<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dari-indonesia-untuk-dunia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/dari-indonesia-untuk-dunia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dari-indonesia-untuk-dunia"</description>
	<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 23:41:42 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Toba Catastrophe Theory]]></title>
<link>http://wahyuancol.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 17:48:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyuancol</dc:creator>
<guid>http://wahyuancol.id.wordpress.com/2008/05/14/toba-catastrophe-theory/</guid>
<description><![CDATA[Ada dua erupsi volkanik mahadahsyat di dunia ini yang menduduki peringkat VEI (volcanic explosity in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Ada dua erupsi volkanik mahadahsyat di dunia ini yang menduduki peringkat VEI (volcanic explosity index) paling atas (8), yaitu Toba dan <span class="yshortcuts">Yellowstone</span> (Amerika). Toba terjadi sekitar 74.000 tahun yang lalu, dan <span class="yshortcuts">Yellowstone</span> terjadi sekitar 1-2 juta tahun yang lalu. Yang <span class="yshortcuts">Yellowstone</span>, penentuan saat tepatnya sulit karena masalah “overprinting” (tertutupi) oleh kejadian2 sesudahnya. Ini jelas kejadian2 yang tidak disaksikan manusia moderen. Hanya berdasarkan sebaran piroklastikanyalah, dikethui bahwa Bumi kita pernah punya sejarah erupsi “mega-colossal” ini.</p>
<p class="MsoNormal">Erupsi mega-kolosal Toba, kalau kita percaya, tentu telah menyebabkan suatu katastrofi yang dahsyat (“Toba catastrophe theory”, kata Stanley Ambrose – University of Illinois at Urbana-Champaign – seorang peneliti luar yang menekuni masalah ini). Erupsi ini telah menurunkan temperatur permukaan Bumi 3-3.5 derajat Celsius selama beberapa tahun. Tentu lingkungan permukaan Bumi berubah secara signifikan akibat erupsi megakolosal ini.</p>
<p class="MsoNormal">Akhir-akhir ini, karena terjadi kesamaan waktu dengan hasil penelitian evolusi manusia, erupsi Toba ini telah dituduh sebagai penyebab macetnya arus populasi migrasi manusia pada sekitar 70.000-75.000 tahun yang lalu. Pengetahuan kita tentang prasejarah manusia saat ini didasarkan kepada bukti2 fosil, arkeologi, dan genetika (DNA). Berdasarkan bukti2 tersebut, di dalam 3-5 juta tahun terakhir, spesies manusia (hominid) telah berpisah dari kelompok kera, dan maju dalam evolusinya menghasilkan varietas spesies manusia. Dalam perkembangan ini, pada sekitar 70-75 ribu tahun yang lalu sempat terjadi peristiwa reduksi populasi manusia yang sangat masif, inilah yang terkenal sebagai teori ”population bottlenecks” .</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa bukti geologi dan simulasi komputer Toba mega-colossal eruption telah dilakukan, dan sangat mendukung bahwa Toba pernah meletus dengan hebatnya. Dan, bukti DNA melalui proyek genome (yang baru dilakukan sekitar awal tahun 2000) telah berhasil memetakan seluruh variasi manusia saat ini dan telah berhasil melacak perjalanan evolusi dan migrasinya. Dikatakan, bahwa seluruh manusia sekarang di Bumi berasal dari sekitar hanya 10.000 individu manusia. Dengan menggunakan teknik ”average rates of genetic mutation”, beberapa ahli genetika berpendapat bahwa sejumlah populasi terisolasi ini hidup sezaman dengan peristiwa erupsi megakolosal Toba.</p>
<p class="MsoNormal">Maka, disusunlah sebuah teori antara para ahli geologi dan ahli genetika yang mengatakan bahwa erupsi megakolosal Toba pada sekitar 74.000 tahun yang lalu telah memunahkan banyak manusia yang sedang bermigrasi keluar dari Afrika (out of Africa) dan hanya menyisakan 10.000 individu yang hidup terisolasi. Peristiwa ini selanjutnya telah mendorong diferensiasi spesies dari 10.000 individu dan melalui serangkaian peristiwa akhirnya menyisakan spesies manusia yang seperti sekarang ini.</p>
<p class="MsoNormal">salam,</p>
<p class="MsoNormal">awang</p>
<p class="MsoNormal">---------------</p>
<p class="MsoNormal">Dikutip sebagaimana ditulis Oleh Awang Harun Satyana di dalam IAGI-net, 27 juni 2006.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Krakatau Purba 535 AD: “A super colossal eruption”]]></title>
<link>http://wahyuancol.wordpress.com/?p=26</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 16:52:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyuancol</dc:creator>
<guid>http://wahyuancol.id.wordpress.com/2008/05/13/krakatau-purba-535-ad-%e2%80%9ca-super-colossal-eruption%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter…Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari – gelap gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunungapi di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dua-duanya ada di Indonesia, tak jauh dari kita. Semoga kita, bangsa Indonesia – terlebih yang menamakan dirinya geologist, mengenal dengan baik dua gunungapi ini.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi, banyak dokumen menunjukkan bahwa Krakatau 1883 bukanlah satu-satunya letusan dahsyatnya. Sebelumnya, masih di Krakatau juga, ada letusannya yang kelihatannya jauh lebih dahsyat lagi daripada letusan 1883, yang terjadi pada masa sejarah, pada masa kerajaan-kerajaan Hindu pertama di Indonesia tahun 400-an atau 500-an AD (Anno Domini, Masehi). Tentu saja letusan ini tak banyak ditulis apalagi difilmkan sebab pengetahuan kita tentangnya masih samar-samar, walaupun nyata. Adalah B.G. Escher (1919, 1948) yang berdasarkan penyelidikannya dan penyelidikan Verbeek (1885) – dua-duanya adalah ahli geologi Belanda yang lama bekerja di Indonesia – yang menyusun sejarah letusan Krakatau sejak zaman sejarah – moderen.</p>
<p class="MsoNormal">Saat ini, di Selat Sunda ada Gunung Anak Krakatau (lahir Desember 1927, 44 tahun setelah letusan Krakatau 1883 terjadi), yang dikelilingi tiga pulau : Sertung (Verlaten Eiland, Escher 1919), Rakata Kecil (Lang Eiland, Escher, 1919) dan Rakata. Berdasarkan penelitian geologi, ketiga pulau ini adalah tepi-tepi kawah/kaldera hasil letusan Gunung Krakatau (Purba, 400-an/500-an AD). Escher kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan penelitian geologi batuan2 di ketiga pulau itu dan karakteristik letusan Krakatau 1883, maka keluarlah evolusi erupsi Krakatau yang menakjubkan (skema evolusi Krakatau dari Escher ini bisa dilihat di buku van Bemmelen, 1949, 1972, atau di semua buku moderen tentang Krakatau).</p>
<p class="MsoNormal">B.G. Escher berkisah, dulu ada sebuah gunungapi besar di tengah Selat Sunda, kita namakan saja KRAKATAU PURBA yang disusun oleh batuan andesitik. Lalu, gunungapi ini meletus hebat (kapan ? ada dokumen2 sejarah tentang ini, ditulis di bawah) dan membuat kawah yang besar di Selat Sunda yang tepi-tepinya menjadi pulau Sertung, Rakata Kecil dan Rakata. Lalu sebuah kerucut gunungapi tumbuh berasal dari pinggir kawah dari pulau Rakata, sebut saja gunungapi Rakata, terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunungapi muncul di tengah kawah, bernama gunungapi Danan dan gunungapi Perbuwatan. Kedua gunungapi ini kemudian menyatu dengan gunungapi di Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunungapi inilah yang disebut KRAKATAU. Tahun 1680, gunung Krakatau meletus menghasilkan lava andesitik asam. Tanggal 20 Mei 1883, setelah 200 tahun tertidur, sebuah erupsi besar terjadi, dan terus-menerus sampai puncak erupsi terjadi antara 26-28 Agustus 1883 (Inilah letusan Krakatau 1883 yang terkenal itu). Erupsi ini telah melemparkan 18 km3 batuapung dan abu volkanik. Gunungapi Danan dan Perbuwatan hilang karena erupsi dan runtuh, dan setengah kerucut gunungapi Rakata hilang karena runtuh, membuat cekungan kaldera selebar 7 km sedalam 250 meter. Desember 1927, ANAK KRAKATAU muncul di tengah-tengah kaldera.</p>
<p class="MsoNormal">Seberapa besar dan kapan erupsi KRAKATAU PURBA terjadi ? Inilah tujuan utama tulisan saya kali ini. Tulisan2 yang berhasil dikumpulkan (buku2 dan paper2 lepas) menunjuk ke dua angka tahun : 416 AD atau 535 AD. Angka 416 AD adalah berasal dari sebuah teks Jawa kuno berjudul ”Pustaka Raja Purwa” yang bila diterjemahkan bertuliskan : ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra” . Di tempat lain, seorang bishop Siria, John dari Efesus, menulis sebuah chronicle di antara tahun 535 – 536 AD, “ Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan bahwa Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi” . Dokumen di Dinasti Cina mencatat : ”suara guntur yang sangat keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”. (Semua kutipan diambil dari buku Keys, 1999 : Catastrophe : A Quest for the Origins of the Modern Worls, Ballentine Books, New York).</p>
<p class="MsoNormal">Itu catatan2 dokumen sejarah yang bisa benar atau diragukan. Tetapi, penelitian selanjutnya menemukan banyak jejak-jejak ion belerang yang berasal dari asam belerang volkanik di temukan di contoh-contoh batuan inti (core) di lapisan es Antarktika dan Greenland, ketika ditera umurnya : 535-540 AD. Jejak2 belerang volkanik tersebar ke kedua belahan Bumi : selatan dan utara. Dari mana lagi kalau bukan berasal dari sebuah gunungapi di wilayah Equator ? Kumpul-kumpul data, sana-sini, maka semua data menunjuk ke satu titik di Selat Sunda : Krakatau ! Adalah letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu.</p>
<p class="MsoNormal">Letusan KRAKATAU PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia. Kota-kota super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai, berakhirnya rival Katolik terbesar (Arian Crhistianity), runtuhnya peradaban2 purba di Dunia baru – berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota besar Maya Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Kata Keys (1999), semua peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang mahabesar, yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan iklim global mendingin.</p>
<p class="MsoNormal">K. Wohletz, seorang ahli volkanologi di Los Alamos National Laboratory, mendukung penelitian David Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000 : Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the Sixth Century ? – If So, Was Krakatau Volcano the Culprit ? EOS Trans American Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 18 km3), membuat kawah 40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10 hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat selama 10-20 tahun.</p>
<p class="MsoNormal">Begitulah, Escher dan Verbeek menyelidiki ada erupsi Krakatau Purba; dokumen2 sejarah dari Indonesia (Pustaka Raja), Siria, dan Cina mencatat sebuah bencana yang sangat dahsyat terjadi di abad 5 atau 6 Masehi; ice cores di Antarktika dan Greenland mencatat jejak2 ion sulfate volkanik dengan umur 535-540 AD, peristiwa2 Abad Kegelapan d seluruh dunia terjadi pada abad ke-6, dan simulasi volkanologi erupsi Krakatau Purba : semuanya kelihatannya bisa saling mendukung untuk a Super Collosal Eruption of proto-Krakatau 535 AD.</p>
<p class="MsoNormal">Kalau benar, gunungapi itu hanya di Selat Sunda, tak jauh dari kita, semoga kita mengenalnya dengan lebih baik, dan makin banyak ahli2 Indonesia yang meneliti serta menuliskannya (sebab kini sedikit sekali bilangan ahli kita yang mempelajari dan menuliskannya – cukup dihitung dengan jari-jari di satu tangan !).</p>
<p class="MsoNormal">Salam,</p>
<p class="MsoNormal">awang</p>
<p class="MsoNormal">--------------------</p>
<p class="MsoNormal">Dikutip sebagaimana yang ditulis oleh Awang Harun Satyana di dalam IAGI-net, 23 Juni 2006.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tambora, April 1815]]></title>
<link>http://wahyuancol.wordpress.com/?p=21</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 20:20:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyuancol</dc:creator>
<guid>http://wahyuancol.id.wordpress.com/2008/05/08/erupsi_tambora-perubahan_iklim_global-sejarah_eropa/</guid>
<description><![CDATA[Erupsi Gunung Tambora, Perubahan Iklim Global, Sejarah Eropa, Fenomena Astronomi
Gunung Tambora adal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Erupsi Gunung Tambora, Perubahan Iklim Global, Sejarah Eropa, Fenomena Astronomi</strong></p>
<p class="MsoNormal">Gunung Tambora adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang aktifitasnya dikenang oleh dunia. Dunia mencatat bahwa erupsi letusan Gunung Tambora pada bulan April 1815 menyebabkan perubahan iklim global di Bumi dan mempengaruhi jalan sejarah Eropa.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Tulisan ini dibuat berdasarkan tulisan dari Bapak <strong>Ma’rufin Sudibyo</strong> yang disebarkan melalui e-mail pada tanggal 25 April 2008, dengan izin tertulis via e-mail.</em></p>
<p class="MsoNormal">April 1815 adalah salah satu saat yang dicatatan di dalam sejarah dunia. Saat itu adalah saat ketika terjadinya erupsi letusan Gunung Tambora. Erupsi letusan itu menyemburkan debu volkanik ke atmosfer, dan debu itu kemudian mengelilingi Bumi dan menghambat penyinaran Matahari ke Bumi, yang kemudian menyebabkan terjadinya penyimpangan iklim yang dramatis, yaitu terjadinya tahun tanpa musim panas pada tahun 1816.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Gunung Tambora sebelum April 1815</strong></p>
<p class="MsoNormal">Gunung Tambora berlokasi di Semenanjung Sanggar, Sumbawa, dan telah tumbuh sejak 200 ribu tahun silam. Pertumbuhan gunung ini demikian pesatnya sehingga menutupi sisa gunung Kawindana Toi di utaranya yang lebih tua (muncul 410 ribu tahun silam). Pada puncak perkembangannya, sebelum April 1815, Tambora memiliki ketinggian 4.300 m sehingga bisa terlihat dengan jelas dari daratan Pulau Bali yang jaraknya 300-an km. Gunung ini dikelilingi oleh 20 kerucut parasiter yang rata-rata berketinggian 1.000 meter.</p>
<p class="MsoNormal">Di kaki Tambora berkembang tiga kerajaan yaitu: Sanggar (di sebelah utara), Tambora (di sebelah barat) dan Pekat (di sebelah selatan). Penduduknya hidup makmur dari pertanian dengan produksi utamanya beras, kacang ijo, kopi, lada dan kapas. Jalinan perdagangan dengan mancanegara juga sudah terjalin. Kerajaan-kerajaan ini mengekspor beras, madu, kapas dan kayu merah, sementara impornya diantaranya keramik Cina.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Erupsi April 1815</strong></p>
<p class="MsoNormal">Erupsi letusan Tambora pada 1815 dimulai sejak 1812 ketika asap tebal menyembur dari puncaknya diiringi getaran-getaran kecil. Ini adalah ciri khas erupsi freatik, yang terjadi ketika magma yang sedang bergerak naik ke atas mulai bersentuhan dengan air tanah sehingga terbentuk uap panas bertekanan tinggi yang akhirnya menjebol penghalang diatasnya. Biasanya erupsi freatik menjadi erusi pembuka dari episode erupsi sebuah gunung berapi (kecuali Gunung Merapi). Erupsi freatik Tambora itu berlangsung terus menerus hingga tiga tahun kemudian. Erupsi freatik Tambora yang lama itu disebabkan oleh kombinasi dapur magmanya yang sangat dalam, magma sangat kental dan sangat kaya asam, sehingga kecepatan naiknya ke tubuh gunung sangat lambat. Letusan2 freatik ini mengendapkan debu setebal 20 cm di kaki gunung.</p>
<p class="MsoNormal">Perubahan mulai terjadi pada 5 April 1815 ketika magma sudah mencapai puncak gunung dan memulai erupsi magmatik nan dahsyat. Hari itu Tambora menyemburkan debu dan batu apung hingga setinggi 35 km dalam erupsi tipe plinian yang murni didominasi gas. Di kaki Tambora, endapan batu apung dan abu itu sampe setebal 50 cm.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah 5 April Tambora terus aktif dengan getaran-getaran keras dan erupsi freatomagmatik, yaitu erupsi freatik yang sudah dicampuri magma. Erupsi tipe itu adalah tanda bahwa suplai magma segar yang baru terus berjalan menuju ke puncak gunung dari reservoirnya. Jika pada saat itu telah ada seismograf, tentu akan terekam ribuan gempa vulkanik dalam dan dangkal per hari hingga peralatan itu tersaturasi. Dan jika saat itu sudah ada barometer, tentu akan terekam penurunan tekanan udara yang anomalik di sekitar Tambora, tanda akan terjadinya letusan mahadahsyat (paroksismal).</p>
<p class="MsoNormal">Puncak aktifitas erupsi Tambora terjadi pada Senin 10 April 1815 pukul 19:00 WITA sebagaimana dicatat Raja Sanggar. Didahului gempa vulkanik kuat dengan magnitude minimum 7,5 skala Richter yang getarannya dirasakan sampai Surabaya, gunung ini memuntahkan 150 km kubik material vulkanik dengan tiga kolom asap yang menyembur hingga setinggi 43 km. Energi letusan ini setara dengan 34.000 megaton TNT. Sebagai pembanding, andaikata seluruh hululedak nuklir dalam puncak Perang Dingin dikumpulkan dan diledakkan bersama-sama, energi ledakannya 'hanya' 20.000 megaton TNT.</p>
<p class="MsoNormal">Dahsyatnya erupsi letusan itu membuat puncak gunung terpenggal dan runtuh (ambles) hingga membentuk kaldera berdiameter 7 km dengan kedalaman 1,1 km, sementara tinggi gunung tinggal 2.800 meter. Proses ini menciptakan awan panas yang sangat luar biasa, volumenya sekitar 5,6 km kubik, yang segera bergerak turun ke bawah menyapu lereng yang tersisa menerjang apa saja sebagai lautan api dengan kecepatan 60 km/jam. Kerajaan Sanggar, Tambora dan Pekat musnah karena terjangan awan panas bersuhu 800 derajat Celcius itu. Demikian banyaknya volume awan panas sehingga sebagian diantaranya masuk ke Laut Flores, menciptakan tsunami dengan tinggi awal &#62; 10 meter dan kecepatan penjalaran 250 km/jam. Tsunami ini menghajar pantai Besuki (Jawa Timur), Madura dan Maluku berselang 3 jam setelah letusan utama, sebagai gelombang dengan tinggi gelombang 1 - 2 meter dan menelan banyak korban. Berselang 19 jam kemudian tsunami lain yang lebih kecil kembali melanda.</p>
<p class="MsoNormal">Gemuruh suara letusan 5 April terdengar sampai ke Yogyakarta sebagaimana dicatat oleh Raffles, demikian pula hujan abunya. Namun dentuman suara letusan mahadahsyatnya terdengar hingga ke Bengkulu, sementara abunya jatuh lebih jauh lagi, hingga berjarak 1.300 km dari Tambora. Demikian pekat abunya hingga pada radius 600 km dari gunung mengalami kegelapan total selama 72 jam.</p>
<p class="MsoNormal">Awan panas dan tsunami produk letusan Tambora diperkirakan menelan korban 10.000 jiwa. Namun daratan Pulau Sumbawa dan Lombok yang dibuat tandus tanpa bisa ditanami mengakibatkan sekitar 38.000 penduduk Sumbawa dan 44.000 penduduk Lombok meninggal dunia akibat bencana kelaparan. Maka total korban yang jatuh akibat letusan Tambora mencapai 92.000 jiwa, hanya di Indonesia saja.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Erupsi Tambora dan Gangguan Iklim Dunia</strong></p>
<p class="MsoNormal">Erupsi letusan Gunung Tambora menyebabkan penyimpangan iklim dramatik di seluruh dunia. Sekitar 50 km kubik debu letusan Tambora diinjeksikan ke lapisan stratosfer dan terbawa oleh rotasi Bumi hingga menyebar kemana-mana. Reaksi belerang dalam debu dengan butir-butir air membentuk 200 juta ton butir-butir asam sulfat yang selanjutnya berperan sebagai tirai penahan cahaya Matahari yang sangat efektif. Akibatnya intensitas cahaya Matahari yang sampe ke Bumi tinggal 75 % dari nilai normalnya, sehingga terjadi pendinginan Bumi, dimana suhu global menurun 0,4 - 0,7 derajat Celcius dari nilai normalnya. Akibatnya timbullah penyimpangan iklim global.</p>
<p class="MsoNormal">Di Asia, bencana kelaparan merebak dimana-mana menyertai musim yang tak menentu. Kelaparan melanda Bangladesh, menelan korban puluhan ribu jiwa. Mayat-mayat mereka tak bisa dikuburkan dengan baik, sehingga pada 1817 muncul epidemi kolera asiatik yang sangat ganas, yang menghinggapi pula pasukan Inggris hingga terbawa menyebak ke Afghanistan dan nepal. Dari pasukan Inggris ini pula epidemi menyebar ke Russia dan Amerika utara.</p>
<p class="MsoNormal">Eropa dan Amerika utara mencatat tahun 1816 (atau setahun setelah erupsi letusan Tambora) sebagai "tahun tanpa musim panas" atau "tahun membeku". Hujan salju berwarna kecoklatan dan kemerahan turun tak henti-hentinya di Italia dan Hongaria sepanjang 1816 diselingi beberapa kali badai salju yang membunuh banyak orang dan merusak ladang pertanian. Di Amerika utara badai salju melanda hingga kawasan hangat di selatan yang biasanya tak tersentuh. Kabut muncul setiap saat dan hujan badai mengamuk berkali-kali di Eropa utara dan Amerika, yang membuat sungai-sungai utama banjir. Semua ini membuat ladang pertanian rusak tak bisa ditanami dan akibatnya harga pangan pun melonjak hingga tujuh kali lipat dari sebelumnya. Bencana kelaparan pun menghinggapi semua penjuru dan Swiss terpaksa menyatakan keadaan darurat nasional karena kekurangan pangan telah memicu kerusuhan. Dari angka-angka di Swiss inilah diperkirakan sekitar 200.000 penduduk Eropa dan Amerika utara terenggut jiwanya dalam tahun yang membeku itu.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Erupsi Tambora dan Jalan Sejarah Eropah</strong></p>
<p class="MsoNormal">"Hujan salah musim" mengguyur Eropa sejak awal Juni 1815 dan terus bertahan selama berminggu-minggu kemudian. Sungai-sungai utama Eropa kebanjiran, sementara jalanan penghubung antarkota dan antarnegara berubah jadi lautan lumpur. Ini sangat menyulitkan Napoleon, yang sedang berusaha menggapai impian menyatukan Eropa dibawah kekuasaan kekaisaran Perancis setelah berhasil meloloskan diri dari Elba, 1812. Rencana menyerbu Brussel berantakan akibat peralatan berat pasukannya tidak sanggup melewati jalan-jalan yang berlumpur. Dan akibat lanjutannya cukup tragis, Le Petit Generale ini terpaksa harus takluk di tangan Jenderal Blutcher dan pasukan Koalisinya dalam pertempuran besar di Waterloo, 15 Juni 1815.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Erupsi Tambora dan Fenomena Astronomi</strong></p>
<p class="MsoNormal">Bagi yang menggemari astronomi, letusan Tambora 1815 menjadi salah satu bahan kajian yang menarik tentang pengaruh gaya pasang surut Bulan - Matahari terhadap dinamika Bumi, khususnya letusan gunung berapi. Tambora meletus dahsyat hanya beberapa jam pasca konjungsi Bulan - Matahari (ijtima'). Pengaruh konjungsi dengan peningkatan frekuensi kejadian gempa sudah banyak dikaji dan dilaporkan, meski mekanismenya masih diperdebatkan. Sementara pengaruh guncangan gempa terhadap peningkatan aktivitas gunung berapi juga sudah banyak diketahui dan bisa diramalkan probabilitasnya berdasarkan persamaan Manga &#38; Brodsky. Nah, pengaruh konjungsi terhadap letusan gunung, barangkali masih menjadi virgin territory yang menantang. Letusan dahsyat Tambora terjadi pada 5 – 15 April 1815 dengan puncak letusan pada 10 April 1815 19:00 WITA. Sementara konjungsi Bulan – Matahari terjadi pada 10 April 1815 02:21 WITA, atau hanya berselisih 17 jam. Sebagai pembanding, letusan dahsyat Gunung Pinatubo (Filipina) terjadi pada 12 - 15 Juni 1991 dengan puncak letusan pada 15 Juni 1991 13:30 WITA. Sementara konjungsi Bulan - Matahari terjadi pada 12 Juni 1991 13:30 WITA, atau berselisih 65 jam. Entah kebetulan atau tidak, ini menarik.</p>
<p class="MsoNormal">Salam dari Ancol,</p>
<p class="MsoNormal">Wahyu</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kepulauan Indonesia dan Ilmu Pengetahuan: Cerita Rumphius]]></title>
<link>http://wahyuancol.wordpress.com/?p=20</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 12:12:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyuancol</dc:creator>
<guid>http://wahyuancol.id.wordpress.com/2008/04/24/rumphius-indonesia-evolusi/</guid>
<description><![CDATA[Teori Evolusi, Maluku, Halmahera, Hila, VOC, Charles Darwin, Rumphius, dan Ambon.
Bagi sebagian besa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Teori Evolusi, Maluku, Halmahera, Hila, VOC, Charles Darwin, Rumphius, dan Ambon.</strong></p>
<p>Bagi sebagian besar di antara kita tentu tidak asing lagi dengan <strong>Teori Evolusi</strong> dan <strong>Charles Darwin</strong>, tetapi apa hubungannya dengan Maluku, Halmahera, Hila, VOC dan Ambon serta Rumphius?. Mungkin hanya sedikit yang mengetahui apa kaitan kata-kata itu satu sama lain.</p>
<p>Berikut ini sebuah kisah masa lalu yang mengaitkan semua kata-kata tersebut. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh darinya. Kisah ini adalah tulisan seorang teman, <strong>Awang Harun Satyana</strong>. Atas izinnya lah, kisah yang menggugah hati ini dapat kita baca di dalam blog ini.</p>
<p>-----------------------------------------------------</p>
<p class="MsoNormal"><tt><strong><span style="font-size:10pt;">Cerita Rumphius</span></strong></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Cerita berikut ini disarikan dari buku lama “Oost Indische Spiegel” tulisan Rob Nieuwenhuys (1972) yang berisikan kisah-kisah di Indonesia sebelum tahun 1900. </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Rob Nieuwenhuys adalah seorang sastrawan Belanda kelahiran Semarang dan besar di Surabaya serta Jakarta sebelum ia berkarier di Belanda. Minat utamanya adalah karya-karya sastra dan non-sastra yang terbit di Indonesia sebelum tahun 1900. Ia pernah menyoroti karya-karya ahli bahasa van Eysinga (1796-1856), asisten residen Lebak Douwes Dekker (1820-1887), ahli budaya Batak dan Bali van der Tuuk (1824-1894), wartawan dan sastrawan roman P.A. Daum (1850-1898) dan kini yang mau saya ceritakan sedikit : Georg Eberhard Rumpf atau Rumphius (1628-1702), naturalis Jerman di Ambon yang luar biasa.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Membaca kisah Rumphius, mengingatkan saya kepada naturalis Inggris Alfred Russel Wallace yang saat demam menyerangnya di Halmahera, menyempatkannya menulis sebuah artikel yang dikirimkan kepada Charles Darwin sahabatnya di Inggris dan mengejutkannya setengah mati. Wallace menemukan ide yang sama dengan ide yang tengah dipikirkannya bertahun-tahun: evolusi. Artikel dari Halmahera ini telah mendorong Darwin segera membukukan teori evolusi melalui The Origin of Species (1859) sebelum tersusul Wallace (tentang Wallace, saya lampirkan di bawah, ulasan hampir empat tahun yang lalu, khususnya untuk rekan2 milis yang empat tahun lalu belum bergabung)</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Adalah Rumphius yang bekerja luar biasa di Ambon meneliti semua tumbuhan dan fauna serta kerang-kerang di laut dan menemukan sistem penamaan binomial serta sistematika biologi lebih dari 50 tahun sebelum Carolus Linnaeus mengeluarkan sistematika binomialnya (Systema Naturae) pada tahun 1740. Sayang, mahakarya Rumphius tak tersiar ke dunia ilmu pengetahuan saat itu karena sebuah intrik. Kalau bisa tersiar, maka Ambon akan dikenang sebagai lokasi tipe systema naturae. Sama halnya dengan intrik antara Charles Lyell dan Charles Darwin agar artikel Halmahera Wallace tak menjadi dasar teori evolusi. Kalau saja Halmahera dan Ambon sempat mengemuka, Indonesia akan selalu dikenang dalam teori evolusi dan systema naturae lebih daripada Galapagos. Sebuah bukti buat kita semua bahwa di dalam ilmu pengetahuan pun ada intrik juga.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Barangkali kita pernah mendengar kisah Rumphius ini baik secara samar-samar maupun dengan jelas. Yang diceritakan Rob Nieuwenhuys ini lain daripada yang lain. Artikel-artikel tentang Rumphius yang pernah saya kumpulkan tak menceritakan apa yang diceritakan Nieuwenhuys ini.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Georg Eberhard Rumpf lahir di Jerman tahun 1628. Ia terpesona dengan cerita tentang Maluku sebagai penghasil rempah-rempah. Maka ia mendaftarkan diri sebagai tentara VOC dan khayalannya tentang Maluku terwujud pada tahun 1653 saat armada VOC merapat di Ambon (armada ini juga yang berperang melawan Sultan Hasanuddin dari Makassar akibat persaingan perdagangan rempah-rempah dari Maluku). </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Rumpf tidak lama jadi tentara sebab panggilan jiwanya bukan sebagai militer. Ia meminta dipindahkan ke bagian sipil dan disetujui. Tahun 1656 Rumpf diangkat sebagai saudagar VOC di Larike, sebuah dusun terpencil di pantai utara Ambon di Semenanjung Hitu. Tahun 1660 Rumpf pindah menjadi saudagar di Hila masih di Hitu juga. Daripada memperkaya diri dan memperkaya VOC, Rumpf mulai terbuka matanya kepada dunia alam Pulau Ambon. Ia menikahi gadis Ambon dan mulailah mempelajari semua tanaman yang ditemuinya. Rumpf mempunyai ambisi ingin membukukan semua flora yang ada di Pulau Ambon. </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Maka, perlahan tapi tanpa terhenti, Rumpf mempelajari, memaparkan, memberi nama dalam bahasa Ambon, Melayu, dan Latin semua tumbuhan yang dipelajarinya. Ia menggambar dengan teliti rupa tanaman yang dipelajarinya, menceritakan faedah khususnya untuk menyembuhkan penyakit (untuk ini ia banyak mendengarkan cerita penduduk setempat). Istri dan anak-anaknya membantunya dengan setia. Rumpf pun melakukan beberapa eksperimen dengan tanaman untuk benar-benar mengetahui khasiatnya.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Sampai tahun 1670, atau sekitar sepuluh tahun setelah Rumpf mempelajari tanaman-tanaman Ambon, ia mulai banyak mengadakan kontak dengan sarjana-sarjana Eropa. Sejak itu namanya lebih terkenal sebagai ”Rumphius” sesuai selera ilmu pengetahuan pada zaman itu (zaman Renesans) yang sedang gandrung akan nama-nama Latin atau Yunani. </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Tetapi pada tahun 1670 juga, penglihatan Rumphius mulai kabur akibat suatu penyakit bernama staar yang tak bisa disembuhkan. Akhirnya ia mengalami kebutaan total. Bagaimana seorang naturalis bila buta ?</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Tetapi Rumphius tidak akan menjadi terkenal kalau patah semangat karena kebutaannya. Ia dan keluarganya pindah dari Hitu ke Ambon. Dan karier Rumphius tetap dapat dukungan penuh dari Batavia, ia tetap digajih, bahkan diberi juru tulis dan juru gambar. Sementara itu, istri dan anaknya tetap membantu Rumphius sepenuh waktu untuk meneruskan karyanya yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun itu.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Setelah buta bahkan Rumphius menambah pengamatannya akan semua jenis kerang yang ada di perairan Ambon. Ia tetap mendengarkan cerita-cerita penduduk tentang kerang-kerang itu lalu mendiktekan kepada anaknya atau juru tulisnya untuk menuliskannya. Ia meraba, mencium, dan mendengar – itulah senjata-sejata untuk deskripsinya. Rumphius makin mencintai alam Ambon sungguhpun ia buta.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Namun, bencana datang lagi. Gempa dahsyat melanda Ambon pada 17 Februari 1674. Gempa ini menewaskan orang-orang yang paling dicintainya: isterinya dan anaknya – dua orang yang setara dengan dia sendiri, penunjuk jalan yang setia akan keajaiban Ambon. Gempa ini juga menewaskan sebanyak 2322 penduduk Ambon. Nah, dari mana lagi akan datang pertolongan untuk Rumphius ?</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Sungguh luar biasa, dalam tahun itu juga, Rumphius berhasil menerbitkan buku pertama tentang sejarah alam Ambon, berjudul Sejarah dan Geografi Pulau Ambon. Sayang, buku ini tetap terkunci rapat di kantor VOC di Ambon sebab VOC takut bila buku ini tersebar akan menguntungkan pesaing-pesaing VOC. Di kemudian hari, setelah Rumphius tiada, buku ini ditemukan seorang pendeta bernama Valentijn dan menerbitkannya atas namanya sendiri...(!)</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">11 Januari 1687 bencana ketiga menimpa Rumphius dan kota Ambon. Kota Ambon dimangsa si jago merah yang hebat alias kebakaran. Api menghanguskan gambar-gambar untuk bukunya tentang tumbuhan, menghanguskan konsep naskah tentang kerang, dan<span> </span>juga menghanguskan koleksi tumbuhan dan kerang yang lebih dari 15 tahun dikumpulkan Rumphius. Untunglah naskah tentang tumbuhan Ambon bisa diselamatkan. Dan, untunglah VOC tetap mendukung Rumphius dengan membantunya menugaskan juru tulis dan juru gambar untuk menulis dan menggambar ulang semua dokumen yang telah dilalap si jago merah.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Tahun 1690 mahakarya Rumphius pun selesai, dua belas jilid banyaknya, sebuah karya raksasa yang disusun selama lebih dari 20 tahun dengan berbagai suka dan duka. Rumphius mengirimkan karyanya kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia. Karyanya baru diteruskan ke Belanda pada tahun 1697 setelah selama tujuh tahun disalin di Batavia oleh Gubernur Jenderal Camphuys – seorang pencinta alam Indonesia juga. Lebih sial lagi, ternyata karya raksasa Rumphius ini tersimpan selama 44 tahun di arsip VOC di Belanda dengan alasan keamanan (!). Maka, tersusullah karya Rumphius ini oleh karya Systema Naturae Carolus Linnaeus, ahli biologi Swedia, yang menerbitkan karyanya pada tahun 1740 dan memperkenalkan sistem penamaan binomial. Padahal, Rumphius dari Ambon telah menemukan sistem penamaan itu 50 tahun lebih awal.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Tahun 1699, Rumphius masih mengeluarkan sebuah buku berjudul ”Kotak Keajaiban Pulau Ambon” yang membahas kerang-kerang di perairan Ambon. Bukunya ini bernasib lebih baik daripada buku-buku sebelumnya. Rumphius tak mengirimkan buku ini kepada pejabat-pejabat VOC, tetapi mengirimkannya langsung kepada seorang sahabatnya di Belanda dan menerbitkannya pada tahun 1705. Tetapi, Rumphius tidak melihat satu bukunya pun terbit, sebab ia meninggal di Ambon pada tahun 1702. </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Cerita Nieuwenhuys, sampai Perang Dunia kedua, makam Rumphius masih suka dikunjungi orang, tetapi sekarang tak seorang pun tahu di mana makam ilmuwan besar buta ini. </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Barang siapa pernah membaca deskripsi tumbuhan atau kerang yang ditulis Rumphius, tak akan mengira kita bahwa penelitinya adalah seorang buta. Tak berlebihan bila Rumphius pernah dijuluki ”orang buta yang berpandangan jauh” – barangkali mirip komponis klasik Ludwig van Beethoven yang menganggit simfoni nan megah sekalipun ia tuli.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Pengamatan, pelukisan, dan cinta Rumphius kepada alam Maluku tak ada taranya. Ia sungguh jatuh cinta kepada Ambon Manise.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">Rumphius – teladan bagi dunia naturalis Indonesia.</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;"> </span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">salam,</span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><tt><span style="font-size:10pt;">awang </span></tt></p>
<p class="MsoNormal">-----------------------------------------------------------</p>
<p class="MsoNormal">Ada hal-hal yang sangat menarik dari kisah tersebut, yaitu:</p>
<ol>
<li>Tentang bagaimana dukungan Pemerintah sangat berpengaruh bagi munculnya suatu karya ilmiah. Tanpa dukungan dari VOC kala itu, tidak mungkin Rumphius menghasilkan karyanya yang monumental itu.</li>
<li>Bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan perkembangan politik. Kita dapat melihat hal itu dari bagaimana VOC menyimpan (tidak mempublikasikan karya Rumphius) dengan alasan keamanan sehingga sejarah mencatatnya sebagai bukan karya yang pertama.</li>
<li>Bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan pun ternyata ada juga intriknya.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Demikian sebuah kisah masa lalu yang pernah terjadi Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal">Semoga bermanfaat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Salam,</p>
<p class="MsoNormal">Wahyu</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
