<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>demokratis &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/demokratis/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "demokratis"</description>
	<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 18:20:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Moral hazard iklan kampanye presiden SBY]]></title>
<link>http://togarsilaban.wordpress.com/?p=233</link>
<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 02:43:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>togarsilaban</dc:creator>
<guid>http://togarsilaban.id.wordpress.com/2008/08/19/moral-hazard-iklan-kampanye-presiden-sby/</guid>
<description><![CDATA[Mempromosikan produk tentulah sah-sah saja dilakukan semua orang. Kampanye partai politikpun, merupa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mempromosikan produk tentulah sah-sah saja dilakukan semua orang. Kampanye partai politikpun, merupakan bagian dari promosi produk, karena itu kampanye politik pun sah-sah saja. Apalagi saat ini adalah musim kampanye parpol. Meski sah-sah untuk berkampanye, ada aturan yang harus diikuti ketika berkampanye partai. Selain aturan legal yang berupa undang undang dan turunannya, ada juga "aturan etika" tentang kepatutan yang perlu diperhatikan.</p>
<p>Hari ini di koran Kompas 19 Agustus, terpampang iklan partai politik Presiden SBY sangat mencolok di halaman depan. Kompas bahkan mendesain "<em>sampul</em>" khusus untuk iklan partai Demokrat milik SBY. Iklan itu memang "cuma" ucapan selamat HUTRI ke 63 dari Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Iklan itu sangat tidak etis, tidak pantas dalam moral demokrasi. <!--more--></p>
<p>Presiden SBY sebagai Kepala Negara beriklan tentang partainya dan memanfaatkan momentum peringatan HUTRI. Beberapa hari ini jelas SBY terpampang di media pada peringatan HUTRI sebagai kepala negara. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala Negara pada saat-saat peringatan HUTRI, presiden menjadi sorotan publik, kegiatannya diliput semua media cetak dan elektronik. Tapi keagungan tugas Kepala Negara dalam perayaan HUTRI itu dikotori dengan iklan yang muncul di Kompas hari ini.</p>
<p>Secara legal, pemuatan iklan itu, tidak melanggar aturan Pemilu. Tapi secara etis, seorang Kepala Negara harusnya tidak beriklan partainya pada saat ia menjabat. Apalagi di negara yang memaklumkan diri sebagai negara demokratis. Martabat Kepala Negara direndahkan dengan pemuatan iklan demikian. Apa jadinya kalau Kepala Negara berbuat demikian. Moral demokratis sudah diabaikan.</p>
<p>Kalau SBY sebagai kepala negara melakukan hal tercela seperti itu, maka sebentar, lagi para pejabat negara, Menteri, Gubernur dan Walikota, Bupati akan melakukan hal yang sama. Kalau ini sampai terjadi, maka demokrasi macam apa yang ada di negeri ini.  </p>
<p>Dari segi media, pemuatan iklan oleh para pejabat negara, akan menambah penghasilannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kelas Demokratis]]></title>
<link>http://ipotes.wordpress.com/?p=49</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 07:11:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Doantara yasa</dc:creator>
<guid>http://ipotes.id.wordpress.com/2008/05/08/kelas-demokratis/</guid>
<description><![CDATA[Pada tahun 1916, Jhon Dewey, menulis sebuah buku ‘Democracy and Education&#8216;. Dalam buku itu D]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 1916, Jhon Dewey, menulis sebuah buku ‘<em>Democracy and Education</em>'. Dalam buku itu Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium kehidupan nyata. Selaian itu Dewey menyatakan,  keseluruhan kehidupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. Seperti halnya Dewey, Thelen berargumantasi bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antar pribadi. Maka untuk menciptakan kelas yang demokrasi, tangung jawab guru sangat dibutuhkan.</p>
<p>Dewey  menganjurkan dalam menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokratis, guru harus memiliki tanggung jawab utama untuk memotivasi siswa dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran. Karena menurut keberhasilan individu atau kelompok dalam kelas demokratis, tergantung pada tingkat pengertian sosial, keterampilan dan kemapuan setiap orang untuk menciptakan suasana dimana perbedaan individu dapat dihargai dan tugas-tugas bersama dapat dikoordinasikan Untuk itu para siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisifasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengelaman secara berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat.</p>
<p>Menurut Dewey dan Thelan tingkah laku kooperatif merupakan dasar untuk membangun masyarakat kooperatif. Hal tersebut menjadi konsep untuk pengembangan pembelajaran kooperatif. Dengan menstrukturkan kelas dan aktivitas belajar siswa sedemikian rupa sehingga menunjukan hasil yang diinginkan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pak Sjafri adalah sahabat yang baik]]></title>
<link>http://purnabakti.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 09:41:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>ratihmaria</dc:creator>
<guid>http://purnabakti.id.wordpress.com/2008/04/21/pak-sjafri-adalah-sahabat-yang-baik/</guid>
<description><![CDATA[Saya sudah cukup lama mengenal Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira. Beliau adalah sosok sahabat ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Saya sudah cukup lama mengenal Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira. Beliau adalah sosok sahabat yang sangat baik, ramah, santun dan sangat berwibawa. Sebagai pemimpin (Ketua Senat Akademik IPB periode 2003-2008), beliau sangat tegas, demokratis dan bijaksana senantiasa memperhaikan saran, pendapat atau masukan dari yang dipimpinnya. Suatu kebijakan yang akan diputuskan pasti dibahas atau didiskusikan dulu dengan semua staf atau bawahannya. Pernah suatu ketika, kalau tidak salah akhir tahun 2004, pada waktu itu saya hadir dalam rapat pimpinan Senat Akademik (RAPIM-SA) dalam membahas kerangka laporan tahunan SA, yang konsepnya telah beliau persiapkan. Pada waktu saya memberikan masukan agar sub judul ”organisasi” sebaiknya tidak disatukan dengan ”keuangan atau anggaran”. Pada saat itu, entah bagaimana beliau menolak usul saya tersebut sehingga saya merasa kecewa. Tetapi secara tidak terduga, subuh/dini hari saya mendapat pesan singkat atau sms dari beliau yang menyatakan bahwa ”setelah saya renung-renungkan ternyata usul Pak Iding benar dan kerangka laporan sudah diperbaiki”. Selaku pimpinan, Pak Sjafri senantiasa mengayomi anak buahnya dan sangat pandai memotivasi anak buahnya sehingga seluruh anak buahnya dengan suka rela melaksanakan tugasnya masing-masing. Itulah sosok Prof. Dr. Ir. Sjafri Mangkuprawira yang saya kenal secara dekat dalam waktu yang cukup lama. Prof. Sjafri adalah aset IPB yang tak ternilai, oleh karena itu berakhirnya masa tugas beliau menyebabkan IPB kehilangan salah seorang dosen terbaiknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:115%;" align="right">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:left;line-height:115%;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Iding M Padli Nurjaji</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Senat Akademik</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Goyang Dewi Persik]]></title>
<link>http://zulfiansyah.wordpress.com/2008/04/20/goyang-dewi-persik/</link>
<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 09:03:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>zulfiansyah</dc:creator>
<guid>http://zulfiansyah.id.wordpress.com/2008/04/20/goyang-dewi-persik/</guid>
<description><![CDATA[Goyang gergaji memang sekarang lagi booming dan pelakunya sekarang masih menjadi pemberitaan banyak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Goyang gergaji memang sekarang lagi booming dan pelakunya sekarang masih menjadi pemberitaan banyak media. Memang di negeri ini sesuatu yg penuh kontroversi selalu mengundang berbagai macam sikap. Yang pro akan menganggap itu hal yg biasa dan manusiawi,sementara yg kontra akan menganggap itu suatu yg tak pantas. Bukan manusiawi atau pantas tak pantas yg menjadi masalah,tapi karena semua segi kehidupan perlu norma dan etika. Bagi yg kontra mungkin menganggap goyangan Dewi Persik itu meresahkan tapi bagi yg pro goyangannya itu adalah hiburan yg menyenangkan. Sekarang kita ambil jalan tengah saja biar tak ada lagi pro-kontra yg tidak berguna ini.<br />
Kalau pemerintah di daerah ada yg mencekal goyangan Dewi Persik mungkin juga maksudnya baik namun pasti mengundang komentar orang, ada yg berkomentar pemerintah tidak demokratis,selalu melarang warga negaranya berekspresi, anehnya yg mengatakan itu juga orang yg punya gelar kesarjanaan, apakah dia (mereka) tidak mengerti apa sebenarnya arti demokrasi itu sendiri.<br />
Sama dengan apa yg pernah ditulis di situs porno indonesia, bahwa pemerintah tidak demokratis dan melanggar HAM hanya karena menerbitkan UUITE dan akan memblokir semua situs porno. Begitu picik pemikiran orang yg mengatakan "Tidak demokratis dan melanggar HAM" hanya karena pelarangan terhadap pornoaksi dan pornographi.<br />
Saya juga sedikit kecewa karena situs2 porno ini akan diblokir tapi kalau itu untuk kebaikan mau apa lagi. Semua orang pasti suka porno dan membawa jiwa porno dari sejak lahir,kalau manusia tak punya jiwa porno dia tak mampu tuk punya anak,dan disinilah tugas kita tuk menempatkan kepornoan kita pada tempatnya yg tepat.<br />
Kita sama2 porno coy !!! tapi jangan katakan kalau melarang pornographi dan pornoaksi adalah perbuatan yg tidak demokratis dan melanggar HAM.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemilu Demokratis; antara rasionalitas dan irasionalitas]]></title>
<link>http://idhamputra.wordpress.com/?p=12</link>
<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 09:52:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>idhamputra</dc:creator>
<guid>http://idhamputra.id.wordpress.com/2008/03/11/pemilu-demokratis-antara-rasionalitas-dan-irasionalitas/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp;
Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim yang disebut-sebut sebagai negara ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim yang disebut-sebut sebagai negara yang paling demokratis diantara Negara-negara muslim lainnya. Pemilihan presiden pada tahun 2004 adalah momen yang dianggap penting perihal keberhasilan dalam mewujudkan negara yang demokratis di Indonesia. Apalagi saat ini disetiap daerah, dalam pemilihan kepala daerah, telah pula dipilih secara lansung oleh rakyat. Dalam waktu dekat ini, pemilihan Gubernur Jawa barat yang bebas dipilih langsung oleh rakyat pun akan dilaksanakan. Jika melirik hal-hal yang dikatakan Fukuyama (1992) tentang akhir sejarah, yang maksudnya adalah sejarah ideologi maka Indonesia sepertinya sedang berjalan ke arah apa yang Fukuyama maksud sebagai demokrasi liberal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ini menarik dan sekaligus membantah asumsi Huttington (1997) yang menurutnya setiap orang Islam yang mencoba untuk memperkenalkan demokrasi ke dalam masyarakatnya cenderung akan gagal karena demokrasi sangat bertentanngan dengan nilai-nilai dalam Islam. Hal yang diungkapkan Huttington ternyata tidak terbukti terjadi di Indonesia, bahkan Indonesia sebagai negara menurut Saiful Mujani (2007) adalah negara yang begitu demokratis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fukuyama mengatakan bahwa hak-hak manusia sebagai individu dalam demokrasi diakui hak-haknya sebagai individu bebas yang memiliki wewenang untuk bersuara dan diakui harga dirinya sebagai warga negara. Bahkan dalam demokrasi liberal keinginan yang irasional digantikan keinginan rasional untuk diakui sebagai sama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun demikian, apakah sebenarnya masyarakat yang telah melakukan pemilihan secara pribadi menentukan pilhannya benar-benar telah bebas memilih tanpa ada dorongan dari pihak manapun atau telah bersifat rasional dalam memilih?</span></p>
<p class="MsoNormal"><u><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pengaruh Sosial dan Manipulasi Pilihan</span></u><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Manusia sebagai individu yang merupakan bagian dari sosial tidak bisa lepas pengaruhnya dari hal-hal apa saja yang terjadi di luar dirinya. Memilih wakil yang dipilih apakah telah murni itu adalah pilihannya sendiri atau merupakan pengaruh dari teman, atasan, tokoh masyarakat, atau media adalah hal yang patut diperhatikan.Di tahap ini, tim sukses dari tiap-tiap perwakilan calon adalah instrument yang juga cukup penting dalam membentuk opini masyarakat untuk memilih salah satu calon pemimpin tertentu. Mereka akan berusaha kuat demi kemenangan jago mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Masyarakat bisa saja secara tidak sadar di dorong untuk memilih pilihan salah satu kandidat. Setiap orang setiap harinya sering mengalami “beban informasi berlebih” sehingga untuk mengurangi keterlebihan informasi dengan memberikan penilaian cara cepat lewat sesuatu hal-hal yang menonjol saja atau cukup diperlukan. Sehingga, dengan memberikan suatu hal-hal yang menarik, menonjol dan berbeda dengan yang lain saja para kandidat akan cepat sekali diingat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahkan, jika kita dapat memahami motif pikiran yang ada di masyarakt maka dengan mudah kita dapat mengkontrol dan mengatur pikiran masyarakat dimanipulasikan sesuai dengan kehendak kita tanpa mereka ketahui (Bernay, 1948). Bernay berpendapat bahwa model manipulasi tersebut, bagian yang terpentingnya adalah demokrasi itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><u><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demokrasi dan kebebasan memilih</span></u><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mengapa demokrasi menjadi bagian terpenting dari memobilisasi masa? Hal ini karena demokrasi adalah pemerintahan yang didaulat dan dipilih oleh rakyat, oleh individu. Jelas, jika kita memahami pikiran dan motif masyarakat yang paling mendasar, maka kitapun akan mudah mengontrol pikiran masyarakat. Jika masyarakat mengagap dalam bawah sadarnya bahwa pemimpin yang terpenting adalah parasnya, maka tim sukses tinggal memperkenalkan bahwa calonnya adalah orang yang berparas tampan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Masyarakat yang telah dapat di dorong dan dikontrol sesuai dengan apa yang diinginkan pihak-pihak tertentu, masikah hal tersebut dapat dikatakan sebagai demokrasi atau suatu hal yang demokratis? Bagi Bernay demokrasi yang dikatakan sebagai wujud kemajuan manusia dalam negara yang rasional adalah hal yang omong kosong karena manusia sesungguhnya adalah mahkluk amat irasional, mahkluk yang berisi keinginan-keinginan terpendam, emosi, dan kebahagiaan di dalamnya. Ketika keinginan-keinginan terpendam serta tipogi kebahagiaan yang paling mendasar dapat diketahui, individu yang dianggap bebas untuk memilih dan bersuara hanya merupakan omong kosong belaka. Individu telah menjadi irasionalitas di dalam rasionalitas itu sendiri. Mereka menganggap dirinya bebas dalam ikut memilih dan bersuara, sesungguhnya mereka telah diarahkan dengan tidak sadar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><u><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pemegang keuntungan dalam demokrasi</span></u><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jelas dalam hal ini,kondisi dari negara demokrasi akan menguntungkan pihak-pihak yang memiliki modal, penguasaan terhadap informasi yang diolah masyarakat, serta memahami kondisi yang paling mendasar pada masyarakat itu sendiri. Ketika mereka berhasil dipandang sebagai tokoh yang terpandag dan mereka yang berhasil memberikan perhatian pada masyarakat maka salah satu nilai tambah dalam memenangi suatu pemilihan telah ada di tangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mereka yang telah mengantongi hal-hal paling mendasar dalam diri manusia lah yang dapat menguasai pikiran dan motif mereka. Mereka yang dipandang sebagai pemegang tafsir kehidupan. Serta mereka yang telah mengikat segala informasi yang menghubungkan pengaruh ke masyarakat pulalah yang akan dapat memenangi kompetisi kepemimpinan dan berhasil menjadi pemimpin sesuai kehendak rakyat. Rakyat memilih karena dia layak untuk jadi pemimpin. Padahal sesungguhnya rakyat memilih pemimpin tersebut karena rakyat di dorong untuk memilih pemimpin tersebut secara tidak sadar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika demikian, lantas di manakah letak posisi masyarakat (awam) dalam negara demokrasi ? Posisi rakyat tidak ubahnya seperti apa yang ada pada masyarakat komunis dan Islam yang digambarkan Hutington. Bedanya dalam negara komunis dan Islam rakyat dalam kondisi sadar tidak bebas memilih karena begitu kuatnya negara, sementara dalam negara demokrasi rakyat bebas memilih yang sebenarnya secara tidak sadar mereka tidak bebas memilih. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selagi individu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sosial, semasih individu memiliki kebahagiaan yang terpendam, semasih individu memiliki gambaran tentang pemimpin mereka maka selagi itu pula kebebasan individu dapat diarahkan dan dikontrol. Lantas dimanakah letak kebebasan yang ditawarkan demokrasi jika kehendak bebas individu masih dapat dikontrol oleh motif dari luar. Adakah demokrasi liberal yang sesungguhnya? Mari kita sama-sama berpikir kembali. <i>Idhamsyah</i>.</span></p>
<p class="MsoNormal"> <span style="font-family:Arial;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pendidikan (sudahkah) untuk semua?]]></title>
<link>http://kertasputih.wordpress.com/2008/01/14/pendidikan-sudahkah-untuk-semua/</link>
<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 10:54:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rudi Wijaya</dc:creator>
<guid>http://kertasputih.id.wordpress.com/2008/01/14/pendidikan-sudahkah-untuk-semua/</guid>
<description><![CDATA[Sedih, trenyuh, pedih hati ini setiap kali melihat tayangan renovasi sekolah di salah satu televisi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sedih, trenyuh, pedih hati ini setiap kali melihat tayangan renovasi sekolah di salah satu televisi nasional. Kondisi sekolah yang akan diperbaiki sebelumnya tidak terawat dan rusak: genteng bocor, dinding jebol, meja kursi hancur, papan tulis pecah dan ketiadaan fasilitas penunjang pendidikan lainnya terekam dalam ayunan kamera sang fotografer. Bahkan, para siswanya pun kadang masih ada yang menggunakan seragam seadanya, tanpa sepatu maupun tanpa seragam merah putih. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan sekolah yang akan melakukan kunjungan untuk menyambung tali silaturahmi, menularkan sedikit ilmu, membagi sedikit rejeki bagi para guru dan siswa yang kekurangan, dan...memamerkan 'sedikit' kekayaan mereka. Fasilitas pendidikan serba lengkap, modern dan canggih, seragam tersetrika dengan mulus dan rapih, kulit halus dan bersinar, sepatu tidak ada yang terlihat berlubang pada ujung kakinya.<!--more--></p>
<p>Wajah pendidikan di Indonesia saat ini menurut saya, amat sangat berpihak kepada masyarakat yang memiliki banyak duit dalam kantong baju dan rekening bank mereka. Sedikit sekali kesempatan bagi masyarakatberpenghasilan rendah untuk dapat menyekolahkan anak - anak mereka hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagaimana mungkin bisa bersekolah tinggi kalo biaya pendidikan sekolah dasar saja terlalu mahal bagi mereka.</p>
<p>Banyak anak Indonesia, salah satunya tergambar dalam tokoh yang berada dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan para juara olimpiade nasional maupun internasional, satu - satunya yang membuat mereka kalah adalah tiadanya 'kesempatan' untuk meraih pendidikan berkualitas.</p>
<p>Dahulu, ada sekolah tanpa biaya pendidikan (gratis) dengan sistem pendidikan yang bagus dengan sedikit 'bumbu' semi militernya, SMA Taruna Nusantara. Saat itu, semua anak dengan kecerdasan yang tinggi dari golongan keluarga manapun memiliki kesempatan yang sama untuk dapat merasakan pendidikan disana.  Anak pejabat sipil, anak pejabat militer, anak pengusaha, anak pedagang, anak guru, anak petani, atau anak 'calo' bus antar kota dengan penghasilan pas2an untuk menyekolahkan 4 (empat) orang anaknya seperti diri saya bersaing memperebutkan tempat di SMA Taruna Nusantara. Saat ini, sebagian besar yang bersekolah di sana hanyalah anak - anak orang kaya yang mampu membayar sebesar kurang lebih Rp 1.750.000,- per bulannya belum termasuk uang gedung dan sumbangan lainnya.</p>
<p>Pemerintah memang sudah memberikan alokasi pendidikan yang cukup besar dalam APBN dibandingkan tahun - tahun sebelumnya, namun keberlangsungan pendidikan berkualitas di Indonesia tidak akan dapat selamanya bergantung kepada pemerintah. Peran serta masyarakat salah satunya <a href="http://www.nuranidunia.or.id/" target="_blank">Yayasan Nurani Dunia</a>, salah satu bank yang menjadi sponsor program tayangan televisi renovasi sekolah, GNOTA, maupun gerakan penggalangan dana oleh alumni beberapa sekolah bagi calon siswa di almamaternya; salah satunya Alumni SMA Taruna Nusantara yang tergabung dalam IKASTARA memberikan beasiswa pendidikan bagi siswa berprestasi yang tidak mampu bersekolah di SMA Taruna Nusantara, semoga akan mampu menggerakkan bangsa ini menuju kesejahteraan.</p>
<p>Ingin bersatu, berjuang dan berkarya lebih banyak dalam pembangunan menurut hati nurani demi kebangkitan bangsa  di masa yang akan datang menuju masyarakat yang adil, sejahtera, dan demokratis. Semoga Tuhan menunjukkan jalan untuk mewujudkan cita - cita "Wijaya Foundations". Aminnn...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KRITERIA PEMIMPIN BARU : JUJUR dan ADIL ]]></title>
<link>http://propera.wordpress.com/2007/11/24/kriteria-pemimpin-baru-jujur-dan-adil/</link>
<pubDate>Sat, 24 Nov 2007 06:12:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>propera</dc:creator>
<guid>http://propera.id.wordpress.com/2007/11/24/kriteria-pemimpin-baru-jujur-dan-adil/</guid>
<description><![CDATA[JUJUR dan ADIL adalah kriteria PEMIMPIN BARU dalam SUKSESI; KALI INI JANGAN MAU DI TIPU LAGI !!!. 
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://propera.wordpress.com/2007/11/18/jujur-dan-adil/">JUJUR dan ADIL adalah kriteria PEMIMPIN BARU dalam SUKSESI; KALI INI JANGAN MAU DI TIPU LAGI !!!. </a></p>
<p>KALI INI JANGAN MAU DI TIPU LAGI !!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IKON PERJUANGAN TANPA GELAR PAHLAWAN ?]]></title>
<link>http://propera.wordpress.com/2007/11/24/ikon-perjuangan-tanpa-gelar-pahlawan/</link>
<pubDate>Sat, 24 Nov 2007 06:08:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>propera</dc:creator>
<guid>http://propera.id.wordpress.com/2007/11/24/ikon-perjuangan-tanpa-gelar-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[PEJUANG YANG BELUM DIANUGERAHI GELAR PAHLAWAN ?
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://propera.wordpress.com/2007/11/10/pejuang-yang-belum-dianugerahi-gelar-pahlawan/">PEJUANG YANG BELUM DIANUGERAHI GELAR PAHLAWAN ?</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PEJUANG YANG BELUM DIANUGERAHI GELAR PAHLAWAN]]></title>
<link>http://propera.wordpress.com/2007/11/10/pejuang-yang-belum-dianugerahi-gelar-pahlawan/</link>
<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 23:38:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>propera</dc:creator>
<guid>http://propera.id.wordpress.com/2007/11/10/pejuang-yang-belum-dianugerahi-gelar-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Bangsa ini sedang terpuruk
Karena bangsa ini tidak menghargai pejuangnya
Bangsa ini memperingati 10 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bangsa ini sedang terpuruk</strong></p>
<p><strong>Karena bangsa ini tidak menghargai pejuangnya</strong></p>
<p><strong>Bangsa ini memperingati 10 Nopember sebagai hari Pahlawan</strong></p>
<p><strong>Tapi bangsa ini melupakan Tokoh Utama nya</strong></p>
<p><strong>Bangsa ini tahu istilah "MERDEKA ATAU MATI"</strong></p>
<p><strong>tapi bangsa ini tidak mati-matian tidak mengakuinya sebagai Pahlawan,</strong></p>
<p><strong>Bangsa ini bangsa yang tidak bisa menghargai jasa Pahlawannya</strong></p>
<p><strong>hanya mampu menuliskan peristiwa 10 Nopember sebagai bacaan sejarah</strong></p>
<p><strong>Tapi tidak mau menganugrahi gelar Pahlawan Nasional Tokoh utamanya</strong></p>
<p><strong>  </strong></p>
<p><strong>Negara ini musti belajar dari kekurangan yang dimiliki</strong></p>
<p><strong>karena pejuang bisa menerima kekurangan yang dimiliki negara</strong></p>
<p><strong>Tapi negara harus ingat jasa pejuang yang menegakkan kemerdekaannya</strong></p>
<p><strong>Negara tidak boleh arogan mempertahankan kekurangannya</strong></p>
<p><strong>Pejuang yang merupakan Pahlawan Nasional</strong></p>
<p><strong>Harus mendapat pengakuan sebagai pahlawan dari Bangsa ini</strong></p>
<p><strong>Harus mendapat pengakuan sebagai Pahlawan dari Negara ini</strong></p>
<p><strong>Harus mendapat pengakuan sebagai Pahlawan dari Pemerintah ini</strong></p>
<p><strong>Harus mendapat tempat yang layak sebagai Pahlawan Nasional</strong></p>
<p><strong>Negara harus memberi tempat khusus</strong></p>
<p><strong>Mereka layak untuk mendapatkannya </strong></p>
<p><strong>Jika rakyat bangsa ini menempatkan mereka sebagai Pahlawan,</strong></p>
<p><strong>dan ingin melihat mereka ditempatkan di TAMAN MAKAM PAHLAWAN</strong></p>
<p><strong>jangan biarkan rakyat menjadi kecewa</strong></p>
<p><strong>mau berapa tahun lagi menunggu</strong></p>
<p><strong>mau berapa Presiden lagi yang harus terpilih</strong></p>
<p><strong>Peristiwa 10 Nopember 1945,</strong></p>
<p><strong>baru 62 Tahun yang lalu,</strong></p>
<p><strong>banyak saksi sejarah yang menjadi referensi untuk dasar penganugrahan</strong></p>
<p><strong>banyak tokoh yang dapat dimintai pendapat</strong></p>
<p><strong>banyak ahli sejarah yang bisa dimintai saksi keahliannya</strong></p>
<p><strong>Bangsa ini </strong></p>
<p><strong>Negara ini</strong></p>
<p><strong>Pemerintah ini</strong></p>
<p><strong>Jangan seperti pepatah lama</strong></p>
<p><strong>"KACANG LUPA DENGAN KULIT-nya"</strong></p>
<p><strong>Karena peristiwanya kita AKUI SEBAGAI HARI PAHLAWAN</strong></p>
<p><strong>kenapa TOKOH UTAMA-nya </strong></p>
<p><strong>"BELUM DIANUGRAHI GELAR PAHLAWAN"</strong></p>
<p><strong>Atau kita memang bangsa yang pelupa</strong></p>
<p><strong>mudah melupakan jasa pejuang dan pahlawan</strong></p>
<p><strong>Atau kita bangsa yang suka milah-milih </strong></p>
<p><strong>Pejuang yang secara jelas berperan kok tidak diakui, ANEH ! </strong></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
