<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>aqidah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/aqidah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "aqidah"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 12:35:34 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Keajaiban-Keajaiban Di Majelis Rasulullah]]></title>
<link>http://assajjad.wordpress.com/?p=340</link>
<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 03:52:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>assajjad</dc:creator>
<guid>http://assajjad.id.wordpress.com/2008/10/12/keajaiban-keajaiban-di-majelis-rasulullah/</guid>
<description><![CDATA[Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Saya pernah mendengar istilah mantan HT, man]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Saya pernah mendengar istilah mantan HT, mantan JT, mantan PKS, mantan Salafy, dsb. Namun Alhamdulillah, belum ada yang berkata bahwa dirinya adalah mantan Majelis Rasulullah. Maaf saya menulis ini bukanlah untuk pamer atau promosi, akan tetapi hanya untu tahadduts bin ni’mah, insya Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa mereka begitu betahnya 10 tahun bersama majelis ta’lim yang kerjanya cuma menabuh hadroh tiap malam? Bukannya berkurang, anggota Majelis Rasulullah semakin bertambah banyak, baik yang hadir di majelis fisik maupun secara virtual melalui internet.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena mengagumkan seperti ini. Faktor utamanya tentulah adanya keridhoan Allah atas majelis ini. Bukti keridhoan Allah itu terbentang sepanjang perjalanan da’wah Majelis Rasulullah.<!--more--></p>
<p><strong>Percobaan Pembunuhan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sudah beberapa kali Habib Munzir mengalami percobaan pembunuhan. Pernah mobil beliau dikejar-kejar dan ditabrak hingga keluar dari badan jalan. Alhamdulillah beliau selamat. Namun komplotan penabrak itu menghentikan mobil mereka dan keluar menghampiri mobil Habib Munzir. Maka terjadilah kejar-kejaran. Alhamdulillah Habib Munzir dan aktivis MR dapat selamat. Di lain waktu peristiwa seperti itu berulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernah juga beliau diracun dalam suatu perjamuan. Rupanya ada yang telah menyabotase hidangan bagi beliau. Beliau masuk rumah sakit dan dokter menyatakan beliau baru sembuh sekitar 8 tahun dari lumpuh, lalu beliau menelpon gurunya yakni Habib Umar bin Hafiz dan Habib Umar mengatakan beliau akan sembuh hanya dalam waktu 2 bulan dan ternyata Allah mengabulkan janji guru mulia Habib Umar bin Hafiz. Alhamdulillah Habib Munzir selamat dari racun berbahaya itu.</p>
<p><strong>Awan Berbentuk Lafazh Allah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke ‘Arasy.</p>
<p style="text-align:justify;">Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, “Kasihan jama’ah. Mereka duduk di bawah terik Matahari.” Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jama’ah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ‘ALLAH’ dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Habib Munzir mengajak jama’ah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jama’ah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jama’ah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jama’ah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/j4SpIY8iFM8'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/j4SpIY8iFM8&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p><strong>Di Jumpai 10.000 Malaikat di dalam Mimpinya</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Satu minggu setelah Kejadian besar di Monas, majelis rasulullah mengadakan tabligh setiap malam minggu, dan saat itu tabligh diadakan di kawasan menteng dalam, setelah habib munzir berceramah, beliau menyampaikan pesan, bahwa sebelum beliau sampai di majelis beliau bermimpi di bawa oleh 2 orang berwajah sangat terang dan berpakaian Aroby, 2 orang itu berkata “ikutlah dengan kami”, habib munzir bertanya “mau dibawa kemana saya”, 2 orang itu mengatakan akan membawanya kesatu tempat. Dan sesampainya di tempat itu habib munzir menceritakan kepada kami tempat itu mirip dengan sebuah stadium <span> </span>akan tetapi belum pernah dilihat sebelumnya, dan beliau ada di tengah-tangahnya bersama dengan 2 orang yang membawanya, dan beliau melihat disekitarnya dikelilingi orang yang bercahaya terus sampai tembus kelangit, bahkan beliau mengatakan kepada kami beliau sangat ketakutan melihat mereka, karena takut diapa-apakan. Kemudian 2 orang yang membawanya mengatakan “tahukah kamu siapa mereka? Mereka adalah para malaikat Allah yang akan hadir di majelis malam ini, mereka sudah berkumpul sejak pagi 10.000 di bumi dan 10.000 di langit. Akan tetapi beliau sangat rendah hati beliau berkata” ini adalah mimpi, boleh percaya, boleh juga tidak”. Akan tetapi bukankah mimpi orang sholeh itu nyata. Dan saya merasakan sendiri saat dzikir “Ya Allah 1.000X” nuansanya sangat mirip dengan kejadian agung di monas, cuaca tidak panas dan tidak dingin, sangat sejuk dan saya melihat ke atas langit begitu cerah tak ada awan sama sekali, namun anehnya tak terlihat satupun bintang, yang ada hanya selaput cahaya putih tipis, bahkan sangat tipis, namun mungkin cahaya inilah yang menghalangi cahaya bintang. Jamaah yang hadir saat itu mungkin merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan.</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ditemui Oleh Rasulullah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Inilah mungkin kejadian hebat yang rasakan selain kejadian Monas, pada saat malam pergantian tahun 2005 ke 2006, majelis di adakan di dekat stasiun manggarai di kediaman Ust.Ubaidillah. saat pergantian tahun dimana orang lain berpesta pora kami malah berkumpul untuk dzikir, setelah berceramah sampai kami menangis, habib munzir memimpin dzikir “Ya Allah 1.000X”, kejadian saat itu sangat mengharukan karena tepat jam 00.00. setelah dzikir selesai beliau berkata,”Ada yang sangat penting yang ingin aku katakan”, dan hal ini beliau rasa sangat penting. “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada waktu sebelum berangkat kesini, beliau SAW berkata kepadaku “Wahai Munzir sungguh Allah sangat menyukai apa yang kalian lakukan malam ini, dan hal ini sangat menyenangkan hatiku”. Dan kalau tidak salah beliau dijumpai Rasulullah dalam keadaan sedang terjaga, bukan tidur.</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rasul dan Imam Abdullah Al-Haddad Pernah Hadir di Majelis ini</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Sungguh hal yang mengejutkan kami, Nama majelis ini sudah di kenal sampai ke Sydney Australia. Padahal Habib Munzir belum pernah ke sana, dan tidak kenal dengan pemimpin ulama disana. Namun pada malam selasa, seorang ulama dari Australia dating ke majelis ini, dan beliau menyampaikan tausiah. Dan di akhir penyampaian beliau, beliau berkata ada yang ingin ku sampaikan dari istriku (hadir juga), istriku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, dan beliau melihat Rasulullah berjalan dan hadir di majelis ini, karena itulah kami ingin hadir di majelis ini”. Nama ulama ini adalah Syekh Abdul Muis, dan ternyata beliau adalah<span> </span>pemimpin para ulama di seluruh Australia. Dan satu minggu setelahnya, majelis diadakan seperti biasa malam selasa, sebelum habib ceramah dibacakan qasidah habib Abdullah Al-Haddad dan saya merasakan nuansa sangat berbeda dari biasanya, saat ceramah memang habib berhenti sebentar, kemudian meneruskan. Baru setelah selesai beliau berkata, “Tadi Syekh Abdul Muis menyampaikan pesan, dari Istrinya bahwa beliau bermimpi melihat Imam Abdullah Al-Haddad berdiri diatas makamnya, dan berjalan, beliau bertanya “mau kemana ya Imam”, kemudian Imam Al-Haddad berkata “Aku ingin hadir di Majelis Rasulullah”. </span></strong></p>
<p><strong>Sembuh dari Kanker Otak</strong></p>
<p>Pada akhir Agustus 2008, Habib Munzir diketahui menderita kanker otak. Dokter di RSCM telah angkat tangan. Namun beliau menghubungi Habib Umar Al-Hafizh, minta untuk didoakan. Alhamdulillah, kanker otak pun hilang seketika. Habib Umar juga menyampaikan, bahwa setelah itu, da’wah Majelis Rasulullah akan bertambah luas dengan cepat.</p>
<p><strong>Mata dan Telinga yang Tajam</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Kejadian ini nyata saya alami sendiri saat majelis di pejaten, saat itu saya agak di belakang dan di belakang saya ada orang tua dan anak-anak yang berkumpul dan bercanda, saya tidak dengar apa saja yang dikatakan oleh anak-anak itu, namun Subhanallah, beliau yang begitu jauh jaraknya dari kami sekitar 50m lebih mendengar dengan jelas, saat itu beliau sedang menyampaikan pelajaran dan berhenti sejenak dan mengerenyitkan keningnya (seperti kurang senang) dan berkata “Tolong para orang tua, anaknya di ajari adab”. Hal itu spontan mengejutkan kami semua, bahkan saya dan sahabat saya yang dekat dengan anak-anak itu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. Saat ziarah di makam Habib Priok, saya bertanya dalam hati saya “bau apa ini, seperti kok kaya’ dukun saja”. Dan beliau langsung ambil pengeras suara dan berkata “Hadirin mungkin ada yang bertanya di hatinya bau apa ini, ini adalah wewangian kayu gaharu, yang biasa di pakai sejak zaman tabi’in untuk pengharum ruangan, karena waktu itu belum ada parfum ruangan seperti sekarang, dan ini bukan seperti praktek perdukunan, jadi jangan buruk sangka dahulu”. Masya Allah kaget sekali saya, karena malunya saya langsung mundur kebelakang.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight:normal;"> </span></strong></p>
<p><strong>Da’wah Lembut yang Melembutkan</strong></p>
<p>Pernah Habib Munzir berbicara keras dalam suatu majelis. Maka sepulangnya dari majelis, Rasulullah datang menjumpai beliau (saya lupa, apakah dalam mimpi atau dalam jaga). Rasul berkata bahwa mereka adalah ummat Rasulullah, maka jangan lagi bicara keras terhadap mereka. Sejak saat itu, beliau berusaha untuk bicara penuh kelembutan. Da’wah lembut beliau semakin melembutkan hati jama’ah. Maka bertobatlah sejumlah preman, pezina, pengguna narkoba dan bergabung dalam cahaya kemulyaan setelah mendengarkan ceramah beliau yang terus memanggil hati-hati yang kelam akibat dosa-dosa yang menumpuk.</p>
<p>Bahkan pada tanggal 25 Desember 2007, beberapa Kristiani mendatangi rumah beliau untuk menyatakan ke-Islaman mereka. Hal ini terjadi tepat setelah tanggal 24 Desember 2007 malam, MR melafazhkan “Yaa Allahu” sebanyak 1000 kali untuk meredam kemurkaan Allah dari perkataan fitnah yang menyatakan bahwa Allah mempunyai putera.</p>
<p>Kelembutan hati Habib Munzir yang sering berjumpa Rasulullah baik dalam tidur maupun ketika terjaga telah mampu menembus kekerasan hati jama’ah dan melembutkan hati mereka. Maka semakin mereka merasakan manisnya khusyu, manisnya taubat, manisnya menyebut Asma Allah, manisnya sujud, manisnya ibadah, manisnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, manisnya rindu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manisnya kedekatan dengan Allah.</p>
<p>Habib Munzir tidak hanya mengajarkan ilmu syari’ah yang memenuhi aqal mereka. Tetapi ilmu syari’ah yang memenuhi hati mereka. Dari situlah terbit rasa kehambaan dan bukan adu ilmu. Dari situlah terbit rasa sayang dan bukan benci kepada sesama Muslim. Semakin sering mereka menziarohi Habib Munzir, semakin kuat cahaya kemulyaan itu mempengaruhi mereka. Malam demi malam, bagian-bagian hati mereka terobati. Bertambah kuat kesabaran mereka, bertambah redup kemurkaan mereka. Bertambah kuat kelembutan mereka, bertambah redup kekerasan mereka. Bertambah kuat tawadhu mereka, bertambah redup arogansi mereka.</p>
<p><strong>Ilmu yang Bersambung</strong></p>
<p>Ilmu yang diajarkan oleh Habib Munzir adalah ilmu-ilmu yang didapatnya secara bersambung dari guru-gurunya dari tabi’it tabi’in dari tabi’in dari shahabat dari Rasulullah dari malaikat Jibril dari Allah. Mungkin inilah salah satu hal yang menyebabkan Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Ikatan dalam keridhoan inilah salah satu hal yang menyebabkan mereka betah di Majelis Rasulullah. mengenai hal ini silahkan buka kategori <strong>sanad guru kami</strong></p>
<p><strong>Nasab beliau </strong></p>
<p>Beliau pernah berkata, karena pernah ada yang bertanya tentang nasab/silsilah beliau.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">“Terus terang saja catatan nasab saya ini saya kurang suka menampilkannya dan memamerkannya, karena belum pantas saya menyandang gelar keturunan Rasul saw, Yaa Allah.. betapa hinanya saya ini dan sangat jauh dari selayaknya keturunan Rasul saw.</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hamba penuh Dosa Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali' Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span> </span>Wallahu a’lam. Dan mungkin masih banyak lagi hal yang tidak bisa saya sampaikan disini Mohon maaf <span> </span>kalau ada kesalahan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Serpihan-Serpihan Syirik: Jimat dan Jampi-Jampi]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=268</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 22:27:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.id.wordpress.com/2008/10/12/serpihan-serpihan-syirik-jimat-dan-jampi-jampi/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi
Bila kita memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mereka sholat, bershod]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mereka sholat, bershodaqoh, berpuasa dan bahkan menunaikan ibadah haji, maka seringkali kita dapati di antara mereka mendatangi "Kyai" untuk mendapatkan benda-benda yang dikenal dengan jimat, agar jabatannya langgeng, bisnisnya berhasil, atau tubuhnya tidak mempan bila dikenai benda tajam. Bahkan mayoritas umat ini menganggap bila seorang "Kyai" atau "santri" memiliki "kelebihan" ini maka kedudukan agamanya mulia di sisi mereka. Bagaimana sebenarnya Islam menilai fenomena tersebut? Apakah ia diperbolehkan dalam Islam?<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Rosulullah sebagai Nabi dan pembawa agama yang penuh rahmat, sungguh telah menjelaskan tentang hukum jimat, baik dengan ucapan ataupun dengan perbuatan. Dengan ucapan, sebagaimana sabda beliau:</p>
<p style="text-align:right;">إِ نََّ الرُّقَََََََََى وَالتََّمَائِمَ وَ التِّوَلََََةََ شِِْركٌ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan tiwalah adalah syirik".</em> (<strong>H.R. Abu Dawud</strong> dan selainnya. Dishohihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam <strong>Shohihul Jami'</strong> no. 1632 dan <strong>Ash Shohihah</strong> no. 331 dan dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam <strong>Al Jami'ush Shohih</strong> 4/499).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan perbuatan, sebagaimana riwayat ‘Uqbah bin Amir Al Juhani <em>radliallohu ‘anhu</em>, ia menceritakan bahwa beliau ditemui sekelompok sahabat. Kemudian beliau membai'at sembilan orang dan tidak membai'at satu orang. Mereka bertanya: "Wahai Rosulullah, kenapa engkau membai'at sembilan orang dan tidak membai'at satu orang ini?". Beliau menjawab: <em>"Sesungguhnya dia membawa jimat."</em> Lantas beliau mengulurkan tangannya dan melepas jimat tersebut lalu membaiatnya". (<strong>H.R. Ahmad</strong>. Dishohihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam <strong>Ash Shohihah</strong> no. 492 dan dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam <strong>Al Jami'ush Shohih</strong> 6/294).</p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang mulia, dua hadits tersebut menerangkan tentang hukum haramnya memakai jimat, tiwalah (sejenis jimat yang dibuat dan dipakai untuk menjaga rasa cinta antara suami istri) dan jampi-jampi yang mengandung lafadz-lafadz kesyirikan. Masuk juga dalam larangan di atas segala sesuatu (jimat) yang dipakai, atau digantungkan sebagai sarana, atau segala sesuatu dengan sendirinya diyakini dapat mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam beberapa riwayat shohihah yang lain diterangkan tentang beberapa perkara yang perlu kita pahami:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Tidaklah dibedakan apakah jimat-jimat tersebut digantungkan pada anggota tubuh manusia, hewan, mobil, rumah, toko dan lain-lain. Hal ini Berdasarkan penuturan Abu Basyir Al Anshori <em>radliallahu ‘anhu</em> di dalam shohih Al Bukhori dan Muslim: "Maka Rosulullah mengutus seseorang (dalam riwayat lain: Zaid bin Haritsah) untuk tidak meninggalkan satu tali kekang pun pada leher unta (yang diyakini dapat menolak bala') melainkan harus dibuang". Asy Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahulloh</em> mengomentari riwayat tersebut: <strong>"Tidak mesti (larangan menggantungkan jimat) hanya berlaku kalau digantungkan pada leher hewan tunggangan. Kalau pun seandainya diikatkan pada tangan atau kakinya, maka hukumnya sama saja (dilarang). Sisi larangannya terletak pada jimat tersebut, bukan pada sisi tempatnya. Sisi tempat tidaklah berpengaruh (pada hukum keharamannya)."</strong> (<strong>Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid</strong> jilid 1, hal,176-177)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Tidak pula dibedakan apakah yang digantungkan itu terbuat dari tulang, tanduk, tali, rambut, dan lain-lain. Hal ini berlandaskan riwayat Ahmad dan At Tirmidzi dengan sanad yang hasan:</p>
<p style="text-align:right;">تَعَلَّقَ شَيْئا وُكِلَ إِلَيْه مَنْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Barangsiapa menggantungkan sesuatu (sebagai jimat) maka dicondongkan tawakalnya kepada benda itu."</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Bahasa Arab lafadz "شَيْئا." yang berbentuk nakirah apabila di dalam konteks kalimat syarat maka berfungsi umum yaitu segala sesuatu yang digantungkan sebagai jimat.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang dirahmati Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em>, manakala seseorang menggantungkan atau membawa jimat, maka tidaklah terlepas niatnya dari dua keadaan:</p>
<ol>
<li>Bila dia menggantungkan jimat disertai keyakinan bahwa jimat itu dapat mendatangkan manfaat dan menjauhkan dari malapetaka dengan sendirinya selain Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em>, maka ini adalah syirik besar yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam. Tidak bermanfaat sedikitpun dari amalannya, dan apabila meninggal dunia dan belum bertaubat maka dia menjadi penghuni neraka kekal, di dalamnya. <em>Wal ‘Iyadzubillah</em>.</li>
<li>Jika dia melakukan hal ini dengan keyakinan bahwa benda itu sebagai sarana atau sebab yang bisa mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya, dengan tetap meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Maha Mampu mendatangkan manfaat dan menjauhkan mudharat, maka dia terjatuh pada syirik kecil yang merupakan salah satu dosa terbesar. <em>Wallahulmusta'an</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah wahai saudaraku para pembaca! semoga Allah S<em>ubhanahu wa Ta'alaI</em> menyelamatkan kita semua dari segala jenis kesyirikan. Kalau demikian keadaannya maka tidak ada jalan lain melainkan kita harus meninggalkan benda-benda itu yang sama sekali tidak bisa mendatangkan manfaat ketika Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> menjauhkannya dari seseorang, dan tidak bisa menjauhkan mudharat ketika Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> menimpakannya pada seseorang. Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">َوإِنْ يَّمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَه إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِه يُصِيْبُ بِه مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِه وَهُوَ اْلغَفُورُ الرَّحِيمُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."</em> (<strong>Q.S. Yunus : 107</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan. Hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan mutlak. Dialah yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun timbul di benak kita, bagaimana kalau benda-benda yang digantungkan itu berupa tulisan ayat-ayat Al Qur'an atau do'a-do'a yang shohih dari Nabi?</p>
<p style="text-align:justify;">Para Ulama berbeda pendapat tentang masalah ini:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Di antara mereka ada yang membolehkannya berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:</p>
<p style="text-align:right;">وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Dan Kami telah turunkan dari Al Qur'an tersebut sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."</em> (<strong>Q.S. Al Isra' : 82</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">كِتَابٌ أَنْزَلْنهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ ... "<em>Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah ..."</em> (<strong>Q.S. Shaad : 29</strong>).</p>
<p style="text-align:justify;">2. Sebagian mereka tetap melarangnya berdasarkan keumuman hukum syirik dan larangan dalam hadits-hadits yang telah lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, karena beberapa alasan yang cukup kuat:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Tidak adanya contoh dari Rosulullah untuk menggantungkan ayat-ayat Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> untuk menolak bala'. Padahal pada saat itu bala' tersebut sudah ada dan banyak penulis wahyu yang mampu menulis ayat-ayat Allah pada benda-benda tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Menutup jalan yang mengantarkan seseorang untuk kemudian menggantungkan benda-benda sebagai jimat yang tidak tertulis lagi ayat-ayat Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em>, yang ini lebih keras keharamannya.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Bahwa ayat-ayat Al Qur'an sebagai obat bagi orang yang sakit dan sebagai barokah, yaitu dengan cara dibaca dan diamalkan, bukan dengan cara menggantungkan sebagai jimat. Alasan ketiga ini membantah cara pendalilan pendapat yang pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, para murid Ibnu Mas'ud dari kalangan para tabi'in, Asy Syaikh bin Baaz, Asy Syaikh ‘Utsaimin dan fatawa Al Lajnah Ad Da'imah.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka tampaklah dari penjelasan di atas, betapa besarnya kejelekan syirik ini. Menjadikan benda-benda mati yang tidak mampu memberi manfaat atau mencegah mudhorot walaupun kepada dirinya sendiri. Lalu bagaimana mungkin bisa memberikan manfaat dan menjauhkan mudharat dari selain dirinya?! Kita berlindung kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> dari fitnah dan musibah syirik yang bisa mencelakakan diri kita dan masyarakat ini. <em>Wallahulmusta'an</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Untaian Fatwa:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Asy Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan <em>Hafidhohullah</em> berkata: "Keberadaan bayi (yang digantungkan padanya benda-benda yang ditulisi do'a-do'a atau ayat-ayat Al Qur'an) mendapatkan ketenangan atau disembuhkan sakitnya ketika memakai benda-benda tersebut tidaklah menunjukkan bolehnya perbuatan itu. Karena ketenangan atau kesembuhan setelah menggantungkan benda-benda tersebut kadang-kadang karena bertepatan dengan takdir Allah. Namun mereka menduga-duga hal itu terjadi karena adanya benda-benda tadi. Kadang-kadang pula dalam rangka istidroj (tipu daya syaithan, -pent) dan ujian bagi mereka, sampai mereka terjatuh kepada yeng lebih jelek dari pada itu. Tercapainya tujuan manusia ketika melakukan perkara yang tidak disyariatkan tersebut, tidaklah menunjukkan bolehnya perkara tersebut. Maka manusia pun menyangka bahwa tujuan itu tercapai karena sebab benda tersebut sehingga terfitnahlah mereka. (<strong>Al Muntaqo min Fatawa Asy Syaikh Shoplih Al Fauzan</strong> jilid 1 hal, 167-168)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah penjelasan kami tentang masalah jimat dan hukum menggunakannya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanya - Jawab</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanya:</p>
<p style="text-align:justify;">Saya telah memahami bahwa jimat diharamkan dalam syariat Islam, lalu bagaimana dengan jampi-jampi ?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku yang mulia, di samping perkara jimat yang telah kita pahami bersama, tidak kalah pentingnya seorang yang beriman dan bertauhid untuk mengetahui tentang hukum jampi-jampi (ruqyah) menurut timbangan Islam dengan dalil-dalinya. Sehingga dia benar-benar terbimbing dalam melakukan dan meninggalkan suatu amalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dinul Islam yang diemban oleh Rasululloh tidaklah melarang suatu amalan kecuali agar agama pemeluknya (Islam) terjaga dari kerusakan. Tidak luput pula, perkara jampi-jampi yang berkaitan dengan tauhid seorang muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu Rosulullah di dalam riwayat yang telah lalu melarang jampi-jampi kalau ada unsur kesyirikan di dalamnya. Misalnya : Seseorang membaca jampi-jampi "Wahai Sayyidina Muhammad (dalam keadaan beliau telah wafat) sembuhkanlah dia dari sakitnya." Atau "Dengan barokah nabi-Mu Ya Allah, berikan dia anak!" Dan seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jampi-jampi atau dengan istilah lain "ruqyah" maka diperbolehkan selama tidak ada unsur kesyirikan di dalamnya. Dasar pembolehannya adalah ucapan nabi yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim di dalam <strong>Shahih</strong>nya:</p>
<p style="text-align:justify;">لاَبَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا <em>"Tidak mengapa menggunakan ruqyah selama tidak ada unsur kesyirikan."</em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat-riwayat yang shahihah lainnya menunjukkan bolehnya perkara tersebut. Contoh ruqyah yang diperbolehkan adalah ruqyah dengan membaca Al Qur'an agar disembuhkan dari penyakit, ataupun lafazh-lafazh lain yang dibolehkan dalam syariat. Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz <em>rahimahullah</em> berkata : "Demikianlah jampi-jampi, diharamkan bila tidak jelas (tidak dimengerti maknanya), adapun bila dimengerti maknanya, tidak terdapat padanya kesyirikan, dan tidak menyelisihi syariat Islam maka tidak mengapa. Karena Nabi pernah meruqyah (membacakan jampi-jampi) dan diruqyah (dibacakan pada beliau jampi-jampi), beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">لاَبَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا <em>"Tidak mengapa menggunakan ruqyah selama tidak ada unsur kesyirikan."</em> (<strong>H.R. Muslim</strong>) (<strong>Majallatul Buhuts Al Islamiyyah</strong> edisi 4, hal. 162)</p>
<p style="text-align:justify;">Namun para pembaca, penting bagi kita untuk menjaga keyakinan dalam membaca ruqyah yang diperbolehkan itu. Yaitu keyakinan bahwa ruqyah itu hanya sebagai perantara dan sebab yang menjauhkan seseorang dari mudharat dengan izin Allah <em>Ta'ala</em>. Ruqyah tersebut tidak mampu dengan sendirinya menjaga dari mudharat.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Imam As Suyuthi berkata : "Para ulama telah bersepakat atas bolehnya jampi-jampi di saat terpenuhi tiga syarat :</p>
<ol>
<li>Dari firman Allah atau Nama-Nama dan Sifat-Sifat Nya.</li>
<li>Dengan berbahasa Arab dan dimengerti maknanya.</li>
<li>Dengan keyakinan bahwa jampi-jampi itu tidak berpengaruh dengan sendirinya, akan tetapi dengan takdir dari Allah <em>Ta'ala</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">(<strong>Fathul Majid</strong>, hal. 151)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu A'lam Bish Showab</em></p>
<p style="text-align:justify;">(Sumber: http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun1=7)</p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/12/membentengi-diri-dari-sihir">Membentengi Diri dari Sihir</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/04/21/hukum-jimat-bertuliskan-ayat-alquran">Hukum Jimat Bertuliskan Ayat Al-Qur’ân</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/30/jimat-benarkah-dalam-agama">Jimat, Benarkah dalam Agama?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/04/22/adakah-jimat-dalam-islam">Adakah Jimat dalam Islam?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/11/berawal-dari-pandangan-mata">Berawal dari Pandangan Mata</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/31/awas-dukun-dan-tukang-ramal-penciduk-agama-dan-harta">Awas, Dukun dan Tukang Ramal Penciduk Agama dan Harta!</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/31/dukun-dan-tukang-ramal-penciduk-agama-dan-harta">Dukun dan Tukang Ramal, Penciduk Agama dan Harta</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/13/bolehkah-meminta-bantuan-jin">Bolehkah Meminta Bantuan Jin?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/22/astrologi-dalam-islam">Astrologi dalam Islam</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/02/19/tauhid-uluhiyyah-inti-ibadah">Tauhid Uluhiyyah, Inti Ibadah</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membentengi Diri dari Sihir]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=715</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 20:31:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.id.wordpress.com/2008/10/12/membentengi-diri-dari-sihir/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullaah
Saya seorang ibu rumah tangg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullaah</i></p>
<p align="justify">Saya seorang ibu rumah tangga yang telah menjalani pernikahan selama 17 tahun, dan telah dikaruniai  6 anak. Selama 17 tahun berumah tangga, hanya 5 tahun saya hidup bahagia. Selebihnya, saya jadi benci kepada suami saya. Saya tidak suka dia berhubungan dengan saya sebagaimana hubungan suami istri. Saya merasa tidak sanggup tidur bersamanya. Saya mengira semua ini karena pengaruh sihir, maka untuk menanggulanginya saya pergi ke tukang sihir dan “orang tua pintar”.</p>
<p align="justify">Mereka memberi saya beberapa jimat, namun saya tidak mendapatkan manfaat apapun darinya. Sebenarnya saya tidak percaya dengan seorangpun dari mereka. Saya juga pergi ke para dokter ahli jiwa (psikiater), namun juga tidak mendapat faedah apa-apa. Saya menginginkan suamiku dan tidak menginginkan  seorangpun selainnya. Namun rumah tangga saya hampir hancur. Apa yang harus saya lakukan  -semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> memberkahi anda-?<!--more--></p>
<p align="justify"><i>Samahatusy</i> Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <i>rahimahullaah</i> menjawab dengan cukup panjang sebagai berikut:</p>
<p align="justify">Penyakit yang datang belakangan itu memang bisa jadi karena pengaruh sihir. Bisa jadi pula pengaruh <i>‘ain</i>1 (mata), atau yang dinamakan orang dengan <i>nazhlah</i> dan <i>nafs</i>. Mungkin juga karena penyakit lain yang menyebabkan timbulnya hal tersebut.</p>
<p align="justify">Dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal serta bertanya kepada mereka. Jadi, perbuatan anda mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal merupakan perkara yang tidak diperbolehkan. Anda benar-benar telah berbuat salah. Anda harus bertaubat kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>. Karena Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> telah bersabda:</p>
<p align="right"><b>مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً</b></p>
<p align="justify"><i>“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.”</i> (<b>HR. Muslim</b> dalam <b>Shahih</b>-nya)</p>
<p align="justify"><i>‘Arraf</i> adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara (ghaib), dengan bantuan jin, dengan cara gaib atau tersembunyi. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan tempat bertanya (ketika ada masalah) dan tidak boleh dibenarkan, karena Nabi <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p align="right"><b>مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أ�نْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ</b></p>
<p align="justify"><i>“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin (dukun) lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka orang itu telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”</i></p>
<p align="justify">Maka tidak boleh mendatangi <i>kahin</i> (dukun), tidak pula tukang sihir, serta bertanya kepada mereka. Namun, anda bisa berobat kepada <i>tabib</i> (dokter) yang <i>ma’ruf</i> (dikenal) yang bisa jadi mengetahui obat apa yang dikenal bisa menyembuhkan perkara-perkara tersebut, baik berupa suntikan, pil, atau yang lainnya. Atau anda bisa mendatangi seorang pembaca Al-Qur’an atau seorang wanita shalihah yang akan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an (pada tangannya) lalu meniup-niupnya (dan diusapkan) kepada anda.</p>
<p align="justify">Tentunya meminta bantuan kepada wanita shalihah untuk mengobati anda lebih diutamakan (karena kalian sama-sama wanita) daripada memintanya kepada seorang lelaki. Semoga dengannya Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menghilangkan pengaruh <i>‘ain</i> atau sihir tersebut. Kalau terpaksa berobat kepada seorang lelaki, maka  jangan sampai terjadi <i>khalwat</i> (berdua-duaan dengannya). Anda harus disertai orang lain, baik ibu anda, saudara laki-laki anda, ayah anda atau semisal mereka. Orang itu cukup membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan anda mendengarkannya.</p>
<p align="justify">Mungkin pula pengobatan dengan cara menyediakan air dalam wadah, lalu dibacakan padanya surat Al-Fatihah, ayat Kursi, <b>ayat-ayat yang berbicara tentang sihir dalam surat Al-A’raf (ayat 117-122, -<i>pent</i>.), surat Yunus (ayat 81-82, -<i>pent</i>.), dan surat Thaha (ayat 69, -<i>pent</i>.). Juga membaca surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas)</b>. Dibacakan pula di air tersebut doa-doa seperti:</p>
<p align="right"><b>اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا<br />
بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ<br />
</b></p>
<p align="justify"><i>“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini, sembuhkanlah. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.</i></p>
<p align="justify"><i>Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”</i></p>
<p align="justify">Doa ini dibaca tiga kali, karena doa ini <i>tsabit</i> (pasti datangnya) dari Nabi <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> (sebagaimana termuat dalam <b>Ash-Shahihah</b>, -<i>pent</i>.)</p>
<p align="justify">Bila orang yang mengobati anda telah melakukan hal di atas, maka sebagian air itu anda minum, sisanya untuk membasuh tubuh anda. Pengobatan seperti ini mujarab untuk menyembuhkan pengaruh sihir dengan izin Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>. Demikian pula untuk mengobati seorang suami yang tercegah (tidak dapat) untuk menggauli istrinya. Juga untuk pengobatan <i>‘ain</i>, karena <i>‘ain</i> itu diobati dengan <i>ruqyah</i> sebagaimana Nabi <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p align="right"><b>لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ</b></p>
<p align="justify"><i>“Tidak ada pengobatan dengan ruqyah (yang paling tampak hasilnya/mujarab, -pent.) kecuali dari pengaruh ‘ain atau sengatan binatang berbisa.”</i></p>
<p align="justify">Pengobatan seperti di atas merupakan faktor-faktor kesembuhan yang terkadang Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menjadikannya bermanfaat.</p>
<p align="justify">Bisa pula pengobatan dengan cara mencampur air dengan tujuh daun <i>sidr</i> (bidara) hijau yang telah ditumbuk, lalu dibacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan di atas. Pengobatan seperti ini terkadang Allâh <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> jadikan bermanfaat. Dan kami telah melakukannya untuk mengobati banyak orang, Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> pun menjadikannya bermanfaat. Cara ini disebutkan oleh ulama, di antaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh penulis kitab <b>Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid</b>. Beliau sebutkan dalam bab <i>Ma Ja’a fin Nusyrah</i>. Bila anda memiliki kitabnya, silahkan menelaahnya. Atau tanyakan kepada orang-orang yang berilmu dien, mereka <i>insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala</i> akan menunaikan apa yang pantas.</p>
<p align="justify">Adapun kepada tukang sihir, <i>kahin</i> dan <i>‘arraf</i>, janganlah anda bertanya dan membenarkan mereka. Hendaknya anda menemui orang-orang yang berilmu haq dan para pembaca Al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan, sehingga mereka mengobati anda dengan bacaan-bacaan <i>ruqyah</i>. Atau anda mendatangi wanita-wanita shalihah dari kalangan pengajar/guru agama dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan. Semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menganugerahkan kesembuhan dan kesehatan kepada anda dengan sebab-sebab tersebut.</p>
<p align="justify">Termasuk perkara yang sepantasnya anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah <i>‘Azza wa Jalla</i> agar menghilangkan gangguan yang menimpa anda, karena Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menyukai bila diajukan permintaan pada-Nya. Dia telah berfirman:</p>
<p align="right"><b>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ</b></p>
<p align="justify"><i>“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.”</i> (<b>Ghafir: 60</b>)</p>
<p align="right"><b>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</b></p>
<p align="justify"><i>“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”</i> (<b>Al-Baqarah: 186</b>)</p>
<p align="justify">Sepantasnya anda mohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>. Demikian pula suami anda, ayah dan ibu anda, karena seorang mukmin itu seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Doa itu senjata orang mukmin, dan Allah <i>‘Azza wa Jalla</i> sendiri telah menjanjikan untuk mengabulkan doa. Maka anda harus bersungguh-sungguh dan jujur dalam doa anda, semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menganugerahi kesembuhan.</p>
<p align="justify">Selain itu, aku nasehatkan agar menjelang tidur, anda menggabungkan dua telapak tangan anda, lalu meniupnya dengan sedikit meludah dengan membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, tiga kali. Setelahnya dengan kedua telapak tangan tersebut anda mengusap kepala, wajah dan dada (berikut apa yang bisa dicapai oleh kedua telapak tangan dari bagian tubuh, -<i>pent</i>.), dilakukan sebanyak tiga kali. Perbuatan seperti ini termasuk sebab kesembuhan.</p>
<p align="justify">Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> sendiri melakukannya saat menjelang tidur dan ketika sakit, sebagaimana disebutkan dalam berita yang shahih dari ‘Aisyah <i>radhiyallaahu ‘anhaa</i> (dan ketika sakitnya bertambah parah, beliau memerintahkan ‘Aisyah agar melakukannya untuk beliau2, -<i>pent</i>.).</p>
<p align="justify"><b>Footnote:</b></p>
<p align="justify">1 Lihat pembahasan <i>‘ain</i> dalam rubrik Permata Hati, Majalah Syariah Vol. I/No. 04/Desember 2003/Syawwal 1424H.<br />
2 Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam <b>Shahih</b> keduanya</p>
<p align="right"><i>(Dinukil dari Majalah Asy Syariah, Vol. II/No. 24/1427H/2006, judul: Membentengi Diri dari Sihir,  kategori: Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 91-93. Dicopy dari http://ulamasunnah.wordpress.com)</i></p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/11/berawal-dari-pandangan-mata">Berawal dari Pandangan Mata</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/04/21/hukum-jimat-bertuliskan-ayat-alquran">Hukum Jimat Bertuliskan Ayat Al-Qur’ân</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/30/jimat-benarkah-dalam-agama">Jimat, Benarkah dalam Agama?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/04/22/adakah-jimat-dalam-islam">Adakah Jimat dalam Islam?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/12/serpihan-serpihan-syirik-jimat-dan-jampi-jampi">Serpihan-Serpihan Syirik: Jimat dan Jampi-Jampi</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/31/awas-dukun-dan-tukang-ramal-penciduk-agama-dan-harta">Awas, Dukun dan Tukang Ramal Penciduk Agama dan Harta!</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/31/dukun-dan-tukang-ramal-penciduk-agama-dan-harta">Dukun dan Tukang Ramal, Penciduk Agama dan Harta</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/13/bolehkah-meminta-bantuan-jin">Bolehkah Meminta Bantuan Jin?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/22/astrologi-dalam-islam">Astrologi dalam Islam</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/02/19/tauhid-uluhiyyah-inti-ibadah">Tauhid Uluhiyyah, Inti Ibadah</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IMAN KEPADA HARI AKHIR]]></title>
<link>http://allumajani.wordpress.com/?p=167</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 16:17:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>allumajani</dc:creator>
<guid>http://allumajani.id.wordpress.com/2008/10/10/iman-kepada-hari-akhir/</guid>
<description><![CDATA[IMAN KEPADA HARI AKHIR
oleh : Izzudin Karimi

Beriman kepada Hari Akhir artinya meyakini dengan tegu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">IMAN KEPADA HARI AKHIR</span><span style="color:#ff0000;"><br />
<span style="color:#000000;">oleh : Izzudin Karimi</span></span>
</p>
<p align="justify"><span style="color:#800000;">Beriman kepada Hari Akhir artinya meyakini dengan teguh apa yang diberitakan oleh Allah dalam kitabNya dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya terkait dengan peristiwa yang terjadi sesudah mati, mulai fitnah kubur, azab dan nikmat kubur dan seterusnya sampai surga dan neraka.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Beriman kepada Hari Akhir adalah rukun iman yang kelima dari enam rukun iman. Di dalam al-Qur`an dan di dalam hadits beriman kepada Hari Akhir sering digandengkan dengan beriman kepada Allah karena orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak mungkin beriman kepada Allah, orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak akan beramal, orang beramal karena ada harapan kemuliaan di Hari Akhir dan ada ketakutan terhadap azab di Hari akhir, jika dia tidak beriman kepadanya maka dia seperti orang-orang yang disebutkan oleh Allah dan firmanNya,<br />
<!--more baca lanjut--></span> <span style="color:#800000;"><br />
<em> “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” </em></span> <span style="color:#800000;">(Al-Jatsiyah: 24).</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Hari Akhir disebut demikian sebab tidak ada hari setelahnya. Perlu diketahui bahwa al-Qur`an menetapkan lima fase yang dilalui oleh setiap orang: fase ketiadaan, fase alam rahim, fase dunia, fase alam Barzakh dan yang terakhir adalah alam akhirat.</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Fase pertama</strong> ditetapkan oleh firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” </em>(Al-Insan: 1).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.” </em>(Al-Baqarah: 28).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Fase kedua</strong> ditetapkan oleh firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” </em>(Az-Zumar: 6).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” </em> (Al-Haj: 5).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Fase ketiga</strong> ditetapkan oleh firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” </em>(An-Nahl: 78).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.” </em>(Al-Haj: 5).</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Fase ketiga ini adalah fase ujian, ia merupakan tolak ukur kebahagiaan dan kesengsaraan untuk fase selanjutnya.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Firman Allah, <em> “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” </em>(Al-Mulk: 2).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Fase keempat</strong> ditetapkan oleh firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” </em>(Al-Mukminun: 100).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Fase kelima</strong> merupakan tujuan akhir, ia ditetapkan oleh firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di Hari Kiamat.” </em>(Al-Mukminun: 15-16).</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Dalil yang menetapkan kewajiban beriman kepada Hari Akhir berjumlah banyak, ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Yang pertama hadir dalam bentuk perintah beriman kepada Hari akhir dan penetapan bahwa beriman kepada Hari Akhir termasuk sifat orang-orang yang beriman. Yang kedua tentang penetapan terhadap sebagian perkara hari Akhir seperti kebangkitan, hisab, pembagian buku catatan amal dan lain-lain.</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Dalil yang pertama</strong> seperti firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” </em>(Al-Baqarah: 62).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” </em>(Al-Baqarah: 177).</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Sabda Nabi saw,</span></p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#800000;"> أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُوْلِهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ .</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>“Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, kepada Hari Akhir dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Dalil yang kedua</strong><br />
seperti firman Allah tentang kebangkitan,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” </em>(At-Taghabun: 7).</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Firman Allah tentang hisab dan pembagian buku catatan,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemuiNya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku.’ Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” </em>(Al-Insyiqaq: 6-12).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Metode al-Qur`an dalam menetapkan kehidupan setelah kematian</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Di antara perkara pokok yang menjadi pertentangan antara Rasulullah saw dengan masyarakat jahiliyah adalah kehidupan sesudah kematian. Masyarakat jahiliyah menganggap mustahil dan tidak nalar kalau jasad yang sudah habis dimakan tanah dihidupkan kembali. Di dalam al-Qur`an Allah menyampaikan ucapan-ucapan mereka yang mengungkapkan pengingkaran mereka terhadap kehidupan setelah kematian. Firman Allah,</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Mereka berkata, ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan ? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!" </em>(Al-Mukminun: 82-83).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.” </em>(Qaaf: 3).</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Penyair mereka berkata,</span></p>
<p dir="rtl" align="justify"><span style="color:#800000;"> أمَوتٌ ثُمَّ بَعْثٌ ثُمَّ حَشْرٌ<br />
حَدِيْثُ خُرَافَةٍ يَا أُمَّ عَمْرٍو</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Kematian kemudian kebangkitan kemudian pengumpulan<br />
Pembicaraan khurafat wahai Ummu Amr</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Karena kuatnya pengingkara mereka terhadap kebangkitan sesudah kematian maka al-Qur`an menyanggah dan meyakinkan mereka dengan metode:</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>A. </strong>Al-Qur`an menetapkan kodrat dan kekuasaan Allah dalam menciptakan makhluk-makhluk yang besar lagi agung. Selanjutnya al-Qur`an menetapkan jika Allah berkuasa menciptakan makhluk-makhluk tersebut lalu apa yang menghalangi Allah untuk menghidupkan orang mati di mana ia lebih mudah?</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Firman Allah, <em> “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” </em>(Al-Ahqaf: 33).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” </em>(Ghafir: 57).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>B.</strong> Al-Qur`an menetapkan bahwa Allah menciptakan manusia yang sebelumnya dalam ketiadaan, selanjutnya al-Qur`an menetapkan jika Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan niscaya lebih mudah bagiNya mengembalikan manusia yang sebelumnya telah ada karena siapa pun mengetahui bahwa mengembalikan yang sudah ada lebih mudah daripada menciptakan dari ketiadaan.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Firman Allah, <em> “Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”<br />
</em>(Ar-Rum: 27).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” </em>(Yasin: 78-79).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>C.</strong> Al-Qur`an mengajak manusia melihat kepada bumi yang mati lalu Allah menurunkan air dari langit dan menghidupkan bumi. Bukankah ini adalah menghidupkan setelah kematian?</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Firman Allah, <em> “Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” </em>(Al-Haj: 5).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” </em>(Az-Zukhruf: 11).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>D. </strong> Al-Qur`an menetapkan peistiwa-peristiwa penghidupan sebagian orang yang mati di dunia ini sebagai bukti tidak terbantahkan akan kekuasaan Allah dalam menghidupkan setelah mematian.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Firman Allah, <em> “Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu. Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaannya agar kamu mengerti.” </em>(Al-Baqarah: 72-73).</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu,’ kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” </em>(Al-Baqarah: 243). (alsofwah.or.id)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Accept the Reports As They Are]]></title>
<link>http://wayofthesalaf.wordpress.com/?p=102</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 14:19:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>wayofthesalaf</dc:creator>
<guid>http://wayofthesalaf.id.wordpress.com/2008/10/10/accept-the-reports-as-they-are/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah
Taken from (The Creed of the Pious Predecessors-The People of Hadeeth) by The Great Imaam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div id="post_message_157268">Bismillah</p>
<p>Taken from (The Creed of the Pious Predecessors-The People of Hadeeth) by The Great Imaam Aboo 'Uthmaan Ismaa'eel ibn 'Abdur-Rahmaan As-Saaboonee (rahimahullah) [Masjid Ibnu Taymeeyah Publication]</p>
<p>Chapter 7</p>
<p>The Position of the Salaf (Regarding These Narrations)</p>
<p>72. Yazeed ibn Haroon related in a meeting a hadeeth of Ismaa'eel ibn Abee Khaalid, from Qais ibn Abee Haazim, from Jareer ibn 'Abdullah, that the Messenger of Allah salalahu alayhi wa salam said:</p>
<p>"Indeed you will see your Lord, like you see the full moon." [Related by Ibn Khuzaimah in Kitaab ut-Tawheed 1:407-411]</p>
<p>So a man in the meeting said to him: 'O Aboo Khaalid, what is the meaning of this hadeeth?' He in reply got angry and said:</p>
<p>"How great is your resemblance to Sabeegh and how great is your need for that which was done to him. Woe be to you, and who knows how it will be? For who is it permissible to transgress this statement which the Hadeeth came with or to speak about it from one's own desires, unless it be the one who ridicules himself and belitles his religion. Whenever you hear a hadeeth from the Messenger of Allah (salalahu alayhi wa salam), follow it and do not innovate in it. Indeed if you follow it and do not dispute about it, you will be saved. If not you will be destroyed."</p>
<p>73 The story of Sabeegh which Yazeed ibn Haaroon referred to when he said:</p>
<p><strong>"How great is your resemblance to Sabeegh and how great is your need for that which was done to him."</strong></p>
<p>It is related by Yahya ibn Sa'eed from Sa'eed ibn al-Musayyab: That Sabeegh at-Tameemee came to the chief of believers, 'Umar ibn al-Khattaab radiallahu anhu, and said: 'O chief of the believers, tell me about the verse:</p>
<p><strong>"The Dhaariyaat that scatter dust"</strong></p>
<p>He replied: "It is the winds and if I had not heard the Messenger of Allah salalahu alayhi salam say so, I would not have said it." Sabeegh said:</p>
<p>'So tell me about the verse:</p>
<p><strong>"And they bear the heavey weight of water"</strong></p>
<p>He replied: "It means the clouds, and If I had not heard the Messenger of Allah salalahu alayhi wa salam say so, I would not have said it." Sabeegh said:</p>
<p>"So tell me about the verse:<br />
<strong>"And those who distribute by command."</strong></p>
<p>He replied: "It means the Angels, and If I had not heard the Messenger of Allah salalahu alayhi wa salam, say so, I would not have said it." Sabeegh said:</p>
<p>"So tell me about the verse:</p>
<p><strong>"And those which float with ease"</strong></p>
<p>He replied:<br />
"It means the ships, and If I ha dnot heard the Messenger of Allah salalahu alayhi wa salam say so, I would not have said it."</p>
<p>Then 'Umar (radiallahu anhu) ordered the man to be whipped one hundred times. Then he was confined to a room. When he had recovered, he was called for and he was whipped again one hundred times until he was carried away on a saddle. Then 'Umar wrote to Aboo Moosa al-Ash'aree (radiallahu anhu) stating that he, (Sabeegh) was to be prevented from attending the meetings of the people. That remained the case, until Sabeegh came to Aboo Moosa and swore that there was not anything in him now from what was in himbefore. So Aboo Moosa wrote to Umar, who replied: I think that he has indeed spoken the truth so let him with with the people.<br />
<span style="color:#0000ff;">[Related by al-Bazzaar 299, Ibn Katheer in his Tafseer 7:390 and Ibh Hajar in al-Isaabah 2:199. Al-Aajuree says in ash-Sharee'ah p.74 </span><strong>"The man was whipped because he used to seek the interpretation of the unclear verses of the Quraan (the mutashaabih) and he used to busy himself with knowledge which was not beneficial." </strong>)</div>
<p><!-- / message --><!-- sig --></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Who are the "Salafis"?]]></title>
<link>http://elaelaela.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 12:44:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>asyiqahbillah</dc:creator>
<guid>http://elaelaela.id.wordpress.com/2008/10/10/who-are-the-salafis/</guid>
<description><![CDATA[The description &#8220;Salafi&#8221; applies to one who truly attaches himself to the Salaf. This at]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>The description "Salafi" applies to one who truly attaches himself to the Salaf. This attachment is not to an arbitrary single person or group of people. It is an attachment to that which will never err - to the guidance of Muhammad (S), his Sahabai, and their true followers. Likewise, Salafiyyah (the Salafi Da'wah) is not blind following of any particular Shaikh or Imam. It is adherence to the Qur'an and Sunnah as understood and practiced collectively by as-Salaf as-Salih. A true Salafi values Tawhid, singling out Allah in all acts of worship: in supplication, in seeking aid, in seeking refuge in times of ease and hardship, in sacrifice, in making vows, in fearing and hoping and total reliance, and so on. A true Salafi actively seeks to remove shirk (polytheism) with all his capacity. He knows that victory is not possible without true Tawhid, and that shirk cannot be fought with the likes of it (i.e., with another form of shirk). A true Salafi adheres to the Sunnah of the Prophet (S) and of his companions after him.</p>
<p>The Prophet (S) said, Adhere very closely to my Sunnah and the Sunnah of the rightly guided successors after me; bite on to it with your molar teeth, and beware of the newly invented matters. [Authentic; recorded by Abu Dawud and at-Tirmidthi. Whenever there is a difference of opinion, a true Salafi refers matters to Allah and His Prophet (S), acting in accordance with the ayah: If you differ in anything among yourselves, refer it to Allah and His Messenger if you do believe in Allah and the Last Day, that is better and more suitable for final determination [An-Nisa 4:59]. He gives precedence to the Word of Allah and of His Prophet (S) over the opinion of anyone else, in according with the ayah: Believers! Do not put your opinions forward ahead of Allah and His Messenger, and fear Allah. Verily Allah is All-Hearing and All-Knowing. [Al-Hujurat 49:1].</p>
<p>A true Salafi revives the Sunnah of the Prophet (S) in his worship and behavior. This makes him a stranger among people, as the Prophet (S) has described: Islam began as a stranger, and it will revert to being a stranger just as it began. So give glad tidings to the strangers. [Recorded by Muslim]. And he (S) said in another narration: So give glad tidings to the few, those who purify and correct what the people have corrupted of my Sunnah. [Authentic; al-Albani's as-Silsilat us-Sahihah number 1273].</p>
<p>A true Salalfi enjoins the good and forbids the evil. He warns people, out of deep concern, about shirk, innovations, misguided ways, and of deviant, destructive groups: Let there arise out of you a band of people inviting to all that is good, enjoining what is right and forbidding what is wrong [Aal Imran 3: 104].</p>
<p>A true Salafi constantly seeks Allah's forgiveness, makes true repentance, remembers Allah abundantly, and rushes to perform the righteous deeds in order to purify his soul. Thus he attempts to follow the ayah: Truly he succeeds who purifies it (i.e., the soul) [Ash-Shams 91:8].</p>
<p>A true .Salafi worships Allah out of a combination of Fear, Hope and Love. Allah says (what means): Call upon Him, with Fear and Hope. [Al-Araf 7:56]. And He says (what means): There are people who take [for worship] alleged rivals to Allah, loving them as only Allah should be loved. But the Believers love Allah more than all else. [Al-Baqarah 2:165].</p>
<p>A true Salafi is not of the Khawarij who consider most Muslims to be kafirs (disbelievers) because of committing sins. He is not of the Shiah who revile the Sahabah, who claim that the Qur'an has been altered, who reject the authentic Sunnah, and who worship the Prophet's Family. He is not of the Qadariyyah who deny qadar (the Divine Decree). He is not of the murjiah who claim that iman is only words without deeds. He is not of the Mu'attilah who deny Allah's Attributes. He is not of the Sufis who worship graves and claim Divine incarnation. He is not of the Muqallidun who insist that every Muslim should adhere to the Madth'hab (understanding) of a particular imam or shaikh, even when that madth'hab conflicts with the clear texts of the Qur'an or authentic Sunnah.</p>
<p>Thus the true Salafs are Ahl us-Sunnati wal-Jamaah. They are at-Ta'ifat ul-Mansurah (the Aided, Victorious Group) and al-Firqat un-Najiyah (the Saved Party) which have been described in several hadiths. The Messenger (S) said: A group from my Ummah (nation or community) will always be aided with victory as they continue to persevere upon the Truth; they will not be harmed by those who abandon them or those who oppose them. [Recorded by Muslim]. And he (S) said: This Ummah will split into seventy three parties, all of which will go to Hell - except for one party: the one which will follow the same path as what I and my companions are following today. [Authentic; recorded by Abu Dawud, at-Tirmidthi, and others]. In one report he (S) described this Saved Party as: ... except for one party, which is the Jama'ah.</p>
<p>Upon comprehending this, a Muslim has no option but to be salafi. In doing so he attaches himself to that group which has been guaranteed success, victory, salvation and safety from the Fire.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[What or Who is "Salaf" ?]]></title>
<link>http://elaelaela.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 12:41:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>asyiqahbillah</dc:creator>
<guid>http://elaelaela.id.wordpress.com/2008/10/10/what-or-who-is-salaf/</guid>
<description><![CDATA[As-Salaf us-Salih (or briefly: the Salaf) refers to the first and best three generations of Muslims.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">As-Salaf us-Salih (or briefly: the Salaf) refers to the first and best three generations of Muslims. They are the Companions (Sahabah) of the Prophet (S), their immediate followers (Tabiun), and the followers of the Tabi'in. These were praised by the Prophet (S): The best of people is my generation, then those who come after them, then those who come after them [Bukhari and Muslim]. The term Salaf applies also to the Scholars of Ahl us-Sunnah wal-Jama'ah after the first three blessed generations who followed their way in belief and practices.</p>
<p>Allah (T) said (what means): The first to embrace Islam of the Muhajirin (those who migrated from Makkah to al-Madinah in obedience to Allah) and the Ansar (the citizens of al-Madinah who gave aid to the Muhajirin), and also those who follow them in the best way; Allah is well pleased with them, and they are with Him [At-Tawbah 9:100].</p>
<p>Among these scholars are (the number following the name is the Hijri year of death): Abu Hanifah (150), al-Awzai (157), ath-Thawn (161), al-Laith bin Sad (175), Malik bin Anas (179). Abdullah bin al-Mubarak (181), Sufyan bin 'Uyainah (198), ash-Shafi'i (204), Is'haq (238), Ahmad bin Hanbal (241), al-Bukhari (256), Muslim (261), Abu Dawud (275), Ibn Taymiyyah (728), adth-Dthahabi (748), Ibn ul-Qayyim (751), Ibn Kathir (774), Muhammad bin 'Abdil Wahhab (1206) and his many students, and, in our time: 'Abd ul-'Aziz bin Baz, Muhammad Nasir ud-Din al-Albani and others.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Salafi Da'wah]]></title>
<link>http://elaelaela.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 12:38:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>asyiqahbillah</dc:creator>
<guid>http://elaelaela.id.wordpress.com/2008/10/10/salafi-dawah/</guid>
<description><![CDATA[The Salafi Da&#8217;wah is that of the Qur&#8217;an and the Sunnah. It is the Religion of Islam - pu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">The Salafi Da'wah is that of the Qur'an and the Sunnah. It is the Religion of Islam - pure and free from any additions, deletions or alterations. It is to adhere to the Path of the Messenger (sallallahu 'alaihi wa sallam) and of the True Believers (as-Salaf us-Salih). As-Salaf is a collective term referring to the Pious Pioneers in Islam and all those who follow in their footsteps in belief, actions and morals.</p>
<p>Allah has said (what means): Whoever contends with and contradicts the Messenger after guidance has been clearly conveyed to him, and follows a path other than that of the Faithful Believers, We shall leave him in the Path he has chosen and land him in Hell, what an evil destination! [An Nisa 4:115].</p>
<p>Shaikh ul-lslam ibn Taymiyyah (rahimahullah) commented on this ayah: "All who contradict and oppose the Messenger (S), after the right path has been clearly shown to them, have followed other than the Path of the Believers. And all who follow other than the Path of the Believers have contradicted and opposed the Messenger (S). If one thinks that he is mistaken in following the Path of the Faithful Believers, he is in the same position as one who thinks that he is mistaken in following the Messenger (S)."</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memuliakan rumah-rumah Allah]]></title>
<link>http://ashaby.wordpress.com/2008/10/10/memuliakan-rumah-rumah-allah/</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 03:23:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>ashaby</dc:creator>
<guid>http://ashaby.id.wordpress.com/2008/10/10/memuliakan-rumah-rumah-allah/</guid>
<description><![CDATA[Penulis : al-Ustadz Muhaimin
Sumber Tulisan : http://darussalaf.org
Jenis file/size : pdf /121Kb
 
 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Penulis : al-Ustadz Muhaimin</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Sumber Tulisan : <a href="http://darussalaf.org/">http://darussalaf.org</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Jenis file/size : pdf /121Kb</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;color:#ff6600;"><a href="http://www.salafishare.com/21UF5JD4K6P1/MQ3NQCI.pdf"><span style="color:#ff6600;">DOWNLOAD </span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allah bersama sangkaan para hamba-Nya]]></title>
<link>http://drrazi.wordpress.com/?p=89</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 13:26:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>drrazi</dc:creator>
<guid>http://drrazi.id.wordpress.com/2008/10/09/allah-bersama-sangkaan-para-hamba-nya/</guid>
<description><![CDATA[
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><em><strong><span style="font-style:normal;">Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. <span style="text-decoration:underline;">Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada Ku.</span> Hendaklah mereka <span style="text-decoration:underline;">memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada Ku</span>, agar mereka memperoleh kebenaran. –al Baqarah 2:186-</span></strong></em></p>
[caption id="" align="aligncenter" width="350" caption="Mat Rempit = Hamba Tuhan"]<a href="http://drrazi.files.wordpress.com/2008/10/2588886939.jpg"><img class="size-full wp-image-90" title="2588886939" src="http://drrazi.wordpress.com/files/2008/10/2588886939.jpg" alt="Mat Rempit = Hamba Tuhan" width="350" height="250" /></a>[/caption]
<p><em>"hmm,aku ni budak jahat...mesti doa aku<span> </span>tak makbul..."</em><em><br />
<em>"aku ni bukan budak alim...."</em><br />
<em>"tak pelah, dah memang aku dilahirkan macamni, nak wat macam mane...."</em><br />
<em>"tak pela, aku suruh tok imam jelah doakan untuk arwah ibu aku. makbul sket."</em><br />
<em>"aku doa pon bkn makbul pon,malaslah.."</em></em></p>
<p>Ya Allah.....<br />
Akulah manusia, kuli dan hamba-Mu yang MAHA KAYA. Aku tidak layak menerima apa-apa. Aku banyak dosa. Aku banyak melanggar perintahmu,aku tidak layak mendapat apa-apa, <em><span style="text-decoration:underline;">namun aku tetap mahu bermohon kepadamu</span></em>, TUHAN YANG MAHA MEMAAFKAN DAN YANG MAHA MEMANJAKAN.</p>
<p>Sedarkah anda dengan nama tuhan yang satu ini? Tuhan sangat sayangkan kita. SANGAT. Sampai anda takkan mampu untuk membayangkan betapa sayangnya DIA pada kita. Kerana apa? Kerana sifat PENYAYANG allah tiada noktahnya.</p>
<p>Kita SANGAT2 sayang mak ayah kita. Duduk jauh beberapa bulan, terasa rindu untuk pulang, berjumpa, paling <em>koman</em> pon untuk mendengar suara mereka. Kalau ada yang mahu menghina mereka, mencela mereka,menindas mereka, pasti telanggarlah <em>"pantang nenek moyang!!!!"</em> kita kerana memikirkan usaha dan pengorbanan mereka membesarkan kita. Itulah secebis nikmat kasih sayang yang tuhan berikan pada kita dr sekian byk kasih sayangNya. Bayangkan, betapa besarnya 'kasih sayang' yang Allah miliki melalui sifat penyayangNya tu.</p>
[caption id="attachment_93" align="aligncenter" width="135" caption="&#34;kasih sayang&#34; ibu dan anak adalah cebisan dari sifat &#34;kasih sayang&#34; Allah...."]<a href="http://drrazi.files.wordpress.com/2008/10/3761988141.jpg"><img class="size-full wp-image-93" title="3761988141" src="http://drrazi.wordpress.com/files/2008/10/3761988141.jpg" alt="'kasih sayang' antara anak dan ibu adalah cebisan dari sifat 'kasih sayang' Allah...." width="135" height="235" /></a>[/caption]
<p>Jadi mengapakah kita 'sempitkan skop' kasih sayang Allah itu dengan mengatakan tuhan tidak menyayangi kita,<br />
tuhan tidak mengabulkan doa kita,<br />
tuhan tak nak dengar doa kita,<br />
tuhan jauh dari kita……kerana kita banyak dosa,<br />
Mengapa?<br />
Mengapa?<br />
Mengapa?</p>
<p>Tuhan yang maha memanjakan? Kenapa 'memanjakan'?</p>
<p>Kerana kita DIBIAR melakukan dosa, kita DIBIAR melakukan maksiat, kita DIBIAR melakukan perkara yang ALLAH marah tapi ALLAH tetap tak timbus kita dengan tanah. Tak jadikan muka kita tiba-tiba berubah jadi macam khinzir. Tak jadikan kaki kita kudung dilanggar bas. ALLAH MARAH TAPI ALLAH TETAP TAK HUKUM KITA. ALLAH MANJAKAN KITA!!!!!!!!!!!!!!!!</p>
<p>Tak malukah kita? Asyik meminta2, tapi sering berbuat dosa,membuat DIA marah. kemudian dengan selambanya 'merajuk' kalau apa yang kita nak, yang kita doa, tak dapat. Dengan selambanya 'merajuk' bila diuji dengan kehilangan barang, kecederaan, kesedihan dan sebagainya.</p>
<p><em>"Hmm, asyik2 aku je yang dapat kesusahan. Aku baik pon ALLAH tak perkenankan doa aku. Napela malang sangat nasib aku ni......"</em></p>
<p>Siapa kita untuk 'merajuk' dan 'merungut' dgn ALLAH? Kuli dan hamba sahaja. Tu pon die dh bagi oxygen, bagi tangan boleh tepuk nyamuk, bagi kaki bole lari2 kejar kucing, bagi mulut boleh makan nasi ayam TANPA KITA MINTA. Yang kita<span> </span>tak minta tu lagi penting, tapi DIA bagi jugak.(kalau kita terlupa nak mintak dan ALLAH terlupa nak bagi benda2 ape macam?) Tapi bila kita mintak, kite nak jd bos plak.  Nak on da spot. Pastu 'mrajuk' dengan ALLAH.</p>
<p><em>"tak naklah solat."<br />
"tak naklah pakai tudung"<br />
"tak naklah pegi kuliah2/ceramah2/tazkirah2 agama"<br />
"tak naklah baca buku agama"<br />
"malaslah nak solat awal waktu"<br />
"malaslah nak doa malam2 lagi"<br />
"malaslah nak menangis2 waktu qiamullail lagi"<br />
"malaslah"</em></p>
<p>ALLAH BERSAMA SANGKAAN PARA HAMBANYA. Bagaimana kita sangka ALLAH akan buat,begitulah yang dibuat olehNYA. Bagaimana kita sangka ALLAH,begitulah yang akan terjadi. Jadi sangkalah yang baik-baik sahaja dariNya. InsyaAllah yang akan kita dapat pon yang baik-baik belaka.</p>
<p>Bersangka baiklah, kan DIA yang lebih mengetahui? Eh silap, kan DIA lah yang MAHA mengetahui.....=)</p>
<p class="MsoNormal">Allah berfirman :</p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>“<span style="text-decoration:underline;">Aku bersama sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku</span>.</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan Aku akan selalu bersama hamba-Ku <span style="text-decoration:underline;">jika dia mengingati-Ku</span>.</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kalau dia mengingati-Ku didalam dirinya,Aku mengingatinya dalam diriku.</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Apabila dia mengingatiku di khalayak ramai, Aku mengingatinya di tgh khalayak yang lebih ramai lagi (para malaikat dan seluruh makhluk). </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya (lebih dekat lagi) sehasta.</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Apabila dia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa.</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Apabila dia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan setengah berlari”</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hadith Qudsi (hadith yang dilafazkan oleh nabi tetapi mengandungi firman Allah) riwayat al-Bukhari</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bimbingan Iedul Fitri]]></title>
<link>http://umikalsm.wordpress.com/?p=22</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:45:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>umikalsm</dc:creator>
<guid>http://umikalsm.id.wordpress.com/2008/10/09/bimbingan-iedul-fitri/</guid>
<description><![CDATA[Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (’Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Alloh dan Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.</p>
<p> </p>
<p><strong>Definisi ‘Ied</strong></p>
<p>Kata <em>“Ied”</em> menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata <em>“Al ‘Aud”</em> yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan <em>“Al ‘Ied”</em> karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (<em>Ahkamul ‘Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan).</p>
<p>Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “<a title="Bimbingan Idul Fitri" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bimbingan-idul-fitri.html"><span style="color:#444444;">Iedul Fitri</span></a>” adalah <ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">kembali kepada <em>fitroh</em> (suci)</span></ins> karena dosa-dosa kita telah terhapus. <ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i</span></ins>. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” demikian, seharusnya namanya <em>“Iedul Fithroh”</em> (bukan <em>‘Iedul Fitri</em>). Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.</p>
<p>Dari Abu Huroiroh berkata: <em>“Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’” (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih) (Majalah </em><em>As Sunnah</em> 05/I, Ustadz Abdul Hakim). Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).</p>
<p><strong>Pensyariatan ‘Ied (hari raya) Adalah <em>Tauqifiyyah</em></strong></p>
<p>Hari raya (tahunan) yang dimiliki oleh kaum muslimin, hanya ada dua, yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. Adakah hari raya yang lain? Jawabnya: tidak ada. Karena pensyariatan hari raya merupakan hak khusus Alloh ‘azza wa jalla. Suatu hari dikatakan hari raya apabila Alloh menetapkan bahwa hari tersebut adalah hari raya (’Ied). Namun, jika tidak, kaum muslimin tidak diperkenankan merayakan atau memperingati hari tersebut. Alasannya adalah hadits Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan dari Anas <em>rodhiyallohu ‘anhu</em> bahwa beliau berkata, <em>“Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: ‘Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (’Iedul Adha) dan hari fitri (’Iedul Fitri).”</em> (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shohih)</p>
<p>Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat/bagus. (<em>Ahkamul ‘Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan). Tatkala Nabi datang, Alloh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Alloh pilih untuk hamba-hamba-Nya. Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi. Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari raya adalah <em>tauqifiyyah</em> (sesuai dengan perintah Alloh). Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Alloh (Al Qur’an) maupun Rosul-Nya (Al Hadits). Sehingga tidak benar, apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini, dengan melakukan berbagai macam peringatan/perayaan yang <ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">sama sekali tidak ada tuntunannya</span></ins>. Di antaranya: peringatan/perayaan maulid Nabi, Isro Mi’roj, Nuzulul Quran, hari Kartini, hari ibu, dan hari ulang tahun.</p>
<p><strong>Tuntunan Nabi Saat Hari Raya</strong></p>
<p>Perayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Alloh semata dan (2) Sesuai dengan tuntunan Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:</p>
<ol>
<li><ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">Mandi Sebelum ‘Ied</span></ins>: Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (<em>Ahkamul Iedain</em>, Dr. Abdulloh At Thoyyar - edisi Indonesia). <em>Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih)</em>. Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, <em>“Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.”</em> (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih, <em>Ahkamul Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan).</li>
<li><ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">Makan di Hari Raya</span></ins>: Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri <strong>sebelum</strong> melaksanakan sholat dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: <em>“Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.”</em> (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rosululloh mencegah persangkaan ini. (<em>Ahkamul Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan).</li>
<li><ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya</span></ins>: Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (<em>Ahkamul Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Alloh, di antaranya <strong>larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita</strong>.</li>
<li><ins datetime="00"><span style="text-decoration:underline;">Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya</span></ins>: Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, <em>“Rosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.”</em> (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (<em>Ahkamul Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan). Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan sholat, jika telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih).</li>
</ol>
<p><strong>Diperbolehkan</strong> saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan <em>“taqobbalalloohu minnaa wa minkum”</em> (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan <em>“a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah”</em> (Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (<em>Ahkamul Iedain</em>, Dr. Abdulloh At Thoyyar - edisi Indonesia).</p>
<p><strong>Jika Terkumpul Hari Jum’at dan Hari Raya Dalam Satu Hari</strong></p>
<p>Jika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban sholat Jum’at bagi orang yang telah melaksanakan sholat ‘Ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan sholat Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum sholat ‘Ied. Imam Ibnul Qoyyim <em>rohimahulloh</em> berkata, <em>“Diperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika ‘ied jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan sholat ‘ied saja dan tidak menghadiri sholat Jumat.”</em> (<em>Ahkamul Iedain</em>, Dr. Abdulloh At Thoyyar - edisi Indonesia).</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara Ringkas</strong></p>
<p>Karena terbatasnya jumlah halaman, berikut kami ringkaskan hal-hal yang terkait dengan sholat ‘Ied, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Dasar disyari’atkannya: QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Aku ikut melaksanakan sholat ‘Ied bersama Rosululloh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan sholat ‘Ied sebelum khutbah.”</em> (HR. Buhori dan Muslim)</li>
<li>Hukum sholat ‘Ied: <em>Fardhu ‘Ain</em>, menurut pendapat terkuat.</li>
<li>Waktu sholat ‘Ied: Antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu Dhuha), menurut kebanyakan ulama.</li>
<li>Tempat dilaksanakannya: Disunnahkan di tanah lapang di luar perkampungan (berdasarkan perbuatan Nabi), jika terdapat udzur dibolehkan di masjid (berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Tholib).</li>
<li>Tata cara sholat ‘Ied: Dua roka’at berjama’ah, dengan tujuh takbir di roka’at pertama (selain <em>takbirotul ihrom</em>) dan lima takbir di roka’at kedua (selain <em>takbir intiqol</em> -takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain).</li>
<li>Adzan dan iqomah pada sholat ‘Ied: Tidak ada adzan dan iqomah, atau seruan apapun sebelum dilaksanakan sholat karena tidak adanya dalil untuk hal tersebut.</li>
<li>Khutbah pada sholat ‘Ied: Satu kali khutbah tanpa diselingi dengan duduk, menurut pendapat yang terkuat.</li>
<li>Qodho’ sholat ‘Ied jika terluput: Tidak perlu meng-<em>qodho’</em>, menurut pendapat yang terkuat.</li>
</ol>
<p><strong>Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri</strong></p>
<ol>
<li>Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik/nyanyian (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”</em> (HR. Ahmad, sanadnya hasan) dan sabda Nabi yang lain, <em>“Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khomr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik…”</em> (HR. Al Bukhori secara <em>mu’allaq</em> dan Imam Nawawi berkata bahwa hadits ini shohih dan bersambung sesuai syarat shohih). Dan Ibnu Mas’ud <em>rodhiyallohu ‘anhu</em> mengatakan bahwa yang dimaksud <em>‘Lahwal Hadits’</em> (perkataan yang tidak bermanfaat) dalam surat Luqman ayat 6 adalah <em>Al Ghinaa</em>‘ (nyanyian).</li>
<li><em>Tabarruj</em>-nya (memamerkan kecantikan) wanita, dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama. Hal tersebut diharamkan di dalam syari’at ini, di mana Alloh berfirman, <em>“Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat serta tunaikanlah…”</em> (QS. Al Ahzab: 33). Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi: <em>“….salah satu di antaranya adalah wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat) yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.”</em> (HR. Muslim)</li>
<li>Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah yang sudah sangat merata. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirohmati Alloh. Padahal perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em>, <em>“Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.”</em> (lihat <em>Silsilah Al Ahadits As Shohihah</em> 226) (<em>Ahkamul Iedain</em>, Syaikh Ali bin Hasan).</li>
<li>Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘Ied. Tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Alloh ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat ‘Iedul Fitri. Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat ‘Iedul Fitri membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, perbuatan tersebut bukan tuntunan Nabi dan tidak boleh dilaksanakan. Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang beramal suatu amalan (untuk tujuan ibadah) di mana tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tersebut tertolak (tidak akan diterima).”</em> (HR. Muslim)</li>
<li>Begadang saat malam ‘Iedul Fitri. Banyak di antara kaum muslimin yang menghidupkan malam ‘Ied dengan takbir via mikrofon. Hal ini sangat mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Hukum mengganggu orang lain adalah haram. Rosululloh <em>shollallohu’alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.”</em> (HR. Muslim). Sehingga jika memang hendak bertakbir, hendaknya tidak dengan suara yang keras. Ada lagi di antara kaum muslimin yang menjadikan malam ‘Ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan sholat subuh secara berjamaah. Bahkan ada yang sampai <em>ogah-ogahan</em> menjalankan sholat ‘Ied.</li>
</ol>
<p>Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi yang menulis, membaca, dan yang menyebarkannya.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Adid Adep Dwiatmoko<br />
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Bimbingan Idul Fitri" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bimbingan-idul-fitri.html"><span style="color:#444444;">www.muslim.or.id</span></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENCARI BERKAH (TABARRUK) DALAM ISLAM]]></title>
<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=211</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:43:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
<guid>http://salafypomalaa.id.wordpress.com/2008/10/09/mencari-berkah-tabarruk-dalam-islam/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah, shalawat dan salam bagi teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Alhamdulillah, shalawat dan salam bagi teladan kita, Nabi Muhammad </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam,<em> </em></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Umat Islam setelah berlalu masa kebaikan dan masa keemasannya selagi khulafaurasyidin berkuasa mulai dihinggapi penyakit perpecahan. Berbagai aqidah bi’dah dan kesyirikan mulai merembes dan merusak keutuhan aqidah Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diantara fenomena yang menonjol hingga saat ini adalah perbuatan tabarruk (mencari berkah) terhadap orang-orang shaleh, pada peninggalan mereka, pada waktu dan tempat tertentu yang terkait dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tabarruk merupakan perkara aqidah yang sangat penting. Sikap berlebihan <em>(ghuluw)</em> dan menyalahi sunnah dalam masalah ini telah menyeret banyak orang dahulu maupun sekarang kepada bid’ah (jalan yang diada-adakan dalam agama yang menyerupai syariat dengan maksud menempuhnya sebagai mana menempuh jalan syariat – Al-’Itshom 1/51), khurafat dan syirik. Bahkan salah satu faktor dominan yang menyebabkan orang-orang jahiliyah terdahulu menyembah berhala adalah kebiasaan mereka meminta berkah kepada berhala-berhala tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kemudian orang-orang <em>zindiq</em> dan orang munafik menggunakan tabarruk bid’ah ini sebagai salah satu cara untuk merusak Islam dari dalam yakni dengan menanamkan sikap <em>ghuluw</em> (berlebihan) terhadap para wali dan orang shaleh serta bertabarruk dengan kuburan mereka. <strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em></strong> menyatakan dari sinilah orang-orang munafik dengan leluasa memasukkan apa saja yang mereka inginkan ke dalam Islam. Sungguh yang pertama kali mengada-adakan bid’ah pada agama ini adalah seorang zindiq Yahudi <strong><em>Abdullah Bin Saba</em></strong><em>’</em> yang berpura-pura menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya untuk merusak agama kaum muslimin. Sebagaimana <strong><em>Paulus</em></strong> telah merusak agama Nasrani <em>(Kristen)</em>. Dia berupaya menyebar fitnah di tengah umat Islam hingga terbunuhlah <strong><em>Utsman</em></strong>. Kemudian setelah umat Islam berpecah belah menjadi labillah keadaan dan gampang dijungkir balikkan. Hal ini bagai gayung bersambut dihati – hati yang bodoh dan gelap. Kalau umat Islam tidak menjadi kafir sekurang-kurangnya akan muncul beragam bid’ah yang merupakan kunci terbukanya pintu kesyirikan. Ketika posisi para zindiq itu sudah kuat mereka memerintahkan membangun tempat-tempat ibadah di atas kuburan dan mengosongkan masjid-masjid dengan alasan tidak boleh shalat jum’at dan jama’ah kecuali di belakang imam yang ma’shum. Mereka menganjurkan memasang lampu-lampu di kuburan mengagungkannya dan berdoa disisinya. Mereka membuat kedustaan atas Nabi Muhammad </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan keluarganya. Mereka menciptakan berbagai kesyirikan dan menghimpunnya dalam kedustaan (Majmu Fatawa, 27/16).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang terjatuh dalam perbuatan syirik melalui pintu tabarruk. Untuk itu kita perlu mengetahui makna tabarruk serta jenis-jenis tabarruk yang disyariatkan dan dilarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">MAKNA DAN HAKIKAT TABARRUK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Laits menafsirkan ayat <strong>(</strong></span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">ﺗﺑﺎﺭﻚﺍﷲ</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Al-A’raf: 54 bermakna “<em>pemuliaan dan pengagungan” </em>sedangkan Syaikh Abdurahman As-Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman (254) menyatakan bahwa makna <strong>(</strong></span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">ﺗﺑﺎﺭﻚﺍﷲ</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> adalah “<em>keagungan dan ketinggian serta banyak kebaikan</em>. Allah Ta’ala menetapkan berkah pada diri-Nya karena keagungan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan Dia memberi berkah kepada mahluk-Nya dengan menghalalkan kebaikan yang banyak dan melimpah. Dengan demikian berkah yang ada pada segala sesuatu adalah pengaruh dari rahmat dari Allah Ta’ala’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata dalam mengomentari sabda Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> yang selalu kita baca dalam tasyahud :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#010101;">اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span> </span>bahwa hakikat berkah ialah <em>ketetapan, kepastian dan keberadaan</em>. Beliau juga berkata bahwa berkah berarti kenikmatan dan tambahan, sedang hakikatnya adalah kebaikan yang banyak, terus menerus dan tidak ada yang berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah Tabaraka Wa Ta’ala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dari penjelasan para ulama tentang berkah dapat dipetik beberapa faedah, sekaligus sebagai peringatan, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Bahwasanya seluruh berkah itu dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagaimana rizki, pertolongan dan kesehatan. Oleh karena itu tidak boleh bertabarruk (meminta berkah) kecuali kepada Allah karena Dialah pemberi berkah. Maka upaya tabarruk kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. Ibnu Mas’ud Rodiyallahu ‘anhu. Ia berkata: kami bersama Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dalam suatu perjalanan. Ketika itu persediaan air sangat sedikit maka beliau </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda “<em>carilah sisa air</em> “, para sahabat pun membawa bejana yang berisi sedikit air. Lalu Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> memasukkan tanganya ke dalam bejana tersebut seraya bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>Kemarilah menuju air yang suci lagi diberkahi dan berkah itu dari Allah</em>”, sungguh aku Ibnu Mas’ud melihat air terpancar di antara jemari Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Sesuatu yang digunakan untuk bertabarruk seperti benda-benda, ucapan ataupun perbuatan yang telah jelas ketetapannya dalam syariat, kedudukannya hanya sebagai sebab bukan yang memberi berkah. Sebagaimana halnya obat hanya sebagai sebab bagi kesembuhan bukan yang menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu penyandaran berkah kepada benda-benda tersebut termaksud penyadaran sesuatu kepada sebabnya sebagaimana ucapan Aisyah tentang Juwairiyyah Binti Al-Harits: ”aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih banyak berkahnya bagi kaumnya daripada dia (HR. Ahmad). Di sini Juwairiyyah hanya sebagai sebab bukan yang memberi berkah, sebab ketika para sahabat mengetahui Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> menikahi Juwairiyyah dari Bani Mustholiq tidak kurang dari 100 kaumnya dibebaskan oleh para sahabat karena memandang bahwa mereka itu adalah besan-besan<span style="color:red;"> </span>Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Mencari berkah harus melalui sebab-sebab yang diperintahkan oleh syariat dan yang menentukan ada atau tidaknya berkah pada sesuatu hanyalah dalil syar’i karena perkara agama dibangun di atas dalil berbeda dengan perkara duniawi yang dapat diketahui dengan akal melalui pengalaman dan bukti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Mencari berkah dapat dilakukan dengan perkara yang dapat dicapai oleh panca indra seperti ilmu, do’a dan lain-lain. Seseorang bisa mendapatkan kebaikan yang banyak dengan ilmu yang dia amalkan dan yang dia ajarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tabarruk adalah upaya mencari berkah berupa tambahan kebaikan dan pahala serta semua yang dibutuhkan oleh hamba dalam urusan agama dan dunianya melalui sebab-sebab dan cara-cara yang telah ditetapkan oleh syariat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">TABARRUK YANG DISYARIATKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Tabaruk dengan diri Nabi <span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan peninggalannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diri Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> adalah diri yang diberkahi. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan berkah khusus pada diri beliau. Para sahabat tahu akan hal itu dan mereka berusaha memanfaatkannya sebelum Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> wafat, ternyata beliaupun tidak mengingkarinya. Hal ini banyak diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih. Namun perlu diketahui bahwa semua peninggalan Nabi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> baik berupa pakaian, rambut, peluh dan sebagainya, semuanya telah hilang/musnah dan tidak ada yang dapat membuktikan keberadaannya secara yakin dan pasti. Dengan demikian tabarruk dengan peninggalan Nabi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> saat ini tidak perlu dibahas lagi dan hanya merupakan teori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Tabarruk dengan ucapan dan perbuatan yang disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara ucapan-ucapan yang mengandung berkah adalah dzikirullah dan membaca Al-Qur’an. Dari abu Hurairah bahwa Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sesungguhnya Allah memiliki beberapa malaikat yang biasa berkeliling di jalan-jalan mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka mendapatkan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling memanggil ! “kemarilah pada apa yang kalian cari”. Maka para malaikatpun menaungi orang-orang berdzikir dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia. Lalu Allah Azza Wa Jalla bertanya kepada malaikat itu, sedangkan Allah Maha Tahu. Apa yang diucapkan hamba-hambaku ? Para malaikat menjawab: mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid dan memuji Engkau. Allah bertanya apakah mereka melihat Aku. Para malaikat menjawab: Tidak, Demi Allah mereka tidak melihat Engkau. Allah bertanya lagi: Bagaimana sekiranya jika mereka melihat Aku, malaikat menjawab: Sekiranya mereka melihat Engkau niscaya tambah bersemangat beribadah kepada-Mu dan lebih banyak memuji serta bertasbih kepada-Mu. Allah bertanya lagi: apa yang mereka minta, malaikat menjawab: mereka meminta surga kepada-Mu.<span> </span>Allah bertanya lagi: Apakah mereka pernah melihat surga ? Para malaikat menjawab:”Sekiranya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka sangat ingin untuk mendapatkannya dan lebih bersungguh-sungguh untuk memintanya serta sangat besar keinginan padanya.”Allah bertanya:”Dari apa mereka meminta perlindungan ? Para malaikat menjawab: “Dari neraka.”Allah bertanya:<span> </span>Apakah mereka pernah melihatnya.”Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.” Allah bertanya:”Bagaimana kalau mereka melihatnya ? Para malaikat menjawab: ”Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka tambah menjauh dan takut darinya. Allah berfirman:’’Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.”Seorang di antara malaikat berkata:”Di antara mereka ada si Fulan yang tidak termaksud dari mereka (orang-orang berzikir), dia hanya datang karena ada keperluan.”Allah berfirman:’’Tidak akan celaka orang yang duduk bermajelis dengan mereka (majelis dzikir).”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(HR. Bukhari).<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">”Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang diakhirat nanti memberi syafa’at kepada orang-orang yang membacanya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara perbuatan yang mengandung berkah dengan izin Allah jika seorang Muslim beriltizam dengannya dalam rangka mengikuti Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> adalah menuntut ilmu agama dan mengajarkannya, menghadiri shalat berjamaah dan berjihad untuk meraih keutamaan mati syahid dijalan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Tabarruk dengan tempat-tempat yang disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara tempat-tempat yang diberkahi adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1)<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Masjid-Masjid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Tempat yang paling dicintai Allah di suatu negeri adalah masjid-masjid dan tempat yang paling di benci Allah dalam suatu negeri adalah pasar-pasarnya”.</em> (HR Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara masjid-masjid Allah ada yang memiliki keistimewaan tambahan dalam hal berkah yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha dan Masjid Quba”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2)<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kota Makah, Madinah dan Syam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda tentang Makkah<em>: “Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi yang paling baik dan paling dicintai-Nya. Sekiranya aku tidak diusir darimu, tidaklah aku akan keluar”. </em>(HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al-Bani dalam shohih Ibnu Majjah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Demikian pula Madinah dan syam, Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, menyatakan: <em>“Barangsiapa menginginkan kejelekan terhadap penduduknya (Madinah), Allah akan menghancurkan sebagaimana melelehnya garam dalam air”</em> (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berbahagialah penduduk Syam, “kami bertanya: “Kenapa? “Beliau menjawab: <em>“Sesungguhnya para malaikat Allah Yang Maha Rahman membentangkan sayap mereka di atasnya.”</em> (HR. Ahmad, Hakim, dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al Jami’ash Shoghir).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3)<span> </span>Arafah, Muzdalifah dan Mina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Banyak kebaikan yang turun kepada manusia di tempat-tempat ini berupa pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka serta pahala yang besar bagi orang-orang yang mengikuti Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Tabarruk Dengan Waktu Yang Disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan beberapa waktu dalam hal keutamaan dan berkah. Waktu tersebut antara lain: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bulan Ramadhan. Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka jahim ditutup serta setan dibelenggu pada bulan tersebut. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang terhalang (mendapatkan kebaikannya) maka sungguh akan terhalang (dari kebaikan yang banyak)”</em>. (HR. Ahmad).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lailatul qadar, yakni pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Allah Ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. (Al-Qadar: 3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">10 hari pertama Bulan Dzulhijah Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Tidak ada amal pada hari hari-hari (lain) yang lebih afdal daripda 10 hari pertama Bulan Dzulhijah ini”</em>. Mereka para sahabat pun bertanya: Tidak pula jihad ?, Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: <em>Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar menyabung nyawa dan hartanya dan tidak kembali sedikitpun”.</em> (HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hari Arofah (Tanggal 9 dzulhijah). Allah membanggakan orang-orang yang wuquf di Arofah pada hari itu kepada para malaikat-Nya selama mereka datang semata-mata mencari ampunan-Nya. Sedang selain jama’ah haji berpuasa pada hari itu akan menjadi sebab pengampunan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Adapun hari jum’at Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda:<em>”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari surga. Tidak akan terjadi hari hari kiamat kecuali pada hari jum’at”</em>(HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sepertiga malam terakhir Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Robb Tabaraka Wata’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah Ta’ala berfirman: “siapa yang berdo’a kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta kepada-Ku, aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.</em>(HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">5. Tabaruk Dengan Makanan Yang Disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Misalnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Zaitun (sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nur: 35).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Susu. Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Sungguh aku tidak mengetahui ada makanan dan minuman yang bisa mencukupi selain susu”.</em>(Hadits hasan Ibnu Majah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>3).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Habbatus Sauda’ (jintan hitam).<span> </span>Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat bagi segala penyakit kecuali kematian”.</em> (HR. Ibnu Majah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>4).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kurma ajwah (berdasarkan hadits Al-Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>5).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Madu (sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nahl: 69).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>6).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Air Zam-Zam (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>7).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Air hujan. Allah Ta’ala berfirman:”<em>Dan kami turunkan air dari langit yang banyak manfaatnya</em> (QS. Qaaf: 9).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>8).<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Termasuk juga: Kuda (HR. Bukhari), kambing atau domba (HR. Abu Dawud) dan pohon kurma (HR. Al-Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">TABARRUK YANG DILARANG</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Tabarruk kaum jahiliyah pertama, dimana me