<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bapak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/bapak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bapak"</description>
	<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 18:22:36 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Lebaran yang berkesan]]></title>
<link>http://redesya.wordpress.com/?p=163</link>
<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 06:29:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>redesya</dc:creator>
<guid>http://redesya.id.wordpress.com/2008/10/05/lebaran-yang-berkesan/</guid>
<description><![CDATA[Lebaran tahun ini sangat berkesan bagiku, banyak pelajaran  berharga yang aku dapatkan. Berawal dari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Lebaran tahun ini sangat berkesan bagiku, banyak pelajaran  berharga yang aku dapatkan. Berawal dari perjalanan kami ke tempat sodara-sodara yang banyak belum aku kenal. Bertempat di sebuah desa di jawa tengah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Matahari tampak malu-malu bersinar karena hari masih begitu pagi. Aku berjalan di sebuah pematang sawah, udaranya begitu segar tidak seperti di kotaku yang penuh dengan polusi. Aku berhenti duduk di pematang itu, memperhatikan seorang bapak yang lagi bekerja. Tampak sesekali sang bapak menyeka keringatnya. Rupanya sang bapak tau kalau sedang aku perhatikan, dia menghampiri aku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">"Adik bukan dari sini ya?" Tanya bapak itu padaku. Aku menjelaskan kalau aku sedang mengunjungi keluarga di sini. Aku tanya pada bapak itu, kenapa lebaran masih saja bekerja. Bapak bilang karena badannya akan terasa pegal-pegal kalau tidak digunakan untuk bekerja. Wah semangat bekerjanya tinggi sekali. Aku berlalu meninggalkan bapak itu karena takut mengganggu pekerjaannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Aku kembali ke tempat sodaraku itu, rupanya mereka lagi sibuk bikin ketupat, ternyata orang di sini masih menjunjung tinggi sikap gotong royong lho. Tidak seperti di kotaku yang orangnya sangat individualis. Banyak sekali tetangga yang membantu bikin ketupat. Ternyata mereka itu bikin ketupat tidak bersamaan dengan hari lebaran yang pertama . Mereka juga bikinnya bergantian dan saling bantu gitu. Akhirnya aku juga ikut belajar bikin ketupat. Mengayam ketupat itu gampang-gampang susah, tapi aku berhasil juga bikin ketupat, bahkan tidak hanya satu model saja , ada beberapa model ketupat dan aku bisa semua yang mereka ajarkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mamaku tampak tersenyum bahagia melihat aku tampak begitu bersemangat. Kalau saja aku tidak diajak kesini tentu aku tak akan bisa bikin ketupat. Oh ya ternyata setelah ketupat jadi mereka membagikannya kepada tetangga sebelah dan kerabat-kerabat yang lain. Demikian juga sebaliknya . Wah sungguh indah sekali hidup di sini. Kekerabatan yang sangat kental begitu terasa. Saling bantu, saling berbagi, tatapan yang sangat bersahabat begitu damai di hati.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sayang sekali aku tak bisa berlama-lama disini karena harus mengunjungi sodara yang lain. Padahal aku merasa nyaman tinggal disini. Penghuninya ramah-ramah. Andai saja dikotaku orangnya seperti disini tentu hidup jadi lebih indah. Ternyata persaudaraan itu sangat menyenangkan, maka carilah sodara sebanyak-banyaknya.  Silaturahmi yang tetap terjaga akan membuat persaudaraan lebih dekat lagi. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kini kepenuhi janjiku kalau lebaran kali ini aku akan banyak tersenyum, banyak sekali kejadian yang indah di lebaran tahun ini. Akankah tahun depan aku bisa merasakannya lagi ya.., ah cuma waktu yang bisa menjawabnya.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ied 1429 H]]></title>
<link>http://siwimilk.wordpress.com/?p=203</link>
<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 01:38:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>siwimilk</dc:creator>
<guid>http://siwimilk.id.wordpress.com/2008/10/04/ied-1429-h/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah…
Aku bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan kerabat tercinta pada lebaran tahu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Alhamdulillah…<br />
Aku bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan kerabat tercinta pada lebaran tahun ini.<br />
Buat bapak ibukku tersayang,,<br />
Aku memang nggak pernah sungkem,,krn aku emang nggak sanggup ngomong pake kromo inggil yg begitu inggil,,dan aku nggak sanggup menahan tawa dan juga tangisku. (Hehe,,lagian itu kan sekedar adat orang jawa).<br />
Walaupun begitu..tentu saja aku minta maaf atas semua dosa dan salahku selama ini. Mungkin memang ini waktu yang tepat dan paling ditunggu untuk saling menghaturkan maaf. Namun sebenarnya aku selalu menyesal dan meminta maaf pada kalian atas semua salahku setiap waktu,,hanya saja aku nggak sanggup mengatakannya. (isin)</p>
<p style="text-align:left;">
Maaf,,maaf,,maaf,,tolong maafkan anakmu ini.<br />
Atas perkataan2 yang bikin sakit hati,,aku tak pernah bermaksud seperti itu.<br />
Atas tingkah laku yang tak pantas,,aku tak pernah bermaksud seperti itu.<br />
Atas umpatan2 di dalam hati,,aku terpaksa,,dan tak pernah berniat seperti itu.<br />
Atas debat keluarga yang tak pernah tuntas,,itu sangat seru,,ayo teruskan..
</p>
<p style="text-align:left;">Ibuk memang sering bikin aku stress,,terutama omelan2 mautnya. Bapak juga sering melarang ini itu,,itu ini,,bikin sebel..</p>
<p style="text-align:left;">Hhhhhh,,,tapi aku tak pernah menyimpan dendam pada kalian..tak akan pernah.. Karena tanpa omelan2 itu,,pagi2ku akan sepi, dan tanpa larangan2 itu,,aku merasa tak diperhatikan.<br />
Semoga kalian tak pernah lelah…</p>
<p style="text-align:left;">Buat mas dan mbakku..<br />
Maaf buat semuanya selama ini.<br />
Aku sering merepotkan (ah,,biasa)<br />
Aku sering menjengkelkan (masak sih)<br />
Aku sering ngutang (nah loe…)
</p>
<p style="text-align:left;">Maafin ya,,pokoknya aku sayang kalian. Mulai tahun baru hijriah ini kita mulai dari nol ya?? Ntar kalo udah ngumpul 100,,dapet poin plus2 haha..</p>
<p style="text-align:left;">Buat temen2ku terdahsyat..<br />
Maafin dosa2ku ya.. Selama ini kita adem ayem saja. Gak pernah berantem atau gontok gontokkan. Namun di balik itu semua,, ada hal2 yang tidak kita ketahui. Mungkin ada fitnah terselubung alias gossip gossip murahan di antara kita…(cewek gitu..). Ya,,semoga saja tidak pernah ada.</p>
<p style="text-align:left;">Buat Alloh SWT<br />
Terimakasih atas kesempatan ini.<br />
Tolong ampuni dosa dosa kami.<br />
Kembalikan kami ke keadaan fitrah.<br />
Selalu lindungi kami di jalanMu.<br />
Tq Alloh..</p>
<blockquote><p>siwi and fam said<br />
Happy ied 1429 H<br />
Gomenasai for Everything, anything, and all bout things<br />
Semoga Alloh SWT mengampuni dosa kita</p>
<p>-send to all-</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nak tambat hati bakal mentua]]></title>
<link>http://chairulfahmy.wordpress.com/?p=210</link>
<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 02:42:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>chairulfahmy</dc:creator>
<guid>http://chairulfahmy.id.wordpress.com/2008/09/27/nak-tambat-hati-bakal-mentua/</guid>
<description><![CDATA[SUARA ADAM 
Si Minah pastikan kekasih pandai jaga diri dan sopan santun
apabila berdepan dengan ibu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#666666;"><span style="font-family:Arial;">SUARA ADAM</span></span></span></strong> </p>
<blockquote><p><!-- Display the Headline2 if exists --><span class="header">Si Minah pastikan kekasih pandai jaga diri dan sopan santun<br />
apabila berdepan dengan ibu bapanya</span> <!-- Display the byline if exists --></p></blockquote>
<p><span class="fineprint">Oleh<br />
Chairul Fahmy Hussaini</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span class="content">Tentunya kita semua ghairah nak sambut Syawal.</span></p>
<p><span class="content"><span class="content">Tapi sebenarnya kan, dalam bab sambut-menyambut Raya ni, golongan Mamat dan Minahlah yang saya rasa paling hepi sekali!</span></span></p>
<p><span class="content"><span class="content">Bagi si Mamat terutamanya, ini kesempatan terbaik untuk mereka mengunjungi rumah sang kekasih, untuk berkenalan dengan ibu bapa si Minah.</span></span><span class="content"><span class="content">Ini kira macam minta <em>'consent' </em>atau kebenaran untuk mereka <em>'going steady'</em> (berpacaran) lah!</span></span></p>
<p><span class="content"><span class="content">Saya tak nafikan, untuk si Mamat mengunjung rumah kekasihnya, memang tak susah.</span></span><span class="content"><span class="content">Tapi nak menangi hati Pak dan Mak si Minah tu yang susah...</span></span><span class="content"><span class="content">Jadi macamana?</span></span></p>
<p><span class="content"><span class="content">Ginilah, kerana tak mahu kaum Adam kita rasa sengsara apabila berhadapan dengan bakal 'bapak dan mak mentua', saya perturunkan pesanan daripada anak mereka, si Minah.</span></span></p>
<p><span class="content"><span class="content">Ini semua bukan apa, si Minah tak mau si Mat yang dicintainya tu terus-terusan gelabah masa datang beraya nanti. </span></span><span class="content"><span class="content">Dengan penuh ikhlas Minah tulis mesej kepada si Mat:</span></span><br />
<span style="color:#222341;"><br />
Ke hadapan Matku yang dicintai...<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Apabila datang beraya nanti, <em>u</em> mesti datang sorang...<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Mesti pakai baju Raya tau! Kalau pakai baju biasa, bukan raya namanya <em>my dear...<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
Kalau dah tahu lengan baju kurung tu panjang, tolong singsing, jangan biarkan macam baju wayang Cina!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Lipat betul-betul... macam <em>Smart 4.<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
Tolong jangan selekeh bila datang tu. Mesti kemas, segak, murah senyum, pandai bawa diri dan berbual dengan <em>my dad.<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
Sebelum masuk rumah kita, <em>u</em> check baju rapi ke tak... rambut kena maintain tau!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Kalau rambut panjang, ikat. Rambut tak mau tercacak-cacak O.K.!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Kalau hisap rokok, makan gula-gula sebelum datang ke rumah <em>i!<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
Dah tu, ambik minyak wangi <em>spray </em>betul-betul... nanti bapak <em>i </em>bau asap rokok <em>u!<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
Mat, bila dah sampai depan pintu nanti, kasut letak betul-betul ya.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Jangan letak sembarangan. Tengok kat lantai tu, kasut orang lain macam mana taruk... susun sama-sama.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Kasut yang <em>u</em> pakai pun mesti kasut Raya eh... murah pun tak apa, tapi jangan nak pakai kasut <em>Panda </em>pulak.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Oh ya... tak payah nak tunjuk <em>u </em>ada motor. Helmet pun tak payah bawak naik ke rumah, tinggalkan aje kat motor.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Apabila dah sampai, <em>call me</em> tau, cakap <em>u</em> nak naik...<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Tapi apabila dah kat pintu, cakap "Assalamualaikum!".<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Mat, <em>u</em> jangan lupa, <em>i </em>kat dapur... jadi <em>u</em> kena gentleman ah sikit.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Lepas tu jangan lupa salam siapa yang buka pintu... kemudian salam bapak <em>i.<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
<em>U</em> kemudian tegurlah Mak <em>i </em>sekali, tanya:<br />
<span style="color:#222341;"><br />
"Apa khabar, Cik? Saya Mamat".<br />
<span style="color:#222341;"><br />
<em>U</em> mesti ingat Mat, darah <em>i</em> berderau kat dapur tu!!!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Apabila dah duduk dengan <em>my dad, standard, u</em> mesti tanya khabar dia.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Dah tu, <em>u intro yourself,</em> kemudian tanyalah...<br />
<span style="color:#222341;"><br />
"Dah makan pak cik? Niari tak kerja?"<br />
<span style="color:#222341;"><br />
O.K.?<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Mat, kalau bapak<em> i</em> tanya mana <em>u</em> kenal <em>i,</em> jangan cakap yang kita kenal <em>thru chatline</em> pulak!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Cakap kenal daripada kawan-kawan O.K.? Alah... <em>u drop some names of the other chatters in the chatroom</em> lah jadi <em>credible</em> sikit.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Kalau <em>my dad</em> tanya pasal tatu kat tangan, lengan dan jari <em>u</em> tu, cakap tatu tu dah lama buat.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Jangan pulak <em>u </em>nak <em>show off</em> satu badan tatu u tu!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Kalau <em>my dad</em> tanya, 'Awak ni kenal sama anak saya, serius ke main-main?'<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Cakap... <em>u</em> kenal dengan i baru 2/3/4 hari atau bulan atau tahun ke.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Cakap... saya serius pak cik, insya-Allah kalau panjang umur, murah rezeki ada jodoh dan direstui ibu bapa, ada jodoh kami...<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Oh sebelum <em>i </em>lupa..!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
<em>U </em>datang tangan kosong pun tak apa... tapi keluar tu kena salam adik-adik<em> i.<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
<em>U</em> tau kan, <em>i </em>ada empat beradik. Seorang $10 tau!<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Jangan lupa nasihat <em>i </em>ya Mat.<br />
<span style="color:#222341;"><br />
Sayang <em>u.<br />
</em><span style="color:#222341;"><br />
Minah.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span class="content"><span class="content">Berita Harian &#124; Ekstra<br />
27 Ramadan 1429H<br />
27 September 2008<br />
Sabtu</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bapak.]]></title>
<link>http://knip.wordpress.com/?p=25</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 05:47:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>knip</dc:creator>
<guid>http://knip.id.wordpress.com/2008/09/26/bapak/</guid>
<description><![CDATA[When King Lear dies in Act 5, do you know what Shakespeare has written? He&#8217;s written, &#8220;H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>When King Lear dies in Act 5, do you know what Shakespeare has written? He's written, "He dies". That's all, nothing more. No fanfare, no metaphor, no brilliant final words. The culmination of the most influential work of dramatic literature is: "He dies".</p>
<p>It takes Shakespeare, a genius, to come up with "He dies". And yet every time I read those two words, I find myself overwhelmed with dysphoria. And I know it's only natural to be sad, but not because of the words "He dies", but because of the life we saw prior to the words. - <span style="color:#003399;"><a class="wp-caption" href="http://www.imdb.com/character/ch0034333/" target="_blank">Mr. Edward Magorium</a></span></p></blockquote>
<p>Selama ini saya masih mencari dan menyusun kata-kata yang tepat buat melukiskan peristiwa meninggalnya bapak sejak beliau meninggal.. rasa hormat ke bapak menghalangi saya untuk menulis dan menceritakan kebaikan dan keburukan beliau bahkan sekedar untuk bisa dibagi kepada sesama supaya bisa jadi bahan belajar.<!--more--></p>
<p>Namun setelah beberapa malam ini beliau "berkunjung" ke mimpi saya sebagai bentuk memuncaknya rasa rindu saya kepada beliau, maka pagi ini setelah makan sahur saya bertekad untuk mulai berusaha sekuat mungkin berbagi tentang beliau.</p>
<p>Quote diatas diucapkan oleh <span style="color:#003399;">Mr. Edward Magorium </span>dari film <a class="wp-caption" href="http://www.imdb.com/title/tt0457419/" target="_blank">Mr. Magorium's Wonder Emporium </a>ketika Magorium berpamitan kepada salah satu pegawainya untuk "berpulang" dan menyerahkan hak kepemilikan tokonya kepada pegawai kesayangannya itu.</p>
<p>Saya bersepakat dengan Margorium. Sebenarnya bukan peristiwa kematian seseorang yang membuat kita menjadi histeris dan menangis. Namun karena banyak dari kita yang tidak mampu menahan rasa sakit dari serangan kisah-kisah kebaikan yang dimiliki almarhum yang secara bertubi-tubi meghujam kehati dan ingatan kita, serta kebodohan kita yang masih belum bisa mengoptimalkan usaha dalam menyenangkan almarhum.</p>
<p>Saya memperoleh kabar beliau meninggal dari kakak saya subuh hari diakhir bulan Juni. Hal pertama yang saya ingat melintas di benak saya waktu itu adalah bahwa saya belum memberangkatkan beliau untuk berkunjung ke Tanah Suci menunaikan ibadah Haji, satu hal yang sudah menjadi impian saya sejak kecil. Berikutnya satu per satu ingatan tentang Bapak melintas diikuti dengan ribuan rasa penyesalan karena belum sempat membalas dan membahagiakan beliau, dan itu sangat menyakitkan. Saya menangis, saya menjerit, saya sakit.</p>
<p>Setelah menenangkan diri untuk mendaratkan emosi saya beberapa saat kemudian, saya mencoba untuk menjadi rasional dengan mengikhlaskan atau lebih tepatnya mencari pembenaran-pembenaran untuk semua penyesalan saya demi mengurangi rasa sakit tadi. Ketika saya sudah merasa cukup tenang untuk bercerita, saya segera menghubungi beberapa family untuk meneruskan berita duka ini kemudian bergabung dengan keluarga di Demak menyelenggarakan upacara pemakaman.</p>
<p>Kulihat raut muka Bapak. Damai, tenang, dihiasi dengan sedikit senyum bentukan bibirnya.</p>
<p>Ini adalah pertama kalinya saya menyentuh jasad manusia yang telah ditinggalkan kehidupannya. Tubuh Bapak dingin ketika kupegang dan kuangkat untuk dikafani.</p>
<p>Sekuat tenaga kusimpan saat-saat terkahir bersama bapak. Kuhirup dalam-dalam bau tubuh beliau, kupandang lekat wajah beliau, kuusap-usap kulit beliau, kubisikkan betapa saya menyayangi beliau, kusampaikan rasa terimakasih saya atas segala bahagia saya karena beliau, kuhaturkan permintaan maaf atas segala sedih yang beliau rasakan karena saya. Jika diperkenankan, saya ingin sekali bercerita panjang lebar tentang perkembangan hidup saya kepada beliau meskipun beliau tidak akan pernah mendengar dengan telinganya lagi.</p>
<p>Selamat jalan bapak..<br />
Semoga kasih dan sayang Allah selalu menyelimuti dan menghangatkanmu..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teman ku jadi bapak]]></title>
<link>http://unkick.wordpress.com/?p=111</link>
<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 18:46:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>unkick</dc:creator>
<guid>http://unkick.id.wordpress.com/2008/09/25/teman-ku-jadi-bapak/</guid>
<description><![CDATA[Setelah hendy dengan handsons nya sekarang giliran nanang yang jadi bapak, katae temen temen sih put]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah hendy dengan handsons nya sekarang giliran nanang yang jadi bapak, katae temen temen sih putri. Ntar aja kalo udah sehat mungkin anak2 mabes kerumahnya nanang. Semangat nang, dapat keluarga baru tuh. :)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayah!]]></title>
<link>http://lariajamift.wordpress.com/?p=257</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 19:49:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>miftajah</dc:creator>
<guid>http://lariajamift.id.wordpress.com/2008/09/21/ayah/</guid>
<description><![CDATA[
Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">Waktu memang tak akrab</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">denganku dan ayah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">tapi di dalam buku gambarku</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">tak pernah ada duka atau badai</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">hanya sederet sketsa</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">tentang aku, ayah dan tawa</span></em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em><span lang="EN-US">yang selalu bersama</span></em></p>
<p style="padding-left:30px;">-Abdurahman Faiz-</p>
</blockquote>
<p>Ah! Aku, ayah, dan tawa</p>
<p>hingga saatnya tiba!</p>
<p>Kadang, aku jengah pada waktu</p>
<p>Bukan karena tak mengijinkanku</p>
<p>Tapi ia tak berkata-kata</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bapak Allah]]></title>
<link>http://amaginggrace.wordpress.com/?p=26</link>
<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 00:12:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>amaginggrace</dc:creator>
<guid>http://amaginggrace.id.wordpress.com/2008/09/18/bapak-allah/</guid>
<description><![CDATA[Firman Tuhan yang saya baca dari Matius 1 pagi ini ada 2 orang yang disebut sebagai &#8220;Bapa Alla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://amaginggrace.files.wordpress.com/2008/09/abraham-and-isaac1.jpg"><img src="http://amaginggrace.wordpress.com/files/2008/09/abraham-and-isaac1.jpg" alt="" title="abraham-and-isaac1" width="109" height="140" class="alignnone size-full wp-image-29" /></a>Firman Tuhan yang saya baca dari Matius 1 pagi ini ada 2 orang yang disebut sebagai "Bapa Allah"</p>
<p>Mat 1: 1 : "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham" .</p>
<p>Sungguh hal yang luar biasa ke dua orang tokoh Alkitab diatas (Daud dan Abraham) di sebut sebagai Bapa dari Allah. Memang Yesus (Allah , yang menjadi manusia) adalah keturunan Abraham dan Daud, tetapi mengapa Alkitab dengan sangat lugas dan jelas serta menekankan bahwa Yesus Kristus anak Daud, nak Abraham.</p>
<p>Secara singkat kalau kita melihat siapa kedua tokoh ini ada satu kesamaan yang mereka miliki yaitu keduanya adalah orang-orang yang sangat bergaul akrab dengan Tuhan semasa hidupnya, mereka adalah orang-orang yang senantiasa setia kepada Allah sepanjang hidupnya.</p>
<p>Meskipun Abraham dan Daud tentunya juga manusia yang tidak sempurna, sepanjang hidupnya juga diwarnai dengan beberapa dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Kita tahu bagaimana Abraham salah dalam mengambil keputusan dengan menjadikan hagar sebagai istri, melakukan kebohongan karena ketakutannya di tanah Mesir (Kej. 12) tetapi Tuhan sendiri mengingatkan kebohongannya melalui Raja Firaun (Kej 2 : 17 - 19). Tetapi bagaimana kesetiaan Abrahan telah teruji dimana sepanjang hidupnya ia tidak penah berpaling dari pada Allah bahkan kesetiaannya ketika Allah mengujinya untuk mengorbankan anak yang telah dijanjikan Allah kepadanya(Ishak).</p>
<p>Demikian juga dengan Daud kesetiannya kepada Allah sampai akhir masa hidupnya, Bagaimana iman dan dan kasihnya kepad Allah semasa mudanya (lihat bagaiman responnya ketika Goliath menghina Allah), Bagaimana ketakutannya akan Tuhan Allah bahkan ia sendiri tidak berani menyentuh Saul sebagai orang yang telah diurapi Allah meskipun Saul sendir dengan segala macam cara ingin melenyapkan Daud dan Daud memiliki beberapa kali kesempatan untuk melakukan hal itu (1 Sam 24 dan 1 Sam 26). Bagaimana kerinduan hati Daud untuk bisa mendirikan Bait Suci Allah, meskipun Allah sendiri tidak mengijinkannya.</p>
<p>Sama seperti Abraham, Daud sendiri juga tidak luput dari dosa, dosa perselingkuhan nya dengan Betsyeba dan pembunuhan berencana terhadap Uria (Suami Betsyeba), dosa keangkuhan terhadap prestasin dan kejayaannya selama masa memerintah sebagai Raja orang Israel (2 Sam 24), Tetapi bagimana Ia begitu menyesali dan sangat menyesal atas setiap dosa yang telah dilakukannya. Bagaimana Ia begitu berkabung atas doa yang dilakukannya terhadap Betsyebad an uria, atau bagaimana ia berdebar-debar dan merasa sangat telah berdosa atas kesombongannya ( 2 Sam 21 : 10).</p>
<p>Bagaimana kedua tokoh ini begitu mencintai, takut dan taat kepada ALlah, bagaimana kedua tokoh ini memiliki hubungan yang begitu Akrab dengan Allah sehingga mereka disebut sebagai Bapak Allah...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah) ]]></title>
<link>http://mediautamie.wordpress.com/?p=230</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 07:01:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>mediautamie</dc:creator>
<guid>http://mediautamie.id.wordpress.com/2008/09/11/yang-terbaik-bagimu-jangan-lupakan-ayah/</guid>
<description><![CDATA[(by ADA BAND)
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>(by ADA BAND)</p>
<p>Teringat masa kecilku<br />
Kau peluk dan kau manja<br />
Indahnya saat itu<br />
Buatku melambung<br />
Disisimu terngiang<br />
Hangat nafas segar harum tubuhmu<br />
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi<br />
Serta harapanmu</p>
<p>Kau ingin ku menjadi<br />
Yang terbaik bagimu<br />
Patuhi perintahmu<br />
Jauhkan godaan<br />
Yang mungkin kulakukan<br />
Dalam waktuku beranjak dewasa<br />
Jangan sampai membuatku<br />
Terbelenggu jatuh dan terinjak</p>
<p>Reff :<br />
Tuhan tolonglah sampaikan<br />
Sejuta sayangku untuknya<br />
Ku terus berjanji<br />
Tak kan khianati pintanya<br />
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya<br />
Ku mencintaimu<br />
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu</p>
<p>Andaikan detik itu<br />
Kan bergulir kembali<br />
Kurindukan suasana<br />
Basuh jiwaku<br />
Membahagiakan aku<br />
Yang haus akan kasih dan sayangmu<br />
Tuk wujudkan segala sesuatu<br />
Yang pernah terlewati</p></blockquote>
<p> </p>
<p><em>lagi kangen bapak nih, i luv u, my first man who love me... julukan buatku di rumah, "anak ayah". cuma aku yang gak takut sama dia, hehehe, karena aku tahu, aku segalanya buatnya. walaupun aku anak yang paling sableng...</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persiapan Pulkam]]></title>
<link>http://rizakasela.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 02:45:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>riza_kasela</dc:creator>
<guid>http://rizakasela.id.wordpress.com/2008/09/10/persiapan-pulkam/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah Bapak saia ada rejeki buwat beli tiket saia pulkam. Pulkamnya tgl 13 September 2008 na]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah Bapak saia ada rejeki buwat beli tiket saia pulkam. Pulkamnya tgl 13 September 2008 naik pesawat jam 10.30. Maskapainya Mandala katenye sih pesawatnya Airbus terbaru lho. Tapi harga tiketnya mahal buanget bro naik 50%. Busyeeeet...... Mana gak dikasih snack lagi pas dalam perjalanan.</p>
<p>Menjelang pulkam seperti biasa lah banyak pesanan barang2 dan oleh2. Ada bauanyak item</p>
<p>Pesanan Ibu</p>
<ul>
<li>Bleng cap Wayang</li>
<li>Brokoli</li>
<li>Kacang kapri</li>
<li>Kaos</li>
<li>dll</li>
</ul>
<p>Pesanan Bapak</p>
<ul>
<li>VCD Campur Sari Gunung Kidul</li>
</ul>
<p>Pesanan Teddy</p>
<ul>
<li>Memory Stick Pro Duo 2GB</li>
<li>Buku grammar English Cambridge</li>
<li>Buku biografi</li>
<li>Water Booster</li>
<li>dll</li>
</ul>
<p>Dan banyak lagi deh pesanan2 laennya ada bakpia, dll. Mudah2an kuat ngangkut ke bandara. Cape deeeh.....</p>
<p>Sekarang Bapak lagi sakit. Mudah2an cepat sembuh deh. AMIN</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[...met jalan Pa..]]></title>
<link>http://satujanuari.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 15:36:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>1st jan</dc:creator>
<guid>http://satujanuari.id.wordpress.com/2008/09/09/met-jalan-pa/</guid>
<description><![CDATA[Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un
Aku gak bisa ngomong apa2 selain nangis dan nangis.. rasanya ap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un</span></p>
<p>Aku gak bisa ngomong apa2 selain nangis dan nangis.. rasanya apa yg terjadi di tahun ini benar2 sudah diluar kuasaku.. setelah maret yl calonku meninggal dunia karena kanker.. sekarang..tepatnya tgl 15 Agustus 2008 yl Bapakku juga meninggal dunia karena serangan jantung.. Ya Allah.. aku benar2 gak berdaya sekarang ini.. penyemangat hidupku dah pergi semua..</p>
<p>Yang membuat aku menyesal adalah aku gak sempat menemani beliau disaat2 terakhirnya.. dan aku ketemu terakhir sama Bapak..tgl 19 Juli 2008.. 1 Bulan yl.. Pak, maafin aku ya.. aku belum bisa bahagiain Bapak.. Saat ini aku cuma bisa kirim doa.. semoga amal baik Bapak diterima Allah SWT dan diampuni segala khilaf, menjadi ahli surga yang diberi salam dan disambut malaikat Allah SWT sebagaimana untuk orang-orang yang baik. Aamiinn.. Aku sayang Bapak... Kami semua sangat sayang Bapak dan sangat kehilangan Bapak.. terutama Mamah..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sisir]]></title>
<link>http://devyputri.wordpress.com/?p=60</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 21:58:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Devy Putri</dc:creator>
<guid>http://devyputri.id.wordpress.com/2008/09/07/sisir/</guid>
<description><![CDATA[Sumpah gue lagi penasaran, rata-rata orang punya berapa sisir sih? Hanya 1 kah, 2 kah, 3 kah, atau l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumpah gue lagi penasaran, rata-rata orang punya berapa sisir sih? Hanya 1 kah, 2 kah, 3 kah, atau lebih dari 3? Trus, apakah jumlah sisir yang dimiliki berkorelasi positif dengan jenis kelamin?  Cowok -s<em>ecara normally berambut cepak</em>- sisirnya lebih dikit dari cewek. Trus..trus..ada ga ya korelasinya dengan panjang rambut?  Makin panjang rambut -<em>dalam bayangan gue makin ribet ngurusnya</em>- maka makin banyak pulakah sisir yang musti dimiliki?</p>
<p>Gue sendiri cuma punya 2 sisir, 1 sisir guede dengan gigi super jarang dan satu lagi sisir kecil mungil dengan gigi yang fleksible dan lembut pas dipake. FYI, dari jaman rambut gue cepak sampe (pernah) panjang hampir sepinggang, rata-rata gue hanya punya 2 sisir, max 3 buah lah.  Sisir pertama biasanya sisir harian, dengan gigi jarang biar rambut ga rontok pas nyisir abis keramas. Sisir kedua biasanya mungil, buat sangu kalo pas bepergian. Sisir ketiga, lebih 'sophisticated' krn buat 'ngerias' rambut, ngeblow dan semacamnya. The latter hanya gue miliki sebelum gue berjilbab. Setelah pake jilbab, praktis hanya 2 sisir pertama yang selalu gue punya. Ya emang gue mo nge-blow jilbab, huehehehe...</p>
<p><!--more--></p>
<p>Buat gue, 2 sisir saja cukup ! (kayak iklan KB aja...)</p>
<p>Kenapa hanya dua?  Well, gue ga koleksi sisir. Hubungan gue dengan si sisir hanya sebatas hubungan functional, no point punya sisir banyak-banyak. Nah, trus kalo cm buat nyisir, kenapa musti dua, ga satu aja? Eits eits, masing-masing kan punya specific rule yang berbeda. Kalo gue musti bawa sisir gajah gue pas traveling, makan tempat lah..  *excuse.com*</p>
<p>Sebenernya ada story dibalik rasa penasaran gue tentang jumlah sisir orang-orang, it's about my father. Sepanjang penglihatan gue, Bapak itu termasuk orang yang cuek dalam penampilan. "Beda banget dibandingin jaman bapakmu muda dulu", gitu kata si Ibu. Ya iya laaahhh......(mosok ya iya dong), dulu kan masih bujang, masih tebar pesona sana-sini, ya pasti penampilan dibuat setrendi mungkin. Lha kalo sekarang masi mau setrendi dulu, kesian lah adek2 gue, nti kalah gaya sama bapaknya hihihi..</p>
<p>Nah, menurut analisa gue, dengan style Bapak yang cuek, rambut cepak, pantesnya beliau ini hanya punya 1 sisir, oke lah 2 sisir, yang satu ditinggal di mobil karena dulu Bapak sering banget pergi lelang outstation. Tappiiii... usut punya usut, Bapak ternyata punya... tunggu, gue inget-inget dulu, pas terakhir gue pulang kampung kemarin, gue menemukan segepok sisir terbungkus rapi dalam satu kantung plastik. Guess how many combs I found ! More than 15 sodara-sodari !! Semua modelnya sama, panjang skitar 10 cm, pipih, gigi kecil-kecil, agak rapet. Name it, segala rupa warna ada. Merah, kuning, ijo, orange, lengkap dah! Masih diselimuti ketakjuban, gue ternyata menemukan beberapa (baca: more than 5) sisirs yang sama di kamar beliau. Ada yang di depan meja rias, ada yang dekat jendela, ada di atas tivi, tersebar randomly disana sini.</p>
<p>Penasaran gue tanya ke Ibu, kok ada sebegitu banyak sisir di rumah, padahal di rumah cuma ada 5 orang, Ibu is the only woman lagi! Ibu dengan nada pasrah jawab"Gak tau tuh Bapak kamu, tiap sisir kotor dikit, langsung ngacir ke warung sebelah. Padahal, nanti sisir lama-nya itu ya dicuci juga.."</p>
<p>Gak puas dengan jawaban Ibu, gue langsung tanya ke empunya sisir pelangi tadi. Eehh.. sambil nyengir Bapak cuma bilang "Mbok yo uwis ra popo, wong murah iki kok.. Ben di enggo dolanan Kesa". Gue translatin ye: "Mbok ya udah gapapa, orang murah ini kok... Biar dipake mainan sama Kesa".</p>
<p>Iya, si Kesa keponakan gue satu-satunya yang ms umur 1.5 tahun itu lagi seneng-senengnya mainan koleksi sisir Bapak gue. Sambil ngomong "Cicil..cicil..." dia taruh tuh sisir di rambutnya, semua sisir yang ada di kantung plastik dia keluarin dan coba satu per satu.</p>
<p>Takut kualat sama orang tua, gue ngeloyor pergi, ga berani nge-probe :D  Walhasil sampe sekarang gue masih penasaran, ada yang salah ga ya dengan Bapak gue? Berapa sih jumlah sisir yang kalian punya? Kasi tau dooongg.. biar gue ga penasaran... plis plis...</p>
<p>Maturnuwun!<!--more--><!--more--><!--more--><!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HATI SEORANG AYAH]]></title>
<link>http://customs6th.wordpress.com/?p=465</link>
<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 03:30:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>customs6th</dc:creator>
<guid>http://customs6th.id.wordpress.com/2008/09/05/hati-seorang-ayah/</guid>
<description><![CDATA[Postingan ini dari saudara kita MARDANUS, sebuah kisah yang begitu menginspirasi buat kita semua seb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Postingan ini dari saudara kita <strong>MARDANUS</strong>, sebuah kisah yang begitu menginspirasi buat kita semua sebagai anak, bapak, ibu dan keluarga. <strong>Dan lakukanlah yang terbaik Buat keluarga kita…</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">HATI SEORANG AYAH</span></strong></p>
<p>Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.</p>
<p>Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti."<!--more--><br />
<span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.</span></p>
<p>Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"</p>
<p>Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.</p>
<p>Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.</p>
<p>Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.</p>
<p>"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "</p>
<p>"Ku-ciptakan bahunya yang kekar &#38; berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya &#38; kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "</p>
<p>"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "</p>
<p>"Kuberikan Keperkasaan &#38; mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya &#38; yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."</p>
<p>"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat &#38; membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "</p>
<p>"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai &#38; mengasihi keluarganya, didalam kondisi &#38; situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi &#38;<br />
mengasihi sesama saudara."</p>
<p>"Ku-berikan kebijaksanaan &#38; kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan &#38; menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. &#38; bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar &#38; saling melengkapi serta saling menyayangi."</p>
<p>"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari &#38; menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia &#38; BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "</p>
<p>"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia &#38; Akhirat."</p>
<p>Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut &#38; berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. " AKU MENDENGAR &#38; MERASAKAN BEBANMU, AYAH."</p>
<p>Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah... With Love to All Father " JIKA KAMU MENCINTAI Ayah mu / sekarang merasa sebagai AYAH KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI AYAHNYA &#38; Dan Mencintai Kita Sebagai Seorang Ayah</p>
<p>". Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya.... ......... ......... ......... .....</p>
<p>Berbahagialah yang merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik Buat keluarga kita........ ......... .........</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Romansa Ramadhan]]></title>
<link>http://guawijaya.wordpress.com/?p=130</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 02:38:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>guawijaya</dc:creator>
<guid>http://guawijaya.id.wordpress.com/2008/09/02/romansa-ramadhan/</guid>
<description><![CDATA[Romantika masa lalu bergayut seiring masuknya bulan Ramadhan, kenangan ketika masa kecil berkelebat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://guawijaya.files.wordpress.com/2008/09/dsc00231.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-131" src="http://guawijaya.wordpress.com/files/2008/09/dsc00231.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a>Romantika masa lalu bergayut seiring masuknya bulan Ramadhan, kenangan ketika masa kecil berkelebat tanpa dapat kita hindari, ada romansa wangi melati disekeliling kita. Ketika akan pergi sholat ke masjid, bapak tidak lupa menyemprotkan wewangian melati ke baju koko dan sajadahnya. Dan aroma sedap makanan khas bulan Ramadhan menyeruat memasuki hidung tanpa dapat dicegah, suara sendok beradu dengan gelas kala ibu menyiapkan es setup. Cendol, ataupun kolak, terngiang seketika...</p>
<p>Kuhirup udara pagi bulan Ramadhan, kurasakan aura nuansa magis yang berbeda ketika datang bulan penuh berkah ini, udara atau cuaca pun seperti bersahabat menjadi syahdu, hawa terasa teduh dan sejuk. Entah ini sugesti atau hanya hayalanku saja, tetapi sungguh itu yang aku rasakan. Apalagi waktu dulu ketika masih bersama orang tua, aku masih sekolah, dan biasanya seminggu pertama puasa kita libur dirumah dan masuk pada minggu kedua dan ketiga, lalu kita libur lagi menyambut lebaran, biasanya aku pergunakan liburan puasa dan lebaran itu untuk tidur-tiduran dan baca-baca di pagi dan siang hari, sore hari menjelang bedug maghrib kita bermaen bersama dengan teman satu kompleks di halaman masjid dan ketika bedug datang kita langsung menyerbu takjil yang ada di masjid. Hmm....romansa itu bergelayut deras.</p>
<p>Hari ini, kita berpuasa dan berpelukan dengan keadaan saat kini, yang pasti tidak ada libur lagi seperti masa sekolah dan tidak semua merasakan kehangatan kehadiran bapak ibu disisi kita bersama melalui bulan Ramadhan ini. Apapun itu, bulan Ramadhan tetap bulan terindah dan penuh kenangan.</p>
<p>Marhaban ya Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin dari kami sekeluarga kepada para sodara dan sahabat. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Allah menerima segala ibadah dan memberi ampunan atas segala dosa yang telah kita perbuat.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesan Bapak Mertua ( A, I, U, E, O )]]></title>
<link>http://m3susanto.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 05:31:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>m3susanto</dc:creator>
<guid>http://m3susanto.id.wordpress.com/2008/08/26/pesan-bapak-mertua/</guid>
<description><![CDATA[Mas Tri, Jika kamu ingin berhasil di Dunia Dan Akherat ada 5 huruf yang harus diingat yaitu A, I, U ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Tri, Jika kamu ingin berhasil di Dunia Dan Akherat ada 5 huruf yang harus diingat yaitu A, I, U , E, O</p>
<p><strong>Approach / Pendekatan (PDKT)</strong></p>
<p>Lakukanlah Pendekatan baik dengan Allah, Manusia dan lingkungan (Alam) dengan begitu kamu akan mengetahui berbagai sifat dan karakter orang serta tahu keadaaan lingkungan.<!--more--></p>
<p><strong>Integrated / Penyatuan (Bergaul)</strong></p>
<p>Setelah melakukan pendekatan cobalah kamu untuk bergaul dan menyatu dengan masyarakat dan lingkungan dimanapun kamu berada kalau konteknya akherat  ya menyatu dengan apa yang telah Allah Perintahkan dan yang dilarang.</p>
<p><strong>Useful / Bermanfaat </strong></p>
<p>jadilah orang yang bermanfaat bagi siapa saja dengan hati yang ihklas.</p>
<p><strong>Equity / Iman (percaya)</strong></p>
<p>Beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab2 yang tewlah diturunkan oleh Allah, Rosul, hari Akhir, qodo dan qodar dan selalu berpikiran positif kepada orang lain</p>
<p><strong>Obeidience / Taqwa</strong></p>
<p>Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Bus]]></title>
<link>http://ucrietz.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 02:36:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>ucrietz</dc:creator>
<guid>http://ucrietz.id.wordpress.com/2008/08/23/di-bus/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang kamu, kalian dan semua lakukan di dalam bus?
Hmm, OK check this out :
1. Bengong. (kadang-k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kamu, kalian dan semua lakukan di dalam bus?<br />
Hmm, OK check this out :</p>
<p>1. Bengong. (kadang-kadang) :D <img class="alignnone" src="http://cinta.kaskusradio.com/onion/smiley/silent.gif" alt="" width="50" height="50" /><br />
2. Melihat pemandangan keluar jendela bus. (sering)</p>
<p>3. Ngemil (apa ngupil?)<img class="alignnone" src="http://cinta.kaskusradio.com/onion/smiley/nosepick.gif" alt="ngupil" width="50" height="50" /></p>
<p>Heheh,,,<br />
4. Tidur <span style="text-decoration:line-through;">sambil mangap</span> (hooo?) <img class="alignnone" src="http://cinta.kaskusradio.com/onion/smiley/sleep.gif" alt="" width="50" height="50" /><br />
5. Ngerumpi (ini juga klo lagi ada temennya)<br />
6. Baca buku? (jarang, abisnya pusing!!) <img class="alignnone" src="http://cinta.kaskusradio.com/onion/smiley/ulangan.gif" alt="" width="50" height="50" /><br />
7. Hmmm,, mobile ? SMS-an, YM-an, ato bahkan Mobile Blogging? Nge-Plurk?<br />
8. Ngaji, atau dengerin kajian?<br />
9. Dengerin musik? Atau malah nyanyi? <img class="alignnone" src="http://cinta.kaskusradio.com/onion/smiley/cupid.gif" alt="" width="50" height="50" /><br />
10. Okeh, yang ke 10..</p>
<p><!--more--></p>
<p>--Mencoba mengalihkan pembicaraan sebentar, saiah mw cerita sebentar--</p>
<p>Nguping itu dosa ga yah?<br />
Hmm,, klo yang baik2 mudah2an ga dosa. :D<br />
Tadi pagi tadi, seperti biasa saya naik bus.<br />
Ya bengong lha, baca buku, ngeliat pemandangan (halah).<br />
Trus memulai kebiasaaan <span style="text-decoration:line-through;">buruk</span> saiah, nguping!!<br />
Sebenarnya ga sengaja denger! Tapi dilanjut aja! :D<br />
Di belakang tempat crit duduk ada seorang Bapak dan disebelahnya ada seorang ibu2 lagi gendong anaknya (sekitar 2-3 tahun).<br />
* bukan, bukan sepasang suami istri! :D *</p>
<p>Kurang lebih kayak gini deh percakapannya :<br />
Si Bapak : (mengucap dengan ramah) "Mau kemana De'?"<br />
Si Ibu : "Mau ke *beliau menyebut nama jalan, saya lupa namanya*, mau berobat."<br />
Si Bapak : "Memangnya sakit apa de'?"<br />
Si Ibu : "Ini, anak saya belum bisa jalan pak.. Ngomongnya juga belum lancar,,"<br />
Si Bapak : "Ohh,, Cepat sembuh ya De' Nanti juga ade pasti bisa jalan,,"</p>
<p>Dan seterusnya mereka berdua terus ngobrol ttg 'penyakit' si adik kecil itu,<br />
Si Bapak trus beri nasihat2 (kelihatannya memang beliau mengerti).<br />
Trus memberi semangat kepada si Ibu dan Anak kecil itu.<br />
Sampai tiba waktunya (halah) buat si Bapak itu untuk turun.<br />
Beliau pun masih sempat memberi semangat buat si Ibu itu :<br />
"Banyak2 berdoa ya Bu! Terus kasih semangat! Nanti pasti ada jalannya,,"</p>
<p>Ugh,, so sweet,, <img class="alignnone" src="http://cinta.kaskusradio.com/onion/smiley/hope.gif" alt="" width="50" height="50" /></p>
<p>Crit, pernah ga kamu belajar untuk ngelakuin hal kayak gitu?<br />
Banyak hal yang terbuang,, meskipun hanya sekedar nunggu bis atau sedang dalam perjalanan,,<br />
Cuma bengong dan berdiam diri di Halte?<br />
Ngedumel, bus yang kamu tunggu ga datang2? Benci dengan asap rokok?<br />
Atau bahkan, mengutuk sang supir yang mengemudikan bus dgn kencang, atw si kenek yg ngebetein?<br />
Crit, jangan biarkan 'sekedar' umpatanmu dalam hati menambah 'tabungan' dosamu!<br />
Huff,,,</p>
<p>Allah mengingatkan aku pagi ini,,<br />
Agar tak sesuatu apa pun terbuang sia2 hanya karena gw ga bercontoh dr itu semua,,<br />
Terima kasih bwt Bapak itu,,<br />
Juga buat Ibu dan Anak kecilnya (dik, cepat sembuh ya) :)</p>
<p>Emot lucu dapet dari <a title="emot" href="http://cinta.kaskusradio.com/onion/" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HATI SEORANG AYAH]]></title>
<link>http://radenmasnews.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 07:35:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>radenmasnews</dc:creator>
<guid>http://radenmasnews.id.wordpress.com/2008/08/21/hati-seorang-ayah/</guid>
<description><![CDATA[
Inspiring Story
HATI SEORANG AYAH
Suatu
ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://s497.photobucket.com/albums/rr337/radenmas_album/?action=view&#38;current=Ayah1.jpg" target="_blank"><img src="http://i497.photobucket.com/albums/rr337/radenmas_album/Ayah1.jpg" border="0" alt="bapak"></a><br />
Inspiring Story</p>
<p>HATI SEORANG AYAH</p>
<p>Suatu</p>
<p>ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa</p>
<p>sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai</p>
<p>berkerut-merut</p>
<p>dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-</p>
<p>batuknya </p>
<p>Anak wanita itu</p>
<p>bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut</p>
<p>dengan</p>
<p>badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya,</p>
<p>ketika Ayahnya sedang santai di beranda </p>
<p>Ayahnya menjawab</p>
<p>: "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita</p>
<p>itu berguman : " Aku tidak mengerti."</p>
<p>Dengan kerut-kening</p>
<p>karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya</p>
<p>hanya</p>
<p>tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk</p>
<p>bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum</p>
<p>mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak</p>
<p>wanita itu tambah kebingungan.</p>
<p>Karena penasaran,</p>
<p>kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu</p>
<p>mengapa</p>
<p>wajah Ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian</p>
<p>terbungkuk?</p>
<p>Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa</p>
<p>sakit?"</p>
<p>Ibunya menjawab:</p>
<p>"Anakku, jika seorang laki-laki yang benar benar bertanggung jawab</p>
<p>terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang</p>
<p>Bunda.</p>
<p>Anak wanita itupun</p>
<p>kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.</p>
<p>Hingga pada suatu</p>
<p>malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia</p>
<p>mendengar</p>
<p>suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang</p>
<p>terdengar</p>
<p>dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa</p>
<p>penasarannya selama ini.</p>
<p>"Saat Ku-ciptakan</p>
<p>laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai</p>
<p>tiang</p>
<p>penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap</p>
<p>ujungnya,</p>
<p>agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "</p>
<p>"Ku-ciptakan</p>
<p>bahunya yang kekar &#38; berotot untuk membanting tulang menghidupi</p>
<p>seluruh</p>
<p>keluarganya &#38; kegagahannya harus cukup Â kuat pula untuk melindungi</p>
<p>seluruh keluarganya. "</p>
<p>"Ku-berikan</p>
<p>kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal</p>
<p>dari</p>
<p>tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya</p>
<p>tidak</p>
<p>terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-</p>
<p>anaknya.</p>
<p>"</p>
<p>"Kuberikan</p>
<p>keperkasaan &#38; mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah,</p>
<p>demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari,</p>
<p>demi</p>
<p>keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena</p>
<p>tersiram</p>
<p>hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi</p>
<p>keluarganya</p>
<p>&#38; yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti</p>
<p>kedatangannya</p>
<p>dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."</p>
<p>"Ku berikan</p>
<p>kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu</p>
<p>berusaha</p>
<p>merawat &#38; membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun</p>
<p>disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali</p>
<p>menyerangnya.</p>
<p>"</p>
<p>"Ku berikan</p>
<p>perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai &#38;</p>
<p>mengasihi</p>
<p>keluarganya, didalam kondisi &#38; situasi apapun juga, walaupun tidaklah</p>
<p>jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal</p>
<p>perasaannya</p>
<p>itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana</p>
<p>anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang</p>
<p>memberikan</p>
<p>kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar</p>
<p>selalu</p>
<p>saling menyayangi &#38; mengasihi sesama saudara."</p>
<p>"Ku-berikan</p>
<p>kebijaksanaan &#38; kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya</p>
<p>untuk memberikan pengetahuan &#38; menyadarkan, bahwa istri yang baik</p>
<p>adalah</p>
<p>istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang</p>
<p>senantiasa</p>
<p>menemani. &#38; bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun</p>
<p>duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap</p>
<p>kesetiaan</p>
<p>yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar &#38;</p>
<p>saling melengkapi serta saling menyayangi."</p>
<p>"Ku-berikan</p>
<p>kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa</p>
<p>berusaha</p>
<p>sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya</p>
<p>bisa hidup di dalam keluarga bahagia dan badannya yang terbungkuk agar</p>
<p>dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab</p>
<p>terhadap</p>
<p>seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga</p>
<p>serta</p>
<p>segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup</p>
<p>keluarganya.</p>
<p>"</p>
<p>"Ku-berikan</p>
<p>kepada laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga,</p>
<p>sebagai</p>
<p>tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan</p>
<p>hanya</p>
<p>inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya</p>
<p>tanggung</p>
<p>jawab ini adalah Amanah di Dunia dan Akhirat."</p>
<p>Terbangun anak</p>
<p>wanita itu, dan segera dia bangkit untuk berlutut dan berdoa hingga</p>
<p>menjelang</p>
<p>pagi. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika</p>
<p>Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan</p>
<p>Ayahnya,</p>
<p>katanya: Â " AKU MENDENGAR dan MERASAKAN BEBANMU, AYAH."</p>
<p>Dunia ini memiliki</p>
<p>banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak</p>
<p>satu</p>
<p>pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah...</p>
<p>With Love to</p>
<p>All Father " JIKA KAMU MENCINTAI Ayahmu atau merasa sebagai AYAH,</p>
<p>Kirimlah cerita ini kepada orang lain, agar seluruh orang di dunia ini</p>
<p>dapat mencintai dan menyayangi Ayahnya dan mencintai kita sebagai</p>
<p>Seorang</p>
<p>Ayah.</p>
<p>Note: Berbahagialah</p>
<p>yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik</p>
<p>untuknya.... .........</p>
<p>......... ......... .....</p>
<p>Berbahagialah yang</p>
<p>merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik buat keluarga</p>
<p>kita........</p>
<p>......... .........</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Pergi Mencari Tuhan (selesai)]]></title>
<link>http://nyomansutarsa.wordpress.com/?p=49</link>
<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 02:07:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>sutarsa</dc:creator>
<guid>http://nyomansutarsa.id.wordpress.com/2008/08/19/aku-pergi-mencari-tuhan-selesai/</guid>
<description><![CDATA[Laki-laki itu melintas diantara kerumunan. Dia tersenyum, aku mengenal senyum itu, juga busana yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Laki-laki itu melintas diantara kerumunan. Dia tersenyum, aku mengenal senyum itu, juga busana yang dikenakannya. Ia menyelinap diantara pikiran, singgah pada ragu, namun muncul di keheningan. Setiap aku sadar, dan melihat jembatan itu, yang tersisa hanya wajah-wajah asing yang riang. Mereka semua menghiasi keningnya dengan butir beras, yang wanita semakin anggun dengan kebaya dan selendang yang melingkari pinggang. Lelaki-lelaki itu semakin gagah dengan safari dan <em>destar </em>yang melingkari kepala. Tapi, laki-laki itu melintas sangat cepat. Aku tak sanggup membaca geraknya, lalu ia menghilang sesaat setelah melambaikan tangannya, entah untukku atau untuk orang lain. Bungkusan kecil berwarna merah di tangan kanannya, aku juga mengenalnya. Oleh-oleh masa kecil yang selalu diberikan ayahku saat aku menangis. Rasanya sangat lembut dan manis. Cukup sepotong kecil, letakkan di ujung lidah, maka ia akan mencair menjadi obat yang ampuh untuk tangisku. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Angin sangat peka, dia berhembus lembut, membawa sisa kabut untuk mengendap dipermukaan kulit. Udara menjadi semakin dingin. Apakah kabut ini juga ingin mengatakan sesuatu? Ia membelai kulitku dengan lembut. Selembut angin dan senyum ayahku. Laki-laki kabut, aku ingin menjumpaimu. Meminta potongan gula merah yang ada di tanganmu. Obati hatiku yang luka!</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tuhan, di kakimu aku bersimpuh, memohon ampun atas segala dosa. Inikah kebesaran-Mu, sebuah Pura di Bukit Batur. Pelan-pelan, damai menyesak di dada. Apakah kabut sore ini juga menggandeng-Mu? Pintu masuk itu sesak. Laki-laki itu juga ikut menyelinap, seperti bayang-bayang senja, dia menyusup diantara kerumunan orang. Tepat di anak tangga terakhir, ia menoleh dan melambaikan tangannya sambil tersenyum riang. Sepertinya dia sedang mengatakan “Aku menunggumu di Pelataran Pura” Aku ingin bergegas, berharap bisa melihatnya dari dekat. Dia menghilang tepat ketika aku mengedipkan mata. Laki-laki kabut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Inikah yang disebut ziarah batin? Setiap langkah terasa makin berat. Anak tangga itu tidak saja jalan menuju Tuhan, tapi juga cermin dosa yang terus menumpuk. Bisakah kita melihat dosa dari jarak dekat? Apakah ia berbentuk, atau hanya kuasa gaib yang membelenggu jiwa-jiwa yang lelah?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku telah menghadap ke arah Gunung. Lambang kesucian bagi masyarakat Bali. Seperti musium roh yang tenang, berbagai simbol terpasang tanpa bisa kukenali maknanya. Hatiku bergetar ketika genta berdenting, ketika doa dan mantra-mantra gaib dilagukan. Aku cakupkan tangan tepat di depan ubun-ubun, merenung tentang masa lalu, penjelmaan, lalu tentang kekinian. Siapakah aku di mata-Mu? Bagaimanakah harus kumulai percakapan sore ini? Aku ingin menyapa-Mu dengan sederhana, tidakkah Kau merasa lelah dengan ulahku? Aku ingin menyapa-Mu dengan sederhana, lalu mengatakan bahwa aku sedang berduka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Duka hanya sebagian dari mosaik hidup. Kapan kita tahu kalau kita berduka atau bersuka? Siapakah yang menamai mereka, bukankah mereka selalu satu. Jangan kau buat semuanya menjadi rumit. Lahir, hidup, lalu mati. Inilah siklus hidup yang harus kita lalui. Entah apa yang akan terjadi setelah itu, tidak usah kau pikirkan terlalu resah. Masa lalu adalah kekinian, masa kini adalah masa datang. Semuanya terangkai dan tidak terputus. Aku juga ingin menyapamu dengan sederhana, seperti seorang ayah pada anaknya”</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku membuka mataku perlahan, pandanganku tertuju pada bangunan megah di tengah-tengah pura. Seorang dengan pakaian serba putih tengah mengusung air suci. Air yang membawa damai bagi setiap jiwa yang haus. Sirami aku dengan kasih-Mu, obati hatiku yang luka! Dari balik pintu itu, samar-samar laki-laki kabut duduk bersila. Matanya menatap sesuatu, lalu dia tersenyum kearahku. Air dingin menyentuh kulitku, dia menghilang diantara kepulan asap atau kabut! Lalu kuambil beberapa butir beras, kuletakkan dengan hati-hati di kening, sambil aku berucap ”Tuhan, berikan aku pikiran yang jernih, sejernih air yang baru saja kuminum” Aku sebarkan seluruh pandang ke segala arah, mencoba menemukan laki-laki kabut. Sia-sia, hanya ada sisa angin yang menghembus, suara orang diburu waktu, dan aku yang menggigil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku menyusuri ulang perjalanan pulang, arahnya berlawanan. Jika sebelumnya aku menghadap ke timur, sekarang aku tengah menghadap ke barat. ”Menjauh menuju riuh” pikirku. Orang-orang berebut ruang di pintu. Aku diam membiarkan pintu lebih lengang. Aku terus mencari bayang-bayang itu, aku ingin melihatnya dari dekat. Orang-orang telah menghambur ke luar, aku menginjak tangga satu demi satu, menuju riuh jalan. Sekali lagi, aku lemparkan pandangan ke arah bangunan megah itu, laki-laki kabut melambaikan tangannya. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. <strong><em>Aku ingin menyapamu dengan sangat sederhana, seperti salam seorang anak kepada ayahnya. </em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Batur, 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MAHAT]]></title>
<link>http://yagimanjung.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 16:05:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>zedssimba</dc:creator>
<guid>http://yagimanjung.id.wordpress.com/2008/08/16/13/</guid>
<description><![CDATA[


MAHAT

MAHATadalah baka jantan kedua dalam kumpulan pertama yang sampai ke Yagi Manjung Farming p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignright">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://yagimanjung.files.wordpress.com/2008/08/mahat1.jpg"><img class="size-medium wp-image-12" src="http://yagimanjung.wordpress.com/files/2008/08/mahat1.jpg?w=300" alt="MAHAT" width="300" height="225" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">MAHAT</dd>
</dl>
<p>MAHATadalah baka jantan kedua dalam kumpulan pertama yang sampai ke Yagi Manjung Farming pada 31 Ogos 2007 bersama-sama dengan MAMAT. Hasil kacukan antara Boer dan Katjang terserlah dari rupanya yang seakan Boer tetapi bersaiz besar sedikit daripada Katjang. Telah banyak menyumbang kepada pembiakan baka-baka kambing di Yagi Manjung Farming dan masih 'STEADY'</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seorang Bapak yang Bijaksana dan Adil pada Bangsa nya sendiri]]></title>
<link>http://bemeyomi.wordpress.com/?p=35</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 09:28:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>bemeyomi</dc:creator>
<guid>http://bemeyomi.id.wordpress.com/2008/08/15/seorang-bapak-yang-bijaksana-dan-adil-pada-bangsa-nya-sendiri/</guid>
<description><![CDATA[Seorang Bapak yang merindukan Kemerdekaan Bangsa nya
Ada seorang bapak yang sudah berumur 70 lebih h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[caption id="attachment_39" align="alignright" width="285" caption="Seorang Bapak yang merindukan Kemerdekaan Bangsa nya"]<a href="http://bemeyomi.files.wordpress.com/2008/08/bkejoracon13hgv3smb9s0s4kw08so4sww8o6ylu316ao18eg404k0ok48wkwth.jpeg"><img class="size-medium wp-image-39" src="http://bemeyomi.wordpress.com/files/2008/08/bkejoracon13hgv3smb9s0s4kw08so4sww8o6ylu316ao18eg404k0ok48wkwth.jpeg?w=285" alt="" width="285" height="285" /></a>[/caption]
<p>Ada seorang bapak yang sudah berumur 70 lebih hampir mencapai 80 tahun, Selama dia mengabdi sebagai seorang penegak hukum (ABRI), Dia tidak pernah mengakui hukum yang berlaku di Tanah Dia sendiri ( PAPUA )</p>
<p>Saya kagum dengan bapak tersebut, Walaupun di saat Upacara  Bendera di Nyanyikan lagu Indonesia raya tanah air ku dia ngomong dengan tanah air mu bukan tanah air ku, Dia selalu berada pada posisi nya sendiri.</p>
<p>Menurut bapak tersebut dia adalah bangsa kulit hitam yang badaki, rambut keriting kusuk, Dia akan hormat dan akan mengakui bahwa PAPUA itu lah bangsa nya, Sedikit pun apa sebab nya dia ditanya bapak tersebut tidak pernah menyerah dari pertanyaan yang di kasih.</p>
<p>menurut dia sekalipun pangkat ku di copot, Seragam ku di lepas, Saya akan selalu siap menghadapi apa saja yang terjadi, karna ini bukan seragam ku. Ini adalah seragam kaum penjajah untuk apa saya yang harus pakai ? Saya malah akan berterimakasih pada TUHAN karna akhir nya saya bisa melepas kan semua yang menjadi kepunyaan kaum penjajah.</p>
<p>Saya adalah saya dan saya adalah Polisi BELANDA saya bukan Polisi NKRI itu prinsip dari bapak tersebut sampai saat ini, menurut dia bahwa apa yang dia saksikan di depan mata dengan apa yang di buat oleh bangsa Indonesia kepada bangsa nya sendiri, Itu akan tersimpang dalam ingatan dia, dan itu sudah menjadi luka hati yang dalam buat dia, Luka tersebut akan sembuh kalau bangsa PAPUA sudah terlepas dan mendapatkan hak Kemerdekaan nya kembali.</p>
<p>Sampai saat ini kalau dia bertemu dengan orang tersebut yang menjadi musuh nya, Sikap dan kelakuan dia tidak pernah berubah untuk menyapa mereka dengan baik, Karna setiap bertemu dengan mereka ingatan dia yang dulu itu akan kambul lagi dan emosi itu pasti muncul, Oleh sebab itu dia memilih untuk selalu di rumah saja dari pada harus keluar dan bertemu dengan bangsa penyamun di luar, Itu prinsip dari bapak tersebut sampai saat ini.</p>
<p>Kini dia hanya bisa bertanya pada diri sendiri, Sampai kapang kah ? Bangsa saya akan terlepas dari tangan orang - orang penyamun atau lintah darat, istilah khusus Bangsa pengisap darah ?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengetuk Hati Nurani ]]></title>
<link>http://intiep.wordpress.com/?p=56</link>
<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 05:57:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>intiep</dc:creator>
<guid>http://intiep.id.wordpress.com/2008/08/14/mengetuk-hati-nurani/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan ini adalah kiriman dari temanku Taufik el Rahman (yang katanya juga kiriman dari temannya), ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Tulisan ini adalah kiriman dari temanku Taufik el Rahman (yang katanya juga kiriman dari temannya), berdasarkan ijinnya tulisan ini aku posting diblogku. Semoga banyak orang tua yang akan membacanya, kemudian akan terketuk hati nuraninya. Ternyata limpahan materi yang diberikan pada anak-anak kita tidak akan bisa mengganti dahaga kasih sayang yang diharapkannya. Semoga kita bisa merenungkannya.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Pinjam Rp 5,000 pa !!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membeli kebahagiaan dengan segepok uang, cukupkah ????</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swastaterkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.<br />
Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk dikelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
</p>
<p style="text-align:justify;">"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya. Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?". " Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?", tanya Andrew.  "Ah, enggak. Pengen tahu aja", ucap Sarah singkat. "Oke. Kamu boleh hitung sendiri.<br />
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari<br />
kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?
</p>
<p style="text-align:justify;">Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya, "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji       Rp. 40.000,- dong", katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, terus tidur!" perintah Andrew.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp.5.000,- enggak ?"</p>
<p style="text-align:justify;">"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam<br />
begini? Papa capek! Dan mau mandi dulu. Tidurlah!" " Tapi Papa......", ucap Sarah terputus.
</p>
<p style="text-align:justify;">Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !", hardiknya mengejutkan Sarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan Papa,<br />
Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih", jawab Andrew.</p>
<p style="text-align:justify;">"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi<br />
dari uang jajan selama minggu ini", ujar Sarah sambil terisak.<br />
"lya, iya, tapi buat apa ?", tanya Andrew lembut.</p>
<p style="text-align:justify;">"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya<br />
ada Rp.15.000,-  tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp.40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata<br />
Sarah polos.</p>
<p style="text-align:justify;">Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata . Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini,<br />
tidak cukup untuk membeli kebahagiaan anaknya.<br />
Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah<br />
dunianya.
</p>
<p style="text-align:justify;">------------------------------------------------------------------------------------------------------</p>
<p style="text-align:justify;">Waduh Sarah, kasihan banget kamu... (aku sendiri sampai berkaca-kaca membacanya) semoga ini tidak terjadi dengan kita semua. Kita bekerja jangan terlalu "ngoyo" mengejar materi dan jabatan sehingga kita kehilangan waktu dan kesempatan untuk bersama buah hati kita.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gapura 17 Agustusan (part 2)]]></title>
<link>http://clusternirwana.wordpress.com/?p=24</link>
<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 03:41:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>clusternirwana</dc:creator>
<guid>http://clusternirwana.id.wordpress.com/2008/08/12/gapura-17an-agustus-part-2/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya setelah lebih dari 2 minggu pengerjaannya, tadi malam gapura untuk 17 Agustusan telah terpa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Akhirnya setelah lebih dari 2 minggu pengerjaannya, tadi malam gapura untuk 17 Agustusan telah terpasang dengan megahnya dipintu masuk cluster nirwana.</p>
<p style="text-align:justify;">Ahhh..., lega akhirnya. Kirain kemaren hari Sabtu depan baru bisa dipasang, soalnya para Bapak-Bapaknya pada sibuk kerja. Untunglah Bapak-Bapak di cluster nirwana punya komitmen yang tinggi, sehingga gapura dapat terpasang tepat pada waktunya... salut euy untuk Bapak-Bapak cluster nirwana.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
