<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerita-perjalanan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/cerita-perjalanan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerita-perjalanan"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 02:09:44 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mengurus Visa]]></title>
<link>http://rudydewanto.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 01:22:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>rudy130375</dc:creator>
<guid>http://rudydewanto.id.wordpress.com/2008/09/08/mengurus-visa/</guid>
<description><![CDATA[Sebagai syarat sahnya memasuki rumah orang, tentunya kita harus &#8220;kulonuwun&#8221; dulu. Nah se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai syarat sahnya memasuki rumah orang, tentunya kita harus "kulonuwun" dulu. Nah sebelum berangkat, mumpung masih ada waktu 2 bulan aku ngurus visa di kedutaaan Swedia. So aku harus ke Jakarta. Gede Ananta, temen kuliah dulu, menawarkan tempat buat nginep. Pikirku lumayan juga, ngirit biaya penginapan,  hehehehe.......Berangkat Sabtu malem tgl 26 naek kereta Argo Anggrek dari stasiun Pasar Turi Surabaya jam 20.00 wib. Sampe Jakarta sekitar jam 6 pagi. Aku sebenernya rencana turun Gambir, Tapi Gede menyarankan agar turun Jati Negara aja, soalnya lebih deket dengan rumahnya. Sampe Jatinegara aku turun dan nunggu Gede sebentar dipintu keluar soalnya dia belum nyampe. 10 Menit kemudian Gede dateng.</p>
<p>Aku ternyata tidak langsung diajak pulang tapi malah gede menawarkan jalan-jalan aja dulu. Ok lah, lagian juga tadi dikereta lumayan bisa tidur. Selain itu barang bawaan juga gak banyak. Perjalanan pertamaku ma Gede ke Menara Rajawali di kuningan, sebab disitulah Kedutaan Swedia berada. Ternyata gak terlalu jauh sih, naik angkot cuman 2 x dari stasiun Jatinegara. Dari Jatinegara ke Kampung Melayu, trus ganti angkot ke arah Mega Kuningan.</p>
<p>Dari Mega Kuningan, liat Menara Rajawali sebentar trus lanjut jalan-jalan ke Blok M dengan Busway. Istirahat sebentar liat orang lalu lalang di koridor Satu ini. Iseng-iseng nanya mas-masnya yang lagi bertugas disitu, katanya koridor satu ini mau dipindahkan ke Surabaya. Wah, boleh juga tuh. Dari Blok M, Gede ngajak hunting photo di Museum Fatahilah. Sampai Museum, kita potret-potret sebentar didepan museum. Lalu ada bule dari Belgia, nanya meriam si Jagur. Aku ma Gede, menyarankan supaya langsung masuk aja. Soalnya 4 meriam yang ada didepan itu bukan meriam si Jagur. (padahal aku pun juga gak yakin si jagur ada dimana, wong ini juga baru pertama kali kesini!!!!!!) Di Museum ini Gede ngajarin beberapa teknik fotografi. Lumayan buat bekal  ntar motret di Swedia.</p>
<p>Setelah lelah motret-motret, kita makan lontong mie di kaki lima didepan museum, sambil liat orang-orang yang lagi photo pre wedding. Suasananya asyik juga, cuman agak panas. Setelah makan, kita rencana mau pulang, tapi karena hari belum sore, kita nongkrong dulu di Batavia Cafe, menikmati coklat panas sambil memanfaatkan internet gratis. Kebetulan aku bawa laptop, sehingga</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[awal perjalanan]]></title>
<link>http://rudydewanto.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 02:48:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>rudy130375</dc:creator>
<guid>http://rudydewanto.id.wordpress.com/2008/08/15/awal-perjalanan/</guid>
<description><![CDATA[

 &lt;!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&#8221;Cambria Math&#8221;; 	panos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                             &#60;![endif]--> &#60;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 6 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 2048 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-unhide:no; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} span.mw-headline 	{mso-style-name:mw-headline; 	mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&#62; <!--[if gte mso 10]&#62;--><br />
 /* Style Definitions */<br />
 table.MsoNormalTable<br />
	{mso-style-name:"Table Normal";<br />
	mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
	mso-tstyle-colband-size:0;<br />
	mso-style-noshow:yes;<br />
	mso-style-priority:99;<br />
	mso-style-qformat:yes;<br />
	mso-style-parent:"";<br />
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
	mso-para-margin:0in;<br />
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
	mso-pagination:widow-orphan;<br />
	font-size:11.0pt;<br />
	font-family:"Calibri","sans-serif";<br />
	mso-ascii-font-family:Calibri;<br />
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;<br />
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";<br />
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;<br />
	mso-hansi-font-family:Calibri;<br />
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;<br />
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";<br />
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-CA">Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalo saya akan bisa menginjakan kaki disebuah negara yang tidak pernah saya pikirkan sama sekali. Jangankan berpikir kesana, bermimpi pun tidak. SWEDIA, ehm…….negara yang biasanya hanya terlintas diotak sesaat jika mendengar nama negara itu. Tidak ada sesuatu hal yang menarik buat saya dari negaranya Zlatan Ibrahimovic ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-CA">Tapi tgl 2 Juli 2008, mengubah segalanya tentang negeri produsen mobil mewah merk VOLVO ini. Sebuah e-mail yang nyaris saya hapus, karena nama pengirimnya saja <span> </span>asing dan tidak saya kenal. Annete Wong Jere. Nama yang aneh!!!!, pikiran saya waktu itu. Saya sudah centang kotak buat menghapus. Tapi kemudian sekilas mata saya membaca tulisan, “historic building”………. Saya baru inget, kalo 3 bulan yang lalu saya iseng-iseng kirim tulisan yang saya apply ke Lund University Swedia. Isinya tentang Candi Cetho. Tulisan itu sebenernya saya tulis buat majalah arsitektur ‘RUMAHKU” edisi 25, dimana disitu saya menjadi redakturnya. Kemudian tulisan itu saya bahasa inggriskan secara membabi buta, karena semenjak dari Australia 7 tahun yang lalu, saya sudah tidak pernah practice lagi pake bahasa inggris. Jadi porak-poranda deh artinya. Tapi ditangan sahabat saya semenjak dibangku kuliah hingga sekarang Eko Kurniawan, tulisan itu akhirnya lebih mudah dimengerti (salut to Eko, lu emang jagonya ko!!!!!).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-CA">E-mail dari Annettte (sebut aja gitu, toh aku juga belum tahu orangnya), berisi sebuah undangan untuk menghadiri sebuah short course tentang Historic Building di Lun d. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-CA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-CA"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;color:black;">Kerajaan Swedia</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> atau <em>Konungariket Sverige</em> dalam <a title="Bahasa Swedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Swedia"><span style="color:black;text-decoration:none;">Bahasa Swedia</span></a> adalah sebuah <a title="Negara Nordik (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Negara_Nordik&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">negara Nordik</span></a> di <a title="Skandinavia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Skandinavia"><span style="color:black;text-decoration:none;">Skandinavia</span></a>, <a title="Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa"><span style="color:black;text-decoration:none;">Eropa</span></a> yang <a title="Ibukota" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ibukota"><span style="color:black;text-decoration:none;">ibukotanya</span></a> adalah <a title="Stockholm" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stockholm"><span style="color:black;text-decoration:none;">Stockholm</span></a>. Negara ini berbatasan dengan <a title="Norwegia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Norwegia"><span style="color:black;text-decoration:none;">Norwegia</span></a> di barat dan <a title="Finlandia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Finlandia"><span style="color:black;text-decoration:none;">Finlandia</span></a> di timur laut, Selat <a title="Skagerrak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Skagerrak"><span style="color:black;text-decoration:none;">Skagerrak</span></a> dan Selat <a title="Kattegat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kattegat"><span style="color:black;text-decoration:none;">Kattegat</span></a> di barat daya, serta <a title="Laut Baltik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Laut_Baltik"><span style="color:black;text-decoration:none;">Laut Baltik</span></a> dan <a title="Teluk Bothnia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teluk_Bothnia"><span style="color:black;text-decoration:none;">Teluk Bothnia</span></a> di timur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;color:black;">Pada tahun 1995 Swedia bergabung dengan <a title="Uni Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa"><span style="color:black;text-decoration:none;">Uni Eropa</span></a> namun, sampai sekarang Swedia masih belum bergabung dengan <a title="Persatuan Moneter Eropa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Persatuan_Moneter_Eropa&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">Persatuan Moneter Eropa</span></a>. Swedia termasuk <a title="Negara maju" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_maju"><span style="color:black;text-decoration:none;">negara maju</span></a> dan rakyatnya mendapatkan pelayanan publik yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;color:black;">Kepadatan penduduk Swedia sangatlah rendah kecuali di <a title="Daerah metropolitan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_metropolitan"><span style="color:black;text-decoration:none;">daerah metropolitan</span></a> dan tidak ada <a title="Bahasa resmi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_resmi"><span style="color:black;text-decoration:none;">bahasa resmi</span></a> namun secara <em><a title="De facto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/De_facto"><span style="color:black;text-decoration:none;">de facto</span></a></em>, bahasa resminya adalah <a title="Bahasa Swedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Swedia"><span style="color:black;text-decoration:none;">bahasa Swedia</span></a> atau <em>Svenska</em> ditambah 5 <a title="Bahasa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa"><span style="color:black;text-decoration:none;">bahasa</span></a> minoritas lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;color:black;">Dulu Swedia merupakan salah satu negara termiskin di Eropa pada <a title="Abad ke-19" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-19"><span style="color:black;text-decoration:none;">abad ke-19</span></a>, dikarenakan konsumsi alkohol yang tinggi dan dogmatik <a title="Protestanisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protestanisme"><span style="color:black;text-decoration:none;">Protestanisme</span></a>, sampai <a title="Transportasi di Swedia (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Transportasi_di_Swedia&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">transportasi</span></a> dan <a title="Komunikasi di Swedia (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Komunikasi_di_Swedia&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">komunikasi</span></a> berkembang mengijinkan pemanfaatan aset alam dari beberapa bagian negara, yang terkenal adalah <a title="Kayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu"><span style="color:black;text-decoration:none;">kayu</span></a> dan <a title="Bijih besi (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bijih_besi&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">bijih besi</span></a>. Sekarang, negara ini didefinisikan oleh tendensi liberal dan keinginan penyamaan yang kuat, dan biasanya berada di urutan atas dalam <a title="Indeks Pengembangan Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Pengembangan_Manusia"><span style="color:black;text-decoration:none;">Indeks Pengembangan Manusia</span></a> <a title="PBB" href="http://id.wikipedia.org/wiki/PBB"><span style="color:black;text-decoration:none;">PBB</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;color:black;">Ibukota negara penghasil <a title="Mobil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mobil"><span style="color:black;text-decoration:none;">mobil</span></a> <a title="Volvo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Volvo"><span style="color:black;text-decoration:none;">Volvo</span></a> ini adalah <a title="Stockholm" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stockholm"><span style="color:black;text-decoration:none;">Stockholm</span></a>. Penduduknya sebesar sembilan juta jiwa mendiami lebih dari 440.000 km² sehingga negara ini terdapat dalam urutan ke-155 dalam kepadatan penduduk di dunia</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="mw-headline"><span style="font-family:&#34;color:black;">Politik</span></span><span style="font-family:&#34;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;color:black;">Swedia telah merupakan sebuah <a title="Kerajaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan"><span style="color:black;text-decoration:none;">kerajaan</span></a> selama hampir satu <a title="Milenium" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Milenium"><span style="color:black;text-decoration:none;">milenium</span></a>. <a title="Pajak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak"><span style="color:black;text-decoration:none;">Sistem perpajakannya</span></a> diatur oleh <em><a title="Riksdag (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Riksdag&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">Riksdag</span></a></em> (parlemen). Riksdag terdiri dari <a title="Riksdag of the Estates (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Riksdag_of_the_Estates&#38;action=edit&#38;redlink=1"><span style="color:black;text-decoration:none;">empat majelis</span></a>, terdiri dari wakil-wakil dari 4 kategori: masyarakat awam, bangsawan, klerik, dan <em>townsmen</em>, sampai 1866 ketika Swedia menjadi <a title="Monarki konstitusional" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Monarki_konstitusional"><span style="color:black;text-decoration:none;">monarki konstitusional</span></a> dengan sebuah parlemen <a title="Bikameral" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bikameral"><span style="color:black;text-decoration:none;">bikameral</span></a>. Majelis pertamanya dipilih langsung dalam pemilihan nasional setiap empat tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Trekking ke Pulau Segara Anakan, Sempu, Bagi Pemula]]></title>
<link>http://bayhakidevayan.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 05:16:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>bayhakidevayan</dc:creator>
<guid>http://bayhakidevayan.id.wordpress.com/2008/05/05/trekking-ke-pulau-segara-anakan-sempu-bagi-pemula/</guid>
<description><![CDATA[
05.Trekking ke Pulau Segara Anakan, Sempu, Bagi Pemula
Pulau segara anakan, atau anaknya samudra ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#0000ff;">05.Trekking ke Pulau Segara Anakan, Sempu, Bagi Pemula</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Pulau segara anakan, atau anaknya samudra adalah sebuah fenomena alam yang luar biasa sekali, dimana bongkahan karang bisa hancur diterpa ombak besar, kemudian membentuk menjadi sebuah lubang dalam dinding karang, yang dimasuki air laut. </span></p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Pulau didalam karang? </span></strong><span lang="IN">ya, ada pulau didalam karang, keren kan. Nah ini dia, yang disebut-sebut sebagai daerah tempat wisata pulau <em>tak berpenghuni</em> terfavorit di malang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Oiya, indah sekali pemandangan ketika busa air laut tersebut masuk, seperti anda membuka kaleng minuman soda berisi satu juta liter, kemudian tumpah ruah didepan anda, kalau airnya tidak asin, pasti banyak yang berebutan minum soda </span><span style="font-family:Wingdings;"><span>:)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Pemandangan ini bisa dijadikan sebagai objek foto air yang menawan, dan yang tak kalah cantiknya ketika air laut tersebut tumpah ruah masuk kedalam pulau, kemudian ia berubah menjadi lautan kecil dalam lautan besar, indah sekali kejadian terjadinya segara anakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Pantainya <span> </span>berpasir putih, sangat lapang, tapi garis pantainya bisa kita telusuri dari ujung ke ujung, karena tidak terlampau jauh, riak ombaknya sangat tenang, hampir tidak ada gelombang dilautan kecil ini, kemudian disekelilingnya ada bukit hijau, ada tebing karang yang menjulang tinggi yang membatasi dengan laut lepas. Kalau dilihat dari jauh, pulau segara anakan dasar lautnya berwarna kehijauan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Dan sangat sayang sekali kalau anda sudah sampai disini dan tidak <strong><em>menjelajah </em></strong>ke seluruh kawasan di segara anakan, jangan buang lagi waktu istirahat anda, manfaatkan kesempatan anda saat ini, isi kembali energi yang sudah dikuras untuk sampai ke pulau ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Untuk bisa sampai disini, saya rasa, tidak perlu ditulis lagi, anda mungkin sudah paham bagaimana medan yang harus anda lalui agar bisa sampai di pulau segara anakan, mulai dari masalah tertib administrasi (<em>bayar ini, itu</em>) di <strong><em>Pulau Sendang Biru,</em></strong> <strong><em>Penyewaan Perahu PP,</em></strong> <strong><em>Trekking ke dalam hutan, menanjak bukit</em></strong>, hingga akhirnya bisa sampai di pulau segara anakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Permasalahan kecil yang harus anda alami adalah tanah yang basah, dan jalan yang susah dilewati. Terutama kalau anda mencari air tawar sudah dipastikan tidak akan menemukan apapun, sangat disarankan menggunakan <strong><span style="text-decoration:underline;">sepatu trekking</span></strong> untuk menghindari dari cedera dan lecet kaki, kemudian <strong><span style="text-decoration:underline;">air minum</span></strong> yang cukup tergantung seberapa lama anda tinggal di pulau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Tidak usah buru-buru sampai di tujuan, nikmati sensasi trekking anda menuju ke pulau segara anakan, jangan jadikan beban, nikmati saja setiap langkah perjalanan anda, inilah salah satu simulasi rintangan yang ada didepan anda, anda yakin bisa menerobos dan menyelesaikan tantangan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Ketika anda sudah sampai di pulau segara anakan, anda akan senang, dan bahagia sekali, karena kata-kata ini tidak akan bisa melukiskan kenikmatan setelah anda sampai disana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Lebih mantap lagi, kalau anda mempunyai bakat dan keahlian, kenapa tidak membuat <strong><span style="text-decoration:underline;">rekaman audio visual</span></strong> disini, anda bisa melakukan itu disini dengan latar belakang yang berbeda-beda, dijamin puas!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Keindahan dan kelestarian segera anakan akan tetap terjaga selama anda, para penggelana tetap tertib dalam menjelajah, tidak mengambil dan membuang barang bawaan anda di pulau, serta tidak menimbun makanan, barang yang tidak bisa di daur ulang oleh alam, hal ini penting sekali untuk menjaga kelestarian pulau segara anakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Anda adalah bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupan disini, karena manusia bukanlah penghuni alam itu sendiri, banyak kelangsungan kehidupan yang sangat terkait disana, untuk itu jangan segan-segan menertibakan diri anda yang kurang teratur. Selamat menikmati pengalaman baru, dan <strong><span style="text-decoration:underline;">saling berbagilah</span></strong> antar sesama petualang disana.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rute KE MALANG dari SURABAYA, Bagi Pemula]]></title>
<link>http://bayhakidevayan.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 04:13:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>bayhakidevayan</dc:creator>
<guid>http://bayhakidevayan.id.wordpress.com/2008/04/24/rute-ke-malang-dari-surabaya-bagi-pemula/</guid>
<description><![CDATA[
04.Rute KE MALANG dari SURABAYA, Bagi Pemula

Kalau anda ingin jalan-jalan ke Malang, dan saat itu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#0000ff;">04.Rute KE MALANG dari SURABAYA, Bagi Pemula</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Kalau anda ingin jalan-jalan ke Malang, dan saat itu anda, sudah sampai di Bandara Juanda, Monggo... Anda bisa main ke Malang dengan menggunakan jasa Travel yang lebih murah daripada naik Taxi ke Malang.</span></p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Atau anda juga bisa naik Bus Surabaya-Malang, kalau anda ingin menggunakan Jasa Travel, keuntungannya mereka siap<span> </span>24Jam, 7 hari seminggu dan untuk harga relatif murah, lebih aman, dan asyiknya anda bisa nanya-nanya, bincang-bincang dengan supir, meskipun hanya anda sendiri, di tengah malam, tidak masalah, yang harus anda punyai hanyalah alamat di Malang, bisa rumah teman, ataupun hotel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Anda bisa juga naik BUS menuju Malang, tapi penjelasan kali ini hanyalah sharing bagi kawan-kawan yang tiba-tiba sampai malam di surabaya, dan malas naik bus karena <em>barang banyak,</em> dan malas ribet karena harus gonta-ganti Bus, dan biayanya kalau dihitung-hitung sama lah. Tapi kalau mengenai waktu perjalanan, jauh lebih lama naik Bus daripada naik travel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Untuk tingkat keamanan dan kenyamanan, naik BUS dengan <em>biaya murah</em>, tidak sebanding<span> </span>dengan apa yang kita dapatkan dilapangan. Maka jasa Travel adalah salah satu solusinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Pertama anda booking saja mereka via telpon, atau SMS kalau sudah sering. Kemudian data anda akan dicatat, sekaligus dimintai jadwal penerbangan &#38; jam kedatangan anda dan mereka akan menunggu di terminal kedatangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Kedua, anda tinggal santai saja, karena mereka sudah stand by di <em>Bandara</em>, meskipun penerbangan anda di tunda beberapa jam. Dan inilah salah satu keuntungan menyewa jasa travel,mereka siaga 24.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Ada banyak jasa travel dari Juanda ke Malang, yang paling favorit, menurut saya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">MJ Travel </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Office: Jl. Kendalsari Barat Kav.3 Malang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">0314-498888</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">0341-73-71888 </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">08113671888 (24Jam)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Kirana Tour</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Office: Pertokoan Istana Dinoyo Kav.D16 MT.Haryono</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">0341-557755</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berkunjung ke Semarang]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=270</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 08:54:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2008/04/21/berkunjung-ke-semarang/</guid>
<description><![CDATA[Hari Selasa minggu lalu saya diundang ke Semarang oleh Jurusan Teknik Informatika, Universitas Dian ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Selasa minggu lalu saya diundang ke Semarang oleh Jurusan Teknik Informatika, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).  Saya belum pernah ke Semarang, jadi ini adalah kesempatan pertama saya mengunjungi kota yang hanya sering saya dengar namanya saja. Berhubung tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Semarang, saya terpaksa naik pesawat dari Jakarta (kenapa ya Bandara Husein Sastranegara di Bandung sepi rute pesawat?).</p>
<p>Kesan pertama saya tentang kota Semarang adalah: panaaasss.... He..he, maklum saya ini orang gunung (Bandung kan di atas gunung), maka kalau pergi ke kota pantai ya jelas terasa gerah. Saya sempat diajak jalan-jalan mengelilingi kota Semarang oleh rekan dosen di Udinus. Ternyata kota Semarang itu tampak teratur, rapi, dan yang paling penting jarang ada kemacetan. Tidak seperti Bandung yang ...halah, muaaacett dan  padat.  Semarang juga padat <em>sih</em>, tapi menurut saya kota Bandung jauh lebih <em>crowded</em>.</p>
<p>Saya diajak melihat <em>landmark </em>kota Semarang yang terkenal itu, yaitu gedung Lawang Sewu. Berhubung mobil terus melaju, saya tidak sempat memotret Lawang Sewu, jadi fotonya saya ambil dari internet saja ya (lupa tadi di situs web mana ya mengunduhnya):</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/04/lawangsewu1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-269" src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/04/lawangsewu1.jpg?w=400" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Lawang Sewu atau gedung seribu pintu menurut saya cantik dan artistik. Sayang, gedung peninggalan kolonial Belanda ini tampak tidak terawat, dinding luarnya terlihat kusam dan berjamur. Kenapa ya Pemda Kota Semarang tidak membenahi gedung kebanggaan warga kotanya?  Menurut  kabar-kabari berbau mistik, jumlah pintu di  gedung itu sebenarnya tidak 1000, tetapi banyak.  Namun  tidak seorangpun yang berhasil menghitung secara  persis berapa jumlah pintu itu semuanya. Selalu ada perbedaan menghitung antara satu orang dengan orang lainnya. Benarkah?  Selain itu, di ruang bawah tanah juga  terdapat cerita-cerita mistik tentang suara-suara aneh dari bekas penghuninya. Ruang bawah tanah itu dulunya penjara dan ruang penyiksaan.</p>
<p>Seperti biasa kita juga melewati Simpang Lima yang terkenal itu, yah seperti lapangan Gasibu-nya Bandung lah.  Tapi, <em>kok </em>saya tidak melihat rumah makan padang di Simpang Lima ini ya? Setahu ya, rumah makan padang ada di setiap simpang, baik itu simpang tiga, simpang empat, maupun simpang lima. He...he.</p>
<p>Oleh-oleh Semarang yang terkenal apalagi kalau bukan wingko babat dan ikan bandeng presto Juwana. Banyak sekali toko yang menjual oleh-oleh ini, tapi untunglah tuan rumah memilihkan toko oleh-oleh yang paling terkenal di jalan Pandanaran. Kalau ingat ikan bandeng presto, saya jadi kasihan sama kucing. Tidak ada yang bersisa lagi buat kucing, sebab sampai ke duri-duri ikan terasa renyah dan enak dimakan.</p>
<p>Tentang Udinus, saya punya kesan tersendiri. Udinus sejak tahun lalu menjalin kerjasama dengan ITB dengan nama <em>Twinning Program</em>. Program ini memungkinkan mahasiswa Informatika Udinus kuliah di ITB setelah menjalani seleksi ketat dari ITB tentunya.  Sayang, belum ada seorang pun mahasiswa Udinus yang lolos seleksi masuk Informatika ITB tahun lalu.  Mungkin perlu banyak belajar lagi ya agar berhasil lolos masuk ITB tahun ini. Setahu saya, untuk t<em>winning program</em> ini, baru ada dua orang maahsiswa PTS yang berhasil masuk Informatika ITB, yaitu dari Universitas Al-Azhar Jakarta. Namun, dosen-dosen Informatika di sana sangat antusias dengan program kerjasama ini. Mereka ingin sekali menimba ilmu dari ITB. Kami di ITB tentu dengan senang hati membantu teman-teman di PTS/PTN daerah. Adalah kewajiban ITB untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi di tanah air. Dalam rangka itulah saya datang ke Semarang.</p>
<p>Udinus ini menurut dosen di sana adalah PTS nomor satu di Semarang. Kampusnya besar dan mahasiswanya banyak. Hebatnya lagi, Udinus mempunyai stasiun TV sendiri bernama TV-KU. Stasiun TV Stasiun TV ini menjadi salah satu TV lokal komersil di Semarang. Pengelola TV ini adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Komputer Udinus dan operatornya adalah mahasiswa mereka sendiri.  Menariknya, di Udinus ini Fakultas Ilmu Komputer mempunyai program studi yang beraneka ragam dan tidak berhubungan langsung dengan Ilmu Komputer. Selain Jurusan Teknik Informatika dan Sistem Informasi, di fakultas ini juga ada program studi Fotografi (D3), dan Multimedia (D3).  Ketika saya tanyakan, kenapa kedua program studi D3 itu 'nekat' dikelompokkan ke dalam Fakultas Ilmu Komputer, mereka mengatakan tidak ada aturan Dikti yang melarang hal itu, bukan?  Ada benarnya juga sih, saya jadi ingat ITB saja mempunyai SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) yang secara rumpun keilmuan sangat jauh beda dengan "sekolah sebelahnya" yang menggeluti sains dan teknik  (ups.. hampir lupa, ada lagi Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB yang dianggap merupakan "keberanian" ITB menggabungkan seni ke dalam institut teknologi). Menurut saya, modal nekat dan keberanian itu memang diperlukan di dalam sebuah institusi.  Memang awal-awalnya ada suara sumbang dan dicerca, tetapi setelah inovasi itu memperlihatkan performanya, barulah orang berbalik kagum.</p>
<p>Itulah oleh-oleh dari Semarang.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[When you believe]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/?p=20</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 17:54:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2008/04/03/when-you-believe/</guid>
<description><![CDATA[Tiada kenikmatan yang tertinggi kecuali bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Alloh swt k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tiada kenikmatan yang tertinggi kecuali bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Alloh swt kepada kita. Betapa tidak, seringkali kita berada pada suatu keadaan yang benar-benar sulit. Penderitaan yang panjang, sakit yang menyiksa. Nah pada saat itulah barulah kita sadar betapa besar karunia yang telah diberikan Nya. Seringkali pada saat kita senang dan bahagia justru kita lupa kepadaNya.</p>
<p>Seperti yang kurasakan saat ini, aku memanjatkan do'a dan puji syukur kepada Alloh swt atas segala limpahan berkah dan rahmatNya sehingga bisa terlepas dari penderitaan sakit karena pembengkakan tonsil kiri kanan. Perubahan suhu yang sangat ekstrim antara di Indonesia dan di Belanda menyebabkan radang tenggorokan yang parah. Hantaman musim dingin disertai salju selama kurang lebih seminggu menyebabkan penderitaan yang luar biasa. Untuk makan sakit, untuk minum sakit. Sementara target pekerjaan harus dapat diselesaikan sebelum balik ke Indonesia pada akhir April.</p>
<p>Disaat semangat sudah mencapai titik terendah, aku diingatkan oleh syair lagu "when you believe" yang dinyanyikan oleh Mariah Carey dan Whitney Houston "......There can be miracles...when you believe....though hope is frail...it's hard to kill.....who knows what miracles....you can achieve....when you believe...somehow you will....."</p>
<p>Aku sadar betapa di dunia ada keajaiban. Dan kita harus percaya bahwa Alloh swt dapat membuat keajaiban itu bisa terjadi. Aku jadi teringat waktu aku masih duduk di kelas 1 sekolah dasar. Aku pernah dicelakai oleh seorang kawan. Dia melempar batu dengan ketapel ke rerimbunan bambu. Sambil berlari dia bilang jika yang dia ketapel adalah bajing dan dia akan mengejar yang lain. Ketika aku menuju ke rerimbunan pohon bambu yang dimaksud oleh dia, ternyata aku disambut puluhan tawon. Tak ayal tawon-tawon yang marah itu menghajar kepalaku tanpa ampun. Aku cuman berdiri terpaku dan menangis. Tanpa keajaiban, rasanya aku nggak mungkin lolos dari maut.</p>
<p>Pengalaman paling memilukan adalah pada saat aku kelas 3 SMA. Karena dililit kemiskinan, aku makan seadanya sewaktu masih kos di Jombang. Setiap hari (3 kali sehari) hanya makan nasi dan telur goreng. Tanpa sayur, tanpa ikan, tanpa daging apalagi munum juice dan susu. Setelah keadaan ini berlangsung terus-menerus selama 3 tahun akhirnya aku lumpuh. Yah..aku benar-benar lumpuh. Cita-citaku menjadi seorang dokter hilang sudah bersamaan dengan hilangnya hembusan angin di daun-daun bambu dimana dibawahnya aku dibuatkan oleh ayahku pegangan dari bambu untuk aku berlatih berjalan setiap hari. </p>
<p>Alhamdulillah keajaiban itu datang lagi. Melalui tangan seorang dokter, dr. Troeboes Purwadi, kelumpuhanku berangsur-angsur bisa disembuhkan. Dan setelah itu...keajaiban-keajaiban yang lain saling susul menyusul. Aku diterima menjadi mahasiswa salah satu PTN ternama di Surabaya dan lulus dengan baik. Padahal sebelumnya aku nggak pernah membayangkan bisa kuliah karena lilitan kemiskinan. Selanjutnya bisa melanjutkan S2 di Belanda, melanjutkan S3 di Jerman, dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Ya Alloh..betapa Engkau dengan mudah menciptakan keajaiban jika Engkau memang menghendakinya... Mudah-mudahan aku menjadi orang yang pandai bersyukur. amin </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Salju di awal musim semi]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/?p=19</link>
<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 16:57:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2008/03/23/salju-di-awal-musim-semi/</guid>
<description><![CDATA[Orang Jerman selalu bilang bahwa semua cuaca baik. Kalaupun kita merasakan cuaca yang tidak bersaha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Jerman selalu bilang bahwa semua cuaca baik. Kalaupun kita merasakan cuaca yang tidak bersahabat itu semata-semata disebabkan kita yang salah berpakaian. Ungkapan ini kalau dipikir lebih dalam mengandung makna menghibur diri sendiri atas kesalahan memilih pakaian maupun atas keadaan yang memang kita tidak bisa menghindarinya. Sebagai contoh kita tidak menyiapkan jas hujan tetapi tiba-tiba turun hujan lebat atau kita ditakdirkan dilahirkan dan besar di Surabaya, maka sangatlah tidak cocok jika kita memakai jaket yang sangat tebal. Oleh karena itu kita harus rajin melihat dan mendengarkan ramalan cuaca. Dan yang penting pakaian harus disesuaikan dengan tempat dimana kita tinggal.</p>
<p>Namun demikian kadang-kadang, menurut aku sih.., adalah sesuatu yang sulit diterima akal sehat jika salju turun di awal musim semi. Peristiwa ini benar-benar aku alami selama dua hari ini di Groningen. Datang dari Indonesia dengan harapan suhu sudah di atas 10 derajat celcius, nyatanya suhu malah berkisar antara 1 dan 2 derajat celcius. Turun salju lagi...Benar-benar membuat dongkol. Bagaimana tidak dongkol lha wong dari Indonesia aku cuman bawa sweater dan jaket tipis. Nasib...nasib.. benar-benar Ich trage die falsche Kleidung...kata orang Jerman.</p>
<p>Walaupun begitu aku tetap nekat pergi ke Delfzijl, suatu daerah pantai sekitar 40 menit dari Groningen menggunakan kereta. Sudah manjadi hobyku untuk mengabadikan keadaan-keadaan yang aneh di sekitar kita. Hasil gambar-gambar yang aku dapatkan biasanya aku gunakan untuk memberikan kuliah metodologi penelitian. Hal ini sangat penting untuk memberikan ide-ide segar bagi mahasiswa sehingga mereka terpacu untuk memikirkan sesuatu yang aneh-aneh yang diharapkan melahirkan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat dilanjutkan dalam kegiatan riset.</p>
<p>Perjalanan ke Delfzijl sangat menyenangkan. Keretanya hanya dua gerbong. Setiap gerbong terdiri dari kelas 1 dan kelas 2. Kalau dihitung jumlah kursi setiap gerbong sekitar 40. Bersihnya luar biasa untuk ukuran orang Indonesia. Tidak ada pedagang asongan di sini hehe. Berbeda dengan kereta api di Indonesia, sambungan antar gerbongnya tertutup rapat dan tidak menimbulkan bunyi yang keras. Jumlah penumpangnya pun, kalau hari libur begini, hanya sekitar 10 orang. Kereta berjalan tidak terlalu cepat dan melewati daerah pertanian. Daerah pertanian di Belanda sangat khas, yaitu meliputi tanah yang sangat luas dan dibatasi oleh parit-parit. Sesekali tampak satu dua rumah dengan traktor dan kandang di belakang rumah. Tampak berbagai jenis burung dengan bebas terbang. Tampak pula berbagai jenis itik berenang di parit-parit. Bahkan banyak angsa liar berkelompok dua sampai 3 ekor di daerah pertanian tersebut. Kalau di Indonesia pasti sudah jadi bebek goreng hehehe. Hewan-hewan hidup tanpa tekanan dan ancaman.</p>
<p>Delfzijl adalah daerah pantai di sebelah timur Groningen. Di sepanjang pantai berdiri kokoh bendungan. Aku tidak tahu apakah bendungan ini alami atau buatan. Kalau kita berdiri di atas tanggul, maka tampak di kejauhan adalah wilayah Jerman yang dipenuhi oleh kincir angin. Dinginnya mak..luar biasa karena anginnya yang sangat kencang. Adanya angin menambah dingin menjadi belipat-lipat. Telinga rasanya sakit sekali. Delfzijl juga merupakan pelabuhannya Groningen. Di sini juga ada hotel yang dibangun menjorok ke laut. Tapi sayang aku lupa nama hotelnya. Kota ini tiba-tiba mengingatkan aku pada kota Delft. Di kota inilah pada tahun 1995 yang lalu aku mengambil S2. Setelah mengambil beberapa foto kuputuskan pulang saja karena dinginnya mak..sampai ke tulang. Salju masih turun tipis disertai angin yang cukup kencang sewaktu aku tiba kembali di stasiun kereta Groningen. Tapi rasa dingin sementara bisa dikurangi dengan minum teh panas di kiosk pojok stasiun.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paskah di Groningen]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 18:47:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2008/03/21/paskah-di-groningen/</guid>
<description><![CDATA[Kuintip keadaan di luar lewat jendela kamarku. Masi hujan dan berangin. Tampak air menggenang di ata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kuintip keadaan di luar lewat jendela kamarku. Masi hujan dan berangin. Tampak air menggenang di atas rumah tetangga. Kamarku terletak di lantai 2 sehingga aku bisa melihat genting tetangga. Di Groningen memang tidak pernah hujan lebat. Hujan turun rintik-rintik kemudian berhenti dan hujan lagi. Hari Rabu, 19 Maret 2008 aku baru datang ke Groningen ternyata hari Jum'at sampai Senin merupakan hari libur. Kalau tahu itu, lebih baik aku menunda keberangkatanku ke Groningen karena pada waktu yang sama ternyata di Indonesia juga libur.</p>
<p>Aku agak malas hari ini. Termasuk malas untuk mandi hehe. Kalau di eropa, apalagi masih musim dingin begini biasanya orang jarang mandi. Soalnya kalau keseringan mandi justru dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit karena perbedaan suhu air hangat untuk mandi dan suhu di luar sangat ekstrim. Ini bisa menyebabkan kulit menjadi pecah-pecah dan gatal. Kuarungi dunia maya sambil sesekali mataku melirik ke luar jendela. Hujan masih belum reda. Akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan di sekitar centrum di Groningen.</p>
<p>Kuberjalan menuju halte bis di bawah rintik air hujan. Suhu udara masih sangat dingin. Bis berjalan pelan menyusuri jalan-jalan sempit berpaving yang basah. Walaupun begitu di sepanjang perjalanan banyak sekali orang lalu lalang di jalan. Apalagi waktu mendekati pusat kota/ centrum. Di pusat kota Groningen ada pasar yang biasa disebut Grote Markt. Hari ini nampaknya berbeda dengan hari-hari yang lain. Banyak sekali pedagang bunga yang menjual bunga segar, bunga di pot, maupun biji bunga. Pemandangan pusat kota Groningen menjadi berwarna-warni dan meriah. Walaupun rintik hujan terus mengguyur tidak menyurutkan penduduk kota maupun turis untuk berjubel dan berlalu lalang di jalanan. Sebagian dari mereka membeli bunga-bunga itu.</p>
<p>Memang hari ini adalah eastern atau ostern di Jerman. Di Indonesia dikenal dengan paskah. Pada hari ini sampai Senin adalah hari libur. Sepanjang hari ini aku berjalan menyusuri kota Groningen. Sesekali aku potret sudut kota atau obyek yang menurutku menarik untuk diabadikan. Setelah beberapa jam berjalan, kaki terasa ngilu. Apalagi suhu udara juga masih cukup dingin. Kadang-kadang telapak kaki serasa kram karena dinginnya. Sepanjang perjalanan aku mendengar orang-orang berbicara dalam bahasa Jerman. Rupanya setiap tahun banyak turis-turis Jerman yang datang ke Groningen pada saat eastern. Sebagian besar dari mereka membeli bunga-bunga. Tak lengkap rasanya kalau ke Belanda tidak makan ikan Kibbeling goreng. Udara dingin dengan ikan kibbeling goreng yang panas merupakan  kombinasi yang sangat pas. Bahkan sampai sekarangpun aku nggak tahu ikan kibbeling itu bentuknya seperti apa. Tapi yang pasti kutahu ikan kibbeling goreng rasanya mak nyuuuuuuussss !!!!!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ke Groningen (Jilid 2)]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 18:09:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2008/03/21/ke-groningen-jilid-2/</guid>
<description><![CDATA[Tepat pukul 06.00 pagi pesawat Boeing 747-400 dari maskapai penerbangan Malaysian Airlines yang memb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tepat pukul 06.00 pagi pesawat Boeing 747-400 dari maskapai penerbangan Malaysian Airlines yang membawaku mendarat dengan sangat mulus di landasan bandar udara Schipol Amsterdam. Tampak di luar masih gelap.  Pesawat terus meluncur melewati lampu-lampu di sepanjang runway dan kemudian merapat di sisi bangunan bandara yang dihubungkan dengan belalai untuk lewat para penumpang.  Beberapa saat yang lalu captain pilot melaporkan bahwa suhu udara di luar sekitar 2 derajat celcius. Busyet..pikirku. Hampir musim semi tapi suhu udara masih sangat rendah. Benar-benar di luar dugaanku. Yah..hari itu tepat tanggal 19 Maret 2008 untuk kedua kalinya dalam kurun waktu dua tahun aku menginjakkan kaki di Belanda. Kedatanganku kali ini sama dengan kedatanganku sebelumnya yaitu melakukan kerjasama riset dengan Groningen University yang dibiayai oleh KNAW (The Royal Netherlands Academic of Art and Science). Sebenarnya aku sudah bosan datang ke Belanda. Tetapi karena sudah terlanjur menandatangani kontrak, maka aku harus konsisten datang supaya tidak berakibat negatif bagi institusi.</p>
<p>Tidak nampak adanya perubahan dari Schipol jika dibandingkan dengan tahun lalu. Semuanya biasa saja. Orang lalu lalang untuk mengambil bagasi dan juga untuk check in. Datang dan pergi. Dengan langkah cepat aku menuju hall pengambilan bagasi. Nampaknya jumlah penumpangnya cukup banyak sehingga cukup lama aku berdiri menunggu sampai tas koperku muncul. Badanku tidak terasa lelah walaupun lama penerbangan sekitar 14,5 jam. Mungkin karena sudah terbiasa atau karena aku tidur sangat nyenyak selama dalam perjalanan.</p>
<p>Dengan koper dan tas di punggung aku cepat berjalan keluar melewati petugas duane (bea cukai) menuju tempat penjualan karcis kereta. Yah..dari Schipol ke Groningen memang tidak ada jalur penerbangan. Jadi perjalanan ke Groningen bisa ditempuh menggunakan kereta intercity selama 2,5 jam. Kukeluarkan uang pecahan 100 euroku untuk membayar karcis kereta yang seharga 29 euro sekali jalan. Tetapi petugas loket menolaknya. Alasannnya mereka tidak menerima pembayaran dengan nominal 100 euro ke atas. Aku heran tapi aku tidak berusaha untuk berdebat lebih lama karena sebentar lagi kereta yang ke Groningen akan berangkat. Akhirnya aku berinisiatif membeli burger. Kubayar dengan uang yang sama dan lagi-lagi uangku ditolak oleh pramuniaga. Aku tambah bingung. Mengapa di Belanda hal ini terjadi? Padahal selama 4 tahun di Jerman aku nggak pernah mengalami hal yang demikian. Untunglah ada orang Asia yang berbaik hati mau menukarkan 2 pecahan 50 euronya dengan pecahan 100 euroku. Memang nasib. Untunglah aku tidak ketinggalan kereta. Menggigil aku menunggu kereta.  Maklumlah suhu di Indonesia waktu aku pergi di atas 30 derajat sedangkan waktu aku tiba di Belanda 2 derajat celcius. Apalagi aku nggak membawa jaket tebal. Rupanya aku salah duga.</p>
<p>Selama perjalanan ke Groningen kunikmati pemandangan di luar dari jendela kereta. Nampak udara masih berkabut dan tanah masih basah karena sisa-sisa hujan. Tumbuhan masih banyak yang meranggas kecualu beberapa pohon cemara yang memang hijau sepanjang tahun. Sesekali aku melihat pohon-pohon perdu yang mulai berbunga. Pemandangannya masih seperti dulu. Masih seperti ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di Belanda pada tahun 1995.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan-jalan ke Manado]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=232</link>
<pubDate>Tue, 19 Feb 2008 05:04:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2008/02/19/jalan-jalan-ke-manado/</guid>
<description><![CDATA[Pekan lalu saya diminta datang ke Manado oleh rekan saya di Universitas De La Salle, sebuah universi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pekan lalu saya diminta datang ke Manado oleh rekan saya di Universitas De La Salle, sebuah universitas swasta yang merupakan <i>franchise </i>dari induknya di Eropa (Paris?). Saya diminta membimbing Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika di sana dengan sistem jarak jauh. Saya menemui mahasiswa di sana untuk membahas proposal TA dan akan datang lagi ketika sidang tugas akhir. Di sana mahasiswa juga mendapat dosen pembimbing II. <i>E-mail </i>dan <i>chatting </i>dengan YM adalah sarana komunikasi antara saya dengan mahasiswa di Manado sana. Teknologi informasi membuat dunia ini makin sempit saja. Jarak memang tidak lagi menjadi persoalan, namun bertemu secara fisik antara dosen dan mahasiswa tetap saja masih diperlukan, sebab ada hal-hal yang tidak bisa terjawab tuntas dengan <i>e-mail </i>dan <i>chatting</i>.</p>
<p>Manado? Ini kota paling utara di Indonesia, jauh lagi, di kawasan Indonesia Timur. Manado adalah ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Sebelah utara berbatasan dengan negara Filipina. Sekilas orang-orang Manado mirip dengan orang Filipina, karena memang ada kedekatan kultural dengan orang-orang di negara sana. Mendengar nama kota ini saya tidak bisa melupakan ikan bakarnya yang segar dengan sambal <i>dabu-dabu</i> dan sambal <i>rica-rica </i>yang pedas bukan kepalang. Kota Manado yang terletak di bibir Samudera Pasifik memang berlimpah dengan ikan laut. Ikan laut yang baru ditangkap jika langsung dimasak menghasilkan masakan yang enak. Tidak seperti di Bandung yang jauh dari laut, maka ikannya sudah tidak segar lagi.</p>
<p>Berangkatlah saya dari Bandara Soekanro-Hatta dengan pesawat Batavia Air. Terbang ke Manado dengan penerbangan langsung menempuh waktu 3 jam, tetapi karena perbedaan wilayah waktu (Manado di WITA sedangkan Jakarta WIB), maka kita "rugi" 1 jam sehingga lama penerbangan menjadi 4 jam. Karena pesawat saya ini via Balikpapan, maka waktu terbang lebih lama lagi, 5 jam! Berangkat jam 15.00 WIB dari Jakarta dan tiba di Manado pukul 20.00 WITA. Sungguh <i>bete </i>di pesawat. Namun sebaliknya, kalau terbang dari Manado ke Jakarta kita "untung" satu jam. Bila berangkat pukul 10.00 WITA, maka tiba di Jakarta pukul 12.00 WIB. Hemat 1 jam.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado0.jpg" title="Di Bandara Soekarno-Hatta"><img src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado0.jpg" alt="Di Bandara Soekarno-Hatta" height="404" width="538" /></a></p>
<p>Manado adalah kota yang tenang, tidak hiruk pikuk seperti di Jakarta, dan tidak macet seperti di Bandung. Jalan-jalan di sana lancar sehingga mobil bisa sedikit ngebut. Seperti yang saya bahas pada tulisan sebelumnya (lihat di kategori "Cerita Perjalanan"), Manado dijuluki "Kota Tinutuan", artinya kota bubur manado. <i>Tinutuan </i>atau bubur manado adalah makanan khas orang Manado. Tinutuan mirip seperti bubur ayam di Bandung, tetapi buburnya dimasak dengan campuran aneka sayur seperti jagung, wortel, kangkung, dan lain-lain. Paduan beras dan sayur-sayuran itu membuat bubur manado berwarna-warni namun itulah yang membuatnya gurih dan segar, apalagi jika dimakan dengan sambal dan ikan cakalang. Ikan cakalang adalah ikan khas kawasan Indonesia Timur, agak mirip dengan ikan tuna. Di bawah ini foto bubur manado yang disajikan di hotel tempat saya menginap (Hotel Gran Puri). Bubur manado pas jika dimakan pada pagi hari.<br />
<a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/buburmanado.jpg" title="Bubur manado"><img src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/buburmanado.jpg" alt="Bubur manado" height="409" width="541" /></a></p>
<p>Rekan saya di sana mengatakan, belum lengkap ke Manado jika belum menikmati 3B. Apa itu? Bunaken, bubur manado, dan bibir Manado. <i>Halah</i>, yang terakhir ini bikin mesem-mesem. Ada-ada saja.</p>
<p>Manado dapat dikatakan kota seribu gereja, sebab mayoritas warganya memang beragama Kristen. Jika di Jawa kita mudah menemukan masjid setiap 100 meter, maka di Manado berjalan setiap 100 meter akan bertemu gereja. Orang Islam juga cukup banyak di sana. Ada kampung-kampung yang mayoritas warganya muslim seperti Kampung Ternate, Kampung Arab, da lain-lain. Di Manado juga banyak warga dari Gorontalo dan Bolaangmangondouw, kedua wilayah ini adalah tereknal dengan ketaatannya pada agama Islam. Secara umum kerukunan beragama di Manado sangat baik. Rekan saya di Manado menanyakan apakah saya akan shalat di masjid. Saya jawab di hotel saja, shalat jamak Dhuhur dan Ashar, sebab saya berstatus musafir.</p>
<p>Di bawah ini foto-foto yang saya jepret dari lantai 11 Hotel Gran Puri. Ini foto pada Hari Minggu pagi, suasana kota Manado sangat lengang karena warganya siap-siap beribadah ke gereja.<br />
<a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado1.jpg" title="Stadion Klabat"><img src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado1.jpg" alt="Stadion Klabat" height="418" width="556" /></a></p>
<p>Di bawah adalah Stadion Klabat dengan latar belakang kota Manado. Klabat adalah nama gunung yang tertinggi di Sulawesi Utara. Gunung Klabat terlihat dengan jelas dari kampus De La Salle.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado2.jpg" title="Stadion Klabat"><img src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado2.jpg" alt="Stadion Klabat" height="421" width="560" /></a></p>
<p>Di bawah ini adalah foto Manado ke arah lautan Pasifik. Dari kejauhan nampak Pulau Manado Tua. Pulau Bunaken ada disebelahnya (tidak terlihat dari foto) . Saya belum sempat ke Bunaken yang indah itu.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado3.jpg" title="Manado dan Samudera Pasifik"><img src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2008/02/manado3.jpg" alt="Manado dan Samudera Pasifik" height="423" width="563" /></a></p>
<p>Di Manado jelas ikan bakarnya yang enak, lebih tepatnya <i>makang ikang bakar. </i>Saya bisa menghabiskan banyak ikan bakar. Gimana lagi, enak <i>sih</i>. Makan ikan bakar dengan lalap sayur kangkung yang dimasak dengan minyak kelapa dan bawang putih, wah <i>mak nyus</i> benar. Rekan saya di Manado mengajak makan ikan bakar di kedai ikan di pinggir pantai Boelevard. Pantai Boelevard adalah kawasan pantai yang sudah diuruk menjadi kawasan komersil. Pantai ini diuruk tidak tanggung-tanggung panjang dan lebarnya. Panjangnya mencapai beberapa kilometer, lebarnya mencapai ratusan meter. Jutaan kubik tanah dan batu untuk menguruk pantai ini diambil dari bukit-bukit sekitar Manado. Mungkin kalau pengurukan itu dilakukan sekarang-sekarang bakal diprotes oleh WALHI, <i>Greenpeace</i>, dan organisasi lingkungan hidup lainnya. Bayangkan banyak biota laut yang mati dan rusak akibat pengurukan itu. Di kawasan <i>boelavard </i>ini berdiri kompleks mal dan ruko Mega Mas. Konon, kata rekan saya, itu adalah singkatan Megawati-Taufik Kiemas. Wah, ekspansi bisnis keluarga mantan presiden ini sudah mencapai kawasan timur. Tidak hanya keluarga Cendana saja yang berbisnis. Satu unit ruko di sini harganya gila-gilaan, bisa mencapai satu milyar per unit.</p>
<p>Oh ya, mahasiswa di Universitas De La Salle ini memanggil dosen pria dengan sebutan <i>Sir</i>, sedangkan dosen wanita dipanggil <i>Mam</i>, bukan <i>Pak </i>atau <i>Bu </i>seperti kita, misalnya <i>Sir </i>Rudy, <i>Mam </i>Deby, dan lain-lain.  Saya risih juga dipanggil <i>Sir </i>(artinya"Tuan"),  tapi bagaimana lagi, itu <i>kan </i>kebiasaan di sana, jadi saya tahan-tahan saja rasa geli itu. Kata rekan saya, kalau di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), universitas negeri di Manado, panggilan buat dosen lebih miris lagi, yaitu <i>Meneer</i>. Serasa berada di zaman Belanda.</p>
<p>Begitulah, Manado memang unik.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semalam di Padang]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2007/09/19/semalam-di-padang/</link>
<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 09:25:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2007/09/19/semalam-di-padang/</guid>
<description><![CDATA[Dua hari sebelum gempa besar melanda Bengkulu dan Sumbar dua minggu lalu, saya pulang ke Padang. Ada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-3.jpg" title="simpang-haru-3.jpg"></a><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-3.jpg" title="simpang-haru-3.jpg"></a><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bim-2.jpg" title="bim-2.jpg"></a>Dua hari sebelum gempa besar melanda Bengkulu dan Sumbar dua minggu lalu, saya pulang ke Padang. Ada urusan keluarga. Tidak lama, hanya semalam saja. Naik pesawat sore dari Jakarta, dan kembali lagi ke Jakarta siang keesokan harinya. Singkat ya, tetapi ini memang bukan untuk urusan bersenang-senang, apalagi Kamis keesokan harinya saya ada kelas mengajar.</p>
<p>Beberapa jam sebelum keberangkatan dari bandara BIM Padang, saya masih sempat "jalan-jalan". Pertama yang saya kunjungi pagi itu adalah berziarah makam ayah saya di bukit Seberang Padang. Mumpung mau puasa Ramadhan. Di Padang, banyak makam yang berada di atas bukit, maklumlah kota Padang dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau. Warga keturunan cina misalnya, kebanyakan kuburannya berada di bukit sebarang Muaro (dekat "makam" Siti Nurbaya). Di bukit Seberanga Padang (tepatnya di kelurahan Seberang Padang Selatan) ini terdapat pemakaman warga perantau dari daerah Koto Anau, Kabupaten Solok. Orangtua saya memang dari Koto Anau.</p>
<p>Di bawah ini foto Bukit Seberang Padang yang saya jepret dari kamera ponsel. Di bawah bukit terdapat sungai buatan penegndali banjir. Untuk mendaki bukit ini diperlukan kehati-hatian karena lahannya curam. Memakamkan jenazah di bukit ini mengingatkan saya dengan cara pemakaman mayat di Tana Toraja, Sulawesi  Selatan. Sama-sama mendaki bukit yang terjal.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bukit-seberang-padang-1.jpg" title="Bukit Seberang Padang"></a></p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bukit-seberang-padang-1.jpg" title="Bukit Seberang Padang"><img width="546" src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bukit-seberang-padang-1.jpg" alt="Bukit Seberang Padang" height="426" style="width:476px;height:386px;" /></a></p>
<p>Seusai berziarah ke makam ayahanda, saya bergegas ke Pasar Raya Padang. Ini pasar yang sangat ramai tetapi kotor. Di pasar ini saya  ingin membeli masakan Padang untuk dibawa ke Bandung. Membawa masakan dari kampung kelahiran ke tanah Jawa adalah kebiasaan saya sejak dulu. Meskipun di Bandung banyak rumah makan Padang, tetapi masakan dari Padang sendiri tentu lebih asli. Saya ingin mencari masakan <em>palai bada</em>, itu lho ikan teri kecil yang sudah dicampur dengan bumbu-bumbu kelapa lalu dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api. Bisa <em>batambuah-tambuah</em> makan dengan <em>palai bada</em> ini. Selain <em>bada</em>, ikan laut juga sering di-palai.</p>
<p>Tapi sayang sekali saya sulit menemukan <em>palai bada</em> pagi itu. Kata kakak saya, jualan <em>palai bada</em> baru ada pada siang hari. Akhirnya saya membeli ikan <em>bilih</em> danau Singkarak. Ikan <em>bilih</em> (bilis?) adalah ikan endemik yang hanya ada di dua danau di Sumbar, yaitu Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Besarnya seperti ikan teri dan rasanya khas. Meskipun di RM Sederhana di Bandung menyediakan goreng ikan <em>bilih</em>, tetapi saya ingin membelinya sendiri di Padang. Sekilo harganya Rp 100.000. Cukup mahal juga. Yang saya beli adalah ikan <em>bilih</em> yang sudah digoreng, jadi di Bandung saya tinggal membeli sambal cabe hijau (<em>samba lado hijau</em>, bahasa Minangnya) di rumah makan kapau, lalu dicampurkan ke ikan <em>bilih</em> tadi. Di bulan puasa ini makan goreng ikan bilih <em>lado</em> hijau, amboi nikmatnya.</p>
<p>Karena hari sudah mulai siang sementara penerbangan saya adalah pukul 12.30, maka saya diantar kakak bergegas ke <em>pool</em> bis bandara (Tranex) di kawasan Simpang Haru. Simpang Haru dulunya adalah stasiun kereta api. Sekarang kereta api di Sumbar sudah mati. Hanya tersisa kereta api wisata yang berjalan setiap hari Minggu dari Padang ke Pariaman. Di Simpang Haru ini kita masih terdapat dipo lokomotif, loko-loko tua, dan gudang-gudang kereta peninggalan Belanda. Di bawah ini foto-foto Simpang Haru.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-3.jpg" title="simpang-haru-3.jpg"><img width="529" src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-3.jpg" alt="simpang-haru-3.jpg" height="420" style="width:491px;height:407px;" /></a></p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-4.jpg" title="Simpang Haru (2)"><img width="525" src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-4.jpg" alt="Simpang Haru (2)" height="441" style="width:494px;height:444px;" /></a></p>
<p>Bandara Internasional Minangkabau (BIM) adalah bandara baru yang megah. Hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia menyinggahi bandara ini, mulai dari Garuda, Merpati, Mandala, Lion Air, Batavia, Adam Air, Wing,  Sriwijaya, dan Air Asia.  Benar-benar padat penerbangan dari bandara ini. Pantasan saja kapal laut sudah tidak menyinggahi Padang lagi, begitu pula bus-bus ke Jawa dari Padang sudah menyusut karena orang lebih senang naik pesawat yang tiketnya tidak terlalu mahal.</p>
<p>Foto di bawah ini suasana di dalam bandara BIM:</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bim.jpg" title="BIM (1)"><img width="516" src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bim.jpg" alt="BIM (1)" height="432" style="width:495px;height:423px;" /></a></p>
<p>Di bandara manapun di Indonesia yang saya kunjungi, orang selalu berebut naik pesawat ketika <em>boarding</em>, termasuk di BIM, seperti foto di bawah ini. Orang Indonesia tidak pernah mau antri, padahal budaya antri adalah ciri negara maju. Ini indikasi Indonesia belum menjadi negara maju. Padahal pesawat tidak akan lari. Seluruh penumpang pasti akan naik pesawat juga.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bim-2.jpg" title="bim-2.jpg"><img width="574" src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/bim-2.jpg" alt="bim-2.jpg" height="436" style="width:497px;height:402px;" /></a></p>
<p>Begitulah pengalaman sebentar di Padang, meski hanya semalam.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/09/simpang-haru-3.jpg" title="simpang-haru-3.jpg"></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nonton Film di Teater 4 Dimensi Dufan ]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2007/06/12/nonton-film-di-teater-4-dimensi-dufan/</link>
<pubDate>Tue, 12 Jun 2007 06:22:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2007/06/12/nonton-film-di-teater-4-dimensi-dufan/</guid>
<description><![CDATA[Hari Jumat 8 Juni 2007 kemaren saya absen ke kantor, karena menemani anak ikut jalan-jalan acara per]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat 8 Juni 2007 kemaren saya absen ke kantor, karena menemani anak ikut jalan-jalan acara perpisahan sekolahnya (TK) ke Dunia Fantasi (Dufan) Ancol. Setiap anak didampingi ibunya, hanya dua orang anak yang ditemani ayahnya, termasuk saya. Risih juga &#60;i&#62;nih&#60;/i&#62; bergabung dengan ibu-ibu, tapi gimana lagi, ibunya anak saya tidak bisa menemani karena repot dengan adik bayi yang setiap waktu harus disusui.</p>
<p>Dufan. Siapapun tahu nama itu. Arena kesenangan rakyat Indonesia yang terletak di tepi Pantai Ancol Jakarta. Orang daerah kalau jalan-jalan ke Jakarta tidak lupa datang ke sini. Apalagi kalau yang dibawa itu anak-anak, dijamin pasti merengek.</p>
<p>Saya baru dua kali ke Dufan, termasuk kali ini. Pertunjukan lumba-lumba dan singa laut &#60;i&#62;sih&#60;/i&#62; udah biasa, udah "basi" kata anak-anak sekarang.  Tapi pada jalan-jalan kali ini ada wahana baru yang sangat menarik, yaitu teater 4 Dimensi (4D). Kalau film-film 3D sudah tidak aneh lagi kan, nah kalau nonton film 4D baru beda. </p>
<p>Bangunan Teater 4D di Dufan bentuknya kotak, tetapi jika kita masuk ke dalamnya, kita melewati lorong yang terus menanjak seperti memasuki sebuah piramida Mesir. Dan memang, di dinding kiri dan kanan lorong yang agak gelap itu terdapat relief-relief yang menggambarkan diorama Mesir kuno. Hmmm... tampaknya sebelum menonton film 4D pengunjung dikondisikan dulu dengan suasana yang mencekam. </p>
<p>Memasuki lantai bioskop, pengunjung diberi kacamata hitam. Untuk menonton film 4D memang diperlukan kacamata khusus. Lampu-lampu di dalam bioskop mulai dimatikan, pertanda film akan segera dimulai. Film yang diputar menampilkan kehidupan beruang di kutub utara, biota laut, dan satwa di hutan tropis. Kacamata khsuus tadi membuat penonton serasa benar-benar berada di dalam film tersebut. Gambar-gambar 3 dimensi yang sebenarnya realitas maya seolah menjadi nyata, buktinya ketika monyet-monyet di hutan melempar buah-buahan para penonton berteriak seakan-akan lemparan buah tadi mengenai kepala penonton. Tiba-tiba seekor ular menjulurkan kepalanya ke arah penonton sehingga banyak penonton berteriak ketakutan seolah-olah ular itu menerkam mereka. Benar-benar bikin "jantungan". Dan braaaak..., pohon tempat bergelantung monyet rubuh karena ditebang dari bawah. Kitapun merasakan pohon patah karena kursi tempat duduk bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Waaaahh. Efek nyata lainnya ditampilkan ketika beruang kutub melompat-lompat di gunung es. Hembusan angin pun berhembus di dalam teater, bahkan gerimis hujan pun dijatuhkan dari langit-langit teater seakan-akan penonton merasakan hujan yang ada di dalam film itu.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2007/06/4d.jpg" title="Film 4D (tapi ini bukan di Dufan)"><img src="http://rinaldimunir.wordpress.com/files/2007/06/4d.thumbnail.jpg" alt="Film 4D" /></a><br />
Secara umum film 4D memang menawarkan sensasi yang luar biasa. Efek 3 dimensi yang ditampilkan di dalam film ditambah dengan gerimis hujan, hembusan angin, dan kursi yang bergoyang-goyang itulah yang dinamakan film 4D.  Sayang, filmnya singkat sekali, hanya 15 menit, sehingga kami kurang puas. Tapi tak apa-apalah,  tidak rugi menemani anak ke Dufan, sebab saya bisa menyaksikan film 4D ini.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mau Naik Apa Lagi? ]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2007/03/08/mau-naik-apa-lagi/</link>
<pubDate>Thu, 08 Mar 2007 07:44:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2007/03/08/mau-naik-apa-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Mengerikan dan mencekam, demikian perasaan saya ketika membaca dan melihat di televisi tragedi terba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mengerikan dan mencekam, demikian perasaan saya ketika membaca dan melihat di televisi tragedi terbakar dan meledaknya pesawat Garuda Indonesia dengan kode penerbangan GA200 di bandara Adisucipto, Yogyakarta, 7 Maret 2007 pukul 7.00 pagi kemaren.  <em>Gimana</em> <em>nggak</em> menggetarkan dada, pesawat itulah yang saya naiki minggu lalu ke Yogyakarta guna memberikan kuliah umum di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sengaja saya memilih naik pesawat Garuda jam 6.00 pagi dari Cengkareng karena saya pikir naik Garuda lebih aman ketimbang naik pesawat yang lain. Memang mahal naik Garuda ini (tiket promo saja Rp 354.000), padahal untuk penerbangan pagi ke Yogya  ada alternatif pesawat lain yaitu Adam Air (jam 6.30) dengan harga tiket hanya Rp 150.000. Tetapi karena saya masih trauma dengan Adam Air, maka saya pilih Garuda saja. Tidak apa-apa lebih mahal yang penting aman, begitu pikiran saya. Alhamdulilah memang tidak terjadi apa-apa. Tetapi, ketika pulang kembali ke Bandung via Jakarta saya diberi tiket pesawat Adam Air (memang hanya pesawat itu yang terbang sore sesuai permintaan saya) yang membuat saya deg-degan dan berpasrah diri kepada Allah SWT saja.  Alhamdulillah juga tidak terjadi apa-apa. Baik pesawat Garuda pagi maupun Adam Air sore keduanya terisi penuh, pertanda bahwa rute Jakarta - Yogyakarta pp tergolong jalur gemuk.</p>
<p>Sebagian kita orang Indonesia yang sering menggunakan jasa penerbangan memang menjadi <em>parno</em> (paranoid) sejak tragedi kecelakaapesawat yang bertubi-tubi sejak awal tahun 2007 ini. Dimulai dengan jatuhnya pesawat Adam Air di selat Makassar tanggal 1 Januari 2007 yang lalu (yang hingga kini lokasi jatuhnya masih misteri dan belum ditemukan korbannya satu orangpun), lalu patahnya bodi Adam Air (lagi) ketika mendarat di Bandara Juanda Surabaya bulan Februari yang lalu. Jika dirunut ke belakang masih masih banyak peristiwa <em>crash</em> yang menimpa pesawat bertarif murah, seperti jatuh saat <em>take off</em> (Mandala di Medan), tergelincir (Batavia Air), salah mendarat di kota yang salah (lagi-lagi Adam Air), ban pesawat yang tidak membuka (Lion Air), dan lain-lain.</p>
<p>Semua ini makin menguatkan kesan bahwa manajemen transportasi di negara kita masih buruk.  Tidak hanya pesawat, bahkan kapal lautpun berturut-tutur tenggelam dan terbakar dalam dua bulan terakhir (KM Senopati Nusantara yang tenggelam di laut Jawa, KM Levina I yang terbakar dan tenggelam di Teluk Jakarta).  Belum lagi tak terhitung kecelakaan kereta api yang beruntun sepanjang tahun 2006 dan awal 2007. Semua tragedi kecelakaan transportasi ini, khususnya pesawat, membuat banyak orang terhenyak. Mau naik apa lagi kalau bepergian? Hampir semua pesawat boleh dikatakan tidak aman lagi dinaki. Garuda yang diidentikkan dengan pesawat nyaman dan aman ternyata sama saja dengan pesawat swasta lain yang bertarif lebih murah. Tetapi kalau bepergian jarak jauh dan membutuhkan kehadiran yang cepat, kita tidak punya pilihan selain pesawat.</p>
<p>Namun, sebagai orang beragama, akhirnya kita hanya bisa berpasrah saja kepada Allah semata. Dia lah yang memegang nyawa kita. Maut dapat datang di mana saja, naik pesawat apa saja, naik kendaraan apapun. Bahkan tidak kemana-manapun, di dalam rumah saja, mati bisa datang dengan tiba-tiba. Semua ini mengingatkan kita bahwa hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Betapa tipis batas antara hidup dan mati. Hanya kepada Allah lah kita kembali. Karena itu, setiap naik kendaraan apa pun, janganlah lupa untuk selalu berdoa: <em>bismillahi tawakkaltu 'alallaahi la hawla wa laa quwwata illa billah</em>.  Dengan nama Allah aku berserah diri, tiada daya dan upaya melainkan semua kekuatan adalah dari Allah.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Weekend]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/2006/08/25/weekend/</link>
<pubDate>Fri, 25 Aug 2006 14:56:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2006/08/25/weekend/</guid>
<description><![CDATA[Haru Jum&#8217;at pagi ini Groningen diselimuti kabut yang sangat tebal. Aku kaget ketika kubuka jen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Haru Jum'at pagi ini Groningen diselimuti kabut yang sangat tebal. Aku kaget ketika kubuka jendela apartemenku. Kabut tebal yang dingin sekonyong-konyong menerpa mukaku. Jarak pandang hanya sekitar 2 atau 3 meter. Kadang-kadang sempat terpikir olehku. Khok ya orang Belanda kerasan tinggal di sini ya hehehe. Mungkin ini juga yang menyebabkan mereka mempunyai politik ekspansi ke daerah tropis.</p>
<p>Kumulai hari ini dengan sebuah rencana untuk membuat janji ketemu dengan Prof. Bischoff. Untuk itu aku harus datang ke sekretarisnya. Tak lupa kubawa sebuah surat yang tempo hari dibawa oleh Bu Wulan. Surat itu dari Dr. Joko dari Farmasi Unair yang ingin dikirimkan ke Dr. Oliver Kayser. Kumasukkan surat itu ke saku tas yang juga berisi laptopku.</p>
<p>Di pagi yang masih berkabut itu kukayuh sepeda yang dipinjami oleh Dewi untuk memudahkan transportasiku selama di Groningen. Di jalan masih sangat sepi walaupun sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Hanya sesekali terlihat mobil melintas di atas jalan yang halus. Kukayuh sepeda menyusuri Selwerd yang sepi. Kurang dari 10 menit aku sudah sampai di depan fakultas farmasi RUG. Kuparkir sepedaku dan tak lupa aku kunci. Di sini angka pencurian sepeda sangat tinggi. Oleh karena itu pernah ada guyonan bahwa harga kunci sepeda disini lebih mahal dari harga sepedanya sendiri hehehe...</p>
<p>Ku tekan tombol lift. Sekretaris Prof. Bischoff ada di lantai dua. Tidak lupa kuucapkan selamat pagi setelah ketemu dia. Kemudian aku jelaskan maksud kedatanganku. Seperti biasanya, di sini orang-orang yang bekerja di bagian pelayanan sangat ramah sekali. Kemudian dia menawariku untuk datang hari Rabu minggu depan sekitar jam 9 pagi. Tentu saja aku setuju dengan usulannya. Setelah itu aku berpamitan.</p>
<p>Kususuri jalan yang masih sepi menuju ke kampus. Hari ini rasanya tidak mood untuk kerja. Apalagi di kampus pasti sepi karena sebagian orang pergi ke Perancis untuk analisis sampel. Timbul ideku untuk lewat pasar karena aku ingin beli ikan kibeling goreng. Pasti enak pagi-pagi makan ikan goreng. Aku minta ke penjualnya supaya ikan gorengnya dibungkus saja.</p>
<p>Kulanjutkan perjalananku ke kampus. Ternyata benar dugaanku. Di kampus sangat sepi. Mau runing HPLC, harinya cukup pendek. Jadi aku putuskan untuk kerja di depan laptopku saja. Oh ya malam ini ada undangan perpisahannya mahasiswa Indonesia yang akan pulang ke Indonesia karena sudah menyelesaikan master program double degree bidang planologi. Ternyata di Groningen banyak juga orang Indonesianya. Tapi setelah itu aku nggak punya rencana kemana-mana sih. Mungkin  ya sepanjang weekend cuman nonton TV aja deh....</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musim panas di Groningen (I)]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/2006/08/19/musim-panas-di-groningen-i/</link>
<pubDate>Sat, 19 Aug 2006 16:42:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2006/08/19/musim-panas-di-groningen-i/</guid>
<description><![CDATA[Selama lebih dari seminggu Groningen selalu diselimuti awan tebal. Bahkan hujan turun sepanjang hari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Selama lebih dari seminggu Groningen selalu diselimuti awan tebal. Bahkan hujan turun sepanjang hari. Walaupun hujan di sini tidak deras seperti di Indonesia, cuaca dingin yang menyertainya cukup membuat kita malas meninggalkan kamar. Padahal saat ini lagi musim panas. Benar-benar musim panas yang tidak menyenangkan.</p>
<p>Tetapi hari ini berbeda. Matahari bersinar terang dan tidak ada angin. Sehingga udara terasa cukup panas dan sangat cocok dipakai jalan-jalan. Seperti biasanya rute perjalanannya pasti ke arah Centrum (Grote Markt). Grote dalam bahasa Belanda berarti besar. Sedangkan Markt berarti pasar. Memang setiap hari Senin, Rabu, Jum'at, dan Sabtu di Centrum ada pasar. Bermacam-macam jenis barang yang dijual di sana. Di depan Martini Tower, pedagang umumnya menjual baju, tas, dan ada juga yang menjual makanan. Sedangkan di sisi yang lain, banyak sekali dijual kebutuhan dapur, seperti ikan, buah-buahan, keju, daging, dan lain-lain.</p>
<p>Seperti biasanya saya selalu membeli ikan Kibeling goreng. Dan satu seperti biasanya, rasanya masih tetap nikmat. Tetapi sebelum itu saya sempat belanja di toko Indonesia. Melati namanya. Saya dengar pemiliknya dari Surabaya. Ada berbagai macam barang yang dijual di toko ini. Sebagian besar adalah barang-barang berupa kebutuhan rumah tangga, terutama makanan dan sayuran. Bahkan di toko ini juga dijual pepes ikan Makarel dan cobek beserta uleg-ulegnya. Makanya kalau ke Belanda saya tidak pernah khawatir masalah makanan.</p>
<p>Sejak dua hari yang lalu di Groningen ada panggung musik. Kata temen sih acara ini biasanya berlangsung selama satu minggu. Pingin nonton sih. Tapi khok males ya...enakan nonton TV aja deh di kamar. Acara favoritku kalau di Eropa barat ya Discovery, Animal Planet, National Geographic, dan CNN.   </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Datang di Groningen]]></title>
<link>http://ganden.wordpress.com/2006/08/13/datang-di-groningen/</link>
<pubDate>Sun, 13 Aug 2006 00:37:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganden</dc:creator>
<guid>http://ganden.id.wordpress.com/2006/08/13/datang-di-groningen/</guid>
<description><![CDATA[Satu hal yang membuat saya selalu ingin kembali ke Belanda yaitu kibeling. Kibeling adalah sejenis i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Satu hal yang membuat saya selalu ingin kembali ke Belanda yaitu kibeling. Kibeling adalah sejenis ikan yang biasanya disajikan dalam bentuk gorengan hangat disertai berbagai macam jenis saos. Sejak kedatangan saya di Groningen pada tanggal 19 Juli 2006 yang lalu, hampir setiap hari Sabtu saya pergi ke Centrum untuk menikmati kibeling goreng. Saya di Groningen dalam rangka kerjasama riset dengan Prof. Bauke Dijkstra dalam framework mobility program. Program ini memberikan kesempatan kepada kelompok peneliti di Indonesia untuk melakukan penelitian di Belanda yang dibiayai oleh The Netherlands Academic of Art and Science (KNAW). Kajian riset kali ini adalah berkaitan dengan eksplorasi enzim yang nantinya dapat digunakan untuk degradasi xylan. Proyek ini diketuai oleh Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. Sedangkan anggota timnya adalah saya sendiri, Tjitjik Srie Tjanjandarie, Ph.D, dan Dr. Wulan J. Manuhara, M.Si. Kebetulan saya  kebagian untuk datang lebih awal di Groningen.</p>
<p>Tugas saya adalah menyiapkan substrat untuk enzim Abfa. Sustrat diperoleh dengan cara mendegradasi xylan dengan enzim xylosidase dan xylanase. Kemudian produk yang terbentuk dipisahkan dengan HPLC. Fraksi yang positif terhadap Abfa dipisahkan dan dimurnikan.</p>
<p>Pekerjaan ini bagi saya tidak mudah karena latar belakang riset saya bukan di biokimia melainkan di bioanalytical chemistry dan kimia lingkungan. Apalagi saya harus menggunakan HPLC yang sudah sekian tahun tidak digunakan. Belum lagi HPLC tersebut dilengkapi dengan peralatan canggih yang selama ini saya belum pernah mengenalnya.</p>
<p>Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengenali HPLC beserta perlengkapannya. Ternyata HPLCnya dilengkapi dengan autosampler dan dikendalikan dengan komputer melalui software chemstation. Kemudian saya melakukan instalasi peralatan pendukung karena beberapa kabelnya ternyata tidak ada lagi. HPLC ini sudah sepuluh tahun tidak digunakan. Busyet..!!!! pikir saya. Oleh karena itu dimungkinkan kolom dan degassernya telah kering. Sambil mempelajari softwarenya, HPLC saya running secara manual untuk menstabilkan sistem.</p>
<p>Groningen adalah suatu kota yang terletak di bagian utara Belanda. Beberapa tahun yang lalu saya sempat datang sekali ke Groningen. Pada saat saya mengambil S2 di Delft dan waktu itu akan berkunjung ke Denmark. Waktu itu kotanya sangat kecil dan sepi. Oleh karena itu sebelum datang ke sini, bayangan saya tidak ada orang Indonesia di sini. Ternyata dugaan saya keliru. Ternyata di sini saya jumpai banyak orang Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa di RUG. Hal ini tidak lepas dari usaha-usaha yang sangat agresid dari RUG untuk menarik minat mahasiswa dari Indonesia studi di universitas ini </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sehari di Yogya, dari Merapi Hingga Salak Pondoh]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2007/05/29/sehari-di-yogya-dari-merapi-hingga-salak-pondoh/</link>
<pubDate>Tue, 29 May 2007 04:44:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2007/05/29/sehari-di-yogya-dari-merapi-hingga-salak-pondoh/</guid>
<description><![CDATA[Kemaren saya ke kota Yogyakarta memenuhi undangan mengisi acara workshop penulisan buku ajar  di Jur]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kemaren saya ke kota Yogyakarta memenuhi undangan mengisi acara workshop penulisan buku ajar  di Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII). Mungkin karena saya telah menulis beberapa buku maka panitia mengundang saya untuk <i>sharing</i> pengalaman. Saya ke Yogya naik Adam Air. Hah? Adam Air? Iya, itulah pilihan pesawat pagi yang murah. Memang hati ini terasa dag dig dug naik Adam Air mengingat catatan buruk penerbangan Adam Air. Tetapi saya sudah pasrah saja setiap naik pesawat, sebab naik pesawat apa pun tidak ada yang aman, termasuk Garuda sekalipun. Pesawat Adam Air terisi penuh penumpang. Orang Indonesia memang cepat sekali melupakan peristiwa dan tragedi kecelakaan pesawat ya.</p>
<p>Yogya adalah kota yang statik, pembangunan kotanya tidak begitu pesat. Kata orang di sana, Yogya ya begini-begini saja. Saya sudah enam kali ke kota Yogya sehingga bisa menyimpulkan tidak banyak berubah dari kota ini. Jangan salah tulis ya, nama yang benar untuk kota Yogya itu adalah Yogyakarta, bukan Jogjakarta atau Djogjakarta, atau kota Jogja. Itu bisa kita lihat dari nama resmi kerajaan Mataram di daerah itu yang berbunyi "Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningngrat". Kesultanan ini didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 (Sumber: Wikipedia). Tetapi orang sudah terlanjur salah mengucapkan nama "Jogjakarta" atau "Djogdjakarta" atau "Jogja" saja. Ini semua disebabkan warisan ejaan lama yang menuliskan bunyi "y" sebagai "j"  dan bunyi "j" sebagai "dj". </p>
<p>Jalan-jalan di kota Yogya didominasi pengendara sepeda motor. Saya tidak melihat angkot di Yogya, kecuali bis kota berukuran mini. Yogya dan Bandung memang beda. Jika Bandung semrawut karena angkot yang bejibun, maka di Yogya lalu lintas relatif teratur, maklum tidak ada angkot sih. Tetapi, hidup di Yogya agak sukar kalau kita tidak ada kendaraan, karena mau pergi kemana-mana pasti susah, sementara kendaraan umum seperti bis mini itu tidak banyak jumlahnya dan tidak melalui sebagian besar jalan. Beda dengan Bandung, jalan apapun pasti ada angkot yang lewat. Kita mudah berpergian karena ada rute angkot yang saling sambung bersambung. Malahan beberapa rute angkot beroperasi 24 jam.</p>
<p>Acara <i>workshop</i> dimulai pukul 9 pagi. Oh ya, saya sudah dua kali mengunjungi kampus UII di Condong Catur Sleman. Kampusnya besar, bangunannya megah, mahasiswanya juga banyak. UII termasuk PTS yang masih mendapat porsi mahasiswa yang besar padahal PTS-PTS di Indonesia umumnya dilanda kekurangan mahasiswa karena jatahnya direbut PTN-PTN yang membuka banyak program ekstensi, program diploma, dan jalur ujian seleksi mandiri. </p>
<p>Peserta <i>workshop</i> cukup antusias mendengar <i>sharing</i> pengalaman 3 penulis buku. Selain saya sendiri ada Abdul Kadir yang sudah menulis 80 buah buku dan dosen IF UII Ibu Sri Kusumadewi yang juga aktif menulis buku-buku informatika. </p>
<p>Acara selesai siang hari. Panitia lalu mengajak saya jalan-jalan. Saya diajak lebih dekat melihat Gunung Merapi di Kaliurang. Kami memang tidak menuju puncak gunung, tetapi hanya sampai di Bukit Turgo. Pemandangan di Kaliurang sekitar Merapi cukup menawan. Menuju Kaliurang mengingatkan saya pada daerah Lembang, Bandung. Hawanya sejuk dan sering berkabut. Banyak vila saya temukan di Kaliurang. Bukit Turgo inilah yang menghalangi perjalanan lava dari puncak Merapi sehingga derah Kaliurang tetap aman.</p>
<p>Seusai melihat Merapi di Kaliurang, saya diajak mengunjungi daerah Agrowisata di Turi, sebuah kecamatan di Sleman ke arah Magelang. Apalagi yang ditanam di Agrowisata kalau bukan salak pondoh. Hampir setiap jalan yang saya lewati selalu ada tanaman buah salak, baik di kebun-kebun maupun di halaman rumah penduduk. Dimana-mana pohon salak saja yang tampak. Tidak terlihat sawah yang ditanam padi, karena sawah sudah diganti dengan ladang salak. Pohon-pohon salak itu umumnya terawat dengan baik. Hmmm... padahal menanam pohon salak sama dengan mengundang ular bersarang. Ya, ular memang suka ngumpet dan bersarang di bawah pohon salak. Orang-orang Turi itu sudah biasa berhadapan dengan ular kali ya...</p>
<p>Begitulah sehari di Yogya. Kapan-kapan saya akan datang mengunjungi kota ini lagi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berkunjung ke Bontang]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2007/02/13/berkunjung-ke-bontang/</link>
<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 05:06:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2007/02/13/berkunjung-ke-bontang/</guid>
<description><![CDATA[Tanggal 4 Februari 2007 yang lalu saya mendapat tugas ke Bontang, sebuah kota kecil di Kalimantan Ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 4 Februari 2007 yang lalu saya mendapat tugas ke Bontang, sebuah kota kecil di Kalimantan Timur. Saya senang, karena ini pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Di kota Bontang baru didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Bontang, kerjasama antara LAPI ITB dengan Pemkot Kota Bontang.  Ada dua program studi sana, yaitu Teknik Informatika dan Teknik Elektronika. Saya ke sana memantau dan mengevaluasi pelaksanaan silabus kuliah yang saya susun, apakah sudah berjalan dengan baik. </p>
<p>Ya, Bontang yang kaya dengan sumber kekayaan alamnya (minyak dan gas) tidak mau kalah dengan kota-kota di Daerah Tingkat II lain yang berlomba-lomba membuat Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi di Indonesia tidak hanya ada di ibukota provinsi atau kota besar, tetapi sudah menjangkau ke kota kecil dan kota kabupaten. Pangsa pasarnya ada, kebanyakan karyawan yang bekerja di kota tersebut. Lulusan SMA yang masih baru sangat sedikit berminat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi daerah, mereka lebih memilih perguruan tinggi di kota-kota besar. Motivasi karyawan mengambil kuliah lagi di perguruan tinggi daerah (umumnya kuliah sore sampai malam hari) beragam, tetapi siapapun maklum kalau kebanyakan motivasinya adalah demi selembar ijazah untuk meningkatkan karir di tempat kerjanya. Tapi sudahlah, itu hak azasi orang kan...? Kota Bontang yang berukuran mini ternyata memiliki beberapa perguruan tinggi, salah satunya STITEK Bontang itu. Karena belum mempunyai gedung sendiri, sekolah tinggi ini masih 'menumpang' di SMAN 1 Bontang (SMAN 1 Bontang ini ternyata sekolah berstandard internasional, <em>bo. Edun!</em>)</p>
<p>Kembali cerita soal Bontang tadi. Bontang, meskipun kota kecil, memiliki bandara kecil yang cukup bagus. Bandara yang berada di dalam kompleks PT LNG Badak ini memang bandara internal perusahaan. Pesawat yang bisa mendarat di sana hanyalah pesawat Pelita Air yang bertipe baling-baling dan berkapasitas 24 orang penumpang. Dari Balikpapan ke Bontang ada penerbangan 2 kali sehari ke Bontang, begitu sebaliknya. Prioritas penumpang pesawat adalah karyawan PL LNG Badak dan PT Pupuk Kaltim, meskipun masyarakat umum juga diperbolehkan tetapi prioritas terakhir. Oh ya, areal PT LNG Badak ini sangat luas tetapi tertata asri. Di kompleks ini setiap jengkal tanah ditanam pohon mangga. Pohon mangga di mana-mana. Kalau lagi berbuah, siapa yang memakan mangga sebanyak itu ya, padahal penghuni kompleks PT Badak itu tidak seberapa. Jika malam hari, maka kita dapat melihat obor api raksasa dari arah manapun di kota Bontang. Obor api itu adalah semburan gas yang menyala di PT Badak dan membuat kota Bontang menjadi terang benderang.</p>
<p>Bontang kota yang panas karena terletak di pinggir pantai. Kotanya sepi karena penduduknya tidak banyak. Jalan-jalan sepi dari lalu lalang kendaraan. Bayangan kita kalau pergi ke Kalimantan adalah bertemu dengan orang Dayak, ternyata di Bontang tidak. Mayoritas penduduk kota ini adalah orang Jawa, baru kemudian pendatang dari Bugis dan Makassar. Orang Dayak kebanyakan berdiam di pedalaman.</p>
<p>Tidak ada mal, plaza, atau hotel berbintang di sini. Tetapi mungkin beberapa tahun lagi kota ini tidak bedanya dengan kota-kota di Jawa yang ditumbuhi ruko dan pusat perbelanjaan. Maklum, Bontang adalah kota industri, dan kota industri di manapun bagaikan gula yang dikerubungi semut, berarti akan banyak lagi pendatang mengadu nasib di kota ini.</p>
<p>Kebiasaan saya kalau berkunjung ke tempat baru adalah mencicipi masakan atau makanan khas di sana. Di Bontang banyak bermunculan kedai ikan laut bakar. Pelayan dan pemiliknya kebanyakan orang Jawa Timur. Lumayan enak, meskipun masih kalah enaknya dengan ikan bakar waktu saya berkunjung ke Manado.  Rumah makan Padang juga banyak di sini (ho..ho..ho, di tempat mana yang tidak ada rumah makan Padang ya? Tapi tunggu dulu, belum tentu rumah makan Padang itu dikelola oleh perantau Minang, jangan-jangan orang Jawa juga :-) )</p>
<p>Saya berkunjung ketika Bontang lagi musim durian. Tetapi durian di sini rasanya kurang manis dan daging buahnya tipis. Kata orang di sana, durian tersebut didatangkan dari daerah Mamuju, Sulawesi Barat. Pantesan, bukan buah lokal sih. Tetapi, di sini saya temukan durian 'aneh' yang penduduk sana menamakannya 'lai'.  Lai adalah sejenis durian tetapi durinya lebih lunak, tidak setajam kulit durian biasa. Buahnya persis sama seperti durian biasa, tetapi warnanya oranye. Baunya juga tidak menyengat. Rasanya? Oh, terasa aneh di lidah saya. Hambar saja dan kurang manis. Saya tidak berminat memakannya lagi. Oh ya, ada satu lagi buah yang agak aneh menurut saya (karena belum pernah lihat), yaitu buah rambutan tetapi warna kulitnya kuning, bukan merah seperti rambutan biasa. Sayang saya tidak sempat mencobanya karena besok pagi-pagi saya harus siap kembali ke Balikpapan untuk seterusnya ke Jakarta.</p>
<p>Sebelum pulang, kami sempat membeli oleh-oleh di kota ini. Oleh-oleh khas Kalimantan apalagi kalau bukan lempok (dodol durian). Selain itu juga ada abon ikan dan penganan yang berhubungan dengan ikan (kerupuk ikan, amplang, dan lain-lain). Teman saya malah membeli jamu khas Kalimantan, apalagi kalau bukan jamu pasak bumi, he..he...</p>
<p>Demikianlah cerita perjalanan saya bersama beberapa orang dosen ITB ke Bontang. Mungkin lain waktu saya ditugaskan ke sana lagi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemiskinan Struktural Sepanjang Masa ]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2006/07/14/kemiskinan-struktural-sepanjang-masa/</link>
<pubDate>Fri, 14 Jul 2006 09:14:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2006/07/14/kemiskinan-struktural-sepanjang-masa/</guid>
<description><![CDATA[Setiap kali saya ke Jakarta dengan kereta api, saya selalu melihat orang itu lagi di stasiun kelas 2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kali saya ke Jakarta dengan kereta api, saya selalu melihat orang itu lagi di stasiun kelas 2, Jatinegara. Dia pedangan pedagang kaki lima yang mangkal di emperan stasiun kereta api. Dagangannya hanyalah sebuah kardus kecil yang berisi beberapa bungkus tisu, dua atau tiga buah gelas air mineral, beberapa bungkus rokok, permen polo, dan minuman suplemen. Tampaknya setiap hari dia menunggui dagangan tidak seberapa itu sembari berharap ada satu dua orang yang lewat untuk membelinya. Tidak jauh dari dirinya ada pedagang yang menjual buah salak di dalam kardus kecil. Mereka inilah yang setiap kali saya temui ketika KA Parahyangan berhenti sejenak di Jatinegara sebelum melanjutkan kembali ke stasiun Gambir. Entah sudah berapa tahun saya selalu melihat mereka di stasiun tersebut. Kalau dihitung-hitung berapalah keuntungan berjualan barang-barang semacam itu, mungkin tidak akan cukup untuk biaya hidup di Jakarta. Belum lagi jika ada anak istri yang harus dihidupi.</p>
<p>Pemandangan serupa kita lihat sehari-hari, rakyat kecil yang bekerja keras membanting tulang mencari kehidupan. Mulai dari pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang keliling, buruh-buruh di pabrik, sampai petani dan nelayan. Di depan rumah saya setiap hari ada saja orang yang lalu lalang berjalan kaki menawarkan jasa reparasi jam, dari satu kampung ke kampung lain dia berjalan dibawah sengatan matahari menawarkan jasa. Tentu tidak setiap hari jam tangan orang rusak, tentu tidak setiap hari pula dia beruntung. Ada pula pedagang yang memanggul beberapa buah tangga dari bambu menawarkan dagagangannya. Tidak terbayang sakitnya bahu dia yang memikul beberapa buah tangga yang berat-berat berkeliling kampung.</p>
<p>Mereka telah bekerja keras dengan cucur keringat untuk mendapatkan uang. Tiap hari mereka bekerja seperti itu, dari tahun ke tahun. Sekeras apapun mereka berusaha, uang yang didapat hanya segitu-gitu saja. Mereka tetap saja miskin. Inilah yang dinamakan dengan kemiskinan struktural. Mereka miskin bukan karena mereka malas, tetapi mereka tidak berdaya untuk mengubah nasib. Peluang tidak ada, kesempatan tidak punya. Jargon yang pernah populer adalah "jangan berikan ikan, tapi berikan kailnya". Masalahnya, jikapun ada kail tetapi kolamnya tidak ada bagaimana bisa memancing? Sistemlah yang membuat mereka tetap miskin. Sistem yang tidak adil. Mau pinjam modal di bank sangat sulit, lagipula tidak ada barang yang bisa dijadikan agunan. Sementara di sisi lain para pengusaha dan konglomerat begitu mudah memperoleh pinjaman di bank dengan persyaratan yang mudah (meskipun banyak dari kredit mereka yang seret, malah Pemerintah malah melakukan pemutihan). Para nelayan seharusnya bisa kaya karena laut negara kita berlimpah dengan ikan, gratis lagi. Tetapi mereka kalah dengan tengkulak yang membeli ikan mereka dengan murah, sementara di sisi lain mereka dijerat utang oleh para rentenir. Kapal mereka kalah pula dengan pukat harimau yang mampu meraup ikan dalam jumlah banyak.</p>
<p>Selama sistem keadilan tidak berubah, mereka - para orang kecil itu - akan tetap miskin sepanjang masa. Parahnya lagi Pemerintah negara ini tampaknya tidak berpihak pada rakyat kecil. Kemiskinan tampaknya terus dipelihara karena isu kemiskinan dapat dijadikan komoditas politik untuk meraih simpati massa yang akhirnya menjadi modal untuk meraih kekuasaan (ingat jargon "wong cilik" untuk meraih simpati massa memilih PDIP).</p>
<p>Kereta api meninggalkan stasiun Jatinegara menuju stasiun Gambir. Pedagang tisu di emperan stasiun itu tidak terlihat lagi. Mungkin beberapa tahun lagi kalau saya lewat di sana masih bertemu mereka yang duduk melamun menunggui seonggok dagangannya yang belum laku-laku juga.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Harus Yogya? ]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2006/06/24/mengapa-harus-yogya/</link>
<pubDate>Sat, 24 Jun 2006 09:18:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2006/06/24/mengapa-harus-yogya/</guid>
<description><![CDATA[Minggu lalu, 17 Juni 2006, saya sempat ke Yogyakarta untuk mempresentasikan makalah di seminar yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu, 17 Juni 2006, saya sempat ke Yogyakarta untuk mempresentasikan makalah di seminar yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia di sana (lihat website seminar di http://snati.informatika.web.id). Panitia seminar hampir saja gamang untuk memutuskan apakah seminar tersebut diteruskan, ditunda, atau dibatalkan. Wajar saja, musibah gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu masih menyisakan trauma bagi warga Yogyakarta, maupun pengunjung kota Yogyakarta (catat lho: "Yogya", bukan "Jogja" ataupun "Djogdja").</p>
<p>Sayang sekali saya tidak sempat melihat kondisi Kabupaten Bantul yang merupakan daerah paling parah dilanda gempa dan dengan korban tewas paling banyak. Saya hanya sempat melihat kerusakan beberapa rumah dan gedung di dalam kota Yogyakarta. Sempat juga dari jauh saya melihat lelehan lava yang keluar dari puncak gunung Merapi.</p>
<p>Secara umum, situasi di kota Yogyakarta saat ini terlihat hidup kembali. Jalan-jalan tampak ramai, begitu juga kawasan Malioboro yang malam itu saya kunjungi (sambil menunggu KA Lodaya berangkat) tampak sangat ramai, seolah-olah tidak ada kejadian besar yang telah melanda kota ini. Tampaknya warga kota sudah mulai melupakan trauma kejadian gempa hebat tersebut dengan beraktivitas secara normal.</p>
<p>Belum usai kesedihan karena gempa bumi, kawasan Yogyakarta dan dan Jawa Tengah menghadapi bencana alam baru, yaitu letusan gunung Merapi. Sampai saat ini aktivitas Gunung merapi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan, malah semakin lama semakin membahayakan. Lava dan awan panas keluar setiap waktu. Tidak ada kepastian kapan aktivitas Merapi ini berhenti. Jika di selatan Yogya dilanda gempa, maka di utara dilanda letusan Merapi.</p>
<p>Sebagai orang yang beriman tentu kita berpikir bahwa bencana alam ini mungkin saja ujian dari Tuhan atau mungkin juga azab karena manusia sudah banyak yang kufur terhadap nikmat Allah. Kemaksiatan mudah ditemukan di mana-mana, batas antara yang halal dan haram semakin kabur. Kitab suci Alquran menyatakan bahwa musibah yang menimpa manusia disebabkan oleh dosa-dosa manusia. Banyak bukti di dalam kitab suci yang menyatakan hal tersebut, misanya Kota Sodom, kota tempat diutusnya Nabi Luth a.s, dibalikkan oleh Allah SWT karena penduduknya melakukan homoseksual. Begitu juga kaum Nabi Nuh a.s dilanda banjir bah besar karena kaumnya durhaka kepada Allah SWT. Pertanyaan yang masih menggelayut di benak sebagian orang adalah: mengapa harus Yogya? Mengapa bukan Jakarta? Padahal kemaksiatan, korupsi, dan kejahatan lainnya paling banyak terjadi di Jakarta. Tentu hal ini merupakan rahasia Allah SWT. Kita hanya bisa menduga-duga saja kesalahan apa yang dilakukan oleh manusia sehingga Allah SWT mengirimkan musibah alam kepada kita.</p>
<p>Mungkin saja di Yogyakarta tidak terlalu banyak terdapat kemaksiatan, tetapi yang paling anyak adalah kegiatan yang mempersekutukan Allah SWT. Dengan kata lain kegiatan syirik, seperti larungan sesaji di laut selatan untuk Nyai Roro Kidul, labuhan sesaji ke kawah Gunung Merapi, kepercayaan kepada benda-benda seperti keris, gamelan, pakaian raja, dan sebagainya. Begitu juga budaya kraton yang banyak mengandung unsur sinkretisme. Pada gempa 27 Mei yang lalu, keraton Yogya rusak, termasuk makam Imogiri yang dikeramatkan, dan benda-benda pusaka yang selama ini disembah tidak menunjukkan kesaktiannya, sama saja seperti benda-benda lain yang rusak dan hancur dilanda gempa.</p>
<p>Sayangnya, ketika gempa dan gunung Merapi meletus, masih saja orang mengaitkannya dengan hal-hal tahayul yang berbau syirik. Misalnya menyatakan bahwa gempa disebabkan Nyi Roro Kidul marah karena perhatian semua orang waktu itu (sebelum gempa) hanya tertuju pada Gunung Merapi. Begitu juga ketika Gunung Merapi meletus, banyak orang yang lebih meyakini Mbah Maridjan ketimbang Tuhan. Nyatanya, gunung Merapi tetap saja mengeluarkan isi perutnya, tidak peduli penduduk memasang sarang yang terbuat dari daun kelapa di pintu-pintu rumah. Laharnya tanpa ampun menghantam desa tempat Mbah Maridjan berada.</p>
<p>Demikianlah, semoga kejadian-kejadian musibah yang menimpa kita menjadikan ibrah (pelajaran) buat kita. Bukti-bukti nyata dari bencana alam ini seharusnya membuat kita untuk lebih mendekatkan kepada Allah SWT, bukannya mempercayai hal-hal klenik dan tahayul yang justru menjurus kepada perbuatan syirik. Hanya kepada Allah lah kita bermohon dan berlindung, bukan melalui perantara benda-benda atau "makhluk" yang tidak jelas apakah ada atau tidak. Hanya kepada Allah SWT pula kita kembali.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan-jalan ke Manado: Pluralitas adalah Realitas ]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2006/06/09/pluralitas-adalah-realitas/</link>
<pubDate>Fri, 09 Jun 2006 09:23:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2006/06/09/pluralitas-adalah-realitas/</guid>
<description><![CDATA[Minggu lalu saya ke kota Manado, Sulawesi Utara. Ada pekerjaan membimbing Tugas Akhir mahasiswa Tekn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu saya ke kota Manado, Sulawesi Utara. Ada pekerjaan membimbing Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika sebuah PTS di sana. Selama ini bimbingannya melalui internet (e-mail, chatting, dan telpon genggam), namun di tengah semester saya diundang ke Manado untuk bertemu langsung dengan mahasiswanya.</p>
<p>Manado adalah kota yang majemuk. Di sana hidup berbagai suku dan agama. Suku yang dominan adalah Manado/Minahasa, Gorontalo, Sangir Talaud, dan Bolaang Mangondouw, disamping itu ada suku pendatang dari Jawa dan Bugis/Makassar. Ada dua agama besar yang dianut penduduk kota ini, yaitu Kristen (mayoritas) dan Islam. Kalau di Jawa kita biasa menemukan mesjid atau mushala di mana-mana, maka di Manado kita menemukan sebaliknya. Setiap 100 meter ada gereja. Penduduk kota ini sangat taat beragama. Minggu pagi kota Manado lengang, sebagian besar penduduk pergi ke gereja. Anda akan sulit mencari koran pada hari minggu, karena koran lokal tidak terbit pada hari tersebut. Masjid juga ada di sela-sela pemukiman penduduk, meskipun tidak sebanyak gereja. Ada sekira 20% penduduk kota ini beragama Islam.</p>
<p>Meskipun plural, namun suasana kehidupan yang saya tangkap di kota ini sangat harmonis, rukun, dan penuh toleransi. Waktu saya sampai ke kota ini malam hari (penerbangan dari Jakarta menempuh waktu 3 jam ke Manado), di lapangan Tikala - di pusat kota Manado - malam itu ada acara kebaktian yang dihadiri ribuan jemaat. Besoknya, di lapangan itu dilangsungkan pembukaan MTQ Tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Seusai pembukaan, para peserta MTQ melakukan pawai taatuf (perkenalan) dengan berkeliling kota. Semua peritiwa keagamaan ini mengalir begitu saja, lumrah. Mungkin sudah biasa bagi warga kota ini hidup berdampingan dengan orang yang berbeda-beda. Sayapun tidak sulit melaksanakan shalat di sela-sela kegiatan saya di sana. Bahkan ketika makanpun, mereka tanya dulu saya mau makan apa, karena kita harus hati-hati makan di kota ini, karena cukup banyak yang tidak halal. Ketika di hotel saya menanyakan ke pramusaji apakah makanan di restoran ini halal bagi saya yang muslim, dengan tersenyum ramah pramusaji tadi mengataka iya, halal.</p>
<p>Seperti Manado, bangsa Indonesia, juga adalah bangsa yang majemuk. Beragam suku dan agama ada di sini. Pluralitas bangsa Indonesia adalah kenyataan yang tidak bisa kita bantah. Hal ini semua merupakan ketentuan Allah SWT yang dalam istilah Islam dinamakan: sunnatullah. Allah sendiri mengatakan di dalam sebuah ayat Alquran bahwa Dia menciptakan manusia ini bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Indah sekali bunyi ayat ini, kita diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling memusuhi. Begitupun dalam soal agama, kalau Allah menghendaki, semua manusia bisa dibuat-Nya beriman, namun itu tidak dilakukan-Nya. Tentu ada maksud-Nya, wallahu alam.</p>
<p>Pluralitas yang ada di sekeliling kita, disamping merupakan aset bisa juga potensi enimbulkan konflik. Banyak kerusuhan berlatar belakang etnik maupun agama sudah terjadi di Indonesia. Ini aneh, sebab pada zaman dulu tidak terjadi kasus-kasus semacam ini. Penyebabnya mungkin karena faktor gesekan. Dulu, interaksi antar etnik, budaya, dan agama tidak sebanyak sekarang. Sekarang, percampuran kultural sudah tidak terbendung lagi. Masalahnya, percampuran kultural ini tidak dibarengi dengan pendidikan untuk saling harga menghargai satu sama lain. Menurut saya, inilah faktor yang menyebabkan terjadinya perpecahan masyarakat. Seandainya setiap orang bisa bertenggang rasa untuk menjaga harmoni, tentu tidak akan muncul kerusuhan. Parahnya, masih ada orang yang meniup-niup perbedaan yang ada untuk menimbulkan kerusuhan. Kasus Poso misalnya, penyebabnya diduga ada calon bupati dari agama tertentu yang kalah dalam pilkada, lalu menghembuskan sentimen ras dan agama untuk menutupi kekalahannya. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa jadi terpancing, selanjutnya terjadilah pembunuhan besar-besaran antar sesama warga yang berbeda agama.</p>
<p>Demikianlah, kita seharusnya menjaga pluralitas baik-baik. Jangan kita campurkan pluralitas menjadi satu, karena pencampuran tersebut dapat menimbulkan masalah baru. Di dalam surat Al Kaafirun, Allah mengatakan "Bagimu agamamu, bagiku agamaku". Artinya, biarlah masing-masing kita meyakini keyakinan masing-masing, tidak perlu pula kita mempersoakannya. Yang harus kita pelihara adalah tenggang rasa dan hormat menghormati. Jika ini berhasil, maka kehidupan akan berjalan dengan sendirinya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suatu Siang di Terminal Bus Leuwipanjang ]]></title>
<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2006/02/06/suatu-siang-di-terminal-bus-leuwipanjang/</link>
<pubDate>Mon, 06 Feb 2006 09:35:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
<guid>http://rinaldimunir.id.wordpress.com/2006/02/06/suatu-siang-di-terminal-bus-leuwipanjang/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya dan beserta istri dan anak-anak bermaksud mengunjungi saudara di Depok]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu saya dan beserta istri dan anak-anak bermaksud mengunjungi saudara di Depok. Berhubung tidak ada kereta api yang langsung dari Bandung ke Depok, kami akhirnya memilih naik bus dari terminal Leuwipanjang. Sebenarnya sudah lama saya tidak naik bus kalau menuju ke Jakarta dan sekitarnya, sebab biasanya saya menggunakan kereta api. Tapi, pengalaman naik bus kali ini banyak yang menarik untuk saya ceritakan.</p>
<p>Tidak seperti kereta api yang selalu berangkat sesuai jadwal, meskipun penumpang hanya sedikit, maka bus tidak demikian. Supir hanya mau memberangkatkan bus jika bus sudah penuh dengan penumpang. Maka, sembari menunggu bus penuh, saya dan keluarga terpaksa menunggu dulu di atas bus.</p>
<p>Nah, seperti lazimnya di terminal bus, banyak pedagang yang keluar masuk bus menjajakan dagangannya. Mula-mula naik pedagang roti. Ia menawarkan aneka roti yang harganya cuma Rp 1000. Pedagang ini gigih juga menawarkan dagangannya, tetapi berhubung kami sudah makan, saya tidak membelinya. Selanjutnya naik pedagang majalah dan koran. Pedagang ini satu per satu mengeluarkan beberapa koran, tabloid, dan majalah. Tapi kami tidak berminat. Tahu saya membawa anak kecil, dia menyodorkan buku mewarnai. Lha, buat apa mewarnai di atas bus, kata saya dalam hati, pensil warnanya juga tidak ada. Dia tidak putus asa, majalah "kuning" pun dia keluarkan untuk menarik hati saya. Tetapi lagi-lagi saya tidak berminat. Memang gigih pedagang ini.</p>
<p>Sejurus kemudian naiklah pedagang salak. Dilihat dari bentuknya, itu salak Manonjaya dari Tasik. Mula-mula dia menawarkan 15 biji salak seharga Rp10.000. Saya tidak berminat. Tetapi dia tidak menyerah. Nah, bagaimana kalau 20 buah sepuluh ribu, kata pedagang itu. Lagi-lagi saya diam. Pedagang ini tetap tidak menyerah. Sekarang dia menyodorkan 25 salak, sepuluh ribu, katanya. Aha... saya tersenyum di dalam hati, dari 10 buah sekarang menjadi 25 buah per sepuluh ribunya. Tapi saya tetap tidak berminat. Akhirnya pedagang itu menyerah, lalu dia pergi menghampiri penumpang lain. Tidak lama kemudian dia kembali lagi, sekarang menyodorkan 30 biji salak seharga sepuluh ribu. Wah... benar-benar gigih ini orang. Pikir saya, kalau saya mau, bisa saja saya menawar sampai 40 biji salak seharga sepuluh ribu. Tetapi saya tidak mau, kasihan pedagang kecil ini, berapalah untungnya ya...? </p>
<p>Entah tidak terhitung pedagang makanan, souvenir, koran, majalah, sampai peniti yang naik turun bus menawarkan dagangannya. Tidak lupa pengemis dan pengamen pun meramaikan suasana siang yang terik saat itu. Semuanya hanya satu tujuan: mengais uang sereceh dua receh demi mencari sesuap nasi.</p>
<p>Bus mulai penuh dengan penumpang. Sudah jam 14.30, supirpun mulai menjalankan busnya. Di dekat gerbang tol naiklah seorang lelaki. Saya kira dia pengamen, eh ternyata bukan. Dia berdiri di bagian tengah bus, lalu mulai bersuara. Mula-mula dia meminta maaf karena mengganggu ketenangan penumpang. Selanjutnya dia mulai "berceramah". Banyak hal yang dia singgung, mulai dari pejabat yang korupsi, masalah-masalah sosial, sampai masalah pendidikan pun dia kupas. Tahu banyak juga dia, meskipun apa yang dia katakan banyak yang nggak nyambung dan asal sekenanya saja. Penumpang bus terkantuk-kantuk, entah mendengar ceramahnya atau tidak. Kira-kira lima belas menit lelaki itu berceramah sebelum dia menyelesaikan khutbahnya. Nah, selanjutnya, dia mengedarkan kantong kertas pertanda meminta sereceh dua receh uang kepada penumpang. Aha... gaya baru mencari uang nih, kata saya dalam hati. Akhirnya, saya keluarkan secarik uang seribu lalu saya serahkan kepada lelaki gondrong tersebut.</p>
<p>Di dalam perjalanan saya merenung, begitu keras hidup ini sehingga banyak orang yang melakukan cara apa saja yang halal untuk mencari sesuap nasi. Mereka adalah masyarakat kecil, kelas pinggiran, yang mengais rezeki dari kita-kita yang punya (sedikit) kelebihan uang.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
