<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>all-about-zikir &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/all-about-zikir/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "all-about-zikir"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 16:19:20 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pentingkah Memperbanyak Zikir?]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=1340</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 06:16:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/09/26/pentingkah-memperbanyak-zikir/</guid>
<description><![CDATA[
Quito R. Motinggo
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu hendak menipu Allah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/09/zikir2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1346" title="zikir2" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/09/zikir2.jpg" alt="" width="161" height="240" /></a><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Quito</span></span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;"> R. Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Allah SWT berfirman : “<em>Sesungguhnya orang-orang munafiq itu hendak menipu Allah dan Allah membalas tipuan mereka. Dan  apabila  mereka  berdiri untuk  shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka  bermaksud riya'  di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka itu berzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali</em>” (QS Al-Nisa [4]:142)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Orang munafiq juga melakukan shalat, tetapi untuk melangkah berwudlu saja mereka merasa enggan dan malas. Andai mereka shalat pun mereka melakukannya dengan terpaksa, yaitu bukan karena ingin memperoleh ridha dan cinta Allah Swt, tetapi hanya ingin mendapatkan keridhaan dan cinta manusia. </span><!--more--></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Orang-orang munafiq juga berzikir tetapi zikir mereka itu<span> </span>sangatlah sedikit. Zikir yang dilakukan orang-orang munafiq hanya bertujuan untuk mengejar status “Keislaman dan Keberimanan” mereka dimata manusia, bukan dimata Tuhan. Ini semua itu karena mereka tidak beriman kepada Allah sehingga mereka tidak akan mungkin dapat mengenal-Nya dan tidak mengenal diri mereka sendiri. Bahkan dalam firman-Nya, mereka itu lupa kepada diri mereka sendiri.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><strong><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">“</span></strong><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Mereka  (orang-orang  munafiq) telah  melupakan  Allah maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya  orang-orang  munafiq itulah orang-orang yang fasiq</span></em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">” (QS Al-Taubah [9]:67)</span></p>
<p class="MsoPlainText">
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Orang-orang munafiq adalah orang-orang yang pura-pura beriman padahal hati mereka penuh dengan keingkaran. Mereka adalah musuh dalam selimut bagi orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang memiliki rencana untuk menghancurkan Islam dan Kejayaan Kaum Beriman. Mereka senantiasa siap menikam dari belakang orang-orang yang beriman. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla menimpakan hukuman terberat bagi mereka di Akhirat kelak. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">“<em>Sesungguhnya orang-orang munafiq itu ditempatkan pada  ting­katan paling bawah dari neraka</em>.” (QS Al-Nisa [4] : 145)</span></p>
<p class="MsoPlainText">
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">MEMPERBANYAK</span></strong><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> zikir bukan saja perlu tetapi merupakan suatu kewajiban. Jika Anda merasa berat melakukannya, itu karena Anda baru pertama kali melakukannya. Adalah wajar jika kita merasakan berat melakukan sesuatu yang baru pertama kali kita coba. Namun jika itu dilakukan secara terus menerus dengan <em>thuma’ninah</em> (dengan perlahan)<span> </span>niscaya secara bertahap akan terasa nikmat dan menyenangkan. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Keberatan, kemalasan yang alami harus anda terjang, jika tidak, Anda akan mengalami kerugian terbesar di dalam hidup Anda.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Imam Muhammad al-Baqir as berkata : “<em>Hati-hatilah kamu dari kemalasan dan kebosanan, sebab keduanya  kunci setiap kejelekkan.  Siapa  yang  malas tidak  akan  melaksanakan kewajibannya dan  siapa  yang bosan  tidak  akan bisa bersabar  di  dalam  melakukan kebenaran</em>.” <em>13]</em> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Karena itu cobalah berjuang melawan kemalasan, kejenuhan dan keragu-raguan agar hidup Anda lebih terarah dan memiliki makna.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Seperti sudah kita ketahui dari ayat-ayat di atas bahwa salah satu tanda orang-orang yang mengidap penyakit nifaq (munafiq) adalah enggan melakukan zikir kepada Allah kecuali sedikit sekali. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak sama sekali melakukan aktifitas zikir di dalam kehidupan mereka sehari-hari? <em>Na’udzubillahi min dzalik</em>, kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Hendaknya kita banyak berzikir, agar terlindungi dari penyakit nifaq sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as, ”<em>Barangsiapa yang banyak berzikir kepada Allah maka  sungguh terlepaslah dia dari penyakit nifaq (kemunafikan)</em>” <em>14]</em></span></p>
<p class="MsoPlainText"><strong><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoPlainText"><strong><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">DUA SURAT KEBEBASAN</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Selain </span><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">terbebaskan dari penyakit <em>nifaq</em>, orang yang banyak berzikir juga terbebaskan dari Siksa api Neraka!</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata : “<em>Barangsiapa banyak berzikir kepada Allah, dia akan menerima kasih sayang Allah. Barangsiapa senantiasa berzikir kepada Allah dia akan memperoleh 2 surat kebebasan yang dituliskan untuknya : Surat kebebasan dari Siksa Api Neraka dan Surat Kebebasan dari Sifat munafik</em>” <em>15]</em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Neraka adalah manifestasi dari seluruh aktifitas manusia yang melupakan Eksistensi Allah. Karena semua keburukkan, dan kejahatan manusia bersumber dari Kealpaan dari mengingat-Nya. Na’udzubillah min dzalik. (Semoga Allah melindungi kita dari yang demikian itu)</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Apapun yang kau miliki,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">bukankah semua itu merupakan hasil dari pencarianmu?</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Setiap pencarian yang kau lakukan mengingatkanmu selalu</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">dan memberimu kabar baik.</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Maka berusahalah supaya pencarianmu bertambah</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Karena bagi mereka yang telah menanam</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">dengan sungguh-sungguh, tentu akan memetik</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">hasil yang berlimpah</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:.25in;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">(Rumi, 3753-3754)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]-->&#60;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoPlainText, li.MsoPlainText, div.MsoPlainText 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&#62;</p>
<p><!--[if gte mso 10]&#62;--><br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
mso-para-margin:0in;<br />
mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:10.0pt;<br />
font-family:"Times New Roman";}</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allah Swt Tidak Ridha Dengan Zikir Yang Sedikit]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=1276</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 04:31:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/09/11/allah-tidak-ridha-dengan-zikir-yang-sedikit/</guid>
<description><![CDATA[
Imam Ja’far al-Shadiq as berkata : “Tidak ada sesuatu pun melainkan baginya ada batas akhirnya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/09/tasbih-zikir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1282" title="tasbih-zikir" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/09/tasbih-zikir.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Imam Ja’far al-Shadiq as berkata : <em>“Tidak ada sesuatu pun melainkan baginya ada batas akhirnya kecuali berzikir. Karena sesungguhnya zikir itu tidak memiliki batasan akhirnya. Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan beberapa kewajiban yang manakala seseorang melakukannya maka ada batasannya. …kecuali zikir, maka sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak ridha dengan zikir yang sedikit dan Allah juga tidak menetapkan batasan akhirnya. Kemudian Abi Abdillah (Imam Ja’far) as membacakan ayat : “Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi hari dan petang</em>.” 8]</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Allah Swt tidak ridha dengan zikir yang sedikit, karena selain zikir yang sedikit juga bisa dilakukan oleh kaum munafiq, zikir yang sedikit juga tidak memberikan dampak terhubungkannya kita dengan Asma Allah. Sesungguhnya Allah SwT menginginkan kita berzikir dengan zikir yang sebanyak-banyaknya adalah agar kita memperoleh kesadaran, yang salah satunya adalah kesadaran bahwa kita (manusia) memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan alam dan lingkungan kita sendiri. Banyak kesadaran yang dapat kita peroleh di dalam ketekunan berzikir, di antaranya Kesadaran Insaniyyah dan Kesadaran Ilahiyyah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">APA ITU KESADARAN INSANIYYAH?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kesadaran Insaniyyah adalah suatu bentuk kesadaran akan kemanusiaan yang ada dalam diri kita. <em>“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi orang-orang yang meyaqini, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(QS 51 : 20-21)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kesadaran ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan seperti : Dari manakah asal usul kita sebenarnya? Dimanakah kita saat ini? Dan hendak kemanakah kita ini? Namun yang paling esensial dari semua pertanyaan yang timbul, adalah pertanyaan “Siapakah aku ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Seseorang mesti peduli dengan keberadaannya, jika tidak, ia akan tidak berbeda seperti hewan atau binatang ternak yang hidup hanya untuk makan, minum, berkembang biak, buang kotoran, dan kemudian mati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“<em>Dan mereka (orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia ini saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa</em>.” (QS 45 : 24)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">EMPAT SIFAT KESADARAN BINATANG</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Pertama</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">, Kesadaran binatang bersifat dangkal, artinya kesadaran atas lingkungannya hanya mengandalkan inderawinya. Kesadaran seperti ini tidak melibatkan kesadaran akan esensi atau seluk beluk obyek kesadaran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kedua</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">, Kesadaran binatang juga bersifat tunggal dan terbatas, artinya binatang tidak mampu melakukan generalisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ketiga</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">, Kesadaran binatang bersifat regional dan terbatas hanya pada habitat binatang saja dan tidak memiliki kemampuan untuk melampaui batasan lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Keempat</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">, Kesadaran binatang bersifat temporer, sementara, tergantung pada masa kini, terputus dari masa lalu dan masa mendatang. Binatang tidak tahu sedikitpun tentang dunia dan sejarahnya. Kalau pun binatang mampu melampaui batasan-batasan ini maka hal itu tidak terjadi berdasarkan ilmu pengetahuan, akal sehat dan pilihan melainkan secara tidak sadar dan bersifat naluriyah belaka. <em>9]</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sebaliknya, kesadaran manusia bahkan mampu melampaui subyek dan obyeknya, dan kesadaran yang mampu melampaui subyek dan obyek inilah yang disebut Kesadaran Insaniyyah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Rasulullah saww bersabda : “<em>Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” : “Barangsiapa yang mengenal diri (nafs)–nya maka sungguh ia akan mengenal Tuhannya</em>.” <em>10]</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Siapapun yang bersungguh-sungguh mencari jati dirinya niscaya kesungguhan dan ketulusannya akan mengantarkannya kepada pengenalan kepada Tuhannya yang merupakan asalnya. “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un” : “<em>Sesungguhnya kami ini milik (dari) Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali</em>” (QS 2 : 256)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Laa hawla wa laa quwwata illa billah...</span></em></p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Zikrullah Itu?]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=1218</link>
<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:38:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/09/04/apakah-zikrullah-itu/</guid>
<description><![CDATA[
&#8220;SUNGGUH,  berzikir  kepada Allah itu adalah hal yang  teramat besar!” (QS 29 : 45)
 Ditinj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoPlainText" style="text-align:left;"><a href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/09/zikir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1253" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/09/zikir.jpg" alt="" width="250" height="187" /></a></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:left;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN">"<strong>SUNGGUH</strong>,  berzikir  kepada Allah itu adalah hal yang  teramat besar!” (QS 29 : 45)</span></p>
<p class="teks" style="text-indent:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN"> Ditinjau </span><span style="font-family:&#34;" lang="IN">dari segi bahasa, kata <em>zikir</em> berasal dari akar kata : <em>dzakara - yadzkuru - dzikran</em> yang berarti: menyebut, mengingat, atau menghadirkan sesuatu yang tersimpan dalam pikiran. Di dalam al-Qur’an, kata <em>adz-dzikr</em> disebutkan sebanyak 285 kali dalam berbagai bentuknya. Delapan belas kata di antaranya berarti laki-laki (<em>dzukuur</em>). Di samping kata dzikr, dalam al-Qur’an juga terdapat kata <em>muddakkir</em> (memakai huruf dal), yang oleh <em>Muhammad Fuad al Baqi</em>, (penyusun Kitab <em>al-Mu’jam al-Mufahras</em>) dimasukkan dalam kelompok kata <em>dzikr</em>.</span><!--more--></p>
<p class="teks" style="text-indent:0;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Namun di dalam istilah bahasa, kata <em>zikir</em> bermakna menyebut atau mengingat. Karena itu zikir dilakukan dengan lisan dengan menyebut Asma (Nama) Allah secara berulang-ulang sambil mengingat-Nya di dalam hati. Zikir yang sesungguhnya mesti melibatkan lidah dan hati.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN">Di dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Nabi Musa as bermunajat, beliau memohon kepada Allah SwT : “Wahai Tuhan, Apakah imbalan bagi seseorang yang berzikir kepada-Mu dengan lidah dan hatinya?”, Tuhan menjawab : “Aku akan menempatkannya di bawah lindungan ‘Arsy dan penjagaan-Ku di Hari Qiyamat” <em>1]</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">Jika berzikir hanya menyebut dengan lidah tanpa melibatkan hati mungkin itu pekerjaan yang tidak sulit (walaupun tidak bisa dikatakan mudah). Tetapi ketika zikir kepada Allah diharuskan juga melibatkan hati dan jiwa maka zikir seperti itu tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;"> Jadi, apa sebenarnya Zikir itu?</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN"> Pada hakikatnya, zikir merupakan sebuah aktifitas untuk melepaskan diri dari kelalaian, yaitu dengan senantiasa menghadirkan kalbu bersama<span> </span><em>al–Haqq</em> (Allah). </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN">Almarhum Imam Khomeini qs (<em>qadasallahu sirruhu</em>) mengatakan, ”Berzikir kepada Allah” atau “mengingat-Nya” adalah mengingat seluruh rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu. Engkau tahu bahwa rasa terima kasih atau syukur itu bersifat alamiah dan fitrah manusia memerintahkan manusia untuk berterima kasih kepada siapa pun yang telah bermurah hati kepadanya. <em>1a]</em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN"> Berdasarkan pemahaman tersebut, maka mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda–tanda kekuasaan–Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah–Nya dan menjauhi larangan–Nya sesungguhnya – dengan berbuat demikian – mereka tengah berzikir kepada Allah. <em>2]</em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;">Laa hawla wa laa quwwata illa billah...</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berdoa dan Berzikir Tidak Dengan Teks Yang Rasulullah Saw Ucapkan Adalah Bid’ah?]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=1044</link>
<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 02:32:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/08/05/berdoa-dan-berzikir-tidak-dengan-tuntunan-rasulullah-saw-bid%e2%80%99ah/</guid>
<description><![CDATA[
Di antara sekian banyak kebodohan kaum Wahabi-Salafi adalah tuduhan bid’ah atas orang-orang yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/08/doa.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1053" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/08/doa.jpg?w=160" alt="" width="160" height="240" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Di antara sekian banyak kebodohan kaum Wahabi-Salafi adalah tuduhan bid’ah atas orang-orang yang berdoa atau berzikir tidak sama dengan teks yang diucapkan Rasulullah Saw. Benarkah tuduhan keji seperti itu?</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span> </span></span><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Al-Thabrani</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> meriwayatkan, bahwa Nabi saw pernah melewati seorang Arab Badui yang sedang berdoa di dalam salatnya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">“Wahai Zat Yang tidak dilihat oleh mata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tidak dapat dicampuri oleh sangkaan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tidak dapat disifatkan oleh orang-orang yang menyifatkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tidak dapat diubah oleh kejadian,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">dan tidak mengkhawatirkan malapetaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Dia mengetahui apa yang dikandung oleh gunung,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">apa yang ada di dalam lautan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">bilangan tetesan hujan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">bilangan daun pohon,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">bilangan yang digelapkan oleh malam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">dan bilangan yang disinari oleh siang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Tidak tersembunyi dari-Nya langit yang terletak di atas langit,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tidak pula bumi yang terletak di bawah bumi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tidak pula lautan dan apa yang ada di kedalamannya (dasarnya),</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">dan tidak pula gunung dan apa yang ada di dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">(Ya Allah), jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">sebaik-baik amalku pada penutupannya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">dan sebaik-baik hariku adalah pada hari aku berjumpa dengan-Mu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Maka, Rasulullah saw menyuruh seseorang mendatangi orang Arab Badui itu, “<em>Jika dia (orang Arab Badui itu) selesai salat, bawa dia menemuiku!</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Saat itu Rasulullah saw baru saja mendapatkan hadiah berupa emas. Ketika orang Arab Badui itu datang, Rasulullah saw memberikan emas itu kepadanya, lalu beliau berkata kepadanya, “Apakah engkau tahu, mengapa aku memberimu emas?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Orang Arab Badui itu menjawab, “Karena kekerabatan antara diriku denganmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Rasul yang mulia bersabda, “Sesungguhnya kekerabatan itu memiliki hak. Akan tetapi, aku memberimu emas itu karena pujianmu yang bagus kepada Allah.” *] </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Bandingkanlah sabda Rasulullah saw tersebut dengan apa yang dikatakan <em>al-Syadzili</em> (ulama Wahabi) bahwasanya dia berkata, “Barangsiapa yang berdoa selain doa yang Rasulullah panjatkan, maka dia adalah pembuat bid’ah.” (Ismail Haqqi al-Barusawi, <em>Ruh al-Bayan,</em> 9:385)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Padahal kita tahu bahwa Rasulullah Saw telah memberi emas kepada laki-laki Arab Badui itu tidak lain justru karena dia berdoa tidak seperti yang diajarkan Rasulullah Saw. Laki-laki itu telah melakukan “bid’ah” tetapi Rasulullah Saw justru menghadiahinya emas. Bukankah ini aneh? Padahal laki-laki badui itu asli Salaf dan dia mencontohkan cara berdoa Salaf, bukankah begitu?<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Laa hawla wa laa quwwata illa billah!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Catatan Kaki</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">*] Muhammad al-Ghazali, <em>Turatsuna al-Fikri fi Mizan al-Syar’ wa al-‘Aql, </em>hlm. 102</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zikir Di dalam Ajaran Hindu, Sikh dan Kristen]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=1034</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 02:17:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/07/29/zikir-di-dalam-ajaran-hindu-sikh-dan-kristen/</guid>
<description><![CDATA[
Ternyata, ajaran Zikir kepada Tuhan tidak hanya ada di dalam ajaran Islam saja. Hampir semua agama ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/07/monk-at-prayer.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1039" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/07/monk-at-prayer.jpg?w=200" alt="" width="200" height="204" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ternyata, ajaran Zikir kepada Tuhan tidak hanya ada di dalam ajaran Islam saja. Hampir semua agama mempunyai doktrin Berzikir Kepada Tuhan. Misalnya di dalam agama Hindu, di dalam <strong>Kitab Bhagavad Gita</strong> tercantum ajaran suci ini sebagaimana disebutkan di dalam edisi Bahasa Inggerisnya :</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“<span style="color:blue;">I am easily attainable by that ever steadfast Yogi who constantly remembers Me daily, not thingking another, O Partha!</span>”(<em>Bhagavad Gita VIII – 14</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Aku dengan mudah dapat dicapai melalui ketabahan <em>Yogi</em> yang secara langgeng mengingat-Ku setiap hari dan tiada memikirkan yang lain, wahai Partha!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Ajaran Hindu mengistilahkan zikir atau mengingat Tuhan dengan istilah <em>Smarana</em>. Di dalam ajaran Hindu. Ajaran mengingat Tuhan ini diajarkan untuk dipraktekkan secara terus menerus sepanjang hidup seseorang sebagai Jalan Keyakinan untuk mencapai DIA.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Seseorang yang senantiasa mengingat-Nya selama 6 bulan dan meninggalkan praktek tersebut untuk sementara, kemudian kembali melanjutkan praktek mengingat-Nya selama 6 bulan lagi dan begitu seterusnya tidak akan dapat mencapai DIA. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Mengingat-Nya harus dilakukan secara kontinyu tanpa henti dan tiada mengenal waktu, keadaan dan tempat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Di dalam ajaran Hindu, praktek mengingat Tuhan juga termasuk mendengarkan kisah-kisah yang berkaitan dengan Tuhan, membicarakan tentang Dia, mengajarkan kepada orang lain tentang Dia dan melakukan meditasi tentang sifat-sifat-Nya secara terus menerus.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span><em><span lang="IN">Smarana</span></em><span lang="IN"> adalah ajaran untuk mengingat nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak putus-putus. Pikiran harus dibersihkan dari obyek apapun dari dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN"> Smarana</span></em><span lang="IN"> adalah suatu keadaan dimana pikiran menjadi terpikat oleh Kemuliaan Tuhan semata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Praktek Smarana ini tidak dibatasi oleh waktu-waktu tertentu. Tuhan harus senantiasa diingat di setiap saat tanpa terputus sepanjang<span> </span>seseorang masih dalam kesadarannya yang utuh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Dimulai dari bangun tidur di pagi hari sampai seseorang kembali tidur setelah dirinya merasakan penat di malam hari. Di dunia ini seseorang tidak memiliki kewajiban lainnya selain Mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan semata dapat menghancurkan semua tekanan-tekanan duniawi. Mengingat Tuhan semata dapat mengalihkan pikiran kita dari obyek-obyek pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Mengingat Tuhan adalah metoda <em>Sadhana</em> yang sangat sulit. Adalah tidak mungkin mengingat-Nya setiap saat secara kontinyu. Pikiran sering memperdaya seseorang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Seseorang bisa saja berpikir bahwa dirinya sedang bermeditasi mengingat Tuhan tetapi aktualnya dia sedang memikirkan beberapa obyek dunia ini<span> </span>atau bahkan memikirkan untuk mendapat nama dan ketenaran atau kemasyhuran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Demikianlah ajaran Hindu mengajarkan doktrin Smarana atau Mengingat Tuhan. <em><span style="color:red;">1]</span></em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Di dalam ajaran <em>Sikh Darma</em> pun, Sang Guru menyuruh manusia untuk mengingat Tuhan di setiap tarikan nafasnya dan mengatakan bahwa penyakit ruhani akan datang kepada manusia di saat ia melupakan Tuhan. Sang Guru berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> “<span style="color:blue;">All afflictions visit the person who forget God’s name</span>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> “Semua penderitaan akan datang mengunjungi seseorang yang melupakan nama Tuhan”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> “<span style="color:blue;">When i repeat His name<span> </span>i am alive, when i forget to do so i die</span>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> “Ketika saya mengulang-ulang menyebut nama-Nya maka akupun hidup, (sebaliknya) ketika aku lupa melakukan hal itu maka aku pun mati”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Demikian Guru-guru Sikh mengajarkan doktrin Mengingat Tuhan. 2]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Ajaran mengingat Tuhan juga termaktub di dalam <strong>The</strong> <strong>Gospel of Barnabas</strong> (Injil Barnabas) pasal 109 seperti yang tertulis di dalam Edisi Inggerisnya :</span></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;color:blue;">`As God liveth, in whose presence standeth my soul, it is lawful to sleep somewhat every night, but it is never lawful to forget God and his fearful judgement: and the sleep of the souls is such oblivion.'</span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;color:blue;">Then answered he who writeth: `O master, how can we always have God in memory? Assuredly, it seemeth to us impossible.'</span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;color:blue;">Said Jesus, with a sigh: `This is the greatest misery that man can suffer, O Barnabas. For man cannot here upon earth have God his creator always in memory; saving them that are holy, for they always have God in memory, because they have in them the light of the grace of God, so that they cannot forget God. But tell me, have ye seen them that work quarried stones, how by their constant practice they have so learned to strike that they speak with others and all the time are striking the iron tool that worketh the stone without looking at the iron, and yet they do not strike their hands? Now do ye likewise. Desire to be holy if ye wish to overcome entirely this misery of forgetfulness. Sure it is that water cleaveth the hardest rocks with a single drop striking there for a long period.</span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;color:blue;">`Do ye know why ye have not overcome this misery? Because ye have not perceived that it is sin. I tell you then that it is an error, when a prince giveth thee a present, O man, that thou shouldst shut thine eyes and turn thy back upon him. </span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;color:blue;">Even so do they err who forget God, for at all times man receiveth from God gifts and mercy.'</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yesus berkata : “Demi Allah yang aku berdiri di hadapan-Nya bahwa tidur sejenak tiap malam itu dibolehkan, akan tetapi sama sekali tidak dibolehkan melupakan Allah dan Hari Pembalasan-Nya yang dahsyat itu. Sedang tidurnya roh itu tiada lain hanya kelupaan”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Bertanyalah yang menulis ini (Barnabas) : “Wahai Guru, bagaimanakah kita dapat selalu mengingat Allah? Bagi kami, hal itu nampaknya mustahil”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Sambil menarik nafas panjang Yesus menjawab,”Sebenarnya itu adalah sebesar-besarnya kesengsaraan yang diderita oleh manusia wahai Barnabas! Karena di sini di bumi ini manusia tidak bisa secara terus menerus ingat kepada Allah Penciptanya, kecuali para manusia suci. Mereka terus menerus mengingat Allah, karena pada diri mereka ada cahaya nikmat Allah sehingga mereka tidak bisa melupakan-Nya. Akan tetapi katakanlah padaku, ‘Adakah kamu lihat mereka yang bekerja mengeluarkan batu-batu dari gunung, betapa dengan kebiasaan yang terus menerus mereka bisa memukul sambil bercakap-cakap dengan pukulan besi di atas batu tanpa melihatnya dan tanpa mengenai tangan mereka? Maka berbuatlah kamu sedemikian itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bercita-citalah untuk menjadi manusia manusia suci jika kamu benar-benar menginginkan untuk mengalahkan kesengsaran lalai itu. Maka dapat dipastikan bahwa air itu bisa melubangi batu yang paling keras (sekalipun) dengan tetesan air yag jatuh di atasnya berulang kali dalam waktu yang lama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Tahukah kamu mengapa kamu tidak bisa mengalahkan kesengsaraan itu? Karena kamu belum mengerti bahwa itu (lalai dari mengingat-Nya) adalah suatu dosa! Dari itu kukatakan kepadamu wahai insan! Bahwa sungguh suatu kesalahan apabila engkau diberi oleh seorang Raja suatu anugerah namun engkau malah memejamkan kedua matamu dan kamu palingkan wajahmu daripadanya. Begitulah (perumpamaan) kesalahan mereka yang lalai dari mengingat-Nya. Karena (sesungguhnya) manusia itu secara terus menerus menerima karunia-karunia dan nikmat dari Tuhan” (Injil Barnabas Pasal 109)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Juga anda bisa lihat di dalam Perjanjian Lama , Nehemiah 4 : 14 pun tertulis : “<em><span style="color:blue;">After i looked these things over, i stood up and said to the nobles and the officials and rest of the people, ‘Do not be affraid of them. <strong>Remember the Lord</strong>, who is great and awesome and fight for your kin, your son, your daughters, your wives and your homes</span>”</em></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">Laa hawla wa laa quwwata illa billah</span></em><span lang="IN"> – Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span></span><span style="text-decoration:underline;"><span>Catatan Kaki :</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>1] <a href="http://www.divinelifesociety.org/discourses/s.../practise_of_the_remenbrance_of%20_god.htm">www.divinelifesociety.org/discourses/s.../practise_of_the_remenbrance_of _god.htm</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>2] </span><span lang="IN"><a href="http://www.sikh-dharma.org.uk/">www.sikh-dharma.org.uk</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Doa Ketika Marah]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=866</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 04:39:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/06/12/doa-ketika-marah/</guid>
<description><![CDATA[
Rasulullah Saw bersabda, ”Allah  telah mewahyukan kepada salah seorang Nabi di  antara nabi-nabi-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/06/marah1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-869" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/06/marah1.jpg?w=250" alt="" width="250" height="200" /></a></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda, ”<em>Allah  telah mewahyukan kepada salah seorang Nabi di  antara nabi-nabi-Nya: “Wahai keturunan Adam! Berdzikirlah  kepada-Ku pada  saat engkau marah niscaya Aku akan mengingatmu di  saat  Aku marah dan Aku tidak akan membinasakanmu di antara orang-orang yang Aku binasakan”</em> (Mizan al-Hikmah 3 : 424)</p>
<p>Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang diakibatkan dari kemarahan, ada baiknya Anda segera berdo’a untuk mengatasi gejolak emosi yang sering berbalik mengendalikan diri kita.<!--more--></p>
<p>Di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para alim mazhab Ahlul Bait banyak sekali do’a-do’a yang berfungsi untuk mengatasi kemarahan. Saya hanya mengutip dua buah do’a yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p><strong>Al-Hasan ibn Fadhlin al-Thabarsiy </strong>di dalam Kitab yang disusunnya, <em>Makarim al-Akhlaq</em> meriwayatkan sebuah hadits dari Imam al-Shadiq as, bahwa beliau telah berkata, ‘Ucapkanlah do’a ini ketika (Anda sedang dilanda amarah) :</p>
<p style="text-align:center;">“<em>Allahumma adzHib ‘annii ghaizha qalbi<br />
waghfirlii dzanbii, wa ajirnii min madhaalaatil fitan.<br />
As-alukabi ridhaaka, wa a’udzubika min sakhathika.<br />
As-aluka jannatuka wa a’udzubika min naarika.<br />
As-aluka al-khayr kullahu wa a’udzubika min syarri kullihi.<br />
Allahumma tsabitnii ‘alal hudaa wash-shawaab,<br />
waj ‘alnii raadhiyan mardhiyyan ghairo dhallan<br />
wa laa mudhillan. Shallii ‘alan Nabiyi wa aalihi.”</em></p>
<p>Artinya : “Ya Allah, hilangkan dariku hati yang suka marah dan ampunilah dosa-dosaku dan jauhkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan. Aku memohon kepada-Mu ridha-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu, dan aku memohon kepada-Mu akan surga-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka-Mu. Aku memohon kepada-Mu akan segala kebaikan dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dan kejahatan. Ya Allah, teguhkanlah aku dalam petunjuk dan kebenaran. Dan jadikanlah aku orang yang ridha akan (qadla dan qadar-Mu) dan diridhai (oleh-Mu), bukan orang yang sesat dan disesatkan. Kesejahteraan kiranya atas Nabi (Muhammad) dan keluarganya”</p>
<p>Atau do’a yang singkat :
</p>
<p style="text-align:center;">“<em>Allahummaghfir dzanbii wa adzHib ghaizha qalbi<br />
wa ajirnii minasy syaithaanir rajiim,<br />
wa laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim”</em><br />
(Mustadrak al-Wasail 12 : 15)</p>
<p>Artinya :  “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan hilangkan dariku hati yang suka marah dan jauhkanlah aku dari syaithan yang dirajam. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali karena pertolongan dari Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung”</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zikir Yang Paling Sempurna]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=838</link>
<pubDate>Wed, 21 May 2008 01:27:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/05/21/zikir-yang-paling-sempurna/</guid>
<description><![CDATA[
Reguklah dzikir
dan bebaskan diri dari pikiran!
Jika kau tidak menempuh perjuangan ini,
Oh manusia ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoPlainText" style="text-align:left;"><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/05/helix-nebula-eye-of-god2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-839" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/05/helix-nebula-eye-of-god2.jpg" alt="" width="200" height="153" /></a></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Reguklah<strong> </strong>dzikir</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">dan bebaskan diri dari pikiran!</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Jika kau tidak menempuh perjuangan ini,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Oh manusia yang menginginkan Tuhan,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Inginkah kau kehilangan?</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">~ Rumi - Diwan-i<span> </span>Syams-i Tabriz-i : 8844</span><!--more--></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Berzikir kepada Allah merupakan kualitas hati dan jika hati senantiasa tenggelam di dalam zikir maka akan diperoleh manfaat-manfaatnya, namun demikian sebaiknya zikir di dalam hati juga diikuti dengan zikir lisan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Karena derajat paling sempurna dan paling baik dari berzikir adalah berzikir dengan semua tingkat keberadaan manusia, yaitu zikir yang wilayahnya meliputi seluruh alam wujud, baik lahiriyah maupun yang batiniyah, yang nyata maupun yang tersembunyi. 34]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span> </span>Pada tataran ini seluruh<span> </span>organ fisik maupun ruhani bergetar dalam zikir.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Seseorang<strong> </strong>telanjang dan melompat,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">ke dalam air untuk lari dari serbuan lebah,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Lebah-lebah mengitarinya, manakala ia menyembulkan kepala,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Segeralah lebah-lebah menyerbunya,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Air adalah (perumpamaan) zikir kepada Tuhan,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Dan lebah adalah ingatan kepada wanita ini dan lelaki itu,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Isilah dadamu dengan air zikir dan bersabarlah,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sehingga kau terbebas dari pikiran masa lalu dan segala was-was,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Setelah itu kau sepenuhnya akan tenggelam ke dalam air,</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Dari kaki hingga kepala.</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(Rumi, Matsnawi IV 435-439)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puncak Zikir Kepada Allah]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=774</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:31:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/05/08/puncak-zikir-kepada-allah/</guid>
<description><![CDATA[
Rasulullah saww pernah berdoa : “Aku tidak pernah mampu memuji-Mu (sebagaimana Engkau seharusnya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/05/puncak-zikir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-775" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/05/puncak-zikir.jpg" alt="" width="250" height="187" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Rasulullah saww pernah berdoa : “<em>Aku tidak pernah mampu memuji-Mu </em></span><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(sebagaimana Engkau seharusnya dipuji). Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Dan Engkau lebih dari apa yang dapat dijelaskan oleh (siapa pun makhluk)yang menjelaskan-Mu</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">” <em>74]</em></span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Pada</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> tataran puncak zikrullah ini, sang Insan Kamil justru tersadarkan pada satu titik kesadaran yang paling tinggi, inilah Kesadaran Ilahiyyah, yang mana sang pezikir mendapatkan Kesadaran ‘Ubudiyyahnya (Kesadaran Penghambaan) secara total. Kita lihat, bahwa kalimat kedua di dalam syahadat, (<em>Asyhadu an laa ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan <strong>‘abduhu</strong> wa <strong>rasûluhu</strong></em>) bahwa kata <em>‘Abduhu</em> (<strong>Hamba-Nya</strong>) diletakkan lebih dulu ketimbang derajat spiritual Nabi saww <em>Rasûluhu</em> (<strong>Rasul-Nya</strong>). Ini sebuah petunjuk yang tak perlu penjelasan lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Di dalam munajat lainnya Rasulullah, sang Insan Kamil ini berdo’a :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> “Tidaklah kami beribadah kepada-Mu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">sebagaimana seharusnya Engkau diibadati,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Dan tiadalah kami mema’rifati-Mu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sebagaimana seharusnya Engkau dima’rifati,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Engkau adalah sebagaimana Engkau</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">memuja Diri-Mu sendiri”</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> 75]</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Laa hawla wa laa quwwata illa billah</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> – Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zikir Khafi ]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=728</link>
<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 04:54:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/03/31/zikir-khafi/</guid>
<description><![CDATA[
Rasulullah saww bersabda, “Wahai Abu  Dzarr! Berzikirlah kepada Allah  dengan  zikir khamilan!]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoPlainText"><a href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/03/zikir-khafi.jpg" title="zikir-khafi.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/03/zikir-khafi.jpg" alt="zikir-khafi.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Rasulullah saww bersabda, “Wahai Abu<span>  </span>Dzarr! Berzikirlah kepada Allah<span>  </span>dengan<span>  </span>zikir khamilan!”, Abu Dzarr bertanya : “Apa itu khamilan?”<br />
Sabda Rasul : “Khafi (dalam hati)” (Mizan al-Hikmah 3 : 435)</span><!--more-->
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">TAHAP pertama zikir adalah zikir lisan. Kemudian zikir kalbu yang cenderung diupayakan dan dipaksakan. Selanjutnya, zikir kalbu yang berlangsung secara lugas, tanpa perlu dipaksakan. Serta yang terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di dalam kalbu disertai sirnanya zikir itu sendiri. Inilah rahasia dari sabda Nabi saw : ” Siapa ingin bersenang – senang di taman surga, perbanyaklah mengingat Allah”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">TANDA bahwa sebuah zikir sampai pada sir (nurani yang terdalam yang menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah ketika pelaku zikir dan objek zikirnya lenyap tersembunyi. Zikir Sir terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau meninggalkan zikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah–olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah–olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">KETAHUILAH, setiap zikir yang disadari oleh kalbumu didengar oleh para malaikat penjaga. Sebab, perasaan mereka beserta perasaanmu. Di dalamnya ada sir sampai saat zikirmu sudah gaib dari perasaanmu karena engkau sudah sirna bersama Tuhan, zikirmu juga gaib dari perasaan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kesimpulannya, berzikir dengan ungkapan kata–kata tanpa rasa hudhur (kehadiran hati) disebut zikir lisan, berzikir dengan merasakan kehadiran kalbu bersama Allah disebut zikir kalbu, sementara berzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut Zikir Sir. Itulah yang disebut dengan Zikir Khafiy.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Allah SWT berfirman: “Dan<span>  </span>berzikirlah<span>  </span>kepada<span>  </span>Tuhanmu<span>  </span>dalam<span>  </span>hatimu<span>  </span>(nafsika) dengan<span>  </span>merendahkan <span> </span>dirimu dan rasa takut dan<span>  </span>dengan<span>  </span>tidak<span>  </span>mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai” (QS 7 : 205)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">REZEKI lahiriah terwujud dengan gerakan badan, rezeki batiniah terwujud dengan gerakan kalbu, rezeki sir terwujud dengan diam, sementara rezeki akal terwujud dengan fana dari diam sehingga seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Nutrisi dan makanan bukanlah konsumsi rohani, melainkan komsumsi badan. Adapun yang menjadi konsumsi rohani dan kalbu adalah mengingat Allah Zat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Allah SWT berfirman, “Orang–orang beriman dan kalbu mereka tenteram dengan mengingat (zikir kepada) Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya juga ikut berzikir bersamamu. Sebab, engkau berzikir dengan lisanmu, lalu dengan kalbumu, kemudian dengan nafs–mu , kemudian dengan rohmu, selanjutnya dengan akalmu, dan setelah itu dengan sirmu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bila engkau berzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan kalbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berzikir bersama kalbumu. Bila engkau berzikir dengan nafs–mu, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berzikir bersamamu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bila engkau berzikir dengan rohmu, pada saat yang sama singgasana Allah beserta seluruh isinya ikut berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan akalmu, para malaikat pembawa Arasy dan roh orang–orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan sirmu, Arasy beserta seluruh isinya turut berzikir hingga zikir tersebut bersambung dengan zat–Nya.<span>                                                     </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq as berkata : “Para<span>  </span>malaikat tidak mencatat amal shalih seseorangkecuali apa-apa<span>  </span>yang didengarnya,<span>  </span>maka<span>  </span>ketika<span>  </span>Allah<span>   </span>berfirman : “Berzikirlah<span>  </span>kepada Tuhanmu dalam hatimu (nafsika)”, tidak ada<span>  </span>seorangpun<span>  </span>yang tahu seberapa besar pahala zikir di dalam<span>  </span>hati dari seorang hamba-Nya kecuali Allah Ta'ala<span>  </span>sendiri” 58]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">DI DALAM riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Zikir diam (khafiy) 70 kali lebih utama daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal. “ (Al-Hadits)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bila sang hamba mampu melanggengkan Zikir Khafi serta meyakini bahwa semua Alam Lahir dan Alam Batin merupakan pengejewantahan dari nama-nama-Nya maka ia akan merasakan kehadiran-Nya di semua tempat dan merasakan pengawasan-Nya dan jutaan nikmat-nikmat-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Perasaan akan kehadiran-Nya ini akan mencegah sang hamba dari berbuat dosa dan maksiat. Jika di hadapan anak yang sudah akil baligh saja manusia malu untuk berbuat dosa dan membuka auratnya, maka bagaimana ia tidak malu untuk membuka auratnya dihadapan Sang Khaliq? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Mengapa kita tidak merasa sungkan dan malu berbuat hal-hal yang tidak layak di hadapan Sang Khaliq? Itu karena keyakinan kita atas kehadiran-Nya di setiap eksistensi tidak sebagaimana keyakinan kita ketika kita melihat kehadiran sang anak yang akil baligh tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Apabila kita ingin mencapai keyakinan seperti ini kita mesti mempersiapkan latihan-latihan untuk melaksanakan Zikir Khafi sampai pada suatu tahapan di mana hati kita berzikir secara otomatis seperti gerak detak jantung dan tarikan-tarikan nafas kita (yang tidak kita kendalikan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Imam Ali Zainal ‘Abidin as di dalam do’anya :<br />
“<i>Ilahi, Ilhamkanlah kepada kami Zikir kepada-Mu<br />
di kesendirian maupun di keramaian,<br />
di malam hari maupun di siang hari,<br />
secara terang-terangan, maupun secara rahasia (sembunyi),<br />
di saat gembira maupun di saat kesusahan,<br />
jadikanlah hati kami menjadi senang dengan berzikir al-khafi “<br />
</i>(</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bihar</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> al-Anwar 94 : 151)</span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> <i>Laa haula wa laa quwwata illa billah </i>– Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hakikat Tasbih Dan Tahmid]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=646</link>
<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 03:48:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/02/15/hakikat-tasbih-dan-tahmid/</guid>
<description><![CDATA[
Subhanallah, Maha Suci Allah! Dia bebas dari segala ketidaksempurnaan! 
Alhamdulillah, segala puji ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="galaxy2.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/02/galaxy2.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/02/galaxy2.thumbnail.jpg" alt="galaxy2.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Subhanallah, Maha Suci Allah! Dia bebas dari segala ketidaksempurnaan! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Inilah 2 kalimat yang menduduki tempat terpenting di dalam etos spiritual Islam dan kehidupan kaum Muslim.</span><!--more--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kalimat pertama menyangkal segala jenis sifat makhluk kepada Allah; dan kalimat yang kedua mendudukkan segala Keagungan kepada-Nya dan sekaligus kepada segala atribut-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Setiap hari Muslimin sedunia di waktu shalat atau do’a dan percakapan mereka, seringkali mengucapkan dua kalimat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Untuk menafikan segala sifat ketidaksempurnaan kepada Allah itulah yang disebut sebagai tasbih (mensucikan-Nya), dan untuk mendudukkan segala kwalitas terpuji kepada-Nya adalah tahmid atau hamdalah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tasbih yang dimaksud adalah pernyataan bahwa setiap makhluk itu serba terbatas dan serba berkekurangan; sehingga dengan demikian, kita langsung terhubungkan dengan Sang Maha Sempurna, Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan dengan tahmid sang makhluk serba lemah ini, kita menyadari Sifat Pemurah Sang Pencipta dan mengakui-Nya sebagai sumber segala kebaikan. Al-Qur'an mengajarkan bahwa setiap makhluk di dalam Alam Semesta ini selalu bertasbih dan bertahmid:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tiada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih-tahmid mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha Pemurah.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">” (QS Al-Isra [17] ayat 44)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tasbih-tahmid dianggap sebagai suatu aktifitas kognitif, karena dengannya para makhluk menyatakan pengenalannya kepada Allah dan mengakui kemakhlukannya yang spesifik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">la juga merupakan aktifitas moral, karena dengannya keagungan moral Allah ditegaskan oleh makhluk-makhluk-Nya. la juga merupakan aktifitas ontologis, karena dengannya semua makhluk menghubungkan diri mereka kepada Yang Dibutuhkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Namun bukan berarti Allah butuh atas penyangkalan dan penegasan makhluk-Nya melalui tasbih dan tahmid, namun itu semua karena setiap makhluk butuh untuk bertasbih dan bertahmid demi melaksanakan kemakhlukan mereka dengan andil bagian di dalam Kemuliaan dan Keagungan Sang Pencipta. Karena tanpa melalui bantuan-Nya, sang makhluk tidak dapat dengan sendirinya mengenal dirinya. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sang makhluk membutuhkan Dia, Sang Pencipta secara mutlak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>Allah adalah cahaya lelangit dan bumi.</em>”, begitu kata al-Quran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Melalui Allah-lah semua makhluk dapat mengenal makhluk yang lain dan terutama diri mereka sendiri. Tasbih dan Tahmid bukan hanya sarana untuk menyatakan pengenalan kita kepada Allah sebagai Tuhan yang sesungguhnya, dan pada saat yang sama <em>tasbih</em> dan <em>tahmid</em> juga berarti pernyataan kita akan pengenalan diri kita sendiri, yang tidak mungkin dapat mengenal diri kita sendiri tanpa melalui pertolongan -Nya. Oleh karena itu <em>tasbih</em> dan <em>tahmid</em> mencerminkan suatu kesadaran akan Allah di dalam diri sang makhluk. Sebenarnya kesadaran kepada Allah<span> </span>dan kesadaran-diri bukanlah 2 hal yang berbeda namun bahkan merupakan 2 aspek dari ilmu yang sama. Itulah mengapa Imam Ali (as) diriwayatkan telah berkata:<br />
“<em>Barangsiapa yang mengenal dirinya, (maka) mengenal Allah.</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan firman Allah Swt :<br />
“<em>Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah pun menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.</em>” (QS al-Hasyr [59] ayat 19)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lebih dari itu, Al-Quran mengajarkan bahwa tatanan Alam Semesta, ciptaan-Nya ini bebas dari segala kerusakan terhalus sekalipun, ketidakseimbangan, ketimpangan (QS:67:3-4). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Begitu juga fitrah manusia yang cenderung kepada kebaikan dan condong untuk meluruskan diri dengan bimbingan Sang Pencipta.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Karena Allah tidak hanya menciptakan makhluk-Nya tetapi juga membimbing mereka sesuai dengan fitrah yang telah Dia anugerahkan kepada mereka (QS:20:50). </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan Dia membimbing makhluk-Nya melalui Perintah-Nya (<em>al-amr</em>) atau Hukum-Nya (<em>al-Din</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kebahagiaan manusia bergantung pada bimbingan-Nya yang disampaikan melalui para Rasul dan para Imam ini. Mereka yang menolak bimbingan dan petunjuk Ilahi pastilah akan hancur berantakan bak benda langit yang keluar dari orbit. Al-Quran menggambarkan orang-orang yang enggan mengikuti bimbingan dan petunjuk-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>Dan orang-orang yang ingkar, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi<span> </span>air itu tidak didapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi awan ; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, barangsiapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.</em>” (QS Al-Nur [24] :39-40)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bukankah ini perumpamaan yang luar biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Karena manusia-manusia 'tak tercerahkan' inilah seluruh tatanan dunia dan masyarakat menjadi rusak dengan terwujudnya kejahatan ketidakbermoralan mereka:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, (dan) agar mereka kembali.</em>” (QS Rum [30] ayat 41)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Walaupun Al-Quran berbicara tentang tatanan fitrah yang penuh dengan tanda-tanda, petunjuk, terhadap-Nya, ia juga menunjukkan tanda-tanda yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang secara langsung dibimbing - orang-orang yang di dalam Al- Quran disebut <em>Ulul Al-Bab</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dengan demikian, sumber petunjuk yang terbaik adalah risalah-risalah Allah yang disampaikan melalui para Rasul-Nya dan disebarkan serta dijelaskan oleh para Rasul dan para pengganti mereka (<em>aimmah</em>). Dengan melalui para Rasul dan para Imam-lah maka Allah dikenal dengan sebenar-benarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sekalipun tatanan sempurna dari fitrah ini merupakan suatu petunjuk atas Sang Pencipta Yang Maha Penyantun dan Maha Bijaksana serta Maha Pengasih, namun suatu tatanan sosial yang korup dan timpang tidak dapat bertindak untuk membimbing manusia kepada Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sama kelirunya, orang-orang yang membentuk keyakinannya kepada Allah atas dasar observasi lingkungan sosialnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Quran telah melarang keras manusia merusak lingkungan sosial mereka (QS:7:57,85)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dia juga menegur keras orang-orang yang mengimani Allah dengan jendela-jendela gelap suatu tatanan sosial yang menindas dan tak adil dan melalui berbagai pengalaman sia-sia mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allah Berzikir Kepada Hamba-Nya]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=621</link>
<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 02:58:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/02/06/allah-berzikir-kepada-hamba-nya/</guid>
<description><![CDATA[
Allah berfirman :
“Karena  itu, berzikirlah kepada-Ku,
niscaya  Aku  berzikir kepadamu,
dan bersy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="zikir0.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/02/zikir0.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/02/zikir0.thumbnail.jpg" alt="zikir0.jpg" /></a></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;">Allah berfirman :</span><br />
<em><span style="font-family:Verdana;">“Karena  itu, berzikirlah kepada-Ku,<br />
niscaya  Aku  berzikir kepadamu,<br />
dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kamu ingkar!”</span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;">QS Al-Baqarah [2] ayat:152)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">“Berzikirlah</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> kepada-Ku niscaya Aku berzikir kepadamu”. Pernyataan ini bukan pernyataan menurut waktu linear, bukan masalah <em>jika-maka</em> , ketika manusia mengingat Tuhan, sebenarnya ini adalah tindakan Tuhan. Akhirnya seseorang dapat menyatu dalam Kehadiran Tuhan seperti cahaya gemintang yang lenyap seolah tertelan cahaya mentari. 59].</span><!--more--><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Setelah pejalan ruhani melalui berbagai tahapan dan pendakian ruhani sampailah ia pada tahap peniadaan diri (fana’), terserap ke dalam Keindahan (<em>Jamal</em>) dan Kesempurnaan-Nya (<em>Jalal</em>). Sang hamba hampir tidak lagi memperhatikan dirinya dan siapa pun. Di mana pun, kemana pun, ia senantiasa memandang Allah, Sang Kekasih. Sang hamba tidak lagi melihat kecuali Dia. Ia “hidup” di dalam Nafas-Nya dan menetap dalam Keabadian-Nya.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Seorang arif terkemuka, <em>Syaikh Abdul Karim al-Jilli</em> menulis di dalam Kitabnya yang masyhur, <em>Insan al-Kamil</em> bahwa dia pernah dikuasai oleh kondisi seperti ini sehingga ia merasa seolah-olah telah bersatu dengan <strong>segala</strong> sesuatu yang ada dan bisa melihat <strong>segala</strong> sesuatu. 60] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Seseorang yang semakin bertambah kedekatannya (<em>al-qurb</em>) kepada Allah maka ia pun semakin fana (meniadakan dirinya) di dalam Allah. 61]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Sang hamba yang telah “menyatu” dengan-Nya adalah ia yang tiada lagi memiliki keinginan-keinginan pribadi. Ia berjalan, berlari, tertawa dan menangis hanya di dalam ruang Kehendak-Nya. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Orang yang seperti inilah yang disebut telah mencapai Maqam Ikhlash, suatu maqam yang mana Iblis dan syetan tidak lagi sanggup menggoda dan menyesatkannya. Iblis berkata kepada Allah,”Demi Kekuasaan dan Keagungan-Mu, akan aku sesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlash di antara mereka” (QS 38 : 82-83). </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Semua itu dapat kita peroleh dengan berzikir dan berzikir kepada-Nya sampai kita pun seolah lenyap di dalam zikir kita sendiri dan zikir kita pun lenyap di dalam Zikir-Nya. Kini yang tinggal hanya Dia Yang berzikir di dalam Keesaan-Nya. Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi mengatakan, “Manusia tidak dapat mencapai sesuatupun dalam hidupnya selain pengetahuan akan Tuhan, berakhlaq dengan nama-nama-Nya, tetap berpegang kepada <strong>keberhambaan</strong>-Nya, dan memenuhi ketaatan kepada perintah Sang Penguasa sesuai dengan kehendak-Nya” 62]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Imam Khomeini mengatakan, “Saudaraku, apa pun penderitaan dan kesulitan yang kamu alami di Jalan Zikir dan ingat akan Yang Tercinta, agar insya Allah hati itu sendiri membentuk ZIKIR, sehingga kalimat <em>Laa ilaha illa Allah</em> menjadi bentuk akhir dan kesempurnaan diri”, 63] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">ZIKIRNYA MENDAHULUI ZIKIRKU</span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;">Bayazid Al-Busthami berkata : “Pada mulanya, aku salah kaprah dalam empat hal. Aku memohon untuk berzikir kepada Tuhan, untuk mengenal-Nya, untuk mencintai-Nya dan untuk mencari-Nya. Saat aku telah mendekati akhir, aku melihat bahwa Dia telah berzikir kepadaku sebelum aku berzikir kepada-Nya, dan pengenalan-Nya terhadapku mendahului pengenalanku tentang-Nya dan cinta-Nya kepadaku telah ada sebelum cintaku kepada-Nya, dan Dia telah mencariku sebelum aku mencari-Nya” 64]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">SYARI’AT, THARIQAT, HAQIQAT DAN MA’RIFAT</span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;">PADA hakikatnya, “Zikir Allah pada hamba-Nya” ini adalah sebuah maqam Dzikrullah tertinggi. Di sinilah kesadaran Ilahiyyah telah dicapai melalui berbagai disiplin dan rintangan yang tidak sedikit. Pada tataran ini seseorang telah mencapai apa yang disebut Ma’rifatullah.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Di dalam ajaran Islam, ada empat tahapan (maqam) untuk mencapai Kesadaran Ilahiyyah, yaitu : <em>Syari’ah, Thariqah, Haqiqah</em> dan <em>Ma’rifat.</em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Tahapan Pertama <em>Syari’ah</em> adalah tahapan yang terdiri dari ajaran-ajaran <em>fiqih</em>, moralitas dan etika. <em>Syari’ah</em> memberikan bimbingan kepada kita untuk hidup sebagaimana mestinya di dunia ini. Seseorang tidak dibenarkan meninggalkan syari’ah sampai akhir hayatnya. Membangun kesadaran diri, kesadaran <em>‘ubudiyyah</em> dan kesadaran <em>Ilahiyyah</em> tanpa syari’ah adalah seperti membangun rumah dengan fondasi pasir.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Tahapan Kedua <em>Thariqah</em> adalah tahapan disiplin <em>Irfan. Thariqah</em> secara literal berarti jalan tanpa rambu di padang pasir, yang ditempuh kaum Badui dari oasis ke oasis. Jalan ini tidak ditandai secara jelas sebagaimana halnya jalan raya besar. Bahkan ia bukan suatu jalan yang terlihat. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Agar dapat menemukan jalan Anda di padang pasir yang tidak dapat disusuri, Anda mesti benar-benar mengetahui tujuan tersebut dan akrab dengan kawasan setempat. Sebagaimana halnya syari’ah menrujuk kepada dimensi lahiriyah agama (fiqih), sementara thariqah adalah praktek-praktek ruhani Sufisme. Pembimbing yang Anda perlukan untuk menemukan jalan Anda adalah sang Guru Sufi. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Verdana;">Syari’ah</span></em><span style="font-family:Verdana;"> membuat kehidupan lahiriah keseharian bersih mempesona. <em>Thariqah</em> dirancang untuk membuat kehidupan batin bersih dan suci. Masing-masing tahap ini medukung yang lain. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tahapan Ketiga adalah <em>Haqiqah</em>, adalah tahapan seseorang pesuluk mengalami langsung suatu kondisi mistis Sufisme, pengalaman langsung akan kehadiran Tuhan di dalam dirinya. Pencapaian <em>Haqiqah</em> memperkuat kedua tahap sebelumnya. Tahapan ini adalah pemahaman batin yang mendalam yang diperoleh dari pengalaman mistis.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tahapan Keempat adalah <em>Ma’rifah</em>, adalah kebijaksanan unggul atau pengetahuan tentang kebenaran spiritual. Ini merupakan pengetahuan yang sangat dalam, lebih dari sekedar pengalaman spiritual sesaat. Ma’rifat merujuk kepada kondisi kedamaian bersama Tuhan dan Kebenaran yang tengah berlangsung. Ini adalah pengetahuan tentang Realitas. Inilah maqam para Rasul, para Imam Suci, dan para Wali Allah (<em>Awliya</em>’).</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PENJELASAN DARI SYEKH AL AKBAR IBN ‘ARABI</span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;">Wali Sufi Agung, Ibn ‘Arabi memberikan penjelasan sebagai berikut tentang keempat tingkat (maqam) di atas ini sebagai berikut : </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Pada tingkat hukum (syari’at) terdapat “Milik Anda dan Milik saya”. Artinya hukum (syari’at) menjamin hak-hak individu dan hubungan-hubungan etis antara anggota-anggota masyarakat.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Pada tingkat <em>Thariqah</em>, jalan Sufi, “Milik saya adalah milik Anda dan milik Anda adalah milik saya”. Kaum sufi diharapkan memperlakukan satu dengan yang lain sebagai saudara-saudara laki-laki dan perempuan – saling membuka pintu hati mereka, hati mereka dan dompet mereka bagi satu sama lain.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Pada tingkat <em>Haqiqah</em>, “Tidak ada milik saya dan milik Anda”. Seorang Sufi yang sudah mencapai tingkat kesadaran pada tahap ini sadar bahwa segala sesuatu dari Tuhan, mereka sebenarnya hanyalah pengawal dan mereka tidak punya apa-apa. Orang-orang yang menyadari Kebenaran telah terlampaui dari keterikatan kepada kepemilikan dan keterikatan kepada segala yang lahiriyyah secara umum, termasuk popularitas dan status sosial.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Pada tingkat <em>Ma’rifat</em>, “Tidak ada aku dan Anda”. Pada tingkat terakhir ini, seseorang akan memiliki kesadaran bahwa segala sesuatu adalah Tuhan, tak sesuatu pun dan tak seorang pun terpisah dari Tuhan. 65]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;"> ZIKIRNYA LEBIH MULIA DARI ZIKIRMU</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> Imam Ja'far ash-Shadiq as berkata :<br />
"Dia  (Allah) berzikir kepadamu, tetapi Dia tidak  membutuh­kanmu.<br />
Zikir-Nya kepadamu adalah lebih mulia,  lebih  patut didambakan,<br />
lebih bernilai, lebih sempurna dan  lebih  dulu daripada zikirmu kepada-Nya.<br />
Ilmu yang kamu peroleh melalui zikir-Nya kepadamu menanamkan<br />
dalam dirimu kerenda­han hati, kesederhanaan<br />
dan kesedihan akibat  rasa  berdosa, yang  pada  gilirannya akan menjadi<br />
sebab kesaksianmu  akan kemuliaan Allah dan karunia-Nya yang berlimpah.<br />
Yang terpenting daripada itu bahwa akhirnya akan mengecilkan arti ketaa­tanmu<br />
di  matamu sendiri, betapapun banyak ketaatanmu.<br />
Itu semua karena perkenanan-Nya jua,<br />
sehingga engkau akan berbak­ti kepada-Nya dengan tulus.<br />
Tetapi kesadaran  dan  penilaian akan zikirmu sendiri  kepada-Nya<br />
akan menyeretmu  kepada kesombongan, kecongkakan, kebodohan<br />
dan  kekasaran sifatmu. Sebab hal yang demikian itu memberikan<br />
makna yang besar  pada ketaatanmu, sementara engkau melupakan  kasih sayang<br />
dan kemurahan-Nya yang melimpah. Hal ini  akan membuatmu<br />
jadi semakin jauh daripada-Nya dan yang akan kau dapatkan sejalan<br />
dengan berlalunya waktu hanyalah rasa terasing”<br />
(Bihar al-Anwar 93 : 158, Mizan al-Hikmah 3 : 427, Lentera Ilahi, hal. 59)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Ini adalah sebuah penjelasan yang terindah tentang Hakikat Zikir. Imam al-Shadiq as mengingatkan kepada kita bahwa pada hakikatnya zikir kita itu adalah berasal dari Allah SWT atau dengan kata lain zikir kita itu merupakan karunia-Nya kepada kita. Karena hal inilah kita tidak perlu merasa bangga atau pun sombong atas amal-amal shalih<span> </span>yang kita lakukan termasuk zikir kita tersebut. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Karena kesombongan adalah perasaan mandiri atau perasaan tidak terikat dan tidak bergantung kepada-Nya. Padahal ketergantungan kita sangatlah nyata dan tidak dapat dipungkiri.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">DIRIKU UNTUK YANG MENCINTAIKU</span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;">Allah mewahyukan kepada Nabi Dawud as : “Wahai Dawud, ketahuilah bahwa zikir-Ku Kuperuntukkan para pezikir, Surga-Ku untuk orang-orang yang taat, Cinta-Ku untuk orang yang merindukan-Ku, Sedangkan diri-Ku sendiri Kuistimewakan untuk mereka yang mencintai-Ku” 66]<strong></strong></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">ANUGERAH ALLAH YANG DIKHUSUSKAN<br />
KEPADA UMAT MUHAMMAD SAWW</span></strong><span style="font-family:Verdana;"><br />
Di dalam kitab <strong><em>Risalah al-Qusyairi</em></strong>, disebutkan sebuah  hadits yang mengatakan bahwa Jibrail as mengatakan kepada Rasulullah saww bahwa Allah SWT telah berfirman: “Aku telah memberikan umatmu sesuatu yang belum pernah kuber­ikan kepada  umat yang lain” Nabi bertanya  kepada Jibrail: “Apakah  pemberian itu?” Jibrail  menjawab:  "Pemberian  itu adalah firman-Nya (di dalam al-Qur'an): “Berzikirlah kepada-Ku niscaya Aku berzikir kepadamu", Dia belum pernah  memfir­mankan itu kepada umat lain yang manapun juga”.67] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;"> AKU MENJAWAB SERATUS KALI<br />
</span></strong><span style="font-family:Verdana;">Seorang </span><span style="font-family:Verdana;">lelaki suatu malam berseru, “Ya Tuhan” sampai bibirnya manis dengan menyebut nama-Nya.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Mengapa sekarang, pembual!” goda Setan, “mana jawabannya?”</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Sedang aku di sini untuk semua seruan “Ya Tuhan”mu itu.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tak satu jawaban pun datang dari singgasana. Berapa lama lagi engkau terus berseru dan memohon kepada-Nya sia-sia?”,kata Setan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Lelaki itu patah hati, tersungkur tidur…</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam mimpinya dia mendengar suara ILAHI :</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Seruan “Ya Tuhan”mu adalah (sesungguhnya) seruan-Ku, maka Aku di sini. Permohonan-mu yang sungguh-sungguh adalah pesan-Ku, dan semua usahamu untuk mencapai-Ku tiada lain adalah tangan-ku di kakimu, yang membebaskan ikatan dan menyeretmu ke arahku. Cinta dan ketakutanmu adalah jerat untuk menangkap keagungan-Ku. Dan setiap seruan “Ya Tuhan”mu itu ku menjawab seratus kali “Inilah Aku!” 68] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">ALLAH BERZIKIR DI DALAM DIRINYA</span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;">Imam ash-Shadiq as berkata : “Allah berfirman di dalam (hadits Qudsi),”Wahai keturunan Adam! Berzikirlah kepada-Ku di dalam  diri (nafs)-mu, niscaya Aku akan berzikir kepadamu di dalam diri-Ku, dan berzikirlah kepada-Ku  di dalam   kesendirian (khalwat), niscaya  Aku akan berzikir kepadamu  di  dalam kesendirian dan berzikirlah kepada-Ku di dalam keramaian, niscaya Aku akan berzikir kepadamu bersama para malaikat-Ku yang terbaik” 69] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">DITAKLUKKAN OLEH DZIKRULLAH<br />
Jika </span></strong><span style="font-family:Verdana;">zikir telah meliputi wujud lahiriyah maupun batiniyah sang hamba maka Allah SwT ber-<em>tajalli</em> pada diri sang hamba. Hati dan Jiwanya membentuk Zikir kepada Yang Tercinta dan gerak-gerik hati maupun tubuh membentuk Zikir. Tujuh anggota wujud jasadi maupun batini ditaklukkan oleh Dzikrullah dan ditundukkan oleh Zikir kepada Yang Maha Indah. Jika bentuk hati berupa realitas zikir dan alam hati telah ditaklukkan oleh Zikir maka kedaulatannya telah meliputi semua wilayah lainnya.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Gerak dan diamnya mata, lidah, tangan dan kaki serta gerak-gerik anggota-anggota dan fakultas-fakultas lainnya disertai Zikir kepada Allah sehingga tidak ada gerakkan yang bertentangan dengan kewajiban-kewajiban mereka. Gerak dan diamnya dimulai dan diakhiri dengan berzikir kepada Allah.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> “<em>Bismillah</em> (dengan menyebut nama Allah)<br />
di saat berlayar<span> </span>dan berlabuhnya”<br />
(QS 11 : 41)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Pengaruh zikir yang telah menyatu dengan seluruh gerak dan diam seseorang terjadi sebagai hasil dari keselarasan sang hamba dengan realitas Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya. Seluruh dzat di luar maupun di dalamnya telah mampu menyerap Nama Allah Yang Agung (<em>Ismullah al-A’zham</em>) dan memanifestasikannya keseluruh maujud di Alam Lahir maupun Batin. Pada tataran inilah al-Qur’an mengatakan :</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> “Engkau tidak melempar ketika engkau melempar,<br />
tetapi Allah-lah yang melempar”<br />
(QS 8 : 17)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;">Dan seperti firman-Nya di dalam Hadits al-Qudsi :<br />
“Tidak ada sesuatu yang dilakukan oleh salah seorang di antara hamba-hamba-Ku<br />
yang mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku sukai ketimbang<br />
(melaksanakan) kewajiban-kewajiban yang telah Kutetapkan kepadanya.<br />
Dia (sang hamba) mendekatkan dirikepada-Ku dengan ibadah-ibadah <em>nafilah</em> (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintai-Nya,<br />
maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar,<br />
menjadi matanya yang dengannya ia melihat<br />
dan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang.<br />
Jika ia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan<br />
dan seandainya ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri”<br />
(Imam Khomeini, Empat Puluh Hadits Jil 4, hal. 56)<br />
(Ushul Al-Kafi, Jil. 2, Kitab Iman &#38; al Kufr, Bab Man Adza al Muslimun,hadits no. 8)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah akan menghasilkan peleburan total (<em>fana’</em>) dan penyatuan yang sempurna dengan Dzat Yang Mutlak. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Inilah yang merupakan puncak kesempurnaan manusia dan tujuan akhir dari harapan-harapan orang-orang pilihan Allah (<em>Ahl Allah</em>), yaitu <em>Fana fi Allah</em>, lenyap di dalam Allah. Ketika seseorang mencapai tingkatan ini, maka pikiran, ucapan, tindakan, atmosfernya, semua menjadi tindakan sang Ilahi. Ia telah menjadi pencerminan Tuhan dalam setiap aspek. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Bahkan di dalam diam-pun ia mencerminkan-Nya. Ia memanifestasikan seluruh nama dan sifat-sifat-Nya ke atas permukaan bumi dan ke seluruh lapisan langit. Ia menjadi inspirasi kehadiran-Nya di setiap penjuru alam. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Pengembaraan ruhani menuju Allah dimulai dari meninggalkan “rumah jiwa yang gelap” dengan tingkatan-tingkatan yang beragam disertai ujian-ujiannya. Begitu sang hamba mengangkatkan kakinya dari ego dan egoismenya dan mulai menyibakkan berbagai hijab kegelapan dan hijab cahaya, sampai lenyaplah pendengaran, penglihatan, dan seluruh eksistensinya terserap ke dalam al-Haq, Sang Wujud Hakiki.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Maqam ini tidak mungkin dicapai kecuali dengan tarikan <em>Rububiyyah</em> dan kobaran rindu yang<span> </span>dengan itu seseorang <em>taqarrub</em> secara terus menerus dan melalui tarikan <em>Rububiyyah</em> tersebut muncullah cinta yang suci kepada-Nya sehingga takkan lagi ia tergelincir di “lembah kebingungan” dan tidak lagi peduli dengan<span> </span>“petualangan” dan segala hal yang merupakan “daki egoisme”. Allah menariknya ke tempat yang amat dekat dan menempatkannya di Alam Qudus. Allah menjadikan pikirannya tenggelam dalam rahasia-rahasia malakut dan mata batinnya mampu menangkap penampakkan cahaya-cahaya <em>jabarut.</em> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Sang hamba <em>istiqamah</em> (tetap) berada di <em>maqam</em> yang sangat dekat dan cinta sang hamba kepada Allah telah merasuki darah dan dagingnya hingga ia pun lenyap dari dirinya sendiri dan terakhir, Yang Wujud hanyalah Dia, Al-Haq.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-family:Verdana;">Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar,<br />
menjadi matanya yang dengannya ia melihat<br />
dan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang.</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Tidak ada seorang manusia mana pun yang mampu menjebol pintu Khaibar, yang konon empat puluh orang pun tak sanggup menggerakkannya. Namun Ali, Sang Pecinta Tuhan, sanggup menjebolnya. Imam Ali as mengatakan,”<em>Aku tidak menjebol pintu Khaibar dengan kekuatan jasmani, tetapi dengan kekuatan Rabbani</em>!” 70] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-family:Verdana;">Abu Nasr Tahir Khanaqahi</span></em><span style="font-family:Verdana;">, seorang Sufi Persia mengatakan : “Bahwa Allah Yang Maha Suci dan Maha Kuasa telah mengutamakan Zikir kepada-Nya dibandingkan amal ketaatan lainnya dalam empat ayat Qur’an. Allah mengutamakan Zikrullah dengan memerintahkan agar memperbanyak berzikir kepada-Nya. <em>“Wahai orang-orang beriman! Berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya”</em> (QS 33 : 41). </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Di lain tempat disebutkan sebagai sesuatu yang “lebih besar” : “Dan sesungguhnya berzikir kepada Allah itu adalah hal yang lebih besar” (QS 29 : 45) . Sekali lagi, Dia memerintahkan agar berzikir kepada Allah dilakukan secara terus menerus (dalam keadaan apa pun), dengan berfirman, “Maka berzikirlah kepada Allah ketika berdiri dan duduk” (QS 4 : 103)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Selanjutnya Dia menjanjikan bahwa Dia juga akan berzikir kepada orang yang berzikir kepada-Nya, Dia telah berfirman : “Berzikirlah kepada-Ku maka Aku pun akan berzikir kepadamu” (QS 2 : 152) 71] </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:Verdana;"> Sesungguhnya kedekatan seorang hamba kepada Allah, merupakan tarikan kerinduan <em>ilahiyyah</em> dan cintanya kepada Allah Yang Terkasih. Sebuah syair mengatakan :</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-family:Verdana;">Jika bukan karena tarikan dari arah Yang Dirindukan,<br />
niscaya penempuh yang malang dan penuh rindu<br />
tidak akan memperoleh keberuntungan</span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">ZIKIR ALLAH DI DALAM HIMPUNAN PARA MALAIKATNYA</span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;">Di dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman : “Tidaklah seorang hamba yang berzikir kepada-Ku seorang diri melainkan Aku berzikir kepadanya di dalam himpunan para malaikat-Ku, dan tidaklah ia berzikir kepada-Ku di dalam himpunan melainkan Aku berzikir kepadanya di dalam <em>al-Rafiq al-A’la</em>” 72]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Ada yang berpendapat bahwa barangsiapa yang hidup untuk Allah dengan melaksanakan <em>hakikat zikir</em>, pujian, dan syukur kepada-Nya, pasti Allah akan menundukkan seluruh alam semesta ini untuknya. 73] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> Al Qur’an Mulia mengatakan :<br />
“Sungguh!  Zikir  Allah itulah yang paling besar!”<br />
(QS 29 : 45)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;text-indent:0.25in;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-family:Verdana;">Ketika aku menyebut nama-Nya,<br />
kebajikan menjelma.<br />
Sebutan-Nya adalah Yang Disebut, tanpa dualitas<br />
dan tanpa kesangsian!</span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;">(Rumi, Diwan-I Syams : 30700-30701)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zikir, Khalwat &amp; Penyingkapan]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2008/01/09/zikir-khalwat-penyingkapan/</link>
<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 08:01:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/01/09/zikir-khalwat-penyingkapan/</guid>
<description><![CDATA[
PENYINGKAPAN atau pembukaan (futuh) memiliki kesamaan arti dengan ‘merasakan’, kesaksian, hasra]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="zikir3.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/01/zikir3.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/01/zikir3.thumbnail.jpg" alt="zikir3.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PENYINGKAPAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> atau pembukaan (<em>futuh</em>) memiliki kesamaan arti dengan ‘merasakan’, kesaksian, hasrat ilahiyyah, ataupun ilham. Masing-masing kata tersebut menunjuk kepada pencapaian ilmu tanpa perantaraan guru, atau melalui belajar atau pengerahan kemampuan rasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Tuhan membuka hati sang hamba untuk menanamkan ilmu. Jenis ilmu ini datang dengan tiba-tiba setelah menunggu di dalam khalwat dan ‘uzlah dengan sabar di dekat ‘pintu’. Pada momen ini seorang hamba tidak lagi berada pada keadaan ‘berupaya’ atau ‘mencari’.</span><!--more--><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi (<em>Quddussullah Sirruhu</em>) mengatakan, “<em>Para nabi dan Kekasih –kekasih Allah tidak memiliki ilmu Tuhan<span> </span>yang berasal dari refleksi (rasio). Tuhan telah menyucikan mereka dari hal itu. Bahkan mereka memiliki ‘pembukaan dari penyingkapan’ melalui Yang Nyata</em>”45] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Jika seseorang ingin mencapai ‘penyingkapan’ maka dia harus menjalankan semua <em>syari’at</em> dan menerapkan disiplin <em>thariqat </em>dibawah bimbingan seorang syekh yang dia sendiri telah mengalami penyingkapan tersebut. Dia harus mencapai maqam Taqwa, sehingga Tuhan mengajarkannya ilmu dari sisi-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan ilmu kepadamu” (QS 2 : 282)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Imam Ali as berkata, “<em>Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia telah menjadikan zikir kepada-Nya sebagai penerang hati, yang menjadikan mereka dapat mendengar setelah tuli dan menjadikan mereka dapat melihat setelah buta, dan menjadikan mereka taat setelah mereka memberontak. Dalam setiap kurun waktu, ketika tidak ada lagi para nabi, (akan tetap) ada individu-individu tertentu yang kepadanya Dia berbicara secara perlahan-perlahan melalui kesadaran dan akal mereka</em>.” 46]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Jika seseorang ingin mengalami penyingkapan ilahiyyah dan dianugerahi ilmu dari Allah secara langsung, Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi qs mengajarkan, “<em>Dia hendaknya menempuh jalan sebagaimana yang ditempuh oleh para syaikh dan melakukan khalwat serta mendisiplinkan zikir. Maka Tuhan pun akan melimpahkan ilmu-Nya secara lagsung ke dalam hatinya</em>.” 47] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Kata beliau lagi, “<em>Penyingkapan akan mereka capai melalui khalwat ketika cahaya turun kepada mereka, mengantarkan ilmu suci</em>.” 48]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Tiada sesuatu pun yang terbuka bagi wali Tuhan kecuali pemahaman terhadap Kitab Yang Maha Kuasa. 49] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Namun demikian penyingkapan bukanlah tujuan. Tujuan utama dari berzikir kepada-Nya adalah taqwa itu sendiri yang berakhir kepada penghambaan secara total kepada Sang Wujud!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:Verdana;"> Jika seseorang ber-istiqamah di dalam pengasingan ruhani<br />
dan senantiasa berzikir, mengosongkan ruang hati<br />
dari pemikiran reflektif dan duduk seperti pengemis<br />
yang tidak mempunyai apa-apa di depan pintu Tuhan mereka,<br />
maka Allah akan menganugerahinya<br />
dan memberinya beberapa pengetahuan dari-Nya<br />
yaitu pengetahuan rahasia dan pemahaman Ilahiyah<br />
yakni pengetahuan yang dianugerahi-Nya kepada Nabi Khidir as.</span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;">(Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Araby, Futuhat al-Makkiyyah 1 : 31)</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;"> NAMUN </span></strong><span style="font-family:Verdana;">demikian uzlah atau khalwat tidak dibenarkan dilakukan sepanjang masa. Para Nabi, Para Imam ataupun para Awliya melakukannya hanya pada masa-masa tertentu. Rasulullah saww sendiri pun melakukan uzlah di masa-masa awal pra-risalah di sebuah gua yang berada di tepi kota Makkah, yaitu Gua Hira. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Dan pada masa-masa setelah Kerasulannya beliau menganjurkan agar umat muslim untuk melakukan i’tikaf di setiap bulan Ramadhan. I’tikaf di lakukan sebulan sekali setiap tahun. Kebanyakan orang yang telah melakukan I’tikaf secara sungguh-sungguh di bulan Ramadhan merasakan kenikmatan ruhani secara mendalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Umumnya, mereka terkesan dan merasakan bekasnya dalam jiwa mereka. Kesan dan bekas yang dirasakan dari hasil I’tikaf tersebut merubah struktur ruhani yang ada dalam diri orang-orang yang mengamalkannya. Jiwa mereka menjadi lebih lembut dan lebih peka kemanusiaannya ketimbang sebelum mereka mengamalkannya. Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari Uzlah, Khalwat, I’tikaf atau yang semacamnya. </span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">‘UZLAH DI DALAM TEKS AL QUR’AN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">CONTOH</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> Uzlah terkenal adalah seperti<span> </span>yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Ashabul Kahfi sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an yang mulia :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> “<em>Dan apabila kalian ber’uzlah (mengasingkan diri) dari mereka dan (dari) apa yang mereka ibadati kepada selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebahagian Rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian</em>. “ (QS 18 : 16)</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">DARI</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa sikap ‘uzlah-lah yang dilakukan oleh Ashabul Kahfi ketika mereka bersembunyi di dalam Gua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Contoh kedua adalah sikap yang<span> </span>dilakukan Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as berkata sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> “<em>Dan aku akan ber’uzlah (menjauhkan diri) dari kalian dan daripada apa yang kalian seru selain Allah…</em>” (QS 19 : 48)</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">UZLAH DI DALAM HADITS HADITS AHLUL BAIT RASULULLAH SAWW</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">RASULULLAH SAWW</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda : “<em>Sesungguhnya<strong> </strong>para Wali Allah itu lebih suka<span> </span>dengan keadaan sebagai seorang hamba mu’min yang sedikit harta bendanya dan perhatiannya selalu tertuju kepada<span> </span>Shalat. Mereka selalu memperbaiki (menyempurnakan) ibadah mereka kepada Tuhannya. Mereka senantiasa menyembunyikan ketaatan mereka. Sedangkan jika mereka berada di tengah-tengah manusia, mereka sering tidak dihargai manusia</em>.” 50] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">JIKA</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> kita membaca hadits di atas teringatlah kita akan sikap seseorang kepada Malik al-Asytar ra, seorang sahabat setia Imam Ali as, yang terkenal sebagai seorang panglima perang yang hebat dan tangguh. Suatu hari pernah Malik al-Asytar yang berpakaian<span> </span>begitu sangat sederhana sehingga ia pernah dihina seseorang yang melihatnya seperti seorang gembel jalanan. Tetapi karena keimanan beliau yang begitu hebat, ia tidak terpengaruh sama sekali akan hinaan tersebut. 51]</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">KISAH LUQMAN &#38; PELAYANNYA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">DIKISAHKAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> dalam kitab <em>Bihar al-Anwar</em> tentang Luqman, bahwa suatu hari Luqman nampak lama duduk berdiam diri, sampai akhirnya berlalulah pelayannya dan berkata kepadanya, “Wahai Luqman, sesungguhnya kulihat Anda duduk diam seorang diri, padahal jika Anda duduk bersama banyak orang niscaya mereka akan senang kepada Anda (karena Luqman adalah seorang arif bijaksana, yang tentunya bisa dimanfaatkan ilmunya oleh orang banyak)”. Maka Luqman pun menjawab, “<em>Sesungguhnya berdiam seorang diri sambil berpikir itu dapat meningkatkan pemahaman, sedangkan banyak berpikir itu dapat membawa seseorang ke jalan menuju Surga</em>.” 52]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">BAGAIMANAPUN</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> juga seseorang itu perlu untuk membuat jadwal dalam hidupnya untuk menyendiri. Di dalam masa menyendiri itu seseorang bisa memanfaatkan waktunya untuk mengintrospeksi dirinya dan membuat rencana-rencana yang lebih baik dari sebelumnya. Kadang di dalam sepi dan kesendiriannya, seseorang bisa memperoleh penyegaran dan dorongan spirirtual yang lebih kuat ketimbang ia tidak menyepi atau menyendiri. Masih banyak lagi manfaat yang bisa diketahui dari ‘uzlah atau khalwat jika kita mau mempraktikannya dengan benar dan bersungguh-sungguh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">ADA</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> sebuah hadits yang mungkin agak sedikit kontroversial (jika dipahami secara dangkal), namun jika kita coba untuk lebih mendalami kandungan maknanya kita akan memahami bahwa hal itru memang benar adanya dan tidaklah memiliki kontroversial sedikitpun juga. Hadits itu adalah sbb :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Imam Ali as berkata di dalam menyifati orang-orang yang mu’min : “…orang-orang mu’min itu adalah mereka yang apabila nampak dikeramaian tiada seorang pun yang mengenalinya, dan apabila ia tidak hadir di antara manusia ia tidak juga diharapkan oleh mereka, bahkan jika ia sakit, tak seorang jua yang datang mengunjunginya” 53]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">SEORANG</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> mu’min sejati adalah seorang yang hidup mandiri, ia tidak haus akan ketenaran dan popularitas, namun demikian ia adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang banyak, seraya mendo’akan banyak orang agar mereka diselamatkan dari azab Tuhan.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">PERUBAHAN ZAMAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">SESEORANG</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as, “Mengapa Anda menyendiri dari orang banyak?”, Imam as menjawab,”Telah rusak zaman dan telah banyak berubah saudara-saudara (kita), maka kulihat menyendiri lebih banyak mendatangkan manfaat!” 54]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Tentu saja hadits ini tidak dimaksudkan agar Anda berpikir pesimis melihat zaman atau pun keadaan di sekitar Anda, namun Imam Ja’far as mengingatkan bahwa apabila Karakter Zaman telah berubah arah menuju kepada Kebatilan dan Kemunkaran, maka Anda harus segera mengambil tindakan. Inilah pentingnya bagi kita untuk belajar mengenal zaman, yang mana mengenal zaman adalah salah satu ciri dari orang-orang yang arif bijaksana. Kita harus meningkatkan diri kita untuk mencapai kearifan dan keimanan yang sempurna. Jika hal ini tidak kita lakukan maka berati kita tidak memperhatikan perkembangan pribadi kita sendiri. Dengan demikian berarti kita mengabaikan pentingnya pengembangan diri, karakter dan jiwa kita sendiri.<span> </span><em>Na’udzubillah</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-family:Verdana;">Ketika kuketuk pintu Tuhan,<br />
kumenanti dengan kesabaran,<br />
tidak dengan kegusaran,<br />
hingga tampaklah oleh mata,<br />
Keagungan Wajah-Nya,<br />
dan datanglah sebuah panggilan<br />
padaku, bukan yang lain.<br />
Aku melingkupi Wujud<br />
dalam ilmu<br />
hingga tiada sesuatu pun di hatiku<br />
selain Tuhan.</span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;">( Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah I : 10.26)</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Amirul Mu’minin, Imam orang-orang yang bertaqwa, Ali bin Abi Thalib as berkata,”Orang yang sabar tiada pernah luput dari keberhasilan (sukses)” (Nahjul Balaghah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Karena itu tidak benar jika ‘uzlah dilakukan sepanjang hidup seseorang. Uzlah hanya merupakan sebuah bentuk pendidikan ruhani. Apabila kita sudah harus kembali ke tengah-tengah masyarakat, sudah sepantasnya pula kita<span> </span>melakukan hubungan sosial dengan mereka sambil tentunya membangun masyarakat dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah saww bersabda : “Seorang mu’min yang berada di tengah-tengah masyarakat dan bersabar atas perbuatan mereka yang menyakitinya adalah lebih utama daripada seorang mu’min yang tidak berhubungan dengan masyarakat dan tidak sanggup bersabar atas perbuatan mereka yang menyakitinya” 55] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Di lain hadits diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berniat untuk melakukan khalwat (menyendiri) di sebuah gunung dan melakukan ibadah (terus-menerus)”. Rasulullah saww mengatakan kepadanya,“Kesabaran sesaat seseorang atas apa yang tidak disukainya di dalam sebagian usahanya untuk menegakkan Islam adalah lebih baik ketimbang ibadah khalwatnya selama empat puluh tahun” 56] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Imam Ali as merupakan tauladan tentang hal ini. Beliau tidak menyingkir dari kehidupan sosialnya dan selalu peduli dengan segala yang terjadi di masyarakat. Walaupun beliau sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya beliau tetap terus berzikir kepada Allah. Jadi, seorang hamba yang sedang berjalan di jalan Tuhan (salik) bukanlah orang yang acuh tak acuh dengan urusan umat manusia, lalu duduk di sudut masjid dan sibuk berwirid sambil menyangka bahwa ia sedang melakukan suluk yang sejati. Para nabi dan para wali Allah juga melakukan suluk, tetapi mereka tetap sangat peduli dengan apa-apa yang terjadi pada masyarakat dan tidak hanya duduk-duduk di rumah untuk berwirid lalu mengatakan,”Kami adalah ahli suluk” 57]</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Verdana;">Laa haula wa laa quwwata illa billah</span></em><span style="font-family:Verdana;"> – Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zikir Di Dalam ‘Uzlah &amp; Khalwat]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2008/01/09/zikir-di-dalam-%e2%80%98uzlah-khalwat/</link>
<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 07:54:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/01/09/zikir-di-dalam-%e2%80%98uzlah-khalwat/</guid>
<description><![CDATA[
Imam ash-Shadiq as berkata : “Allah SWT befirman kepada &#8216;Isa putera Maryam : ”Wahai  ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="zikir1.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/01/zikir1.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/01/zikir1.thumbnail.jpg" alt="zikir1.jpg" /></a></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:Verdana;">Imam ash-Shadiq as berkata : “<em>Allah SWT befirman kepada 'Isa putera Maryam : </em></span><em><span style="font-family:Verdana;">”Wahai  'Isa  berzikirlah kepada-Ku dalam dirimu, maka  Aku akan berzikir kepadamu dalam diri-Ku. Berzikirlah kepada-Ku dalam majelismu sehingga Aku akan berzikir  kepadamu dalam suatu majelis yang lebih baik daripada majelis manusia. Wahai 'Isa! Lembutkanlah hatimu untuk-Ku dan berzikirlah kepada-Ku banyak-banyak dalam kesendirianmu. Ketahuilah  bahwa   Aku senang  kalau  kamu melakukan tabashbush  *) kepada-Ku.  Dan hiduplah disitu, jangan mati!</span></em><span style="font-family:Verdana;">” (Imam Khomeini, Empat Puluh Hadits dari Al-Kafi bab Do'a)</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">APAKAH ‘UZLAH DAN APAKAH KHALWAT ITU?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">‘UZLAH</span></strong><span style="font-family:Verdana;"> ada dua macam : Pertama, ‘Uzlah Jasmani, menjauh dari pergaulan manusia. Kedua, ‘Uzlah Kalbu, menjauhkan hati dari selain Allah, sehingga hati hanya berisi ilmu tentang Allah semata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Niat ‘Uzlah ada tiga macam. Pertama, menjauhkan diri dari keburukkan perangai orang lain. Kedua, menjaga diri agar keburukkan diri tidak mempengaruhi (menulari) orang lain. Ketiga, menjauhkan diri dari diri sendiri (nafs – ego) agar hanya ada Tuhan saja dalam hati dan pikirannya. Puncak dari kondisi ‘Uzlah adalah Khalwat (kehampaan). Khalwah adalah ‘uzlah di dalam ‘uzlah. Hasil dari khalwat lebih kuat daripada uzlah pada umumnya. 39]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Bagi seseorang yang ingin melatih (<em>riyadlah</em>) dan menerapkan disiplin ruhani, menyendiri dari keramaian dan pergaulan manusia sangat diperlukan untuk mencapai kondisi tertentu di dalam tahapan-tahapan (maqam) ruhani. Khalwat sendiri merupakan sebuah persiapan untuk menerima pancaran Tuhan (<em>fayd-e Ilahi</em>) di mana semua rintangan dan halangan telah disingkirkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">KEUTAMAAN BERZIKIR DI DALAM KHALWAT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Di dalam hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tujuh macam orang yang mendapat naungan (perlindungan) Allah, ...orang yang ke tujuh adalah orang yang (senantiasa) berzikir kepada Allah di dalam khalwat dan matanya senantiasa meneteskan air mata (karena takut kepada-Nya)” 40] </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Imam Muhammad al-Baqir as berkata,“Di dalam kitab Taurat tertulis : “Wahai  Musa! Berzikirlah kepada-Ku  di dalam khalwatmu dan di saat  engkau  bergembira dengan kelezatan-kelezatanmu, maka Aku akan ingat kepadamu di saat lalaimu” 41] </span></p>
<p class="MsoPlainText"><strong><span style="font-family:Verdana;">RINTANGAN RINTANGAN DI DALAM KHALWAT</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Rintangan terbesar yang menghalangi sang hamba dari pancaran kesempurnaan-Nya adalah kesenangan-kesenangan yang mengalihkan perhatian jiwa kepada yang selain Allah sehingga membuat dia tidak terfokus kepada tujuannya yang hakiki. Kesenangan-kesenangan ini ada dua macam. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Verdana;">Yang pertama</span></em><span style="font-family:Verdana;"> adalah kesenangan yang berhubungan dengan obyek-obyek inderawi di dalam asumsi-asumsi batin. Hal ini<span> </span>terkait dengan kemampuan-kemampuan naluri manusia atau berhubungan dengan pikiran yang bersifat ilusi. Gangguan ini berbentuk rasa cinta , rasa benci, rasa senang yang berlebihan atau rasa sedih karena memiliki kekurangan yang besar, atau kesusahan, ketentraman, kenangan tentang masa lalu atau pikiran-pikiran duniawi, seperti mendambakan kekayaan atau kedudukkan dan status sosial.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Verdana;">Yang kedua</span></em><span style="font-family:Verdana;"> adalah kesenangan yang berhubungan dengan indera eksternal seperti ketertarikan terhadap bentuk-bentuk keindahan yang mengasyikkan, suara-suara yang menyejukkan telinga atau pun aroma, rasa dan sentuhan yang menyenangkan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="left"><span style="font-family:Verdana;">Khalwat bertujuan untuk membebaskan diri dari keinginan-keinginan untuk memperoleh sesuatu kesenangan di dunia maupun di akhirat sehingga sang hamba tidak terpalingkan dari tujuan yang sebenarnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="left"><span style="font-family:Verdana;">Kesenangan duniawi sifatnya hanya sementara saja dan akan cepat berlalu, sedangkan kesenangan akhirat hanyalah keinginan ego dan hawa nafsu yang sangat tersembunyi. Karena itu di dalam khalwat ada prinsip-prinsip yang mesti dilakukan demi terbebaskan dari gangguan-gangguan seperti itu.<br />
</span></p>
<div><span style="font-family:Verdana;"> </span></div>
</p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">DELAPAN PRINSIP MENJALANKAN KHALWAT</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP PERTAMA</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, adalah duduk sendirian di dalam kamar kosong, menghadap kiblat, kaki bersila dan tangan diletakkan di paha. Sebelumnya seorang pezikir harus melakukan mandi besar (<em>ghusl</em>) dengan niat seperti mayat<span> </span>yang sedang dimandikan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Selanjutnya masuk ke dalam kamar yang <em>seolah-olah</em> masuk ke dalam liang kubur. Pezikir hanya boleh keluar kamar apabila ingin berwudhu, buang air dan shalat wajib. Kamar yang digunakan haruslah kecil dan gelap dan diberi tirai agar cahaya dan suara tidak masuk ke dalam kamar, sehingga mata, pendengaran, mulut, dan kaki tidak berfungsi sehingga Ruh tidak terganggu oleh indera, dapat bersatu dengan dunia diluar penginderaan. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> Dengan indera-indera yang tidak lagi mengganggu ini, maka hijab dan gangguan yang memasuki Ruh melalui pintu lima indera ini dapat dihilangkan (sementara) melalui zikir sehingga menghilangkan bisikan-bisikan jiwa (<em>khawatir</em>). Ketika indera tidak lagi mengganggu, maka Ruh mengalami kedekatan dengan Dunia di luar indera, dan hubungan dengan manusia dipalingkan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP KEDUA</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, yang perlu selalu dijaga adalah selalu dalam keadaan suci (berwudlu’), sehingga sang pezikir memiliki senjata dan Setanpun tidak dapat menggodanya. “Kesucian (wudlu’) adalah perisai orang beriman” (Hadits).</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP KETIGA</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, adalah senantiasa berzikir mengucapkan : “<em>Laa ilaha illa Allah</em>”. Allah SwT berfirman : “Orang-orang yang berzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring” (QS 3 : 191). Ayat ini merupakan petunjuk agar dzikrullah diamalkan setiap saat.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP KEEMPAT</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, adalah selalu menolak bisikan-bisikan jiwa (<em>khawatir</em>). Pikiran apapun yang menghinggapi, yang baik maupun yang jelek, hendaknya dihilangkan dengan ucapan “<em>Laa ilaha</em>”, seakan-akan orang yang mengucapkannya mengatakan, “Aku tidak menginginkan apa pun kecuali Allah!” Al-Qur’an menyatakan,“Apa saja yang kamu lahirkan atau kamu sembunyikan, Allah akan meminta pertanggung jawaban atasnya” (QS 2 : 284), yang menunjukkan pentingnya menafikan pikiran…Hingga cermin hati menjadi bersih dan suci dari semua hal yang menjadi penghalang dari menerima bentuk-bentuk dunia di luar indera atau ilmu yang ditanamkan langsung oleh Allah, atau menerima cahaya langsung dari Zikir dan Ilham Ruhani.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP KELIMA</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, adalah selalu berpuasa (pada siang hari)…Puasa ini sangat efektif untuk menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia…</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP KEENAM</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, adalah selalu diam. Imam Ali al-Ridha as berkata: “Sesungguhnya<span> </span>diam<span> </span>itu<span> </span>merupakan<span> </span>salah<span> </span>satu<span> </span>pintu hikmah.<span> </span>Dan diam itu akan membuahkan<span> </span>kecintaan<span> </span>serta akan jadi petunjuk setiap kebaikan” (Al-Bihar 78 : 335). Imam Muhammad al-Jawad as berkata : “Diam itu cahaya” (A'yan al-Syi'ah 2 : 35). Sang pezikir menggerakkan lidahnya hanya untuk berzikir.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">PRINSIP KETUJUH</span></strong><span style="font-family:Verdana;">, adalah mengkonsentrasikan hati. <em>Tawassul</em> kepada Rasulullah saww dan para Imam yang suci sangat membantu terbukanya <em>Hijab </em>sehingga ia dapat melihat dunia di luar dunia inderawi sehingga Rahmat Allah akan tercurahkan ke dalam hatinya. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Pada awalnya mata batin sang pezikir tertutup oleh beberapa hijab dan umumnya manusia terbiasa dengan dunia inderawi (Alam Syahadah atau Alam Nasut) sehingga ia tidak cukup mampu untuk merasakan Kehadiran Yang Tercinta. Namun jika sang pezikir bersungguh-sungguh, ia akan siap untuk memusatkan perhatiannya pada zikirnya. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Verdana;">Tawassul</span></em><span style="font-family:Verdana;"> sang pezikir kepada Rasulullah saww dan para Imam yang suci akan mendatangkan pertolongan dari mereka dengan menghadirkan cahaya ke dalam hati sang pezikir. Pertolongan demi pertolongan akan ia terima dengan rasa seperti air sejuk yang mengalir di tenggorokkan orang yang kehausan. Ia seolah menerima minuman dari tangan Rasulullah saww, atau dari Imam A