<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>blok-j &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/blok-j/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "blok-j"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 18:00:55 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Telur Columbus]]></title>
<link>http://yoyosuryo.wordpress.com/?p=48</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 13:03:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yoyo</dc:creator>
<guid>http://yoyosuryo.id.wordpress.com/2008/05/19/telur-columbus/</guid>
<description><![CDATA[
Saya terinspirasi dari sini ditambah postingan dari Mr. Maryadi.
Sepulang Columbus dari perjalanan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><a href="http://yoyosuryo.files.wordpress.com/2008/05/telur-columbus.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-49" src="http://yoyosuryo.wordpress.com/files/2008/05/telur-columbus.jpg?w=240" alt="" width="218" height="152" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">Saya terinspirasi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Telur_Columbus" target="_self">sini</a> ditambah postingan dari Mr. Maryadi.</p>
<p style="margin:0;">Sepulang Columbus dari perjalanannya yang fenomenal "menemukan" benua Amerika, berbagai penghargaan dan penghormatan datang melimpahinya. Namanya tenar dan perjalanannya menjadi pembicaraan di mana-mana. Walaupun banyak orang yang mengakui pekerjaannya sebagai sebuah prestasi, ternyata tidak semua orang dapat mengapresiasi dan menerima penghargaan yang diberikan atas kepeloporan Columbus. Apapun motif yang ada di benaknya, mereka senantiasa mencela Columbus.  "Ah, kalau cuma melakukan perjalanan seperti itu aku juga bisa, cuma aku saja yang nggak mau," kata mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;">Mendengar kata-kata miring yang ditujukan kepadanya, Columbus mendatangi mereka sambil membawa sebutir telur. Katanya, "Kalau kamu memang bisa melakukan seperti yang aku lakukan, sekarang tolong kamu buat supaya telur ini dapat berdiri tegak pada ujungnya."  Mendapat tantangan Columbus, orang-orang itu satu persatu mencoba memberdirikan telur itu. Semua mencoba dan semua gagal karena telur itu selalu terguling setiap dicoba untuk diletakkan pada posisi berdiri. Setelah berulang-ulang mencoba dan gagal, akhirnya mereka menyerah. "Kalau kalian menyerah, maka aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana membuat telur itu dapat berdiri di meja, " kata Columbus. Maka diambilnya telur itu, lalu diletakkannya dengan keras di meja sehingga bagian bawahnya retak. Dan telur itupun dapat berdiri di atas meja.<span style="font-size:10pt;"><br />
</span>Melihat telur dapat berdiri di meja tapi dilakukan dengan cara seperti itu, orang-orang kemudian protes. "Kalau caranya seperti itu, kami semua juga dapat membuat telur itu berdiri di atas meja."  -- "Kalau kamu dapat melakukan seperti yang aku lakukan, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi..?"</p>
<p style="margin:0;"> </p>
<p style="margin:0;">Moral of The Story : Kalau tidak berhati-hati menjalani keseharian, kita bisa jatuh pada sikap seperti orang-orang yang mencela Columbus; meremehkan sebuah prestasi hanya karena menganggap diri kita bisa melakukan hal yang sama. Yang kadang kita lupa dan sering abaikan, "merasa bisa" dan "terbukti bisa" adalah dua hal yang berbeda.<br />
<em><strong>Padahal, memuji dan menghargai dengan tulus kepeloporan orang lain justru menunjukkan kerendahan hati dan ketinggian kualitas pribadi seseorang.</strong></em></p>
<p style="margin:0;"><strong>Jadi, kepada para pakar Balsem (seperti yang disebutkan oleh </strong><strong><a href="http://blogombal.org/2008/03/27/blogger-dan-pakar-balsem/" target="_self">Paman Tyo</a></strong><strong>), kita harus bisa menghargai kepeloporan orang lain, ya !</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasib orang biasa di dunia saiber sekelas millist]]></title>
<link>http://yoyosuryo.wordpress.com/?p=37</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 03:45:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yoyo</dc:creator>
<guid>http://yoyosuryo.id.wordpress.com/2008/05/05/nasib-orang-biasa-di-dunia-saiber-sekelas-millist/</guid>
<description><![CDATA[Bapak Ibu mohon maaf sebelumnya, 
Saya sdh cukup lama tinggal di TS (lebih dr 10 th), bagi saya dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;"><em>Bapak Ibu mohon maaf sebelumnya, </em></p>
<p style="margin:0;"><em>Saya sdh cukup lama tinggal di TS (lebih dr 10 th), bagi saya dan kelg....sudah ada orang yg mau mikirin warga saja sudah amat sangat berterima kasih sekali.</em></p>
<p style="margin:0;"><em>Tentang progress dan kelanjutannya gimana, kami yakin Bapak2 dan Ibu2 pengurus yg sudah mau menyisakan waktu dan tenaga untuk mengurus warga sudah punya planning yg matang apalagi wacana ttg forum ini sudah digulirkan dr tahun2 sebelumnya.  Misalnya toh ada kendala, itu juga bisa dimaklumi.....namanya juga kerja sosial, alangkah bijaknya kalo kita yg tdk tau persis dan kepingin tau lebih dalam lebih elok japri atau bersilaturahmi langsung dg salah satu pengurus ketimbang menulis e-mail berpanjang2.  Masih mending jika ketertarikan itu sama porsinya dg keinginan untuk ikut mikirin warga, yg saya kawatirkan adalah ada oknum-oknum yg ssenangnya mmg sengaja memperkeruh suasana.</em></p>
<p><em>Seperti member millist lainnya, sayapun hanya orang biasa....tapi malu bagi saya untuk bertindak sok luar biasa. </em></p>
<p>Itulah sepenggal kisah rasanya jadi orang biasa dunia saiber dan dunia bertetangga, saya bukan mengeluh, cuma, ada satu hal buat semua orang biasa : <em>Masih mending jika ketertarikan itu sama porsinya dg keinginan untuk ikut mikirin warga, yg saya kawatirkan adalah ada oknum-oknum yg ssenangnya mmg sengaja memperkeruh suasana. </em>Ingat itu !</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesalahpahaman Dalam Sebuah Kerupuk]]></title>
<link>http://yoyosuryo.wordpress.com/?p=36</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 03:30:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yoyo</dc:creator>
<guid>http://yoyosuryo.id.wordpress.com/2008/05/05/kesalahpahaman-dalam-sebuah-kerupuk/</guid>
<description><![CDATA[
Alkisah di sebuah Republik Mimpi, ada sepasang suami istri yang baru saja melewatkan masa bulan mad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p>Alkisah di sebuah Republik Mimpi, ada sepasang suami istri yang baru saja melewatkan masa bulan madu mereka. Sama seperti halnya kebanyakan pasangan suami istri muda yang lain, sang suami kerja dengan model PPPPPP (Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan), sang istri ada di rumah, beres-beres dan masak. Setiap kali sang suami pulang, minuman dan masakan racikan si istri sudah tersaji di rumah. Walaupun a la kadarnya, mereka makan dengan nikmat.</p>
<p>Kebetulan, sepasang suami istri ini punya makanan favorit yang sama, yaitu krupuk udang. Bedanya, sang suami suka krupuk udang yang tebal, sedangkan si istri suka yang tipis. Karena cintanya pada sang suami, si istri selalu menyajikan krupuk udang tipis kepada suaminya. Dia berpikir “ah, biarlah aku mengalah dengan makan krupuk yang tebal, sedangkan krupuk yang enak - yang tipis - aku sajikan untuk suamiku”.<br />
Namanya pengantin baru, si suami OK-OK saja mendapat bagian krupuk yang tipis. Tapi lama-lama dia berpikir juga “wah, sialan nih, bagian yang enak dia embat terus, sementara aku diberi yang tidak enak”.<!--more--></p>
<p>Suatu kali, sepulang kantor, sang suami ngambek. Dia tidak mau makan krupuk yang disiapkan istrinya. Istrinya heran juga melihat tabiat suaminya.</p>
<p>“Lho mas, kenapa krupuknya gak dimakan? Tumben, khan biasanya paling suka sama krupuk udang”. Dengan mencoba menahan emosi yang menggelegak di dada, sang suami berkata “Habis kamu curang sih, krupuk yang tebal kamu ambil, sementara aku diberi yang tipis, yang gak enak”.</p>
<p>Hening sesaat, lalu meledaklah tawa si istri. “Oalah, mas, mas. Ternyata selama ini dirimu suka yang tebal tho. Maksudku itu sebenarnya baik lho mas, karena aku suka yang tipis, maka yang tipis itu aku persembahkan untukmu. Lha kalo tau begini khan malah pas to mas, aku makan yang tipis, dirimu makan yang tebal”.</p>
<p>Lalu mereka mesra lagi dan hidup bahagia sampai selama-lamanya.</p>
<p>***</p>
<p>Moral cerita di atas adalah: komunikasi itu penting. Bahkan hal yang dianggap sepele seperti krupuk pun berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Si istri dalam cerita di atas memiliki maksud baik, tapi tanpa dikomunikasikan, hasilnya tetap tidak baik.</p>
<p>Kalau krupuk saja berpotensi menghasilkan kesalahpahaman, apalagi sebuah peraturan atau kebijakan. Pembuat peraturan atau kebijakan sebaiknya jangan dengan mudah berlindung di balik kata “demi kebaikan rakyat”, karena fakta berbicara bahwa amat sangat sering kebijakan pemerintah suatu negara dikecam habis-habisan oleh rakyatnya sendiri.</p>
<p>Terima kasih untuk : <a href="http://yahyakurniawan.net/seputar-kita/kesalahpahaman-dalam-sebuah-krupuk/">http://yahyakurniawan.net/seputar-kita/kesalahpahaman-dalam-sebuah-krupuk/</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keterbukaan dan Tatakrama]]></title>
<link>http://yoyosuryo.wordpress.com/?p=25</link>
<pubDate>Thu, 01 May 2008 06:36:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yoyo</dc:creator>
<guid>http://yoyosuryo.id.wordpress.com/2008/05/01/keterbukaan-dan-tatakrama/</guid>
<description><![CDATA[Transparansi/keterbukaan itu penting untuk menutup pertanyaan dan kritikan. Pertanyaan dan kritikan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;">Transparansi/keterbukaan itu penting untuk menutup pertanyaan dan kritikan. Pertanyaan dan kritikan (apalagi bernada sinistis) timbul karena kurang taunya kita pada inti masalah sebenarnya, kuncinya gampang ! Tinggal informasikan detil inti masalah berkapasitas jelas dan padat. Kalau sudah diinformasikan dengan jelas dan padat tapi kita masih bersikap sama, berarti kita harus jujur bahwa ada "sesuatu" di diri kita (yang tahu hanya kita sendiri dan Tuhan).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Tatakrama itu juga penting untuk menggali keluarnya "perbedaan". Perbedaan apapun bentuknya yg didengungkan, sebaiknya kita hargai dan hormati. Semakin banyak perbedaan, semakin kita arif menyikapinya, karena "memenuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai !" (saduran dari novel Ayat-Ayat Cinta).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Ibarat mata uang, kita juga mempunyai 2 sisi, yaitu sisi baik dan buruk. Di suatu situasi sisi baik kita yang timbul tapi di situasi lain akan sebaliknya, maka layaknya dengan bertambah usia akan membuat sisi baik kita yang timbul dalam situasi apapun............. Semoga! (thank's for Mrs. Joice Jus Pontoh)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
