<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cipta-rasa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/cipta-rasa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cipta-rasa"</description>
	<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 23:06:40 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Partai Oblong Gretong]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=729</link>
<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 16:11:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2008/08/02/partai-oblong-gretong/</guid>
<description><![CDATA[Gara-gara ane nulis tentang Bahasa Enggris, dapet satu Cakram Kilat 2Gb [bukan segiga seperti yang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><!--[if !mso]&#62;--><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Gara-gara ane nulis <strong><a href="http://bcnow60.org/news/admin/pemenang-entri-tentang-bahasa-inggris/" target="_blank">tentang Bahasa Enggris</a></strong>, dapet satu Cakram Kilat 2Gb [<strong><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/07/11/satu-gajah-bengkak-dari-bc/" target="_blank">bukan segiga seperti yang diumumkan</a></strong>] dari British Council.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Dan rupanya ketika kuesioner pun diisi dari lembaga yang sama ane dapet lagi bingkisan apik. Lumayan <em>timbang tuku</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">[*muka gretongan MODE ON*]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">:mrgreen:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://kopidangdut.files.wordpress.com/2008/08/dsc01798.jpg"><img class="size-medium wp-image-730  aligncenter" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/08/dsc01798.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
[caption id="attachment_731" align="aligncenter" width="300" caption="oblong partai, partai oblong"]<a href="http://kopidangdut.files.wordpress.com/2008/08/dsc01803.jpg"><img class="size-medium wp-image-731" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/08/dsc01803.jpg?w=300" alt="oblong partai, partai oblong" width="300" height="225" /></a>[/caption]
[caption id="attachment_733" align="aligncenter" width="300" caption="Nyaman buwat selonjooor..!"]<a href="http://kopidangdut.files.wordpress.com/2008/08/dsc018001.jpg"><img class="size-medium wp-image-733" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/08/dsc018001.jpg?w=300" alt="Nyaman buwat selonjooor..!" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p class="MsoNormal"> </p>
[caption id="attachment_734" align="aligncenter" width="300" caption="apalagi buwat sarung..!"]<a href="http://kopidangdut.files.wordpress.com/2008/08/dsc01799.jpg"><img class="size-medium wp-image-734" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/08/dsc01799.jpg?w=300" alt="apalagi buwat sarung..!" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>:lol:</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sup ]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=564</link>
<pubDate>Sun, 18 May 2008 18:51:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2008/05/19/sup/</guid>
<description><![CDATA[Antara jam 4 pagi hingga jam 10 menjelang siang adalah jam tersibukku. Sarapan yang harus kuhidangka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Antara jam 4 pagi hingga jam 10 menjelang siang adalah jam tersibukku. Sarapan yang harus kuhidangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku berjalan menyusuri lorong. Kedua tanganku sibuk membawa nampan berisi <em>boullabaise</em>, sup Rusia dengan bahan dasar ikan. Asap mengepul-ngepul. Ikan ini asli aku dapatkan dari nelayan Juwana, tak lebih dari 2 jam yang lalu. Masih <em>fresh</em>. Salah satu rahasia cara memasak andalanku. Hmmm..pasti lezat. Aroma Juwana seakan-akan bercampur aduk dengan cita rasa lapangan Gorky. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Semua tamu memberikan perhatian padaku. Tentu saja mereka bertanya-tanya sup apalagi yang kuhantarkan pada lambung mereka pagi ini. Ah, bukan lambung, namun kuperkenalkan lidah desa mereka yang hanya paham masakan Prancis, Cina, Turki dan Amerika dengan masakan metropolis sejati. Bolehlah duit mereka berlebih, namun cita rasa lidah yang tak istimewa. Maka saatnya mereka paham siapa aku ini. Jangan meremehkan koki dalam kota. Siapa bilang koki terbaik hanya ada di Jakarta dan Surabaya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Siapa lagi yang mampu memasak berbagai sup dari segala penjuru dunia bila bukan aku. Seluruh hotel mengenal betul hal ini. Saatnya seluruh tamu menyadarinya. Di sebuah sudut kota pantura berdiri seorang koki luar biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya, aku adalah sang juru masak pada hotel berbintang di sebuah kota yang tak perlu kusebutkan namanya. Jelas kalau ada istilah juru masak dan bukannya <em>chef</em> dalam restoran hotel, maka aku tidak berkerja pada hotel besar, mewah, necis dan megah. Namun setidaknya bukan berarti hotel kelas kambing, apalagi kelas bebek yang becek dan cuma penuh buat tempat esek-esek.</span><!--more--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karena temanku, Timbil, yang bekerja pada losmen seperti itu, selain menjadi juru masak pagi hari, juga sekaligus sebagai pegawai wasdrei siang hari, dan pencuci mobil tamu losmen di malam hari. <em>Three in one</em> dengan gaji <em>one for three</em>, gaji sebulan untuk hidup tiga minggu. Sisanya aku pastikan berasal dari tips perempuan-perempuan penglaris losmen. Tentu saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku lulusan sekolah memasak di Bandung. Tepatnya sekolah perhotelan. Jadi jangan pernah anggap enteng dengan kemampuanku ini. Apakah Tuan pernah menikmati <em>mulligatwany soup</em> khas India atau <em>bortsch</em>, sup andalan dari Polandia. Juga Anda, nyonya jelita, apakah pernah menikmati <em>Stchy</em>, favoritku terkini. Sup dengan biet merah, <em>cream</em> dan zurkol yang dihidangkan menggunakan susu yang dihilangkan airnya sampai kental dengan warna kuning <em>komatsu</em>. Warna khas yang ada di kendaraan berat pengeruk batubara dan tembaga asal Jepang itu. Ya, warna kuning semacam itu. Persis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Silahkan Bapak pesan sup apa saja, dan kuberikan segalanya. Dunia yang tergeletak pada sebuah mangkuk. Bapak tinggal seruput saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Ah, aku gak percaya sama pemasak..biasanya mereka gay..Andaipun normal-normal saja, pasti bakalan gak menghargai masakan istri dan bisa-bisa dapur bukan lagi wilayah otoritas kami..” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya. Satu-satunya kelemahanku adalah masalah asmara. Tentu saja dengan perempuan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Jangan-jangan uang belanja pun diaudit nanti, karena sembako di pasar sudah hapal di luar kepala..Malas ah memadu kasih denganmu, apalagi menjadi suami..tapi kalau memadu cinta bolehlah…”. Sial, ia mulai menggoda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sudah beberapa kali kutemui perempuan semacam ini. Takut bersuami seorang koki. Ah, perempuan sekarang kelihatannya saja yang mewarisi karakter Kartini sejati. Tapi nyatanya terlalu Ibu Tien. Banyak maunya dan ingin berkuasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Aku pernah lihat blog-mu. Tak kusangka selain jago masak, kamu juga penulis ya. Walaupun blog-mu berisi resep-resep boga semua..”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada suatu senja yang luang kubertatap muka dengannya. Perempuan senja biasanya kusebut. Duduk dengan leluasa, jemarinya menyelipkan sebatang rokok mungil yang selalu dihisapnya seusai berkata. Bukan kretek, juga bukan menthol. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Ah, sekadar buah pena. Kasihan ibu-ibu jaman sekarang, susah sekali punya waktu luang untuk memasak. Maka kubuatkan resep cepat saji yang sehat dan nikmat tak kentara. Itu saja.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kulihat perempuan senja menyalakan rokoknya lagi. Entah untuk yang keberapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bangku dan meja berderet acak. Dalam ruangan berpendingin udara yang luas. Hanya kami berdua di sini. Restoran yang sepi. Ah, ini bukan restoran. Ini hanya warung bagiku dengan ruangan berlebih dan ornamen tak karuan. Sepi. Pasti tak ada aneka sup tersedia di sini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Lalu, mengapa kamu selalu menuliskan cerita di blog-mu akhir-akhir ini..? Bukankah kamu dahulu selalu menulis isu-isu terkini?..Bahasa protesmu berkarakter, jitu dan lugas..Walaupun cerpenmu ndak buruk-buruk amat” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku berkomentar tentang blog-nya. Kulihat tahi lalat di pipi kirinya. Selain di wajah, kutahu ada lebih dari lima pada sekujur tubuhnya. Yang paling menarik tentu saja yang ada di paha kirinya. Mengapa aku tahu letaknya dengan akurasi tinggi, biar aku saja yang memahaminya pasti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Jaman sekarang susah sekali untuk menulis pendapat bila kita bukan wartawan. Ada undang-undang Informasi Transaksi Internet Luarnegeri atau disingkat ITI#. Brengsek! Maka aku memakai resep SGA saja. Seno Gumira Ajidarma”. Mukanya menyerungut. Penuh ekspresi kecewa. Tapi entah mengapa aku jadi merasa ingin segera memagut bibirnya atau meloncat ke kamar mandi saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“SGA itu keren”, lanjutnya. “Berita yang dibungkus dalam jalinan sastra. Dia terinspirasi oleh kitab Negarakertagama lho, yang katanya merupakan karya sastra yang berisi peristiwa jaman itu yang penuh penderitaan. Konon katanya kitab yang ditulis Prapanca itu berisi kisah di luar istana. Sapi kurus kering sebesar kambing. Rakyat yang kelaparan. Jauh dari suasana dalam istana. Untuk mengecoh raja, maka dibuatlah cerita, bukan berita. Jangan buat berita, buatlah cerita..Mana ada sih pengarang yang ditangkap karena bertutur.?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan retoris yang manis. Tapi kamu lupa. Cekoslovakia di masanya pernah memenjara Bung Havel. Bukankah kamu pun tahu pasti, orang Blora kita pernah dibuang ke Digul semata-mata karena cerita. Tapi tak apalah. Bahan makanan baik pun bila salah bumbu bisa tak bercita rasa. Namun tak meracunimu. Cukup aman bagiku. Salah sedikit tak mengapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Ya, aku merasakannya saat membaca Jazz Parfum dan Insiden”. Ada penekanan keluasan wawasan sastraku. Lihat lah perempuan senjaku. Koki pun paham sastra negeri ini. Jadi, kapan kamu mau merapat di kamarku? Pikiranku makin berantakan. Kubayangkan lekuk kurva sempurna dadanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Seperti dalam ilmu periklanan. Bila produk tidak diperkenalkan dalam sebuah reklame, brosur atau bujuk rayu berbusa-busa dalam televisi melainkan sudah menjadi substansi berita, maka itu adalah keberhasilan sebuah produk… Ada aroma manipulatif tentu saja.” Ah, ia sekarang menyerempet teori advertising. Sempurna. Pasti lenguhannya pun panjang. Pasti goyangannya berirama. Pasti punya banyak variasi posisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Jadi maksud kamu blog kamu yang berisi cerita pun sebetulnya menyampaikan sebuah gagasan kritis? Apakah pembaca sudah sampai ke arah sana? Yakin pesanmu telah diterima? Jangan-jangan malah kamu akan dianggap sentimentil, dangdut, penuh kata berbunga-bunga..Kurang ganas. Lemah bahkan tak bergairah.”.. Tanpa kusadari kata-kata gairah yang muncul dari mulutku sendiri malah makin menjadikanku menjadi-jadi. Ingin rasanya perempuan senjaku kuajak saja ke Losmen si Timbil, temanku itu. Murah meriah, tak ada aparat merazia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dia berpikir. Mungkin mengingat-ingat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Capcay di meja dingin tak bergeming. Kepiting soka yang ia pesan sudah tak tersentuh. Hanya secangkir kopi yang masih digenggamnya. Aku pun menyesal memesan swike. Tak jauh rasanya dengan ayam asam manis. Sudah kuduga. Di kota ini, hanya restoran hotelku yang masakannya tiada duanya. Betul juga teori si Timbil: “Restoran rame itu cuma dua kemungkinan, Bung…rasanya enak banget atau harganya murah banget!”. Celakanya, bahkan restoran ini sepi peminat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Mengapa aku harus mempedulikan pembaca? Mereka lah yang harus mengikuti pikiranku. Mereka lah yang harus berlari, melompat dan menangkap esensi buah pikiranku..Bila tak sanggup apa boleh buat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ah, idealis. Bukan! Ini bukan idealis. Semacam narsis dan egois. Ia bukan semacam penulis yang senang berinteraksi dengan pembaca. Berbeda denganku. Kuberikan alamat email bahkan nomor hapeku pada pembaca setia blog-ku. Ada komunikasi. Ada tegur sapa. Bukankah ini khas Indonesia. Tulisan dengan cita rasa ketimuran. Tapi untuk urusan di ranjang, aku penganut kebarat-baratan. Atau malah barat pol. Mentok bahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Susah..kita itu pingin cepat hebat! Tidak mengenal proses teratur. Blog itu budaya tulis-menulis. Bangsa kita itu seperti anak SMA yang ikut program akselerasi. Kuat di otak tapi kedodoran pada mental. Budaya tutur lisan wayang dan sandiwara yang tiba-tiba diperkenalkan dengan radio, bioskop, film, televisi, sinetron, DVD… akar budaya membaca yang tak kuat. Budaya menulis yang rapuh. Dari omongan langsung disajikan tontonan. Maka jadilah seperti ini. Tak ada proses aktif. Tak ada sisi agresif. Cukup modal mata. Tanpa pikiran. Cuma butuh hiburan!”.. Wow. Ia memberondongkan kalimat-kalimat yang sebetulnya aku tak memahami betul apa maksudnya. Luar biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tak ada yang salah. Walau ucapannya terasa masam. Seperti mengicipi <em>crème turgo</em>, sup panas andalanku yang lain. Cream tomat dengan macaroni yang dicincang dan <em>parmesan cheese</em> dalam mangkok terpisah.<span> </span>Hidangan yang tak tepat kuberikan pada penderita maag akut. Bagaimanapun juga, masakan enak harus dihidangkan pada orang yang tepat, pada suasana yang mendukung dan kantong yang cukup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kontekstual. Itu kuncinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Lalu mengapa tidak kamu kirim saja cerpen itu di media besar semacam KOMPAS dan Koran Tempo? Atau setidaknya blog-mu dipindah dengan <em>hosting</em> berbayar, bukan gratisan seperti sekarang…” aku mencoba meraba penggalan mungil kedalaman sikap hidupnya. Idealisme yang disandangnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan anggun ia menjawab: </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Remember that when you take inventory of the things in life you treasure most, you’ll find that none of them was purchased with money..”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku tercenung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Senja yang menyapu mega. Kumasih duduk berdua dengannya. Aku semakin pusing saja menyusun rencana mengajaknya segera masuk dalam dunia lain. Dunia asmara mengepul, panas dan penuh cita rasa.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kayumanis, 19 Mei 2008 , 01.18 WIB</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(*) Diambil dari kalimat pada paragraf terakhir <em>Post Scriptum</em> “Pada Sebuah Beranda”, 25 Cerpen Bondan Winarno. –Penerbit Jalansutra, Jakarta 2005-.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menunggu Marah Kopidangdut]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=493</link>
<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 10:04:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2008/02/26/menunggu-marah-kopidangdut/</guid>
<description><![CDATA[ 
Hayooo, hebat mana antara marah dan menunggu? Marah tentu saja berbeda dengan menunggu. Marah it]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/imageskambing.jpg" title="imageskambing.jpg"><img src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/imageskambing.jpg" alt="imageskambing.jpg" /></a> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hayooo, hebat mana antara marah dan menunggu?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Marah tentu saja berbeda dengan menunggu. Marah itu berarti ada ketidakpuasan namun tersalurkan. Bila ketidakpuasan atau kebelumpuasan tidak tersalurkan maka menjelma menjadi nafsu. Menjadi dendam. Menjadi api dalam sekam.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau menunggu? Kok dibahas menunggu? Memang berhubungan?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><!--more--></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Masalah berhubungan atau tidak, pasti berhubungan. Namun menjadi soal apakah hubungan itu langsung dan merupakan sebab-akibat. Marah dan menunggu tidak seperti dua permukaan air pada bejana berhubungan. Hubungannya jauh, masih sejauh tikabanget menemukan jodohnya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sedangkan menunggu merupakan proses menghayati sabar. Itu pun ada yang tidak sependapat. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lenin  berkata:</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span></span>Menunggu adalah musuh revolusi...</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menunggu pun punya riwayat yang memilukan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menunggu Godot sudah menjadi istilah yang lumrah untuk urusan menunggu kepada suatu hal yang nihil bin mustahil. Masyarakat yang termakan angin semilir adanya harapan. Adanya kepastian yang menggembirakan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kenyataannya? Nol besar...</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menunggu Ratu Adil, Mas <span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya. Nusantara selalu mengelu-elukan kehadiran Ratu Adil. Namun, yang terjadi adalah Ratu Bedil yang diperagakan oleh Westerling jaman pasca kemerdekaan yang lampau. Setiap pergantian pemimpin selalu dikaitkan dengan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Ratu Adil. </span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau begitu mending Ratu yang satu lagi Mas.. ratunya banyak..cantik-cantik lagi. Ada Maia, Mulan dan Pingkan Mambo. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lha, kita memang mau ngomongin Ratu? Saya kan sedang ngomongin Marah dan Menunggu..! </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya. Saya marah. Masalah kenapa dan kepada siapa sepertinya tak perlu diumbar kemana-mana. Dan saya tidak mau menunggu.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sok rahasia Lu..! Emang gw pikirin?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hahaha... Yang jelas tahun depan saya termasuk golongan ilmu putih-seperti tahun-tahun lampau-, kecuali ada si Godot dan Ratu Adil yang terang-terangan mencalonkan diri.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jujur saja, belum lima tahun saya sudah bosan dengan yang ini. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Surabaya dan Jakarta ternyata tak ada apa-apanya. Pepesan Kosong! </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Setuju Mas...Tebar Pesona Nih Yeee...!</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Salam,</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*Keterangan:</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam ilmu geografi, Surabaya dan Jakarta biasanya disingkat dengan 2-3 huruf. Contoh: Bandung menjadi BDG. Semarang menjadi SMG. Cirebon menjadi CRB.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span><span> </span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baik Buruk Kopidangdut]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2008/02/21/485/</link>
<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 01:04:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2008/02/21/baik-buruk-kopidangdut/</guid>
<description><![CDATA[

Ayah saya dahulu pernah berkata: 
“Berbuat jahat baik sekali, berbuat baik jangan sekali]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/wayang.jpg" title="wayang"><img src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/wayang.jpg" alt="wayang" /></a></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ayah saya dahulu pernah berkata:</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Berbuat jahat baik sekali, b</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">erbuat baik jangan sekali...”</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p></blockquote>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Benarkah?</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><!--more--></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gosip Sebelum Kawin.]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=471</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:34:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2008/02/16/gosip-sebelum-kawin/</guid>
<description><![CDATA[   
Bosan juga bicara hal-hal serius dan memasuki masalah pulitik di negeri ini. 
Blog ini sebaik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"> <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/desa-saya.jpg" title="desa saya"><img src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/02/desa-saya.jpg" alt="desa saya" /></a></span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bosan juga bicara hal-hal serius dan memasuki masalah pulitik di negeri ini. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Blog ini sebaiknya saya kembalikan ke habitatnya kembali, yaitu sekadar blog hura-hura yang bisa dijadikan ajang menghibur diri.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bosan bicara Bank Indonesia, SBY, Soeharto dan/atau bala kurawanya. Terlalu sayang bila blog ini sekadar membicarakan pulitik jenaka.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lebih baik saya membicarakan hal lain yang lebih santai, menghibur dan tidak bikin pembaca mengernyitkan dahi. Setuju?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya akan bergosip saja. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><!--more--></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya punya tetangga, namanya Den Bagus dan Den Raden. Mengapa saya ceritakan mereka? Karena mereka adalah warga biasa. Satu hansip dan satu lagi petugas gadai di kantor kas desa. Mereka ketiban rejeki dicalonkan Mas Bambang, Lurah saya, untuk dijadikan ketua koperasi warga desa.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Den Bagus sejatinya orang kuat. Pekerjaannya setiap hari melembur menjaga poskamling dan menjadi tukang parkir dadakan saat ada hajatan di desa saya. Sekolahnya sudah tamat STM. Dan dia dianggap berhasil mengamankan aset desa dari serbuan calo tanah dari kota, maupun maling kambuhan di desa.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Den Raden juga hebat. Pekerjaannya di kantor gadai desa saya. Jadi, kalau saya sedang ndak punya duit, saya bisa sekolahkan sepatu, jam tangan atau celemek ibu saya di kantornya. Sekadar buat pengganjal perut. Lumayan, aset saya yang butut-butut bisa digadaikan dan saya ndak repot memikirkan bagaimana menebusnya. Lha, wong butut banget jeh’, tukang loak pun berpikir dua kali untuk membeli barang-barang saya. Hebatnya pegadaian Den Raden tak pernah menolak barang apapun, bahkan barang curian sekalipun.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mas Bambang sedang pusing. Beberapa bulan terakhir di desa saya gaduh gara-gara ketua koperasinya, Bang Udin, beristri lagi. Warga gaduh, ibu-ibu PKK protes luar biasa. Padahal, menurut saya, itu tidak relevan dengan pekerjaannya sehari-hari yang sungguh piawai dan mumpuni. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sayang seribu sayang, ibu-ibu arisan dan ibu-ibu ahli utang tak rela uang simpanan pokoknya dan simpanan sukarelanya disalahgunakan sebagai uang mahar Bang Udin untuk beristri lagi. Tuduhan itu belum terbukti, namun gara-gara Mas Bambang, lurah saya, tergolong ISTI, maka usulan Bu Ani, istrinya, kontan disetujui. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seperti biasa, Mas Bambang takluk pada istrinya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya sebetulnya kurang setuju bila koperasi desa yang selalu menyediakan dana lunak untuk sekolah anak-anak desa saya bakal dipimpin oleh kedua calon itu. Lha, tahu apa Den Bagus yang sehari-hari bawa pentungan? Atau Den Raden yang ahli membeli barang loakan? </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Idealnya koperasi itu dipimpin lewat pemilihan RAT yang dihadiri semua anggotanya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tapi memang AD/ART koperasi saya berbeda. Lurah dapat dengan gagah perwira mencalonkan bakal ketua koperasi siapapun juga. Bahkan selain anggota koperasi. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jangan-jangan Koh Pabu, penjual material yang juga rentenir di desa saya, bisa dicalonkan juga. Gawat Kwadrat kalau begini! </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apalagi penentuan yang jadi ketua koperasi ditentukan oleh koclokan arisan yang mirip undian oleh ibu-ibu PKK. Gawat binti kualat!</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kejadian ini pernah terjadi tiga tahun yang lalu. Bapedes, Badan Pembangunan Desa di tempat saya pernah senasib serupa. Para ahli pembukuan, perencanaan kampung di desa saya yang menjadi anggota Bapedes dan semuanya lulusan SMA, terkejut hingga kepalang benjut karena tiba-tiba Mas Bambang menunjuk Pak Syah Susetya, pengangguran yang vokal di desa saya dan tak tamat SMP, untuk memimpin Bapedes. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Itu semua hanya gara-gara Pak Syah Susetya adalah anak Pak Beringin, juragan terkaya yang diam-diam menyokong Mas Bambang sewaktu pemilihan lurah empat tahun yang lalu.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mengingat hal itu, membuat saya tidak kaget ketika Koperasi desa akan mengalami hal yang serupa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya jadi curiga, jangan-jangan Mas Bambang memang tidak memilih orang berdasarkan keahlian, namun sekadar mencari aman. Ya, Mas Bambang ingin orang-orang berpengaruh yang memiliki banyak duit tetap mendukungnya di pemilihan Lurah Desa tahun depan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aman, karena Den Bagus, Den Raden atau Pak Syah Susetya adalah para anak kandung dari sahabat-sahabatnya yang kaya raya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Den Bagus anak Paman Diri, rentenir nomor satu di desa saya. Den Raden adalah anak Pak Poltak, mantan preman yang tiba-tiba kaya raya karena menjual seluruh warisan nenek-moyangnya, sedangkan Pak Syah Susetya, seperti yang saya ceritakan tadi, anak Pak Beringin yang sepuluh tahun lalu hampir saja mati dibunuh beramai-ramai oleh warga, gara-gara ketahuan menjual tanah kas desa.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jujur, saya tidak terlalu pusing dengan keadaan sekarang. Segemerlap apapun, sebobrok apapun, sericuh apapun pemilihan nantinya, saya selama ini tidak bergantung pada koperasi. Saya tidak bergantung pada Bapedes dan saya tidak tergantung pada Mas Bambang. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Toh saya sudah lama merasa desa saya memang salah urus. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sekadar sekolah madrasah saja, murid harus bayar iuran bulanan yang ndak masuk akal. Sekadar membeli minyak goreng saja dibatasi 5 liter sebulan. </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan Mas Bambang pekerjaannya hanya berpidato sembari keluar masuk salon TeNI, pria berkelamin ganda dan dwi fungsi yang termasyur hingga satu kecamatan, untuk sekadar memangkas rambut atau mencukur kumis.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jadi jangan harap di desa saya penuh ketertiban. Yang ada adalah penuh keajaiban, karena warga desa saya yang tak pernah diurus, mampu bertahan dengan segala macam goncangan maupun godaan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mas Bambang tergolong orang yang cari aman. Bagi saya mencari aman bukanlah tergolong sebuah kehidupan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tapi biarlah, mungkin sudah sejak awal desa kami memang tidak diberi hak untuk hidup layak. Bukan karena warganya bodoh dan tak berpendidikan, namun karena dipimpin para pandir dan orang jenaka.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Daripada memikirkan itu, lebih baik saya kawin saja. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karima, bunga desa tetangga sudah tak sabar saya peristri.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gosip ini saya tutup dengan ucapan selamat. Semoga Den Bagus atau Den Raden, siapapun yang terpilih, tidak tergoda kawin lagi, sehingga aman dari pencopotan paksa para ibu PKK.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Karima, Abang dataaaaaang!”</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disclaimer: Bila ada persamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, itu semata-mata ke-GR-an anda saja. Saya tidak sedang membicarakan siapa-siapa. Ini semata-mata gosip semilir di desa saya. Salam kopidangdut dan Merdeka!</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">keterangan: gambar diambil dari pbase.com</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tulisan terkait:</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">+ <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/09/10/saya-bambang/">Saya Bambang</a></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span>  </span><span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[rehat sejenak...]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2007/07/12/rehat-sejenak/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 07:38:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2007/07/12/rehat-sejenak/</guid>
<description><![CDATA[
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2007/07/rehat-sejenak.jpg" title="rehat-sejenak.jpg"><img src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2007/07/rehat-sejenak.jpg" alt="rehat-sejenak.jpg" /></a><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2007/07/rehat.jpg" title="rehat.jpg"></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kepul Kretek Jilid Tiga]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2007/06/23/kepul-kretek-jilid-tiga/</link>
<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 15:02:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2007/06/23/kepul-kretek-jilid-tiga/</guid>
<description><![CDATA[
Selamat Malam Minggu,
Mas Kopdang paling hobby ngerokok kalau lagi week-end, entah kenapa.
Sebagai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2007/06/images1.jpg" title="images1.jpg"><img src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2007/06/images1.jpg" alt="images1.jpg" /></a></p>
<p>Selamat Malam Minggu,</p>
<p>Mas Kopdang paling hobby ngerokok kalau lagi week-end, entah kenapa.</p>
<p>Sebagai hasil cipta-rasa, Mas Kopdang berikan ulasan mutakhir, seperti aksi Bondan Winarno dengan Maknyuss-nya.</p>
<p>Kali ini Kopdang hadirkan Maestro kretek Indonesia: Djie Sam Soe Super Premium (Refill)</p>
<ul>
<li>Brand: djie sam soe Super Premium</li>
<li>Tampilan: Bungkus hitam, 12 kretek, harga banderol Cukai 2007:Rp.13.600, warna font tulisan: Emas.</li>
<li>Menikmati Rokok saat Malam minggu, dari pukul 20.33-21.06 (33 min)</li>
</ul>
<p>Pantas saja, banyak perokok djie sam soe klasik (kuning) beralih ke kretek ini. Saat Mas Kopdang menerima dengan elegan secangkir kopi kapal api mengepul-ngepul langsung saja Mas Kopdang keluar rumah menuju halaman untuk menikmati rokok ini.</p>
<p>Sensasi awal, begitu menghangatkan. Gumpalan asap sangat memanjakan rongga mulut Mas Kopdang. Hmm..sesaat, Mas Kopdang terlena.</p>
<p><!--more--> </p>
<p>Rajangan tembakau dan cengkeh plus rempah-rempahnya sangat halus. Berbeda dengan djie sam soe kuning. Kepadatan setiap batangnya juga terjada. Padat dan bahenol!</p>
<p>Cita rasanya asoyy, mungkin karena mutu terjaga. Perlu diketahui, setiap batang rokok ini dibungkus tersendiri dalam kertas aluminium emas, sehingga <em>taste</em> tetap terpelihara.</p>
<p>Rasa pahit kopi terasa menguatkan asap manis rokok ini.</p>
<p>Mas Kopdang berimprovisasi dengan memasukkan lebih dalam rokok ini, sehingga dengan gigi Mas Kopdang, rokok ini <em>dikempit. Tarikannya mantabbb!</em> Dengan cara ini asap lebih banyak terkumpul dan tersa bersih, mulus bersarang di tenggorokan. Cobain deh!</p>
<p>Ini dapat disebut sebagai Master-nya kretek, walaupun ecerannya cukup mahal, Rp.1200/batang, namun sungguh mengesankan. satu batang, dengan hisapan santai dapat menghasilkan 19 tarikan dalam waktu 33 menit hingga menyentuh band kuning rokok. Setara dengan mendengarkan 5 lagu dangdut pilihan.</p>
<p>Untuk menetralisir rokok ini dan mengimbangi pekatnya asap rokok ini, Mas Kopdang langsung estafet dengan mengepulkan rokok DUNGHILL kretek merah maroon. Lho?Ulasannya? tunggu sesi berikutnya.</p>
<p>Peringatan Pemerintah: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SEARANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.</p>
<p>Untuk baca artikel terkait lainnya, silahkan klik:</p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/05/24/kepul-kretek/http://">kepul kretek</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/05/31/kepul-kretek-jilid-2/">kepul kretek jilid 2</a></li>
<li><a target="_blank" href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/06/12/philip-moris-pm/">PM</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[::: catatan pasuruan :::]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2007/06/06/catatan-pasuruan/</link>
<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 07:35:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2007/06/06/catatan-pasuruan/</guid>
<description><![CDATA[Jakarta, 6 Juni 2007
Jika saja Sdr Munir masih hidup, mungkin dalam beberapa lama, televisi dan medi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 6 Juni 2007</p>
<p>Jika saja Sdr Munir masih hidup, mungkin dalam beberapa lama, televisi dan media nformasi lainnya akan banyak menayangkan wajah, teriakan, kritikan, umpatan dan orasi Sdr Munir.<br />
Dapat dipatikan pula Marinir akan dibabat habis oleh Munir, ditelanjangi hingga ujng kaki sang Komandan.<br />
Pasuruan bukanlah kota besar yang biasa dipergunjingkan, namun ulah segelintir tentara menjadikannya pusat perhatian. Banyak hal yang terseret dari kasus ini. Penganiayaan manusia, bisnis TNI, pelanggaran HAM, Pro-kontra Sipil versus Militer, eksistensi Peradilan Militer, dan tentu saja keberadaan wakil rakyat dalam menyikapi masalah ini.<br />
Marinir adalah juga komponen bangsa, tapi apa yang telah dilakukannya selayak jemari yang mencabik-cabik perut tubuhnya sendiri. Marinir seharusnya bermain di atas ait, bukan di atas tanah.<br />
Jalesveva Jayamahe.<br />
Namun banyak hal yang memang menjadi agenda bersama demi mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab-menjunjung tinggi persamaan hak. Posisi Marinir mulai dipertanyakan. Kepentingan mana yang menjadi prioritas mereka.<br />
Bangsa Indonesia masih saja harus mengorbankan putra-putri innocent untuk menebus kesadaran. Kesadaran berbangsa, kesadaran bertanah-air satu, tanah air Indonesia.<br />
Tanggapan atas peristiwa pasuruan sangat beragam, namun dengan nafas yang hampir sama. Mencoba menarik keadilan sosial dalam jantung kehidupan berbangsa.<br />
Nyawa tidak harus dibayar dengan nyawa. Cukup janji dan tahu diri untuk tidak mengulangi...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[::: kepul kretek :::]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2007/05/24/kepul-kretek/</link>
<pubDate>Thu, 24 May 2007 01:01:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2007/05/24/kepul-kretek/</guid>
<description><![CDATA[Selamat siang,
para penikmat kretek Indonesia, kali ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat siang,<br />
para penikmat kretek Indonesia, kali ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai sebuah brand terbaik dalam &#62;&#62; jagadkretek minimal versi ~kopidangdut~.</p>
<p>Brand: DJI SAM SOE; 234; Fatsal-5; H.M Sampoerna<br />
Isi: 12 batang dlm satu bungkus<br />
harga: eceran warung: Rp 8000<br />
Tampilan: warna khuning khas (bungkus); dan putih gading strip kuning (batang kretek)<br />
aroma: semu manis;<br />
mulai: 23.06; selesai 23.30 waktu jakarta</p>
<p>Percobaan dilakukan jam 23.06 wib, dengan sembari meminum segelas teh celup sariwangi takaran satu sendok teh gula. pada tarikan pertama ada sensasi agak berat. Kepadatan tembakau dan rajangannya yang cenderung kasar mungkin yang membikin kretek ini berat untuk dihisap. Tarikan pertama langsung membuat hangat tenggorokan. Cantik sekali. Sangat berbeda saat kita menikmati rokok putih brand eropa seperti Marlboro atau Lucky Strike. Saya berhati-hati dalam menghisap karena apabila nyala rokok memudar dikarenakan "kaki coro" (batang tembakau atau rajangan tembakau yang kasar), maka rasa nya akan bernuansa pahit. Repetisi hisapan saya lakukan dengan santai. Rokok habis sampai ujung warna kuning (bersisa 2,5 cm), dalam waktu 24 menit, (kira-kira sama dengan mendengarkan 4 lagu pop) dengan 17 kali tarikan.</p>
<p>Sensasi nikmat dalam dji sam soe ini jelas terasa. Kepulan asap yang dihasilkan jenuh dan menggumpal. Bermain halus melewati tenggorokan dan memanjakan lidah karena kertas (papir) cenderung terasa manis.</p>
<p>sekian,<br />
terima kasih...</p>
<p>~kopidangdut~</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[::: dolan :::]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2007/05/23/dolan/</link>
<pubDate>Wed, 23 May 2007 09:07:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.id.wordpress.com/2007/05/23/dolan/</guid>
<description><![CDATA[Dolan dalam bahasa indonesia artinya main. Saya (~kopidangdut~) senang sekali maen-maen ke halaman b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dolan dalam bahasa indonesia artinya main. Saya (~kopidangdut~) senang sekali maen-maen ke halaman blog orang lain. Banyak tema-gaya dan tutur cerita.<br />
Ada blog isinya tentang protes. Pake acara sumpah serapah segala. Ada juga yang bicarain minyak. Ada juga yg bicarain masalah bursa saham thok! Salut lah! keren-keren! Tapi yang lebih keren ada yang bikin blog khusus masalah hukum, sampe-sampe tag line-nya dibuat: legal minded! wuih..apa gak bikin botak kepala tuh Om?<br />
blog banyak banget gayanya. Makin segmented.</p>
<p>Dolan memang membikin wawasan makin kaya..<br />
Dolan yuk, *Ta..!</p>
<p>*Ta: panggilan untuk Marecinta anak saya..</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
