<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>curhatku &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/curhatku/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "curhatku"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 02:02:32 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ritual Patah Hati ]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=110</link>
<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 12:41:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/2008/10/06/ritual-patah-hati/</guid>
<description><![CDATA[yah,,, walau telat saya ucapkan minal aidzin wala fa idzin atas semua kesalahan dan dosa2 yang perna]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>yah,,, walau telat saya ucapkan minal aidzin wala fa idzin atas semua kesalahan dan dosa2 yang pernah saya lakukan dan terutama  kepada orang yang pernah saya sakiti.. saya mohon maaf</p>
<div>
<p style="text-align:justify;">yup hari pertama kuliah.. aku sudah harus dihadapkan pada masalah2,, ya, mulai dari pengkaderan yang mendapat ancaman dari birokrasi sampai DPR RI. Dan masalah 'dia'. akhirnya yang terjadi terjadilah.. Yang saya pikirkan dulu dari awal  terjadi juga.. Saya patah hati,, walau sudah tahu dari awal begini jadinya tetep aja rasanya  menyakitkan.. iya,,, bukan karena dia menolak ajakanku tapi melihat perkembangan yang terjadi.. Jika anda berada di posisi saya,, tentu anda bisa merasa apa yang saya rasakan.. apalagi dari setahun yang lalu saya mengaguminya, mungkin aku yang terlalu berharap.. dan mungkin yang kemaren2 aku cuma bermimpi. Perubahan itu terjadi sejak pertemuan dulu,, ya,, mungkin dia menemukan ketidakcocokan dengan saya atau memang karena ketidak sempurnaan saya. Yang jelas,, sudahlah aku memang harus merelakannya... Tak perlulah aku memaksakan kehendak saya,, karena saya yakin malah justru  membuatnya mangkel atau bahkan membenci saya, dan saya ndak ingin itu terjadi. mungkin sudah jadi takdir saya selalu jadi pihak yang disakiti. dan ada satu hikmah  yang dipetik disini dan ini jd pelajaran yang berharga buat saya ' jangan memulai sesuatu yang tidak bisa di akhiri'.. dan ini adalah ritual saya saat patah hati,, pergi kepantai ,, menuliskan namanya,, memasukannya ke dalam botol dan membiarkannya pergi bersama air laut.. Untuk'nya' doa saya semoga Tuhan selalu menjaganya,,&#38;memberinya pasangan yang baik untuknya AMIEN.... mungkin inilah akhir dari penantian saya walau bukan akhir yang indah bagi saya semoga terbaik bagi semua...</p>
</div>
<div><a href="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/10/untitled1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-116" title="untitled1" src="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/10/untitled1.jpg" alt="" width="563" height="422" /></a></div>
<p><a href="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/10/dsc08677.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-117" title="dsc08677" src="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/10/dsc08677.jpg" alt="" width="563" height="422" /></a></p>
<p><a href="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/10/dsc08675.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-115" title="dsc08675" src="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/10/dsc08675.jpg" alt="" width="570" height="427" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[1 Syawal di Cipeujeuh]]></title>
<link>http://efikabd.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 16:56:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>efikabd</dc:creator>
<guid>http://efikabd.id.wordpress.com/2008/09/30/1-syawal-di-cipeujeuh/</guid>
<description><![CDATA[sudah tidak terasa ternyata aku sudah berumah tangga dengan istriku 1 tahun lebih, pada tahun lalu d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>sudah tidak terasa ternyata aku sudah berumah tangga dengan istriku 1 tahun lebih, pada tahun lalu disini di rumah ini sedang ada pemasangan panggung, pemasangan tarub dan banyak tamu yang sedang bergadang guna menyelenggarakan hajat pernikahan aku. tapi disisi lain aku sangat sedih karena ada sesuatu hal yang aku pikirkan yaitu keluargaku. semoga aku diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menghadapi ujian ini. Amien</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NUPTK ]]></title>
<link>http://efikabd.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 16:11:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>efikabd</dc:creator>
<guid>http://efikabd.id.wordpress.com/2008/09/30/nuptk/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah setelah lama-lama terombang ambing, dan kekecewaan karena saya sudah tidak mengajar la]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah setelah lama-lama terombang ambing, dan kekecewaan karena saya sudah tidak mengajar lagi di SMA Negeri 1 waled. akhirnya saya mendapat apa yang saya inginkan yaitu NUPTK dengan nomor 5742759660200042. semoga nanti menjadi acuan dan sekarang saya mengajar di SMK Muhammadiyah Lemahabang.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bolehkah kita menyesali ?????]]></title>
<link>http://amaliabismillah.wordpress.com/?p=61</link>
<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 08:51:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>amalia anwar</dc:creator>
<guid>http://amaliabismillah.id.wordpress.com/2008/09/24/bolehkah-kita-menyesali/</guid>
<description><![CDATA[Aku ingin bertanya pada para visiters blog aku,
bolehkah kita menyesali sesuatu yang pernah terjadi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingin bertanya pada para visiters blog aku,</p>
<p>bolehkah kita menyesali sesuatu yang pernah terjadi pada kita, tapi tidak akan pernah ada kesempatan untuk kita untuk memperbaikinya lagi???</p>
<p>Misalnya:</p>
<p>Berbuat kesalahan pada kekasih hati, sehingga kekasih itu marah, membuat renggang hubungan, akhirnya putus. Si dia nya sudah jadi milik orang lain. Sedangkan kita berkali2 minta maaf nggak di respon... Kita lalu menyesali apa yang telah kita lakukan dan menyesali mengapa sampai putus........dan menyesali kenapa sampai si dia dengan orang lain???????</p>
<p>Bolehkah demikian&#62;??????????????</p>
<p>Tapi bukankah kalau menyesali terus, mata dan hati kita tidak akan terbuka untuk yang lain. Yang mungkin saja lebih baik dari yang dulu????????</p>
<p>Gimanakah????????????</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasi bungkus yang terlupakan]]></title>
<link>http://zadika.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 03:24:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>zadika</dc:creator>
<guid>http://zadika.id.wordpress.com/2008/09/24/nasi-bungkus-yang-terlupakan/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini (7 agustus 2008) aku mendapatkan suatu pelajaran berharga. Alhamdulilah&#8230;
Kejadiannya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini (7 agustus 2008) aku mendapatkan suatu pelajaran berharga. Alhamdulilah...</p>
<p>Kejadiannya berawal ketika aku sampai dipenghujung jembatan penyebrangan di depan Hotel Sari Pan Pasifik. Didepan tangga ada seorang wanita tua dengan penampilan acak-acakan langsung memanggilku meminta makanan. Duh miris sekali aku memandangnya. Akupun berpikir "Duh uangku di kantong hanya cukup untuk naik bis ke kampus. Keluarin uang dari ransel, ribet. bawaan banyak, mana bawa laptop. duh maaf ya" ucapku dalam hati. Akupun mengabaikan wanita itu dan terus melangkah menuruni jembatan itu.</p>
<p>Tak lama, aku pun menaiki bus AC satu-satunya yang melewati kampusku. Alhamdulilah dapat duduk. Tapi pikiranku terus membayang kewajah wanita itu. Wanita itu sering kulihat tidur-tiduran di jembatan penyebrangan itu. Aku memang tidak pernah memperdulikan dirinya. Terlebih ada fenomena pengemis menjadi suatu pekerjaan, yang berangkat pagi pulang sore dan lebaran juga ikut pulang kampung. Sungguh mengenaskan.</p>
<p>Akupun mulai serasa mengantuk duduk menunggu hingga sampai tujuanku. Kulihat jam di tanganku. Sudah jam 6 sore. Sudah magrib. Tumben perut tidak meronta-ronta minta diisi. Lalu kuingat bahwa siangnya aku mendapatkan makan siang gratis dari bos yang ultah. Berarti roti yang kubawa tadi pagi masih utuh. Tunggu sebentar! Aku juga bawa bekal makan siang!</p>
<p>Astaghfirullah...<br />
Kembali aku teringat wajah wanita gelandangan di jembatan. Ya Allah!! Aku lupa sama sekali. Aku terlalu terburu-buru keluar dari kantor karena ingin mengejar magrib sampai kampus. Harusnya aku bisa kasih makanan bungkus itu ke wanita itu, lagipula aku sudah cukup kenyang. Jika kupaksakan makan, bisa eneg. Jika dibuang? Wah mubajir, dosa. Spontan aku mengeluarkan istighfar berkali-kali dengan suara agak keras hingga mengagetkan penumpang disebelahku.</p>
<p>Duh!! Payah. Pikun. Gerutuku dalam hati. Lalu kuambil bungkusan makan siangku keluar dari ransel dan kutaruh di tas jinjingku. Dalam hati langsung niat, kalau ketemu pengemis ataupun gelandangan dijalan langsung kuberikan kepadanya. Tapi sampai aku tiba kampus, aku tidak menemukan pengemis ataupun gelandangan.</p>
<p>Aku jadi teringat oleh kata ayahku. "Jika ada orang yang tiba-tiba meminta sesuatu kepadamu, KASIH" dalam hal ini jika orang tersebut adalah pengemis. Seharusnya seperti Siti Aisyah yang jika diminta sesuatu oleh siapapun akan memberikan tanpa memandang dia pejabat ataupun pengemis, kaya ataupun miskin. Huhuhu... aku jelas belum bisa sampai ke tahap itu.</p>
<p>Kemudian kuingat kata-kata penyesalan ibuku "Kalau lagi niat bersedekah, pengemisnya menghilang tiba-tiba. Tapi kalau lagi ngga niat, mereka ada dimana-mana" Aku lalu tersenyum simpul. Inilah yang terjadi kepadaku saat ini... (+_+!!!)</p>
<p>Lalu kutanyakan kepada beberapa teman kuliahku, ada yang belum makan malam. Semua bilang sudah. Lalu kutanya lagi, apa dia jika  pulang  menemukan pengemis dijalan. Rata-rata menjawab tidak. Aku sempet putus asa. Wah, masa makanan enak mau dibuang? Dibuang sayang, dimakan udah ngga selera. Dan akhirnya kupasrah dan kubawa pulang makanan bungkus itu.</p>
<p>Ketika tiba waktu pulang, aku dijemput oleh orangtuaku. Kuceritakanlah kegelisahanku. Ibuku kemudian mengatakan "Yah, mereka banyak dijalan. Tidak usah khawatir" Masa sih? kenapa selama ini aku ngga pernah lihat ya? Aku setiap hari pulang malam, dan kondisi jalan hanya penuh dengan mobil dan motor.</p>
<p>Dan alhamdulilah bener... tidak jauh setelah keluar dari areal kampusku, ada seorang penyapu jalan. Langsung berhenti dan memberikan bungkusan makanan kepadanya. Alhamdulilah... rejekinya dia dan rejeki untukku yang tidak jadi buang makanan.</p>
<p>Alhamdulilah ya Allah... Subbhanallah...<br />
Selalu ada jalan untuk suatu niat baik. Insya Allah.</p>
<p>Thanks 4 read<br />
As_3d</p>
<p>http://treeed.multiply.com/journal/item/186/Nasi_bungkus_yang_terlupakan</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemesraan Ini...]]></title>
<link>http://evanbumiayu.wordpress.com/?p=110</link>
<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 14:25:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>evanbumiayu</dc:creator>
<guid>http://evanbumiayu.id.wordpress.com/2008/09/19/kemesraan-ini/</guid>
<description><![CDATA[Saat sholat maghrib berakhir, seorang anak berumur dua tahunan segera berlari menghampiri ayahnya ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saat sholat maghrib berakhir, seorang anak berumur dua tahunan segera berlari menghampiri ayahnya yang telah selesai menunaikan tugasnya sebagai imam di masjid “mantan” kampus saya. Sang ayah, yang terlihat masih cukup muda tersebut masih sibuk dengan dzikir-dzikir lirihnya, menyiratkan kekhusu’-an dan ketawadhu’-annya dalam berharap kepada Sang Pencipta, dengan iringan doa-doa panjangnya untuk memohon kebaikan dunia dan akhiratnya. Putri kecil ini, yang sejak tadi berlari-lari di sekeliling ayahnya itu, kini mulai meminta sesuatu.</p>
<p>“Abi…ayo pulang. Ayo pulang, bi….” rengek sang anak dengan suara khasnya. Bagi saya yang duduk di shof tak jauh dari tempat imam tersebut, suara anak tadi terdengar begitu jelas. Lucu, sekaligus menggemaskan.</p>
<p>“Iya...sabar ya, nak. Sebentar dulu. Abi mau berdoa dulu. Adhe’ udah berdoa belum?” jawab sang ayah dengan suara lirih. Saya bisa merasakan kelembutan suara sang ayah yang keluar dari relung hatinya.</p>
<p>Sang anak tampaknya kurang begitu menghiraukan jawaban sang ayah. Ia terus merengek-rengek meminta pulang, walaupun dengan suara yang cukup lirih bagi pendengaran para jama’ah. Akhirnya, setelah sang ayah mempecepat dzikir dan doanya, ia segera menggendong sang anak dan keluar masjid. Ia tampak ngobrol-ngobrol tentang sesuatu hal dengan putri kecilnya itu dengan sesekali mencium pipinya penuh kasih sayang.</p>
<p>Subhanalloh....</p>
<p>Saya termenung dalam kesendirian. Mereka-reka harapan masa depan. Merajut cita-cita kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman. Andaikan itu saya, betapa indahnya. Subhanalloh...</p>
<p>Ah, begitu mesranya jalinan kasih sayang antara sang ayah dan putri kecilnya itu. Kasih sayang yang tumbuh dari relung hati, cinta kasih yang tiada menuntut balasan materi, pengorbanan yang diakui sebagai pengabdian kepada Illahi, semuanya sungguh tulus untuk sang belahan jiwa tercinta. Sebagaimana ketulusan induk burung merpati dalam memberi makan bagi anak-anaknya, atau pengorbanan dua induk singa bagi keselamatan anak-anaknya pula, semuanya memberikan pengertian bagi saya tentang arti pentingnya cinta sejati itu. Sungguh agung tanda-tanda kebesaran-Mu ya Alloh.</p>
<p>Sekelebat ingatan saya terbawa juga pada jalinan kemesraan antara dua insan, nun jauh di belahan Bumi nan Ayu sana. Kemesraan yang ternaungi di bawah atap-atap Masjid Istiqlal, antara seorang anak berusia sembilan tahunan dengan seorang kakek berusia tujuh puluh tahunan. Peristiwa ini masih saja saya ingat, padahal telah berlalu setahun yang lalu, dan juga, sebulan yang lalu akhirnya saya dapat melihat kembali jalinan kemesraan itu, persis di depan mata saya.</p>
<p>Ketika saya dan beberapa rekan Fb sedang menginap di Masjid Istiqlal Dukuhturi untuk beberapa malam di akhir-akhir Romadhon tahun lalu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kami bisa mengambil ibroh dari apa yang telah ditampakkan-Nya itu. Wallohua’lam, apakah rekan-rekan yang lainnya bisa menangkap tanda-tanda itu, ataukah ini hanya perasaan diri saya saja sebagai seorang observator.</p>
<p>Ada seorang anak kecil yang senantiasa membersamai seorang kakek yang telah lanjut usia dan maaf, beliau mengalami gangguan dalam penglihatannya, sehingga sang anak tadi selalu menuntun sang kakek ketika hendak pergi sholat berjama’ah. Iya, sholat berjama’ah di Masjid Istiqlal. Di saat orang-orang lain yang sehat perkasa, kuat lagi mampu badannya, luang lagi kosong waktunya, sedang lelap tertidur, sibuk dengan korannya, dengan istrinya, anaknya, pekerjaannya atau segudang alasan imitasi lainnya, seorang anak kecil dan kakek tua lanjut usia masih saja rela untuk mendatangi panggilan-Nya. Agaknya, sang anak tersebut adalah cucu dari sang kakek tadi. Ia dengan sabar dan lembutnya mengarahkan sang kakek ketika akan berjalan, melangkahkan kaki, menyiapkan posisi sandalnya, menunjukkan jalan masuk ke dan keluar ruangan masjid dan sebagainya, baik saat akan berangkat ke masjid maupun ketika pulang darinya. Ia begitu tulus dengan apa yang dilakukannya, sementara sang kakek sangat penurut dan berkasih sayang kepada cucunya itu. Dan ketika kami melaksanakan ifthor jama’i (buka puasa bersama) di serambi masjid, saya melihat sang anak mengambilkan sepotong kue dan diberikan kepada kakeknya itu agar disantap. Saat satu kue sudah habis, ia mengambilkan kue lainnya dan menyerahkannya pula kepada sang kakek agar disantapnya pula. Begitu pun dengan air minumnya. Allohu Akbar!!!</p>
<p>Seketika saya menangis dalam hati, kawan. Saya trenyuh dengan pemandangan itu. Seakan saya ingin menyalami mereka, memeluk mereka dan mengatakan, ”Saya mencintai engkau wahai adik kecil dan engkau kakek, karena Alloh semata.”</p>
<p>Betapa tulusnya jalinan kasih sayang mereka. Betapa mesranya cinta kasih mereka. Betapa ikhlasnya sang anak dalam merawat dan menghormati kakeknya. Betapa ridhonya sang kakek dalam menyayangi cucunya. Apakah saya bisa seperti mereka? Saya malu. Saya malu kepada Alloh. Dan, apakah engkau, kawan, juga seperti mereka?</p>
<p>Hari berlalu dan terus bergulir. Satu tahun telah terlewatkan sudah. Sebulan yang lalu, saat saya dan beberapa rekan Fb pulang dari sebuah acara di kawasan Kalijurang, kami menyengajakan diri untuk melaksanakan sholat Jumu’ah di masjid yang sama itu. Dan saat-saat setelah sholat pun menjadi pemandangan yang serupa dengan peristiwa setahun yang lalu, ketika saya melihat kemesraan antara sang anak dengan sang kakek itu terulang kembali, persis di depan mata saya. Tak ada yang berubah dari ketulusan sang anak dan kasih sayang sang kakek. Ia menuntun kakeknya keluar masjid, kemudian menyiapkan posisi sandalnya, lalu berjalan keluar area masjid sembari mengarahkan langkah kaki-kakinya melewati lorong-lorong sempit di antara padatnya perumahan. Allohu Ya Karim....</p>
<p>*******</p>
<p><em>Jurangmangu Timur, 11 Januari 2008 at 11.40 pm</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tentang Kekuatan Cinta]]></title>
<link>http://evanbumiayu.wordpress.com/?p=108</link>
<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 14:22:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>evanbumiayu</dc:creator>
<guid>http://evanbumiayu.id.wordpress.com/2008/09/19/tentang-kekuatan-cinta-2/</guid>
<description><![CDATA[Terlepas dari apa gerangan maksud bos kita yang satu ini memposting sebuah puisi yang tak bertuan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Terlepas dari apa gerangan maksud bos kita yang satu ini memposting sebuah puisi yang tak bertuan – NN – itu, apakah lagi sekedar iseng buat meramaikan suasana milist, salah posting atau mungkin….bisa jadi memang lagi mengalami ke-“gundah”-an hati seperti yang digambarkan dalam puisi tersebut. Cie….Tapi, by the way (saudaranya bus way yang selalu on the way-Ifad red), kalau ngomongin soal yang satu ini memang gak bakalan ada matinya, selalu saja ada bahannya, setiap saat, bahkan dari sore hingga pagi pun, kalo sudah ngobrol-ngobrol tentang “menyempurnakan separuh diin”, pasti akan ada saja yang siap dibahas. Tak terkecuali bagi para aktivis sekalipun. Semangat sekali rasanya kalo sudah tanya-tanya, “Kapan, akhi? Jangan lama-lama dong…”. Yang ditanya malah balik bertanya, “Ah, antum dulu dong yang sudah bekerja. Kayaknya lebih siap nih.” Mulak mudheng, muter-muter ora nggenah….</p>
<p>Bagi yang sudah menjalaninya sih, pasti akan senyum-senyum saja melihat fenomena ini.</p>
<p>“Muganeng, gagiyan ya. Ngenteni apa maning sih? Antum belum tau sih ya indahnya karunia ini.” Bikin Hidup Lebih Hidup, katanya.</p>
<p>Sobat, cinta adalah anugerah Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang sungguh indah. Betapa indahnya cinta, sehingga setiap jiwa pasti akan selalu merindukan kedatangannya. Cinta akan membuat hati manusia berbunga-bunga, menggerakkan seluruh jiwa dan jasad, meningkatkan semangat hidup, menjadi pemanis dan hiasan dunia yang paling indah. Maka, sungguh aneh dan tak wajar jika seseorang tidak memiliki rasa cinta, atau meskipun sebenarnya memilikinya, tapi memendamnya, atau memasungnya, yang justru itu akan sangat membahayakannya, baik bagi dirinya maupun orang lain dan dunianya. Akan tetapi, agaknya hampir sebagian besar orang, tak terkecuali juga kawan-kawan kita, para pemuda, kurang memaknai hakikat cinta itu sendiri. Mereka, kebanyakan orang, memandang bahwa cinta adalah sebuah ungkapan perasaan seseorang kepada lawan jenisnya, yang justru diiringi dengan limpahan hawa nafsu, sehingga akhirnya buah dari cintanya itu tergeser jauh dari nilai-nilai kesucian dan kemuliaan. Mereka rela melakukan hal-hal yang justru menodai makna cinta sejati itu sendiri, yang justru anehnya lagi mereka anggap itulah cinta suci. Mereka rela melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya, yang dilarang-Nya. Malang nian nasib mereka. Kita semua memohon perlindungan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar dijauhkan dari segala bentuk cinta yang dilandasi hawa nafsu duniawi.</p>
<p>Lantas, bagaimanakah cinta yang paling suci dan murni itu ? jawabannya hanya satu, cinta yang paling suci dan murni adalah cinta kita kepada Dzat Yang Maha Mencintai, Dzat Yang Maha Indah, Dzat Yang Maha Penyayang, Dialah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Ya, segala cinta harus ditumpahkan sepenuhnya kepada-Nya, karena Dialah Pemberi Cinta Sejati, Dialah Pemberi Hidup segala makhluk-Nya, dan Dialah Yang Maha Pencemburu manakala hamba-Nya mencintai sesuatu tidak karena-Nya. Maka, sudah sepantasnya bagi kita semua, yang mengaku sebagai hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hanya mencintai-Nya.</p>
<p>Realisasi atau bukti kecintaan kita kepada-Nya adalah dengan melakukan segala sesuatu yang disukai-Nya, dan menjauhi segala sesuatu yang dibenci-Nya. Juga, mencintai sesuatu hanya karena-Nya, dan tentunya, membenci sesuatu juga karena-Nya. Inilah makna taqwa, yang Rosululloh, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnah-sunnah Rosul selalu menjadikannya sebagai pegangan utama di dalam seluruh hidupnya. Sungguh, betapa nikmat dan indahnya cinta yang demikian, cinta yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan, cinta yang tak akan pernah tergoyahkan, cinta yang tak akan pernah lekang dimakan usia, cinta yang membawa pemiliknya menuju surga-Nya.</p>
<p>Oleh karenanya, mari kita semua sama-sama belajar untuk mencintai Alloh, mencintai Rosululloh dan para shahabat, serta mencntai sesuatu hanya karena Alloh, dan membenci sesuatu juga hanya karena Alloh. Melakukan amal-amal kebaikan, terus menerus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita, menjauhi perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, menahan hawa nafsu, dan memandang sesuatu bukan berdasarkan pandangan keduniaan, akan tetapi atas pandangan keakhiratan, insyaalloh itu semua adalah beberapa hal yang menjadi bukti kecintaan kita kepada-Nya.</p>
<p>Demikian juga dalam hal membangun pondasi rumah tangga. Cinta kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga harus menjadi komponen utamanya. Orang berumah tangga itu tentunya harus kita pahami betul-betul tujuannya, yaitu sebagai sarana beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Gak ada yang lain. Bukan sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Makanya, karena tujuannya itu adalah ibadah, maka caranya pun harus sesuai dengan yang digariskan Alloh dan Rosul-Nya. Agar nantinya, di dalam proses maupun kesudahannya adalah penuh dengan kebaikan dan keridhoan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Tak terkecuali pula dalam proses menuju pernikahan. Maaf sekali, kalo bicaranya terlalu dalam, tapi sungguh saya ingin menjelaskan ini kepada kawan-kawan semua agar tahu lebih awal, sehingga nantinya bisa merencanakan dengan sebaik-baiknya tentang hal ini kelak di kemudian hari. Ini bukan masalah yang tabu, bahkan harus sedini mungkin diketahui oleh para remaja, tak terkecuali juga para orang tua, agar ”pandangan-pandangan lama” yang selama ini dipegang orang kebanyakan (bahwa sebelum menikah, harus pacaran dulu, dan itu wajar-wajar aja) dapat sedikit demi sedikit dikikis, digantikan dengan pandangan mulia berdasarkan syari’at Islam tentang bagaimana mengawali sebuah proses pernikahan.</p>
<p>Kembali ke laptop...Ketika saya sedang merenungkan hal ini, maka seketika pikiran saya teringat pada sebuah kisah hidup seorang Zulebid Rodhiyallohu ’Anhu, sahabat Rosululloh Shollallohu ’Alaihi wa Sallam. Sungguh, di dalamnya terkandung banyak sekali nilai dan hikmah. Ada makna ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, wala’ (loyalitas), kepahlawanan, patriotisme, pengabdian, kasiih sayang, dan tentunya, cinta. Cinta yang tumbuh dari hati yang tulus, hati yang bening, cinta yang suci, tanpa noda, tanpa noktah, yang disemai dalam lahan subur keimanan, yang berangkat dari stasiun perubahan, hingga berakhir ke negeri penuh impian orang beriman, al-Jannah. Semoga kita bisa mentadabburi siroh ini, memaknai tentang ”Kekuatan Cinta”, hingga ia terbang bersama kita, bersama kepak sayap elang menuju awan putih bersih di langit yang biru.</p>
<p>*****</p>
<p>Sebuah roman alegoris<br />
——————</p>
<p>Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis<br />
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin<br />
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim<br />
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…<br />
***<br />
Di kota Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid . Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.</p>
<p>Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah . “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi , semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.</p>
<p>Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi . Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”<br />
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah , putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.</p>
<p>“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi .</p>
<p>“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.</p>
<p>Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan</p>
<p>“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.</p>
<p>” Rasulullah SAW yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.</p>
<p>“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”</p>
<p>Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”</p>
<p>Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah SAW , maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”</p>
<p>Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.</p>
<p>Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”</p>
<p>Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan Rasululloh yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”</p>
<p>Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.</p>
<p>Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.</p>
<p>“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.</p>
<p>Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”</p>
<p>Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”</p>
<p>***</p>
<p>Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid . Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya…. Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.</p>
<p>***<br />
Senja datang,<br />
Angin mendesau, sepi…<br />
Pasir-pasir beterbangan…<br />
Berputar-putar…<br />
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada yang lain.<br />
Tanpa dimandikan…<br />
Tanpa dikafankan…<br />
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid .<br />
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.<br />
Para sahabat terdiam membisu.<br />
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang dari pelupuk mata beliau<br />
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.<br />
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.<br />
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.<br />
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah .<br />
“Wahai Rasulullah , mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”<br />
Jawab Rasul , “Aku menangis karena mengingat Zulebid . Oo.. Zulebid , pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”<br />
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.<br />
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah .<br />
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandanganMu dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi. “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid , beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid . Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”<br />
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ILLAHI ROBBI, Pencipta segala Maha Karya.<br />
Malam menjelang…<br />
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.<br />
Lambat-lambat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.<br />
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “<br />
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.<br />
Istri Zulebid , terdiam.<br />
Matanya basah…<br />
Ada sesuatu yang menggenang disana..<br />
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..<br />
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..<br />
Ia menggerakkan bibirnya..<br />
“Suamiku, aku mencintaimu…<br />
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..<br />
Aku ikhlas….<br />
***<br />
Somewhere over the rainbow, way up high<br />
There’s a land that I heard of once on a lullaby<br />
Somewhere over the rainbow, skied are blue<br />
And the dreams that you dare to dream really do come true..<br />
Dan,<br />
Akan kemanakah kumbang terbang<br />
Pada siapa rindu mendendam<br />
Kekasih yang terkasih<br />
Pencinta dan yang dicinta<br />
Semua berurai air mata<br />
Sedih, ataukah bahagia…..?<br />
Salam,Untuk para pengantin bidadari …</p>
<p>nadwahfathon -  myQ Perambah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[rindu....]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=105</link>
<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 13:15:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/2008/09/16/rindu/</guid>
<description><![CDATA[walah aku tu klo ngasih judul ndak pernah niat,,, posting juga ndak nawaitu dulu isinya juga gt2.,,,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>walah aku tu klo ngasih judul ndak pernah niat,,, posting juga ndak nawaitu dulu isinya juga gt2.,,,, sebelum nulis ndak wudlu dulu sih...la ya gmn lagi pas lagi banyak job,, diriku ndak sempet buka blog... eh pas mo posting jd lp job2 / epent2  lucu yg mo aku omong... ck..ck...ck...memang orang yang aneh..</p>
<p>ndak terasa puasa dah malam 17... rindu rasanya suasana rumah... emang paling enak rumah sendiri.. bisa ngapa2in saja ndak ada yang nglarang... dari kelakuan yang aneh sampai yang aneh banget.. dari yang kurang kerjaan sampai yang kurang kerjaan banget... .. 10 hr lagi goes to home... apalagi kakakku tercinta.. satu2 kakakku yang masih bertahan hidup dijakarta pulang juga... ehm,,, diriku yang terlantar di ujung timur surabaya ini dah lama rasanya tak jumpa.. ehmm,,, pengen pulang.............!!!!!!!!!!!!!!!!!!! tapi yang penting tiket dah tersedia.. tinggal menghitung hari aja..</p>
<p>malam nuzulul Qur'an nih...hayo klo bisa malam ini ndak tidur selesaikan prokermu di awal bulan... hey.,,, girl hayo dah janji loh!!!  OK BOZT!!!!!</p>
<p>walo muka suntuk dah pengen pulang,,, walau mata ngantuk kebanyakan begadang,,,, walau mulut suka berceletuk kebanyakan tanggungan hayo semangat bro!!! ibukota tak sekejam ibu tiri kok!! lho????  (-;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[Baksos] Terimakasih...]]></title>
<link>http://yettiye.wordpress.com/?p=82</link>
<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 07:39:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yetti Suci Budihastuti</dc:creator>
<guid>http://yettiye.id.wordpress.com/2008/09/16/baksos-terimakasih/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb
Terimakasih untuk semua yang telah memberikan bantuan, baik itu bantuan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu'alaikum Wr Wb</p>
<p>Terimakasih untuk semua yang telah memberikan bantuan, baik itu bantuan berupa tenaga maupun dana, atas kelancaran acara bakti Sosial "Tersenyumlah Emak Pak'e". Kami sangat menghargainya.</p>
<p>Tidak ada yang dapat kami sampaikan, selain ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Hanya ALLAH SWT yang dapat membalasnya. Semoga yang telah diberikan oleh rekan-rekan semua, mendapat balasan yang setimpal dari ALLAH SWT. Amin...</p>
<p>Guys... pokok-e gini wae lah...</p>
<p><em><!--more-->Lemah Teles...</em></p>
<p><em>Gusti ALLAH Sing Mbales...<!--more--></em></p>
<p> </p>
<p>Thank you so much...</p>
<p>Wassalamu'alaikum Wr Wb</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[bingung.....]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 13:38:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/2008/09/12/bingung/</guid>
<description><![CDATA[jd bingung mo nulis apa&#8230; mending silahkan nikmati gambar2 ini

cari 10 perbedaannya juga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>jd bingung mo nulis apa... mending silahkan nikmati gambar2 ini</p>
<p><a href="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/09/a.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-97" title="a" src="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/09/a.jpg?w=300" alt="" width="524" height="339" /></a><a href="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/09/b.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-98" title="b" src="http://ellthyas.wordpress.com/files/2008/09/b.jpg" alt="" width="518" height="388" /></a></p>
<p>cari 10 perbedaannya juga... he3...</p>
<p>wuih... 24 sks aku ambil semester ini 4 eldas, 4 fismat, 3 metstats, 1 p.madya, 2 fismod, 2 mekanika 1, 2 alin, 2 opto dan 4 sks laen untuk kegiatan plus2.. laennya.. minggu depan dimulai sudah penderitaan kuliah.. cuapek aku rasanya... pengennya total tapi waktu ndak ada.. memang terasa sekali klo mang waktu lapang harus bener2 digunakan sebelum datang waktu sempit... hm,,,, mengeluh,, beban malah jadi tambah berat ndak mengeluh juga capek... tapi ya semangat.. !!! Semangat!!! semoga minggu2 kedepan tak ada lagi kebingungan2...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa cita-citamu??]]></title>
<link>http://fitrirachmawati.wordpress.com/?p=83</link>
<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 08:11:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>fitrirachmawati</dc:creator>
<guid>http://fitrirachmawati.id.wordpress.com/2008/09/09/apa-cita-citamu/</guid>
<description><![CDATA[Ketika kita ditanyakan pertanyaan seperti itu saat ini, mungkin kita akan bingung menjawabnya. Bahka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika kita ditanyakan pertanyaan seperti itu saat ini, mungkin kita akan bingung menjawabnya. Bahkan mungkin hal yang kita utarakan adalah suatu hal yang abstrak, seperti "Berguna bagi bangsa dan negara", "HIdup bahagia, mati masuk surga" atau malah "Dapat istri / suami yang ganteng dan segalanya pribadi, mobil pribadi, rumah pribadi, dll".</p>
<p>Mungkin pertanyaan ini akan lebih mudah dijawab oleh anak kecil ketimbang orang dewasa. Ya, kalau flashback masa lalu waktu aku ditanya pertanyaan ini dengan mudahnya pertanyaan ini dapat kujawab tapi setelah aku mulai beranjak dewasa pertanyaan ini menjadi samar-samar bagiku.<br />
Mm.. kuingat-ingat dulu ya,,</p>
<p>Dari kecil, lebih tepatnya dari TK, aku sangat suka yang namanya bidang pertanian. Mungkin ini juga yang mendasari kenapa aku suka banget sama warna hijau. Dulu, kalau melihat tanaman-tanaman, bunga-bunga, pohon-pohon, itu semua sangat menarik perhatianku. Mungkin juga aku terpengaruh oleh buku-buku yang diberikan oleh orang tuaku waktu aku masih kecil. Ya, orang tuaku dari aku kecil sudah membiasakan anak-anaknya untuk suka membaca. Makanya, di rumah itu jarang ada mainan yang kebanyakan dimainkan anak-anak zaman sekarang, seperti rumah-rumahan, dokter-dokteran, apalagi mainan play station. Kalaupun ada mainan rumah-rumahan atau dokter-dokteran di rumah, kebanyakan itu bukan dibelikan oleh orang tuaku, melainkan pemberian orang lain jika aku atau kakakku berulang tahun. Di rumah juga banyak boneka, tapi itu juga bukan dibelikan oleh orang tuaku melainkan pemberian hadiah ulang tahun juga. Intinya, hal-hal yang seringnya dibelikan oleh orang tuaku adalah buku-buku bukan mainan seperti itu. Majalah bobo, donal bebek, buku ensiklopedia anak-anak, kamus bergambar, cerita dongeng, dll.</p>
<p>Balik lagi kenapa dulu aku sangat suka dengan bidang pertanian. Ya, itu karena aku terinspirasi oleh buku ensiklopedia anak-anak yang sering kubaca. Bahkan buku-buku itu sudah kubaca (baca: kulihat-lihat) sejak aku belum bisa membaca lho..</p>
<p>Ni fotonya..</p>
<p><a href="http://fitrirachmawati.wordpress.com/files/2008/09/image009.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-84" title="image009" src="http://fitrirachmawati.wordpress.com/files/2008/09/image009.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a> Kiri ke kanan : Kakakku (Nurul) dan fitri waktu umur 2 tahun</p>
<p>Melihat gambar-gambar di dalamnya yang unik aku sangat suka dan buku ensiklopedia favoritku adalah yang tentang tanaman dan antariksa. Makanya waktu TK sampai SD aku sangat suka bidang pertanian walaupun aku tidak tahu alasan mendasarnya apa. Pernah beberapa kali aku mencoba menanam tanaman sendiri. Kugali-gali tanah dan kutanam biji buah-buahan di dalamnya. Walaupun tanpa pupuk, tanaman itu bisa tumbuh. Tapi, tanaman itu sudah ditebang sejak masih tunas karena yang kutanam itu biji salak dan jika pohonnya sudah besar bisa berduri-duri katanya.</p>
<p>Ya, itulah cita-citaku waktu masih TK sampai SD yaitu ingin menjadi insinyur pertanian!</p>
<p>Dari SD, aku sudah tidak menyukai pelajaran IPS. Apalagi sejarah dan peta buta. Kalau ditanya peta buta bisa-bisa aku buta beneran hehe.. :lol: . Susah sekali rasanya menghapal nama tokoh, lokasi tempat, dan tahun-tahun terjadinya peristiwa. Makanya dari SD sampai SMP nilai pelajaran IPSku gak pernah bagus. Dapat nilai 7 itu jarang-jarang, apalagi dapat nilai 8 atau 9.</p>
<p>Menginjak SMP, cita-citaku mulai berubah. Sejak mengenal pelajaran fisika, aku mulai tertarik dengan hal-hal yang bersifat teknik. Di rumah, kalau lagi iseng aku suka membuat peragaan-peragaan fisika yang ada di buku sekolah. Coba-coba mengambangin telurlah, membuat teropong bohong-bohongan, dll. Apalagi kalau pelajaran optik dan listrik, dulu aku suka sekali dan suka bereksperimen sendiri di rumah. Nah, pas SMP ini cita-citaku pun berubah yaitu aku ingin menjadi insinyur teknik!</p>
<p>Lain TK, SD, dan SMP, lain juga pas SMA. Aku memang orang yang suka akan hal-hal yang baru. Ketika di SMA, aku mulai menemukan pelajaran kimia. Wah, menurutku pelajaran ini sangat menarik. Waktu kelas 1 SMA, ketika mempelajari pelajaran Hidrokarbon, aku mulai tertarik dengan aspek-aspek yang berbau minyak bumi dan kawan-kawannya. Makanya, sempat pas aku kelas 1 SMA aku ingin masuk Teknik Kimia kalau nanti kuliah. Kelas 2 SMA, kesukaanku pada pelajaran kimia juga belum berubah. Tapi aku tidak tertarik lagi dengan Teknik Kimia, yang lebih kusukai kini adalah Farmasi. Kedengarannya kayaknya asik. Banyak percobaan kayak Professor Agasa yang ada di Detective Conan. Sampai aku kelas 3 pun aku masih tertarik pada bidang Farmasi, bahkan sampai menjelang SPMB. Setiap kali try out, pilihan pertamaku adalah Farmasi UI. Kenapa UI? Oya aku belum cerita kenapa aku milih UI! Ya, sederhananya aku milih UI bukan hanya karena jaraknya yang terjangkau dari rumah melainkan cita-cita masuk UI itu sudah ada sejak aku TK. Waktu aku TK, aku pernah janjian sama sahabatku namanya Chrysan. Padahal waktu itu kami belum tau apa itu Universitas Indonesia. Tapi karena kedengarannya oke, kami pun berjanji untuk masuk kesana. Kira-kira begini kata-katanya, "Eh, ntar kalo dah kuliah, kita masuk Universitas Indonesia yuk!" kata Chrysan "Ayo-ayo!" kataku. Yah... janji anak kecil.. :) tapi sampai sekarang aku belum pernah lagi bertemu dengan sahabatku ini setelah aku pindah SD pas kelas 6.</p>
<p>Ni Foto aku dengan Chrysan pas TK..</p>
<p><a href="http://fitrirachmawati.wordpress.com/files/2008/09/fitri-n-chrysan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-85" title="fitri-n-chrysan" src="http://fitrirachmawati.wordpress.com/files/2008/09/fitri-n-chrysan.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a> Yang di kiri itu Fitri, yang di kanan Chrysan (sahabatku pas TK)</p>
<p>Oke, balik lagi ke Farmasi. Ya, dulu aku suka sekali dengan bidang ini. Sudah terbayang dalam benakku nanti aku akan jadi apoteker. Bukan, lebih tepatnya aku ingin jadi ilmuwan yang bisa menemukan suatu obat. Hehe.. biar namanya terkenal :D . Nah, tapi... 1 bulan sebelum SPMB, lebih tepatnya saat masa intensif bimbel, tiba-tiba aku mulai berubah aliran. Pilihan pertamaku bukan lagi Farmasi melainkan Ilmu Komputer, tapi tetap UI. Bukan tiba-tiba juga si, sejak mempelajari pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di SMAku, aku jadi tertarik dengan komputer tapi masih kalah dengan keinginanku masuk Farmasi waktu itu. Jadi, waktu aku kelas 3 SMA, hal yang kusukai ada 2 yaitu Farmasi dan Teknik Informatika. Tapi, aku bingung untuk memilih salah satunya. Saat kelas 3 SMA, orientasiku benar-benar hanya ingin masuk UI, makanya aku tidak mau coba-coba ikut UM UGM, USM ITB, atau UNJ, Unpad, Undip, dll. Agak nekat juga si sebenarnya tidak mencari cadangan, ya.. akhirnya aku pun ikut STT Telkom dengan pilihan Teknik Informatika. Alhamdulillah, aku dapat Teknik Informatika STT Telkom, tapi akhirnya tidak jadi kuambil karena waktu pendaftaran ulang bertepatan dengan SPMB. Sejak aku memilih Teknik Informatika itulah perasaanku terhadap bidang komputer semakin kuat.. halah.. Kemudian, aku pun meminta pertimbangan keluarga. Kalau mama dan papa bilangnya terserah fitri. Kalau kakakku lebih mendorong aku untuk memilih Teknik Informatika. Aku pun mulai dikenalkan dengan jurusan Ilmu Komputer yang nama lain dari Teknik Informatika di UI. Nah, saat 1 bulan sebelum SPMB, pilihan try outku pun berubah. Karena grade Ilmu Komputer ternyata lebih tinggi dari Farmasi, aku pun lebih semangat belajar daripada saat pilihanku masih Farmasi.</p>
<p>Sekarang, alhamdulillah aku masuk ke Fasilkom UI. Sejujurnya, aku masih meraba-raba aku ingin jadi apa dan menghasilkan apa disini. Ya.. intinya aku harus berusaha sebaik mungkin! Mungkin setelah tingkat 3 saat sudah ada peminatan, aku baru bisa menentukan minatku ke bidang apa. Ada yang punya saran?</p>
<p>Yang pasti, salah satu alasan mengapa akhirnya aku memilih masuk Fasilkom adalah karena aku juga ingin bisa menjadi salah satu dari sekian banyak orang Islam yang maju di bidang teknologi. Tau kan, zaman sekarang yang jago teknologi bangsa apa? Makanya, aku ingin Islam bisa maju juga. Doakan aku ya..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cukup Dua Pesan Saja]]></title>
<link>http://evanbumiayu.wordpress.com/?p=102</link>
<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 06:04:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>evanbumiayu</dc:creator>
<guid>http://evanbumiayu.id.wordpress.com/2008/09/07/cukup-dua-pesan-saja/</guid>
<description><![CDATA[Ada
sebuah kalimat singkat dan sederhana yang diucapkan nenek saya ketika
saya berpamitan untuk maga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><p style="margin-bottom:0;" align="justify"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Ada<br />
sebuah kalimat singkat dan sederhana yang diucapkan nenek saya ketika<br />
saya berpamitan untuk magang kerja di Jakarta. Beliau tidak<br />
mengatakan, “Nak, nanti kalau pulang bawa uang yang banyak ya…”<br />
atau mengucapkan, “Semoga nanti kau pulang sudah menjadi ‘orang’<br />
ya…”. Tidak, tidak sama sekali. Justru yang beliau ucapkan<br />
hanyalah, “Nak, bergaullah dengan orang-orang yang baik di sana<br />
(Jakarta-red), dan janganlah kamu pacaran.” Kemudian kalimat itu<br />
beberapa kali beliau ucapkan ketika saya berpamitan lagi dengan<br />
beliau setelah saya pulang kampung saat liburan kantor.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Waktu<br />
itu saya tidak terlalu memperhatikan ucapan nenek tersebut. Saya<br />
menganggapnya sebagai angin lalu saja. Yah, biasalah. Orang tua pasti<br />
akan memberikan wejangan-wejangan tertentu kepada anak atau cucunya<br />
ketika mereka akan pergi jauh. Saya hanya manggut-manggut saja<br />
sembari tak lupa mengulum senyum kepada beliau. Saya tak terlalu<br />
memikirkan esensi kalimat yang dipesankan oleh nenek tersebut. Saya<br />
merasa, toh lingkungan tempat tinggal di sekitar kampus nanti sangat<br />
baik kok, orangnya sholeh-sholeh, rajin pergi ke masjid, para<br />
wanitanya sudah banyak sekali yang memakai jilbab, sedikit sekali<br />
yang berani pacaran secara terang-terangan, dan kebanyakan yang ada<br />
adalah para pasangan muda yang telah menikah. Saya sudah merasa akan<br />
berada di “comfort zone”, jadi gak perlu khawatir. Bahkan, saya<br />
merasa bahwa wejangan nenek saya itu merupakan sebuah pesan yang<br />
terlalu berlebihan bagi seorang “saya”.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2"><span lang="sv-SE">Dan<br />
hari demi hari terus berlalu. Dalam kesendirian, kadang saya sering<br />
merenung untuk memikirkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar,<br />
baik yang berkaitan dengan diri saya sendiri, keluarga di kampung,<br />
kawan-kawan, orang-orang di kantor, atau lingkungan masyarakat tempat<br />
saya tinggal. Tak jarang saya angan saya pun melayang, menafakuri<br />
harapan-harapan masa depan yang sedang saya rencanakan. Hingga<br />
akhirnya, ingatan saya terdampar pada sebuah kalimat yang pernah<br />
dipesankan nenek saya itu.</span></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE">“<font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Nak,<br />
bergaullah dengan orang-orang yang baik di sana, dan janganlah kamu<br />
pacaran.” Sedikit demi sedikit saya mulai merenungi makna dari<br />
kalimat tersebut. Ada dua esensi yang termuat di dalamnya, yaitu<br />
perintah beliau agar saya bergaul dengan orang-orang yang baik (saja)<br />
saat di perantauan dan larangan beliau agar saya tidak menjalin<br />
hubungan asmara tak sah berjudul pacaran. Subhanalloh! Saya trenyuh,<br />
kawan.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Betapa<br />
tidak, ketika kita sedang bergulat dengan berjuta aktivitas kehidupan<br />
di tanah perantauan, maka kita akan dihadapkan dengan berbagai jenis<br />
orang yang memiliki sifat, watak dan karakter yang beragam. kita<br />
harus pandai-pandai memilih teman bergaul. Karena ialah yang juga<br />
akan turut membentuk karakter dan sifat kita di daerah yang ”baru”<br />
tersebut. Ibarat kita berdekat-dekatan dengan penjual minyak wangi,<br />
maka besar kemungkinan kita akan terkena aroma wanginya. Begitu pula<br />
seandainya kita berdekat-dekatan dengan tukang pandai besi, maka<br />
setidaknya kita juga akan mendapatkan aroma ”sangit” hasil<br />
pembakaran.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Sesungguhnya,<br />
hanya orang-orang yang berimanlah yang layak menjadi teman bergaul<br />
kita. Mereka adalah orang-orang yang baik dalam arti sebenarnya.<br />
Mereka adalah orang-orang yang akan menemani kita dalam kesendirian,<br />
menjadi partner kita dalam beramal sholih, memberikan nasehat-nasehat<br />
berharga, mencontohkan akhlaq yang mulia dan menunjukkan kita pada<br />
jalan yang lurus seperti layaknya orangtua menasehati anaknya di saat<br />
ia berbuat salah dan khilaf. Mereka adalah orang-orang yang akan<br />
menjadi tempat bagi kita untuk mencurahkan segala keluh kesah, gundah<br />
gulanah, dan mau memahami permasalahan-permasalahan yang kita hadapi.<br />
Mereka adalah orang-orang yang selalu siap membantu dengan penuh<br />
keikhlasan di saat kita membutuhkan pertolongan. Mereka adalah<br />
sebaik-baik teman yang akan mengantarkan kita mendapatkan keselamatan<br />
di dunia maupun di akhirat. Bertemu dan bergaul dengan mereka adalah<br />
sebuah karunia besar yang Alloh Ta’ala limpahkan bagi kita.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE">“<font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Nak,<br />
janganlah kamu pacaran.” Pesan ini begitu singkat, tapi penuh<br />
makna. Betapa tidak, hidup di perantauan dalam kesendirian dan jauh<br />
dari orang tua membutuhkan kesabaran dan keistiqomahan yang luar<br />
biasa. Begitu banyak godaan yang dihadapi, baik berupa kejahatan,<br />
kemaksiatan, harta, jabatan, lingkungan yang kurang baik, hingga<br />
wanita bertebaran di sekeliling kita. Banyak di antara<br />
saudara-saudara kita yang telah terjebak dalam hubungan tak sah<br />
dengan lawan jenisnya (pacaran). Mereka menganggapnya sebagai sebuah<br />
aktivitas ”penjajakan” dengan dalih untuk mengetahui sifat lawan<br />
jenisnya tersebut, padahal sesungguhnya hal itu merupakan suatu<br />
bentuk kepengecutan dan kekerdilannya sendiri. Pacaran (sebelum<br />
pernikahan) adalah salah satu bentuk kemunafikan spiritual dan sosial<br />
terbesar yang pernah ada. Ketika melihat gaya hidup dan cara bergaul<br />
yang telah jauh dari nilai-nilai Islam di tanah perantauan, saya<br />
hanya mampu beristighfar dan memohon perlindungan kepada Alloh<br />
Ta’ala.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Dari<br />
perenungan ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari dua<br />
pesan nenek saya itu. Ya, memang cukup dua pesan. Namun, esensinya<br />
begitu mendalam dan bermanfaat. Saya jadi makin tersadar, bahwa<br />
sesungguhnya ketika saya sedang sibuk menjalani hari-hari dengan<br />
berbagai macam aktivitas, maka keluarga di kampung sedang menaruh<br />
harapan yang sangat besar kepada saya untuk menjadi orang yang<br />
terbaik dalam hidupnya. Keluarga tidak terlalu memikirkan apakah<br />
kelak saya menjadi orang yang paling kaya atau paling tinggi<br />
jabatannya, tapi lebih dari itu semua keluarga mengharapkan agar saya<br />
menjadi orang yang selamat di dunia dan dia akhirat, serta mulia di<br />
sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Maka, bagimana saya akan<br />
mengkhianati amanah ini? Dan saya pun sadar, bahwa sesungguhnya Alloh<br />
Ta’ala senantiasa memperhatikan segala gerak-gerik saya. Maka,<br />
bagaimana saya akan berbuat kemaksiatan dan pelanggaran?</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2">Akhirnya<br />
saya mengerti bahwa ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk<br />
itu semua. Saya harus terus belajar, menuntut ilmu agama sebagai<br />
bekal utama dalam menapaki hari-hari saya itu, kemudian mengamalkan<br />
apa yang telah saya pelajari tersebut, dan tak lupa saya juga harus<br />
menularkan ilmu saya itu kepada orang-orang di sekitar saya, agar<br />
orang-orang di sekitar saya menjadi orang-orang yang selamat di dunia<br />
dan dia akhirat, serta mulia di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala<br />
juga. Dan sebagai pendukung itu semua, maka saya harus mampu bersabar<br />
dalam menjalani itu semua, menghadapi berbagai cobaan dan gangguan<br />
dalam belajar, beramal dan berda’wah di jalan Alloh Ta’ala. Ya<br />
Robb, berikanlah kekuatan kepada hamba untuk bisa menjalankan segala<br />
perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu, di manapun dan kapan<br />
pun...</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><br>
</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify" lang="sv-SE"><font face="Tahoma, sans-serif"><font size="2"><i>Jurangmangu<br />
Timur, 17 Mei 2008 at 22.25</i></font></font></p></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[post..... post....]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=91</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 13:54:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/2008/09/06/post-post/</guid>
<description><![CDATA[lama sudah aku ndak ngupdated blogku tercinta ini&#8230; maapkan aku ya blum bisa mengupgrade dirimu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>lama sudah aku ndak ngupdated blogku tercinta ini... maapkan aku ya blum bisa mengupgrade dirimu.. oya silahkan <a href="http://www.flickr.com/photos/27409251@N02/?saved=1">klik disini</a>, untuk gambar kegiatan ku selama aku meninggalkan blogku.. ada yang aneh.. hm,,, dari pengkaderan sampai perpisahan dengan komting 07.. hm,, aku paling membenci perpisahan.. tapi sudahlah.. demi masa depan komting .. SELAMAT JALAN TEMAN!!! SEMOGA SUKSES....</p>
<p>Memang ndak enak ya mencintai tapi ndak dicintai..... mengapa menyesal selalu berada di belakang.. seandainya mereka tidak mengatakannya.. seandainya dia ndak pernah tahu... mungkin aku ndak perlu malu2 menyapanya melihatnya dan tetap bisa mengaguminya. tapi apa mau dikata.. dia sudah terlanjur tahu.. dan sepertinya dia ndak ...... hm,,, sebenarnya aku kepengen belajar ttg blog sm dia.. tapi rasa sungkan malu campur aduk menyapa aja aku takut... huwihhhh.... sudahlah aku harus tetap semangat!!! aku harus kembali ceria!!! walau kepingin rasanya aku bilang ke dia .... aku ***** dia,, walau aku yakin dia tidak bisa aku miliki... hm,,, sdahlah ellys.. knp penyakit melankolismu kembali lagi  ayo semangat di nikmati saja ini adalah bagian dari sebuah proses.. memng untuk bertemu dengan orang yang tepat untuk kita kita harus bertemu dengan orang yang belum tepat... terlebih dahulu... agar kita bisa lebh bersyukur kelak .... amin :-)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bulan Romadhon Pertama]]></title>
<link>http://efikabd.wordpress.com/2008/09/06/bulan-romadhon-pertama/</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 07:36:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>efikabd</dc:creator>
<guid>http://efikabd.id.wordpress.com/2008/09/06/bulan-romadhon-pertama/</guid>
<description><![CDATA[Al hamdulillah hari ini telah tiba waktunya bulan suci romadhan. tetapi pada hari pertama ini saya t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Al hamdulillah hari ini telah tiba waktunya bulan suci romadhan. tetapi pada hari pertama ini saya tidak bisa merasakan nikmatnya berpuasa dikarenakan sakit, sakitnya lumayan payah. selama 5 hari panas tak kunjung sembuh akhirnya saya ke rumasakit setia darma di Sindang Laut, di situ saya di periksa oleh dokter Shinta dan di suruh priksa darah dan rontgen setelah itu hasilnya bisa di lihat saya terkena Tifus. Aduh sakit panas repotnya kalo malam tidak bisa tidur, kasihan istriku yang tak lelah mengurusiku, muntahan yang hanya air saja. saya dari malam sampai pagi terus di pencet oleh istriku. terus menerus berturut-turut selama tiga hari. Al hamdulilah Ma Kamal tetangga sebelah datang buat memijit dan memberikan dukungan do'a akhirnya saya bisa tidur.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menutup luka.........dan kenangan]]></title>
<link>http://amaliabismillah.wordpress.com/?p=53</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 06:32:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>amalia anwar</dc:creator>
<guid>http://amaliabismillah.id.wordpress.com/2008/09/06/menutup-lukadan-kenangan/</guid>
<description><![CDATA[Menutup luka yang dan kenangan dihatiku memang aku rasa amat sangat sulit. Apalagi jika kenangan itu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Menutup luka yang dan kenangan dihatiku memang aku rasa amat sangat sulit. Apalagi jika kenangan itu bersama atau berkaitan dengan sesorang yang aku cintai, seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Charger my spirit, the man who open my eye about the world....the man who teach me the meaning about life, teach me about religion knowledge, etc.</p>
<p>Dan menutup luka, apalagi kalau yang menggores luka itu adalah orang yang dicintai pula. Rasanya sunggguuuuhhhh.....perihhh....sakit...tak dapat aku lukiskan dengan kata-kata, dan tulisan.</p>
<p>Dulu, waktu aku masih SMP, aku bertanya pada Ibuku.... "Bu, apakah benar... sakit gigi itu lebih baik daripada sakit hati???" tanyaku. Ibuku lalu menjawab " Ya. Sakit gigi, nyerinya bisa reda dengan cuma kamu kasih <em>paracetamol</em>, tapi kalau sakit hati....nyari obatnya susah, dan bikin bunuh diri" jawab Ibuku.</p>
<p>Ternyata, seperti lagunya <em>Om Meggy Z</em> "Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.............."</p>
<p>Dan, aku baru mengerti tentang sakit hati setelah aku sendiri mengalaminya. Aku baru bisa memahami apa yang dikatakan Ibuku, dan isi lagu Om Meggy Z itu.....</p>
<p style="text-align:center;">UNTUK;"A.D" yang ada nun jauh disana.........</p>
<p style="text-align:center;">Yang menggoreskan luka dihati, yang dulu pernah ada rindu di hati... dan kenangan-kenangan  lalu</p>
<ul>
<li><em><strong>Jauh kau pergi, meninggalkan diriku....disini aku, merindukan dirimu.....pernah kucoba mencari penggantimu, namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih.......</strong></em> <strong> [Caramel Band-Tinggal Kenangan]</strong></li>
<li><em><strong>Tapi kini, dia menghilang..dan tak tahu entah dimana...diaryku kumerindukannya.....pujaanku engkau ada dimana............ </strong></em> <strong> [Ratu - Dear Diary]</strong></li>
<li> <strong><em>Hoo...aku hanya ingin kau tahu...besarnya cintaku....tingginya hayalku bersamamu.... tuk lalui waktu yang tersisa kini...disetiap hariku.....disisa akhir nafas hidupku,....ooohh......... </em></strong> <strong> [Repvblik - Hanya ingin kau tahu]<br />
</strong></li>
<li><strong><em>Ku kan slalu ada didekatmu, aku kan slalu menemani harimu.....kau harus tahu....betapa aku mencintaimu................</em></strong> <strong> [ Vagetoz - Betapa aku mencintaimu ]<br />
</strong></li>
</ul>
<ul>
<li><em><strong>Andaikan ku dapat, mengungkapkan...perasaanku..hingga membuat kau percaya.....akan kuberikan seutuhnya..rasa cintaku....selamanya.....selamanya........</strong></em> <strong>[ Yana Julio - Selamanya Cinta ]</strong></li>
</ul>
<p>Dan, untuk itu.....untuk harapan cintaku yang berikutnya, cintaku yang lebih baik............</p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>MENATAP INDAHNYA SENYUMAN..DIWAJAHMU</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>MEMBUATKU TERDIAM DAN TERPAKU.......</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>MENGERTI AKAN HADIRNYA CINTA TERINDAH...</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>SAAT KAU PELUK MESRA TUBUHKU......</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>BANYAK KATA....YANG TAK MAMPU KUUNGKAPKAN...</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>KEPADA DIRIMU.......</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>AKU INGIN ENGKAU SLALU.... </strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>HADIR DAN TEMANI....AKU</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>DISETIAP LANGKAH...YANG MEYAKINIKU....</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>KAU TERCIPTA UNTUKKU..... </strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>MESKI WAKTU AKAN MAMPU....</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>MEMANGGIL SLURUH RAGAKU...</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>KUINGIN KAU TAHU.... KU SLALU MILIKMU.... </strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>YANG MENCINTAIMU....</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>SEPANJANG HIDUPKU...................... </strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><strong>[ UNGU - TERCIPTA UNTUKKU ]</strong></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Entah, siapapun yang akan menjadi cinta terindahku........ tapi aku berharap, cinta ini tak kan membuatku sakit hati lagi... akan menjadi start rute cinta yang indah, dan mendapat barokah dari Allah..................</p>
<p style="text-align:left;"><em><strong>BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!</strong></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[Curhatku] Apa...]]></title>
<link>http://yettiye.wordpress.com/?p=80</link>
<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 02:04:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yetti Suci Budihastuti</dc:creator>
<guid>http://yettiye.id.wordpress.com/2008/09/05/curhatku-apa/</guid>
<description><![CDATA[Ya Allah&#8230;
 
Apa yang kurasakan saat ini?
Apa yang sebenarnya aku inginkan saat ini?
Apa yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ya Allah...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang kurasakan saat ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang sebenarnya aku inginkan saat ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang harus kulakukan saat ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku merasakan takut...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Takut kehilangan dirinya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Takut kehilangan cintanya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Takut jika sosok itu akan pergi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Pergi jauh meninggalkan diriku...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Sendiri di sini...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku menginginkan dirinya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Hanya untukku...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> di sampingku...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku menginginkan cintanya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Hanya untukku...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tak akan pernah berkurang ataupun hilang...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku ingin berada di sampingnya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Selamanya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Mendampinginya dalam suka dan duka...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dalam senang dan sedih...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dalam tangis dan tawa...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tapi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku masih tetap belum tahu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang harus aku lakukan...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ya Allah...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apakah aku harus mengikatnya erat-erat...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Membelenggunya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menyimpannya di dalam suatu tempat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Sehingga dia tak akan pernah pergi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ataukah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku harus membiarkannya bebas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Seperti kupu-kupu yang terbang di langit bebas...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Agar dia dapat hinggap dimanapun yang dia suka...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Walaupun mungkin dia tak akan pernah lagi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Hinggap di kebun bungaku... selamanya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku tak tahu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ya Allah...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Mungkin sekarang ini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku hanya bisa pasrah...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Yang bisa aku lakukan sekarang ini adalah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menjalani yang sudah ada...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menjaga yang sudah ada...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Sebaik-baiknya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Semoga saja...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang sudah ada ini...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang sudah kujaga selama ini...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Akan menjadi indah pada waktu yang telah KAU tentukan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Nanti...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Kapan pun itu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa pun itu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Bagaimana pun itu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ya Allah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Berilah aku kekuatan untuk menghadapi ini semua…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Agar aku bisa lebih tegar…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Lebih kuat…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[4 Ramadhan 1429 H.. Ketika umurku menginjak 20 tahun dalam hitungan kalender Hijriah]]></title>
<link>http://fitrirachmawati.wordpress.com/?p=72</link>
<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 08:56:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>fitrirachmawati</dc:creator>
<guid>http://fitrirachmawati.id.wordpress.com/2008/09/04/4-ramadhan-1429-h-ketika-umurku-menginjak-20-tahun-dalam-hitungan-kalender-hijriah/</guid>
<description><![CDATA[
When I was child with my luvly mum
Hari ini tanggal 4 September, bertepatan dengan 4 Ramadhan.. Bag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fitrirachmawati.wordpress.com/files/2008/09/when-i-was-child-with-my-lovely-mum1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-76" src="http://fitrirachmawati.wordpress.com/files/2008/09/when-i-was-child-with-my-lovely-mum1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:center;">When I was child with my luvly mum</p>
<p>Hari ini tanggal 4 September, bertepatan dengan 4 Ramadhan.. Bagiku, hari ini adalah hari yang spesial untukku..</p>
<p>20 tahun yang lalu (dalam hitungan kalender Hijriah), alhamdulillah dengan rahmatNya dan izinNya seorang ibu dapat melahirkan seorang anak perempuan dalam keadaan sehat pada pukul 23.55. Saat itu, tanggal 4 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 10 April 1989. Ya, anak itu adalah aku, Fitri Rachmawati. Asal mula namaku Fitri Rachmawati adalah penggabungan dari pemikiran kedua orang tuaku. Nama Fitri diberikan oleh mama karena bulan Ramadhan dekat dengan hari raya Idul Fitri (padahal kan baru tanggal 4 Ramadhan).. sedangkan Rachma karena aku lahir pada 10 hari pertama yaitu 10 hari pertama di bulan Ramadhan adalah bulan Rahmat.. dan wati.. ya.. karena fitri kan wanita, kalo wan atau wato, ga tau de itu apa.</p>
<p>Alhamdulillah Allah mengizinkan aku dilahirkan ke bumi ini. Ada cerita ni dari mama dan papa waktu mama sedang mengandungku. Waktu itu mama pernah jatuh di kamar mandi dan terjadi pendarahan yang cukup besar. Spontan saja, papa langsung bawa mama ke rumah sakit. Kemudian, dalam waktu 1 x 24 jam ternyata janin di dalam kandungan itu sama sekali tidak bergerak! Bisa dibayangkan bukan rasa paniknya seandainya kita mengalami hal seperti itu jika itu terjadi di keluarga kita? Apalagi, dokter pun malah mengatakan hal yang seharusnya tidak diucapkan kepada pasiennya. Kira-kira begini perkataannya yang dikutip oleh mamaku, "Bu, maaf bu, tapi jangan terlalu berharap pada kondisi janin ibu". Tentu saja, mama langsung menangis mendengar hal tersebut. Tapi, alhamdulillah ternyata janin itu masih hidup, setelah 24 jam, janin itu mulai menunjukkan pergerakan yang menyatakan bahwa ternyata janin itu masih hidup dan sampai sekarang pun Allah masih memberikan rahmatNya untuk kehadiranku di dunia ini.</p>
<p>Semoga di hari ini, fitri bisa membuat resolusi terbaru bagi kehidupanku agar hidupku di dunia ini bisa semakin baik dan bermanfaat, tidak sia-sia.</p>
<p>Terima kasih untuk mama dan papa yang telah menjagaku dan membimbingku dari aku kecil, semoga anakmu ini kelak bisa memberikan kontribusi terbaiknya bagi keluarga, bangsa, dan Islam. Semoga kelak anakmu ini bisa membuat mama dan papa bangga. Dan untuk teman-temanku semoga aku bisa menjadi teman yang baik bagi kalian..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rasa Itu...]]></title>
<link>http://yettiye.wordpress.com/?p=69</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:55:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yetti Suci Budihastuti</dc:creator>
<guid>http://yettiye.id.wordpress.com/2008/09/02/rasa-itu/</guid>
<description><![CDATA[Cinta&#8230;
 
Rasa itu datang di saat aku sedang tidak mencarinya
Rasa itu datang tiba-tiba
Tanpa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Cinta...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasa itu datang di saat aku sedang tidak mencarinya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasa itu datang tiba-tiba</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tanpa permisi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ataupun <em>kulonuwun</em>...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tapi, jujur...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku menikmati rasa itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasa yang tiba-tiba datang itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Rasa yang kau tawarkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">dan aku...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menerimanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku nikmati hari-hariku yang penuh dengan cinta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Cinta yang aku terima</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Cinta yang kau berikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Cinta yang diisi dengan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tawa...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tangis...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Senang...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Sedih...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Semua rasa bercampur menjadi satu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dengan rasa itu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku bisa berubah...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku bisa menahan...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku bisa belajar...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Berubah menjadi apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Berubah menjadi orang yang lebih sabar...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menahan apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menahan semua egoku...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Belajar apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Belajar untuk mencintai...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Mencintai dirimu apa adanya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menyayangi dirimu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Menerima dirimu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku mencintai, menyayangi dan menerima dirimu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Baik itu keburukan maupun kebaikanmu...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ketika masalah datang...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Kau tetap di sampingku untuk memberikan dukungan kepadaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tolong... Jangan pergi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Dan aku pun...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Akan tetap berada di sampingmu dalam suka maupun duka...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tanpa kau minta sekalipun...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tolong... jangan menolaknya...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tapi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ketika rasa itu pergi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang akan terjadi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Atau...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Ketika rasa itu harus dipaksa pergi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Apa yang akan terjadi pula?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Jujur…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku tak tahu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Aku tak tahu apakah aku bisa…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Bisa membiarkan rasa itu… jika rasa itu harus pergi ataupun dipaksa pergi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Tidak ada dari aku maupun dirimu yang mengharapkan itu terjadi khan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Jadi...</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Maukah kau menjaga rasa itu bersamaku...?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">PS:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Abang...</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Abang tahu yang Eneng rasakan... begitu juga Eneng… Eneng ingin kita lalui ini bersama-sama Bang…Jangan menghindar dari Eneng…</span></span></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan...]]></title>
<link>http://yettiye.wordpress.com/?p=67</link>
<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 08:49:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yetti Suci Budihastuti</dc:creator>
<guid>http://yettiye.id.wordpress.com/2008/08/29/ramadhan/</guid>
<description><![CDATA[Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan.
“]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh</p>
<p>Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan.</p>
<p>“Ahlan wa sahlan ya Ramadhan! Selamat datang wahai bulan Ramadhan! Bulan penuh berkah!”</p>
<p>Marhaban ya Ramadhan,</p>
<p>Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim,<br />
Marhaban Ya Ramadhan<br />
Allaahumma baariklanaa fi Sya’ban wa ballighnaa Ramadhan<br />
Amin.<br />
Selamat menjalankan Ibadah Shaum Ramadhan 1429 H</p>
<p>SEMOGA KITA DAPAT MENJALANKAN IBADAH PUASA DENGAN OPTIMAL DAN MENCAPAI DERAJAT TAQWA YANG SESUNGGUHNYA.</p>
<p>AMIN... AMIN Ya ROBBAL 'ALAMIN...</p>
<p>Sucikan hati tuk menyambut bulan suci, mohon maaf atas segala kesalahan.</p>
<p>Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh</p>
<p>.: Yetti Suci Budihastuti :.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[cerita ndak penting 2]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 14:26:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/?p=77</guid>
<description><![CDATA[wuih&#8230; capek juga jd orang penting&#8230; atau lebih tepatnya mendadak penting selain tiba2 jd ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>wuih... capek juga jd orang penting... atau lebih tepatnya mendadak penting selain tiba2 jd sekretaris pengkaderan ditambah tiba2 dikasih amanah jd bendahara departemen di BEM MIPA tapi hrs SEMANGAT !!!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masih adakah rasa pratriotisme  di negeri ini]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=73</link>
<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 11:31:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/2008/08/18/masih-adakah-rasa-pratriotisme-di-negeri-ini/</guid>
<description><![CDATA[Hm,, pengen jg aku jadi tukang komen&#8230;. Dirgahayu INDONESIA!!!! Merdeka!!! Namun masih adakah r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hm,, pengen jg aku jadi tukang komen.... Dirgahayu INDONESIA!!!! Merdeka!!! Namun masih adakah rasa cinta tanah air di negeri ini? Setidaknya ini yang aku lihat di upacara kenegaraan di istana negara kemaren yah... dari Televisi maksudnya. Dengan penampilan paskibraka yg top2.... sang saka merah putih<span> </span>berkibar dengan gagah.. tapi apa yang terjadi saat prosesi <span> </span>pengibaran bendara dilaksanakan...?<span> </span>Saat lagu kebangsaaan Indonesia Raya dikumandangkan kemaren,,, banyak para pejabat yang enggan mengangkat tangannya menghormati sang merah putih,,, terutama ibu2... huuh.. klo para petinggi2 negara ndak mau menghornati negaranya sendiri apalagi rakyatnya,, baik yang jelata maupun yang melata.. ? para pemuda yang berdemo ngaku2 membela negara tapi males2an ikut upacara,, banyak juga yang ndak hapal lagu Indonesia Raya atau pun sila pancasila.. (apalagi mengamalkannya?) dan kayaknya hari kemerdekaan sekarang cm menjadi sebuah ceremonial.. hm,,, gmana ya perasaan para pahlawan yang telah meninggal demi kemerdekaan Indonesia? Bangsa yang mati2an mereka perjuangkan,,, cm jd tempat berpesta2... tempat subur bagi para koruptor,,, tempat hidup yang sulit bagi para veteran ...dll? Sedang ndak ada sama sekali apresiasi pada jasa para pahlawan dan rasa<span> </span>syukur pada Tuhan YME.... ehm,, semoga negara ini akan maju<span> </span>dan jadi lebih baik. AMIEN!! DIRGAHAYU INDONESIAKU Ke-63.. BANGKIT INDONESIA...?!! </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Faktor N]]></title>
<link>http://evanbumiayu.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 09:37:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>evanbumiayu</dc:creator>
<guid>http://evanbumiayu.id.wordpress.com/2008/08/17/faktor-n/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang sering ditanyakan kepada seseorang yang telah lulus kuliah? Kita bermain survei kecil-kecil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang sering ditanyakan kepada seseorang yang telah lulus kuliah? Kita bermain survei kecil-kecilan, yuk!</p>
<p>Bagaimana seminarnya? Gimana rasanya pendadaran atau ujian kompre, menyenangkan atau malah bikin kepala pusing tujuh keiling, disertai jantung berdebar tak karuan? Atau, mau kerja di mana? Mau buka usaha apa? Oh ya, mau lanjut kuliah di mana?</p>
<p>---</p>
<p>Berdasarkan hasil survei dan observasi yang dilakukan oleh saya sendiri terhadap sejumlah responden dari berbagai latar belakang pendidikan, karakter dan lifestyle, pertanyaan I mendapat porsi sekitar 5%, disusul pertanyaan II 7%, pertanyaan III 15%, pertanyaan IV 10% dan pertanyaan terakhir 13%. Lho, kok gak pas 100%? Tenang, ada satu pertanyaan yang masih belum di-publish, dan ternyata pertanyaan ini malah mendapat porsi yang cukup besar di kalangan muda-mudi lulusan kuliahan, bahkan yang belum lulus sekalipun. 50%. Mau tau?</p>
<p>Seorang adik tingkat saya kebetulan masih kuliah. Baru semester dua. Lagi semangat-semangatnya mencari jati diri, ilmu dan pengalaman. Mungkin karena sering membaca artikel, buku atau mengikuti kajian-kajian yang bertemakan “Faktor N”, jadinlah ia seseorang yang sering berangan-angan untuk menuju “ke sana”. Apalagi ditambah kegandrungannya pada nasyid-nasyid yang bertemakan Faktor N itu. Yang mendayu-dayu, membuat alam pikirannya melesat jauh ke angkasa di langit yang biru.</p>
<p>Ada teman saya juga. Usianya sudah cukup matang, dua puluh tujuh tahun lebih sedikit. Dia sering curhat sama saya. Kenapa si “dia” tak kunjung tiba? Sudah berusaha berikhtiar beberapa kali, tapi hasilnya masih nihil. Akhirnya, dalam kesendiriannya ia sering menghibur dirinya dengan mendengarkan nasyid-nasyid yang bertemakan Faktor N itu juga. Mendayu-dayu. Membuat hatinya makin menangis, jiwanya sedikit-demi sedikit mulai rapuh, apalagi kalau mendengar ada rekannya yang menuju “ke sana”. Oalah…saya pernah sarankan dia untuk tetap bersabar dan terdoa, memohon kepada Alloh Taála agar diberikan jalan yang terbaik baginya. Saya katakan juga bahwa hentikan nasyid-nasyid yang mendayu-dayu itu, gantilah dengan menyimak murottal Al Quran, atau bisa diselingi dengan mendengarkan nasyid-nasyid yang hard rock’y (semoga saya tidak dikatakan sebagai golongan harokiyyun dan hizbiyyun yang berkonotasi negatif itu), agar hatinya makin kuat, jiwanya makin bersemangat.</p>
<p>Saya juga korbannya. Korban pertanyaan tentang Faktor N itu. Tak lama setelah saya lulus kuliah, pertanyaan yang satu ini sering terlontar dari rekan-rekan dekat atau saudara-saudara saya. Apalagi akhir-akhir ini, frekuensinya makin kuat dan santer. Sahabat-sahabat terdekat saya lagi-lagi bertanya tentang Faktor N kalau pas telepon, sms, kirim comment di fs atau email. Teman-teman saya yang telah mendahului saya menuju ”ke sana” juga tak mau kalah dalam mengkompor-kompori. Wah, pussiiiing....</p>
<p>Sesungguhnya, saya bukanlah orang yang antipati terhadap Faktor N ini. Justru saya sangat senang sekali kalau ada teman atau siapa saja yang telah siap dan berniat untuk menuju ”ke sana”. Siapa sih yang tak mau mendapatkan kesempurnaan separuh diin, pahala jihad fii sabilillah dengan tidak maju ke medan perang, ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman hidup? Siapa sih yang tidak mau memiliki belahan jiwa, teman sejati yang akan selalu siap dua puluh empat jam setiap hari menjadi tempat curahan hati kita dalam suka maupun duka? Sungguh kebahagiaan yang begitu indah, nikmat yang begitu besar dan kebaikan yang Alloh Taála turunkan kepada kita ketika kita bisa mencapai dan menjalani Faktor N itu. Dan saya pun tentu berharap mudah-mudahan segera didekatkan dengan karunia ini, sedekat-dekatnya.</p>
<p>Namun, itu semua butuh proses. Butuh persiapan. Dan juga, butuh waktu. Ada perencanaan-perencanaan yang harus dibuat. Ibarat orang mendirikan sebuah gedung, butuh persiapan-persiapan yang matang mulai dari pembuatan gambar teknik, perencanaan tenaga kerja dan biaya, pembuatan pondasi, hingga proses finishing dan pengujian kelayakan gedung. Faktor N bukan hanya sekedar bahan pertanyaan yang biasa-biasa saja, tetapi seharusnya menjadi pertanyaan yang bernilai istimewa.</p>
<p>Mendirikan bangunan gedung tidaklah semudah membuat gubuk bambu di tengah sawah. Ia harus tahan terhadap berbagai ancaman gempa, angin topan, badai dan berbagai macam depresiasi. Perlu pondasi dengan konstruksi dan tiang pancang yang kuat. Perlu dinding yang tebal dan kokoh. Perlu atap yang tahan terhadap panas dan hujan dalam waktu yang cukup lama, kalau bisa sampai akhir zaman. Dan tentunya, perlu desain interior dan eksterior yang indah, agar para penghuni gedung pun merasa betah dan nyaman tinggal di dalamnya. Mereka bisa bekerja dengan baik dan optimal untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Bahkan, seharusnya produk-produk mereka bisa menguasai pangsa pasaran dunia.</p>
<p>Penasaran dengan Faktor N?</p>
<p>Faktor N adalah faktor nikah, dalam artian sebuah pembicaraan tentang pernikahan. Dan saya menganalogikan pernikahan dengan proses pendirian bangunan gedung. Pondasinya adalah Aqidah. Dindingnya adalah Islam. Atapnya adalah Ihsan. Para penghuninya adalah diri kita, istri dan anak-anak kita. Ketika kita bisa membangun mahligai rumah tangga yang ditopang dengan kuatnya hujaman Aqidah, kokohnya jiwa Islam dan tahannya pemahaman Ihsan, maka insyaAlloh keluarga kita akan menjadi the agent of change dari umat ini. Rumah tangga yang dari setiap pintu rumahnya akan menebarkan rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>Semoga, saya dan Anda semua bisa merealisasikan cita-cita ini. Cita-cita untuk menyegerakan Faktor N; cita-cita untuk membangun bangunan gedung ”rumah tangga” yang kuat, kokoh dan tahan; serta cita-cita untuk menebarkan rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>Dan, kini tibalah saya mem-publish pertanyaan yang mendapatkan porsi 50% dalam survei kecil-kecilan yang saya lakukan. Semoga Anda pun bisa segera ikut menjawabnya. Kapan Anda menikah?</p>
<p>Yogyakarta, 11 Agustus 2008 at 22.50</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[aku]]></title>
<link>http://amaliabismillah.wordpress.com/?p=39</link>
<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 09:06:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>amalia anwar</dc:creator>
<guid>http://amaliabismillah.id.wordpress.com/2008/08/16/aku/</guid>
<description><![CDATA[aku, ngerasa nggak ada yang spesial deh, dari diriku ini
Cantik juga enggak, brillian juga enggak,
t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>aku, ngerasa nggak ada yang spesial deh, dari diriku ini</p>
<p>Cantik juga enggak, brillian juga enggak,</p>
<p>terus apa ya ? yang bisa kubanggakan pada diriku sendiri??????</p>
<p>Syukur!!!</p>
<p>Ya, syukur!!!!!!</p>
<p>bersyukur pada Allah!!!</p>
<p>aku bangga, aku masih bisa bersyukur pada Allah, atas apa yang telah Allah karuniakan padaku!!!!!!</p>
<p>karena dengan bersyukur, aku bisa menikmati semua ini....</p>
<p>Dan aku semakin cinta pada Allah...................</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[shocking week ]]></title>
<link>http://ellthyas.wordpress.com/?p=65</link>
<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 12:18:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>ellthyas</dc:creator>
<guid>http://ellthyas.id.wordpress.com/2008/08/13/shocking-week/</guid>
<description><![CDATA[aku jd ndk ngerti kenapa rasanya minggu ini begitu aneh.. setidaknya itu yang aku rasakan. aku jg nd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>aku jd ndk ngerti kenapa rasanya minggu ini begitu aneh.. setidaknya itu yang aku rasakan. aku jg ndak ngerti aku menyebutnya sbg anugrah atau musibah. sekedar mengusir kesepianku yang STMJ ini (semester tiga masih jomblo) aku pengen belajar berorganisasi setidaknya aku bisa terhibur krn tmn2ku jd lbih bnyk dan jg menghindari pembicaraan tentang aku yg dari setahun yg lalu msh sendiri. huih... tapi capek jg banyak sekali PR yg hrs aku kerjakan.. disaat dulu aku bersantai2 sekarang super sibuk dgn sgla kegiatan,, entah itu krn amanah yg secara tiba2 hrs aku emban sebagai sekretaris pengkaderan atau amanahku sebagai staf BEM MIPA,, dengan semua proker2nya.. lama2 aku jenuh jg dengan itu semua.. tp y bagaimana lagi namanya juga amanah... SEMANGAT ya liz!! setidaknya itu yg bs aku lakukan tuk menyemangati diriku sendiri.. apalagi baru saja mengalami insiden yang membuatku sangat bersedih semua data2 di komputerku semua hilang,,, kayaknya aku harus mencari buku la tanzhan " Jangan bersedih" nih!! SEMANGAT YA LIS CAYO!!! AYO KM PASTI BISA !</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
