<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>grogol &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/grogol/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "grogol"</description>
	<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 07:07:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mendung Harapan]]></title>
<link>http://jarwadi.wordpress.com/?p=331</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 23:57:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>jarwadi</dc:creator>
<guid>http://jarwadi.wordpress.com/?p=331</guid>
<description><![CDATA[Malam tadi Istimewa. Begitu cara saya mengungkapkan. Alam telah berbaikhati dengan menyiramkan air h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Malam tadi Istimewa. Begitu cara saya mengungkapkan. Alam telah berbaikhati dengan menyiramkan air hujanya di bumi Gunungkidul. Tidak sangat lebat, tetapi cukup untuk menyingkirkan debu debu yang sering menyesakan dada orang orang yang mengisapnya secara tidak sengaja.</p>
<p>Pagi ini langit masih mendung. Saya ingin hujan (lagi) Saya ingin air sungai masih mengalir sampai pertengahan juli mendatang. Syukur syukur bisa lebih.</p>
<p>Mendung yang meneduhkan. <em><strong>Mendung Harapan</strong></em>. Benar kok (dalam arti sesungguhnya). Siapa tahu bila hujan disiramkan lebih lebat lagi. Orang orang tidak lagi membeli air untuk kebutuhan sehari hari. ...</p>
<p>Selamat Pagi Desaku. Selamat Pagi Gunungkidulku</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[P16 Air vs P46 Air, judulnya]]></title>
<link>http://pandasurya.wordpress.com/?p=134</link>
<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 06:33:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandasurya</dc:creator>
<guid>http://pandasurya.wordpress.com/?p=134</guid>
<description><![CDATA[
Kalau kau pernah naik kapal terbang—entah itu maskapai Perkutut Air atau Capung Air—tentu kau p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pandasurya.files.wordpress.com/2008/06/dragonfly-4-ed.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-137 alignleft" style="float:left;" src="http://pandasurya.wordpress.com/files/2008/06/dragonfly-4-ed.jpg?w=128" alt="Capung Sunset" width="190" height="125" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Kalau kau pernah naik kapal terbang—entah itu maskapai Perkutut Air atau Capung Air—tentu kau pernah merasakan yang namanya sensasi kejutan sesaat sebelum kapalmu berangkat lepas landas melayang di udara. Sensasi kejutan itu bisa membuat kita sedikit menahan nafas sesaat-dua saat. Seperti apa rasanya? Pertanyaan seperti ini mungkin sama maknanya ketika kita harus menjelaskan lezat dan maknyusnya makan es krim kepada orang yang belum pernah makan es krim. Artinya, singkat kata, rasanya sulit dilukiskan. Ya, meski sensasi kejutan itu hanya berlangsung sesaat dalam hitungan detik, tapi sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Apakah “rasa” punya kata dalam bahasa manusia?</p>
<p><!--more-baca selanjutnya---></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan selepas merasakan sensasi sesaat itu kita pun akan turut merasakan seperti apa rasanya melayang terbang di udara. Tidak seperti burung memang--yang bisa melakukannya tanpa bantuan mesin. Dan juga tidak seperti Doraemon yang bisa melakukannya dengan bantuan baling-baling di kepala. Tapi tentunya sensasi terbang itu cukup membuat kita merasa senang sekaligus bangga pernah melayang di udara. Toh setiap orang dalam hati kecilnya pasti pernah punya keinginan bisa terbang seperti burung, capung atau Superman bukan?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Nah, kalau kau sudah paham seperti apa rasanya sensasi kejutan sesaat di kapal terbang itu, maka percayalah, jangan pernah tega-teganya kau samakan sensasi kejutan itu dengan sensasi kejutan jika kau naik P16 Air yang berupa kopaja jurusan Tanah Abang-Ciledug atau sebangsa metromini di jalanan Ibukota. Percayalah, kau akan merasakan sensasi kejutan yang super berbeda ketika naik kopaja atau metromini itu. Begitu juga dengan jutaan warga Ibukota yang lain. Meski istilahnya sama-sama sensasi kejutan tapi rasanya jelas ibarat langit dan bumi. Ada rupa ada harga, kata orang. Boleh juga ditambahkan: ada rupa ada harga dan ada pula selera. Kalau sudah bicara soal selera maka jelas selera masing-masing kepala boleh jadi akan sangat berbeda.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tak usah bicara dulu soal selera. Bicara soal harga pun akan sangat jomplang. Bila ingin merasakan sensasi kejutan di pesawat terbang tentu kau harus membayar sejumlah ongkos seharga tiket pesawat yang jelas-jelas beda kelas dengan ongkos naik kopaja P16.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hentakannya? Jangan dulu bertanya tentang hentakannya. Karena sangat boleh jadi--meski belum pernah diteliti secara ilmiah di laboratorium manapun—hentakan di P16 Air ini kemungkinan bisa membuat orang hamil langsung tidak jadi melahirkan atau mereka yang tadinya kebelet buang air atau angin otomatis menjadi sirna keinginannya atau justru sebaliknya, mereka yang sedang kebelet bisa langsung terkabulkan keinginannya saat itu juga, detik itu juga hampir tanpa jeda.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bahkan sesekali, atau seringkali, ketika P16 Air ini melaju seperti dikejar setan melewati jalanan bergelombang, maka kita juga bisa merasakan sensasi terbang sesaat alias melayang alias terlempar dari jok tempat kita duduk dan sesaat kemudian terhempas keras, mendarat terjengkang bukan di posisi kita sebelumnya. Bersyukurlah lekas-lekas jika tak ada organ tubuh yang berpindah dari tempatnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Selain cara mengemudi dan tabiat sopirnya yang memang rata-rata brengsek, jenis angkutan P16 ini pun sebetulnya lebih mirip rongsokan besi berjalan yang sudah uzur dan lebih pantas masuk liang kubur.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>PPD 46</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Lain P16, lain pula P46. Untuk ukuran angkutan umum selain busway atau taksi, bis umum P46 jurusan Kampung Rambutan-Grogol ini memang memiliki tampilan sedikit mendingan ketimbang kopaja P16. Konon menurut bisik-bisik tetangga, bis P46 ini adalah warisan dari negeri samurai, Jepang. Di bagian interior bisnya pun memang masih tertera tulisan huruf-huruf kanji Jepang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tapi benarkah bis ini memang warisan dari Jepang? Apa perlunya memastikan dari mana asal-usul P46 Air ini? Memang rasanya tak perlu benar orang tahu asal-usul bis ini. Toh perkara asal-usul bis ini tak pernah sepelik dan sepenting silsilah keturunan Raja-raja di Jawa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tapi baiklah. Untuk memastikan bisik-bisik tetangga itu rupanya internet bisa memberi jawab. Hari <em>gini</em> teknologi informasi global yang satu ini memang selalu jadi andalan dan hampir selalu terbukti bisa diandalkan. Laporan ilmiah yang bisa dibaca di internet itu antara lain seperti berita dari Tempo Interaktif pada 2004 lalu:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Tahun ini Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) membeli 55 bus</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>bekas dari negara Jepang. Sebenarnya program awal Perum PPD adalah</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>membeli 100 armada bekas dari Jepang, namun karena tidak memiliki</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>dana program itu diurungkan.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Demikian dikatakan Kepala Divisi Hukum, Humas dan Organisasi Tata</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Laksana Perum PPD Safrudin Dahlan kepada Tempo News Room saat ditemui</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>di ruang kerjanya, Kamis (1/7).</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Safrudin mengatakan, pada saat awal PPD telah mengoperasikan 30 bus</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>sejak tahun 2001. Pada tahun ini, tepatnya 5 Juli, Perum PPD</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>mendatangkan lagi 55 bus bekas dari Jepang. Merek bus tersebut antara</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>lain Mitsubishi, Isuzu, Hino, dan Nissan. "Ke-55 bus itu saat ini</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>telah berada di pool PPD," kata Safrudin.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Menurut Safrudin, 30 bus Jepang yang saat ini beroperasi berasal dari</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Departemen Perhubungan yang mendapatkannya dari hibah pemerintahan</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>kaisar Jepang. Selama dua tahun beroperasi, tambahnya, bus Jepang</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>tersebut belum pernah mengalami kerusakan yang fatal. Disamping itu,</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>kalaupun ada kerusakan, onderdil dan suku cadangnya mudah didapat di</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Indonesia karena kebanyakan mobil yang dipasarkan di Indonesia</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>berasal dari Jepang.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>"Itulah yang menjadi alasan kenapa kita membeli bus bekas dari</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Jepang. Di samping tentunya ada pertimbangan ekonomi dan teknis,"</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>ungkap Safrudin.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Armada bus PPD saat ini sudah berusia di atas 10 tahun. Padahal, umur</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>maksimal bus untuk masih bisa beroperasi adalah tujuh tahun. Menurut</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Safrudin, setiap satu tahun sekali bus PPD dilakukan uji emisi. Hal</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>itu dilakukan bersamaan dengan waktu kir mobil. "Selama ini tidak</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>terjadi masalah dengan armada dan awak PPD," ujarnya.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Perawatan armada PPD, menurut Safrudin, menjadi tanggung jawab</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>bersama antara staf kantor, awak, dan teknisi Perum PPD. Saat ini</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>terdapat 700 armada bus PPD, 1.563 sopir, 912 kondektur, 1.088</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>teknisi, dan 1.640 staf kantor.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Demikianlah sepotong berita di internet memberi jawab.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Nah, meski tampilannya memang lebih mendingan dibanding kopaja atau metromini tapi jangan dikira bis P46 ini terbebas dari cela dan steril dari dosa. Bagi mereka yang sudah makan asam garam menaiki P46 Air ini pastinya ada banyak kisah komedi konyol atau menegangkan yang terjadi di dalam bis ini. Misalnya saja ketika P46 yang penumpangnya sedang penuh ini direm secara mendadak tanpa permisi maka kepala seorang penumpang mungil yang sedang berdiri bisa tiba-tiba mendarat nyangkut di ketiak penumpang lain. Apa boleh buat, bagi penumpang bertubuh mungil ini wangi buah kesturi busuk mungkin jauh lebih mendingan ketimbang aroma ketiak tempat kepalanya mendarat.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Belum lagi di P46 Air ini juga tidak jarang terjadi tindak kriminal kelas teri seperti pencopetan. Pernah suatu kali, kata laporan pandangan mata dari seorang saksi mata, ada <span> </span>seorang bule warga negara asing yang nekat naik P46 ini. Di harinya yang naas itu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pencopetan itu berlangsung secara <em>live</em> persis di depan hidungnya. Spontan si bule ini berteriak dengan gagahnya seperti pahlawan kesiangan, “Heiiiiii, Pak sopirrrrrrrr.. hentikan mobilnya! Ada pencuri di bis Anda. Penumpangggggg hati-hati ada pencuri! Awas hati-hati tas Anda!” Tapi sayangnya, tak seorang penumpang pun mau peduli dengan peringatan si bule. Ya, itulah warga Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Kejar Setoran = Dikejar Setan</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal">Sesungguhnya semua yang terjadi di atas P16 Air maupun di P46 Air ini secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan perilaku, tabiat dan keberadaan sang sopir. Dan yang namanya sopir rumus hidupnya selalu sederhana: urusan perut di atas segalanya. Tak peduli penumpang yang dibawanya harus jungkir balik terjengkang, kecopetan atau berdesakan, yang penting semua adalah demi kejar setoran. Maka demi kejar setoran mengemudikan kendaraannya seperti dikejar setan pun menjadi tak masalah, bahkan sangat mungkin dianjurkan. Pada intinya memang semuanya sama belaka: kejar setoran.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ya, kejar setoran, memang. Dua kata itu seolah jadi mantra sakti yang tak seorang sopir angkutan lulusan manapun sanggup melawannya. Dua kata itu menjadi perangsang, pemicu utama sekaligus penggugah jiwa bagi para sopir. Dua kata itu juga adalah penyemangat sekaligus ancaman kelangsungan hidup. Dan dua kata itu memang sudah jauh tertanam di kepala masing-masing sopir angkutan. Tak seorang malaikat pun bisa mengubahnya, apalagi manusia. Memang sudah begitu dari sononya. Hukum alam memang kejam, dan seringkali tak tertandingi hukum bikinan manusia.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Karena bagi sang sopir urusan perut tak pernah ada demokrasinya dan tak pernah ada hubungannya dengan masyarakat yang masih primitif, atau belum beradab dari segi peradaban.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pada akhirnya, entah itu di P16 Air, P46 Air, maupun di maskapai yang lain, penumpanglah yang lagi-lagi jadi korban dan dipaksa harus memaklumi sambil mengurut dada karena kenyataan yang ada.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pandasurya</p>
<p class="MsoNormal">Jakarta, Mei-Juni 2008</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jakarta Banjir lagi]]></title>
<link>http://katherinearta.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 07:27:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Katherine Arta</dc:creator>
<guid>http://katherinearta.wordpress.com/?p=6</guid>
<description><![CDATA[tgl 1 Februari 2007, hujan turun terus sejak pagi2 buta.

Pas gw mo balik dari kampus gw,  ternyata ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>tgl 1 Februari 2007, hujan turun terus sejak pagi2 buta.<br />
<img src="http://katherinearta.wordpress.com/files/2008/02/semanggi1.jpg" alt="semanggi" /><br />
Pas gw mo balik dari <a href="http://www.trisakti.ac.id/?fac=fod">kampus gw</a>,  ternyata banjir udh menggenangi jalan.<br />
Di depan Citraland, Untar, diperkirakan ketinggian air sudah melebihi lutut org dewasa...<br />
Terpaksa gw balik dengan bajaj, lewatin tomang tanah tinggi, trus mpe sebrang Taman Anggrek.<br />
Di sana gw nungguin bis, but ga dtg2.<br />
Mobil2 yg menuju ke slipi, kalideres, pluit, dari cawang, terpaksa ga bisa lewat.<br />
Akhirnya, sepanjang tol cawang hingga kalideres macet total<br />
Tpaksa naek taxi mpe Kp. Rambutan, coz ga ada bus nenuju rumah gw yg lewat.<br />
dengan sedihnya, gw ngeluarin 76rb bwt bayar taxi.. hiks T_T.</p>
<blockquote><p> Peristiwa ini terulang lagi, tepat 1 tahun setelah banjir tahun lalu.<br />
Bwt warga Jakarta, jgn hanya meminta bantuan saja dari pemerintah!<br />
Tp, qta ikut2an membersihkan Jakarta... (yakin lu??!!)<br />
Ya.. minimal, ga buang sampah sembarangan, itu udah lebih dari cukup koq!</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Liburan tahun baru  2008 dirumah eyang ku]]></title>
<link>http://qonitta.wordpress.com/2007/12/29/liburan-tahun-baru-2008-dirumah-eyang-ku/</link>
<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 09:47:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>qonitta</dc:creator>
<guid>http://qonitta.wordpress.com/2007/12/29/liburan-tahun-baru-2008-dirumah-eyang-ku/</guid>
<description><![CDATA[hari ini kami sekeluarga berlibur kerumah nenek di grogol .Kami berangkat menggunakan taksi putra.
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>hari ini kami sekeluarga berlibur kerumah nenek di grogol .Kami berangkat menggunakan taksi putra.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Bajaklaut kerap membawa Kakatua?]]></title>
<link>http://gilangperdana.wordpress.com/2007/12/03/mengapa-bajaklaut-kerap-membawa-kakatua/</link>
<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 15:50:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>gilangperdana</dc:creator>
<guid>http://gilangperdana.wordpress.com/2007/12/03/mengapa-bajaklaut-kerap-membawa-kakatua/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan: Mengapa bajak laut sering membawa burung kakaktua
Jawab: Sebab dinosaurus terlalu berat.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan: Mengapa bajak laut sering membawa burung kakaktua</p>
<p>Jawab: Sebab dinosaurus terlalu berat.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[*Jaga Muntahan dan Fengsui*]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/19/jaga-muntahan-dan-fengsui/</link>
<pubDate>Sun, 19 Mar 2006 15:13:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/19/jaga-muntahan-dan-fengsui/</guid>
<description><![CDATA[Date: Tue Dec 6, 2005  4:44 am
Anda pernah baca buku saku Detective Fengshui, sebuah novel yang kono]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Date: Tue Dec 6, 2005  4:44 am</p>
<p>Anda pernah baca buku saku Detective Fengshui, sebuah novel yang konon membuat orang ultra serius macam PM Senior Singapore, Lee Kuan Yew bisa ngekek tersengal-sengal. Penulisnya secara kocak menggunakan fengshui menjadi menggelitik karena dihubungkan dengan pemecahan kasus kriminal yang pelik.</p>
<p>Pedagang-pedagang kawasan Grogol, masih banyak yang menggunakan jasa ahli GeoMantis atau Fengsui dalam menentukan letak lokasi yang sip untuk berniaga. Sebuah rumah ditawarkan sekitar 200 jutaan kepada orang biasa, mungkin ditengokpun tidak. Namun, dimata ahli fengsui, bisa saja rumah tadi lepas dengan harga berlipat dari penawaran semula.  Tidak ketinggalan Pedagang Bakmi di Grogolpun banyak menggunakan jasa ahli Hongsui</p>
<p>Anda saya ajak mengambil contoh dua pedagang bakmi, sebut saja Jambi dan Bangka karena memang mereka berasal dari kedua daerah ini. Sejatinya tidak ada bakmi Jambi atau Bakmi Bangka yang kesohor di tanah tumpah darah kerupuk dan martabak manis itu,  namun berkat kedua orang ini nama daerahnya semakin unjuk gigi seperti halnya nama desa Madurejo-Sleman  yang mulai ngetop-top dan saya yakin tidak lama lagi bakal didatangi pemudik-pemudik berniat * angsu*-*kawruh*, dan datang ke  *tkp* Swalayan Madurejo milik pak Kaji Yusuf Iskandar.</p>
<p>*Bakmi Jambi Melawan Fengshui*</p>
<p>Pemadat bakmi Grogol sudah maklum nama bakmi Jambi belakangan ini kesohor, cirinya mereka mengobral kecap manis pada masakannya, inilah tempat yang * sip-makglesip* untuk goyang lidah dan sumpit yang berlokasi di jalan Dr. Susilo, berjarak 50 meter dari jalan Tol Pluit Grogol.</p>
<p>Pesaingnya langsung "*jaga laler*" kalau bakmi ini mulai buka gerobak.</p>
<p>Semula lokasi ditempat Bakmi Jambi berada boleh terbilang tidak menarik calon penyewa. Pemilik rumah menjadi saksi hidup bagaimana pelaku ekonomi yang menyoba peruntungan (sewa halaman) dirumahnya, nasibnya mirip roket, mula meluncur gagah-perkasa untuk lunglai kemudian.  Orang bilang "fengshui" kurang bagus. Tempat itupun kemudian sepi sampai akhirnya datang sang bakmi Jambi.  Herannya, ketika Jambi naik daun, dan para clowner pada berdatangan mangkal ditempat yang sama, dan ikutan laris manis tanjung kimpul…</p>
<p>*Bagi Rejeki Terhadap Pedagang Lain*</p>
<p>Lantas bagaimana pengusaha bakmi-bakmi yang lain akan bersaing. Padahal kalau diadu dengan Bakmi Jambi yang sedang naik daun, jelas mereka bukan tandingannya.  Namun lagi-lagi GeoMantis berpengaruh disini.</p>
<p>Rupanya pedagang memiliki kode etik seperti kapan harus dagang, kapan harus ongkang-ongkang kaki. Lihat saja, penjual Sup Kerbau Barokah, dikawasan Cilandak. Ketika Ramadan tiba, sekalipun mereka tahu persis saat berbuka puasa tiba umumnya orang akan berbuka dengan menyruput santapan hangat dan berkuah seperti Sup Kerbau, apalagi daging sup Barokah terkenal empuk begitu sampai di lidah, tetapi mereka pilih tutup sebulan penuh.</p>
<p>Kembali ke Bakmi Jambi. Saat jarum menunjukkan angka 14:00 umumnya dagangan sudah  tandas namun tidak ada niat mereka menambah volume penjualan. Ibarat sehari mampu menghabiskan 10 kilo bakmi,  maka jangan coba menambah volume dagangan lagi *mendak* tidak laku samasekali. Berdasarkan prinsip  "*terimo ing pandhum*" alias harus mengukur kemampuan kantong rejeki. Andai masih nekat mau menggaruk lebih banyak keuntungan dengan tajuk "buka cabang" atau memperluas wawasan, boleh saja, tapi silahkan di lokasi lain.</p>
<p>Menjelang siang biasanya ada saja langganan yang tidak kebagian. Daripada pulang kecewa, mereka tarik bangku di gerobak Abun dari Jambi. Tak ada Jambi, Bangkapun jadi, prinsipnya.</p>
<p>Tak heran saat karyawan bakmi Jambi sibuk mencuci tumpukan piring, mangkuk, sumpit, sendok, gelas, botol minuman dan berbenah pulang, maka gerobak dorong Abun justru mulai gelar tenda.</p>
<p>Kita bicara bakmi tendaan lho.</p>
<p>Abun, nama aselinya Bunyamin, memang cerdik, kalau bakmi pesaingnya hanya memasang satu jenis Ayam Kampung. Bagi Bunyamin eh Abun, yang memilih pakai nama berawal A, sebagai keinginan menjadi nomor satu, dan hoki, pembeli boleh memilih sesuai kocek.  Ia  membuat dua opsi yaitu bakmi dengan ayam negeri dengan beda miring  "*seceng*" alias seribu perak. Penggemar ayam negeri maunya daging langsung leleh, lebur  saat bertemu lidah.  Sementara pemilik lidah snobis, boleh memilih ayam kampung lantaran ada perlawanan di lidah, kadang sampai *keslilitan*.</p>
<p>Abun juga haqul-yakin bahwa kulit ayam mengandung banyak zat nikmat membawa sengsara yaitu kolesterol tinggi. Namun Abun juga sadar,  yang berbahaya tidak selalu diemohi orang sehingga perlu diakomodasikan agar menarik dengan resiko ditanggung pemilik tembolok.</p>
<p>Caranya, ayam dibuang kulitnya. Semua bakmi Abun memang tanpa kulit ayam. Kulit ayamnya sendiri diolah menjadi kerupuk goreng, dan gilanya disediakan gratis. Anda boleh makan sepuasnya kerupuk "renyah, gurih, nikmat"  sampai kepala terasa *lieur* karena memang HDL teramat tinggi. Apalagi kebiasaan Abun menambahkan garam di gorengan kulit ayam, dari sekedar *niat ingsun*icip-icip jadi *niat banget*. Habis enak *cum* prodeo pisan.</p>
<p>Dengan cara inilah ia menggaet pelanggan. Setidaknya Abun sudah membuktikannya bahwa fengshui bukan harga mati, alias masih bisa disikapi. Kalau tidak mampu bersaing dengan yang kuat sebaiknya berkolaborasi tanpa harus berbisik-bisik "pakai Gunung Kawi…"</p>
<p>mimbar SAPUTRO</p>
<div CLASS="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Binus semula berasal dari kursus komputer]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/18/binus-semula-berasal-dari-kursus-komputer/</link>
<pubDate>Sat, 18 Mar 2006 07:54:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/18/binus-semula-berasal-dari-kursus-komputer/</guid>
<description><![CDATA[Artkel #578
Sat Feb 26, 2005 9:13 am Subject: Dari kursus terbitlah BINUS
Awal keberadaan saya di Gr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Artkel #578<br />
Sat Feb 26, 2005 9:13 am Subject: Dari kursus terbitlah BINUS</p>
<p>Awal keberadaan saya di Grogol tahun 1978-an saat teknologi komputer masih berkutat dalam bahasa Basic, Cobol, Fortran maka diujung jalan dr. Makaliwe, Grogol, muncul kursus komputer yang dikelola oleh keluarga Wibowo.</p>
<p>Saat kursus dibuka secara kecil-kecilan, lalu mulai mencari letak yang sedikit strategis, sampai akhirnya kursus ini seperti tenggelam.</p>
<p>Padahal sebetulnya mereka sudah bermetamorfosa menjadi sebuah Universitas yang kita kenal sekarang sebagai Bina Nusantara. Tidak pernah ada yang menyangka bahwa pak Wibowo yang kebetulan mempunyai puteri sangat kompeten dalam dunia komputer saat itu.</p>
<p>Putri ini kelak dikenal sebagai ibu Th. Widya (alm). Agak sulit saya mengorek sisi kehidupan keluarga Wibowo ini. Umumnya hanya mengenal sebagai pribadi yang religius dan "low profile".</p>
<p>Pada 24 Desember 2004, saya baca di harian Kompas bahwa salah satu pendiri Binus dan Rektor yang saya anggap legendaris, Widya, tutup usia 54 tahun. Saya tidak mengenalnya secara pribadi namun tahu bahwa keluarga asal Grogol ini menggores sejarah dunia perkomputeran di Indonesia. Dunia pendidikan kehilangan seorang tokoh.</p>
<p>Padahal tempat dimana ia buka kursus Modern Computer Course lokasinya dipercaya hanya hokie untuk urusan ikan dan percetakan. Ternyata betul juga pendapat paranormal Geomanchi, keluarga Wibowo berhasil menjadi percetakan "sarjana komputer".</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Short Cut ke Grogol]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/17/short-cut-ke-grogol/</link>
<pubDate>Fri, 17 Mar 2006 12:11:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/17/short-cut-ke-grogol/</guid>
<description><![CDATA[Date: Mon Oct 4, 2004  2:22 pm
&#8220;Boleh tahu akses jalan ke RSJ Grogol, saya tinggal di Kuningan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Date: Mon Oct 4, 2004  2:22 pm<br />
"Boleh tahu akses jalan ke RSJ Grogol, saya tinggal di Kuningan" begitu bunyi SMS dari seorang teman lama. Langsung dijawab : "masuk Tol arah Pluit, keluar pintu Vramp di Slipi Jaya, jangan sampai kebablasan. Lalu melewati Mall Taman Anggrek, Mall CitraLand, turun dibawah layang Grogol, Lewat Terminal Grogol, dan balik arah sebelum pintu Kereta Api."</p>
<p>Rupanya sang penanya bingung. Pasalnya dia belum pernah ke Jakarta Barat. Lalu ia tanya lagi. "wah aku keder (bingung), ada akses yang lebih cepat dan mudah?"</p>
<p>Dan dijawab,</p>
<p>"Sampeyan telanjang bulet di jalan raya Kuningan sambil jogetan, nanti kan sampai ke Rumah Sakit Grogol..."</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perokok muda usia]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/16/perokok-muda-usia/</link>
<pubDate>Thu, 16 Mar 2006 14:12:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/16/perokok-muda-usia/</guid>
<description><![CDATA[Date: Wed Jul 28, 2004  11:18 pm
Aditya nampak duduk tenang, wajahnya acuh tak acuh akan pembeli yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Date: Wed Jul 28, 2004  11:18 pm<br />
Aditya nampak duduk tenang, wajahnya acuh tak acuh akan pembeli yang datang dan pergi di kios bang Opik, milik ayahnya. Sebatang rokok putih pendek terselip dibibirnya. Nampaknya sudah lama diisapnya.  Harusnya ia mulai merasakan bara rokok di jarinya. Sesekali matanya nampak menyipit karena asap yang berasal dari batang rokok yang kian pendek. Sesekali asap dihembuskan keluar mulutnya, tanpa terbatuk. Perokok kawakan akan memasukkan asap kedalam paru-parunya sebelum disemburkan keluar. Tapi  Adit belum mencapai tingkatan tersebut.  Bicaranya belum lancar. Maklum usianya baru 3 tahun (tiga tahun)</p>
<p>Selain perokok, aa memanggil hampir semua penjual makanan yang lewat didepannya. Kalau perutnya sudah kenyang, maka sasarannya adalah pedagang mainan. Ini yang membuat bang Opik dari pedagang rokok "lang" asal Kuningan sering mengeluh akan kelakuan putra satu-satunya. "sehari bisa 20 ribu rupiah buat jajannya saja. Saya nggak tahan mendengar amukannya kalau kemauannya tidak dikabulkan."</p>
<p>Padahal ia hanya berdagang secara rotasi dengan kawannya bang Widodo, "back to back" Selama sebulan di kawasan Grogol, ia berdagang 24 jam sehari, terkadang tidur di kios yang hanya berukuran 1,5 kali 2 meter.  Saat "off" sebulan ia mencari nafkah sebagai petani.</p>
<p>"Apakah ada orang membeli rokok diatas jam 24?"<br />
"kalau tidak saya tungguin, bakal habis dagangan saya digasak maling," katanya.<br />
O gitu..<br />
Grogol dilawan.</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemilu 5 April 2004 - mendukung SBY kali ini]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/14/pemilu-5-april-2004-mendukung-sby-kali-ini/</link>
<pubDate>Tue, 14 Mar 2006 08:03:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/14/pemilu-5-april-2004-mendukung-sby-kali-ini/</guid>
<description><![CDATA[Minggu 5 April 04 saya masih berada di Citayam - Bogor, semula saya pikir akan kehilangan hak suara.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu 5 April 04 saya masih berada di Citayam - Bogor, semula saya pikir akan kehilangan hak suara. Untungnya setelah tanya sana sini, kartu coblosan saya akhirnya "diketemukan" di Kelurahan Grogol Petamburan dan saya mendapatkan bilik suara (TPS) nomor 24 yang terletak di jalan dr. Susilo Grogol.</p>
<p>Sepanjang perjalanan Citayam ke Grogol saya melihat para remaja berpakaian se"modis" mungkin sebab inilah acara bujang-gadis yang tak resmi. Bisa ketemu pacar, atau cari pacar. Yang sudah berkeluarga, acara lima tahun sekali digunakan untuk silaturahmi antar kerabat.</p>
<p>Di Citayam, anak lelaki 15-16 sudah maju jalan dengan semangat 45, untuk melakukan coblosan pribadi. Hatta menikah diusia sangat belia, menjadi tanggungan mertua adalah hal yang terbilang wajar. Prinsipnya daripada sempak (cd) melorot dimana-mana, lebih baik di"pool" disatu tempat. Satu-satunya sisa kampanye yang menjadi pembicaraan janji caleg untuk kasih uang bensin Rp. 20.000 yang ternyata masih sekedar wacana. "Boro-boro duit, air es ajah nggak keluar... sial bener." demikian umpatan anak muda (rata-rata panji klantung), gara-gara "dana kampanye" tidak cair-cair.</p>
<p>TPS umumnya dipasang di pinggir jalan sehingga tidak heran beberapa ruas jalan tertutup sehingga Kijang Silver (dulu abu2) harus melakukan manuver memasuki jalan tikus sampai jalan cindil menghindari keramaian dan kerumunan massa. Jam 10-an sampailah saya di TPS yang sepi. Kali ini kebingungan melanda. Seorang ibu dengan ramah memberikan bimbingan untuk menyoblos partai dan gambarnya. Ini luar biasa "kampanye di bilik suara masih dilakukan.."</p>
<p>Jarak saya dan ibu caleg cuma sekitar 480 mm. Tapi saya merasakan 480.000 tahun cahaya jauhnya alias jauuuuh banggget.</p>
<p>Para Caleg ini orang Grogol yang tidak saya kenal, andaikata saya kenal "kesannya" mereka orang jauh yang baru dekat setelah "ada maunya".  Tetapi pilihan harus dilakukan. "Mak Gedanduk" ini istilah tiba-tiba, muncul gambar Sarwono Kusumaatmaja yang seperti menutup wajah caleg lainnya. Dan saya hanya menyoblos tanda partai nomor 9 tanpa coblos gambar caleg yang "ratusan tahun cahaya."</p>
<p>Partai ini dipilih semata karena simpati akibat dia di "ngis-ngis" oleh oknum partai arogan lainnya. Dari mulai julukan "anak kecil", sampai "mundur setengah hati" - Saya seperti melihat kasus "inul" jilid dua.  Akibatnya saya yang biasanya apatis soal politik, tiba-tiba berubah menjadi semacam perlawanan. Tahu sih, partai baru mana bisa langsung menang. Kalau mau jujur juga sejak 1955, partai bernafaskan keagamaan juga umumnya salah langkah untuk menang. Kecuali akal-akalan seperti tempo hari. Dulu saya menyoblos partai Banteng setelah sebelumnya partai Kuning terus. Namun partai Banteng seperti kesetanan menjual aset Negara, plus kehilangan SIpadan dan Legitan membuat saya kuatir negara ini bakal habis.</p>
<p>Saat mencoblos hujan turun, dan sialnya bilik suara dibangun tanpa peneduh. Tapi apa boleh buat, coblos tetap coblos. Panitia sempat memperingatkan ada dua halaman yang harus dilipat dalam satu amplop. Saya bingung bagaimana melipat kembali dengan baik.</p>
<p>Ketika jari saya masukkan ke botol tinta. Ada aroma yang sangat saya hapal. Ini sekedar cairan PK yang biasa untuk membersihkan koreng. Tetapi konon didatangkan dari luar negeri. Padahal kalau saya mengobati gurami sakit dengan cairan PK, sampai seminggu-pun bekas tinta tidak juga lepas dari kulit.</p>
<p>Sebuah SMS masuk. Anak saya di KBRI Singapore tanya "Nomor partai SBY berapa?" - rupanya dia bingung. Dia akan bingung lagi kalau baca berita bahwa perhitungan suara elektronik TI yang dibanggakan KPU sebagai "tempered free" ternyata cuma macan kertas. Seperti yang dikuatirkan ayahnya beberapa waktu berselang. Sekarang saatnya lapar. Semua kedai tutup kecuali sebuah warung Bakmi yang biasanya tidak pernah saya lirik "Aboen, aseli ayam kampung".  Tapi luar biasanya, kecapnya Cap Bango.  Tanpa pikir panjang kudapan segera saya serbu...Wah lahap sekali makan.</p>
<p>Mudah-mudahan pilihan saya SBY bisa menjawab semuanya.<br />
Dan tak sepeserpun saya dapat uang kampanye lho.</p>
<p>TPS No 24 Grogol<br />
5 April 2004</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemilu 2004]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/14/pemilu-2004/</link>
<pubDate>Tue, 14 Mar 2006 07:51:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/14/pemilu-2004/</guid>
<description><![CDATA[Hari Minggu saya nonton acara yang menarik dari &#8220;Aa Gym&#8221;, ilmu yang diperoleh. Jangan ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu saya nonton acara yang menarik dari "Aa Gym", ilmu yang diperoleh. Jangan jadi golput sebab mungkin saja satu suara anda memenangkan pemimpin yang akan mengangkat bangsa dari lubang kehinaan. Tekad saya semakin bulat (eh bukan kampanye ini), saya harus nyoblos. Terbayang berkumpul dengan orang baik, setengah baik, kecu, begal dalam suasana ramah tamah. Hal yang hanya dilakukan 5 tahun sekali.Namun akan tetapi walaupun...</p>
<p>Sorenya pengurus RT datang membawa daftar pemilih, dan seperti disengat kalajengking rasanya ketika nama saya, seorang warga yang sudah 25 tahun tinggal di Grogol, dinyatakan tidak terdaftar. Sebetulnya masalah ini sudah jauh-jauh hari dikumandangkan kepada wakil lurah, para pamong, kenapa saya belum menerima wara-wara soal pemilu. Mereka selalu yakin, jangan kuatir kami bekerja extra keras, kami berbuat yang terbaik. Bapak tinggal di rumah dan daftar pemilih akan kami sampaikan.</p>
<p>Korban seperti saya ini masih berjamaah saya pikir (artinya banyak sekali).</p>
<p>Dan penantian 5 tahun saya sia-sia.</p>
<p>Mimbar Seputro</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bakso van Grogol]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/14/bakso-van-grogol/</link>
<pubDate>Tue, 14 Mar 2006 04:33:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/14/bakso-van-grogol/</guid>
<description><![CDATA[Date: Thu Mar 25, 2004  2:55 pm 13182
Sebuah kendaraan mirip Jeep keluar dari pelataran parkir Bakso]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Date: Thu Mar 25, 2004  2:55 pm 13182<br />
Sebuah kendaraan mirip Jeep keluar dari pelataran parkir Bakso Mahkota, Grogol. Sekalipun jalan Semeru Raya dan Makaliwe Raya adalah jalan besar, namun pengemudi kendaraan ini lebih suka mengambil jalan tembus dengan masuk kesebuah gang sempit muat satu kijang plus papasan dengan bajaj, yaitu jalan   Semeru Gang III. Tidak dinyana, seorang bocah usia dibawah 1 tahun merangkak keluar dari rumah tanpa menengok kiri kanan langsung menyeberang jalan eh gang, supir terlambat bereaksi karena masih terbayang nikmatnya bakso bulat. Akibatnya terjadi serempetan kecil. Warga hanya menahan pria tersebut yang menurut pengakuannya baru saja selesai jajan Bakso Mahkota. Dan dia bukan warga Grogol.</p>
<p>Dimana Bakso Mahkota itu.</p>
<p>Letaknya di jalan dr. Semeru Raya No 55 Grogol, dekat dengan Stadion Olah Raga Grogol, tepatnya berhadapan dengan mesjid Al Muhajirin. Ada 7 meja panjang di gelar disana sehingga kalau satu meja terisi 10 orang, paling tidak 70 orang bisa nongkrong di warung itu. Dan memang, lokasi warung sangat strategis, disamping kiri saya adalah pasar burung termasuk jual kroto, samping kanan saya bengkel knalpot, plus pedagang kerajinan rotan.</p>
<p>Apa yang menarik dari Bakso Mahkota ?</p>
<p>Begitu anda masuk dan pesan bakso, maka akan terpampang harga semangkuk bakso Rp. 6000 dan sederet harga minuman. Pelayanannya yang berlogat Tegal dan rata-rata anak muda melayani anda secara super cepat.  Maklum makanannnya super bakso. Yang unik, didepan anda disediakan satu toples penuh bawang goreng, satu keranjang rajangan daun sledri/daun bawang. Dan ini dia, hal kecil yang disajikan tetapi menjadi nilai plus bagi saya yaitu kecap manis. Luar biasa, Botol-botol segar berisikan Kecap Bango diumbar secara berlebihan. Padahal saya teramat fanatik terhadap moncong hitamnya sang bango.  Sehingga keluarga kami mengatakan  kecap lain yang biasanya cuma seperti "gula gosong   jadi lewat.</p>
<p>Mana ada resto lain ngumbar gorengan bawang merah dan rajangan daun bawang begitu kelewat  dermawannya.</p>
<p>Inilah warung bakso kondang di Grogol. Ada bakso Urat, bakso daging, bakso tahu. Kualitas bakso sangat diperhatikan disini sehingga walaupun tanpa direndam "obat pengawet mayit" yaitu formalin, namun rasa dagingnya kalau digigit "ada timpalannya"- kalau kata orang Citayam. Kenyal dan gurih. Kalau saya sudah 25 tahun tinggal di kawasan ini, maka paling tidak itulah usia warung tersebut. Diawali dengan penjual angkringan, tahu-tahu bikin tenda, tahu-tahu sudah ngetop. Mas Slamet penjual bakso yang bersih dan gurih ternyata sampai 20 tahun lebih masih harus "ngider ngampung", sementara rekannya bisa pasang pelang nama "Bakso Mahkota"</p>
<p>Dan sayangnya mereka belum berniat membuka cabang di lain tempat, sehingga anda penikmat bakso terpaksa harus real bertandang ke Jalan dr. Semeru Raya no 55, Grogol</p>
<p>Oh ya satu lagi, kuah bakso disini selain panas, aroma bawang putihnya pol-polan. Jadi ada sifat antibiotiknya gitu.</p>
<p>Bakso bakso.</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jembatan Grogol]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/12/jembatan-grogol/</link>
<pubDate>Sun, 12 Mar 2006 13:24:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/12/jembatan-grogol/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah jembatan nomor 58 yang terletak di Tanjung Grogol ke Bacherats-gracht yang di dandani sejak M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah jembatan nomor 58 yang terletak di Tanjung Grogol ke Bacherats-gracht yang di dandani sejak Mei 1903 selesai pada pertengahan Oktober 1903.</p>
<p>Bacherats-gracht adalah kanal buatan kumpeni yang dibuat dari Kampung Gusti (Jelambar) ke Jembatan Lima. Dalam peta buatan 1903, di kawasan Sawah Lio (Latumeten) tercetak legenda "jembatan-baru" yang kemungkinan besar adalah Jembatan nomor 58. Dengan selesainya jembatan ini, Penduduk Glodok yang ingin berziarah ke kuburan kerabatnya di Tanjung Toapekong sekarang tidak harus memutar-putar.</p>
<p>Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan. Nama Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok.</p>
<p>Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata pak dalang "jalma mara-jalma mati" alias menyeramkan. Sudah barang tentu di kawasan ini banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat memburunya dengan memasang perangkap (garogol). Hewan yang masuk ke perangkap mirip ciptaan "geek" alias soldadu Vietnam dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena darahnya dihisap oleh "mahluk misterius" yang sekarang kian marak di Depok.</p>
<p>Konsekwensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali Garogol.  Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol, kampung Grogol.</p>
<p>Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol meliwati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta. Kalau yang memberi nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya "Grogol Perjuangan."</p>
<p>Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni. Pasalnya volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil.</p>
<p>Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang ini. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah tetapi meresahkan masyarakat. Pasalnya air yang muncrat tadi kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan noda kuning dan berbau got. Bertepatan dengan alat pompa yang sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak dipertunjukkan.</p>
<p>Soal nama jalan juga unik. Nama jalan disini mengambil nama pahlawan seperti Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia, disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung. Nama dokter Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr. Muwardi.</p>
<p>Banyak surat pos datang kepada saya dengan alamat Jalan Gunung Semeru, Grogol (dulu). Untung saja pak pos paham akan kesalahan dimana lokasi daerah dengan Kode Pos 11400 (ini pentingnya menulis Kode Pos dalam setiap surat, kalau terjadi kebingungan nama bisa merujuk ke kode pos).</p>
<p>Tahun 1960, Grogol menjadi ngetop lagi sekalipun rada minir, sebab disana di bangun Rumah Sakit Jiwa sehingga konotasi "dasar Orang Grogol" sering berarti orang yang kurang satu strip lantaran kabel hijau (masa) di otaknya ada yang lepas.</p>
<p>Pada 1970, nama Grogol kembali menjadi buah bibir pembicaraan orang karena dibangun Terminal Bis yang besar di sana. Belakangan terminal yang sangat ramai ini di pindahkan ke KaliDeres yang bisnya sering menyingkat plang trayek sebagai "X-deres". Sekali tempo ada orang mendapat kecelakaan dijalan raya sehingga napasnya sudah tinggal satu-satu saat dibawa ke RS Sumber Waras. Karena tidak ada keluarga yang menunggunya, seorang suster membisikkan kata "nyebut Bang" - sebuah tradisi untuk melafalkan nama Tuhan ketika seseorang dalam keadaan koma. Si abang nampaknya mengerti, mulutnya lirih menyebut sesuatu sebelum meninggal "g a r  o g o l, g a r o g o l" - Kernet bis rupanya dia.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
