<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>arsip-it-public-knowledge-sharing &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/arsip-it-public-knowledge-sharing/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "arsip-it-public-knowledge-sharing"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 13:08:56 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[[2007] Ekonomi baru Internet (1). Dibangun dari Semangat Sharing (berbagi) dan Kolaboratif.]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/12/28/ekonomi-baru-internet-1-dibangun-dari-semangat-sharing-berbagi-dan-kolaboratif/</link>
<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 07:14:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/12/28/ekonomi-baru-internet-1-dibangun-dari-semangat-sharing-berbagi-dan-kolaboratif/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net 27 Desember 2007
Di Internet memang tidak perlu takut melepas ide a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net 27 Desember 2007</p>
<p><i>Di Internet memang tidak perlu takut melepas ide atau karya digital apapun kepada publik. Rasa kuatir bahwa karya akan dijiplak oleh orang lain hanya cocok bagi pihak yang kreativitasnya terbatas.</i></p>
<p><i>Melempar ide atau karya juga perlu sasaran bidik yang tepat. Untuk hal satu ini kemampuan observasi pada semua simpul komunitas sangat menentukan keberhasilan. Milyaran orang saat ini terhubung melalui Internet. Tidak hanya sebagai konsumen informasi, siapapun kini dapat menjadi pelaku yang sangat diuntungkan dalam ekonomi Internet. Keuntungan ekonomis jelas ada, namun untuk mengerti apa dan bagaimana bentuknya Anda perlu bergaul akrab dengan "dunia lain" ini.</i></p>
<p>Walau masih dalam lingkup terbatas, semangat dasar yang melatarbelakangi lahirnya Internet yang diawali oleh ARPANET tahun '60 an adalah kebutuhan untuk <i>sharing</i> (berbagi) dan bekerja secara kolaboratif. Akar budaya <i>sharing</i> melalui jaringan informasi komunikasi itu berkembang terus hingga sekarang dan menjadi kekuatan perubahan ekonomi-bisnis, sosial, politik dan semua tatanan mapan planet ini. Menariknya, sejak lima tahun terakhir entitas <i>sharing</i> tidak lagi terbatas pada sesama kelompok minat, namun menjadi sangat terbuka bagi publik.</p>
<p>Sang kreator World Wide Web, <b>Tim Berners-Lee</b> menyatakan kepada media Inggris "Computing" bulan Desember 2007, bahwa pelaku bisnis perlu mengadaptasi evolusi cepat Internet. Internet tidak lagi menjadi sebuah <i>tools</i> melainkan melahirkan fenomena tantangan-tantangan baru bagi bisnis. Bagi penulis, tantangan model baru itu adalah ekonomi yang dibangun atas kekuatan komunitas kepada individu, dan individu kepada komunitas.</p>
<p><b>Berbagi karya dan keuntungan bersama.</b></p>
<p>Pengembangan perangkat lunak <i>open source </i>gratis <i>(free open source software)</i> adalah model buah kerjasama yang erat di antara para pengembang individu maupun korporat pada sektor perangkat lunak dengan model arsitektur terbuka ini. Kalau hasil karya tersebut gratis, dari mana para pengembang software ini mendapatkan hasil ? Kekuatan <i>sharing</i> dan kolaborasi malahan secara tidak langsung menghasilkan dampak ekonomis yang luar biasa. Konsistensi dan kualitas karya komunitas ini mengantar mereka baik secara individu maupun kelompok yang pada gilirannya mendapat kepercayaan besar dari banyak perusahaan riset teknologi informasi komunikasi kelas dunia.</p>
<p>Di lingkup pendidikan, selain soal teknis yang diasah, semangat <i>sharing</i> dan strategi kolaborasi online inilah yang juga perlu ditekuni mulai dari sekolah menengah sampai pendidikan tinggi informatika di Indonesia. Karena Internet bukan hanya milik domain teknologi informasi komunikasi, proses menguasai kolaborasi secara online tentu juga diperlukan bagi bidang lain di luar teknologi informasi komunikasi.</p>
<p><b>Interaksi dan koloborasi virtual.</b></p>
<p>Lingkungan kita di Indonesia memang belum semuanya serba online. Manfaat ekonomis langsung dengan cara online memang belum masuk ke semua bidang kehidupan. Ini realita hari ini yang tidak perlu dipaksakan. Tetapi peluang besar tetap ada jika kita mau memadukan antara realitas online dan offline.</p>
<p>Kisah menarik datang dari <b>Keo Budiharijanto</b>, seorang perupa nasional yang di mata penulis adalah sosok yang sangat rendah hati. Keo, panggilan akrabnya mengaku banyak mendapatkan inspirasi baru setelah ia menelusuri berbagai sumber informasi seni rupa dunia barat dan timur di Internet. Inspirasi baru itu ia tuangkan dalam karya pointilisme yang ia anut. Buah karya hasil inovasi barunya ia pamerkan di berbagai galeri seni dan mendapat apresiasi publik.</p>
<p>Uniknya lagi, walau ia tidak selalu berinteraksi secara langsung dengan sesama pengguna, Keo menuturkan bahwa dengan Internet ia merasa berdialog dengan banyak "nyawa". Lebih ekstrim lagi, ia beranggapan bahwa ada kolaborasi virtual yang ia rasakan dan pikirkan.</p>
<p>Memang, informasi dan pengetahuan di Internet akan menjadi hidup jika kita memang secara intens berada di dalamnya. Tidak cukup hanya dengan membaca dari literatur atau dengar dari orang lain. Inilah yang penulis maksud dibagian awal tulisan ini. Sudahkah anda bergaul akrab dan berkolaborasi dengan "dunia"ini ?</p>
<p><b>LENDY WIDAYANA</b>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.<br />
<i>lendy@indonesiadiscovery.net</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Memasuki Jaman IT as a Service - Peluang Besar Bisnis Data Center Belum Banyak Dilirik]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/10/26/memasuki-jaman-it-as-a-service-peluang-besar-bisnis-data-center-belum-banyak-dilirik/</link>
<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 07:08:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/10/26/memasuki-jaman-it-as-a-service-peluang-besar-bisnis-data-center-belum-banyak-dilirik/</guid>
<description><![CDATA[Sumber arsip : SuaraSurabaya.Net 25 Oktober 2007
Setelah penetrasi Internet makin merebak dan dengan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber arsip : SuaraSurabaya.Net 25 Oktober 2007</p>
<p>Setelah penetrasi Internet makin merebak dan dengan akses yang makin cepat, bisnis penyimpanan konten makin mempunyai ruang gerak. Baik konten lokal maupun konten asing yang diperlukan di Indonesia makin memerlukan tempat penyimpanan <i>(storage)</i>. Keberadaan <i>data center</i> di setiap simpul yang padat pengakses Internet semakin diperlukan demi kecepatan layanan berbagai informasi mulai dari permainan (games), hiburan, berita dan pendidikan.</p>
<p>Menurut Frost &#38; Sullivan seperti dilansir SDA Asia Magazine September lalu, nilai pasar data center di Indonesia tahun 2010 diperkirakan mencapai USD 146,5 juta.</p>
<p>Dalam strategi makro, kita tilik sebentar apa kata Russell Ackoff seorang pakar dalam perubahan organisasi yang mengatakan dalam <i>Journal of Applies Systems Analysis (1989)</i>. Ia berpendapat bahwa pemikiran manusia dapat dikategorikan dengan hirarki ; adanya data, yang kemudian diolah menjadi informasi. Lalu sintesa informasi yang diaplikasikan akhirnya menjadi knowledge (pengetahuan dilengkapi dengan pengalaman). Jadi kita tidak mungkin memperoleh <i>knowledge</i> yang unggul jika data dan informasi belum terpenuhi. Tujuan menjadi <i>knowledge based society</i> tidak akan terjadi jika sturktur data tidak tertata menjadi struktur <i>knowledge</i> bagi bangsa kita.</p>
<p>Data center yang tersedia dalam jumlah banyak di Indonesia akan membuat interkoneksi struktur seluruh data hingga <i>knowledge</i> yang ada secara online makin mudah dan cepat diakses bagi kepentingan domestik. Singkatnya, dalam urusan infrastruktur koneksi Internet sampai ke masalah konten dan penyimpanannya, semuanya dari dan oleh kita sendiri di Indonesia.</p>
<p>Dengan demikian laba ekonomi Internet tidak selalu lari ke kantong bangsa lain seperti yang terjadi sekarang. Lihat saja, sebuah <i>brand</i> operator lokal yang pemiliknya sudah bukan lagi lokal, gencar beriklan di friendster.com yang juga punya orang luar. Untuk mengakses situs itu kita perlu pula membayar <i>bandwidth</i> internasional ke negara lain. Jadi kita di Indonesia hanya menjadi pasar potensial yang "menyetor" ke kantong sang pemilik di luar negeri. Perlahan tapi pasti kondisi ini bisa diubah dengan cara melihat secara jeli bagaimana setiap simpul data dapat mempunyai nilai ekonomis domestik.</p>
<p><b>Menyabet Peluang</b></p>
<p>Beberapa teman pengusaha IT sering mengajak diskusi dan melontarkan pertanyaan tajam soal nilai strategis dan ekonomis sebuah data center. Rangkuman jawaban saya seperti yang saya urai di bawah ini.</p>
<p>Bagi merek multinasional yang melihat pengakses Internet Indonesia sebagai pasar mereka tentu memerlukan data center di Indonesia yang dekat dengan pengaksesnya.  Pada skala regional, tumbuhnya berbagai data center di masing-masing daerah sebenarnya juga menjadikan perputaran uang bisnis digital kategori ini tidak perlu "lari" keluar daerah atau ke luar negeri. Data center dapat menjadi katalisator bagi berbagai bisnis yang berkaitan dengan informasi online diseluruh sektor.</p>
<p>Sebagai sarana <i>hosting</i> untuk menyimpan berbagai konten web pelanggan, layanan jenis ini adalah layanan standar yang umum diberikan data center. Terdapat ribuan <i>reseller</i> jasa web hosting luar negeri yang menjajakan jasanya di Indonesia. Kehadiran data center lokal dengan harga yang juga kompetitif di dalam negeri akan mengurangi <i>capital flight</i> dari Indonesia ke luar.</p>
<p>Semakin banyaknya aplikasi berbasis IP <i>(Internet Protocol)</i> kebutuhan akan data center multimedia untuk melayani aplikasi teks, suara, gambar/foto dan video menjadi semakin meningkat. Sejalan dengan pertumbuhan pengakses di Internet tengok saja www.crhear.com atau wwitv.com yang berisi direktori radio dan televisi di Internet yang terus bertambah. Fakta ini makin memperkuat  bahwa Internet semakin eksis menjadi sebuah media.</p>
<p>Sekarang memang jamannya <i>IT as a Service</i>. IT adalah layanan yang ada secara terintegrasi dengan bisnis. Namum masing-masing berada pada kompetensi utamanya. Ke depan, dengan makin murahnya akses Internet pita lebar <i>(broadband)</i> akan lebih efisien jika  data korporat di letakkan secara alih daya <i>(outsourcing)</i> di sebuah layanan data center. Faktor efisiensi adalah dari pemakaian energi listrik, pendingin, perawatan integritas dan keamanan data. Selain itu perusahaan pelanggan data center juga tidak perlu lagi selalu harus memikirkan investasi server berikut infrasturkturnya.</p>
<p>Seperti yang dilakukan oleh pemain data center kelas dunia seperti SAVVIS yang bekerjasama dengan Entellium pembuat software <i>CRM (Customer Relationship Management)</i>. Selain menjadi fasilitas fisik dan virtual penyimpanan data, sebuah data center akan memperoleh nilai tambah yang tidak sedikit jika bersinergi dengan solusi bisnis aplikasi yang bersifat online seperti <i>ERP (enterprise resource planning)</i> online. Aplikasi solusi bisnis seperti ERP dan CRM ke depan memang akan banyak ditawarkan dengan sistem sewa. Perusahaan tidak lagi perlu investasi perangkat lunak. Karena semua sudah online dengan kecepatan tinggi, cukup sewa pemakaian perangkat lunak dalam terms periode waktu atau volume transaksi.</p>
<p>Dalam perkembangan dunia <i>free and open source software (FOSS)</i> selain dapat menyediakan secara gratis, data center juga mempunyai peluang menjadi implementator perangkat lunak tak berbayar ini. Memang FOSS adalah gratis secara software, namun implementasi dan perawatannya secara sistem tetap memerlukan biaya. Inilah peluang pendapatan dari sektor jasa sebuah data center.</p>
<p>Layanan <i>backup and recovery</i> bagi pengguna data center adalah unit pendapatan lain data center yang selain sebagai fasilitas penyimpanan sekaligus menjaga integritas data pelanggan. Penyimpanan data klien dapat bersifat primer atau sekunder sebagai <i>mirror backup</i>. Pasar di sektor ini adalah perusahaan yang telah menerapkan <i>IT disaster risk management,</i>. Banyak perusahaan skala besar saat ini telah menyadari bahwa manajemen bencana khususnya untuk melindungi data mereka menjadi sebuah prioritas.</p>
<p>Harus diakui bahwa perkembangan penetrasi telepon seluler di Indonesia lebih cepat ketimbang Internet. Fakta ini juga menjadi peluang bagi data center untuk memfasilitasi konten SMS dan konten dalam aplikasi mobile yang terus bergerak naik.</p>
<p><b>Berbisnis Data Center</b></p>
<p>Membangun bisnis data center memang memerlukan modal yang tidak sedikit. Perlu infrastruktur teknologi perangkat keras dan lunak, SDM yang mumpuni, dan beberapa akses Internet pita lebar. Uang banyak dan uang <i>"nganggur" (idle fund)</i> sekalipun tidak cukup. Yang penting adalah visi dan kesanggupan membaca peluang ini selama minimal sepuluh tahun ke depan. Karena memerlukan dana besar, dapat saja dibuat usaha patungan atau model <i>incorporated</i>.</p>
<p>Pemegang saham yang tepat adalah mereka yang mempunyai Internet <i>entrepreneurship</i> dalam bidang jasa yang kuat. Bisa juga mengajak mitra dengan mereka yang sudah terbiasa berbisnis di sektor informasi. Mengapa demikian? Karena bisnis data center adalah bisnis kepercayaan. Sarat dengan faktor jaminan kontinyuitas bisnis sang pelaku.</p>
<p>Apakah bisa menggandeng operator telekomunikasi besar? Bisa ya, bisa tidak. Dengan kian tajamnya persaingan operator telekomunikasi, energi mereka sudah tersedot banyak untuk meraih pelanggan dan memperluas penetrasi. Jadi dengan operator lebih cocok jika melakukan sinergi pasar, agar supaya masing-masing pihak dapat berkonsentrasi dengan bisnis intinya.</p>
<p>Melihat beberapa syarat yang tidak mudah dimasuki oleh setiap pelaku bisnis, maka hanya mereka yang punya <i>sense</i> dan dapat menangkap peluang ini yang dapat berhasil. Secara alami, memasuki sebuah bisnis yang tidak mudah dimasuki orang lain memberi peluang berhasil menjadi lebih besar. Selebihnya ya <i>business as usual</i>, silakan dicermati berapa nilai riil bisnis dari sederet peluang-peluang di atas.</p>
<p><b>LENDY WIDAYANA</b>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.<br />
<i>lendy@indonesiadiscovery.net</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Internet Mempengaruhi Keputusan untuk Membeli]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/09/04/internet-mempengaruhi-keputusan-untuk-membeli/</link>
<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 18:36:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/09/04/internet-mempengaruhi-keputusan-untuk-membeli/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 3 September 2007.
&#8220;Kalau tidak percaya, tanya toko sebelah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 3 September 2007.</p>
<p>"Kalau tidak percaya, tanya toko sebelah" kalimat yang sekarang sering menjadi gurauan itu berasal dari kenyataan sehari-hari yang mengingatkan saya ketika masih sekolah menengah sering mencari komponen elektronika di lingkungan pusat perdagangan elektronik Glodok, Jakarta. Intinya setiap toko berusaha meyakinkan calon pembeli bahwa harga dialah yang paling murah.</p>
<p>Adanya Internet saat ini membuat semua hal semakin transparan. Ada dua sisi yang mempunyai kepentingan. Produsen semakin ingin menjangkau pasar secara langsung. Konsumen semakin mudah mendapat harga terbaik. Perilaku konsumen saat ini adalah mencari dulu harga pasaran sebuah produk, kemudian mencari siapa yang menjual paling murah. Pencarian informasi harga dilakukan melalui browsing di Internet atau masuk ke dalam komunitas yang ramai di mailing list.</p>
<p>Penulis sering menjumpai pula saat ini calon pembeli tidak segan-segan membuka laptop yang tersambung dengan Internet untuk membandingkan harga dihadapan penjual di sebuah toko. "Kok terpaut banyak dengan di situs ini ? tanya si pembeli. Berbagai argumen akhirnya dilontarkan oleh sang penjaja di toko fisik itu. Penjual yang tidak gaul dengan harga di Internet sekarang harus lebih rasional mematok marjin keuntungan. Jika tidak ada value lebih dan argumen yang tepat, toko itu akan semakin ditinggalkan konsumen.</p>
<p>Toko yang menjual melalui Internet di Indonesia belum terlalu terbuka dalam persaingan harga seperti di negara lain. Situs penjualan yang beroperasi secara global saat ini bahkan secara frontal membandingkan harga antar beberapa toko online dengan tokonya sendiri. Membuat konsumen semakin mudah dalam memilih, akhirnya membuat persaingan merebut konsumen semakin sengit.</p>
<p>Informasi perbandingan harga di Internet membuka peluang anyar yaitu munculnya situs-situs yang khusus menawarkan informasi perbandingan harga. Tengok saja contoh situs gaek sejak 1998 untuk membandingkan harga buku seperti www.addall.com. Ada juga untuk berbagai komoditi seperti www.pricegrabber.com dan www.comparestoreprices.co.uk yang memberi informasi ribuan produk lengkap dengan perbandingan harga di berbagai tempat. Asiknya lagi informasi yang tersaji sudah terurut dari harga yang paling murah hingga termahal.</p>
<p>Bola salju informasi akhirnya bergulir makin cepat dan padat. Situs informasi perbandingan harga akhirnya juga harus bersaing satu sama lain dalam hal akurasi dan kemutakhiran. Peluang ini ditangkap lagi oleh pembuat software BestPrice di www.bestbuyall.com yang membuat software khusus untuk membandingkan harga berbagai produk di Internet. Akhirnya, sebagai konsumen kita juga harus makin cerdas untuk mencari rujukan. Jika masih sulit untuk <em>ask the audience</em>, ya <em>phone a friend</em>.</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA</strong>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.<br />
<em>lendy@indonesiadiscovery.net</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Serba Online Dongkrak Pendapatan]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/07/25/2007-serba-online-dongkrak-pendapatan/</link>
<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 06:11:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/07/25/2007-serba-online-dongkrak-pendapatan/</guid>
<description><![CDATA[Memetakan Ulang Bisnis di Era Internet (3)
Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 24 Juli 2007
Secara nat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Memetakan Ulang Bisnis di Era Internet (3)<br />
Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 24 Juli 2007</p>
<p><i>Secara natural tidak ada usaha yang langsung menjadi besar. Banyak nama besar usaha yang saat ini ada juga diawali dari usaha kecil dan menengah (UKM). Namun menjadi menarik ketika saat ini banyak usaha yang memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan Internet secara maksimal terbukti mempunyai peluang untuk meningkatkan pertumbuhan bisnisnya dalam waktu yang lebih singkat. </i></p>
<p>Michael Dell memulai usaha kecilnya secara paruh waktu tahun 1983. Tahun 1985 komputer Dell memulai penjualan dengan cara <i>mail order</i> yang meraih nilai penjualan sebesar 6 juta dollar AS. Tahun 1996 Dell melakukan penjualan dan integrasi dengan pemasok termasuk seluruh mitranya melalui Internet. Akhirnya tahun 2005 Dell berhasil memasukkan 49,2 milyar dollar ke dalam pundi-pundi nya.</p>
<p>Di tahun 1984 Len Bosack &#38; Sandy Lerner dua saintis dari Universitas Stanford, AS mengawali usaha Cisco System. Cisco sebagai produsen perangkat lunak dan keras jaringan komputer memanfaatkan Internet tahun 1994 saat angka penjualannya telah mencapai 1.13 milyar dollar. Tahun 2005 Internet membuat Cisco makin meroket dengan nilai penjualan sebesar 23,6 milyar dollar. </p>
<p>Lain lagi kisah sukses yang dimulai di negara bagian Madya Pradesh, India. Berkat sistem online lewat Internet yang disebut <i>"e-chaupal"</i> atas prakarsa Indian Tobacco Co (ITC) tahun 2001, petani di daerah itu dapat langsung memasok kebutuhan ITC tanpa perantara. Berkat sistem ini pada tahun 2005 pendapatan petani naik hingga 25 %. Hilangnya banyak calo dan perantara ini yang membuat petani dan ITC sama-sama diuntungkan. </p>
<p><B>Merajut informasi dari pemasok hingga pelanggan.</b></p>
<p>Ada tipikal banyak pengusaha yang mengetahui bahwa teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya. Pernyataan itu lantas diikuti dengan pertanyaan dari dirinya sendiri "lalu bagaimana ?" Jawaban lugas pertanyaan itu adalah bahwa pemanfaatan teknologi informasi komunikasi memerlukan keahlian berpikir dan berkreasi yang tingkatannya sama dengan kecerdikan sang pemimpin memanfaatkan modal uangnya. Ya, memang jaman menuntut seperti itu. Apalagi sebagai medium komunikasi informasi saat ini Internet menjadi kekuatan maha dahsyat untuk mengintegrasikan bisnis. </p>
<p>Dalam setiap bisnis selalu ada mata rantai pemenuhan bahan baku dari pemasok, lalu proses produksi dan nilai tambah, hingga penyerahan produk/jasa kepada pelanggan. Dengan Internet semuanya menjadi semakin menyatu dalam genggaman informasi. Penyatuan ini membuat tatanan bisnis di lingkup internal maupun eksternal menjadi berubah. Dengan asumsi kita menjadi titik sentral sebagai produsen, kita lihat apa, bagaimana dan mengapa semua entitas ini menjadi berubah.</p>
<p>Internet saat ini telah banyak diaplikasikan untuk memilih pemasok secara online. Kebutuhan produsen cukup dipublikasikan di web perusahaan, selanjutnya setiap pemasok dapat memasukkan penawaran secara elektronik. Proses tender online ini juga telah sampai pada cara untuk meminimalkan unsur kolusi dalam memenangkan "sang juara" tender. Bahkan dalam jumlah pembelian rutin yang signifikan nilainya, tender dapat dilakukan setiap saat. Bagi pemasok kondisi ini tentunya memerlukan pemantauan terhadap peta kompetisi yang dapat berubah dalam waktu yang sangat cepat.</p>
<p>Selanjutnya dalam operasional secara mudah lewat web di Internet pemasok dapat melihat secara <i>real time</i> database persediaan mitra produsen atau penjual barang yang dipasoknya. Sebelum terjadi kekurangan stok, pemasok dapat segera memenuhi kebutuhan mitranya. Sang produsen atau penjual pun tidak perlu kuatir akan kekurangan stok. Bahkan kerepotan melakukan order pembelian rutin menjadi sangat minim. Dari segi ini saja kita dapat melihat efisiensi dan efektivitas waktu, biaya stok, gudang, transportasi serta personil. </p>
<p>Di sisi produsen, integrasi sistem informasi internal dilakukan melalui jaringan komputer yang disebut Intranet. Antar muka <i>(interface)</i> Intranet di komputer juga berbasis web seperti halnya mengakses Internet. Seluruh informasi produk mulai stok yang tersedia, spesifikasi dan harga secara otomatis juga siap disajikan melalui Internet bagi pelanggan akhir maupun mitra distributor. Transaksi pembelian dan pembayaran juga dapat langsung dilakukan si konsumen akhir. Jika konsumen akhir dapat langsung menjangkau produsen, gara-gara Internet tidak sedikit bisnis yang kini menghilangkan peranan distributor. </p>
<p>Masih di sisi produsen, untuk keperluan pengiriman barang produsen dapat bekerjasama dengan pihak lain. Jaringan informasi internal dapat langsung dihubungkan dengan sistem informasi pihak ekspedisi. Dengan demikian, ketika order diterima dari pelanggan, produsen secara langsung mengetahui bahwa stok penjualan telah berkurang. Dan pada saat yang sama pihak ekspedisi menerima perintah mengambil barang produsen dan mengirimkan barang kepada pelanggan. </p>
<p>Untuk penerimaan dan pengeluaran uang, pihak produsen juga dapat langsung mempunyai sistem yang terkoneksi dengan bank secara elektronik. Jaringan online yang dibangun dapat melalui jaringan tertutup <i>(closed circuit)</i> atau melalui <i>Virtual Private Network (VPN)</i> di Internet.  </p>
<p>Jika semua informasi telah terintegrasi nampak bahwa Internet memang mendorong terciptanya kompetensi inti <i>(core competence)</i> kita berbisnis. Misalnya, jika memang keunggulan utama bisnis kita adalah sistem pengolahan produk, hal lain di luar kompetensi inti tinggal dicari mitra yang pas dan dapat mudah terintegrasi secara online. Cepat atau lambat, menghadapi kenyataan ini memang akhirnya proses bisnis perlu ditata ulang untuk disesuaikan dengan keunggulan teknologi informasi komunikasi.</p>
<p><b>Jawaban teknologi.</b></p>
<p>Seluruh mekanisme online pada uraian di atas dalam teknologi sering juga disebut <i>e-commerce, Supply Chain Management, B2B (business to business), B2C (Business to Consumer)</i> dan <i>ERP (Enterprise Resource Planning)</i>. Secara teknologi untuk mengakses informasi juga tidak lagi harus menggunakan komputer desktop atau laptop. Perkembangan pesat teknologi komputer dan telepon genggam hari ini memungkinkan semua pengendalian informasi ada dalam genggaman kita kapan dan di manapun. Itulah m-commerce <i>(mobile commerce)</i> </p>
<p>Untuk keperluan integrasi data dan informasi internal maupun antar perusahaan ada bingkai standar seperti SOAP <i>(Simple Object Access Protocols)</i>, RMI <i>(Remote Method Invocation)</i>, <i>webservices, middleware</i> dan sejenisnya. Seluruh teknologi dan metode itu saat ini telah ada di pasaran. Penguasaannya juga memerlukan kecepatan untuk mengadopsi jika perusahaan ingin berada pada posisi terdepan secara komparatif maupun kompetitif. </p>
<p><B>LENDY WIDAYANA</b>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Konten Video Mendominasi Internet Masa Depan]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/07/07/2007-konten-video-mendominasi-internet-masa-depan/</link>
<pubDate>Sat, 07 Jul 2007 06:02:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/07/07/2007-konten-video-mendominasi-internet-masa-depan/</guid>
<description><![CDATA[Memetakan Ulang Bisnis di Era Internet (2)
Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 5 Juli 2007
Konten Inte]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Memetakan Ulang Bisnis di Era Internet (2)<br />
Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 5 Juli 2007</p>
<p><em>Konten Internet diawali dengan informasi berbasis teks. Lalu informasi berbasis teks tidak lengkap jika tanpa gambar. Teks dan gambar akhirnya dilengkapi dengan suara. Ketiganya kini kurang lengkap tanpa gambar bergerak atau video. </em></p>
<p><em>Video pun kini tidak cukup jika hanya arsip rekaman dalam pola on demand. Video online real time dalam pola <em>streaming</em> saat ini juga makin menjadi tuntutan publik di Internet. Jaringan Internet pita lebar <em>(broadband)</em>, produk <em>chip</em> elektronik dan media penyimpan <em>(storage)</em> yang makin murah adalah faktor yang memperkaya berbagai jenis aplikasi di Internet. </em></p>
<p>Semakin massal dan personalnya alat-alat digital IP (Internet Protocol) juga berdampak pada pertumbuhan industri konten. Daya atraktif secara multimedia akhirnya juga dijadikan jurus untuk menarik perhatian publik agar singgah dan betah di sebuah situs. Dengan makin menyebarnya jaringan pita lebar sampai ke rumah-rumah dan peralatan komunikasi genggam bergerak, masa depan aplikasi Internet memang didominasi oleh video. Pemicunya adalah karena berbagai alat perekam video genggam yang ringkas membuat semua orang dapat membuat konten video. Kehadiran berbagai situs video blog dan video <em>podcast</em> sebagai lanjutan dari weblog (blog) memperkuat arena video di Internet ini.</p>
<p>Di sisi peralatan makin derasnya konten video Internet melahirkan banyak inovasi dengan lahirnya berbagai perangkat yang makin memanjakan pengguna lewat satu alat dengan banyak fungsi. Slingbox keluaran Slingmedia.com menyatukan penerima televisi dan satelit, DVR dan komunikasi Internet pita lebar yang dikendalikan oleh perangkat lunak dari komputer pribadi.</p>
<p>Dunia video di Internet saat ini diramaikan pula dengan bisnis konten agregator yang mengundang publik secara gratis untuk dapat menyimpan dan berbagi file videonya. Dari sisi konten, video Internet publik ini juga dimanfaatkan oleh kandidat presiden tahun 2008 dari partai Demokrat John Edwards di Amerika untuk "menjual" visinya sejak Desember 2006.</p>
<p>Tren kuat aplikasi video yang makin deras ini disikapi oleh raksasa mesin pencari Google dengan membeli YouTube senilai 1,65 miliar dollar. Waktunya hanya setahun setelah Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim mendirikan usaha ini tahun 2005. Jumlah massa yang besar dan "tersedot" YouTube membawa YouTube menjadi lima besar situs terkemuka dunia versi Alexa tahun 2005. Bagi Google, fasilitas dalam YouTube semakin memperkokoh posisinya sebagai agregator berbagai macam konten. Artinya, jumlah massa pengguna yang berhulu dan bermuara di Google dari berbagai macam aplikasi akan semakin meraksasa jumlahnya.</p>
<p>Jika Google dengan YouTube nya, lain pula yang dilakukan Brightcove.com. Jeremy Allaire, sang komandan BrightCove meyakini bahwa ke depan publik akan langsung berhubungan dengan pemilik konten. Pemilik konten pun akan dengan lebih mudah melakukan distribusi langsung kepada publik.</p>
<p>Diawali hanya dari konsep menampung personal video blog, dengan motto "Launch Your Channel Today" Brightcove berkembang menjadi fasilitator publik untuk menyelenggarakan siaran TV di Internet. Dengan pola bagi hasil Brightcove juga menjual dan menempatkan iklan anda di Internet. Secara bisnis, sederet nama besar seperti Fox Entertainment Group, National Geographic Channel, British Sky Broadcasting dan lainnnya menjadi mitra bisnis Brightcove yang saat ini menjadi besar dalam penyelenggaraan Internet TV. Bagi industri video jelas bahwa kehadiran Internet TV akan membuat peta bisnis distribusi video menjadi berubah.</p>
<p>Seperti halnya BrightCove, gemuruh distribusi konten video juga disergap oleh Dave.TV sejak tahun 2003. Tidak hanya memfasilitasi konten video publik, tapi layanan Dave.TV sampai juga ke strategi periklanan online yang ada pada setiap konten yang diakses. Dave menyisipkan iklan yang telah disesuaikan dengan profil, demografi dan geografi pengakses. Kepada para pengiklan, Dave juga langsung memberi data secara akurat siapa dan bagaimana perilaku pengakses melihat iklannya. Jelas pula bahwa online video akhirnya mengubah tatanan industri periklanan.</p>
<p><strong>Video untuk mobile Internet.</strong></p>
<p>Layanan video dari rumah yang bersifat tetap juga merambah ke arah aplikasi <em>mobile</em>. Seperti dilakukan Makayama.com, perusahaan yang bermarkas di negeri Belanda yang mendukung ratusan merek telepon genggam. Aplikasi Makayama.com mempermudah berbagai format video untuk dapat digunakan dan ditransfer melalui perangkat telepon genggam. Aplikasi semacam ini mengakselerasi penggunaan mobile video untuk dilewatkan melalui perangkat Internet bergerak.</p>
<p>Di Indonesia, tidak heran jika hadirnya berbagai teknologi baru seperti 3G dan sejenisnya terasa lamban diserap pasar. Padahal konsumen Indonesia dapat dikatakan paling <em>trendy</em> di kawasan ini. Timbul kesan operator tidak siap dengan mitra konten lokal dengan output yang mudah dicerna oleh masyarakat kita. Fakta bahwa konten lokal dan jumlah <em>developer</em> yang masih terbatas harus diakui. Namun daya jual dan persuasi kepada pelanggan akan semakin kuat apabila sang penjaja di garis depan dibekali dengan berbagai pengetahuan aplikasi multimedia yang tersebar di Internet dan tentunya akan memperkaya inspirasi bagi pengguna.</p>
<p><strong>Menghadapi revolusi Internet.</strong></p>
<p>Berbagai revolusi Internet yang merubah tatanan ekonomi dunia tidak cukup hanya diikuti beritanya. Namun setidaknya menggeser pola pikir dan langkah ke depan untuk masuk ke era ekonomi baru. Yang menurut David Ticoll (2000) bahwa perusahaan yang sudah berumur panjang pun dapat menjadi bagian dari ekonomi baru - jika perusahaan itu mengadopsi model bisnis yang baru. Model saat kekuatan konten menjadi magnet bagi massa. Model ketika kekuatan informasi sangat mempengaruhi keputusan publik untuk membeli. Model bisnis yang sangat memerlukan aliansi dan afiliasi untuk memperkuat ikatan jejaring. Model bisnis yang terus antisipatif terhadap pesaing yang menggurita dengan informasi dan siap melahap keberadaan bisnis kita.</p>
<p>Secara makro, berbagai ulasan di atas memang banyak yang berada di luar Indonesia. Namun perlu diingat bahwa akses informasi global di Internet tidak lagi mengenal batas geografis dan kedaulatan suatu negara. Walaupun Internet di Indonesia sudah lebih dari sepuluh tahun namun berbagai bentuk bisnis <em>new economy</em> seakan tidak mampir di Indonesia. Dampak Internet bagi bisnis saat sekarang hanyalah sebuah awal dari revolusi Internet yang terus melanda dunia. Tanpa didorongnya bisnis berbasis Internet di Indonesia, keadaan ini akan terus berlanjut dan devisa kita akan terus tersedot ke luar ketika mulai <em>searching, hosting service</em>, pembayaran transaksi online, sewa <em>bandwidth</em>, sampai e-mail gratis-pun masih dikuasai oleh negeri lain.</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA</strong>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Memetakan Ulang Bisnis di Era Internet (1)]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/06/21/2007-memetakan-ulang-bisnis-di-era-internet-1/</link>
<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 05:58:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/06/21/2007-memetakan-ulang-bisnis-di-era-internet-1/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 21 Juni 2007
Konverjensi teknologi digital.
Internet Protocol.
Cep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 21 Juni 2007</p>
<p><em>Konverjensi teknologi digital.<br />
Internet Protocol.<br />
Cepat menguasai teknologi.<br />
Melihat dan menciptakan peluang aplikasi.<br />
Membuat massal dengan mengejar kuantiti besar.</em></p>
<p><em>Itulah ciri-ciri bisnis di jaman Internet ini. Beberapa tulisan selanjutnya menuturkan bagaimana seluk beluknya. </em></p>
<p>Sejak komputer pribadi <em>(PC/personal computer)</em> diciptakan tahun '80 an, perkembangan konverjensi (penyatuan) alat tersebut dengan alat lain yang tadinya berdiri sendiri kini semakin merebak. Di Tahun 1989, Creative Technology yang dipimpin oleh Sim Wong Hoo pencipta Sound Blaster memulai debut konverjensi PC dengan perangkat audio, video dan multimedia. Komputer tidak lagi hanya sebagai alat pengolah data teks dan gambar, tetapi telah menjadi simpul berbagai fungsi alat telekomunikasi, pemutar film-video, suara, televisi, radio, dan berbagai alat pengendali/kontrol.</p>
<p>Singkatnya, berbagai peralatan elektronik kini telah menjadi sebuah alat multi fungsi dengan berbagai varian bentuk dan jenisnya. Berbagai fungsi dalam satu alat tadi makin hari makin meningkat kemampuannya. Sebuah <em>handphone</em> yang dilengkapi dengan kamera misalnya, bisa jadi kita menyebutnya kamera yang ada teleponnya, bukan telepon yang ada kameranya.</p>
<p>Didahului oleh konverjensi pada peralatan fisik, kehadiran dan merebaknya Internet dengan protokol standar TCP/IP (disingkat IP - Internet Protocol) membuat saat ini makin banyak peralatan yang dapat dikendalikan, dilewatkan dan disatukan dengan basis protokol IP. Dari peralatan elektronik kantor, alat komunikasi, hingga masuk dapur pun kini tersedia dengan standar <em>IP based technology</em>.</p>
<p>Di samping peralatan, teknologi berbasis IP ini membuat banyak aplikasi akhirnya berbondong-bondong masuk ke ranah Internet. Simak saja bisnis penyiaran radio, televisi, satelit, hiburan, dan deretan panjang bisnis yang mengandalkan informasi seluruhnya saat ini ada di Internet. Mengapa ? Karena masa depan ada di Internet. Di "alam" yang saling terkoneksi dan mempunyai tata nilai serta "peradaban" baru.</p>
<p>Itulah realita semua konverjensi yang dipacu oleh semakin banyaknya peralatan berbasis teknologi digital dan Internet Protocol. Semuanya makin menyatu baik secara fisik maupun lojik. Menjadi produk massal dan murah.</p>
<p><strong>Dampak bisnis.</strong></p>
<p>Konverjensi peralatan digital dan IP saat ini telah merevolusi peta bisnis dunia yang pada dasarnya karena makin terbukanya peluang usaha baru yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh pemodal kuat. Perhatikan saja di bidang telekomunikasi, juga di Indonesia terlepas dari legal atau illegal, dengan modal hanya beberapa juta rupiah untuk komputer dan saluran Internet, seseorang dapat menjadi "operator" telepon berbasis IP <em>(VOIP-Voice Over Internet Protocol)</em>.</p>
<p>Dalam skala lebih luas kehadiran Skype, sebuah sistem telepon antar komputer berbasis IP yang didirikan oleh Niklas Zennström dan Janus Friis tahun 2003 telah mengguncang berbagai perusahaan telekomunikasi dunia. Dan menurut Technology News Daily, dalam kurun waktu setahun Skype telah mengantongi pendapatan 7 juta dollar AS. Selang setahun kemudian menurut kantor berita BBC, E-bay sebuah raksasa lelang online dunia telah mengambil alih Skype senilai 2.6 milyar dollar AS. Angka-angka fantastis yang dihasilkan kurang dari lima tahun !  Lebih pendek dari satu periode pemerintahan kabinet di Indonesia.</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA</strong>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] IT Leadership Diperlukan Semua Pemimpin Jaman Sekarang]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/06/05/2007-it-leadership-diperlukan-semua-pemimpin-jaman-sekarang/</link>
<pubDate>Tue, 05 Jun 2007 17:13:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/06/05/2007-it-leadership-diperlukan-semua-pemimpin-jaman-sekarang/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 10 Mei 2007
A vision without action is only a dream. 
Begitulah ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 10 Mei 2007</p>
<p><span class="isi1"><em>A vision without action is only a dream. </em><br />
Begitulah kata pepatah. Banyak sekali pemimpin mulai dari pemerintahan sampai ke tingkat perusahaan yang menyatakan bahwa di era ini teknologi informasi komunikasi sangat penting dan strategis. Namun pernyataan itu akhirnya hanya menjadi bunga-bunga retorika belaka. Hanya sebatas visi dan tidak mengetahui apa dan bagaimana mewujudkannya. </span></p>
<p><span class="isi1">Dalam berbagai seminar dan training saya sering menyinggung mengenai apa yang disebut sebagai IT Leadership (kepemimpinan dalam IT). Pernyataan itu sering pula mengundang pertanyaan banyak orang, apa dan bagaimana kepemimpinan yang efektif dengan IT. Tidak berbeda dengan praktek leadership yang lazim, yaitu bagaimana membawa visi dan misi bersama orang-orang yang tepat untuk mencapai tujuan. Pertanyaan lain adalah siapa yang memerlukan IT leadership ? Jawabannya adalah semua pimpinan organisasi jaman sekarang. Ini adalah tuntutan jaman yang tidak dapat ditawar.  </span></p>
<p><span class="isi1">IT leadership adalah "perangkat" pemimpin yang ingin mencapai tujuan dari visi dengan "sumber energi" dua macam kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang tepat dalam mengerti teknologi informasi. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang muda yang enerjik dan hadir dengan paradigma baru. Paradigma jaman sekarang yang sebal dengan ketidakpratisan, yang tahu bagaimana men-develop teknologi. Kelompok lain yaitu mereka yang penuh dengan akal dan antusiasme bagaimana "memperkuda" habis-habis an teknologi informasi untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Kedua kelompok itulah "sumber energi" pemimpin jaman sekarang.  </span></p>
<p><span class="isi1">Seorang pemimpin yang baik adalah melihat dengan <em>helicopter view</em>, dari semua sumber daya. Artinya, yang gagap teknologi (gaptek) bukan dipinggirkan, tetapi diberdayakan oleh "sumber energi" tadi agar mereka juga dapat ikut dalam gerbong yang ditarik oleh lokomotif sang pemimpin. Pemberdayaan yang paling mendasar adalah membangun kepercayaan bahwa teknologi informasi komunikasi dapat menjadi kekuatan perusahaan tidak saja untuk bertahan, tetapi untuk membuat berbagai lompatan. Karena tanpa kepercayaan seperti itu, tidak akan timbul antusiasme untuk belajar dari mereka yang belum mengenal teknologi informasi.  </span></p>
<p><span class="isi1">Era sekarang memerlukan atmosfir <em>learning organization</em> (organisasi pembelajar) di semua perusahaaan atau organisasi. Inipun memerlukan contoh dan bukti dari sang pemimpin. Bahwa dengan belajar terus menerus ada hasil dan kemajuan. Tiap saat selalu ada teknologi baru yang lebih baik, lebih murah dan lebih cepat. Inilah yang perlu terus dipelajari. Pemberdayaan manusia dalam IT adalah model partisipatif. Karena pengguna dalam IT adalah pelaku utama. Oleh dan untuk mereka itulah teknologi digunakan.  </span></p>
<p><span class="isi1">Pada prakteknya, agar kekinian teknologi dapat terus diikuti dan semua orang dapat mengetahui dan terlibat di dalamnya, organisasi memerlukan <em>knowledge-sharing</em> tentang teknologi informasi komunikasi secara periodik yang melibatkan semua unsur organisasi. Ada konsekuensi bahwa kita semua harus menyediakan waktu untuk itu. IT leadership harus membawa organisasi ke tingkat pemahaman teknologi informasi yang makin baik dan membuat organisasi menjadi lebih kreatif, inovatif dan menghasilkan tentunya. </span></p>
<p><span class="isi1"><strong>IT Leadership di pemerintahan</strong><br />
</span></p>
<p><span class="isi1">Dari berbagai dewan, tim dan lembaga yang pernah dibentuk pemerintah untuk mengakselerasi penggunaan teknologi informasi komunikasi, sebenarnya lebih efektif jika semua kebijakan itu selalu melibatkan komunitas. Terdapat ratusan komunitas teknologi informasi komunikasi di negara ini yang berinteraksi di Internet.</p>
<p>Komunitas adalah pelaku sekaligus <em>agent of change</em> dari perubahan. Kemampuan interaksi dan dialektika pemerintah dengan komunitas secara langsung adalah wujud bahwa pemerintah juga peduli kepada rakyatnya di sektor yang sangat strategis ini. Internet adalah jejaring dengan kekuatan yang mengakar sampai ke masyarakat bawah sekalipun. Ada budaya komunitas partisipatif yang sangat kuat di situ. Namun sudah lebih dari sepuluh tahun Internet ada di Indonesia, kemampuan pemerintah mengadopsi kekuatan Internet masih sangat lamban. Hal ini bisa jadi karena pemerintah sendiri belum memiliki visi yang jelas dan konsisten untuk memberdayakan ekonomi masyarakat melalui teknologi informasi komunikasi.</p>
<p>Terbatasnya anggaran pemerintah di sektor teknologi informasi komunikasi bukanlah alasan yang tepat. Tetapi kemampuan pemerintah pusat sampai ke daerah menggalang partisipasi masyarakat di sektor ini yang tidak dikembangkan. IT leadership memang diperlukan semua pemimpin yang mau dan mampu bertindak dengan konkrit.</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA</strong><br />
<strong>Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary</strong> </span><span class="isi1">  </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Tantangan dan Peluang Bekerja Secara Online]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/05/23/2007-tantangan-dan-peluang-bekerja-secara-online/</link>
<pubDate>Wed, 23 May 2007 20:04:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/05/23/2007-tantangan-dan-peluang-bekerja-secara-online/</guid>
<description><![CDATA[ Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 11 April 2007
Peluang bekerja secara online kini semakin terbuka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 11 April 2007</p>
<p><span class="isi1"><em>Peluang bekerja secara online kini semakin terbuka. Internet dengan kemampuan serba terkoneksi memungkinkan orang dapat bekerja kapan-dimana-dari mana dan kepada siapa saja secara simultan. Hal yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Sulit menjadi mudah. Awalnya bekerja sendiri menjadi bekerja secara kolaboratif. Hal yang tidak terpikirkan sebelumnya kini menjadi peluang baru. Satu disiplin ilmu menjadi multi disiplin.</p>
<p>Namun bekerja secara online atau secara virtual dan memasuki ranah organisasi virtual memerlukan komitmen dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Budaya ini yang masih menjadi tantangan terdepan untuk membuat lompatan memanfaatkan Internet sebagai media dan bisnis. </em></p>
<p><strong>Bekerja secara online</strong></p>
<p>Sebelum ada Internet, tahun '90an sebuah perusahaan raksasa komputer melakukan reparasi jarak jauh dari Filipina terhadap sebuah sistem komputer di Bandung. Komunikasi dilakukan melalui <em>private dedicated connection</em> yang sangat mahal. Namun masih lebih murah dibanding mengirim <em>engineer</em> dari Manila ke Bandung. Karena masih mahalnya biaya komunikasi, pekerjaan secara remote itu hanya sanggup dilakukan oleh perusahaan besar. Ketika Internet ada dan menjadi medium komunikasi massalsemuanya menjadi murah. Perusahaan kecil sampai besarpun menengah dapat memanfaatkannya.</p>
<p>Sebuah biro iklan multinasional mendapatkan prospek klien sebuah produk otomotif. Untuk membuat konsep kreatif, biro iklan itu mengontak semua kantornya di seluruh dunia untuk mengirimkan portfolio iklan ketika menggarap klien otomotif lainnya. Dalam waktu 24 jam ratusan dokumen elektronik telah diterima oleh kantor itu di Indonesia.</p>
<p>Seorang konsultan manajemen tengah menangani kasus yang cukup kompleks di kliennya. Dengan segera ia mengontak para <em>associate partners </em>di belahan bumi lain untuk melakukan <em>brainstorming </em>melalui e-mail, online forum dan chatting. Rembugan itu seluruhnya dilakukan secara online. Jika diperlukan mereka dapat melakukan video conference secara <em>real time</em>. Inilah kerja kolaboratif secara online. Ibarat sebuah tim dokter spesialis yang menangani seorang pasien. Contoh-contoh yang terjadi di Indonesia ini adalah gambaran bahwa babak baru bekerja secara online telah merambah berbagai bidang pekerjaan.</p>
<p><strong>Variasi bidang</strong>.</p>
<p>Bidang pekerjaan yang dapat dilakukan secara online memang bervariasi. Mulai dari yang <em>highly skilled and knowledge worker </em>hingga nantinya akan sampai ke semua tingkat keahlian. Cara kerja pun ada yang 100 persen pekerjaan dilakukan secara online, seperti webmaster yang menangani banyak situs web di Internet, seluruh pekerjaannya dapat dilakukan secara online.</p>
<p>Saat ini banyak perusahaan telah mulai mengurangi biaya untuk ruang kantor, listrik, peralatan dan tenaga tetap apabila perusahaan dapat menemukan mitra kerja yang handal secara online. Ambil contoh, untuk menyusun buku manual produk dan pekerjaan klerikal yang tetap dan berulang-ulang, pekerjaan itu dapat dialihdayakan <em>(outsource)</em> kepada pihak luar secara online. Di negara lain, ibu-ibu rumah tangga banyak yang telah menerima order sebagai tukang ketik <em>(typist)</em> dan penerjemah naskah secara online.</p>
<p>Kegiatan kerja yang sarat dengan penggunaan komputer dan online interaktif tentunya mudah sekali untuk berkembang ke modus kerja penuh secara online. Di bidang non komputer, kawan saya tinggal di Jakarta adalah seorang analis dan pedagang saham, bekerja sendiri cukup dari rumah dengan enam unit komputer setiap jam 11 malam WIB hingga pagi hari. Karena ia adalah <em>online trader</em> untuk pasar saham di Amerika. Pekerjaan itu ia kembangkan dengan menjadi <em>advisor</em> profesional bagi pemain saham lokal. Semua dilakukan secara online. Jadi belajar, meraih ilmu dan pengalaman, dan menjual <em>knowledge</em> nya semua dari dan dengan Internet.</p>
<p>Jika memandang Internet sebagai medium komunikasi, akan banyak lagi bidang yang dapat dikerjakan secara online. Mulai negosiasi <em>(dealing)</em>, proses pengerjaan hingga penyerahan hasil nya melalui Internet. Dalam bidang seni-pun mulai maraknya galeri seni online menjadi kesempatan emas bagi seniman rupa lokal untuk masuk wilayah internasional. Sebenarnya tanpa biaya mahalpun, kepedulian pemerintah terhadap para pekerja seni dapat diwujudkan dengan membuka galeri online yang memfasilitasi karya-karya seniman Indonesia.</p>
<p>Beda dengan negara lain, masyarakat kita dari yang tradisional sampai ke modern, masih hidup di era pertanian, industri dan mulai ke masyarakat informasi. Semua bidang itu tidak saja memerlukan keterampilan penggunaan Internet secara maksimal. Di era informasi dan pengetahuan saat ini keterampilan memproduksi, mengolah dan mendistribusikan informasi sangat diperlukan semua bidang.</p>
<p>Ada korelasi bahwa jika lebar pita <em>(bandwidth)</em> Internet semakin lebar dan kecepatan akses semakin tinggi, akan semakin banyak bidang yang dapat dikerjakan secara online. Revolusi broadband Internet akan merubah semua lansekap dunia bisnis. Saat ini kita masih memerlukan jasa pengiriman paket untuk mengirim file dalam 1 buah CD/DVD. Namun jika dengan broadband Internet dalam orde megabit per detik, dokumen multimedia dapat kita kirimkan dalam volume yang lebih besar, waktu yang lebih singkat dan biaya yang lebih murah. Peluang untuk bekerja secara online pun semakin terbuka lebar.</p>
<p><strong>Kepercayaan sebagai modal.</strong></p>
<p>Sebelum bekerjasama dengan orang lain secara online, kesiapan mental dan sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri adalah modal utama. Bekerja secara online memberi keleluasaan dalam mengatur waktu dan proses bekerja. Tanpa disiplin diri sendiri, keleluasaan waktu itu dapat menjadi bumerang hilangnya kepercayaan pihak lain terhadap kita sendiri.</p>
<p>Dunia online adalah jaringan kepercayaan <em>(network of trust)</em>. Hanya individu dan perusahaan yang punya integritas tinggi yang dapat <em>survive</em> dalam persaingan online. Kasus hilangnya kepercayaan ini menimpa sebuah perusahaan software di Indonesia yang terpaksa menghentikan penerimaan order dari luar negeri karena kualitas etos kerja SDM yang tidak dapat memenuhi komitmen bekerja secara online. Lagi-lagi masalah TI di Indonesia bukanlah masalah penguasaan teknis, tapi sikap mental memperlakukan kemudahan teknologi itu sendiri.</p>
<p>Bagi individu maupun secara organisasi, memasuki wilayah kerja secara online seringkali memerlukan referensi dari pihak lain. Memperluas jaringan kerjasama adalah juga memperluas dan membangun kepercayaan. Apabila pekerjaan yang akan diberikan atau diterima cukup strategis, beberapa kali pertemuan tatap muka secara langsung masih diperlukan.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan Internet sebagai medium komunikasi informasi, ada kebiasaan, budaya dan perjanjian tersendiri yang patut terus dicermati. Jangan sampai kita hanya menjadi penikmat teknologi yang konsumtif tanpa produktivitas.</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA. Managing Partner IDD Research and Documentary</strong> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi Secara Efektif (3)]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/04/25/2007-menerapkan-teknologi-informasi-komunikasi-secara-efektif-3/</link>
<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 08:12:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/04/25/2007-menerapkan-teknologi-informasi-komunikasi-secara-efektif-3/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 11 April 2007
Web korporat.
Bukan Sekadar Brosur Elektronik 
Memba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 11 April 2007</p>
<p><strong>Web korporat.<br />
Bukan Sekadar Brosur Elektronik </strong></p>
<p>Membahas situs web memang tidak akan ada habisnya. Berbagai perkembangan teknologi web dari informasi statis, dinamis hingga kini menjadi interaktif memang makin memberi banyak manfaat bagi perusahaan yang tampil di Internet. Sayangnya, berbagai kemampuan web belum dimanfaatkan secara maksimal oleh banyak perusahaan sekalipun perusahaan itu telah memiliki situs web sendiri.</p>
<p>Sebuah perusahaan konglomerat di Indonesia dalam sebuah situs web pernah memuat sebuah pengumuman kegiatan dengan keterangan yang sangat minim dan membingungkan. Di bawah pengumuman itu disebutkan bahwa <em>"untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi nomor telpon dan fax dan seterusnya". </em>  Kenapa orang harus telepon dan fax lagi untuk bertanya ? Bukankah informasi umum dapat langsung disampaikan melalui situs web ? Itulah sepenggal pergunjingan sesama pengakses situs tersebut dalam sebuah forum diskusi online.</p>
<p>Masih banyak terjadi pula bahwa dalam publikasi cetak atau online sekalipun telah tercantum alamat situs web sebuah perusahaan. Tetapi saat diakses, situs tersebut masih dalam keadaan <em>"under construction" </em>atau bahkan tidak ada sedikitpun informasi.</p>
<p><strong>One Stop Information Center</strong></p>
<p>Situs Web di Internet bukanlah sekadar brosur elektronik, tetapi perlu diposisikan sebagai <em>One Stop Information Center </em>bagi pelanggan, mitra kerja dan publik. Situs web adalah ibarat kantor yang 24 jam selalu siap melayani dengan informasi. Artinya lalu lintas informasi masuk dan keluar dapat dilakukan kapan, oleh dan dari mana saja.</p>
<p>Dari kemampuan standar seperti email misalnya, entah karena alasan privacy atau keamanan, masih banyak situs web perusahaan yang hanya mencantumkan alamat email dari webmaster atau bagian pemasarannya saja. Padahal jika diposisikan sebagai gerbang informasi perusahaan secara utuh, hal tersebut akan membuat publik kerepotan untuk menghubungi pihak yang berkompeten. Munculnya weblog atau lebih dikenal dengan blog sebagai perkembangan dari teknik guest book (buku tamu) sangat membantu perusahaan membangun web secara interaktif. Interaksi dengan komunitas dapat dibangun dengan mudah dan cepat. Karena saat ini masyarakat telah mulai banyak berharap dapat melakukan komunikasi lewat Internet.</p>
<p>Internet memiliki segudang fasilitas interaktif yang dapat diintegrasikan dengan keberadaan situs web, yaitu melalui email, chat, newsgroup dan mailing list, hingga informasi secara multimedia (audio dan video). Di sisi teknis, perpaduan web dengan teknologi WAP <em>(Wireless Application Protocol)</em> memungkinkan interaksi web untuk diakses dengan telepon selular. WAP kurang begitu populer karena sosialisasi teknologi ini oleh para operator selular memang sangat minim dilakukan. Selain itu prosedur aktivasi fasilitas ini oleh operator masih dirasakan terlalu rumit bagi pelanggan awam.</p>
<p><strong>Pemasaran, Hubungan Masyarakat hingga Hubungan ke Pelanggan.</strong></p>
<p>Ada dua sisi yaitu konten (isi) dan teknis dalam membangun situs web. Konten dan konstruksi arus informasi adalah tanggung jawab manajemen departemen yang punya relevansi dan kompetensi. Sedangkan disain dan programming dari kebutuhan konstruksi konten itulah barulah menjadi porsi dari orang disain grafis dan teknis IT. Jika masalah disain dan teknis web diserahkan pada pihak luar <em>(outsourcing)</em>, tetap saja soal konten dan efektivitas web menjadi tanggung jawab manajemen perusahaan. Apalagi menyangkut masalah aktualitas konten yang harus selalu terjaga, perlu diingat pula bahwa sebenarnya mekansime konten web korporat memerlukan mekanisme redaksi.</p>
<p>Dengan landasan cakupan geografis pasar yang akan dibidik entah dari lokal, regional sampai internasional, titik tolak membangun situs web untuk keperluan pemasaran adalah memperluas jangkauan pasar yang apabila dibandingkan dengan media cetak atau elektronik lain akan menjadi sangat mahal.</p>
<p>Agar efektif, keberadaan situs web korporat juga perlu dipublikasikan secara luas baik melalui pencatatan mesin pencari <em>(search engine)</em> Internet itu sendiri maupun pada media lain. Kerjasama <em>reciprocal content</em> dengan atau tanpa teknik RSS <em>(Really Simple Syndication) </em> antarsitus pemasok, pelanggan dan seluruh mitra bisnis akan memperluas jaring pengakses. Arti dari web itu sendiri adalah jaringan. Sehingga jika tidak dibuat jaringan yang seluas-luasnya maka keberadaannya akan tergerus arus informasi yang demikian padatnya di Internet. Memasuki kancah informasi di Internet adalah "peperangan" informasi untuk memenangkan persepsi. Bahkan banyak perusahaan multinasional yang beroperasi secara global, menempatkan para ahlinya untuk <em>nongkrong</em> dan menggiring opini publik melalui mailing list.</p>
<p>Baik untuk pemasaran, humas ataupun hubungan ke pelanggan informasi situs web sekaligus dapat bermanfaat untuk ketiga kepentingan tadi. Dengan sistem keamanan yang dibangun secara cermat situs web dapat dihubungkan langsung ke jaringan Intranet korporat. sehingga situs web adalah simpul antarmuka <em>(interface)</em> bagi seluruh keperluan informasi korporat.</p>
<p>Ada area publik untuk kepentingan pemasaran dan hubungan masyarakat. Ada pula area privat  untuk internal korporat serta area privat untuk hubungan ke pemasok. Lebih spesifik ke pemasok, kesatuan virtual dengan jaringan pemasok ini akan membentuk apa yang disebut sebagai Extranet. Aplikasi terpenting yang berjalan dalam sistem extranet adalah untuk menjamin tersedianya pasokan dari pemasok dalam sistem Supply Chain Management.</p>
<p><strong>Mendorong suksesnya sebuah web.</strong></p>
<p>Secara internal korporat ada cara yang mendorong suksesnya efektivitas sebuah situs web, yaitu dengan menempatkan dan mengintegrasikan secara aman seluruh informasi korporat dengan menggunakan antarmuka web. Saat sekarang sudah mulai banyak perusahaan yang memberi insentif dan penghargaan khusus kepada karyawan atau departemen yang telah efektif menerapkan teknologi informasi komunikasi. Perusahaan jelas tidak rugi mengeluarkan insentif seperti itu karena ada dampak meningkatnya efisiensi dan efektivitas kerja.</p>
<p>Khusus soal web untuk pemasaran, bagi para penjual yang berhasil mendapatkan pesanan secara online dan mengalihkan pesanan pembelian itu secara online layak memperoleh penghargaan. Karena bukan saja berakibat pada efisiensi internal, tetapi proses mengedukasi pasar yang berhasil ia lakukan tentu sangat bernilai. Inilah <em>knowledge economy</em> dalam era digital !</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA, Managing Partner IDD Research &#38; Documentary</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi Secara Efektif (2)]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/04/12/menerapkan-teknologi-informasi-komunikasi-secara-efektif-2/</link>
<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 15:32:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/04/12/menerapkan-teknologi-informasi-komunikasi-secara-efektif-2/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 27 Maret 2007
Aplikasi Sistem Informasi.
Dari efisiensi sampai bik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 27 Maret 2007</p>
<p><strong>Aplikasi Sistem Informasi.</strong><br />
<strong>Dari efisiensi sampai bikin pelanggan <em>happy</em>.</strong></p>
<p>Di bagian lain seri artikel ini sebelumnya telah diuraikan bahwa, jika diterapkan secara maksimal komputerisasi dapat menghemat banyak biaya dan waktu. Efisiensi melalui komputerisasi pada semua lini perusahaan memang harus menjadi sasaran pertama komputerisasi.</p>
<p>Jika perusahaan telah melakukan komputerisasi pada satu atau berbagai proses, evaluasi secara periodik tetap diperlukan. Evaluasi kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan terus meng-update informasi tentang berbagai teknologi dan metode baru dalam sistem informasi. Contoh, jika dengan teknologi saat ini sebuah proses perlu waktu tiga jam, dengan teknologi prosesor yang lebih baru hanya perlu satu jam.</p>
<p>Dengan adanya <em>business benefit</em> seperti itulah, ada alasan ekonomis yang kuat untuk meng-<em>upgrade</em> sistem yang ada. Jadi belanja teknologi tidak hanya karena alasan mengikuti tren. Perhatikan pula, bahwa penjaja teknologi informasi komunikasi yang profesional selalu mengedepankan <em>business benefit</em> bukan sekadar fitur atau tampilan baru yang dibawa oleh produk barunya.</p>
<p><strong>Meningkatkan nilai manfaat bagi pelanggan</strong></p>
<p>Setelah otomatisasi berhasil meningkatkan efisiensi, organisasi dapat beranjak ke "kelas" berikutnya yaitu, komputerisasi untuk menghapus/mengganti fungsi pekerjaan yang tidak memberi manfaat bagi pelanggan. Contoh nyata yang kita jumpai sehari-hari adalah mesin ATM yang digunakan oleh bank. ATM mengurangi jumlah <em>teller</em>, menghemat <em>space</em> kantor bank, sekaligus memberi kenyamanan dan kemudahan bagi pelanggan.</p>
<p>Penerapan e-ticket (tiket elektronik) oleh banyak maskapai penerbangan didasari bahwa faktor utama yang dicari pelanggan adalah bukan mewah atau cantiknya tiket pesawat, melainkan kepraktisan sejak <em>booking</em> hingga mendapatkan <em>boarding pass</em>. Oleh sebab itu tiket cukup dicetak di kertas <em>continous form</em> yang berarti efisiensi luar biasa bagi perusahaan. Pelanggan dimudahkan dengan langsung memesan melalui Internet dan mencetak tiketnya sendiri.</p>
<p>Kemajuan teknologi <em>data base, data warehouse, storage area network, OLAP (online analytical processing),</em>  saat ini mampu mengintegrasikan berbagai data dalam jumlah sangat besar untuk skala perusahaan UKM hingga enterprise. Esensinya adalah dengan satu data yang sama, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan internal hingga memberi kenyamanan bagi pelanggan. Contohnya, perusahaan taksi yang menyimpan data nama-nomor telepon-alamat pelanggan. Hanya dengan menanyakan kata kunci nomor telepon pemesan, maka semua data pemesan langsung dapat diketahui dan otomatis berhubungan dengan sistem daftar lelang pesanan yang di broadcast ke sistem <em>mobile data terminal (MDT) </em>. Secara <em>real time </em>tentunya perusahaan dapat memantau berapa pelanggan saat itu, unit yang beroperasi dan kecepatan layanan dapat dirasakan oleh pelanggan.</p>
<p>Walaupun sederhana, komputerisasi data pelanggan secara terstruktur dengan basis memberi nomor ID (identitas pelanggan) juga masih belum banyak dilakukan perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Di era ekonomi serba ketat ini, mempelajari dan mencari manfaat sistem informasi untuk efisiensi dapat menjadi salah satu cara agar perusahaan dapat <em>survive</em>. Bersamaan dengan itu, manfaat bagi pelanggan yang juga dapat menghemat banyak bagi si pelanggan, akan menjadikan satu daya saing tersendiri.</p>
<p><strong>(LENDY WIDAYANA, Managing Partner .IDD Research and Documentary</strong>).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi Secara Efektif (1)]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/03/15/menerapkan-teknologi-informasi-komunikasi-secara-efektif-1/</link>
<pubDate>Thu, 15 Mar 2007 17:58:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/03/15/menerapkan-teknologi-informasi-komunikasi-secara-efektif-1/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 15 Maret 2007
Setelah lebih dari dua puluh tahun saya menjalani pr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 15 Maret 2007</p>
<p><em>Setelah lebih dari dua puluh tahun saya menjalani profesi di bidang teknologi informasi komunikasi, banyak sekali liku-liku pengalaman ketika berinteraksi dengan semua level manajemen di berbagai organisasi saat teknologi informasi komunikasi diterapkan. Artikel seri pertama dari tiga tulisan ke depan ini mengurai berbagai problematika dan solusi yang berpijak pada pengalaman, kajian riset serta bagaimana membangun visi ke depan</em>.</p>
<p><strong>Jika Perusahaan Ingin Maju Pesat</strong><br />
<strong>IT tidak dapat didelegasikan</strong></p>
<p>Minggu lalu saya menghadiri sebuah executive forum manajemen di Jakarta. Seorang eksekutif puncak sebuah perusahaan operator telekomunikasi dengan latar belakang non IT mengatakan bahwa ia telah nekad mengeluarkan puluhan miliar rupiah untuk membeli (belum menerapkan) sebuah sistem software. Setelah dipelajari selama lima tahun baru sistem tersebut dapat diterapkan satu per satu.</p>
<p>Memang dewasa ini seorang pimpinan puncak organisasi bisnis apapun tidak cukup hanya memahami soal keuangan, SDM dan pemasaran. Ada pilar pemahaman dengan bobot yang sama yaitu soal teknologi informasi komunikasi.</p>
<p>Bisnis adalah informasi, dan informasi adalah bisnis. Oleh karena itu pimpinan puncak tidak dapat mendelegasikan begitu saja aspek teknologi informasi komunikasi kepada manajer atau bahkan direktur di bidang ini.</p>
<p>Ibarat seseorang yang dapat mengemudikan mobil, ia tidak harus menjadi montir. Pemahaman yang diperlukan pimpinan tentu bukan soal teknis karena itu kompetensi engineer. Pimpinan wajib memahami berapa nilai efisiensi, efektivitas kerja dan produk/jasa baru apa yang dapat diciptakan dengan penerapan teknologi itu.</p>
<p>Prakteknya, pimpinan puncak merumuskan apa yang ia kehendaki, lalu panggil manajer/direktur IT untuk berdiskusi secara intens tentang solusi dan keterbatasan teknologi saat ini dan bagaimana tren teknologi ke depan.</p>
<p><strong>Mengurai kemampuan teknologi informasi komunikasi</strong></p>
<p>Untuk memudahkan pemahaman, apa saja yang dapat dilakukan dengan teknologi informasi komunikasi dalam suatu proses bisnis, semuanya dapat dipetakan menjadi:</p>
<p>• <strong>Otomatisasi</strong>. Dapat mengoptimalkan jumlah sumber daya manusia dalam sebuah proses pekerjaan yang rutin dan berulang-ulang. Aplikasinya sering kita jumpai pada lingkup perusahaan industri manufakturing.</p>
<p>• <strong>Informasi dan analisis</strong>. Memudahkan proses analisa pengambilan keputusan, karena pengolahan data komputer akan menghasilkan informasi yang menyajikan berbagai opsi pengambilan keputusan. Dengan program <em>spreadsheet</em>, hasil pengolahan dari database perusahaan secara mudah dapat dianalisis dan dibuat simulasinya.</p>
<p>• <strong>Penelusuran (<em>tracking</em>)</strong>. Mempermudah pemantauan status sebuah obyek berikut prosesnya.</p>
<p>• <strong>Menghilangkan kendala geografis</strong>. Melalui jaringan komputer yang menghubungkan baik internal maupun eksternal perusahaan, koordinasi-komunikasi dan integrasi perusahaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih efisien.</p>
<p>• <strong>Disintermediasi</strong>. Komputerisasi dan jaringan komputer mampu menghilangkan mata rantai suatu proses yang secara logis tidak diperlukan lagi.</p>
<p>• <strong>Sekuensial dan paralel</strong>. Urutan sebuah proses bisnis dapat diubah secara lebih fleksibel. Begitu pula proses kerja yang sebelumnya berurutan dapat dibuat menjadi paralel.</p>
<p>• <strong>Aset intelektual</strong>. Teknologi memudahkan proses perekaman dan distribusi aset intelektual sumber daya manusia organisasi. Memasuki era <em>knowledge worker</em> saat ini, teknologi sangat membantu meningkatkan nilai dari <em>knowledge capital</em> organisasi. Aplikasi dibidang ini masih sangat jarang diterapkan di Indonesia. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengandalkan sumber daya fisik/material dan belum sampai ke tingkat <em>knowledge industry</em>.</p>
<p>Dari uraian di atas, jelas bahwa diperlukan kemampuan analisa, <em>power</em> dan keputusan strategis yang tidak mungkin dibuat oleh seorang manajer/direktur di lapisan <em>middle management</em>. Levelnya sudah harus <em>top level management</em>.</p>
<p><strong>Menerapkan secara efektif</strong></p>
<p>Setiap hari kita dibanjiri oleh informasi tentang sebuah produk teknologi baru. Keterbukaan akses informasi makin memberi ruang untuk memilih. Namun, jangan lupa bahwa banyak produk teknologi negara maju yang hanya berganti kemasan, tetapi inti kemampuan solusinya adalah sama dengan produk sebelumnya. Ketelitian dalam mengkaji produk teknologi khususnya bagi sebuah solusi bisnis makin diperlukan di era informasi ini.</p>
<p>Fakta lain adalah masih banyaknya anggapan bahwa dengan membeli dan memasang sebuah sistem teknologi informasi komunikasi semua masalah akan beres. Teknologi informasi komunikasi akan efektif jika didasari oleh kebutuhan proses bisnis yang matang terlebih dahulu. Setelah itu menyiapkan SDM yang berarti bukan hanya soal melatih penggunaan alat. Ada titik krusial yaitu bagaimana SDM dapat mengadopsi perubahan sistem, prosedur dan proses akibat dari penerapan teknologi yang dipilih. Tanpa melalui tahapan seperti itu, betapapun canggihnya teknologi yang dibeli akan menjadi sia-sia.(<strong>LENDY WIDAYANA, Managing Partner .IDD Research and Documentary</strong>)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Kendala Transparansi dan Korupsi. Jadi Penghalang Pemanfaatan Sistem Informasi]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/03/06/kendala-transparansi-dan-korupsi-jadi-penghalang-pemanfaatan-sistem-informasi/</link>
<pubDate>Tue, 06 Mar 2007 17:56:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/03/06/kendala-transparansi-dan-korupsi-jadi-penghalang-pemanfaatan-sistem-informasi/</guid>
<description><![CDATA[Sumber arsip : SuaraSurabaya.net, 6 Maret 2007
Kendala Transparansi dan Korupsi
Jadi Penghalang Pema]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber arsip : SuaraSurabaya.net, 6 Maret 2007</p>
<p><strong>Kendala Transparansi dan Korupsi<br />
Jadi Penghalang Pemanfaatan Sistem Informasi</strong></p>
<p>Pemanfaatan sistem informasi masih banyak mengalami hambatan, karena lembaga/perusahaan belum memiliki semangat transparansi dan makin merebaknya korupsi. Memang tidak di semua lembaga baik itu pemerintah maupun perusahaan swasta, pemanfaatan sistem informasi yang terdiri dari teknologi perangkat keras, perangkat lunak, metode sistem dan sumber daya manusia, masih banyak mengalami hambatan karena lembaga atau perusahaan belum memiliki semangat transparansi dan makin merebaknya korupsi di semua lini.</p>
<p>Jika penerapan teknologi informasi hanya sebagai <em>tools</em> untuk membantu pekerjaan misalnya mengetik dan menghitung, hal tersebut tidak akan menjadi masalah. Namun ketika memasuki wilayah sebuah sistem yang serba <em>online</em>, terintegrasi dan transparan yang tentunya terbatas untuk internal organisasi, upaya tersebut membuat banyak pihak gerah.</p>
<p>Mengapa kegerahan itu muncul? Karena jika tanpa sistem informasi yang transparan dan terintegrasi, sebelumnya ada peluang besar untuk memanipulasi berbagai data, dari mengubah data riil sampai dapat membuat kuitansi sendiri. Juga hilangnya peluang karena dengan IT tidak ada lagi kesempatan untuk menunda pekerjaan.</p>
<p>Sebelumnya dengan menunda pekerjaan, siapa yang mau cepat dilayani harus ada "fee" terlebih dahulu. Wujud kegerahan yang sebenarnya merupakan penolakan bisa dengan macam-macam alasan, SDM tidak siap, biaya yang mahal (padahal belum dihitung <em>cost and benefit</em>-nya), "organization politicking", hingga yang ekstrem ke sabotase sistem internal. Walaupun bukan sebagai faktor tunggal dalam kegagalan, kendala-kendala seperti itu tidak jarang membuat sebuah proyek sistem informasi gagal di tengah jalan dan dicap tidak pernah selesai.</p>
<p>Para <em>developer</em> sistem yang tidak mengenal medan dan belantara keruwetan faktor "X" klien menjadi frustrasi dan rugi, pihak user pun rugi waktu dan biaya. Uniknya, kegagalan sistem sering mendatangkan "peluang" bagi oknum internal organisasi, karena akan ada proyek baru lagi yang bisa mendatangkan "keuntungan" baru dari negosiasi awal hingga implementasi.</p>
<p>Jika diteliti lebih dalam, lembaga atau perusahaan yang akhirnya berhasil menerapkan sistem informasi secara terintegrasi pasti mempunyai pengalaman buruk berupa kerugian hilangnya waktu dan biaya dari berbagai kasus sebelumnya. Memang kendala penolakan sistem tidak selalu berasal dari resistensi oknum-oknum di dalam organisasi yang kehilangan "peluang", tetapi para pemimpin organisasi sangat harus siap membersihkan faktor non teknis ini sebelum bermimpi punya sistem yang terintegrasi dan transparan.</p>
<p><strong>Sistem Informasi Manajemen Nasional Indonesia</strong></p>
<p>Jika ditilik ke belakang, keberadaan komputer di bumi Indonesia sudah ada sejak Mei tahun 1937 yang dioperasikan oleh Staat Spoorwagens, pengelola kereta api kolonial Belanda pada waktu itu. Tahun '60 hingga '70 an pun banyak tenaga asing seperti Singapura dan Malaysia yang belajar komputer di Indonesia untuk aplikasi perminyakan dan perbankan.</p>
<p>Di lingkup ASEAN tahun 1979-1981 Indonesia pernah menjadi Presiden South East Asia Regional Computer Confederation (SEARCC). Dalam jangka waktu setelah 30 tahun, sekarang keadaan begitu berbalik, kita di Indonesia harus bersusah payah untuk belajar sistem informasi ke negeri jiran.</p>
<p>Tragisnya lagi, sebuah perusahaan telekomunikasi nasional Indonesia yang tergolong pelopor memajukan teknologi informasi komunikasi kini kepemilikannya berada di tangan asing. Artinya, perkembangan sistem informasi di Indonesia dalam lingkup nasional saat ini justru mengalami kemunduran.</p>
<p>Dari sisi <em>government leadership</em>, simak saja berbagai badan, dewan, komite dan tim (lihat daftar) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden pun belum menunjukkan kinerja manfaat sistem informasi yang makin mensejahterakan publik.</p>
<table class="isi1" border="1">
<tr>
<td>Kepmen Menpan no 11 tahun 1969 tentang pembentukan Badan Kerjasama Otomatisasi Administrasi Negara (BAKOTAN)</td>
</tr>
<tr>
<td>Kepmen Menpan No 125 tahun 1989 tentang Team Pengembangan dan Pendayagunaan Sistem Informasi Manajemen Nasional</td>
</tr>
<tr>
<td>Keppres Nomor 186 Tahun 1998 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td>Keppres No 50 tahun 2000 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td>Inpres no 6 tahun 2001 tentang Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td>Keppres No 9 tahun 2003 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td>Keppres No 20 tahun 2006 tentang Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional</td>
</tr>
</table>
<p><em>Berbagai keputusan yang dibuat pemerintah untuk menggerakkan teknologi informasi komunikasi.</em></p>
<p>Belum selesai sampai di situ, di era akhir '90 an kita mulai mengenal istilah <em>e-government</em> yang oleh banyak pihak hingga saat ini masih hanya diartikan situs lembaga pemerintah di Internet. Padahal <em>e-government</em> yang sebenarnya sarat sekali dengan integrasi data dan informasi lintas sektoral karena teknologi informasi komunikasi bukan hanya sebagai tools, melainkan sudah pada tingkat sebagai <em>enabler</em> bagi penyelenggaraan administrasi pemerintahan yang transparan.</p>
<p>Pemerintah di tingkat pusat sampai ke daerah sebenarnya harus menjadi lokomotif bahwa di tengah keterbatasan yang dimiliki, sistem informasi berbasis teknologi harus dapat menjadi daya dorong peningkatan efisiensi nasional dan regional. Di samping efisiensi, sistem informasi adalah jalur cepat meningkatkan layanan publik dan membentuk <em>good governance</em> yang tidak terbatas hanya pada membangun citra (<em>image</em>) tapi dapat terasa langsung manfaatnya di masyarakat.</p>
<p>Walaupun pasti harus melalui rintangan yang sangat berat, keberhasilan implementasi sistem informasi yang terintegrasi dan transparan paling tidak dapat mengurangi peluang terjadinya penyelewengan. Bukankah penyelewengan ada karena juga akibat kelemahan sebuah sistem yang memberi celah untuk itu.</p>
<p>Masih banyak tantangan ke depan dalam konteks ini, yaitu penyelewengan dalam organisasi yang telah menerapkan sistem informasi berbasis teknologi. Marilah kita lewati rintangan demi rintangan yang ada.  (<strong>LENDY WIDAYANA, Managing Partner .IDD Research and Documentary</strong>)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2006] Berharap pada teknologi generasi ketiga]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2006/12/23/13/</link>
<pubDate>Sat, 23 Dec 2006 17:22:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2006/12/23/13/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp;
                       					  Sumber asrip : SuaraSurabaya.Net 23 Desember 2006
Berharap Pada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center">&#160;</p>
<p align="left">                       					  Sumber asrip : SuaraSurabaya.Net 23 Desember 2006</p>
<p><strong><span class="hed">Berharap Pada Teknologi Generasi Ketiga</span><br />
</strong></p>
<p align="left"><strong> </strong></p>
<p><font> Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terutama seluler kini sudah semakin cepat. Belum satu dasawarsa rakyat negeri ini menikmati teknologi berkomunikasi tanpa kabel ini, inovasi teknologi seluler telah beranak pinak dan kini memasuki generasinya yang ketiga.</font></p>
<p><font>Secara legal, generasi ketiga teknologi ini sudah diadopsi operator-operator nasional sejak Februari 2006, ketika PT Telkomsel, PT Excelcomindo Pratama, dan PT Indosat Tbk memenangkan tender 3G. Sejak itu, 3 operator tersebut berlomba-lomba menyesuaikan dan membangun jaringan miliknya agar bisa beradaptasi dengan 3G. Baru akhir tahun ini ketiganya menyatakan siap memasarkan 3G pada pelanggannya.</font></p>
<p><font>Permasalahannya, sudah siapkah pelanggan menerima teknologi generasi ketiga ini dan bagaimana operator menanggapi ekspektasi pelanggan terkait konten yang ditawarkan? Sejumlah pengamat mengaku pesimis dengan masuknya 3G di Indonesia. ONNO W. PURBO misalnya satu diantara pegiat teknologi informasi Indonesia tidak yakin 3G bisa ‘lepas landas’ di Indonesia.</font></p>
<p><font>Ada 2 teknologi di Indonesia yang menurut ONNO bisa ‘menghimpit’ 3G yakni teknologi wireless fidelity (WiFi) dan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX). WiFi yang terlebih dulu hadir di Indonesia, kata ONNO punya kecepatan jah lebih hebat ketimbang 3G yang baru lahir bulan lalu. Untuk 3G, kecepatan maksimal transfer datanya hanya 2 Mbps, sedangkan WiFi bisa mencapai lebih dari 50 Mbps dalam kondisi konstan. Belum lagi jika teknologi WiMAX masuk ke Indonesia, dipastikan kata ONNO, 3G akan habis.</font></p>
<p><font>ONNO juga pesimis jika penguna layanan data dari 30 juta pengguna GSM di Indonesia (sekitar 3 juta-Red) dapat dengan mudah beralih ke 3G. “Paling bagus hanya 1,5 juta saja pengguna GPRS yang mungin mau menggunakan 3G, tapi apakah mereka akan menjadi pengguna loyal? Saya kira kok tidak. Jika tak ada manfaat yang signifikan, mereka pun akan kembali ke GSM,” kata ONNO.</font></p>
<p><font>Penghalang 3G bukan hanya WiFi dan WiMAX, kata ONNO, jaringan internet berbasis komunitas pun bisa jadi ancaman. RTRWnet, komunitas pengguna jaringan internet di wilayah perumahan pun potensial membuat 3G muspro.</font></p>
<p><font>Hal yang kurang lebih senada juga diungkapkan LENDY WIDAYANA Managing Partner IDD Research and Documentary. Mantan Direktur Ciputra Cyber Institute ini menilai tahun 2007 mendatang operator dipastikan akan mengeluarkan energi ekstra besar untuk mengedukasi pasar, dimana segmen anak muda menjadi target utamanya.</font></p>
<p><font>Ia memberi catatan, selama operator hanya mengasosiasikan 3G hanya pada sisi video call saja, maka tidak ada nilai tambah (value added) lain yang diberikan teknologi ini. Padahal, tambahnya, kemampuan 3G bukan sebatas pada video call saja. Masih banyak kemampuan yang bisa diberikan pada pelanggan karena 3G pada dasarnya ‘bermain’ di atas frekwensi berpita lebar (broadband).</font></p>
<p><font>“Untuk itu pentingnya di sini adalah kekayaan konten yang disediakan operator. Mampukah mereka (operator-Red) merangkul content provider sebanyak-banyaknya untuk memanjakan pelanggan?” ungkap LENDY.</font></p>
<p><font>Kendati demikian, kekayaan konten, kata LENDY, juga harus diimbangi dengan etika karena banyak diantara konten yang menarik justru tidak sesuai dengan nilai yang berkembang di masyarakat. Ia mencontohkan kasus pornografi di Inggris yang tersebar lewat media 3G dan broadband. “Orangtua menjadi was-was karena dengan mudahnya informasi didapat, bahkan lewat handphone sekalipun,” ujarnya.</font></p>
<p><font>LENDY juga memprediksi, pada tahun 2007 pemasaran 3G masih akan ditopang oleh prinsip buy the fashion, not the function yang dianut pelanggannya. Untuk itu, ia memprediksi musik dan film masih menjadi konten yang paling menarik buat pengguna 3G.</font></p>
<p><font>Hal ini dibenarkan SYAKIEB SUNGKAR Senior VP Indosat, Tbk Jawa Timur-Bali Nusra. Ia mengakui anak muda menjadi target pasar 3G karena sifatnya yang anti kemapanan dan selalu ingin coba-coba. Namun ia menambahkan, kalangan mapan dan profesional pun juga dibidik karena broadband menawarkan fungsi yang bisa dimanfaatkan mereka.</font></p>
<p><font>Mengurai Masalah 3G</font></p>
<p><font>Diakui SYAKIEB, ada 4 masalah yang kini masih terus dibenahi operator agar pelanggan bisa menggunakan 3G dengan nyaman. Masalah pertama adalah jaringan. Diakuinya, setting jaringan untuk 3G masih belum sepenuhnya tuntas ketika 3G dirilis Indosat. Ini terkait overhandling atau perpindahan dari jaringan 2G ke 3G atau sebaliknya.</font></p>
<p><font>“Terkadang tidak smooth dan bisa mengakibatkan dropp call,” kata SYAKIEB. Tingkat gagal overhandling di Indosat sendiri diakui SYAKIEB, kini mencapai sekitar 5 %.</font></p>
<p><font>Masalah kedua adalah belum selarasnya standar setting pada handset-handset 3G. Tiap vendor handset 3G, ungkap SYAKIEB, masih menerapkan standar yang berbeda dalam hal setting sehingga bisa jadi, operator yang menggunakan BTS berplatform A tidak kompatibel dengan handset B. Namun, kata SYAKIEB, ke depannya para vendor sudah menyiapkan patching sehingga antar vendor saling kompatibel.</font></p>
<p><font>Masalah ketiga adalah SIM card. Khusus untuk 3G, SIM card yang digunakan adalah USIM dan ini membutuhkan setting ulang karena masalah belum kompatibelnya handset dengan operator. “Indonesia ini masih tahap belajar, edukasi. Saya yakin dalam tempo 2 tahun, fase edukasi ini akan terlewati dan masyarakat pengguna, operator, serta vendor akan memiliki bahasa yang sama dalam pengoperasian 3G,” ujarnya.</font></p>
<p><font>Masalah terakhir adalah terkait konten. Menurut SYAKIEB, ada dua masalah terkait konten ini. Yang pertama adalah mencari konten yang menarik tapi tidak melanggar norma hukum maupun sosial, dan yang kedua terkait charging fee pada penyedia konten (content provider).</font></p>
<p><font>“Menurut saya, konten video yang menarik saat ini adalah vieo asusila anggota DPRD. Wah, itu kalau dijual betul-betul laku. Tapi kan tidak bisa begitu, ada norma-norma yang harus diikuti. Itulah, bisakah kita menjual konten yang enarik tapi tidak melanggar norma,” ujarnya.</font></p>
<p><font>Terkait charging fee, kata SYAKIEB, benar-benar harus disepakati antara operator dan penyedia konten. Billing system, ucapnya, harus benar-benar disiapkan untuk mengukur tingkat download. Soal ini, kata SYAKIEB, operator benar-benar selektif dengan memperhatikan tawaran harga penyedia konten dan menarik atau tidaknya konten untuk pelanggan.</font></p>
<p><font>Yakinkah Indosat dengan prospek 3G di tahun 2007? Setelah berinvestasi Rp160 miliar hanya untuk membayar lisensi frekwensi 3 G ke pemerintah, SYAKIEB mengaku optimis bisa menjaring pelanggan lebih banyak. Tahun 2007 mendatang, ia menargetkan 5 % dari pelanggan bisa pindah ke teknologi generasi ketiga ini.</font></p>
<p><font>“Saat ini di Jatim, dari 3,5 juta pelanggan, baru seribu yang menjadi subscriber 3G, padahal targetnya 4 ribu. Kita harapkan tahun depan bisa mencapai 4,5 juta pelanggan di Jatim,” tutupnya. (suarasurabaya.net) </font></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2006] Tidak Sembarang Membuat Layanan Gratis.  ]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/01/25/2007-tidak-sembarang-membuat-layanan-gratis/</link>
<pubDate>Wed, 20 Dec 2006 10:15:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2006/12/20/2007-tidak-sembarang-membuat-layanan-gratis/</guid>
<description><![CDATA[Sumber arsip : http://www.halamansatu.net 
Tidak Sembarang Membuat Layanan Gratis.
Lendy Widayana
Ud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber arsip :<a href="http://www.halamansatu.net"> http://www.halamansatu.net </a></p>
<p>Tidak Sembarang Membuat Layanan Gratis.<br />
<em>Lendy Widayana</em></p>
<p><span class="author"></span>Udah Gratis, minta bagus !!! Umpatan yang seolah sah seperti itu biasanya keluar dari hati bahkan mulut kita jika seseorang melakukan protes akan layanan murah atau gratis yang kita berikan. Padahal jika kita memasuki wilayah layanan publik, sekalipun gratis bukan berarti segala sesuatunya bisa dikerjakan asal-asal an dan memastikan diri bahwa publik akan menjadi maklum.</p>
<p><!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--></p>
<p>Tulisan ini menceritakan pengalaman penulis mendapatkan layanan plus ketika penulis mengalami masalah serius di Yahoo Messenger, salah satu layanan GRATIS dari Yahoo! Sejak Jumat 24 Nopember 2006 sore seluruh address book yang berjumlah 80-an alamat hilang dari daftar "Friend list". Panik dan bingung ? Pasti !</p>
<p>Sabtu, 25 Nopember 2006, kurang lebih pk 10 pagi saya mengirim mail kepada customer care Yahoo!. Selang beberapa menit kemudian muncul email auto responder Yahoo! yang menyatakan bahwa keluhan telah diterima. Biasa, tidak mengejutkan karena fasilitas ini merupakan standar dari layanan online.</p>
<p>Namun selang satu jam dari mail Auto Responder, muncul email dari Selena petugas Yahoo! customer Care yang menjawab permasalahan saya. Karena masalah yang saya alami cukup unik, saya sampaikan bahwa saya telah mencoba login dari komputer lain dengan menggunakan sistem operasi yang berbeda dan dari sambungan Internet yang berbeda pula. Interaksi kami terus berlangsung selama lima hari.</p>
<p>Ada Shirley, Lenny, Gloria, jadi sudah empat orang yang menangani kasus ini pada hari yang berbeda. Di sini muncul kekaguman saya tentang sistem Help Desk perusahaan dengan jutaan pelanggan di seantero jagad ini. Akhirnya, Kamis 30 Nopember 2006 masalah saya telah teratasi. Friend list kembali muncul normal. Saya melaporkan kepada Yahoo! Customer Care tentang hal ini. Akhirnya Gloria membalas e-mail saya.</p>
<p>We're happy to hear that the problem you told us about has been resolved! Lendy, if there's anything more that we can do, please feel free to get in touch.</p>
<p>Namun kelegaan dan kekaguman saya belum berhenti sampai disitu. Yahoo! kemudian mengirim formulir elektronik untuk mengevaluasi layanan mereka dalam mengatasi masalah yang dihadapi pelanggannya. Luar biasa. Karena sistem internal Help Desk mereka memang berbentuk lingkaran action-feedback-action yang menjadi bahan untuk terus meningkatkan kinerja layanan kepada pelanggan.</p>
<p>Lain lagi di Wordpress.com</p>
<p>Lain Yahoo! lain pula Wordpress.com. Minggu lalu saya mengalami masalah login dan kelambatan akses di wordpress.com. Sebagai layanan yang juga gratis untuk blogging, dukungan terhadap pengguna juga tidak terabaikan di sini. Dalam waktu kurang dari 24 jam dari pertanyaan yang saya sampaikan melalui e-mail, selanjutnya terjadi interaksi selama dua hari dengan Barry dari Wordpress.com yang menangani masalah saya. Akhirnya kami mendapat kesimpulan dan alternatif solusi.</p>
<p>Membuat layanan publik apalagi di Internet memang memerlukan perencanaan matang dan komitmen tinggi. Ada perpaduan idealisme dan bisnis yang menjadi "roh" dalam menjalankannya. Berangkat dari idealisme tinggi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas, setelah itu bisnis akan datang dengan sendirinya. Itulah "hukum alam" di Internet.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2006] StarOne EVDO Siap Catat Rekor Muri]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2006/11/24/starone-evdo-siap-catat-rekor-muri/</link>
<pubDate>Fri, 24 Nov 2006 09:01:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2006/11/24/starone-evdo-siap-catat-rekor-muri/</guid>
<description><![CDATA[Sumber arsip : Kaltim Post
Rabu, 22 November 2006
StarOne EVDO Siap Catat Rekor Muri
Koneksi Wireles]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber arsip : Kaltim Post</p>
<p><strong><font color="#5c5ccf" face="verdana,arial" size="1">Rabu, 22 November 2006</font></strong><br />
<font color="#0000ff" face="Arial" size="3"><strong>StarOne EVDO Siap Catat Rekor Muri</strong></font><br />
<strong><font color="#5c5ccf" face="verdana,arial" size="2">Koneksi Wireless Terlama 48 Jam Nonstop</font></strong><br />
BALIKPAPAN–Masih dalam rangkaian ulang tahun Indosat ke-39, salah satu operator seluler ternama di Indonesia ini ternyata punya cara sendiri memperkenalkan produk terbaru dan jadi andalan mereka; StarOne EVDO. Bagaimana tidak, untuk lebih memasyarakatkan StarOne EVDO, Indosat menggelar berbagai acara yang mereka pusatkan di Hotel Comfort Sagita, Selasa (21/11) kemarin.</p>
<p>Ada dua acara yang menjadi pusat perhatian undangan Indosat kemarin. Pertama adalah Media Gathering yang diperuntukkan bagi para jurnalis di Balikpapan. Tidak tanggung-tanggung, seorang Lendy Widayana, pakar internet di Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Former Director of Cuputra Cyber Institute dan Managing Partner of Knowonline.com jadi pembicara dalam Media Gathering itu.</p>
<p>Dan acara kedua adalah upaya Indosat membuat rekor baru di Museum Rekor Indonesia (Muri) dalam hal koneksi wireless terlama 48 jam nonstop. Tak heran upaya pembuatan rekor baru itu menjadi pusat perhatian undangan. Bahkan, seorang Direktur Galeri Muri Ocke Rubino pun datang jauh-jauh dari Semarang bersama 3 asistennya untuk menjadi saksi pembuatan rekor tersebut.</p>
<p>“Upaya Indosat ini adalah yang pertama di Indonesia, yakni pembuatan rekor koneksi wireless terlama yang mereka targetkan 48 jam nonstop. Di Indonesia rekor ini belum ada. Makanya, kami datang untuk mencatatnya,” ujar Ocke Rubino kepada Kaltim Post, kemarin.</p>
<p>Yang menarik, Ocke Rubino pun menyatakan Indosat bisa saja membuat tiga rekor baru sekaligus; koneksi wireless terlama, ketahanan perangkatnya dan tinggi kecepatan koneksinya. “Bisa saja tiga rekor baru itu kami anugerahkan. Makanya, tunggu 48 lagi deh, biar kita bisa menyaksikan apa yang terjadi. Kalau memang sebelum 48 jam terhenti, ya tidak masalah, berapa pun waktu yang dicatatkan Indosat, itu akan jadi rekor baru di Muri,” tambahnya.</p>
<p>Dalam prosesinya, Wakil Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi bersama Head of Kalimantan Region Indosat Herry Moelyanto tampil sebagai orang pertama yang menandai dimulainya koneksi wireless StarOne EVDO. Acara yang berlangsung di lobi Comfort Sagita itu dimulai tepat pukul 11.20 Wita. “Hari Kamis (besok) pukul 11.19 Wita menjadi batas akhir pembuatan rekor ini. Apa pun hasilnya, itulah rekor baru di Muri,” pungkas Ocke.</p>
<p>Sementara itu, dalam sesi Media Gathering, Lendy Widayana lebih banyak berbicara tentang revolusi broadband dan evolusi online media. Menurutnya, masih banyak anggapan bahwa akses internet pita lebar atau lebih dikenal sebagai broadband, dengan kecepatan tinggi hanya akan meningkatkan kecepatan download.</p>
<p>“Padahal, di balik itu semua, telah terjadi berbagai revolusi yang mengubah berbagai tatanan masyarakat di dunia. Itu yang tidak diketahui orang selama ini,” ujar Lendy.</p>
<p>Yang menarik, dari semua hal yang disampaikannya, Lendy mengatakan pengembangan internet sebagai diferensiasi potensi daerah. “Sebenarnya, potensi teknologi internet saat ini harus dikemukakan di setiap daerah atau provinsi, jangan hanya potensi SDA (Sumber Daya Alam) saja,” tambahnya.</p>
<p>Setelah banyak menghabiskan waktu dengan materi hebatnya, giliran IT Department Kaltim Post Ganis Sukaryansyah bersama Anthony M Rasat diminta menyampaikan kesan mereka terhadap penggunaan StarOne EVDO. “Kami membuat satu perangkat jaringan yang dilengkapi perangkat StarOne EVDO yang dapat digunakan seluruh jaringan Kaltim Post untuk akses internet yang kami beri nama StarBox,” ujar Ganis menceritakan tahapan awal penggunaan StarOne EVDO di dalam jaringan Kaltim Post beberapa waktu lalu.</p>
<p>Hebatnya, StarBox yang dirancang khusus itu telah running nonstop selama 31 hari dan menjadi gateway bagi 240 komputer yang terkoneksi dalam satu jaringan VPN di seluruh Kaltim Post News Network se-Kalimantan. “Intinya, StarBox adalah salah satu upaya kami memanfaatkan kemampuan EVDO StarOne yang tidak hanya dapat mendukung mobilitas pengguna, tapi juga dapat digunakan untuk sebuah jaringan korporat,” tambah Anthony M Rasat.</p>
<p>Menurut Herry, kehandalan teknologi wireless broadband StarOne EvDO (Evolution Data Optimized) dari Indosat sudah bisa dinikmati masyarakat Kota Balikpapan sejak Agustus lalu. StarOne hadir dalam dukungan teknologi CDMA yang murah dan andal. Selain itu StarOne juga unggul dalam hal akses kecepatan data hingga 2,4 Mbps. Tentunya layanan StarOne EvDO Indosat Balikpapan Branch ini sangat menunjang mobilitas tinggi namun tetap terjangkau. ”Masing-masing perangkat uji melakukan aktivitas mulai download file, live video streaming, dan ping test. Konsepnya adalah membuktikan reliabilitas dan daya tahan (durability) layanan StarOne EvDO di kota Balikpapan. Untuk membuktikan kegiatan ini, hadir juga tim penilai dari Museum Rekor Indonesia (Muri),” tandas Herry.</p>
<p>Kegiatan ini selain dibuat dalam menyambut ulang tahun Indosat ke-39, melalui uji ketahanan StarOne EVDO yang dilaksanakan di Comfort Hotel Sagita Balikpapan mulai 21 - 23 November 2006 ini, juga merupakan bagian dari pertama kali diluncurkannya produk StarOne pertama di kota Balikpapan dengan basis EVDO sebagai kelanjutan edukasi kepada masyarakat dan pengguna StarOne EVDO. Selain itu pengembangan jaringan koneksi StarOne selanjutnya akan dilakukan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan,” jelas Herry Moelyanto.</p>
<p>Dikatakan, antusiasme masyarakat Kota Balikpapan terhadap penggunaan StarOne EVDO sebagai salah satu kebutuhan akses internet baik personal maupun korporat cukup tinggi. Karena itu, kami menggelar acara ini juga dengan memberikan penawaran harga khusus selama 48 jam atau 3 hari untuk pembelian produk-produk terkait perangkat pendukung akses internet melalui StarOne EVDO, seperti datacard (PCMCIA) sampai dengan harga Rp 1,99 juta melalui berlangganan paket StarOne EVDO selama 12 bulan.</p>
<p>Masih di tempat yang sama, bagi masyarakat Balikpapan dan Kalimantan Timur pada umumnya bisa memanfaatkan agenda acara Konsultasi IT yang dimulai sejak pukul 09.00 WITA mulai Rabu dan Kamis besok. Di sini masyarakat bisa berdiskusi sekaligus konsultasi seputar masalah IT yang dihadapi dengan pakar IT dari 3MG.</p>
<p>Bagi yang tertarik mencari gadget maupun peripera atau device bisa melihat secara langsung dalam agenda Bazaar IT. Dalam pameran ini juga masyarakat Balikpapan bisa mendapatkannya dengan harga khusus (special price). Ditambah layanan warnet gratis bagi masyarakat di lt.2 Comfort Hotel Sagita Balikpapan.</p>
<p>Kegiatan ini didukung Comfort Hotel Sagita Balikpapan, Wearnes, BoldLine, Kaltim Post, Smart FM, dan 3MG.(nat)</p>
<p><em>Ulasan lain tentang kegiatan ini dapat dibaca di :<br />
</em><a href="http://photojournalist.wordpress.com/2006/11/24/48-jam-online-nonstop-menguji-starone-evdo-indosat-balikpapan/" title="48 Jam Online Nonstop menguji StarOne EVDO" target="_blank">48-jam-online-nonstop-menguji-starone-evdo-indosat-balikpapan</a></p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Peluang Besar ke Depan Ragam Aplikasi TI]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/06/24/2007-peluang-besar-ke-depan-ragam-aplikasi-ti/</link>
<pubDate>Mon, 04 Jun 2007 16:35:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/06/04/2007-peluang-besar-ke-depan-ragam-aplikasi-ti/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 4 Juni 2007
Dua minggu lalu saya diundang untuk berbicara tentang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.Net, 4 Juni 2007</p>
<p>Dua minggu lalu saya diundang untuk berbicara tentang profesionalisme di acara yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa sebuah universitas negeri. Berbicara dengan para tunas muda ini memang selalu menarik buat saya. Generasi Internet, generasi dengan pola pikir matriks informasi. Di situ ada dialog interaktif yang terbangun sekaligus saya ingin melihat bagaimana perspektif generasi sekarang terhadap teknologi informasi komunikasi. Dari berbagai dialog, ada hal yang menarik namun perlu digarisbawahi. Sebagian besar melihat teknologi informasi komunikasi hanya sebagai alat yang perlu digunakan. Ketinggalan jaman kalau tidak digunakan. Sepenggal pengertian itu adalah benar adanya.</p>
<p>Namun ada keheranan ketika diskusi dikembangkan sampai pada hal yang lebih luas dan berorientasi ke masa depan. Bukan hanya dikalangan pelajar/ mahasiswa, tapi di kalangan profesional IT pun masih banyak yang mengalami "kegelapan" kemana tren teknologi informasi komunikasi akan bergulir. Agak mencengangkan memang, karena di era Internet saat ini sebenarnya begitu banyak informasi yang dapat kita peroleh. Jawaban dalam dialog biasanya tipikal, bingung karena begitu banyaknya informasi yang didapat. Lebih runyam lagi karena di sekolah maupun di kantor yang bidangnya IT pun mereka jarang diberi bekal kemana arah teknologi informasi komunikasi berikut aplikasinya.</p>
<p>Tulisan-tulisan dan analisis Harvey L. Poppel dan Bernard Goldstein (1987) dalam <em>Information Technology, The Trillion Dollar Opportunity</em> adalah yang menyentak saya dua puluh tahun lalu untuk menekuni bidang jaringan komputer. Di samping memang suka pada bidang itu, namun setelah membaca tulisan tadi keyakinan saya akan masa depan jaringan komputer semakin menguat.</p>
<p>Kekayaan membaca literatur bermutu dan kerap mendiskusikan tren masa depan teknologi informasi komunikasi memang wajib kita lakukan baik sebagai mahasiswa/pelajar ataupun profesional dalam bekerja. Karena semakin meresapnya teknologi informasi komunikasi pada semua bidang kehidupan kita. Tidak hanya sebagai profesional IT namun di bidang lain pun pengetahuan itu sangat strategis.</p>
<p>Ketertinggalan kita di Indonesia dalam bidang teknologi informasi komunikasi berikut aplikasinya nampak sekali kalau kita membaca literatur dan referensi IT keluaran tahun 80-90 an. Banyak ilmu yang dikeluarkan pada tahun-tahun itu hingga sekarang masih sangat relevan atau bahkan belum diaplikasikan di Indonesia. Simak saja pendapat Michael J. McLaughlin dalam <em>Information Industry Insight (1985) </em>tentang <em>Integrated Market System</em> yang menggabungkan <em>Marketing Information System</em> dengan IT dan kekuatan jejaring. Saat ini implementasinya adalah e-commerce dan <em>internet marketing</em> yang masih terbatas diaplikasikan di negeri ini.</p>
<p><strong>Memperkuat Basis Aplikasi</strong></p>
<p>Jika ditilik dari sisi produk teknologi informasi komunikasi. Sebenarnya semua teknologi terbaru sudah ada di Indonesia. Bahkan banyak juga teknologi baru yang justru dicoba di pasar Indonesia. Kita sangat tidak ketinggalan dalam mengonsumsi barang baru untuk dipunyai.</p>
<p>Namun dari sisi bisnis, terjun di bisnis teknologi dasar kita jelas lemah, karena sumber daya <em>research and development</em> kita sangat minim dan pemerintah masih belum memberi apresiasi. Bisnis di bidang infrastruktur teknologi informasi komunikasi, kalau bukan pemain kelas kakap dan padat modal serta ditunjang mesin uang bisnis lain tidak mungkin akan <em>survive</em>. Akibat digitalisasi, teknologi informasi komunikasi telah menjadi komoditi yang membuat harganya pun makin turun dan akan semakin menjadi produk massal. Ruang untuk mengambil untung pun menjadi semakin sempit. Tetapi di sisi lain maraknya produk teknologi ini merupakan peluang dan memberi harapan ke depan bagi banyak pelajar/mahasiswa dan tumbuh suburnya pengembang aplikasi IT lokal.</p>
<p>Sampai sepuluh tahun ke depan beberapa peluang masih terbuka bagi pemain dan pasar lokal dalam beberapa bidang jasa dan aplikasi strategis di bawah ini :</p>
<p><strong>Aplikasi Mobile Berbasis Multimedia</strong><br />
Konverjensi teknologi informasi komunikasi dalam perangkat mobile (bergerak) semakin matang dan muncul dalam berbagai bentuk. Pemimpin terdepan dalam pengembangan aplikasi multimedia (teks, suara, gambar, video) akan menuai panen raya.</p>
<p><strong>Spesialis Internet Marketing</strong><br />
Jumlah pengguna Internet yang terus meningkat dan kesadaran bahwa Internet sebagai sarana pemasaran makin tinggi. Semakin hari semakin diperlukan ahli-ahli yang menguasai seluk beluk aspek pemasaran di Internet yang tergolong fenomenal ini. Keahlian dalam <em>online community based marketing, disintermediary, Internet public relation, e-commerce transaction tax &#38; law, sharing economy</em> adalah elemen-elemen keahlian yang semakin diperlukan di era yang akan semakin serba online ini.</p>
<p><strong>Computer Network Security (keamanan jaringan komputer)</strong><br />
Semakin banyaknya komputer yang tergabung dalam jaringan intranet, internet dan extranet mengakibatkan makin besarnya ancaman terhadap tingkat keamanan jaringan itu sendiri. Seiring dengan itu jelas bahwa kebutuhan akan sistem keamanan jaringan semakin tinggi.</p>
<p><strong>Network and System Integration</strong><br />
Seperti kata pepatah <em>Wherever You Go, You're On The Job.</em> Bertambah banyak jenis perangkat keras dan perangkat lunak yang semakin dapat terhubungkan (interoperability). Bukan saja menggandeng berbagai perangkat keras, tetapi semua aplikasi seperti database, produksi, analisa keuangan dan seluruh aplikasi bisnis semakin dituntut untuk dapat di-<em>develop</em> dan diakses dengan berbagai peralatan tetap <em>(fixed)</em> atau bergerak <em>(mobile)</em>.</p>
<p><strong>Knowledge Management dan IT</strong><br />
Ekonomi dunia bergerak ke arah <em>knowledge based economy</em>. Sintesa berbagai macam pengetahuan dalam organisasi agar menjadi manfaat dan keuntungan menjadi semakin berperan. Keahlian teknologi informasi untuk mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan <em>organization intelligence</em> adalah jawaban dari jaman <em>intellectual capital</em> in.</p>
<p>Dari berbagai keahlian strategis di atas, tentunya akan semakin banyak bidang ilmu lain yang semakin diperlukan integrasinya dengan teknologi informasi komunikasi. Kesiapan kita mengantisipasi perkembangan aplikasi makin diperlukan, karena jika tidak peluang pasar dan keahlian lokal akan diambil oleh orang asing. Banyak tenaga ahli IT asing dengan bekal ilmu yang terhitung lama, masih laku di Indonesia. Semua karena kita terlambat mengaplikasikannya. Lompatan dapat kita lakukan asal jeli melihat tren ke depan. Kalau tidak sekarang, kapan? Kalau bukan kita, siapa lagi?</p>
<p><strong>LENDY WIDAYANA</strong>,<br />
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research &#38; Documentary.<br />
<em>lendy@indonesiadiscovery.net</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Belajar dari banjir Jakarta. Penyedia Jasa Komunikasi Informasi Perlu Serius Buat Rencana Darurat]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/02/03/2007-belajar-dari-banjir-jakarta-penyedia-jasa-komunikasi-informasi-perlu-serius-buat-rencana-darurat/</link>
<pubDate>Sat, 03 Feb 2007 18:19:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/02/03/2007-belajar-dari-banjir-jakarta-penyedia-jasa-komunikasi-informasi-perlu-serius-buat-rencana-darurat/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 3 Pebruari 2007
ssnet| Sebagai langkah antisipatif, secara teknis ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 3 Pebruari 2007</p>
<p><span class="isi1"><font color="#001f73"><strong>ssnet</strong></font>&#124; Sebagai langkah antisipatif, secara teknis harusnya ada beberapa jalur alternatif yang dipunyai oleh operator atau penyedia jasa untuk kondisi darurat.</p>
<p>Bencana alam memang tidak bisa diduga kapan akan terjadi dan bagaimana akibatnya. Namun bukan berarti kita sebagai manusia sampai dengan batas tertentu tidak dapat mengantisipasinya.</p>
<p>LENDY WIDAYANA <em>Managing Partner IDD Research and Documentary</em> pada <strong>suarasurabaya.net</strong>, Sabtu (03/02) mengatakan, terganggunya Sentral Telepon Otomat (STO) Semanggi II di Jl. Gatot Soebroto yang sangat strategis di Jakarta karena banjir Jumat (02/02) kemarin mengakibatkan puluhan ribu SST di wilayah segitiga emas terputus. Sebenarnya ini sudah pernah terjadi ketika jaman Menparpostel JOOP AVE tahun 1996 lalu.</p>
<p>Kata LENDY, di layanan internet kerugian juga dialami oleh pelanggan internet Speedy PT. Telkom. Karena simpul akses se Indonesia ke gerbang internet internasional yang berada di Jakarta mengalami gangguan juga akibat banjir. Praktis pelanggan Speedy PT. Telkom di luar Jakarta pun terkena imbasnya.</p>
<p>Menurut LENDY, populasi pelanggan di Jakarta memang besar, namun pelanggan Speedy bukan hanya di Jakarta. Di manapun mereka, sebagai pelanggan semuanya menuntut ketersediaan (<em>availability</em>) akses yang sama. Jika menyangkut layanan publik secara massal seharusnya desain sistem informasi komunikasi wajib memasukkan unsur <em>disaster recovery</em> (pemulihan dari bencana) dan <em>contingency planning</em> (rencana darurat) sebagai bagian dari SLA (<em>Service Level Agreement</em>). Dari waktu ke waktu masyarakat kita hidupnya sudah semakin tergantung dengan sistem komunikasi informasi. Jadi jika terjadi gangguan, dampak ekonominya pastilah sangat besar.</p>
<p>"Sebagai langkah antisipatif, secara teknis harusnya ada beberapa jalur alternatif yang dipunyai oleh operator atau penyedia jasa. Apabila tidak dalam kondisi darurat jalur alternatif tersebut juga dapat digunakan untuk memperbesar total <em>aggregate bandwidth</em>. Protokol IP (<em>Internet Protocol</em>) sebenarnya didesain untuk menjadi tulang punggung komunikasi data yang memungkinkan kesetaraan bagi semua layanan dari lapisan fisik, jaringan, hingga aplikasi. Artinya, sistem dapat tetap dan akses tetap dapat dilakukan sekalipun terjadi gangguan baik itu mulai sambungan fisik komunikasi, hingga seluruh data atau informasi yang ada dalam sistem," paparnya.</p>
<p>Menurut LENDY, semuanya memang perlu biaya, tetapi <em>cost</em> dan investasi sistem yang <em>redundant</em> seperti itu adalah konsekuensi logis jika melayani publik. "Saya yakin, operator atau penyedia jasa apalagi pemain skala nasional pasti mampu membangun sistem seperti itu" ujarnya.</p>
<p>Masih dalam kerangka rencana darurat, kata LENDY WIDAYANA, antar operator atau penyedia jasa seharusnya mempunyai kerjasama khusus untuk menghadapi keadaan darurat. Misalnya, pembukaan jalur akses ke gerbang Internet yang dimiliki masing-masing operator secara <em>reciprocal</em> (timbal balik). Secara teknis, hal tersebut sangat memungkinkan. Secara finansial, bisa dihitung. Masalahnya mungkin hanya pada <em>good will</em> untuk melakukan koordinasi satu sama lain.</p>
<p>"Masih banyak tantangan ke depan di sektor infrastruktur informasi komunikasi, kebersamaan kita sebagai operator, pebisnis dan praktisi khususnya dalam situasi darurat seperti saat ini sedang diuji," tuturnya pada <strong>suarasurabaya.net</strong>.   </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2007] Penyerapan Aplikasi TI Masih Lamban di Level Korporat]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/01/28/2007-penyerapan-aplikasi-ti-masih-lamban-di-level-korporat/</link>
<pubDate>Sun, 28 Jan 2007 18:22:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2007/01/28/2007-penyerapan-aplikasi-ti-masih-lamban-di-level-korporat/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 28 Januari 2007
ssnet| Teknologi informasi (TI) komunikasi telah m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 28 Januari 2007</p>
<p><span class="isi1"><font color="#001f73"><strong>ssnet</strong></font>&#124; Teknologi informasi (TI) komunikasi telah merasuk ke semua lapisan masyarakat di Indonesia. Namun di dunia bisnis pemanfaatan teknologi ini masih lebih cepat adopsinya di tingkat pengguna perorangan ketimbang di level korporasi. Mengapa demikian?</p>
<p>LENDY WIDAYANA <em>Managing Partner IDD Research and Documentary</em> pada <strong>suarasurabaya.net</strong>, Minggu (28/01) mengatakan, banyak perusahaan belum dapat memadukan kemampuan teknologi informasi dengan kebutuhan bisnisnya secara utuh. Teknologi informasi hanya dipandang sebagai alat bantu (<em>tools</em>), bukan sebagai <em>enabler</em> bagi daya saing.</p>
<p>"Dari pengalaman dan pengamatan selama ini, kondisi ini bukan saja terjadi di perusahaan kecil menengah, tapi masih banyak terjadi juga di perusahaan besar di Indonesia. Di level korporat harus diakui bahwa adopsi teknologi informasi komunikasi lebih cepat di lingkungan PMA. Hal ini karena <em>mindset</em> para <em>top manager</em> sampai ke level eksekusi memang dipaksa untuk itu," ujarnya.</p>
<p>LENDY menambahkan, pendekatan <em>People-Process-Technology</em> selalu menjadi pegangan dalam perpaduan manajemen dengan teknologi. Masih melekat dalam budaya kita, kalau orang asing yang bicara kita lebih percaya walaupun sebenarnya solusi teknologinya sama dengan yang dikuasai oleh orang lokal.</p>
<p>Menurutnya, memadukan teknologi informasi komunikasi dengan bisnis memang tidak bisa <em>plug and play</em>. Walaupun tidak sampai level teknis, di jaman sekarang pihak manajemen organisasi dituntut mutlak memahami kemampuan dan keterbatasan teknologi. Sebaliknya, orang teknis dalam organisasi dapat merangkai teknologi menjadi solusi bagi bisnis. Awal masalah adalah tersendatnya komunikasi kedua unsur ini.</p>
<p>Kata LENDY mantan <em>Executive Director di Ciputra Cyber Institute</em> ini, yang sering dilupakan juga bahwa keberhasilan implementasi teknologi informasi komunikasi di level korporat memerlukan pendekatan <em>top-down</em>, atas ke bawah. Tidak bisa <em>bottom-up</em>, karena diperlukan perubahan tata kerja yang punya implikasi luas.</p>
<p>"Jadi tidak mungkin seorang atau kelompok bawahan yang menjadi lokomotif perubahan. Sebagai contoh, saya menyaksikan sendiri ketika seorang Direktur Utama sebuah perusahaan daerah di Jawa Timur terjun langsung ke setiap <em>meeting</em> sistem informasi dan melihat sendiri bagaimana proses instalasi server dan sistem keamanan secara rinci. Setiap perubahan memerlukan <em>strong leader</em>, inilah tantangan <em>leadership</em> para <em>top manager</em> di era <em>Change or Die</em> ini," ungkap LENDY WIDAYANA <em>Managing Partner IDD Research and Documentary</em> pada <strong>suarasurabaya.net</strong>.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2006] Soft Skills Sangat Diperlukan Profesional IT]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2007/03/29/2006-soft-skills-sangat-diperlukan-profesional-it/</link>
<pubDate>Mon, 11 Dec 2006 18:15:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2006/12/11/2006-soft-skills-sangat-diperlukan-profesional-it/</guid>
<description><![CDATA[Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 11 Desember 2006
ssnet| Kualitas technical skill orang IT Indonesi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber Arsip : SuaraSurabaya.net, 11 Desember 2006</p>
<p><span class="isi1"><font color="#001f73"><strong>ssnet</strong></font>&#124; Kualitas <em>technical skill</em> orang IT Indonesia tidak kalah dibanding dengan negara lain. Namun saat ini elemen <em>soft skills</em> masih diabaikan.</p>
<p>"Dalam sebuah <em>breakfast meeting</em> dengan mitra saya seorang <em>vice president</em> sebuah perusahaan <em>Information Technology</em> yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara, diskusi kami banyak membahas soal <em>communication &#38; soft skill</em> yang sangat diperlukan oleh korporat dan individu profeisional yang bergerak di dunia IT," ungkap LENDY WIDAYANA, Managing Partner IDD Research and Documentary pada <strong>suarasurabaya.net</strong>, Senin (11/12).</p>
<p>Kata LENDY, kalau menengok ke belakang, kebangkitan ekonomi digital Amerika Serikat yang dimulai di era BILL CLINTON adalah setelah pernyataan yang sangat inspiratif dari AL GORE Wakil Presiden di UCLA bulan Januari 1994 tentang "<em>Information Superhighway</em>".</p>
<p>Melihat pada sederet nama besar seperti BILL GATES (Microsoft), LARRY PAGE (Google), STEVE JOBS (Apple), MICHAEL DELL (Dell), JEFF BEZOS (Amazon.com), TERRY SEMEL (Yahoo!), mereka adalah orang-orang yang piawai dalam hal <em>public relations</em> bukan saja di internal perusahaan sebagai inspirator dan motivator, tetapi mampu menggalang berbagai aliansi strategis dengan berbagai perusahaan lain.</p>
<p>Selain itu, setiap pernyataan publik mereka sangat strategis bagi kepentingan pergerakan nilai saham perusahaan yang mereka nahkodai.</p>
<p>Kata LENDY, seperti ditulis oleh DAN PINK dalam buku larisnya "<em>A Whole New Mind</em>"  yang menyatakan bahwa "<em>soft skills have become the source of economic survival</em>"  memang di dunia yang makin ketat persaingannya saat ini profesional IT tidak cukup punya <em>technical skill</em>.</p>
<p>"Sepengetahuan saya kualitas <em>technical skill</em> orang IT Indonesia tidak kalah dibanding dengan negara lain. Namun kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan (<em>leadership</em>), <em>teamwork</em> dan organisasi, adalah elemen <em>soft skills</em> yang masih diabaikan baik di sekolah maupun perusahaan yang bergelut di bidang ini," ujarnya.</p>
<p>Menurut LENDY, dalam berkomunikasi, banyak terjadi seorang karyawan punya gagasan dan kecakapan tinggi di bidang IT, tetapi ia tidak mampu berbicara secara interpersonal apalagi di depan publik untuk meyakinkan pimpinan perusahaan apalagi investor tentang gagasannya itu.</p>
<p>Menyangkut kepemimpinan (<em>leadership</em>) dijelaskan LENDY, sukses manajemen perusahaan IT adalah sangat tergantung pada pola kepemimpinan mulai dari pemilik hingga pengelola. Dengan dalih tidak mengerti soal IT tidak jarang sang boss di perusahaan juga tidak dapat menjadi inspirator dan motivator bagi kesuksesan perusahaannya. Padahal IT sarat dengan ketergantungan pada sumber daya manusia bermotivasi tinggi untuk mencipta, bersaing dan memberi solusi bagi pelanggan.</p>
<p>Sedangkan budaya kerja secara <em>teamwork</em> dan organisasi adalah tantangan keras profesioanal IT yang punya kecenderungan bekerja secara individual. Bisnis sangat menuntut kecepatan, bekerja secara individu dapat menghambat kinerja tim secara keseluruhan.</p>
<p>Ditegaskannya, banyak juga pekerja IT yang menganggap bahwa pekerjaan mereka bak seorang seniman yang sangat tergantung <em>mood</em>. Kalau perusahaan bukan milik kita sendiri argumen seperti itu tidak berlaku.</p>
<p>Bagaimana dengan membangun daya saing Indonesia? Harap maklum jika perkembangan teknologi informasi komunikasi negeri ini seolah berjalan di tempat, karena para petinggi negara ini tidak pernah mengomunikasikan secara sistematik, konsisten dan menggugah masyarakat secara terus menerus tentang peran penting teknologi informasi komunikasi bagi masa depan bangsa Indonesia, paparnya.</p>
<p>Managing Partner IDD Research and Documentary ini mengatakan, ketika saat ini IT sudah menjadi komoditi dan informasi dunia telah menyatu karena internet, untuk membangun persepsi secara nasional dan global, saat ini Indonesia lebih memerlukan kolaborasi antara lembaga dan pakar di bidang komunikasi dengan para industrialis, praktisi dan ahli di bidang teknologi informasi komunikasi.  </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2006] Workshop Weblog Telkom Divre V]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2006/06/13/weblog-alternatif-publikasi/</link>
<pubDate>Tue, 13 Jun 2006 14:43:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2006/06/13/weblog-alternatif-publikasi/</guid>
<description><![CDATA[Sumber arsip : Jawa Pos, 11 Juni 2006

Weblog, Alternatif Publikasi 
SURABAYA - Tahun lalu, dari 12 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber arsip : Jawa Pos, 11 Juni 2006<br />
<font face="Arial" size="2"><br />
<strong>Weblog, Alternatif Publikasi</strong> </font></p>
<p><font face="Arial" size="2">SURABAYA - Tahun lalu, dari 12 juta pengguna internet, peminat weblog di Indonesia masih sangat minim, yakni hanya 0,04 persen. Hal ini diungkapkan Lendy Widayana, salah seorang pemateri dalam workshop Selling Self with Weblog yang dilaksanakan di Telkom Surabaya Barat, Jl Margoyoso kemarin.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Memang, saat ini weblog menjadi salah satu tren. Dan, weblog ini menjadi alternatif baru bagi publikasi melalu internet. Bukan hanya untuk instansi, tapi juga untuk publikasi pribadi.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Selain itu, weblog dapat dijadikan citizen journalist. Maksudnya, siapa saja bisa menjadi kontributor bagi media tertentu. "Mereka bisa mengirimkan berita apa saja, seolah-olah mereka menjadi kontributor sebuah media," papar Lendy yang juga praktisi dan konsultan IT ini.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Lokakarya itu diikuti sekitar 30 peserta. Mereka bukan hanya para mahasiswa, tapi juga siswa dan masyarakat umum. Ada juga peserta yang telah berusia 45 tahun, masih semangat mengikuti workshop itu.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Dia adalah Widodo Basuki, wirausahawan di bidang properti. Tujuannya mengikuti lokakarya tidak lain untuk mengembangkan usahanya. "Dengan menggunakan weblog, kita tidak perlu lagi repot-repot membuat website. Weblog bisa menjadi alternatif," ujar Widodo.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Peserta lain adalah siswa SMA. Dia dari pondok pesantren Mahad Al Zaytun Indramayu, Jawa Barat, bernama Haikal Bahanan. Kegiatan tersebut tidak lain untuk mengisi kekosongan waktu menjelang ujian SPMB Juli mendatang.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Sebelumnya juga diadakan seminar dengan tema yang sama. Melalui kegiatan ini, peserta diberi pelajaran mengenai besarnya manfaat internet untuk peningkatan kualitas diri.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2">"Dengan weblog yang punya nilai jual, generasi muda tidak akan selalu bergantung pada iklan lowongan pekerjaan," kata Communication Manager Telkom Divre V Jatim Djadi Soegiarto. (rth)</font></p>
<hr noshade="noshade" size="3" width="100%" /><font face="Arial" size="2"><br />
Sumber arsip : Suara Karya, 12 Juni 2006</font><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2"><br />
<strong>Menjual Diri Lewat Weblog</strong></font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Sementara itu, guna mendukung generasi muda menyiapkan diri memasuki dunia kerja, Telkom Divre V Jatim menggelar seminar dan workshop "Menjual Diri Lewat Weblog" di kantor Telkom Margoyoso Surabaya, Sabtu.</font><font face="Arial" size="2">Kegiatan yang dibuka Deputy Executive General Manager Telkom Divre V Jatim, Husni Thamrin itu, diikuti 90 peserta dan dibagi dalam dua sesi itu, menghadirkan pembicara Lendy Widayana, praktisi yang juga konsultan teknologi informasi (IT) dan mantan Direktur Ciputra Cyber Institute.</font></font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">"Telkom Jatim sangat konsen dan peduli untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia," kata Husni Thamrin sebagaimana dikutip di Antara seusai membuka acara yang diselenggarakan pukul 08.00-12.00 WIB dan 13.30-17.30 WIB tersebut.</font></font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Materi seminar dan workshop adalah masalah internet, khususnya dasar-dasar membuat weblog yang kini menjadi tren baru di dunia maya.Dengan mempunyai weblog yang mempunyai nilai jual, generasi muda tidak akan tergantung pada iklan lowongan kerja. Tapi dapat "menjual diri" melalui weblog.</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Weblog atau blog adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada 1997. Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diperbarui (update) secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang dianggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri. (Sadono)</font></p>
<hr noshade="noshade" size="3" width="100%" /><font face="Arial" size="2"><br />
<font face="Arial" size="2">Sumber arsip : SuaraSurabaya.Net, 10 Juni 2006<br />
Laporan Iping Supingah</font></font><font face="Arial" size="2"></p>
<p><strong>Workshop Weblog<br />
Persiapkan Generasi Muda Rambah Dunia Kerja</strong></font></p>
<p><font face="Arial" size="2">Untuk mempersiapkan generasi muda yang siap mandiri dalam merambah dunia kerja, Telkom Jawa Timur menggelar seminar dan workshop "Menjual Diri Lewat Weblog." Ini merupakan consern Telkom Jawa Timur dan kepeduliannya untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><br />
Seminar dan workshop ini dilaksanakan di Kantor Telkom Surabaya Barat Jl. Margoyoso Surabaya. Karena banyaknya peserta yakni sekitar 90 orang maka kegiatan ini dibagi dalam 2 sesi. Sesi pertama dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 12.00 WIB, sedangkan sesi kedua dimulai pukul 13.30 dan berakhir pukul 17.30 WIB.</font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">HUSNI TAMRIN Deputy Executive General Manager Telkom Divre V Jawa Timur kepada <strong>suarasurabaya.net</strong> disela-sela membuka workshop "Menjual Diri Lewat Weblog" ini mengatakan, weblog hanyalah salah satu manfaat yang bisa diambil dari internet.</font><font face="Arial" size="2">"Telkom sangat consern untuk mengedukasi generasi muda dan komunitas-komunitas dalam masyarakat untuk merasakan besarnya manfaat internet," paparnya.</font></font><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Materi yang diberikan dalam workshop ini sedang dinantikan oleh kebanyakan generasi muda karena merupakan trend baru di internet.</font><font face="Arial" size="2">"Dengan mempunyai weblog yang mempunyai nilai jual, generasi muda tidak akan tergantung pada iklan lowongan pekerjaan," tambahkan DJADI SOEGIARTO Communication Manager Telkom Divre V Jawa Timur.</font><font face="Arial" size="2">Workshop yang digelar Telkom Divre V Jatim dan didukung oleh Suara Surabaya Media ini menghadirkan pembicara LENDY WIDAYANA praktisi dan konsultan IT yang juga mantan Direktur Ciputra Cyber Institute.</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">LENDY waktu ditemui  <strong>suarasurabaya.net</strong> mengatakan, ilmu yang ia berikan pada peserta, masih dasar-dasarnya bagaimana membuat weblog dan pengisiannya. Belum sampai pada <em>content</em>-nya secara mendetil.</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">"Paling tidak kalau sudah tahu cara membuat dan mengisi weblog, paling tidak mereka bisa mengekspos diri masing-masing supaya diperhitungkan orang," ujarnya.</font></font></p>
<hr noshade="noshade" size="3" width="100%" /><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Sumber arsip : SuaraSurabaya.net<br />
10 Juni 2006, 21:09:11, Laporan Iping Supingah</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><br />
<strong>Weblog Jadi Satu Kekuatan Untuk Publikasi</strong></font><font face="Arial" size="2"></p>
<p><font face="Arial" size="2">Weblog jadi satu kekuatan baru untuk publikasi di internet, kata LENDY WIDAYANA Praktisi dan Konsultan Information Technology (IT). Disela-sela jadi pembicara workshop "Menjual Diri Lewat Weblog" yang digelar Telkom, Sabtu (10/06) LENDY pada <strong>suarasurabaya.net</strong> mengatakan, awalnya weblog banyak dimanfaatkan sebagai <em>diary</em>, tapi dalam perkembangannya dijadikan sarana publikasi pribadi.</font></font><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Kata LENDY, data hingga Desember 2005 dari 12 juta pengguna internet di Indonesia, baru 0,04 persen yang memanfaatkan fasilitas weblog ini. "Tapi dalam perkembangannya dari bulan ke bulan terjadi peningkatan yang luar biasa mencapai 10 persen. Terutama para mahasiswa dan pelajar banyak yang membuat weblog pribadi," paparnya.</font><font face="Arial" size="2">Ini terbukti dari pengakuan MAHFUD mahasiswa F-MIPA Unibraw Malang, satu diantara peserta workshop waktu ditemui <strong>suarasurabaya.net</strong> mengatakan, ia tertarik ikut workshop dengan tujuan ingin membuat weblog untuk mempublikasikan dirinya, tanpa harus susah-susah beriklan di media massa.</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Begitu juga pengakuan HAIKAL BAHANAN pelajar yang baru lulus SMA di Ponpes Mhar Al Zaytun Indramayu, Jawa Barat yang juga jadi peserta worshop weblog. Menurutnya mengetahui dasar-dasar pembuatan weblog sangat penting, karena ia sendiri akan memanfaatkan weblog untuk menjaring komunitas di bidang animasi.</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Tidak ketinggalan dengan WIDODO BASUKI, pria berusia 45 tahun yang profesinya sebagai konsultan bidang properti ini akan memanfaatkan weblog sebagai sarana publikasi usahanya. "Kalau buat website seperti company profile itu kan sulit dan mahal biayanya, saya mau coba pakai weblog yang lebih gampang dan murah ini," ujarnya.</font></font></p>
<p><font face="Arial" size="2"><font face="Arial" size="2">Seperti diberitakan sebelumnya, untuk mempersiapkan generasi muda yang siap mandiri dalam merambah dunia kerja, Telkom Jawa Timur menggelar seminar dan workshop "Menjual Diri Lewat Weblog." Kegiatan ini diikuti 90 peserta dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa dan profesional. Acara dilaksanakan di kantor Telkom Surabaya Barat didukung Suara Surabaya Media.</font></font></p>
<p align="center"> Rekaman Visual<br />
<em>Foto-foto : Lendy Widayana </em></p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center"><img src="http://i60.photobucket.com/albums/h38/lendy_photos/dontmissit/depkadivrev.jpg" alt="Deputy Kadivre V" border="2" height="345" width="281" /><br />
Husni Tamrin, Deputy Executive<br />
General Manager Telkom Divre V<br />
Jawa Timur saat membuka workshop</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center"><img src="http://i60.photobucket.com/albums/h38/lendy_photos/dontmissit/suasana1.jpg" alt="Suasana workshop" border="2" height="300" width="400" /><br />
Suasana workshop weblog</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center"><img src="http://i60.photobucket.com/albums/h38/lendy_photos/dontmissit/antargenerasi.jpg" border="2" height="400" width="344" /></p>
<p align="center"> <img src="http://i60.photobucket.com/albums/h38/lendy_photos/dontmissit/kakad-adik.jpg" border="2" height="377" width="326" /><br />
Lintas Generasi. Peserta weblog terdiri dari<br />
berbagai kalangan usia dan profesi.</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center">&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2002] Seharusnya Internet Sudah Integral dalam Dunia Pendidikan]]></title>
<link>http://dontmissit.wordpress.com/2002/08/20/seharusnya-internet-sudah-integral-dalam-dunia-pendidikan/</link>
<pubDate>Tue, 20 Aug 2002 20:10:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>dontmissit</dc:creator>
<guid>http://dontmissit.id.wordpress.com/2002/08/20/seharusnya-internet-sudah-integral-dalam-dunia-pendidikan/</guid>
<description><![CDATA[Sumber arsip : Kompas Jawa Timur


Senin, 19 Agustus 2002


&nbsp;


&nbsp;


&nbsp;


PERKEMBANGAN ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber arsip : Kompas Jawa Timur</p>
<table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="95%">
<tr>
<td align="right"><font color="#cc0000" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="1"><strong>Senin, 19 Agustus 2002</strong></font></td>
</tr>
<tr>
<td height="6">&#160;</td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#8f8f8f" height="1">&#160;</td>
</tr>
<tr>
<td height="15">&#160;</td>
</tr>
<tr>
<td><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><strong>P</strong>ERKEMBANGAN teknologi informasi (TI) sekarang sudah merupakan kebutuhan, termasuk bagi dunia pendidikan. Bahkan bagi mahasiswa termasuk, juga pelajar, dunia maya merupakan sumber informasi yang tidak akan ada habisnya untuk diserap. Hal ini tentu menjadi salah satu penunjang pendidikan. </font><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Dalam sebuah perbincangan di Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Jumat (16/8), terungkap peranan TI-dalam hal ini lebih terfokus pada Internet-masih menjadi sebatas penunjang pendidikan, sekalipun untuk kondisi seperti di Indonesia masih banyak menemui kendala yang tidak menunjang masyarakat untuk ber-Internet, akibatnya sarana yang seharusnya murah ini ketika dioperasikan menjadi sangat mahal, terutama membayar tagihan pulsa telepon.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">"Hal ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur yang ada di Indonesia dan kurangnya kemandirian siswa," tutur Arlinah, staf pengajar UK Petra. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Perubahan pola pendidikan yang mengemuka saat ini seharusnya memungkinkan Internet menjadi salah satu sarana pokok. "Saat ini, mahasiswa masih datang ke kampus, mengikuti kuliah, dan menjadikan Internet sebagai salah satu sarana penunjang pendidikan," tutur Arlinah. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Padahal, dalam perkembangannya nanti perguruan tinggi (PT) dapat menyelenggarakan sekolah jarak jauh, sehingga mahasiswa tidak harus datang dan bertatap muka dengan pengajar. "Materi kuliah dapat diperoleh dengan cara mengakses situs <em>web</em> yang dimaksud. Misalnya yang sudah dilakukan oleh universitas terbuka," kata Arlinah, yang meyakini bahwa kampus virtual ini dapat berkembang sesuai tuntutan zaman.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Perubahan pola pikir ini, menurut Academic Director Ciputra Cyber Institute Lendy Widayana, menjanjikan kemudahan dan kecepatan. "Upaya ini tepat sekali dikembangkan untuk mengejar ketertinggalan," kata Lendy.</font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Sayangnya, kemampuan Internet "hanya" digunakan ala kadarnya. Arl