<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>all-about-editing &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/all-about-editing/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "all-about-editing"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 19:30:19 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Strukturisasi Naskah]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=348</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 07:36:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=348</guid>
<description><![CDATA[Salah satu hal yang terpenting ketika melakukan editing adalah strukturisasi naskah. Dan itu adalah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal yang terpenting ketika melakukan editing adalah strukturisasi naskah. Dan itu adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang editor ketika memegang naskah mentah dari penulis. Jika kita beruntung bertemu dengan penulis yang sudah mempunyai kemampuan strukturisasi naskah yang baik tentunya pekerjaan kita akan menjadi lebih mudah. Tapi bagaimana jika kita bertemu dengan naskah yang strukturisasinya tidak jelas. Mana judul, subjudul, dan segala tetek bengek yang berkaitan dengannya. Sudahlah indahnya dunia ini jika sudah bertemu yang seperti itu.</p>
<p>Seringkali editor merasa gatal dan ingin langsung saja mengedit isinya. Padahal yang terpenting untuk dilihat adalah strukturisasi naskahnya. Karena ini penting, strukturisasi naskah yang baik akan memudahkan layouter untuk melayout naskah tersebut, dan jadinya mungkin akan lebih menarik. Jika tidak, percayalah, maksudnya editor ke mana, tapi nanti ditangkap sama layouter kemana. Jadi kita harus bersyukur jika punya layouter yang kritis dan suka baca, karena mau tidak mau dia akan mencereweti editor. Kenapa begini dan begitu, dan lain-lainnya<br />
<!--more-->Menurut guru saya, sebelum mengedit hal  yang wajib dilakukan pertama kali adalah baca pertama. Jangan mengedit tahan kegatalan mata dan tangan untuk segera memperbaiki naskah itu. Karena jika kita sudah berkutat pada hal-hal kecil dan renik-renik buku, gambaran besar buku akan terlewat. Nah gambaran besar itulah yang harus diambil ketika dilakukan baca pertama. Setelah itu, kita bisa melihat struktur naskah, apakah naskah itu perlu direstrukturisasi bab-babnya atau apa pun.</p>
<p>Sayangnya seringkali editor malas untuk menstrukturisasi naskahnya terutama untuk naskah-naskah nonfiksi sehingga yang ada jika di bawah editor ada copyeditor, dialah yang ketiban getahnya, lalu layouter yang kebingungan, ini naskah koq begini, mana judul mana subjudulnya. Terutama untuk jenis naskah tahapan. Percaya deh, itu indah banget, apalagi jika strukturisasi naskah dari penulisnya kacau.</p>
<p>Beberapa kali aku mengalaminya. Dan aku yakin buku pelajaran dan buku perguruan tinggi pastinya akan lebih ruwet lagi. oleh karena itu editor buku pelajaran dan teks apresiasinya lebih tinggi daripada yang bukan buku pelajaran. Karena sistematisasi berpikir mereka lebih oke. Edtor buku umum cenderung lebih bebas cara berpikirnya. Tapi biarpun begitu, kemampuan strukturisasi adalah suatu hal wajib yang dimiliki seorang editor.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hai, Gua Ipal, Gua Editor!]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=304</link>
<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 22:45:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=304</guid>
<description><![CDATA[NB.
Ini bagian pertama novel yang bakalan kubuat. kalo ada yang mampir baca, minta komennya dunk. Te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>NB.<br />
Ini bagian pertama novel yang bakalan kubuat. kalo ada yang mampir baca, minta komennya dunk. Terima kasih atas perhatiannya sebelumnya.<br />
=====</p>
<p>Hai, gua Ipal. Umur gua 23, Gua kerja sebagai editor di salah satu penerbit buku perguruan tinggi di Jakarta. Penerbitan Oye namanya. Ini pertama kalinya gua bekerja, secara gua fresh graduate gitu dari S1 TPG IPB. Lha kenapa juga ya, lulusan TPG IPB yang terkenal gwetu loch bisa nyasar kerja sebagai editor di penerbit buku.</p>
<p>Gua terinspirasi oleh dosen-dosen gua yang rajin-rajin nulis itu. Mestinya timbul pertanyaan kan, kenapa gua ga jadi penulis aja. Kan lebih enak penulis, honor dan feenya juga lebih banyak. Ya ini adalah cara gua belajar jadi penulis. Kalo gua jadi editor kan gua bisa apa-apain tuh tulisan para dosen gua (ha ha ha balas dendam, waktu mereka ngobrak-ngabrik skipsi gua). Eh, dendam itu ga baik ya…. Tapi ya sutra weh. Maksud gua, gua bisa belajar banyak dari tulisan-tulisan yang bakalan gua edit entar.</p>
<p><!--more-->Gua heran juga, kenapa gua bisa dengan begitu mudah masuk ke sini. Sore itu, pas bulan puasa, gua baru balik dari Bandung lantarangua juga di panggil wawancara di salah satu penerbit beken yang ada di Bandung gitu. Yang di Bandung ini seleksinya lebih ketat bow. Secara direktur yang penerbit Bandung itu, katanya sih salah satu dedengkot tokoh perbukuan nasional.</p>
<p>Ah What everlah. Yang penting, yang gua mau, gua mau jadi editor.<br />
O ia, kita balik lagi ke cerita pas gua abis sholat, gua ditelpon sama nomor Jakarta.<br />
Nomor yang ga gua kenal.<br />
Gua angkat aja.</p>
<p>“Halo, dengan Palupi Widianingrum,” terdengar suara di seberang sana.</p>
<p>“Iya,” saya sendiri, jawab gua.</p>
<p>“Anda mengajukan lamaran ke Penerbit kami,” tanya suara itu lagi.</p>
<p>“Oh... iya Bu,” jawab gua lagi.</p>
<p>“Bisa engga dateng besok buat wawancara.”</p>
<p>“Kami lagi perlu editor dan kualifikasi kamu cocok.”</p>
<p>Haaah ... besok. Secara gua ada di Cirebon waktu itu. Dah pulang kampung, mana 3 hari lagi lebaran pula... heran sekaligus aneh bin ajaib gua pikir orang ini.</p>
<p>“Hmm gimana ya Bu, saya sekarang lagi ada di Cirebon, udah pulang kampung,” gua jawab aja terus terang. Secara sebenernya gua keberatan, masak baru pulang udah balik lagi ke jakarta.... Oh Noooo!</p>
<p>“Ooo,” terdengar suara memaklumi.</p>
<p>“Oke, kalo gitu, gini aja. Anda kami tunggu untuk wawancara tanggal 1 November 2006 di kantor kami,” katanya memberikan alternatif.</p>
<p>“Baik Bu, siap,” jawab gua lagi.</p>
<p>“Ini alamatnya Grand Winaya Center di Jalan Wijaya 2, Blok B2, No. 7”</p>
<p>“Wah di mana tuh, Bu,” tanya gua.</p>
<p>“Pokoknya ini daerah Jakarta selatan. Nanti kamu tanya saja sama Mas Yanto ya. Ini nomor teleponnya. Kamu kontak ke sana, minta petunjuk arahnya. Dan tanggal 1 nanti, kamu ketemu langsung sama dia. Ok,” jelasnya tanpa basa basi.</p>
<p>“Oke Bu siap,” jawab gua sok siaga.</p>
<p>“Kami tunggu kedatangannya. Terima kasih, selamat malam,” ujarnya suara itu mengakhiri percakapan via telepon antara gua dengan dia (yang belakangan gua tau, ternyata yang nelpon itu adalah boss gua kelak).</p>
<p>Setelah nerima telepon itu, tinggallah gua yang bingung, secara gua ngarepin penerbit yang di Bandung tea, kenapa pula, malah dapat panggilan di Jakarta. Jakarta yang masih antah berantah bagi gua.</p>
<p>Tapi ini kesempatan, dan ini akan gua ambil.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ya Allah, Tuhan]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/25/ya-allah-tuhan/</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 13:14:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/25/ya-allah-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Sekarang sedang mengedit, naskah luar biasa berat. Inilah naskah terberat yang ku edit. Baik secara ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sekarang sedang mengedit, naskah luar biasa berat. Inilah naskah terberat yang ku edit. Baik secara konten maupun penulisannya. Rasanya pingin nangis. Mekaniknya banyak banget. <span>Dan itu makan waktu dan tenaga luar biasa. Itu baru segi mekanik, belum baca isi. </span>Tanda kutip, penulisan ayat, nama ayat, konsistensi. Allah, Tuhan. Luar biasa. Kontennya pun sangat kontemplatif. Sehingga harus bersih hati ketika membacanya. Jadilah mengedit naskah ini sambil menangis-nangis, nangis karena parahnya edit mekanik yang harus dilakukan, dan edit bahasa yang luar biasa, dan nangis kontemplatif yang mempertanyakan kembali mau apa hidup ini. Allah, Tuhan, Luar biasa. Subhanallah.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa Jadi Editor?  ]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/23/kenapa-jadi-editor/</link>
<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 03:13:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/23/kenapa-jadi-editor/</guid>
<description><![CDATA[Judul di atas adalah hal yang sering ditanyakan orang kepadaku. Mengingat latar belakang pendidikank]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas adalah hal yang sering ditanyakan orang kepadaku. Mengingat latar belakang pendidikanku yang mungkin tidak nyambung dengan bidang editorial. Selain itu, sayang katanya lulusan magister koq “cuma” jadi editor.</p>
<p>Aku  memilih menjadi editor dengan sengaja menceburkan diri. Jika tidak, kenapa juga susah-susah milih jadi editor, kenapa tidak bekerja di LSM, atau departemen lain yang sesuai dengan latar belakang pendidikan aku. Atau banyak juga yang menawarkan untuk menjadi pengajar, jadi dosen. Kan lebih enak katanya. Kupikir-pikir mungkin iya, tapi entah ada yang tak sreg di hati ini.</p>
<p><!--more-->Aku juga sebenarnya tidak begitu menyukai pertanyaan yang menyudutkan seperti, kenapa lulusan magister jadi editor. Aku berpikir, menjadi seorang editor memang harus cerdas,  harus pintar, dan pendidikan juga harus tinggi. Bukankah “harga” seorang editor ahli itu juga sangat mahal. Selain itu, itu juga bisa jadi jurus pamungkas jika kita menghadapi penulis yang “rewel” karena menganggap naskahnya sudah sempurna dan membodoh-bodohkan editor yang  mengedit bukunya, sambil  berkata, “ah, tau apa editor”. Karena dia menganggap tingkat pendidikannya lebih tinggi. Nah, kalau editor juga punya tingkat pendidikan yang tinggi, bukankah dia akan lebih “dipandang” oleh penulis yang “rewel” tersebut. Ya, bukan bermaksud untuk menang kalah dalam hal ini, tapi itu juga salah satu pertimbangan, bahwa seorang editor harus juga punya pendidikan yang baik, tanpa menafikkan bahwa banyak editor andal dan mumpuni dalam bidangnya, tapi tak terkenal namanya mungkin tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, setinggi buku yang ditulis oleh penulisnya.</p>
<p>Semangaat terusss! Korps Editor Indonesia... Cayo!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[EDITOR: JENDERAL BINTANG LIMA]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/05/editor-jenderal-bintang-lima/</link>
<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 12:01:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/05/editor-jenderal-bintang-lima/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Agung Prihantoro 
David Rosenthal, seorang editor pada Little Random (salah satu anak perusaha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Agung Prihantoro</strong> </p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">David Rosenthal, seorang editor pada Little Random (salah satu anak perusahaan penerbit terbesar di dunia, Random House), dalam Book Editors Talk To Writers (Judy Mandell, 1995) pernah berkata, "Editor adalah jenderal berbintang lima." Bukan membeo Soekarno atau Soeharto, tetapi Rosenthal di sini hendak menekankan pentingnya peran editor atau penyunting dalam penerbitan buku.</p>
<p> </p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">Syahdan, tak heran bila sejumlah penerbit di negara kita didirikan dan dipimpin oleh editor atau mantan editor, misalnya Mizan Pustaka, Nuansa, Serambi, Pustaka Hidayah. Meski seorang editor telah naik jabatan jadi general manager atau direktur penerbit, dia kerap kali masih terlibat dalam kerja-kerja redaksi, misalnya menentukan kelayakan terbit suatu naskah. Sebaliknya, editor tak jarang dimintai pertimbangannya dalam mengambil putusan-putusan penting di tingkat perusahaan.</p>
<p> </p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><!--more-->Beratnya kerja editor juga terbukti dengan banyaknya keluhan para pembaca tentang buruknya penyuntingan (dan penerjemahan) buku-buku atau kitab-kitab di Nusantara ini. Dengan perkataan lain, suntingan yang buruk memperlihatkan bahwa menyunting (dan menerjemah) itu tidaklah mudah, dan bahwa para editor kita belum bekerja secara optimal.</p>
<p> <span>Lantas, apa saja sebenarnya pekerjaan editor sehingga dia laik mendapat pangkat jenderal bintang lima? Setiap penerbit mempunyai job description yang berbeda untuk editor, tetapi secara umum editor bertugas mencari naskah sampai ikut memasarkan dan mempromosikan buku. Tugas ini boleh dibilang merentang dari hulu hingga hilir, dari meja redaksi, pencetakan sampai pemasaran—tiga bagian pokok dalam alur produksi buku.</span><span> </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span>Di meja redaksi, editor bertanggung jawab untuk mencari atau menerima naskah, memutuskan apakah sebuah naskah hendak diterbitkan atau ditolak, dan juga menyunting naskah. Setelah ratusan penerbit di Indonesia tumbuh bak jamur di musim hujan sejak paro 1998, editor tak bisa sekadar menunggu naskah-naskah yang ditawarkan oleh para penulis. </span>Jika dulu para penulis berebut penerbit, sekarang para penerbitlah yang berebut penulis. Editor mesti memburu naskah dan rajin turun ke kampus-kampus atau kantong-kantong budaya untuk mencari penulis-penulis pemula atau memelihara hubungan baik dengan para penulis senior.</p>
<p> </p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">Lantaran banyak sekali buku berbahasa asing yang bagus untuk diindonesiakan, para editor dari berbagai penerbit bersaing mendapatkan naskah asing tersebut. Editor di penerbit kecil biasanya sekaligus menjadi literary agent yang berwenang mengurus copyright pada pemegangnya di luar negeri. Kini, persaingan antarpenerbit untuk memenangi copyright sudah sangat ketat.</p>
<p> </p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">Setelah memperoleh naskah, editor mempelajarinya dari pelbagai sudut pandang—ekonomis, intelektual, politis, sosio-kultural— untuk menetapkan apakah naskah tersebut patut diterbitkan. Secara ekonomis, dia menimbang apakah naskahnya akan menjadi buku bestseller; secara intelektual, apakah ide dan isi naskahnya baru dan selaras dengan misi dan visi penerbit; secara politis, apakah naskahnya berisiko untuk dilarang oleh kekuatan politik yang tengah berkuasa; dan secara sosio-kultural, apakah naskahnya bermuatan SARA.</p>
<p> Apabila naskahnya berbahasa asing, editor terlebih dahulu mencari penerjemah untuk mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia. Lalu, editor menyunting atau mengedit naskah yang hendak diterbitkannya itu. <span>Dia bisa melakukannya sendiri atau meminta editor outsourcer untuk mengerjakan tugas ini.</span><span> </span><span>Sekali lagi, menyunting bukanlah pekerjaan gampang, apalagi kalau naskahnya masih mentah, sebab editor harus mengolahnya supaya pembaca nanti dapat membacanya dengan nikmat senikmat melahap makanan yang diracik oleh koki ulung. Dalam hal ini dibutuhkan ketelitian. Seorang negarawan Amerika Serikat, Adlai Stevenson (1900-1965), melukiskan ketelitian kerja editor dengan kata-kata: "Editor bagaikan orang yang memisahkan gandum dari sekam."</span><span> </span><span>Pada fase pracetak, editor menentukan format buku yang tepat—besar (15,5x23,5 cm), sedang (14x20,5 cm), atau kecil (11,5x17,5 cm). Dia juga memberi arahan-arahan kepada setter tentang jenis font, letak gambar, catchword dan nomor halaman, dan juga jenis aksesorinya. Dia pun mesti memesan sampul buku, dan memberi rambu-rambu kepada perancang sampul untuk membuat sampul yang memikat dan informatif (Meracik Buku Menjadi Bestseller, 2006).</span><span> </span><span>Pada tahap pemasaran, editor jamaknya diajak berembuk perihal bentuk promosinya: bedah buku, lomba resensi, ataukah pembacaan buku. Editor diikutsertakan dalam pemasaran pasalnya dialah yang tahu persis siapa sasaran atau segmen pasar yang dibidik oleh sebuah buku.</span><span> </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sebetulnya, ada satu peran penting lagi yang dimainkan oleh editor di negara-negara yang tradisi perbukuannya sudah maju, tetapi belum banyak dilakukan oleh editor di tanah air kita. Peran itu adalah mendampingi penulis selama menggarap kitabnya—fiksi maupun nonfiksi. Dalam konteks ini, editor membantu penulis memilih topik-topik yang baru dan laku dan menulisnya dalam bab-bab yang sistematis dan dengan bahasa yang clear (jelas), concise (ringkas), coherent (koheren), dan courtesy (santun). </span>Editor di sini berkiprah sebagai konsultan bagi penulis untuk menelurkan buku-buku yang bermutu dan bestseller.</p>
<p> <span>Karena editor dituntut memenuhi seluruh tugas ini, dia wajib mempunyai kemampuan yang mumpuni. Dia mesti mendalami bidang kajian tertentu, memiliki kecakapan menulis, menguasai peta perbukuan, dan mengetahui seluk-beluk pemasaran. David Rosenthal mengimbuhkan bahwa editor harus mempunyai citarasa dan pendirian menyangkut dunia buku.</span><span> </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span>Segunung masuliah ini dipikul di pundak editor. </span>Bagi perusahaan, penyunting sangat menentukan untung dan ruginya. Bagi penulis, editor membantu menganggit kitab yang berkualitas. Bagi masyarakat, editor menentukan terbitnya buku-buku yang mencerahkan dan memandu gerak peradaban. Hatta, menimbang semua peran, pekerjaan dan tanggung jawab ini, kiranya editor pantas diganjar dengan pangkat jenderal pancabintang. []</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Total Editing]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/01/29/total-editing/</link>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 06:30:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/01/29/total-editing/</guid>
<description><![CDATA[Istilah ini aku peroleh dari Pak Bambang Trim. Seorang editor harus memainkan strategi total footbal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah ini aku peroleh dari Pak Bambang Trim. Seorang editor harus memainkan strategi total football...eh salah...Total Editing. Semua hal yang berkaitan dengan kelengkapan naskah hingga buku itu terbit. Semuanya. Feeling editor harus jalan, mana yang kurang, mana yang belum. Semua aspeknya. Dari pernik-pernik yang kecil sampai pernak-pernak yang besar…</p>
<p>Luar biasa sebenarnya tanggung jawabnya. Apalagi editor yang multifungsi, ya ngedit, ya ngurusin penulis, ya bikin surat perjanjian, multitasking banget. Belum lagi deadline yang selalu mengintai. Wah betapa indahnya dunia ini.</p>
<p>Editor harus bermain cermat dan cantik dalam total editingnya. Total football juga berarti konsistensi, dan ranah renik-renik copyediting yang kadang njelimet. Ada banyak kasus juga, konsistensi style gaya selingkung oke, tapi renik-renik salah ketik banyak yang terlewat. Renik-renik salah ketik tidak banyak, tapi konsistensinya kurang. Tapi banyak juga yang konsistensi gaya selingkung oke dan renik-renik salah ketiknya juga relatif bersih.</p>
<p>Butuh latihan dan pembelajaran yang luar biasa untuk mengasah feeling, agar ketajamannya tetap terasah sehingga bisa peka terhadap segala jenis kesalahan dan ketidakkonsistenan yang terdapat dalam naskah buku. Sehingga akhirnya buku sampai ke tangan pembaca dengan bersih, kalo bisa malah zero error.</p>
<p>Total editing mungkin juga berarti kecepatan, ketajaman, ketepatan, kecermatan, dan ketelitian, bahkan mungkin masih banyak aspek lainnya. Jadi intinya latihan, alah bisa karena biasa. Practice make perfect.</p>
<p>Dare to do.</p>
<p>Bandung, 19 Oktober 2007<br />
Nurchasanah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dicari! Penulis yang ramah editor!]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2007/07/31/dicari-penulis-yang-ramah-editor/</link>
<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 13:43:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2007/07/31/dicari-penulis-yang-ramah-editor/</guid>
<description><![CDATA[He he he ini adalah pembelaan diri para editor…Ya kalau tidak semuanya, setidaknya ini akulah yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p CLASS="MsoNormal">He he he ini adalah pembelaan diri para editor…Ya kalau tidak semuanya, setidaknya ini akulah yang berpendapat. Selama ini banyak sekali penulis yang banyak karyanya ditulis ulang oleh editornya—tidak hanya penulis—penerjemah juga. Tekanan kerjanya lumayan. Ada yang bilang, kalo editor tuh kayak daging di antara roti <em>sandwich</em> antara penerbit (atasannya) dan penulis. Penerbit pengen naskahnya bagus, sedangkan naskah yang masuk ada yang bisa dibilang naskahnya “indaaah sekali” saking indahnya sampe-sampe naskah itu harus ditulis ulang lah sama editornya.</p>
<p CLASS="MsoNormal"><!--more-->Ya, itulah gunanya editor…kata penulis. Apa fungsinya editor kalo gitu. Fungsi editor kan buat membuat naskah juga jadi bagus. Kalo naskah udah <em>zero defect</em> dari penulis lantas apa gunanya editor dipekerjakan oleh penerbit!</p>
<p CLASS="MsoNormal">Emang bener sih. Tapi editor kan juga manusia, dan naskah yang ditangani editor tidak hanya satu naskah aja—tapi banyak dan bejibun—belum lagi kerjaan sampingan lainnya. Kalo aku bilangnya, aku nyari naskah yang “berdarah” tapi bukan naskah yang bikin “berdarah-darah” nah lho…bingung ga?</p>
<p CLASS="MsoNormal">Maksudnya naskah yang “berdarah” adalah naskah yang bikin editor semangat membacanya dan rela <em>doing anything</em> buat bikin naskah itu jadi lebih bagus lagi lebih dari yang penulisnya harapkan. Tapi kalo’ naskah yang “berdarah-darah” ya..naskah yang…<em>phhweeeew</em>…udah bacanya males karena gaya bahasa yang kurang baik, cara berpikir yang tidak runtut, dan banyak lagi lah…yang intinya sebenernya gak layak terbit, tapi harus terbit lantaran emang dibutuhkan sama pasar (terutama buku teks mahasiswa) tambah lagi harus cepet dikerjain karena kejar deadline. Wah itu bener-bener indah banget.</p>
<p CLASS="MsoNormal">Bukannya editor pilih-pilih pengen naskah yang bikin editor enak sendiri aja. Tapi ada baiknya penulis mengedit terlebih dahulu tulisannya sebelum dikirimkan ke penerbit. Karena itu akan lebih mempermudah kerja editor. Selain itu, kerja sama antar penulis dan editor harus benar-benar harmonis. Bukan berarti ketika editor mengobrak-abrik naskah asli penulis, maka dia adalah orang yang sok tahu atau gimana. Tapi begitu cintanya dia pada naskah penulis sehingga dia ingin membuat yang terbaik supaya naskah penulis menjadi lebih cantik.</p>
<p CLASS="MsoNormal">Tapi untuk urusan merombak total naskah pun tetap harus dengan persetujuan atasan dan penulis. Aku pribadi tidak takut untuk melakukan itu, ada seorang teman yang bilang, kebanggaan pribadi seorang editor ada pada keberanian itu, dan dia tidak takut dan tidak peduli sama penulis yang galak atau rewel. Dan aku SETUJU dengan itu. Ya, meskipun demikian masih tetep harus liat-liat juga kan. Kalo penulisnya emang bener-bener galak, ya sesuaikan sajalah. Makanya menurutku editor harus lebih pinter dari penulisnya dan tidak segan untuk membaca lebih banyak lagi. Riset referensi lebih intensif supaya naskah yang diedit benar-benar bermutu dan tidak hanya sekadar naskah yang jadi, dicetak dan dijual…dan seringkali dilupakan.</p>
<p CLASS="MsoNormal">Well, ada yang bilang juga kalo menulis adalah pekerjaan manusia, maka mengedit adalah pekerjaan dewa. Tapi menurutku kalo dewanya kecapekan, ya editannya tetep aja ada yang kacau atau kelewat juga..……he he he he….</p>
<p CLASS="MsoNormal">Tau lagunya SEURIEUS kan, kita rombak sedikit lah…EDITOR JUGA MANUSIA…PUNYA RASA PUNYA HATI…dst…</p>
<p CLASS="MsoNormal">Ya liat aja tulisan ini banyak yang perlu dieditkan….he he he….</p>
<p CLASS="MsoNormal">Kota Kembang, 29 Mei 2007</p>
<p CLASS="MsoNormal">Nurchasanah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terobsesi Koma!]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2007/07/31/terobsesi-koma/</link>
<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 13:27:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2007/07/31/terobsesi-koma/</guid>
<description><![CDATA[Koma menurut Kitab Besar Bahasa Indonesia adalah tanda baca yang dipakai untuk memisahkan unsur di s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Koma menurut Kitab Besar Bahasa Indonesia adalah tanda baca yang dipakai untuk memisahkan unsur di suatu perincian, memisahkan nama orang dari gelar akademik yang mengiringinya, memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi di kalimat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sinonimnya dalam bidang kedokteran koma berarti keadaan tidak sadar sama sekali dan tidak mampu memberi reaksi terhadap suatu rangsangan. Sedangkan di bidang astrologi koma merupakan bagian yang seperti kabut di sekitar kepala komet (bintang berekor). <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk serial televisinya ada miniseri Dunia Tanpa Koma, maknanya kesan filosofis koma nampaknya lebih membekas dibandingkan titik. Demikianlah adanya tampaknya. Tapi masih perlu dicari lagi referensi tentang koma. Membahas koma, dari segi ilmiahnya atau segi yang lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Editor sih, memang nampaknya terobsesi koma, rasanya mungkin gatal aja jika melihat ada kalimat yang terlalu panjang dan tanpa ada koma. Selain itu kalimat yang terlalu panjang dari penulis, seringkali membuat editor bingung menentukan mana anak kalimat mana induk kalimat. Mau dipotong di sini pake koma, atau mau dipotong di sana pake koma juga, nanti malah kebanyakan koma.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terlalu banyak koma, selain diprotes sama layouter, bisa juga diprotes sama penulisnya. Ngomong-ngomong soal penulis yang protes salah satu diantaranya adalah Romo Mangun yang protes sama editornya. Tentang anak kalimat, ya…mungkin juga berkaitan dengan koma, atau menghilangkan anak kalimat ya. Sampe-sampe Romo Mangun bilang, wong kenyataan di dunia saja sudah tidak punya anak, ini anak kalimat saja harus dihilangkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain dunia tanpa koma, ada juga teater koma. Coba teater koma itu, namanya bukan teater koma, mungkin namanya tidak sekondang sekarang. Mungkin perlu bertanya pada N. Riantiarno mengapa dia memilih nama koma.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurutku—nebak-nebak aja—mungkin N Riantiarno mengambil nama koma, berkaitan dengan sifat berhenti sejenak. Koma berarti berhenti sejenak. Mungkin itu, berhenti sejenak dari lari-lari dalam kalimat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bayangkan saja, kalimat tanpa koma apalagi dengan jumlah kata lebih dari 20, yang tertangkap oleh pembaca adalah tersengal-sengal ketika membacanya. Rasanya seperti di buru-buru oleh sesuatu. Seperti sedang <em>sprint</em> saja rasanya. Tapi coba kalo ada koma, mungkin kesan sprint tersebut bisa dikurangi, jadi rasanya seperti sedang lari cross country. Lari melintasi wilayah yang indah, ya tetap ada target waktu sih, tapi tidak perlu terlalu cepat kan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meskipun demikian terlalu banyak koma juga, tidak enak juga. Lantaran, kalimat jadi terpotong-potong banyak sekali. Jadi, terlalu banyak jeda di dalamnya. Secara, terlalu banyak jeda juga kurang enak kan. Belum apa-apa sudah berhenti…berhenti…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Editor yang baik, harus bisa menentukan dimana letak koma yang pas agar kalimat itu jadi enak. Rada sulit memang, tapi <em>pake feel</em> <em>aja</em> mungkin. Sebenarnya masalah koma ini masih bisa di-<em>explore</em> lagi. Masih bisa dijelajahi lagi. Lain waktu lah…kapan-kapan dikaji lagi masalah koma ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini sih, intermezzo aja….</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika dilihat dari bentuknya, tanda koma mirip dengan huruf wawu dalam abjad arab dan sebentuk harakat dhommah. Hmmm… sebenarnya jadi penasaran, adakah hubungan antara huruf wawu dan tanda harakat dhommah dengan tanda koma?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Well, is there an explanation for me?</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kota Kembang, 31 Juli 2007</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nurchasanah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
