<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>generalisasi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/generalisasi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "generalisasi"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 15:17:26 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Object vs Class]]></title>
<link>http://arioss.wordpress.com/?p=72</link>
<pubDate>Thu, 22 May 2008 04:17:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ario Sutomo</dc:creator>
<guid>http://arioss.id.wordpress.com/2008/05/22/object-vs-class/</guid>
<description><![CDATA[Dalam konsep berorientasi objek, istilah objek dan kelas merupakan hal yang mendasar. Sulit membedak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Dalam konsep berorientasi objek, istilah objek dan kelas merupakan hal yang mendasar. Sulit membedakannya bagi orang yang awam dalam konsep object-oriented. Penulis juga sempat bingung harus memulai dari “siapa”, objek dulu atau kelas dulu. Akhirnya dengan melewati renungan yang panjang (dan eksplorasi beberapa sumber), diputuskan bahwa kita mulai dari objek dulu yang kemudian disusul dengan kelas.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Objek (Object)</strong><br />
Secara sederhana, objek merupakan segala sesuatu yang dapat dibedakan satu sama lainnya. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah objek. Contohnya: manusia, mobil, hewan, tumbuhan, tempat, atau bahkan yang tidak bersifat fisik seperti kejadian atau konsep-konsep. Sehingga bisa disimpulkan bahwa objek tidak harus bersifat fisik, karena jika dikaitkan dengan OOP objek akan menjadi bentuk logis.</p>
<p style="text-align:left;">Dalam dunia nyata, objek memiliki dua karakteristik: keadaan (state) dan sifat (behavior). Contohnya, sapi memiliki keadaan (nama, warna, tanduk, berat, jenis kelamin) dan sifat (bersuara, berjalan, makan). Mobil juga memiliki keadaan (jumlah ban, status gigi, merk, jumlah penumpang) dan sifat (berjalan, belok, berhenti, merubah gigi).</p>
<p style="text-align:left;"><img src="http://i191.photobucket.com/albums/z221/ario_sutomo/mercedes_rental_car_greve_in_chiant.jpg" alt="" width="360" height="199" /><br />
<img src="http://i191.photobucket.com/albums/z221/ario_sutomo/grazing-cow-1b.jpg" alt="" width="289" height="199" /></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Objek dalam konsep OOP masih memiliki keadaan dan sifat seperti halnya objek di dunia nyata, karena pada dasarnya objek dalam OOP merupakan representasi dari dunia nyata. Objek dalam OOP merepresentasikan keadaan melalui variabel, sedangkan sifatnya direpresentasikan menjadi method. Method merupakan suatu fungsi (sub-routine) yang berhubungan dengan objek.</p>
<p style="text-align:left;">Definisi: “objek merupakan penggabungan variabel-variabel dan method-method yang berhubungan dengannya.”</p>
<p style="text-align:left;">Setiap objek bisa dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, objek mobil bisa dibedakan berdasarkan merknya. Objek hewan bisa dibedakan berdasarkan jenis dan ciri fisiknya. Walaupun objek tersebut bernama sama, tetapi masih tetap bisa dibedakan. Misalnya, objek mobil Kijang bisa dibedakan berdasarkan nomor rangka, warna, tahun keluaran, tipe, nomor polisi, dan sebagainya. Objek kucing bisa dibedakan dari warna dan corak bulunya. Bahkan dua orang yang kembar pun masih bisa dibedakan satu sama lainnya, misalnya dengan nama atau ciri tertentu yang spesifik dan juga sifatnya. Konsep “pembedaan” ini disebut dengan konsep identitas.</p>
<p style="text-align:left;">Segala sesuatu yang diketahui oleh objek (state) dan yang bisa dilakukannya (behavior) terangkum dalam variabel dan method. Misalnya objek yang memodelkan mobil memiliki variabel yang menandakan keadaan dari objek tersebut, misalnya: jumlah ban ada 4, penumpang ada 5, sedang berjalan dengan kecepatan 60 km/jam, dan giginya sedang pada gigi 4. Variabel-variabel tersebut biasanya disebut dengan variabel instans (instance variable) karena pada dasarnya menjelaskan keadaan tertentu dari objek mobil. Sedangkan objek tertentu tersebut (mobil) dalam terminologi OOP disebut dengan instans (instance).</p>
<p style="text-align:left;">Seperti halnya variabel, objek mobil juga harus memiliki method untuk mengurangi kecepatan, mengerem, dan merubah gigi. Method ini disebut dengan method instans (instance method) karena method-method tersebut merubah keadaan objek mobil tersebut.</p>
<p style="text-align:left;">Pada hampir kebanyakan sumber, objek diilustrasikan dalam diagram sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:center;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://i191.photobucket.com/albums/z221/ario_sutomo/diagram_objek.jpg" alt="Diagram objek" width="246" height="246" /></p>
<p style="text-align:left;">Pada diagram tersebut tergambarkan bahwa variabel posisinya di tengah-tengah (inti) objek. Method-method mengelilingi dan terkesan menyembunyikan keberadaan inti objek tersebut (variabel) dari objek lain. Pembungkusan variabel-variabel objek yang dijaga oleh methodnya disebut dengan enkapsulasi (encapsulation).</p>
<p style="text-align:left;">Suatu objek bisa juga spesialisasikan menjadi objek yang lebih rendah tingkatnya (spesialisasi/specialization) atau bisa digeneralisasikan menjadi objek yang lebih tinggi tingkatnya (generalisasi/generalization). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar 3.</p>
<p style="text-align:left;">Mobil bisa dispesifikasikan menjadi mobil Toyota Kijang, Honda Jazz, Daihatsu Xenia, dan Hyundai Atoz. Selain itu mobil juga bisa digeneralisasi bersama-sama dengan objek pesawat terbang dan kapal laut menjadi objek alat transportasi. Begitu juga dengan manusia, hewan, dan tumbuhan bisa dikelompokkan menjadi objek mahluk hidup.</p>
<p style="text-align:center;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://i191.photobucket.com/albums/z221/ario_sutomo/gen_spec.jpg" alt="Contoh generalisasi &#38; spesialisasi" width="473" height="407" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Konsep generalisasi dan spesifikasi (gen-spec) hanyalah masalah dari mana kita “membaca” suatu objek. Gambar 2a bisa juga disebut generalisasi jika kita membacanya dari bawah ke atas.</p>
<p style="text-align:left;">Generalisasi sering disebut juga dengan klasifikasi, dan klasifikasi inilah yang akan mengantarkan kita pada konsep kelas yang akan kita bahas di bagian berikutnya.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>Kelas (Class)</strong><br />
Kelas merupakan suatu konsep yang lebih tinggi lagi hierarkinya dari objek yang dihasilkan dari proses generalisasi objek-objek yang memiliki beberapa ciri yang sama. Dalam OOP, kelas merupakan suatu hasil pemodelan fakta-fakta dari suatu objek yang berguna bagi suatu aplikasi yang diprogram. Proses pemodelan fakta-fakta tersebut disebut dengan abstraksi.</p>
<p style="text-align:left;">Proses abstraksi sangat penting ketika kita melakukan analisa sesuatu dari dunia nyata agar bisa dimodelkan menjadi bentuk logis yang dimengerti oleh aplikasi/komputer. Misalnya, untuk memodelkan mahasiswa, kita cukup memasukkan nama, alamat, tempat lahir, tanggal lahir, telepon, orang tua, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:left;">Perlu dicatat bahwa proses abstraksi hanya memasukkan fakta-fakta yang berguna (penting) saja bagi aplikasi yang bersangkutan. Misalnya pada objek mahasiswa tadi, kita belum tentu perlu memasukkan warna mata, berat badan, ukuran sepatu, bentuk wajah, bentuk hidung, warna kulit, dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan perkuliahan nantinya di universitas yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:left;">Fakta-fakta yang dimodelkan bisa berupa ciri dan fungsi dari suatu objek. Pada kelas hasil abstraksi, ciri-ciri tadi akan berubah menjadi data yang memiliki tipe, dan fungsi akan lebih sering disebut sebagai method. Kadang-kadang data juga disebut dengan variabel instan.</p>
<p style="text-align:left;">Sehingga bisa ditarik kesimpulan sederhana, bahwa kelas merupakan suatu metode logis yang mengorganisir/menggabung data dan method pada struktur yang sama.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>Perbedaan Objek dan Kelas</strong><br />
Setelah melalui penjelasan tentang objek dan kelas di atas, kita bisa simpulkan perbedaan antara keduanya.</p>
<p style="text-align:left;">Kelas adalah sesuatu yang menjelaskan ciri-ciri secara umum dari suatu objek, termasuk apa-apa yang bisa dilakukan objek tersebut. Sedangkan objek adalah keadaan tertentu dari suatu kelas, atau sering juga disebut dengan instans dari kelas.</p>
<p style="text-align:left;">Mari kita simak kalimat singkat berikut untuk lebih memperdalam pemahaman kita tentang objek dan kelas:</p>
<p style="text-align:center;">“Seekor kucing Persia memiliki empat ekor anak.”</p>
<p style="text-align:left;">Kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa kucing Persia merupakan kelasnya, sedangkan anak-anaknya merupakan objek. Dengan kata lain, jika seekor kucing Persia tersebut memiliki empat anak, berarti dia telah membuat empat buah objek (instans) dari kelas kucing Persia. Setiap anak kucing memiliki cirinya tersendiri. Ada yang berbulu putih, kuning hitam, atau campuran hitam kuning. Selain itu ada yang memiliki ekor panjang sempurna, panjang bengkok, pendek, ekor “keriting”, dan sebagainya. Dan jenis kelaminnya juga ada beberapa yang jantan dan ada juga yang betina. Tetapi walaupun berbeda dalam hal ciri-ciri fisiknya, harus diingat bahwa semuanya tetaplah kucing Persia.</p>
<p style="text-align:left;">Semoga dengan tulisan yang singkat ini bisa memperdalam pemahaman Anda mengenai objek dan kelas.</p>
<p style="text-align:left;"><em>*Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di website sony-ak.com</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Opini (Part 1: Blogger Tukang Tipu)]]></title>
<link>http://charleschristian.wordpress.com/?p=158</link>
<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 12:11:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Charles</dc:creator>
<guid>http://charleschristian.id.wordpress.com/2008/04/08/opini-part-1-blogger-tukang-tipu/</guid>
<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, banyak isu-isu seputar IT yang kontroversial. Isu-isu itu juga sedemikian menarik s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, banyak isu-isu seputar IT yang kontroversial. Isu-isu itu juga sedemikian menarik sehingga mengundang banyak orang untuk mendiskusikannya dan menuliskannya di blog mereka. Ada yang pro dan ada yang kontra, sesuatu yang biasa terjadi. Isu-isu ini jugalah yang akhirnya menggelitik saya untuk menuliskan opini saya atas isu-isu tersebut di sini. Apa yang saya tuliskan di sini adalah opini dari saya. Anda boleh setuju dengan saya, dan boleh saja tidak setuju. Itu adalah suatu hal yang biasa... ;)</p>
<p>Pertama, saya mau memberikan opini tentang "blogger tukang tipu". Teman-teman blogger pasti sudah tahu tentang hal ini. Untuk yang belum tahu, saya akan menceritakannya sedikit. Itu adalah ucapan dari seorang "pakar telematika" Indonesia bernama Roy Suryo. Pakar ini tiba-tiba menjadi terkenal karena banyak ucapannya yang dinilai tidak berdasar dan menyesatkan masyarakat.</p>
<p><!--more-->Untuk Anda ketahui, tulisan ini dibuat <strong>bukan</strong> untuk menjelek-jelekkan Roy Suryo. Saya tidak ada masalah sama sekali dengan Roy Suryo. Saya hanya bermasalah dengan beberapa ucapannya yang menurut saya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ucapan-ucapan apa saja? Untuk lebih memberikan gambaran, saya akan mengutip beberapa ucapan kontroversial beliau secara utuh. Hal ini penting agar pembaca tidak salah mengartikan ucapan beliau karena lepas dari konteksnya. Karena ada cukup banyak, saya hanya akan fokuskan pada satu komentar Roy Suryo seputar blogger saja. Berikut adalah kutipannya yang saya ambil dari <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/26/time/163732/idnews/900330/idkanal/398">sini</a>.</p>
<blockquote><p><span class="judul"> <strong>Roy Suryo Mulai Nge-blog? 'Blogger Tukang Tipu!' </strong></span></p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Jakarta</strong> - Tak hanya artis, demam nge-blog sudah mulai menjalar ke tokoh-tokoh publik di Indonesia. 'Roy Suryo' pun sudah mulai ikutan nge-blog. Roy kini mulai belajar nge-blog dan mulai menuliskan pandangan-pandangannya pada salah satu layanan blog di Indonesia?</p>
<p>Ketika dikonfirmasi, Roy dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak pernah punya blog. "<span style="color:#ff0000;"><strong>Tidak, saya tidak pernah nge-blog dan tidak pernah punya blog karena blog sifatnya hanya tren sesaat</strong></span>," tegas Roy saat berbincang dengan <strong>detikINET </strong>via telepon, Selasa (26/2/2008).</p>
<p>Soal nama 'Roy Suryo' dicatut beberapa blogger, Roy mengaku tidak mempermasalahkannya. "<strong><span style="color:#ff0000;">Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu</span></strong>," tandasnya.</p>
<p>Tukang tipu? Roy mengklaim banyak blogger yang memajang informasi fiktif dan bohong-bohongan, seperti halnya kasus blogger Solo yang meninggal dunia setelah mem-posting mimpinya di blog. Menurut Roy blog tidak bisa dipercaya 100 persen. Roy menyarankan lebih baik jangan mempercayai blog karena saat ini banyak sekali orang yang membuat blog dengan menggunakan nama-nama palsu. Hal ini menunjukkan kredibilitas blog sulit dipercaya.</p>
<p>Roy juga menyayangkan karena masih ada blogger yang memperburuk citra blog. Padahal perkembangan blog di Indonesia semakin pesat dan mulai mendapat kepercayaan publik, dari yang dulunya salah kaprah karena blog dianggap seperti buku harian, kini isinya sudah memajang informasi yang bermanfaat bagi publik.  <strong> (	dwn	/	dwn	)</strong></p></blockquote>
<p>Menurut saya, ucapan Roy Suryo di atas adalah ucapan yang lahir dari emosi dan (mungkin) pengalaman buruknya dengan blog-blog yang tidak bertanggung jawab. Lalu di mana kesalahan ucapannya? Kesalahannya adalah karena beliau mengeneralisasi "oknum blogger yang tidak bertanggung jawab" sebagai "blogger". Atau, dengan kata lain, menurut beliau, semua blogger adalah blogger yang tidak bertanggung jawab. Blogger itu tukang tipu. Itulah (mungkin) maksudnya...</p>
<p>Apakah semua blogger adalah blogger yang tidak bertanggung jawab? Apakah semua blogger itu negatif? Tidak ada blogger yang memberikan dampak positif? Kenyataannya, banyak kok blog yang berisikan content-content yang positif dan bermanfaat untuk orang lain. Karena itu, ucapan "blogger itu tukang tipu" tidak dapat diterima, karena tidak semua blogger itu tukang tipu...</p>
<p>Permasalahannya sekarang adalah gelar "pakar" yang dinobatkan jurnalis atas Roy Suryo telah membuat sebagian masyarakat mempercayai ucapan beliau mentah-mentah. Dan, ucapan "blogger itu tukang tipu" sama saja seperti pencemaran nama baik blogger. Permasalahan itu sebenarnya bisa diselesaikan baik-baik jika Roy mengakui kesalahannya dan meminta maaf serta meralat perkataannya. Namun nyatanya, sampai hari ini beliau belum menarik kembali ucapannya tersebut.</p>
<p>Ada satu ucapan menarik lagi dari beliau:</p>
<blockquote><p>Ada kecenderungan bahwa kalau tidak membuat blog yang menjelek-jelekkan orang lain, maka itu bukan blog.</p></blockquote>
<p>Apakah tulisan ini terkesan menjelek-jelekkan Roy Suryo? Jika ya, saya memohon maaf. Namun intinya saya tidak menjelek-jelekkan beliau. Saya hanya ingin mengoreksi beberapa perkataan beliau di saat beliau (mungkin) sedang khilaf. Termasuk ucapan di atas, (mungkin) juga dikatakan karena pengalaman buruk beliau dengan blog-blog yang menjelek-jelekkan dirinya atau orang lain. Masih banyak ucapan-ucapan kontroversial beliau yang lain, tetapi tidak saya bahas pada tulisan ini... Silakan googling untuk yang berminat. ;)</p>
<p>OK, setelah menulis panjang-panjang, saya akan memberikan moral of the story (ciee..). Yah, sekali lagi, saya dapat mengambil beberapa pelajaran dari hal ini.</p>
<ol>
<li>Berhati-hati di dalam perkataan-perkataan kita. Lidah kita adalah pedang bermata dua, bisa membangun orang lain, tapi juga bisa menjatuhkan orang lain. So, kita harus berpikir dahulu sebelum berkata-kata.</li>
<li>Akuilah kesalahan jika memang kita salah. Jika memang kita ternyata mengucapkan sesuatu yang tidak benar, akuilah kesalahan tersebut, jangan diulangi lagi, dan perbaiki kesalahan tersebut.</li>
<li>Jangan mengisi blog dengan content yang negatif, yang menipu, dan yang menjelek-jelekkan orang lain. Tunjukkan jati diri blogger positif, dan buktikan ucapan-ucapan di atas tidak benar.</li>
<li>Jangan men-generalisasi sesuatu hal negatif karena terdapat oknum-oknum di dalamnya yang negatif. Bedakanlah for all dan for exist... (Mat Diskretnya keluar...hehe).</li>
</ol>
<p>OK deh, salam damai dan positif untuk Roy Suryo dan sesama blogger... :D</p>
<blockquote><p>Opini saya yang lain: <a href="http://charleschristian.wordpress.com/2008/04/08/opini-part-2-film-fitna-pemblokiran-youtube-dkk/">Film Fitna &#38; Pemblokiran Youtube dkk.</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Silogisme dan Generalisasi (Kajian Tugas Makalah)]]></title>
<link>http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/20/silogisme-dan-generalisasi-kajian-tugas-makalah/</link>
<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 16:24:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>dossuwanda</dc:creator>
<guid>http://dossuwanda.id.wordpress.com/2008/03/20/silogisme-dan-generalisasi-kajian-tugas-makalah/</guid>
<description><![CDATA[2.1. Logika
Kata logika berasal dari kata logos dalam bahasa Yunani yang berarti kata atau pikiran. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>2.1. Logika<br />
Kata logika berasal dari kata logos dalam bahasa Yunani yang berarti kata atau pikiran. Secara bahasa logika berarti ilmu berkata atau ilmu berfikir benar. Kebenaran adalah syarat dari tindakan untuk mencapai tujuannya bagi laku perbuatan untuk menunjukan nilai. Logika menuntun pandangan lurus dalam praktek berfikir menuju kebenaran dan menghindarkan budi menempuh jalan yang salah dalam berfikir. Logika merupakan studi dari salah satu pengungkapan kebenaran dan dipakai untuk membedakan argumen yang masuk akal, serta berbagai bentuk argumentasi. Logika dalam kajiannya pada problem formal dan spesifik tentang keteraturan penalaran. Logika berurusan dengan pengetahuan yang bersifat formal apriori. Pengetahuan yang bersifat apriori adalah pengetahuan kebenarannya abstain dari pengalaman melainkan hanya berdasarkan definisi. Dalam logika sangat terkait dengan matematika.</p>
<p>Hukum dalam logika tidak termasuk pengamatan empiris, dan fungsi argumen logis untuk mengantarkan kita kepada kesimpulan yang tidak dapat diperoleh dari sekedar pengamatan. Kita membuat kesimpulan dikarenakan ada hubungan logis antara satu proposisi atau premis lebih dengan proposisi yang lain, kesimpulannya kurang lebih berbentuk bahwa yang kedua pasti benar jika yang pertama benar. Kemudian jika kita mengetahui yang pertama, kita dapat meyatakan yang kedua berdasarkan yang pertama.</p>
<p>Cara berpikir secara logis terbagi dua, yaitu : induktif dan deduktif<br />
Induktif merupakan suatu cara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.<br />
Deduktif adalah suatu cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.</p>
<p>2.2. Silogisme<br />
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).<br />
Silogisme terdiri dari ; Silogisme Katagorik, Silogisme Hipotetik dan Silogisme Disyungtif.</p>
<p>a. Silogisme Katagorik<br />
Silogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).</p>
<p><!--more-->Contoh :<br />
Semua Tanaman membutuhkan air (premis mayor)<br />
...................M.................P<br />
Akasia adalah Tanaman (premis minor)<br />
....S..........................M<br />
Akasia membutuhkan air (konklusi)<br />
....S.................P<br />
(S = Subjek, P = Predikat, dan M = Middle term)</p>
<p>- Hukum-hukum Silogisme Katagorik<br />
Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus parti¬kular juga, seperti:<br />
Semua yang halal dimakan menyehatkan<br />
Sebagian makanan tidak menyehatkan,<br />
Jadi Sebagian makanan tidak halal dimakan<br />
(Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal<br />
dimakan).<br />
Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti:</p>
<p>Semua korupsi tidak disenangi.<br />
Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi<br />
Sebagian pejabat tidak disenangi.<br />
(Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)</p>
<p>Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.<br />
Beberapa politikus tidak jujur.<br />
Banyak cendekiawan adalah politikus, jadi:<br />
Banyak cendekiawan tidak jujur.<br />
Jadi: Beberapa pedagang adalah kikir. Kesimpulan yang diturunkan</p>
<p>dari premis partikular tidak pernah menghasilkan kebenaran yang pasti, oleh karena itu kesimpulan seperti:<br />
Sebagian besar pelaut dapat menganyam tali secara bai<br />
Hasan adalah pelaut, jadi:<br />
Kemungkinan besar Hasan dapat menganyam tali secara baik<br />
adalah tidak sah.<br />
Sembilan puluh persen pedagang pasar Johar juju Kumar adalah pedagang pasar Johar, jadi: Sembilan puluh persen Kumar adalah jujur</p>
<p>1) Dari dua premis yang sama-sama negatit, lidak men kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai ya hubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpul diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.</p>
<p>Kerbau bukan bunga mawar.<br />
Kucing bukan bunga mawar.<br />
..... (Tidak ada kesimpulan) Tidak satu pun drama yang baik mudah dipertunjukk Tidak satu pun drama Shakespeare mudah dipertunju Jadi: Semua drama Shakespeare adalah baik. (Kesimpulan tidak sah)</p>
<p>2) Paling tidak salah satu dari term penengah haru: (mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak ten menghasilkan kesimpulan yang salah, seperti:</p>
<p>Semua ikan berdarah dingin.<br />
Binatang ini berdarah dingin<br />
Jadi: Binatang ini adalah ikan.<br />
(Padahal bisa juga binatang melata)</p>
<p>3) Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan lenjadi salah, seperti</p>
<p>Kerbau adalah binatang.<br />
Kambing bukan kerbau.<br />
Jadi: Kambing bukan binatang.<br />
('Binatang' pada konklusi merupakan term negatif sedang-<br />
kan pada premis adalah positif)</p>
<p>4) Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis layor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna mda kesimpulan menjadi lain, seperti:</p>
<p>Bulan itu bersinar di langit.<br />
Januari adalah bulan.<br />
Jadi: Januari bersinar di langit.<br />
(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktu<br />
yang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor<br />
berarti planet yang mengelilingi bumi).</p>
<p>5) Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, preidkat, dan term menengah ( middle term ), begitu juga jika terdiri dari dua atau lebih dari tiga term tidak bisa diturunkan komklsinya.</p>
<p>- Absah dan Benar<br />
Dalam membicarakan silogisme mengenal dua istilah yaitu absah dan benar.<br />
Absah (valid) berkaitan dengan prosedur penyimpi apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan di atas dan dan tidak valid bila sebaliknya.</p>
<p>Benar berkaitan dengan proposisi dalam silogisme itu, 2 didukung atau sesuai dengan fakta atau tidak. Bila sesuai fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.<br />
Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk mendapatkan yang sah dan benar. Hanya konklusi dari premis yang benar prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Mengapa demikian Karena bisa terjadi: dari premis salah dan prosedur valid menghasilkan konklusi yang benar, demikian juga dari premis salah dan prosedur invalid dihasilkan konklusi benar.</p>
<p>Variasi-variasinya adalah sebagai berikut:<br />
1. Prosedur valid, premis salah dan konklusi benar.<br />
Semua yang baik itu haram. (salah)<br />
Semua yang memabukkan itu baik. (salah)<br />
Jadi: Semua yang memabukkan itu haram. (benar)</p>
<p>2. Prosedur invalid (tak sah) premis benar konklusi salah<br />
Plato adalah filosof. (benar)<br />
Aristoteles bukan Plato. (benar)<br />
Jadi: Aristoteles bukan filosof (salah)</p>
<p>3. Prosedur invalid, premis salah konklusi benar.<br />
Sebagian politikus adalah tetumbuhan. (salah)<br />
Sebagian manusia adalah tetumbuhan. (salah)<br />
Jadi: Sebagian manusia adalah politikus (benar)</p>
<p>4. Prosedur valid premis salah dan konklusi salah.<br />
Semua yang keras tidak berguna. (salah)<br />
Adonan roti adalah keras. (salah)<br />
Jadi: Adonan roti tidak berguna (salah)</p>
<p>b. Silogisme Hipotetik<br />
Silogisme Hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.<br />
Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:</p>
<p>1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:<br />
Jika hujan, saya naik becak.<br />
Sekarang hujan.<br />
Jadi saya naik becak.</p>
<p>2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:<br />
Bila hujan, bumi akan basah.<br />
Sekarang bumi telah basah.<br />
Jadi hujan telah turun.</p>
<p>3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:<br />
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka<br />
kegelisahan akan timbul.<br />
Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,<br />
Jadi kegelisahan tidak akan timbul.</p>
<p>4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:<br />
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah.<br />
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.</p>
<p>Hukum-hukum Silogisme Hipotetik<br />
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan 'kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.</p>
<p>Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen .engan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:<br />
1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.<br />
2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)<br />
3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)<br />
4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.</p>
<p>Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan<br />
berikut:</p>
<p>Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi<br />
Nah, peperangan terjadi.<br />
Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.( benar = terlaksana)<br />
Benar karena mempunyai hubungan yang diakui kebenarannya<br />
Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi<br />
Nah, peperangan terjadi.</p>
<p>Jadi harga bahan makanan tidak membubung tinggi (tidak sah = salah)<br />
Tidak sah karena kenaikan harga bahan makanan bisa disebabkan oleh sebab atau faktor lain.</p>
<p>c. Silogisme Disyungtif<br />
Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.<br />
Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.</p>
<p>Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti<br />
sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif<br />
dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif,<br />
seperti:<br />
la lulus atau tidak lulus.<br />
Ternyata ia lulus, jadi<br />
la bukan tidak lulus.</p>
<p>Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti:</p>
<p>Hasan di rumah atau di pasar.<br />
Ternyata tidak di rumah.<br />
Jadi di pasar.</p>
<p>Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun arti iuas mempunyai dua tipe yaitu:<br />
1) Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain, seperti:</p>
<p>la berada di luar atau di dalam.<br />
Ternyata tidak berada di luar.<br />
Jadi ia berada di dalam.<br />
Ia berada di luar atau di dalam.<br />
temyata tidak berada di dalam.<br />
Jadi ia berada di luar.</p>
<p>2) Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain, seperti:</p>
<p>Budi di masjid atau di sekolah.<br />
la berada di masjid.<br />
Jadi ia tidak berada di sekolah.<br />
Budi di masjid atau di sekolah.<br />
la berada di sekolah.<br />
Jadi ia tidak berada di masjid.</p>
<p>Hukum-hukum Silogisme Disyungtif</p>
<p>1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid, seperti :<br />
Hasan berbaju putih atau tidak putih.<br />
Ternyata berbaju putih.<br />
Jadi ia bukan tidak berbaju putih.<br />
Hasan berbaju putih atau tidak putih.<br />
Ternyata ia tidak berbaju putih.<br />
Jadi ia berbaju non-putih.</p>
<p>2. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:<br />
a. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:<br />
Budi menjadi guru atau pelaut.<br />
la adalah guru.<br />
Jadi bukan pelaut<br />
Budi menjadi guru atau pelaut.<br />
la adalah pelaut.<br />
Jadi bukan guru<br />
b. Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya tidak sah (salah), seperti:<br />
Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya.<br />
Ternyata tidak lari ke Yogya.<br />
Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).<br />
Budi menjadi guru atau pelaut.<br />
Ternyata ia bukan pelaut.<br />
Jadi ia guru. (Bisa j'adi ia seorang pedagang).</p>
<p>2.3. Generalisasi<br />
Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual (khusus) menuju kesimpulan umum yang mengikat selutuh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.</p>
<p>Macam-macam Generalisasi :<br />
(1) Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.<br />
Misalnya setelah kita memperhatikan jumlah hari pada setiap bulan tahun Masehi kemudian disimpulkan bahwa:<br />
Semua bulan Masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31.<br />
Dalam penyim¬pulan ini, keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang kita tinggalkan.<br />
Generalisasi macam ini memberikan kesimpulan amat kuat<br />
dan tidak dapat diserang. Tetapi tentu saja tidak praktis dan<br />
tidak ekonomis.</p>
<p>(2) Generalisasi tidak sempurna yaitu generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.<br />
Misalnya setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemu¬dian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna.</p>
<p>PEMBAHASAN DAN REALITA</p>
<p>3.1. Pendekatan Deduktif dan Induktif dalam Model Pembelajaran<br />
Pendekatan Deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaan umum kekeadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan. prinsip umum itu kedalam keadaan khusus. Langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam pembelajaran adalah: (1) memilih konsep, prinsip. aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif; (2) menyajikan aturan, prinsip yang bersifat umum lengkap dengan definisi dan buktinya; (3) disajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus itu dengan aturan. prinsip umum; dan (4) disajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan gambaran dari keadaar umum.</p>
<p>Sedangkan berpikir deduktif disebut juga berpikir dengan menggunakan silogisme terdiri dari tiga preposisi statement yang terdiri dari "premise" yaitu dasar penarikan kesimpulan sebagai pernyataan akhir yang mengandung suatu kebenaran. Berpikir deduktif prosesnya berlangsung dan yang umum menuju ke yang khusus. Dalam berpikir deduktif ini orang bertolak dan suatu teori prinsip, ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum Dari situ diterapkan kepada fenomena-fenomena yang khusus. dan mengambi kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.<br />
Pendekatan Induktif pada awalnya dikemukakan oleh filosof Inggri Francis Bacon (1561) yang menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit sebanyak mungkin, sistem ini dipandang sebagai sistem berpikir yang paling baik pada abad pertengahan yaitu cara induktif disebut juga sebagai dogmatif artinya bersifat mempercayai begitu saja tanpa diteliti secara rasional. Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju ke yang umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena.</p>
<p>Tepat atau tidaknya kesimpulan atau cara berpikir yang diambil secara induktif ini menurut Purwanto (2002:47) bergantung pada representatif atau tidaknya sampel yang diambil mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil berarti makin representatif dan makin besar pula taraf dapat dipercaya (validitas) dari kesimpulan itu, dan sebaliknya. Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh obyektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam konteks pembelajaran pendekatan Induktif adalah pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu fakta, prinsip atau aturan.<br />
Langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan induktif adalah: (1) memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan induktif; (2) menyajikan contoh-contoh khusus konsep, prinsip atau aturan itu yang memungkinkan siswa memperkirakan (hipotesis) sifat umum yang terkandung dalam contoh-contoh itu; (3) disajikan bukti-bukti yang berupa contoh tambahan untuk menunjang atau menyangkal perkiraan itu; dan (4) disusun pernyataan mengenai sifat umum yang telah terbukti berdasarkan langkah-langkah yang terdahulu. Pada tingkat ini menurut Syamsudin Makmun (2003:228) siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep atau pengertian dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif. deduktif, analisis, sintesis. asosiasi. diferensiasi, komparasi, dan kausalitas), sehingga siswa dapat membuat kesimpulan (kongklusi) tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai "rule" (prinsip. dalil, aturan. hukum, kaidah. dan sebagainya).</p>
<p>Pendekatan yang tidak bersifat demokratis ialah pendekatan deduktif yang agak lebih banyak mengandung sifat otoriter. Dalam kegiatan pembelajaran ini guru dalam mengajar tidak memberikan siswa kesempatan sepenuhnya menemukan. membuktikan sendiri prinsip, hukum dan sebagainya tentang bahan belajar yang harus ditelaah. Kondisi yang diisyaratkan kemungkinan tercapainya proses belajar seperti ini, Gagne menyarankan: (1) siswa diberitahukan tentang bentuk "performance" yang diharapkan jikak yang bersangkutan telah mengalami proses belajar; (2) siswa diberik; sejumlah pertanyaan yang merangsang pengingatannya (recall) terhads konsep-konsep yang telah dipelajari dan dimilikinya untuk mengungkap ke perbendaharaan pengetahuannya; (3) siswa diberikan beberapa kata-kata kunci (kode) yang menyatakan ke arah pembentukan rule tertentu yang diharapkan (4) diberikan kesempatan kepada siswa mengekspressikan dan menyatakan ru tersbut dengan kata-kata sendiri; dan (5) siswa diberikan kesempatan selanjutnya untuk membuat rumusan rule tersebut dalam bentuk-benti statement formal bersifat optional sukarela.</p>
<p>3.2. Realita Silogisme dan Generalisasi dalam Penelitian Guru<br />
Beberapa contoh pendekatan silogisme dan genelisasi dalam penelitian yang dilakukan guru :<br />
Guru berpikir bahwa minat siswa berpengaruh pada tingginya prestasi belajar. Oleh karena itu, guru melakukan penelitian yang judulnya "Korelasi antara Minat dengan Prestasi Belajar" atau "Pengaruh Minat terhadap Prestasi Belajar". Dalam contoh ini mungkin guru merasa telah melakukan suatu tindakan karena sudah menyusun angket minat dan membuka dokumen daftar nilai. Apa hasilnya? Setelah angket disebarkan kepada siswa, kemudian diperoleh data dan diolah dengan statistik maka guru akan memperoleh informasi berupa indeks korelasi. Guru puas, tetapi prestasi belajar siswa tidak terpengaruh apa-apa, jadi tetap saja tidak naik.</p>
<p>Ditinjau dari sisi guru, sama sekali profesinya tidak meningkat. Dalam peristiwa ini guru hanya menyusun angket minat dan menganalisis nilai yang ada pada dokumen. Apanya yang meningkat? Tidak ada!<br />
Contoh lain yang banyak dilakukan oleh guru, tetapi sangat tidak tepat adalah penelitian untuk mengetahui pengaruh latar belakang pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa. Dalam hal ini guru juga tidak melakukan apa-apa, bahkan berpikir kurang tepat. Guru berprasangka, jika pendidikan orang tua siswa tinggi, pasti dapat memberikan bimbingan kepada anaknya dalam belajar sehingga prestasi anak-anak tinggi. Hasil dari penelitian ini justru ada bahayanya. Jika prestasi siswa yang orang tuanya berpendidikan tinggi lebih baik dari siswa yang orang tuanya berpendidikan rendah, saran peneliti harus berbunyi: "Orang tua sebaiknya berpendidikan tinggi agar prestasi anaknya baik".</p>
<p>Jika hasilnya berbalik, saran yang diberikan harus berbunyi: "Sebaiknya orang tua siswa tidak usah berpendidikan tinggi karena dikhawatirkan prestasi anaknya menjadi tidak baik".<br />
Contoh ketiga ; guru mempunyai permasalahan tentang aktifitas belajar siswa, penguasaan materi pembelajaran dengan sarana belajar, sehingga guru melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya, setelah melakukan penelitian dapat dikatakan ada peningkatan siswa menjadi aktif, penyempaian materi menjadi menyenangkan karena temannya menjadi tutor atau pemberi materi pelajaran.</p>
<p>Dari contoh di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :<br />
1. Pada contoh pertama : penelitian yang dilakukan guru salah atau tidak sah karena tidak menggunakan pendekatan silogime yang benar, yaitu :<br />
Pengaruh Minat terhadap Prestasi Belajar<br />
angket disebarkan kepada siswa<br />
prestasi belajar siswa tidak berubah</p>
<p>2. Contoh kedua :<br />
Pendidikan orang tua siswa tinggi<br />
Pendidikan orang tua siswa tinggi<br />
….. tidak terjadi kesimpulan</p>
<p>3. Contoh ketiga :<br />
Jika menggunakan metode yang sesuai dan kreatif maka Siswa aktif dan belajar menyenangkan<br />
Penggunaan variasi metode pembelajaran di lakasanakan<br />
Maka siswa menjadi aktif<br />
Pada contoh ketiga ini menggunakan penddekatan silogisme hipotetik, yaitu jika A terlaksana maka B terlaksana</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Mundiri, Logika, Jakarta : Rajawali Pers, 1994.<br />
Nasution, Hakim, Andi, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta :<br />
Pustaka Sinar Harapan, 2005<br />
Arikunto, Suharsimi, dkk. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT Bumi<br />
Aksara, 2006.<br />
http://www.unhas.ac.id/~rhiza/mystudents/filsafat-<br />
iptek/Bab%209%20Yunus%20dan%20Halidin.ppt<br />
http://www.halimsani.wordpress.com/2007/09/18/apakah-filsafat-itu-sebuah-<br />
pengantar-kealam-filsafat/<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat<!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adil?]]></title>
<link>http://omaigat.wordpress.com/2008/01/16/adil/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 07:57:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>K. geddoe</dc:creator>
<guid>http://omaigat.id.wordpress.com/2008/01/16/adil/</guid>
<description><![CDATA[oleh Soebiawak a.s..


Hanya sebuah otokritik. Entah kenapa, bagi sebagian orang, begitu mudah menyo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>oleh <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/">Soebiawak a.s.</a></i>.</p>
<p><!--moreImage, 241 kb.--></p>
<p ALIGN="center"><img SRC="http://omaigat.files.wordpress.com/2008/01/yeem.jpg" /></p>
<p>Hanya sebuah otokritik. Entah kenapa, bagi sebagian orang, begitu mudah menyombongkan superioritas moral dunia 'timur' dan melancarkan serangan terhadap peradaban 'barat'. Generalisasi di sini terlihat sah. Namun, bila kaum kita sendiri yang diserang, kita menutupi malu dengan mengklaim bahwa generalisasi yang ada sangatlah sesat dan menyesatkan. Kenapa sampai ada dua standar yang berbeda? Buat saya, ada orang baik dan buruk, baik di timur, barat, atau di manapun.</p>
<p>BTW, ini cuma chat fiktif yang dibikin pakai Photoshop. Abu Sorga hanya karakter fiktif. Akun IM-nya pun sengaja tidak ditulis (berlawanan dengan chat window yang sesungguhnya). Karakter Noer diambil dari [<a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/05/17/seni-dibodoh-bodohi/">sini</a>]. Sekian dan terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Balada Bahasa Indonesia]]></title>
<link>http://egadioniputri.wordpress.com/2007/12/22/balada-bahasa-indonesia/</link>
<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 13:22:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>egadioniputri</dc:creator>
<guid>http://egadioniputri.id.wordpress.com/2007/12/22/balada-bahasa-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Zaman sekarang, saya perhatikan bahasa kita semakin aneh-aneh. Kalau saja ada kamus kumpulan perubah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Zaman sekarang, saya perhatikan bahasa kita semakin aneh-aneh. Kalau saja ada kamus kumpulan perubahan makna kata yang berisi <i>generalisasi, spesialisasi, peyorasi,</i> dan lawannya peyorasi (aduh, saya lupa namanya apa, udah lama nggak belajar bahasa Indonesia), termasuk mungkin <i>plesetan-plesetan</i>, pasti sudah berulang kali terbit revisinya. Kata-kata di bawah ini, contohnya, sudah mengalami pergeseran makna yang signifikan :</p>
<p><b>Dewa</b><br />
Orang yang jagoooo banget di bidang tertentu. Tak jarang kehebatan itu sudah dimiliki ketika orang-orang di sekitarnya baru mulai belajar...</p>
<p><b>Master</b><br />
Naskah, tulisan, pekerjaan asli seseorang yang dijadikan referensi, dicontek, atau dicopy paste secara massal maupun individual, biasanya malah turun-temurun dari angkatan terdahulu.</p>
<p><b>Secara</b><br />
"Nggak heran", "pantes", "wajar", "jelas aja", "otomatis", dan istilah lain yang sulit didefinisikan.<br />
<!--more--><b>Autis</b><br />
Orang autis adalah orang yang suka secara tiba-tiba, sekonyong-konyong, nggak jelas jluntrungannya, melakukan hal-hal konyol, di luar dugaan, di luar batas kenormalan, pokoknya sangat aneh menurut lingkungannya.</p>
<p><b>Nyekem</b><br />
Saya sendiri nggak tau pasti apa artinya...tapi kira-kira semacam memanas-manasi, memprovokasi, memposting sesuatu yang bisa menimbulkan kontroversi di milis, forum, dan sebagainya.</p>
<p><b>Nyampah</b><br />
Melakukan sesuatu yang tidak berguna</p>
<p><b>Stroberi</b><br />
Pengganti kata-kata tidak senonoh dalam bahasa Jawa (baca : pisuhan halus)</p>
<p><b>Nubes</b><br />
Mengerjakan tugas besar. TUgas BESar = TUBES. Serupa dengan "imbuhan-imbuhan modern yang dulunya dianggap tidak lazim sekarang menjadi sangat lazim lainnya", contohnya ngedepanin, ngasur, ngamar, macar, sampe nge-Linux, ngomlabs, nge-ARC...(walopun beberapa kata yang terakhir ini maksa banget)</p>
<p>...bersambung...<br />
*dibuka kesempatan bagi yang mau menambahkan*</p>
<p>Selain pergeseran-pergeseran makna kata seperti di atas, keanehan bahasa Indonesia yang lain saya temukan di diktat-diktat pemrograman, lirik-lirik lagu, situs-situs internet, judul buku, judul film, dan lain-lain, yaitu : penggunaan bilingual, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang setenga-setengah. Padahal kadang-kadang terdengar norak. <a href="http://rinaldimunir.wordpress.com">Pak Rinaldi</a>, salah satu dosen saya di IF, bahkan pernah menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena generasi sekarang yang lebih suka menggunakan bahasa asing dalam memberi nama hasil karyanya ketimbang bahasa Indonesia. Dari beliau juga kami akhirnya belajar memperkaya kosakata bahasa Indonesia yang masih asing di masyarakat, malah lebih banyak yang tahu bahasa asingnya daripada bahasa Indonesianya sendiri. Contohnya :</p>
<p><b>Sandi lewat</b> = Password<br />
<b>Pranala</b> = Link<br />
<b>Unduh</b> = Download<br />
<b>Lanjar</b> = Linear<br />
<b>Mesin jaja</b> = Vending Machine<br />
<b>Mangkus</b> = Efisien<br />
<b>Aras</b> = Level<br />
<b>Lempang</b>=Straightforward</p>
<p>...dan masih banyak lagi yang lainnya. Ironis memang...sedemikian besarnya pengaruh teknologi sampai kita hampir kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Nah, mulai saat ini, yuk biasakan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar! Sudah cukup lagu kita, makanan khas kita, kesenian kita, kekayaan budaya kita dirampas oleh bangsa lain. Jangan sampai kita kalah dalam hal "mempopulerkan istilah-istilah ilmiah" dalam bahasa Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
