<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>gugur-gunung &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/gugur-gunung/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "gugur-gunung"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 15:23:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tumbang]]></title>
<link>http://tancepkayon.wordpress.com/?p=50</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 17:34:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
<guid>http://tancepkayon.id.wordpress.com/2008/05/17/tumbang/</guid>
<description><![CDATA[Dendang lagu gugur gunung masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dendang lagu <a href="http://tancepkayon.wordpress.com/2008/05/02/kuntul-baris/" target="_blank">gugur gunung</a> masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanjang tebing di sisi sungai. Di barisan terdepan, Mbethu memanggul <em><a title="cangkul">pacul</a></em>nya laksana seorang mayoret marching band. Sesekali dia mengayun-ayunkan doran paculnya, kemudian berbalik menghadap ke arah kami sambil berteriak laksana seorang komandan peleton memberikan komando kepada anak buahnya. Tak kurang dari dua puluhan <a title="anak kepiting, istilah untuk menyebut anak-anak"><em>beyes-beyes</em></a> berbaris satu satu, sambil menabuh ember, kaleng, <a title="keranjang bambu"><em>tumbu</em></a> atau <a title="keranjang bambu juga"><em>tenggok</em></a> yang mereka bawa. Semua tertawa gembira, penuh sukacita menunaikan kewajiban yang dibebankan para bapak-bapak kami. <a title="memindahkan sedikit demi sedikit"><em>Nglangsir</em></a> pasir dari tepian Progo ke jalan setapak di sekitar <a title="jembatan batang kelapa"><em>wot glugu</em></a> <a href="http://tancepkayon.wordpress.com/2008/04/12/pasetran-gandamayit/" target="_blank">pasetran gandamayit</a>.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Di bawah sana, Kang Mbolo dan Mas Perung, sudah <a title="mengumpulkan"><em>ngunthuk</em></a> pasir yang siap untuk kami angkut ke atas. Maka mengantrilah kami, menunggu giliran <em>tenggok</em> kami diisi. Berjajar <a title="satu persatu"><em>urut kacang</em></a> sambil menenteng <em>tenggok</em>, seperti ngantri sembako atau minyak tanah. Kang Mbolo mengisi <em>tenggok beyes-beyes</em> itu sesuai dengan kemampuan angkat masing-masing <em>beyes</em>. Gandung yang badannya <a title="kekar"><em>pothok</em></a>, dapat jatah lima sekop di <em>tenggok</em>nya, sementara Thole yang <a title="seperti bodynya caplang" href="http://caplang.net" target="_blank"><em>otot kawat balung thok</em></a>, cukup diberi kuota dua sekop. Aku? Namanya saja <a href="http://tancepkayon.wordpress.com/2008/04/23/lompong/">Lompong</a>. Jangan berharap ada kekuatan luar biasa yang mampu mengangkat lima atau enam sekop. Putaran pertama, aku masih mampu <a title="mengangkat beban di atas kepala"><em>nyunggi</em></a> tiga sekop. Putaran berikutnya, haqqul yakin, dua sekop saja sudah <a title="tertatih-tatih"><em>mlendek</em></a>.</p>
<p>Matahari sudah semakin meninggi. Sudah tiga kali kami bolak balik naik turun tebing <em>nyunggi tenggok</em>. Beberapa teman sudah mulai kelelahan. Thole sudah mulai <a title="terduduk"><em>ndheprok</em></a> di hamparan pasir. Dabul malah sudah <a title="jongkok"><em>ndhodhok</em></a> di gemericik aliran air sungai. Nggak jelas apakah tadi pagi dia memang belum sempat buang hajat, atau gara-gara terlalu berat beban <em>nyunggi</em>nya sehingga isi perutnya <a title="tertekan"><em>keplenet</em></a> dan memberontak minta dikeluarkan. Melihat situasi yang sudah tidak kondusif lagi, Kang Mbolo menghentikan aktivitasnya mengisi <em>tenggok</em> para <em>beyes</em>. Dibiarkannya tenggok-tenggok itu <a title="telentang"><em>mlumah</em></a> centang perenang di sekitar bukit pasir hasil karya Mas Perung. Maka para <em>beyes</em> pun pada <a title="tak beraturan"><em>pating besasik</em></a> <a title="duduk santai"><em>ngglesot</em></a> di hamparan pasir. Aku <a title="tidur telentang"><em>ngglethak</em></a> di sebelah <em>tenggok</em>ku, menatap langit, sambil menyeka butir-butir peluh yang membasahi leherku. Sementara di sampingku, Mbethu dan Anthuk malah pada asyik main <em>lungsuran</em>, menebak posisi kerikil yang disembunyikan di gundukan pasir. Ndrewel, agak jauh di kananku, malah membuat gundukan pasir kecil, kemudian di puncaknya dibuat lubang.</p>
<blockquote><p>"Iki lho saya mbuat gunung merapi, sebentar lagi kawahnya akan kebanjiran lahar panas"</p></blockquote>
<p>Dan dengan wajah tak berdosa, dia plorotkan celananya, mengarahkan ujung tomahawknya ke kawah gunung merapi, mengucurkan campuran air dan garam amoniak ke lubang kawah gunung merapinya. <a title="Celakanya"><em>Trembelane</em></a>, <a title="kebetulan"><em>ndilalah</em></a> angin bertiup sepoi, menebarkan percik-percik amoniak ke wajahku yang sedang tengadah menatap langit. <a title="nggak usah diterjemahkan, cuma umpatan saja"><em>Sontoloyo! Jangkrik! Gedhang goreng! Gombal Amoh!</em></a> Semua koleksi <a title="umpatan"><em>pisuhan</em></a>ku keluar, sambil berlari menuju ke air sungai mensucikan najis mutawasithah yang mencemari wajah tampang bayiku. Ndrewel cuma cengegesan saja, melihat tingkahku yang seperti cacing kepanasan.</p>
<p>Yu Tini dan Mbokdhe Sarminah menggendong <em>tenggok</em> dan <a title="menenteng"><em>nyangking </em></a><a title="teko air"><em>ceret</em></a> mendekati gundukan pasir Mas Perung. Semua <a title="paham, tahu maksudnya"><em>tanggap ing sasmito</em></a>. Waktunya istirahat. <a title="telo, gendruk, mbili, sejenis umbi-umbian"><em>Telo break, gendruk break, </em>atau<em> mbili break</em></a>. Kang Mbolo memukul <em>pacul</em>nya dengan gagang arit, laksana memberikan komando kepada para pasukannya. Maka kami, para <em>beyes</em>, <a title="berlomba-lomba"><em>salang tunjang rebut dhucung</em></a> berlari mendekati bukit pasir Mas Perung. Untuk hal yang satu ini, tak boleh kami ketinggalan. Sesuatu yang harus disegerakan. Bahkan Dabul pun berlari-lari sambil susah payah menaikkan celana kolornya yang belum terpasang sempurna. Embuh, apakah dia sempat <a title="cebok"><em>cawik</em></a>, atau cukup dipasrahkan pada aliran air sungai untuk membersihkan serpih-serpih keemasaan di kawasan <a title="dubur"><em>brutu</em></a>nya.</p>
<p>Kami pun duduk melingkar mengelilingi <em>tenggok</em> yang segera dibuka oleh Yu Tini. Asap sedikit mengepul dari balik selendang yang menutup tenggok itu. Dari aromanya kami tahu pasti, singkong dan <em>mbili</em> rebus! Tangan Anthuk langsung <a title="menjulur"><em>kemlawe</em></a> hendak <a title="meraih"><em>nyaut</em></a> <em>mbili</em> di tenggok.</p>
<blockquote><p>"Hush, nanti dulu. Satu-satu, semua kebagian kok!" Yu Tini dengan sedikit galak <a title="menolak"><em>menggak</em></a> sambil menepis tangan Anthuk.</p></blockquote>
<p>Kang Mbolo dan Mas Petruk dengan cekatan membagikan potongan singkong dan mbili rebus kepada para <a title="anak buah"><em>bolo dhupakan</em></a>nya, yang seperti <a title="ya kayak sampeyan-sampeyan itu"><em>kere</em></a> kelaparan <a title="meminta"><em>nyadhong </em></a>sesuap makanan. Tak sampai hitungan detik, amblas satu tenggok telo rebus dilahap para <em>beyes</em> itu. Maka, <em>ceret</em> menjadi sasaran berikutnya. Entah disengaja, atau karena memang tak ada, Mbokdhe Sarminah hanya membawa <em>ceret</em> tanpa membawa serta gelasnya. Isinya teh anget, dengan sedikit tambahan gula pasir. Tak manis, sekedar <a title="agak ada unsur manisnya, sedikit sekali"><em>klenyit-klenyit</em></a>. Mungkin cuma tiga sendok untuk satu ceret. Jelas konsentrasinya tak cukup menebarkan rasa manis dalam air teh itu. Tapi tak jadi mengapa. Satu persatu mulut beyes itu menganga, dan cucuk ceret pun mampir ke mulut mereka, mengucurkan tetes demi tetes air, menghantarkan kesegaran surgawi.</p>
<p>Telo, mbili dan teh klenyit sudah tandas. Mas Perung dan Kang Mbolo sudah mengangkat senjatanya lagi.</p>
<blockquote><p>"Ayo bocah-bocah, dua angkatan lagi!"</p></blockquote>
<p>Maka kami pun kembali berbaris. Kang Mbolo sengkut mengisikan pasir ke tenggok kami. Kali ini sudah tidak sempat lagi memperhitungkan kuota dan daya angkut kami. Pukul rata. Semua dapat jatah tiga sekop. Tak ada yang protes. Meskipun Thole jalannya sampai kobol-kobol, dan kelihatan lehernya semakin <a title="ambles"><em>mblesek</em></a>. Sudah satu putaran. Tinggal satu <a title="putaran"><em>ambalan</em></a> lagi. Dan selesailah tugas kami pagi ini.</p>
<p>Matahari belum sampai ke titik kulminasinya. Masih kira-kira satu setengah jam lagi menjelang dhuhur. Bapak-bapak dan kakak-kakak kami masih sibuk di atas sana. Sebagian dari mereka masih meratakan tanah di sekitar jalan setapak. Mas Nardi, tukang andalan kampung kami, sedang sibung memasang pondasi untuk <a title="jembatan"><em>sesek</em></a> bambu, dibantu oleh Kang Parjo dan Pakdhe Dulkromo. Sebagian lagi mengerubuti pohon jangkang raksasa itu. Lik Giyono sedang beraksi memangkas dahan-dahan di atas sana utnuk memudahkan penebangan pohon. Bersenjatakan<a title="sejenis kampak"><em> pethel</em></a> dan arit, Kang Giyono dengan tangkasnya berjalan dari satu dahan ke dahan yang lain, mengurangi kelebatan daun, dan memotong dahan-dahan yang dapat mengganggu proses perobohan pohon. Sementara di bawah, beberapa orang bergantian mengayunkan <a title="kampak raksasa"><em>wadung</em></a> dan <em>pethel</em> ke batang jangkang. Perlahan, sedikit demi sedikit, pokok batang jangkang mulai terluka, semakin lama semakin melebar. Hingga akhirnya Pak Dukuh, selaku komandan penebangan memerintahkan Lik Giyono untuk menghentikan memangkas dahan dan turun, karena pohon mulai bergoyang-goyang. Lik Giyono tanpa banyak membantah turun dengan cekatan.</p>
<p>Episode berikutnya, para pengayun wadung menghentikan kegiatannya. Memberi kesempatan kepada Kang Warijo untuk naik ke pohon. Dengan membawa <em>kelat,</em> batang bambu yang dibelah tipis-tipis sebagai tali penarik, Lik Warijo berusaha mencapai dahan tertinggi, dan mengikatkan <em>kelat</em> tersebut. Tak banyak membuang waktu, Lik Warijo sukse menunaikan misinya. Setelah turun, Pak Dukuh menginstruksikan semua orang untuk menghentikan aktivitasnya, dan naik ke tebing untuk bersama-sama menarik tali kelat. Merubuhkan pohon jangkang. Kami, para <em>beyes,</em> tak ingin tertinggal momen menarik ini. Kami beramai-ramai naik ke tebing.</p>
<blockquote><p>"He, bocah-bocah. Awas jangan dekat-dekat. Bahaya!" Pakdhe Dulkromo menghardik kami</p></blockquote>
<p>Kami pun menjaga jarak. Mengkirig juga membayangkan kalau tiba-tiba ambruknya pohon berganti arah dan menimpa kami, apa nggak <a title="hancur berkeping-keping"><em>ajur sewalang-walang</em></a>?</p>
<p>Tinggal 2 orang lagi yang mengayunkan wadung dan pethelnya ke pangkal batang pohon jangkang. Sementara yang lainnya berjejer pasang kuda-kuda sambil memegang kelat bambu, menunggu aba-aba dari Pak Dukuh untuk menarik kelat ke arah tumbangnya pohon. Mas Nardi dan Kang Parjo sementara menghentikan pekerjaan mereka, dan ikut bergabung dengan para lelaki lainnya. Ibu-ibu pun keluar dari dapur Pakde Karyo. Mereka tak mau ketinggalan menyaksikan peristiwa bersejarah ini.</p>
<p>Pohon jangkang mulai sedikit bergoyang. Kami menahan nafas dalam-dalam. Keheningan dan ketegangan semakin mencekam. Hanya terdengar suara mata kampak menghantam pokok jangkang. Banyaknya kisah keangkeran pohon jangkang, serta mitos-mitos tak masuk akal yang sering diceritakan, tak ayal sempat membuat kami miris juga. Takut <em>kesiku</em>. Kualat. Tapi tekat masyarakat kampung kami sudah bulat. Tak bisa lagi dipupus. Kami terus berdoa dalam hati. Pohon kembali bergoyang kali ini agak keras. Dengusan napas tegang semakin nyaring terdengar. Hingga terdengar gelegar suara mengejutkan</p>
<blockquote><p>"Tariiiik!!!"</p></blockquote>
<p>Sekuat tenaga Pak Dukuh berteriak memberikan komando. Bersamaan dengan itu, Lik Paimun dan Kang Kobet, kedua pengayun wadung, berlari menjauh dari pangkal pohon jangkang. <a title="suara mendadak"><em>Mak regudug</em></a>, barisan para lelaki perkasa menarik kelat sekuat tenaga, sambil berteriak-teriak menyamakan langkah.</p>
<blockquote><p>"<a title="satu, dua, tiga"><em>Siji, loro, telu.... siji, loro, telu...</em></a>"</p></blockquote>
<p>Pohon jangkang bergerak semakin kencang. Amplitudonya semakin melebar. Akhirnya sampai sudah batas kelenturan batang jangkang. Perlahan tapi pasti, dengan diiringi suara gemuruh gesekan antara ranting-ranting dan daunnya, pohon jangkang semakin condong dan mulai rubuh ke arah para lelaki penariknya.</p>
<blockquote><p>"Lariiii....!"</p></blockquote>
<p>Tanpa perlu diulangi lagi, komando Pak Dukuh segera diikuti dengan kocar-kacirnya para penarik kelat, menyelamatkan diri dari kemungkinan tertimpa rubuhnya pohon jangkang. Sejurus kemudian suara berdebam yang maha dahsyat mengiringi tumbangnya pohon jangkang. Kami merasakan seolah bumi bergetar. Debu mengepul di sekitar tempat tumbangnya pohon jangkang. Sejenak kami semua terdiam dalam keheningan.</p>
<blockquote><p>"Allahu Akbaar!!!"</p></blockquote>
<p>Kali ini Mbethu yang bikin ulah. Teriakannya mengagetkan kami semua, sekaligus menyadarkan kami. Dan sesaat kemudian, pekik heroik dan sorak sorai warga pun menuntaskan prosesi terhebat pagi ini. Menumbangkan simbol irasionalitas kampung kami. Membungkam tahyul, menyingkirkan <a title="takhayul"><em>gugon tuhon</em></a>.</p>
<p>Beduk berbunyi. Adzan Dhuhur menggema. Beringsut kami ke sungai, mencuci muka, tangan dan kaki. Menu makan siang telah tersedia. Nasi putih yang panas mengepul, <a title="tempe goreng dengan goresan pisau pada permukaannya"><em>tempe garet</em></a>, <a title="sayur nangka muda"><em>jangan gori</em></a>, dan kerupuk <a title="terbuat dari nasi yang dicetak dan dikeringkan"><em>legendar</em></a>. Sungguh membangkitkan selera kami. Sebagian langsung mengerubuti tempat makan, sementara sebagian lagi memilih untuk lebih dulu menunaikan shalat Dhuhur di langgar sebelah rumah Pakde Karyo.</p>
<p>Selepas dhuhur, para lelaki dewasa kembali meneruskan karyanya. Sementara kami, para beyes, bertugas untuk <a title="menggembala kambing"><em>ngangon wedhus</em></a>, atau sekedar <a title="duduk santai makan angin"><em>leyeh-leyeh</em></a> di pinggir sawah.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
