<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>humor-msf &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/humor-msf/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "humor-msf"</description>
	<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 19:23:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Lawing ke Kapitel MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/lawing-ke-kapitel-msf/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 14:22:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/lawing-ke-kapitel-msf/</guid>
<description><![CDATA[Setelah selama 33 tahun berkelana di bumi Kaltim, kemudian 7 tahun berkarya di tanah Belanda, untuk ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Setelah selama 33 tahun berkelana di bumi Kaltim, kemudian 7 tahun berkarya di tanah Belanda, untuk pertama kalinya Lawing mengunjungi kota abadi Roma guna menghadiri Kapitel Jenderal MSF. Pada kesempatan itulah Amai menjumpai utusan MSF Kalimantan yang dengan sangat mohon agar Amai mengangkat kembali penanya dan melanjutkan ‘Kisah Lawing’, bukan lagi untuk majalah Kontak, tetapi untuk majalah Musafir. “Mereka merayu Amai dengan bujukan-bujukan yang memikat, sehingga tergodalah ia,” ( Ams 7: 21 ). Maka bersama ini Amai mempersembahkan Kisah Lawing seri baru.</em></p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/lawing.jpg" alt="lawing.jpg" /></p>
<p><strong>BEJANA YANG ANEH</strong></p>
<p>Sebagai guru yang bijaksana Lawing duduk menghadap murid-muridnya. Di depannya ada sebuah bejana, yang ia isi dengan batu-batu yang besar. Kemudian ia bertanya: “Sudah penuhkah bejana ini?” “Ya”, jawab murid-muridnya. Lalu sang guru mengambil batu kerikil dan menja-tuhkannya di antara batu-batu yang besar dan bertanya lagi: “Penuhkah bejana ini?” <br />
Lagi murid-muridnya menjawab: “Ya.”  Sambil tersenyum Lawing mengambil pasir dan menuangnya di antara batu-batu. Lagi ia bertanya: ‘Penuhkah bejana ini ?’ dan murid-muridnya menjawab dengan suara kecil : ‘Mungkin.’ Kemudian ia mengambil air dan menuangnya di atas pasir yang kering dan kini bejana memang terisi penuh.</p>
<p>Lalu sang guru bertanya : ‘Pelajaran apakah dapat kita ambil dari contoh ini ?’ Setelah berpikir sejenak seorang murid menjawab : “Sering kali kita berpikir bahwa agenda kita sudah penuh. Padahal, kalau kita mau, ada saja kesempatan dan waktu untuk menambah kegiatan kita.”<br />
“Benar juga.” jawab Lawing. “Tetapi apakah menyibukkan diri dengan sebanyak mungkin kegiatan, apakah itu cara hidup yang paling ideal?” Dan sambil memandang murid-muridnya ia melanjut-kan:  “Pelajaran yang menurut saya lebih berharga ialah: Isilah hidupmu secara bijaksana. Carilah apa yang paling pokok dan penting, tentukanlah prioritas dan pakailah waktumu untuk itu, sebab kalau menyibukkan diri dengan banyak hal yang kecil-kecil, tak ada waktu lagi untuk hal-hal yang besar.”</p>
<p><em>Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada pengikutnya: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”</em> ( Mat  6:33 ).</p>
<p><strong>P.Yan Zwirs MSF</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sangkamu, aku ini seorang penyamun ?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/08/09/sangkamu-aku-ini-seorang-penyamun/</link>
<pubDate>Wed, 09 Aug 2006 16:38:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/08/09/sangkamu-aku-ini-seorang-penyamun/</guid>
<description><![CDATA[Kata orang; meski wajah sangar, hati tetap baik. Meski hitam tapi manis. Namun kata-kata bijak ini k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang; meski wajah sangar, hati tetap baik. Meski hitam tapi manis. Namun kata-kata bijak ini kiranya tak bersahabat dengan bung Musafir, pagi hari ini (20 December 2005) saat bertandang di TK Sta. Miriam-Balikpapan dalam acara Sinter Clas.</p>
<p>Malang benar nasibku, mentang-mentang hitam manggusung kulitku, aku dipilih sebagai “pembantunya” Sinter Clas yang dilakoni oleh P. Sinnema. Sudah hitam dirias lebih hitam lagi dengan bibir bergincu merah menyala. <!--more-->Siapa yang nggak takut ? Untung aja brewokku yang lebat mirip Ossama Bin Laden sudah saya “tebas” habis-habisan sejak subuh.<br />
Karena sang pembantu bernama Pit Hitam (Black Pit) maka sejak pagi aku didandani dengan aneka warna oleh ibu Sianne dengan stelan kostum hitam-hitam. Rasanya gelap banget bu, sudah malam kali yah...candaku pada ibu perias.  Mantap ini frater, puji ibu Sianne. Yah... Tambah ganteng khan bu, jawabku penuh percaya diri.</p>
<p>Setelah selesai merias diri bersama bosku Sinter Clas, kami diarak dengan mobil Pick up menuju TK. Sta. Miriam. Rute perjalanan kami adalah melalui Jl. A. Yani, jalan utama. Bayangkan aja berapa puluh mata yang menatap kami dan mengucapkan salam kepada kami. Tapi berbuluh-puluh kaki anak-anak kecil yang berlari ketakutan sambil menangis menatap sang hitam di samping bos. Pit hitam, sebaiknya kamu sembunyi duluh. Baring aja di mobil itu, pinta “Sinter Clas” bercanda.</p>
<p>Setibanya di TK. Sta. Miriam, banyak anak yang menyalami sang bos “bapak Sinter Clas” dan banyak juga yang menangis karena sang Pit. Menatappun enggan, salamanpun gemetar, senyum pun cuma tangisan ketakutan. Melihat situasi yang gawat darurat itu sang Pit berkata dalam hati; <em>sangkamu aku ini seorang penyamun?</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Ada Bedanya Opah dan Kakek?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/08/09/apakah-ada-bedanya-opah-dan-kakek/</link>
<pubDate>Wed, 09 Aug 2006 16:35:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/08/09/apakah-ada-bedanya-opah-dan-kakek/</guid>
<description><![CDATA[Suasana gelap menyelimuti “pondok hari tua” Wisma Simeon-Banjarbaru; kira-kira pkl. 19.00 Wisa (]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suasana gelap menyelimuti “pondok hari tua” Wisma Simeon-Banjarbaru; kira-kira pkl. 19.00 Wisa (Waktu Simeon) pada hari Sabtu malam tanggal 26 November 2005. Dalam keremangan petromax, duduk sekelompok kecil komunitas (Mgr. Demarteau, P. Borst,) termasuk Reporter MUSAFIR yang pada waktu itu ikut makan bersama dengan penghuni setia pondok “renungan” Simeon sekalian mohon pamit kembali ke Balikpapan.</p>
<p>Sedang asyik menyantap aneka hidangan dalam sorotan remang petromax ibarat di dalam cafe “gaul abis” tiba-tiba Mgr. Demarteau MSF (Uskup Emeritus) nyeletuk dengan nada yang keras-maklum Uskup kita yang sudah 80-an tahun ini udah “kristutal” (Red: krisis tuli total) dengan acungan jempol ibarat pidato mantan presiden pertama Indonesia Bung Karno menunjuk teman sekomunitasnya P. Borst sambil berkata; “dia sudah opah”. Mendengar ocehan teman sekomunitasnya, antara tertawa dan senyum simpul yang tidak jelas P. Borst yang sudah “krispital” (Red: krisis pikun total)  menjawab; “dia jadi kakek”. Mendengar jawaban “opah Borst”; sang “sekertaris pribadi” (Red: sang PM: Procur Misi) kakek Demarteau langsung menuliskan balasan opah Borst untuk Beliau. Setelah membaca tulisan yang adalah jawaban opah Borst, kakek Demarteua masih membalas dengan akting yang sama, ohhhh... Dia opah, saya belum kakek..!! Opah Borst langsung menimpali; yah dia mau lebih tinggi alias jadi kakek... Mendengar ocehan opah dan kakek berpenampilan muda ini, gelak tawa menggema di dalam Wisam Simeon. Lalu sang Procur, Pa’ Provinsial dan Reporter Musafir langsung nyambung; “apakah ada Bedanya opah dan kakek”??. Hanya opah dan kakek yang bisa menjawabnya entah kapan... </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CD Bajakan]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/27/cd-bajakan/</link>
<pubDate>Thu, 27 Jul 2006 02:46:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/27/cd-bajakan/</guid>
<description><![CDATA[Di Mangga Dua Jakarta ada ribuan CD bajakan.
Kalau bertemu 2 CD ini harap lapor pihak berwajib.


]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Di Mangga Dua Jakarta ada ribuan CD bajakan.</p>
<p>Kalau bertemu 2 CD ini harap lapor pihak berwajib.<!--more--></p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/cdbajakan1.jpg" alt="cdbajakan1.jpg" /></p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/cdbajakan2.jpg" alt="cdbajakan2.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setan Lintang-Pukang]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/27/setan-lintang-pukang/</link>
<pubDate>Thu, 27 Jul 2006 02:32:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/27/setan-lintang-pukang/</guid>
<description><![CDATA[Kerasukan setan ibarat flu burung. Bisa hinggap kapan dan kepada siapa saja. Tidak ada gejela, tida]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kerasukan setan ibarat flu burung. Bisa hinggap kapan dan kepada siapa saja. Tidak ada gejela, tidak kenal waktu dan tempat. Itulah kepiawaian sang setan. Seperti “tebang pilih” dalam dunia HPH dan pengadilan, setan hanya ingin merasuk kaum hawa yang muda dan cantik. Dasar setan jantan !!</p>
<p>Suatu hari terjadilah peristiwa kerasukan setan jantan. Seorang gadis manis dirasukinya. Keluarga dan penduduk sekitar jadi geger. Sang gadis meranyau, bilang bahwa dia adalah titisan Datuk Temanggung Saleh. Celakanya, di samping meranyau, dai punya kekuatan besar. Para titisan Adam yang tegap pun tak mampu menenangkan. Bukan karena tidak kuat, tetapi tidak tahu mau pegang di mana ! Dukun dipanggil, tak mempan. Paranormal dipanggil, tidak mempan. Salib diperlihatkan juga tidak mempan. Doa-doa ala Katolik seperti Salam Maria dan Bapa Kami, juga tidak mempan. Semua putus asa mau buat apa. Tiba-tiba seseorang berseru lantang, "panggil pastor !!"  Tanpa disuruh seorang pemuda ganteng langsung ambil langkah. Maklum dia adalah sang pacar. Dengan terengah-engah, sang perjaka berseru; "tolong Pastor, pacar saya kerasukan setan ! Banyak upaya tapi setannya ngotot". Harapan terakhir hanya pada pastor. Apa mau dikata, tuntutan pastoral. Tapi mau buat apa ? Semua perlengkapan doa tersedia, tetapi belum pernah mengadakan upacara exorcismus. Apa boleh buat, pokoknya pergi. Moga-moga setan gentar juga menghadapi pastor.</p>
<p>Dalam kamar sang gadis dikerumuni banyak orang. Ada yang pegang rosario, gambar Yesus, patung Maria. Ada juga yang mengacung-acungkan salib. Ada juga yang menumpangkan tangan sambil mulut komat-kamit. Entah doa apa. Sang gadis meronta-ronta. Sebentar matanya mengarah pada sang pastor. Sepertinya ada sesuatu yang menekan. Pastor meminta semua keluar dari kamar. Hanya ingin berduaan dengan harapan moga-moga masalahnya bukan kerasukan setan sungguh-sungguh, tetapi masalah pribadi. Ketika semua sudah keluar, sang gadis agak tenang. Sang pastor duduk di tepi ranjang. Mau omong apa ? Sang gadis jelita mengatup bibir kencang-kencang, menutup mata erat-erat. Mati aku. Tapi kadang-kadang seperti melirik kearah pastor.</p>
<p>Tiba-tiba ada desakan dari dalam perut. Angin busuk minta permisi keluar. Ide cemerlang muncul teringat seruan Aristoteles: Eureka…!! Pastor sedikit mendekati muka sang gadis jelita dan tuuuuuuuuuuut !!!. Sebuah suara menggelegar muncul, diserat bau menyengat yang tidak terhingga. Apa yang terjadi ?? Sang gadis terloncat dari ranjang, sambil tertawa terkekeh-kekeh dan menutup hidung, lari keluar kamar, tanpa menoleh. Pastor juga keluar sambil tersenyum dan ngeloyor pergi. Sang gadis sembuh total ! Setan telah lari lintang pukang !<br />
Oleh : P. Frans HH MSF</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
