<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hari-budiono &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/hari-budiono/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hari-budiono"</description>
	<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 01:26:01 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Wisata Rasa Ala Pelukis]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=264</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:17:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.id.wordpress.com/2008/05/12/wisata-rasa-ala-pelukis/</guid>
<description><![CDATA[

ADA lagi yang istimewa pada kunjungan saya ke Yogya kali ini. Mas Hari Budiono dan istrinya, mBak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://URLBerkas"><img class="alignnone size-medium wp-image-266" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/sego-abang-warung.jpg?w=300" alt="" width="385" height="258" /></a></p>
<h3><span style="color:#008080;"><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><a href="http://URLBerkas"><img class="alignright alignnone size-medium wp-image-265" style="float:right;" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/klatak1.jpg?w=300" alt="" width="221" height="165" /></a></span></span></h3>
<h3 style="text-align:right;"><span style="color:#008080;"><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">ADA</span><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"> lagi yang istimewa pada kunjungan saya ke Yogya kali ini. Mas <span style="color:#00ff00;">Hari Budiono</span> dan istrinya, mBak <span style="color:#00ff00;">Titiek</span> yang cantik, sejak hari pertama sudah ikut jadi repot. Gopoh-gapah kedua pasangan ini melayani kami habis-habisan, sampai saya dan mamanya anak-anak tak kuasa lagi harus bilang apa.</span></span></h3>
<p style="margin-right:3.75pt;"><span style="font-size:small;"><em></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;"><span style="font-size:small;"><em></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">Jumat 9/5/2008 mereka memboyong kami ke Pakem – terletak di antara Kota Yogya dan Kaliurang-- untuk makan siang. Di situ ada sebuah kedai sederhana di tepi jalan. Namanya, </span></em><em><span style="font-family:Arial;">Sego Abang Lombok Ijo</span></em><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">. Luar biasa! Menunya sederhana tapi membuat selera terpacu.</span></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Nasi dari beras merah disajikan hangat, ditemani kuah pedas lodeh tempe dengan potongan-potongan lombok hijau masih melotot. Pendampingnya “salad”<span>  </span>daun pepaya yang –entah megapa— terasa begitu gurih dan tak sedikit pun ada rasa pahit. Sambal pedas dan empal goreng serta krupuk kampung membuat kami tambah lahap.</span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Siang berikutnya, saya diajak ke sebuah tempat dekat stadion baru Yogyakarta, tak jauh dari kawasan Ambarukmo agak ke atas. Kali ini santap siangnya istimewa bagi saya, <span> </span>karena untuk pertama kali itulah saya mencicipi rujak cingur. Dan, ternyata enak betul. </span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Rujak cingur sudah sangat populer, namun saya tak pernah berani mencicipi karena membayangkan cingurnya itu. Ternyata, Mas Hari sang pelukis yang karya-karyanya saya kagumi itu membalik kesan saya. Rujak cingur ternyata mengugah selera. </span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Malam berikutnya, bersama Mas Agus saya diajak Mas Hari dan mBak Titiek santap malam di tengah pasar </span></span></em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul (kira-kira 12 Km dari Yogya). Di dalam pasar itu ada beberapa warung sate klatak yang buka. <span> </span>Satu di antaranya adalah tempat<span>  </span>yang biasa dikunjungi Mas Hari, dan tampaknya merupakan yang paling ramai pengunjungnya.</span></span></p>
<p style="text-align:left;">Sate klatak sangat sederhana. Irisan-irisan daging kambing muda ditusuk dengan sebilah kawat baja jeruji sepeda. Tanpa bumbu apa-apa, daging ini dipanggang setelah dilumuri serbuk garam dan merica. Saat dipanggang di atas bara, bubuk garam yang berjatuhan dan terbakar menimbulkan bunyi gemeretak, klatak…klatak..klatak!!. Konon, karena itulah ia disebut sate klatak.</p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Satenya empuk sekali, dan sama sekali tak menguarkan bau kambing. Hebat, dan… enaaaak…!! Malam itu kami habiskan di rumah<span>  </span>Mas Hari di kawasan Jambusari. Rumah yang asri dan menyatu dengan lingkungan. Nyaman sekali. Terima kasih, Mas Hari. Terima kasih mBak Titiek. (*) </span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
