<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dakwah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/dakwah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dakwah"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 09:00:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Diskusi Publik HIV/AIDS]]></title>
<link>http://nenykurniawati.wordpress.com/2009/11/30/diskusi-publik-hivaids/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 03:24:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>neny</dc:creator>
<guid>http://nenykurniawati.wordpress.com/2009/11/30/diskusi-publik-hivaids/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya selesai juga tugas jadi panitia Dispub HIV/AIDS. Thanks berat bwt anggota seksi kesekretari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Akhirnya selesai juga tugas jadi panitia Dispub HIV/AIDS. Thanks berat bwt anggota seksi kesekretariatan yg telah dengan ringan hatinya membantu koordinator yg sebenarnya tidak terlalu baik ini (salut bgt bwt kalian, kerja tidak berdasar siapa pemimpinnya, tp amanahnya).</p>
<p>HIV/AIDS yang menjadi momok bagi hampir semua umat manusia, ternyata bersumber dari tidak patuhnya umat manusi dengan ketentuan Tuhan (Allah SWT). coba banyangin aja kalo misalnya manusia ga pernah nge-drugs, seks bebas, dll, penyakit ini pasti g akan pernah muncul kan???</p>
<p>entah kenapa saya rasa saya ptut juga bersukur atas adanya penyakit ini. ya kan? coba kalo penyakit ini g ada mana tau kita kalo nge-drugs, seks bebas, dkk tu g baik. jadi kalo ada PSK ato pecandu yg kena AIDS, sukurin. Moga dengan dikasihnya penyakit ini kepada kalian, kalian jadi insyaf. Amin (benar ga sih doanya)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Takut Menikah Karena Belum….]]></title>
<link>http://webee88.wordpress.com/2009/11/30/aku-takut-menikah-karena-belum%e2%80%a6-2/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 21:26:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>webee88</dc:creator>
<guid>http://webee88.wordpress.com/2009/11/30/aku-takut-menikah-karena-belum%e2%80%a6-2/</guid>
<description><![CDATA[1. Belum Bekerja Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah mer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>1. Belum Bekerja</strong></p>
<p>Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak. “mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang ?!?” Begitulah perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya.</p>
<p>Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi seluruh anggota keluarga adalah tangging jawabnya. Rasulullah bersabda, yang artinya, “Bertaqwalah kepada Allahdalam memperlakukan wanita. Sebab kamu mengambilnya dengan amanat allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan cara yang baik.” (HR.Muslim)</p>
<p>Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun sebenarnya, tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamuyang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Surat An-Nur : 32)<!--more--></p>
<p>Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata banyak tawaran kerja dan peluang kerja.</p>
<p>Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan dan prestasi yang bagus masih merupakan suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah sudah terlanjur tidak karuan ? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal dipelajari dalam jenjang pendidikan formal.</p>
<p>Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung, juga bisa untuk jaga-jaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima bekerja sesuai bidang yang dipelajari.</p>
<p><strong>2. Belum Lulus</strong></p>
<p>Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk menikah gara-gara belumlulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot.</p>
<p>Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping hidup baru bisa menambah semangat utuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan hidupnya.</p>
<p>Memang benar untuk tetap mengadakan persiapan jika mengambil jalan menikah di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan pelajaran.</p>
<p>Pusing….? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri. Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu kesulitannya.</p>
<p><strong>3. Belum Cocok</strong></p>
<p>Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula, padahal sudah hampir tidak tahan ! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan. yang jadi ertimbangan dasar dan awal tetntu saja faktor agama, yaitu aqidah dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya :</p>
<p>“Mereka (perrempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka.” (Al-Mumtahanah : 10)</p>
<p>Rasulullah juga bersabda, “Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)</p>
<p>Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya, warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya…dan lain-lain.</p>
<p>Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan, pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah.</p>
<p>Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau ustadznya, atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya,</p>
<p>“Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain.” (HR.Muslim)</p>
<p>Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya. Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan perasaan suka. Karea itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri.</p>
<p><img class="alignnone" title="menikah" src="http://mandacutie.files.wordpress.com/2008/01/rings1.jpg?w=606&#038;h=454" alt="" width="606" height="454" /></p>
<p><strong>4. Belum Mantap</strong></p>
<p>Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi, baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah ‘belum’ di atas.</p>
<p>Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan pernik-pernik di sekitarnya. Orang seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga ‘belum’ di atas, karena memang dia merasa belum siap dan belum mampu.</p>
<p>Solusinya tidak lain adalah mementapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan, dan keluarga, baik dengan menghadiri pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya. Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah.</p>
<p><strong>SUMBER</strong> : <a href="http://www.dudung.net/">http://www.dudung.net</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Ujian Saringan Tiga Kali"]]></title>
<link>http://baktimulyana.wordpress.com/2009/11/29/ujian-saringan-tiga-kali/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 16:26:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bakti Mulyana</dc:creator>
<guid>http://baktimulyana.wordpress.com/2009/11/29/ujian-saringan-tiga-kali/</guid>
<description><![CDATA[Cerita Motivasi Di jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Cerita Motivasi Di jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang te]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Ingin Seperti Naruto! (sedikit berbagi tentang manajemen waktu)]]></title>
<link>http://mafahimcenter.wordpress.com/2009/11/29/aku-ingin-seperti-naruto-sedikit-berbagi-tentang-manajemen-waktu/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 13:31:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ridwan Taufik</dc:creator>
<guid>http://mafahimcenter.wordpress.com/2009/11/29/aku-ingin-seperti-naruto-sedikit-berbagi-tentang-manajemen-waktu/</guid>
<description><![CDATA[oleh Fajar Gemilang Ramadani Mungkin sudah terlalu tua bagiku untuk mengatakan bahwa AKU INGIN SEPER]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://www.freewebs.com/theprotector14/naruto-clash-of-ninjas-wii.jpg" alt="" width="237" height="266" />oleh <strong><em><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1471527482">Fajar Gemilang Ramadani</a></em></strong></p>
<p>Mungkin sudah terlalu tua bagiku untuk mengatakan bahwa AKU <strong>INGIN SEPERTI NARUTO</strong>, tapi seperti itulah adanya. Bukannya aku yang belum dewasa, tapi pengalamanku selama ini yang telah membuatku ingin seperti Naruto.</p>
<p>Kenapa aku sangat tertarik dengan Naruto, bukan dengan karakter yang lain, seperti Sasuke, Shikamaru, Itachi, atau Kakashi? Karena ketika kulihat film Naruto yang disiarkan <!--more-->oleh salah satu stasiun televisi swasta, aku sangat tertarik dengan kemampuan yang dimiliki Naruto. Jurus ninjanya. Bukan Rasenggan, tapi <strong>Kagebunshin No Jutsu</strong>. Apa itu Kagebunshin No Jutsu? Itu adalah jurus seribu bayangan. Bukan jurus seribu bayangan biasa, tapi jurus seribu bayangan yang apabila bayangannya telah hilang maka informasi yang telah didapatkan oleh bayangan tersebut, maka informasi itu akan berpindah kepada tubuh asli pemilik jurus.</p>
<p>Aku membayangkan, betapa besar potensi yang dimiliki oleh jurus ini. Seandainya saja aku hidup dalam zaman ninja seperti di film Naruto pasti ada banyak hal yang bisa ku lakukan dalam hidupku, dan tentunya bisa ku lakukan secara sekalugus tanpa mengorbankan aktivitas yang lain.</p>
<p>Disadari atau tidak, kehidupan sehari-hari kita penuh dengan pilihan. Sadarkah pula bahwa setiap ada pilihan yang datang menghampiri kita, kita pun harus memilih satu diantara banyak pilihan, dan menggorbankan pilihan yang lain. Disinilah letak keistimewaan dari jurus Kagebunshin No Jutsu. Bayangkan seandainya kita mampu untuk menguasai jurus tersebut, maka setiap pilihan yang datang kepada kita, kita tak perlu untuk memilih salah satu dari banyak pilihan yang ada. Kita bisa menjalankan semua pilihan yang ada. Kita hanya tinggal membuat bayangan sebanyak pilihan yang ada di hadapan kita. Sebagai contoh, aku yang sebagai mahasiswa ini dalam satu waktu mungkin dapat menghadapi banyak pilihan.</p>
<p>Misalnya, aku harus belajar dan mencari bahan untuk menghadapi tutorial, selain itu juga harus membuat laporan yang menumpuk, laluj belajar untuk menghadapi ujian praktikum dan ujian blok, aku juga harus mengadakan rapat kordinasi dengan kawan-kawan seperjuangan dakwah untuk mengatur strategi, aku pun harus halaqah (ngaji) diberbagai majelis yang telah aku ikuti, aku juga harus senantiasa memperhatikan berita yang berkembang dimasyarakat agar bisa mencermati fakta dan bisa memberikan solusi islam bagi berbagai masalah yang ada.</p>
<p>Selain itu aku juga harus menjalankan proyek bisnisku berjualan pulsa (sedikit promosi) dan tak lupa aku pun harus beristirahat, karena jika aku jatuh sakit maka tak satupun dari kegiatan yang sudah disebut bisa ku jalankan dengan baik. Satu hal yanga penting juga, aku pun harus refreshing, menyegarkan kembali pikiranku agar bisa berfikir lebih kreatif. Banyangkan, bagaimana aku bisa melakukan itu semua?</p>
<p>Seandainya aku bisa menggunakan jurus Kagebunshin No Jutsu  tentu itu tak jadi masalah. Aku hanya harus mengeluarkan sedikir cakra untuk membuat bayangan ebanyak pilihan yang ada, lalu ketika semua pekerjaan telah selesai, maka bayangan itu akan menghilang dan semua informasi yang telah di dapat oleh bayanganku akan masuk kedalam otakku. Tapi ini adalah dunia nyata. Jelas jurus itu tak bisa ku lakukan. Lalu bagaimana aku bisa melakukannya?</p>
<p>Disinilah pentingnya manajemen waktu. Memang benar firman Allah, bahwa sebenarnya manusia dalam keadaan merugi. Tak berlebihan jika Islam mengatakan bahwa waktu adalah pedang. Bagi siapa yang tak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, maka waktu itu akan menebas dirinya.</p>
<p>Yang penting dalam manajemen waktu adalah adanya sebuah skala prioritas. Karena tak mungkin kita mengerjakan semua pekerjaan sekaligus, maka harus ada yang lebih diprioritaskan. Dan prioritas jelas punya standar. Dan standar yang benar hanya standar yang dikeluarkan oleh Zat yang menciptakan alam semesta, Allah Azza Wa Jalla. Dalam Islam kita tentunya pernah mendengar jenis-jenis hukum perbuatan, ada 5, yaitu <strong>wajib, sunnah, mubah, makruh, haram</strong>. Dan tentu kawan-lawan telah mengetahui apa pengertian dari ke-5 jenis hukum tersebut.</p>
<p>Mari kita sedikit mengkhayal. Seandainya ada sebuah ember besar dihadapan anda, juga ada kerikil, air, batu besar, pasir dan batu kecil. Lalu anda disuruh untuk memasukkan semua benda tadi ke dalam ember. Mana yang akan anda dahulukan agar semua benda tadi bisa masuk embar dan tidak tumpah? Mau tau jawabannya? Kita tanya Gallileo..!!</p>
<p>Ketika kita ingin memasukkan benda-benda tadi ke dalam ember dan tidak tumpah, maka perhatikanlah besar partikel dari semua benda tersebut. Yang lebih besar dimasukkan terlebih dahulu. Pertama batu besar, batu yang lebih kecil, kerikil, pasir baru yang terakhir adalah air. Maka InsyaAllah ember itu bisa menanpung semuanya, tanpa tumoah yang banyak (kalo ga percaya coba aja di rumah/di kost).</p>
<p>Sama seperti percobaan di atas (percobaan..??), begitu pula yang harus kita lakukan dalam memilih setiap pilihan yang datang menghampiri kita. Kita harus melihatnya dari status hukumnya, mana yang wajib, mana yang sunnah, dan mana yang mubah. Yang wajib jelas dikerjakan terlebih dahulu, baru yang sunah, selanjutnya yang mubah. Dan perkara wajib pun ada yang harus diperhatikan, mana yang wajib mendesak dan mana yang wajib tidak mendesak. Yang mendesak jelas harus didahulukan. Perkara-perkara yang sifatnya makruh dan haram jelas harus kita tinggalkan.</p>
<p>Jika kita bercermin kepada para sahabat rasul, mereka ketika dalam 1 hari lebih banyak melakukan aktivitas yang mubah saja mereka merasa sangat menyesal, apalagi sampai melaksanakan hal yang makruh dan haram.</p>
<p>Insya Allah jika kita bisa menentukan skala prioritas yang benar maka kita akan dapat menjalani hidup di dunia dengan selamat, begitu pula dengan kehidupan di akhirat. Dan 1 hal yang harus kita ingat, bahwa setiap pilihan yang kita pilih akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Jadi ambillah pilihan yang tepat menurut Allah, jangan sampai kita dikalahkan oleh nafsu dan perasaan kita dalam memilih. Kita harus bisa mengedepankan akal dalam memilih, mana yang benar, mana yang salah. Mana yang lebih prioritas, mana yang penting, mana yang tidak penting.</p>
<p>Wallahu &#8216;alam</p>
<p>Segala kebenaran datangnya dari ALLAH dan kekhilafan dari diri saya sebagai penulis.</p>
<p>Banjarmasin, 28 November 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Untuk Mereka yang Aku Sayangi]]></title>
<link>http://mafahimcenter.wordpress.com/2009/11/29/untuk-mereka-yang-aku-sayangi/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:59:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ridwan Taufik</dc:creator>
<guid>http://mafahimcenter.wordpress.com/2009/11/29/untuk-mereka-yang-aku-sayangi/</guid>
<description><![CDATA[Sungguh indahnya bila semuanya berjalan tanpa ada duka Tapi semuanya pasti ada problema yang terjadi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Sungguh indahnya bila semuanya berjalan tanpa ada duka</em></p>
<p><em></em><em>Tapi semuanya pasti ada problema yang terjadi pada diri kita</em><em> </em></p>
<p><em>Anugrah yang terindah yang kini kuanggap,adalah saat diriku mulai berubah<br />
Anugrah yang terindah yang kini kuanggap,<br />
saat kumulai sebuah hidup yang baru</em><br />
(<strong>Fatih – Anugrah Yang Terindah</strong>)</p>
<p>Potongan syair indah milik Fatih itu adalah <!--more-->salah satu kalimat favorit saya. Berubah mengawali hidup baru, dari buruk ke baik, bagi banyak orang memang dipandang tidak nyaman. Apalagi perubahan yang ekstrem. Manusiawi. Kamu sendiri pernah merasakan itu bukan? Bagi saya yang pernah pacaran, pedih rasanya harus meninggalkan pujaan hati karena tahu pacaran itu dilarang dalam agama. Tak ada lagi bonceng-boncengan. Tak ada lagi sapa, sms-an dan kata mesra. Tak ada lagi belaian dan ***<em>sencored</em>***. Sejak saat itu saya harus melupakan cintanya, cinta yang tidak berdasar karena saya dikenalkan dengan cinta yang lebih besar. Cinta yang terlampau agung dan lebih layak saya perjuangkan.</p>
<p>Bagi yang berjilbab, bagaimana rasanya kamu harus memutuskan berpanas-panas menutupi badanmu dengan ‘kelambu’, tegar digelari ‘ninja’, atau ‘istri teroris’, sabar saat mulai dijauhi sobat karib. Ya kamu tahu itu konsekuensi dari akidah yang kamu anut. Aku tahu sebelumnya kamu enjoy dengan pergaulan yang bebas ama para cowok. Aku tahu, kemarin kamu masih sering tebar pesona, main mata, sms-an ama cowok keren di kelas kuliah. Sejak saat itu kamu harus meninggalkannya karna kamu dikenalkan cara bagaimana agamamu mengatur dan menghormati wanita.</p>
<p>Berubah itu tidak nyaman. Kita selayaknya menyadari ketidaknyamanan adalah bagian dari perubahan, dan perubahan adalah bagian dari pengembangan diri. Dimana memang orang harus berubah ketika ia menemukan dirinya tidak berada pada kondisi yang ideal. Maka berubah adalah jalan menuju keidealan itu.</p>
<p>Sepotong episode berlalu saat kita berhasil melakukan lompatan-lompatan penyesuaian. Penyesuaian yang membuat kita mulai merasa nyaman dengan hidup yang baru. Dan pada akhirnya kita sadar telah melangkah sejauh ini. Langkah-langkah yang juga membuatmu tidak nyaman untuk kembali mundur. Mundur sebuah perubahan juga kan?</p>
<p>Tak ada yang salah apa yang dikatakan Fatih, bahwa mampu berubah adalah sebuah anugrah yang amat indah. Tapi apa cuma sampai disitu? Pertanyaannya, cukup banggakah kita hanya karena mampu merubah diri sendiri?</p>
<p>Perubahan yang ada pada kita itu baru titik awal dari perjuangan kawan. Layaknya sebuah lilin kita baru saja menyalakan lilin itu. Dan selaku pembawa lilin kita sudah harus siap dan bertanggungjawab menerangi lingkungan yang gelap.</p>
<p>Ada yang lebih indah dan lebih patut dibanggakan ketika kita tidak puas hanya mampu merubah diri kita sendiri. Demi Allah, tugas kita tidak hanya sampai disitu! Tugas kita juga merubah orang banyak. Keluarga, sahabat, tetangga, dosen, para pedagang, buruh, menteri, presiden, bahkan musuh Allah sekalipun, sebab semua orang yang memiliki hak untuk turut berubah.<br />
Saya ingin mengeluarkan kawan-kawan dari prem egois yang terjadi selama ini bahwa da’wah bukan sekadar <strong>kewajiban kita </strong>. Tetapi da’wah pada hakikatnya juga merupakan <strong>hak mereka </strong>. Da’wah adalah jalan dan hidayah menjadi kunci emasnya. Untuk apa kita berda’wah? Agar di hari akhir nanti tak ada lagi alasan bagi mereka di hadapan Allah untuk menolak kebenaran, kita udah menyampaikan kok.</p>
<p><strong>Lebih Berat &#8211; Lebih Menantang – Lebih Indah</strong><br />
Yang namanya merubah orang banyak itu lebih tidak nyaman dan memerlukan upaya yang lebih berat. Bayangkan, merubah diri sendiri saja susahnya minta ampun apalagi merubah orang banyak. Tapi apa kita lupa, Allah itu Maha Adil. Ingat, setiap ada perubahan maka disana ada anugrah. Jadi jika kita merubah banyak orang tunggulah anugrah yang berlipat yang jauh lebih indah pula.</p>
<blockquote><p>Ah, aku ingat kekasih kita Rasul saw, pernah bilang,<br />
<em>“Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya</em>” (<strong>HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud &#38; Tirmidzi</strong>)</p></blockquote>
<p>Setiap kita mengajak 1 orang untuk melakukan amal, jika ia melakukan amal itu, maka kita mendapatkan pahala sebanyak amal tersebut. Luar biasa, apalagi jika seseorang tertunjuki, tobat, berubah total jadi mukmin dan punggawa da’wah sejati melalui upaya kita. Setiap ia beramal, kebaikannya tak berhenti mengalir pada kita. Sholatnya, puasanya, belajarnya, bahkan nafasnya sekalipun yang ia niatkan untuk Allah, kita dapat pahala yang sama, tenpa mengurangi pahalanya.</p>
<p>Setiap ia berda’wah, walaupun kita diam, kita juga dapat pahala da’wahnya. Sekarang pikirkan bagaimana jika orang yang dida’wahkannya-pun berubah, tobat dan jadi penda’wah juga, lalu penda’wah itu menda’wahkan lagi pada orang lain, dan begitu seterusnya? Hmm, pikirkan sendiri.<br />
Itu baru kalau orang yang berubah linier, masing-masing level merubah satu orang. Bagaimana jika setiap level mengubah tiga, sepuluh, seratus, atau seribu orang? Berapa ratus, ribu, atau juta kali lipat pahala kebaikan yang kita dapat? Siap-siap saja jadi tukang tadah pahala! Betapa bahagia mereka yang mendapat anugrah seperti itu. Ini yang namanya MLP (multi level pahala), kawan. Sebuah penawaran yang sangat menggiurkan.</p>
<p>Diluar sana masyarakat dengan kungkungan sistem kufur mulai jenuh dengan madu berbalut racunnya. Tatanan kehidupan yang jahiliyah ini kini menunggumu untuk segera menguburnya. Disaat yang sama masyarakat semakin haus sisi relijiusitasnya. Mereka mencari dan menanti sesuatu yang baru yang akan mereka abdi. Maka untuk apa berdiam diri? Berubah, merubah, dan berbahagialah!</p>
<p>. . .<br />
<em>Akupun mulai berkhayal,<br />
apabila semua berawal dan berakhir bahagia . . .</em><br />
(<strong>lanjutan syair Fatih – Anugrah Yang Terindah</strong>)</p>
<p>Yogyakarta, menjelang deadline,<br />
Saudaramu</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.halaqah-online.com/v3/images/stories/jalanku.jpg" alt="" width="412" height="309" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sang Bunda dan Sang Bayi (Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)]]></title>
<link>http://tatangalbanjari.wordpress.com/2009/11/29/sang-bunda-dan-sang-bayi-untuk-para-pendidik-dan-pembelajar/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 03:17:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>tatangalbanjari</dc:creator>
<guid>http://tatangalbanjari.wordpress.com/2009/11/29/sang-bunda-dan-sang-bayi-untuk-para-pendidik-dan-pembelajar/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong></strong><a href="http://tatangalbanjari.wordpress.com/files/2009/11/foto00311.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8" title="Foto0031" src="http://tatangalbanjari.wordpress.com/files/2009/11/foto00311.jpg?w=112" alt="" width="112" height="150" /></a>Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang menggerakkanku menulis kolom ini.<!--more--><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Renungan ini mengantarkanku pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka (lihat gambar).</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASI nya dan menemaninya sampai sang bayi pun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa? <strong>Kasih sayang</strong> jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah &#38; membahagiakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia mem<strong>fasilitasi</strong>, untuk menjadikan anak didik  menjadi semakin <strong>cerdas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan <strong>kesabaran</strong> yang luar biasa sang bunda terus <strong>mendampingi </strong>dan terus <strong>memotivasi</strong> kita untuk bisa . Dalam hatinya dia berkata “Suatu hari anakku pasti akan bisa!”. Rasanya tak ada seorang pun ibu yang  putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata,”Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…”Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang  baru dicapai anak didik kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Sosok sang ibu sebagai <strong>pemotivasi</strong> sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan <strong>wajah bahagia dan senyum</strong> dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang ibu dan orang-orang di sekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan <strong>lingkungan</strong> yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk <strong>tahapan</strong> usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah <strong>‘makanan terbaik’</strong> untuknya sesuai tahapannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa <strong>haus</strong>sang bunda akan <strong>informasi</strong> yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi <strong>pembelajar sejati</strong>. <em>Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh <strong>imunisasi</strong>. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih <strong>terjaga kesehatannya</strong> membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagaimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an <strong>do’a-do’a untuk anaknya</strong>. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendoakan kebaikan untuk setiap anak didik kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita pahami. Renungkanlah…</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada <strong>sang bayi </strong>yang ternyata memiliki profil <strong>pembelajar</strong> terbaik.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa <strong>tinggi rasa ingin tahunya</strong>. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu? Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. <strong>Ibnu Abbas ra</strong> pernah ditanya seorang sahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau: “<strong>Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya</strong>”Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi,  adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya?<strong> Dia tidak mengenal kata putus asa! </strong>Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang  baru kita capai saat ini selaku pembelajar?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak  itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah <strong>miniatur kreativitas</strong>. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang di luar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. <strong>Buatlah lebih baik, tidak asal beda</strong>. <em>Make it better, not just different</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.<em>. </em>Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . <em>Fa’tabiruu yaa ulil abshaar.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pentingnya Mempelajari TAUHID !!]]></title>
<link>http://ahnaaf.wordpress.com/2009/11/28/pentingnya-mempelajari-tauhid/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 11:05:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahnaf</dc:creator>
<guid>http://ahnaaf.wordpress.com/2009/11/28/pentingnya-mempelajari-tauhid/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Penulis : Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi Dakwah merup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>Penulis : Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi</p>
<p>Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah  itu? <!--more--></p>
<p>Terlalu banyak seruan atau ‘dakwah’<em> ilallah</em> (menuju Allah) yang kita jumpai di sekeliling kita. Masyarakat pun dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘dakwah itu semuanya sama’. Benarkah? Lalu manakah seruan yang benar yang akan mendekatkan kepada Allah?</p>
<p>Beragamnya seruan itu sendiri telah menjadi sunnatullah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bercerita di mana Rasulullah membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.”</p>
<p>As Sa’dy menjelaskan apa yang dimaksud dengan jalan yang lurus tersebut di dalam kitab tafsirnya: “Adalah jalan yang sangat jelas yang akan menyampaikan kita kepada Allah dan kepada surga-Nya. Jalan yang lurus itu adalah mengenal yang hak dan mengamalkannya.”<br />
Rasulullah juga telah menjelaskan akan munculnya para da’i yang menyeru di atas jurang neraka. Dalam hadits Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hudzaifah mengatakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan yang khawatir akan menimpaku. Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan? Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu neraka dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka akan mencampakkannya ke jurang neraka tersebut.”</p>
<p>Kedua hadits di atas menjelaskan tentang adanya sunnatullah munculnya berbagai seruan yang semuanya mengangkat panji Islam dan mengatasnamakan Islam. Akan tetapi seruan yang benar adalah satu dan jalan yang benar adalah satu dan tidak berbilang. Allah berfirman:<br />
<em> “Tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” </em> (Yunus: 32)</p>
<p>Hadits tadi juga menjelaskan bahwa jalan yang tidak benar itu lebih banyak daripada jalan yang benar. Demikian juga dengan da’i yang menyeru kepada kesesatan, lebih banyak dibanding dengan para penyeru kebenaran.</p>
<p><strong>Kedudukan Tauhid</strong><br />
Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam agama. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal z. Rasulullah berkata kepadanya: <em> “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” </em> <strong>( HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>1. Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini. Rasulullah bersabda:<br />
<em> “Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” </em> <strong>(Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar)</strong></p>
<p>2. Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur’an sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah:</p>
<p><em> “Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah”. <em> <strong>(Al-Baqarah: 21-22)</strong></p>
<p>Dalil yang menunjukkan hal tadi dalam ayat ini adalah perintah Allah “sembahlah Rabb kalian” dan “janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah”.</p>
<p>3. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga penutup para Rasul yaitu Muhammad . Allah berfirman:<br />
<em> “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” </em> (An-Nahl: 36)</p>
<p>4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan.<br />
Allah berfirman:<br />
<em> “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” </em> (Al-Isra: 23)<br />
<em> “Dan sembahlah oleh kalian Allah  dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. </em>” (An-Nisa: 36)</p>
<p>5. Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam surga dan terlindungi dari neraka Allah, sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan diharamkan dari surga Allah. Allah berfirman:<br />
<em> “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” </em> (Al-Maidah: 72)</p>
<p>Rasulullah  bersabda:<br />
<em> “Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” </em> (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan)</p>
<p>Rasulullah  bersabda:<br />
<em> “Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap Lailaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga.” </em> (Shahih, HR Muslim No.31 dari Abu Hurairah)</p>
<p>6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah. Allah berfirman:<br />
<em> “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama. </em>” (Al-Bayinah: 5)</p>
<p><strong>Tauhid Poros Dakwah Para Rasul</strong></p>
<p>Menggali dakwah seluruh para rasul dan sepak terjang mereka dalam memikul amanat dakwah ini, niscaya akan kita temukan keanehan di atas keanehan yang seandainya kita yang memikulnya, sunggguh kita tidak akan sanggup.</p>
<p>Dakwah membutuhkan keikhlasan agar bisa bernilai di sisi Allah dan untuk mengikat diri kita dengan pemilik dakwah itu, yaitu Allah, serta mendapatkan segala apa yang dipersiapkan di negeri akhirat. Dakwah membutuhkan keberanian untuk tidak gentar, takut, dan lari ketika menghadapi segala tantangan. Dakwah membutuhkan kesabaran terhadap segala ujian dan tantangan di atasnya. Dakwah membutuhkan istiqamah untuk selalu bersemangat di atas dakwah meskipun kebanyakan orang tidak menerimanya. Dakwah membutuhkan iman yang kuat dan yakin terhadap pertolongan pemilik dakwah ini yaitu Allah. Dakwah membutuhkan tawakal, kelembutan, dan segala bentuk akhlak yang mulia.</p>
<p>Allah telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa yang menjadi poros dakwah para rasul adalah seruan untuk mentauhidkan Allah sebagaimana firman Allah:<br />
<em> “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut. </em>” (An-Nahl: 36)</p>
<p>Dari ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengambil beberapa faidah di dalam kitabnya <strong>At Tauhid</strong>, di antaranya: Hikmah dari diutusnya seluruh para rasul, bahwa risalah itu mencakup seluruh umat, dan agama para nabi itu adalah satu.</p>
<p>Dari semua faidah ini, sangat jelas bahwa risalah para Rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah agar umat ini menyembah hanya kepada-Nya. Atau dengan kata lain, memerdekakan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Rabbnya manusia.</p>
<p><strong>Tauhid, Wahai Para Da’i!</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany mengatakan dalam risalahnya <strong>Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam</strong>: “Melihat jeleknya situasi yang menimpa saudara kita se-Islam, maka kita mengatakan situasi yang jelek ini tidak lebih jelek dibanding dengan kejahatan situasi jahiliah dulu ketika Allah mengutus Rasulullah…”</p>
<p>Berdasarkan hal itu, maka obatnya adalah obat yang disebarkan oleh Rasulullah di masa jahiliah. Maka dari itu, bagi setiap da’i agar tampil mengobati jeleknya pemahaman umat terhadap kalimat La ilaha illallah dan mengobati keadaan itu dengan obat tersebut. Yang demikian itu sangat jelas jika kita mencoba untuk merenungi apa yang difirmankan oleh Allah:<br />
<em> “Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah. </em>” (Al-Ahdzab: 21)</p>
<p>Kemudian beliau (Syaikh Albany) mengatakan: “Maka Rasul kita Muhammad  adalah suri teladan yang baik dalam mengobati segala problem yang menimpa kaum muslimin di masa kita sekarang ini, bahkan dalam setiap waktu dan keadaan. Yang demikian itu menuntut kita agar seharusnya memulai sebagaimana Rasulullah memulai yaitu pertama kali memperbaiki akidah kaum muslimin yang sudah rusak, yang kedua ibadah mereka, dan yang ketiga akhlak. Saya bukan berarti ingin memisahkan antara yang pertama dari yang paling penting menuju yang penting kemudian yang di bawahnya lagi. Akan tetapi yang saya maksudkan adalah agar setiap orang Islam terlebih khusus da’inya untuk memberikan perhatian yang besar (terhadap akidah, red).”</p>
<p>Kenyataan yang menimpa umat secara menyeluruh dan kaum muslimin secara khusus adalah kerusakan hubungan mereka dengan Allah. Bahkan sampai kepada puncak menyekutukan Allah dalam peribadatan dan mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah, baik itu dalam wujud manusia atau benda-benda yang tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa.</p>
<p>Penyakit ini telah mendarah daging seperti pohon yang telah menancap akarnya. Bahkan telah menjadi penyakit kanker yang setiap saat merenggut nyawa manusia. Oleh karena itu, sungguh sangat dibutuhkan obat yang tepat dan dokter yang telaten untuk mengawali perombakan akar-akar pohon tersebut dan mengobati penyakit-penyakit kanker tersebut. Ketahuilah, dokter umat ini adalah mereka-mereka yang mengikuti langkah Rasulullah dalam berdakwah yang memulai dari tauhid yang merupakan dasar bangunan Islam ini sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan mereka yaitu <strong>Tauhidullah</strong>.</p>
<p>Wahai para da’i, mulailah darimana Allah dan Rasul-Nya memulai dan persiapkan dirimu untuk menghadapi segala kemungkinan gangguan dan cobaan yang dahsyat yang terkadang harus mengalami kegagalan di tengah jalan. Mulailah wahai para da’i dari tauhidullah!</p>
<p>Sumber Bacaan:<br />
1. Al Qur’an<br />
2. Kitab Tauhid-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab<br />
3. Qaulul Mufid-Muhammad Al Wushabi<br />
4. Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam Syaikh Al Albany </em></em></p>
<p>&#160;</p>
<p>sumber: www.asysyariah.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan itu telah kau pilih, maka susurilah....]]></title>
<link>http://karunrung.wordpress.com/2009/11/28/jalan-itu-telah-kau-pilih-maka-susurilah/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 06:18:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>karunrung</dc:creator>
<guid>http://karunrung.wordpress.com/2009/11/28/jalan-itu-telah-kau-pilih-maka-susurilah/</guid>
<description><![CDATA[Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa denga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa denga]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara belajar, pekerjaan, dakwah dan rumah tangga]]></title>
<link>http://abudakwah.wordpress.com/2009/11/28/antara-belajar-pekerjaan-dakwah-dan-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 04:57:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu dakwah</dc:creator>
<guid>http://abudakwah.wordpress.com/2009/11/28/antara-belajar-pekerjaan-dakwah-dan-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah, Alhamdulillah wash sholatu wassalamu &#8216;ala rosulillahi wa &#8216;ala aalihi washohbi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah,  Alhamdulillah wash sholatu wassalamu &#8216;ala rosulillahi wa &#8216;ala aalihi washohbihi wa man walaah.  Siapa diantara antum yang pernah punya cita-cita atau pernah merasakan bekerja mencari nafkah sambil belajar  plus berdakwah dan mengurus rumah tangga, wa bil khusus bagi para ikhwan?!.</p>
<p>Bagaimana antum menghadapi semua hal tersebut?, mari kita diskusikan disini</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hanzalah Sang Mempelai Langit]]></title>
<link>http://genggamwaktu.wordpress.com/2009/11/28/154/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 03:35:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Almundzir</dc:creator>
<guid>http://genggamwaktu.wordpress.com/2009/11/28/154/</guid>
<description><![CDATA[This is the final chapter of Dr Shaba Muhammad Bunduq book &#8221; LOVE IS A MIRACLE, The True Love ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/CyA4ZL_iYU4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/CyA4ZL_iYU4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>This is the final chapter of Dr Shaba Muhammad Bunduq book &#8221; LOVE IS A MIRACLE, The True Love in Islam&#8221;</p>
<p>Alam menggerai tirainya turun diatas kota Madinah yang diberkahi. Bintang gemintang menebar ketenangan dan kedamaian bagi seluruh mahluk yang telah sehari penuh disibukkan dengan urusan dunia. Bintang-bintang seakan menyaksikan senandung sore, menggoyangkan pelupuk mata agar tenggelam pada nikmatnya mimpi  mimpi. Malam menghadiahi kita perasaan khusus dan seakan akan semesta ini milik kita. Malam membebaskan ruh orang orang yang beriman supaya sedikit demi sedikit menjadi jernih hingga tercurah dalam suasana diam yang mengantarkan kepada Penciptanya. Membersihkan diri dengan sujud di hadapan singgasana Nya yang agung serta menentang segala tipu daya setan.<!--more--></p>
<p>Sore berjalan seperti biasanya, akan tetapi tidak demikian bagi Hanzalah. Hari ini ia memiliki impian yang sangat special. Hanzalah punya janji dengan seseorang di sore ini. Hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan, yaitu hari bertemunya matahari dan bulan. Pada malam dimana sorenya telah menghadiahinya kekasih yang sangat dicintainya Jamilah. Hari ini adalah hari pengantin Hanzalah.</p>
<p>Hati yang tidak mengenal potongan Dahan.</p>
<p>Setiap orang yang sedang kasmaran dia akan mengandalkan seumpama bunga mawar di tanam dan mekar di seisi bumi. Andai mereka melukis dihati orang yang mencintai dengan warna merah kecil di atas dahan dahan pohon. Tetapi barang siapa yang kehilangan kemampuan untuk mencinta niscaya menjadi musuh bagi orang orang yang mencinta.</p>
<p>Hanzalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi SAW untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang sangat dicintainya.</p>
<p>Hanzalah muncul seperti langit yang sangat dekat. Dia menangis seakan akan ia merasakan detik detik perpisahannya. Ia berusaha menenagkan hatinya menghimpun cinta kecil menuju cinta yang besar agar dapat memberi keagungan dan keindahan. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, ketika ia mendengar genderang prang, maka segera ia menghambur keluar, ia tidak menunda lagi keberangkatannya supaya ia bisa mandi terlebih dahulu.</p>
<p>Ia berangkat diiringi oleh deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri. Benar, Hanzalah menang atas Hanzalah, dan berakhirlah ujian</p>
<p>Cinta itu Air dan Cinta itu Gejolak</p>
<p>Hanzalah berangkat sebagai pejuang padahal dirinya baru saja menjadi pengantin pada malam itu. Ia bergegas menyandang senjata untuk bergabung dengan Nabi SAW, yang saat itu sedang meluruskan barisan para pejuang.  Membariskan hati untuk berjualan di jalan Allah. Hanzalah pun memasuki pasar surga dan perang pun berkecamuk. Mulanya para penjual itu memperoleh kemenangan, namun ketika para pemanah meninggalkan pos posnya, saat para penjual berubah menjadi pembeli, kacaulah aturan peperangan. Kaum musyrikin pun merangsek maju dengan pasukan mereka. Hanya ada beberapa orang yang berencana untuk tetap menjual dan tetap setia mengikuti perintah Nabi pembawa rahmat dan kedamaian. Hanzalah berusaha untuk setia dia ingin membuktikan cintanya yang agung kepada Allah Ta&#8217;ala</p>
<p>Ia menerjang maju ke arah Abu Sufyan dan bergegas kearahnya untuk menebas kaki kudanya dari belakang. Abu Sufyan pun terjatuh dari kudanya ke tanah. Hanzalah merasa telah berusaha menjatuhkan kebatilan yang merusak keamanan dan kedamaiannya. Kebatilan yang senantiasa menghantui pikirannya sehingga ia tidak lagi memikirkan kekasih yang dicintainya Jamilah. Disini ia dikejar oleh Syidad bin al Asawad yang datang untuk membantu Abu Sufyan menghadapi Hanzalah. Sehingga salah seorang dari mereka berhasil menghujani hati suci itu dengan lemparan tombak yang menembus tubuhnya. Saat itu Abu Sufyan sempat berujar &#8221; Hanzalah dengan Hanzalah&#8221; yang dimaksudkan bahwa ia telah berhasil membalaskan dendam putanya yang terbunuh dalam perang Badar oleh Hanzalah.</p>
<p>Hanzalah-pun pergi meninggalkan kita untuk selama lamanya, namun aroma darah telah menjadikan ruh ruh mewangi, membawa hembusan angin surga yang sepoi sepoi untuk membangunkan jiwa kita yang tidur dan untuk kembali menyegarkan cita cita kita yang mulai luntur.</p>
<p>Bumi pun bersuci dengan darah orang orang yang mencintai keagungan. Darah Hanzalah menggenang di atas permukaan bumi yang membuat warna tersendiri bagi bukti keagungan cinta. Impian dan cinta Hanzalah selamanya ditujukan untuk mengharap cinta Nabi SAW, cinta Islam dan cinta saudara saudara sesama muslim, cinta kebaikan dan tanah air. Itulah cinta yang besar dan abadi. Cinta Allah yang bekerja di dalam dirinya dan mengatasi seluruh warna cinta lainnya. CInta yang tetap berkilauan lantaran kemenangan ruh Hanzalah baik semasa hidupnya maupun setelah kepergiannya. &#8221; Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang yang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka&#8221; (At Taubah 111). Selamat untukmu wahai Hanzalah engkau telah memesan kursi di surga</p>
<p>Langit Menurunkan Hujan Cinta</p>
<p>Perang pun telah berakhir. Orang orang yang mengadakan transaksi dagang bersama ALlah telah menawarkan berbagai barang dagangan mereka. Mereka membawa hati di telapak tangan mereka, supaya Allah menerima orang yang dikehendaki Nya. Mereka yakin bahwa pertempuran hari ini merupakan barang dagangan yang paling berharga. Bahwa orang yang percaya kepada ALlah tidaklah sia sia. Mereka membeli surga sebgai barang dagangan Allah yang mahal. Mereka paham betul aturan perdagangan bersama Allah Ta&#8217;ala. Kita tentu paham betul keterkaitan antara barang yang mahal dan harga yang mahal pula.</p>
<p>Orang orang yang tersisa dari kalangan sahabat pun mencari saudara saudara mereka. Tangan tangan sedih mereka menyentuh jasad Hanzalah yang berlumuran darah. Mereka heran terhadap tetesan air yang mengalir dari keningnya seperti butiran air mata dan berjatuhan dari sela sela rambbutnya dengan senandung kepiluan. Tampak butiran hujan darah, dan seakan akan itu adalah air mata jamilah yang berduka cita.</p>
<p>Sebenarnya tetesan air tersebut akan tetap menjadi teka teki yang sulit dipahami, sampai para sahabat mendengar suara Nabi SAW yang sedap didengar bersabda &#8221; Sungguh aku melihat para malaikan memandikan jasad Hanzalah bin Abu Amir diantara langit  dan bumi dengan air awan di dalam piring piring dari perak&#8221;</p>
<p>Golongan Aus &#8211; Kabilah Hanzalah sangat bangga terhadap apa yang telah dilakukan Hanzalah &#8221; Dari golongan kami ada orang yang dimandikan malaikat, yaitu Hanzalah dan dari golongan kami ada orang yang dilindungi sekawanan lebah yaitu Ashim bin Tsabit, dari golongan kami ada orang yang diperbolehkan kesaksiannya dengan dua kesaksian yaitu : Khuzaimah bin Tsabit, dari kami ada orang yang menggetarkan Arsy Allah yang Maha Penyayang karena kematiannya yaitu Saad bin Muadz, dan Hanzalah terus menjadi kebanggaan dan medali kehormatan di dada umat manusia seluruhnya bukan untuk suku Aus saja&#8221;</p>
<p>Pintu Gerbang Awan Yang Putih</p>
<p>Sekarang tidak penting bagi Jamilah, Hanzalah dekat atau jauh. Jika matahari tengggelam diatas tepian dunia maka matahari Hanzalah menyala dibalik tulang rusuknya yang lemah untuk meneriakinya. Mengirimkan kepadanya benang benang emas ang membawa kehangatan saat kerinduan yang mereka rasakan pernah menghimpun mereka. Jamilah hanya bisa berusaha untuk menghibur kesepiannya dan menerangi malamnya yang panjang untuk mengusir dingin yang mengendap dalam dirinya semenjak kepergian Hanzalah.</p>
<p>Terus menerus Jamilah bercerita kepada para tetangganya perihal dirinya yang bermimpi menjelang hari pengantinnya. Dan mimpinya tersebut benar benar terbukti. Jamilah mengatakan bahwa ia melihat seakan akan langit telah merekah untuk Hanzalah, lalu Hanzalah masuk dan langit itupun menutup kembali.</p>
<p>Jamilah tidak tahu bahwa mimpi yang semula ia khawatirkan ternyata adalah kabar gembira dari langit dan mengalungkan kepadanya medali medali istri seorang syuhada. Bahkan ibu dari orang yang syahid. Satu satunya malam yang telah menghimpun Jamilah dengan Hanzalah telah membuahkan pula syahid baru pada mihrab cinta Ilahi yaitu Abdullah bin Hanzalah bin Abi Amir. Syahid bin Syahid.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Brand New of DKM Ar Rahmah]]></title>
<link>http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2009/11/28/the-brand-new-of-dkm-ar-rahmah/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 01:23:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>reZa pH</dc:creator>
<guid>http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2009/11/28/the-brand-new-of-dkm-ar-rahmah/</guid>
<description><![CDATA[perhatian!! yang tertulis dibawah ini bukan berarti paling benar. kalian lebih tahu kondisi lapangan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[perhatian!! yang tertulis dibawah ini bukan berarti paling benar. kalian lebih tahu kondisi lapangan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perjalanan Ini Sungguh Sangat Mengasyikkan........Sayang ...Engkau ]]></title>
<link>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/28/perjalanan-ini-sungguh-sangat-mengasyikkan-sayang-engkau/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 18:11:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>imbalo</dc:creator>
<guid>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/28/perjalanan-ini-sungguh-sangat-mengasyikkan-sayang-engkau/</guid>
<description><![CDATA[“Pak Ambalo datang ya” ujar syaikh Husein saat dia datang  ke Batam mengadiri Seminar100 tahun Muham]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Pak Ambalo datang ya” ujar syaikh Husein saat dia datang  ke Batam mengadiri Seminar100 tahun Muham]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahasa Melayu Logat Thailand]]></title>
<link>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/27/bahasa-melayu-logat-thailand/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:26:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>imbalo</dc:creator>
<guid>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/27/bahasa-melayu-logat-thailand/</guid>
<description><![CDATA[Ustadz Hasan Pha Yao, begitu nama yang tertera dalam senarai nama di hand phone ku. Tahun ini 1430 H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ustadz Hasan Pha Yao, begitu nama yang tertera dalam senarai nama di hand phone ku. Tahun ini 1430 H]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Istiqomah Di Tengah Jalan yang Penuh Badai Ujian ]]></title>
<link>http://ukimedia.wordpress.com/2009/11/27/istiqomah-di-tengah-jalan-yang-penuh-badai-ujian/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:43:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
<guid>http://ukimedia.wordpress.com/2009/11/27/istiqomah-di-tengah-jalan-yang-penuh-badai-ujian/</guid>
<description><![CDATA[Semoga tulisan ini bisa menambah &#8220;gairah&#8221; atau &#8220;ghirah&#8221; saudara-saudaraku se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Semoga tulisan ini bisa menambah &#8220;gairah&#8221; atau &#8220;ghirah&#8221; saudara-saudaraku semuanya. Jalan ini memang tidak selamanya indah, tapi yakinlah bahwa ada sesuatu yang sangat indah di penghujung jalan ini&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><img style="margin-left:5px;margin-right:5px;" src="http://images.myfilehost.us/images/rgh1259329198c.jpg" alt="istiqamah di jalan dakwah" width="154" height="229" align="left" />Menapaki jalan dakwah, tidaklah semudah membalikkan tangan. Di dalamnya penuh jalan berliku. Bahkan berduri. Setiap saat,  setiap waktu, dan kapan pun, siap menusuk yang melewatinya. Hanyalah, orang-orang  yang hati-hati, disertai kesabaran, tegar, dan istiqamah, dapat meniti dengan selamat jalan terjal dakwah.</p>
<p>Duri-duri jalan dakwah biasa disebut dengan ujian, dan fitnah. Ujian itu bermacam-macam bentuk dan jenisnya, ada berupa kemiskinan, musibah, teror, ancaman, intimidasi, bahkan siksaan dari orang kafir. Kesemuanya ini akan berpotensi  membuat seseorang tergelincir, bahkan terjatuh dari jalan dakwah. Jika, tidak sabar dalam menghadapinya. Apabila, seorang aktivis dakwah terjatuh. Ia akan meninggalkan medan dakwah. Jalan yang penuh keutamaan, jalan yang dimuliakan Allah, jalan yang telah diwariskan Para Nabi kepada para umatnya.</p>
<p>Allah Azza wajalla dalam banyak ayat di dalam Al Qur’an menjelaskan keutamaan berdakwah. ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.”(QS.3:104).</p>
<p><!--more-->Begitu istimewanya jalan dakwah. Sehingga, orang-orang yang menapakinya, melaluinya dengan selamat, adalah orang-orang pilihan Allah. Salah satu, hikmah banyaknya orang-orang terjatuh (baca= futur) di jalan dakwah. Sebagai bagian dari seleksi Allah terhadap hamba-hambanya. Allah Subhana wata’ala, ingin menyaring, mana orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, serta mana-mana orang yang hanya sekadar mengatakan beriman?</p>
<p>Tapi, tidak mampu istiqamah dengan keimanannya. Tidak mampu, berpegang teguh, dan menjaga keimanannya dari ujian dan fitnah. Syekh Musnid al Qahthany, dalam bukunya, “Meniti Jalan Istiqamah”, terbitan Pustaka Al Bashirah, menjelaskan beberapa faktor penghalang istiqamah, di antaranya;</p>
<p><strong>Pertama</strong>, menunda-nunda (taswif) istiqamah. Banyak orang yang mengerti, keutamaan istiqamah. Namun, kadang menunda istiqamah, menunda bertobat kepada Allah. Seolah-olah, hidup matinya, di tangan dirinya, bukan di tangan Allah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, teman-teman yang buruk. Banyak orang yang ingin bertaubat dan istiqamah. Tapi, akibat berteman dengan orang tidak baik, akhlaknya buruknya. Dirinya tidak dapat istiqamah. Benarlah, sabda Rasulullah, untuk melihat iman seseorang, maka lihatlah kepada siapa yang bergaul. Bagi yang ingin segera bertaubat, istiqamah di atas jalan Islam. Segeralah, dan secepatnya meninggalkan temannya yang perangainya tidak baik, dan bergaul dengan orang-orang shaleh.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, keluarga dan kerabat. Salah satu, yang kadang menjadi penghalang dalam menegakkan agama, istiqamah dengan ajaran Islam, adalah keluarga dan kerabat dekat. Banyak, yang ingin berdakwah, menyerukan kebenaran, istiqamah di atas Islam. Tapi tersandung pada keluarga, dan kerabat. Ada yang diboikot, tidak diberi ongkos kuliah, tidak dinafkahi, isolir sama keluarga, hingga diusir, tidak diakui sebagai keluarga.</p>
<p>Bagi, siapa saja yang mengalami nasib seperti di atas, hendaknya jangan berputus asa. Bersabar, bertawakal, berdoa kepada Allah, agar dikuatkan menghadapi cobaan, serta mendoakan keluarganya agar diberi hidayah oleh Allah. Sehingga, dapat menerima kebenaran Islam dan dapat mendukung dakwah Islam.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, terlalu larut dalam perkara-perkara mubah. Menurut Ibnu Qayyim rahimahullah: bahwa fase-fase godaan syetan pada manusia, yakni membuat manusia tenggelam dan berlebihan dalam perkara mubah, dengan alasan hukumnya mubah. Perkara-pekara mubah itu, seperti; terlalu banyak tidur, terlalu banyak makan, serta terlalu banyak olah raga tertentu. Perkara-perkara tersebut, bisa melalaikan seseorang dari perkara-perkara wajib, misalnya; shalat berjama’ah, membaca Al qur’an dan berdzikir pada Allah.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, kekhawatiran tidak dapat istiqamah dengan sempurna. Salah satu pintu syetan, adalah membuat seorang hamba berprasangka terhadap dirinya. Disebabkan, prasangka dirinya tidak bisa istiqamah secara sempurna, seseorang akhirnya memilih tidak sitiqamah. Anggapan mereka, dari pada tidak bisa konsisten melaksanakan ajaran Islam, lebih baik sekalian tidak. Orang model seperti ini telah dirasuki syetan, sebelum berusaha menjalankan agama, dirinya memilih jalan tetap meninggalkan ajaran Islam. Akhirnya, hidayah kian jauh darinya, dirinya kian terjerembab dalam buaian syetan.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Pekerjaan. Betapa banyak di antara kita, yang futur, tidak istiqamah akibat pekerjaan. Dulu, ketika masih di kampus, dirinya terkenal sebagai <a href="http://jashtis.org">aktifis</a> yang istiqamah menegakkan ajaran Islam dalam dirinya, mendakwahkan ajaran Islam di tengah-tengah kampus. Tapi, apalah daya, ketika pilihan pekerjaan, profesi yang menjadi obsesi dan orientasi utamanya, dirinya rela meninggalkan sebagian ajaran-ajaran Islam. Dirinya takut dipecat, dimutasi, atau kehilangan kedudukan, jika dirinya masih konsisten dengan ajaran Islam.</p>
<p>Sebenarnya, masih ada beberapa penghalang istiqamah, sebagaimana dijelaskan Syekh Musnid al Qahthany. Namun, menurut hemat penulis, keenam faktor tersebut, paling tidak mewakili poin lainnya. Sehingga, dapat menjadikan pelajaran dalam kehidupan, tetap waspada jika sifat-sifat tersebut, mulai menghampiri, atau merasuki pemikiran kita.</p>
<p>Apabila, tidak segera dihindari dan disingkirkan, maka lambat laun, bisa menggelincirkan diri kita, dari jalan Islam, tidak istiqamah dengan ajaran Islam, yang sekian lama dipupuk dalam sanubari, dengan ibadah, serta amalan-amalan shaleh. Adalah suatu musibah besar, apabila kita kian jauh dari istiqamah, yang memiliki sejibun keutamaan.</p>
<p><strong>Keutamaan Istiqamah</strong><br />
Dalam beberapa ayat dalam Al Qur’an, Allah Azza Wajalla menjelaskan keutamaan, serta faedah yang didapatkan bagi orang-orang yang tetap istiqamah di atas ajaran Islam, tegar meniti <a href="http://ukimedia.wordpress.com">jalan dakwah</a>, meski badai cobaan, gelombang fitnah terus menghambatnya. Dirinya tidak pernah goyah, apalagi mundur, sampai dijemput maut, sampai Allah menjemputnya.</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ lalu mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidaklah mereka merasa sedih. Mereka itulah para penguhi surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqaf: 13-14)</p>
<p>Bagi Allah Azza wajalla, sebagaimana dijelaskan ayat di atas, tidak ada tempat di akhirat kelak, yang layak bagi orang-orang yang istiqamah menempuh jalan Islam, sebagai petunjuk dan pedoman hidup, kecuali surgaNya. Inilah balasan yang setimpal, yang didapatkan orang-orang yang tegar, tetap teguh, di tengah badai ujian, fitnah, yang setiap saat, setiap waktu, datang menghadang.</p>
<p>Sementara, di dunia orang istiqamah, akan selalu diliputi rasa gembira, tidak perlu bersedih. Allah Subhana wata’ala telah menjanjikan kehidupan yang layak, baik di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan hidupnya berada di atas tanggungan, dan jaminan Allah. hidupnya selalu berberkah, bermanfaat, bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, serta umat Islam secara keseluruhan.</p>
<p>Allah Azza wajalla akan memberinya rezkinya, yang melimpah, dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebaliknya, orang-orang yang kufur, akan diberi siksaan, kebahagiaan hidupnya akan dicabut di dunia, meski hartanya melimpah, lebih dari cukup, apa saja bisa dibeli. Tapi itu, tidak cukup mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya. Sedangkan, di akhirat Allah akan mengazabnya, dengan siksaan yang berat.</p>
<p>“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap istiqamah di atas jalan Allah itu (agama Islam), benar-benar kami  akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). Untuk kami beri cobaan kepada mereka padanya, dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkanNya kedalam azab yang berat.” (QS. Al-Jinn:16-17).</p>
<p>Begitulah, balasan bagi orang-orang istiqamah. Balasan amal perbuatannya, akan dibalas langsung Allah, bukan manusia. Meskipun demikian, segala amalan perbuatan kebaikannya, tetap akan diapresiasi manusia. Logika sederhananya, kalau saja, Allah sudah mencintainya. Terlebih lagi, pasti manusia akan mengapresiasinya, selama tetap menjaga adab-adab pergaulannya.</p>
<p>Setelah kita mengetahui keutamaan istiqamah, tidak ada jalan, selain berusaha tetap istiqamah, pelbagai penghalang-penghalangnya juga harus dihindari, disingkirkan, serta dibuang jauh-jauh. Amalan-amalan shaleh diperbanyak. Amalan-amalan tersebut, selain doa, tawakkal kepada Allah, akan  menjadi amunisi utama, bagi kita untuk tetap istiqamah.</p>
<p>Apalagi, di tengah badai ujian, yang kian hari, kian besar gelombangnya. Fitnah dan ujian tidak hanya datang dari orang kafir. Tapi, terkadang juga datang dari umat Islam. Bahkan, kadang keluarga, serta  istri juga menjadi penghalang dakwah, penghalang kita dari istiqamah. Olehnya itu, keluarga, istri anak harus menjadi ladang dakwah bagi kita. Mereka harus dibentengi dengan aqidah Islam yang benar, dibekali dengan pengetahuan cara beribadah dengan benar serta motivasi untuk istiqamah terhadap ajaran Islam.(Buletin Nasional Al Balagh Edisi 2)</p>
<p>sumber : <a href="http://belajarislam.com/materi-belajar/dakwah/732-istiqomah-di-tengah-badai-ujian">belajarislamdotcom</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Arti dan Manfaat Bulan Dzulhijjah]]></title>
<link>http://mediagaris.wordpress.com/2009/11/27/arti-dan-manfaat-bulan-dzulhijjah/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 03:59:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>reZa pH</dc:creator>
<guid>http://mediagaris.wordpress.com/2009/11/27/arti-dan-manfaat-bulan-dzulhijjah/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu’alaikum wr wb gARis ITB mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1430 H. “Dari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Assalamu’alaikum wr wb</p>
<p>gARis ITB mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1430 H.</p>
<p>“Dari Abi Hurairah (ia berkata), sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan korban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan.” SHAHIH. Lafadz ini dari riwayat Tirmidzi No. 693.</p>
<p>Ya, edisi kali ini akan membahas tentang Idul Adha, hari Arafah, dan bulan Dzulhijjah. Silakan dibaca, semoga bermanfaat =D</p>
<p><strong>BULAN DZULHIJJAH</strong></p>
<p><em>Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah</em></p>
<p>Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr (Idul Adha). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).” [2]</p>
<p><em>Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah</em></p>
<p>Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” [1]</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.” [3]</p>
<p>Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah, kecuali jihad dengan mengorbankan jiwa raga.  Jadi, amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad. [4]</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.” [5] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.” [6]</p>
<p>Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu [7]. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.</p>
<p>Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya [8], …” [9]</p>
<p>Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” [10] Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. [11]</p>
<p>Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.</p>
<p>Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied. [12]</p>
<p><strong>HARI ARAFAH</strong></p>
<p>Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [13]</p>
<p>Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.” [14] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. [15] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.</p>
<p>Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [16] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. [17] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. [18]</p>
<p>Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.” [20]</p>
<p><strong>AMALAN LAIN</strong></p>
<p>Selain berpuasa, lakukanlah amalan ini pada hari Arafah:</p>
<p>1. Menjaga anggota badan dari hal-hal yang diharamkan pada hari tersebut.<br />
2. Memperbanyak syahadat tauhid, keikhlasan dan kejujuran pada hari tersebut karena semuanya tadi adalah asas agama ini yang Allah sempurnakan pada hari Arofah.<br />
3. Memperbanyak do’a ampunan dan pembebasan dari api neraka ketika itu karena hari Arofah adalah hari terkabulnya do’a.</p>
<p>Wallahu&#8217;alam wassalamu&#8217;alaykum wr wb<br />
<em>-Sektor Syi’ar gARis ITB 2009-</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dunia Fana Akhirat Kekal Selamanya.]]></title>
<link>http://belajarkomputersekarang.wordpress.com/2009/11/27/dunia-fana-akhirat-kekal-selamanya/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 03:26:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>panca</dc:creator>
<guid>http://belajarkomputersekarang.wordpress.com/2009/11/27/dunia-fana-akhirat-kekal-selamanya/</guid>
<description><![CDATA[Puji syukur hamba panjatkan ke hadirat Allah Rabbul ‘alamin, Rab seru sekalian alam. Karena dengan p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Puji syukur hamba panjatkan ke hadirat Allah Rabbul ‘alamin, Rab seru sekalian alam. Karena dengan perkenan, rahmat, hidayah, dan segala karunianya kita semua masih dapat melaksanakan aktifitas kita sehari-hari. Salam dan Salawat tak lupa pula selalu kita sampaikan pada junjungan kita, manusia yang paling mulia, manusia yang paling sempurna akhlaqnya, paling santun perilakunya, paling lembut sentuhannya, cerdas akalnya, baginda nabi kita Muhammad SAW. Teriring doa moga kita semua selalu dalam lindungan, rahmat, dan kasih sayang Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebuah penciptaan yang sangat sempurna. Siapa pun yang mempelajari tentang segala hal yang berhubungan dengan manusia pasti akan berujung pada suatu kesimpulan yang menunjukan kekaguman pada sang Maha Pencipta Allah SWT. Baik dari sisi jasmani, ruhani maupun dari sisi psikologi, manusia tetap merupakan suatu bahasan yang tetap menarik untuk dijadikan bahan kajian.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan segala potensinya tersebut manusia diharapkan dapat menggunakan dan memberdayakan segenap kemampuannya untuk mengemban amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi. Kesadaran akan adanya tugas mulia inilah yang seharusnya selalu terjaga dengan baik dalam setiap hati sanubari para hamba Allah yang hidup di atas muka bumi ini. Sehingga keinginan-keinginan yang sifatnya individu maupun hawa nafsu yang selalu menyeret kita menjadi lalai dan jatuh dalam kehinaan serta kebinasaan menjadi sesuatu yang terhindarkan dan tidak mendominasi dalam seluruh sendi kehidupan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari-hari belakangan ini kita saksikan baik di surat kabar, televisi dan sumber-sumber berita lainya bagaimana pangkat, jabatan, kedudukan, harta, popularitas dapat menggelincirkan setiap hamba Allah dan membuatnya lupa dengan tugas mulia yang telah Allah amanahkan kepadanya. Hakikat tentang misi kehidupan manusia inilah yang harus terus kita jaga dan juga kita ingatkan baik untuk diri kita secara pribadi, keluarga, tetangga, kerabat, kaum muslimin secara umum, agar wujud sebuah masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur bukan hanya sebuah mimpi atau pun hanya sebuah utopia namun ia adalah sesuatu yang nyata dan dapat dirasakan oleh kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam mengajarkan kepada kita bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap apa-apa yang dipimpinnya. Logis bila ada sebuah kepemimpinan pasti pula ada sebuah pertanggungjawaban, dan bertanggungjawab bukan sebuah perkara yang mudah, ia bisa berakhir dengan sempurna namun juga  tidak sedikit yang berakhir dengan kegagalan dan bisa menyeretnya masuk kedalam api neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia ini fana tempat kita bercocok tanam, menanam benih-benih sesuai ketentuan Allah dan sunnah rasul-Nya. Ia bukan tempat kita yang sebenarnya, namun ia memang nyaman dan melenakan. Membuai dan membuat kita lupa hakikat hidup yang sesungguhnya. Saudaraku segeralah sadar dan bangunlah dari tidur dan mimpi-mimpi indahmu, berjuta amanah dan harapan diembankan diataskan pundak-pundakmu. Tuk Mewujudkan Izzatul Islam wal Muslimin….</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Adha]]></title>
<link>http://adeskoesnandar.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 22:36:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>adeskoesnandar</dc:creator>
<guid>http://adeskoesnandar.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar laa ilaha illallahu Allahuakbar, Allahuakbar walillahilhamd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar laa ilaha illallahu Allahuakbar, Allahuakbar walillahilhamd&#8230;Allah Maha Agung, Allah Maha Agung, Allah Maha Agung, Tiada tuhan selain Allah yang Maha Agung, Allah Maha Agung, dan baginya segala puji&#8230;Pagi ini kita bertakbir mengagungkan nama Allah, Allah yang Maha Agung tiada tuhan selain Allah. Hari ini, di Mina jutaan jamaah Haji berduyun duyun melempar Jumrah Aqobah dengan tujuh lemparan kerikil. Ini merupakan prosesi yang penuh ketegangan, bagaikan pasukan perang bergerak menyerang musuh. Jumrah adalah perlambang, kita lempar setan, kita hancurkan musuh kita itu, lempar dengan batu harus kena dan tepat sasaran, tujuh kali lemparan, jangan ragu-ragu. Kita hancurkan watak setan yang ada pada diri kita dan kita agungkan nama Allah. Allahuakbar walillahilham. Di tanah air kita sembelih hewan kurban, kita bagkan daging kurban kepada mereka yang berhak, dan kita iklaskan semua amal ibadah kita hanya untuk Allah. Allahuakbar walillahilhamd. Selamat Idul Adha.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apabila Hari Raya (’Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at]]></title>
<link>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 18:28:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimhanas</dc:creator>
<guid>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</guid>
<description><![CDATA[kategori Fatwa-Fatwa Penulis: Redaksi Assalafy.org Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://alimhanas.wordpress.com/files/2009/11/ulama.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-58" title="Ulama" src="http://alimhanas.wordpress.com/files/2009/11/ulama.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>kategori Fatwa-Fatwa Penulis: Redaksi Assalafy.org</p>
<p>Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah</p>
<p>Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?  Jawab : Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.  Adapun imam, <!--more-->tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali.  (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)  * * *  Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`  Fatwa no. 2358  Pertanyaan : Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?  Jawab : Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.  (Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :  « شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل، »  Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).” [1]  Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :  « قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »  Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id). [2]  Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.  Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :  « أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »  “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”  Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.  وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.  Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`  Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz  Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi  Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan  Anggota : ‘Abdullah bin Qu’ud.  * * *  Adapun dalam fatwo 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :  Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.  Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka. … .  * * *  Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah  Pertanyaan : Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.  Jawab : Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).  Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.  Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah.  Wallahu Waliyyut Taufiq  (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)  * * *  Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :  “Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.  Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :  « أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »  “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”  Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapayang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. … .  (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)  * * *  Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :  Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa ….  Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.  Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.  Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).  Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah.  (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb &#8211; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)  * * *  [1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud &#8211; Al-Umm no. 981. (pent)  [2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud &#8211; Al-Umm no. 983.  (Diambil dari http://www.assalafy.org/mahad/?p=402)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasehat Buatku dan Saudaraku tentang Pergaulan]]></title>
<link>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/nasehat-buatku-dan-saudaraku-tentang-pergaulan/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 17:55:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimhanas</dc:creator>
<guid>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/nasehat-buatku-dan-saudaraku-tentang-pergaulan/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah Sebagai jalan hidup dan agama yang mengemban m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div></div>
<div>Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah</div>
<p>Sebagai jalan hidup dan agama yang mengemban misi rahmatan lil ‘alamin, Islam tentu mengatur kaidah bermuamalah atau bergaul bagi pemeluknya. Baik itu terhadap sesama muslim maupun pemeluk agama lain. Tidak mengentengkan yakni tidak tenggelam dalam budaya toleransi yang menjebak, namun juga tidak berlebihan semisal melakukan tindak anarkis.<!--more--></p>
<p>Tentu bukan hal aneh lagi jika kita menjumpai bermacam-macam warna dan perilaku dalam kehidupan masyarakat kita. Ini terjadi dengan sebab yang beragam. Terkadang dilatarbelakangi lingkungan, masyarakat, pergaulan, teman-teman, dan sebagainya. Semuanya ini menuntut agar kita bisa memosisikan syariat sebagai landasan pergaulan sehingga bisa merangkul semua perbedaan tersebut dengan cara menyingkirkan sesuatu yang tidak ada syariatnya dan mengokohkan yang ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Ironinya, perbedaan itu selama ini justru dijadikan sebuah kebanggaan sebagai bentuk keangkuhan dan kesombongan. Bahkan ada yang sudah dijadikan sebagai ajaran yang harus dianut oleh setiap orang. Akhirnya setiap seruan yang mengajak kepada adab dan akhlak Islami menjadi sebuah seruan yang tidak berarti. Atau jika ada orang yang mempraktikkan adab bergaul yang Islami justru dicibir, dianggap aneh dan asing, bahkan dilekati tuduhan yang bukan-bukan. Atau divonis sebagai orang yang melakukan pengrusakan dan kehancuran sebagaimana igauan Fir’aun menanggapi akhlak dan perilaku serta dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam:</p>
<p>وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِي أَقْتُلْ مُوْسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِيْنَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي اْلأَرْضِ الْفَسَادَ</p>
<p>“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): ‘Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi’.” (Ghafir: 26)</p>
<p>Igauan pengikut Fir’aun juga menimpa Nabi Harun ‘alaihissalam, saudara Musa ‘alaihissalam:</p>
<p>قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيْدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيْقَتِكُمُ الْمُثْلَى</p>
<p>“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama’.” (Thaha: 63)</p>
<p>Bahkan kaum munafiqin berusaha cuci tangan dari perbuatan mereka yang jelas-jelas rusak dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.</p>
<p>وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ</p>
<p>“Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah: 11) [Lihat kitab Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna karya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu hal. 11]</p>
<p>Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan agar setiap orang berakhlak di hadapan manusia dengan akhlak yang mulia.</p>
<p>وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ</p>
<p>“Dan berakhlaklah kamu kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi no. 1988 dari sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu &#8216;anhu dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu &#8216;anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 96)</p>
<p>Bahkan berbudi pekerti yang baik merupakan tonggak dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ</p>
<p>“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan budi pekerti.” (HR. Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad beliau, 2/318, dan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Al-Adabul Mufrad no. 273, dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Bahkan permasalahan budi pekerti inilah yang diwanti-wanti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dakwah rasul-Nya:</p>
<p>فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ</p>
<p>“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)</p>
<p>Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Musa dan Harun ‘alaihimassalam menghadapi sejahat-jahat manusia di permukaan bumi ini, yaitu Fir’aun, dengan penuh kelemahlembutan.</p>
<p>فَقُوْلاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى</p>
<p>“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)</p>
<p>Manusia Dalam Hidup</p>
<p>Bersikap dan menyikapi manusia serta bergaul bersama mereka membutuhkan ilmu yang dalam tentang syariat, karena manusia memiliki ragam agama dan aliran serta memiliki ragam perangai dan tabiat. Untuk memudahkan kita dalam pembahasan tentang hal bergaul dengan manusia, secara umum kita mengklasifikasikan mereka menjadi dua golongan:</p>
<p>Pertama: Kafir</p>
<p>Kedua: Muslim</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita cara bergaul dan bermuamalah bersama mereka, baik yang kafir atau yang muslim. Hal ini menunjukkan kesempurnaan Islam dan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا</p>
<p>“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 3)</p>
<p>Sehingga tidak ada lagi alasan untuk salah dalam bergaul bersama mereka, baik yang beriman ataupun yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hujjah telah tegak, malamnya bagaikan siangnya (telah demikian jelas).</p>
<p>لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌ</p>
<p>“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 42)</p>
<p>Bergaul dengan Orang-Orang Kafir</p>
<p>Dengan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya, Dia telah membimbing bagaimana semestinya bergaul bersama orang-orang kafir yang berbeda agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan segala perkara yang merupakan ciri hidup mereka, berikut bentuk kedengkian mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Semuanya ini memiliki hikmah agar kaum mukminin selalu berada di atas kemuliaan pada agamanya, sehingga agama orang-orang kafir rendah dan hina.</p>
<p>Belakangan ini kita tidak bisa memilah antara orang-orang muslim dan kafir dalam banyak perkara. Bahkan perkara yang merupakan prinsip agama, yaitu masalah al-wala` (loyalitas) dan al-bara` (berlepas diri), telah menjadi sesuatu yang pudar dalam kehidupan beragama kaum muslimin.</p>
<p>Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk berpegang dengan prinsip-prinsip aqidah Islamiyah dengan cara berloyalitas terhadap pemeluknya dan memusuhi musuh-musuhnya, mencintai ahli tauhid dan berloyalitas kepadanya, benci terhadap ahli syirik dan memusuhinya. Hal ini termasuk millah Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mencontoh mereka sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p>قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ</p>
<p>“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja’.” (Al-Mumtahanah: 4)</p>
<p>Dan prinsip ini merupakan agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Al-Ma`idah: 51) [Lihat Al-Wala` wal Bara` karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 4)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dalam banyak hal dan membongkar kedengkian serta kebencian orang-orang kafir terhadap Islam dan kaum muslimin. Seperti dalam firman-Nya:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُوْنَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللهِ رَبِّكُمْ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian karena kalian beriman kepada Allah Rabb kalian.” (Al-Mumtahanah: 1)</p>
<p>يَا َيُّهَا الَّذِيْنَ آَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُوْنِكُمْ لاَ يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُوْرُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ اْلآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil orang-orang yang di luar kalangan kalian menjadi teman kepercayaan kalian, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (Ali ‘Imran: 118)</p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang konsep hidup mereka terhadap Islam dan kaum muslimin yang penuh dengan kedengkian serta niat jahat. Maka, tidak pantas seorang muslim menjadikan mereka sebagai sahabat di dalam hidup dan teman bergaul sehari-hari.</p>
<p>Di antara sikap-sikap yang diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Tidak menyerupai mereka dalam semua perkara, terlebih dalam masalah aqidah dan ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan masalah ini dalam sebuah sabda beliau:</p>
<p>مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p>“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya dia termasuk dari mereka.” (HR. Al-Imam Ahmad dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu &#8216;anhuma)</p>
<p>2. Larangan menyerupai mereka dalam seluruh perkara, seperti menyerupai mereka dalam pakaian khas mereka, adat/kebiasaan, ibadah, dan akhlak. Seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka tanpa ada keperluan/hajat, cara berpakaian, makan, minum dan sebagainya.</p>
<p>3. Tidak bertempat tinggal di negeri mereka atau pergi ke negeri mereka.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak mau meninggalkan negeri orang-orang kafir padahal mereka sanggup untuk melakukan hal itu dalam firman-Nya:</p>
<p>إِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيْمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيْهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا. إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ حِيْلَةً وَلاَ يَهْتَدُوْنَ سَبِيْلاً</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (An-Nisa`: 97-98)</p>
<p>Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini ialah muslimin Makkah yang tidak mau hijrah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal mereka sanggup melakukannya. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badr. Akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.</p>
<p>4. Tidak membela mereka dengan mendukung segala permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Membela mereka dengan cara demikian atau sampai ke martabat ini termasuk yang akan mengeluarkannya dari Islam. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu menyebutkan di antara sepuluh pembatal keislaman adalah membela orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin.</p>
<p>5. Tidak meminta bantuan kepada mereka, memercayai mereka, dan menyerahkan posisi strategis yang menyangkut rahasia kaum muslimin.</p>
<p>Dan banyak lagi cara berhubungan serta bergaul yang bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kesimpulannya berujung pada meletakkan wala` (loyalitas) sebagaimana kita berikan kepada saudara kita sesama muslim.</p>
<p>Bergaul dengan Orang-Orang Islam</p>
<p>Berteman karena agama adalah sebuah anjuran, dan mencari teman yang baik adalah sebuah perintah. Sementara berteman dengan orang yang tidak baik justru akan membahayakan bagi diri dan agamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam masalah ini dalam firman-Nya:</p>
<p>وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا</p>
<p>“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)</p>
<p>فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلاَّ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى</p>
<p>“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Najm: 29-30)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya serta agar bisa mendudukkan tuntunan agama dalam bermualah bersama mereka, kita klasifikasikan kaum muslimin menjadi beberapa golongan. Ini (bukan kondisi yang memang harus diterima apa adanya, namun) semata-mata mendekatkan kepada pemahaman.</p>
<p>Pertama: Golongan orang-orang yang benar-benar beriman</p>
<p>Orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya dan mendapatkan nama yang harum. Sungguh betapa banyak ayat-ayat Al-Qur`an yang menjelaskan pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka dan mengangkat kedudukan mereka yang tinggi.</p>
<p>إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Al-Bayyinah: 7)</p>
<p>يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ</p>
<p>“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)</p>
<p>وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</p>
<p>“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-’Ashr: 1-3)</p>
<p>قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu`minun: 1-6)</p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya bergaul bersama mereka dengan pergaulan yang penuh kasih sayang dan cinta, menganggap mereka sebagai saudara dalam agama dan aqidah sekalipun berbeda nasab, berjauhan negeri, dan berbeda zaman. Hal ini dipertegas olah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:</p>
<p>وَالَّذِيْنَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ</p>
<p>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)</p>
<p>مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ</p>
<p>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara mereka.” (Al-Fath: 29)</p>
<p>Menganggap mereka adalah saudara dan berusaha mendamaikan bila terjadi perselisihan di antara mereka.</p>
<p>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ</p>
<p>“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا</p>
<p>“Perumpamaan persaudaraan orang-orang yang beriman bagaikan sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan yang lain.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim no. 2585 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ</p>
<p>“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan berkasih sayang, mereka bagaikan satu jasad yang bila salah satu anggota badannya sakit, seluruh jasadnya merasakan sakit panas dan berjaga.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim no. 2586 dari sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu &#8216;anhuma)</p>
<p>Juga sebagai bentuk penerapan pergaulan kita bersama mereka adalah berloyalitas kepada mereka secara sempurna:</p>
<p>إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma`idah: 55)</p>
<p>Kedua: Golongan Orang-orang yang Bermaksiat</p>
<p>Teman sangat memengaruhi baik tidaknya agama seseorang dan berpengaruh pula terhadap kebahagiaan dunia dan akhirat. Kisah kematian Abu Thalib paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentu bukanlah rahasia lagi. Diceritakan bahwa dia memilih tetap bersama agama nenek moyangnya, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping ranjang kematiannya mentalqin kalimat Laa ilaha illallah. Ini dikarenakan mengultuskan ajaran nenek moyang dan salah dalam memilih teman bergaul. (Lihat Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu)</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar kita berhati-hati dalam mencari teman.</p>
<p>الْمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ</p>
<p>“Seseorang sesuai dengan agama/adat kebiasaan temannya, maka lihatlah teman bergaulnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2379 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَناَفِخِ الْكِيْرِ</p>
<p>“Perumpamaan teman yang baik dan jelek adalah seperti berteman dengan penjual minyak wangi dan tukang pandai besi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2628 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Ada dua atau tiga kemungkinan bagimu jika engkau berteman dengan tukang minyak wangi. (Pertama) engkau membeli wewangian darinya sehingga engkau menjadi wangi, (kedua) dia memberimu, atau (ketiga) engkau mencium bau yang harum. Sebaliknya jika engkau berteman dengan tukang pandai besi hanya ada dua kemungkinan: dia akan membakar pakaianmu dengan percikan api tersebut, atau engkau mencium bau yang tak sedap.</p>
<p>Orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berada dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya jangan dijadikan sebagai teman hidup kecuali dalam batasan agama, seperti mendakwahi mereka dan mengajak untuk meninggalkan kebiasaan mereka yang jelek. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ</p>
<p>“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)</p>
<p>Ketiga: Golongan Orang-orang Awam</p>
<p>Orang awam membutuhkan bantuan orang-orang alim untuk mengajari mereka bimbingan agama. Bukan untuk dihakimi dan divonis bila melakukan kesalahan di atas kejahilan/keawaman mereka. Namun untuk diingatkan dan dibimbing ke jalan yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ</p>
<p>“Agama itu adalah nasihat.” Mereka berkata: “Bagi siapa, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi rasul-rasul-Nya, bagi pemimpin kaum muslimin dan orang umum mereka.” (HR. Muslim no. 55 dari sahabat Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Bila kita salah meletakkan sikap terhadap mereka, dikhawatirkan mereka menjauh dari kebenaran bahkan fobi terhadapnya. Bila hal itu terjadi karena diri kita, akan menyebabkan kita terjatuh di dalam dosa, sebagaimana telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu &#8216;anhu dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu &#8216;anhu: “Berilah mereka kabar gembira dan jangan engkau menyebabkan mereka lari (dari kebenaran).”</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri meletakkan hukum khusus bagi mereka, sebagaimana di dalam firman-Nya:</p>
<p>وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلاً</p>
<p>“Dan kami tidak akan mengadzab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isra`: 15)</p>
<p>Asy-Syaukani rahimahullahu di dalam tafsir beliau berkata: “Allah tidak akan mengadzab hamba-Nya kecuali setelah tegak hujjah dengan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup sia-sia dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyiksa mereka melainkan setelah tegak hujjah atas mereka. Dan pendapat yang rajih adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengadzab mereka di dunia ataupun di akhirat, kecuali setelah diutusnya para rasul kepada mereka. Demikianlah yang dikatakan oleh sebagian ahli ilmu.” (Fathul Qadir, hal. 956)</p>
<p>Namun orang-orang awam tersebut akan keluar dari hukum khusus di atas apabila keawamannya tersebut disebabkan tiga perkara:</p>
<p>Pertama: Disebabkan istikbar (menyombongkan diri) dengan tidak mau mempelajari kebenaran atau sombong di hadapan kebenaran, maka kejahilan yang disebabkan hal ini tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bila dia terjatuh dalam kemaksiatan karenanya.</p>
<p>Kedua: Disebabkan tafrith (mengentengkan dan meremehkan) pengajaran ilmu agama yang benar sehingga tidak mau mempelajarinya terlebih mengamalkannya.</p>
<p>Ketiga: Disebabkan i’radh (berpaling) dari mempelajari ilmu agama sehingga bila dia terjatuh dalam penyelisihan karena kejahilannya, maka tidak akan dimaafkan. (lihat faidah dalam syarah Kasyfus Subhat)</p>
<p>Bergaul bersama mereka dalam tiga sebab kejahilan ini harus ekstra hati-hati dan harus menjauhkan diri dari mereka, karena mereka tidak akan mendatangkan kebaikan sedikitpun bagi agama. Dalam bergaul bersama orang yang benar-benar awam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi uswatun hasanah dalam hal ini. Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu mengisahkan:</p>
<p>بَالَ أَعْرَابِيٌّ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامَ النَّاسُ إِلَيْهِ لِيَقَعُوا فِيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ: دَعُوْهُ وَأَهْرِقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مَعَسِّرِيْنَ</p>
<p>Dari Abu Hurairah berkata: Seorang Badui kencing di masjid, lalu orang-orang bangkit untuk memukulnya (dalam riwayat yang lain mereka menghardiknya). Rasulullah berkata: “Biarkan dia, tuangkan air di atas kencingnya atau satu ember dari air karena sesungguhnya kalian diutus sebagai pemberi kemudahan bukan memberikan kesulitan.” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab)</p>
<p>Keempat: Golongan Ahli Bid’ah dan orang yang terjatuh padanya</p>
<p>Kita memaklumi bahwa kemaksiatan yang paling besar setelah dosa kufur dan syirik adalah kebid’ahan di dalam agama. Sebuah kemaksiatan yang paling dicintai dan disukai oleh iblis. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu: “Sesungguhnya kebid’ahan amat sangat disenangi oleh iblis daripada perbuatan maksiat. Karena (orang yang melakukan) perbuatan bid’ah tidak akan (kecil kemungkinan) bertaubat darinya. Sedangkan kemaksiatan akan (memungkinkan pelakunya) bertaubat darinya.”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan, makna pernyataan bahwa kebid’ahan tidak akan diberi taubat, karena seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) menjadikan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai agama. Dan kebid’ahan itu telah dihiasi dengan kejelekan amalannya sehingga nampaknya baik. Tentunya dia tidak akan bertaubat selama dia menganggap perbuatannya adalah baik, karena awal dari pintu bertaubat adalah mengetahui tentang kejelekan tersebut.” (At-Tuhfatul ‘Iraqiyyah, hal. 7)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari perbuatan yang disukai iblis ini sebelum terjadinya, dalam banyak sabdanya. Di antaranya:</p>
<p>وَإِيَّاكُمْ وُمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, dan setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2678 dan selain beliau berdua dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu &#8216;anhu. Dan disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbatul hajah dalam riwayat Al-Imam Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Tentang pelakunya, beliau telah memperingatkan dengan tegas dan keras sebagaimana ucapan beliau tentang Khawarij. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dari keturunan orang ini muncul suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur`an namun tidak sampai tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Jika saya menjumpai mereka, akan saya perangi mereka sebagaimana Allah memerangi kaum ‘Ad.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dalam kesempatan yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di mana saja kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka mendapatkan pahala bagi pembunuhnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat ‘Ali radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membunuh mereka maka dialah orang yang paling utama di sisi Allah.” (HR. Abu Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu dan Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “Berbahagialah orang yang membunuh mereka dan terbunuh oleh mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “(Mereka adalah) sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit.” (HR. Ahmad no. 19172 dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Tidak termasuk seorang yang benar imannya jika dia menganggap banyak perkara syariat yang belum disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak termasuk berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika kita bergandengan tangan dengan ahli bid’ah dan duduk bersamanya dalam satu majelis.</p>
<p>Para ulama salaf telah mengajarkan kita sikap bergaul yang baik dengan ahli bid’ah.</p>
<p>Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mendengar ucapan ahli bid’ah maka dia telah keluar dari pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia dilimpahkan kepada kebid’ahan tersebut.”</p>
<p>Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Barangsiapa duduk bersama ahli bid’ah maka dia tidak akan diberikan hikmah.” Beliau juga berkata: “Jangan kalian duduk bersama ahli bid’ah karena aku takut laknat menimpamu.“ Beliau berkata pula: “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah maka telah batal amalannya dan telah keluar cahaya Islam dari dalam hatinya.” Beliau berkata juga: “Barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah di sebuah jalan (dan kamu lewat di majelis tersebut) maka hendaklah kamu mengambil jalan yang lain.”</p>
<p>Beliau juga berkata: “Barangsiapa memuliakan ahli bid’ah berarti dia telah membantunya untuk menghancurkan Islam. Barangsiapa memberikan senyumnya kepada ahli bid’ah maka sungguh dia telah menyepelekan apa yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang menikahkan anaknya bersama ahli bid’ah maka sungguh dia telah memutuskan hubungan kekeluargaan. Dan barangsiapa yang mengikuti jenazah ahli bid’ah maka dia terus berada dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai dia kembali.”</p>
<p>Bahkan beliau berkata: “Aku bisa saja makan bersama seorang Yahudi dan Nasrani, namun aku tidak akan makan bersama ahli bid’ah. Aku senang bila ada benteng dari besi antara diriku dengan ahli bida’h.” (Lihat Syarhus Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu hal. 137-139)</p>
<p>Adapun mereka yang terjatuh dalam kebid’ahan dalam keadaan tidak mengetahui itu adalah sebuah kebid’ahan dalam agama, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada mereka dan memaafkan kesalahan mereka. Sikap kita kepada mereka adalah sebagaimana sikap kita terhadap orang yang awam, yang butuh diselamatkan dan diajak kepada jalan yang benar.</p>
<p>Terkadang seseorang tergiur dengan sebuah penampilan sunnah seperti pakaian sunnah, jenggot sunnah, ‘imamah sunnah, dan sebagainya. Namun apalah artinya jika engkau menampilkan sunnah sementara engkau tidak berjalan di atas jalan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Engkau tidak beraqidah di atas aqidah beliau, engkau tidak beribadah sesuai dengan tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagainya. Butuh alat pembanding dan penilai, itulah kebenaran. Oleh karena itu “kenalilah kebenaran, engkau akan mengenal pemeluk kebenaran.”</p>
<p>Wallahu a‘lam bish-­shawab.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nilai-Nilai Moral di Seputar Ibadah Haji]]></title>
<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 15:50:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
<guid>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/</guid>
<description><![CDATA[Nilai-Nilai Moral Ibadah haji merupakan ibadah yang dilakukan oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/files/2009/11/haji051208-07.jpg"><img src="http://thenafi.wordpress.com/files/2009/11/haji051208-07.jpg?w=300" alt="" title="HAJI" width="300" height="204" class="alignleft size-medium wp-image-512" /></a><strong>Nilai-Nilai Moral</strong></p>
<p>Ibadah haji merupakan ibadah yang dilakukan oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad. Selama ini banyak yang beranggapan bahwa ibadah haji (terutama thawaf) baru dimulai pada masa Nabi Ibrahim. Ternyata menurut riwayat, Nabi Adam sudah thawaf di Ka&#8217;bah, namun ketika itu belum ada bentuk bangunan Ka&#8217;bahnya. Memang yang terekam di dalam Alquran bahwa Nabi Ibrahim beserta puteranya yang membangun Ka&#8217;bah. Tetapi sejak manusia belum ada, tempat itu (Ka&#8217;bah) sudah dijadikan oleh Allah di bumi ini sebagai tempat suci:<br />
<!--more--><br />
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Q.S. Ali Imraan: 96)</p>
<p>Jadi, Nabi Adam, bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa para malaikat biasa berthawaf di tempat suci itu. Nabi Adam juga sudah berthawaf di Ka&#8217;bah yang kita kenal sekarang ini. Barulah kemudian Nabi Ibrahim yang terekam di dalam Alquran yang membangun Ka&#8217;bah itu sebagai bangunan yang kokoh yang kita kenal sampai sekarang. Tentu pada saat itu yang dibangun oleh Nabi Ibrahim tidak seperti yang kita lihat kini.</p>
<p>Di dalam fiqh, ibadah haji disebut sebagai syar&#8217;uman qablana, yaitu ibadah-ibadah yang sudah dilakukan oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad. Contoh lainnya adalah Qurban yang sudah disyariatkan sejak masa Nabi Adam. </p>
<p>Selain thawaf, di dalam ibadah haji juga terdapat sa&#8217;i. Sa&#8217;i berasal dari kata as-sa&#8217;iyu yang jika diterjemahkan berarti kerja keras, yang selama ini kita pahami sebagai lari-lari kecil. Kata as-sa&#8217;iyu artinya adalah etos kerja. Nabi Ibrahim ketika itu berdoa, seperti yang disebutkan di dalam Alquran:</p>
<p>Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Q.S. Ibraahim: 37)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa sebelum Nabi Ibrahim, Baitullah itu sudah ada. Dari sinilah kata as-sa&#8217;iyu itu bermula, yaitu ketika perbekalan yang dimiliki oleh Hajar dengan anaknya (Ismail) sudah habis. Sebagai manusia biasa, Ismail yang masih bayi itu menangis, air susunya Hajar pun sudah tidak bisa keluar lagi karena sudah tidak ada asupan makanan ke dalam tubuhnya. Dalam situasi yang seperti itu, muncullah etos kerjanya (as-sa&#8217;iyu). Dia (Hajar) memandang ke sekelilingnya, di bukit Shafa dia memandang ke Marwa yang dilihatnya ada genangan air di sana. Dalam bahasa sehari-hari kita mengenalnya sebagai fatamorgana, yaitu gejala optis (penglihatan) yang tampak pada permukaan yang panas yang kelihatan seperti genangan air. Dia pun kemudian lari ke Marwa yang ternyata di sana terdapat air.</p>
<p>Dia pun kemudian berdiri di Marwa. Ketika memandang ke Shafa, dilihatnya ada genangan air di sana. Lagi-lagi, hal tersebut hanyalah fatamorgana. Lalu ia lari lagi menuju ke Shafa. Seterusnya seperti itu sampai tujuh kali. Andai saja Hajar hanya menangis menerima nasibnya begitu saja dan tidak mau bekerja keras, hampir dapat dipastikan tidak akan mendapatkan semburan air zamzam. Tapi karena sa&#8217;i-nya (kerja kerasnya), ia dan anaknya pun kemudian mendapat rahmat dari Allah.</p>
<p>Zamzam artinya adalah berkumpullah. Jadi, waktu air itu menyembur sedikit, lalu Hajar berkata: zamzam, zamzam (berkumpullah, berkumpullah). Sehingga air yang menyembur itu pun menjadi banyak.</p>
<p>Sebelum adanya mata air itu (zamzam), hanya Hajar dan anaknya (Ismail) yang masih kecil itu saja yang berada di lembah tersebut. Tetapi setelah adanya mata air zamzam, maka kafilah-kafilah yang melintasi lembah tersebut mesti singgah untuk mendapatkan air. Hajar dan Ismail pun kemudian menolong para kafilah yang singgah di lembah itu. Dari pertolongan yang diberikan oleh Hajar dan Ismail terhadap kafilah yang singgah itu, maka mereka pun mendapatkan semacam upah, yang kemudian dari hal tersebut mereka menjadi hidup makmur. Artinya, dengan adanya air zamzam, menjadi diberkahilah sekeliling Ka&#8217;bah.</p>
<p>Sebetulnya hal tersebut hampir tak masuk akal, karena orang-orang di Arab kalau menggali sumur, maka yang keluar itu adalah lumpur bercampur minyak, tidak ada air yang keluar. Tetapi pada kasus sumur zamzam, yang keluar adalah air mineral yang tidak perlu dimasak, bisa langsung diminum, dan air tersebut sangat tinggi kandungan mineralnya. Dalam suatu hadits dikatakan bahwa hal tersebut akan berlaku hingga akhir zaman. Hujan yang turun di sana hanya dua sampai kali kali saja dalam setahun. Tetapi air zamzam terus mengalir dan tak pernah habis hingga kini yang itu bisa melayani sekian banyak jamaah haji dari seluruh dunia.</p>
<p>Di dalam ibadah haji kita juga akan melihat betapa al-musaawah (persamaan) ketika semua orang berpakaian kurang lebih sama, tidak dibedakan antara orang yang berpangkat dengan orang awam. Hal ini karena Islam sangat menjunjung tinggi persamaan. Kita boleh berbeda-beda, tapi ketika menghadap Allah, maka tak ada perbedaan antara orang Arab dengan yang bukan Arab, kecuali ketakwaannya. Siapa yang dulu masuk masjid, maka boleh menempati shaf pertama.</p>
<p>Selain itu, juga ada nilai-nilai kesederhanaan. Orang-orang hanya memakai pakaian ihram. Walaupun di rumahnya mungkin ada pakaian yang terbuat dari sutera, tapi ketika melakukan ibadah haji tetap saja yang dipakai adalah pakaian yang sederhana. Dan ini dilambangkan, bahwa ketika manusia wafat, yang dikenakna juga pakaian yang sederhana, yaitu berupa kain kafan.</p>
<p>Di dalam ibadah haji juga terdapat nilai persahabatan (silaturahim). Kadang-kadang jika di rumah mungkin privasi kita begitu tinggi. Namun ketika melakukan ibadah haji, silaturahimlah yang lebih dikedepankan.</p>
<p>Terdapat pula nilai-nilai kesadaran moral di dalam ibadah haji. Mungkin banyak sekali kita dapatkan dari cerita para jamaah haji hal-hal yang aneh dan semacamnya. Ketika beribadah haji, ada hal-hal yang menjadi pelajaran untuk kita, bahwa memang ada pembalasan dari Allah jika kita tak ada kesadaran moral, bahkan hal terkecil sekalipun yang kita lakukan. Siapa yang berbuat seberat zarah, maka akan diperlihatkan hasilnya kepada orang tersebut di dunia ini. Ataupun kalau tidak, maka akan diperlihatkan hasilnya di akhirat. Karena itulah, ketakaburan, kesombongan, individualitas, dan sikap tercela lainnya mestinya dihilangkan pada saat melakukan ibadah haji.</p>
<p>Ibadah haji adalah ibadah yang memenuhi tiga kriteria, yaitu ibadah fisik, ibadah maaliyah, dan ibadah ruuhiyah. Sebagai perbandingan, bahwa salat adalah ibadah fisik, zakat adalah ibadah maaliyah, dan zikir adalah ibadah ruuhiyah. Dalam hal ini, haji mengumpulkan tiga kriteria ibadah tersebut. Sebagai ibadah fisik, karena memang ada beberapa rukun haji yang mesti dilakukan secara fisik dan tidak bisa diwakilkan, seperti wukuf dan thawaf. Sebagai ibadah maaliyah karena pada haji kita harus mengeluarkan dana (uang) untuk berangkat ke sana, sehingga haji itu mengumpulkan semua sisi-sisi aspek ibadah yang ada dalam Islam.</p>
<p><strong>Ibrah Li Ulil Albab (pelajaran bagi mereka yang berakal):<br />
</strong><br />
<strong>Pertama, akidah keluarga</strong></p>
<p>Nabi Ibrahim yang kita kenal sebagai pionir dari ibadah haji selalu yang diutamakannya adalah akidah keluarga. Hal ini tak lain karena kalau akidah kuat, maka ibadah-ibadah yang lain akan mengikuti.</p>
<p>Akidah penting dibina walaupun tidak terlihat wujudnya. Di dalam Alquran terekam banyak sekali ayat mengenai hal ini. Misalkan, menjelang akhir hayatnya para nabi, selalu yang dipesankan (diwasiatkan) adalah tentang akidah. Di dalam Alquran disebutkan, bahwa kalau maut sudah hampir datang kepada mereka, maka mereka pun akan mengumpulkan anak-cucunya. Mereka pun menanyakan kepada anak cucunya mengenai apa yang akan mereka sembah setelah dirinya meninggal dunia. Dan biasanya anak-cucunya selalu mengatakan, bahwa mereka adalah muslim yang selalu akan menyembah Allah dan akan selalu bertauhid.</p>
<p>Akidah berada di dalam diri kita. Jika kita melihat seseorang yang rajin beribadah serta selalu beramal kebaikan yang semuanya itu selalu tampil dalam kehidupannya sehari-hari, maka kita akan memastikan bahwa orang tersebut insya Allah akidahnya kuat. Sama halnya ketika kita melihat pohon yang rindang, daunnya lebat, buahnya ranum, maka kita akan memastikan insya Allah akar pohon tersebut pasti kuat.</p>
<p><strong>Kedua, tugas dakwah</strong></p>
<p>Nabi Ibrahim dalam tugas dakwahnya selalu mengundang orang untuk berhaji. Di dalam Alquran disebutkan:</p>
<p>Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (Q.S. Al-Hajj: 27)</p>
<p>Karena itulah, mungkin tak tepat jika ada yang mengatakan bahwa dirinya belum pergi haji karena ia belum mendapatkan panggilan, walaupun hartanya sudah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Karena seperti yang direkam oleh Alquran, bahwa Nabi Ibrahim sebenarnya sudah mengundang kita.</p>
<p><strong>Ketiga, layanan sosial</strong></p>
<p>Kalau kita melihat sejarahnya, bahwa Hajar dan Ismail memberikan layanan sosial berupa memberikan minum kepada orang-orang yang lewat di sekitar Baitullah, karena itu adalah bentuk kepekaan sosial.</p>
<p>Salah satu yang membedakan manusia dengan hewan adalah kepekaan sosial. Selama ini mungkin yang kita ketahui bahwa perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akalnya. Tapi kalau dalam psikologi, bukanlah akal yang membedakan manusia dengan hewan. Yang membedakan manusia dengan hewan yaitu memiliki kepekaan sosial dan adanya kesinambungan pekerjaan.</p>
<p>Pertama, manusia memiliki kepekaan sosial. Jika manusia tergerak hatinya untuk menolong sesamanya yang sedang ditimpa musibah, itu tak lain karena manusia mempunyai kepekaan sosial. Kedua, adanya kesinambungan pekerjaan. Kita ini hidup dari kecil, hingga pada suatu saat ada titik berhentinya manusia di dunia ini. Namun kita meyakini, sesudah titik itu, kita akan pindah ke suatu tempat yang abadi yang kita kenal sebagai akhirat. Karena kita mengetahui hal tersebut, maka setiap manusai selalu akan berusaha meningkatkan kehidupannya, baik itu secara ekonomi, maupun kehidupan moralnya. Misalkan, kehidupan manusia selalu terencana. Sedangkan kalau hewan, kehidupannya tidaklah terencana.</p>
<p><strong>Keempat, keteguhan ayah dan kepatuhan anak</strong></p>
<p>Moral ini juga sangat penting. Bayangkanlah, si anak (Ismail) yang masih kecil itu ditinggal oleh ayahnya (Nabi Ibrahim). Mungkin kira-kira belasan tahun lamanya Sang Ayah meninggalkan anaknya tersebut. Ketika Nabi Ibrahim bertemu lagi dengan Ismail, ternyata beliau kemudian diperintahkan oleh Allah (melalui mimpi yang benar) untuk mengurbankan anaknya (Ismail).</p>
<p>Karena ini menyangkut suatu kehidupan, maka tentunya tidak begitu saja Nabi Ibrahim memberitahu kepada Ismail, melainkan beliau tetap memberikan pandangan dan meminta pendapat kepada Ismail apakah ia akan menolak atau tidak. Karena memang tingkat kepatuhannya sangat tinggi, dan Hajar pun juga merupakan istri yang sangat setia, serta tahu persis siapa Ibrahim yang tak lain adalah suami yang sangat taat kepada Allah.</p>
<p>Setelah diberitahu ayahnya seperti itu, Ismail pun mempersilakan ayahnya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah tersebut. Ismail mengatakan bahwa insya Allah ia (Ismail) akan termasuk sebagai orang-orang yang sabar. </p>
<p><strong>Kelima, pola asuh</strong></p>
<p>Ada tiga jenis pola asuh, yaitu otoriter, sangat permisif (semua serba boleh), dan demokratis. Di dalam kehidupan sehari-hari, ketiga pola asuh ini harus ada. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim melakukan pola asuh yang otoriter berkaitan dengan akidah. Ia tidak memberikan pilihan kepada anaknya untuk memilih agamanya sendiri. Pola asuh yang demokratis diberlakukan Nabi Ibrahim jika itu berhubungan dengan masa depan anaknya.</p>
<p>Seperti yang terekam dalam Alquran, bahwa Nabi Ibrahim memberikan peluang kepada anaknya untuk memilih hobi yang disukainya sepanjang itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ismail mempunyai hobi berburu kambing gurun. Dalam hal ini Nabi Ibrahim mempersilakan saja anaknya untuk menggeluti hobinya sepanjang itu tidak mengganggu aktivitas ibadahnya.</p>
<p>Ada orang tua yang mendidik anaknya dengan sangat sayang, bahkan terlalu sayang. Karena terlalu sayangnya itu, apapun yang diminta anaknya pasti dipenuhinya. Ada juga orang tua yang terlalu sering memarahi anaknya. Hampir tidak ada hari tanpa memarahi anaknya. Ada juga orang tua yang mendidik anaknya serba boleh. Ada juga yang mendidik anaknya serba tidak boleh. Akibatnya, kalau ada anak yang dididik terlalu saying dan serba boleh, maka anak itu akan menjadi binal, sehingga dengan demikian akan susah dikendalikan. Sebaliknya ada anak yang dididik serba tidak boleh dan sering dimarahi. Jika dididik seperti ini, maka anaknya akan menjadi frustrasi. Ada pula anak yang diasuh denghan cara serba boleh, tapi sering juga dimarahi. Jika seperti ini, maka anak itu akan menjadi nakal. Sebaliknya, ada orang tua yang mendidik anaknya serba tidak boleh, karena terlalu sayangnya terhadap anaknya. Akhirnya anaknya akan menjadi sangat tergantung.</p>
<p>Pola asuh yang ideal adalah seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, yaitu pola asuh yang kompleks. Ada saatnya orang tua mengatakan boleh terhadap anaknya. Ada pula saatnya orang tua mengatakan tidak boleh terhadap anaknya. Serta ada juga saatnya orang tua menunjukkan perasaan marah terhadap anaknya ketika anak itu melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama atau tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.</p>
<p>Inilah sebagian kecil dari nilai-nilai moral yang ada di seputar haji dan qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Ibadah-ibadah ini kemudian diteruskan oleh Rasulullah. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Darwis Hude pada tanggal 1 November 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan</em></p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong> <a href="http://matanews.com/2009/07/31/calhaj-banggai-berkurang/">http://matanews.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan terkait:</strong><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/2008/12/12/ibadah-haji/">- Ibadah Haji</a><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/2008/12/10/menapaktilas-perjalanan-nabi-ibrahim/">- Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim</a><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/2008/12/09/makna-qurban/">- Makna Qurban</a><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/?s=provokator+haji">- Provokator Haji</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Untukmu Wahai Para Pemimpin]]></title>
<link>http://baktimulyana.wordpress.com/2009/11/26/untukmu-wahai-para-pemimpin/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 11:49:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bakti Mulyana</dc:creator>
<guid>http://baktimulyana.wordpress.com/2009/11/26/untukmu-wahai-para-pemimpin/</guid>
<description><![CDATA[KHALIFAH UMAR BIN KHATAB DAN NENEK TUA Pada suatu hari Khalifah Umar Al-Khatab baru saja pulang dari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KHALIFAH UMAR BIN KHATAB DAN NENEK TUA Pada suatu hari Khalifah Umar Al-Khatab baru saja pulang dari]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gratis Software Islamiy]]></title>
<link>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/software-islamiy/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 11:09:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimhanas</dc:creator>
<guid>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/software-islamiy/</guid>
<description><![CDATA[Buat teman-teman yang ingin mendownload software islami serta kamus bahasa arab silahkan download pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Buat teman-teman yang ingin mendownload software islami serta kamus bahasa arab silahkan download pada link di bawah ini :<!--more--></p>
<p><a title="Kamus Bahasa Arab v2.o" href="http://www.ziddu.com/download/3496582/KamusBahasaArabv2.0.1.rar.html">Kamus Bahasa Arab v2.0 </a></p>
<p><a title="Shollu 3.08.2" href="http://download.cnet.com/Shollu/3000-2135_4-10818077.html">Shollu 3.08.2 </a></p>
<p><a title="Kamus Al-Mufid" href="http://www.ziddu.com/download/1096241/KamusArabIndoMufid1.0.exe.html">Kamus Al- Mufid </a></p>
<p>Semoga Bermanfaat&#8230;&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Panduan Sholat Idul Fitri dan Idul Adha]]></title>
<link>http://genggamwaktu.wordpress.com/2009/11/26/panduan-sholat-idul-fitri-dan-idul-adha/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 09:50:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Almundzir</dc:creator>
<guid>http://genggamwaktu.wordpress.com/2009/11/26/panduan-sholat-idul-fitri-dan-idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Artikel ini saya ambil dari :   http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fith]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Artikel ini saya ambil dari :   <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html" target="_blank">http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html</a>. Kalo Anda males bacanya di blog silahkan download aja =&#62;  <em><a href="../files/2009/11/panduan_shalat_idul_fithri_dan_idul_adha.pdf">download ebooknya di sini</a></em></p>
<p><em> </em></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 312px"><em><em><img class=" " title="sholat ied" src="http://finkania.files.wordpress.com/2009/09/sholat-berjamaah1.jpg?w=302&#038;h=253" alt="" width="302" height="253" /></em></em><p class="wp-caption-text">panduan sholat  ied</p></div>
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman. </em></p>
<p>Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.<!--more--></p>
<p><strong>Hukum Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn1">[1]</a>. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">أَمَرَنَا &#8211; تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- &#8211; أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terus menerus melakukannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align:center;">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</p>
<p>“<em>Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).</em>” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. &#8230; Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn5">[5]</a> sampai waktu <em>zawal</em> (matahari bergeser ke barat).<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasa</em> mengakhirkan shalat &#8216;Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat &#8216;Idul Adha. Ibnu ‘Umar  yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى</p>
<p>“<em>Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong>Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,</p>
<p style="text-align:center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong><em>Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:</em></strong></p>
<p>[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p>[2] Di antara lafazh takbir adalah,</p>
<p style="text-align:center;">اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ</p>
<p>“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “<em>Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar</em>”, itu juga diperbolehkan.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p><strong>Kelima</strong>: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.</p>
<p>Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?” Ia menjawab,</p>
<p dir="rtl">نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ</p>
<p>“<em>Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>Keenam</strong>: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,</p>
<p dir="rtl">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p><strong>Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied</strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p><strong>Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.</p>
<p>“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “<em>Ash Sholaatul Jaam’iah</em>.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p><strong>Tata Cara Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn27">[27]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn28">[28]</a> Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,</p>
<p style="text-align:center;">سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي</p>
<p>“<em>Subhanallah wal hamdulillah wa  laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii </em>(Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa membaca “<em>Qaaf, wal qur’anil majiid</em>” (surat Qaaf) dan “<em>Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar</em>” (surat Al Qomar).”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn29">[29]</a></p>
<p>Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “<em>Sabbihisma robbikal a’la” </em>(surat Al A’laa)<em> </em>dan<em> “Hal ataka haditsul ghosiyah” </em>(surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn30">[30]</a></p>
<p><strong>Kelima</strong>: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).</p>
<p><strong>Keenam</strong>: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.</p>
<p><strong>Khutbah Setelah Shalat ‘Ied </strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ &#8211; رضى الله عنهما &#8211; يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn32">[32]</a> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn33">[33]</a> Beliau pun memulai khutbah dengan “<em>hamdalah</em>” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn34">[34]</a></p>
<p>Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:center;">إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ</p>
<p><em>“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”</em><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn35">[35]</a><em> </em></p>
<p><strong>Ucapan Selamat Hari Raya</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (<em>tah-niah</em>) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “<em>Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika</em>” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “<em>Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya</em>”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin  mengucapkan selamat, maka ia memiliki <em>qudwah</em> (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki <em>qudwah</em> (contoh).”</p>
<p><strong>Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at</strong></p>
<p>Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari hal ini adalah:</p>
<p>Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».</p>
<p>“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn36">[36]</a></p>
<p>Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [<em>ashobas sunnah</em>].”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn37">[37]</a> Jika sahabat mengatakan <em>ashobas sunnah</em>(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn38">[38]</a></p>
<p>Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn39">[39]</a></p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “<em>sabbihisma robbikal a’la” </em>dan<em> “hal ataka haditsul ghosiyah”</em>.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn40">[40]</a> Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.</p>
<p>Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn41">[41]</a></p>
<p>Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Diselesaikan di Pangukan, Sleman, di hari yang baik untuk beramal sholih, 7 Dzulhijah 1430 H.</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Permata yang Hilang]]></title>
<link>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/permata-yang-hilang/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 09:15:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimhanas</dc:creator>
<guid>http://alimhanas.wordpress.com/2009/11/26/permata-yang-hilang/</guid>
<description><![CDATA[Akhlaq di zaman ini ibarat permata yang hilang pada diri kebanyakan insan. Kita akan menyaksikan kem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Akhlaq di zaman ini ibarat permata yang hilang pada diri kebanyakan insan. Kita akan menyaksikan kemunduran akhlaq merebak dimana-mana; mulai dari anak kecil sampai orang tua, kecuali orang yang dirahmati Allah -Azza wa Jalla-. Tak heran jika koran-koran dan media massa lainnya dipenuhi dengan berita-berita yang memuakkan, dan rendah; menunjukkan terjadinya erosi dan krisis akhlaq alias moral pada diri generasi muslim, terlebih lagi yang kafir.<!--more--></p>
<p>Krisis ini terjadi dalam semua lini kehidupan; mulai dari cara makan, buang air, bermu’amalah dengan anak kecil atau orang tua, cara berdagang, beribadah, berpolitik, berkata dan berucap. Semuanya jauh dari tuntunan Allah &#38; Rasul-Nya. Tak heran jika kita akan melihat generasi kita banyak yang cinta musik, padahal musik itu HARAM.</p>
<p>Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam mengharamkannya,</p>
<p>لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ</p>
<p>&#8220;Akan ada beberapa kaum diantara ummatku yang akan menghalalkan zina, kain sutera (bagi laki-laki), khomer, dan musik&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5590), dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (4039)]</p>
<p>Sekalipun Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyatakan haramnya musik, maka tetap saja musik menjamur. Setiap sudut kota dan desa dikotori oleh seruling setan itu (yakni, musik). Bahkan para pemuda berlomba membentuk club-club dan grup-grup musik; maka muncullah konfilasi band-band, semisal Padi, Raja, Ungu, Keris Patih, Dewa 19, dan lainnya. Parahnya lagi, sebagian grup band ini membuat lagu-lagu yang bernafas &#8220;islam&#8221; yang dihiasi oleh musik. Akibatnya, kaum awam tertipu dan menyangka bahwa disana ada musik islami. Padahal semua musik adalah haram, sebab semuanya akan memalingkan manusia dari mempelajari Al-Kitab dan Sunnah, dan menghabiskan waktu. Allah -Ta’ala- berfirman menceritakan kondisi sebagian manusia yang menciptakan nyanyian untuk menjauhkan manusia dari Al-Qur’an,</p>
<p>&#8220;Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan&#8221;.(QS. Luqman: 6).</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan &#8220;perkataan yang tidak berguna&#8221;? Mari kita dengarkan tafsirannya dari dua Imam ahli tafsir, dan ulamanya para sahabat.</p>
<p>Abish Shohba’ Al-Bakriy berkata, &#8220;Abdullah bin Mas’ud pernah ditanya tentang ayat ini (lalu ia bawakan ayat di atas), maka Abdullah bin Mas’ud berkata,</p>
<p>هُوَ -وَ اللهِ- الْغِنَاءُ</p>
<p>&#8220;Demi Allah, itu adalah nyanyian&#8221;. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (21130), Ath-Thobariy dalam Jami' Al-Bayan (10/201), Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (5096), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash-Shohihain (3542). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (jilid 6/hal. 1017)]</p>
<p>Abdullah ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu- berkata,</p>
<p>هُوَ الْغِنَاءُ وَأَشْبَاهُهُ</p>
<p>&#8220;Itu adalah nyanyian dan semisalnya&#8221; . [HR. Ibnu Abi Syaibah (21137), Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (786 &#38; 1265), Ibnu Abid Dun-ya dalam Dzammul Malahi (no.12), Ath-Thobariy dalam Jami' Al-Bayan (10/201), dan Al-Baihaqiy dalam Sunan-nya (20793). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr &#38; Salim Al-Hilaliy dalam Al-Isti'ab fi Bayan Al-Asbab (3/63)]</p>
<p>Ayat di atas merupakan bukti nyata bahwa seorang yang mencintai nyanyian, apalagi diiringi musik, maka ia akan terpalingkan dari jalan Allah, sadar atau tidak !! Lihatlah para remaja –bahkan juga orang tua- yang kecanduan lagu dan musik, ia akan malas membaca Al-Qur’an, sholat, dan melakukan kebaikan. Malas mendengarkan nasihat, dan membenci orang-orang sholeh yang menasihatinya tentang haramnya musik. Jika ia dinasihati, maka hatinya kesal dan bergumam, &#8220;Wah, anda sok alim&#8221;. Perlahan-lahan setan membuatnya berpaling dari kebenaran dan kebaikan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Karenanya Allah berfirman setelah ayat di atas,</p>
<p>&#8220;Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih&#8221;.(QS. Luqman : 7).</p>
<p>Telinganya telah ditulikan oleh suara-suara setan alias musik, hatinya keras tak mau menerima kebenaran, karena ia telah dikuasai oleh setan.</p>
<p>Sebaliknya, jika ia mendengarkan lolongan setan yang bernama musik, maka hatinya akan girang, dan telinganya terbuka. Sungguh sial orang-orang seperti ini. Orang-orang seperti ini akan dipalingkan hatinya oleh Allah -Ta’ala- sampai ia dikuasai oleh setan. Akhirnya, kondisinya sebagaimana yang Allah firmankan,</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yakni, Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya&#8221;. (QS. Az-Zukhruf : 36).</p>
<p>Demikianlah nasib seorang yang berpaling dari pengajaran dan petunjuk Allah; ia akan diiringi oleh setan yang akan menyesatkannya dari jalan kebenaran. Tak heran jika banyak diantara pemuda kita yang telah terlepas dari aturan agamanya akibat setan yang menyesatkannya. Lihatlah bagaimana setan menyesatkan para pemuda muslim yang gandrung dan mabuk kepayang dengan ALIRAN musik UNDERGROUND, semisal: Black Metal, Punk, Cresh Metal, Heavy Metal, dan lainnya. Mereka telah ditelanjangi oleh setan dari aturan Islam, agama Allah Yang Maha Perkasa; tak ada lagi istilah halal dan haram, semuanya halal !!</p>
<p>Tak heran jika ada diantara mereka yang minum darah, menusuk hidungnya atau telinganya dengan perhiasan. Padahal semua itu haram !! Diantara mereka, ada yang mengucapkan kata-kata jorok, bahkan kata-kata KAFIR berupa penghinaan kepada Allah, agama-Nya, Rasul-Nya, hari pembalasan, meremehkan neraka &#38; siksaannya. Sebaliknya, malah mengagungkan Iblis, setan, dan simbol-simbol kekafiran, kemaksiatan, dan kedurhakaan. Sungguh, sungguh aneh, ber-KTP muslim, namun perbuatannya maksiat &#38; kafir !! Na’udzu billah minal khudzlan.</p>
<p>Inilah realita pemuda muslim yang senang musik, lalu musik mengantarkan dirinya kepada jurang kekafiran, akibat menganut dan taqlid buta kepada sebagian aliran musik yang ekstrim. Sebagian ulama salaf berkata,</p>
<p>الْمَعَاصِيْ بَرِيْدُ الْكُفْرِ كَمَا أَنَّ الْقُبْلَةَ بَرِيْدُ الْجِمَاعِ وَالْغِنَاءَ بَرِيْدُ الزِّنَا وَالنَّظَرَ بَرِيْدُ الْعِشْقِ وَالْمَرَضَ بَرِيْدُ الْمَوْتِ</p>
<p>&#8220;Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran sebagaimana halnya ciuman pengantar menuju jimak, nyanyian adalah pengantar menuju zina, pandangan adalah pengantar menuju kerinduan, dan sakit pengantar menuju kematian&#8221;. [Lihat Al-Jawab Al-Kafi (hal. 33) karya Ibnul Qoyyim]</p>
<p>Maka lihatlah pengaruh maksiat, seperti musik; musik mengantarkan kepada kekafiran. Awalnya pemuda kita senang dengan musik pop, dari pop pindah ke rock, dari rock pindah ke aliran musik UNDERGROUND. Disinilah ia memungut kebiasaan yang amat jelek, mulai cara berpakaian, cara ngomong, cara berjalan, merokok, cara berpenampilan, dan lainnya.</p>
<p>Aliran musik –khususnya Black Metal- amat gandrung dengan atribut, dan pakaian hitam yang bergambar kepala kambing atau tengkorak, karena konon kabarnya hitam adalah lambang kesesatan dan kekafiran; sedang tengkorak sebagai lambang morfinis.</p>
<p>Sepatu, rambut, kendaraan, pakaian dan atribut lainnya, semuanya berusaha dimodel ala artis dan idola mereka, walaupun ia kafir, semisal Curl Cobain, Meihem, dan lainnya. Walaupun idola mereka ini kafir dan durhaka kepada Allah, tapi tetap dicintai oleh pemuda &#8220;MUSLIM&#8221; yang tergila-gila dengannya. Padahal Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah hizbullah (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung&#8221;. (QS. Al-Mujadilah: 22).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy-rahimahullah- berkata, &#8220;Barangsiapa yang mentaati Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , dan mengesakan Allah, maka tak boleh baginya mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun orang yang ia cintai adalah kerabat terdekatnya&#8221;. [Lihat Tashil Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal. 11), cet. Dar Ibnu Rajab]</p>
<p>Seorang muslim hendaknya mencintai dan mencontoh orang-orang sholeh, seperti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabatnya, dan pengikutnya yang setia. Janganlah kalian tertipu dan terpedaya dengan kehidupan dunia yang Allah berikan kepada orang-orang kafir dan pelaku maksiat. Glamournya dunia ini nampak indah, namun hakikatnya musibah.</p>
<p>Allah -Ta’ala- juga berfirman</p>
<p>&#8220;Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu&#8221;. (QS. Al-Hadid: 20).</p>
<p>Dunia lebih kita dahulukan dibandingkan akhirat, padahal akhirat lebih baik dan lebih abadi di sisi Allah. Tak heran jika sebagian manusia mengutamakan pekerjaan dan perdagangannya ketika waktu sholat telah tiba sehingga masijd-masjid Allah kosong dari jama’ah. Dunia hanyalah ladang perbekalan menuju kehidupan akhirat yang lebih baik, bukan tujuan akhir.</p>
<p>Allah -Azza wa Jalla- berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya?&#8221; (QS. Al-An’aam: 32).</p>
<p>Kini anda telah tahu bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara dalam mengambil bekal menuju akhirat; menuju perjumpaan dengan Allah -Azza wa Jalla-. Maka ambillah dari dunia sesuatu yang bermamfaat bagi akhiratmu; namun jangan sampai kalian terpedaya dengan gemerlap dan hijaunya dunia ini.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
