<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hamengku-buwono-x &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/hamengku-buwono-x/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hamengku-buwono-x"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 18:05:01 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Multikulturalisme sebuah Perjuangan Panjang Bangsa Indonesia]]></title>
<link>http://beritaseni.wordpress.com/?p=616</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 12:00:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
<guid>http://beritaseni.wordpress.com/?p=616</guid>
<description><![CDATA[Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X
Secara umum, kompleksitas masyarakat mejemuk tidak hanya ditandai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X</strong><br />
Secara umum, kompleksitas masyarakat mejemuk tidak hanya ditandai oleh perbedaan-perbedaan horisontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras, bahasa, ada-istiadat, dan agama. Namun, juga terdapat perbedaan vertikal, berupa capain yang diperoleh melalui prestasi [achievement].<!--more--></p>
<p>Indikasi perbedaan-perbedaan tersebut tampak dalam strata sosial ekonomi, posisi politik, tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan dan kondisi permukiman.</p>
<p>Sedangkan perbedaan horizontal diterima sebagai warisan, yang diketahui kemudian bukan faktor dalam insiden kerusuhan sosial yang melibatkan antarsuku. Suku tertentu bukan dilahirkan untuk memusuhi suku lainnya. Bahkan tidak pernah terungkap dalam doktrin ajaran mana pun di Indonesia yang secara absolut menanamkan permusuhan etnik.</p>
<p>Sementara itu, dari perbedaan-perbedaan vertikal, tedapat beberapa hal yang berpotensi sebagai sumber konflik, antara lain perebutan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi lainnya. Selain itu juga benturan-benturan kepentingan kekuasaan, politik dan ideologi, serta perluasan batas-batas identitas sosial-budaya dari sekelompok etnik.</p>
<p><strong>Sumber Konflik</strong><br />
Berbeda dengan perbedaan horizontal, perbedaan vertikal diasumsikan sebagai factor yang menentukan tercetusnya konflik sosial. Karena status sosial dan ekonomi serta kedudukan politik signifikan dalam setiap interaksi sosial antara kelompok-kelompok etnik. Apakah interaksi sosial tersebut akan bersifat positif atau negatif, sangat ditentukan oleh kadar perbedaan-perbedaan vertikal di antara kelompok-kelompok etnik. Dan bukan dari perbedaan-perbedaan horisontal, sebagaimana yang banyak diyakini selama ini.</p>
<p>Semakin tinggi posisi politik dan peran dominatif suatu kelompok etnik, akan semakin kuat menimbulkan prasangka [stereotype negative] yang menjadi sumber ketegangan dan konflik antarkelompok etnik. Apalagi kalau mengacu konsep dominatif yang lebih menekankan pada aspek kualitatif daripada aspek kuantitatifnya. Di mana suatu kelompok etnik minoritas juga berpeluang memiliki peran dominatif, jika kelompok tersebut secara substansial menguasai struktur politik atau ekonomi di daerah [negara] tertentu.</p>
<p>Sehingga dari pola interaksi sosial dalam masyarakat majemuk, jangan terpaku hanya pada perbedaan-perbedaan horisontal yang ada. Artinya dalam menghindari atau meminimalkan konflik hanya dengan mengatasi masalah perbedaan aspek-aspek sosial budayanya. Seperti penyatuan kelompok-kelompok sosial yang berbeda, dengan mengangkat pernik-pernik budaya daerah menjadi identitas nasional. Atau gerakan pergantian nama dalam masyarakat Cina, memasyarakatkan batik sebagai identitas nasional. Atau dengan penataran untuk menanamkan norma-norma bersama yang mengatur tingkah-laku, bagaimana menjadi warga negara Indonesia yang baik.</p>
<p>Tetapi hendaknya menaruh perhatian yang lebih pada pemecahan masalah-masalah persaingan dalam memperebutkan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi-politik. Kenyataan di lapangan seperti kasus insiden Maliana di Timor Timur menunjukkan, bahwa sebelum terjadinya perluasan daerah batas-batas wilayah sosial ekonomi suku pendatang [umumnya beragama Islam dan Protestan], hubungan antara individu yang beridentitas Katolik dengan nonKatolik semasa kolonial cukup harmonis dan menghormati keyakinan masing-masing.</p>
<p>Jadi secara hipotesis dapat disimpulkan, bahwa sumber konflik sosial antara berbagai etnik atau golongan bukan didominasi oleh perbedaan horisontal. Tetapi yang lebih menonjol disebabkan oleh faktor perbedaan-perbedaan vertikal. Karena interaksi dalam perbedaan vertikal antaretnik [suku] dan golongan lebih berdimensi kalah-menang, bermuara pada munculnya kekuatan yang mendominasi dan yang didominasi. Kemudian terjadi ketidakseimbangan, prasangka dan ketegangan. Dan apabila tidak segera diantisipasi, maka kondisi itu sangat rentan dimanfaatkan oleh mereka yang tak bertanggung jawab untuk memicu konflik sosial dan kerusuhan massal.</p>
<p><strong>Dari Masyarakat Majemuk ke Multikultural</strong><br />
Landasan sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang bercorak masyarakat majemuk [plural society] sudah saatnya dikaji kembali. Ideologi masyarakat majemuk yang menekankan pada keanekaragaman suku bangsa tidak akan mungkin mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis. Untuk mencapai tujuan demokratisasi, ideologi harus digeser menjadi ideologi keanekaragaman budaya atau multikulturalisme.</p>
<p>Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk, terdiri atas suku-suku bangsa, yang baik langsung maupun tidak langsung, dipaksa bersatu di bawah kekuasaan sebuah sistem nasional. Yang mencolok dari ciri kemajemukan masyarakat Indonesia adalah penekanan pada pentingnya kesukubangsaan yang terwujud dalam komunitas-komunitas suku bangsa, dan digunakannya kesukubangsaan sebagai acuan utama bagi jatidiri individu.</p>
<p>Ada sentimen-sentimen kesukubangsaan yang memiliki potensi pemecah-belah dan penghancuran di antara sesama bangsa Indonesia. Antara lain karena masyarakat majemuk menghasilkan batas-batas suku bangsa yang didasari oleh stereotip dan prasangka, yang menghasilkan penjenjangan sosial seara primordial yang subyektif. Konflik antaretnik dan antaragama yang terjadi, berintikan pada permasalahan hubungan antara etnik asli setempat dengan pendatang. Konflik-konflik itu terjadi, karena adanya pengaktifan jatidiri etnik untuk solidaritas memperebutkan sumberdaya yang ada.</p>
<p>Dari hasil penelitian Dr. Persudi Suparlan di Kalimantan dan Maluku ditemukan, karena ideologi keetnikan dan pengaktifan jatidiri etnik. Seperti yang terjadi di Sambas, preman Madura yang mengawali konflik dianggap mewakili suku Madura, sehingga konflik berkembang menjadi konflik antaretnik. Demikian pula yang terjadi di Ambon, dimana bentrokan antara penduduk Ambon dengan penduduk Buton Bugis Makassar, menjadi konflik antaragama. Akhirnya menunjukkan, bahwa masyarakat majemuk tidak pernah menghasilkan tatanan kehidupan yang egalitarian dan demokratis, melainkan berpotensi otoriter dan despotis, karena corak etniknya yang beraneka-ragam, dari feodalistis dan paternalistis sampat etnosentris.</p>
<p>Masyarakat majemuk yang menekankan keanekaragaman etnik perlu dikaji dan digeser pada pluralisme budaya [multikulturalisme], yang mencakup tidak hanya kebudayaan etnik, tetapi juga berbagai kebudayaan lokal y ang ada di Indonesia, dan harus dibarengi kebijakan politik nasional yang meletakkan berbagai budaya itu dalam kesetaraan derajat. Sehingga tidak ada lagi etnik yang merasa superior dan inferior, sebab tiada jenjang sosial karena asal etnik.</p>
<p><strong>Indonesia Baru Berbasis Multikulturalisme</strong><br />
Prinsip demokraksi hanya mungkin hidup dan berkembang secara mantap dalam sebuah masyarakat sipil yang terbuka [open society], yang warganya mempunyai toleransi terhadap perbedaan-perbedaan dalam bentuk apa pun, karena adanya kesetaraan derajat kemanusiaan yang saliang menghormati, dan diatur oleh hukum yang adil dan beradab yang mendorong kemajuan dan menjamin kesejahteraan hidup warganya.</p>
<p>Masyarakat terbuka adalah suatu masyarakat yang membuka diri bagi pembaharuan dan perbaikan. Zen [1998] menambahkan, harus ada suatu “built in mechanism” untuk self-renewal and self-rejuvenation. Masyarakat terbuka itu harus berorientasi ke depan, selalu mempertimbangkan globalisasi yang membawa serta kemajuan teknologi, dan berpijak pada kenyataan, bahwa kiat mendiami suatu Benua Maritim Indonesia serta aspirasi bangsa yang tertuang dalam nasionalisme baru yang menghargai pluralitas budaya [multikultural].</p>
<p>Dalam menyikapi pluralitas bangsa, pendekatan sentralistik dan totalitarian harus ditinggalkan. Sikap yang melihat perubahan [change], ketidakpastian [indeterminancy] dan ketidakberaturan [disorder] sebagai sesuatu yang menakutkan, sudah masanya ditinggalkan. Cara-cara pengendalian melalui pendekatan keamanan, keseragaman, keberaturan total sudah tidak dapat lagi dipertahankan.</p>
<p>Dikotonomi konsep keteraturan-kekacauan, kesatuan-separatisme, integrasi-disintegrasi, keseragaman-keanekaragaman, sentralisasi-desentralisasi, homogenitas-heterogenitas yang mewarnai kehidupan sosial, harus dicarikan sintesis baru, sehingga dapat mendorong daya kreativitas sosial. Selama ini kita membebani hidup kita dengan berbagai ketakutan; kekacauan yang tidak dapat dipahami, keanekaragaman yang tidak dapat disatukan, turbulensi yang tidak dapat dikendalikan, chaos yang tidak dapat diperkirakan.</p>
<p>Padahal keberaturan dan ketidakberaturan adalah dua hal yang saling mengisi. Melenyapkan ketidaberaturan berarti melenyapkan daya perubahan dan kreativitas. Dunia chaos adalah dunia yang selalu dipenuhi energi kegelisahan. Kebudayaan yang tidak gelisah adalah kebudayaan yang telah mati. Kegelisahan untuk bertumbuh inilah yang harus ditanamkan pada setiap komponen bangsa yang plural ini [daerah, suku, agama, ras].</p>
<p>Oleh sebab itu, setiap komponen bangsa harus merupakan sistem terbuka [open system]. Artinya, harus selalu mengantisipasi tantangan dan pengaruh dari luar dirinya, baik terhadap tantangan regional maupun global. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan untuk merasa, kemampuan berempati, dan kemampuan pemahaman, sebagai inti dari prinsip dialogis.</p>
<p><strong>Catatan Akhir</strong><br />
Di tengah arus reformasi dewasa ini, agar selamat mencapai Indonesia Baru, maka idiom yang harus lebih diingat-ingat dan dijadikan landasan kebijakan mestinya harus berbasis pada konsep Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, sekali pun berada dalam satu kesatuan, tidak boleh dilupakan, bahwa sesungguhnya bangsa ini berbeda-beda dalam satu kemajemukan.</p>
<p>Maka, Indonesia Baru yang kita ciptakan itu, hendaknya ditegakkan dengan menggeser masyarakat majemuk menjadi masyarakat multikultural, dengan mengedepankan keBhinnekaan sebagai strategi integrasi nasional. Namun, jangan sampai kita salah langkah, yang bisa berakibat yang sebaliknya: sebuah konflik yang berkepanjangan. Harus disadari, bahwa merubah masyarakat majemuk ke multikultural itu merupakan perjuangan panjang yang berkelanjutan. <strong>[]</strong></p>
<p>Bandung, 26 April 2008<br />
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat</p>
<p>* Sumber makalah : Diskusi budaya "Menguak Tabir Multikulturalisme", Bandung, 26 April</p>
<p>2008, di Gedung RRI Bandung</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bersama GKR Pembayun]]></title>
<link>http://maswing.wordpress.com/?p=299</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 18:45:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wing Wahyu Winarno</dc:creator>
<guid>http://maswing.wordpress.com/?p=299</guid>
<description><![CDATA[Hari Kamis, 3 April 2008, saya mengisi acara Winasis di Jogja TV bersama GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" align="left" width="154" src="http://maswing.wordpress.com/files/2008/04/gkr-pembayun-01-sml.jpg" height="115" />Hari Kamis, 3 April 2008, saya mengisi acara Winasis di Jogja TV bersama GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Pembayun, mas Aulia Reza (sebagai presenter) dan Bapak Drs. Gunadi dari SMU Galur, Kulon Progo. Acara yang berlangsung dari pukul 15:00-16:00 mendapat tanggapan cukup aktif dari pemirsa melalui telpon. Di sela dialog, juga ada acara tari yang dibawakan oleh siswa SMK Seni Tari (aduh, kok saya lupa namanya ya? Ada yang bisa mengingatkan saya? Maaf ya dik...)</p>
<p><a rel="attachment wp-att-301" href="http://maswing.wordpress.com/2008/04/04/bersama-gkr-pembayun/bersama-gkr-pembayun/" title="Bersama GKR Pembayun"><img src="http://maswing.wordpress.com/files/2008/04/gkr-pembayun-02-sml.jpg" alt="Bersama GKR Pembayun" /></a></p>
<p>Dalam acara Winasis ini, dibahas penerapan program komputer SAMAS (Sistem Administrasi dan Manajemen Sekolah) yang telah dibagikan gratis ke sekitar 400-an sekolah di wilayah DIY oleh YABM (Yayasan Anak Bangsa Mandiri). GKR Pembayun, putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, adalah Ketua YABM.</p>
<p>Program SAMAS merupakan program komputer yang ditujukan untuk mencatat berbagai kegiatan dan aktiva sekolah, khususnya sebagai tahap awal ini adalah SMU/sederajat. Dalam bahasa kerennya, SAMAS merupakan program TPS (<em>transaction processing systems</em>) dan MIS (<em>management information systems</em>) untuk sekolah. Program ini dapat dijalankan di komputer "lama" (cukup sekelas Pentium II) dengan Windows 98 (yang oleh Microsoft sudah diganti dengan sistem2 yang lebih baru). Selain itu, program ini siap dijalankan di komputer tunggal maupun di komputer jaringan.</p>
<p>Hanya sayangnya, masih banyak pengelola sekolah yang "agak takut" memulai menggunakan program ini, karena perpindahan dari manual ke komputerisasian memang tidak mudah. Tanggapan yang masuk rata-rata membahas mengenai hal ini.</p>
<p><a href="http://maswing.wordpress.com/files/2008/04/gkr-pembayun-01-sml.jpg" title="gkr-pembayun-01-sml.jpg"></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sultang HB X Gak Mau jadi Gubernur]]></title>
<link>http://myading.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 08:00:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>myading</dc:creator>
<guid>http://myading.wordpress.com/?p=9</guid>
<description><![CDATA[Denger-denger Sultan Hamengku Buwono X Yogyakarta gak mau lagi jadi gubernur DIY, katanya karena bel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Denger-denger Sultan Hamengku Buwono X Yogyakarta gak mau lagi jadi gubernur DIY, katanya karena beliau udah dua kali jadi gubernur, kalo jadi gubernur lagi untuk yang ketiga kalinya beliau dianggap melanggar peraturan.. wleh wleh… Emang ada yach peraturan kayak gitu??? pasal berapa????..</p>
<p>Trus kalo beliau g mau lagi jadi Gubernur, berarti pemerintahan di DIY ada dua dunk…. Ada kerajaan yang dipimpin oleh Raja ma Profinsi yang dipimpin oleh Gubernur, apa g bingung tuch rakyatnya… ??? Kalo dua kepimpinan gini, rakyat Jogja mau patuh sama yang mana yach??? :D</p>
<p>Tapi kalo di calonin jadi presiden mau g yach Sultan??? moga aja g mau ach.. soalnya kalo Sultan jadi Presiden, ntar yang ngurusin kerajaan siapa dunk???  Ahhh… ga tau ah… itu mah urusan orang atas.. ngapain gue ikutan bingung…. gue kan cuma rakyat biasa….</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
