm tpg bumbu pedas<br />
4. goreng dlm mnyk panas d atas api sedang sampai kuning kecoklatan &#38; matang<br />
angkat dan tiriskan.<br />
5. sajikan dgn sambal bangkok</p>
<p>tips:<br />
** jgn gunakan air sebagai bahan pelarut tpg kanji krn bs menyebabkan tpg tdk renyah<br />
** bila km tdk menyukai rasa pedas , pakai saja tpg bumbu dgn rasa lainnya.<br />
** masak bandeng krispi dgn mnyk panas dgn api sedang sampai matang.<br />
** u/ penyuka rasa gurih, dan renyah pd makanan , potong saja bandeng ukuran yg lebih kecil.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indeks Konsumsi Ikan Perkapita Indonesia]]></title>
<link>http://ferinaldy.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 04:41:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>ferinaldy</dc:creator>
<guid>http://ferinaldy.wordpress.com/?p=11</guid>
<description><![CDATA[Ikan merupakan salahsatu sumber protein dan lauk pauk sehari –hari kita. Ada yang digoreng, bakar,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ikan merupakan salahsatu sumber protein dan lauk pauk sehari –hari kita. Ada yang digoreng, bakar, di bumbui atau ada yang dimakan mentah (sushi). Kemampuan produksi ikan Indonesia khususnya sektor budidaya masih jauh di bawah potensi yang kita miliki (<em>lih tulisan sebelumnya</em>). <em>Trus, </em>bagaimana dengan pola konsumsi ikan kita, seberapa besar sih orang yang mengkonsumsi ikan di Indonesia? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan melihat indeks konsumsi ikan perkapita. Saya pun mencari data di berbagai media (Departemen Kelautan dan Perikanan, Biro Pusat Statistik, Kompas, Departemen Pertanian), namun data yang saya dapatkan tidak memuaskan karena berbeda-beda dan angka yang dihasilkan pun menunjukkan indeks konsumsi ikan perkapita kita masih di bawah standar FAO (30 Kg/thn). Saya pun memutuskan untuk menghitung manual sebenarnya <em>berapa sih</em> indeks konsumsi ikan perkapita kita?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Berikut saya tampilkan data indeks konsumsi ikan perkapita kita yang saya olah terlebih dahulu dari berbagai sumber.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width:289.75pt;border-collapse:collapse;margin:auto auto auto 4.65pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="386">
<tbody>
<tr style="height:12pt;">
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:black 1pt solid;width:79.75pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="106">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="47" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">2001</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="47" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">2002</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="47" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">2003</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="47" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">2004</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="47" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">2005</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;background:#99ccff;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:#ece9d8;height:12pt;padding:0 5.4pt;" width="47" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">2006</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:34.5pt;">
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:black 1pt solid;width:79.75pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="106">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">Domestic Consumption/Capita (Kg/Yr)</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">19.24</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">19.53</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">20.64</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">20.34</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">20.39</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">20.54</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:34.5pt;">
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:black 1pt solid;width:79.75pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="106">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">Aquaculture Consumption/Capita (Kg/Yr) </span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">3.40</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">3.51</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">3.68</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">3.72</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">4.35</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">4.31</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:34.5pt;">
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:black 1pt solid;width:79.75pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="106">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">Total Consumption/Capita (Kg/Yr)</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">22.64</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">23.04</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">24.32</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">24.06</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">24.74</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">24.86</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:34.5pt;">
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:black 1pt solid;width:79.75pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="106">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">Total Population (Million)</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">208</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">211</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">214</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">216</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">219</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;background:#ffff99;border-left:#ece9d8;width:35pt;border-bottom:black 1pt solid;height:34.5pt;padding:0 5.4pt;" width="47">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Arial;">222</span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><em><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dari berbagai sumber (diolah)</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jika melihat tabel diatas, enam tahun terakhir memperlihatkan kenaikan konsumsi ikan namun konsumsi perkapita kita masih dibawah standar FAO (30 kg/yr). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Indeks konsumsi ikan perkapita diatas saya kategorikan dalam dua jenis yaitu <em>Domestic Consumption</em> dan <em>Aquaculture Consumption</em>. <em>Domestic Consumption</em> merupakan indeks komsumsi perkapita yang didasarkan pada data produksi ikan yang berasal dari sektor penangkapan, dan sektor ekspor – impor, sedangkan <em>Aquaculture Consumption</em> ialah indeks komsumsi perkapita yang didasarkan pada data produksi budidaya ikan di Indonesia. Seiiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat dengan pertumbuhan 1.2 %, kebutuhan akan ikan pun meningkat dan ini diikuti juga dengan meningkatnya jumlah konsumsi ikan di Indonesia baik dari sektor domestik dan budidaya. <em>Domestic Consumption</em> mengalami pertumbuhan 1,3 %, akan ini mengalami pertumbuhan yang terus konstan mengingat jumlah tangkapan yang pertumbuhan nya cenderung konstan bahkan menurun, namun perlu diingat bahwa sektor ini merupakan penyumbang terbesar produksi perikanan Indonesia dalam kurun waktu hampir 10 tahun belakang (diatas 65%).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Seiiring dengan meningkatnya jumlah produksi perikanan budidaya, <em>Aquaculture Consumption</em> juga meningkat dengan pertumbuhan mencapai 4,9 % dalam kurun waktu enam tahun ini. Meningkatnya <em>Aquaculture Consumption</em> di Indonesia diduga<span>  </span>oleh bertambahnya jumlah rumah makan atau restoran yang menyajikan ikan sebagai menu utamanya, terutama dengan adanya program kuliner dibeberapa program televisi yang membuat masyarakat Indonesia mengenal ikan <em>nggak</em> hanya digoreng atau bakar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Secara keseluruhan, indeks konsumsi ikan ikan perkapita pertahun mencapai 24.86 kg dengan pertumbuhan mencapai 1,9 % dalam kurun enam tahun. Walaupun pertumbuhannya cenderung lambat, setidaknya kesadaran akan pentingnya makanan bergizi mulai meningkat.</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikan Goreng Lapis Tepung]]></title>
<link>http://candrawijaya.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 08:56:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>candrawijaya</dc:creator>
<guid>http://candrawijaya.wordpress.com/?p=57</guid>
<description><![CDATA[Ikan Goreng Lapis Tepung
Bahan:
500 g daging ikan kakap hitam atau merah tanpa tulang, potong 2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ikan Goreng Lapis Tepung</strong></p>
<p>Bahan:<br />
500 g daging ikan kakap hitam atau merah tanpa tulang, potong 2x2x5 cm<br />
1 putih telur ayam, kocok hingga berbuih<br />
minyak goreng<br />
Bumbu, aduk rata:<br />
1 sdm kecap Jepang encer<br />
1 siung bawang putih, parut<br />
1 sdm air jeruk nipis<br />
1/2 sdt merica bubuk<br />
1 sdt garam<br />
Lapisan, aduk rata:<br />
100 g tepung terigu<br />
2 sdm tepung beras<br />
1 sdt bawang putih bubuk<br />
1 sdt merica bubuk<br />
1 sdt garam</p>
<p>Cara membuat:<br />
•  Aduk potongan daging ikan dengan bumbu hingga rata. Diamkan selama 1 jam lalu tiriskan.<br />
•  Gulingkan tiap potongan ikan dalam bahan Lapisan hingga rata.<br />
•  Celupkan tiap potong ikan dalam putih telur lalu taburi dengan bahan Lapisan hingga rata. Biarkan beberapa saat hingga kering.<br />
•  Goreng hingga kuning dan kering. Tiriskan.<br />
•  Sajikan hangat dengan jeruk limau dan saus sesuai selera.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[THE BEST COMPANIES IN MELAKA.]]></title>
<link>http://halamanweb.wordpress.com/?p=39</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 08:50:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>IBRAHIM AHMAD</dc:creator>
<guid>http://halamanweb.wordpress.com/?p=39</guid>
<description><![CDATA[List of company that use www.bscard.info services.

all you needs for small company are here
saltwat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>List of company that use <a href="http://www.bscard.info" target="_blank">www.bscard.info</a> services.<br />
</strong></p>
<p><strong>all you needs for small company are here</strong></p>
<p><strong>saltwater fishing ponds</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.kcponds.bscard.info" target="_blank">http://www.kcponds.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>piano shop</strong></p>
<p><a href="http://www.creativepiano.bscard.info" target="_blank"><strong>www.creativepiano.bscard.info</strong></a></p>
<p><strong>m.l.m<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="MLM PERSON" href="http://www.aiman.bscard.info" target="_blank">http://www.aiman.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>lanskap<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="LANSKAP COMPANY" href="http://www.ingarden.bscard.info" target="_blank">http://www.ingarden.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>restoren<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="RESTOREN" href="http://www.dlaman.bscard.info" target="_blank">http://www.dlaman.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>m.l.m<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="4LIFE " href="http://www.zaiton.bscard.info" target="_blank">http://www.zaiton.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>m.l.m<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="4LIFE" href="http://www.rohani.bscard.info" target="_blank">http://www.rohani.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>webmaster<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="BSCARD.WEB MASTER" href="http://www.yasir.bscard.info" target="_blank">http://www.yasir.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>hp shop<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="mobile shop" href="http://www.friends.bscard.info" target="_blank">http://www.friends.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>saloon shop<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="salon kecantikan" href="http://www.empayarmutiara.bscard.info" target="_blank">http://www.empayarmutiara.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>m.l.m<br />
</strong></p>
<p><strong><a title="mantalk product" href="http://www.hasrah.bscard.info" target="_blank">http://www.hasrah.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong>tradisional medicine<br />
</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.maajunmaka.bscard.info" target="_blank">http://www.maajunmaka.bscard.info</a></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>IF YOU ARE INTRESTED TO JOIN US,PLEASE CONTACT</strong></p>
<p><strong>IBRAHIM AHMAD</strong></p>
<p><strong>HP:+60 0163581794</strong></p>
<p><strong>EMAIL : <a href="//help_linemy@yahoo.com" target="_blank">help_linemy@yahoo.com</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.bscard.info" target="_blank">WWW.BSCARD.INFO</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.malaysiahelpline.net" target="_blank">WWW.MALAYSIAHELPLINE.NET</a></strong></p>
<p><strong>my web:<br />
</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.ibrahim.bscard.info" target="_blank">ibrahim</a></strong></p>
<p><strong>BERMINAT UNTUK SYARIKAT/HOTEL ANDA TERSENARAI DI SINI ATAU MEMILIKI HALAMAN WEB SEPERTI INI ??</strong></p>
<p>hubungi kami di www.bscard.info</p>
<p>atau hubungi</p>
<p>Ibrahim : 0163581794</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
