<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ahmadiyah-sesat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ahmadiyah-sesat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ahmadiyah-sesat"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 13:02:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kenaikan Harga BBM, Pembubaran Ahmadiyah, AKKBB Vs KLI… Ah, Hebatnya Media Membentuk Opini]]></title>
<link>http://dhedhi.wordpress.com/?p=92</link>
<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 08:42:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>dhedhi</dc:creator>
<guid>http://dhedhi.id.wordpress.com/2008/06/08/kenaikan-harga-bbm-pembubaran-ahmadiyah-akkbb-vs-kli%e2%80%a6-ah-hebatnya-media-membentuk-opini/</guid>
<description><![CDATA[
Media,,, media,, media!
Sekali lagi kita melihat kehebatan media dalam menggiring dan membangun opi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#38;gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#38;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#38;gt;                                                                                                                                            &#38;lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span style="color:#808000;">Media,,, media,, media!</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span style="color:#808000;">Sekali lagi kita melihat kehebatan media dalam menggiring dan membangun opini masyarakat tentang suatu isu. Luar biasa memang peran media saat ini, mulai dari pembangunan citra yang baik sampai dengan penghacuran citra, bahkan fitnah!</span></p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Kita masih ingat kira-kira dua minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 mei 2008, <a href="http://dhedhi.wordpress.com/2008/05/24/kenaikan-bbm-pesan-cinta-sby-jk-yang-sulit-dipahami/" target="_blank">saat pemerintah menaikkan harga BBM</a>. Saat itu mahasiswa dan rakyat bersatu, satu kata, tolak kenaikan harga BBM! Media pun ikut andil, setiap koran dan berita di televisi berlomba-lomba menyajikan informasi tentang demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Tentu saja hal ini memperburuk citra pemerintah . . .</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Kita juga masih ingat, <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/01/time/134628/idnews/948456/idkanal/10" target="_blank">insiden monas</a> pada hari minggu, 1 juni 2008,<a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/02/time/134557/idnews/948907/idkanal/10" target="_blank"> KLI (Komando Laskar Islam) Vs AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan)</a>. AKKBB yang dituding oleh KLI mendukung eksisnya ahmadiyah di Indonesia, akhirnya diserang oleh KLI. <a href="http://akkbb.wordpress.com/" target="_blank">AKKBB</a> pun balik menyerang KLI sebagai elemen yang anarkis, tapi bukan KLI yang diangkat ke permukaan, melainkan<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Front_Pembela_Islam" target="_blank"> FPI</a> (Front Pembela Islam), salah satu elemen yang tergabung dalam KLI. Isu pun bergeser, media berlomba-lomba menyajikan berita tentang insiden monas ini.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Tentang insiden monas, ada beberapa hal yang saya cermati , yaitu :</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;text-indent:-13.5pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>1.<span> </span></span></span><span style="color:#008000;">Isu ini menguntungkan beberapa pihak, diantaranya adalah :</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:#808000;"><span><span>a.<span> <span> </span></span></span></span></span><span style="color:#808000;">Pemerintah : </span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><span> </span>pergesaran isu ini menyebabkan masyarakat tidak fokus untuk menolak kenaikan harga BBM. Konsentrasi masyarakat terpecah, antara kenaikan harga BBM dan insiden monas.<!--more--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:#808000;"><span><span>b.<span> </span></span></span></span><span style="color:#808000;">Ahmadiyah : </span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><span> </span>jelas ini isu yang sangat menguntungkan bagi ahmadiyah. Ditengah-tengah cibiran masyarakat yang menyatakan bahwa <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/01/17/brk,20080117-115616,id.html" target="_blank">ahmadiyah sesat</a>, tiba-tiba ada isu tentang anarkisme FPI. Tentang kesesatan ahmadiyah, <span> </span>hal ini diperkuat oleh desakan <a href="http://www.mui.or.id" target="_blank">MUI (Majelis Ulama Indonesia)</a> yang mendesak pemerintah untuk mengeluarkan <a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/5/12/skb-tiga-menteri-untuk-memberangus-ahmadiyah/" target="_blank">SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri guna memberangus ahmadiyah.</a></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:#808000;"><span><span>c.<span> </span></span></span></span><span style="color:#808000;">Kelompok anti islam (walaupun mengaku islam!) : </span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><span> </span>semua kelompok anti islam bertepuk tangan atas meledaknya isu ini. Ini kesempatan besar untuk menyerang islam, untuk memojokkan islam. Lalu menyebarkan isu bahwa islam itu anarkis dan anti kedamaian. Padahal ini jelas-jelas fitnah!</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:#808000;"><span><span>d.<span> </span></span></span></span><span style="color:#808000;">Pemilik tempat zina dan perjudian : </span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;"><span> </span>FPI (yang tergabung dalam KLI), merupakan elemen yang paling konsisten dalam memerangi perzinaan dan perjudian, makanya kalau isu ini menjadi isu pembubaran FPI, pemilik tempat zina dan perjudian pun akan ikut senang.<!--more--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:31.5pt;text-indent:-0.25in;">
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;text-indent:-13.5pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span> </span></span></span><span style="color:#008000;">Adanya ormas ya<span style="color:#008000;">ng disudutkan.</span></span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;"><a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/06/02/brk,20080602-124205,id.html" target="_blank">Sangat jelas bahwa insiden monas adalah KLI Vs AKKBB</a>, tapi FPI adalah ormas yang selalu dicerca dan disudutkan dalam hal ini.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;">
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;text-indent:-13.5pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>3.<span> <span style="color:#008000;"> </span></span></span></span><span style="color:#008000;">Ketimpangan pemberitaan media</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;">Media selalu memberitakan keberingasan FPI. Porsi pemuatan pendapat AKKBB lebih besar bila dibandingkan dengan pendapat dan pembelaan dari saudara-saudara yang tergabung di KLI.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;">
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;text-indent:-13.5pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>4.<span> <span style="color:#008000;"> </span></span></span></span><span style="color:#008000;">Isu ini terlalu dibesar-besarkan.</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;">Mulanya isu yang <em>booming </em>adalah kenaikan harga BBM, ditambah lagi dengan tuntutan pembubaran ahmadiyah. Lalu terjadi insiden ini, media pun beramai-ramai memberitakan kejadian ini. Berusaha menggiring konsentrasi masyarakat ke isu ini. Menurut saya sendiri, isu ini terlalu dibesar-besarkan.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:13.5pt;text-indent:-13.5pt;">
<p class="MsoNoSpacing"><em>Ntah lah, </em>saya bingung, ini menunjukkan peran media yang sangat besar, tapi apakah saya harus salut dengan media yang ada di Indonesia, atau malah sebaliknya? Saya sendiri sangat mengharapkan adanya media yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan kepada suatu golongan saja. Media yang memberitakan sesuatu secara proporsional, tidak dilebih-lebihkan. Tidak pula melakukan pembentukan opini yang menyesatkan masyarakat. Masih adakah media yang seperti itu di Indonesia??? Semoga masih ada.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Dedi Setiawan, 8 Juni 2008 @ Kampus putih biru, IT Telkom, bandung<br />
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =<br />
Motivasi dan inspirasi menulis:<br />
- Pemberitaan media selama dua minggu ini<br />
- Harapan tentang media yang bisa dipercaya dan tidak timpang dalam pemberitaan</p>
<p><!--[if gte mso 9]&#38;gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#38;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#38;gt;                                                                                                                                            &#38;lt;![endif]--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Alumni Thawalib Pembawa Ahmadiyah ke Indonesia]]></title>
<link>http://orangmiskin.wordpress.com/2008/05/17/alumni-thawalib-pembawa-ahmadiyah-ke-indonesia-2/</link>
<pubDate>Sat, 17 May 2008 17:52:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>orangmiskin</dc:creator>
<guid>http://orangmiskin.id.wordpress.com/2008/05/17/alumni-thawalib-pembawa-ahmadiyah-ke-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[

Siapa menduga perkembangan Ahmadiyah di Indonesia bermula dari Ranah Minang. Organisasi yang didir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong></strong></p>
<p align="justify"><strong><img style="width:289px;height:240px;" height="275" alt="AHMADIYAH" src="http://orangmiskin.files.wordpress.com/2008/05/ahmadiyah1.jpg" width="335" border="0" /></strong></p>
<p align="justify"><strong>Siapa </strong>menduga perkembangan Ahmadiyah di Indonesia bermula dari Ranah Minang. Organisasi yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad ini masuk ke Indonesia atas undangan tiga pelajar Sumatera Thawalib Padang Panjang. Kaum Ahmadi Indonesia mengenal mereka dengan sebutan tiga serangkai.</p>
<p align="justify">Sejak dulu, Tanah Minangkabau memang dikenal sebagai gudangnya para cendekia. Pendidikan tinggi berkembang pesat. Dan setidaknya tiga lembaga pendidikan kenamaan ada di sini. Seperti INS Kayu Tanam, Thawalib Parabek Bukittinggi dan Sumatera Tahwalib Padang Panjang.</p>
<p align="justify">Dari buku Riwayat Hidup Tiga Serangkai karangan Ny Sumayya SAg dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), tiga serangkai itu adalah M Abubakar Ayyub, Zaini Dahlan dan Ahmad Nurruddin. Ketiganya merupakan alumni Sumatera Thawalib Padang Panjang dan Diniyyah School yang juga ada di Padangpanjang.</p>
<p align="justify">Dalam sejarah perkembangan Ahmadiyah di Indonesia kemudian hari, posisi Sumatera Thawalib menarik untuk dicermati. Selain tiga tokoh awal Ahmadiyah berasal sekolah ini, fatwa MUI yang menyatakan aliran ini juga keluar semasa lembaga ulama ini dipimpin alumni Sumatera Thawalib lainnya. Yakni Buya HAMKA yang pada 1 Juni 1980 M memfatwa aliran yang dibawa Mirza Ghulam Ahmad ini sesat dan menyesatkan.</p>
<p align="justify">Mubaligh wilayah Sumbar-Kerinci Jemaat Ahmadyah, Mudatsir Ahmad Surbakti di sekretariat Ahmadiyah Cabang Padang Jalan Agus Salim No 5 Padang, menceritakan awalnya usai menamatkan studi di Sumatera Thawalib, tiga orang ini berniat sekolah ke Al Azhar Mesir. Namun akhirnya mereka memilih Hindustan (India dan Pakistan-red), setelah disarankan guru mereka Zainuddin Labai El Yunusiah dan Ibrahim Musa Parabek.</p>
<p align="justify">"Alasanya karena saat itu sudah banyak pelajar Minang yang bersekolah di Mesir. Kenapa tidak ke Hindustan saja. Toh pendidikan Islam di sana juga maju," kata Mudatsir didampingi Sekretaris Ahamdiyah Cabang Padang Rusydi Arasy.</p>
<p align="justify">Tiga tokoh awal Ahmadiyah ini bertolak dari Ranah Minang pada 1922. Meski belum mengenal Ahmadiyah, mereka sudah mendengar nama Khwaja Kamaluddin, seorang mubalig Ahmadiyah di Lahore yang pernah berkhotbah di Jawa.</p>
<p align="justify">Awalnya, tambah Rusdyi Arasy, mereka bertiga ini berguru kepada maulana Abdussatar di Pathan Lahore. Lalu pindah ke Qadian. Disinilah mereka dibai'at sebagai anggota Ahmadi oleh Hadhrat Khalifatul Masih II Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad.</p>
<p align="justify">Kabar masuknya tiga alumni Sumatera Thawalib ini kedalam Ahmadiyah, menimbulkan "keributan" di Ranah Minang. Mereka pun difatwa kafir oleh ulama-ulama di Sumbar.</p>
<p align="justify">Berdasarkan catatan sejarah Ahmadi, ketiga tokoh Amadiyah Indonesia ini dilahirkan di tempat berbeda. Zaini Dahlan lahir di Desa Ampek Angkek Tanjung Alam Bukitinggi. Selama menjadi mubalig Ahmadiyah, dia pernah bertugas Singapura, Malaysia, Medan, Payakumbuah, Pekanbaru dan Jakarta.</p>
<p align="justify">Sementara itu, Ahmad Nuruddin dilahirkan di Parabek Bukitinggi pada 2 Februari 1906. Dia juga pernah bertugas dibanyak tempat sebagai mubalig Ahmadiyah, yakni di Bengkulu, Lahat, Palembang, Jakarta dan Lombok. Demikian halnya dengan Abubakar Ayyub yang lahir di Paninjauan Juni 1906.</p>
<p align="justify">Tiga serangka inilah yang mengundang Ahmadiyah masuk ke Indonesia. Semasa menuntut ilmu di Qadian, mereka meminta Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad berkunjung ke tanah air. Namun Mirza Bashiruddin mengirimkan mubalig Maulana Rahmat Ali HAOT pada 1925.</p>
<p align="justify">Setahun kemudain (1926), lewat Maulana Rahmat Ali Jemaat Ahmadiyah berdiri di Kota Padang. Sebelum sampai di Ranah Minang, sebenarnya Maulana Rahmat Ali, jelas Rusdyi Arasy, berdakwah di Tapaktuan Aceh. Walau diterima awalnya, pada akhirnya dia mendapatkan penolakan. Dan oleh gubernur Aceh saat itu diminta meninggalkan Tanah Rencong.</p>
<p align="justify">"Maka itu dia menuju ke Selatan (Sumbar). Di Sumbar, awalnya dia menetap di Pasa Miskin dekat Gedung IWAPI Padang. Lalu pindah ke Tepi Banda Olo. Pada 1930-an, seorang pengusaha bernama Bagindo Zakaria dibai'at. Dia mewakafkan tanah, rumah serta bangunan ini sebagai sekretariat Jamaah sekarang," jelas Rusdyi.</p>
<p align="justify">Sejak awalnya, perkembangan Ahmadiyah di Indonesia selalu dipenuhi pertentangan dan perdebatan. Sejumlah ulama terkenal tanah air menentang keberadaan aliran ini, seperti H Rasul (ayah buya Hamka) dan Buya Hamka sendiri, yang juga junior tiga serangkai di Sumatera Thawalib. Tentangan juga datang dari tokoh-tokoh Persatuan Islam (Persis).</p>
<p align="justify">Setidaknya masa-masa awal pernah beberapa kali terjadi perdebatan antara mubaliq-mubaliq Ahmadiyah dengan tokoh-tokoh Islam lainnya. Seperti perdebatab Tapaktuan 1925, Perdebatan Padang 1926, Bogor 1932, Bandung 1933 dan Perdebatan Batavia pada 1933 silam. Termasuk juga setelah kemerdekaan.</p>
<p align="justify">Sejak dulu, perdebatan itu berkutat pada tiga hal masalah yakni Nabi Isa (apakah sudah meninggal atau masih hidup), Masalah Kenabian (apakah masih ada nabi sesudah Nabi Muhammad atau tidak) dan status Mirza Ghulam Ahmad sendiri.</p>
<p align="justify">"Tapi perdebatan-perdebatan itu dibungkus intelektual dan keilmuan. Tidak ada intimidasi. Akhir-akhir ini saja sudah mengarah pada tindak kekerasan," kata Rusydi</p>
<p align="justify">Meskipun ditentang sejak lama, baik Rusydi, Mudatsir Ahmad dan ribuan pengikut Ahmadiyah lainnya tetap yakin ajaran yang mereka ikuti itu benar dan bagian dari Islam. Karena bagi mereka kebenaran bukan seerti biji bayam yang disebar. Lalu sebulan sesudahnya tumbuh, namun segera ia dibabat habis. Bagi kaum Ahmadi, kebenaran itu seperti pohon mahoni, lamban tapi pasti. <strong>(nto)</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
