<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hikmah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/hikmah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hikmah"</description>
	<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 19:06:00 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Jadikan Aku Sahabatmu!]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/jadikan-aku-sahabatmu/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 14:24:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/jadikan-aku-sahabatmu/</guid>
<description><![CDATA[Ngomongin soal sahabat, nggak kalah serunya ama nonton update pemilu pilpres atau debat pilpres. Kit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ngomongin soal sahabat, nggak kalah serunya ama nonton update pemilu pilpres atau debat pilpres. Kita pasti punya segudang cerita yang beda-beda. Kalo dibikin novel, mungkin <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> juga kalah tebelnya. Soalnya mereka punya ciri dan karakter sendiri-sendiri.  Ada yang jahat, sinis bin jayus, ada juga yang baek <em>van</em> solider. Malah ada yang sering jadi OP alias objek penderita sepanjang masa (kayak Nobita aja!). Orang sastra bilang, <em>“friends are the flowers in the garden of the heart</em>” aheem..</p>
<p>Saking beragamnya sifat temen-temen kita, pengalaman pahit bersama mereka pun tersimpan dalam hati<em> </em> kita. Bisa jadi karena ada temen yang nggak bisa jaga rahasia atau nggak solider, kita bisa ngambek berhari-hari. Malah sampai ada yang trauma  nggak mau temenan lagi. Jadi kesannya aku banget, egois, individualis, dan antisosial. Tapi, apa iya kita bisa jalanin hidup tanpa teman atau sahabat?</p>
<p>Padahal ada pepatah “<em>hidup tanpa teman, mati pun sendiri</em>”. Gak ada yang ngurusin, mandiin, nyolatin, atau nganterin ke liang kubur.</p>
<p><strong> Enaknya punya sahabat</strong></p>
<p>Percaya nggak percaya, ternyata waktu kita lebih banyak dihabiskan bersama teman yang bikin nyaman perasaan. Bukan cuma sejam-dua jam tapi bisa sampai seharian. Meski orangnya berganti-ganti, tetep statusnya temen. Ada temen maen di rumah, temen sekolah, temen kursus, temen di kost-an, temen masjid, sampai temen di <em>facebook</em>. Pokona mah tiada hari tanpa kehadiran seorang teman. Yes!</p>
<p>Punya temen emang asyik. Mereka yang bikin hidup kita indah, berwarna, dan rasanya serame <em>Nano-Nano</em>. Di mana pun dan kapan pun, kita akan ngerasa kesepian kalo nggak ada temen. Pas lagi ada masalah, mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu mencari jalan keluar. Pas lagi bete, mereka ikhlas jadi tempat sampah menampung segala keluh kesah kita. Pas lagi kena musibah, mereka yang meniupkan semangat hidup. Seolah mereka <em>stand by</em> 24 jam untuk membantu kita. Persis petugas keamanan.</p>
<p>Pernah denger ‘teman imajinasi’ yang biasa dimiliki anak kecil? Itu salah satu bukti kalo siapa pun butuh teman. Saat adik kecil kita nggak punya teman, mereka mencip-takannya dalam imajinasi. Tempat adik-adik kita bebas ngomong apa aja, sama kayak kita. Maka nggak usah heran  kalo ngeliat anak balita ngomong sendiri atau asyik ngobrol ama bonekanya. Kadang mereka cuma perlu orang yang mau dengerin cerita mereka.</p>
<p>Nggak salah dong kalo punya teman itu enak sekaligus kebutuhan. Jadi nggak egois, tapi belajar untuk berbagi. Rugi banget kalo kita nggak punya teman.</p>
<p><strong> Berburu sahabat sejati?</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, kita sering temenan dengan orang lain karena punya kepentingan yang sama. Karena kesamaan hobi, tempat beraktivitas, makanan favo-rit, atau tipe lawan jenis. Jadi klop. Ngomong apa pun nyambung.</p>
<p>Karena itulah remaja sering kedapetan mendeklarasikan nama <em>gank</em>-nya. Nggak afdhol kalo sering ngumpul tapi nggak punya identitas. Maka jangan heran ngeliat coretan <em>pylox</em> berwarna bertuliskan nama-nama <em>gank</em> remaja. Biar orang pada kenal.</p>
<p>Sayangnya, persahabatan karena kesamaan kepentingan atau nyari simbol status kayak gini rawan  per-pecahan. Suka ada tekanan dari temen kalo nggak setuju ama yang lainnya. Orang psi-kologi bilang <em>Peer Pressure</em> alias tekanan teman sebaya. Sehingga <em>hard to say no</em> meski itu bertentangan dengan hati nurani, norma masya-rakat, dan aturan Islam.</p>
<p>Dari sinilah awalnya remaja mulai kenalan ama narkoba, terlibat tawuran, aksi kriminal, atau seks bebas. Karena takut nggak ditemenin dan nggak punya temen. Mereka nggak bisa terima lagi kalo ada temennya yang insyaf, terus antigaul bebas, apalagi sering ngingetin kelakuan temen lain yang nggak islami. Kalo kejadian, orang insyaf itu bakal dimusuhin. Malah ada yang pake hukuman segala. Dianggap telah melanggar kesepakatan kelompok. Persis kayak persahabatan orang-orang di Barat sono.</p>
<p>Kalo udah kayak gini, cuma persahabatan semu yang ngikutin hawa nafsu yang bakal ditemui. Bukan tempatnya bagi kita yang berburu sahabat sejati. Betul?</p>
<p><strong>Pesahabatan sejati ada dalam Islam</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, persahabatan sejati adalah sesuatu yang indah karena ia tidak mudah untuk dilupakan plus tidak mudah untuk diciptakan. Nggak gampang dilupain karena banyak kenangan yang nempel terus di memori otak kita. Sulit diciptakan karena faktanya perlu waktu lama untuk dapetin sahabat sejati.</p>
<p>Kita gampang punya teman, tapi perlu proses yang panjang untuk dapetin seorang sahabat. Teman mungkin cuma luarnya aja, tapi sahabat, dalem baaanget. Apalagi di tengah merajalelanya pemikiran dan budaya Barat yang rusak. Tapi kamu jangan takut duluan untuk jalin persahabatan. Siapa pun pantas jadi sahabat kita. Asal kita punya prinsip yang jelas bin shohih dalam berteman. Biar kita bisa jaga diri. Karena temen pengaruhnya gede banget ama diri kita. Sabda Rasulullah: <em>“Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat”. </em><strong>(HR Tirmidzi)</strong></p>
<p>Nah, sekarang kita udah punya target siapa yang mo dijadiin sahabat. Temenan ama orang-orang yang baik agamanya bakal untung dunia-akhirat. Gimana nggak, dia selalu ngingetin kalo kita khilaf sebagai wujud rasa sayangnya. Kalo ada temen yang diem aja saat kita nggak tahu jalan, padahal di depan ada ju-rang, dia nggak pantas jadi sahabat kita. Betul?</p>
<p>Seorang sahabat nggak cuma bisa ngingetin dan ngasih nasihat doang, ia juga berkewajiban menolong saudaranya sesuai kemampuannya. Hal ini yang banyak dicontohin oleh para sahabat pada peristiwa hijrahnya Ra-sulullah dari Mekkah ke Madinah.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Kitab <em>al-Bidayah</em> jilid 3, halaman 228, bahwa saha-bat Anas ra mence-ritakan, <em>“Ketika Abdurrah-man bin Auf ra berhijrah ke Madinah, Ra-sulullah saw. mem-persaudarakannya dengan Sa’ad bin al-Anshari ra. Kemudian Sa’ad berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Wahai saudaraku! Aku adalah salah seorang yang kaya di Madinah. Lihatlah! Ini adalah setengah dari harta kekayaanku, ambillah! Aku juga memiliki dua orang istri. Aku akan menceraikan salah seorang di antara mereka yang lebih engkau sukai, sehingga engkau bisa menikah dengannya.’ Abdurrahman bin Auf menjawab, ‘Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaanmu. Tapi, tunjukkan saja kepadaku jalan menuju ke pasar, agar aku dapat mencari peruntunganku dengan kedua tanganku sendiri.’</em></p>
<p>Bener kan, kalo persahabatan sejati cuma ada dalam Islam. Jadi nggak usah pikir-pikir untuk berburu sahabat sejati di masjid, majelis taklim atau tempat-tempat pengajian. Karena di sana bercokol orang yang pantas kita jadikan shahabat. Di dunia maupun di akhirat alias di surga. <em>Masak</em> nggak kepengen?</p>
<p><strong>Menjadi sahabat sejati</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, kalo ‘buruan’ kita nggak dapet-dapet, nggak ada ruginya kita belajar untuk menjadi sahabat sejati buat temen kita. Dengan begitu nggak mustahil kalo sahabat dambaan kita datang dengan sendirinya. Dari teladan Rasulullah dan para shahabat, beberapa hal bisa kita ambil untuk menjadi sahabat sejati.</p>
<p>Biar ikatan persahabatan gak gampang putus, kita kudu sabar. Yakin deh, <em>no bodys perfect</em>. Gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa. Kalo dia salah, kita selidiki dulu kenapa dia berbuat salah. Bisa jadi lupa atau lagi ada masalah. Jadi lebih obyektif kalo mo ngingetin atau nasihatin. Nggak maen vonis, emangnya hakim. Dengan begitu kita berharap, hal-hal yang bisa bikin ‘rame’ kayak salah paham atau nggak menghargai kesalahan temen bisa dikurangi. Kata Rasulullah: “<em>Jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, jangan saling mendengki, dan jangan memu-tus hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak diper-bolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari.”</em> <strong>(HR Muslim dan Tirmidzi)</strong></p>
<p>Kepercayaan dalam sebuah persahabatan juga mutlak diperlukan. Temen kita bakal dendam kalo kita jadi ‘ember’. Ngebocorin rahasia atau aibnya. Bukannya kita cuek, tapi cukup kita aja yang tahu, terus ngingetin dan nggak lupa ikut bantu atasi kekurangannya. Sabda Rasul: <em>“Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang muslim, maka Allah akan menyem-bunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya.</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Untuk mengokohkan ikatan persahabatan Rasulullah menganjurkan agar kita saling memberi hadiah atau mengucapkan salam saat bertemu. “<em>Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian (benar-benar) beriman hingga kalian (saling) mencintai. Sukakah kalian jika aku tunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian</em>. <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p><em>Trus</em> gimana dengan yang nonmuslim? Cukup jadikan mereka sebagai teman. Levelnya bakal naik jadi sahabat sekaligus sodara saat mereka mengucapkan syahadatain. Oke?</p>
<p>So, dalam hidup kita emang kudu punya teman dan sahabat. Kita udah cukup gede untuk berburu sahabat sejati yang bisa menambah keterikatan kita dengan Islam. Mengingatkan kita kepada Allah. Sekaligus menjadi kekuatan untuk melawan pengaruh buruk budaya Barat yang bebas berkeliaran di sekitar kita.</p>
<p>Oya jangan lupa, tetep pake aturan gaul Islam. Cowok temenan ama cowok. Yang cewek juga. Kalo cewek-cowok pengen jadi sahabat sejati, syaratnya kamu kudu berani ungkapin keinginan itu di depan petugas KUA. Lalu dilengkapi mahar, wali temen cewek, plus saksi-saksi. Hehe.. (itu mah namanya nikah dong?)</p>
<p>Oke deh, jangan malas dan malu jadi sahabat baik teman kita. Bisa nunggu, bisa juga kitanya yang duluan jadi baik buat sahabat kita. GImana? Jadi, jalin persahabatan, ting-galkan permusuhan! Siapa tahu nanti banyak yang bilang: “Jadikan aku sahabatmu”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bersatu Dalam Melodi Cinta]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/bersatu-dalam-melodi-cinta/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:54:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/bersatu-dalam-melodi-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Untuk-Mu saja tercurah  himmah (keinginan, hasrat, tekad, semangat)-ku
kepada-Mu jua terpusat hasrat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Untuk-Mu saja tercurah  himmah (keinginan, hasrat, tekad, semangat)-ku<br />
kepada-Mu jua terpusat hasratku<br />
Engkaulah hanya tempat kedambaanku-tidak yang lain<br />
Karena-Mu saja aku tegak terjaga-tidak karena yang lain</p>
<p style="text-align:center;">Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku<br />
Pertemuan dengan-Mu kecintaan diriku<br />
Kepada-Mu kedambaanku<br />
Pada cinta-Mu tumpuanku<br />
Pada kasih-Mu gelora rinduku</p>
<p style="text-align:center;">Ridha-Mu tujuanku<br />
Melihat-Mu keperluanku<br />
Mengampingi-Mu keinginanku<br />
Mendekati-Mu puncak permohonanmu<br />
Menyeru-Mu damai dan tenteramku<br />
Di sisi-Mu penawar deritaku<br />
penyembah lukaku<br />
penyejuk dukaku<br />
penghilang sengsaraku</p>
<p style="text-align:center;">Birohmatika Yaa Arhamar-rohimiin<br />
Washolalloohu ‘ala Muhammadin wa aalihith-thoohiriin.
</p>
<p style="text-align:center;">(Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meja Kayu]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/meja-kayu/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 07:28:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/meja-kayu/</guid>
<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. </p>
<p>Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. &#8220;Kita harus lakukan sesuatu,&#8221; ujar sang suami. &#8220;Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.&#8221; Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. </p>
<p>Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan.Adaairmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. </p>
<p>Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. &#8220;Kamu sedang membuat apa?&#8221;. Anaknya menjawab, &#8220;Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.&#8221; </p>
<p>Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.<br />
Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.  </p>
<p>Saudaraku, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh<br />
mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap &#8220;bangunan jiwa&#8221; yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan. </p>
<p>Dan orang orang yang berkata: &#8220;<em>Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.&#8221;</em> Q.S 25:74</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadiah Cinta dari Seorang Ibu]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/hadiah-cinta-dari-seorang-ibu/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 07:19:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/09/hadiah-cinta-dari-seorang-ibu/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Bisa saya melihat bayi saya?&#8221; pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh  kebahagiaan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Bisa saya melihat bayi saya?&#8221; pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh  kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! </p>
<p>Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke Rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, &#8220;Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.&#8221; </p>
<p>Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,&#8221;Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?&#8221; Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya.<br />
 &#8220;Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,&#8221; kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. </p>
<p>Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, &#8220;Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.&#8221; kata sang ayah. </p>
<p>Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, &#8220;Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.&#8221; Ayahnya menjawab, &#8220;Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.&#8221; Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, &#8220;Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.&#8221; </p>
<p>Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah &#8230;. bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. &#8220;Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,&#8221; bisik sang ayah. &#8220;Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?&#8221; </p>
<p>Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun didalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orangtuaku, kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sejak kecil.&#8221;</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Chocola***]]></title>
<link>http://viridianlife.wordpress.com/2009/07/09/kisah-chocola/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 06:45:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>viranda</dc:creator>
<guid>http://viridianlife.wordpress.com/2009/07/09/kisah-chocola/</guid>
<description><![CDATA[Jadi suatu hari, aku melihat sebuah iklan di televisi, sebuah iklan snack coklat berbentuk seperti c]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jadi suatu hari, aku melihat sebuah iklan di televisi, sebuah iklan snack coklat berbentuk seperti c]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tauladan Islam dalam Memimpin]]></title>
<link>http://pusqba.wordpress.com/2009/07/09/tauladan-islam-dalam-memimpin/</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 04:51:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusufsolo</dc:creator>
<guid>http://pusqba.wordpress.com/2009/07/09/tauladan-islam-dalam-memimpin/</guid>
<description><![CDATA[Gubernur Mesir, Amru bin Ash bermaksud membangun masjid. Seluruh rakyat memberikan dukungan penuh. M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gubernur Mesir, Amru bin Ash bermaksud membangun masjid. Seluruh rakyat memberikan dukungan penuh. M]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hikmah Pengharaman Babi]]></title>
<link>http://smpn9depok.wordpress.com/2009/07/08/hikmah-pengharaman-babi/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 21:49:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>adilsaz</dc:creator>
<guid>http://smpn9depok.wordpress.com/2009/07/08/hikmah-pengharaman-babi/</guid>
<description><![CDATA[
Menindak lanjuti postingan yang lalu mengenai flu babi dan berita terbaru mengenai perkembangan flu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
Menindak lanjuti postingan yang lalu mengenai flu babi dan berita terbaru mengenai perkembangan flu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEREKA MENGINGKARI PILIHAN RAKYAT]]></title>
<link>http://jaiman1.wordpress.com/2009/07/08/mereka-mengingkari-pilihan-rakyat/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 17:15:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>jaiman1</dc:creator>
<guid>http://jaiman1.wordpress.com/2009/07/08/mereka-mengingkari-pilihan-rakyat/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Jaiman Paiton
Kasihan para tim sukses Pemilu Presiden. Lihat saja apa yang dikatakan dalam di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Oleh : Jaiman Paiton</p>
<p>Kasihan para tim sukses Pemilu Presiden. Lihat saja apa yang dikatakan dalam diskusi di live event TV.</p>
<p>Mereka mengatakan sesuatu yang tidak bermutu. Mereka menjadi orang pandir yang membohongi realitas. Mereka melecehkan rakyat yang melakukan pencontrengan. Rakyat yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dilecehkan oleh para tim sukses kalah.</p>
<p>Mr. Piliangan, Mr F Zon. Di Metro TV mengingkari keniscayaan ilmu pengetahuan yang sebelumnya diyakini</p>
<p>Ha ha ha, rakyat makin mencemooh mereka yang mengngkari pendapat rakyat. Tuan tim sukses, akuilah bahwa ini adalah pendapat rakyat. Ini keinginan rakyat. Apapun upaya anda untuk melawan rakyat hanya menjadi omong kosong dan rakyat membencinya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Usia yang Berkurang]]></title>
<link>http://posmediamail.wordpress.com/2009/07/08/usia-yang-berkurang/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 13:15:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>posmediamail</dc:creator>
<guid>http://posmediamail.wordpress.com/2009/07/08/usia-yang-berkurang/</guid>
<description><![CDATA[Usia yang Berkurang
oleh Fery Ramadhansyah
Pagi itu, aku yang sedari malam berada di rumah kawan, se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Usia yang Berkurang</strong><br />
oleh Fery Ramadhansyah<br />
Pagi itu, aku yang sedari malam berada di rumah kawan, setelah melaksanakan rutinitas pagi, shalat dan baca quran, aku duduk santai depan komputer. Dengan segelas teh dan roti, tidak jauh beda seperti yang aku rasakan di pagi-pagi yang lain. Hanya saja, biasa di rumah sendiri, ini di tempat orang.</p>
<p>Kebetulan komputer kawanku tersambung jaringan internet. Kuhampiri segera, dan langsung masuk ke YM (yahoo messenger) . Kulihat list kawan-kawan yang online. Lumayan banyak, mungkin karena baru selesai ujian. Jadi agak sedikit santai ber“OL” ria alias chatting. Pikirku memang di saat-saat kosong, tidak disibukkan dengan banyak tuntan, asyiknya duduk di depan komputer, buka internet dan chating. Ngobrol ke sana kemari, walau terkadang tidak ada topik, tapi enjoy juga. Mungkin sesuai dengan psikologi orang muda yang suka mengekspresikan diri. Jadi, dunia maya seperti chatting ini, salah satu sarana untuk lebih bebas berekspresi.</p>
<p>Seperti biasa kalau sudah login YM, aku memerikasa kotak masuk email ku. Tebakku, pasti banyak mail yang masuk. Soalnya semasa ujian selama sebulan penuh aku jarang buka internet. Dan benar, lebih dari lima puluhan email masuk. Ya walaupun kebanyakan mailist dan email-email yang nggak terlalu penting.</p>
<p>Sedikit agak bertanya-tanya, di antara sederetan surat masuk itu terlihat pengirimnya dari Facebook. Paling juga orang-orang yang minta add. Soalnya, aku tergolong orang yang paling jarang mendapat komentar-komentar di halama facebookku. Karena memang, aku tidak begitu suka balas-balasan komen.</p>
<p>Tapi, kali itu beda. Lebih dari lima orang ngasi komentar di facebookku. Aneh kupikir, ada apa gerangan yang membuat mereka ringan tangan memberi komentar. Padahal juga aku tidak pernah memberi komentar di facebook mereka. Tapi satu yang ku tahu, saat kulihat tanggal hari itu, bertepatan dengan hari kelahiranku. Aneka ucapan selamat ulang tahun pun menghiasi halaman depan facebook ku.</p>
<p>Ada yang ngucapin sanah helwah, ada yang happy birthday, ada juga dengan ucapan selamat ulang tahun. Sebuah penghargaan yang lumayan berarti bagiku. Walau ucapan-ucapan itu datang dari sebagian orang-orang yang tak ku kenal dan tak pernah berpapasan. Bahkan yang paling berharga menurutku, harapan dan doa-doa yang mereka berikan teriring ucapan selamat tadi, sehingga mengingatkan perjalnan hidupku sudah berapa jauh langkah yang ayuhkan. Sampai-sampai menjadi sebuah konsekwensi dari rute hidup yang kulalui, pergantian hari yang menemani, membuat jatah hidupku berkurang.</p>
<p>Satu komentar seperti itulah yang membuat aku kembali melihat ke belakang sejenak. Tatakala seorang kawan menulis komentar berupa ucapan selamat dan nasihat meski usia bertambah namun hakikatnya berkurang, juga doanya semoga aku yang sekarang bisa menjadi lebih bijak dari pada aku yang dulu-dulu.</p>
<p>Kalau ditanya soal perdebatan ulang tahun, aku lebih memilih posisi ditengah dalam hal ini. Memang benar ada yang bilang, ulang tahun itu tradisi luar, apalagi sampai-sampai merayakan, sangat tidak pantas sekali sebagai muslim meniru adat dan tradisi orang luar. Karena memang sedari dulu, islam tidak pernah ingin sama dengan orang luar. Misalnya, sewaktu para sahabat nabi dulu kebingungan bagaimana caranya memanggil orang untuk shalat berjamaah. Ada yang ngusulkan terompet, kemudian ditolak karena alasan ngikuti orang Yahudi. Ada yang ngusulkan lonceng, kemudian ditolak karena alasan ngikuti orang Nasrani. Barulah terakhir salah seorang sahabat mengusulkan untuk mengumandankan azan. Belum lagi yang beralasan, menyetir hadis bahwa segolongan yang mengikuti golongan lain, maka mereka termasuk satu golongan. Dan orang-orang yang mencintai satu kelompok, kelak akan dikumpulkan dihari kiamat bersama kelompok orang yang dicintai.</p>
<p>Namun, hal yang paling penting dalam hal ini, bagaimana kita mengambil hikmah dari setiap kejadian dalam kehidupan. Bukan ucapan selamat itu yang diharapkan, karena kalau direnung lebih dalam apa yang harus diucapin selamat, toh umur juga jadi berkurang. Namun yang paling berarti, saat orang-orang sekitar kita mengiringi doa dan nasehat di hari itu.</p>
<p>Hasibu qabla an tuhasabu, hitunglah diri kamu sebelum kamu dihitung. Setidaknya pernyataan ini yang mendasari bahwa muhasabah itu perlu kapan saja. merenung sejenak memikirkan apa yang sudah dikerjakan apa yang belum. Tafakkur, betapa banyak nikmat Allah yang diberikan, apakah sudah seimbang rasa syukur kita terhadap nikmat yang ada. Dan menghitung diri, apakah sepanjang nafas berhembus ini lebih banyak kebajikan yang dikerjakan atau sebaliknya.</p>
<p>Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun. Intinya, setiap saat kita harus selalu interopeksi diri. Wal tanzur nafsun ma qaddamat li ghad. Begitulah firman Allah, menyuruh kita agar melihat apa yang telah berlalu agar bisa dijadikan pelajaran di masa akan datang.</p>
<p>Alangkah berartinya sebuah nasehat. Itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Satu kewajiban yang begitu pentingnya sampai-sampai dalam FirmanNya Allah swt menggandengkan peringatan itu dalam satu surat yang disebut al Ashr yang berarti waktu atau masa. Karena banyak orang yang terlalai dengan masa yang ada. Dalam surat tersebut Allah mengecualikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka tidak akan merugi disebabkan oleh waktu. Karena mereka senantiasa menasehati dalam jalan kebaikan dan dalam kesabaran.</p>
<p>Berntunglah orang-orang yang mendapat nasehat dari saudaranya sehingga menjadikan dirinya lebih baik dari pada hari yang kemarin. Dan merugilah orang yang tidak mendapat nasehat, karena dirinya bakal menjadi lebih buruk dari pada hari yang kemarin. Sekurang-kurangnya, nasehat itu ada setahun sekali saat usia kita bertambah. Mudah-mudahan dengan muhasabah akan membuat hidup lebih berkah.</p>
<p>madhan_syah@yahoo.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Janganlah Marah Bagimu Surga]]></title>
<link>http://ayopeduli.wordpress.com/2009/07/08/janganlah-marah-bagimu-surga/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 03:28:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>ayopeduli</dc:creator>
<guid>http://ayopeduli.wordpress.com/2009/07/08/janganlah-marah-bagimu-surga/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Laa taghdob wa lakal jannah&#8221; ucap Adik spontan saat nada bicara Ibu mulai agak meninggi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Laa taghdob wa lakal jannah&#8221; ucap Adik spontan saat nada bicara Ibu mulai agak meninggi. Langsung reda marah Ibu mendengarnya berganti dengan senyuman. &#8220;Ibu tidak marah kok&#8230; Ibu juga ingin masuk surga&#8230;&#8221;<br />
Subhanallah&#8230; putra kami yang masih TK fasih mengucap hadist kepada orang tuanya. Tak terasa menitik air mata haru melihat episode itu.<br />
Ternyata pendidikan di TKIT Ibnu Sina Surabaya begitu merasuk dalam hati anak kami, sehingga tidak cuma dalam hafalan, namun dalam keseharian nilai-nilai keislaman itu langsung muncul begitu saja dalam tingkah laku.<br />
Terimakasih kepada Ibu guru, jenjang TK/ play group memang tidak hanya bermain dan memberikan ilmu dasar baca, tulis, dan berhitung, namun yang luar biasa TKIT Ibnu Sina telah berhasil menanamkan nilai-nilai dan aqidah islami serta landasan moral yang kelak akan sangat berguna bagi kehidupan anak didik.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perkakas ‹ Uznynasa — WordPress]]></title>
<link>http://uznynasa.wordpress.com/2009/07/07/perkakas-%e2%80%b9-uznynasa-%e2%80%94-wordpress/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 21:10:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>uznynasa</dc:creator>
<guid>http://uznynasa.wordpress.com/2009/07/07/perkakas-%e2%80%b9-uznynasa-%e2%80%94-wordpress/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renungan Diri]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/renungan-diri/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 16:57:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/renungan-diri/</guid>
<description><![CDATA[Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a.
        &#8221; Wahai &#8216;Ali, setiap sesuatu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a.<br />
        &#8221; Wahai &#8216;Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.<br />
        Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa,<br />
        penyakit ibadah adalah riya&#8217;,<br />
        penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,<br />
        penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah<br />
        mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong,<br />
        penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,<br />
        penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah<br />
        menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir,<br />
        penyakit royal adalah hidup mewah, dan<br />
        penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan&#8230;.</p>
<p>        Ketika berwasiat kepada &#8216;Ali bin Abi Thalib r.a.<br />
        Rasulullah SAW bersabda :<br />
        Wahai &#8216;Ali, orang yang riya&#8217; itu punya tiga ciri, yaitu :<br />
        rajin beribadah ketika dilihat orang,<br />
        malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala<br />
        perkara.<br />
        Wahai &#8216;Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo&#8217;alah :<br />
        &#8221; Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang<br />
        dikatakannya, ampunilah dosa-2ku yang tersembunyi darinya,<br />
        dan janganlah kata-2nya mengakibatkan siksaan bagiku&#8230;&#8221;</p>
<p>        Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang<br />
        resah dan gundah gulana, Ibnu Mas&#8217;ud r.a berkata :<br />
        &#8221; Dengarkanlah bacaan Al-Qur&#8217;an atau datanglah ke majelis-2 dzikir<br />
        atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT<br />
        Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati<br />
        yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai<br />
        bukan lagi hatimu&#8230;&#8221;</p>
<p>        wassalamu&#8217;alaikum wr wb,<br />
        hamba Allah</p>
<p>        -diambil dari NI-</p>
<p>Sumber : tarbiyah@isnet.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Cinta Menelisik Sebuah Hati...]]></title>
<link>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/07/07/ketika-cinta-menelisik-sebuah-hati-2/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 16:56:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>asysyifausakti</dc:creator>
<guid>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/07/07/ketika-cinta-menelisik-sebuah-hati-2/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Gemercik Air
Jalanan ibukota tepatnya daerah jakarta masih saja ramai hingga larut malam ini, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Oleh: Gemercik Air</strong></p>
<p><a href="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/07/love.jpg"><img src="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/07/love.jpg" alt="love" title="love" width="130" height="125" class="alignleft size-full wp-image-1078" /></a>Jalanan ibukota tepatnya daerah jakarta masih saja ramai hingga larut malam ini, kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak pernah mati. Namun ternyata kini hatiku tak seramai jalanan dikota ini. Sunyi..itulah yang sedang kurasakan. Entah mengapa hari ini kutermenung akan hakikat cinta. Mungkin suatu hal yang klasik yang sering dipikirkan oleh setiap orang.</p>
<p>Ada hal yang menelisik hati mengapa kupikirkan ini, beberapa jam yang lalu sewaktu aku dan teman-teman jaga di IGD salah satu rumah sakit pusat dikawasan  jakarta selatan. Tiba-tiba ada pasien gawat dengan diagnosis vulnus laceratum yang luas pada daerah muka, vulnus incisisum pada ante brachii sinistra. Kami terkaget-kaget setelah melakukan anamnesis singkat padanya. Pasien seorang laki-laki muda berumur 25 tahun. Dia mengaku kena luka tusuk et causa berkelahi dengan temannya. Sambil memeriksa tanda-tanda vital kepadanya kami menanyakan mengapa sampai berkelahi. Dengan enteng  dia menjawab, ” namanya juga cinta dok!! Apapun gue lakuin”<!--more-->, dia bercerita kalau terpaksa dia berkelahi sambil mabuk untuk menyerang teman laki-lakinya yang merebut pacarnya. Dia juga mengaku tidak menyesal melakukan hal ini karena sebagai tanda bukti cintanya terhadap pacarnya. Astaghfirulloh&#8230;</p>
<p>Kemudian aku teringat juga sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh seorang ustadzah yang juga Murobbiku, beliau menceritakan di sebuah rumah di daerah jazirah Arab 1400 tahun silam. Abdulloh bin Abu bakar ra baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid. Atikah seorang wanita cantik rupawan dan seorang gadis dari keluarga sangat kaya raya. Tentu saja, Abdulloh sangat mencintai istri yang sangat sempurna menurut pandangan manusia.</p>
<p>Pada suatu hari, Ayahnya Abu Bakar lewat dirumah Abdulloh untuk pergi bersama-sama shalat dimasjid. Namun apabila terlihat olehnya anaknya sedang bermesraan dengan istrinya dengan lembut dan romantis. Abu Bakar membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan kemasjid. Setelah selesai menunaikan shalat Abu Bakar sekali lagi melalui jalan dirumah anaknya . Alangkah kesalnya Abu Bakar apabila beliau mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum menunaikan shalat dimasjid. Kemudian abu bakar segera memanggil Abdulloh. Dia Bertanya<br />
” Wahai Abdulloh, apakah kamu shalat berjamaah?”<br />
Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata,<br />
” Wahai Abdulloh Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup, malah dia juga telah melupakan kamu dari shalat fardu, ceraikanlah dia!”.</p>
<p>Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdulloh. Suatu perintah ketika mendapati anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau melihat Abdulloh terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya luntur. Tanpa membuat dalih apatah lagi mencoba membunuh diri. Abdulloh terus mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan dicintainya. Subhanallah!</p>
<p>Itulah dua kisah cinta yang bisa kita jadikan renungan. Sudah menjadi fitrah manusia mencintai dan dicintai. Cinta adalah anugrah yang indah, dapat menjadi penerang saat hati ditimpa kegundahan. Obat penyejuk ditengah gersangnya gurun kehidupan. Namun siapa sangka oleh karena cinta pula banyak orang terjerembab dalam duka yang tiada penghujung, melalaikan untuk apa ia dicipta hingga ingkar kepada Allah, Dzat yang seharusnya menjadi labuhan  dan tambatan akhir dari tiap jengkal cinta. Tidak peduli walaupun ia seorang ulama atau aktivis dakwah cinta bisa melenakan semuanya. Sedih juga ketika melihat beberapa teman sesama aktivis yang juga terlena oleh kesemuan cinta yaitu berpacaran, meski sudah diingatkan beberapakali. Mereka tetap bertahan dengan alasan yang sangat kerdil yaitu sudah saling mencintai, cinta mati, dll.  Syetan begitu cerdik dan pintar melenakan hati manusia, termasuk mengelabui hati –hati yang secara simbollik dari luar terdikte sebagai orang alim yang jauh dari maksiat. Tapi ia buat hati yang berzina. (na’udzubillah).  Tidak bisa dipungkiri diri ini adalah manusia biasa yang bisa terlena seperti pasien IGD, seperti Abdulloh  bin Abu Bakar, dan lainnya. Diri ini juga mempunyai cinta, cinta yang membuat resah dan gelisah. </p>
<p>Akupun terus merenung dalam pekatnya malam jalanan ibukota diwaktu itu. Sambil menitipkan doa dalam kesunyian hati yang gundah&#8230;</p>
<p>Ya Allah&#8230;<br />
Kutitipkan segenggam cintaku pada syariatMu,<br />
Jangan biarkan aku berpaling dari-Mu</p>
<p>Ya Allah<br />
Yang membolak-balikan hati,<br />
Biarlah hatiku tersapa olehnya..<br />
Jika rasa ini melukiskan keimanan<br />
Biarlah hatiku tersemai olehnya..<br />
Jika memang ini adalah keridhoan-Mu.</p>
<p>Ya Allah..<br />
Maha penjaga dan pelindung<br />
Izinkan aku menitipkan dia dalam genggaman-Mu<br />
Agar dia baik-baik saja<br />
Tidak sakit dan tidak menderita</p>
<p>Kutitipkan dia dalam rahmatMu<br />
Agar dia tegar  berjuang dalam jalanMu</p>
<p>Ya Allah..<br />
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku<br />
Di dunia dan di akhirat.</p>
<p>.: 2 Dekade SKI Asy-Syifa 1989-2009 :: Semakin Dekat dan Bersahabat :.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muhasabah  (Tafsir Q.S. 59 : Al Hasyr : 18-24) ]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/muhasabah-tafsir-q-s-59-al-hasyr-18-24/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 16:42:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/muhasabah-tafsir-q-s-59-al-hasyr-18-24/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Ust Aam Amiruddin
 1.  Optimis dalam meraih masa depan lebih baik –melihat masa lalu kemudian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh : Ust Aam Amiruddin</p>
<p> 1.  Optimis dalam meraih masa depan lebih baik –melihat masa lalu kemudian melihat masa depan<br />
penuh dengan optimis–<br />
2.  Memiliki sikap mental/semangat/jiwa yang lebih baik<br />
3.  Siap/senang menerima kritikan/masukan/nasehat dari orang lain<br />
4.  Rajin memperbaiki diri<br />
5.  Banyak mendekatkan diri –Taqarrub– kepada Allah<br />
6.  Menjadikan Al Quran sebagai petunjuk hidup –peta kehidupan–<br />
7.  Memiliki hati yang lembut/lunak dalam menerima petunjuk Al Quran –Jangan sampai hatimu<br />
keras seperti batu/gunung dalam menerima petunjuk Al Quran–<br />
8.  Meyakini/mengimani Nama-nama Allah (Asmaul Husna)<br />
9.  Memiliki Jiwa Tauhid (Penghambaan/mengesakan/memahasucikan Allah) </p>
<p>Catatan Kecil :<br />
•  Fasik (Mengetahui tetapi Dia melanggar)<br />
•  Illah/Tuhan = segala sesuatu yang dipentingkan  oleh manusia sedemikian rupa, sehingga yang<br />
dipentingkan itu memperbudak/menguasai dirinyaSikap orang yang rajin Introspeksi diri : </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cara Supaya Memiliki Hati yang Sehat  ]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/cara-supaya-memiliki-hati-yang-sehat/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 16:38:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/cara-supaya-memiliki-hati-yang-sehat/</guid>
<description><![CDATA[Cara supaya memiliki Hati yang Sehat :
oleh : Ust Aam Amiruddin
i.  Mengidentifikasi penyakit hati
H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Cara supaya memiliki Hati yang Sehat :<br />
oleh : Ust Aam Amiruddin</p>
<p>i.  Mengidentifikasi penyakit hati<br />
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah  kepada Allah dan hendaklah setiap diri<br />
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada<br />
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. 59 : Al Hasyr :<br />
18) </p>
<p>ii.  Mengobati (memperbaiki diri)<br />
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah  kepada Allah dengan taubat yang semurni-<br />
murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan<br />
memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika<br />
Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang  yang beriman bersama dengan dia; sedang<br />
cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:<br />
&#8220;Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya<br />
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu&#8221;. (Q.S. 66 : At Tahrim : <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/face-cool.png' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>iii.  Tadabbur Qur an (membaca dibarengi dengan pemahamannya)<br />
a.  Qiroah  :  Membaca Qur an tapi masih banyak yang salah<br />
b.  Tilawah  :  Membaca Qur an dan sudah benar bacaannya<br />
c.  Tadabbur :  Membaca Qur an disertai dengan pemahaman </p>
<p>iv.  Isilah detik-detik yang kita lewati dengan Amal Sholeh<br />
“Beramallah semaksimal yang kamu mampu, Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan,<br />
sesungguhnya amal yang paling Allah cintai adalah yang kontinyu (terus-menerus) walaupun<br />
sedikit” (H.R. Bukhari) </p>
<p>v.  Mencintai Anak Yatim dan Fakir Miskin<br />
“Abu Hurairoh berkata : ada seseorang melaporkan kepada Rasul tentang kegersangan<br />
hatinya, lalu nabi bersabda ; bila engkau ingin menghidupkan hati, cintailah Fakir-Miskin, dan<br />
usaplah kepala anak yatim” (H.R. Ahmad) </p>
<p>vi.  Mengingat Mati<br />
“Berziarahlah ke kubur, karena Ia dapat melunakkan hatimu dan mengingatkanmu akan<br />
hari Akherat” (H.R. Imam Hakim) </p>
<p>vii.  Kekuatan Do’a<br />
(Mereka berdoa): &#8220;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada<br />
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat<br />
dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).&#8221; (Q.S. 3 : Ali<br />
Imran : <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/face-cool.png' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kata-kata bijak, kata-kata mutiara, kata-kata hikmah]]></title>
<link>http://arexkediri.wordpress.com/2009/07/07/kata-kata-bijak-kata-kata-mutiara-kata-kata-hikmah/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 15:26:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>muizz</dc:creator>
<guid>http://arexkediri.wordpress.com/2009/07/07/kata-kata-bijak-kata-kata-mutiara-kata-kata-hikmah/</guid>
<description><![CDATA[Apabila seseorang tak dapat memimpin dirinya sendiri
Maka tak dapat pula ia memimpin orang lain
Seba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Apabila seseorang tak dapat memimpin dirinya sendiri
Maka tak dapat pula ia memimpin orang lain
Seba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa yang Kau Hisap dari sebatang Rokok?]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/apa-yang-kau-hisap-dari-sebatang-rokok/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 10:35:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/07/apa-yang-kau-hisap-dari-sebatang-rokok/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang kau hisap, sobat?! Racun.
1. Nikotin
2. Tar
3. Acetone: Penghapus cat
4. Naphtylamine: Baha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><div id="attachment_82" class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><img src="http://rizaldp.wordpress.com/files/2009/07/mnyt.jpg" alt="Apa yang kau hisap, sobat?! Racun." title="mnyt" width="259" height="194" class="size-full wp-image-82" /><p class="wp-caption-text">Apa yang kau hisap, sobat?! Racun.</p></div><br />
1. Nikotin<br />
2. Tar<br />
3. Acetone: Penghapus cat<br />
4. Naphtylamine: Bahan penyebab kanker<br />
5. Methanol: Bahan bakar roket<br />
6. Pyrene: Bahan penyebab kanker<br />
7. Dimethylnitrosamine<br />
8. Napthalene: Kapur barus<br />
9. Cadmium: Bahan penyebab kanker, biasa dipakai pada accu mobil<br />
10.Carbon Monoxide: gas beracun yang keluar dari knalpot<br />
11. Benzopyrene: Bahan penyebab kanker<br />
12. Vinyl Chloride: Bahan penyebab kanker, biasa digunakan untuk bahan plastik PVC<br />
13. Hydrogen Cyanide: Racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati<br />
14. Toluidine<br />
15. Ammonia: Pembersih lantai<br />
16. Urethane: Bahan penyebab kanker<br />
17. Toluene: Pelarut Industri<br />
18. Arsenic: Racun semut putih<br />
19. Dibenzacridine: Bahan penyebab kanker<br />
20. Phenol<br />
21. Butane: Bahan bakar korek api</p>
<p>Waduh, sayang banget kan kalo ada dari penghasilan kita yang dihabiskan untuk meracuni diri kita sendiri..<br />
Lebih baik ditabun deh. Konon, pengeluaran orang untuk beli rokok lebih besar ketimbang beli susu. Wah, kalo gini caranya gimana bangsa kita mau cerdas? wong yang masuk ke tubuh kita aja racun.<br />
Nikmat sehat itu adalah mahkota yang dapat dilihat oleh orang sakit, sedangkan orang yang sehat tak menyadari bahwa pada dirinya terdapat mahkota yang sangat indah, yaitu kesehatan.</p>
<p>So, masih rela ngorbanin duit buat beli batangan beracun??!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kalam Hikmah Imam Syafi'i]]></title>
<link>http://cahayakotaukir.wordpress.com/2009/07/06/kalam-hikmah-imam-syafii/</link>
<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 22:16:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>cahayakotaukir</dc:creator>
<guid>http://cahayakotaukir.wordpress.com/2009/07/06/kalam-hikmah-imam-syafii/</guid>
<description><![CDATA[
Imam Syafi’i  rohmatulloh ‘alaih berkata: 
 4 hal yang menguatkan tubuh: makan daging, mencium wewa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
Imam Syafi’i  rohmatulloh ‘alaih berkata: 
 4 hal yang menguatkan tubuh: makan daging, mencium wewa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cermin]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/06/cermin/</link>
<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 18:47:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/06/cermin/</guid>
<description><![CDATA[Apa gunanya sebuah cermin? Kita pergi bercermin untuk melihat apakah rambut kita sudah rapi, apakah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Apa gunanya sebuah cermin? Kita pergi bercermin untuk melihat apakah rambut kita sudah rapi, apakah pakaian kita sudah pas dikenakan, dan sebagainya.bagi seorang wanita yang sangat mementingkan penampilan, memiliki sebuah cermin adalah sangat berguna. Ia bisa sewaktu-waktu memeriksa apakah polesan lipstik dibibirnya sudah pas atau belum, apakah rambutnya sudah tersisir dengan rapi,atau apakah wajahnya telah tertata dengan baik. Bagi seorang public figur yang menjadi idola banyak orang,pergi bercermin sebelum keluar menemui para penggemarannya, adalah suatu keharusan. Seorang public figur tentu harus berpenampilan &#8220;sempurna&#8221;, sebab bila tidak, ia akan menjadi bahan tertawaan dan kekecewaan bagi para penggemarnya. Lalu, apa gunanya sebuah cermin bagi perilaku kita? Seandainya setiap orang mau bercermin dahulu sebelum bertindak dan berucap, tentu dunia akan menjadi lebih baik dari sekarang. Bercermin sebelum bertindak, adalah dengan mencoba memikirkan apakah tindakan yang akan kita lakukan akan merugikan diri sendiri dan orang lain, atau sebaliknya. Jika tindakan itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain, maka tidak sepatutnya dilakukan. Bercermin sebelum berucap, adalah dengan mencoba merenungkan,apakah ucapan yang akan kita ucapkan akan merugikan diri sendiri dan orang lain, atau sebaliknya justru akan membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.Bayangkanlah sebuah cermin di depan kita, sebelum kita bertindak dan berucap.Sebuah cermin yang akan memberitahu: Adakah sesuatu yang salah dengan tindakan atau ucapan yang akan saya lakukan? </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Booking Neraka]]></title>
<link>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/06/booking-neraka/</link>
<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 17:04:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rizal Dwi Prayogo</dc:creator>
<guid>http://rizaldp.wordpress.com/2009/07/06/booking-neraka/</guid>
<description><![CDATA[ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka pergi, mereka tidak lupa untuk mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka pergi, mereka tidak lupa untuk membawa mushaf. Tidak heran bila hampir semua orang (apapun tugas, karir dan jabatannya) terlihat membaca Quran di sela-sela waktu senggang atau bada shalat. Begitu juga pemilik toko, penjaganya, para karyawan, satpam, sopir taksi, bos-bos kantoran, selalu terlihat membaca al-Quran. Kalau tidak dibaca, Al-Quran mereka letakkan dengan rapih di atas mejanya, atau ditenteng dan disimpan dalam tas jika bepergian.</p>
<p>Ayat al-Quran juga sering diperdengarkan dari rumah-rumah sederhana hingga hotel berbintang lima, dari warung-warung kecil hingga shopping center mewah, dari sarana transportasi butut hingga pesawat terbang.</p>
<p>Nyaris di semua tempat selalu ada yang membaca al-Quran. Begitupun di dalam taksi, mikrolet, bus kota, kereta api, tram kota, senantiasa para pemuda, bapak-bapk dan kaum hawa senantiasa khusyu membaca Quran sambil mengusir suara bising obrolan dan deru knalpot.</p>
<p>Secara umum, ayat-ayat al-Quran yang &#8220;distel&#8221; di dalam kendaraan sangat bempengaruhi &#8220;karakteristik&#8221; pendengarnya. Normalnya, para penumpang malu untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh.</p>
<p>Kendati begitu, tetap saja ada saja pemandangan yang di luar dugaan. Misalnya, gara-gara ada copet akhirnya copot seluruh isi dompet. Atau ada saja yang berbuat ricuh di dalam bus lantaran rebutan tempat duduk, tak setuju tarif, perempuan disenggol laki-laki nakal, dsb. Sementara pembaca al-Quran tetap anteng dan adem ayem.</p>
<p>Pemandangan lain (yang di luar dugaan) juga terjadi di musim panas tahun 2002, dalam perjalanan menuju Alexandria, kota pantai yang bersejarah itu. Ada seorang gadis yang berpakaian sangat minim, bahkan tipis dan tembus pandang. Semula dia tidak kebagian tempat duduk, akhirnya berdiri, dan &#8220;terlihat&#8221; oleh semua penumpang (jangan lupa lho, gadis-gadis Mesir kebanyakan montok-montok atawa berisi). Kebetulan Seorang syekh mencoba mengingatkan, tapi tidak digubris. Selengkapnya ditulis oleh kolumnis majalah Almannar (bukan Almannar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almannar itu, melainkan Almannar Aljadid/neo-Almannar) berikut ini:</p>
<p>***</p>
<p>Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.</p>
<p>Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang perhatian kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.</p>
<p>Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.</p>
<p>Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!</p>
<p>&#8220;Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!&#8221;</p>
<p>Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.</p>
<p>Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.</p>
<p>Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.</p>
<p>&#8220;Bangunkan saja!&#8221; kata seorang penumpang.<br />
&#8220;Iya, bangunkan saja!&#8221; teriak yang lainnya.</p>
<p>Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.</p>
<p>Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!<br />
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.</p>
<p>Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.<br />
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya&#8230;.<br />
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat&#8230;<br />
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk&#8230;<br />
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah&#8230;<br />
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.<br />
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.</p>
<p>Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar&#8230;<br />
mumpung kesempatan itu masih ada!</p>
<p>Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu&#8217;alam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nabi: Carilah manusia misterius itu...!]]></title>
<link>http://taufiqurrochman.wordpress.com/2009/07/06/nabi-carilah-manusia-misterius-itu/</link>
<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 15:39:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>taufiqurrochman</dc:creator>
<guid>http://taufiqurrochman.wordpress.com/2009/07/06/nabi-carilah-manusia-misterius-itu/</guid>
<description><![CDATA[Dalam keheningan kota Madinah menjelang tengah malam, tampak dua orang memasuki masjid Nabawi. Dari ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam keheningan kota Madinah menjelang tengah malam, tampak dua orang memasuki masjid Nabawi. Dari ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengenal Habib Abdullah b Abdul Qodir Bilfaqih]]></title>
<link>http://taufiqurrochman.wordpress.com/2009/07/06/mengenal-habib-abdullah-b-abdul-qodir-bilfaqih/</link>
<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 15:13:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>taufiqurrochman</dc:creator>
<guid>http://taufiqurrochman.wordpress.com/2009/07/06/mengenal-habib-abdullah-b-abdul-qodir-bilfaqih/</guid>
<description><![CDATA[Ahad, 21 Juni 2009 lalu, adalah Haul Akbar Habib Abdullah Bilfaqih dan ayahanda sekaligus guru besar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ahad, 21 Juni 2009 lalu, adalah Haul Akbar Habib Abdullah Bilfaqih dan ayahanda sekaligus guru besar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tiga Lembar Kertas dan Kakek Misterius]]></title>
<link>http://perigitua.wordpress.com/2009/07/06/tiga-lembar-kertas-dan-kakek-misterius/</link>
<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 15:09:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>faza</dc:creator>
<guid>http://perigitua.wordpress.com/2009/07/06/tiga-lembar-kertas-dan-kakek-misterius/</guid>
<description><![CDATA[Jam dinding berdetak teratur, baru pukul 8.30 malam.
Aku masih ngelamun di depan komputer. Anganku b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jam dinding berdetak teratur, baru pukul 8.30 malam.</p>
<p>Aku masih ngelamun di depan komputer. Anganku berlarian menuruni tebing-tebing sketsa cerita yang memenuhi otakku. Ku coba pungut, ku rangkai ide-ide yang berserak itu.  Aih, susah sekali kali ini.  Semua mentah.  Tak ada satu benang merah pun yang dapat ku tautkan, agar cerita tak cuma sekedar uraian kata, agar tersirat makna yang akan memperkaya jiwa.</p>
<p>Aku mengeluh.  Ya, Alloh, kenapa ini?</p>
<p>Tiba-tiba, sesosok bayang muncul dari layar monitor LCD ku. Dari kecil, lama-lama membesar.</p>
<p>Aku terpaku.  Ketakutan menyerang diriku.  Ingin ku lari, namun kaki ini rasanya lumpuh. Ingin ku teriak, namun tak sepatah katapun dapat terucap. Ingin aku pingsan saja, namun kesadaran tiada kunjung meninggalkan diri ini.</p>
<p>“Jangan takut, cucuku,” tutur sosok yang telah sempurna menjelma menjadi kakek yang telah renta.</p>
<p>Dan memang tidak ada yang menakutkan dari sosok itu. Matanya bening dan bercahaya, bibirnya tersenyum penuh cinta.<!--more--></p>
<p>“Sssiiapa&#8230;. kamu?,” tanyaku tergagap.  Sumpah, baru sekarang aku merasa setakut ini.</p>
<p>“Aku hamba Alloh, sama sepertimu. Jadi tak perlu kau takut padaku,” jelasnya masih dengan bibir mengulas senyum.</p>
<p>Mendengar penjelasannya, ada sebersit keberanian hadir kembali.</p>
<p>Aku mulai beringsut mendekatinya, “Ada apa, kek, ada yang bisa saya bantu?”</p>
<p>Dia tertawa lirih,”Tidak cucuku. Aku tidak membutuhkan apapun darimu, tapi aku punya tugas untukmu,”</p>
<p>Tiba-tiba saja, di tangan sang kakek itu ada kertas putih yang diangsurkan padaku.</p>
<p>“Cucuku, terimalah&#8230;” perintahnya lembut. Aku menerima dengan hati penuh tanda tanya.</p>
<p>“Ada 3 lembar kertas untukmu,” tuturnya lagi.</p>
<p>Dan setelah aku periksa, memang ada 3 lembar kertas putih seukuran A4.</p>
<p>“Sekarang tugasmu adalah kau gambar dirimu sesuai dengan keinginanmu,” lanjutnya sambil menyerahkan 2 buah pensil, warna hitam dan putih, dan sebuah penghapus pensil.</p>
<p>Aku termenung sejenak, mencoba mengartikan maksud dari perintah itu.   “Maksud kakek?”</p>
<p>Dia tertawa panjang, tapi sama sekali tidak menakutkan, “Tak perlu ku jelaskan lagi. Kamu pasti tau maksudku.”</p>
<p>Kemudian perlahan-perlahan sosok itu mulai memudar, “Ingat, gambarlah dirimu sesuai dengan keinginan hatimu. Kamu punya waktu selama 3 hari. Setiap hari aku akan datang padamu, meminta satu lembar gambar dirimu.”</p>
<p>Aku masih tertegun, menatap bolak-balik antara kertas di tanganku dan monitor di hadapanku. Aku menarik nafas panjang dengan mata memejam, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.</p>
<p>Masalah sosok itu sudah tidak aku persoalkan lagi, tapi tugasnya ini lho, yang bikin bingung.  Menggambar diri sesuai keinginan hati? Apa maksudnya? Apa mungkin aku harus menggambar cita-citaku? Ya, mungkin saja.</p>
<p>Dengan mantap, aku ambil pensil warna hitam, dan ajaib. Aku menggambar dengan begitu indahnya, ada sedikit noda dari kesalahan tarikan tanganku. Sudah ku hapus biarpun meninggalkan sedikit noda namun tak akan begitu mengganggu.</p>
<p>Di situ, aku nampak begitu tampan, dengan jubah putih khas seorang dokter.  Di belakangku tampak sebuah bangunan rumah sakit yang besar dan megah, dimana banyak orang-orang berbaju kumal yang mengantri sampe ke pintu gerbang rumah sakitku.</p>
<p>Ya, aku menggambarkan keinginanku tuk jadi seorang dokter yang memiliki rumah sakit sendiri. Rumah sakit ini aku peruntukkan buat orang-orang miskin yang tidak memiliki biaya untuk berobat di rumah sakit lain.</p>
<p>Hhmmm.., aku cukup puas melihat hasil karyaku itu.  Sempurna! Karena itu memang keinginan terbesarku saat melihat berita di tv, ada orang miskin yang kesulitan berobat karena terbentur biaya.</p>
<p>Tak perlu menunggu lama, sosok renta itu muncul kembali. Masih dengan senyum lembutnya, masih dengan tatapan bening nan bersinar itu, dia bertanya, “Bagaimana cucuku, sudah selesaikah?”</p>
<p>Aku tersenyum, dengan bangga ku serahkan gambar diriku. “Ini, kek, bagaimana?”</p>
<p>Dia menerima lukisan ku itu.  Dia mengamati dengan seksama sambil manggut-manggut memegangi janggutnya yang sudah memutih semua.</p>
<p>“Keinginan yang luhur, cita-cita yang mulia,” pujinya sambil menepuk-nepuk pundakku. “Tapi aku tau, kamu bisa lebih dari ini, cucuku&#8230;” sambungnya yang otomatis menyurutkan senyum penuh kemenanganku.</p>
<p>“Maksud, kakek&#8230;?” tanyaku tak mengerti.</p>
<p>“Masih ada dua lembar lagi, manfaatkanlah baik-baik, cucuku. Besok aku akan datang mengambil lukisan yang kedua mu.”</p>
<p>Sama seperti kemaren, perlahan-lahan sosoknya lenyap dan kembali masuk ke dalam monitor komputerku.</p>
<p>Whats&#8230;!, Bagaimana mungkin membantu fakir miskin berobat gratis bukan keinginan yang termulia bagiku? Tanya kembali mendera kalbuku.  Hati dan pikiranku bekerja keras untuk menemukan sesuatu yang lebih baik dari impianku yang pertama.</p>
<p>Oh, ya, tiba-tiba aku punya ide brillian. Segera ku hamparkan selembar kertas di meja komputerku.  Ku ambil pensil hitam, ku tarik garis lurus dengan penuh keyakinan, ku tarik lengkungan dengan penuh semangat. Mungkin gambar ini yang dimaksud sang kakek misterius itu.</p>
<p>Hhh&#8230;, aku menarik nafas lega.  Akhirnya selesai sudah lukisan ini.</p>
<p>Pada gambar itu, nampak aku memakai helm proyek, tak jauh dari situ telah berdiri sebuah masjid yang megah.  Banyak orang-orang yang nampak menuju ke masjid ku itu.  Tak jauh dari sana, aku mendirikan beberapa rumah makan dengan papan nama bertuliskan “Rumah Makan Ikhlas – Gratis khusus untuk fakir miskin”</p>
<p>Ya, aku menggambar diriku sebagai kontraktor, yang membangun sebuah masjid dan beberapa rumah makan di sekitarnya yang bagi para kaum dhuafa boleh menikmati makanannya secara gratis. Mudah-mudahan ini yang dimaksud kakek itu, do&#8217;aku dalam hati.</p>
<p>Tak lama berselang, seperti sebelumnya, sang kakek hadir kembali.  Ku serahkan hasil lukisanku dan dia manggut-manggut.  Senyum lelaki tua itu makin lebar.</p>
<p>“Keinginan yang luar biasa cucuku,”pujinya kembali seperti saat memeriksa lukisanku yang terdahulu. “Tapi aku percaya, kamu bisa lebih dari ini”</p>
<p>Aku bungkam, otakku bekerja keras mencoba mencari apa yang sebenernya dimaksud oleh kakek misterius ini.</p>
<p>“Besok adalah kesempatan terakhirmu, manfaatkanlah sebaik mungkin. Tanya pada lubuk hatimu,” ujar kakek itu sebelum menghilang.</p>
<p>Aku termenung.  Baru sekarang aku merasa tak mengerti apa yang harus aku lakukan.</p>
<p>“Tanya pada hatimu&#8230; tanya pada hatimu&#8230;,” terngiang suara kakek itu mengingatkan.</p>
<p>Ku tarik napas panjang, dan aku tenggelam dalam keheningan.  Ku coba menemui hatiku, berdiskusi dan memohon petunjuk untuk memecahkan teka-teki ini.</p>
<p>Seharian aku hanya menatapi kertas putih di hadapanku.  Pensil hitam memang aku pegang, namun tak jua aku dapat menggoreskan.</p>
<p>Hingga akhirnya kakek itu muncul dan meminta selembar kertas terakhir itu.</p>
<p>Aku serahkan kertas kosong itu.  Aku biarkan kertas itu tetap putih seperti sedia kala.</p>
<p>Kakek itu menatapku lama dan tajam.  Kalbu ini begitu tergetar, tak mampu aku melawan tatapan yang begitu luar biasa itu.</p>
<p>“Kenapa kosong?” tanyanya penuh teguran.</p>
<p>Dengan tertunduk aku menjawab, “Maaf, kek, aku tak dapat menemukan sesuatu yang lebih baik dari kertas putih itu.  Aku dilahirkan seputih kertas itu, kek, dan aku mau kembali dalam keadaan seperti itu.”</p>
<p>Tiba-tiba terdengar gelak tawa sang kakek. “Hahaha&#8230;, cucuku yang baik, akhirnya kau mengerti juga.”</p>
<p>Aku mengangkat wajahku, memberanikan diri tuk menatap sosok di hadapanku itu.  Aku biarkan saja, dua tangannya memegang bahuku.</p>
<p>“Tapi kamu baru memahami setengahnya, cucuku,” ujar kakek itu.</p>
<p>“Maksud kakek?”</p>
<p>“Bukan untuk itu kertas diciptakan.  Kertas diciptakan untuk ditulisi, di corat-coret, dan bukan untuk dibiarkan tetap putih seperti ini,” jelasnya lagi.</p>
<p>Aku masih diam menyimak setiap kata-kata kakek itu.</p>
<p>“Kamu sudah mengerti?”</p>
<p>Aku menggeleng pelan.</p>
<p>“Sudahlah, pada saatnya nanti engkau juga akan mengerti cucuku.”  Sang kakek sudah melepaskan tangannya dari bahuku.</p>
<p>“Aku berikan selembar kertas ini untukmu, dan juga ini&#8230;,” dia meletakkan sebuah pensil putih di atas kertas yang terhampar di meja komputerku.</p>
<p>“Belajarlah baik-baik, cucuku. Pahami dengan kecerdasan hatimu&#8230;”</p>
<p>Sesaat kemudian sang kakek menghilang, meninggalkan aku yang termenung menatapi kertas dan pensil putih itu.   Tiba-tiba sebuah kesadaran timbul. Ya, aku mengerti semuanya.</p>
<p>“Kakek&#8230; Kakek&#8230;,” teriakku memanggil-manggil sang kakek. “ Aku mengerti sekarang&#8230;.!!!”</p>
<p>Kriiiiinggg&#8230;.Kriiiiinggg&#8230;.Kriiiiinggg&#8230;.</p>
<p>&#8220;Astaghfirulloh&#8230;,&#8221; teriakku saat kesadaran kembali merengkuhku.  Bunyi jam weker telah merenggutku dari mimpi.  Ya, sebuah mimpi yang sangat luar biasa&#8230;..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[3 Cara Mendapatkan Beras]]></title>
<link>http://logiskemafmipaunpad.wordpress.com/2009/07/08/3-cara-mendapatkan-beras/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 23:49:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Logis</dc:creator>
<guid>http://logiskemafmipaunpad.wordpress.com/2009/07/08/3-cara-mendapatkan-beras/</guid>
<description><![CDATA[Mayoritas makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi. Nasi terbuat dari beras. Oleh karena itu b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Mayoritas makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi. Nasi terbuat dari beras. Oleh karena itu beras menjadi sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, tahukah anda cara untuk mendapatkan beras? Ternyata ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan beras.<br />
<!--more. . . selengkapnya--></p>
<p style="text-align:justify;">Cara pertama, Anda menanam sendiri. Berapa waktu yang diperlukan? Anggap saja Anda sudah punya sawah sendiri. Untuk menyiapkan lahan, diperlukan sekitar 1 bulan. Diperlukan 100 hari mulai dari menanam padi sampai panen. Diperlukan sekitar 1 minggu untuk mengeringkan padi dan satu hari untuk menggiling padi menjadi beras. Jadi, kira-kira diperlukan 4 bulan untuk mendapatkan beras.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara kedua, Anda pergi ke warung atau ke pasar untuk membeli beras. Dalam hitungan menit atau paling lama beberapa jam, Anda sudah mendapatkan beras.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara ketiga : ayunkan tongkat sihir Anda. Hanya dalam sekejap, beras sudah ada di depan Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda memilih cara pertama, Anda memerlukan waktu untuk proses yang cukup lama. Ditambah lagi tenaga yang cukup banyak perlu Anda keluarkan. Namun, hasil beras yang Anda peroleh akan sesuai dengan pengorbanan Anda. Sebuah kepuasan bagi kita untuk memakan makanan hasil dari jerih payah Anda. Kelebihan dari hasil panen Anda dapat menjadi emas dengan menjual kepada orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda memilih cara kedua, prosesnya cenderung cepat dan mudah karena orang lain telah melakukan cara pertama untuk Anda. Namun Anda perlu cukup uang untuk membeli beras tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda memilih cara ketiga, silahkan Anda menjadi penyihir. Asal Anda tahu, resiko menjadi penyihir harus Anda tanggung sendiri. Dan menjadi penyihir juga dilarang oleh agama.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Cara untuk memperoleh sesuatu dalam kehidupan Kita juga akan sama dengan cara Kita memperoleh beras. Jika Kita memperoleh apa yang Kita inginkan dengan cara pertama, Kita akan merasa puas dan bangga karena kita telah melewati proses yang melelahkan untuk mendapatkan hal yang Kita inginkan. Disamping itu, Kita keuntungan lainnya akan menunggu Kita jika kita menggunakan cara ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika menggunakan cara yang kedua, Kita memerlukan daya ungkit untuk mempercepat Kita memperoleh apa yang kita inginkan. Daya ungkit ini tidak hanya uang, tapi juga bisa berupa ilmu, teman, dan lain-lain. Untuk mendapatkan daya ungkit ini tentunya Kita perlu menjalani proses tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Kita memilih jalan yang ketiga, jangan terlalu bermimpi atau jiwa anda terancam. Tidak ada rumus ajaib, yang ada adalah daya ungkit. (J. . .)</p>
<p>Sumber inspirasi : motivasi-Islami.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
