Apakah karena aku bertambah tua, tanyamu. Ada bersit gundah. Kukatakan tenang saja, itu biasa. Cumbuan rehat sejenak. Ruang nikmatmu menyempit, pintunya menutup, seperti menolak tamu yang dirindu, pad… lagi →
kemarin/kini/esokkemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Apakah karena aku bertambah tua, tanyamu. Ada bersit gundah. Kukatakan tenang saja, itu biasa. Cumbu … more →
tebar wrote 2 years ago: Apakah karena aku bertambah tua, tanyamu. Ada bersit gundah. Kukatakan tenang saja, itu biasa. Cumbu … more →
kemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Biarkan aku jadi anak kecil lagi, Enci. Belajar anatomi, kenali keindahan dan fungsi. Semua memek sa … more →
tebar wrote 2 years ago: Biarkan aku jadi anak kecil lagi, Enci. Belajar anatomi, kenali keindahan dan fungsi. Semua memek sa … more →
kemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Bersih. Cantik. Perineum itu. Lapangan sempit di antara dubur dan mekimu. Dengan senang hati aku men … more →
kemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Aku datang selagi kau selesai berendam dalam bathtub wangi. Tebar terapi aromatik lilin dan healing … more →
kemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Dalam 69 di atas karpet, kegemasanmu datangkan sakit. Kau gigit tititku. Lecet. Aku kesakitan. Rasa … more →
kemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Helai-helai jembut lurus tipis lembutmu itu, Enciku sayang. Aku menyukainya bahkan setelah nafsu ter … more →
kemarin/kini/esok wrote 2 years ago: Puting merah, payudara putih padat kenyalmu, oh Enci. Aku menyukai itu kadang tanpa nafsu mendidih. … more →