<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>adab-akhlaq &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/adab-akhlaq/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "adab-akhlaq"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 13:07:45 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MENDENGARKAN PEMBICARAAN ORANG LAIN SEDANG MEREKA TIDAK MENYUKAI.]]></title>
<link>http://reevy.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:26:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>reevy</dc:creator>
<guid>http://reevy.id.wordpress.com/2008/10/06/mendengarkan-pembicaraan-orang-lain-sedang-mereka-tidak-menyukai/</guid>
<description><![CDATA[           
Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan janganlah kamu mengintai orang l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">           </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Allah Subhanahu wata’ala berfirman :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan janganlah kamu mengintai orang lain…” (Al Hujurat : 11).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Traditional Arabic;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka membenci hal itu, niscaya dituangkan ke kedua telinganya timah mendidih pada hari kiamat” (HR Al Bukhari, Fathul Bari:10/465)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Traditional Arabic;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika ia menyebarkan pembicaraan itu tanpa sepengetahuan mereka dengan maksud mencelakakan, maka berarti ia menambah jenis dosa lain, dosa tajassus (mencuri dengar) yakni dosa mengadu domba, padahal Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Tidak masuk surga tukang adu domba” (HR Ibnu Majah : 1/505, dalam Shahihul Jami’ : 5068).</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dasyatnya membicarakan orang lain]]></title>
<link>http://mutiaracinere.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 08:09:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nadhifah Yasmin</dc:creator>
<guid>http://mutiaracinere.id.wordpress.com/2008/09/10/dasyatnya-membicarakan-orang-lain/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
Hati-Hati Membicarakan Orang Lain


Membicarakan aib orang lain  atau ghibah te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="post">&#160;</p>
<p class="entry">&#160;</p>
<p class="snap_preview">&#160;</p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="center"><font size="4"><strong><img src="http://ummusalma.files.wordpress.com/2007/02/moon.thumbnail.jpg" alt="moon.jpg" align="left" />Hati-Hati Membicarakan Orang Lain</strong></font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="center"><font size="4"><strong><br />
</strong></font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font face="Verdana, sans-serif"><span>Membicarakan aib orang lain  atau ghibah telah Allah haramkan secara jelas dan tegas di dalam kitab-Nya dan  melalui lisan rasul-Nya. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman, artinya,  <em>“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.  </em></span><em><span>Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging  saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik  kepadanya.”</span></em><span> (QS. al-Hujurat:12) </span></font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font face="Verdana, sans-serif"><span><span></span></span></font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Penjelasan tentang hakikat  ghibah telah disebutkan di dalam hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em> sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> yaitu, <em>“Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia  tidak suka (untuk diungkapkan).” </em>(HR. Muslim) </font></span></p>
<p><span><font face="Verdana, sans-serif">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em> juga telah mengharamkan kehormatan seorang mukmin dan  mengaitkannya dengan hari Arafah, bulan haram, dan tanah haram. Sebagaimana yang  diriwayatkan oleh Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,<br />
<em>“Sesungguhnya darah  kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian,  sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negri kalian  ini. Ingat! Bukankah aku telah menyampaikan?” </em>(HR  Muslim).</font></span><span><font face="Verdana, sans-serif">Bahkan dalam hadits  yang lain disebutkan dengan sangat tegas bahwa membicarakan aib dan kehormatan  seorang mukmin itu lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang menikahi  ibunya sendiri. Diriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>  dia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,  <em>“Riba itu mempunyai tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti  seseorang yang menikahi ibunya. Dan riba yang paling besar yakni seseorang yang  berlama-lama membicarakan kehormatan saudaranya.” </em>(Silsilah ash-Shahihah  no. 1871)</font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Di dalam sebuah potongan  hadist, riwayat dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,<br />
<em>“Siapa yang berkata  tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak dia perbuat),  maka Allah subhanahu wata’ala akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli  neraka, sehingga dia menarik diri dari ucapannya (melakukan sesuatu yang dapat  membebaskannya).” </em>(HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim, disetujui oleh  adz-Dzahabi, lihat Silsilah ash-Shahihah no. 437) </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Diriwayatkan dari Abdur  Rahman bin Ghanam <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em>, bersabda, <em>“Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang  jika dilihat (menjadi perhatian) disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba  Allah adalah orang yang berjalan dengan mengadu domba, memecah belah antara  orang-orang yang saling cinta, dan senang untuk membuat susah orang-orang yang  baik.”</em> (HR. Ahmad 4/227, periksa juga kitab <em>“Hashaid al-Alsun”  </em>hal. 68) </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Diriwayatkan dari Ibnu Umar  <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em> bersabda, <em>“Wahai sekalian orang yang telah menyatakan Islam  dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian semua  menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah  kalian semua mencari-cari (mengintai) kelemahan mereka. Karena siapa saja yang  mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai  kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya maka pasti Allah  ungkapkan, meskipun dia berada di dalam rumahnya.” </em>(HR. at-Tirmidzi,  dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/200)  </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font size="2">Para salaf adalah orang yang sangat menjauhi ghibah  dan takut jika terjerumus melakukan hal itu. Di antaranya adalah sebagaimana  yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dia berkata, “Aku mendengar Abu ‘Ashim  berkata, “Semenjak aku ketahui bahwa ghibah adalah haram, maka aku tidak berani  menggunjing orang sama sekali.” (at-Tarikh al-Kabir (4/336) </font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Al-Imam al-Bukhari  mengatakan, “Aku berharap untuk bertemu dengan Allah <em>subhanahu wata’ala</em>  dan Dia tidak menghisab saya sebagai seorang yang telah berbuat ghibah terhadap  orang lain.” </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Imam Adz-Dzahabi  berkomentar, “Benarlah apa yang beliau katakan, siapa yang melihat ucapan beliau  di dalam <em>jarh</em> dan <em>ta’dil</em> (menyatakan cacat dan jujurnya  seorang perawi) maka akan tahu kehati-hatian beliau di dalam membicarakan orang  lain, dan sikap inshaf (obyektif) beliau di dalam mendhaifkan/melemahkan  seseorang. </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Lebih lanjut beliau  (adz-Dzahabi) mengatakan, “Apabila aku (Imam al-Bukhari) berkata si Fulan dalam  haditsnya ada catatan, dan dia diduga seorang yang lemah hafalannya, maka inilah  yang dimaksudkan dengan ucapan beliau “Semoga Allah <em>subhanahu wata’ala</em>  tidak menghisab saya sebagai orang yang melakukan ghibah terhadap orang lain.”  Dan ini merupakan salah satu dari puncak sikap wara’. (Siyar A’lam an -Nubala’  12/439) </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font size="2">Beliau juga mengatakan, “Aku tidak menggunjing  seseorang sama sekali semenjak aku ketahui bahwa ghibah itu berbahaya bagi  pelakunya.” (Siyar a’lam an-Nubala’ 12/441) </font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font size="2">Para salaf apabila terlanjur menggunjing orang lain,  maka mereka langsung melakukan introspeksi diri. Ibnu Wahab pernah berkata, “Aku  bernadzar apabila suatu ketika menggunjing seseorang maka aku akan berpuasa satu  hari. Aku pun berusaha keras untuk menahan diri, tetapi suatu ketika aku  menggunjing, maka aku pun berpuasa. Maka aku berniat apabila menggunjing  seseorang, aku akan bersedekah dengan satu dirham dan karena sayang terhadap  dirham, maka aku pun meninggalkan ghibah.” </font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font size="2">Berkata imam adz-Dzahabi, “Demikianlah kondisi para  ulama, dan itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat.” (Siyar: 9/228)  </font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Bahkan seorang yang  melakukan ghibah pada hakikatnya sedang memberikan kebaikannya kepada orang lain  yang dia gunjing. Bahkan Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Andaikan aku tidak  benci karena bermaksiat kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, maka tentu aku  berharap tidak ada seorang pun di Mesir, ini kecuali aku menggunjingnya, yakni  karena dengan itu seseorang akan mendapatkan kebaikan di dalam catatan amalnya,  padahal dia tidak melakukan sesuatu.” (Siyar: 9/195) </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font size="2">Maka para aktivis dakwah di masa ini yang melakukan  ghibah atau membicarakan aib saudaranya sesama muslim dengan alasan untuk  meluruskan kesalahan dan demi kebaikan, alangkah baiknya sebelum membicarakan  orang lain merenung kan beberapa masalah berikut: </font></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif"><strong>Pertama;</strong>  Apakah yang dia lakukan itu adalah ikhlas dan merupakan nasihat untuk Allah  <em>subhanahu wata’ala</em>, Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan  kaum muslimin? Ataukah merupakan dorongan hawa nafsu baik tersembunyi atau  terang-terangan? Atukah itu merupakan hasad dan kebencian terhadap orang yang  dia gunjing? </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font size="2">Memperjelas apa latar belakang yang mendorong untuk  membicarakan orang lain sangatlah penting. Sebab berapa banyak orang yang  terjerumus ke dalam ghibah dan menggunjing orang lain karena dorongan nafsu  tercela sebagaimana tersebut di atas. Lalu dia menyangka bahwa yang mendorong  dirinya untuk menggunjing adalah karena menyampaikan nasehat dan menginginkan  kebaikan. </font></p>
<p><span><font face="Verdana, sans-serif">Ini merupakan ketergelinciran jiwa  yang sangat pelik, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, kecuali setelah  merenung dan berpikir mendalam penuh rasa ikhlas dan murni karena Allah  <em>subhanahu wata’ala</em>.</font></span><span><font face="Verdana, sans-serif"><strong>Ke dua;</strong> Harus dilihat dulu bentuk  masalahnya ketika membicarakan aib seseorang, apakah merupakan hal-hal yang di  situ memang dibolehkan untuk ghibah ataukah tidak?</font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif"><strong>Ke tiga;</strong>  Renungkan berkali-kali sebelum mengeluarkan kata-kata untuk membicarakan orang  lain; Apa jawaban yang saya sampaikan nanti di hadapan Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> pada hari Kiamat jika Dia bertanya, <em>“Wahai hamba-Ku si Fulan,  mengapa engkau membicarakan si Fulan dengan ini dan ini?”</em>  </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Hendaknya selalu ingat  bahwa Allah <em>subhanahu wata’ala</em> telah berfirman,<br />
<em>“Dan ketahuilah  bahwasannya Allah mengetahi apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya,  dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”</em> (QS.  Al-Baqarah: 235) </font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span><font face="Verdana, sans-serif">Dan Ibnu Daqiq al-Ied juga  telah berkata, “Kehormatan manusia merupakan salah satu jurang dari jurang  jurang neraka yang para ahli hadits dan ahli hukum diam apabila telah berhadapan  dengannya. (Thabaqat asy Syafi’iyyah al Kubra 2/18). <em>Wallahu a’lam.  </em></font></span></p>
<p style="margin-top:0.18cm;margin-bottom:0.18cm;widows:0;orphans:0;" align="justify"><font face="Verdana, sans-serif"><span>Sumber: <em>“Manhaj  Ahlussunnah fi an-Naqdi wal Hukmi ‘alal Akharin,</em> hal 17-20, Hisyam bin  Ismail ash-Shiini.</span> Dari buletin an-Nur.</font></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ETIKA TERHADAP HEWAN ]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=74</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 06:39:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/08/07/etika-terhadap-hewan/</guid>
<description><![CDATA[ 
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi 
Orang muslim menganggap semua hewan sebagai makhluk yang harus d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	mso-font-alt:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&#62; &#60;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;color:#000099;">Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">Orang muslim menganggap semua hewan sebagai makhluk yang harus dihormati. Oleh karena itu, ia menyayanginya karena kasih sayang Allah Ta’ala kepadanya dan menerapkan etika-etika berikut terhadapnya:<br />
</span><!--more--><br />
<span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> [1]. Memberinya makan-minum, jika hewan-hewan tersebut lapar dan haus, karena dalil-dalil berikut:</span></p>
<p>Sabda Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> :</span></p>
<p>“Artinya : Terhadap yang mempunyai hati yang basah terdapat pahala.” [Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah)]</p>
<p>Sabda Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> :</span></p>
<p>“Artinya : Siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” [Muttafaq Alaih]</p>
<p>Sabda Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> :</span></p>
<p>“Artinya : Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi siapa saja yang ada di langit.” [Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al-Hakim]</p>
<p>[2]. Menyayanginya, dan berbelas kasih kepadanya, karena dalil-dalil berikut:<br />
Ketika Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> melihat orang-orang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah, beliau bersabda,</span></p>
<p>“Artinya : Allah melaknat siapa saja yang menjadikan sesuatu sebagai sasaran.” [Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih]</p>
<p>Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> melarang menahan hewan untuk dibunuh dengan sabdanya:</span></p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang menyakiti ini (burung) dengan anaknya; kembalikan anaknya padanya.” [Diriwayatkan Muslim]</p>
<p>Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> bersabda seperti di atas, karena melihat burung terbang mencari anak-anaknya yang diambil salah seorang sahabat dari sarangnya.</span></p>
<p>[3]. Jika ia ingin menyembelihnya, atau membunuhnya, maka ia melakukannya dengan baik, karena Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> bersabda:</span></p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menenangkan hewan yang akan disembelihnya, dan menajamkan pisaunya.” [Diriwayatkan Muslim, At Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad]</p>
<p>[4]. Tidak menyiksanya dengan cara-cara penyiksan apa pun baik dengan cara melaparkannya, atau meletakkan padanya muatan yang tidak mampu ia angkut, atau membakarnya dengan api, karena dalil-dalil berikut:</p>
<p>Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> bersabda:</span></p>
<p>“Artinya : Seorang wanita masuk neraka karena kucing. Ia menahannya hingga mati. Ia masuk neraka karenanya, karena tidak memberinya makan sebab ia menahannya, dan tidak membiarkannya makan serangga-serangga tanah.” [Diriwayatkan Al-Bukhari]</p>
<p>Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> berjalan melewati rumah semut yang terbakar, kemudian beliau bersabda:</span></p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya siapa pun tidak pantas menyiksa dengan api, kecuali pemilik apai itu sendiri (Allah).” [Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih]</p>
<p>[5]. Diperbolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan, seperti anjing penggigit, serigala, ular, kalajengking, tikus, dan lain sebagainya, karena dalil-dalil berikut:</p>
<p>Sabda Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> :</span></p>
<p>“Artinya : Ada lima hewan membahayakan yang boleh dibunuh di tempat halal dan haram, yaitu ular, burung gagak yang berwarna belang-belang, tikus, anjing yang suka menggigit, dan burung hudaya (sejenis rajawali).” [Diriwayatkan Muslim]</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa diperbolehkan membunuh burung gagak dan melaknatnya.</p>
<p>[6]. Diperbolehkan mencap telinga hewan untuk kemaslahatan, karena Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> mencap unta zakat dengan tangannya yang suci.</span></p>
<p>Sedang pemberian cap kepada selain unta, kambing, dan lembu, maka tidak diperbolehkan, karena Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> bersabda ketika melihat keledai dicap,</span></p>
<p>“Artinya : Allah melaknat oarng yang mencap keledai ini di wajahnya.” [Diriwayatkan Muslim]</p>
<p>[7].  Mengetahui hak Allah Ta’ala dengan mengeluarkan zakat hewan tersebut, jika hewan tersebut termasuk hewan yang harus dizakati.</p>
<p>[8]. Sibuk dengannya tidak membuatnya lupa taat kepada Allah Ta’ala dan lalai tidak dzikir kepada-Nya, karena dail-dalil berikut:</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>”Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” [Al-Munafiqun : 9]</p>
<p>Rasulullah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> bersabda tentang kuda:</span></p>
<p>“Artinya : Kuda terbagi ke dalam tiga jenis, seseorang mendapatkan pahala (karenanya), seseorang mendapat pakaian (karenanya), dan seseorang mendapat dosa (karenanya). Adapun orang yang mendapat pahala karena kuda ialah orang yang mengikatnya di jalan Allah, dan memperpanjang talinya di tanah lapang, atau padang rumput. Maka apa saja yang terjadi pada kuda tersebut di tanah lapang atau padang rumput, maka orang tersebut mendapat kebaikan-kebaikan. Jika orang tersebut memutus talinya, kemudian kuda tersebut berjalan cepat satu langkah, atau dua langkah, maka jejak-jejaknya, kotoran-kotorannya adalah kebaikan-kebaikan baginya, serta kuda tersebut bagi orang tersebut adalah pahala. Orang satunya mengikatnya karena ingin memperkaya diri, namun ia tidak lupa hak Allah di leher, dan tulang punggung kudanya, maka kuda tersebut pakaian untuknya. Sedang orang satunya mengikatnya untuk sombong,riya’, dan permusuhan, maka kuda tersebut addalah diosa baginya.” [Diriwayatkan Al-Bukhari]</p>
<p>Inilah sebagian etika yang diterapkan ornag Muslim terhadap hewan karena mentaati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan karena mnegamalkan perintah syariat Isalam yang notabene merupakan syariat rahmat, dna kebaikan universal bagi seluruh makhluk manusia atau hewan.</p>
<p>[Disalin dari buku  “Ensiklopedi Muslim”, Terrjemahan dari: Minhajul Muslim, Oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi. Penerbit: Darul Falah, Jakarta. Cet. Pertama: Rajab 1421 H / Oktober 2000, hal.172-175]</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-variant:small-caps;font-family:Georgia;color:maroon;">Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/">http://www.almanhaj.or.id</a></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AKHLAK SALAF, AKHLAK MUKMININ DAN MUKMINAT ]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=70</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 06:28:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/08/07/akhlak-salaf-akhlak-mukminin-dan-mukminat/</guid>
<description><![CDATA[
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz 
Segala puji bagi Allah Rabbul &#8216;Alamin, segala kebaik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;color:#000099;">Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">Segala puji bagi Allah Rabbul 'Alamin, segala kebaikan teruntuk para muttaqin, shalawat dan salam tercurah bagi hamba-Nya, Rasul-Nya dan makhluk pilihan serta kepercayaan untuk menerima wahyu-Nya, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib Al-Makki Al-Madani. Demikian juga shalawat dan salam tercurah bagi para kerabat dan sahabat serta siapa saja yang meniti jejak di atas jalannya dan mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman.</span></p>
<p>Amma ba'du.<br />
<!--more--><br />
<span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> SEBAGAI PEMBAWA HIDAYAH DAN DIENUL HAQ SERTA PENYEMPURNA AKHLAK</span></p>
<p>Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> dengan Al-Huda dan Dienul Haq. Al-Huda adalah khabar yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Dienul Haq adalah syari'at dan hukum yang dibawa oleh Muhammad </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">. Allah berfirman :</span></p>
<p>"Artinya :Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang-orang musyrik benci". [Ash-Shaff : 9]</p>
<p>Allah mengutus Muhammad <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> untuk jin dan manusia, untuk orang Arab dan non Arab, untuk laki-laki dan perempuan. Allah mengutusnya kepada seluruh penduduk dunia sebagai rahmatan (karunia) dan imaman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Diutusnya Muhammad </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> untuk mengajarkan dan memahamkan manusia tentang agama-Nya, menjelaskan penyebab keselamatan dan kebinasaan hidup di dunia dan di akhirat, Allah mengutusnya dengan Dienul Islam.</span></p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam". [Ali Imran : 19]</p>
<p>Allah mengutus Muhammad <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> dengan membawa hidayah dan Dienul Haq, yaitu dengan membawa kabar yang benar, ilmu yang bermanfaat, syari'at yang lurus serta hukum-hukum yang adil. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada seluruh kebaikan dan mencegah kejahatan. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada akhlak yang mulia dan pebuatan yang baik serta mencegah rendahnya akhlak dan buruknya amal perbuatan.</span></p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan". [Saba' : 28]</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". [Al-Anbiya' : 107]</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Katakanlah : 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi ; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". [Al-A'raf : 158]</p>
<p>"Artinya : Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung". [Al-A'raf : 157]</p>
<p>ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> SEBAGAI PEMBIMBING IBADAH KEPADANYA</span></p>
<p>Inilah kenyataan dien yang agung dan inilah keadaan Nabi yang mulia yang mendapat keutamaan dari Rabbnya. Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil 'alamin untuk jin dan manusia, untuk laki-laki dan wanita, untuk Arab dan non Arab. Bahkan dia diutus sebagai rahmat juga bagi mahluk melata, karena Allah perintahkan kepadanya agar berlaku baik, kasih sayang dan santun kepadanya. Allah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">سبحانه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">و</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">تعالى</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> menjelaskan bahwa diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada-Nya.</span></p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku". [Adz-Dzariyat : 56]</p>
<p>Maknanya : Melainkan agar mereka beribadah dengan ikhlas untuk-Ku, mengesakan Aku, mentaati perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Ini semua akan terwujud dengan pelaksanaan ibadah, yaitu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dengan harap-harap cemas (berharap karunia-Nya dan cemas terhadap adzab-Nya), dengan mengikhlaskan (niat) kepada-Nya, atas dasar iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dengan membenarkan khabar-Nya (Al-Qur'an) dan khabar Nabi-Nya (Al-Hadits) serta memelihara batas-batas aturan-Nya.</p>
<p>Allah memerintahkan hal itu dengan firman-Nya :</p>
<p>"Artinya : Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah Menciptakanmu dan orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa". [Al-Baqarah : 21]</p>
<p>Perintah untuk ibadah ini bersifat menyeluruh, yaitu untuk laki-laki dan wanita, jin dan manusia serta Arab dan non Arab :</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau menserikatkan Allah dengan sesuatu". [An-Nisaa' : 36]</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya ..." [Al-Isra' : 23]</p>
<p>ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> SEBAGAI PENUNJUK JALAN LURUS</span></p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa". [Al-An'am : 153]</p>
<p>Dia telah mengajarkan kepada umat manusia sebagaimana tertera dalam Surat Al-Fatihah, yaitu "Al-Hamdu" maknanya ; hendaklah mereka memohon hidayah kepada Allah agar Dia memberi petunjuk shirathal mustaqim. Adapun shirathal mustaqim adalah agama-Nya, yaitu agama yang dibawa oleh Muhammad <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">. Dia adalah Al-Islam, Al-Iman, hidayah, taqwa dan kebaikan.</span></p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha pemurah lagi Maha Pengasih. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan". [Al-Fatihah : 1-4]</p>
<p>Ini semua adalah sanjungan bagi Allah <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">سبحانه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">و</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">تعالى</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> dan sekaligus merupakan pengarahan bagi hamba agar mengakui bahwa sesungguhnya Dia adalah "Al-Ma'bud (yang berhak diibadahi)". dengan sebenar-benarnya. Dia pula tempat memohon pertolongan dalam seluruh urusan. Kemudian Allah mengajarkan kepada mereka agar mengucap :</span></p>
<p>"Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus".</p>
<p>Ketika manusia memuji dan menyanjung-Nya serta mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa Allah adalah tempat memohon pertolongan, maka Allah mengajarkan mereka agar mengucapkan :</p>
<p>"Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat". [Al-Fatihah : 5 -7]</p>
<p>Pengertian Ash-Shirath Al-Mustaqim adalah Dienullah, yaitu Al-Islam, Al-Iman, ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Ia adalah jalannya orang-orang yang mendapat nikmat dari kalangan ahlul ilmi dan amal, mereka adalah para sahabat Nabi <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik serta pendahulu dari kalangan Rasul beserta pengikutnya.</span></p>
<p>Inilah shirathal mustaqim, jalan-jalan orang yang Allah telah karuniakan nikmat kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengerti hakekat kebenaran dan beramal dengannya, sebagaimana firman Allah :</p>
<p>"Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya". [An-Nisaa : 69]</p>
<p>Inilah shirathal mustaqim, jalan para rasul dan para pengikut mereka (semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka) pada khususnya adalah jalan Nabi kita Muhammad <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> dan para sahabatnya yang mulia. Berkenan dengan ini kita diperintahkan agar mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">, berjalan diatas manhajnya dan manhaj yang ditempuh para sahabat </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">﻿</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">رضي</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عنهم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> (semoga Allah meridhai mereka dan meridhai ilmu dan amalnya).</span></p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". [At-Tubah : 100]</p>
<p>Yang dimaksud shirath adalah dienullah, ia merupakan wujud apa yang Allah utus bagi Rasul-Nya (risalah Nabi <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">) yang berupa ilmu dan amal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Ia juga merupakan al-huda dan dienul haq yang dengannya Nabi Muhammad </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> diutus. Ash-Shirath adalah apa yang ada pada kitab Allah Jalla wa 'Ala. inilah shirath yang agung, ia merupakan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan upaya menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an yang agung dan hadits-hadits Nabi </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> yang terpercaya.</span></p>
<p>Oleh karena itu, maka wajiblah bagi setiap pemeluk Islam agar mendalami Kitabullah, dan mempelajari Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta istiqamah padanya. Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, tercantum penjelasan tentang perintah-perintah dan larangan yang dibawa dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad <span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">صلی</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">الله</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">عليه</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;"> </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">وسلم</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:&#34;">. Dan di dalamnya terkandung pula penjelasan tentang akhlak mulia yang dipuji dan disanjung Allah Ta'ala sebagai akhlak mukminin dan mukminat serta memuliakan sifat-sifat dan amal perbuatan mereka yang baik.</span></p>
<p>[Disalin dari kitab Akhlaqul Mukminin Wal Mukminat, edisi Indonesia Akhlak Salaf Mukminin dan Mukminat, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Pustaka At-Tibyan]</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-variant:small-caps;font-family:Georgia;color:maroon;">Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/">http://www.almanhaj.or.id</a></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sedikit saja riya , rusaklah amal mu]]></title>
<link>http://kangmar.wordpress.com/2008/07/24/37/</link>
<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 07:40:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nadhifah Yasmin</dc:creator>
<guid>http://kangmar.id.wordpress.com/2008/07/24/37/</guid>
<description><![CDATA[Di antara syarat diterimanya amal shalih adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Di antara syarat diterimanya amal shalih adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain, maka dia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik kecil dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya, shalat agar dilihat oleh orang lain.</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an Nisa’: 142)</em><br />
Demikian juga, jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, maka ia termasuk syirik kecil. Rasulullah salallahu’alaihi wa sallam memberi peringatan kepada mereka dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu: “Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah niscaya Allah akan memperdengarkan aibnya dan barang siapa melakukan perbuatan riya’ (perbuatan riya’ adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan cara tertentu supaya diliat orang lain dan dipujinya. Misalnya, seseorang melakukan shalat, lalu memperindah shalatnya, tatkala mengetahui ada orang yang melihat dan memperhatikannya), niscaya Allah akan memperlihatkan aibnya.” [Hadits riwayat Muslim, 4/2289]</p>
<p>Barangsiapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena mengharap pujian manusia di samping ridha Allah, maka amalannya menjadi sia-sia belaka. Seperti disebutkan dalam hadits qudsi,</p>
<p>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu.  Barangsiapa melakukan suatu amal dengan dicampuri perbuatan syirik kepadaku, niscaya aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya.” [Hadits riwayat Muslim no. 2985]</p>
<p>Barangsiapa melakukan suatu amal shalih, tiba-tiba terbetik dalam hatinya perasaan riya’, tetapi ia membenci perasaan tersebut, berusaha melawan dan menyingkirkannya, maka amalannya tetap sah.<br />
Berbeda halnya jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya’, maka menurut sebagian besar ulama amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.</p>
<p>Sumber : “Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”, hlm. 26 Penerbit Darul Haq</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AKHLAK SALAF CERMINAN AKHLAK AL QURAN DAN AS SUNNAH ]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=55</link>
<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 04:13:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/07/21/akhlak-salaf-cerminan-akhlak-al-quran-dan-as-sunnah/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz 
Barangsiapa merenungi Kitabullah dan senantiasa berhubungan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;color:#000099;">Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz </span></p>
<p class="MsoNormal">Barangsiapa merenungi Kitabullah dan senantiasa berhubungan dengannya, maka akan mendapatkan kemuliaan akhlak. Dan barangsiapa yang mengkaji sunnah-sunnah Nabi, yaitu perjalanan hidup Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> dan hadits-haditsnya, akan mendapatkan dan memahami kemuliaan akhlak dan keagungannya. Untuk itulah Allah kembali menegaskan kemuliaan akhlak itu pada akhir Surat Al-Furqan.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang yang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata : 'Ya Rabb kami, jauhkan adzab jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal'. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan apabila orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian ini, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)". [Al-Furqan : 63-68]<br />
<!--more--><br />
Maksudnya, barangsiapa menyekutukan Allah atau membunuh jiwa dengan tanpa alasan, atau melakukan perzinaan, maka akibat perbuatannya itu dia akan mendapatkan dosa, yaitu siksaan yang besar. Lalu Allah menjelaskannya dengan ayat-ayat berikut ini :</p>
<p>"Artinya : (Yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina". [Al-Furqan : 69]</p>
<p>Mereka berada dalam siksaan, kecuali :</p>
<p>"Artinya : Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya". [Al-Furqan : 70-71]</p>
<p>Ini semua cerminan dari akhlak Ahlul Iman laki-laki dan wanita. Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya :</p>
<p>"Artinya : Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu". [Al-Furqan : 72]</p>
<p>"Laa yasyhadun" (tidak memberikan persaksian) maksudnya yaitu "la yahdhurun" (tidak melakukan). Adapun yang dimaksud dengan "Az-Zuur" (palsu, dusta) yaitu kebathilan dan kemungkaran dari berbagai bentuk kemaksiatan dan kekafiran. Ahlul Iman adalah mereka mereka yang tidak memberikan persaksian palsu, bahkan mereka adalah orang yang mengingkari serta memeranginya.</p>
<p>Firman Allah</p>
<p>"Artinya : Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". [Al-Furqan : 72]</p>
<p>Lebih dari itu, Ahlul Iman akan menolak perbuatan yang tidak mendatangkan faedah, sebagaimana firman Allah berikut :</p>
<p>"Artinya : Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata : 'Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu..." [Al-Qashash : 55]</p>
<p>"Artinya : Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah mengahadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta". [Al-Furqan : 73]</p>
<p>Bahkan mereka mengahadapinya dengan khusyuk serta menerima sepenuhnya terhadap Allah dan sekaligus mengagungkan-Nya. Inilah sifat mukminin dan mukminat apabila diingatkan dengan ayat-ayat Allah mereka nampak khusyuk dan lembut hatinya serta mengagungkan Rabbnya bahkan menangis lantaran rasa takut kepada-Nya. Mereka melakukan itu karena mengharap pahala dari-Nya dan takut akan siksa-Nya.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan orang-orang yang berkata : 'Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa". [Al-Furqan : 74].</p>
<p>Ini semua merupakan sifat-sifat mukminin dan mukminat, mereka adalah Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah) yang hakiki lagi sempurna.</p>
<p>Qurratul 'Ain (penyejuk mata) adalah, manakala engkau melihat anak-anakmu, baik laki-laki atau perempuan semuanya melaksanakan amal shalih. Kata-kata "al-walad" secara umum mencakup laki-laki dan wanita. Anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan ibnu, sedang perempuan dipanggil dengan bintu.</p>
<p>Demikian pula kata-kata "dzurriyah" yang mencakup laki-laki dan juga perempuan. Hal ini sebagai mana tersebut dalam hadist :</p>
<p>"Artinya : Apabila anak Adam (manusia) meninggal, terputus amalnya kecuali tiga perkara ; shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak shalih yang mendo'akannya".</p>
<p>Anak atau al-walad, termasuk di dalamnya adalah anak laki-laki atau perempuan, hal ini sebagaimana penjelasan di depan. Allah mempertegas hal ini dalam firman-Nya :</p>
<p>"Artinya : Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)...." [Al-Furqan : 74]</p>
<p>Yakni, dzurriyah (generasi) yang menyejukkan pandangan mata. Hal itu disebabkan karena kondisi anak keturunan yang taat kepada Allah dan istiqamah di atas syari'at-Nya. Demikianlah kondisi kehidupan suami istri, seorang suami misalnya, apabila melihat istrinya taat kepada Allah, maka pastilah sejuk matanya (senang hatinya). Demikian pula istri, apabila melihat suaminya taat kepada Allah tentulah senang hatinya. Ini terjadi manakala istri adalah sosok wanita mukminah. Suami yang shalih adalah penyejuk mata bagi istrinya, demikian pula istri shalihah adalah penyejuk mata bagi suaminya yang mukmin. Generasi yang baik (dzuriyatan thayyibah) adalah penyejuk mata bagi ayahnya, ibunya dan seluruh kerabat mukminin dan mukminat.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa". [Al-Furqan : 74]</p>
<p>Imam bagi orang-orang yang bertaqwa, yakni ; imam dalam kebaikan yang mampu membimbing manusia. Kemudian Allah menegaskan balasan yang bakal diperoleh mereka, yaitu :</p>
<p>"Artinya : Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah)". [Al-Furqan : 75]</p>
<p>Ghurfah adalah jannah. Disebut ghurfah karena ketinggiannya, sebab ia berada di tempat yang sangat tinggi, yaitu di atas langit dan di bawah 'Arsy. Jannah itu berada di tempat yang sangat tinggi, oleh karena itu Allah berfirman :<br />
"Artinya : Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah)". [Al-Furqan : 75]</p>
<p>Ghurfah (balasan yang tinggi) yakni, al-jannah. Hal ini diperoleh karena kesabaran mereka (bimaa shabaruu). Maksudnya adalah kesabaran dalam mentaati Allah, kesabaran menahan yang diharamkan Allah dan kesabaran atas musibah yang menimpa. Ketika mereka menerima dengan sabar, maka Allah membalasi mereka dengan al-jannah yang tinggi dan agung. Manakala mereka sabar menunaikan kewjibannya terhadap Allah, sabar terhadap yang diharamkan Allah, sabar menerima musibah yang memedihkan, misalnya ; sakit, kemiskinan dan selainnya, maka Allah akan membalasi mereka dengan sebaik-baik balasan.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman". [Al-Furqan : 75-76]</p>
<p>Inilah cerminan sifat-sifat Ahlul Iman yang utuh, baik kalangan laki-laki atau wanita. Mereka pula yang Ahlus Sa'adah wan Najah (pemilik kemuliaan dan kesuksesan). Di dalam Al-Qur'an Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> banyak menyebutkan sifat-sifat mukminin dan mukminat serta akhlak mereka yang mulia. Di antaranya sebagaimana tersebut dalam surat Al-Baqarah, Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". [Al-Baqarah : 177]</p>
<p>Inilah keadaan orang-orang yang bertaqwa dari baik laki-laki maupun perempuan. Allah telah menjelaskan sifat-sifat mereka dalam ayat yang mulia ini.</p>
<p>"Artinya : ..... akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah ..".</p>
<p>Makna ayat tersebut ialah : Akan tetapi, pemilik kebajikan yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Iman kepada Allah dalam pengertian, Allah sebagai Rabb dan Ilah yang Maha Suci lagi Maha Agung. Mereka juga mengimani Allah sebagai tempat pengabdian yang sebenar-benarnya, bahwa sesungguhnya Allah adalah Dzat Pencipta, dan Dzat Pemberi rezeki. Dialah yang Maha Suci dan disifati dengan Asma'ul Husna dan sifat-sifat yang tinggi. Tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya. Dialah yang Maha Sempurna dalam dzat, dalam sifat-sifat, dalam nama-nama dan dalam perbuatan-Nya. Dialah dzat yang tidak terdapat pada-Nya kekurangan dari berbagai seginya, bahkan Dialah yang mempunyai kesempurnaan yang mutlak dari berbagai segi.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Katakanlah :'Diallah Allah, Yang Maha Esa'. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". [Al-Ikhlas : 1-4]</p>
<p>Beriman kepada Hari Akhir, artinya ialah ; beriman kepada hari kebangkitan setelah kematian. Pada hari itu, dunia lenyap dan datang berganti dengan hari akhir, yaitu Hari Kiamat. Pada hari itu, kiamat pasti datang dan hamba-hamba Allah pasti akan dibangkitkan sebagaimana firman-Nya :</p>
<p>"Artinya : Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat". [Al-Mukminun : 16-17]</p>
<p>"Artinya : Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya ; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur". [Al-Hajj : 7]</p>
<p>Yaumul Akhir adalah, hari perhitungan dan pembalasan, jannah dan naar, pemberian buku catatan dari sebelah kanan atau sebelah kiri, diangkatnya timbangan dan ditimbangnya perbuatan-perbuatan. Setelah semuanya usai, maka manusia akan menuju dua tempat, yaitu jannah atau naar. Adapun kaum mukminin maka mereka memasuki jannah dengan rasa bahagia dan mulia. Tetapi orang-orang kafir akan memasuki naar dengan adzab yang menghinakan. Kita memohon keselamatan kepada Allah.</p>
<p>Berkenan dengan keimanan terhadap Malaikat, maka kita mengimani bahwa Malaikat adalah makhluk yang taat kepada Allah, dia adalah pasukan Allah dan utusan penghubung antara Allah dengan hamba-hamba-Nya dalam menyampaikan perintah dan larangan-Nya.</p>
<p>Allah menjelaskan sifat Malaikat dalam firman-Nya.</p>
<p>"Artinya : Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". [At-Tahrim : 6]</p>
<p>Allah mencipta Malaikat dari cahaya dan mereka senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya". [Al-Anbiya' : 26-28]</p>
<p>Allah Azza wa Jalla juga berfirman berkenan dengan mereka (malaikat) :</p>
<p>"Artinya : Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". [At-Tahrim : 6]</p>
<p>Berkenan dengan iman kepada Al-Kitab, maka maksudnya adalah iman kepada kitab yang diturunkan dari langit. Yang paling agung di antara kitab yang ada adalah Al-Qur'an Al-Karim. Para Ahlul Iman mempercayai semua kitab telah Allah turunkan kepada para nabi terdahulu. Kitab yang terakhir, teragung, termulia adalah Al-Qur'an Al-Adzim yang diturunkan kepada Muhammad <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>.</p>
<p>Inilah konsekuensi sebagai mukminin, mereka mengimani semua para nabi dan rasul serta membenarkannya. Nabi yang paling akhir adalah Muhammad <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>, dialah penutup para nabi dan sekaligus nabi yang paling afdhal.</p>
<p>Disamping itu, seorang mukmin dituntut menyedekahkan harta yang dicintainya. Dan inilah makna firman Allah :</p>
<p>"Artinya : Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya ....". [Al-Baqarah : 177]</p>
<p>Para ahlul iman, mereka menginfakkan harta yang dicintainya kepada fuqara dan masakin kerabat dekat atau selainnya, berinfak di jalan kebaikan dan jihad terhadap musuh-musuh Allah. Beginilah ahlul iman dan kebaikan, mereka menginfakkan harta bendanya di jalan kebaikan.</p>
<p>Pada ayat lain Allah juga berfirman :</p>
<p>"Artinya : Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo'a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka". [As-Sajdah : 16].</p>
<p>"Artinya : Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar". [Al-Hadid : 7].</p>
<p>Pada ayat lain, yaitu Surat Al-Baqarah : 177, Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : ... dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya ....". [Al-Baqarah : 177]</p>
<p>Makna ayat tersebut ialah ; mereka menginfakkan harta mereka untuk beberapa bentuk kebaikan, yaitu ; untuk kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang fakir, orang-orang miskin bukan dari kerabat dekat dari kalangan orang-orang lemah, untuk Ibnu Sabil, yaitu orang yang melewati negeri asing yang tidak memiliki kecukupan nafkah. Sa'ilun atau orang yang meminta-minta, yaitu orang yang meminta-minta kepada manusia lantaran kebutuhan yang mendesak atau karena kemiskinannya. Bisa juga berarti peminta-minta yang belum diketahui keadaannya. Maka kepada mereka perlu dikasih bantuan guna menutup keadaan mereka yang kekurangan.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : ... memerdekakan hamba sahaya ....." [Al-Baqarah : 177]</p>
<p>Maknanya : Menginfakkan hartanya untuk memerdekakan hamba sahaya atau memerdekakan budak, perempuan-perempuan, memerdekakan atau menebus para tawanan.</p>
<p>Kemudian Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : ...menegakkan shalat dan membayar zakat ...."</p>
<p>Maknanya : Sesungguhnya orang-orang beriman itu menegakkan shalat dan membayar zakat. Menjaga shalat tepat waktunya sebagaimana disyari'atkan Allah dan membayar zakat sebagaimana yang diatur oleh Allah.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Dan orang-orang yang memenuhi janjinya apabila berjanji".<br />
(Yaitu apabila berjanji memenuhi janji itu dan tidak udzur terhadap janjinya).</p>
<p>Kemudian Allah berfirman pula :</p>
<p>"Artinya : Dan orang-orang yang sabar dalam al-ba'su, adh-dhara' dan hina al-ba'si".</p>
<p>Artinya sabar dalam keadaan perang.</p>
<p>Allah memuji mereka dalam firman-Nya :</p>
<p>"Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang benar dan mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa". [Al-Baqarah : 177]</p>
<p>Mereka itu adalah Ahlush Shidqi (orang yang benar) karena telah mewujudkan keimanannya dengan amal yang baik dan mewujudkan ketaqwaannya kepada Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Disebutkan pula sifat-sifat lain dari sifat Ahlus Shidqi sebagaimana tertera dalam Surat Al-Anfal, Al-Bara'ah dan Surat Al-Mukminun.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya". [Al-Mukminun : 1-2]</p>
<p>Pada tempat yang lain, Allah menyebutkan sifat-sifat orang beriman dan kemuliaan akhlaknya. Barangsiapa mengamati Al-Qur'an Al-Karim dan senantiasa berhubungan dengannya, niscaya akan mendapatkan sifat-sifat tersebut. Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> berfirman :</p>
<p>"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran".[Shad : 29].</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>"Artinya : Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus". [Al-Isra : 9]</p>
<p>"Artinya : Katakanlah ; 'Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman". [Fushilat : 44].</p>
<p>"Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci". [Muhammad : 24].</p>
<p>[Disalin dari buku Akhlaqul Mukminin wal Mukminat dengan edisi Indonesia Akhlak Salaf Mukminn &#38; Mukminat, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz, hal 17-27, Terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Ihsan]</p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Kategori</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">: Akhlak<br />
<strong>Sumber</strong>: http://www.almanhaj.or.id </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=43</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 06:54:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/07/16/kehidupan-sehari-hari-yang-islami/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah
Saudaraku&#8230;.
Dengan penuh pengharapan ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;color:#000099;">Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah</span></p>
<p class="MsoNormal">Saudaraku....<br />
Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini  kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span>, supaya  kita  bisa mengambil  mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.<br />
<!--more--><br />
Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari .?</p>
<p>Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?</p>
<p>Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?</p>
<p>Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib .?</p>
<p>Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib .?</p>
<p>Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca .?<br />
Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?</p>
<p>Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya .?</p>
<p>Apakah anda telah memohon kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> masukkanlah ia ke dalam Surga".</p>
<p>Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". Berdasarkan hadits Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". [Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6]</p>
<p>Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> .?</p>
<p>Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik .?</p>
<p>Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau .?</p>
<p>Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> .?</p>
<p>Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?</p>
<p>Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen) .?</p>
<p>Apakah anda telah memohon kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> dengan benar untuk mati syahid, maka Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". [Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya]</p>
<p>Apakah anda telah berdo'a kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?</p>
<p>Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> di waktu-waktu yang mustajab .?</p>
<p>Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama .? [Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent]</p>
<p>Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.</p>
<p>Apakah anda telah memuji Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?</p>
<p>Apakah anda telah memuji Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?</p>
<p>Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya .?</p>
<p>Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> saja .?</p>
<p>Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri .?</p>
<p>Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> .?</p>
<p>Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?</p>
<p>Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?</p>
<p>Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah .?</p>
<p>Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. [Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625]</p>
<p>Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?</p>
<p>Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki .?</p>
<p>Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya .?</p>
<p>Apakah anda takut kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?</p>
<p>Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan .?</p>
<p>Saudaraku ..<br />
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.</p>
<p>[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjmeah Fariq Gasim Anuz]</p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Kategori</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">: Adab Dan Perilaku<br />
<strong>Sumber</strong>: http://www.almanhaj.or.id </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA DAN SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA ]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=36</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 06:44:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/07/16/sikap-sikap-yang-disukai-manusia-dan-sikap-sikap-yang-tidak-disukai-manusia/</guid>
<description><![CDATA[-Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2- 
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz 
SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;color:#000099;">-Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2- </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;color:#000099;">Ustadz Fariq bin Gasim Anuz </span></p>
<p class="MsoNormal">SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA<br />
[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.</p>
<p>Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak melewati batas-batas syar’i, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau mendapat perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu tidak cukup hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk diperhatikan, ditanya dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Apabila kasih sayang tidak didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan mencarinya dari orang lain.<br />
<!--more--><br />
[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.</p>
<p>Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain untuk berbicara. Seorang suami –misalnya-ketika pulang ke rumah dan bertemu istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal sendiri di rumah tentu tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga ketika sang suami pulang, ia merasa senang karena ada teman untuk berbincang-bincang. Oleh karena itu, suami harus mendengarkan dahulu perkataan istri. Jika belum siap untuk mendengarkannya, jelaskanlah dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu istirahat dulu dan nanti ceritanya dilanjutkan lagi.</p>
<p>Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai, kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.</p>
<p>[c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.</p>
<p>Allah berfirman. "Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,”  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya, menerangkan tentang ayat : "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah". Beliau berkata, “manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan hararah (dengan panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar belakang……..dan pemahaman yang berbeda dengan kita dan itu sudah mendarah daging……..sehinnga para penuntut ilmu, jika akan berdiskusi dengan orang yang fanatik terhadap madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi dia harus mengadakan pendahuluan untuk menciptakan suasana kondusif antara dia dengan dirinya. target pertama yang kita inginkan ialah agar orang itu mengikuti apa yang kita yakini kebenarannya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik madzhab, mereka tidak siap mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia tidak menjadi musuh bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang kondusif antara kita dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang haq, dia tidak akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. Sedangkan apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan yang sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya, tentu akan berbeda tanggapannya.</p>
<p>[d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan Kepada Orang Lain.</p>
<p>Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Permasalahan ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di masjid……namun menjadikan seseorang tersinggung karena dibelakangi. Hal ini kadang tidak sengaja kita lakukan. Oleh karena itu, dari pengalaman kita dan orang lain, kita harus belajar dan mengambil faidah. Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal menghormati orang lain. Hal-hal yang membuat diri kita tersinggung, jangan kita lakukan kepada orang lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan pelecehan, harus kita kenali dan hindarkan.</p>
<p>Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita diperlakukan kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya. Karena-mungkin-orang lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika kita memberi salam kepada orang lain, namun orang tersebut tidak menjawab, maka kita jangan langsung menuduh orang itu menganggap kita ahli bid’ah atau kafir. Bisa jadi, ketika itu dia sedang menghadapi banyak persoalan sehingga tidak sadar ada yang memberi salam kepadanya, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kalau perlu didatangi dengan baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. Dalam hal ini kita dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.</p>
<p>Allah berfirman.<br />
"Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan perintahkanlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf : 199]</p>
<p>[e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Maju.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu tidak suka, jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti ini harus kita kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi mahasiswa. Jika di kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada kita. Maka kita harus senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus berikhtiar dengan rajin belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan orang yang dengki, tidak suka jika temannya lebih pandai dari dirinya. Malahan karena dengkinya itu dia bisa-bisa memboikot temannya dengan mencuri catatan pelajarannya dan sebagainya.</p>
<p>[f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas Kebaikan.</p>
<p>Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.</p>
<p>[g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa Melukai Perasaannya.</p>
<p>Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang diinginkan. Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang memberikan ceramah dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut. Ketika pulang, dia menanyakan pendapat istrinya tentang ceramahnya. Istrinya menjawab dengan mengatakan, bahwa jika ceramah tersebut disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya akan tepat sekali.</p>
<p>Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan perkataan demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi atau bahkan membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.</p>
<p>SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA<br />
Kita mempelajari sikap-sikap yang tidak disukai manusia agar terhindar dari sikap seperti itu. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap yang menyelisihi syariat. berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan. Dan sebaliknya, terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus kita jauhi.</p>
<p>Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia ialah sebagai berikut.</p>
<p>Pertama.<br />
Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain.</p>
<p>Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yang berbunyi.</p>
<p>Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian<br />
Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak<br />
Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia<br />
Adalah salah satu bentuk menjelek – jelekkan<br />
Aku tidak ridho mendengarnya<br />
Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku<br />
Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati</p>
<p>Kata nasehat itu sendiri berasal dari kata nashala, yang memiliki arti khalasa, yaitu murni. Maksudnya, hendaklah jika ingin memberikan nasehat itu memurnikan niatnya semata –mata karena Allah. Selain itu, kata nasehat juga bermakna khaththa, yang artinya menjahit. Maksudnya, ingin memperbaiki kekurangan orang lain. maka secara istilah, nasehat itu artinya keinginan seseorang yang memberi nasehat agar orang yang diberi nasehat itu menjadi baik.</p>
<p>Kedua.<br />
Manusia Tidak Suka Diberi Nasehat Secara Langsung.</p>
<p>Hal ini dijelaskan Al Imam Ibn Hazm dalam kitab Al Akhlaq Was Siyar Fi Mudawatin Nufus, hendaklah nasehat yang kita berikan itu disampaikan secara tidak langsung. Tetapi, jika orang yang diberi nasehat itu tidak mengerti juga, maka dapatlah diberikan secara langsung.</p>
<p>Ada suatu metoda dalam pendidikan, yang dinamakan metoda bimbingan secara tidak langsung. Misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Shalih bin Humaid, imam masjidil Haram, berjudul At Taujihu Ghairul Mubasyir (bimbingan secara tidak langsung).</p>
<p>Metoda ini perlu dipraktekkan, walaupun tidak mutlak. Misalnya, ketika melihat banyak kebid’ahan yang dilakukan oleh seorang ustadz di suatu pengajian, maka kita tanyakan pendapatnya dengan menyodorkan buku yang menerangkan kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukannya.</p>
<p>Ketiga.<br />
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan – Kesalahannya.</p>
<p>Yang dimaksud dengan kesalahan-kesalahan disini, yaitu kesalahan yang tidak fatal; bukan kesalahan yang besar semisal penyimpangan dalam aqidah. Karena manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan-kekurangan pada dirinya.</p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh menjelaskan dalam ceramahnya, bahwa ada empat fenomena yang mengotori dakwah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.</p>
<p>[1]. Memandang sesuatu hanya dari satu sisi, yaitu hanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah.<br />
[2]. Isti’jal atau terburu-buru.<br />
[3]. Ta’ashub atau fanatik.<br />
[4]. Thalabul kamal atau menuntut kesempurnaan.</p>
<p>Syaikh Shalih menjelaskan, selama seseorang berada di atas aqidah yang benar, maka kita seharusnya saling nasehat-menasehati, saling mengingati antara satu dengan yang lain. bukan saling memusuhi. Rasulullah bersabda yang artinya, “janganlah seorang mukmin membenci istrinya, karena jika dia tidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan akhlaqnya yang baik.</p>
<p>Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitabMukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.</p>
<p>[1]. Aqidahnya benar.<br />
[2]. Akhlaqnya baik.<br />
[3]. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena dapat menimbulkan mudharat.<br />
[4]. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang materialistis.</p>
<p>Keempat.<br />
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Tidak Pernah Melupakan Kesalahan Orang Lain.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita harus bisa memafkan dan melupakan kesalahan orang lain atas diri kita. tidak secara terus-menerus mengungkit-ungkit, apalagi menyebut-nyebutnya di depan orang lain. terkadang pada kondisi tertentu, membalas kejahatan itu bisa menjadi suatu keharusan atau lebih utama. Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarh Riyadush Shalihin menjelaskan, bahwa memaafkan dilakukan bila terjadi perbaikan atau ishlah dengan pemberian maaf itu. Jika tidak demikian, maka tidak memberi maaf lalu membalas kejahatannya.</p>
<p>Kelima.<br />
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.</p>
<p>Nabi <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda, “Tidak akan masuk surga, barang siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walau sedikit saja…….. " sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan manusia menjadi sombong.</p>
<p>[1]. Harta atau uang .<br />
[2]. Ilmu.<br />
[3]. Nasab atau keturunan.</p>
<p>Keenam<br />
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Terburu-Buru Memvonis Orang Lain.</p>
<p>Dr. Abdullah Al Khatir rahimahullah menjelaskan, bahwa di masyarakat ada fenomena yang tidak baik. Yaitu sebagian manusia menyangka, jika menemukan orang yang melakukan kesalahan, mereka menganggap, bahwa cara yang benar untuk memperbaikinya, ialah dengan mencela atau menegur dengan keras. Padahal para ulama memilik kaedah, bahwa hukum seseorang atas sesuatu, merupakan cabang persepsinya atas sesuatu tersebut.</p>
<p>Ketujuh.<br />
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Mempertahankan Kesalahannya, Atau Orang Yang Berat Untuk Rujuk Kepada Kebenaran Setelah Dia Meyakini Kebenaran Tersebut.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi rahimahullah berkata, “pintu hawa nafsu itu tidak terhitung banyaknya”. oleh karena itu, kita harus berusaha menahan hawa nafsu dan menundukkannya kepada kebenaran. Sehingga lebih mencintai kebenaran daripada hawa nafsu kita sendiri.</p>
<p>Kedelapan.<br />
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.</p>
<p>Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kasetnya yang menjelaskan syarh Hilyatul ‘ilm, tentang adab ilmu. Beliau menjelaskan, bahwa jika kita mendapati atsar dari salaf yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya, maka kita harus husnudzan. Bahwa hal itu diungkapkan bukan karena kesombongan, tetapi untuk memberikan nasehat kepada kita.</p>
<p>Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di pihak yang benar, tidak punya kesalahan sama sekali. sedangkan lawannya, berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a’lam.</p>
<p>[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]</p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Kategori</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">: Adab Dan Perilaku<br />
<strong>Sumber</strong>: http://www.almanhaj.or.id </span><!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mengajak Manusia Kepada Akhlak Yang Mulia Dan Amal-Amal Yang Baik]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 07:37:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/07/08/ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-mengajak-manusia-kepada-akhlak-yang-mulia-dan-amal-amal-yang-baik/</guid>
<description><![CDATA[Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Rasulullah صلی الله عليه وسلم diutus untuk meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="color:#cc99ff;">Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّمَا</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">بُعِثْتُ</span> <span dir="rtl">ِلأُتَمِّمَ</span> <span dir="rtl">صَالِحَ</span> <span dir="rtl">اْلأَخْلاَقِ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [3]</p>
<p>Sesungguhnya antara akhlak dengan ‘aqidah terdapat hubungan yang sangat<br />
kuat sekali. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya.<br />
<!--more--><br />
Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">أَكْمَلُ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الْمُؤْمِنِيْنَ</span> <span dir="rtl">إِيْمَانًا</span> <span dir="rtl">أَحْسَنُهُمْ</span> <span dir="rtl">خُلُقًا،</span> <span dir="rtl">وَخِيَارُكُمْ</span> <span dir="rtl">خِيَارُكُمْ</span> <span dir="rtl">لِنِسَائِهِمْ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” [4]</p>
<p>Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk Surga.</p>
<p>Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">مَا</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">شَيْءٌ</span> <span dir="rtl">أَثْقَلُ</span> <span dir="rtl">فِيْ</span> <span dir="rtl">مِيْزَانِ</span> <span dir="rtl">الْمُؤْمِنِ</span> <span dir="rtl">يَوْمَ</span> <span dir="rtl">الْقِيَامَةِ</span> <span dir="rtl">مِنْ</span> <span dir="rtl">خُلُقٍ</span> <span dir="rtl">حَسَنٍ</span> <span dir="rtl">وَإِنَّ</span> <span dir="rtl">اللهَ</span> <span dir="rtl">لَيُبْغِضُ</span> <span dir="rtl">الْفَاحِشَ</span> <span dir="rtl">الْبَذِيْءَ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” [5]</p>
<p>Beliau <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda pula:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">مِنْ</span> <span dir="rtl">أَحَبِّكُمْ</span> <span dir="rtl">إِلَيَّ</span> <span dir="rtl">وَأَقْرَبِكُمْ</span> <span dir="rtl">مِنِّيْ</span> <span dir="rtl">مَجْلِسًا</span> <span dir="rtl">يَوْمَ</span> <span dir="rtl">الْقِيَامَةِ</span> <span dir="rtl">أَحَاسِنَكُمْ</span> <span dir="rtl">أَخْلاَقاً</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">...</p>
<p>“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya...” [6]</p>
<p>Nabi <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Surga, maka beliau <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> menjawab:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">تَقْوَى</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">اللهِ</span> <span dir="rtl">وَحُسْنُ</span> <span dir="rtl">الْخُلُقِ،</span> <span dir="rtl">وَسُئِلَ</span> <span dir="rtl">عَنْ</span> <span dir="rtl">أَكْثَرِ</span> <span dir="rtl">مَا</span> <span dir="rtl">يُدْخِلُ</span> <span dir="rtl">النَّاسَ</span> <span dir="rtl">النَّارَ؟</span> <span dir="rtl">فَقَالَ</span></span>: <span dir="rtl" lang="AR-SA">اَلْفَمُ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">وَالْفَرْجُ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Neraka, maka beliau <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> menjawab: “Lidah dan kemaluan.”  [7]</p>
<p>Ahlus Sunnah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, menganjurkan untuk bersilaturrahim, serta berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan Ibnu Sabil. [8] Mereka (Ahlus Sunnah) melarang dari berbuat sombong, angkuh, dan zhalim. [9] Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang hina.</p>
<p>Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">اللهَ</span> <span dir="rtl">كَرِيْمٌ</span> <span dir="rtl">يُحِبُّ</span> <span dir="rtl">الْكَرَمَ</span> <span dir="rtl">وَمَعَالِيَ</span> <span dir="rtl">اْلأَخْلاَقِ</span> <span dir="rtl">وَيُبْغِضُ</span> <span dir="rtl">سِفْسَافَهَا</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah/hina.” [10]</p>
<p>Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الْمُؤْمِنَ</span> <span dir="rtl">لَيُدْرِكُ</span> <span dir="rtl">بِحُسْنِ</span> <span dir="rtl">خُلُقِهِ</span> <span dir="rtl">دَرَجَةَ</span> <span dir="rtl">الصَّائِمِ</span> <span dir="rtl">الْقَائِمِ</span></span></p>
<p class="MsoNormal">.</p>
<p>“Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” [11]</p>
<p>Akhlak yang mulia dapat menambah umur dan menjadikan rumah makmur, sebagaimana sabda Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>:</p>
<p>...</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">وَحُسْنُ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الْخُلُقِ</span> <span dir="rtl">وَحُسْنُ</span> <span dir="rtl">الْجِوَارِ</span> <span dir="rtl">يَعْمُرَانِ</span> <span dir="rtl">الدِّيَارَ</span> <span dir="rtl">وَيَزِيْدَانِ</span> <span dir="rtl">فِي</span> <span dir="rtl">اْلأَعْمَارِ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“... Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur.” [12]</p>
<p>Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah <span dir="rtl" lang="AR-SA">سبحانه</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">و</span> <span dir="rtl">تعالى</span></span> telah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p>“Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” [Al-Qalam : 4]</p>
<p>Hal ini sesuai dengan penuturan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">كَانَ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">رَسُوْلُ</span> <span dir="rtl">اللهِ</span> <span dir="rtl">أَحْسَنَ</span> <span dir="rtl">النَّاسِ</span> <span dir="rtl">خُلُقاً</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span> </span>adalah orang yang paling baik akhlaknya.” [13]</p>
<p>Begitu pula para Sahabat ﻿<span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنهم</span></span>, mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya setelah Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span><br />
Dan di antara akhlak Salafush Shalih ﻿<span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنهم</span></span>, yaitu:</p>
<p>1. Ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut dari riya’.<br />
2. Jujur dalam segala hal dan menjauhkan dari sifat dusta.<br />
3. Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.<br />
4. Menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>.<br />
5. Berusaha meninggalkan segala bentuk kemunafikan.<br />
6. Lembut hatinya, banyak mengingat mati dan akhirat serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek (su’ul khatimah).<br />
7. Banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan tidak berbicara yang sia-sia.<br />
8. Tawadhdhu’ (rendah hati) dan tidak sombong.<br />
9. Banyak bertaubat, beristighfar (mohon ampun) kepada Allah, baik siang maupun malam.<br />
10. Bersungguh-sungguh dalam bertaqwa dan tidak mengaku-ngaku sebagai orang yang bertaqwa, serta senantiasa takut kepada Allah.<br />
11. Sibuk dengan aib diri sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain serta selalu menutupi aib orang lain.<br />
12. Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka ghibah (tidak menggunjing sesama Muslim).<br />
13. Pemalu. [14]</p>
<p>Malu adalah akhlak Islam, sebagaimana sabda Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>:</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">لِكُلِّ</span> <span dir="rtl">دِيْنٍ</span> <span dir="rtl">خُلُقاً</span> <span dir="rtl">وَخُلُقُ</span> <span dir="rtl">اْلإِسْلاَمِ</span> <span dir="rtl">الْحَيَاءُ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">.</p>
<p>“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.” [15]</p>
<p>Begitu juga sabda Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> :</p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA">اَلْحَيَاءُ</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">لاَ</span> <span dir="rtl">يَأْتِيْ</span> <span dir="rtl">إِلاَّ</span> <span dir="rtl">بِخَيْرٍ</span></span></p>
<p class="MsoNormal">.</p>
<p>“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.” [16]</p>
<p>14. Banyak memaafkan dan sabar kepada orang yang menyakitinya.</p>
<p>“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf: 199]</p>
<p>15. Banyak bershadaqah, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil/tidak pelit.<br />
16. Mendamaikan orang yang mempunyai sengketa.<br />
17. Tidak hasad (dengki, iri), tidak berburuk sangka sesama Mukmin.<br />
18. Berani dalam mengatakan kebenaran dan menyukainya. [17]</p>
<p>Itulah di antara akhlak Salafush Shalih, mereka adalah orang-orang yang mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia serta dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>. Orang-orang yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang harus mempunyai akhlak yang mulia karena akhlak mempunyai hubungan yang erat dengan ‘aqidah dan manhaj. Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah Azza wa jalla dan diberikan kekuatan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> dan para Sahabatnya ﻿<span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنهم</span></span>.</p>
<p>Dan tidak boleh seseorang mengatakan: “Salaf itu tidak berakhlak.” Kalimat ini merupakan celaan terhadap generasi yang terbaik dari ummat ini. Adapn kesalahan dari akhlak tiap individu, maka tidak ada seorang manusia pun yang ma’shum kecuali Nabi <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span>.</p>
<p>[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Lihat QS. Al-Baqarah: 83, al-Isra’: 53, an-Nuur: 27, 28, 58, dan yang lainnya.<br />
[2]. Lihat di antaranya dalam QS.  an-Nisaa’: 31, al-Hujurat: 11.<br />
[3]. HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Mufrad no. 207), Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span>. Dishahih-kan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 45).<br />
[4]. HR. At-Tirmidzi (no. 1162), Ahmad (II/250, 472), Ibnu Hibban (at-Ta’liqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban no. 4164). Lafazh awalnya diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (no. 4682), al-Hakim (I/3), dari Sahabat Abu Hurairah <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span>. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”<br />
[5]. HR. At-Tirmidzi (no. 2002) dan Ibnu Hibban (no. 1920, al-Mawaarid), dari Sahabat Abu Darda’ <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span>. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Lafazh ini milik at-Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 876).<br />
[6]. HR. At-Tirmidzi (no. 2018), ia berkata: “Hadits hasan.” Hadits ini dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span>. Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat), lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 791).<br />
[7]. HR. At-Tirmidzi (no. 2004), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 289), Sha-hiihul Adabil Mufrad (no. 222), Ibnu Majah (no. 4246), Ahmad (II/291, 392, 442), Ibnu Hibban (no. 476, at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban), al-Hakim (IV/324). At-Tirmidzi  berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Dari Sahabat Abu Hurairah <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span><br />
[8]. Lihat QS. An-Nisaa’: 36.<br />
[9]. Lihat QS. Al-Israa’: 37; al-A’raaf: 36, 40; al-Anfaal: 47; Luqman:18; dan lainnya.<br />
[10]. HR. Al-Hakim (I/48), dari Sahabat Sahl bin Sa’ad z. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Sha-hiihah (no. 1378).<br />
[11]. HR. Abu Dawud (no. 4798), Ibnu Hibban (no. 1927) dan al-Hakim (I/60) dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi.<br />
[12]. HR. Ahmad (VI/159), dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha<br />
[13]. HR. Al-Bukhari (no. 6203) dan Muslim (no. 2150, 2310) dari Sahabat Anas bin Malik <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span><br />
[14]. Malu adalah akhlak yang mulia, yang tumbuh untuk meninggalkan perkara-perkara yang jelek sehingga menghalangi dia dari perbuatan dosa dan maksiyat, serta mencegah dia dari melalaikan kewajiban memenuhi hak orang-orang yang mempunyai hak. Lihat al-Hayaa’ fii Dhau-il Qur-aan al-Kariim wal Ahaadiits ash-Shahiihah oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, cet. Maktabah Ibnul Jauzi, th. 1408 H.<br />
[15]. HR. Ibnu Majah (no. 4181), Shahiih Ibni Majah (II/406 no. 3370), ath-Thabrani  dalam Mu’jamush Shaghir (I/13-14, cet. Daarul Fikr), dari Sahabat Anas bin Malik <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span>. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 940).<br />
[16]. HR. Al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37 (60)), dari Sahabat ‘Imran bin Husain <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عنه</span></span><br />
[17]. Diringkas dan disadur dari al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis Salafish Shaalih (hal. 200-206) dan Min Akhlaaqis Salaf  oleh Ahmad Farid, cet. Daarul ‘Aqiidah lit Turaats, th. 1412 H</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kategori</strong>: Akhlak<br />
<strong>Sumber</strong>: http://www.almanhaj.or.id</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Urgensi Pembahasan Etika Bergaul ]]></title>
<link>http://salafmedan.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 06:56:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafmedan</dc:creator>
<guid>http://salafmedan.id.wordpress.com/2008/07/08/urgensi-pembahasan-etika-bergaul/</guid>
<description><![CDATA[
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz
Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal"><span style="color:#cc99ff;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Ustadz Fariq bin Gasim Anuz</span></span></p>
<p class="MsoNormal">Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, menjadi orang bertakwa yang dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. diantara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai olah orang-orang shalih, diterima oleh hati mereka. Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” [Hadits Bukhari dan Muslim,dalam Shahih Jami’ush Shaghir no.283]<br />
<!--more--><br />
Diantara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, diantaranya ia mencintai mereka karena Allah, berakhlak kepada manusia dengan akhlak yang baik, memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia.</p>
<p>Berikut ini beberapa dalil yang menguatkan keterangan di atas.</p>
<p>Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Pergauilah mereka (isteri) dengan baik”. [An-Nisaa : ’1]</p>
<p>“Artinya : Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. [Ali-Imran : 134]</p>
<p>Rasulullah <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> bersabda.</p>
<p>“Artinya : Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]</p>
<p>“Artinya : Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.[HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir 1096]</p>
<p>URGENSI PEMBAHASAN ETIKA BERGAUL<br />
Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Walaupun prioritas pertama yang diajarkan olah para Nabi adalah tauhid, namun bersamaan dengan itu, mereka juga mengajarkan akhlak yang baik. Bahkan Nabi Muhammad <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> diutus untuk menyempurnakan akhlak. beliau <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلی</span><span lang="AR-SA"> <span dir="rtl">الله</span> <span dir="rtl">عليه</span> <span dir="rtl">وسلم</span></span> adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”.[Al-Qalam 4]</p>
<p>Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :</p>
<p>“Artinya : Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]</p>
<p>Dengan mempraktekkan adab-adab dalam bergaul, maka kita akan memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat diantara umat Islam, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah telah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian denga tali (agama ) Allah bersama-sama , dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk” [Al-Imran :  103]<br />
.<br />
Oleh karena itu, adab-adab bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja atau terhadap atasan dan bawahan. Jika kita seorang da’i atau guru, maka harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da’i atau lainnya dan dengan mad’u (yang didakwahi) atau terhadap muridnya. Demikian juga apabila seorang guru, atau seorang murid atau apapun jabatan dan kedudukannya, maka kita perlu untuk mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul.</p>
<p>Kurang mempraktekkan etika bergaul, menyebabkan dakwah yang haq dijauhi oleh manusia. Manusia menjadi lari dari kebenaran disebabkan ahli haq atau pendukung kebenaran itu sendiri melakukan praktek yang salah dalam bergaul dengan orang lain. Sebenarnya memang tidaklah dibenarkan seseorang lari dari kebenaran, disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.</p>
<p>Jika inti ajaran yang dibawa oleh seseorang itu benar, maka kita harus menerimanya, dengan tidak memperdulikan cara penyampaiannya yang benar atau salah, etikanya baik atau buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebanyakan orang melihat dulu kepada etika orang itu. Oleh karena itu, mengetahui etika ini penting bagi kita, sebagai muslim yang punya kewajiban saling menasehati sesama manusia, agar bisa mempraktekkan cara bergaul yang benar.</p>
<p>MOTIVASI DALAM BERGAUL<br />
Faktor yang mendorong seorang muslim dalam bergaul dengan orang lain ialah semata-mata mencari ridha Allah. ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata mencari ridha Allah, karena tersenyum merupakan perbuatan baik. Demikian juga ketika seorang muslim membantu temannya atau ketika mendengarkan kesulitan-kesulitan temannya, ketika menepati janji, tidak berkata-kata yang menyakitkan kepada orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari ridha Allah, Demikianlah seharusnya. jangan sebaliknya, yaitu, bertujuan bukan dalam rangka mencari ridha Allah. Misalnya : bermuka manis kepada orang lain, menepati janji, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena kepentingan dunia. atau ketika berurusan dalam perdagangan, sikapnya ditunjukkan hanya semata-mata untuk kemaslahatan dunia. tingkah laku seperti ini yang membedakan antara muslim dengan non muslim.</p>
<p>Bisa saja seorang muslim bermuamalah dengan sesamanya karena tujuan dunia semata. Seseorang mau akrab, menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain. Manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi, maka ia berubah menjadi tidak mau kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika oramg lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu bisa terjadi pada diri seorang muslim. Sikap seperti itu merupakan perbuatan salah.</p>
<p>Al-Imam Ibn Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad juz ke-4 hal 249 : “Diantara kecintaan terhadap sesama muslim ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbud, yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya, bisa jadi tujuan yang ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, atau  hartanya, atau ingin mendapatkan manfaat berupa ilmu dan bimbingan orang tersebut, atau untuk tujuan tertentu; maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi. atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”. hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita.</p>
<p>Contohnya :seorang karyawan sangat menghormati dan perhatian kepada atasannya di tempat kerja. tetapi apabila atasannya itu sudah pensiun atau sudah tidak menjabat lagi, karyawan ini tidak pernah memikirkan dan memperhatikannya lagi.</p>
<p>Begitu juga ketika seseorang masih menjadi murid, sangat menghormati gurunya. Namun ketika sudah lulus (tidak menjadi muridnya lagi), bahkan sekolahnya sudah lebih tinggi dari gurunya itu, bertemu di jalan pun enggan untuk menyapa.</p>
<p>Banyak orang yang berteman akrab hanya sebatas ketika ada kepentingannya saja.yakni ketika menguntungkannya, dia akrab, sering mengunjungi, berbincang-bincang dan memperhatikannya.namun ketika sudah tidak ada keuntungan yang bisa didapatnya, kenal pun tidak mau.</p>
<p>Ada juga seseorang yang hanya hormat kepada orang kaya saja. Adapun kepada orang miskin, memandang pun sudah tidak mau. Hal semacam ini bukan berasal aturan-aturan Islam. menilai seseorang hanya dikarenakan hartanya, hanya karena nasabnya, hanya karena ilmunya, yaitu jika kepada orang yang berilmu dia hormat dan menyepelekan kepada orang yang tak berilmu. hal-hal seperti itu merupakan perbuatan yang keliru.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu’Fatawa juz 10, beliau berkata: “Jiwa manusia itu telah diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun pada hakekatnya sesungguhnya hal itu sebagai kecintaan kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik.apabila orang yang berbuat baik itu memutuskan kebaikannya atau perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan demikian bukan karena Allah.</p>
<p>Barangsiapa yang mencintai orang lain dikarenakan dia itu memberi sesuatu kepadanya, maka dia semata-mata cinta kepada pemberian. Dan barang siapa yang mengatakan: “saya cinta kepadanya karena Allah”, maka dia pendusta. Begitu pula, barang siapa yang menolongnya, maka dia semata-mata mencintai pertolongan, bukan cinta kepada yang menolong. Yang demikian itu, semuanya termasuk mengikuti hawa nafsu. Karena pada hakekatnya dia mencintai orang lain untuk mendapatkan manfaat darinya, atau agar tehindar dari bahaya. Demikianlah pada umumnya manusia saling mencintai pada sesamanya, dan yang demikian itu tidak akan diberi pahala di akhirat, dan tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Bahkan bisa jadi hal demikian itu mengakibatkan terjerumus pada nifaq  dan sifat kemunafikan.</p>
<p>Ucapan Ibn Taimiyah rahimahullah ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zukhruf 67,artinya: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa. adapun orang-orang bertakwa, persahabatan mereka akan langgeng sampai di alam akhirat, karena didasari lillah dan fillah. Yaitu cinta karena Allah.</p>
<p>Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak bertakwa, di akhirat nanti mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Persahabatan mereka hanya berdasarkan kepentingan dunia. Diantara motto mereka ialah: “Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi”.</p>
<p>Dasar persahabatan mereka bukan karena dien, tetapi karena kepentingan duniawi. Berupa ambisi untuk mendapatkan kekuasaan, harta dan sebagainya dengan tidak memperdulikan apakah cara yang mereka lakukan diridhoi Allah, sesuai dengan aturan-aturan Islam ataukah tidak.</p>
<p>[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kategori</strong>: Adab Dan Perilaku<br />
<strong>Sumber</strong>: http://www.almanhaj.or.id</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Catatan Ringan tentang Poligami]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=154</link>
<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 20:19:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.id.wordpress.com/2008/04/18/catatan-ringan-tentang-poligami/</guid>
<d