<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>giant-step &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/giant-step/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "giant-step"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 20:27:30 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Free Mp3s from Giant Step]]></title>
<link>http://ivied.wordpress.com/?p=102</link>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 17:31:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Thomas</dc:creator>
<guid>http://ivied.wordpress.com/?p=102</guid>
<description><![CDATA[
I just saw today that the New York based record label/promontion company Giant Step started to give]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Giant Step" href="http://www.giantstep.net"><img class="alignright" style="float:right;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c6/Giant_Step_logo.png" alt="Giant Step Logo" width="150" /></a><br />
I just saw today that the New York based record label/promontion company <a title="Giant Step" href="http://www.giantstep.net">Giant Step</a> started to give away free Mp3s of their artist <a title="Free Mp3s from Giant Step" href="http://www.giantstep.net/features/56">here on their website</a> (right now there are 35 tracks).</p>
<p>And there are a few really great Tracks among them. Here are my favourites:</p>
<p>- RSL "Wesley Music"</p>
<p>- One Self - "I Don't Want Nobody ft. Katherin Deboer"</p>
<p>- Bitter:Sweet- "The Mating Game"</p>
<p>- The Brand New Heavies - "Right On"</p>
<p>- Nina Simone - "Turn Me On (Tony Humphries Vocal Mix)"</p>
<p>- Sara Devine - "Take Me Home"</p>
<p>- Morcheeba - "Everybody Loves A Loser (Cassettes Won't Listen Remix)"</p>
<p>You can also listen to more great track of artists on Giant Step by going to the <a title="Giant Step Jukebox" href="http://www.giantstep.net/jukebox/play">Giant Step Jukebox</a> (by the way you can also listen to most editions of Gilles Peterson's Worldwide Show there).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Republik Dangdut]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=211</link>
<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 08:39:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.wordpress.com/?p=211</guid>
<description><![CDATA[ 
SEJAK Sabtu sampai Selasa 22-26 Maret 2008 ratusan orang, laki perempuan, dan hampir seluruhnya ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><a title="audisi_20080322aya01-071.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/audisi_20080322aya01-071.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/audisi_20080322aya01-071.jpg" alt="audisi_20080322aya01-071.jpg" width="446" height="273" /></a><a title="kdi-juri-20080325aya03-171.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi-juri-20080325aya03-171.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi-juri-20080325aya03-171.jpg" alt="kdi-juri-20080325aya03-171.jpg" width="210" height="162" /></a> <a title="kdi1.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi1.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi1.jpg" alt="kdi1.jpg" width="225" height="162" /></a></h3>
<h3><span style="color:#339966;"><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">SEJAK</span></strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;"> Sabtu sampai Selasa 22-26 Maret 2008 ratusan orang, laki perempuan, dan hampir seluruhnya kawula muda, antre mengikuti audisi Kontes Dangdut Indonesia (KDI). </span><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Heboh abis!! Suasana Hotel Victoria di tepi Sungai Martapura Banjarmasin, ibarat sedang terkena demam hebat. Demam dangdut.</span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Konon di kota-kota lain juga terjadi hal serupa manakala berlangsung audisi KDI, sebagaimana pula gegap gempitanya audisi Indonesian Idol yang -- entah kenapa-- seolah-olah membuat Indonesia jadi bagian dari Amerika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dangdut memang sudah jadi arus musik "asli Indonesia" yang menjangkau hampir semua lapisan dan strata warga di tanah air. Itu sebabnya, meski dari segi mobilisasi massa sedikit berada di bawah Indonesian Idol, namun KDI --yang sudah memasuki tahun ke lima-- terasa lebih "mempribumi". </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dangdut nmusik pribumi? Ya, dangdut ‑‑bermula dari istilah sinis dan mengejek untuk irama musik Melayu yang menggelitik‑‑ kini bisa dibilang merajai musik di berbagai lapisan masyarakat di tanah air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dulu, "Dangdut itu musik tahi kucing!" pekik seorang rocker saat itu (pertengahan 1970‑an). Kalau tak salah, yang menghujat musik Oma itu adalah pentolan Giant Step, grup rock ternama dari Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Boleh jadi, Giant Step pun rocker sejati made‑in republik. Sebab grup inilah yang pertama kali berani manggung dengan lagu‑lagu rock gubahan sendiri ketika publik musik rock didemami Deep Purple, Led Zeppelin dan Rolling Stone.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Polemik yang disulut 'tahi kucing!' itu akhirnya berpuncak pada dialog yang memperhadapkan Benny Soebardja, pentolan Giant Step dengan Oma Irama, komandan Soneta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dan, polemik itu berpuncak di Senayan dalam sebuah duel sungguhan antara dua kelompok musik. Saat itu tahun 1979. Inilah sesengguhnya duel maut pertama dalam pentas musik kita, dan hingga kini mungkin belum tertandingi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Itu terjadi di Istana Olahraga (Istora) ‑‑kini Gelora Bung Karno‑‑ hampir 30 tahun silam. Berdiri di satu sisi adalah God Bless, dengan Achmad Albar sebagai komandan. Di kubu berlawanan, tegaklah Oma Irama memimpin pasukan Orkes Melayu‑nya, Soneta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Ini duel paling spektakuler di ujung dekade itu, sekaligus sebagai puncak perseteruan panas dan tajam lewat polemik yang meluas di antara para seniman. Di situ pula revolusi musik dangdut di tanah air mencapai titik ledak, dan virusnya menjalar serta mendemami hampir setiap orang hingga saat ini, (</span><a href="http://curahbebas.wordpress.com/">http://curahbebas.wordpress.com</a>).</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kini, rasa‑rasanya tak satu pun orang Indonesia tak kenal dangdut. "Sejak rapat‑rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang paling banyak dibanjiri massa adalah panggung dangdut Oma Irama," tulis William H Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS, yang pada 1980‑an meneliti Oma dan fenomenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Kemampuannya" mengundang massa itu pula yang kemudian membuat Oma jadi rebutan partai politik, sampai kemudian ia jadi anggota parlemen. Ia juga loncat dari PPP ke Golkar dan balik lagi ke PPP, ketika angin perubahan mulai terasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kini, rasa-rasanya tak pernah ada acara hiburan yang tanpa dangdut. Mulai dari perhelatan khitanan di lorong kampung, hingga acara kaum elit di hotel berbintang. Mulai dari kedai karaoke di tepi-tepi jalan sekitar kawasan pertambangan di pedalaman, hingga resepsi pergantian petinggi negeri di republik ini. </span><span style="letter-spacing:-0.15pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;"><a title="kdi.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi.jpg" alt="kdi.jpg" width="438" height="285" /></a></p>
<h2><span style="color:#33cccc;"><em><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Kayapa Habar Sabarataan?"</span></em></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">BAGI</span></strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;"> dangdut mania pasti tak asing lagi dengan artis dangdut pendatang baru, Lita Lia di gelaran KDI 4 lalu. Dengan dangdut keroncong dan seriosanya, dia berhasil memukau pedangdut senior yang jadi juri KDI. Bahkan bintang muda KDI duta Banjarmasin masuk di jajaran 6 besar KDI 4. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Sekian lama tak muncul ke Kota Seribu Sungai, tiba-tiba saja Lita memberikan <em>surprise</em> dengan mengunjungi redaksi <em>Banjarmasin Post</em> bersama dua staf Media Relation TPI, Suska dan Pipit. Tak ayal, ketiganya disambut antusias meriah awak redaksi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dengan senyum khasnya dibalut baju terusan abu-abu, Lita menyapa pimpinan redaksi <em>BPost</em>, <strong>Yusran Pare</strong>, Umi Sriwahyuni, Harry Prihanto dan lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Senang banget bisa ke Banjarmasin setelah setahun lebih di Jakarta dan Samarinda. <em>Kayapa habar pian sabarataan</em>, baik-baik <em>aja kalo</em>," sapanya kepada awak redaksi <em>BPost</em> dalam Bahasa Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Demikian halnya staf Media Relation TPI, Suska Dianingka. Menurutnya sagat terkesan dengan kerjasama bersama <em>BPost</em> sejak mulai digelar KDI di Banjarmasin, beberapa tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Semoga kerjasama kita bisa berlanjut di masa mendatang," papar Suska sambil menikmati wadai Banjar yang katanya baru pertama kali ditemui di <em>BPost</em>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Di sela-sela acara, Lita dan Suska menerima cinderamata berupa boneka Bekantan dan Kamus Bahasa Banjar. Tak ketinggalan koran kecil berbingkai yang jadi cinderamata khusus <em>BPost</em>. "<em>Kok</em> korannya cepat sekali jadi <em>ya</em>? Bagus banget," kata Lita dengan seang bercampur kaget.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Lita yang juga penyanyi kelahiran Samarinda, April 1988 tak hanya piawai membawakan tembang dangdut dengan gaya keroncong dan seriosanya lho. Pengagum Rita Sugiarto ini juga piawai menyanyikan lagu-lagu Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Seperti ditunjukkanya saat bertandang di koran terbesar di Kalimantan ini, Lita menyanyikan lagu Rita Sugiarto dan lagu Banjar dengan hebohnya. Bahkan, kalam melantunkan Lagu Banjar, Lita duet dengan awak redaksi, Martini. </span><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">(ncu)</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gito Pergi, Ingat Harry]]></title>
<link>http://curahbebas.wordpress.com/?p=78</link>
<pubDate>Sat, 01 Mar 2008 08:12:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>curahbebas</dc:creator>
<guid>http://curahbebas.wordpress.com/?p=78</guid>
<description><![CDATA[
Setelah 3 Tahun Melawan
KAMIS  (28/02/200  malam datang berita, Bangun Soegito alias  Gito Rollies ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="font-family:Arial;"><img src="http://curahbebas.wordpress.com/files/2008/03/gito-rollies-pergi1.jpg" alt="gito-rollies-pergi1.jpg" /></span></h2>
<h2><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"><font color="#ff6600">Setelah 3 Tahun Melawan</font></span></h2>
<h3 align="left"><font color="#008080"><span style="font-family:Arial;">KAMIS </span><span style="font-family:Arial;"><span> </span>(28/02/2008) malam datang berita, Bangun Soegito alias <span> </span>Gito Rollies sudah pergi. Perjuangannya melawan kanker getah bening sejak tiga tahun lalu, sudah berakhir. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Segala yang berasal dari-NYA, semua kembali kepada-NYA.</span></font></h3>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Satu lagi, tokoh yang jadi ikon perkembangan musik di tanah air pergi. Sebelumnya <b>Harry Roesli</b> –musisi eksentik—pergi setelah bergelut dengan penyakitnya. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Gito, dengan teman-temannya<b> Uce F Tekol</b>, <b>Deddy Stanzah, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa</b>, dan <b>Teungku Zulian Iskandar </b>menggebrak panggung musik dengan <i><b>The Rollies</b></i>-nya. </span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Kiprah musik anak-anak Bandung di tahun<span>  </span>70- an itu tambah marak majalah <i>Aktuil</i><span>  </span>(<b>Remy Sylado</b>) yang khurus mengulas perkembangan musik dan “memprovokasi” kawula muda untuk melahirkan gerkan-gerakan baru di bidang musik.</span><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Selain Rollies, saat-saat itu ada <i>Rhapsodia </i>(<b>Soleh</b>),<i> Paramour</i> (<b>Djadjat Kusumahdinata -</b> alm), dan <i>Giant Step</i> (<b>Benny Soebardja</b>) yang tak kalah garang jika tampil di panggung. Pada jalur lain, ada<i> Bimbo</i> yang bahkan tetap eksis hingga hari-hari ini.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Selain kelompok-kelompok itu, <span> </span>tentu ada tokoh-tokoh yang bergerak dengan jalurnya sendiri, seperti <b>Harry Roesli</b> sang legenda perkusi, kemudian ada nama-nama lain seperti <b>Yan Hartland, Harry Sabar, Nicko-Nicke, Nikki Ukkur</b> dan lain-lain yang marak pada peridode berikutnya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;">Kepergian Gito, mengingatkan saya pada perginya Kang Harry (sapaan akrab Harry Roesli)<span>  </span>11 Desember 2004 yang saya tulis untuk<i> Curah, BëBAS</i> edisi minggu kedua Desember tahun yang sama:</span></p>
<h2><span style="font-family:Arial;"></span><span><font color="#ff6600">Harry, Hakekat Bunyi</font> </span></h2>
<h3 align="left"><b><span style="font-family:'Bookman Old Style';"></span></b><b><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"> </span></b><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"></span><font color="#008080"><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;">HARRY</span><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"> Roesli, adalah profesor musik yang lebih dikenal sebagai musisi bengal. Sebagian orang memandangnya sebagai pemusik paling ganjil. Ada lagi yang memujanya karena cucu pujangga besar Marah Roesli ini adalah pakar perkusi.</span></font><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"> </span></h3>
<p align="right"><img src="http://curahbebas.wordpress.com/files/2008/03/harryroesli.jpg" alt="harryroesli.jpg" align="left" height="367" width="272" /><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ada</span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> yang menyebut Harry sebagai seniman komplet. Ada yang menjulukinya filsuf musik yang memperkenalkan hakekat bunyi. Bagi Harry, segala sesuatu yang (bisa) berbunyi dan dibunyikan pada dasarnya adalah musik.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Maka suara orang menyikat gigi, bunyi krupuk dikunyah, deru sepeda motor, jangkrik, gemerisik kertas, tetesan air, pompa, siulan angin, bahkan batuk, bisa disusun sebagai komposisi dan ditampilkan dalam orkestrasi yang spektakuler. Menggedor, menyentak, kadang meneror, tapi sekaligus menghibur.<br />
</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Baginya, detak jantung pun adalah musik. Irama kehidupan. Tinggal kemudian, bagaimana kita memaknai dan membuatnya jadi bernilaiguna bagi orang banyak.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Bertahun lalu --teriinspirasi pengalamannya dirawat di ru­mah sakit akibat <i>stroke</i>-- ia menyodorkan sebuah kom­posisi yang lebih tepat disebut musik jan­tung. Se­buah eksperimen yang luar bi­asa mencengangkan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ia menunjukkan betapa spektakuler sesungguhnya peran organ lembek-lem­bek kenyal yang tersembunyi di balik tulang iga itu. Betapa berartinya degup lembut ini bagi mahluk hidup. Sejumlah mikropon kecil yang amat sensitif di ditempelkan di bagi­an-bagian tubuhnya. Ia hubungkan 'katoda-katoda mik­ropon' ini dengan pe­rangkat penguat suara lalu disalurkannya ke unit-unit pengeras suara di sekeliling panggung.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Para</span><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"> musisi menghadapi partitur komposisi yang memandu mereka me­na­ngani alat masing-masing dan memainkannya dalam konser dengan suara jantung sebagai salah satu unsur.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Maka, jantung tidak lagi cuma degup lembut melainkan dentaman timfani yang menggelegar, menyentak, dan menggedor tidak saja mekanisme alat pendengaran, tetapi nyaris menggetarkan se­luruh jaringan tubuh. Mencekam sekaligus mencengangkan, juga menyentak dan meneror pikiran.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Orang yang menyimaknya tiba-tiba merasa sedang berada di dalam --dan jadi bagian-- tubuh itu sendiri se­hingga dengan jelas mendengar gelegar irama jantung, ge­merisik darah mengaliri nadi, gemuruh udara keluar ma­suk paru-paru, dan decit licin organ-organ lembek berlemak yang saling bersinggungan menggelenyarkan ke­­hi­dupan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ya. Kehidupan. Dan, degup lembut jantung jadi tan­da­nya. Ber­degup berarti hidup. Berhenti, sama dengan mati. Namun karena lem­butnya, sering­kali degup itu tak disadari. Apalagi jantungnya.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Padahal kalau sa­ja kita selalu saksama meresapi de­gup lembut itu, mungkin kita tak akan membi­ar­kan hidup meng­alir sia-sia dengan berbagai perbuatan yang hanya mem­perce­pat­nya ber­henti.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Harry Roesli sangat menyadari komplikasi dan tingkat keparahan penyakit seperti yang dideritanya, namun ia menunjukkan semua itu bukan hambatan untuk terus berkarya agar hidup tetap bermakna. Tidak semata bagi diri sendiri, tapi bagi semua orang.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Karena itu, Harry tak hanya bermusik. Bagi orang yang mengaguminya sebagai kolomnis, Harry adalah penulis yang ungkapan-ungkapannya kadang sukar diduga dan melejit dari kelaziman namun menohok langsung ke sasaran sambil tetap jenaka sehingga kritik-kritiknya sukar ditepis.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">"Persis seprti komposisi musiknya. Tulisannya aneh, ganjil, lucu, tapi menukik tajam dan menabrakkan kita pada realitas yang kadang menyakitkan tanpa kita merasa sakit," kata seorang budayawan di Bandung.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Musik adalah aliran darah dan denyut nadi serta jantungnya. Menulis adalah ekspresinya yang lain sebagaimana demonstrasi, sementara mengasuh dan melayani serta menyenangkan orang lain, adalah sisi sosialnya yang sangat sulit dilupakan banyak orang.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Ketika warga kota Bandung dipusingkan para pengamen di simpang-simpang jalan, Harry justru meraih mereka, memberinya tempat berteduh, berlindung, dan belajar. Baginya, para pengamen dan para demonstran adalah sama, kelompok muda yang harus didampingi --bukan dihadapi dengan tangan besi.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Hingga kini sekitar 30.000 pengamen --baca tiga puluh ribu pengamen-- yang bertebaran di berbagai kota di Jawa Barat tetap menganggap Harry sebagai bapak asuh. Bayangkan, bagaimana hari-hari itu 'mengasuh' anak jalanan sebanyak ini.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Boleh jadi karena 'keganjilannya' itu posisi uniknya di dalam dunia seni --terutama musik-- Indonesia seakan tanpa padanan. Bagi Harry, musik dalam kerangka pengertian wacana estetika dengan segala trik‑trik formalitas bangunan artistiknya (bentuk komposisi, strukturisasi, harmonisasi dan sebagainya) bukanlah tujuan utama.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Dia bilang, musik hanyalah alat untuk menyampaikan seluruh pikiran dan pesan yang akan saya sampaikan. Musik --dengan demikian-- hanyalah sebagian elemen saja dari seluruh karya yang bersifat tontonan. Tontonan itu harus mengandung makna lebih dari sekedar "hanya" musik.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Mungkin betul, Dieter Mack --dalam salah satu risalahnya tentang musik di Indonesia-- menyamakan Harry Roesli dengan Frank Zappa. Di mata guru besar musik dari Jerman ini, Harry dan Zappa sama-sama banyak menggunakan bahasa musik "mixed media" (medium campuran).</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Kritik sosial, sindiran politik, keprihatinan situasi, pesan‑pesan moral, pemutarbalikan logika, pelecehan takhayulisasi tata nilai, ukuran‑ukuran norma, guyonan ke(tidak)adilan, negasi, gugatan, cacian, humor, dan apa pun yang ingin disampaikannya akan ia luncurkan melalui 'jalan tol'. Langsung, tanpa hambatan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Harry telah pergi. Dan, Indonesia kehilangan (lagi) salah satu putra terbaiknya. Tokoh bernama asli Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli yang lahir 10 September 1951 ini meninggal 11 Desember 2004 karena gagal jantung disertai gagal paru-paru dan ginjal.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Saat-saat sebelum ia tak sadarkan diri di tengah parawatan di RS Harapan Kita Jakarta, ia masih 'berulah'. Dengan ujung telunjuknya yang sudah membengkak, ia menuliskan kata "Bosan" pada alat pacu jantung yang membantu mempompa agar darahnya terus mengalirkan kehidupan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Entah itu berarti ia sudah menyerah --pasrah, tidak mampu memberontak lagi pada kehidupan-- atau memang betul-betul bosan karena sekian lama tak bisa bergerak. Tubunya terbaring dengan saling-silang kabel dan selang penopang kehidupan.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">"Ini kan Desember, kabel‑kabel ini kayak pohon natal saja," ujarnya lagi melirik juntaian kabel dengan latar belakang kerlipan lampu-lampu digital perangkat elektronik penunjang rawat.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">"Kalau Munir mati diracun, maka saya meracuni diri sendiri dengan makanan dan rokok," ujarnya hanya beberapa saat sebelum ia menyerah pada sang maut. Pada saat-saat seperti itu pun, ia masih meluncurkan kritiknya, tidak saja pada dunia luar. Tapi juga pada diri sendiri, dengan tujuan mengingatkan orang lain.</span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;">Itulah Harry Roesli.<span>  </span><b>***</b></span></p>
<div align="left"></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"><span>                                                                                                                         <font color="#00ffff">  </font></span><font color="#00ffff">Bandung, 141204</font></span></b><span style="font-family:Arial;letter-spacing:-0.15pt;"></span></p>
<p align="right"><b><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"><font color="#99cc00"></font></span></b><span style="font-family:'Bookman Old Style';letter-spacing:-0.15pt;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bangun Soegito]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=194</link>
<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 15:26:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.wordpress.com/?p=194</guid>
<description><![CDATA[
SAYA ”bertemu” terakhir dengan Gito Rollies awal Februari 2008 di Cicalengka, Kabupaten Bandung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/02/gitorollies.jpg" alt="gitorollies.jpg" /></p>
<h3 class="MsoNormal" align="left"><font color="#008080">SAYA ”bertemu” terakhir dengan<font color="#33cccc"> Gito Rollies</font> awal Februari 2008 di</font> <font color="#008080">Cicalengka, Kabupaten Bandung. Hari itu tokoh Jawa Barat, H <font color="#33cccc">Nanang Iskandar  Masoem</font> menikahkan putrinya. Nanang berbesan dengan <font color="#33cccc">Arifin Soehara</font>, teman seangkatan saya di fakultas, cuma beda kelas –dia kelas karyawan,  saya kelas reguler.</font></h3>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal" align="left"><font face="Times New Roman"><b></b></font></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-family:Arial;">Bangun Soegito</span></b><span style="font-family:Arial;"> alias <b>Gito Rollies</b> adalah sahabat Nanang. Mereka satu kelas di SMAN 2 Bandung. Dan, kata Gito, persahabatan mereka terus berlanjut. Sementara saya, mengenal rocker yang bermetamorfosis jadi juru dakwah ini sejak sering meliput pentas-pentas musik di awal tahun 1980-an.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Di Cicalengka, hari itu Gito sebagaimana tampilannya belakangan ini, mengenakan gamis warna pucat, peci putih, dan sorban. Ia didapuk panitia untuk naik panggung. Sebelum menyanyi, ia mengkilas balik pershabatannya dengan Nanang –satu di antara sembilan anak Haji Ma’some– kiai yang sukses mengembangkan pesantren, lembaga pendidikan modern, dan jaringan bisnis amat besar di Jawa Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">“Saya ini betul-betul bersahabat dengan Pak Nanang. Sahabat dalam arti sebenarnya. Tapi sahabat yang bertolak belakang. Saya …badung dan nakal, Pak Nanang saleh luar biasa. Sejak remaja ia tak pernah tinggal salat. Sementara saya? Tahu sendiri lah…?” kata Gito terkekeh. Ia pun mencuplik sejumlah tingkah nakal-nya di masa remaja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Akhirnya Gito memanggil satu lagi teman satu SMA-nya. Agum Gumelar, yang juga hadir pada resepsi akbar pernikahan anak-anak Nanang dan Arifin itu. “Nah, Pak Agum juga sahabat saya. Kami sama-sama dari sekolah yang sama. SMAN 2 Bandung,” kata Gito. Maka, hari itu, Agum yang sudah berduet dengan Nu’man –dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat—berganti pasangan dulu. Mereka pun bernyanyi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Tadinya saya –dan istri—ingin menemui dulu Gito, ya sekadar bertanya apa kabar atau apalah. Maklum sudah 20 tahunan tak bertemu muka. Namun, hari itu tamu begitu banyak. Entah berapa ribu. Lagi  pula, panggung tempat Gito tampil,  dibatasi kolam. Dari tempatnya, Gito sempat melambai lalu mengacungkan jempol dan mengangguk saat saya memberinya isyarat bahwa kami pamit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Kamis (28/02/2008) malam, datang berita, Gito sudah pergi. Perjuangannya melawan kanker getah bening sudah berakhir. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Segala yang berasal dari-NYA, semua kembali kepada-NYA.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Satu lagi, tokoh yang jadi ikon perkembangan musik di tanah air pergi. Sebelumnya Harry Roesli –musisi eksentik—pergi setelah bergelut dengan penyakitnya, (<a href="http://curahbebas.wordpress.com/">http://curahbebas.wordpress.com</a>). Gito, dengan teman-temannya Uce F Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, dan Teungku Zulian Iskandar menggebrak panggung musik dengan The Rollies-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Kiprah musik anak-anak Bandung di tahun  70-80an itu tambah marak dengan terbitnya “Aktuil” yang terus mengulas perkembangan musik dan “memprovokasi” kawula muda untuk melahirkan gerkan-gerakan baru di bidang musik. Selain Rollies, saat-saat itu ada Rhapsodia (Soleh), Paramour (Djadjat), dan Giant Step (Benny Soebardja) yang tak kalah garang jika tampil di panggung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Setelah malang melintang di pentas musik cadas, Gito hilang dari peredaran, dan muncul lagi dengan identitas baru. Ia telah bersalin baju, jadi seorang yang lebih religius dan lebih sering naik panggung sebagai juru dakwah. Dan dalam “busana” itulah dia pergi menghadap-NYA.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Selamat jalan, Bung! (*)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Konser Musik Woodstock]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=10</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 13:01:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=10</guid>
<description><![CDATA[(2).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 2)
Barangkali diilhami oleh konser musik &#8220;Woodst]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(2).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 2)</h2>
<p>Barangkali diilhami oleh konser musik "Woodstock69", maka para pemusik dan penyandang dana Indonesia menggelar acara yang mirip-mirip "Woodstock69" di TIM (Taman Ismail Marzuki) tahun 1973. Konser musik itu diberi nama "Summer28" singkatan dari Suasana Malam Hari Kemerdekaan Ke 28, yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 16 Agustus 1973.</p>
<p>Turut memeriahkan pagelaran musik (terutama yang berirama rock) pertama dan terbesar pada masa itu, antara lain God Bless (Ahmad Albar, dkk. dari Jakarta), AKA (Ucok Harahap, dkk dari Surabaya), Giant Step (Benny Subardja, dkk dari Bandung), Minstreals (Jelly Tobing dkk dari Medan), dan banyak lagi group-group musik yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.</p>
<p>"Summer28" memang sempat kisruh, namun tidak separah "Woodstock69". Sayangnya kini tidak ada lagi impressario yang berminat menggelar konser musik besar yang sejenis itu. Barangkali khawatir, pertunjukan musiknya akan kalah seru dan kalah heboh dengan "pertunjukan tawuran antar penontonnya".</p>
<p>***</p>
<p>Itu tahun 1973, saya yang masih sekolah di kelas 1 SMP di kampung saya di Kendal, memandang kota Jakarta tampak seperti <i>jauuuuuuuh .......</i> sekali. Apalagi datang ke Jakarta, nyaris seperti sebuah mimpi. Namun di tahun yang sama dan tahun-tahun sesudah itu, saya berkali-kali menyaksikan penampilan group-group musik itu di Semarang yang jaraknya hanya 30 km dari Kendal.</p>
<p>Di Semarang, mereka biasanya tampil di THD (Taman Hiburan Diponegoro) dan GOR Simpang Lima. Kedua tempat dan bangunan itu sekarang sudah <i>bablasss...sak angin-anginnya</i>, entah dimakan <i>butho</i> (raksasa) dari mana. Padahal THD waktu itu termasuk Taman Hiburan yang murah-meriah.</p>
<p>Meskipun itu adalah pengalaman masa kecil saya lebih 25 tahun yll. Namun saya masih ingat persis karena saya lakukan berkali-kali. Setiap kali ada pementasan di THD (biasanya sebulan atau dua bulan sekali), hari Sabtu sore saya minta uang kepada almarhum ibu saya Rp 500,- (lima ratus rupiah). Perinciannya : Rp 300,- untuk ongkos naik <i>Colt</i> angkutan Kendal - Semarang pp. Setiba di terminal Pasar Johar lalu berjalan kaki sekitar 750 meter menuju THD di Bubakan. Sisanya untuk bayar tiket masuk THD yang besarnya Rp 200,-</p>
<p>Saat pertunjukan musik di mulai, saya biasanya langsung menyusup ke depan panggung di dekat <i>loud speaker</i>, meskipun bunyinya memekakkan telinga tapi saya dapat nonton dengan bebas dan jelas. Sebab kalau saya tidak melakukan itu, saya akan kalah bersaing dan terhalang oleh penonton-penonton lain yang umumnya lebih dewasa dan lebih besar dari saya. Maklum, <i>wong</i> namanya panggung terbuka murah-meriah, jadi tempat duduknya terkadang jadi tempat berdiri. Apalagi kalau habis hujan, dapat dipastikan menjadi basah.</p>
<p>Berangkat dari Kendal jam 19:00 malam, jam 20:00 tiba di Semarang, jam 20:30 acara dimulai, jam 22:30 acara selesai dan lalu berjalan kaki kembali ke terminal Pasar Johar menunggu angkutan, jam 00:00 tengah malam tiba kembali di rumah di Kendal. Saat menunggu <i>Colt</i> di Pasar Johar, biasanya sambil duduk nongkrong di pagar tempat parkir di halaman sangat luas antara Pasar Johar dengan Masjid Besar dan gedung bioskop "Rahayu", bersamaan dengan bubaran pasar Ya'ik yang digelar sore hingga malam (sebelum ada bangunan permanen Pertokoan Ya'ik Permai).</p>
<p>Catatan ini memang saya maksudkan untuk sekedar bernostalgia. Namun ada sedikit terselip sebuah kebanggaan, karena pengalaman semacam ini umumnya tidak dialami oleh anak-anak kecil sebaya saya pada jaman itu. Buktinya? Kalau sehabis nonton pertunjukan musik lalu keesokan harinya saya berceritera kepada teman-teman main saya, ternyata tidak nyambung. Kedengaran seperti sebuah "dongeng yang aneh". Kalau begitu, ya cukup untuk saya nikmati sendiri saja.</p>
<p>New Orleans, 4 Januari 2001.<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
