<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>devisa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/devisa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "devisa"</description>
	<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 19:16:33 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ternak Kelinci Bisa Menghasilkan Devisa]]></title>
<link>http://planethobbies.wordpress.com/?p=26</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 16:21:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>planethobbies</dc:creator>
<guid>http://planethobbies.wordpress.com/?p=26</guid>
<description><![CDATA[JAKARTA – Tak ada yang tahu sejak              kapan kelinci mulai diternakkan. Konon, di Afrika b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;">JAKARTA – Tak ada yang tahu sejak              kapan kelinci mulai diternakkan. Konon, di Afrika beberapa abad yang              lalu disebut sebagai yang pertama kali dimulainya pemanfaatan              kelinci sebagai hewan peliharaan. Kemudian terus berkembang ke              kawasan Mediterania sekitar 1.000 tahun yang lalu. Dari hasil              peternakan di Mediterania itulah kelinci kemudian mulai menyebar ke              daratan Eropa. Kemudian setelah bangsa Eropa memutuskan bermigrasi              ke berbagai benua baru yang ditemukan, maka hewan kelinci turut              menyebar ke berbagai pelosok dunia. Termasuk di dalamnya penyebaran              ke Benua Amerika, Australia dan Asia.</p>
<p>Di Indonesia sendiri khususnya di Jawa, kelinci konon dibawa oleh              orang-orang Belanda sebagai ternak hias mulai sekitar tahun 1835.              Keberadaan kelinci di Indonesia sempat tidak jelas sejak kedatangan              Jepang tahun 1942. Kemudian berlanjut dengan zaman revolusi              kemerdekaan sampai tahun 1950-an. Catatan yang ada hanya menjelaskan              tentang keberadaan kelinci yang tidak punah pada zaman itu karena              ternyata banyak dikembangbiakkan oleh para peternak di daerah              pegunungan yang relatif aman dari pertempuran.<br />
Selanjutnya baru pada tahun 1980-an pemeliharaan kelinci sebagai              sumber daging mulai digalakkan pemerintah dengan tujuan pemenuhan              peningkatan gizi masyarakat. Namun pola pengembangan tersebut              tidaklah berjalan mulus. Hal tersebut terjadi karena hanya sebagian              kecil peternak kelinci yang bertujuan untuk berdagang dan sisanya              hanya untuk kesenangan saja.<br />
Sebenarnya kelinci-kelinci sendiri terdiri dari berbagai macam ras              dan jenisnya. Ada ras Alaska yang berasal dari Jerman. Kemudian ras              Angora yang sebenarnya berasal-usul kurang jelas. Menurut ceritanya,              ras Angora ini pertama kali ditemukan oleh pelaut Inggris yang              kemudian membawanya ke wilayah Prancis sekitar tahun 1723.<br />
Jenis ras yang lain adalah American Chincilla yang kemudian              dibedakan lagi atas tiga tipe, yaitu tipe standar, besar dan giant              alias raksasa. Khusus untuk yang bertipe giant ini bila dewasa bisa              berbobot mencapai 6-7 kg.<br />
Sedangkan jenis ras Champagne d’ Argent, yang asli berasal dari              Prancis, mempunyai ciri-ciri bulunya berwarna putih perak. Atau              jenis ras yang lain seperti Carolina yang merupakan persilangan              antara kelinci spesies New Zealand white dan New Zealand red. Ras              Caroline ini sangat terkenal di Eropa sebagai kelinci penghasil              daging.<br />
Ada lagi jenis ras Dutch yang terkenal di seluruh dunia sebagai              jenis kelinci peliharaan. Warna bulunya khas, kerena mempunyai bulu              melingkar seperti pelana berwarna putih dari pinggang terus ke leher              sampai ke kaki bagian depan. Sebenarnya banyak lagi jenis ras              kelinci yang lain, seperti ras Himalayan, Flemish giant, Havana, Lop              yang berciri khas mempunyai kuping yang terkulai ke bawah, Polish,              Rex, Satin, Silver, Simonoire, Siamese Sable dan banyak lagi yang              lain lengkap dengan ciri khas masing-masing.<br />
Di Indonesia sendiri sebenarnya ada jenis kelinci lokal tersendiri.              Tapi dimungkinkan jenis kelinci lokal yang ada di Indonesia adalah              jenis kelinci berketurunan ras Dutch. Ras ini dikenal sebagai ras              asli dari Negeri Belanda, jadi mungkin saja dahulu orang-orang              Belanda yang bermigrasi ke Indonesia sempat membawa kelinci ini dari              kampung halamannya dan mengembangbiakkannya di sini.<br />
Ras kelinci Dutch ini punya ciri bentuk tubuh yang kerdil, sehingga              lazim disebut kelinci mini, merupakan kelinci terkecil di dunia.              Biasanya jenis ini dipelihara hanya untuk hiasan dan cocok untuk              mainan anak-anak. Dengan bentuk tubuh pendek, kepala agak bulat,              bentuk telinga tegak dan mempunyai panjang hanya sekitar lima              sentimeter. Biasanya kelinci ini berbulu sangat bagus dan berwarna              putih. Sedangkan ciri lainnya mempunyai mata berwarna merah.</span></p>
<p><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/071/klinci2.jpg" border="0" alt="" width="425" height="286" /><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"></p>
<p></span><span style="font-family:Arial;font-size:xx-small;">Kelinci dalam kandang sebagai              ternak untuk dipanen daging dan bulunya.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"><br />
Memilih dan Memelihara<br />
Sebelum memutuskan untuk memelihara kelinci, ada baiknya kita              mengetahui dahulu bagaimana kiat-kiat memilih kelinci yang baik.              Bagaimana cara membuat dan mengurus kandang serta bagaimana cara              memilih makanannya.<br />
Memilih bibit kelinci yang baik sebenarnya tidaklah terlalu sulit.              Biasanya kelinci yang sehat memiliki sifat yang lincah dan aktif,              gerakannya energik dan memiliki nafsu makan yang tinggi. Secara umum              biasanya bibit kelinci yang baik memiliki ciri-ciri fisik sebagai              berikut; pertama memiliki kepala yang sesuai dengan ukuran badan.<br />
Kelinci yang baik bila bertubuh panjang membutuhkan tipe kepala yang              panjang pula. Kelinci berbadan besar dan lebar membutuhkan kepala              yang besar juga dan begitu pula jenis kelinci bertubuh kecil yang              baik adalah yang memiliki jenis kepala kecil juga.<br />
Tipe kepala yang seimbang dan kompak sangat sesuai untuk hampir              semua tipe ras kelinci, seperti Dutch, Havana, Standard Chincilla,              Lilac dan ras kelinci lainnya.<br />
Kelinci yang sehat juga biasanya bermata bulat bercahaya, selaput              matanya bersih, mempunyai pandangan yang cerah dan jernih. Bila              pandangan matanya layu dan kurang jernih, itu menandakan kelinci              tersebut sedang sakit atau kurang baik kondisi fisiknya.<br />
Lihat juga bagian hidung, moncong dan mulutnya apakah dalam keadaan              bersih. Kelinci yang hidungnya basah dan lembab kemungkinan              terserang pilek.<br />
Selain bentukan kepala dan wajah bibit kelinci yang baik juga              haruslah berkaki normal. Cirinya kuat, kokoh dan berkuku pendek.              Lebih baik bila kakinya tidak bengkok atau cacat. Kaki yang cacat              berbentuk seperi huruf O atau X, sedangkan kaki yang baik cirinya              lurus dan sempurna.<br />
Ciri lainnya adalah berbadan bulat, berdada lebar, padat dan              singset. Kondisi seperti ini menunjukkan keadaan fisik yang prima              dan bertenaga kuat. Bentuk badan yang kuat juga mencerminkan jumlah              daging yang banyak. Sedangkan tambahan referensi lain tentang              kelinci yang sehat adalah biasanya berkulit licin dan tidak berasa              benjol-benjol bila diraba. Berbulu bersih, licin, halus, mengkilat              dan rata. Berdubur bersih, kering dan tidak terdapat tanda-tanda              kotoran bekas mencret.<br />
Juga lihat ekornya. Bila terlihat ekornya kecil, tumbuh lurus ke              atas dan tampak menempel ke punggung serta bentuknya tidak miring              atau rebah ke samping/terpuntir berarti memang benar kelinci itu              bagus adanya. Dan sebaliknya bila ekor tidak lurus ke atas berarti              kelinci tersebut cacat.</p>
<p>Cara Mengangkat<br />
Dalam memelihara kelinci perhatikan juga cara mengangkatnya. Hal ini              tidak bisa dilakukan sembarangan. Perlakuan yang salah bisa              menimbulkan hal-hal yang merugikan seperti cacat permanen dan              rusaknya peredaran darah. Kebanyakan orang mengangkat kelinci dengan              memegang kedua telinganya.<br />
Memang cara ini paling mudah tapi sebenarnya keliru adanya. Telinga              kelinci sangat sensitif dan tidak kuat menahan bobot tubuhnya              sendiri. Kalau cara ini dilakukan, otot dan saraf telinga akan              rusak. Kerusakan akan lebih parah lagi kalau kelinci yang diangkat              meronta-ronta. Posisi kepala akan menjadi miring sehingga kelinci              akan cacat seumur hidupnya.<br />
Untuk mengangkat kelinci besar, pegang kulit tengkuk atau punggung              dengan salah satu tangan. Begitu terangkat, tangan yang satu              digunakan untuk mendukung bagian pantat. Kerjakan pengangkatan itu              dengan tenang dan penuh kasih sayang. Sedangkan untuk kelinci yang              masih kecil proses pengangkatan dapat dimulai dengan memegang bagian              sebelah depan kaki belakang melalui punggung, dan proses selanjutnya              sama dengan kelinci dewasa.<br />
Sedangkan masalah kandang untuk kelinci tidaklah terlalu sulit              dicari. Sebab kelinci mudah sekali beradaptasi terhadap berbagai              bentuk kandang yang disediakan, asalkan kondisinya memenuhi              persyaratan kesehatan dan kebutuhan hidup kelinci tersebut.<br />
Apa pun bentuk dan ukuran kandang, asalkan berlokasi baik yang              ditandai dengan cukupnya sinar matahari yang masuk menjadi hal              pertama yang harus diperhatikan. Hal lainya adalah bersuhu sejuk,              memiliki ventilasi sempurna, tempatnya kering, lingkungan tenang dan              tak jauh dari rumah.<br />
Lantai kandang dapat dibuat dari kawat, bambu dan kayu atau tanah.              Bila memilih lantai dari kawat, ada sebagian yang terbuat dari              lembaran papan. Lantai kawat sangat melelahkan otot-otot kaki              kelinci. Karena itu, adanya lembaran papan dapat digunakan kelinci              untuk beristirahat.<br />
Kandang yang baik haruslah juga memenuhi kebutuhan sarana berupa              kotak sangkar, tempat makanan, tempat minum dan perlengkapan lain.              Kandang bisa saja di dalam ruangan atau di luar ruangan, terserah              kemauan pemiliknya dan tujuan pemeliharannya.</p>
<p>Pangan<br />
Kelinci yang hidup di alam bebas tidak terlalu sulit untuk mengurusi              makannya. Selama di tanah masih ada hijauan dan bisa ditumbuhi              rumput, biji-bijian dan umbi-umbian, kelinci masih dapat hidup.              Sedangkan kelinci yang diternakkan hidupnya terbatas di sekeliling              kandang saja. Kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh perhatian              dan perawatan peternaknya. Jenis, jumlah dan mutu makanan yang              diberikan sangat menentukan pertumbuhan, kesehatan dan              perkembangbiakannya.<br />
Makanan kelinci yang baik adalah yang terdiri dari sayuran hijau,              jerami, biji-bijian, umbi dan konsentrat. Makanan hijau yang              diberikan antara lain semacam rumput lapangan, limbah sayuran              seperti kangkung dan wortel, daun pepaya, daun talas dan lain-lain.              Sayuran hijau yang akan diberikan pada kelinci ini kalau bisa telah              dilayukan dan jangan dalam keadaan segar. Proses pelayuan selain              untuk mempertinggi kadar serat kasar, juga untuk menghilangkan getah              atau racun yang dapat menimbulkan kejang-kejang atau mencret.<br />
Bentuk makanan lain bisa juga berupa jerami atau rumput awetan yang              dipotong menjelang berbunga. Rumput ini dikeringkan secara bertahap              sehingga kandungan gizinya tak rusak. Bisa juga berbentuk              biji-bijian yang berfungsi sebagai makanan penguat. Sedangkan untuk              makanan jenis umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong dan lainnya              dapat diberikan kepada kelinci sebagai makanan tambahan.<br />
Konsentrat juga diperlukan dalam tambahan makanan kelinci. Berfungsi              untuk meningkatkan nilai gizi yang diberikan dan mempermudah              penyediaan makanan. Konsentrat sebagai ransum diberikan sebagai              makanan tambahan penguat, kalau makanan pokoknya sayuran hijau.              Konsentrat untuk makanan kelinci dapat berupa pellet (makanan buatan              dari pabrik), bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ampas              tahu atau gaplek.</p>
<p>Potensi Kelinci<br />
Potensi kelinci sebenarnya masih sangat memungkinkan untuk              dikembangkan. Bukan hanya sebagai penghasil daging, melainkan juga              sebagai penghasil bulu, fur (kulit dan bulu) atau sebagai ternak              hias.<br />
Menurut informasi dari BLPP Ciawi, Bogor, pasar komoditas kulit bulu              kelinci semakin meningkat. Peningkatan terjadi karena santernya              kritik yang dilontarkan para pecinta alam dan lingkungan seperti              Green Peace terhadap perburuan dan pembantaian satwa liar.<br />
Sebelumnya, bulu untuk pembuatan jaket dan aksesorinya di              negara-negara beriklim dingin umumnya menggunakan kulit beruang              hasil buruan. Dengan santernya kritik tersebut para produsen jaket              kulit lantas berusaha melirik bahan baku lain. Dan kelinci dianggap              sebagai salah satu ternak yang bisa menggantikan kebutuhan bulu              untuk jaket.<br />
Ada baiknya tujuan pemeliharaan kelinci digunakan untuk diambil              kulit bulunya dan bukan dagingnya. Beternak kelinci Rex atau Angora              bisa mengahasilkan daging seberat 1,5 kg/ekor. Harga daging kelinci              bisa mencapai US$ 1 hingga US$ 1,5 per kilogramnya di AS. Tapi nilai              daging tersebut sangat kecil dibandingkan harga kulit kelinci yang              bisa laku sampai US$ 8 - 15 perlembar. Setelah disamak harga kulit              bulu kelinci bisa mencapai US$ 18 perlembarnya.<br />
Kulit bulu kelinci bisa dipakai sebagai bahan pakaian berbulu,              jaket, selendang, tas, dompet, boneka. Satu mantel eksklusif terbuat              dari 20-30 lembar kulit kelinci harganya bisa mencapai US$ 3.000.              Pasar kulit bulu ini mencakup daratan Eropa, Rusia, Amerika dan Asia              Utara. Produsen kulit bulu kelinci antara lain Hong Kong, Taiwan,              Jepang dan Korea Selatan.<br />
Tapi kenyataan yang ada sekarang, potensi tersebut belumlah              didayagunakan secara maksimal. Banyak peminat pemelihara kelinci              hanya memanfaatkan kelinci sebagai bahan penghibur saja. Padahal              bila mau diseriuskan bukan tidak mungkin bisa menjadi sumber              penghasilan juga adanya.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Expat]]></title>
<link>http://maspoer.wordpress.com/2007/11/01/expat/</link>
<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 11:16:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>maspoer</dc:creator>
<guid>http://maspoer.wordpress.com/2007/11/01/expat/</guid>
<description><![CDATA[Menurut wikipedia expatriat dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tinggal di negeri yang bukan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut wikipedia expatriat dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tinggal di negeri yang bukan asalnya. Expatriat berasal dari bahasa latin, <em>ex</em> (luar), <em>patria</em> (negara). Sering kali ada yang menyebut <em>ex-pariot</em> dan banyak yang menyingkatnya jadi expat.<br />
Saat ini definisi expat bergeser menjadi tenaga ahli yang didatangkan dari luar negeri. Pada umumnya mereka bergaji tinggi dan mendapat fasilitas yang bagus.</p>
<p>Yang dari dulu salalu menjadi pertanyaan dalam benakku, kenapa para expat ini mendapatkan fasilitas yang jauh lebih bagus dibanding dengan orang lokal yang kadang kala level pekerjaannya sama.<br />
Pertanyaan-pertanyaan ini terjawab sudah setelah beberapa bulan mengadu nasib di luar negeri. Beberapa hal yang aku rasakan sebagai kompensasi segala fasilitas seorang expat.<br />
1. Harus siap berpindah dari kontrak yang satu ke kontrak yang lain. Hal ini bisa sebagai tantangan tetapi bisa juga jadi siksaan bagi orang-orang yang menyukai kemapanan. Seorang expat harus bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru secara cepat.<br />
2. Urusan imigrasi sering kali membuat seorang expat tidak bisa membawa serta keluarganya. Bukan hal yang mudah hidup jauh dari orang-orang tercinta.<br />
3. Nongkrong haha hihi di kantin selepas kerja, gorengan pinggir jalan, pecel kediri kalibata dan segala sesuatu yang "indonesia banget", memang tak terbeli dengan uang :)</p>
<p>Ketika mencoba posting beberapa vacant overseas di sebuah milist, seorang sahabat selalu menanggapi dengan berbagai hal tentang pilihan menjadi expat. Dalam satu tanggapannya yang kesekian kali, sempat tertulis "Lha wong gak bisa survive di negeri sendiri kok bangga ?".<br />
Tidak menutup kemungkinan ada yang menjadi expat karena tidak bisa survive dalam kerjaan, kehidupan pribadi maupun bermasyarakat di negeri sendiri. Tetapi kebanyakan teman-teman yang meninggalkan tanah air menjadi expat di berbagai negara, mempunyai skill yang sangat bagus dan sangat laku "dijual" ditanah air. Kehidupan ditengah masyarakat multinasional juga menuntut mereka untuk menunjukan bahwa orang-orang Indonesia mampu bersaing di lingkungan global.</p>
<p>jadi, terlepas dari apapun alasannya yang penting adalah kontribusi yang diberikan terhadap bangsa. Ditengah-tengah citra buruk terhadap indonesia, para expat ini berusaha menunjukan profesionalisme di lingkungan mereka. Dan yang tak kalah pentingnya mereka ikut berperan dalam pendapatan devisa negara.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kiat Thailand Mencari Devisa Halal Food.]]></title>
<link>http://trimardjoko.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 11:22:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>trimardjoko</dc:creator>
<guid>http://trimardjoko.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[Tahun 1997, &#8220;Islamic Administration Act&#8221; telah disahkan oleh Parlemen Thailand.  Penges]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 1997, "Islamic Administration Act" telah disahkan oleh Parlemen Thailand.  Pengesahan ini menimbulkan kontroversi, yaitu siapa yang berhak untuk menerbitkan sertifikat "Halal Food".  Saat ini, sertifikat diterbitkan oleh Kantor Chula Ratchmontri,  setelah makanan tersebut diperiksa oleh Islamic Central Committee Negara Islam dan pemeluk agama Islam mancanegara sedang menjadi target konsumen produk ekspor halal food Thailand. Diantara sejumlah kiat, telah dibentuk instansi pemerintah "Halal Affairs Department" yang merupakan suatu direktorat (unit eselon II dari Kementerian Dalam Negeri Thailand).  Pembentukan instansi tersebut, mencerminkan bagaimana pemerintah Thailand dengan jumlah penduduk Muslim terbatas, sangat serius menangani makanan halal, karena sadar potensi ekspor makanan olahan ke negara-negara Islam yang cukup besar, diantaranya Indonesia, Malaysia dan Timur Tengah, dan kantong-kantong penduduk Islam di manca negara.(TM)<br />
(Ditulis : 12 Desember 1997 )</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kartini Abad Kini]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=239</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 13:16:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.wordpress.com/?p=239</guid>
<description><![CDATA[
 
PEREMPUAN itu melangkah dengan agak ragu sambil menyo­rong­kan tiket dan paspornya ke pramugar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/kartini-telur2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-242" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/kartini-telur2.jpg?w=300" alt="" width="235" height="308" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"> </p>
<h3 style="text-align:left;"><span style="color:#008080;"><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">PEREMPUAN </span></strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">itu melangkah dengan agak ragu sambil menyo­rong­kan tiket dan paspornya ke pramugari. Sang pramugari tersenyum, lalu memintanya menunjukkan <em>boarding pass</em> agar ia bisa atahu di kursi mana penumpang ini harus duduk. "Tiket dan paspornya di­simpan saja, <em>mbak</em>," katanya.</span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Rambutnya lurus dengan ujung dibikin keriting, lipstiknya merah menyala, kacamata hitam menutup matanya sementara kabel <em>walkman</em> menjulur dari ku­ping kiri-kanannya. Ia mengenakan rok <em>over-all</em> dari bahan jins biru dengan kaos bulu tebal lengan pan­jang bermotif kulit macan. Sepatunya berhak sangat tebal, dengan kaos kaki warna hitam bergaris-garis merah setengah betis. Jam tangan dengan piringan tebal dan melotot beradu dengan gelang manik-manik warna warni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Begitu duduk --kebetulan di sebelah saya-- di dekat jendela, ditariknya dompet dari ransel kulit kecil, paspornya pun dicabut lagi dari saku ransel, dibukanya. "Aku dari luar negeri nih," mung­kin itu yang hendak dikatakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dari dompet panjang dica­butnya amplop, dan ia menarik isinya. Selembar cek bertulisan Huruf Arab dari sebuah bank di Riyadh. Dibolak-baliknya cek itu, se­­­akan ingin menunjukkan, "Urusan gua sudah pakai cek, <em>cing</em>!". Ia turun di Jakarta dan melanjutkan dengan penerbangan lain ke Surabaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Ini mungkin buruh yang baru mudik, pikir saya. Ternyata benar, dari perbincangan sekilas, ia menuturkan sudah setahun bekerja pada seorang saudagar di Riyadh. Ia dizinkan pulang untuk lebar­an, tapi tak akan kembali lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Kecuali kalau ada <em>ponsor</em>, 'ana' pasti berangkat lagi," katanya. Yang dimaksud <em>ponsor</em> itu, ternya­ta sponsor, penghubung alias calo tenaga kerja yang biasa datang ke desa-desa. Juga ke desanya, katanya sih, di Kediri sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Adegan itu teringat kembali ketika beberapa waktu lalu media mas­sa kita dihebohkan oleh kasus Kartini. Kartini yang kita kenal saat ini, tentu saja bukan Putri Je­para yang pikiran-pikirannya dilukiskan --oleh Belanda-- cemer­lang dan progresif namun tak berdaya melepaskan diri dari tin­dasan adat yang memberi kebebasan pada suaminya untuk mem­per­laku­kan dia seenak perut dan bawah perut. Lalu diharumkanlah namanya sebagai Putri Sejati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini abad-21 adalah Kartini dari kampung di Rengas­deng­klok Karawang yang --karena kemiskinan-- lantas membiarkan diri diekspor ke tanah seberang, dan terdamparlah ia di Fujairah Uni Emirat Arab. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini diekspor ke sana bersama ratusan, mungkin ribuan, perem­puan lain yang dibetot dari komunitasnya, keluarga, anak dan sua­minya, untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, kata la­in untuk memperhalus istilah babu dan jongos. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini hamil, atau dihamili, seorang lelaki asal India, dan ia sendirian harus menanggung dosanya. Pengadilan setempat memper­­salahkannya atas kasus perzinaan, dan hukuman untuk tindak pidana itu adalah dirajam sampai mati, sesuai dengan undang-undang setem­pat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kerancuan proses penempatan, minimnya mutu dan perlindungan serta kerentanan posisi buruh merupakan titik lemah program penempatan buruh ke Timur Tengah. Terlebih lagi masih ada citra di sebagian masyarakat Arab bahwa pembantu adalah budak yang bisa diperlakukan layaknya sesuka majikan. Oleh karena budak itu sudah dianggap miliknya, mereka bisa melakukan apa saja terhadap budaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Sudah beberapa kali Departemen Tenaga Kerja mengusulkan ke­pada sejumlah negara Arab untuk menandatangani Nota Kesepahaman (MO­U) yang isinya antara lain menyatakan bahwa TKW itu adalah pekerja dan bukannya budak. Tapi negara‑negara Arab itu tidak mau me­nekennya. Artinya, kita tetap tunduk saja pada ketentuan yang mereka berlakukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Posisi tawar menawar kita dalam ekspor budak, eh ekspor buruh ini tetap lemah ketika dihadapkan pada kelangkaan kesem­pa­tan kerja di dalam negeri di satu pihak dan peningkatan devisa di pihak lain. Maka dengan penuh semangat kita kirim sebanyak mungkin orang, termasuk yang seperti Kartini, dan ketika kena kasus barulah ribut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini, dengan keterbatasan berbahasa dan pengetahuan hukum lokal, tentu tak bisa berbuat banyak saat diadili. Bisa jadi, dalam proses persidangan, ia tidak mengerti pertanyaan yang dia­juk­an jaksa karena saat itu ia tidak didampingi oleh penerjemah, dan ia manggut-manggut saja ketika dituding telah berzina. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kita tentu sepakat, zina adalah perbuatan dosa, dan seorang pen­dosa harus dihukum. Namun kita masih belum mendapat kejelasan, apa­kah kehamilan Kartini me­mang merupakan buah dari perzinaan su­ka sama suka, atau oleh se­bab lain. Misalnya, Kartini tak kuasa menolak atau menghindar dari amuk birahi lelaki yang kemudian me­nye­babkannya hamil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Persoalannya kemudian adalah, haruskah Kartini mati de­ngan cara dirajam atas 'dosa' yang diperbuatnya bersama lawan mainnya itu? Apakah ke­hamilan saja sudah cukup membuktikan bahwa ia berzina dan harus ma­ti karena itu? Apakah orang yang turut me­lakukan perbuatan dosa itu boleh bebas berkeliaran dan lepas dari hukuman? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dan, masih ba­nyak lagi pertanyaan yang mung­kin muncul, sebelum kita bisa mene­­rima atau menolak pelak­sanaan proses hukum bagi Kartini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Lepas dari dari legal atau tidaknya Kartini diekspor untuk bekerja di UEA, proses penempatan Kartini merupakan gambaran dari program penempatan buruh Indonesia di mancanegara, khususnya ke Timur Tengah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Ini juga menguak fakta yang sesungguhnya, bahwa meski zaman per­budakan sudah tinggal sejarah, pada prakteknya kita malah sedang melegalkan perbudakan model baru. Celakanya, sebagaian besar di antara 'budak-budak' itu justru berasal dari kaum Kartini, yang --maaf saja-- sebagian besar di antara mereka diposisikan sebagai jongos alias babu, atau istilah halusnya pembantu rumah tangga, lebih halus lagi pramuwisma. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Nah, ketika nasib buruk menimpa orang seperti Kartini dan juga Nasiroh, barulah kita tersentak. Pemerintah ribut seakan betul-betul ingin membela seluruh buruh kita yang dikemas dalam pa­ket-paket ekspor tenaga kerja. Namun persoalan sudah ter­lalu rumit sebab kita tidak menanganinya secara benar sejak awal. Ketika muncul kasus per kasus, barulah tindakan penanganan dilakukan sehingga terkesan pemerintah kita membela buruh yang tenaganya diperas untuk meningkatan devisa itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Hal yang agak menimbulkan pertanyaan adalah, mengapa pada saat-saat seperti ini para Kartini yang tergabung dalam berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti tidak tergerak untuk menun­jukkan peran dan pembelaannya terhadap sesama kaumnya. Ingat ketika kerusuhan Mei, betapa militan para Kartini ini berjuang bahkan bergerilya menolong dan membela, memberi advokasi, dan berdemonstrasi meneriakkan penderitaan para perempuan yang jadi korban kebiadaban amuk massa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Namun, ketika Kartini abad 21 terpojok di kursi pesakitan nun di negeri seberang sana, hanya sedikit orang di tanah air yang mau bersuara, apalagi memperjuangkannya. Atau ketika mengalami nasib sebagaimana yang menimpa Nirmala Bonat, (</span> <a href="http://curahbebas.wordpress.com/">http://curahbebas.wordpress.com</a><span style="letter-spacing:-0.15pt;">) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Padahal, bukan cuma Kartini, Nirmala, dan Nasiroh yang nasibnya tak menentu di tanah seberang (antara 30 - 40 persen perempuan pekerja di sana dilaporkan mengalami perundungan seksual!), sebab di tanah air sendiri masih banyak Kartini lain yang nasibnya harus diper­juangkan. <strong>***</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:right;"> <strong><span style="color:#ffcc00;">April 2000<span><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Bandung</span></span><span style="letter-spacing:-0.15pt;"><span>, </span></span></span></strong></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan-jalan ke Bangko (bag. 2)]]></title>
<link>http://adkt.wordpress.com/?p=47</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 15:15:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Andhi Kusdrianto</dc:creator>
<guid>http://adkt.wordpress.com/?p=47</guid>
<description><![CDATA[[melanjutkan episode sebelumnya]
Setelah puas foto-foto di ladang &#8220;bunga&#8221;, kami melanjut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>[melanjutkan episode sebelumnya]</p>
<p>Setelah puas foto-foto di ladang "bunga", kami melanjutkan perjalanan ke Bangko. Begitu keluar dari kawasan ladang minyak Duri, melalui gate Kulin, saya segera menginjak pedal gas lebih dalam. Maklum, kalau di dalam kawasan ladang minyak hanya boleh 40 Km/jam. Eh, baru lima menit berkendara, Refli meminta saya menghentikan mobil. <em>Minggir bentar Mas... Ada apa Ref?</em> <em>Mau beli martabak dulu Mas</em>. Walaaahhhh, kirain apa. Dia bilang kalau pergi ke Bangko sering beli martabak di situ.</p>
<p>Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan ke arah Bangko cukup ramai. Kami sering berpacu dengan truk atau bus yang ke arah Medan. Yang saya agak kesal adalah kondisi jalannya. Rusak abiss. Pokoknya jangan heran, banyak jalan di Riau ini yang rusak. Yang bagus cuman di Pekanbaru-nya kali.<br />
<strong> Negeri Bertuah, minyak melimpah, sawit di mana-mana, kayu juga ada... Tapi jalannya ancur-ancuran</strong>. Katrok kalau istilah orang sekarang.</p>
<p>Setelah hampir dua jam, kami tiba di Bangko. Kami langsung ikut sholat jumat di masjid camp. Oh ya, kurang lebih 2 Km sebelum masuk Bangko Camp Anda akan menemui Tugu Devisa (ini istilah saya sendiri) ini fotonya. Agak tak terawat memang. Tugu ini berada di pinggir jalan lintas Medan.</p>
<p><a href="http://picasaweb.google.com/andhi.k/Working02/photo#5190890782824956562" target="_blank"><img src="http://lh5.ggpht.com/andhi.k/SAm_qhohgpI/AAAAAAAAAcM/gJTSfENYpy0/HPIM8420.JPG?imgmax=512" alt="Bangko" width="440" height="329" /></a></p>
<p>Selesai sholat jumat, saya segera ke Balam. Tujuan kami memang mau resolve problem di sana. Ternyata problemnya cuman power supply doang. Walaahhhh... Katrok memang. Jam 4 sore kami bergegas menuju Duri. Pas melewati tugu di atas, saya ajak Refli berfoto ria. Mejeng_Mode: ON. Oh ya, fotonya Refli mana ya? Dia rada pemalu, takut marah kalau fotonya disebarin di internet.</p>
<p><a href="http://picasaweb.google.com/andhi.k/Working02/photo#5190890632501101186" target="_blank"><img src="http://lh6.ggpht.com/andhi.k/SAm_hxohgoI/AAAAAAAAAcE/VCu3wRbQAY4/HPIM8419.JPG?imgmax=512" alt="Bangko" width="442" height="331" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasionalisme SebaTAs Sepak Bola ]]></title>
<link>http://soldieroffortune.wordpress.com/?p=32</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 10:52:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>soldieroffortune</dc:creator>
<guid>http://soldieroffortune.wordpress.com/?p=32</guid>
<description><![CDATA[Ide ini udah lama ada, tapinya karena berbagai kesibukan [cie..cie] akhirnya baru sempet diposting. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ide ini udah lama ada, tapinya karena berbagai kesibukan [cie..cie] akhirnya baru sempet diposting. Ide didapat waktu membaca artikel bahwa Astro memenangi hak siar Liga Champion tahun 2009 untuk wilayah Asia [termasuk Indonesia, Malaysia and tetangga deketnya].  Bisa Repot kali begini walaupun kadang gak kuat bergadang, tapi rasanya kok sayang kalo melewatkan tayangan ini. Alhasil jadi kepikiran untuk langganan Astro; untung Hana juga setuju aja.  Sempet nanya2 sama temen di MNC kenapa sigh mereka gak ikutan ambil hak siar tayang piala champion, cuma jawaban yang didapat tidak memuaskan, tidak mau bersaing beli hak siarnya katanya [aduh ini khan menyangkut hajat hidup orang banyak]. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia [butir kelima dari Pancasila -halah jadi ngelantur gini]</p>
<p>Jadi sedikit terusik masalah idealisme and nasionalisme nigh; karena Astro khan dimiliki oleh Malaysia. Inget beberapa waktu lalu saat sentimen antara Indonesia and Malaysia sempat menghangat; masalah warga negara Indonesia yang dianiaya, klaim beberapa budaya milik Indonesia and hal2 lainnya yang cukup membuat sebal dengan bangsa Malaysia. Bahkan sampai membatalkan rencana trips kesana dengan beberapa teman. Heehehehe.</p>
<p>Tapi apa daya, masalah perbolaan ini cukup penting buat gw. Ayo dong ada tv swasta yang mau beli hak siarnya. Jadi gak perlu berlangganan and terlebih gak perlu ada devisa yang pergi ke negeri tetangga.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Temasek Kopidangdut]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=497</link>
<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 03:43:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=497</guid>
<description><![CDATA[ 
Ada yang tau Temasek?  
Asal katanya sih diambil dari “Negeri Tumasik”. Perusahaan milik ne]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/hotref.jpg" title="hot"><img src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/hotref.jpg" alt="hot" /></a> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ada yang tau Temasek? </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asal katanya sih diambil dari “Negeri Tumasik”. Perusahaan milik negara Singgapur yang menjadi pemilik ultimate Telkomsel maupun Indosat. Juga yang dulu membeli saham mayoritas SinCorp-nya Thailand, yang membikin PM Thaksin mundur karena dituduh menjual perusahaan yang dapat membahayakan kepentingan Thailand terkait kerahasiaan negara?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau belum tau juga ya ndak papa..toh gak semua hal harus kita ketahui.. ;) </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Konon katanya memiliki dana keloaan sebesar 108 Milyar Dolar Amerika. Didirikan sejak tahun 1974.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lalu apakah sampean ngerti Khazanah Nasional BHD?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ini miliknya Negara Malaysia. Yang memiliki Bank Niaga dan satu bank lainnya yang saya lupa. Dana kelolaannya sebesar 17, 9 Milyar Dollar Amerika. Didirikan tahun 1993.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mas, mau ngomongin apa to?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><!--more--></span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hehe. Sebetulnya saya cuma mau bilang bahwa sekarang ini, kecenderungan dunia mengarah kepada pendirian sebuah korporasi besar yang dimiliki negara untuk digunakan sebagai perusahaan yang menginvestasikan sebagian asset negara dalam pembelian saham-saham perusahaan potensial di negara lain. Contohnya ya yang saya sampeikan tadi.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Indonesia bukannya punya Mas... Pertamina, Mandiri dan lain-lain itu?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oh beda. Itu namanya BUMN yang isinya mengusahakan berbagai usaha demi penyelenggaraan negara. Daya jelajahnya pun cuma bermain lokal deh.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beda? Kayaknya itu kan bisa dibuat kaya Temaasek dan Khazanah juga?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tetap beda, Om...soalnya Temasek dan Khazanah, dalam bisnis internasional yang semakin menunjukkan taring kapitalisme global ini, dinamakan dengan SWF alias Sovereign Wealth Fund.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Boso Indonesya ne’ opo yo..? Ya begitulah...</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lalu?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nah intinya cadangan devisa kita sebagian dibuat untuk mendirikan sebuah lembaga atau setidaknya disisihkan untuk dikelola dalam investasi langsung di berbagai belahan dunia. Bisa dengan membeli perusahaan asing atau pengelolaan portofolio dalam bentuk surat-surat berharga.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau rugi mas?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lah yaitu risikonya. Bukankah High Risk High Return?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jadi Sampean intinya mau kasih tau bahwa Indonesia mau buat begitu?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya nggak juga. Kalau Indonesia buat, kudu stabil dan kuat dulu masalah legal infrastrture-nya..juga masalah visi yang sama. Kalau gak, bisa-bisa perusahaan negara kita, ambil contoh namanya : Nusantara, bisa dijadiin kue tak bertuan yang digerogoti oleh banyak rezim yang berkuasa. Padahal sesungguhnya digunakan sebagai katalisator penambahan cadangan devisa kita. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Repot donk ngelolanya..emang orang kita mampu? Ntar dikorup lagi..</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nah, kita bisa serahkan pengelolaannya pada lembaga pengelola asset yang sudah ada semisal Merril Lynch, Citigrop, Standard Chartered, Morgan Stanley dan lain-lainnya.. Mereka profesional kok..</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa bukannya mereka barusan rugi dan jeblok gara-gara subprime mortgage? Ntar kita kena juga kayak gitu.. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Iya sih, itu kan pengelolaan yang kemarin-kemarin..ya kita usahakan agar menejer investasi kita jangan terlalu nempatin telur pada keranjang yang berisiko tinggi..</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oh...gitu? sorry ya Mas....gak ngerti juga..</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya sudah nda papa. Toh gak semua hal di dunia ini perlu kita ngerti dan pahami.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menurut sampean semua, kita (Indonesia) perlu gak bikin perusaan kayak Temasek itu..? </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyelamatkan hutan di Indonesia]]></title>
<link>http://andaikan.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 17:09:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>andaikan</dc:creator>
<guid>http://andaikan.wordpress.com/?p=4</guid>
<description><![CDATA[Fakta: Data World Bank tahun 2002 melaporkan bahwa setiap 12 detik, hutan seluas lapangan bola lenya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Fakta: Data World Bank tahun 2002 melaporkan bahwa setiap 12 detik, hutan seluas lapangan bola lenyap dari bumi Indonesia. Kerugian bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi negara2 tetangga dalam bentuk asap kebakaran hutan, dan juga bagi dunia karena kerusakan ekologi makin mencoreng wajah dunia yang sudah semakin tidak karuan dewasa ini.</p>
<p>Sejak awal tahun 2007, terjadi tarik menarik antara kepolisian Riau dengan menteri kehutanan, polisi Riau menangkap apa yang mereka yakini sebagai penebangan liar hutan alam yang dilindungi, sementara menteri kehutanan gusar karena polisi dianggap mencampuri kewenangan mereka &#38; 'menyusahkan' pengusaha2 pengolah bubur kayu dan kertas yg menyumbang devisa besar bagi negara.</p>
<p>Numbers trivia: Total devisa negara dari pulp &#38; kertas tahun 2007: USD 3.94 million, total kekayaan salah satu pengusaha bubur kayu &#38; kertas terbesar di Indonesia (Forbes, 2006): USD 2.8 billion.</p>
<p>Solusi yang bisa diterapkan pemerintah:<br />
Menggunakan teknologi, karena teknologi tidak berbohong, tidak memiliki conflict of interest, dan bisa diawasi oleh publik.<br />
Peraturan mengenai izin hutan tanaman industri (HTI) harus jelas, syaratnya apa, yang berminat siapa saja dan kenapa mereka diberikan atau ditolak izinnya. Untuk transparansi semua ini harus dipost di-internet, sehingga publik bisa mengikuti dan ikut mengawasi seluruh prosesnya.</p>
<p>Apabila izin sudah jelas dan sesuai aturan main, pengawasan harus jalan sehingga izin tidak cuma kertas belaka. Dan pemerintah harus mengaku bahwa mereka tidak sanggup mengerjakan tugas ini, sudah terlalu banyak hutan lindung kita yang gundul sebagai akibatnya. Solusinya? Kerjasama dengan Google atau Microsoft, mereka memiliki teknologi yang bisa menggabungkan citra satelit dengan peta digital. Gambar peta digital HTI dan hutan lindung sesuai dengan izin yang ada, lalu cocokan dengan citra satelit yang diperbaharui secara berkala. Kemampuan untuk melakukan hal ini sudah dimiliki oleh kedua raksasa teknologi ini, so we can tap on their resources. Apakah kedua raksasa ini akan setuju? Saya percaya iya, karena hal ini untuk membantu forest conservation dan image company mereka di mata dunia akan meningkat apabila mereka melakukan hal2 'green' seperti ini.</p>
<p>Komponen terakhir dan yang paling penting dari solusi ini adalah: limpahkan tanggung jawab menjaga hutan lindung kepada pengusaha2 kayu, kenakan denda yang sangat besar apabila citra satelit menunjukan bahwa hutan lindung yang dalam tanggungan mereka gundul oleh alasan apa pun.</p>
<p>Caranya? Bagi wilayah hutan lindung yang ada sesuai dengan proporsi HTI yang mereka ingin dapatkan, jadi HTI tidak hanya menjadi izin mengelola tetapi juga kewajiban untuk menjaga. Kenapa illegal logging marak? Karena itu kayu gratis bagi para pengusaha kayu, ketika ada harga yang harus mereka bayar untuk kayu-kayu tersebut, maka pemerintah tidak usah repot, mereka akan melindungi kayu-kayu tersebut seperti mereka menjaga kayu-kayu dalam HTI mereka sendiri.</p>
<p>Apakah ini akan membuat para pengusaha kayu lari? Merusak iklim investasi? Secara pragmatis kita bisa menjawab pasti tidak, karena investasi mereka sudah begitu besar sehingga mereka tidak mungkin angkat kaki begitu saja. Alasan kedua, mau angkat kaki kemana? Hutan yang tersedia untuk diolah tidak ada disemua tempat. Apakah ini fair bagi para pengusaha? Jawaban langsung adalah tidak fair, karena aturan permainannya diganti ditengah jalan, tapi jawaban yang benar adalah ini fair, karena ini menegakan keadilan dan membetulkan aturan main semula yang tidak fair dan mudah dicurangi.</p>
<p>Dari sudut pandang ekonomi pun hal ini masuk akal, pengusaha kayu di Indonesia harus mulai memikirkan tentang sustainability dan menanggung biaya untuk pelestarian lingkungan. Tidak boleh lagi terjadi kasus seperti selama ini dimana aparat tutup mata, pengusaha memperkaya diri sendiri, sementara hutan rusak tidak karu-karuan dan rakyat kecil yang akhirnya menderita. Biaya produksi pulp serat pendek Indonesia adalah yang terendah di dunia (hanya USD 186 per ton), kenapa bisa begitu? Karena ada banyak biaya tersembunyi yang tidak pernah dihitung alias ditilep: pajak kepada negara, biaya pelestarian hutan, dll.</p>
<p>Harga kertas yang rendah menekan harga cetak buku, sementara konsumsi buku per kapita di Indonesia sangat rendah. Jadi situasi yang terjadi selama ini adalah negara yang lebih miskin (Indonesia) menjadi semakin miskin karena mensubsidi konsumsi negara2 maju yang lebih kaya (mereka berpendidikan lebih tinggi dan ada penghasilan lebih sehingga lebih banyak membeli buku), sementara dalam proses semua ini ada aparat korup dan pengusaha tidak bertanggung jawab yang terus memperkaya diri sendiri secara egois dan tidak jujur. Dan semua ini dimungkinkan karena sistem dan aparat pemerintahan negara ini korup serta gampang dibodohi, pengawasan dan penerapan hukum pun tak bergigi. Mau sampai kapan situasi seperti ini berlangsung terus? Sampai seluruh hutan habis, kekayaan alam negara habis dikuras, lalu kerusakan ekologis mengakibatkan perubahan cuaca, longsor, banjir dan kekeringan yang tidak terkendali?</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
