<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bambang-sigap &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/bambang-sigap/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bambang-sigap"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 16:34:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pesta Besar, Reuni Kecil]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=261</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:32:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.id.wordpress.com/2008/05/12/pesta-besar-reuni-kecil/</guid>
<description><![CDATA[

PEREMPUAN itu menatap sekilas. Kemudian berlalu bersama rombongan kecilnya mencari-cari tempat dud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2 style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="color:#ff6600;"><a href="http://URLBerkas"></a><a href="http://URLBerkas"></a></span></span></h2>
<h2 style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><em><span style="color:#008080;"><a href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/20080509persda_karina-siswi_anak-sultan3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-272" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/20080509persda_karina-siswi_anak-sultan3.jpg?w=300" alt="" width="433" height="257" /></a></span></em></span></h2>
<h3><em><span style="color:#008080;">PEREMPUAN itu menatap sekilas. Kemudian berlalu bersama rombongan kecilnya mencari-cari tempat duduk di antara ribuan tamu resepsi pernikahan agung di Keraton Yogyakarta, Jumat 9 Mei 2009 malam. </span></em></h3>
<p><span style="color:#ffffff;">Bergaun kuning, anggun. Tampak feminin. Sekali lagi ia</span> menatap sekilas seakan mengenal. Setelah kira-kira delapan langkah memunggungi kami di sela-sela tetamu yang sudah duduk nyaman, ia menoleh lagi. “Mas Yusran, ya?” begitu yang terbaca dari gelak bibirnya. Femiiiiii.....!!!</p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dasar! Saya sendiri pangling. Lha, wong anak tomboy yang biasanya cuma berjins kumal dan kaosan tanpa rias wajah itu, kali ini tampil “normal”. Rupanya, dia sendiri pangling atau lebih tepat tak menduga bakal bersua dengan saya di tempat itu. Wakakakaka… </span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dan, kami pun bercakaplah satu-dua jenak, sekaligus saya perkenalkan dia pada mamanya anak-anak. Begitulah, pesta besar dan kolosal yang dihadiri lima ribuan orang itu telah mempertemukan kami yang selama ini hanya berkomunikasi lewat internet.</span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><strong><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">Femi</span></strong></em><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"> (</span></em></span><em><span style="font-size:small;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><a href="http://www.kancutmerah.wordpress.com/"><em>http://femiadi.wordpress.com </em></a></span></em></span></em><span style="font-size:small;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"> dan  <a href="http://www.kancutmerah.wordpress.com/"><em>http://kancutmerah.wordpress.com</em></a>) adalah jurnalis dan penulis buku. Dua buku –satu di antaranya ditulis bersama seniornya di </span></em><em><span style="font-family:Arial;">GEMA</span></em><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">, AA <strong>Kunto</strong> A— laris di pasaran. Di tengah pesta akbar itu pula saya bertemu dengan Mas <strong>Ignatius Sawabi (Abi)</strong>, Mas <strong>Trias Kuncahyono</strong> dan adiknya, Mas Probo (perjumpaan terakhir dengan Mas Probo, ya kira-kira awal tahun 1993 lah).</span></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kalau saja malam itu Kunto jadi ikut, mungkin pertemuan kecil itu akan lebih meriah lagi. Semula, Kunto yang ketiban sibuk menjemput saya dan mengantar ke hotel, saya ajak serta ke perhelatan raja Jawa itu. Namun rupanya ia sangat sibuk –atau malas—menghadiri pesta besar-besaran di tengah situasi yang mestinya disikapi dengan prihatin dan sederhana.</span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Reuni saya jadi tambah lengkap seusai pesta. Mas <strong>Agoes Widhartono</strong> bergabung, lalu kami ngariung sejenak di Jalan Suroto. Di situ ada Mas Trias, Mas <strong>Bambang Sigap Sumantri</strong>, Mas <strong>Bondan Nusantara</strong>, dan Mas <strong>Krisno “Inus” Wibowo</strong> dengan gayanya yang khas. Nah, yang istimewa, malam itu kami diajak Mas Sigap santap malam di Gudeg Pawon.</span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saya pernah lama tinggal di Yogya, setidaknya dua kali dua tahun (1990/1993 – 1996/1998), tapi sungguh baru tahu malam itu ada tempat santap yang khas. Pelanggan mengambil santapan langsung dari dapur. Dan di dapur ini sang tuan rumah (penjual) sibuk mengolah dan menyiapkan makanan. </span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Jadi, suasananya seperti di rumah sendiri ketika kita sudah tak kuat lagi menunggu makanan tesaji di meja. Lapar, langsung ke dapur, ambil sendiri makanan yang kita inginkan. Lalu bersantaplah. </span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Karena rumah itu terlalu sempit (ruang tamu sekaligus ruang makan dan dapur), maka cari sendiri lah tempat nyaman untuk makan. Boleh di beranda –ada meja panjang dan sederet kursi di sana. Boleh, di lorong gang, lesehan di atas tikar. Bebas. Yang unik lagi, “kedai dapur” ini baru buka setengah dua belas malam!</span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;">Di sini, terjadi pula reuni tak terduga. Satu di antara penghuni ruma itu ternyata Mas Bambang Sukoco, satu di antara wartawan kami ketika saya bekerja di Harian </span></em><em><span style="font-family:Arial;">Bernas.</span></em><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"> Saat itu, mas <strong>bbs</strong> –kami biasa memanggilnya begitu, sesuai insialnya—lebih banyak meliput peristiwa-peristiwa hukum dan kriminal. (<strong>**</strong>)</span></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;">
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
