<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hotplate &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/hotplate/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hotplate"</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 08:39:28 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Feed Me!]]></title>
<link>http://gavinscorner.wordpress.com/?p=41</link>
<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 14:42:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gavin Stewart</dc:creator>
<guid>http://gavinscorner.wordpress.com/?p=41</guid>
<description><![CDATA[I think this entry is going to make me look like a complete infant, but here goes: I don&#8217;t rea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I think this entry is going to make me look like a complete infant, but here goes: I don't really like to cook my own food, or get my own food, or make my own food, etc. No matter how you slice it, when it comes to getting something to eat, I'm about as lazy as the things on my plate.</p>
<p>I don't know how to cook a lot of things, but the things I do know how to cook, like Kraft Dinner, spaghetti, and rice, I do a particularly good job at. The issue for me is that these foods are time consuming to make. I have to put in about 20 minutes of work to get a good size portion of pasta. If I don't have the resources to make those three main dishes, I'm pretty much out of luck.</p>
<p>At this point, I start a search for something to eat in my kitchen. I look in the exact same places everytime, but there is NEVER anything that catches my attention. There are always aging cookie-like items in the cupboard, cans of tomato soup in the lower cupboard, bottles of childish sodas in the fridge, crumbs of potato chips in the OTHER other cupboard, and burger in the freezer downstairs. This is ALWAYS how it it, yet I STILL search the kitchen for something to eat.</p>
<p>The thing that sucks about me is that whenever I say "I'm hungry", someone always asks me "Well, what do you want?" I reply, "I don't know."</p>
<p>I'm a meat-and-potatoes kind of guy. I like french fries, steak, chicken, etc. The basic kinds of things. I like to eat full-blown meals when I'm hungry.</p>
<p>The reason that I'm writing all of this is that, well, there's nothing to eat right now. I tried to make Kraft Dinner, but, due to renovations to our kitchen, I was forced to use a hotplate to cook it. The hotplate, for whatever reason, wasn't strong enough to get the water boiling.</p>
<p>I'm probably going to end up eating in town again, like I've been doing for the past few weeks. It's probably unhealthy, all the fast food I've been eating.</p>
<p>What a fascinating read this has been, huh?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beda Bikin Marem, Di Marem Pondok Seafood]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=256</link>
<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 06:06:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=256</guid>
<description><![CDATA[(1)
Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(1)</strong></p>
<p>Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok makan menu ikan laut di bilangan jalan Wonosari, Yogyakarta. ‘Marem' Pondok Seafood, judul rumah makannya, yang ternyata malam itu tutup lebih malam dari malam-malam biasanya. Jam buka normalnya mulai jam 10 pagi sampai jam 9 malam.</p>
<p>Malam Minggu kemarin itu adalah kunjungan kami yang ketiga kali. Tentu ada alasan kenapa sampai berkunjung kesana berkali-kali. Ya, apalagi kalau bukan karena masakannya cocok, enak dan harganya wajar. Yang <em>ngangeni</em> (bikin kangen)dari rumah makan ini adalah menu ca kangkung dan udang galah <em>hotplate,</em> sedangkan menu lainnya juga sama enaknya.</p>
<p>Lokasinya agak tersembunyi tapi mudah dicapai. Dari Yogya menuju ke arah jalan Wonosari, ketemu <em>traffic light</em> pertama lalu belok kanan. Marem' Pondok Seafood kira-kira berada 200 meter dari perempatan di sisi sebelah kiri. Rumah makan yang mengusung motto "Coba yang beda, beda bikin <em>marem</em>" (kedengaran seadanya dan rada kurang menjual) ini sebenarnya menempati areal yang tidak terlalu besar, tapi tertata apik dan rapi.</p>
<p>Menu unggulannya adalah udang galah marem <em>hotplate</em>. Bisa ditebak, ini udang galah goreng yang dimasak mirp-mirip bumbu asam manis dan disajikan di atas wadah yang masih panas berasap. Rasa udangnya, irisan paprika dan bawang bombay-nya begitu mengena di lidah, demikian halnya dengan kuah kental yang menyelimutinya. <em>Taste</em> yang berbeda dari yang biasanya saya temui di rumah makan lain. Lain rumah makan, pasti lain pula rasanya. Tapi yang ini beda. Ya, beda bikin <em>marem</em>, itu tadi.</p>
<p>Tiga kali kami berkunjung, tiga kali pula udang galah kami nikmati hingga ludes sekuah-kuahnya. Untung saja <em>plate</em>-nya <em>hot</em>, kalau tidak..... nasinya saya tuang ke <em>plate</em>, agar bisa <em>dikoreti</em> kuahnya......</p>
<p>Selain udang ada juga pilihan kepiting yang didatangkan dari Tarakan, Kaltim. Ada kepiting jantan, kepiting telor dan kepiting gembur. Juga cumi dan kerang. Meski judulnya <em>seafood</em>, tapi juga tersedia ikan gurame, nila dan bawal.</p>
<p>Sayurnya ada aneka pilihan sup, ca kangkung, tauge ikan asin atau oseng jamur putih. Nah, ca kangkungnya ini yang <em>ngangeni</em>. Padahal dimana-mana yang namanya ca atau tumis atau oseng kangkung ya pasti <em>kayak gitu</em> juga, tapi yang ini <em>hoenak tenan</em>..... Selain racikan masakannya yang <em>mak nyuss</em>, kangkungnya sendiri rupanya agak beda. Ya, beda bikin <em>marem</em>, itu tadi.</p>
<p>Setiap kali saya tanya darimana kangkungnya, setiapkali pula tidak pernah dijawab jelas oleh pelayannya, selain hanya mengatakan ada pemasoknya. Agaknya memang dirahasiakan. Batang kangkungnya <em>kemrenyes</em> seperti kangkung plecing dari Lombok, daunnya lebar-lebar, disajikan agak belum masak sekali sehingga warna hijaunya masih seindah warna aslinya. Dan, inilah rahasia menikmati ca kangkung, yaitu makanlah selagi masih <em>fanas </em>(pakai ‘f', karena kepanasan sehingga bibir susah mengucap ‘p'). Kalau ditunggu dingin, maka Anda akan kehilangan sensasi <em>kemrenyes</em> dari kangkungnya.</p>
<p>Ada juga lalapan plus pilihan sambalnya, mau sambal bawang mentah, sambal terasi mentah atau samal tomat goreng. Minumnya? Terakhir saya mencoba ‘Algojo' yang ternyata adalah <em>alpokat</em> <em>gulo jowo</em> (es alpokat pakai gula jawa atau gula merah).</p>
<p>Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem' Pondok Seafood, memang pintar memilih juru masak. Dua orang juru masaknya yang katanya orang Jogja dan Tegal, pantas diacungi dua jempol (kalau hanya satu jempol nanti kokinya berebut....., berebut diacungi, bukan berebut jempol... ). Sentuhan tangan sang kokilah yang telah menghasilkan ramuan bumbu dan olahan masakannya menjadi sajian yang tidak membuat bosan para pencari makan (pengunjung, maksudnya) untuk singgah berulang kali.</p>
<p><strong>(2)</strong></p>
<p>Lebih dari sekedar masakannya yang enak. Hal lain yang menarik perhatian saya <em>daripada</em> rumah makan ‘Marem' Pondok Seafood adalah pelayanannya. Rumah makan ini diawaki oleh 12 orang, sebagai ujung tombaknya adalah pelayan perempuan, yaitu bagian yang mendatangi tamu pertama kali dan mencatat menu pesanan pelanggan.</p>
<p>Pelayanan yang ramah, bersahabat dan mempribadi, tercermin dari cara para pelayan memperlakukan tamu-tamunya. Setidak-tidaknya, tiga kali saya berkunjung, tiga kali dilayani oleh pelayan berbeda, tiga kali pula saya menangkap kesan pelayanan yang sama seperti yang saya ekspresikan itu.</p>
<p>Anak perempuan saya (Mia, namanya) sempat heran, mbak pelayan ini sesekali menyebut nama anak saya itu. Padahal, teman sekolah bukan, tetangga bukan, berkenalan juga belum pernah, bahkan baru sekali itu ketemunya. Kesan mempribadi dengan menyebut nama seseorang seketika terbentuk. Peristiwa itu akan demikian membekas di hati pelanggan, seolah-olah mbak pelayan ini bukan orang lain. Rupanya mbak pelayan ini memperhatikan percakapan kami, sehingga dia tahu nama anak saya.</p>
<p>Demikian pula sesekali mbak pelayan membuka percakapan dengan tanpa menimbulkan kesan mengada-ada. Barangkali karena melihat saya banyak bertanya mengorek informasi, maka mbak pelayan pun dengan ramah bisa memancing pertanyaan apa ada yang ingin diketahui lagi, misalnya. Yang sebenarnya dapat saya terjemahkan sebagai apa ada yang mau dipesan lagi.</p>
<p>Bagi saya, pengalaman di ‘Marem' Pondok Seafood adalah sebuah pelajaran. Dan pelajaran itu saya tanamkan kepada kedua anak saya sambil bercakap-cakap dalam perjalanan pulang setelah puas makan. Bukan pelajaran tentang masakannya, kalau soal itu tinggal ikut kursus saja. Melainkan pelajaran tentang pelayanan, yang bisa diaplikasikan pada berbagai aktifitas kehidupan. Bisnis hanyalah satu diantaranya.</p>
<p>Dua hal saya coba bicarakan. Pertama, memperhatikan pelayanan sejenis di resto-resto di luar negeri (sekedar contoh, sebut saja di Amerika dan Australia). Pada umumnya kalau kita makan, maka sang pelayan akan tidak bosan-bosannya mencoba memancing percakapan selintas, yang sepertinya basa-basi, tapi memberi kesan mempribadi. Intinya, kepentingan para pencari makan sangat diperhatikan dan dilayani sebaik-baiknya. Jangan biarkan ada cela sedikitpun dalam masalah pelayanan.</p>
<p>Kebalikannya pada umumnya di Indonesia (saya suka menjadikan kasus ini sebagai ilustrasi). Kalau bisa urusan hajat perut ini diselenggarakan (tidak perlu dengan cara saksama) melainkan dalam <em>tempoh</em> yang sesingkat-singkatnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika perlu. Tamu datang, dicatat ordernya, dikirim pesanannya (kalau agak lama pun <em>cuek bebek</em>...), dihabiskan makanannya (bahkan kalau tidak dihabiskan pun <em>ora urus</em> yang penting <em>mbayar</em>), lalu pulang.</p>
<p>Kedua, filosofi pelayanan semacam ini sudah, sedang dan akan terus dicoba diterapkan di toko ritel yang saya kelola, yaitu "Madurejo Swalayan" di pinggiran timur Yogya. Sejak awal berdirinya dua tahun yang lalu, kepada para pelayan toko selalu saya tekankan dan saya motivasi tentang perlunya menciptakan suasana <em>paseduluran</em> (persaudaraan) yang mempribadi kepada pelanggan. Lingkungan <em>ndeso</em> dimana toko saya berada memang memungkinkan untuk hal itu. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang demikian ini tidak mudah.</p>
<p>Hasil apa yang selanjutnya diharapan? Bolehlah kita berharap di kesempatan lain pelanggan kita akan kembali lagi karena merasa dia sedang berada di toko kepunyaan teman atau saudaranya, bukan orang lain.</p>
<p>Sebenarnya malam itu saya ingin ngobrol-ngobrol dan mengenal lebih jauh dengan Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem' Pondok Seafood. Tapi sayang saya tidak ketemu beliau. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya (kami memang sudah <em>kadung</em> menyukai masakannya), saya berhasil menemui beliau.</p>
<p>Ada tiga kemungkinan yang saya ingin pelajari lebih dalam, soal pelayanan di rumah makan ini. Pertama, para pelayan mungkin sebelum turun ke lapangan sudah diajari dan dibekali dengan <em>ngelmu</em> masalah pelayanan. Kedua, jika ternyata kemungkinan pertama salah, maka berarti telah dilakukan sistem seleksi penerimaan pegawai yang baik. Ketiga, jika kedua hal itu ternyata bukan juga, maka ya <em>bejo-ne</em> (untungnya) Pak Gunawan, punya pegawai yang terampil. Dan yang terakhir ini tidak bisa ditiru.</p>
<p>*) <em>Marem</em> = puas (bhs. Jawa) </p>
<p>Madurejo, Sleman - 26 Desember 2007<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beda Bikin Marem, Di 'Marem' Pondok Seafood]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/2007/12/26/beda-bikin-marem-di-marem-pondok-seafood/</link>
<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 10:42:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.wordpress.com/2007/12/26/beda-bikin-marem-di-marem-pondok-seafood/</guid>
<description><![CDATA[(1)
Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(1)</strong></p>
<p>Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok makan menu ikan laut di bilangan jalan Wonosari, Yogyakarta. ‘Marem' Pondok Seafood, judul rumah makannya, yang ternyata malam itu tutup lebih malam dari malam-malam biasanya. Jam buka normalnya mulai jam 10 pagi sampai jam 9 malam.</p>
<p>Malam Minggu kemarin itu adalah kunjungan kami yang ketiga kali. Tentu ada alasan kenapa sampai berkunjung kesana berkali-kali. Ya, apalagi kalau bukan karena masakannya cocok, enak dan harganya wajar. Yang <em>ngangeni</em> (bikin kangen)dari rumah makan ini adalah menu ca kangkung dan udang galah <em>hotplate,</em> sedangkan menu lainnya juga sama enaknya.</p>
<p>Lokasinya agak tersembunyi tapi mudah dicapai. Dari Yogya menuju ke arah jalan Wonosari, ketemu <em>traffic light</em> pertama lalu belok kanan. Marem' Pondok Seafood kira-kira berada 200 meter dari perempatan di sisi sebelah kiri. Rumah makan yang mengusung motto "Coba yang beda, beda bikin <em>marem</em>" (kedengaran seadanya dan rada kurang menjual) ini sebenarnya menempati areal yang tidak terlalu besar, tapi tertata apik dan rapi.</p>
<p>Menu unggulannya adalah udang galah marem <em>hotplate</em>. Bisa ditebak, ini udang galah goreng yang dimasak mirp-mirip bumbu asam manis dan disajikan di atas wadah yang masih panas berasap. Rasa udangnya, irisan paprika dan bawang bombay-nya begitu mengena di lidah, demikian halnya dengan kuah kental yang menyelimutinya. <em>Taste</em> yang berbeda dari yang biasanya saya temui di rumah makan lain. Lain rumah makan, pasti lain pula rasanya. Tapi yang ini beda. Ya, beda bikin <em>marem</em>, itu tadi.</p>
<p>Tiga kali kami berkunjung, tiga kali pula udang galah kami nikmati hingga ludes sekuah-kuahnya. Untung saja <em>plate</em>-nya <em>hot</em>, kalau tidak..... nasinya saya tuang ke <em>plate</em>, agar bisa <em>dikoreti</em> kuahnya......</p>
<p>Selain udang ada juga pilihan kepiting yang didatangkan dari Tarakan, Kaltim. Ada kepiting jantan, kepiting telor dan kepiting gembur. Juga cumi dan kerang. Meski judulnya <em>seafood</em>, tapi juga tersedia ikan gurame, nila dan bawal.</p>
<p>Sayurnya ada aneka pilihan sup, ca kangkung, tauge ikan asin atau oseng jamur putih. Nah, ca kangkungnya ini yang <em>ngangeni</em>. Padahal dimana-mana yang namanya ca atau tumis atau oseng kangkung ya pasti <em>kayak gitu</em> juga, tapi yang ini <em>hoenak tenan</em>..... Selain racikan masakannya yang <em>mak nyuss</em>, kangkungnya sendiri rupanya agak beda. Ya, beda bikin <em>marem</em>, itu tadi.</p>
<p>Setiap kali saya tanya darimana kangkungnya, setiapkali pula tidak pernah dijawab jelas oleh pelayannya, selain hanya mengatakan ada pemasoknya. Agaknya memang dirahasiakan. Batang kangkungnya <em>kemrenyes</em> seperti kangkung plecing dari Lombok, daunnya lebar-lebar, disajikan agak belum masak sekali sehingga warna hijaunya masih seindah warna aslinya. Dan, inilah rahasia menikmati ca kangkung, yaitu makanlah selagi masih <em>fanas </em>(pakai 'f', karena kepanasan sehingga bibir susah mengucap 'p'). Kalau ditunggu dingin, maka Anda akan kehilangan sensasi <em>kemrenyes</em> dari kangkungnya.</p>
<p>Ada juga lalapan plus pilihan sambalnya, mau sambal bawang mentah, sambal terasi mentah atau samal tomat goreng. Minumnya? Terakhir saya mencoba 'Algojo' yang ternyata adalah <em>alpokat</em> <em>gulo jowo</em> (es alpokat pakai gula jawa atau gula merah).</p>
<p>Pak Gunawan, sang pemilik 'Marem' Pondok Seafood, memang pintar memilih juru masak. Dua orang juru masaknya yang katanya orang Jogja dan Tegal, pantas diacungi dua jempol (kalau hanya satu jempol nanti kokinya berebut....., berebut diacungi, bukan berebut jempol... ). Sentuhan tangan sang kokilah yang telah menghasilkan ramuan bumbu dan olahan masakannya menjadi sajian yang tidak membuat bosan para pencari makan (pengunjung, maksudnya) untuk singgah berulang kali.</p>
<p><strong>(2)</strong></p>
<p>Lebih dari sekedar masakannya yang enak. Hal lain yang menarik perhatian saya <em>daripada</em> rumah makan 'Marem' Pondok Seafood adalah pelayanannya. Rumah makan ini diawaki oleh 12 orang, sebagai ujung tombaknya adalah pelayan perempuan, yaitu bagian yang mendatangi tamu pertama kali dan mencatat menu pesanan pelanggan.</p>
<p>Pelayanan yang ramah, bersahabat dan mempribadi, tercermin dari cara para pelayan memperlakukan tamu-tamunya. Setidak-tidaknya, tiga kali saya berkunjung, tiga kali dilayani oleh pelayan berbeda, tiga kali pula saya menangkap kesan pelayanan yang sama seperti yang saya ekspresikan itu.</p>
<p>Anak perempuan saya (Mia, namanya) sempat heran, mbak pelayan ini sesekali menyebut nama anak saya itu. Padahal, teman sekolah bukan, tetangga bukan, berkenalan juga belum pernah, bahkan baru sekali itu ketemunya. Kesan mempribadi dengan menyebut nama seseorang seketika terbentuk. Peristiwa itu akan demikian membekas di hati pelanggan, seolah-olah mbak pelayan ini bukan orang lain. Rupanya mbak pelayan ini memperhatikan percakapan kami, sehingga dia tahu nama anak saya.</p>
<p>Demikian pula sesekali mbak pelayan membuka percakapan dengan tanpa menimbulkan kesan mengada-ada. Barangkali karena melihat saya banyak bertanya mengorek informasi, maka mbak pelayan pun dengan ramah bisa memancing pertanyaan apa ada yang ingin diketahui lagi, misalnya. Yang sebenarnya dapat saya terjemahkan sebagai apa ada yang mau dipesan lagi.</p>
<p>Bagi saya, pengalaman di 'Marem' Pondok Seafood adalah sebuah pelajaran. Dan pelajaran itu saya tanamkan kepada kedua anak saya sambil bercakap-cakap dalam perjalanan pulang setelah puas makan. Bukan pelajaran tentang masakannya, kalau soal itu tinggal ikut kursus saja. Melainkan pelajaran tentang pelayanan, yang bisa diaplikasikan pada berbagai aktifitas kehidupan. Bisnis hanyalah satu diantaranya.</p>
<p>Dua hal saya coba bicarakan. Pertama, memperhatikan pelayanan sejenis di resto-resto di luar negeri (sekedar contoh, sebut saja di Amerika dan Australia). Pada umumnya kalau kita makan, maka sang pelayan akan tidak bosan-bosannya mencoba memancing percakapan selintas, yang sepertinya basa-basi, tapi memberi kesan mempribadi. Intinya, kepentingan para pencari makan sangat diperhatikan dan dilayani sebaik-baiknya. Jangan biarkan ada cela sedikitpun dalam masalah pelayanan.</p>
<p>Kebalikannya pada umumnya di Indonesia (saya suka menjadikan kasus ini sebagai ilustrasi). Kalau bisa urusan hajat perut ini diselenggarakan (tidak perlu dengan cara saksama) melainkan dalam <em>tempoh</em> yang sesingkat-singkatnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika perlu. Tamu datang, dicatat ordernya, dikirim pesanannya (kalau agak lama pun <em>cuek bebek</em>...), dihabiskan makanannya (bahkan kalau tidak dihabiskan pun <em>ora urus</em> yang penting <em>mbayar</em>), lalu pulang.</p>
<p>Kedua, filosofi pelayanan semacam ini sudah, sedang dan akan terus dicoba diterapkan di toko ritel yang saya kelola, yaitu "Madurejo Swalayan" di pinggiran timur Yogya. Sejak awal berdirinya dua tahun yang lalu, kepada para pelayan toko selalu saya tekankan dan saya motivasi tentang perlunya menciptakan suasana <em>paseduluran</em> (persaudaraan) yang mempribadi kepada pelanggan. Lingkungan <em>ndeso</em> dimana toko saya berada memang memungkinkan untuk hal itu. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang demikian ini tidak mudah.</p>
<p>Hasil apa yang selanjutnya diharapan? Bolehlah kita berharap di kesempatan lain pelanggan kita akan kembali lagi karena merasa dia sedang berada di toko kepunyaan teman atau saudaranya, bukan orang lain.</p>
<p>Sebenarnya malam itu saya ingin ngobrol-ngobrol dan mengenal lebih jauh dengan Pak Gunawan, sang pemilik 'Marem' Pondok Seafood. Tapi sayang saya tidak ketemu beliau. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya (kami memang sudah <em>kadung</em> menyukai masakannya), saya berhasil menemui beliau.</p>
<p>Ada tiga kemungkinan yang saya ingin pelajari lebih dalam, soal pelayanan di rumah makan ini. Pertama, para pelayan mungkin sebelum turun ke lapangan sudah diajari dan dibekali dengan <em>ngelmu</em> masalah pelayanan. Kedua, jika ternyata kemungkinan pertama salah, maka berarti telah dilakukan sistem seleksi penerimaan pegawai yang baik. Ketiga, jika kedua hal itu ternyata bukan juga, maka ya <em>bejo-ne</em> (untungnya) Pak Gunawan, punya pegawai yang terampil. Dan yang terakhir ini tidak bisa ditiru.</p>
<p>*) <em>Marem</em> = puas (bhs. Jawa) </p>
<p>Madurejo, Sleman - 26 Desember 2007<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sizzling Hotplate Brownie @ Melvados]]></title>
<link>http://cerisegourmand.wordpress.com/2007/11/03/sizzling-hotplate-brownie-melvados/</link>
<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 04:36:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cherry</dc:creator>
<guid>http://cerisegourmand.wordpress.com/2007/11/03/sizzling-hotplate-brownie-melvados/</guid>
<description><![CDATA[Dinner with XY at Melvados - The Original Brownie Cafe.
&nbsp;

Mushroom Soup - A little bland, and ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dinner with XY at Melvados - The Original Brownie Cafe.</p>
<p style="text-align:center;">&#160;</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v338/elemanque/cerisegourmand/melvados/melvadosmushroomsoup.jpg" alt="Mushroom Soup" height="307" width="230" /></p>
<p>Mushroom Soup - A little bland, and was not as creamy as I liked it to be.</p>
<p align="center"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v338/elemanque/cerisegourmand/melvados/melvadoschixlasagne2.jpg" alt="Chicken Lasagna" />    <img src="http://img.photobucket.com/albums/v338/elemanque/cerisegourmand/melvados/melvadoschixlasagne3.jpg" alt="Chicken Lasagna" height="307" width="230" /></p>
<p align="left">Chicken Lasagne - The spinach complemented the lasagna well, but overall, the dish lacked the strong cheesy taste I think good lasagnas should have.</p>
<p align="left"><!--more--></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v338/elemanque/cerisegourmand/melvados/melvadosccb.jpg" alt="Chicken Cordon Bleu" height="230" width="307" /></p>
<p align="left">Chicken Cordon Bleu - Served with lightly spiced cajun fries and garlic croutons on salad. The chicken was a tad bit dry. I think they should use better quality ham and cheese in filling the chicken - ham was rather tasteless, and the cheese was thin and runny.</p>
<p>And the highlight of the night - the sizzling hotplate brownie!</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v338/elemanque/cerisegourmand/melvados/melvadossizzlingbrownie1.jpg" alt="Sizzling Hotplate Brownie" height="230" width="307" /></p>
<p>This was far better than the main courses we ordered! The waiter first served the hotplate with just the brownie on it, then dropped the ice cream on the hotplate which made it start to melt and sizzle. Next, he drizzled chocolate sauce all over the brownie and ice cream and created more bubbling! I love the texture of the brownie! It was moist and not cakey. The white and milk chocolate kisses went very well with the warm brownie.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v338/elemanque/cerisegourmand/melvados/melvadossizzlingbrownie2.jpg" alt="Sizzling Hotplate Brownie" height="307" width="230" /></p>
<p>I think the cafe targets students as the prices were really cheap (main dishes were from $6 to $9). With so many schools along that stretch of road and NUS, SIM, Ngee Ann Poly being less than 20 minutes away, it would be quite a good haunt for students looking for an affordable place to hang out at. Personally, I'd be back for the brownie, but not the main dishes.  Haha...I already planned my second trip down with SZ for the brownie!</p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr></tr>
<tr></tr>
<tr></tr>
</table>
<p><font color="#800000"><a href="http://www.melvados.com" title="Melvados" target="_blank"><strong>Melvados - The Original Brownie Cafe</strong></a><br />
559 Bukit Timah Road<br />
King's Arcade #01-01 (Beside Coronation Plaza)<br />
Singapore 269695<br />
Tel: 64693101<br />
Closed on Mondays </font></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[7th Heaven Cafe - Hot Dishes, Cool Setting]]></title>
<link>http://eatsnaprepeat.wordpress.com/2007/05/16/7th-heaven-cafe-hot-dishes-cool-setting/</link>
<pubDate>Wed, 16 May 2007 19:29:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ed.chan</dc:creator>
<guid>http://eatsnaprepeat.wordpress.com/2007/05/16/7th-heaven-cafe-hot-dishes-cool-setting/</guid>
<description><![CDATA[
Need a break from the $2 shopping at Daiso? Craving HK Style food?
Go to 7th Heaven Cafe - located ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Photo Sharing" href="http://www.flickr.com/photos/coolwasabi/497591597/"><img src="http://farm1.static.flickr.com/197/497591597_b4db18991c.jpg" alt="7th Heaven" width="500" height="300" /></a><br />
<a title="Photo Sharing" href="http://www.flickr.com/photos/coolwasabi/497591877/"><img style="float:left;margin-right:10px;margin-bottom:0;" src="http://farm1.static.flickr.com/206/497591877_5ace18d586_m.jpg" alt="7th Heaven" width="180" height="240" /></a>Need a break from the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Toonie">$2</a> shopping at <a href="http://www.daisocanada.com/">Daiso</a>? Craving HK Style food?<br />
Go to <span style="font-weight:bold;">7th Heaven Cafe</span> - <a href="http://maps.google.com/maps?f=q&#38;hl=en&#38;q=7th+heaven+cafe&#38;sll=49.237081,-123.029402&#38;sspn=0.012203,0.014591&#38;ie=UTF8&#38;ll=49.237103,-123.046532&#38;spn=0.195248,0.233459&#38;z=12&#38;om=1">located </a>on the 2nd floor of <a href="http://www.aberdeencentre.com/">Aberdeen Center</a> in Richmond.</p>
<p>7th Heaven Cafe is one of the nicest HK Style Cafes in Vancouver. Like most parts of Aberdeen Center, 7th Heaven Cafe is drowning in bright natural light. This is attributed to the mall's <a href="http://www.aberdeencentre.com/pics/exterior/2.jpg">glassy design</a>. Thankfully, the prices are mostly consistent with other HK Style Cafes: low. For ~$7, I ordered the beef topped with black pepper sauce, sided with french fries and pasta, served on a sizzling hot plate. It's an impressive dish. The waiter brings the scalding hot plate to your table and pours the sauce in front of you. This creates a plume of steam. Fun to watch.</p>
<p><a title="Photo Sharing" href="http://www.flickr.com/photos/coolwasabi/497562502/"><img src="http://farm1.static.flickr.com/215/497562502_7ad586d012.jpg" alt="7th Heaven" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Fun to eat too. Everything tasted great. There are a lot of great food options in Aberdeen Center, and 7th Heaven Cafe is... one of them.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">7.0 out of 10</span></p>
<p><span style="font-style:italic;">7th Heaven Cafe also plays host to ballroom dancing events during the night. If you're into that, it might be worth checking out. </span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
