<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>aqidah-islam &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/aqidah-islam/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "aqidah-islam"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 13:15:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Betulkah NU Ahli Bid'ah?]]></title>
<link>http://azwarti.wordpress.com/?p=2205</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 05:33:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>azwarti</dc:creator>
<guid>http://azwarti.id.wordpress.com/2008/08/07/betulkah-nu-ahli-bidah/</guid>
<description><![CDATA[Wah, klo diliat dr judulnya kayaknya bakal banyak pro kontra nih. Bisa panas  forum ini. Karna ane m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, klo diliat dr judulnya kayaknya bakal banyak pro kontra nih. Bisa panas  forum ini. Karna ane menguatirkan forum ini akan panas banget , maka ane hanya  membuka forum ini sampai seminggu saja.</p>
<p>Dimulai kamis tgl 8 November 2007 sampai kamis minggu depan saja. Tepat pukul  24.00 Maka lewat waktu itu, insya Allah ane akan meminta moderator untuk menutup  forum ini. Terima kasih</p>
<p>Ceritanya bermula dari kamar kost :</p>
<p>Ane sedang berbincang-bincang dengan senior ane. Dulu dia itu aktif di rohis  fakultas hukum UGM. Nama Rohisnya KMFH (Keluarga Muslim Fakultas HUkum). Ane  juga aktif disitu. Nah, senior ane cerita pengalamannya waktu tahun-tahun  pertama dia kuliah. Dulu dia rajin shalat di Masjid. Dulu. Rajin banget.  Kebanyakan jamaah di masjid tempat dia shalat dulu itu adalah orang-orang  salafi. Ane pribadi sih, gak peduli salfi-salafian. Yang penting kita kan Islam,  toh? Ane juga ada jiwa salafinya dikit. Cieee....! Nah, suatu hari senior ane  waktu itu abis shalat, kisahnya. Dia tiba-tiba ditahan oleh seorang jamaah dan  diajak untuk ikut pengajiannya.<!--more--></p>
<p>Gak boleh pulang dulu. Akhirnya, mau gak mau dia ikut aja. Ketika dia lagi  ngikutin pengajian itu, tiba-tiba seorang ustadz di pengajian itu ngomong  begini, "Semua orang-orang NU itu ahli bid'ah! Masuk Neraka!" Otomatis senior  ane yang orang NU dan berlatar pesantren marah besar. Dia merasa tidak terima  dikatakan begitu. Kemudian dia bertanya kepada ustadz itu. "Pak ustadz, atas  dasar apa anda mengatakan NU itu ahli bid'ah? Memangnya yang menentukan masuk  surga neraka itu manusia?" Karena marah, akhirnya senior ane udh gak mau lg  shalat di masjid itu. Akhirnya setipa hari ia shalat di kamarnya sendiri. Kata  beliau, yang ikut pengajian itu, org2 salafi. Ane kaget. Masa sih? Ane sih,  objektif aja.</p>
<p>Tapi........klo itu bener, gmana? Ane jadi bingung. Salafi itu sebenarnya  gimana? Dan apa bener NU itu ahli bid'ah? Aduhh....bingung banget deh......! Ane  sih, gak nyalahin salafi. Masa nyalahin? Pantang bgt ane nyalahin.</p>
<p>Hmm......gmana sih, pandangan temen2 yg salafi tentang NU, Muhammadiyah, dll?  Ane pengen tahu dong? Biar ane gak kebingungan. Makasih ya.....</p>
<p>Peraturan forum ini (Kompilasi HUkum) :</p>
<p>Pasal 1</p>
<p>Dalam forum ini diizinkan untuk berdiskusi atau berdebat. Tapi dilarang untuk  mencaci maki, menghujat, atau menghina satu user dengan user yg lain.</p>
<p>Pasal 2</p>
<p>Harap selalu objektif dan husnudzan dalanm berdiskusi dalam forum ini.</p>
<p>Pasal 3<br />
Sanksi bagi pelanggaran pasal 1</p>
<p>-mengadukan kepada moderator thd user2 yang melanggar pasal 1<br />
- Dimohon  dnegan sangat untuk keluar dari forum ini</p>
<p>Pasal 4</p>
<p>Demikianlah Kompilasi Hukum ini dibuat berdasarkan peraturan-peraturan yang  telah ditetapkan oleh moderator dan administrator.</p>
<p style="text-align:right;" align="right"><strong>Yogyakarta, 7 November  2007<br />
Tertanda,<br />
Ahmad Yaseen</strong></p>
<p align="right">
<p align="right"><strong>Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah  Mada</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Imam Syi’ah Harus Menyembunyikan Kebenaran?]]></title>
<link>http://azwarti.wordpress.com/?p=2135</link>
<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 06:26:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>azwarti</dc:creator>
<guid>http://azwarti.id.wordpress.com/2008/08/06/mengapa-imam-syi%e2%80%99ah-harus-menyembunyikan-kebenaran/</guid>
<description><![CDATA[Membongkar Hakekat Syi&#8217;ah - Imam syi&#8217;ah yang konon memiliki banyak mukjizat, ternyata ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Membongkar Hakekat Syi'ah</strong> - Imam syi'ah yang konon memiliki banyak mukjizat, ternyata masih harus bertaqiyah, menyembunyikan kebenaran karena takut. Apa yang ditakutkan oleh Imam Syi'ah yang konon adalah manusia paling pemberani di jamannya? Al Mufid [seorang ulama Syi'ah] mengatakan: seorang imam harus bersifat paling pemberani di antara umatnya [Al Iqtishad hal 312]<br />
Para pemalsu riwayat dari ahlulbait membuat ajaran baru yang dapat menjaga dan memelihara kebohongan mereka. Tetapi sebenarnya ajaran ini dapat menghancurkan/mengungkap kebatilan prinsip imamah, bahkan membuat agama menjadi batil, ajaran ini adalah taqiyah, atau kebohongan yang dilakukan dengan sengaja.</p>
[caption id="attachment_2136" align="aligncenter" width="468" caption="karbala"]<a href="http://azwarti.files.wordpress.com/2008/08/karbala2.jpg"><img class="size-full wp-image-2136" src="http://azwarti.wordpress.com/files/2008/08/karbala2.jpg" alt="karbala" width="468" height="308" /></a>[/caption]
<p>Mereka yang memalsu riwayat dari para imam tidak tinggal di tempat yang sama, juga hidup pada jaman yang berbeda-beda, juga tidak sepakat atas satu pendapat, jika ada seseorang memalsukan riwayat dari imam, ada juga orang lain yang memalsu riwyat dari imam, yang mana dua riwayat tu aling bertentanga, jalan keluar sudah siap: salah satu yang berbohong melakukan taqiyyah</p>
<p><strong>Taqiyyah dalam Islam</strong></p>
<p>Taqiyyah dalam terminologi syi’ah bukanlah taqiyyah yang diperbolehkan oleh Allah pada saat dalam ketakutan –Allah tidak mewajibkan taqiyah-, tetapi syi’ah beranggapan bahwa taqiyah adalah wajib, yang meningaglkan taqiyah sama dengan meninggalkan agama –menurut riwayat yang ada-.<br />
Sedangkan taqiyah yang sah dalam Islam, bisa jadi seorang muslim hidup hingga meninggal dunia sedangkan dia belum pernah melakukan taqiyah, karena hukumnya mubah, bukan sebuah kewajiban.<!--more--></p>
<p>Allah berfirman:<br />
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. 16:106)</p>
<p>Thabari menukil riwayat dari Ibnu Abbas, dia mengatakan : Allah memberitahukan bahwa orang yang kafir setelah beriman, maka dia akan terkena murka dari Allah dan siksa yang pedih, tetapi siapa yang dipaksa dan mengucapkan kekafiran tetapi hatinya tetap beriman, agar bisa selamat dari musuh, maka hal itu tidak mengapa, karena Allah hanya menilai seorang hamba dengan apa yang diyakini oleh hati. Dari Tafsir Thabari</p>
<p>Allah berfirman:<br />
Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. 3:28)</p>
<p>Thabari juga menukil riwayat dari Ibnu Abbas: Allah berfirman () Allah melarang orang beriman untuk berlemah lembut terhadap orang kafir, atau menjadikan mereka sebagai teman dekat, bukannya orang beriman, kecuali ketika orang kafir dalam kondisi kuat, maka boleh memperlihatkan sikap lemah lembut pada mereka, dengan tetap menyelisihi agama mereka, inilah yang dimaksud dalam firman Allah : ()</p>
<p>Kedua ayat di atas menjelaskan hukum asal, lalu menambahkan perkecualian, maka menunjukkan hukum perbuatan itu adalah mubah, bukanlah sebuah perintah dan ajaran agama yang diwajibkan, seperti jelas dimaksud dalam ayat di atas<br />
Inilah taqiyah dalam Islam.</p>
<p><strong>Taqiyah menurut syi’ah</strong></p>
<p>Menurut syi’ah, taqiyyah adalah agama itu sendiri, terdapat banyak riwayat yang konon bersumber dari ahlul bait, di antaranya:</p>
<p>Ja’far As Shadiq mengatakan: taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.</p>
<p>Ja’far juga mengatakan: tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah,</p>
<p>Begitu juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: Taqiyyah adalah agamaku dan agama kakek-kakekku. Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kita Al kafir, Bab Taqiyyah, jilid 2 hal 217. Tidak mungkin ahlul bait mengucapkan demikian.</p>
<p>Ulama syi’ah telah sepakat menekankan ajaran ini, bahkan menganggapnya sebuah rukun yang harus dikerjakan, seperti halnya shalat.</p>
<p>Ibnu Babawaih Al Qummi, salah seorang ulama besar syi’ah, mengatakan: kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat. [Al I’tiqadat hal 114]</p>
<p>Begitulah, taqiyah yang berarti menipu  dijadikan sebagai ajaran agama yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bahkan menipu ini menjadi 90% dari agama, ini artinya orang yang selalu berbohong dan menipu dalam ucapan dan perbuatannya setiap hari maka telah melakukan 90% ajaran agama.</p>
<p>Celakanya lagi, menipu seperti ini bukan hanya ajaran dari seorang imam saja, bahkan telah menjadi agama seluruh keluarga Nabi, termasuk di dalamnya Nabi sendiri, seperti tercantum dalam riwayat mereka, akan lain persoalannya jika para imam tidak mengaitkan ajaran itu dengan ajran Nabi, dan menganggap ajaran agama mereka bukan agama yang dibawa oleh Nabi, inilah yang kita pahami dari ucapan imam syi’ah: [dan agama kakek kakek saya].</p>
<p>Apakah ad orang berakal yang dapat menerima hal ini dan menganggap taqiyah atau menipu adalah ajaran Allah yang diturunkan untuk memperbaiki akhlak dan menanamkan nilai kejujuran, sikap terus terang dan memperlakukan manusia dengan jujur, dalam perilaku manusia agar kehidupan menjadi tenteram dan berkembang dalam kerangka amanat, kejujuran dan terus terang?</p>
<p>Anggap saja kita percaya dengan riwayat di atas, apa konsekuensinya?</p>
<p><strong>Meyakini hal di atas memiliki beberapa konsekuensi :</strong></p>
<p>1.    berarti agama yang diturunkan oleh Allah adalah agama taqiyah atau menipu<br />
menipu adalah perbuatan tercela yang dibeni oleh seluruh agama dan masyarakat di dunia ini, bahkan pada jaman jahiliyah sekalipun, yang mana pada jaman jahiliyah seseorang merasa gengsi untuk menipu, apalagi menjadikan menipu dalam rangka untuk mencari pahala, apakah masuk akal Allah menurunkan ajaran agama yang mana 90% dari ajaran itu adalah menipu?</p>
<p>2.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama, orang yang tidak bertaqiyah tidak beragama alias kafir, juga taqiyah adalah ajaran selurhu ahlulbait, dan taqiyah adalah 9 dari 10 ajaran agama, bagaimana kita bisa percaya bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh ajaran agama, bisa jadi Nabi menyembunyikan sebagian ajaran agama karena bertaqiyah, karnea taqiyah adalah ajaran agama Nabi, seperti tercantum dalam riwayat syi’ah, astaghfirullah, tidak mungkin Nabi dan ahlul bait meyakini seperti itu.</p>
<p>3.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama apa yang menjamin segala sabda Nabi bukan merupakan taqiyah? Padahal yang benar adalah berlawanan dari yang disabdakan oleh Nabi?</p>
<p>4.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama, siapa yang menjamin bahwa para imam tidak bertaqiyah?</p>
<p>5.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama, lalu apa gunanya imam? Karena tujuan dari adanya imam adalah untuk menyampaikan kebenaran kepada umat manusia, tetapi jika imam malah menyembunyikan kebenaran dan meremehkan agama untuk keselamatan pribadinya lalu apa gunanya dia menjadi imam?</p>
<p>6.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama lalu bagaimana kita bisa membedakan bahwa imam melakukan suatu perbuatan dalam keadaan bertaqiyah atau tidak? Bagaimana kita bisa menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang timbul akibat perbuatan imam?</p>
<p>Sedangkan menurut syi’ah, salah satu fungsi dari keberadaan imam adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dan perselisihan, tetapi imam malah dengan sengaja menimbulkan perbedaan pendapat baru, karena mengajarkan ajaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran –karena bertaqiyah- akhirnya membuat pengikutnya menjadi bingung dan bersilang selisih.</p>
<p>Imam memerlukan pengikutnya untuk menyelesaikan perbedaan.</p>
<p>Maka imam memerlukan pengikutnya agar mereka dapat meramalkan ucapan imam, mana yang taqiyah dan mana yang tidak, maka pengikut para imam menyusun kitab yang menerangkan bahwa ini adalah taqiyah dan ini adalah tidak, seperti At Thusi yang menyusun dua judul kitab; tahzzhib dan istibshar, yang disusun khusus untuk tujuan di atas.</p>
<p>Pengikut imam memiliki keberanian lebih daripada para imam, karena si pengikut berani berterus terang mengucapkan apa yang tidak berani diucapkan oleh para imam, dan para pengikut itulah yang dapat memberi manfaat pada umat daripada imam, karena merekalah yang menyelesaikan perbedaan pendapat, bukannya para imam.</p>
<p>At Thusi –yang juga dijuluki oleh syiah dengan syaikhut tha’ifah- menuliskan pada pengantar kitab Tahzibul Ahkam:<br />
Kawan-kawan yang memiliki hak yang harus kami tunaikan pada mereka, mereka menyebutkan perbedaan dan kontradiksi yang ada pada hadits-hadits mazhab kami, sampai setiap hadits yang ada pasti ada hadits lain yang membantahnya, dan hal itu dijadikan sebagai bahan untuk menyerang mazhab kami, bahkan membuat musuh dapat menerangkan kebatilan mazhab kami, …..</p>
<p>Beberapa baris kemudian At Thusi menambahkan:<br />
Dia menemui beberapa kelompok yang tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang hadis dan makna-makna lafal hadits, banyak dari mereka keluar dari mazhab yang benar ini, karnea mereka tidak dapat memecahkan keraguan yang ada akibat kontradiksi itu, saya mendengar syaikh Abu Abdullah menyebutkan bahwa Abu Husein Al Harudi Al Alawi dia memeluk mazhab kebenaran –syi’ah- dan beriman pada imamah, lalu keluar dari mazhab karena tidak bisa memecahkan keraguan yang timbul akibat kontradiksi hadits yang ada pada kami, dia meninggalkan mazhab kebenaran dan memeluk mazhab lain karena tidak bisa memecahkan kontradiksi yang ada [tahzibul ahkam jilid 1 hal 2-3]</p>
<p>Lihatlah bagaimana syaikh thaifah mengakui bahwa setiap riwayat pasti ada riwayat yang membantahnya, yang membuat akal sebagian syi’ah bekerja kembali lalu meninggalkan mazhab syi’ah, seperti dijelaskan di atas.</p>
<p>Mengapa imam yang datang kemudian tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh imam sebelumnya?</p>
<p>Jika seorang imam yang terdahulu mengeluarkan sebuah fatwa atau keputusan yang mengandung taqiyah mengapa imam yang datang kemudian tidak memberitahukan pada pengikut syi’ah bahwa fatwa atau ucapan ayahnya itu adalah taqiyah? Mengapa tetap ada riwayat yang kontradiktif? Padahal imam yang datang setelah imam yang terdahulu dan tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh imam sebelumnya, hingga kemudian ulama syi’ah menyimpulkan sendiri tanpa adanya bukti otentik dari para imam, hanya menggunakan perkiraan, kita tidak tahu apakah ucapan ulama ini benar atau tidak.</p>
<p>Dari keterangan di atas, kita bisa amenyimpulkan bahwa ulama syi’ah lah yang sebenarnya layak disebut sebagai imam, karena dialah yang menyelesaikan perselisihan yang timbul akibat fatwa imam yang kontradiktif. Bahkan ulama syi’ah bisa disebut sebagai “imam nya para imam” karena menyelesaikan kontradiksi yang timbul dari ucapan seluruh imam syi’ah.</p>
<p>Para imam syi’ah yang membuat orang jadi bingung, hingga sebagian pengikut syi’ah keluar dari syi’ah karena kontradiksi dari para imam, sebenarnya mereka tidak layak disebut imam.</p>
<p>Kami ahlussunnah meyakini bahwa para imam syi’ah terlepas dari seluruh kebohongan yang kontradiktif di atas, tetapi kami hanya mengomentari riwayat dari kitab-kitab syi’ah.</p>
<p>7.    mana sifat berani para imam, yang konon salah satu syarat imam adalah orang yang paling pemberani? Seperti sifat imam menurut syi’ah.</p>
<p>Al Mufid mengatakan: seorang imam harus bersifat paling pemberani di antara umatnya [Al Iqtishad hal 312]<br />
Apakah imam yang menyembunyikan kebenaran bisa dianggap pemberani?</p>
<p>Apakah kita bisa mempercayai ucapan imam Syi'ah? Jangan-jangan dia bertaqiyah? Bagaimana cara membedakan ucapan imam yang diucapkan saat bertaqiyah dan tidak?<br />
<strong>Taqiyah dan Ilmu Ghaib</strong></p>
<p>Banyak riwayat syi’ah menyatakan bahwa para imam memiliki kekuatan untuk mengetahui hal-hal ghaib?</p>
<p>Imam menjawab pertanyaan dengan taqiyah karena takut fatwanya didengar oleh mata-mata, akhirnya imam berbohong dalam fatwanya untuk menipu si penanya seolah-olah dia bukanlah imam atau ulama, tapi orang jahil atau pengikut ahlussunah.</p>
<p>Kitab syi’ah memuat ratusan riwayat yang menegaskan bahwa para imam syiah mengetahui apa yang ghaib, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang terjadi di masa depan, jika dia ingin mengetahui sesuatu maka dapat segera mengetahui, apakah imam tidak tahu apakah orang yang datang bertanya apakah dia merupakan pengikutnya atau bukan?</p>
<p>Al Kulaini dalam Al kafi menjelaskan : Bab Jika para imam ingin mengetahui hal ghaib maka mereka pasti mengetahui [Al Kafi jilid 1 hal 258]</p>
<p>Bab para imam alaihimussalam mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, tidak ada sesuatu yang tidak mereka ketahui [Al Kafi jilid 1 hal 260]</p>
<p>Bab para imam jika mereka dihalangi mereka akan memberitahu tentang pribadi setiap orang, positif dan negatifnya [AL Kafi jilid 1 hal 264]</p>
<p>Lalu kemana ilmu yang mereka miliki, karena para imam memberi fatwa bohong pada penanya karena takut jangan-jangan si penanya adalah mata-mata.</p>
<p><strong>Imam sengaja menyembunyikan kebenaran</strong></p>
<p>Si penanya yang ditipu oleh imam dengan jawabannya tadi, dia beribadah pada Allah dengan kebohongan yang diyakininya sebagai kebenaran, karena jawaban itu keluar dari imam yang ditunjuk langsung oleh Allah. Lalu apa dosa si penanya, dia telah datang kepada imam dengan niat untuk bertanya tentang ajaran agamanya, dia ingin meribadah pada Allah dengan mengikuti kebenaran yang diturunkan oleh Allah, yang hanya ditanyakan kepada imam maksum yang terjaga dari kebohongan, kesalahan, baik sengaja maupun tidak –seperti diyakini syi’ah- tapi ternyata sang imam menipu si penanya dengan sengaja dan memberitahukan jawaban yang batil –karena taqiyah-.</p>
<p>Jika imam tidak bisa mengucapkan kebenaran lebih baik diam saja Lalu jika memang imam tidak dapat mengucapkan kebenaran lebih baik diam saja, dan tidak mengucapkan hal yang batil. Allah berfirman:</p>
<p><em>Katakanlah:"Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung".</em> (QS. 10:69)<br />
<em><br />
(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.</em> (QS. 10:70)</p>
<p><em>Katakanlah:"Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung".</em> (QS. 10:69)<br />
<em><br />
(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.</em> (QS. 10:70)</p>
<p><em>Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. </em>(QS. 16:105)</p>
<p>Mereka yang berdusta atas nama Allah dan mengatakan bahwa ini adalah ajaran agama Allah, hanya untuk menyelamatkan jiwanya, padahal mereka diperintahkan untuk menyampaikan ajaran agama, mereka adalah orang yang berbohong atas nama Allah, hendaknya mereka bersenang-senang sebentar saja lalu mereka akan kembali kepada Allah menghadapi ancaman siksa yan gpedih. – sudah pasti ahlulbait tidaklah demikian-</p>
<p>Nabi Muhammad saw mensabdakan : barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir, hendaknya mengatakan yang baik atau lebih baik diam saja. Riwayat Bukhari hadits no : 55559, Riwayat Muslim, hadits no 67.</p>
<p><strong>Kontradiksi dari imam maksum</strong></p>
<p>Mari kita simak bersama kisah yang diriwayatkan oleh An Naubakhti –seorang ulama syi’ah- dari salah seorang imam syiah, :</p>
<p>Seseorang dari syi’ah bernama Umar bin Riyah pergi menghadap imamnya untuk bertanya, setelah diberi fatwa Umar kembali pada sang imam keesokan harinya dan menanyakan padanya pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan kemarin, teapi sang imam menjawabnya dengan jawaban yang berbeda, lalu Umar mengatakan pada sang imam: jawaban ini berbeda dengan jawaban engkau tahun lalu<br />
Lalu Imam berkata: jawabanku adalah karena taqiyah, lalu Umar mulai meragukan kedudukannya sebagai imam,Lalu dia pergi dan menemui salah seorang penganut syi’ah yang bernama Muhammad bin Qais, dan menceritakan apa yang dialaminya: Allah mengetahui bahwa saya hanya bertanya karena berniat untuk beribadah kepada Allah dengan jawaban itu, maka tidak ada alasan baginya untuk bertaqiyah kepadaku, Muhammad bin Qais bertanya: barangkali ada orang lain yang ada bersamamu, barangkali dia bertaqiyah karena ada orang itu.</p>
<p>Umar menjawab: tidak ada orang lain saat aku bertanya pada imam, tetapi imam menjawab pertanyaanku dengan ngawur, dia tidak ingat jawabannya saat kutanya tahun lalu, lalu Umar tidak lagi percaya bahwa imam itu benar-benar imam, lalu mengatakan: tidak mungkin imam memfatwakan hal yang keliru.<br />
[Firaqus Syi’ah hal 59-61]</p>
<p>Demi Allah, sungguh benar, tidak mungkin seorang imam mengeluarkan fatwa yang batil,apakah syi’ah menyadari hal ini dan mengingkari riwayat yang menjelek-jelekkan keluarga Nabi?</p>
<p>Kulaini telah meriwayatkan dari Zurarah bin A’yun; saya bertanya pada Abu Ja’far tentang sebuah masalah, lalu dia menawab pertanyaanku, lalu datang seseorang menanyakan padanya pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku, tapi Abu Ja’far memberikan jawaban berbeda dari jawabanku, lalu datang lagi seseorang dan menanyakan pertanyaan yang sama, lalu Abu Ja’far menjawabnya dengan jawaban yang berbeda dengan jawaban bagiku dan orang yang pertama, setelah dua orang itu keluar, saya bertanya: Wahai Putra Rasulullah, dua orang penduduk Irak, keduanya adalah syi’ahmu, mereka bertanya mengapa engkau jawab dengan jawaban yang berbeda?</p>
<p>Imam menjawab: wahai Zurarah, ini lebih baik bagi kami dan kalian, jika kalian sepakat atas sebuah perkara, maka manusia akan mengenal hakekat kami, akhirnya kami dan kalian akan cepat punah [Ushul Al Kafi, jilid 1 hal 65]</p>
<p>Ini adalah satu contoh dari puluhan kontradiksi dalam fatwa. Apakah benar para imam berbohong?</p>
<p>Tidak mungkin para imam berbohong, itu bukanlah akhlak para imam keluarga Nabi</p>
<p>Lalu jika orang tahu bahwa taqiyah adalah ajaran agama, maka bagaimana mereka bisa percaya pada ucapan imam mereka, bagaimana mereka bisa mengetahui apakah imam sedang bertaqiyah atau tidak saat berfatwa.</p>
<p>Syi’ah yang tidak mengetahui kebenaran mengamalkan yang berbeda dari ajaran ahlussunnah.</p>
<p>Lau mereka yang memalsu riwayat ingin memisahkan syi’ah dari umat Islam lainnya, mereka membuat riwayat palsu yang memberi jalan keluar bagi mereka yang tidak dapat bertanya pada imam, atau tidak mengetahui mana yang benar dari dua jawaban , mereka harus melihat amalan ahlussunnah, lalu mengerjakan amalan yang menyelisihi mereka.</p>
<p>Mereka meriwayatkan dari Ja’far As Shadiq, ada orang yang bertanya padanya: jika kami mendapati salah satu dari dua hadits yang sesuai dengan ajaran kaum awam (ahlussunnah) dan satu riwayat lagi berlawanan dengan amalan mereka, riwayat mana yang kami amalkan? Ja’far As Shadiq menjawab: yang menyelisihi kaum awam (ahlussunnah) adalah kebenaran [Ushul Al kafi jilid 1 hal 67-68, Man La Yahhuruhul Faqih jilid 3 hal 5, At Tahzhib jilid 6 hal 103, Al Ihtijaj hal 194, Wasa’ilu As Syi’ah jilid 18 hal 75-76]</p>
<p>Ini adalah kaedah yang aneh dari mazhab syi’ah, Allah dan keluarga Nabi terlepas dari hal ini.<br />
Kata saya: lalu apa perlunya penanya pergi bertanya pada imam? Dia hanya perlu melihat amalan ahlussunnah, lalu mengamalkan amalan yang berbeda dari ahlussunnah.</p>
<p><strong>Taqiyah membuat imam tidak diperlukan lagi</strong></p>
<p>Lalu jika imam memang ditunjuk oleh Allah langsung untuk mengawal agama dan menyampaikannya pada manusia, mengapa imam perlu bertaqiyyah? Jika syi’ah menganggap imam perlu bertaqiyah agar tidak dibunuh, tidak dipenjara dan disiksa, bukankah ini adalah misi imam yang harus disampaikan kepada manusia seperti dilakukan oleh para Nabi walaupun memiliki konsekuensi berat seperti dibunuh dan disiksa karena Nabi dilarang meninggalkan perintah hanya karena takut pada manusia(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (QS. 33:39)</p>
<p>Apakah disebutkan dalam Al Qur’an ada seorang Nabi yang melakukan taqiyah dan tidak menjelaskan risalah Allah pada kaumnya?</p>
<p>Padahal syi’ah menganggap jabatan imamah sama seperti jabatan kenabian –mestinya imam sama seperti Nabi dalam hal keberanian dan kesabaran- maka imam harus menyampakan kebenaran walaupun berakibat dia dibunuh karena agama dan ekeridhoan Allah lebih berharga dari dirinya, apa gunanya Nabi –atau imam- hidup sedangkan agama Allah tidak tersampaikan?</p>
<p>Jika memang imam sama seperti pengikutnya, tidak bertanggung jawab atas penyampaian agama lalu apa gunanya jadi imam?</p>
<p>Juga mengapa imam perlu bertaqiyah padahal imam memiliki kekuatan yang luar biasa yang tidak terbayangkan, bahkan seluruh alam adalah di bawah kekuasaannya? Seperti anggapan syi’ah.</p>
<p>Terakhir, silahkan telaah kitab Madinatul Ma’ajiz, karangan Sayid Hasyim Al Bahrani, anda akan terheran-heran karena dalam kitab itu disebutkan bahwa Ali memiliki lebih dari lima ratus mu’jizat. Mengapa mu’jizat itu tidak digunakan untuk memenangkan agama?</p>
<p>Orang-orang yang dianggap oleh syi’ah sebagai imam adalah manusia biasa, mereka hidup sebagaimana orang beriman lainnya, merka adalah orang shaleh dan ahli ibadah, merka tidak ada hubungannya dengan imamah dan tidak pernah mengaku-aku menjadi imam, hanya ada orang-orang yang menjual mereka dan padahal mereka tidak pernah mengatakan hal itu, juga mereka tidak memiliki mu’jizat, jika memang mereka memiliki mu’jizat maka keadaannya akan berbeda, sudah pasti mereka akan melawan mereka yang mengganggu dan menjual omongan mereka, kelak nanti di hari kiamat apa yang ada dalam dada akan dibongkar,mereka yang mati akan dibangkitkan, ornag yang pembohong dan pendosa akan dihukum.</p>
<p>Akhirnya, bagaimana sikap ulama syi’ah yang memberikan fatwa pada umat syi’ah?</p>
<p>Apakah mereka akan bertaqiyah seperti imam mereka? Jika mereka bertaqiyah bagaimana kita bisa percaya pada ucapan mereka? Jika mereka tidak bertqiyah mengapa mereka tidak melakukannya? Apakah mereka lebih berani daripada para imam, ataukah mereka tidak meyakini kewajiban taqiyah?</p>
<p>Jika mereka tidak meyakini kewajiban taqiyah, para imam melakukannya, mengapa ulama syi’ah mengaku sebagai pengikut imam ahlulbait lalu tidak bertaqiyah seperti mereka?</p>
<p>Kita ketahui dalam sejarah bahwa syi’ah selalu hidup dalam ketakutan, kecuali pada masa kerajaan Bani Buwaih dan dinasti Shafawi serta masa sekarang ini, selama kurang lebih tiga puluh tahun terakhir?</p>
<p>Padahal taqiyyah adalah ajaran agama, seperti tercantum dalam riwayat dari para imam dan pernyataan ulama syi’ah. Taqiyah akan menjatuhkan kehormatan para ulama dan membuat manusia ragu atas fatwa mereka. Jika ulam asyi’ah tidak bertaqiyah maka hal adalah pelecehan terhadap apra imam, karena ternyata pengikut para imam lebih pemberani dibanding para imam itu sendiri yang melakukan taqiyah untuk menyelamatkan jiwa mereka.</p>
<p>Kita memohon pada Allah agar membuat kita melihat kebenaran sebagai kebenaran serta memberi karunia pada kami agar dapat mengikutinya, dan agar membuat kita melihat kebatilan sebagai kebatilan, dan memberi karunia pada kami agar menghindarinya.</p>
<p><strong>Sumber: Hakekat </strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencoba Memahami Takdir melalui Akal]]></title>
<link>http://azwarti.wordpress.com/?p=2089</link>
<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 14:32:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>azwarti</dc:creator>
<guid>http://azwarti.id.wordpress.com/2008/08/04/mencoba-memahami-takdir-melalui-akal/</guid>
<description><![CDATA[Secara sederhana, Takdir dapat dijabarkan dalam dua istilah yaitu Qodho dan Qodr, yang dapat diartik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Secara sederhana, Takdir dapat dijabarkan dalam dua istilah yaitu Qodho dan Qodr, yang dapat diartikan sebagai Ketentuan dan Ukuran. Untuk dapat memulai pembahasan ini, marilah kita bayangkan keberadaan sebuah pohon faktor. Pohon faktor ini berbentuk seperti segitiga, di puncaknya berdiri sebuah angka yang kita sebut ‘1’, yang merepresentasikan keberadaan kita saat ini. Bentuk segitiga ini adalah kerucut dengan puncak tunggal dan membesar di bawah, semakin ke bawah menjadi semakin besar, seiring dengan banyaknya pilihan probabilita dan konsekuensi dari tindakan.</p>
[caption id="attachment_2090" align="aligncenter" width="320" caption="takdir"]<a href="http://azwarti.files.wordpress.com/2008/08/takdir.jpg"><img class="size-full wp-image-2090" src="http://azwarti.wordpress.com/files/2008/08/takdir.jpg" alt="takdir" width="320" height="240" /></a>[/caption]
<p>Misalnya, kita berada dalam kondisi ‘haus’. ‘Haus’ = ‘1’ di puncak pohon faktor. Kita dapat memilih ‘minum’ (direpresentasikan dengan angka 2) atau ‘tidak minum’ (direpresentasikan dengan angka 2’). Misalnya, karena ‘haus’ (angka 1) maka kita memilih ‘minum’ (angka 2). Karena kita memilih ‘minum’ (angka 2), terjadi penjabaran faktor berikutnya menjadi pilihan minuman, yang dapat dicontohkan dengan beberapa angka; angka 3 = minum air putih, angka 3’ = minum teh, angka 3” = minum kopi, angka 3’” = minum soft drink berkarbonasi. Disini, di lapisan ‘angka 3’, kita bisa menambahkan pilihan sesuai selera kita – misalnya, ditambahkan dengan opsi ‘susu’, ‘wedang jahe’, ‘isotonik’, dan lain sebagainya.  <!--more--></p>
<p>Taruhlah bahwa kita memilih ‘minum kopi’ (angka 3”). Pilihan ini pun masih bisa dijabarkan lebih lanjut di tataran angka 4 dengan contoh sebagai berikut : 4 = kopi hitam, 4’ = kopi susu, 4”’ = kopi three in one; dan seterusnya. Jika kita memilih ‘4’ yaitu ‘kopi hitam’, masih bisa dijabarkan lagi ke tataran angka 5; 5 = kopi hitam tanpa gula, 5’ = kopi hitam dengan gula. Dan seterusnya, dan seterusnya – masih bisa dijabarkan dan ditambahkan sesuai dengan selera kita.</p>
<div>1 (haus)</p>
<p>2 (minum)      2’ (tidak minum)</p>
<p>3 (air putih)      3 ‘ (teh)   3 “ (kopi)   3”’(soft drink berkarbonasi)</p>
<p>4 (kopi hitam)   4’ (kopi susu)      4”(kopi three in one)   4”’(kopi jahe)</p>
<p>5 (tanpa gula)   5’(dengan gula)</p></div>
<p>Sekarang marilah kita bayangkan bahwa keseluruhan pohon faktor ini ‘terbungkus’ atau ‘berada di dalam’ sebuah universum (semesta) yang dinamakan ‘Takdir’. Apapun kejadian, pilihan, atau probabilita yang terjadi di dalam universum ini termasuk, berada di dalam, dan tidak terlepas dari semesta ‘Takdir Tuhan’. Adapun pilihan seperti ‘minum’, ‘kopi’, ‘kopi hitam dengan gula’ adalah apa yang dinamakan ‘Ketentuan’ (Qodho). Seberapa banyak kita bisa minum – yaitu ukuran dari usus kita, itulah yang dinamakan dengan ‘Ukuran’ (Qodr). Seberapapun hausnya kita, kita tidak akan dapat melampaui kapasitas usus kita;  misalnya karena kita haus berat, maka kita memaksakan untuk minum kopi hitam sebanyak satu gentong – akan terjadi sebuah mekanisme lain yang terjadi yaitu ‘kematian’ (saat dimana fisik dipaksa untuk melampaui mekanismenya sehingga fisik berhenti bekerja karena memang sudah tidak mampu lagi untuk melaksanakan tugasnya).</p>
<p>Dari ilustrasi sangat sederhana di atas, kita dapat melihat bahwa dalam semesta Takdir, kita diberikan sebuah ‘kuasa untuk memilih’ dari sedemikian banyak ranah probabilita ketentuan yang mungkin terjadi, dimana setiap pilihan mengandung konsekuensi; ada sebab, ada akibat. Berbagai pilihan dapat ditambahkan dalam ilustrasi diatas; misalnya, memilih ‘minum kopi hitam panas-panas’ dapat mengakibatkan konsekuensi ‘melepuhnya bibir dan gusi serta tenggorokan’, sehingga, alih-alih ‘rasa haus terpenuhi’, yang terjadi adalah ‘penderitaan’ (sudah haus, bibir melepuh pula, sehingga malah tidak dapat minum apapun). Atau konsekuensi lainnya; misalnya, karena kita kebanyakan minum kopi, timbullah apa yang dinamakan ‘sakit perut’ sehingga ‘harus ke belakang’. Atau, karena terlalu banyak minum kopi, bisa jadi muncul apa yang dinamakan ‘sakit kepala’. Ini hanyalah sebagai ilustrasi sederhana saja, dimana variabel dan perimeternya dapat diganti sekehendak anda.</p>
<p>‘Kuasa untuk memilih’ ini adalah sekedar ‘kuasa untuk memilih ketentuan’ belaka diantara sedemikian banyaknya ketentuan yang mungkin terjadi di dalam universum ‘Takdir Tuhan’, bukan untuk menciptakan sebuah ketentuan lain yang berada di luar universum ‘Takdir Tuhan’. Setiap saat ketika kita, manusia, memilih sebuah ‘ketentuan’ (Qodho), timbullah rangkaian konsekuensi dari ketentuan tersebut yang membawa kepada konsekuensi-konsekuensi lainnya; dimana antar konsekuensi itu bisa jadi berbenturan dengan pilihan orang lain. Misalnya, ketika saya memilih untuk ‘minum kopi hitam’, saya bisa meminta office boy saya (yang semula hendak pergi merokok) untuk membuatkan kopi tersebut alih-alih membuat sendiri minuman kopi hitam.</p>
<p>Dengan meminta orang lain membuatkan kopi untuk saya, saya bisa menghemat waktu saya; yang semula hendak dipakai untuk membuat kopi, bisa dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan, dan sebagai akibatnya, saya bisa mendapatkan promosi karir. Dengan meminta office boy saya untuk membuatkan kopi, si office boy tidak jadi pergi ke halaman belakang untuk merokok, dimana jika ia jadi pergi ke belakang, ia akan bertemu dengan kawan lamanya yang sedang menjaga counter handphone dan akan mengobrol tentang peluang bisnis jualan pulsa di kantor, dimana teman dari office boy ini akan menawarkan bagi si office boy untuk bertindak sebagai ‘kepanjangan tangan’ penjualan pulsa di kantor saya, sehingga si office boy dapat meraih komisi tertentu dari hasil penjualan pulsa tersebut.</p>
<p>Terdapat banyak sekali – jutaan, milyaran, triliunan, bahkan lebih – kemungkinan yang bisa terjadi dalam universum ‘Takdir Tuhan’. Kesemua probabilitas ini telah tercatat dalam sebuah Kitab Induk yang disebut dengan ‘Lauh Mahfudz’. Karena semua probabilitas ini telah tercatat dalam Kitab Induk, dan Kitab Induk ini termasuk dalam pengetahuan Tuhan, maka dapatlah kita katakan bahwa ‘pengetahuan Tuhan melampaui segala sesuatu, penglihatanNya melampaui semua konsekuensi, melampaui sebab-akibat (dimana kita, manusia, seringkali memiliki kesulitan untuk melihat akibat dari pilihan yang kita buat, bahka hanya untuk melihat melampaui konsekuensi/sebab-akibat di dalam tataran pertama saja seringkali kita tidak mampu), TakdirNya mencakup segala sesuatu’. Ibaratnya, kisah hidup kita adalah sebuah novel, dimana Tuhan sebagai Penguasa Sejati bisa melihat sampai ke akhir cerita. Kita, manusia, bergerak dalam lembaran huruf-huruf berurutan yang terjebak dalam dunia tulisan dua dimensi yang tidak sanggup melihat keseluruhan novel kisah hidup kita.</p>
<p><strong>Pilihan Bebas Manusia</strong></p>
<p>Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kita, manusia, memang memiliki ‘free will’ sebagai anugerah Tuhan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardhi (khalifah/pemimpin pengganti Tuhan di muka bumi). Namun ‘kehendak bebas’ ini hanya berarti ‘bebas memilih sebuah ketentuan diantara beberapa banyak ketentuan/Qodho Tuhan yang berlaku sebagai Hukum atau Sunnatulloh’. Bebas yang terbatas; bebas dalam keterbatasan dimensi universum Takdir Tuhan belaka (yang mana luas dari universum Takdir ini kita pun belum tahu). Ini adalah ‘peran serta’ manusia dalam menentukan pilihan hidupnya, sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Namun kebebasan ini pun tidak terlepas dari peranan kebebasan umat manusia lainnya, karena, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, kita semua terkait dalam sebuah ‘Jejaring Takdir Kehidupan’.</p>
<p>Berbicara dalam ranah Jejaring Takdir Kehidupan, dapatlah kita katakan bahwa ‘tidak ada yang kebetulan’ di dunia ini – semuanya adalah rangkaian sebab-akibat dalam sebuah hukum keteraturan yang saling berkait, berkelindan, dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Jika kita bisa mempercayai bahwa kepak sayap seekor kupu di langit Shenzhen dapat mempengaruhi iklim di Florida; maka apa sulitnya untuk percaya bahwa ‘seuntai doa, seuntai harap, sebuah kalimat dzikrulloh, dapat mempengaruhi keadaan diri kita, dan juga umat manusia sebagai sebuah keseluruhan’.</p>
<p>Ibarat seorang Gary Kasparov dapat berpikir delapan langkah ke depan (bahkan mungkin lebih) dalam universum lapangan catur, sehingga ia memiliki kemampuan untuk menentukan langkah-langkah yang dapat membawa dirinya ke dalam kemenangan, kitapun manusia memiliki kemampuan untuk ‘melihat ke depan’ guna ‘merajut langkah Takdir’ yang akan membawa kita kepada ‘Kemenangan Akhir’.</p>
<p>Seorang Gary Kasparov dapat memiliki kemampuan tersebut karena ia belajar, telah terbiasa, dan memahami pola keteraturan yang mungkin terjadi dalam universum permainan catur. Singkatnya, Gary Kasparov dapat meraih kemenangan karena ia ‘memiliki ilmunya’. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Kasparov niscaya bisa kita lakukan pula, selama kita ‘memiliki ilmunya’. Syarat untuk memiliki ilmu adalah dengan ‘belajar’. Belajar dapat diperoleh dengan ‘membaca’. Ayat pertama dalam khazanah pengetahuan Tuhan yang diturunkan kepada Muhammad SAW adalah ‘Iqro!’. Bacalah! Bacalah, dengan Nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakanmu. Kita, manusia, diperintahkan oleh Tuhan untuk membaca, sebagai prasyarat utama agar bisa belajar, agar memiliki ilmu yang dibutuhkan guna meraih ‘Kemenangan Akhir’. Siapapun yang hendak meraih sukses di akhirat hendaklah dengan ilmu, dan siapapun yang berkeinginan meraih sukses di dunia hendaklah dengan ilmu juga.</p>
<p><strong>ini adalah pembahasan menurut saya pribadi, sehingga kebenaran dari pembahasan ini haruslah dikritisi. </strong></p>
<p>al Haqqu mirrobbikum.<br />
allohu a'lam bisshowab...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendekat Kepada Allah dan Meraih CintaNya]]></title>
<link>http://azwarti.wordpress.com/?p=1166</link>
<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 06:01:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>azwarti</dc:creator>
<guid>http://azwarti.id.wordpress.com/2008/07/30/mendekat-kepada-allah-dan-meraih-cintanya/</guid>
<description><![CDATA[Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang  amat Kucintai lebih daripada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang  amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan  padanya. Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan  hal-hal yang sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah  mencintainya, Akulah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar,  Akulah matanya yang ia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang ia gunakan  untuk mengambil dan Akulah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia  meminta sesuatu padaKu, pastilah Kuberi dan andaikata memohonkan perlindungan  padaKu, pastilah Kulindungi." (Riwayat Bukhari)</em></p>
<p>Menjadi hamba yang dekat dengan Allah, ternyata gampang kok. Rasulullah saw  menjelaskan bahwa kita cukup melakukan hal-hal yang telah Allah wajibkan agar  bisa menjadi hamba yang dekat denganNya.</p>
<p>Hal-hal yang Allah wajibkan untuk kita itu jelas dan terperinci, karena  memang terbatas dan hanya sedikit jumlahnya. Begitu pula dengan hal-hal yang  telah Allah larang, larangan-larangan tersebut jelas dan terperinci karena  memang hanya sedikit batasannya.</p>
<p><em>Hadist riwayat Thalhah bin Ubaidillah ra., ia berkata: Seseorang dari  penduduk Najed yang kusut rambutnya datang menemui Rasulullah saw. Kami  mendengar gaung suaranya, tetapi kami tidak paham apa yang dikatakannya sampai  ia mendekati Rasulullah saw. dan bertanya tentang Islam. Lalu Rasulullah saw.  bersabda: (Islam itu adalah) shalat lima kali dalam sehari semalam. Orang itu  bertanya: Adakah shalat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak  ada, kecuali jika engkau ingin melakukan shalat sunat. Kemudian Rasulullah  bersabda: (Islam itu juga) puasa pada bulan Ramadan. Orang itu bertanya: Adakah  puasa lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak, kecuali jika  engkau ingin melakukan puasa sunat. Lalu Rasulullah saw. melanjutkan: (Islam itu  juga) zakat fitrah. Orang itu pun bertanya:Adakah zakat lain yang wajib atasku?  Rasulullah saw. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin bersedekah. Kemudian  lelaki itu berlalu seraya berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambahkan  kewajiban ini dan tidak akan menguranginya. Mendengar itu, Rasulullah saw.  bersabda: Ia orang yang beruntung jika benar apa yang diucapkannya (Hadits Sahih  Riwayat Imam Muslim)</em><!--more--></p>
<p>Dan lebih jauh lagi, jika kita ingin mendapat cinta dari Allah, maka kita  hanya perlu mengerjakan amalan-amalan sunnah atau amalan tambahan. Karena  kedekatan kita kepadaNya dan tambahan perbuatan sunnah yang kita lakukan akan  membuat kucuran cinta Ilahi. Subhanallah, luar biasa kan..</p>
<p><em>Adakah cinta yang lebih indah selain cintanya Allah..?<br />
Adakah yang  lebih agung selain cinta dari Allah.?<br />
Adakah yang lebih mulia selain dicintai  Allah..?</em></p>
<p>Belum lagi faedah yang bisa kita dapat jika Allah telah mencintai kita. Kita  kan terjaga mata, telinga, tangan dan kaki dari hal-hal yang tidak berguna, dan  mendapatkan hal-hal yang bermanfaat dari indra-indra tersebut. Juga kita akan  dipenuhi segala keinginan ataupun doa-doa kita.</p>
<p><em>Andaikata ia meminta sesuatu padaKu, pastilah Kuberi dan andaikata  memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Kulindungi</em></p>
<p>So, mari kita mendekat kepada Allah dengan mengerjakan hal-hal yang Ia  perintahkan. Dan mari kita raih cinta ilahi dengan mengerjakan amalan-amalan  sunnah.</p>
<p>Hayooo, siapa yang mau menjadi hamba-hamba Allah yang dekat denganNya dan  menjadi hamba-hamba Allah yang dicintainya…?</p>
<p><strong>Oleh: Syamsul Arifin*</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah (Penjelasan Ringkas)]]></title>
<link>http://usahadawah.wordpress.com/?p=259</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 23:59:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
<guid>http://usahadawah.id.wordpress.com/2008/07/16/aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah-penjelasan-ringkas/</guid>
<description><![CDATA[Wahyu Arifianto Wrote:
http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wahyu Arifianto Wrote:<br />
http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-262</strong></p>
<p>AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH<br />
(penjelasan ringkas)</p>
<p>Mohon dibaca dengan seksama, tawajjuh dan penuh perhatian…!!! Terima kasih…</p>
<p>1. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (QS. Asy-Syura: 11).</p>
<p>Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian, yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al jawhar al fard) dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini juga terbagi menjadi dua bagian:</p>
<p><!--more--></p>
<p>a.	Benda lathif : sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, roh, angin, dan sebagainya.<br />
b.	Benda katsif : sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan, seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.<br />
Adapun sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al jawhar al fard, juga bukan benda lathif ataupun benda katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti Ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.</p>
<p>2. Rosulullah saw, bersabda, yang artinya:</p>
<p>“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (HR. Bukhari, Baihaqi dan Ibnu al Jarud).</p>
<p>Makna hadits ini, bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).</p>
<p>Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.</p>
<p>Al Imam al Baihaqi (W. 458H) dalam kitabnya al Asma wa as-Shifat, hlm 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah, mengambil dalil dari:</p>
<p>3. Sabda Rosulullah saw, yang artinya:</p>
<p>“Engkau Az-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya) tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah Al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu”. (HR. Muslim dan lainnya.).</p>
<p>Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.</p>
<p>Adapun salah satu riwayat hadits jariyah yang zhahirnya memberi persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwilkan dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, diantaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Senada dengan perkataan Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib-semoga Allah meridhainya, yang maknanya:<br />
“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat”. (di tuturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq hlm. 333).</p>
<p>Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau ada di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh ‘Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya Al Yawaqiit Wa al Jawahir menukil perkataan Syekh ‘Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat.</p>
<p>Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan yang maknanya:<br />
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq Bayna al Firaq, hlm. 333).</p>
<p>Sayyidina Ali –semoga Allah meridhainya- juga mengatakan yang maknanya:<br />
“Sesungguhnya yang menciptakan aina (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kaifa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana”. (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm. 98).</p>
<p>Menurut Ulama Tauhid yang dimaksud al-Mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk, baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-Hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk, baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk ruangan melalui jendela) mempunyai ukuran, demikian juga ‘arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.</p>
<p>Al Imam Ali –semoga Allah meridhainya- berkata, yang maknanya:<br />
“Barangsiapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)”. Diriwayatkan oleh al Imam Abu Nu’man (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’ (Juz I hlm. 72).</p>
<ul>
<li>Maksud perkataan Sayyidina ‘Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.</li>
<li>Semua bentuk baik lathif maupun katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Adapun Allah bukanlah merupakan benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya Ulama Ahlussunnah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah: bahwa ruang kosong yang di isi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang di isi oleh suatu benda.</li>
</ul>
<p>Al Imam as-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husayn ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H- 94 H), berkata, yang maknanya:</p>
<p>“Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang maha suci dari hadd (benda, bentuk dan ukuran)”. Beliau juga berkata: “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh”, yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Ia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan ada tanpa arah. (Diriwayatkan al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah ahlul bait, keturunan Rosulullah saw).</p>
<p>Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan wahdatul wujud dan hulul.</p>
<p>Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya:<br />
“Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir” (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).</p>
<p>Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya Hall ar-Rumuz menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan: ”karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwasanya Allah bertempat, dan barangsiapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyaraat al Maraam.</p>
<p>Al Imam al Hafizh ibn al Jawzy (W. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih, maknanya: ”Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya) dan mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jism; benda), yang tidak mengetahui sifat Allah”.</p>
<p>Di dalam kitab Al Fatawa al Hindiyyah, cetakan Dar Shadir, jilid II, hlm. 259 tertulis sebagai berikut: “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta’ala”.</p>
<p>Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridhainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta’ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi), tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa menyerupai makhluk-Nya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”. Ini adalah penegasan Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridhainya- bahwa beliau menafikan arah dari Allah ta’ala.</p>
<p>Al Imam Malik –semoga Allah meridhainya- berkata: “Ar-Rahman ‘ala al-‘arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kaifa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya”. (diriwayatkan oleh al Baihaqi).</p>
<p>Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda, seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya.</p>
<p>Al Imam as-Syafi’i –semoga Allah meridhainya- berkata: “Barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui pengaturnya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka ia adalah musyabbih; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu’aththil –atheis-; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim”. (diriwayatkan oleh al Baihaqi dan lainnya).</p>
<p>Al Imam Ahmad bin Hanbal dan al Imam Tsauban bin Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik –semoga Allah meridhai keduanya- berkata: ”Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidaklah menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)”. (diriwayatkan oleh Abu al Fadli at Tamimi dan al Khatib al Baghdadi).</p>
<p>Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi –semoga Allah meridhainya- (227-321 H) berkata: ”Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah tersebut”. Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ini merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Dalil dari perkataan tersebut, bahwasannya bukanlah nabi Muhammad saw, naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rosulullah saw, dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad saw, sehingga jarak keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad saw, disaat mi’raj adalah Jibril as, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya-.<br />
Adapun ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya kearah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit/ atas. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat.</p>
<p>Penjelasan seperti ini di tuturkan oleh para Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim dan masih banyak lagi. Perkataan ini juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham wahdah al wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan ijma’ kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh as-Suyuthi, juga para panutan kita ahli tashawwuf sejati seperti al Imam al Junayd al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abd al Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua imam tashawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang mengaku dusta sebagai pengikut tarekat tashawwuf dan meyakini aqidah wahdah al wujud dan hulul. Beliau juga berkata: “Barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.</p>
<p>Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada suatu tempat dan arah, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa dan sebagainya. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa arab adalah bahasa Allah atau kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka ia telah terjerumus kedalam kekufuran, begitu juga orang yang meyakini wahdah al wujud dan hulul.</p>
<p>Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Mu-ayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegangan kepada zhahir al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang mutasyabihat, sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.</p>
<p>Mutasyabihat artinya nash-nash al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an kepada ayat-ayat muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Di antara ayat-ayat mutasyabihat yang tidak boleh di ambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta’ala dalam surat Thaha ayat 5:</p>
<p>Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah duduk (jasala) atau bersemayam atau berada di atas ‘arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Baihaqi (W. 458H), al Imam Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H) dan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa arab mempunyai 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsiri dengan makna yang layak bagi Allah dan harus selaras dengan ayat-ayat muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.</p>
<p>Maka ayat tersebut diatas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai), yakni Allah menguasai ‘arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. Karena al-Qahr merupakan sifat pujian bagi Allah. Dan Allah menamakan Dzat-Nya al-Qahir dan al-Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka dengan nama ‘Abd (hamba) al Qahir dan ‘Abd al Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya ‘Abd al Jalis (al Jalis adalah nama bagi yang duduk). Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat. Penafsiran diatas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai ‘arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan ‘arsy merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). Dalam ayat ini, Allah menyebut ‘arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.</p>
<p>Ibnu al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’i menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya. Yang menta’wil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Diantaranya adalah al Imam ‘Abd Allah ibnu Yahya ibnu Mubarak (W. 273 H), al Imam Abu Manshur al Maturudi al Hanafi (W. 333 H), al Ghazali asy-Syafi’i (W. 505 H), al Hafizh Ibnu al Jawzi al Hanbali (W. 597 H), al Imam Abu ‘Amr ibnu al Hajib al Maliki (W. 646 H), Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi’i (1285-1338 H), Syekh Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi’i (1314-1397 H).</p>
<p>Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang ia katakan tentang ayat (al-Baqarah: 115):</p>
<p>Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya: “Ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan. Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat di atas hewan tunggangannya, ke arah manapun tunggangannya itu menghadap selama arah itu adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah. Sebagaimana yang dikatakan Mujahid (W. 102 H), murid Ibnu ‘Abbas. Dan begitulah seluruh ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah dalam surat an-Nur ayat 35:</p>
<p>Tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan jin dan manusia, yang berada di bumi, yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan ‘Abd Allah ibnu ‘Abbas –semoga Allah meridhainya- salah seorang sahabat Nabi saw. Ta’wil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma’ wa ash-Shifat.</p>
<p>Abu Bakr ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya: ”Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, adapun mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”.<br />
Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada, tidak seperti makhluk-Nya, tanpa memikirkan tentang Dzat(hakekat)-Nya. Adapun berfikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan, karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya. Perkataan Abu Bakr ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya- tersebut diriwayatkan oleh seorang ahli fiqh dan hadits, al Imam Badr ad-Din az-Zarkasyi asy-Syafi’i (W. 794 H) dan lainnya.<br />
———————————————————Why——————————————————–<br />
Demikian penjelasan ini kami kutip dan kami ringkas dari buku “AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH” yang diterbitkan oleh Syahamah press dan dari kitab-kitab yang judulnya telah kami cantumkan diatas, serta hasil mudzakaroh dengan para Ulama. Dan bila pembaca ingin penjelasan lebih luas silahkan baca buku “ALLAH ADA TANPA TEMPAT” yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh Ponpes Dar Ahlussunnah Wal Jama’ah, Kubu-Riau atau silahkan baca kitab-kitab yang judulnya telah kami sebutkan dengan bertanya kepada Ulama-ulama Ahlussunnah terkemuka.<br />
Semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua. Amiiiin….<br />
Wassalam….</p>
<p>Mohon di edit….<br />
jazakallah…</p>
<p>Catatan: Admin blog hanya merapikan. Silahkan untuk dipelajari dengan baik.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERHALA KAUM ATHEIS]]></title>
<link>http://manfaat.wordpress.com/?p=37</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 00:45:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>manfaat</dc:creator>
<guid>http://manfaat.id.wordpress.com/2008/07/03/berhala-kaum-atheis/</guid>
<description><![CDATA[Banyak orang beranggapan bahwa ada sekelompok manusia yang ti-dak memiliki tuhan yang disembah, yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang beranggapan bahwa ada sekelompok manusia yang ti-dak memiliki tuhan yang disembah, yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum atheis. Pendapat ini sangat keliru, karena setiap manusia pasti memili-ki ilah atau tuhan yang disembah olehnya. Demikian pula kaum atheis yang mengaku tidak memiliki agama, di mana secara disadari atau pun tidak oleh mereka sesungguhnya mereka telah membuat beberapa berhala yang diper cayai oleh mereka sebagai yang mengatur jagad raya, disamping berhala-ber-hala lainnya yang mereka puja dan patuhi. Apa sajakah berhala kaum atheis ?<br />
Berhala pertama yang mereka puja dan yakini sebagai pengatur kehi-dupan yaitu masa atau waktu. Mereka sangat yakin bahwa segala kehidupan di alam ini hanya di atur oleh sang waktu. Sehingga kaum atheis termasuk pe nganut faham dahriyyah atau pemuja masa. Mereka berkata :<br />
مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَ نَحْيَا وَ مَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدَّهْرُ<br />
“Kehidupan itu hanyalah kehidupan kami di dunia, kami mati dan kami hi-dup, dan tidak ada yang membinasakan kami kecuali masa.”<br />
( QS. Al-Jatsiyah : 24 )<br />
Pemahaman dahriyyah ini juga dianut oleh sebagian kaum muslimin yang bo doh dengan ‘aqidah Islamiyyah, yaitu ketika mereka tanpa sadar mengucap-kan : “Biarlah waktu yang menentukan !” Sementara itu sebagian kaum mus- limin yang lainnya ada yang mengkeramatkan hari-hari tertentu, seperti Jum- ’at Kliwon dan malam 1 Syuro, dan ada pula yang meyakini adanya hari baik dan hari sial, yang kesemuanya itu adalah pengaruh faham sesat dahriyyah.<br />
Pengaruh faham dahriyyah ini pula merambah ke dunia pendidikan, yaitu dengan dikembangkannya teori-teori ilmu pasti dan alam (paspal) yang mengacu kepada metode kaum ‘ilmaniyyah ( sekulerisme ) yang mengesam-pingkan peran Sang Maha Pencipta dalam penciptaan dan pengaturan jagad raya. Seperti uraian tentang penciptaan alam, hukum-hukum fisika, kimia dan lain-lainya yang semuanya disajikan dengan pembahasan yang jauh dari unsur-unsur ilahiyyah, bahkan kental dengan aroma faham dahriyyah.<br />
Sebagian kaum zhohiriyyah tanpa sadar mendukung pemahaman se-sat kaum dahriyyah tersebut dengan meyakini bahwa Ad-Dahr ( masa ) ada-lah salah satu dari nama Alloh, berdalil dengan sabda Rosululloh :<br />
يُؤْذُوْنِيْ ابْنُ آدَمُ , يَسُبُّ الدَّهْرَ , وَ أَنَا الدَّهْرُ , بِيَدِيْ الأَمْرُ , أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَ النَّهَارَ<br />
“Anak cucu Adam menyakiti-Ku, dia mencaci-maki Dahr ( masa ) padahal Aku-lah Dahr ( yang mereka maksudkan ), karena hanya di tangan-Ku sega-la macam urusan. Aku membolak-balikkan malam dan siang.”<br />
[ HR. Al-Bukhori dan Muslim ]<br />
Hadits tersebut benar, namun mereka hanya memahami hingga kata “ dan Aku-lah Dahr “ saja, padahal yang dimaksudkan dengan perkataan tersebut adalah apa yang disebutkan kemudian “karena hanya di tangan-Ku segala macam urusan. Aku membolak-balikkan malam dan siang ”, yaitu Alloh adalah pengatur segala sesuatu, termasuk masa atau waktu. Perkataan “ Aku-lah dahr ” dikare nakan kaum musyrikin selalu menganggap bahwa penentu segala yang terja-di di dunia ini adalah sang waktu ( dahr ), sehingga ketika mereka tertimpa hal-hal yang tidak disukai mereka mencela Sang pengatur alam, yaitu dahr    -menurut anggapan mereka-. Padahal Alloh-lah Yang mengatur segala urusan. Sehingga yang dimaksudkan oleh kaum musyrikin dengan dahr hakekat se- benarnya adalah Alloh, karena hanya Alloh Yang mengatur alam raya ini.<br />
Berhala kaum atheis yang lainnya adalah hawa nafsu, di mana setiap perilaku mereka dilakukan semata-mata karena keinginan hawa nafsunya.<br />
أَفَرَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ وَ أَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَ خَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً , فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ ؟ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ<br />
“Apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya seba-gai ilah ( tuhan sesembahannya ), dan Alloh telah menyesatkannya berdasar-kan ilmu, Alloh tutup pendengaran dan hatinya dan Alloh letakkan tutup pa-da penglihatannya, maka siapakah yang sanggup memberinya petunjuk sete- lah Alloh ( sesatkan ) ? Tidakkah kalian bisa mengambil pelajaran ?!”<br />
( Qs. Al-Jatsiyah : 23 )<br />
Berhala lainnya yang dipuja oleh kaum atheis adalah pemikiran dan pendapat para pemimpin dan tokoh-tokohnya. Mereka fanatik terhadap pen dapat dan pemikiran para tokoh komunis, seperti : Karl Marx, Charles Dar- win, Stalin, Lenin dan tokoh-tokoh atheis lainnya. Mereka sangat patuh me-ngikuti konsep-konsep yang digariskan oleh para tokoh yang mereka puja. Bahkan mereka menghalalkan segala macam cara demi mewujudkan impian para tokoh-tokohnya, seperti dengan membunuh, merampok, membantai dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan oleh PKI di Indonesia pada ma sa orde lama. Menjelang awal orde reformasi   kaum komunis yang terga-bung dalam Gerakan Komunis Muda bekerja sama dengan sebuah gerakan Kristen Radikal Serikat Jesuit ( SJ ) menyutradarai “kudeta” terselubung ter- hadap Presiden Soeharto   dan mengobarkan kerusuhan di ibukota Jakarta dengan mengkambinghitamkan kaum muslimin dan ABRI  . Cara-cara ko-tor untuk memfitnah umat Islam   dan ABRI menunjukkan bahwa kaum atheis sanggup melakukan apa saja guna meraih impiannya.<br />
Di antara pemahaman atheisme yang disebarkan di dunia pendidi-kan kita adalah konsep evolusi Darwin. Dalam konsep ini, para siswa diajar-kan agar tidak mengakui adanya Pencipta. Mereka dipaksa mengakui pema-haman bahwa makhluq hidup senantiasa mengalami evolusi, yaitu peruba-han dari satu keadaan kepada keadaan lainnya yang lebih sempurna. Konsep ini tidak sebatas mengajarkan bahwa manusia berasal dari kera, namun lebih detail lagi, diajarkan bahwa semua yang hidup berasal dari benda mati yang melalui proses kebetulan berevolusi menjadi makhluq hidup bersel satu, lalu berevolusi kembali menjadi makhluq yang bersel banyak dan seterusnya. Tu- juan dari konsep evolusi ini yaitu menghilangkan peran Sang Pencipta dan menggiring masyarakat agar tidak memusuhi pemahaman atheisme, sehing-ga akan terbuka peluang bagi penyebaran faham atheisme dan komunisme.<br />
Teori evolusi Darwin memiliki banyak kebohongan, apalagi setelah para pakar berhasil membongkar sejumlah skandal pemalsuan fosil yang sa-ngat memalukan, padahal beberapa fosil tersebut merupakan bukti terkuat bagi mereka. Terbongkarnya sejumlah skandal memalukan kaum Darwinis itu merupakan fakta nyata kebatilan teori evolusi Darwin yang sampai seka-rang masih dipaksakan untuk dimasukan ke dalam kurikulum berbagai jen-jang pendidikan di berbagai negara, termasuk di negeri kita.<br />
Bila kaum atheis tidak mempercayai adanya Tuhan sehingga mereka pun menolak untuk beragama, namun di sisi lain muncul orang-orang yang mengaku percaya kepada adanya Tuhan tetapi menolak untuk beragama. Me reka menganggap agama sebagai racun, sama seperti anggapan orang-orang atheis. Bahkan lebih jauh lagi, mereka menuding para nabi sebagai para pen- dusta. Mereka berpendapat bahwa agama hanya untuk orang-orang bodoh dan primitif saja. Inilah ajaran filsafat Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Rozi. Pemahaman sesat inilah yang kemudian dianut oleh kaum pluralis, walaupun tidak sampai seekstrim pendahulunya. Mereka itu sejatinya adalah para ATHEIS BANCI !!!<br />
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mau Taat Atau Murtad, Tiada Keuntungan Bagi Allah]]></title>
<link>http://semangatjihad.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 01:28:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yannah Az Zahra</dc:creator>
<guid>http://semangatjihad.id.wordpress.com/2008/06/01/mau-taat-atau-murtad-tiada-keuntungan-bagi-allah/</guid>
<description><![CDATA[
Ucapan dan Perbuatan
yang Menyebabkan
Kemurtadan


(Ditulis Oleh: Nchie via multiply)

BismiLlahirr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-size:20pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">Ucapan dan Perbuatan</span></div>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:20pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">yang Menyebabkan</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:20pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">Kemurtadan</span></p>
<p><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDrsLAoKCo0AABvnbMY1" target="_blank"></a></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>(Ditulis Oleh: Nchie via multiply)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">BismiLlahirrohmanirrohiim.<br />
Assalamu’alaikum warahmatuLlahi wabarakatuh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><br />
Saudara/i-ku yang dirahmati oleh Allah Ta’ala</span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">…</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:18pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;">La haula walla quata iLla biLlah...</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:16pt;">Allaoohumma innii ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika naashiyatii biyadika maadhin fiyya hukmuka ‘adlun fiyya qodhoo ‘uka, as’aluka bikullismin huwa laka sammayta bihii nafsaka aw anzaltahuu fii kitaabika aw’allamtahuu ahadam min khoqika awista ‘tsarta bihii fii ‘ilmil ghoybi ‘indaka, an taj’alal qur’aana robii’a qolbii wa nuuro shodrii wa jilaa’a huznii wa dzahaaba hammii</span></em></strong><strong><span style="font-size:16pt;">.<br />
</span></strong><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, telah tetap keputusan-Mu padaku dan ketetapan-Mu padaku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama-Mu, yang Engkau berikan nama itu pada diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan ia pada seseorang dari makhluk-Mu, atau apa yang telah berlaku dalam ilmu ghaib-Mu; hendaknya Engkau jadikan Al-Quran sebagai penentram hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghapus rasa gelisahku.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Era globalisasi mendorong manusia untuk selalu melakukan segala </span><span><img style="width:182px;height:253px;" border="0" alt="" /></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">aktifitas guna memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. </span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Seorang muslim bila tidak selektif dalam bertindak, ia akan melakukan perbuatan yang terkadang tanpa disadari dapat menyebabkan kemurtadan. </span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Mereka tidak lagi megetahui batas perintah dan larangan agama, terutama perkara yang menyangkut keimanan dan keyakinan (akidah).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Suatu perbuatan yang zahirnya tanpa islami, belum tentu sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. Akibatnya, sering terjadi tanpa disadari pelakunya telah melanggar aturan agama bahkan mungkin melampaui batas akidah Islamiah yang akan menentukan status seseorang, apakah dia masih layak dianggap muslim atau sama sekali sudah ke luar dari Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Hal ini bisa terjadi, adakalanya karena ketidak-mengertian terhadap ajaran agama secara benar dan mendalam, atau ada unsur sengaja menentang Islam. Mengenai hal ini, Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="SV"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="SV">“<em>Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan merka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya</em>.” (al-Baqarah: 217)</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">ayat ini mengandung pengertian bahwa seorang muslim tidaklah bebas melakukan apa saja sekehendak hatinya. Apabila ia berbuat sesuatu yang bisa menyebabkan kemurtadan (keluar dari agama Islam), Allah akan menghukuminya sebagai orang kafir.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Adapun macam-macam perbuatan murtad telah banyak di tulis para ulama salaf. Di antaranya akan di uraikan dalam risalah ringkasan ini, dengan pertimbangan bahawa Nabi Muhammad saw. Telah mengingatkan umat Islam tentang prilaku mereka dalam sabda beliau,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDrszgoKCo0AACytU@k1" target="_blank"><img style="width:151px;height:336px;" border="0" alt="" /></a></span><strong><span style="font-size:16pt;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;">“Ada kalanya seseorang itu pada pagi hari dalam keadaan Islam tiba-tiba pada sore harinya sudah menjadi kafir dan sebaliknya pada sore hari dia muslim ternyata esok harinya sudah menjadi kafir.”</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">Pengertian Murtad</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Sebelum di uraikan bentuk dan jenis kemurtadan perlu kiranya untuk </span><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDrskQoKCo0AACwaR4k1" target="_blank"><img border="0" alt="" /></a></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">mengetahui definisi murtad. Syeikh Muhammad al-Hijaz al-Halabi mendefinisikan murtad sebagai berikut, “Murtad adalah pemutusan seorang mukallaf (muslim) dari agama Islam dengan pilihannya sendiri (dengan senang hati dan tidak di paksa) dengan berniat, berbuat, atau berucap yang menyebabkan kekafiran. Baik dia melakukan semua itu dengan cara meremehkan, I’tiqad (penuh keyakinan) maupun sengaja menentang (agama Islam).”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Pandangan para ulama dengan menyikapi orang yang murtad adalah </span><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDrtrgoKCo0AAD3hXu01" target="_blank"><img border="0" alt="" /></a></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">sebagai berikut, “Sesungguhnya orang yang murtad (keluar dari agama Islam) itu <span style="text-decoration:underline;">berhak dibunuh</span> (di negara yang memberlakukan hukum Islam secara menyeluruh), <span style="text-decoration:underline;">istrinya tertalak bain</span> (talak tiga) darinya, <span style="text-decoration:underline;">tidak berhak menerima warisan</span> dari kerabatnya yang mukmin. <span style="text-decoration:underline;">Tidak boleh di tolong sekalipun meminta pertolongan</span>, <span style="text-decoration:underline;">tidak boleh disanjung</span> ataupun di puji sekalipun melakukan kebajikan atau kebaikan, <span style="text-decoration:underline;">hartanya menjadi harta faik </span>(dimasukana ke baitul mall) untuk kemaslahatan kaum muslimin. Semua ini adalah hukuman untuknya di dunia. (Sebagai hukuman akhirat) dia tidak berhak atas pahala<span> </span>amal ibadahnya yang dia kerjakan selama dia masih beriman bahkan pahalanya dicabut dan tidak memiliki apa pun dari pahala itu.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Menengok keterangan di atas, sudah selayaknya umat Islam mengetahui beberapa macam perbuatan murtad yang dewasa ini banyak berkembanag di tengah masyarakat. Berikut ini akan di uraikan macam-macam perbuatan yang bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, dengan harapan agar kita lebih berhati-hati dalam bertindak dan tidak sampai terjerumus kepada perbuatan yang membahayakan akidah. Beberapa perbuatan yang dapat menyebabkan murtad di antaranya,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:16pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:16pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">Murtad Karena Ridha (rela) terhadap kekafiran</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Kaitan sikap rela (ridha) terhadap kekufuran telah disebutkan dalam </span><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDrtVQoKCo0AAD3YXM01" target="_blank"><img style="width:163px;height:244px;" border="0" alt="" /></a></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">kaidah fiqih. <span style="text-decoration:underline;">Ridha (setuju) terhadap kekafiran hukumnya kafir</span>, seperti seorang muslim setuju (apalagi mendukung) perbuatan ritual orang yahudi dan Nasrani dan ikut mambantu menyiarkan agama mereka, menyebabkan orang tadi murtad (keluar dari agama Islam). Demikian juga (hukumnya orang yang) membantu menyiarkan kekafiran yang keluar dari kelompok aliran sesat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Al-Imam al-Qadhi Iyadh menerangkan dalam kitab beliau as-Syifa bi Ta’rifi Haqqi al-Musthafa, ”demikian juga kita (kaum Muslimin) <span style="text-decoration:underline;">menganggap ‘kafir’ orang yang tidak mengafirkan penganut agama atau aliran-aliran selain yang di anut oleh kaum muslimin</span>, mendukung mereka (penganut agama selain Islam), <span style="text-decoration:underline;">meragukan kesalahan mereka</span>, atau <span style="text-decoration:underline;">membenarkan keyakinan mereka</span>, <span style="text-decoration:underline;">meskipun orang tersebut menampakkan keislamannya</span>.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Jadi, jika ada orang yang tidak mengafirkan penganut agama selain Islam,</span><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDruCQoKCo0AAD3YXRo1" target="_blank"><img border="0" alt="" /></a></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> orang tersebut dihukumi kafir. </span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Kejadian semacam ini sangat banyak ditemui di kalangan orang-orang Islam sendiri yang biasanya berdalih untuk memperjuangkan hak asasi manusia, saling menghargai antara sesama umat beragama dan lainnya. Dalam kaitan ini, Islam memperbolehkan umatnya untuk memperjuangkan hak asasai manusia sebatas tidak bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memperjuangkan hak kebebasan sesesorang untuk berbuat kekafiran dan kemusrikan di muka bumi, jelas di larang oleh Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:16pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:16pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">Murtad Karena Persekutuan (Kerja Sama)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Dalam memahami kemurtadan yang disebabkan karena adanya </span><span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDruSAoKCo0AAEoujP41" target="_blank"><img style="width:176px;height:133px;" border="0" alt="" /></a></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">hubungan persekutuan atau kerja sama perlu kirannya umat Islam memperhatikan pendapat beberapa ulama seperti,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Al-Imam al-Qadhi Iyadh al-Yahsubi (wafat 544 H) menerangkan bahwa termasuk perbuatan yang menyebabkan kemurtadan adalah, “Berjalan ke gereja bersama umat Nasrani dengan memakai ikat pinggang (khas mereka) di hari raya mereka.”</span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Penjelasan di atas dilengkapi oleh keterangan seorang ulama dari Arab, as-Syeikh Muhammad al-Hijaz, “ Di antara macam-macam kemurtadan adalah berjalan kegeraja bersama penganut Nasrani dan berkumpul bersama mereka dalam perayaan-peryaan keagamaan yang diadakan di gereja dan ikut meramaikan syiar-syiar kekafiran lainnya.”</span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Senada dengan Syeikh Muhammad al-Hijaz, Imam Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Husain bin Mansur at-Thabari al-Faqih as-Syafii mengatakan, “ Kaum muslimin tidak diperbolehkan menghadiri hari raya atau ritual mereka (orang kafir baik Yahudi maupun Nasrani atau agama lainnya), karena mereka itu berada dalam kemungkaran dan kerusakan, apabila orang yang baik (orang muslim) berkumpul dengan ahli kemungkaran (orang-orang kafir) tanpa menginkari (perbuatan mereka), sama halnya meridhai kemungkaran mereka dan mendukungnya. Kita khawatirkan turunnya azab Allah kepada pengikut mereka (kaum muslimin yang meridhai kekafiran) sehingga azab Allah pun menjadi musibah bagi semua orang. Kita berlindung dari kemurkaan-Nya.”</span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Abu Hasan al-Amidi mengatakan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan menyaksikan perayaan ritual orang-orang Nasrani dan Yahudi. Hal ini sebagai nash (ketetapan) Imam Ahmad.</span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Selain melarang menghadiri perayaan ritual non muslim, umat islam juga diperintahkan menjuhi kegiatan ritual kaum kafir, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan oleh seorang ulama hadits terkemuka Imam Bukhari (termaktub di luar kitab sahih Bukhari) bahwa Sayyidina Umar Ibnul Kahththab r.a.berkata, “ Jauhilah (orang-orang kafir) pada saat perayaan ritual mereka.”</span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Selain itu, termaktub pula dalam kitab-kitab pengikut (Imam Abu Hanifah, “Barangsiapa memberi hadiah semangka (kepada orang kafir) pada saat hari raya perayaan ritual mereka dengan maksud menghormati perayaan tersebut, berarti orang tersebut telah kafir.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Namun yang patut menjadi keprihatinan bersama adalah, sejak menggelindingnya bola reformasi banyak dari kalangan umat islam bersedia menghadiri undangan perayaan hari-hari besar umat non-muslim yang diadakan di tempat-tempat ibadah mereka atau di tempat perayaan manapun <span style="text-decoration:underline;">yang sekali lagi hal tersebut diakukan atas nama demokrasi, toleransi, dan hak asasi manusia</span>. Demikian pula dengan kehadiran umat Islam pada seminar yang diadakan di gereja atau di tempat-tempat perkumpulan yang diadakan kaum Nasrani, yang dalam hal ini terdapat unsur imaramatul kanais (menyemarakkan / mendukung kegiatan gereja). Inilah di antara perbuatan yang dapat membahayakan akidah uamat Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><br />
Dalam konteks ini Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="SV"><span> </span></span><strong><span style="font-size:16pt;" lang="SV">“<em>Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. </em></span></strong><strong><em><span style="font-size:16pt;">Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang di takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)</span></em></strong><strong><span style="font-size:16pt;">”<span> </span>(QS. Ali Imran : 28)</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Dalam firman Allah yang lain,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:16pt;" lang="SV">“<em>Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. </em></span></strong><strong><em><span style="font-size:16pt;">(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi tean-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah</span></em></strong><strong><span style="font-size:16pt;">.” (QS. an-Nisaa’: 138-139)</span></strong><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:16pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:16pt;font-family:MarkerFeltWide-Plain;color:red;">Murtad Karena Perkataan</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Murtad yang disebabkan karena perkataan sangatlah banyak. Tentunya </span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">yang dimaksud perkataan disini ialah perkataan yang bernada menghina dan melecehkan umat dan Agama Islam (<span style="text-decoration:underline;">seperti ucapan sesesorang yang jelas bertentangan dengan ayat al-Quran dan hadits. Ucapan yang bernada menghina Rasulullah saw., atau ucapan yang men-diskredit-kan al-Quran serta hadits mutawatir, seperti mengatakan isi al-Quran sudah tidak relevan untuk saat ini, untuk itu perlu direvisi atau mengatakan Nabi Muhammad itu manusia biasa, jadi adakalanya benar, juga adakalanya salah, jadi boleh kita berselisih pendapat dengan beliau</span>), <span style="text-decoration:underline;">maupun ucapan yang bersifat mengakui kebenaran ajaran agama orang kafir dan meragukan kebenaran ajaran Islam</span>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Contohnya, ucapan seorang mukmin, “<strong><span style="color:red;">Orang Yahudi dan Nasrani itu </span></strong></span><span><img border="0" alt="" /></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><strong><span style="color:red;">lebih baik daripada orang Islam</span></strong>,” dengan maksud memuji Orang kafir dan menghina orang Islam.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Demikian pula apabila seseorang mengatakan bahwa <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:red;">orang Nasrani itu bukan orang kafir karena agama Nasrani juga termasuk agama samawi yang mengakui adanya Tuhan</span></span></strong>. Ucapan ini jelas bertentangan dengan firman Allah swt.,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:16pt;">“<em>Sungguh kafir orang yang mengatakan bahwa Allah itu salah satu dari yang tiga (Trinitas)...</em> “ (al-Maa’idah: 73)</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Ajaran Trinitas ini merupakan keyakinan orang-orang Nasrani, dan Allah swt. Menghukumi mereka sebagai orang kafir. Dengan demikian, orang yang mengatakan bahwa orang Nasrani itu bukan kafir telah dianggap murtad karena bertentangan dengan firman Allah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><span> </span>Al-Imam al-Qadhi Iyadh menukil, “…dan al-Imam al-Ghazali mengatakan sebagaimana keterangan terdahulu dalam kitab at-Tafriqah, perkataan tersebut (di atas) adalah ‘kafir’ menurut ijma’ para ulama tersebut (sebagai hukum) bagi orang yang tidak menganggap penganut Nasrani dan Yahudi itu kafir.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span><br />
<span><a href="http://nchiedive.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDrvwgoKCo0AAF7HQ7Q1" target="_blank"><img border="0" alt="" /></a></span><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Saudara/i-ku yang dirahmati oleh Allah Ta’ala.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:16pt;" lang="SV">Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaanii, yafqohuu qoulii.</span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><br />
Ketahuilah...</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">Tiada keuntungan sedikit pun bagiku jika aku harus meyampaikan hal-hal yang merupakan <span style="font-weight:bold;">FITNAH</span>. Karena jika itu motivasiku, maka sudah pasti<span> </span>itu dapat <span style="font-weight:bold;color:#ff0000;">MENCELAKAKAN</span> diriku sendiri di hadapan Allah Ta’ala. <span style="font-weight:bold;">TIDAK</span>...na’udzubiLlah...!! Demi Allah, aku tidak mengingikan hal itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><br />
Begitu tuntas aku menyampaikan semua ini, lepaslah sudah hutangku terhadap kelawaziman seorang hamba atas perintah Rabb-nya, juga perintah Rasul-nya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><br />
Maka daya dan upayaku selanjutnya hanyalah sekadar berdo’a, dan memohon kepada Allah Ta’ala agar saudaraku rahiimakumuLlah dijauhkan-Nya dari berbagai kesesatan yang begitu dalam. Namun demikian, keputusan untuk mau mendengar ataupun tidak, mutlak ada di diri Anda masing-masing melalui hidayah dari Allah Ta’ala. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;"><br />
Subhaanakalloohumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:NimbusSanPLigCon;">WabiLlahi taufiq wal hidayah,<br />
Wassalamu’alaikum warahmatuLlahi wabarakatuh<br />
Karina Dive,---</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">Referensi :</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li><span lang="SV">Al-Qur’an al-Kariim</span></li>
<li><span lang="SV">As-Syeikh Muhammad al-Hijaz, Shaut al-Mimbar (Arab      Saudi : Dar Mishr Li at-Thibqa’ah. 1404 H), hlm. 268, 272</span></li>
<li><span lang="SV">Al-Qadhi Abi al-Fadh Iyadh al-Yahshuby, As-Syifaa’      (Beirut: Dar al-Kutub al Ilmiyyah. 1399 H,), hlm. 281, 326.</span></li>
<li><span lang="SV">Syeikh Ibnul Qayyim al-Jauzi, Ahkamu Ahli      adz-Dzimmah, hl,. 156.</span></li>
<li><span lang="SV">L. Luthfi Bashori – Musuh Besar Umat Islam hlm 95</span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
