<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>gurindam &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/gurindam/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "gurindam"</description>
	<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 10:24:53 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Gurindam Pembebel]]></title>
<link>http://membebel.wordpress.com/?p=392</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 08:44:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pembebel</dc:creator>
<guid>http://membebel.id.wordpress.com/2008/09/17/gurindam-pembebel/</guid>
<description><![CDATA[Ah.. Lama rasanya aku tidak bergurindam dengan pantun dua kerat seperti dulu. Pantun sindir menyindi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ah.. Lama rasanya aku tidak bergurindam dengan <strong>pantun dua kerat</strong> seperti dulu. <strong>Pantun sindir menyindir</strong> tu agak femes dulu. Ada bakat rupanya aku dalam berpantun ni. Kih3. Ok, ini pantun dua kerat aku yang pertama yang bertajuk <strong>Gurindam Pembebel</strong>. Hehe.</p>
<blockquote><p>Gurindam Pembebel kembali semula,<br />
Buat peringatan untuk semua.</p></blockquote>
<p>Sekian. :D</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=188</link>
<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 15:02:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.id.wordpress.com/2008/03/11/menjelajah-kota-gurindam-di-pulau-bintan-8/</guid>
<description><![CDATA[(1).  Menuju Kota Gurindam
Kebiasaan lama. Begitu masuk hotel langsung nggeblak di tempat tidur, ng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(1).  Menuju Kota Gurindam</h2>
<p>Kebiasaan lama. Begitu masuk hotel langsung <i>nggeblak</i> di tempat tidur, <i>ngolet ngiwo-nengen</i> (menggeliat ke kiri ke kanan), meregang otot. Setelah agak enakan sedikit, baru bangun lagi. Seharusnya acara <i>nggeblak</i> itu berlangsung sekitar jam 12 siang, sehingga setelah itu punya waktu longgar setengah hari untuk melakukan aktifitas lain yang sudah direncanakan. Namun apa daya, Pak Adam telat lagi (Adam Air, maksudnya) sehingga baru sekitar jam 5 sore saya bisa melampiaskan kebiasaan <i>nggeblak</i> di hotel.</p>
<p>Menurut jadwalnya, Pak Adam  berangkat dari Jogja jam 6:30 pagi menuju Jakarta. Kemudian akan disambung Pak Adam lainnya menuju Batam. Karena terlambat <i>take-off</i> di Yogya, lalu terlambat lagi di Jakarta, walhasil terlambat pula mendarat di bandara Hang Nadim, Batam.</p>
<p>Keluar dari bandara Hang Nadim langsung <i>nyingklak</i> taksi menuju pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Taksi bandara Batam lumayan bagus-bagus. Beroperasi tanpa argo-argoan, tanpa tawar-menawar, pokoknya dari bandara ke Telaga Punggur ongkosnya sekitar Rp 60.000,- atau Rp 65.000,-  untuk waktu tempuh sekitar setengah jam. <i>Wong</i> cuma melalui dua belokan saja. Dari bandara belok kiri lalu ke kiri lagi dan belok kanan lalu ke kanan lagi sudah sampai. Jalannya pun bagus dan lancar.</p>
<p>Dari pelabuhan Punggur (begitu orang menyebut singkatnya), lalu menyeberang naik feri ke pulau Bintan. Tepatnya menuju kota Tanjung Pinang, yang sementara ini disebut sebagai ibukota propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Saya baca di koran lokal <i>Kepri Pos</i>, DPRD tingkat I propinsi Kepri telah memilih kota Dompak Darat menjadi calon ibukota propinsi Kepri, melalui proses pemilihan yang katanya kontroversial.</p>
<p>Sarana angkutan penyeberangan Punggur - Tanjung Pinang pp. ini beroperasi setiap setengah jam dari jam 7:30 pagi hingga jam 8 malam bolak-balik. Jadi memang agak fleksibel pilihan jadwalnya. Tinggal pilih menggunakan feri yang berukuran agak besar atau sejenis <i>speed boat</i> yang berukuran agak kecil. Kami memilih feri besar "Baruna" dengan pertimbangan jalannya lebih mantap dan tidak banyak goyangan saat jalan cepat diterpa gelombang, tidak seperti halnya kalau naik <i>speed boat</i> yang berukuran lebih kecil. Beli tiket ferinya juga fleksibel, bisa milih sekali jalan Rp 35.000,- per orang atau sekaligus tiket pergi-pulang Rp 60.000,- berlaku untuk jam dan hari kapan saja dalam periode satu bulan.</p>
<p>Begitu memasuki pelataran di depan loket-loket penjual tiket di Punggur, langsung disambut dengan teriakan para penjual tiket, bukan calo. Mereka berteriak-teriak dari dalam loket sambil menawarkan tiket masing-masing jasa angkutan penyeberangan. Ramai dan berisik sekali, seperti ramainya Tempat Pelelangan Ikan. Lucunya, mereka berteriak-teriak sambil menyebutkan harganya, sambil melambai-lambaikan tangannya, sambil kepala-kepalanya (karena banyak) menyembul keluar dari lubang tiket. Seperti jam dinding yang ada burungnya lalu kepalanya nongol keluar kalau pas loncengnya berbunyi.</p>
<p>Karena sejak semula sudah diberitahu sebaiknya menggunakan jasa penyeberangan yang mana dan beli tiket di loket yang sebelah mana, maka ya teriakan-teriakan itu tidak perlu dihiraukan. Langsung saja menuju loket feri "Baruna" dan membeli tiket untuk perjalanan pergi-pulang sekaligus.</p>
<p>Akhirnya tiba di Tanjung Pinang setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan laut. Perjalanan laut ini menyusuri selat-selat kecil di antara ratusan pulau-pulau kecil yang tersebar menjadi satu gugusan kepulauan dalam wilayah administratif propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tampak sebuah papan nama besar bertuliskan "Welcome to Port of Sri Bintan Pura" terpampang di dermaga penyeberangan penumpang Tanjung Pinang. Agaknya pulau ini memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata turis mancanegara, sebagai tujuan tambahan bagi mereka yang ke Singapura yang memang tidak terlalu jauh jaraknya.</p>
<p>Para wisatawan asing itu umumnya melancong ke pulau Bintan untuk bersantai, beristirahat di kawasan pantai tropis. Maka bukan kota Tanjung Pinang yang terletak di sisi selatan pulau Bintan yang menjadi tujuan mereka, melainkan beberapa kawasan pantai utara yang terkenal dengan keindahan pantainya yang masih alami seperti kawasan pantai Trikora dan pantai Lagoi, juga yang terkenal dengan kawasan Bintan Resort dimana banyak berdiri hotel-hotel mewah dan lapangan golf bertaraf internasional.</p>
<p>***</p>
<p>Hari sudah sore saat saya menginjakkan kaki di daratan pulau Bintan, dengan Tanjung Pinang sebagai kota terbesarnya yang dihuni oleh kurang dari 200 ribuan jiwa. Masyarakat Tanjung Pinang bangga menyebut kotanya sebagai Kota Gurindam, merujuk pada sejarah seorang tokoh sastra abad 18, Raja Ali Haji yang kesohor dengan karya sastranya Gurindam Duabelas. Terakhir pak Raja Ali Haji ini telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional.</p>
<p>Kota Tanjung Pinang ini agak unik. Bukan karena kecantikan kotanya, melainkan karena membuat saya kesulitan untuk melakukan orientasi medan dengan cepat. Kotanya berbukit-bukit, jalan-jalan kotanya <i>mlungker-mlungker</i> (tidak lurus), persimpangan jalannya miring-miring, sehingga saya selalu kehilangan arah untuk menunjuk dengan tepat arah mata angin. Hanya pada belahan kota yang berada di dekat-dekat laut mengesankan sebagai sebuah kota kuno Melayu, yang sesungguhnya sangat menarik seandainya ditata dengan baik, mumpung belum padat penduduknya. Namun sayang pertumbuhan dan perkembangan kawasan kota selebihnya terkesan semrawut dan dikhawatirkan cenderung menuju kekumuhan.</p>
<p>Keunikan lainnya, di mana-mana banyak dibangun ruko dan kompleks pertokoan, yang kini banyak terhenti karena menunggu suplai listrik yang memang angat terbatas. Sementara populasi Tanjung Pinang ini tidak terlalu padat. <i>Lha, njuk </i>siapa yang mau beli aneka properti bisnis itu. Rasanya pas kalau kota ini juga dijuluki "Kota Ruko", sangking banyaknya ruko bertebaran dibangun di mana-mana dan semuanya sekarang dalam keadaan kosong atau tidak ada aktifitas. Seorang kawan yang warga Tanjung Pinang pun merasakan keheranannya dengan perilaku pebisnis properti ini. </p>
<p>Setelah turun dari feri langsung saja meninggalkan pelabuhan dan bahkan keluar meninggalkan kota Tanjung Pinang menuju ke pinggiran kota arah timur. Akhirnya berhenti mencari penginapan di sebuah hotel di kawasan Batu 9 (istilah lain untuk kilometer 9), tidak jauh dari kawasan bisnis Bintan Center. Ya lalu <i>nggeblak</i> di tempat tidur hotel itu tadi.....</p>
<p>Tanjung Pinang, Kepri - 10 April 2006<br />
Yusuf Iskandar </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=187</link>
<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 15:01:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.id.wordpress.com/2008/03/11/menjelajah-kota-gurindam-di-pulau-bintan-7/</guid>
<description><![CDATA[(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan mala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik</h2>
<p>Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan malam belum masuk. Tapi karena perut sudah meronta minta diisi, ya lupakan dulu soal waktu makan. Tidak jauh dari hotel, ke arah timur sedikit, tepatnya di Batu 10 (Km 10), ada kawasan pengembangan kota yang bernama Bintan Center. Kesanalah kemudian kami menuju. Di salah satu sudut kompleks perukoan ada kedai (sebutan umum untuk warung) yang jual nasi goreng. Atas inisiatif seorang rekan yang kebetulan penduduk asli Bintan, kemudian kami masuk ke kedai "Bopet Pak Haji".</p>
<p>Nasi goreng di kedai ini cukup disukai masyarakat, katanya. Terbukti "Bopet Pak Haji" yang di Bintan Center itu merupakah cabang dari kedai yang sama yang ada di kota Tanjung Pinang. Tidak ada salahnya dicoba. Sebab prinsip saya kalau berada di tempat baru adalah mencoba sesuatu yang beda dan khas, tidak perduli enak atau tidak. <i>Rule of thumb</i>-nya adalah bahwa makanan itu hanya ada dua jenis : <i>uenak</i> dan <i>huenak</i> sekali.</p>
<p>Satu piring nasi goreng pun tandas. Sangking laparnya sampai tadi lupa merasakan sebenarnya nasi goreng ini cukup <i>uenak</i> saja apa <i>huenak</i> sekali sih.... Paling tidak, ya lumayan <i>uenak</i>-lah, meki <i>taste</i>-nya tentu beda dengan nasi goreng jawa.     </p>
<p>***</p>
<p>Sore serasa belum lengkap kalau belum <i>nyruput </i>kopi panas. Saya pesan kopi di hotel untuk dikirim ke kamar. Petugas hotel bertanya : "Kopi O, pak?". Saya pun melongo dengan mulut membentuk seperti huruf "O", mendengar pertanyaan itu. Lalu kata petugas hotel : "Ya, kopi biase tak pakai ape-ape....", dengan logat Melayunya. Saya baru <i>ngeh</i> : "Ooo.... , itu to maksudnya kopi O.....", barulah saya bisa mengkonfirmasi : "Iya, kopi O satu!".</p>
<p>Menangkap ada sesuatu yang baru, saya lalu mencoba mengeksplorasi lebih jauh. "Kalau teh O ada, tak?", tanya saya. Lalu dijawabnya : "Ada, pak. Teh <i>obeng</i> juga ada....". Hah!. Teh apa lagi ini? Setahu saya di "Madurejo Swalayan" saya jual teh cap Tjatoet dan cap Tang. <i>Lha</i> ini ada lagi teh <i>obeng</i>..... Rupanya yang disebut teh <i>obeng</i> adalah es teh. </p>
<p>Saya tersenyum sendiri. Selain karena merasa lucu mendengar sebutan jenis minuman kopi dan teh itu, juga karena berhasil memperoleh pengalaman baru di hari pertama kunjungan saya ke kota Gurindam, Tanjung Pinang. Mulai saat itu saya merasa perlu untuk mulai waspada. Waspada terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan saya temui selanjutnya. Dan inilah bagian yang paling saya sukai setiap kali mengunjungi tempat baru.</p>
<p>Secangkir kopi pun akhirnya saya nikmati di kamar hotel. Yang selalu khas dalam setiap kali kopi disajikan, juga kemudian saya temui di kedai-kedai kopi di tempat lain, adalah secangkir kopi itu selalu disajikan dalam keadaan <i>mbludak</i>, ada tumpahan di cawannya. Terkesan kurang professional dan kurang rapi. Tapi yang demikian ini justru menambah selera <i>ngopi</i> bagi penggemar kopi. Barangkali saja SOP-nya memang demikian.</p>
<p>Sama seperti saya juga tidak tahu kenapa disebut kopi O atau teh <i>obeng</i>. Orang-orang setempat pun tidak ada yang bisa memberi jawaban meyakinkan. Kecuali sekedar <em>clue</em>, barangkali sebutan itu adalah turunan dari bahasa Tionghoa yang memang sejak jaman dahulu kala banyak masyarakat etnis Cina yang tinggal dan hidup di kawasan Kepulauan Riau.</p>
<p>***</p>
<p>Mengingat tadi makan siangnya kesorean, maka acara makan malam pun sengaja dijadwal agak kemalaman. Tapi tidak perlu khawatir tidak kebagian restoran atau kedai yang masih buka. Banyak tempat-tempat makan atau kedai-kedai makan buka sampai larut malam. Salah satunya yang kami tuju adalah kawasan "Melayu Square" yang berlokasi di pinggir laut dekat dengan pelabuhan penyeberangan.</p>
<p>Yang disebut "Melayu Square" ini adalah semacam Pujasera, <i>open air</i>, ada puluhan set meja-kursi tersebar di lapangan terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kedai makan dan minum serta jenis makanan lainnya. Ada juga disedikan fasilitas lesehan di atas ruang panggung yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini buka sampai larut malam dan nyaris selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya, kata teman yang asli Bintan. Tidak ada jam buka dan tutup yang pasti. Namun biasanya buka sore hari dan baru tutup kalau pengunjung sudah sepi atau pada ngantuk, atau penjualnya yang ngantuk duluan.</p>
<p>Ada sederet menu makan aneka ragam yang kebanyakan berbasis <em>ikan-ikanan</em>, maklum <i>wong</i> dekat laut. Namun pandangan mata saya tertuju pada satu menu khas Melayu yang dahulu saya pernah menikmatinya saat disuguh oleh salah satu keluarga seorang teman di Yogya yang berasal dari Riau, yaitu <i>laksa</i> (dibaca <i>la'se</i>). Kalau tidak salah ini makanan yang berbentuk seperti mie tapi terbuat dari bahan tepung beras. Dimakan dengan kuah ikan seperti kari kental. Disajikan dengan berbagai variasi campuran, diantaranya tauge mentah. Biasanya pedas, dan yang pasti membuat <em>nek</em> (cepat enyang) karena mengandung banyak santan. Karena itu sangat cocok dimakan pada saat perut lagi lapar.</p>
<p>Berbekal semangat ingin mencoba yang beda dan khas, maka meski perut sesungguhnya belum lapar-lapar amat, tetap saja saya pesan sepiring <i>laksa</i>. Dan ternyata tandas juga, meski megap-megap kepedasan. Habis enak sih.....!</p>
<p>Bagaimana dengan minumnya? Mata saya tertuju pada menu kopi <i>tarik</i>. Apanya yang ditarik, atau apanya yang menarik? Kopi dan juga teh <i>tarik</i> adalah campuran kopi atau teh dengan susu yang penyajiannya dengan terlebih dahulu dicampur dalam cangkir alumunium berukuran agak besar. Kalau di Jawa ini cangkir mirip seperti yang biasa digunakan tukang martabak untuk mencampur adonan.</p>
<p>Campuran kopi atau teh susu itu kemudian dituang berkali-kali dan berpindah-pindah dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Cangkir pertama yang berisi campuran kopi atau teh susu diangkat agak tinggi lalu dituang ke bawah dan diterima oleh cangkir kedua yang dipegang berada agak ke bawah, lalu bergantian. Prosedur tuang-menuang ini dilakukan sebanyak enam kali (saya tahu karena beberapa kali saya amati dan saya hitung, sekedar analisis statistik cepat), sampai kemudian menimbulkan busa di permukaannya. Barulah dipindah ke gelas sebelum disajikan.</p>
<p>Aroma dan rasanya luar biasa (makudnya di luar biasanya campuran kopi atau teh dengan susu). Nilai akhirnya : <i>huenak</i> dan <i>mantab</i> (diakhiri huruf "b") sekali..... Pesan sponsor yang hendak disampikan berbunyi : Jangan lewatkan mencicipi kopi atau teh <i>tarik</i> selagi berada di Tanjung Pinang.</p>
<p>Tanjung Pinang, Kepri - 10 April 2006<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[gurindam]]></title>
<link>http://aliby.wordpress.com/2008/02/05/4/</link>
<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 11:30:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>aliby</dc:creator>
<guid>http://aliby.id.wordpress.com/2008/02/05/gurindam/</guid>
<description><![CDATA[Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#ff00ff"><span class="fullpost">Barang siapa mengenal yang tersebut,<br />
tahulah ia makna takut.</p>
<p>Barang siapa meninggalkan sembahyang,<br />
seperti rumah tiada bertiang.</p>
<p>Barang siapa meninggalkan puasa,<br />
tidaklah mendapat dua termasa.</p>
<p>Barang siapa meninggalkan zakat,<br />
tiadalah artanya beroleh berkat.</p>
<p>Barang siapa meninggalkan haji,<br />
tiadalah ia menyempurnakan janji.</span></font></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[gurindam]]></title>
<link>http://ingra717.wordpress.com/?p=12</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 08:08:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>ingra717</dc:creator>
<guid>http://ingra717.id.wordpress.com/2008/02/02/gurindam-2/</guid>
<description><![CDATA[1.jika kita sering beribadah
maka hidup kita tidak akan susah
2.jika kita rajin shalat
maka kita aka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>1.jika kita sering beribadah</p>
<p>maka hidup kita tidak akan susah</p>
<p>2.jika kita rajin shalat</p>
<p>maka kita akan selamat dunia akhirat</p>
<p>3.jika kita berbuat dosa</p>
<p>maka neraka balasannya</p>
<p>4.jika kita tidak mau masuk neraka</p>
<p>maka jangalah memperbanyak dosa</p>
<p>5.jika kita ingin di sayang Allah</p>
<p>Maka turutkan perintah Allah</p>
<p>6 .jika kita ingin sealmat dunia akhirat</p>
<p>maka janganlah berbuat maksiyat</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GURINDAM 12]]></title>
<link>http://tisha1410.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 09:11:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>tisha1410</dc:creator>
<guid>http://tisha1410.id.wordpress.com/2008/02/01/gurindam-12/</guid>
<description><![CDATA[Awal diingat akhir tidak
Alamat badan akan rusak
Barang siapa mengenal dua
Taulah dia barang terpeda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Awal diingat akhir tidak</p>
<p>Alamat badan akan rusak</p>
<p>Barang siapa mengenal dua</p>
<p>Taulah dia barang terpedaya</p>
<p>Mengumpat dan menguji</p>
<p>Hendaklah pikir disitulah banyak orang tergelincir</p>
<p>Barang siapa meninggalkan sembahyang</p>
<p>Seperti rumah tidak bertiang</p>
<p>Jika hendak mengenal berbangsa</p>
<p>Lihat pada budi dan bahasa</p>
<p>Apabila anak tidak dilatih</p>
<p>Jika besar ibu bapaknya letih</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gurindam]]></title>
<link>http://iyan27.wordpress.com/2008/02/01/gurindam/</link>
<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 07:40:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>iyan27</dc:creator>
<guid>http://iyan27.id.wordpress.com/2008/02/01/gurindam/</guid>
<description><![CDATA[Kalau kita sedang merana
hatilah kan putus asa
Siapa yang meninggalkan shalat
tentulah jalannya akan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kita sedang merana<br />
hatilah kan putus asa</p>
<p>Siapa yang meninggalkan shalat<br />
tentulah jalannya akan sesat</p>
<p>Kalau kamu suka berenang<br />
jangan pernah takut tenggelam</p>
<p>Bila kita kan berpisah<br />
hati pasti kan gelisah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[gurindam]]></title>
<link>http://grilzdevil.wordpress.com/2008/02/01/gurindam/</link>
<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 07:30:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>grilzdevil</dc:creator>
<guid>http://grilzdevil.id.wordpress.com/2008/02/01/gurindam/</guid>
<description><![CDATA[Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Barang siapa mengenal yang tersebut,<br />
tahulah ia makna takut.<br />
Barang siapa meninggalkan sembahyang,<br />
seperti rumah tiada bertiang.<br />
Barang siapa meninggalkan puasa,<br />
tidaklah mendapat dua termasa.<br />
Barang siapa meninggalkan zakat,<br />
tiadalah hartanya beroleh berkat.<br />
Barang siapa meninggalkan haji,<br />
tiadalah ia menyempurnakan janji.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[gurindam 12]]></title>
<link>http://nafta1790.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 08:43:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>nafta1790</dc:creator>
<guid>http://nafta1790.id.wordpress.com/2008/01/31/gurindam-12/</guid>
<description><![CDATA[kurang pikir kurang siasat
tentu dirimu kelak tersesat
pikir dahulu sebelum berkata
supaya terelak s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>kurang pikir kurang siasat<br />
tentu dirimu kelak tersesat<br />
pikir dahulu sebelum berkata<br />
supaya terelak silang sengketa<br />
prekataan tajam jika di lepas<br />
ibarat beringin racun dan upas<br />
kalau mulut tajam dan kasar<br />
boleh di timpa bahaya besar<br />
siapa menggemari silang sengketa<br />
kelaknyapasti berduka cita<br />
barang siapa menyepelekan janji<br />
tiadalah sempurna baik hati</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gurindam]]></title>
<link>http://nurien.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 07:52:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurien</dc:creator>
<guid>http://nurien.id.wordpress.com/2008/01/31/gurindam/</guid>
<description><![CDATA[
jika tidak ingin masuk neraka

maka jangan berbuat dosa

jika ingin bahagia di akhirat

maka jangan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>jika tidak ingin masuk neraka</li>
</ul>
<p>maka jangan berbuat dosa</p>
<ul>
<li>jika ingin bahagia di akhirat</li>
</ul>
<p>maka jangan pernah tinggalkan shalat</p>
<ul>
<li>jika kamu berbuat maksiat</li>
</ul>
<p>hidupmu akan tersesat</p>
<ul>
<li>apabila kita sering berdoa</li>
</ul>
<p>maka kita kan bahagia</p>
<ul>
<li>jika kita tidak ingin berbuat dosa</li>
</ul>
<p>maka ingatlah pada yang kuasa</p>
<ul>
<li>apabila hidup kita ingin di penuhi kebahagiaan</li>
</ul>
<p>maka kita harus selalu beriman</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gurindam 12]]></title>
<link>http://fitri28.wordpress.com/2008/01/31/gurindam-12/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 07:50:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>fitri28</dc:creator>
<guid>http://fitri28.id.wordpress.com/2008/01/31/gurindam-12/</guid>
<description><![CDATA[Jika kita mengeluh sekarang
Maka sulit menuju titik terang
Apabila kita selalu berupaya
Maka kita pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita mengeluh sekarang<br />
Maka sulit menuju titik terang</p>
<p>Apabila kita selalu berupaya<br />
Maka kita pasti akan berjaya</p>
<p>Jika kita tidak cermat<br />
Maka kita tidak akan bisa hemat</p>
<p>Jika kita mempunyai bakat<br />
Maka akan di segani masyarakat</p>
<p>Jika kita sering bersedekah<br />
Maka kita akan mendapat berkah</p>
<p>Jika kita suka membantu<br />
Maka hidup tidak akan buntu</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GURINDAM]]></title>
<link>http://thyxa.wordpress.com/2008/01/31/gurindam/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 07:49:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>thyxa</dc:creator>
<guid>http://thyxa.id.wordpress.com/2008/01/31/gurindam/</guid>
<description><![CDATA[rajin-rajinlah beribadah
maka akan mendapat berkah
janganlah sering berbuat maksiat
karena akan mend]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>rajin-rajinlah beribadah<br />
maka akan mendapat berkah</p>
<p>janganlah sering berbuat maksiat<br />
karena akan mendapat laknat</p>
<p>segeralah bertaubat nasuha<br />
jika sudah berbuat dosa</p>
<p>perbanyaklah membaca shalawat nabi<br />
maka akan di ridhai ilahi</p>
<p>jika tidak mau masuk neraka<br />
jauhilah perbuatan dosa</p>
<p>jika mau masuk surga</p>
<p>perbanyaklah mencari pahala</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keagamaan]]></title>
<link>http://aath22.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 06:19:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>aath22</dc:creator>
<guid>http://aath22.id.wordpress.com/2008/01/31/gurindam/</guid>
<description><![CDATA[Jika kita banyak berdo&#8217;a
Hidup kita akan bahagia
Jika kita ingin masuk surga
Janganlah berbiat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita banyak berdo'a<br />
Hidup kita akan bahagia</p>
<p align="right">Jika kita ingin masuk surga</p>
<p align="right">Janganlah berbiat dosa</p>
<p align="left">Jika kita ingat akan dosa</p>
<p align="left">Hidup kita tak mungkin sengsara</p>
<p align="right">Jika kita banyak berzikir</p>
<p align="right">Kita tak mungkin tersingkir</p>
<p align="left">Jika kita sembahyang</p>
<p align="left">Hidup kita akan  tenang</p>
<p align="right">Jika mengaji</p>
<p align="right">Banyak ilmu yang kita kaji</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Appetizer]]></title>
<link>http://staircasepleasure.wordpress.com/2007/11/28/appetizer/</link>
<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 05:52:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Staircase Pleasure</dc:creator>
<guid>http://staircasepleasure.id.wordpress.com/2007/11/28/appetizer/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa minggu yg lepas, I pulang ke kampung halaman i yg terletak di Perak. So, mcm biasa, I &amp;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>Beberapa minggu yg lepas, I pulang ke kampung halaman i yg terletak di Perak. So, mcm biasa, I &#38; friends pon lepaklah dkt 1 kedai yg berhampiran dgn railway station.</p>
<p>Waiter: Selamat datang. Nak order apa?</p>
<p>I: Em, bagi I Nescafe ice 1.</p>
<p>Waiter: Makan?</p>
<p>I: Aa, bagi I bihun goreng, basah.</p>
<p>Waiter: Tu je?</p>
<p>I: Aa, bihun goreng tu kan, ayam dia kasi lebih skit, sayur pon kasi lebih, and kalo boleh bihun dia pon kasi lebih la. Senang cerita, kasi semua lebih la. Tapi, 1 je jgn lebih tau.</p>
<p>Waiter: Apa dia?</p>
<p>I: Harga jgn kasi lebih.</p>
<p>Waiter: Ini dah lebih ni brother.</p>
<p>I: Ha, "ini dah lebih ni brother" kasi lebih pon takpe. Janji harga tak lebih. Ok?</p>
<p>I makan setelah makanan I sampai. Member I pon ada order the same menu as mine.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
