<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>duta-masyarakat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/duta-masyarakat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "duta-masyarakat"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 18:12:04 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Karir dan Perselingkuhan]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2007/09/10/diperlukan-paradigma-baru-maskulinitas/</link>
<pubDate>Mon, 10 Sep 2007 15:10:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2007/09/10/karir-dan-selingkuh/</guid>
<description><![CDATA[Opini di Harian Duta Masyarakat 7 Agustus 2007
Judul Asli: Diperlukan Paradigma Baru Maskulinitas
Ol]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://afatih.wordpress.com/files/2007/09/selingkuh-perselingkuhan.jpg" title="Diperlukan Paradigma Baru Maskulinitas"><img border="0" src="http://afatih.wordpress.com/files/2007/09/selingkuh-perselingkuhan.thumbnail.jpg" alt="Diperlukan Paradigma Baru Maskulinitas" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" /></a>Opini di Harian Duta Masyarakat 7 Agustus 2007<br />
Judul Asli: Diperlukan Paradigma Baru Maskulinitas<br />
Oleh A Fatih Syuhud</p>
<p>Perempuan telah membuat kemajuan cukup cepat di bidang pendidikan dan partisipasi kerja. Indikator sosial dan ekonomi mereka semakin menunjukkan perbaikan luar biasa waktu demi waktu. Penyempitan gap gender ini nantinya akan mengarah pada peningkatan kekerasan pada perempuan, setidaknya dalam jangka pendek. Oleh karena itu, kita hendaknya dapat mengontrol beberapa konsekuensi dari pemberdayaan gender, khususnya disfungsional keluarga dan hubungan rumah tangga. Bagaimana membantu kaum pria merubah pola pikir yang ada agar kemajuan perempuan tidak harus dibayar mahal tampaknya memerlukan perhatian lebih.</p>
<p>Imej umum lelaki adalah sebagai sosok pencari nafkah yang kuat dan gigih. Dan perempuan digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang menunggu dengan setia kepulangan suami dari tempat kerja. Pria sering terjebak dalam imej sebagai pencari nafkah dan ongkos psikologis dari kegagalan memenuhi peran ini dapat luar biasa. Apa yang terjadi apabila peran gender yang sudah mentradisi ini di redifinisi kembali, khususnya di lingkungan kelas menengah ke atas, yang sering ditimbulkan oleh kebutuhan dan tantangan ekonomi baru? Perempuan sebagai tenaga kerja disukai karena kesediaan mereka melakukan pekerjaan dengan gaji lebih rendah, adanya komitmen dan rasa tanggung jawab serta cocoknya pada sejumlah pekerjaan tertentu.<br />
<!--more--><br />
Gerakan kaum feminis dan munculnya sejumlah role model telah membantu memicu bangkitnya wanita profesional kelas menengah, yang sukses berkarir dan pada waktu yang sama berhasil sebagai ibu rumah tangga. Kalangan wanita sukses ini terkadang menyembunyikan rasa tertekan mereka dalam mengemban dua macam tanggung jawab. Tetapi apa yang akan terjadi saat pembalikan peran rumah tangga terjadi dan perempuan menjadi pencari nafkah? Seorang rekan saya yang baru lulus S2 Hukum di India dan sukses sebagai konsultan hukum di perusahaan terkenal di Jakarta mengatakan, “Saya lebih memilih bekerja dan karir saya diapresiasi suami kendati suami saya sukses, dari pada hanya berperan sebagai ibu rumah tangga”.</p>
<p>Dengan semakin meningkatnya jumlah perempuan menempati lapangan kerja, maka sedikitnya akan muncul empat probabilitas tantangan imajiner sosial ke depan.</p>
<p>Pertama, wanita A akan menjalani beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengatur rumah tangga sedang suami tidak berperan apa-apa.</p>
<p>Sang suami menolak menjadi bapak rumah tangga kendati sang istri bekerja keras sepanjang hari. Akhirnya mereka berpisah tetapi membiarkan pintu tetap terbuka untuk rujuk kembali suatu hari nanti.</p>
<p>Kedua, perempuan B menikah secara tergesa alias cinta monyet. Istri kemudian menyadari bahwa mereka secara intelektual maupun emosional tidak serasi. Sementara itu, dua anak telah lahir dan karena itu sang istri mempertahankan perkawinan. Dia mengambil langkah berani dengan tetap bekerja mencari nafkah keluarga dan sekaligus meneruskan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Dari waktu ke waktu, sang istri ingin keluar dari wahana perkawinan, tetapi karena tak ada dukungan, tetap melanjutkan mahligai rumah tangga. Uang tidak menjadi masalah tetapi sang suami cemburu pada pekerjaan istri, independensinya, fakta bahwa istri mencapai keberhasilan yang tak bisa dia raih. Haruskah istri menceraikannya?</p>
<p>Ketiga, perempuan C dan suaminya menikah berdasarkan cinta. Keduanya profesional. Tetapi lama kelamaan sang suami cemburu melihat istrinya yang lebih berbakat dan sukses. Suatu hari, suami stress dan mengusir istri, dengan anak kecil yang tidur di sampingnya. Sang istri pun menjadi single parent, bekerja dan memelihara anak. Haruskah dia berekonsiliasi dan kembali ke sang suami?</p>
<p>Perempuan D melakukan hubungan gelap dengan kolega kerjanya dan ketika suami mengetahuinya, maka dia pun menceraikannya. Sang istri meminta maaf dengan beralasan “di luar kesengajaan” dan memohon untuk rujuk. Haruskah suami rujuk kembali, kendati kelelakiannya tertantang dan menjadi rendah di mata dunia?</p>
<p>Kasus ketiga itu sudah umum terjadi. Dr. Shirley Glass, seorang psikolog Amerika dan pakar soal perselingkuhan dalam bukunya <em>Not "Just Friends": Protect Your Relationship From Infidelity and Heal the Trauma of Betrayal</em> memberikan data survei menarik.</p>
<p>Menurut Glass:</p>
<blockquote><p>Selama dua dekade pengalaman prakteknya sebagai psikolog diketahui ada 46 persen istri dan 62 persen suami yang telah melakukan perselingkuhan dengan kolega kerja. Dan menariknya, perselingkuhan yang dilakukan kalangan istri justru meningkat secara signifikan - dari 1982 sampai 1990, 38 persen istri melakukan perselingkuhan dengan rekan kantor berbanding dengan 50 persen jumlah istri tidak setia dari tahun 1991 sampai 2000.</p></blockquote>
<p>Di Indonesia, menurut data stastistik dari Direktorat Jendral Pembinaan Peradilan Agama Tahun 2005 lalu, misalnya,</p>
<blockquote><p>...ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. Persentasenya mencapai 9,16 % dari 150.395 kasus perceraian tahun 2005 atau 13.779 kasus. Alhasil ,dari 10 keluarga yang bercerai , 1 diantaranya karena selingkuh. Rata-rata , setiap 2 jam ada tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh.</p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Kajian tentang maskulinitas, sebuah area riset paralel yang berkembang sebagai respons pada kajian perempuan, perlu dilakukan untuk mengeksplorasi isu-isu seputar keluarga di mana pasangan seperti yang tersebut di atas terperangkap. Suami dapat saja disalahkan sebagai pemukul istri, pelaku kekerasan rumah tangga dan terror. Tetapi, apa yang membuatnya demikian?</p>
<p>Dalam kasus pertama, akankah ibu rumah tangga yang tidak bekerja (dan terkadang tidak mendukung) didepak dari rumah? Di sini masyarakat akan dengan cepat mengatakan bahwa sang suami yang kejam telah meninggalkan istrinya. Pada kasus kedua, suami mengalami rasa minder karena dia tidak memiliki kapasitas intelektual dan kecakapan seperti istrinya untuk berkembang dan mulai menderita kecenderungan depresi. Dalam kasus ketiga, akankah sang istri yang memahami keadaan suaminya seperti itu karena dia tumbuh dalam kondisi keluarga yang disfungsional, mencoba pendekatan yang lebih halus? Apakah sang suami dalam contoh terakhir menyadari bahwa dia hanya korban dari pembalikan peran (reversal role)—selama ini perempuan biasanya selalu dalam posisi dikhianati—dan rela menerima kembali istrinya apabila sang istri hendak rujuk?</p>
<p>Sementara kita memfokuskan emansipasi untuk perempuan, kita juga perlu mengembangkan bentuk baru maskulinitas yang akan memungkinkan kaum lelaki beradaptasi terhadap realitas baru perempuan.</p>
<p>Untuk itu, diperlukan usaha keras masyarakat yang dapat berlaku adil baik pada lelaki dan perempuan.[]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Negara dan Politik Agama]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2006/07/15/negara-dan-politik-agama/</link>
<pubDate>Sat, 15 Jul 2006 11:48:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2006/07/15/negara-dan-politik-agama/</guid>
<description><![CDATA[Harian Duta Masyarakat, 15 Juli 2006
Oleh A. Fatih Syuhud
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra U]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Harian Duta Masyarakat, 15 Juli 2006</p>
<p>Oleh A. Fatih Syuhud<br />
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India</p>
<p>Apa yang akan dikatakan Michel Foucault tentang Iran dua dekade setelah Revolusi Islam? Foucault dan Iran terkesan dua nama yang tidak relevan. Tidak banyak yang tahu bahwa Foucault, salah satu filsuf paling berpengaruh abad ini, menulis tentang Iran. Pada musim gugur 1978, tak kala rezim Shah Mohammed Reza Pahlevi dalam detik-detik terakhir kekuasaan, Foucault mengunjungi Iran untuk membuat reportase peristiwa. Dia menulis tujuh artikel untuk harian Itali terkenal dan juga dalam bahasa Prancis. Tak banyak yang memperhatikan tulisannya sampai kumpulan tulisan Foucault soal Iran diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris pada Juni lalu.<br />
<span class="fullpost"><br />
Observasi Foucault seputar revolusi Islam di Iran akan mengejutkan banyak pengagum fanatiknya. Pemikir yang dikenal dengan analisa berbagai bentuk kekuasaan dalam masyarakat ini ternyata seorang pengagum berat revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini. </span><span class="fullpost">Foucault menulis, “Sebagai pergerakan Islam, revolusi Iran dapat membakar seluruh kawasan, melengserkan berbagai rezim yang sangat tak stabil, dan dapat menggoncangkan rezim yang solid. Islam – yang bukan hanya sebuah agama, tetapi juga keseluruhan way of life, dan koheren dengan sejarah dan peradaban—memiliki peluang relatif besar untuk menjadi pengikat raksasa, pada level ratusan juta pemeluknya”. Pada poin ini, pendapatnya masih wajar. Opininya yang cukup polemis dalam konteks kekinian adalah ketika dia berargumen bahwa Islam sebagai sebuah agama yang memberikan penganutnya “sumber tak terbatas untuk melawan kekuatan negara”.</p>
<p>Setelah melakukan perjalanan di sepanjang jalan Teheran dan Qom, Foucault menulis bahwa dengan “pemerintahan Islam” tak satupun di Iran memaknainya sebagai sebuah “rezim politik di mana ulama (klerikal) akan memiliki peran sebagai pengawas atau pengontrol”. Bagi Foucault, pemerintahan Islam bermakna ganda: (a) asumsi kembali pada Islam pada era Nabi dan (b) pada waktu yang sama bergerak menuju masa depan gemilang. Berkaitan dengan politik pada sistem semacam itu, Foucault menulis “berbagai keputusan akan dibuat oleh mayoritas, pemimpin bertanggung jawab langsung pada rakyat, dan setiap individu—sebagaimana ditetapkan dalam Quran—harus tegas dan meminta pertanggungjawaban pemimpin yang memerintah”.</p>
<p>Apakah evaluasi Foucault ini berlaku di Iran saat ini atau di negara-negara Muslim di Timur Tengah? Secara faktual, di Iran, seperempat abad sejak Khomeini mengambil alih kekuasaan, Islam dipakai untuk memperkuat negara bukan memperlemahnya. Ayatullah Ali Khamenei, yang menggantikan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi agama Iran 18 tahun lalu, memimpin sebuah negara di mana ulama (klerik) memiliki kekuasaan tertinggi dalam berbagai level pemerintahan. Dan di mana masyarakatnya diharuskan mengaplikasikan norma dan sikap sosial tertentu. Basij, pasukan milisi yang sering berpatroli di jalanan, memaksakan cara berpakaian dan berperilaku. Terdapat juga Pengawal Revolusi (Revolutionary Guards) yang loyal pada Khamenei yang selalu memata-matai pembangkang. Presiden Mahmud Ahmadinejad pernah aktif baik dalam Basij maupun Pengawal Revolusi.<br />
Negara-negara Muslim di kawasan juga tidak lebih baik dalam segi kebebasan bergerak, berbicara dan berorganisasi. Catatan Arab Human Development Report (AHDR) yang dirilis pada April, yang dikompilasi oleh sejumlah akademisi dan tokoh civil society , menjadi indikasi kuat buruknya rezim berkuasa di kawasan. AHDR menyatakan, “Rezim otoritarian sangat membatasi kebebasan dan hak partisipasi politik dan civil society untuk menjamin tidak adanya oposisi yang bangkit menentang bentuk non-mandat rezim mereka.”</p>
<p>Pertanyaannya adalah seberapa jauh bentuk pemerintah Islam itu—yang mendapat dukungan antusias Foucault—bertanggung jawab atas dekadensi sosial-politik di kawasan? Para kontributor dalam AHDR tidak menjawab hal ini secara langsung. Tetapi mereka mengatakan bahwa kebebasan berekspresi dalam Islam itu ada. Sebagai contoh, mereka merujuk pada Quran yang mengatakan, “tidak ada paksaan dalam agama”, atau merujuk pada tradisi ijtihad (ekspresi interpretatif) yang mendukung otoritas ummah (bangsa) daripada faqih (ahli hukum Islam).</p>
<p>Kontributor AHDR lain menunjukkan bahwa Islam tidak harus sama persis dengan demokrasi. Pendapat ini mungkin merujuk pada Iran di mana kendati terdapat seleksi kandidat presiden oleh Dewan Pengawal (Guardian Council) dan sejumlah tuduhan pemalsuan suara dan tekanan, namun pemilu dilakukan dengan kampanye sengit dan partisipasi pemilih yang besar. Menurut sebuah estimasi, duapertiga dari 1.4 milyar Muslim seluruh dunia hidup di bawah pemerintahan demokratik yang terpilih langsung—Indonesia, Turki, Bangladesh dan Maroko—di mana kalangan Islamis menjadi pemain dominan.</p>
<p>Namun demikian, sejak lama Islam digunakan sebagai kekuatan represif bukan sebagai pembebas seperti yang terjadi di Iran dan negara Timur Tengah lain. Foucault mungkin membayangkan konsep-konsep prinsip ijtihad, ijmak (konsensus) dan syura (musyawarah) ketika dia merujuk pada pemerintahan Islam yang menggunakan struktur agama sebagai sumber kreasi politik. Sebagaimana Mahatma Ghandi, Foucault juga berbicara tentang pengenalan dimensi spiritual ke dalam kehidupan politik.</p>
<p>Apabila pemerintahan Islam, atau kalangan Islamis, hendak memenuhi ramalan atau harapan Foucault, mereka harus membebaskan rakyat kecil secara kultural, sosial dan politik, bukan malah menindas rakyat atas nama agama.[]<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perspektif Filosofis Islam Politik]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2005/05/02/perspektif-filosofis-islam-politik/</link>
<pubDate>Mon, 02 May 2005 02:01:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2005/05/02/perspektif-filosofis-islam-politik/</guid>
<description><![CDATA[Riau Pos, Jumat, 27 Pebruari 2004
Oleh A. Fatih Syuhud
Banyak kalangan non-muslim (individual dan in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Riau Pos, Jumat, 27 Pebruari 2004</p>
<p>Oleh A. Fatih Syuhud</p>
<p>Banyak kalangan non-muslim (individual dan institusi) yang menilai<br />
bahwa tidak terdapat konflik antara Islam dan demokrasi dan mereka<br />
ingin melihat dunia Islam dapat membawa perubahan dan transformasi<br />
menuju demokrasi.<br />
Robin Wright, pakar Timur Tengah dan dunia Islam yang cukup terkenal<br />
menulis di Journal of Democracy (1996) bahwa Islam dan budaya Islam<br />
bukanlah penghalang bagi terjadinya modernitas politik.</p>
<p>Peraih Nobel Gunnar Myrdal dalam karya magnum opus-nya Asian Drama<br />
mengidentifikasi seperangkat modernisasi ideal termasuk di dalamnya<br />
demokrasi. Berkenaan dengan agama secara umum dan Islam khususnya,<br />
dia mengatakan: Doktrin dasar dari agama-agama Hindu, Islam dan Budha<br />
tidaklah bertentangan dengan modernisasi. Sebagai contoh, doktrin<br />
Islam, dan relatif kurang eksplisit doktrin Budha, cukup maju untuk<br />
mendukung reformasi sejajar dengan idealisme modernisasi. Apabila<br />
demokrasi identik dengan egalitarianisme, maka Islam dan Budha dapat<br />
memberikan dukungan bagi salah satu idealisme modernisasi khususnya<br />
reformasi egalitarian.</p>
<p>John O Voll dan John L Esposito, dua pakar yang menjembatani Barat<br />
dan Timur tidak sepakat atas pandangan bahwa Islam dan demokrasi<br />
tidak dapat ketemu. Menurut kedua pakar ini dalam khazanah Islam<br />
terkandung konsep yang memberikan fondasi bagi muslim kontemporer<br />
untuk mengembangkan program demokrasi Islam yang otentik.</p>
<p>Dalam menjelaskan sejumlah miskonsepsi umum di Barat, Graham E Fuller<br />
(mantan Wakil Direktur National Intelligence Council di CIA) menulis<br />
di jurnal Foreign Affairs (April, 2002): "Kebanyakan peneliti Barat<br />
cenderung untuk melihat fenomena Islam politik seakan-akan ia sebuah<br />
kupu-kupu dalam kotak koleksi, ditangkap dan disimpan selamanya, atau<br />
seperti seperangkat teks baku yang mengatur sebuah jalan tunggal.<br />
Inilah mengapa sejumlah sarjana yang mengkaji literatur Islam utama<br />
mengklaim bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Seakan-akan<br />
ada agama lain yang secara literal membahas demokrasi''.</p>
<p>Banyak kalangan sarjana Islam yang kembali mengkaji akar dan khazanah<br />
Islam dan secara meyakinkan berkesimpulan bahwa Islam dan demokrasi<br />
tidak hanya kompatibel; sebaliknya, asosiasi keduanya tak<br />
terhindarkan, karena sistem politik Islam adalah berdasarkan pada<br />
Syura (musyawarah). Khaled Abou el-Fadl, Ziauddin Sardar, Rachid<br />
Ghannoushi, Hasan Turabi, Khurshid Ahmad, Fathi Osman dan Shaikh<br />
Yusuf Qardawi serta sejumlah intelektual dan sarjana Islam lain yang<br />
bersusah payah berusaha mencari titik temu antara dunia Islam dan<br />
Barat menuju saling pengertian yang lebih baik berkenaan dengan<br />
hubungan antara Islam dan demokrasi. Karena, kebanyakan diskursus<br />
yang ada tampak terlalu tergantung dan terpancang pada label yang<br />
dipakai secara stereotipe oleh sejumlah kalangan.</p>
<p>Menurut Merriam, Webster Dictionary, demokrasi dapat didefinisikan<br />
sebagai "pemerintahan oleh rakyat; khususnya, oleh mayoritas;<br />
pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada rakyat dan<br />
dilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung melalui<br />
sebuah sistem perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara<br />
mengadakan pemilu bebas yang diadakan secara periodik; rakyat umum<br />
khususnya untuk mengangkat sumber otoritas politik; tiadanya<br />
distingsi kelas atau privelese berdasarkan keturunan atau kesewenang-<br />
wenangan.</p>
<p>Realitasnya adalah bahwa Islam tidak hanya kompatibel dengan aspek-<br />
aspek definisi atau gambaran demokrasi di atas, tetapi yang lebih<br />
penting lagi, aspek-aspek tersebut sangat esensial bagi Islam.<br />
Apabila kita dapat melepaskan diri dari ikatan label dan semantik,<br />
maka akan kita dapatkan bahwa pemerintahan Islam, apabila disaring<br />
dari semua aspek yang korelatif, memiliki setidaknya tiga unsur<br />
pokok, yang berdasarkan pada petunjuk dan visi Alquran di satu sisi<br />
dan preseden Nabi dan empat Khalifah sesudahnya (Khulafa al-Rasyidin)<br />
di sisi lain.</p>
<p>Pertama, konstitusional. Pemerintahan Islam esensinya merupakan<br />
sebuah pemerintahan yang `'konstitusional'', di mana konstitusi<br />
mewakili kesepakatan rakyat (the governed) untuk diatur oleh sebuah<br />
kerangka hak dan kewajiban yang ditentukan dan disepakati. Bagi<br />
Muslim, sumber konstitusi adalah Alquran, Sunnah, dan lain-lain yang<br />
dianggap relevan, efektif dan tidak bertentangan dengan Islam. Tidak<br />
ada otoritas, kecuali rakyat, yang memiliki hak untuk membuang atau<br />
mengubah konstitusi. Dengan demikian, pemerintahan Islam tidak dapat<br />
berbentuk pemerintahan otokratik, monarki atau militer. Sistem<br />
pemerintahan semacam itu adalah pada dasarnya egalitarian, dan<br />
egalitarianisme merupakan salah satu ciri tipikal Islam. Secara luas<br />
diakui bahwa awal pemerintahan Islam di Madinah adalah berdasarkan<br />
kerangka fondasi konstitusional dan pluralistik yang juga melibatkan<br />
non-muslim.</p>
<p>Kedua, partisipatoris. Sistem politik Islam adalah partisipatoris.<br />
Dari pembentukan struktur pemerintahan institusional sampai tahap<br />
implementasinya, sistem ini bersifat partisipatoris. Ini berarti<br />
bahwa kepemimpinan dan kebijakan akan dilakukan dengan basis<br />
partisipasi rakyat secara penuh melalui proses pemilihan populer.<br />
Umat Islam dapat memanfaatkan kreativitas mereka dengan berdasarkan<br />
petunjuk Islam dan preseden sebelumnya untuk melembagakan dan<br />
memperbaiki proses-proses itu. Aspek partisipatoris ini disebut<br />
proses Syura dalam Islam.</p>
<p>Ketiga, akuntabilitas. Poin ini menjadi akibat wajar esensial bagi<br />
sistem konstitusional/partisipatoris. Kepemimpinan dan pemegang<br />
otoritas bertanggung jawab pada rakyat dalam kerangka Islam. Kerangka<br />
Islam di sini bermakna bahwa semua umat Islam secara teologis<br />
bertanggung jawab pada Allah dan wahyu-Nya. Sementara dalam tataran<br />
praksis akuntabilitas berkaitan dengan rakyat. Oleh karena itu,<br />
khalifah sebagai kepala negara bertanggung jawab pada dan berfungsi<br />
sebagai Khalifah al-Rasul (representatif rasul) dan Khalifah al-<br />
Muslimin (representatif umat Islam) sekaligus.</p>
<p>Poin ini memerlukan kajian lebih lanjut karena adanya mispersepsi<br />
tentang kedaulatan (sovereignty): bahwa kedaulatan Islam adalah milik<br />
Tuhan (teokrasi) sedangkan kedaulatan dalam demokrasi adalah milik<br />
rakyat. Anggapan atau interpretasi ini jelas naif dan salah. Memang,<br />
Tuhan merupakan kedaulatan tertinggi atas kebenaran, tetapi Dia telah<br />
memberikan kebebasan dan tanggung jawab pada umat manusia di dunia.<br />
Tuhan memutuskan untuk tidak berfungsi sebagai Yang Berdaulat di<br />
dunia. Dia telah menganugerahi manusia dengan wahyu dan petunjuk<br />
esensial. Umat Islam diharapkan untuk membentuk diri dan berperilaku,<br />
secara individual dan kolektif, menurut petunjuk itu. Sekalipun<br />
esensinya petunjuk ini berdasarkan pada wahyu, tetapi interpretasi<br />
dan implementasinya adalah profan.</p>
<p>Apakah akan memilih jalan ke surga atau neraka adalah murni keputusan<br />
manusia. Apakah akan memilih Islam atau keyakinan lain juga keputusan<br />
manusiawi. Apakah akan memilih untuk mengorganisir kehidupan kita<br />
berdasarkan pada Islam atau tidak juga terserah kita. Begitu juga,<br />
apakah umat Islam hendak memilih bentuk pemerintahan Islam atau<br />
sekuler. Tidak ada paksaan dalam agama.</p>
<p>Apabila terjadi konflik antara masyarakat dan pemimpin, seperti<br />
mayoritas masyarakat tidak menginginkan sistem Islam, maka kalangan<br />
pimpinan tidak dapat memaksakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh<br />
masyarakat. Tidak ada paksaan atau tekanan dalam Islam. Karena<br />
tekanan dan paksaan tidak akan menghasilkan hasil yang diinginkan dan<br />
fondasi Islam tidak dapat didasarkan pada paksaan atau tekanan.</p>
<p>Pada karakter fundamental yang didasarkan pada poin-poin di atas,<br />
tidak ada konflik antara demokrasi dan sistem politik Islam, kecuali<br />
bahwa dalam sistem politik Islam orang tidak dapat mengklaim dirinya<br />
Islami apabila tindak tanduknya bertentangan dengan Islam. Itulah<br />
mengapa umat Islam hendaknya tidak menganggap demokrasi dalam artian<br />
umum bertentangan dengan Islam; sebaliknya, umat harus menyambut<br />
sistem demokrasi. Seperti yang dikatakan oleh Dr Fathi Osman, salah<br />
satu intelektual muslim kontemporer terkemuka, `'demokrasi merupakan<br />
aplikasi terbaik dari Syura''.***</p>
<p>A Fatih Syuhud, mahasiswa Pasca-Sarjana Ilmu Politik, Agra<br />
University, India</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islam dan Yahudi: Musuh Bebuyutan?]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2005/05/02/islam-dan-yahudi-musuh-bebuyutan/</link>
<pubDate>Mon, 02 May 2005 01:38:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2005/05/02/islam-dan-yahudi-musuh-bebuyutan/</guid>
<description><![CDATA[Duta Masyarakat, Edisi 2002
Oleh: A Fatih Syuhud *
Fakta sejarah menunjukkan, banyak Yahudi yang
mel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Duta Masyarakat, Edisi 2002</p>
<p>Oleh: A Fatih Syuhud *</p>
<p>Fakta sejarah menunjukkan, banyak Yahudi yang<br />
melarikan diri kenegara-negara Muslim di Afrika Utara,<br />
atau Turki Osmani. Mereka umumnya dapat hidup dengan<br />
damai. Di sisi lain, peran signifikan yang dimainkan<br />
oleh Yahudi di pengadilan Turki Osmani pada abad<br />
keenam belas dan ketujubelas terekam cukup luas dalam<br />
sejarah.</p>
<p>Sejak terpilihnya Ariel Sharon sebagai Perdana Menteri<br />
Israel, dengan konsekuensi semakin memburuknya konflik<br />
di Timur Tengah, sejumlah negara Eropa telah melihat<br />
terjadinya serangan-serangan anti Yahudi, yang<br />
biasanya diduga dilakukan oleh grup dari Afrika Utara<br />
atau Turki.<br />
<span class="fullpost"><br />
Seorang juru bicara untuk sebuah grup Yahudi<br />
mengkhawatirkan terjadinya sebuah 'Kristallnacht'<br />
baru, malam ketika serial serangan brutal dilakukan<br />
terhadap Yahudi di Jerman era Nazi. Dalam keseluruhan<br />
refleksi, tampak bahwa ketegangan Muslim-Yahudi<br />
dianggap sebagai data historis. Akan tetapi dengan<br />
sedikit meninjau refleksi historis akan tampak jelas<br />
bahwa kenyataannya tidaklah demikian.</span><span class="fullpost">Sentimen anti-Yahudi secara faktual historis justru<br />
terjadi dan dilakukan oleh pihak Kristen Barat sejak<br />
abad pertengahan. Banyak negara Eropa Barat melakukan<br />
sanksi sosial terhadap Yahudi pada era Perang Salib,<br />
dan sentimen ini semakin memburuk pada periode abad 14<br />
dan 15 masehi. Di Eropa tengah, di daerah yang<br />
kemudian bernama Jerman, terdapat contoh-contoh yang<br />
terekam sejarah akan adanya tuduhan 'tumbal darah',<br />
klaim bahwa Yahudi mempraktekkan ritus pengorbanan<br />
anak-anak Kristen. Rumor semacam itu sering berakhir<br />
dengan serangan pada orang-orang Yahudi.</p>
<p>Di Prancis, Spanyol dan Portugis, Yahudi menikmati<br />
posisi-posisi bergengsi sebagai bankir, astrolog, atau<br />
intelektual, akan tetapi pada waktu yang sama mereka<br />
juga menjadi obyek ketidak percayaan dan fitnah.<br />
Sebaliknya, situasi Yahudi di sejumlah kerajaan besar<br />
Muslim pada abad pertengahan secara umum sangatlah<br />
bergengsi, sebagaimana juga di India (kecuali di Goa<br />
dan Kochi yang saat ini di bawah jajahan Portugis).</p>
<p>Kontradiksi yang terjadi antara perlakuan terhadap<br />
Yahudi oleh Kristen dan Muslim menjadi semakin tampak<br />
setelah Yahudi diusir dari Spanyol pada tahun 1492,<br />
dan konversi paksa menjadi Kristen di Portugis pada<br />
tahun 1497. Pada saat itu, banyak Yahudi yang<br />
melarikan diri ke negara-negara Muslim di Afrika<br />
Utara, atau Turki Osmani, di mana mereka umumnya dapat<br />
hidup dengan damai. Di sisi lain, peran signifikan<br />
yang dimainkan oleh Yahudi di pengadilan Turki Osmani<br />
pada abad keenambelas dan ketujubelas terekam cukup<br />
luas dalam sejarah.</p>
<p>Tradisi sentimen anti Yahudi berlanjut di Eropa barat<br />
pada periode berikutnya (lihatlah misalnya peristiwa<br />
terkenal Dreyfus di Prancis), dan juga umum terjadi di<br />
Eropa timur dan Rusia. Secara paradoks, pada sekitar<br />
tahun 1900, Kaisar Jerman sering dianggap oleh Yahudi<br />
sebagai penguasa yang relatif liberal dibandingkan<br />
dengan kebanyakan negara-negara Eropa lainnya,<br />
khususnya Tsar Rusia. Di sisi lain, negara-negara<br />
Dunia Baru, seperti Amerika Serikat, Brazil, atau<br />
negara-negara lain, tidak tampak melakukan semacam<br />
diskriminasi aktif seperti yang terjadi di Eropa.<br />
Kendatipun Yahudi agak dicurigai oleh Kristen<br />
konservatif Amerika, akan tetapi target utama<br />
kekerasan sosial sistematis di AS, secara historis,<br />
adalah kaum kulit hitam yang populer disebut<br />
Afrika-Amerika.</p>
<p>Tradisi lama anti Yahudi, yang terjadi di barat,<br />
khususnya Kristen, tidak bisa secara komprehensif<br />
menjelaskan kekerasan ekstrim holoscaust, akan tetapi<br />
merupakan faktor penting dalam menjelaskan kepasifan<br />
banyak penduduk Eropa dalam konteks ini. Yang perlu<br />
ditekankan di sini adalah bahwa, sampai tahun 1900,<br />
tidak ada tradisi konflik antara Yahudi dan Muslim.</p>
<p>Tradisi kebencian Muslim-Yahudi ini tampaknya baru<br />
mulai pada pendudukan pertama Zionis di Palestina, dan<br />
semakin memburuk setelah Deklarasi Balfour pada 1916,<br />
dan kemudian pembentukan negara Israel, sampai pada<br />
tahap kedua pihak saat ini dipandang sebagai antagonis<br />
'natural'. Banyak Muslim yang tinggal jauh dari<br />
konflik-seperti mereka yang berada di Asia Selatan dan<br />
Asia tenggara, khususnya Indonesia dan<br />
Malaysia-mendukung sikap anti Yahudi yang mereka<br />
justifikasi dengan persepsi kebijakan Israel.</p>
<p>Ini merupakan sebuah kasus 'transfer' yang jelas dan<br />
unik dalam sejarah, di mana garis kelabu historis dari<br />
konflik Yahudi-Kristen dengan sangat sukses berganti<br />
menjadi konflik Yahudi-Muslim. Sementara konflik<br />
pertama berdasarkan pada praduga dan prototipe agama,<br />
tidak terdapat kontradiksi agama yang riil yang<br />
mendasari dan tidak ada perang persepsi dan citra<br />
antara Yahudi-Muslim. Sebaliknya, sejumlah sarjana<br />
berpengaruh (orientalis) berpandapat bahwa pada awal<br />
mula Islam banyak berhutang pada Yahudi, dan pada saat<br />
yang sama banyak praktek sosial Yahudi dipengaruhi<br />
oleh Muslim yang disebabkan oleh kebersamaan mereka di<br />
Spanyol pada abad pertengahan. Kandungan sentimen anti<br />
Muslim di antara kaum Yahudi konservatif saat ini<br />
sebenarnya merefleksikan penyerapan paradoks<br />
propaganda anti Muslim yang diciptakan oleh Kristen<br />
barat sejak masa Perang Salib.</p>
<p>Oleh karena itu, menarik untuk dicatat bagaimana<br />
setengah abad setelah peristiwa holocaust?<br />
Pertanggungjawaban Eropa dalam soal ini secara licik<br />
dielakkan dengan cara menjadikan Muslim seluruh dunia<br />
musuh utama Yahudi. Ini bukanlah konspirasi,<br />
setidaknya menurut penulis, karena tidak ada satupun<br />
konspirasi yang dapat direkayasa sedemikian brilian.<br />
Fenomena ini tak lebih dari sebuah proses yang sangat<br />
kompleks yang merupakan kombinasi dari geo-politik,<br />
scholarship akademis, imej media, dan persepsi umum.</p>
<p>Kendatipun begitu, peran sejumlah unsur nampak jelas.<br />
Penulis Eropa Konservatif yang dekat dengan kalangan<br />
Gereja Katolik - dan berusaha keras mempertahankan<br />
rekor buruk peran Gereja mereka dalam peristiwa<br />
holocaust - adalah di antara 'unsur-unsur' awal yang<br />
mengklaim adanya tradisi kesamaan Yahudi-Kristen yang<br />
terpisah dari Islam. Penulis-penulis ini, yang dapat<br />
kita temukan di antara angota korp pers Eropa yang<br />
meliput Asia Selatan, khususnya India, dan Asia<br />
Tenggara bahkan rela membuat common cause dengan Hindu<br />
ekstrim dengan pendekatan 'clash of civilisations'.</p>
<p>Baik Israel maupun Palestina keduanya merupakan pihak<br />
yang kalah dalam situasi di Timur Tengah saat ini;<br />
tetapi kita bisa juga bertanya pada mereka siapakah<br />
yang keluar sebagai pemenang?</p>
<p>* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik<br />
Agra University, India.</p>
<p>Note: It's also published in Waspada Daily, 31 Aug 04</p>
<p><a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/indonesia">indonesia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/malaysia">malaysia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/singapore">singapore</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/thailand">thailand</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/china">china</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/hongkong">hongkong</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/islam">islam</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/australia">australia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/blogger">blogger indonesia</a></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AS dan Demokratisasi Arab]]></title>
<link>http://alkhoirot.wordpress.com/2005/06/20/as-dan-demokratisasi-arab/</link>
<pubDate>Mon, 20 Jun 2005 03:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>alkhoirot</dc:creator>
<guid>http://alkhoirot.id.wordpress.com/2005/06/20/as-dan-demokratisasi-arab/</guid>
<description><![CDATA[Duta Masyarakat, 20 Juni 2005
Oleh A Fatih Syuhud
Amerika yang buruk di Vietnam menjadi lebih buruk ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" href="http://www.dutamasyarakat.com">Duta Masyarakat</a>, 20 Juni 2005</p>
<p>Oleh A Fatih Syuhud</p>
<p>Amerika yang buruk di Vietnam menjadi lebih buruk di Irak. Bukanlah kebiadaban My Lai (Vietnam) yang mendefinisi imej buruk AS dewasa ini tetapi sadisme Abu Ghuraib. Namun demikian, versi kekejaman ini kemungkinan belum mencapai titik nadir. Titik nadir itu akan terlihat ketika pemerintah Bush, yang terdiri dari neokonservatif AS dan Israel, menyerang instalasi nuklir Iran, sebuah kemungkinan yang sudah disinggung Wapres Dick Cheney. Ia akan menjadi sebuah aksi yang kemungkinan bahkan akan membuat Tony Blair sekalipun merasa tidak nyaman.</p>
<p>Tetapi, akankah usaha “agung” AS-Israel untuk mengeliminasi WMD (weapons of mass destruction – senjata pemusnah masal) dan menabur demokrasi guna memenuhi mimpi mereka membentuk sebuah imperium Amerika itu berhasil? Atau, akankah hal ini menandai awal dari akhir status adi daya AS karena serbuan bom pada Iran akan memicu kemarahan pasukan etnik dan agama luar biasa dan tak terkontrol?<br />
<span class="fullpost"><br />
Seperti diketahui, sejak runtuhnya Uni Soviet, neokonservatif AS percaya bahwa telah tiba waktunya untuk menaklukkan dunia. Sebagai pembuka, mereka mulai dengan mempermainkan PBB dan mengacuhkan seluruh traktat internasional – dalam soal rudal balistik, global warming, perang kuman, ranjau, pengadilan kriminal internasional, konvensi Jenewa, dan lain-lain.</span><span class="fullpost">Akan tetapi, pelanggaran pada Konvensi Jenewa yang terbukti akan menjadi blunder berat AS. Begitu neokon memperkenalkan istilah “enemy combatants (petempur lawan),” tidak ada lagi aral yang menghambat militer dan interogator AS melakukan apa yang mereka suka. Dari sinilah awal mula terjadinya kekejaman di penjara Abu Ghuraib. Satu hal yang tidak disadari kalangan penyiksa itu adalah bahwa abad ke-21 ini jauh lebih terintegrasi karena kekuatan media dibanding pada era kolonialisme sebelumnya.</p>
<p>Seluruh imperium dibangun di atas kebrutalan. Namun demikian, barbarisme periode-periode sebelumnya umumnya tidak tampak. Hanya ketika insiden pembunuhan masal besar muncul ke permukaan, maka imperium berusaha menghentikan api kemarahan. Sedang insiden kecil secara rutin disembunyikan. Seperti yang dikatakan penulis biografi Curzon, David Gilmour, “ketika pribumi disiksa atau terkadang dibunuh oleh tentara mabuk, pelakunya hampir selalu mendapat hukuman ringan atau bahkan dibebaskan.”</p>
<p>Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya barbarisme dan pembunuhan masal terjadi di abad ini. Bahkan, Jenderal Dyer yang terkenal bengis pun akan menyadari konsekuensi fatal pada imperium Inggris apabila ada kemungkinan pemandangan tragis tertangkap kamera. Tetapi, sekalipun pembunuhan masal terjadi, imperium tidak akan dapat bertahan lebih dari tiga dekade, seperti yang sudah terjadi. Kegoncangan dan horor di seluruh dunia akan sangat besar. Salah satu nilai positif komunikasi audio-visual era modern adalah bahwa penyiksaan dan penindasan atas suatu negara yang dijajah tidak dapat bertahan lama.</p>
<p>Bahkan sejumlah kelompok gerilyawan Irak, yang salah satunya adalah Al Qaidah, bisa mendapat simpati karena melakukan perlawanan atas invasi AS di Irak. Mereka memiliki satu tujuan seperti yang dilakukan Vietkong tiga dekade lalu: bahwa negara adi daya berkekuatan nuklir sekalipun tidak akan bisa mengontrol urusan negara lain. Memang, milisi Irak atau kalangan komunis Vietnam bukanlah sekelompok orang-orang suci. Keduanya mewakili kekuatan totalitarian. Tetapi, mereka setidaknya bertempur di negara mereka sendiri atau di sebuah negeri di kawasan mereka melawan pasukan asing yang datang dari negara berjarak ribuan mil.</p>
<p>Sebelum sejumlah taktik gertakan yang dialamatkan ke Iran (kendati Irak masih tetap kacau) memicu sebuah “kekacauan diplomatik,” seperti peringatan Wapres Dick Cheney, AS mesti ingat satu hal bahwa pada puncak arogansinya pasca-akhir Perang Dingin, Washington pernah sesumbar bahwa AS mampu melakukan dua peperangan sekaligus. Ada juga klaim bahwa satelit AS memiliki kemampuan melihat seluruh dataran bumi sehingga mereka dapat membaca nomor plat mobil. Anehnya, AS tidak dapat menemukan Usamah bin Ladin dan pasukan Al Qaidah-nya yang melarikan diri ke Pakistan.</p>
<p>Alih-alih dapat melakukan dua peperangan sekaligus, AS malah tampak tidak mampu menyelesaikan peperangan dengan sebuah negara yang tidak memiliki WMD. AS juga tidak berani memerangi negara yang memiliki WMD (nuklir) – Korea Utara. Kesalahbacaan kemampuan diri dan sikap barbar pada tawanan bukanlah satu-satunya alasan buruknya citra AS.</p>
<p>Barbarisme ada di mana-mana, seperti di Rwanda dan Chechnya. Namun, walaupun tragis, kedua kasus ini merupakan konflik lokal, bukanlah akibat dari pembangunan imperium (walaupun pertempuran di Chechnya ada sedikit kemiripan). Selain itu, apabila insiden semacam itu cenderung tidak terkontrol lagi, maka komunitas internasional akan turun tangan seperti di Kosovo, atau meminta maaf kemudian hari karena tidak intervensi seperti dalam kasus Rwanda.</p>
<p>Terlanjur basah di Irak, AS tidak dapat keluar, karena kalau mundur tidak hanya hal itu akan membuka kembali luka lama kekalahannya di Vietnam, tetapi juga akan membuat Israel kuatir. Israel sangat berkepentingan melihat AS menaklukkan dunia, yang akan memungkinkannya memulai suatu “solusi final” dari “masalah” Palestina, dengan berpura-pura mundur dari Jalur Gaza sambil menyatakan tetap berhak menyerang balik apabila Tel Aviv curiga bahwa “teroris” Palestina masih mengendap-endap di sana, dan memecah belah Tepi Barat menjadi jalur-jalur lahan terpisah di tengah perkampungan luas Yahudi.</p>
<p>Sebagai bagian dari rencana itu, Ariel Sharon memberi AS sebuah peta identifikasi instalasi nuklir Iran, dengan isyarat implisit bahwa AS hendaknya mengebom instalasi itu sebagaimana Israel mengebom reaktor nuklir Irak yang mendapat anggukan kalangan neokon. Kekacauan di Irak telah merusak rencana itu.</p>
<p>Namun demikian, beragam kesulitan di Irak telah membuat AS (dan Israel) sedikit menahan diri karena sebuah adi daya tidak ingin dilihat terjebak dalam pusaran lumpur dan tampak bersusah payah melawan musuh-musuhnya dalam apa yang disebut sebagai poros setan. Masalahnya, semakin kita mencoba lepas dari pusaran lumpur, semakin dalam kita tenggelam.[]</p>
<p>*Penulis, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India<br />
<a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/indonesia">indonesia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/malaysia">malaysia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/singapore">singapore</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/thailand">thailand</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/china">china</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/hongkong">hongkong</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/islam">islam</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/australia">australia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/blogger">blogger indonesia</a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AS dan Demokratisasi Arab]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2005/06/20/as-dan-demokratisasi-arab/</link>
<pubDate>Mon, 20 Jun 2005 03:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2005/06/20/as-dan-demokratisasi-arab/</guid>
<description><![CDATA[Duta Masyarakat, 20 Juni 2005
Oleh A Fatih Syuhud
Amerika yang buruk di Vietnam menjadi lebih buruk ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" href="http://www.dutamasyarakat.com">Duta Masyarakat</a>, 20 Juni 2005</p>
<p>Oleh A Fatih Syuhud</p>
<p>Amerika yang buruk di Vietnam menjadi lebih buruk di Irak. Bukanlah kebiadaban My Lai (Vietnam) yang mendefinisi imej buruk AS dewasa ini tetapi sadisme Abu Ghuraib. Namun demikian, versi kekejaman ini kemungkinan belum mencapai titik nadir. Titik nadir itu akan terlihat ketika pemerintah Bush, yang terdiri dari neokonservatif AS dan Israel, menyerang instalasi nuklir Iran, sebuah kemungkinan yang sudah disinggung Wapres Dick Cheney. Ia akan menjadi sebuah aksi yang kemungkinan bahkan akan membuat Tony Blair sekalipun merasa tidak nyaman.</p>
<p>Tetapi, akankah usaha “agung” AS-Israel untuk mengeliminasi WMD (weapons of mass destruction – senjata pemusnah masal) dan menabur demokrasi guna memenuhi mimpi mereka membentuk sebuah imperium Amerika itu berhasil? Atau, akankah hal ini menandai awal dari akhir status adi daya AS karena serbuan bom pada Iran akan memicu kemarahan pasukan etnik dan agama luar biasa dan tak terkontrol?<br />
<span class="fullpost"><br />
Seperti diketahui, sejak runtuhnya Uni Soviet, neokonservatif AS percaya bahwa telah tiba waktunya untuk menaklukkan dunia. Sebagai pembuka, mereka mulai dengan mempermainkan PBB dan mengacuhkan seluruh traktat internasional – dalam soal rudal balistik, global warming, perang kuman, ranjau, pengadilan kriminal internasional, konvensi Jenewa, dan lain-lain.</span><span class="fullpost">Akan tetapi, pelanggaran pada Konvensi Jenewa yang terbukti akan menjadi blunder berat AS. Begitu neokon memperkenalkan istilah “enemy combatants (petempur lawan),” tidak ada lagi aral yang menghambat militer dan interogator AS melakukan apa yang mereka suka. Dari sinilah awal mula terjadinya kekejaman di penjara Abu Ghuraib. Satu hal yang tidak disadari kalangan penyiksa itu adalah bahwa abad ke-21 ini jauh lebih terintegrasi karena kekuatan media dibanding pada era kolonialisme sebelumnya.</p>
<p>Seluruh imperium dibangun di atas kebrutalan. Namun demikian, barbarisme periode-periode sebelumnya umumnya tidak tampak. Hanya ketika insiden pembunuhan masal besar muncul ke permukaan, maka imperium berusaha menghentikan api kemarahan. Sedang insiden kecil secara rutin disembunyikan. Seperti yang dikatakan penulis biografi Curzon, David Gilmour, “ketika pribumi disiksa atau terkadang dibunuh oleh tentara mabuk, pelakunya hampir selalu mendapat hukuman ringan atau bahkan dibebaskan.”</p>
<p>Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya barbarisme dan pembunuhan masal terjadi di abad ini. Bahkan, Jenderal Dyer yang terkenal bengis pun akan menyadari konsekuensi fatal pada imperium Inggris apabila ada kemungkinan pemandangan tragis tertangkap kamera. Tetapi, sekalipun pembunuhan masal terjadi, imperium tidak akan dapat bertahan lebih dari tiga dekade, seperti yang sudah terjadi. Kegoncangan dan horor di seluruh dunia akan sangat besar. Salah satu nilai positif komunikasi audio-visual era modern adalah bahwa penyiksaan dan penindasan atas suatu negara yang dijajah tidak dapat bertahan lama.</p>
<p>Bahkan sejumlah kelompok gerilyawan Irak, yang salah satunya adalah Al Qaidah, bisa mendapat simpati karena melakukan perlawanan atas invasi AS di Irak. Mereka memiliki satu tujuan seperti yang dilakukan Vietkong tiga dekade lalu: bahwa negara adi daya berkekuatan nuklir sekalipun tidak akan bisa mengontrol urusan negara lain. Memang, milisi Irak atau kalangan komunis Vietnam bukanlah sekelompok orang-orang suci. Keduanya mewakili kekuatan totalitarian. Tetapi, mereka setidaknya bertempur di negara mereka sendiri atau di sebuah negeri di kawasan mereka melawan pasukan asing yang datang dari negara berjarak ribuan mil.</p>
<p>Sebelum sejumlah taktik gertakan yang dialamatkan ke Iran (kendati Irak masih tetap kacau) memicu sebuah “kekacauan diplomatik,” seperti peringatan Wapres Dick Cheney, AS mesti ingat satu hal bahwa pada puncak arogansinya pasca-akhir Perang Dingin, Washington pernah sesumbar bahwa AS mampu melakukan dua peperangan sekaligus. Ada juga klaim bahwa satelit AS memiliki kemampuan melihat seluruh dataran bumi sehingga mereka dapat membaca nomor plat mobil. Anehnya, AS tidak dapat menemukan Usamah bin Ladin dan pasukan Al Qaidah-nya yang melarikan diri ke Pakistan.</p>
<p>Alih-alih dapat melakukan dua peperangan sekaligus, AS malah tampak tidak mampu menyelesaikan peperangan dengan sebuah negara yang tidak memiliki WMD. AS juga tidak berani memerangi negara yang memiliki WMD (nuklir) – Korea Utara. Kesalahbacaan kemampuan diri dan sikap barbar pada tawanan bukanlah satu-satunya alasan buruknya citra AS.</p>
<p>Barbarisme ada di mana-mana, seperti di Rwanda dan Chechnya. Namun, walaupun tragis, kedua kasus ini merupakan konflik lokal, bukanlah akibat dari pembangunan imperium (walaupun pertempuran di Chechnya ada sedikit kemiripan). Selain itu, apabila insiden semacam itu cenderung tidak terkontrol lagi, maka komunitas internasional akan turun tangan seperti di Kosovo, atau meminta maaf kemudian hari karena tidak intervensi seperti dalam kasus Rwanda.</p>
<p>Terlanjur basah di Irak, AS tidak dapat keluar, karena kalau mundur tidak hanya hal itu akan membuka kembali luka lama kekalahannya di Vietnam, tetapi juga akan membuat Israel kuatir. Israel sangat berkepentingan melihat AS menaklukkan dunia, yang akan memungkinkannya memulai suatu “solusi final” dari “masalah” Palestina, dengan berpura-pura mundur dari Jalur Gaza sambil menyatakan tetap berhak menyerang balik apabila Tel Aviv curiga bahwa “teroris” Palestina masih mengendap-endap di sana, dan memecah belah Tepi Barat menjadi jalur-jalur lahan terpisah di tengah perkampungan luas Yahudi.</p>
<p>Sebagai bagian dari rencana itu, Ariel Sharon memberi AS sebuah peta identifikasi instalasi nuklir Iran, dengan isyarat implisit bahwa AS hendaknya mengebom instalasi itu sebagaimana Israel mengebom reaktor nuklir Irak yang mendapat anggukan kalangan neokon. Kekacauan di Irak telah merusak rencana itu.</p>
<p>Namun demikian, beragam kesulitan di Irak telah membuat AS (dan Israel) sedikit menahan diri karena sebuah adi daya tidak ingin dilihat terjebak dalam pusaran lumpur dan tampak bersusah payah melawan musuh-musuhnya dalam apa yang disebut sebagai poros setan. Masalahnya, semakin kita mencoba lepas dari pusaran lumpur, semakin dalam kita tenggelam.[]</p>
<p>*Penulis, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India<br />
<a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/indonesia">indonesia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/malaysia">malaysia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/singapore">singapore</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/thailand">thailand</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/china">china</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/hongkong">hongkong</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/islam">islam</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/australia">australia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/blogger">blogger indonesia</a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
