<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerepen &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/cerepen/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerepen"</description>
	<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 02:51:44 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Negeri Dua PeriOde]]></title>
<link>http://ukht.wordpress.com/?p=29</link>
<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 22:58:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>AutHor PeLaNgi "Khuzaiyah"</dc:creator>
<guid>http://ukht.wordpress.com/?p=29</guid>
<description><![CDATA[Negeri Dua Periode
                                        ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center&#34;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Negeri Dua Periode</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="SV"><span>                                                </span></span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="SV">Oleh : Siti Khuzaiyah</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="SV"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">“Augh!!” Ical menyeringai. Kakinya tersandung hingga tersungkur di rerumputan kering.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">“Uh, sial! Dimana aku?” Mata Ical terbelalak mengamati lingkungan sekitar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ma, Pa, ko` pada ngilang semua?!” dipanggilnya mama dan papa yang tadi menggandengnya di eskalator Mall Citra.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Dia bangkit. Segera ia betulkan posisi tas punggungnya. Dengan bibir menyeringai menahan nyeri di kaki, bocah 11 tahun itu tertatih menjalankan tuibuh gemuknya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oya, laptopku? Duh untung gak terbentur batu tadi,” ia memeriksa benda yang ada di dalam tas punggungnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hp ku?” tangannya merogoh ke saku celana ¾ yang dia kenakan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Uh, untung gak jatuh,” dia lega ketika benda mungil yang sudah jadi bawaan wajibnya itu masih ada di sakunya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ko` bisa aku di hutan? Sepi. Sendiri lagi!,” batin Ical. Dia masih teringat setengah jam yang lalu dia baru saja sampai di Mall Citra bersama mama papanya. ”Kenapa sekarang di sini? Tersesatkah? Oh, <em>gak</em> mungkin. Di Mall <em>gak</em> ada arena bermain atau taman yang diset kayak hutan seluas ini. Mimpikah? Augh...<em>gak</em> mungkin juga!” Ical mencubit tangannya sendiri. Ingin sekali Ical menangis. Rasanya dia menjadi manusia paling malang. Di hutan sendiri, <em>gak</em> bawa bekal makanan dan minuman, hari hampir petang, suasana mengerikan, dan...</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Haah, orang hutan?!” Ical terbelalak ketika tak jauh di hadapannya dua ekor orang hutan bergelayutan di pohon pinus yang tidak terlalu tinggi. Dua pasang mata makhluk itu menatap tajam ke arah Ical. Dalam hati senang juga bisa lihat orang hutan tanpa harus ke Bonbin. Tapi...</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Liar <em>gak</em> ya? Ko` matanya gitu. Jangan-jangan dia <em>gak</em> kenal manusia? Jangan-jangan aku diterkam? Jangan-jangan...? waaahh...takut...” Ical terbirit menjauhi orang hutan. Belum jauh dia lari, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terbelalak semakin lebar. Jantungnya berdegup semakin kencang. Nafasnya tersengal</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Harimau?!” dia tidak percaya. ”Sabar, sabar. Jangan lari,” batinnya menenangkan diri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Di luar dugaan Ical, harimau loreng itu berjalan pelan ke arah Ical. Degup jantung semakin tidak karuan. Di kanan kirinya diliputi pohon pinus rindang dengan cabang-cabangnya yang rapat. Ical merapat ke pohon dan mencoba menggapai cabang terendah dari pohon itu, merayapi pohon, dan...</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Sluruut...” dia gagal memanjat pohon.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Uh, bodoh! <em>Manjat</em> pohon <em>aja</em> <em>gak</em> bisa,” gerutunya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Harimau tampak semakin dekat. Ical belum menyerah, dia kembali memanjat pohon pinus. Dan, ”Yup, berhasil,” cabang paling rendah berhasil dia<span>  </span>gapai. Tubuh tambunnya kini telah menduduki satu cabang pinus. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Husy! Husy!Macan cantik, ayolah pergi dari sini,” dari atas pohon dia berusaha mengusir makhluk di bawahnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Auuummm...” harimau menatap Ical ganas. Aumannya membuat gemetar tubuh di atas pohon itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Auuummm...” harimau merapat dan mencakar-cakar batang pohon. Ical makin gemetar. Ia bermandi keringat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya Tuhan, tolong aku..., jangan biarkan aku mati dimakan harimau ini,” harapnya dalam hati. Ia pejamkan mata supaya tidak melihat mata ganas makhluk di bawahnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Tak-tak, tik-tak-tak-tak, tak-tak-tik-tak-tik-tak, ” suara bambu dipukul mengagetkan Ical. ”Hm, apakah ada orang di sini?” batinnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya Tuhan, semoga mereka bisa bantu aku,” </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ayo, cepetan. Hari sudah sore. Bentar lagi petang! ” ajak segerombolan anak yang membunyikan bambu itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ayo kita kejar-kejaran. Yang lebih dulu sampai di kampung dialah yang menang,” ajak seorang anak yang lain.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ayo. Siapa takut?!” tantang yang lain. Tidak lama kemudian mereka berlari, berkejar-kejaran ke arah barat. Yah, mungkin kampung ada di sebelah barat. Dari atas pohon Ical memperhatikan langkah ramai anak-anak sebayanya itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hey, orang kampung! Ke sini dong! Tolong aku!” teriak Ical ke arah gerombolan anak tersebut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman&#34;">”Auuumm...” suara harimau kembali membuat Ical deg-degan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hey, anak kampung...”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span> </span>Anak-anak itu menghentikan larinya. Merasa tidak nyaman dengan sebutan anak kampung, segerombolan anak-anak itupun menatap marah ke arah Ical.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ayo kita lanjutkan lari. Buat apa peduli sama anak sombong <em>kayak</em> dia, ” perintah seorang kribo dari mereka seraya melirik sengit ke arah Ical. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Orang Kini kali Ka! Pantes begitu. Ayo kita lari lagi,” imbuh seorang yang membawa panah bambu di tangannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Yuk...” mereka ramai berlarian.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hey, dasar orang kampung! Bodoh! Kuno! Bawanya panah sama ketapel aja sombong! <em>Gak</em> mau nolong aku...!” teriak Ical yang merasa punya laptop dan Hp. Yach, Ical adalah anak Kini, anak modern. Siswa kelas 5 SD itu lahir dan besar di Kini. Mainannya adalah komputer dan <em>play station</em>. Komunikasinya dengan Hp. Buku catatannya adalah laptop. Kendaraannya adalah mobil. Yang dia panjat bukan pohon, melainkan tangga berjalan dan rumah bertingkat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hik, hik, hik. Tuhan, malang benar nasibku. Kenapa Kau turunkan aku di negeri seperti ini?! Hik, hik...” Ical menangis. Dilihatnya harimau yang kini bersandar di pohon tepat di bawahnya. Ingin sekali Ical meloncat dari pohon dan segera lari kembali ke negerinya. Tapi mana mungkin. Jika ia meloncat, harimau akan kaget dan bukan tidak mungkin dia akan bangkit dan mengejar Ical. Sedangkan untuk turun perlahan, Ical butuh tenaga ekstra. Maklum, seumur hidupnya baru kali ini Ical memanjat pohon. Baru kali ini juga dia bertemu degan binatang seram di hutan belantara. Kalau mungkin orang-orang yang tinggal di sekitar hutan bisa menjinakkan harimau, Ical hanya bisa menjinakkan dirinya sendiri agar harimau tidak megejarnya lagi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Heng, heng, heng...heng, heng, heng....” tangis Icalpun meluncur. Matanya yang sipit ia pejamkan rapat-rapat agar tidak melihat mata harimau yang tajam menatapnya. Takut, khawatir, kesal, benci jadi satu. Ia pasrah. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Aum, aum, aum...hKene hGhurah hRaja hswadoh ani. Ghoum...hKene hGhurah hRaja hSwadhoh Sheina,” suara bocah terdengar asing di telinga Ical. Ia terkaget.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Aum, aum, aum...hKene hGhurah hRaja hswadoh ani. Ghoum...hKene hGhurah hRaja hSwadhoh Sheina, Ghaum...”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Ical segera membuka matanya. Isak tangisnya kini terhenti. Dilihatnya anak laki-laki sebaya dirinya dengan lihai menjinakkan si loreng. Dari mulutnya keluar kata-kata asing., kain yang melilit di kepalanya serta sebatang kayu kecil di tangan kanan memantapkan keberaniannya. Dengan lihai dan lembut dia berhasil menggerakkan harimau loreng menjauh dari pohon tempat Ical bertengger.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><em><span lang="SV">Wah, titisan dewa penyelamat darimana?</span></em><span lang="SV"> Batin Ical. Hatinya lega. Degup jantungnya mulai teratur. Airmatanya dihapus cepat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hay, orang kam...eh, dewa penyelamat. Terimakasih ya!” dengan binar mata yang memancar Ical berkata keras pada bocah di bawahnya. Senyumnya mengembang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya, <em>tak</em> apa,” bocah itu membalas senyum Ical. Tulus.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Bantu aku turun dong!” pinta Ical pada bocah berambut keriting itu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><em><span lang="SV">Yup</span></em><span lang="SV">!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Makasih ya,” Ical mengusap celananya yang kotor. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oh ya, kamu siapa? Anak kam...Eh, maksudku, asli sini?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya, aku anak kampung. Kampung Dulu,” ucap bocah itu dengan senyum mengembang. Ical tidak enak. Tersinggung? Mungkin. Walau bocah itu tidak bermaksud menyinggung.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Kenalkan. Aku Wiro. Asli anak kampung Dulu,” Wiro mengulurkan tangannya. Ical dengan cepat menyambut uluran tangan Wiro. ”Ical,” ucapnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Kamu orang Kini ya?” Ical mengangguk malu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oh...”gumam wiro. Icalpun tersenyum tipis. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya, kenalkan, aku Ical dari negeri seberang. Hm, kita...”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Sahabat?” Wiro menyela. Ical terdiam. Tidak disangka dia bertemu dengan orang primitif seperti Wiro. Kulit hitam, lusuh, bermain di hutan, dengan panah bambu dan ketapel, bertelanjang dada, berkendaraan <em>egrang</em>, dan tanpa alas kaki. Kemarin-kemarin sosok Ical hanya ia jumpai di siaran anak televisi seperti `si Bolang`, `Surat Sahabatku` dsb. Karena di kawasan Real Estate tempat dia tinggal, yang ada hanyalah anak-anak gedongan yang borjuis. Dia dan teman-temannya berawakan bersih, baju mentereng, bermain dengan tekhnologi dan berkendaraan mobil atau motor. Lapangan bermainnya bukanlah hutan melainkan lapangan luas, mal-mal, taman wisata, pantai wisata, Play Station, Warnet, Roal coaster, dll. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span lang="SV">Sedangkan sosok seperti Wiro, di matanya adalah sosok kuno yang sangat tidak pantas untuk berteman dengannya. </span>Yah, Ical aniprimitif!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman&#34;">”Hay Ical! Sahabat?” Wiro membuyarkan lamunan Ical.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">“Iy, iya. Kita sahabat,” ical terpaksa. Yah, terpaksa bersahabat karena Wiro menawarkan itu padanya. <span lang="SV">Karena dia tidak punya orang lain di hutan ini selain Wiro. Walau hati Ical enggan menerima persahabatan ini. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><em><span lang="SV">Kenapa harus terpaksa, bukankah dia dewa penolong yang telah menyelamatkanku dari harimau tadi? Seharusnya aku berterimakasih dan mau bersahabat dengannya</span></em><span lang="SV">. Batin Ical. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Yuk kita cari sungai!” ajak Wiro.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Untuk apa?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Mandi. Badan kita kotor,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Mereka berjalan cepat menyusuri hutan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oya, kenapa kau bisa sampai di sini? Mana rumahmu?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Aku?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hm, rumahku di kota Kini. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini,” Ical polos.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Lho! Ko` bisa?” Wiro menyelidik. Ical angkat bahu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Kawan, yang aku dengar orang Kini itu jahat-jahat ya,” Wiro berkata datar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ko`?” Ical heran.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Iya. Kata bapakku, orang Kini itu <em>senengnya</em> <em>bikin</em> sesuatu baru yang <em>gak</em> peduli alam. Apapun dibuat seenaknya. Di Kini juga katanya hutan-hutan sudah langka. Sungai-sungai kotor. Udara kotor. Lautan kotor. Bumi Kini semakin panas. Langitnya tipis. <em>Bener</em> <em>gak</em> Cal?” Wiro menoleh ke Ical. Ical <em>no comment</em>.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Orang Kini juga katanya sombong-sombong. <em>Gak</em> mau ingat sama warisan luhur nenek moyangnya,” lanjut Wiro. Ical berkernyit.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Siapa bilang? <em>Gak</em> semua orang Kini gitu ko`!” Ical protes.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Yah, paling satu dua orang <em>aja</em> yang <em>gak gitu</em>,” </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oya, kabarnya di Kini juga sering ada bencana ya? Kata bapak kejadian banjir, longsor, kebakaran, badai dan gempa bumi jadi makanan sehari-hari orang Kini. <em>Bener</em> <em>gak</em>?” Wiro menginterogasi. Ical tak mampu protes. Ia mengangguk pelan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hah, bersyukur aku terlahir di Dulu. Aman-aman...” Wiro mempercepat langkah <em>egrang</em>nya. Ical menarik ke atas sudut bibirnya, lucu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Sepanjang jalan menuju sungai, Ical memperhatikan Wiro yang lihai berjalan di atas <em>egrang</em>. Ical kagum. Hebat! Sesekali Wiro berhenti ketika dilihatnya burung bertengger di dahan pohon. Dengan mata jeli dia menembak burung dengan ketapelnya. Ical takjub. Hebat! Tapi Ical heran ketika dilihatnya Wiro melepaskan kembali burung yang sudah berhasil dia ketapel.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ko` dilepas lagi Ro?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Iya, kasihan kalau aku bawa pulang, <em>ntar</em> cicit-cicitnya <em>gak</em> ada yang <em>ngasih</em> makan. Cuma latihan <em>ngetapel </em>biar lihai <em>aja</em> Cal,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oh...”<span>                                                                                                     </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Tuh sungainya sudah dekat. Ayo kita siap-siap mandi!” ajak Wiro ketika tiba di tepi sungai berbatu yang alirannya tidak terlalu deras.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Mencebur?” ical heran.<span>   </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oya, kalau kamu ingin berak, di sungai yang bawah ya,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Ical tertegun. <em>Hi...mana mungkin! Aku tidak terbiasa berak di tempat kayak begini. Mending nanti saja, nunggu barangkali nemu WC. </em>Batinnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”<em>Gak</em> apa-apa ko`. Daripada di jamban kampung, baunya, huek!” Wiro menjelaskan dengan mimik lucu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Akhirnya Ical yang memang ingin berak dari tadi, terpaksa mengeluarkan kotorannya di sungai bagian bawah. ”Hey, asyik juga ya Ro. <em>Gak</em> perlu nyiram, <em>dah</em> langsung hanyut!” Ical cekikikan duduk berendam di sungai. Tidak lama kemudian mereka berceburan di sungai. Saling lempar butiran air murni sungai hutan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hey, Cal, ini sabunnya,” Wiro melemparkan batu keset sebesar kepalan tangan ke arah sahabat barunya. Dengan sigap Ical menangkap.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Sabun?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya, digosok-gosok...” Wiro menjelaskan dengan mempraktikkannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ha? Kayak Didi kempot ya Ro. He..he..” <em>Kosokan watu neng kali nyemplung reng kedung...</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><em><span lang="SV">Asyik juga jadi anak Dulu. Bebas bermain di luar, nyemplung ke sungai, gak dikejar mama papa yang overprotektif. </span></em><span lang="SV">Gumam Ical. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Selesai mandi mereka yang tidak bawa handuksegera loncat-loncat menjatuhkan butiran-butiran air dari tubuh mereka. Tidak lama kemudian, Ical mengeluarkan benda mungil dari dalam saku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Apa itu?” Wiro antusias.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ini?” Wiro mengangguk. ”Handphone,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oh, <em>hempon</em>,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Wuih, keluar bunyinya!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Yah, gak ada sinyal!” Ical mengibaskan Hp nya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span lang="SV">”Apa? </span>Sandal? Wiro memang tidak biasa pake sandal Ical,” Wiro tanggap. Ical melongo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Wiro menjinjing tas punggung Ical. ”Berat <em>banget</em>. Isinya apa Cal?” selidiknya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Buka <em>aja</em>!” perintah Ical. ”Wow, kotak apaan ini?” Wiro penasaran.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Itu? Laptop!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Oh...<em>leptop</em>” Wiro mengangguk antara bingung dan takjub.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span lang="SV">”Oya, aku punya permainan asyik loh!” Ical mengambil laptop dari dalam tas. </span>Dibukanya beragam <em>game</em> favoritnya: Onet, Pinball, Rally, Spider Solitaire, dll. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Wuih, kotak ajaib Cal! Ada gambarnya. Ih, ada suaranya juga!”Wiro takjub. Dielus-elusnya laptop Asus terbaru Ical. Mereka asyik <em>bergame</em> ria. Walau Wiro Cuma bisa lihat-lihat dan jerit-jerit takjub. Sesaat kemudian ditunjukkan oleh Ical foto kota-kota terkenal di dunia, foto 7 keajaiban dunia, tekhnologi, dan gambar-gambar yang berhubungan dengan IPTEK sembari menceritakan sedikit hal yang diketahuinya tentang gambar dan foto-foto itu. Ical bangga bisa berbagi, <span> </span>walau dalam hati ia heran juga pada Wiro yang geleng-geleng <em>saking</em> takjubnya. <em>He..he..kayak gak pernah lihat aja nih anak.</em> Batinnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hebat-hebat. Orang Kini memang pinter dan hebat ya. Punya kotak ajaib yang hidup!” komentar Wiro.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Yang hebat bukan orang Kininya Ro, tapi mereka yang membuat Kotak ini. Kalau kamu disuruh <em>milih</em>, pinginnya jadi yang mana? Yang membuat atau yang punya laptop?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hm...yang <em>mbuat</em> dong. Kan tidak semua orang yang punya laptop bisa <em>mbuat</em> laptop. Tapi kalau yang <em>mbuat</em>, sudah tentu dia punya. Iya kan?” </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Yup, kamu hebat Ro. Mau jadi produsen laptop. Ha..ha..ha..” Ical menepuk-nepuk pundak Wiro.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Kawan, sepertinya hari makin petang. Mari kita pulang, ” Wiro mengamati lingkungan sekitar. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ya, tapi kemana aku pulang? Aku tak tahu jalan yang benar untuk pulang ke rumah,”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Tenanglah kawan, rumah kita luas. Rumahmu tidak hanya di rumahmu,” ujar Wiro. Ical berkernyit dahi. ”Maksudnya?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Hm...kita ikuti jalan ini saja. Sebelah barat sana ada kampung. Kampungku, kampung kita!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Ical mengikuti langkah Wiro yang berjalan di atas <em>egrang</em>. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Belum jauh berjalan, Wiro menghentikan langkahnya dan segera turun dari egrang. Matanya menatap tajam pada segerombolan orang yang berjalan di hutan. Dua orang diantaranya menjinjing senapan berlaras panjang. Sorot matanya mencari-cari binatang buruan yang menjadi sasarannya. Senapannya siap meluncurkan peluru jika buruan itu sudah menampakkan diri. Dua orang yang lain menghisap rokok dan segera membuang sisa puntungnya ke rerumputan yang kering. Wiro tidak percaya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Dor!” bunyi senapan itu memekakkan telinga. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Krasak-krasak. Bruk!” seekor burung terkapar jatuh ke tanah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Dor!” peluru kedua kembali meluncur. Seekor kijang terkena peluru itu, namun ia berhasil melarikan diri dari kejaran pemburu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Cal, orang-orang Kini itu akan merusak rumah kita!” seru Wiro. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Dasar orang Kini! Perusak! Penjahat!” Wiro kesal. Dilemparkannya egrang ke tanah. Dia berlari ke arah pemburu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Wiro, tunggu! Kau mau ke mana?” teriak Ical. Wiro tak berkutik.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Ro, jangan tinggalkan aku sendirian...Aku tak tahu harus pulang kemana! Aku takut Ro!” teriak Ical lagi. Wiro berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Ical.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Pulanglah ke rumahmu Cal! Pulanglah ke seberang! <span lang="SV">Rumah kita di sini tak seaman dulu Cal!” seru Wiro.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Tapi Ro, aku tidak mungkin...” kata-kata Ical terhenti. Tenggorokannya tercekat ketika disaksikannya beribu burung berjatuhan ke tanah. Terkapar, mati. Sejurus kemudian, angin hutan bertiup perlahan, menyalakan puntung rokok di rerumputan kering. Api kecil itu kini berubah menjadi lidah merah yang berkobar. Nyalanya menerangi hutan yang hampir petang. Yah, kebakaran!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span> </span>Ical tidak percaya. Ia lari menyusuri hutan tak tentu arah. Ia ingin mencari rumahnya. Namun tubuh tambun itu tak bisa berkutik ketika kecepatan larinya kalah cepat dengan jilatan api yang kini mengenai tubuhnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Augh...Tidak...Panas...” ia menjerit. Tubuhya <em>meringsut</em> menahan nyeri dan panas yang membakar. Seketika Ical merasakan sentuhan lembut menyeka wajahnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Anakku, syukurlah kamu sudah sadar. Tadi kamu terjatuh dari eskalator Mall Citra!” seorang wanita setengah baya tersenyum girang. Segera ia nyalakan AC dengan <em>freon</em>nya untuk mendinginkan udara di kamar bernuansa biru itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">”Sudah tidak panas kan nak?” tanyanya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Ical terdiam. Matanya menerawang jauh ke jendela mata mama, ke atap kamar yang biru, ke langit tipis yang tidak lagi biru!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><em><span lang="SV">Orang Kini. Orang Dulu!</span></em><span lang="SV"> Batinnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0 288pt;"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Pekalongan, 6 Februari 2008</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;">Foot notes:</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span lang="SV"><span><span style="font-size:small;font-family:&#34;">-</span><span style="font:7pt 'Times New Roman'&#34;">          </span></span></span><span dir="ltr"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;">egrang : mainan dari bambu dengan bagian khusus untuk tempat menapakkan kakinya. Mainan ini digunakan dengan cara menaikinya untuk berjalan. Biasanya egrang terdiri dari dua buah (sepasang, kanan-kiri)</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman&#34;"><span lang="SV"><span><span style="font-size:small;font-family:&#34;">-</span><span style="font:7pt 'Times New Roman'&#34;">          </span></span></span><span dir="ltr"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:&#34;">Freon: merupakan bahan pendingin udara yang diketahui sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon di atmosfer bumi. Semakin tipis ozon, semakin panas suhu bumi dan semakin tinggi permukaan laut= (efek rumah kaca)</span></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Maya, Oh! Maya.]]></title>
<link>http://maximampictures.wordpress.com/?p=34</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 04:24:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Imam Ocean</dc:creator>
<guid>http://maximampictures.wordpress.com/?p=34</guid>
<description><![CDATA[Maya, Oh! Maya.


Hampir dua jam terduduk kaku di kursi bus jurusan Pandaan-Surabaya. Bau asap rokok]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong><span style="font-family:Courier New;font-size:x-large;">Maya, Oh! Maya.</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Hampir dua jam terduduk kaku di kursi bus jurusan Pandaan-Surabaya. Bau asap rokok, kentut kenek dan ketek embah-embah ditambah pula dengan aroma keringetku menjadi ramuan obat mujarobah yang bisa menidurkan seluruh penumpang bus. Tidak termasuk aku. setelah 4 jam tertidur di emperan terminal antah berantah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Beruntung saja, sebuah bus diciptakan dengan seperangkat jendela kaca, bayangkan saja tanpa adanya piranti itu, mungkin sepanjang perjalanan aku musti memandangi seorang nenek di sebelah yang lelap tertidur dengan stalaktit buatannya. Sebuah mahakarya nyata yang bisa diciptakan hanya dengan memejamkan mata.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Diluar hanya ada pemandangan kambing-kambing yang merumput. Jadi teringat masa lalu dengan makhluk yang bernama Maya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Waktu itu 1996, di sebuah perkampungan yang harmonis. Hiduplah aku dan teman-teman yang gemar bergumul di lapangan rumput usai sekolah. Ada saja macam permainan yang kita lakukan. Mulai dari mencari singkong (tentunya ngambil dari ladang mbah gito), hingga ngejar layangan putus.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Boring time melanda. Main upil sampe garing udah gak nafsu. Gulung-gulung di rumput masih terlalu dini-panas maksudnya-untuk dilakukan. Kebetulan ada seekor ayam tetangga tersesat di lembah penyiksaan (sebutan untuk lapangan tempat kami bersemayam). Entah setan apa yang membisikkan ke telinga doni untuk meng“aman”kan ayam nekat itu. Taktik gerilya direncanakan. Walhasil dengan asal-asalan semua jadi tak karuan. Berhamburanlah keempat bocah ingusan menangkap ayam tak berdosa itu. ‘awas mam!’, teriak doni sambil mengangkang. Yang masih ada hubungan sodara dengan aku, bedanya dia punya wajah yang bisa dijual, sementara aku diobral pun masih meragukan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Ayam itu lantas menerobos celah dan dalam sekejap saja tangan Ferry langsung membekap ayam tak berdaya itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">KEOK KEOK KEOK!!!!!! Keok keok keok!!!! Dan akhirnya sang ayam terdiam bingung. </span></span><em><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Apa yang akan kalian lakukan terhadapku???</span></span></em><span style="font-size:small;"> </span><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Mungkin itulah kata-kata terakhir yang pernah diucapkannya. Karena tampak sebuah wajah memelas dan minta ampun dari pelupuk matanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Di gorok?!, bisik doni.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Di bakar?, Edi menyarankan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Di sate kan enak?!!, tandasku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Jangan, terlalu rumit!, terang doni.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Di panggang ae!, Aku menyahut.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Goblok! Dipanggang sama di bakar iku podho ae!, terang ferry,</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Terus?!</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Beberapa jam kemudian. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">DITEMUKAN SEEKOR AYAM BETINA DARI LUAR ANGKASA!!! Layaknya ayam yang dipajang untuk dijual dipasar-pasar, tanpa bulu putih mulus. Sexy? Bisa jadi. Ayam itu kebingungan, hanya tersisa beberapa helai bulu di kedua sayapnya. Sementara di kepalanya menyisakan model mohawk sama seperti Robert DeNiro di film Taxi Driver. Bener-bener futuristik style.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Baru kali ini aku melihat mata ayam yang nanar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Bye-bye chicken….</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Berlarilah Ayam DeNiro! Mengadulah pada majikanmu! Bilang padanya, bahwa sekarang kau tlah bebas. (paling tidak, yang merasa punya kamu bakalan illfill nge-liat hasil makeover-an kami)</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Beberapa menit kemudian</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Tak ada lagi kerjaan, kecuali tidur-tiduran di rumput alang-alang yang sudah pantas dibabat. Seekor kambing coklat, merumput tanpa malu-malu. Tampak payudara yang menggandul mencirikan kalo dia-padahal kambing-itu seekor betina. Tapi jangan bayangkan sang kambing layaknya model film BF. Karena masih bagusan si kambing dari pada asia carerra. Bagaimanapun juga, kambing nungging karena anaknya menyusu, asia carerra nungging emang siapa yang gak mau?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><em> ‘</em><em><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Eh, Bulek kana bawa clurit!’</span></span></em><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">, bisik edi sambil mengendap-endap. Berempat kami meninggalkan tempat kejadian perkara. Bagaimanapun juga bukti forensik yang tertinggal di TKP masih ada, yaitu sebuah gunting dan alat cukur serta bulu-bulu unggas yang berserakan bercampur tanah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Menyadari bahwa ayam yang baru saja di permak adalah milik bulek kana-tetanggaku yang ‘super’. Matanya belok, mulutnya lebar, telinganya besar, rambutnya keriting. Benar-benar wujud nyata dari tokoh boneka miss piggy yang memakai kemben+kutang hitam. Pengikut aliran norakisme-maka kami berusaha menyelamatkan diri dari tragedi carok massal.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Lupakan bulek kana.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Menyusuri sudut-sudut kampung mencari tempat persembunyian. Ujung-ujungnya kembali lagi ke tempat kamsiat(memang sengaja ditulis kayak gitu). Seperti pepatah aneh yang pernah menyebutkan “tempat paling aman untuk bersembunyi adalah tempat yang paling berbahaya”. Bagaimanapun juga bulek kana adalah bekas atlit gulat gaya bebas.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Pura-pura mati aja?!!”, saranku</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong> “</strong><strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Emang bulek kana beruang?!!”</span></span></strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">, Sahut ferry</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Terus……????”, tanya edi</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">ya sudah. Di sini aja. Pura-pura gak tahu kan beres. Entar aku yang ngomong kalo ditanya”, terang doni menenangkan kepanikan massal kami.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Tiba-tiba doni mendekati kambing coklat itu kemudian mengelus-elusnya. Dengan mengikuti naluri perkoncoan, aku, ferry dan edi mengikuti apa yang doni lakukan. Dari seberang bulek kana celingak-celinguk. Gelagat wanita setengah beruang itu seperti layaknya sheriff di film-film koboi yang memasang pengumuman buron most wanted.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Tanpa sadar kami sudah terbawa ke alam MAYA. Nama instan yang diberikan Doni untuk kambing coklat yang telah menyelamatkan kami. Maya kini tak sendiri karena ada yang menemani. Tubuhnya yang kecil menyisakan sedikit pilu buat kami. Akhirnya berempat kami sepakat memberi makan maya biar sehat dan kuat. Itung-itung sebagai balasan atas jasanya membiarkan bulu baunya di elus-elus.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Hampir maghrib, kami pulang ke rumah masing-masing, sementara bulek kana sudah tak tercium batang hidungnya. Mungkin sudah dikandangkan dari tadi. Dengan berat hati kami meninggalkan maya sendirian di lapangan. “sampai jumpa lagi maya!”, batinku .</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">esok harinya setelah pulang sekolah di lembah nista.....</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong> “</strong><strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">MAYA MASIH ADA!!!”</span></span></strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">, teriak doni padaku dari jauh. Aku langsung meghampirinya. Tampak maya sedikit gemuk dari kemarin. Daun dan ranting muda dari pohon petai itu dilahapnya. Kunyahannya yang menggemaskan membikin kami ingin ikut bergabung makan. Tapi sayangnya tidak, dan aku pikir sebaiknya tidak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">kayaknya kita harus memelihara maya, sebelum dipelihara orang lain”, Doni membuka obrolan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">oke!”, jawabku enteng sambil mengelus maya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Tak lama berselang edi dan ferry datang. Berempat kami berunding, merencanakan kelangsungan hidup maya. Mulai dari makanannya, tempat tinggalnya, olahraganya hingga percintaannya. Yang jelas, kami berupaya agar maya enjoy menjalani hidup barunya. Pada akhirnya kami punya rutinitas baru yang menyenangkan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Maya kami titipkan ke saudara jauh-nya, yaitu bulek kana, karena secara kebetulan ada kandang kosong di belakang rumahnya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">kalian boleh nitip, asal ada syaratnya!”, tegas bulek kana.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Opo bulek syaratnya?!”, tanya doni.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">dalam jangka waktu 2 minggu, kalian harus bisa nemukan siapa yang telah menggunduli MAYA”, bulek kana menunjuk seekor ayam yang di balut dengan perban hingga menyerupai mumi. Mumi ayam atau ayam mumi?... dan yang lebih mencengangkan, ayam bugil itu namanya Maya…….. sebuah kebetulan atau TAKDIR?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Hari demi hari telah berlalu. Kehidupan kami dengan maya tampak harmonis. Kabar tentang kepemilikan maya pun tersebar kepelosok kelurahan. Ada sedikit kekhawatiran yang tersirat, namun kami berusaha untuk menutupinya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Doni panik, Edi kikuk, Ferry bingung dan aku gak tahu harus ngapain. </span></span><strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">KENTANG</span></span></strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">, preman kampung yang keluar masuk penjara mendengar kabar hubungan kami dengan Maya (yang berkaki empat). Usut punya usut, ujung-ujungnya kami harus menyerahkan maya ke tangannya. Namanya juga preman, menjarah bukan masalah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Bagaimanapun juga, kami terkadung cinta dengan maya. Mati-matian melindungi maya dari kejaran kentang. Mengungsikan maya dari satu tempat ke tempat lain. Hingga pernah maya hidup sehari di dalam kamarku. Namun belum genap satu jam, maya terpaksa diungsikan ketempat lain. Karena malam harinya aku terpaksa tidur di ruang tamu. Upaya melarikan maya dari kejaran kentang membuahkan hasil. Kini si preman krempeng itu gak lagi ngejar-ngejar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">genap sebulan kami berhubungan dengan kambing coklat itu. Rasa bosan muncul lagi, kami tak lagi seperti dulu lagi. Ferry sibuk dengan bimbingan belajarnya, edi yang mulai konsen dengan bisnis toko bangunan milik ayahnya, doni yang mulai dekat dengan “maya” asli dan aku yang gak ada kerjaan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Pelajaran PMP akhirnya ada guna juga, kami bermusyawarah untuk mufakat. Mencari jalan yang terbaik buat “maya the goat”.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Ada banyak pilihan untuk menyingkirkan maya dari kehidupan kami. Mulai dari di jatuhkan ke jurang, di masukkan sumur, di cukur bulunya, di perkosa rame-rame hingga maya membunuh dirinya sendiri atau di kubur hidup-hidup.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Entah kenapa masalah tak terpecahkan. Pemikiran kami terlalu polos dan dangkal untuk sebuah perpisahan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Pucuk di cinta ulam tiba, bulek kana ikut nimbrung bersama kami. Dan dengan entengnya dia menyarankan untuk menjual maya dengan harga pantas. Dia menawarkan harga yang menggiurkan “bagi” kami waktu itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Ke jurang, ke sumur, dan dikubur gak bakalan dapat uang apalagi diperkosa (malahan jadi tambah ruwet kalo entar maya minta pertanggung jawaban). Lha ini, tidak ngapa-ngapain sudah nerima uang.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">DEAL!!!!!</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">Akhirnya bulek kana punya dua MAYA. Dan kami punya dua kemungkinan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Benar-benar melupakan maya atau tidak.</span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">setelah transaksi beberapa hari yang lalu, kami sudah tak pernah lagi bermain di lapangan tercinta, tempat kami dan maya bertemu. Sekarang rumah ferry-lah yang menjadi markas berkumpul. Karena di situ tersimpan karambol, papan catur, monopoli, kartu remi hingga domino, empat buah raket badminton dan mainan tidak penting lainnya. Semuanya adalah hasil dari cara kita bagaimana untuk dapat mengingat terus kenangan bersama maya.</span></span></p>
<p align="center"><strong>…</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Courier New;">kabarnya kini, maya sudah banyak beranak pinak, bahkan bulek kana yang kini “menciut” makin kuwalahan. Entah sebuah bentuk penghormatan atau pelecehan, keempat anak maya, dinamai DONI, EDI, FERRY dan IMAM.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">Hmmm………..aku rasa tidak masalah bila dibanding dengan kasus penggundulan maya. Maya, oh! Maya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong><span style="font-family:Courier New;"><span style="font-size:small;">The END</span></span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
